Anda di halaman 1dari 1

Kujejakkan langkah kaki ku menapak tanah,

Menyisir bebatu tajam yang hiasi jalan bumi ku


Sesekali debu kotor jalanan menerpa kulit pucat wajahku
Bersama matahari hangat yang membakar kesusahanku...

Disepanjang jalan, aku disapa dengan kemunafikan


Langkah langkahku seirama dengan penghianatan yang mereka tawarkan

Aku merintih, tapi tak lagi diperdulikan


Aku menangis, tapi tak lagi diperhatikan..
Bahkan teriakan yang hampir memutuskan pita suaraku pun , tak lagi di dengar oleh mereka
Aku...yang katanya adalah bersaudara dengan mereka
Tapi kesakitanku menjadi hiburan bagi keangkuhan mereka..
Aku...yang katanya bagian dari mereka
Tapi harapanku dipupuskan oleh ke egoisan mereka..
Inikah kemerdekaanku?
Inikah negeriku?
Negeri yang katanya serpihan surga, tapi mereka mematahkan sayap sayap malaikatnya.
Negeri yang katanya sejahtera, tapi mereka tak perduli pada sesamanya.
Aku terdiam...
Mencoba menikmati setiap kesakitan yang mereka tawarkan.
Tak mampu aku melawan
Bahkan sekedar berkata pun tidak.
Sudah terlalu remuk sayap sayap malaikat surga itu mereka hancurkan...
Sudah terlalu dalam kesakitan itu mereka tanamkan...
Kemudian , kembali mereka berkata lembut menggiurkan...
""Kita ini bersaudara""
""Kalian adalah bagian dari kita""
Menyedihkan....
Mereka memperlakukan ""saudara"" mereka lebih hina dari sampah yang mereka buang.
Inilah negeri ku...
Serpihan surga yang hanya menawarkan derita dan air mata."
(Maha Ardonanta, Karo Sumatera Utara)