Anda di halaman 1dari 28

1

1. Latar Belakang

Di era globalisasi yang penuh persaingan ini, telah terjadi reformasi


diberbagai bidang kehidupan sebagai konsekuensi dari pesatnya pembangunan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Komunikasi dan informasi telah
menimbulkan dampak yang signifikan di seluruh aspek kehidupan masyarakat,
berbangsa dan bernegara. reformasi pemerintahan yang terjadi di indonesia telah
mengakibatkan mengakibatkan terjadinya pergeseran paradigma
penyelenggaraan pemerintahan dari paradikma sentralistis kearah desentralisasi
yang ditandai dengan pemberian otonomi yang luas dan nyata kepada daerah.

Dengan diberlakukannya undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang


pemerintah daerah dan undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang
perimbangan keuangan pusat dan daerah yang kemudian dalam perkembangannya
kedua undang-undang tersebut diganti dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang pemerintah daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.

Undang –undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan


Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan
daerah, memberikan kepada daerah otonomi yang luas, nyata, dan bertangkung
jawab, sehingga kondisi ini merubah penyelenggaraan manajemen pemerintahan
di daerah, pemerintah daerah khususnya kabupaten dan kota diharapkan dapat
berbena diri serta menyiapan diri agar mampu tampil prima dalam menata
pembangunan di daerahnya.

Pemberian otonomi daerah ini diarahkan untuk mempercepat terwujudnya


kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan
(Empowering), dan peran serta masyarakat, disamping itu melalui otonomi luas,
daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan
prinsip-prinsip demograsi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, kekhusussan,
serta potensi dan keanegaraman daerah dalam sistem negara kesatuan republik
indonesia.
2

Untuk menjikapi perubahan yang terjadi diperlakukannya kedua undang-


undang dimaksud, maka diperlukan kesiapan daerah dari segi sumber daya
manusia khususnya dalam bidang pegawai, pemerintahan daerah sebagai subyek
dan obyek dari pelayanan dan pembangunan daerah.

Dalam berbagai kajian, dilihat bahwa, kritik masyarakat terhadap semakin


buruknya kinerja, produktivitas, serta motivasi, pegawai pemerintah daerah mulai
dari pemerintah level atas hingga pemerintah level bawah, sebagai penyedia
layanan (service provider ) kepada masyarakat. Masyarakat sebagai penerima
layanan (service provider) antara lain di sebabkan karena kurangnya kesiapan
sumber daya manusia bagi pegawai pemerintahan daerah sebagai penyedia
layanan yang bertanggung jawab, professional, berdisiplin, berdayaguna, serta
sadar sebagai penyedia layanan (service provider) bagi masyarakat untuk itu,
melalui pemberian otonomi daerah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah
perbaikan kinerja pegawaipemerintah sebagai penyedia layanan terhadap
masyarakat melalui peningkatan kualitas sumber daya aparatur
pemerintahan, secara professional dan terencana serta kebijakan-kebijakan
pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya aparatur pemerintah
sebagai penyedia layanan (service provider).

Untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good


Govermence), mutlak di perlukan adanya aparatur pemerintah yang berkualitas,
teruji dan yang baik professional. Perbaikan kualitas sumber daya manusia bagi
pegawai pemerintah dapat di mulai dari sistem penerima pegawai. Sistem
penerima pegawai yang baik dan benar, sudah barang tentu hak ini akan
mendapatkan tenaga-tenaga bagi aparatur Negara berkualitas baik dan sesuai
dengan kompetensi yang di butuhkan. Disamping hal tersebut, perlu di perhatikan
pula terhadap pembinaan pada saat bertugas yang antara lain dapat meningkatkan
kualitas sumber daya manusia melalui mengikutsertakan pendidikan dan pelatihan
(Diklat) yang tersendiri dan bermutu.
3

Untuk dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi pegawai


pemerintahan khususnya bagi pegawai Negeri Sipil (PNS) di perlukan pendidikan
dan pelatihan yang mengarah kepada 3 (tiga) aspek, yaitu:

1. Meningkatkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientansi


pada kepentingan, masyarakat, bangsa dan Negara.
2. Meningkatkan potensi teknik manajerial dan atau kepemimpinan.
3. Meningkatkan efesien dan efektifitas, dan kualitas, pelaksanaan
tugas yang di lakukan dengan semangat kerja sama dan tanggung
jawab sesuai dengan lingkungan kerja dan organisasinya.

Pengembangan sumber daya manusia bagi pegawai pemerintahan, melalui


pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan faktor dominan dalam
meningkatkan efesien kinerja, serta produktifitas kinerja pegawai agar Pegawai
Negeri Sipil dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan Nasional dan tantangan
global, Suradinata (2003:2005). Untuk mewujudkan suatu kepemerintahan yang
baik (Good Govermence) diperlukan sumber daya manusia yang memiliki
kompentensi untuk meningkatkan mutu, profesionalisme, sikap pengabdian, dan
kesetiaan pada perjuangan bangsa dan negara, serta semangat kesatuan persatuan
dan kesatuan bangsa dalam bingkai negara kesatuan rebuplik indonesia.

Dalam pasal 3 Undang-undang Nomor 1999, disebutkan bahwa, pegawai


negeri sipil berkedudukan sebagai pegawai Negara yang bertugas
untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil
dan merata, dalam penyelenggaraan tugas Negara, pemerintah dan pembangunan.
Dan dalam pasal 31 disebutkan bahwa, untuk mencapai daya guna dan hasil guna
yang sebesar-besarnya diadakan pengaturan dan penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan (Diklat) jabatan pegawai negeri sipil (PNS) yang bertujuan untuk
meningkatkan mutu keahlian, kemampuan, dan keterampilan.

Pegawai negeri sipil sebagai unsur utama sumber daya manusia aparatur
Negara, mempunyai peran yang sangat menentuhkan. Keberhasilan
4

penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, tidak lepas dari peranan


pegawai negeri sipil dalam meningkatkan roda pemerintahan dan pembangunan.
Untuk itu, pegawai negeri sipil harus mempunyai dasar pengetahuan yang
konseptual tentang apa yang akan dilakukan tugasnya, latar belakang tugasnya,
latar belakang pekerjaannya, keterampilan dan hasil-hasil yang akan dicapai
dalam melaksanakan tugasnya. Dengan demikian, pegawai negeri sipil harus
menyadari terhadap dasar-dasar umum pendidikan dan pelatihan (Diklat), yaitu:

 Kognitif (pengetahuan;
 Efektif (sikap);
 Psikomotorik (keterampilan); dan
 Perspektif (perspektif).

Dengan pendidikan dan pelatihan (Diklat), setiap pegawai negeri sipil akan
menghasilkan kinerja pegawai yang lebih baik karena kemampuan yang telah di
peroleh melalui pendidikan dan pelatihan (Diklat) sangat berpengaruh terhadap
kinerja pegawai negeri sipil itu sendiri.

Dalam kehidupan sosial dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi


(IPTEK) terus berkembang dan mengalami banyak perubahan di berbagai bidang
kehidupan. Hal tersebut dapat berpengaruh pada cara, metode kinerja dan alat di
pergunakan akan mengalami perubahan. disisi lain, secara kualitatif dan
kuantitatif beban kinerja pemerintah dapat pula berubah, bertambah, berkembang
pegawai negeri sipil, diganti dengan metode baru yang menuntut berbagai
penyesuaian dalam pelaksanaannya. Kondisi seperti ini harus diimbangi dengan
pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi pegawai negeri sipil, sehingga mereka
dapat melaksanakan tugas secara maksimal dengan prinsip-prinsip yang
profesional.

Untuk dapat menciptakan sumber daya pegawai pemerintahan yang handal


dan professional, diperlukan suatu pengorbanan yang cukup, dan ini harus
menjadi komitmen bersama, khususnya membangun sumber
daya pegawai pemerintah dalam mewujudkan suatu pemerintahan yang baik,
5

bersih, bertangtung jawab, dan berwibawa serta tidak adanya korupsi kolusi dan
Nepotisme (KKN).

Untuk mewujudkan hal tersebut, pendidikan dan pelatihan


(Diklat) merupakan jawaban pegawai pemerintah dalam meningkatkan tugas dan
tanggung jawabnya sebagai penyedia layanan (service provider), pembinaan
pegawai melalui pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi pegawai negeri sipil
(PNS) diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya sebagai penyedia layanan (service provider), dan dapat
mengembangkan kemampuan yang telah di perolehnya melalui pendidikan dan
pelatihan (Diklat).

Pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan proses penyelenggaraan


belajar mengajar dalam rangka peningkatan kemampuan pegawai yang meliputi
pengetahuan,keterampilan, sikap dan perilaku yang diperluhkan dalam
melaksanakan tugasnya, Suradinata (2003: 211). Hal-hal lain juga perlu di
perhatikan pendidikan dan pelatihan (Diklat) adalah kebijaksanaan mengenai
“prioritas program dalam pendidikan dan pelatihan (Diklat)” agar dapat
meningkatkan dan memperbaiki kelemahan, serta meningkatkan kualitas kinerja
pegawai negeri sipil, yang professional sesuai bidang tugasnya dan memiliki etos
kerja yang disiplin, efesien, efektif, kreatif produktif, serta tanggung jawabnya.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis ingin mengkaji dan


menganalisis tentang faktor mempengaruhinya, yaitu pendidikan dan pelatihan
(Diklat). Untuk itu, penulis sini diberi judul: Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan
Terhadap Peningkatan Kinerja Pegawai di Kecamatan Mulyojati Metro Barat,
Kota Metro
6

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah penelitian penulis


menemukan di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh pendidikan dan pelatihan (Diklat) terhadap


kinerja Pegawai di kecamatan Cipayung Kota Depok Provinsi Jawa Barat

Apabila memang ada berpengaruh, seberapa besar pengaruh pendidikan


dan pelatihan (Diklat) terhadap peningkatan kinerja pegawai di kecamatan
Mulyojati Metro Barat, Kota Metro

2. Maksud dan Tujuan Penelitian


2.1 Maksud Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka maksud penelitian ini


adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pendidikan dan pelatihan
terhadap kinerja Pegawai Kecamatan Mulyojati, Metro Barat, Kota Metro.

2.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh hasil mengenai


analisis :

Pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai di Kecamatan


Mulyojati, Metro Barat, Kota Metro.

Seberapa besar pendidikan dan pelatihan berpengaruh terhadap kinerja pegawai di


Kecamatan Mulyojati, Metro Barat, Kota Metro.
7

3. Kegunaan Penelitian

Adapun penelitian ini berguna untuk :

4.1 Secara Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat dan memberi kontribusi


untuk mengembangkan Ilmu Pemerintahan yang berkaitan dengan
masalah Pendidikan dan Pelatihan terhadap kinerja Pegawai. Bagi Institusi Terkait
Sebagai bahan masukan bagi Kecamatan Mulyojati, Metro Barat, Kota Metro
terutama mengenai Pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja Pegawai. Bagi
Penulis Sebagai sarana untuk menambah wawasan berpikir dan meningkatkan
pemahaman yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.

4. Tinjauan Pustaka

5.1.Teori Umum Pemerintah dan Pemerintah

5.1.1 Pengertian Pemerintah

Ilmu pemerintahan akan di bahas dalam skripsi ini, karena adanya


keterkaitan antara aspek-aspek administrasi seperti perilaku organisasi dan
perilaku manusia, kepemimpinan, implementasi manajemen pemerintahan dan
ketatalaksanaan, kepentingan serta pelayanan kepada masyarakat, sebagaimana
yang dilaksanakan oleh organisasi-organisasi tersebut organisasi pemerintah di
Indonesia.

Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak yang memberikan pandangan


dan pengertian tentang pemerintah dan pemerintahan. secara etimologi
“pemerintahan” berasal dari kata “perintah” yang kemudian mendapat imbuhan
sebagai berikut:

a. Mendapat “pe” menjadi kata “pemerintah” berarti badan atau organ elit
yang melakukan pekerjaan mengurus suatu Negara.
b. Mendapat akhiran “an” menjadi kata “pemerintahan urusan dari badan
yang berkuasa dan memiliki legitimasi.
8

Dalam kata dasar “perintah” paling sedikit ada tiga unsur penting yang
terkandung
didalamnya, yaitu sebagai berikut:

a. Yang memerintah disebut (Pemerintah) dan pihak yang di perintah


(Rakyat).
b. Pihak yang memerintah memeliki kewenangan dan legitimasi untuk
mengatur dan mengurus rakyatnya.

Hak yang di perintah memiliki keharusan untuk taat kepada pemerintah yang sah.

Menurut pendapat C.P. Strong (dalam Suradinata, 2008: 6) pemerintahan


dalam arti luas mempunyai kewenangan untuk memilihara kedamaian dan
keamanan Negara, baik kedalam maupun keluar. Yang pertama, harus mempunyai
kekuatan tentara atau kemampuan untuk mengendalikan angkatan perang. Kedua,
harus mempunyai kekuatan legislatif dalam arti membuat undang-undang dan
ketiga harus mempunyai kekuatan finansial.

Menurut Ermaya Suradinata (2002: 13): pemerintah adalah organisasi


yang mempunyai kekuatan besar dalam suatu negara mennyangkut urusan
masyarakat, territorial, dan urusan kekuasaan dalam rangka mencapai tujuan
negara. Sedangkan pemerintahan adalah proses kegiatan yang diselenggarakan
oleh pemerintah. Menurut W.S Syre (dalam Suradinata, 2002: 13) pemerintah di
depenisikan dengan cara yang lebih sederhana, yaitu sebagai lembaga negara yang
terorganisir yang memperhatikan dan menjalankan kekuasaannya, tetapi tidak
menyebut nama-nama kekuasaan atau kekuatan pada intansi tertentu.

Sedangkan menurut pendapat Utrech (dalam Suradinata,2002:13-


14) pemerintah didepenisikan dengan tiga pengertian yang berbeda, yaitu:

a. Pemerintah sebagai gabungan dari semua badan kenegaraan yang


berkuasa pemerintah.
b. Pemerintah sebagai gabungan badan-badan kenegaraan tertinggi yang
berkuasa memerintah di wilayah satu Negara.
9

Pemerintah dalam arti kepada Negara (Presiden) bersama dengan para mentrinya.

Menurut Talididuhu Ndraha, (2003: 6) mendefinisikan pemerintahan


adalah organ yang berwenang memproses pelayanan publik dan berkewajiban
memproses pelayanan sipil setiap organ melalui hubungan pemerintahan,
sehingga setiap anggota masyarakat yang bersangkutan menerimanya pada saat
yang diperlukan, sesuai dengan ketentuan (harapan) yang diperintah.

Pendapat lain disampaikan oleh Sayre (dalam Suradinata, 2002: 13) bahwa
pemerintahan adalah lembaga negara yang terorganisir yang memperhatikan dan
menjalankan kekuasaannya, tetapi tidak menyebutkan nama-nama kekuasaan atau
kekuatan pada intansi tertentu sedangkan menurut Sumendar (dalam Syafei, 2003:
6) pemerintah sebagai badan yang penting dalam rangka pemerintahannya.

Pemerintah mesti memperhatikan ketentraman dan ketertiban umum,


tuntutan dan harapan, serta pendapat rakyat, kebutuhan dan kepentingan
masyarakat, serta pendapat rakyat, kebutuhan dan kepentingan masyarakat,
pengaruh lingkungan, pengaruh komunikasih, peran serta seluruh lapisan
masyarakat, pengaturan komunikasih, serta keberadaan legitimasi. Menurut Fener
(dalam Syefei, 2006: 6), pemerintah harus mempunyai kegiatan yang berlangsung
terus menerus di Wilayah Negara pejabat yang pemerintah dan cara, metode serta
sistem dari pemerintah terhadap masyarakat.

Pada sisi lain, menurut Arief Budiman (1997: 91), pemerintah merupakan
lembaga eksekutif negara. Pemerintah meliputi pegawai birokrasi teknis (birokrasi
dalam pengertian sempit) maupun para politisi dan negarawan yang menjadi
pucuk pemimpin lembaga-lembaga negara. Pemerintah merupakan
aspek personil negara.

5.1.2 Pengertian pemerintahan

Menurut Ermaya Suradinata (2002: 14-15) pemerintahan adalah proses


kegiatan yang diselengkarakan luas karena semua aktivitas kegiatan negara
digerakan pada masyarakat. Proses tersebut melibatkan lembaga militer, yang
10

berkeadilan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat, menumbuh


kembangkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang
bagi kepentingan bangsa.

Selanjutnya menurut pendapat W.S. Sayre (dalam Suradinata, 2002: 13),


mendefinisikan pemerintahan dengan cara yang lebih sederhana, yaitu sebagai
lembaga negara yang terorganisir yang memperlihatkan dan menjalankan
kekuasaannya, tetapi tidak menyebutkan kekuasaan atau kekuatan pada instansi
tertentu.

Sedangkan Muhammad Riasid (2002: 2), berpendapat bahwa


pemerintahan selalu dilihat sebagai pepaduan antara aturan main (Konsitusi,
Hukum), lembaga-lembaga yang berwenang mengelola serangkaian kekuasaan
(Eksekutif, Legislatif, Judikatif), serta sejumlah birokrat dan pejabat politik
sebagai pelaku dari penanggung jawab atas pelaksanaan kewenangan-kewenangan
tersebut.

Pakar lain yaitu Nawawi (2002: 5) mengatakan bahwa Negara atau


pemerintahan sebagai organisasi non profit berfungsi memberikan pelayanan pada
setiap orang dan semua individu sebagai masyarakat (service provider) dalam
memenuhi kebutuhannya masing-masing pemerintahan yang bersifat non profit
berfungsi sebagai pelaksana pembangunan untuk mewujudkan dan meningkatkan
kesejahtraan masyarakat/rakyatnya.

Dalam menjalankan fungsi yang bersifat non profit itu, memerinta


membentuk lembaga yang lebih kecil, agar berjalannya fungsi pelayanannya
masyarakat (public service)dan pembangunan, yang diantaranya diorientasinya
menurut aspek-aspek kehidupan seperti pendidikan dan pelatihan, sosial,
kesehatan, hukum, agama dan lain-lainnya.

Dari definisi diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa pemerintah sebagai


pertahanan dalam rangka memberikan kesejahteraan dan rasa aman pada
masyarakatnya, yang melibatkan kekuasaan lembaga militer, kepolisian, fungsi
legislatif, keuangan, dan penegak hukum yang berkeadilan.
11

5. Manajemen Pemerintahan

Istilah manajemen datang dari bahasa Inggris manajement. Istilah ini


terbentuk dari akar kata “menus”, tangan yang berkaitan dengan kata “managerie”
yang berarti berternak.Managerie juga berarti sekumpulan binatang liar yang di
kendalikan dalam pagar. Kata “menus” berkaitan dengan kata “managerie” yang
berasal dari bahasa Latin “mansionaliticum” yang berarti pengelolaan rumah
besar. Manajemen mempelajari bagaimana menciptakanefectifen usaha “(doing
ringht things”) secara efesien (“doing ringht things”) dan produktif melalui fungsi
siklus tertentu, dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan,
(Ndraha, 200: 159).

Selanjutnya Manulang, (2003: 3-5) memandang bahwa: manajemen di pandang


dari literatur manajemen, maka akan di temukan bahwa istilah manajemen
mengandung tiga pengertian, yaitu pertama, manajemen sebagai sesuatu proses,
kedua, manajemen sebagai suatu kolektivitas orang-orang yang melakukan
aktivitas manajemen, ketiga, manajemen sebagai suatu seni (art) dan sebagai
suatu ilmu (science).

5.1 Manajemen suatu proses

Dalam Encylopedia of the social science dikatakan bahwa manajemen


adalah suatu proses dengan sebagaimana melaksanakan suatu tujuan tertentu
diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya, Haiman mengatakan bahwa
manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan
mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama.

Akhirnya, George R. Trry mengatakan bahwa. manajemen adalah pencapaian


tujuan yang ditetapkan lebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain.
Dengan demikian pokok penting dalam ketiga definisi tersebut, yaitu pertama,
adanya tujuan yang ingin dicapai, kedua, tujuan dicapai dengan kegiatan-kegiatan
orang lain itu harus dibimbing dan diawasi.
12

5.2 Manajemen kolektivitas

Kolektivitas adalah orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen.


jadi, dengan kata lain, orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam
arti singular atau tunggal disebut manajer. Manajer adalah pejabat yang
bertanggung jawab atas aktivitas-aktivitas manajemen agar tujuan unit yang
dipinpinnya tercapai dengan menggunakan bantuan orang lain. Pada umumnya
kegiatan-kegiatan manajer dan aktivitas manajer itu adalah planing, organizing,
staffing, directing, and controlling. Ini disebut istilah proses manajemen, fungsi-
fungsi manajemen, bahkan disebut sebagai unsur-unsur manajemen.

5.3 Manajemen dipandang sebagai suatu (art). dan juga sebagai suatu Ilmu
(science).

Sedangkan Manulang mengutif pendapat Chester l. Barnard dalam


bukunya the funcdation of the Exekutive, mengakui bahwa manajemen itu adalah
“seni” dan juga sebagai “ilmu”. Demikian juga pendapat Hendiri Fayol, Alfin
Brown, Harold koontz dan Chyril O. donnel, dan George R. Trry beranggapan
bahwa manajemen adalah sebagai ilmu sekaligus sebagai seni.

Manajemen sebagai seni (art) berfungsi untuk mencapai tujuan yang nyata
mendatangkan hasil atau manfaat, sedangkan manajemen sebagai ilmu
(science) berfungsi menerangkan fenomena-fenomena (gejala-gejala), kejadian-
kejadian, keadaan-keadaan, jadi memberikan penyelasan-penyelasan.

Memperlihatkan pengertian manajemen yang pertama serta kenyataan


bahwa manajemen itu adalah ilmu (science) sekaligus sebagai seni (art), maka
manajemen itu dapat diberi definisi sebagai “seni dan ilmu perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya untuk
mencapai tujuan yang sudah ditetapkan”.

Manajemen pemerintahan merupakan cabang manajemen yang relatif baru


dimana fokus kagiatan dengan urusan publik dalam proses pembangunan, dengan
demikian institusi yang melaksanakan kegiatan ini adalah pemerintah, untuk
13

mencapai hasil pembangunan yang optimal, maka institusi pemerintah dikelola


dengan baik, transparan, dan kepentingan pemerataan dan keadilan rakyat
berdasarkan prinsip-prinsip manajemen:

Selanjutnya, Suradinata (2002: 20) mengungkapkan bahwa: mempelajari


manajemen pemerintahan merupakan gagasan yang sangat baik. Karena
manajemen pemerintah merupakan pengetahuan tentang bagaimana pemimpin
merencanakan, melaksanakan, mengedalikan, dan memotivasi agar tujuan
pemerintah suatu Negara dapat tercapai sebagaimana dirumuskan.

Pada bagian lain, Suradinata, (200: 5) menjelaskan bahwa: manajemen


pemerintahan adalah proses pemberian bimbingan kepemimpinan pengaturan dan
pengendalian yang berhubungan dengan proses penyelenggaraan, pemerintahan
malalui kegiatan orang lain untuk menuju tujuan pemerintah. Lebih lanjut,
Suradinata menjelaskan tentang prinsip-prinsip umum manajemen pemerintahan
sebagai berikut:

a. Adanya pembagian tugas pada anggota dalam unit-unit kerja


organisasi pemerintah;
b. Perlunya disiplin, kepatuhan, ketahanan aturan, tanggung jawab,
kewenangan untuk mencapai tujuan;
c. Penghargaan yang wajar dan sanksi sesuai kebutuhan;
d. Melaksanakan pekerjaan sesuai prioritas;
e. Inovasi, kebersamaan dan keamanan dalam bekerja;
f. Proses pengendalian kegiatan pemerintah oleh pegawaipemerintah dan
bersama masyarakat.

Sedangkan dalam kaitannya dengan kearsipan, Brown dan Maedke


(1987:5) mengatakan bahwa: arsip sebagai independen informasi pada hakekatnya
adalah sebuah totalitas kegiatan untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam
rangka mencapai tujuan organisasi.

Menurut Ndraha, (1998: 52) menegaskan, manajemen setidaknya harus


mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
14

a. Tujuan organisasi yang ditetapkan oleh pejabat yang kompeten.


b. Fungsi, yaitu perencanaan usaha termasuk
penetapan outputdan outcame yang dikehendaki, pengorganisasian
sumber-sumber agar siap di pakai/gerak, pengerakan/penggunaan
sumber-sumber guna menghasilkan/dinikmati consumer sesuai
dengan output/outcame yang harapkan.
c. Siklus produk yang berawal dari consumer dan berakhir pula pada
konsekuer.

a. Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan menurut Asnawi (1999: 119-120) banyak hal


yang dapat diharapkan keikutsertaan tenaga kerja dalam program pendidikan dan
pelatihan. Harapan tersebut diantaranya adalah menambah dan meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, wawasan, dan proses pemetangan kepribadian peserta
pendidikan dan pelatihan, dampak dari hal-hal tersebut berpengaruh terhadap
tujuan-tujuan selanjutnya, baik secara kuantitas dan kualitas, meningkatkan proses
perencanaan SDM, baik untuk didik maupun dilatih dalam priode waktu yang
tepat pula, meningkatkan semangat kerja.

Sementara menurut Notoatmodjo (2003: 30) pendidikan dan pelatihan


dapat dipandang salah satu bentuk investasi. Oleh karena itu setiap organisasi atau
instansi yang ingin berkembang, maka pendidikan dan pelatihan bagi karjawannya
harum memperoleh pelatihan yang besar. Pentingnya pendidikan dan pelatihan
bagi suatu organisasi antara lain sebagai berikut:

a. Sumber daya manusia atau karyawan yang menduduki suatu jabatan


tertentu dalam organisasi, belum penuh mempunyai kemampuan yang
sesuai dengan persyaratan yang diperlukan dalam jabatan tersebut.
b. Dengan adanya kemampuan ilmu dan teknologi, jelas akan
mempengaruhi.
15

c. Suatu organisasi atau instansi. Oleh sebab itu jabatan-jabatan


diperlukan dalam jabatan tersebut kadang-kadang tidak ada. Dengan
demikian, maka diperlukan penambahan atau peningkatan kemampuan
diperlukan oleh jabatan tersebut.
d. Promosi dalam suatu organisasi/instansi adalah suatu keharusan,
apabilah organisasi itu mau berkembang.

Pentingnya promosi bagi seorang adalah sebagai salah satu rewod dan
insentif (ganjaran dan peransang). Adanya ganjaran peransang yang berupa
promosi dapat meningkatkan produktivitas kerja bagi seorang karjawan. Kadang-
kadang kemampuan seseorang pegawai yang akan dipromosikan untuk
menduduki jabatan tertentu ini masih belum cukup. Untuk itulah maka diperlukan
pendidikan dan pelatihan tambahan.

Lebih lanjut menurut Notoatmodjo, (2003: 31), pentingnya pendidikan dan


pelatihan bukanlah semata-mata bagi karyawannya atau pegawai bersangkutan,
tetapi juga keuntungan bagi organisasi. Karena dengan meningkatnya kemampuan
dan keterampilan para pegawai, dapat meningkatkan produktivitas kerja para
pegawai yang bersangkutan.

Produktivitas para pegawai meningkatkan, berarti organisasi yang


bersangkutan akan memperoleh keuntungan. Selanjutnya Notoatmodjo, (1998:
26), membedakan pendidikan dan pelatihan seperti terlihat dalam tabel berikut in
16

Table 1: Perbedaan antara pendidikan dan pelatihan

No Faktor Pemda Pendidikan Pelatihan

Menyeluruh
1 Pengembangan kemampuan Khusus (specific)
(overall)

Koknitif, efektif,
2 Areah kemampuan (penekanan) Psikomoptor
psikomotir

3 Jangka waktu pelaksanaan panjang Pendek

4 Materi yang diberikan Lebih umum Lebih khusus

5 Metode belajar konvesional Inkonvensional

6 Penghargaan akhir proses Gelar degree Sertifikat

Sumber Notoatmodjo, (1998: 26), berdasarkan pendapat tersebut, maka


penulis menimbulkan bahwa peran pendidikan adalah serangkaian usaha atau
kegiatan yang di lakukan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, perilaku,
potensi, kemampuan dan produktifitas kerja yang dimiliki oleh seseorang. Dari
kesimpulan tersebut, maka hal-hal yang menjadi indikator dari peran pendidikan
dalam penelitian ini adalah: (serangkaian kegiatan(. (2) peningkatan pengetahuan.

b. Tujuan Pendidikan dan Pelatihan

Kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelatihan merupakan tanggung jawab


bagian kepegawaian dan penyedia (pinpinan) langsung pinpinan mempunyai
tanggung jawab atas kebijakan-kebijakan umum dan prosedur yang dibutuhkan
untuk menerapkan program pendidikan dan pelatihan pegawai. Adapun tujuan
pendidikan dan pelatihan menurut (Henry Simamora dalam Sulitiyani dan
Rosidah, 2003: 174):
17

a. Memberbaiki kinerja;
b. Memutakhirkan keahlian para pegawai sejalan dengan kemajuan
teknologi;
c. Membantu memecahkan operasional;
d. Mengorientasikan pegawai terhadap organisasi;
e. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan pertumbuhan pribadi;
f. Untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas kerja pegawai dalam
mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan;

Menurut Worsanto (1989: 60), tujuan pendidikan dan pelatihan yaitu:

a. Menambah pengetahuan pegawai;


b. Meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian dan keterampilan pegawai;
c. Mengubah dan membentuk sikap pegawai;
d. Mengembangkan keahlian pegawai sehingga pekerjaan dapat diselesaikan
dengan cepat;
e. Mengembangkan semagat, kemauan dan kesenagan kerja pegawai;
f. Mempermuda pengawasan terhadap pegawai.

c. Manfaat Pendidikan dan Pelatihan

Menurut Wursanto (1989: 60), ada berbagai manfaat pendidikan dan


pelatihan pegawai, yaitu:

a. Pendidikan dan pelatihan meningkatkan stablitas pegawai;


b. Pendidikan dapat memperbaiki cara kinerja pegawai;
c. Dengan pendidikan dan pelatihan pegawai dapat berkembang dengan
efesien dan melaksanakan tugas dengan baik;.
d. Penilaian kebutuhan pelatihan, yang tujuannya adalah mengumbulkan
informasih;
e. Untuk menentukan dibutukan atau tidaknya program pelatihan;
f. Pengembangkan program pelatihan (development), metode-metode
pelatihan yang dibutuhkan guna mencapai tujuan pelatihan;
18

g. Evaluasi program pelatihan (evaluation), mempunyai tujuan untuk


menguji dan menilai apaka program-program pelatihan yang telah
dijalani,secara efektif mampu mencapai tujuanya yang telah ditetapkan.

Menurut Siagian (2003: 185-186) bahwa ada langkah-langkah tersebut:

a. Penentuan kebutuhan analisis kebutuhan itu harus mampu mendiagnosa


paling sedikit dua hal, yaitu masalah-masalah yang dihadapi sekarang, dan
berbagai tantangan yang diperkirakan akan timbul dimasa depan;
b. Penentuan sasaran-sasaran yang ingin dicapai itu dapat diperlakuan. Atau
mungkin juga kedua-duanya. Berbagai sasaran harus dinyatakan sejelas
dan kongkret, baik bagi para pelati maupun para peserta.
c. Penetapan isi program sifat suatu program pelati ditentukan paling sedikit
oleh dua faktor, yaitu hasil analisis penentuan kebutuhan dan sasaran yang
hendak dicapai.
d. Identifikasi prinsip-prinsip belajar prinsip belajar yang lain
dipertimbangkan untuk diterapkan berkisar pada lima hal, yaitu partisifasi,
relevansi, pengalihan dan umpan balik;
e. Pelaksanaan program, penyelenggaraan program pelatihan sangat
situasional sifatnya. Artinya, dengan penekanan pada perhitungan
kepentingan organisasi dan kepentingan para peserta, menerapkan prinsip-
prinsip belajar tercermin pada penggunaan teknik-teknik tertentu dalam
proses belajar mengajar;
f. Penilaian pada pelaksanaan program pelatihan dapat dikatakan berhasil
apabilah dalam diri para peserta pelatihan tersebut terjadi dua hal, yaitu
meningkatkan;
g. Dengan pendidikan dan pelatihan berarti pegawai diberi kesembatan untuk
mengembangkan diri;.
h. Menurut Barnardin dan Rusell dalam Sulitiyani (2003: 178), menyatakan
bahwa program pelatihan mempunyai tiga tahap aktivitas yang mencakup:
i. Penilaian kebutuhan pelatihan, yang tujuannya adalah mengumbulkan
informasih;
19

j. Untuk menentukan dibutukan atau tidaknya program pelatihan;


k. Pengembangan program pelatihan (development), bertujuan untuk
merancang lingkungan pelatihan dan metode-metode pelatihan yang telah
dijalani, secara efektif mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan;.
l.
(1) Proses Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses yang akan menghasilkan


suatu perubahan perilaku, pendidikan dan pelatihan. Secara nyata perubahan
perilaku itu berbentuk peningkatan mutu kemampuan dari sasaran pendidikan dan
pelatihan.

Sedangkan dalam ketentuan umum pasal 1 ayat 1, peraturan


pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2000 tentang pendidikan dan pelatihan
Jabatan Pegawai Negeri Sipil, dijelaskan bahwa, pendidikan dan pelatihan
pegawai negeri sipil yang selanjutnya disebut (Diklat) adalah proses
penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan
pegawai negeri sipil. Lebih lanjut dalam pasal 2 peraturan pemerintah (PP) Nomor
101 dijelaskan bahwa Diklat bertujuan untuk:

a. Meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat


melaksanakan tugas jabatan secara professional dengan dilandasi kepribadian
dan etika pegawai negeri sipil. Sesuai dengan kebutuhan instansi.
b. Menciptakan pegawai yang berperan sebagai pembaharu dan perekat
persatuan dan kesatuan bangsa.
c. Memantafkan sikap dan semangat kepribadian yang berorientasi pada
pelayanan, pengayoman, dan pemberdayaan masyarakat.
d. Menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan
tugas pemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya
kepemerintahan yang baik.
20

Teori pendidikan dan pelatihan faktor yang mempengaruhi proses


pendidikan dan pelatihan dibedakan menjadi dua yaitu perangkat lunak (software)
dan perangkat keras (hardware) (sekidjo 2003: 31-32), perangkat lunak dalam
proses pendidikan dan pelatihan peraturan-peraturan metode belajar mengajar dan
tenaga pengajar atau pelatihan itu sendiri.

Sedangkan perangkat keras yang juga besar pengaruhnya terhadap proses


pendidikan dan pelatihan adalah fasilitas-fasilitas yang mencakup gedug buku-
buku referensi,alat bantu pendidikan dan pelatihan didalam manajemen sumber
daya (4M/ dimaksukkan dalam input, sehingga ada tiga unsur, yakni input, proses
dan output). Kedua sumber daya tersebut sangat besar dalam mencapai tujuan
organisasi, namun demikian peran sumberdaya manusia yang paling utama.

e. Pendidikan Pelatihan untuk Pegawai Negeri Sipil

Untuk dapat membentuk sosok pegawai negeri sipil yang mampu memainkan
peranan yang menentukan dalam keberhasilanya, penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan, pegawai negeri sipil (PNS) harus mempunyai sikap dan
perilakunya yang penuh kesetiaan dan ketaatan kepada negara, bermoral dan
bermental baik professional, sadar akan tanggungjawabnya, sebagai pelayanan
publik, serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Sejalan
pendapat tersebut, suradinata, (2003: 102), mengungkapkan, ada lima arah dan
tahapan dalam pengembangan pendidikan dan pelaihan (Diklat) sumber daya
manusia.

a. Memiliki rasa untuk meningkatkan kesadaran dan rasa percaya diri;


b. Adanya peningkatan percaya diri;
c. Adanya peningkatan kesejahteraan dan, keamanan;
d. Adanya peningkatan kehidupan sosial dan budaya;
e. Peningkatan kualitas dan profesional dan dibidang tugasnya;.
21

(2) Elemen Pendekatan yang sistematis untuk menimbulkan harapan


kinerja.
a. Pengertian pegawai

Menurut Ermaya Suradinata (1995:10) pegawai adalah manusia/orang


yang melaksanakan suatu pekerjaan pada suatu organisasi baik pemerintah
maupun swasta dan karena jasa dan pekerjaannya itu memperoleh upah/gaji.

Menurut Soedardjat Nataatmadja (1993:108), pegawai /manusia yang


sedang melakukan akitivitas/ kegiatan akan dituntut kreaktivitasnya, dan setiap
pegawai / atau pejabat harus memiliki 4 CT : Cepat tanggap, Cepat temu, Cepat
tindak dan Cepat tuntas.

Dikaitkan dengan aparat pemerintah, berdasarkan undang-undang nomor


43 tahun 1999 pada bab 1 pasal 1 tentang ketentuan umum menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan pegawai negeri adalah setiap warga Negara Republik
Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat
yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas
negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

b. Sintesis Variabel Kinerja Pegawai (Y)

Pada umumnya kinerja pegawai diartikan sebagai suatu kemampuan untuk


menghasilkan sesuatu dalam suatu organisasi dimana semua kegiatan ditunjukkan
untuk bagaimana agar hasil kerja yang dicapai mempunyai nilai kinerja yang
tinggi.

Kinerja pegawai dalam suatu organisasi merupakan faktor penentu


peningkatan produktivitas kerja dalam organisasi, kinerja mengandung arti “hasil
kerja, yang dapat dicapai seseorang tau sekelompok orang dalam suatu organisasi,
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangga
mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum,
22

sesuai dengan moral maupun etika”. Sesuatu yang dicapai prestasi yang
diperlihatkan kemampuan kerja\prestasi kerja, keluaran hasil (output).

Kualitas pencapaian kerja oleh individu kemampuan melaksanakan tugas


menerut prosedur dan cara-cara yang ditetapkan, hasil kerja yang dicapai secara
individual atau secara institusi, yang berarti kinerja tersebut adalah hasil akhir
yang diperoleh secara sendiri atau berkelompok dalam melaksanakan tugas, orang
atau lembaga diberikan wewenang dan tanggung jawab, yang berarti orang atau
lembaga diberikan hak atau kekuasaan untuk bertindak sehingga pekerjaannya
dapat dilakukan dengan baik, pekerjaan haruslah dilakukan secara legal, yang
berarti dalam melaksanakan tugas individu atau lembaga tentu saja harus
mengikuti aturan yang di tetapkan dan pekerjaan tidaklah bertentangan dengan
moral dan etika yang berlaku umum.

Indikator kinerja pegawai:

a. Sesuatu yang dicapai


b. Kualitas
c. Keterampinan
d. Kedisiplinan
e. Pencapaian tujuan

c. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran ini merupakan alur pikir penulis dalam melakukan


penelitian dengan lisan analisitnya berdasarkan teori-teori para pakar yang
dikembangkan penulis.

Berdasarkan landasan teoritis sebagaimana yang dikemukakan para pakar


diatas, maka kerangka pemikiran dalam penulisan skripsi ini dapat penulis
rumuskan sebagai berikut:

a. Pendidikan dan pelatihan (Diklat), penulis mencopa mengembangkan


peraturan pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang pendidikan dan
23

pelatihan jabatan pegawai negeri sipil, pendapat para pakar seperti


Notoatmodjo, Suradinata, Simanjuntak, Saiagian dan Wursanto.
b. Kinerja pegawai, dikembangkan pendapat para pakar seperti
Sinambela, Taliiduhu, Fournias, Mahmudi, Maslon, Abut, kledon,
Irwan dan lain-lain.

(3) Kerangka Pemikiran


a. Hipotesis

Bersadarkan latar belakang identifikasi serta perumusan masalah sebagai


mana diuraikan diatas, maka hipotesis yang akan di uji dapat dirumuskan:
“terdapat pengaruh positif dari pendidikan dan pelatihan (Diklat) terhadap kinerja
pegawai di kecamatan Cipayung Kota Depok Provinsi Jawa Barat”.

Untuk menguji hipotesis penelitian di atas, digunakan rumus hipotesis


statestik guna mengukur instrumen variabel X (pendidikan dan pelatihan) dan
variabel Y (kinerja pegawai) di kecamatan Cipayung, yaitu:

HO: ρ = O tidak ada pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai.

Hα: ρ ≠ O ada pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja pegawai.

Ρ = Nilai korelasi dalam formulasi yang di hipotesiskan.


24

6. Metodologi penenlitian
6.1 Metode Penelitian
a. Menurut Usman dan Akbar (2004: 42) menyatakan bahwa:

Metode ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang
mempunyai langkah-langkah sistematis. sedagkan metodologi ialah suatu
pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. Jadi,
metodologi penelitian ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-
peraturan yang terdapat dalam penelitian.

b. Menurut Sugiyono (2009: 2) menyatakan bahwa:

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan


tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci
yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmia data, tujuan, dan kegunaan. Cara ilmiah
berarti kegiatan penelitian itu di lakukan dengan cara-cara di amati oleh indra
manusia. Sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang di
gunakan. (bedakan cara tidak ilmiah, misalnya mencari uang hilang, atau
provokator, proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-
langkah tertentu yang bersifat logis).

c. Menurut Arikunto (2006: 20) menyatakan bahwa:

tanpa adanya penelitian, pengetahuan tidak akan bertambah maju. Padahal


pengetahuan adalah dasar semua tindakan dan usaha. Penelitian sebagai dasar
untuk meningkatkan pengetahuan, harus diadakan penelitian agar meningkatkan
pula pencapaian usaha-usaha manusia.

(1) Desain Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis


deskriptif.Menurut sugiyono (2009: 7) menyatakan bahwa: metode ini disebut
metode kuantitatif karena data statestik.

Selanjutnya menurut Muhktar dan Erna Widododo (200: 15)


mengungkapkan bahwa metode penelitian Deskriptif adalah suatu Metode yang
25

digunakan untuk menemukan pengetahuan seluas-luasnya terhadap obyek


penelitian pada suatu saat tertentu.

Melalui metode kuantitatif dengan analisis deskriptif ini diharapkan dapat


diketahui sejauh mana pengaruh pendidikan dan pelatihan pegawai terhadap
kinerja pegawai di Kecamatan Cipayung Kota Depok Provinsi Jawa Barat.

A. Variabel Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran, maka Variabel penelitian ini terdiri dari:

a. Variabel Bebas (X) : Pendidikan dan pelatihan


b. Variabel Terikat (Y) : Kinerja Pegawai

Hubungan kedua Variabel (X dan Y) ini selanjutnya dapat digambarkan


sebagai berikut:

B. Metode Hubungan Struktural

Keterangan

X : Pendidikan dan Pelatihan

Y : Kinerja Pegawai

ρXY : menunjukan besar/kecilnya pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Pegawai


(X) terhadap Kinerja Pegawai (Y)

ε : Faktor-faktor lain yang mempengaruhi Kinerja Pegawai (Y) tetapi tidak diukur
dalam penelitian ini.

(1) Definisi Konseptual dan Operasional Variabel

Dari kedua Variabel, yaitu variabel X dan Y, dapat ditentukan definisi


konseptual dan operasional dari masing-masing variabel sebagai berikut:

Variabel X (Pendidikan dan Pelatihan)

a. Definisi Konseptual.

Pendidikan dan pelatihan adalah suatu cara untuk melati dan mendidik pegawai
agar kemampuan yang dimiliki pegawai berupa pengetahuan, keterampilan,
pengalaman dan keahlian dalam melaksanakan pekerjaannya dengan efesien dan
efektifitas dalam tugas.
26

b. Definisi Operasional

Skor keseluruhan yang diperoleh dari 50 orang responden yang diukur dengan
pengukuran menggunakan instrumen berbentuk skala 1: 3 yang terdiri atas16 butir
pernyataan.

Instrumen ini dapat terlihat dalam tabel sebagai berikut:

Kisi-Kisi Operasional Variabel (X)

Variabel Indikator Butir Pernyataan Jumlah


1 Pengaruh 1, 2, 3, 3
2 Pembinaa 4, 5, 6, 3
Pendidikan 3 Pendidikan 7, 8, 9, 3
dan Pelatihan 4 Mendidik 10, 11, 12, 3
(X) 5 Pengembangkan 13, 14, 15, 16. 4
Jumlah 16

Variabel Y (Kinerja Pegawai)

a. Devinisi konseptual

Kinerja Pegawai merupakan hasil kerja yang dicapai oleh Pegawai dalam
tanggungjawabnya melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi.

b. Definisi Operasional

Skor keseluruhan yang diperoleh dari 50 orang responden yang diukur dengan
pengukuran menggunakan instrumen berbentuk skala 1:4 yang terdiri atas 20 butir
pernyataan. Instrumen ini dapat terlihat dalam tabel sebagai berikut :

Kisi-Kisi Operasional Variabel (Y)

Variabel Indikator Butir Pernyataan Jumlah


Hasil yang dicapai 1, 2, 3, 4, 4
kualitas 5, 6, 7, 8, 4
ketrampilan 9,10, 11, 12,, 4
Kinerja Pegawai
4 kedisiplinan 13,14,15,16, 4
(Y)
5. Pencapaian tujuan 17,18,19,20. 4
Jumlah 20
27

6.2 Unit Analisis, Populasi dan Sampel


a. Unit Analisis

Menurut Arikunto (2006:143) mennyatakan bahwa unit analisis adalah


satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subyek penelitian. Berarti yang
menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah Pegawai dan Masyarakat di
Kecamatan Cipayung Kota Depok Provinsi Jawa.

b. Populasi

Sugiyono (2007: 79), mengemukakan bahwa populasi adalah wilayah


generalisasi yang terdiri dari obyek atau subjek yang menjadi kuantitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya Dengan demikian yang dimaksud populasi adalah objek
atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu
yang mempunyai kaitan dengan masalah yang diteliti.

Populasi target atau sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh warga
yang berdomisili di lingkungan kerja Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Provinsi
Jawa Barat. Adapun jumlah populasinya sebanyak 97.523 (Dokumentasi
Kecamatan Cipayung, 2011). Terdiri dari (belum sekolah 12.445 orang, tidak
tamat sekolah 8.648 orang, tamat SD 24.813 orang, tamat SLTP 20.850 orang,
jumlah yang tidak dipilh 66.76 orang). Dan terpilih sebagai kuesioner adalah
sebagai berikut: tamat SMA 24.519 orang, tamat akademi 2.913 orang, dan
perguruan tinggi 3.335 orang. Jumlah terpilih 30.767 orang. Sedangkan populasi
terjangkaunya adalahpegawai kecamatan Cipayung 14 orang.

c. Sampel

Sugiyono (2007:83) menegaskan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah


dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar dan peneliti
tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi dikarenakan
keterbatasan waktu, tenaga dan dana maka peneliti dapat menggunakan sampel
yang diambil dari populasi. Apa yang diambil dari sampel maka kesimpulannya
akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari
populasi harus betul betul representatif (homogen). Berdasarkan teori tersebut,
maka sampel dalam penelitian ini diambil dari pegawai kecamatan yang
berjumlah 14 orang diasumsikan telah homogen karena selain mereka dipilih dari
tokoh masyarakat setempat, mereka mempunyai dua fungsi yaitu di satu pihak
mewakili masyarakat dan di pihak lain mereka sebagai perpanjangan tangan dari
pemerintah kecamatan untuk meneruskan apa saja yang harus diketahui dan
dikerjakan masyarakat di kecamatanmasing-masing. Supaya hasil penelitian baik,
28

sampel penelitian ditetapkan 50 orang terdiri dari pegawai kecamatan


cipayung 10 orang dan penduduk dari masyarakat cipayung SMA keatas 40 orang.

d. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara sampel dikelompokkan


(cluster sampling), dihomogenkan, dan kemudian di ambil sampel yang
diperlukan dengan cara mengambil secara acak (simple random sampling), yaitu
dengan mengambil anggota sampel dari populasi yang telah homogen secara acak
tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut (Sugiyono,
2010:82) seperti skema di bawah ini.

Skema Teknik Pengambilan Sampel

Sampel Pengelompokan (Cluster Sampling)

Homogen

Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)