Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
a. Pembelajaran Kimia
a) Belajar
Jurnal 3 Menurut Slameto, belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya menyangkut
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam belajar, siswa mengalami sendiri
proses dari tidak tahu menjadi tahu.

Jurnal 2 Chaplin menyatakan bahwa belajar memiliki dua definisi yaitu


”...acquisition of any relatively permanent change inbehaviour as a result of a
practice and experience.” (perolehan perubahan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman) dan ”process of aquiring
responses as a result of special practice.” (proses memperoleh respon-respon
sebagai akibat adanya latihan khusus).

Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan


suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari
pengalaman dan latihan khusus individu dalam berintraksi dengan
lingkungannya.

Menurut Dalyono (2007:49-50) tujuan belajar adalah sebagai berikut:


1. Belajar bertujuan mengadakan perubahan dalam diri antara lain perubahan
tingkah laku.
2. Belajar bertujuan mengubah kebiasaan yang buruk menjadi baik.
3. Belajar bertujuan mengubah sikap dari negatif menjadi positif, tidak
hormat menjadi hormat, benci menjadi sayang dan sebagainya.
4. Dengan belajar dapat memiliki keterampilan.
5. Belajar bertujuan menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.

Menurut Syah (2004:144), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa


dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni kondisi jasmani dan rohani
siswa.
2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di
sekitar siswa.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya
belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa
untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

b) Kimia
Berdasarkan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, pada bagian lampiran tentang
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, dijelaskan bahwa kimia
merupakan salah satu rumpun IPA. Oleh karena itu, kimia memiliki
karakterisik yang sama dengan IPA, yaitu objek kajian, cara memperoleh, serta
kegunaannya.

Di hp Menurut pendapat Monica, kimia adalah ilmu yang mencari jawaban


atas apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan
komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energitika zat. Oleh
sebab itu, mata pelajaran kimia di SMA/MA mempelajari segala sesuatu
tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika,
dan energitika zat yang melibatkan keterampilan dan penalaran. Ada dua hal
yang berkaitan dengan kimia yang tidak bisa dipisahkan, yaitu kimia sebagai
produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan
teori) dan kimia sebagai proses yaitu kerja ilmiah.

SS Menurut E. Mulyasa (2006: 133-134), mata pelajaran kimia di SMA/MA


bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Membentuk sikap positif terhadap kimia dan menyadari keteraturan dan
keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
2. memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis, dan dapat
bekerja sama dengan orang lain
3. memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui
percobaan atau eksperimen, dimana siswa melakukan pengujian hipotesis
dengan merancang percobaan melalui pemasangan instrumen,
pengambilan, pengolahan, dan penafsiran data, serta menyampaikan hasil
percobaan secara lisan dan tertulis
4. meningkatkan kesadaran tentang terapan kimia yang dapat bermanfaat dan
juga merugikan bagi individu, masyarakat, dan lingkungan serta
menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan dan
kesejahteraan masyarakat
5. memahami konsep, prinsip, hukum, dan teori kimia serta saling
keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam
kehidupan sehari-hari dan teknologi.

c) Pembelajaran Kimia
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan
oleh pihak guru sebagai pendidik dan belajar dilakukan oleh siswa sebagai
peserta didik. Kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa adalah suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2).

Menurut Oemar Hamalik (2008:57) pembelajaran adalah suatu kombinasi


yang tersusun dari manusia, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur,
yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan
pembelajaran kimia merupakan suatu upaya guru dalam menyampaikan ilmu
kimia serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan
pembelajaran kimia dibutuhkan strategi, metode, teknik maupun model
pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran kimia dapat tercapai dengan
optimal.

Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan oleh guru untuk


memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru, yang dalam
menjalankan tugasnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Teknik pembelajaran merupakan jalan, alat, atau media yang digunakan guru
untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai
dalam pembelajaran (Hamzah B. Uno, 2007:2).
PEMBELAJARAN 3 Tujuan pembelajaran kimia menurut Tresna
Sastrawijaya (1988:113) adalah memperoleh pemahaman yang tahan lama
perihal berbagai fakta, kemampuan mengenal dan memecahkan masalah,
mempunyai keterampilan dalam menggunakan laboratorium, serta mempunyai
sikap ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Belajar kimia dikatakan berhasil
jika tujuan pembelajaran kimia dapat tercapai. Pembelajaran kimia dilakukan
dengan memberikan metode pembelajaran yang tepat untuk tiap-tiap materi.
Hal ini dikarenakan pada tiap-tiap materi dalam kimia memiliki karakteristik
tersendiri. Beberapa teknik yang dapat diterapkan yaitu : 1) mempelajari kimia
dengan pemahaman konsep, 2) dari materi yang mudah ke sukar, 3)
menggunakan berbagai teknik menghafal, menyelesaikan soal, penguasaan
konsep, menguasai aturan kimia, penyelesaian masalah di laboratorium, dan 4)
mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya pada bahasan struktur
atom, metode yang paling tepat yaitu dengan ceramah disertai dengan ilustrasi
visual yang memudahkan siswa menangkap maksud dari teori, konsep serta
hukum di dalamnya. Dengan demikian, peran guru kimia pun makin
meningkat karena dituntut untukmerencanakan metode pembelajaran yang
menarik dan sesuai sehingga dapat membantu siswa lebih mudah memahami
materi yang diajarkan.

b. Pendekatan Kontruktivisme
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri
informasi, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama, dan merevisinya
apabila aturan itu tidak lagi sesuai. Menurut teori ini, pembelajaran berpusat
kepada siswa yaitu siswa harus membangun sendiri pengetahuannya. Guru tidak
melakukan transfer pengetahuan kepada siswa, melainkan membantu siswa
membentuk pengetahuannya sendiri (Trianto, 2010: 28).
Sedangkan menurut Tran Vui konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang
dibangun atas anggapan bahwa dengan menggambarkan pengalaman-pengalaman
sendiri. Sedangkan teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan
kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan
kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan
bantuan fasilitasi orang lain.
Dari kedua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa teori kontruktivisme
adalah teori pembelajaran yang memberikan kebebasan terhadap manusia untuk
belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain
yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.

Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme


yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara
personal maupun secara sosial; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke
siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif
mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju
ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru
berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa
berjalan mulus.

c. Pembelajaran Kimia Berdasarkan Pendekatan Kontruktivisme


Pembelajaran kimia disebut juga sebagai pembelajaran sains. Dikarenakan ilmu
kimia merupakan bagian dari sains. Pembelajaran kimia sering diyakini sebagai
pembelajaran yang kurang menyenangkan dan cenderung membosankan. Hal ini
terjadi karena pembelajaran kimia masih sering diajarkan dalam suasana
pendekatan yang tradisional, dimana guru mengambil peranan dominan sementara
siswa hanya bersifat pasif. Munculnya perspektif kontruktivisme dalam pendidikan
sains tidak terlepas dari pengaruh kontruktivisme dalam bidang sains itu sendiri.
Proses membangun pengetahuan ilmiah sains harus bersifat bermanfaat dan
mengarah pada hal-hal yang praktis. Selain itu juga harus relevan dengan
fenomena sains sehari-hari yang familiar dimata siswa (Paluvi, 2010).
Dalam kontruktivisme, siswa perlu membangun pengetahuannya sendiri, terlepas
dari bagaimana mereka belajar. Dengan demikian kontruktivisme mengantarkan
siswa dalam membangun pemahamannya tentang konsep kimia.

Menurut pandangan guru, pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran kimia


merupakan cara berfikir, sikap, dan perilaku guru dalam proses belajar mengajar
dengan menekankan pada peran aktif siswa untuk membangun pengetahuan
kimianya melalui pemahaman terhadap realitas kehidupan sebagai hasil dari
pengalaman intraksinya. Dalam hal ini guru juga dituntut untuk mengidentifikasi
secara dini pengetahuan awal siswa. Hal ini bertujuan agar bentuk kegiatan yang
akan dilakukan oleh guru dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa (Palupi,
2010).

d. Pengembangan Modul Kimia


a) Modul
Modul merupakan salah satu media pembelajaran yang berbentuk naskah atau
media cetak yang sering digunakan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar.
Modul dirumuskan sebagai salah satu unit yang lengkap yang berdiri sendiri,
terdiri dari rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu para
siswa dalam mencapai tujuan belajar yang telah dirumuskan secara spesifik dan
operasional. Modul digunakan sebagai pengorganisasian materi pembelajaran
yang memperlihatkan fungsi pendidikan. Strategi pengorganisasian materi
pembelajaran mengacu pada upaya untuk menunjukkan kepada siswa
keterkaitan antara fakta, konsep, prosedur dan prinsip yang terkandung pada
materi pembelajaran. Untuk merancang materi pembelajaran, terdapat lima
kategori kapabilitas yang dapat dipelajari oleh siswa, yaitu informasi verbal,
keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap dan keterampilan motorik.
(Herawati, 2013: 80).

Karakteristik modul yang baik menurut Chomsin S.W. dan Jasmadi (2008: 50)
yaitu:
1. Self Instruksional
Self instruksional adalah jika pembelajaran dilakukan melalui modul maka
seseorang atau peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri, tidak
tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instruksional,
maka dalam modul harus:
1) Berisi tujuan ysng dirumuskan dengan jelas.
2) Berisi materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit
kecil/spesifik sehingga memudahkan peserta didik belajar secara
tuntas.
3) Menyediakan contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan
pemaparan materi pembelajaran.
4) Menampilkan soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang
memungkinkan pengguna memberikan respon dan mengukur tingkat
penguasaanya.
5) Kontekstual yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana atau
konteks tugas dan lingkungan penggunanya.
6) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif,
7) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
8) Terdapat instrumen penilaian yang memungkinkan penggunaan
melakukan pembelajaran mandiri.
9) Terdapat instrumen penilaian yang dapat digunakan peneliti mengukur
atau mengevaluasi tingkat penguasaan materi.
10) Terdapat umpan balik atas penilaian, sehingga penggunanya
mengetahui tingkat penguasaan materi,
2. Self Contained
Self contained adalah seluruh materi yang diperlukan dalam pembelajaran
dari satu unit standard kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu
modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan
pembelajar mempelajari materi pelajaran secara tuntas, karena materi
dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh.
3. Stand Alone (berdiri sendiri)
Yaitu modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media
pembelajaran lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media
pembelajaran lain. Dengan menggunakan modul, pembelajar tidak
tergantung dan harus menggunakan media yang lain untuk mempelajari dan
atau mengerjakan tugas pada modul tersebut.
4. Adaptive
Modul sebagai bahan ajar pembelajaran hendaknya memiliki daya adaptif
yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan tekhnologi. Dikatakan adaptif
yaitu jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi serta fleksibel untuk digunakan. Modul yang adaptif adalah jika
isi materi pembelajaran dapat digunakan sampai dengan kurun waktu
tertentu.
5. User Friendly
Modul mempunyai peran penting yaitu harus bersahabat dengan
pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat
membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan
pemakai dalam merespon, mengakses sesuai keinginan. Penggunaan bahasa
yang sederhana, mudah dimengerti serta menggunakan istilah yang umum
digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.

Manfaat pembelajaran menggunakan modul menurut S. Nasution (2010: 206)


adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan efektivitas pembelajaran karena pembelajar dapat belajar di
rumah secara berkelompok maupun sendiri
2. Menentukan dan menetapkan waktu belajar yang lebih sesuai dengan
kebutuhan dan perkembangan belajar peserta didik
3. Secara tegas mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik secara
bertahap melalui kriteria yang telah ditetapkan dalam modul, dan
4. Mengetahui kelemahan atau kompetensi yang belum dicapai peserta didik
berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam modul sehingga dapat
memutuskan dan membantu peserta didik untuk memperbaiki belajarnya
serta melakukan remidiasi.

Adapun ciri-ciri modul menurut Herawati (2013: 83) sebagai berikut:

1. Didahului oleh pernyataan sasaran belajar


2. Pengetahuan disusun sedemikian rupa, sehingga dapat mengaktifkan
partisipasi siswa
3. Memuat sistem penilaian berdasarkan penguasaan
4. Memuat semua unsur bahan pelajaran dan semua tugas pelajaran, dan
5. Mengarah pada suatu tujuan belajar tuntas.

Komponen-komponen modul mencakup tiga bagian (Marwarnard, 2011:4),


yaitu bagian pembuka, inti, dan penutup dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Bagian pembuka
1) Judul
Judul modul perlu menarik dan memberi gambaran tentang materi
yang dibahas.
2) Daftar Isi
Daftar isi menyajikan topik-topik yang dibahas. Topik-topik
tersebut diurutkan berdasarkan urutan kemunculan dalam modul.
3) Peta Informasi
Modul perlu menyertakan peta Informasi. Pada daftar isi akan
terlihat topik apa saja yang dipelajari, tetapi tidak terlihat kaitan
antar topik tersebut. Pada peta informasi akan diperlihatkan kaitan
antar topik-topik dalam modul. Peta informasi yang disajikan dalam
modul dapat saja menggunakan diagram isi bahan ajar yang telah
dipelajari sebelumnya.
4) Daftar Tujuan Kompetensi Umum
Penulisan tujuan kompetensi membantu pembelajar untuk
mengetahui pengetahuan, sikap, atau keterampilan apa yang dapat
dikuasai setelah menyelesaikan pelajaran.
2. Bagian Inti (Kegiatan Belajar)
1) Pendahuluan/Tinjauan Umum Materi
Pendahuluan pada suatu modul berfungsi untuk ; (1) memberikan
gambaran umum mengenai isi materi modul, (2) meyakinkan
pembelajar bahwa materi yang akan dipelajari dapat bermanfaat
bagi mereka, (3) meluruskan harapan pembelajar mengenai materi
yang akan dipelajari, (4) mengaitkan materi yang telah dipelajari
dengan materi yang akan dipelajari, (5) memberikan petunjuk
bagaimana mempelajari materi yang akan disajikan. Dalam
pendahuluan dapat saja disajikan peta informasi mengenai materi
yang akan dibahas dan daftar tujuan kompetensi yang akan dicapai
setelah mempelajari modul.
2) Hubungan Dengan Materi atau Pelajaran Yang Lain
Materi pada modul sebaiknya lengkap, dalam arti semua materi
yang perlu dipelajari tersedia dalam modul. Bila materi tersebut
tersedia pada buku teks maka arahan tersebut dapat diberikan
dengan menuliskan judul dan pengarang buku teks tersebut.
3) Uraian Materi
Uraian materi merupakan penjelasan secara terperinci tentang
materi pembelajaran yang disampaikan dalam modul. Organisasikan
isi materi pembelajaran dengan urutan dan susunan yang sistematis,
sehingga memudahkan pembelajar memahami materi pembelajaran.
Apabila materi yang akan dituangkan cukup luas, maka dapat
dikembangkan ke dalam beberapa Kegiatan Belajar (KB). Setiap
KB memuat uraian materi, penugasan, dan rangkuman. Organisasi
materi kegiatan belajar antara judul, sub judul dan uraian harus yang
mudah untuk diikuti oleh pembelajar. Pemberian judul atau
penjudulan merupakan alat bantu bagi pembaca modul untuk
mempelajari materi yang disajikan dalam bentuk teks tertulis.
4) Penugasan
Penugasan dalam modul perlu untuk menegaskan kompetensi apa
yang diharapkan setelah mempelajari modul. Penugasan juga
menunjukkan kepada pebelajar bagian mana dalam modul yang
merupakan bagian penting.
5) Rangkuman
Rangkuman merupakan bagian dalam modul yang menelaah hal-hal
pokok dalam modul yang telah dibahas. Rangkuman diletakkan
pada bagan akhir modul.
3. Bagian Penutup
1) Glosarium atau daftar istilah
Glosarium berisikan definisi-definisi konsep yang dibahas dalam
modul. Definisi tersebut dibuat ringkas dengan tujuan untuk
mengingat kembali konsep yang telah dipelajari.
2) Tes Akhir
Tes akhir merupakan latihan yang dapat pembelajar kerjakan setelah
mempelajari suatu bagian dalam modul. Aturan umum untuk tes
akhir ialah bahwa tes tersebut dapat dikerjakan oleh pembelajar.
3) Indeks
Indeks memuat istilah-istilah penting dalam modul serta halaman di
mana istilah tersebut ditemukan. Indeks perlu diberikan dalam
modul supaya pebelajar mudah menemukan topik yang ingin
dipelajari. Indeks perlu mengandung kata kunci yang kemungkinan
pembelajar akan mencarinya.

b) Pengembangan Modul Kimia


Modul merupakan sebuah media pembelajaran yang bersifat individual.
Biasanya modul yang ada di sekolah masih dalam bentuk konvensional atau
cetak sehingga hanya dapat menampilkan gambar dalam bentuk dua dimensi.
Modul yang selama ini digunakan dalam proses pembelajaran masih memiliki
layout sederhana dan isi yang hanya berupa materi pokok saja. Modul seperti
ini membuat siswa cenderung merasa bosan dalam mempelajari materi pada
setiap pokok bahasan sehingga diperlukan suatu pengembangan media
pembelajaran berupa modul yang dapat menarik minat siswa pada materi
kimia (Ratna dkk, 2014). Jurnal Pengembangan modul

Dalam mengembangkan modul kimia diperlukan prosedur tertentu yang sesuai


dengan sasaran yang ingin dicapai, struktur isi pembelajaran yang jelas, dan
memenuhi kriteria yang berlaku bagi pengembangan pembelajaran.

Menurut Nurma & Endang ada lima kriteria dalam pengembangan modul,
yaitu: teori pengembangan modul word
1. Membantu siswa menyiapkan belajar mandiri
2. Memiliki rencana kegiatan pembelajaran yang dapat direspon secara
maksimal
3. Memuat isi pembelajaran yang lengkap dan mampu memberikan
kesempatan belajar kepada siswa
4. Dapat memomitor kegiatan belajar siswa
5. Dapat memberikan saran dan petunjuk serta infomasi balikan tingkat
kemajuan belajar siswa.

Berdasarkan penjelasan tersebut, pengembangan modul harus mengikuti


langkah-langkah yang sistematis. Langkah-langkah tersebut adalah :
1. Analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi
2. Analisis sumber belajar
3. Analisis karakteristik pebelajar
4. Menetapkan sasaran dan isi pembelajaran
5. Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran
6. Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran
7. Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan
8. Pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran

e. Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan


Berikut ini rangkuman materi kelarutan dan hasil kali kelarutan menurut (Sunardi
dkk, 2012)
1. Pengertian Kelarutan
Kelarutan (solubility) diartikan sebagai ukuran kemampuan suatu zat untuk
melaarut dalam sejumlah pelarut tertentu dari zat lain pada suhu dan tekanan
standar. Dengan kata lain, kelarutan suatu seenyawa dalam pelarut tertentu
pada suhu dan tekanan tertentu diartikan sebagai jumlah maksimum senyawa
tersebut yang dapat dilarutkan dalam larutannya. Biasanya, kelarutan suatu zat
atau senyawa dinyatakan dalam satuan gram/liter (g/L) atau mol/liter (mol/L).

Jenis-jenis larutan berdasarkan kelarutan zat dapat dibedakan menjadi 3 jenis


yaitu;
1. Larutan jenuh, adalah suatu keadaan ketika suatu larutan telah
mengandung suatu zat terlarut dengan konsentrasi maksimum.
2. Larutan tak jenuh, adalah larutan yang masih dapat melarutkan zat terlarut.
3. Larutan Lewat Jenuh, adalah larutan yang sudah tidak dapat lagi
melarutkan zat terlarut, sehingga menyebabkan terbentuknya endapan.

Berikut ini faktor – faktor yang mempengaruhi kelarutan, yaitu;

1. Jenis Pelarut dan Zat Terlarut


Secara umum, larutan-larutan dengan molekul-molekul yang secara
struktur sama dengan molekul-molekul pelarut mempunyai kelarutan yang
tinggi. Sebagai contoh, etanol (C2H5OH) dan air (H2O) mempunyai
molekul-molekul sama secara struktur dan keduanya dapat saling larut
dengan baik satu sama lain. Sehingga dalam hal ini jenis pelarut dan zat
terlarut yang mempengaruhi kelarutan zat adalah kepolaran suatu zat. Zat-
zat yang mempunyai kepolaran yang sejenis dapat saling melarutkan satu
sama lain.
2. Suhu
Kelarutan sebagian besar zat meningkat dengan adanya peningkatan suhu.
Akan tetapi, untuk beberapa zat seperti gas dan garam-garam organik dari
kalsium, kelarutannya dalam cairan meningkat dengan penurunan suhu.
3. Tekanan
Untuk zat terlarut padat dan cairan, perubahan tekanan secara praktis tidak
mempengaruhi kelarutan. Akan tetapi, untuk zat terlarut gas, peningkatan
tekanan meningkatkan kelarutan dan penurunan tekanan memperkecil
kelarutan.
2. Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Hasil kali kelarutan adalah kondisi suatu zat yang dapat larut dalam air hingga
tercapai kondisi tepat jenuh. Hasil kali kelarutan ialah hasil kali konsentrasi
ion-ion dari larutan jenuh garam yang sukar larut dalam air, setelah masing-
masing konsentrasi dipangkatkan dengan koefisien menurut persamaan
ionisasinya.

Dalam larutan terjadi kesetimbangan ion yaitu;

Berdasarkan reaksi kesetimbangan dapat dihitung harga tetapan:

Di dalam larutan jenuh AxBy konsentrasi AxBy yang terlarut tidak berubah
selama AxBy padat masih terdapat dalam larutan dan suhu percobaan tetap.
Persamaan (1) dapat juga ditulis sebagai berikut:

Karena harga K tetap dan harga konsentrasi AxBy merupakan tetapan baru.
Tetapan baru ini dinyatakan dengan notasi Ksp, maka persamaan (2) dapat
ditulis:

Keterangan:

Ksp zat AxBy = hasil kali kelarutan AxBy

[Ay+] / [Bx–] = konsentrasi ion-ion Ax+ dan By–

3. Hubungan antara Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan (s dan Ksp)


Nilai Ksp dapat juga dihitung berdasarkan hubungan antara Ksp dan kelarutan
(s). Hubungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ksp = [Ay+]x[Bx-]y = (xs)x(ys)y = (xxyy)s(x+y)
Ada 3 cara untuk menentukan hubungan antara kelarutan (s) dengan tetapan
hasil kali kelarutan (Ksp) yaitu :

1. Menuliskan persamaan reaksi kesetimbangannya


2. Menentukan hubungan antara konsentrasi ion-ion dengan kelarutan
berdasarkan koefisien reaksinya.
3. Menentukan hubungan antara Ksp dengan kelarutan (s) berdasarkan
persamaan tetapan hasil kali kelarutan.

4. Pengaruh Ion Senama atau Sejenis


Kelarutan suatu zat dapat diturunkan, di antaranya dengan menambahkan
suatu garam dapat larut yang mengandung ion senama (sejenis). Jika larutan
dan garam padat yang dilarutkan di dalamnya mempunyai ion yang sama,
maka kelarutan garam akan berkurang.

Garam ini akan bersenyawa dengan ion dalam larutan tersebut untuk
membentuk suatu endapan yang tidak dapat larut. Contoh :

Sebelum ditambahkan Na2SO4, larutan Ag2SO4 terionisasi menjadi Ag+ dan


SO42-.
Ag2SO4 (s) → 2Ag+ (aq) + SO42- (aq)

Setelah ditambahkan Na2SO4, didalam larutan terdapat Na+ dan tambahan


SO42-. Penambahan ion SO42- akan menggeser kesetimbangan ke kiri yang
artinya kelarutan akan semakin kecil dan zat akan semakin sukar larut,
sehingga zat akan semakin mudah mengendap. Na2SO4 dan AgSO4 sama-sama
mengandung ion SO42- yang disebut ion senama. Penambahan ion senama
menurunkan kelarutan zat yang ditambahkan ion senama tersebut.
5. Kelarutan Hidroksida
Salah satu pengaruh langsung pH terhadap kelarutan berlangsung dengan
logam hidroksida. Konsentrasi OH- muncul dalam rumus hasil kali
kelarutan senyawa tersebut. Untuk penguraian Zn(OH)2 (s) :

Zn(OH)2(s) Zn2+(aq) + 2 OH-(aq)

Hasil kali kelarutannya adalah :

[Zn2+][OH-]2 = Ksp = 4,5 x 10-17

Jika larutan di buat lebih asam, konsentrasi ion hidroksida berkurang,


yang menyebabkan kenaikan konsentrasi ion Zn2+(aq). Jadi, seng
hidroksida lebih larut dalam larutan asam daripada dalam air murni.

6. Memprediksi terjadinya Pengendapan Dua Larutan yang


Direaksikan
Untuk mengetahui terjadinya pengendapan, belum jenuh, atau tepat jenuh
dari pencampuran dua zat, maka harus dibandingkan dengan hasil kali
konsentrasi ion-ion yang dicampurkan (Q) dengan harga Ksp. Jika:
1) Q (ion product) > Ksp maka terjadi pengendapan.
2) Q (ion product) = Ksp maka larutan tepat jenuh.
3) Q (ion product) < Ksp maka larutan belum jenuh (tidak mengendap)

B. Penelitian Relevan
Penelitian pengembangan modul kimia telah banyak dikembangkan baik
menggunakan model pembelajaran berbasis kontruktivisme ataupun dengan model
pembelajaran yang lainnya, seperti penelitian Muhammad Ilham (2016) tentang
Pengembangan Modul Kimia Berbasis Proyek Pada Materi Hidrolisis Garam Di Kelas
XI Sekolah Menengah Atas. Hasil penelitiannya menunjukkan modul yang
dikembangkan memenuhi kriteria BSNP, data yang diperoleh: kelayakan isi (3,33),
kelayakan bahasa (3,46), kelayakan penyajian (3,42) dengan kriteria valid dan tidak
perlu revisi. Penelitian lain oleh Oni Pluntur Artiono (2015) tentang Pengembangan
Buku Ajar Matematika Dengan Pendekatan Kontruktivisme Untuk Siswa Kelas V
SDIT Internasional Luqman Al-Hakim Yogyakarta Kelas Bilingual. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa (1) kualitas buku ajar berdasarkan aspek kevalidan
termasuk kategori baik dengan skor rata-rata 4,13 menurut penilaian dua dosen ahli
materi dan ahli media; (2) kualitas buku ajar berdasarkan penilaian guru termasuk
kategori baik dengan skor rata-rata 3,78; (3) kualitas buku ajar berdasarkan dari aspek
kepraktisan termasuk kategori baik dengan skor rata-rata 3,98; dan (4) kualitas buku
ajar berdasarkan aspek kefektivan termasuk kategori baik berdasarkan postes siswa
dengan persentase ketuntasan hasil belajar sebesar 71,43%.

C. Kerangka berfikir
Berdasarkan latar belakang yang disajikan, maka kerangka berfikir pada penelitian ini
dapat dijelaskan sebagai berikut:

Kimia salah satu mata pelajaran di sekolah


yang memiliki kualitas hasil rendah

Proses pembelajaran kimia di kelas cenderung monoton


dan kurang menarik

Kelarutan dan hasil kali kelarutan salah satu mata pelajaran


kimia yang memiliki konsep abstrak, konkrit, simbolik dan
mikroskopis. Siswa membutuhkan media dalam memahami
materi

Media pembelajaran yang memberi kebebasan siswa untuk


belajar ialah modul

Pengembangan modul dapat diintegrasikan dengan model


pembelajaran inovatif

Salah satu model pembelajaran yang inovatif


adalah model pembelajaran berbasis
kontruktivisme

Pengembangan modul kimia berbasis kontruktivisme pada materi kelarutan


dan hasil kali kelarutan untuk siswa kelas XI SMA