Anda di halaman 1dari 9

CASE REPORT

TINEA CRURIS

Disusun Oleh :

Amri Yusuf

Dea Gratia Putri S.

Riska Wulandari

Pembimbing

dr. Yulisna, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK SMF KULIT DAN KELAMIN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit infeksi jamur, masih memiliki prevalensi yang cukup tinggi di
Indonesia, mengingat negara kita beriklim tropis yang mempunyai kelembapan
tinggi. Jamur bisa hidup dan tumbuh di mana saja, baik di udara, tanah, air,
pakaian, bahkan di tubuh manusia. Jamur bisa menyebabkan penyakit yang cukup
parah bagi manusia. Penyakit tersebut antara lain mikosis yang meyerang
langsung pada kulit, mikotoksitosis akibat mengonsumsi toksin jamur yang ada
dalam produk makanan, dan misetismus yang disebabkan oleh konsumsi jamur
beracun1.
Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan
sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat
merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi akut dapat terbatas
pada daerah genitor-krural saja, atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus
dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain. Kelainan kulit yang tampak
pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata
daripada daerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang
primer dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun dapat berupa
bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat
garukan.2
Kebanyakan Tinea cruris penyebarannya pada musim panas dan banyak
berkeringat. Paling banyak di daerah tropis. Penyebab terseringnya
Epidermophyton Floccosum, namun dapat pula oleh T. Rubrum dan T.
Mentagrophytes, yang ditularkan secara langsung atau tak langsung. Laki-laki
sering dijumpai daripada perempuan dengan perbandingan 3:1.3 Pada orang
dewasa lebih sering dijumpai daripada anak-anak. Pada daerah yang
kebersihannya kurang diperhatikan juga beresiko serta lingkungan yang kotor dan
lembap.4
Penulisan makalah laporan kasus dapat meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman dokter muda mengenai penegakan anamnesa Tinea Cruris dalam
anamnesa, pemeriksaan fisik, penunjang, penatalaksanaan, serta penanganan
prognosis yang tepat.

1.2 Status Pasien


Nama : Nn. WR
Usia : 23 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Urip Sumoharjo Gg. Sungdi 4 no. 36
Pekerjaan : Pegawai
Suku bangsa : Jawa
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Pendidikan : Sarjana
Pemeriksaan : Autoanamnesis

A. AUTOANAMNESIS
Keluhan utama :
Bruntus merah kehitaman yang terasa gatal di daerah pantat sejak 5 bulan
yang lalu

Riwayat penyakit sekarang:


5 bulan SMRS pasien mengeluh timbul bruntus merah sebesar koin pada
daerah pantat. Pasien mengeluh timbul gatal terutama saat di rumah
ketika berkeringat sehingga os sering menggaruknya. Keluhan mereda
saat pasien berada di kantor dengan ruangan ber-AC. Pasien mengaku
rasa gatal semakin parah saat siklus menstruasi. Pasien merasakan
bruntus merah semakin melebar sehingga pasien berobat ke dokter
umum. Pasien mendapatkan obat salep Ketoconazol dan obat minum
sebanyak satu jenis yang pasien lupa nama obatnya. Setelah
mendapatkan obat tersebut, keluhan pasien tidak berkurang kemudian
bruntus merah berubah menjadi kehitaman, menebal dan semakin
melebar. Pasien mengaku mandi dan mengganti celana dalam dua kali
sehari dan tidak pernah bergantian pakaian dalam dengan orang lain.
Pasien mengatakan sering keputihan berwarna bening sedikit berbau.
Keluhan bruntus kemerahan di daerah lipatan tubuh lain disangkal,
keluhan bruntus merah disertai sisik yang tebal disangkal, keluhan
bruntus kemerahan disertai panas badan disangkal.
2 bulan SMRS bruntus merah berubah menjadi hitam dan tebal
keluhan disertai rasa gatal yang sangat hebat sampai terasa seperti
terbakar dan nyeri. Keluhan semakin parah saat berkeringat dan siklus
menstruasi, serta mereda saat berada di ruang ber-AC. Kemudian pasien
berobat kembali ke dokter umum dan mendapatkan obat salep dan
minum yang berbeda, namun lupa nama obatnya. Pasien mangatkan
keluhan berkurang namun bercak kehitaman tidak berkurang dari daerah
pantat.
1 minggu SMRS bercak hitam tidak berkurang dari daerah pantat
dan pasien mengatakan timbul bercak kemerahan baru pada daerah
selangkangan kanan sebesar biji jagung keluhan disertai rasa gatal
semakin parah saat berkeringat dan siklus menstruasi, serta mereda saat
berada di ruang ber-AC. Riwayat alergi makanan dan obat disangkal.
Keluhan bruntus kemerahan di daerah lipatan tubuh lain disangkal,
keluhan bruntus merah disertai sisik yang tebal disangkal, keluhan
bruntus kemerahan disertai panas badan disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Keluhan seperti ini baru pertama kali dialami oleh pasien. Penyakit
seperti ini sebelumnya disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita keluhan yang sama.
Riwayat Higiene
Pasien tinggal di rumah sederhana dengan jarak antar rumah cukup jauh.
ventilasi rumah baik. Pasien mandi memakai sabun, 2 kali sehari. Badan
pasien selalu dikeringkan setelah mandi dan selalu menggunakan handuk
dan pakaian miliknya sendiri.

Riwayat Pengobatan
Pasien sudah pernah mendapatkan dua salep berbeda, salep Ketoconazol
dan pasien lupa namanya. Serta dua obat minum yang pasien tidak ingat
namanya.

B. STATUS GENERALIS
Keadaan umum : Tampak sakit berat
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
 Nadi : 80 x/menit
 Respirasi : 20 x/menit
 Suhu : 36,8 °C
Berat badan : 55 kg
Tinggi badan : 157 cm

1. Kepala
Rambut : Hitam tidak mudah dicabut, distribusi merata.
Mata : Cekung (-/-), konjungtiva hiperemis(-/-), sclera ikterik
(-/-), pupil isokor, reflek cahaya (+/+).
Telinga : Serumen (-), otorea (-), terdapat kelainan kulit (sesuai
status dermatologis).
Hidung : Simetris, deviasi septum (-/-), nafas cuping hidung (-),
rinore (-), terdapat kelainan kulit (sesuai status
dermatologis).
2. Leher
 Bentuk : Normal, simetris ditengah sumbu tubuh,
terdapat kelainan kulit (sesuai status
dermatologis).
 Trachea : Deviasi trakea (-).
 KGB : Tidak teraba benjolan.
 JVP : Tidak ada peningkatan.

3. Thoraks
Inspeksi :
 Bentuk : Normothoraks, simetris, sela iga normal,
ginekomastia (+).
 Retraksi : Tidak ditemukan.
 Terdapat kelainan kulit (sesuai status dermatologis).

Paru-Paru
Anterior Posterior
Sinistra Dextra Sinistra Dextra
Inspeksi Pergerak Pergeraka Pergeraka Pergeraka
an nafas n nafas = n nafas = n nafas =
= dextra sinistra dextra sinistra
Palpasi Ekspansi Ekspansi Ekspansi Ekspansi
simetris simetris simetris simetris
Perkusi Sonor Sonor Sonor Sonor
Auskultasi Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler

Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.
 Palpasi : Ictus cordis teraba.
 Perkusi : Batas jantung, dalam batas normal
 Auskultasi : BJ I/II (+/+) reguler, murmur (-), gallop(-).

4. Abdomen
 Inspeksi : datar
 Auskultasi : Bising usus (+)
 Perkusi : Timpani(+), asites (-)
 Palpasi : Lemas, hepar dan lien tidak teraba membesar,
nyeri tekan (-).

5. Genitalia Eksterna
Tidak dilakukan pemeriksaan

6. Ekstremitas
Superior : Edema (-/-),sianosis (-/-), akral hangat (+/+),
Inferior : Edema (-/-), sianosis (-/-), akral hangat (+/+),

C. STATUS DERMATOLOGIS

No. Lokasi Status Dermatologik


1 Regio gluteal makula hiperpigmentasi, berskuama, sirkumskripta,
ukuran plakat (diameter 10 cm), tepi lebih aktif berupa
papul eritem multipel numular, diskret, dan adanya
central healing
2 Regio Terdapat macula hiperpigmentasi, ukuran lentikular,
inguinalis sirkumskrip
D. LABORATORIUM
Tidak dilakukan pemeriksaan

E. RESUME
Pasien Nn. WR 23 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RS
Abodel Moeloek dengan keluhan bruntus merah kehitaman yang terasa
gatal di daerah pantat sejak 5 bulan yang lalu. Pasien mengeluh timbul
gatal terutama saat di rumah ketika berkeringat sehingga os sering
menggaruknya. Keluhan mereda saat pasien berada di kantor dengan
ruangan ber-AC. Pasien mengaku rasa gatal semakin parah saat siklus
menstruasi. Pasien sudah 2 kali ke dokter umum, namun keluhan tidak
membaik dan mendapatkan 2 salep yang berbeda, ketoconazol dan obat
dari dokter ke 2 pasien lupa nama obatnya. Serta 2 jenis obat minum
yang berbeda, yang keduanya lupa nama obatnya. Keluhan sedikit
berkurang ketika berobat ke dokter yang ke 2. Namun bruntus kehitaman
tidak hilang dan membesar. Pasien mengatakan gatal semakin hebat
sampai terasa seperti terbakar dan nyeri dan muncul bruntus kemerahan
dengan ukuran seperti biji jagung pada lipat paha kanan kemudian pasien
berobat ke Poliklinik Kulit Kelamin RS. Abdoel Moeloek.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal.


Pada status dermatologis pada regio gluteal terdapat makula
hiperpigmentasi, berskuama, sirkumskripta, ukuran plakat (diameter 10
cm), tepi lebih aktif berupa papul eritem multipel, linear, ukuran
numular, diskret, dan adanya central healing, serta pada regio inguinal
terdapat makula hiperpigmentasi, ukuran lentikular, sirkumskripta.

F. DIAGNOSIS BANDING
1. Tinea cruris
2. Eritrasma
3. Kandidosis kutis
G. DIAGNOSIS KERJA
Tinea Cruris

H. PENATALAKSANAAN
Umum
 Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya disebabkan oleh
jamur yang tumbuh pada daerah lembab
 Jaga personal higiene yang baik, mengganti pakaian dalam saat
berkeringat
 Menggunakan pakaian dalam dan baju yang menyerap keringat,
hindari pakaian dalam yang berbahan nilon karena akan
menyebabkan menjadi lebih lembab
 Mengganti handuk 3 hari sekali
 Luka jangan digaruk
 Kontrol poliklinik apabila belm membaik setelah obat habis

Khusus
 Sistemik :
 Ketoconazole tablet 2 x200 mg
 Cetirizine 1 x 10 mg
 Topikal :
 ketoconazole 2% cream dipakai 3x sehari setelah mandi
 Fusidic Acid cream 5 gram dipakai 3 kali sehari setelah mandi

I. PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%

J. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : Dubia ad bonam
 Quo ada functionam : Dubia ad bonam
 Quo ad sanationam : Dubia ad bonam