Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM

PENATALAKSANAAN ASUHAN GIZI KLINIK PADA PASIEN


DIABETES MELITUS, ULKUS BAGIAN PEDIS DENGAN POST
AMPUTASI DI BANGSAL MELATI 2 RSUP DR. SOERADJI
TIRTONEGORO KLATEN

Disusun sebagai salah satu syarat dari untuk memenuhi tugas

PKL Asuhan Gizi Klinik

Disusun Oleh :

ISNA MARUFIANI DEWI


P1337431214042

PROGRAM STUDI DIV GIZI


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
SEMARANG
TAHUN 2017
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus Mendalam berjudul “PENATALAKSANAAN ASUHAN GIZI KLINIK


PADA PASIEN DIABETES MELLITUS, ULKUS BAGIAN PEDIS DENGAN POST
AMPUTASI DI BANGSAL MELATI 2 RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO
KLATEN”telah mendapat persetujuan pada tanggal: November 2017.

PEMBIMBING MAHASISWA

Dian Eka Sari, S.Gz Isna Marufiani Dewi

NIK. 2016010521 NIM. P1337431214042


KATA PENGANTAR
Dengan puji syukur atas kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan segala
rahmat, karunia serta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek
Kerja Lapangan Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan Institusi (PKL – AGK) di
RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan banyak masukan dari banyak
pihak. Oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis sampaikan ucapan terima kasih
kepada :
1. Ibu Ririn Yuliati, S.Si.T., M.Si selaku Kepala Instalasi Gizi yang telah memberikan
ijin dan kesempatan untuk melakukan PKL di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
2. Bapak Jaelani, DCN, M. selaku dosen pembimbing yang telah membimbing baik
secara materi maupun teknis sehingga penyusunan laporan PKL ini dapat berjalan
dengan baik dan lancar
3. Ibu Eni Sudaryanti, AMG selaku penanggungjawab akedemik yang telah
membimbing, memberi masukan dan memberi dukungan dalam penyusunan laporan
4. Dian Eka Sari, S.Gz selaku pembimbing lapang yang selalu membimbing, memberi
masukan dan memberi dukungan dalam penyusunan laporan
5. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang ikut berperan dalam
kegiatan praktek kerja lapang ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan
dalam penyusunannya, oleh karena itu penulis mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan
dalam penulisan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan berupa
kritik dan saran.
Akhir kata, penulis beharap agar laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.

Klaten, November 2017

Penulis
DAFTAR ISI

(menyusul)
DAFTAR LAMPIRAN

(menyusul)
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Diabetes Melitus

Diabetes merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik


hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-
duanya, yang berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau
kegagalan organ tubuh terutama pada mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah.
Terdapat beberapa tipe diabetes yang diketahui dan umumnya disebabkan oleh suatu
interaksi yang kompleks antara faktor genetik, lingkungan dan gaya hidup. Pada
umumnya dikenal 2 tipe diabetes, yaitu diabetes tipe 1 (tergantung insulin), dan
diabetes tipe 2 (tidak tergantung insulin). Diabetes tipe 1 biasanya dimulai pada usia
anak-anak sedangkan diabetes tipe 2 dimulai pada usia dewasa. Bila hal ini dibiarkan
tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun komplikasi vaskuler
jangka panjang, baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Jumlah penderita
diabetes di Indonesia setiap tahun meningkat. Berbagai penelitian epidemiologi
menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM
tipe 2 di berbagai penjuru dunia.. World Health Organization (WHO) memprediksi
adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar pada tahun-tahun
mendatang. WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari
8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Senada dengan
WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009, memprediksi
kenaikan jumlah penyandang DM dari 7 juta pada tahun 2009 menjadi 12 juta pada
tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya
menunjukkan adanya jumlah peningkatan penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat
pada tahun 2030.

Diabetes mellitus (DM) tipe 1 adalah kelainan metabolik yang disebabkan


oleh reaksi autoimun, menyebabkan kerusakan pada sel β pankreas yang ditandai
dengan hiperglikemi kronik akibat kekurangan insulin berat. Dalam perjalanan
penyakit DM dapat menimbulkan bermacam-macam komplikasi yaitu komplikasi
jangka pendek dan jangka panjang. Komplikasi jangka pendek antara lain hipoglikemi
dan ketoasidosis. Komplikasi jangka panjang terjadi akibat perubahan mikrovaskular
berupa retinopati, nefropati, dan neuropati. Komplikasi makrovaskular lebih jarang
didapatkan pada anak dan remaja. Komplikasi tersebut dapat terjadi akibat kontrol
metabolik yang tidak baik.

DM tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%).
Kekerapan DM tipe 2 di Indonesia berkisar antara 1,5-2,3% kurang lebih 15 tahun
yang lalu, tetapi pada tahun 2001 survei terakhir di Jakarta (Depok) menunjukkan
kenaikan yang sangat nyata yaitu menjadi 12,8%. Sekitar 2,5 juta jiwa atau 1,3% dari
penduduk Indonesia setiap tahun meninggal dunia karena komplikasi DM. WHO
memastikan peningkatan penderita DM tipe 2 paling banyak akan terjadi di negara-
negara berkembang termasuk Indonesia. Sebagian peningkatan jumlah penderita DM
tipe 2 karena kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan DM. Pengetahuan pasien
tentang pengelolaan DM sangat penting untuk mengontrol kadar glukosa darah.
Penderita DM yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang diabetes, kemudian
selanjutnya mengubah perilakunya, akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya
sehingga dapat hidup lebih lama.

B. Gejala Dan Penyebab Diabetes Melitus


Komplikasi yang dialami penderita DM bervariasi diantaranya komplikasi
fisik, psikologis, sosial dan ekonomi. Komplikasi fisik yang timbul berupa kerusakan
mata, kerusakan ginjal, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke bahkan sampai
menyebabkan gangrene. Komplikasi psikologis yang muncul diantaranya dapat
berupa kecemasan. Gangguan kecemasan yang muncul bisa disebabkan oleh long life
diseases ataupun karena komplikasi yang ditimbulkannya. Kecemasan ini jika tidak
diatasi akan semakin menyulitkan dalam pengelolaan DM. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara tingkat kecemasan terhadap
kadar glukosa darah penderita DM yang akan berpengaruh terhadap kualitas
hidupnya. Secara sosial penderita DM akan mengalami hambatan umumnya berkaitan
dengan pembatasan diet yang ketat dan keterbatasan aktivitas karena komplikasi yang
muncul. Pada bidang ekonomi biaya untuk perawatan penyakit dalam jangka waktu
panjang dan rutin merupakan masalah yang menjadi beban tersendiri bagi pasien.
Beban tersebut ditambah dengan adanya penurunan produktifitas kerja yang berkaitan
dengan perawatan ataupun akibat penyakitnya. Kondisi tersebut berlangsung kronis
dan bahkan sepanjang hidup pasien DM dan hal ini akan menurunkan kualitas hidup
pasien DM. Oleh karena itu, penanganan penyakit ini memerlukan pendekatan yang
komprehensif. Penanganan pasien harus memperhatikan keseimbangan dan keutuhan
aspek fisik, psikologis, sosial dan ekonomi. Saat ini penanganan penyakit ini
menunjukkan kecenderungan lebih berfokus pada pengaturan pola diet, pengaturan
aktivitas fisik, perubahan perilaku, pengobatan yang dilakukan dengan obat – obatan,
dan kontrol gula darah, sedangkan penanganan masalah psikologis belum banyak
ditangani.
C. Pencegahan Dan Pengobatan terhadap Penyakit Diabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang perlu
mendapatkan penanganan yang seksama. Prevalensi DM semakin tahun semakin
meningkat, terutama pada kelompok yang berisiko tinggi untuk mengalami penyakit
DM, diantaranya yaitu kelompok usia dewasa tua (>40 tahun), kegemukan, tekanan
darah tinggi, riwayat keluarga DM, dan dislipidemia. DM adalah penyakit menahun
yang akan diderita seumur hidup, sehingga yang berperan dalam pengelolaannya tidak
hanya dokter, perawat, dan ahli gizi, akan tetapi lebih penting lagi keikutsertaan
pasien sendiri dan keluarganya. Penyuluhan kepada pasien dan keluarganya akan
sangat membantu meningkatkan keikutsertaan mereka dalam usaha memperbaiki hasil
pengelolaan DM. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui penatalaksanaan pasien DM
Tipe II dengan pendekatan keluarga.
Selain konsumsi obat, perawatan utama penyakit ini adalah diet sehat dengan
komposisi makanan yang seimbang. Namun, penyusunan diet bagi penderita Diabetes
Mellitus sulit dilakukan karena memerlukan pengetahuan pakar, sedangkan jumlah
pakar yang terbatas, sehingga diperlukan program bantu untuk mempermudah dan
memberikan solusi alternatif bagi penderita untuk memperoleh diet yang sehat dan
seimbang. Sistem untuk konsultasi menu diet bagi penderita Diabetes Mellitus
berbasis aturan adalah salah satu alternatif dari berbagai macam sistem yang sudah
pernah dipakai untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Tujuan rancang bangun
sistem berbasis aturan ini adalah agar pemakai dapat melakukan konsultasi terhadap
komposisi makanan dan diet seimbang untuk membantu proses penyembuhan yang
diderita pasien. Perancangan sistem ini menggunakan rule based reasoning yang
disimpan dalam basis data menggunakan mesin inferensi kedepan (forward chaining)
dan aturan RSCM. Basis pengetahuan ini dihasilkan melalui wawancara dan studi
pustaka kepada pakar atau ahli gizi yang telah berpengalaman di bidangnya. Hasil
dari penelitian ini dapat mengetahui komposisi menu diet yang sesuai dengan jumlah
kebutuhan kalori yang dibutuhkan pasien dengan tingkat akurasi 100%.
BAB II

ASUHAN GIZI KLINIK


A. SKRINING GIZI

Nama : Tn. AB Tanggal Lahir : 07-07-1959


J.Kelamin : Laki-laki No. RM : 886890

1. SKRINING LANJUT (GANGGUAN GIZI)


RISIKO GIZI KRITERIA SKOR
ABSEN (SKOR 0) Status gizi normal/baik
RINGAN (SKOR 1) Kehilangan BB > 5% dalam 3 bulan terakhir
atau asupan 50-70 % dari kebutuhan
SEDANG (SKOR 2) Kehilangan BB > 5% dalam 2 bulan terakhir
atau IMT 18,5-20 atau asupan 25-50% dari V
kebutuhan
BERAT (SKOR 3) Kehilangan BB > 5% dalam 1 bulan terakhir
(>15% dalam 3 bulan) atau IMT < 18,5 atau
asupan 0-25%
2. SKRINING LANJUT (KEGAWATAN PENYAKIT)
ABSEN (SKOR 0) Kebutuhan gizi normal
RINGAN (SKOR 1) Fraktur, pasien kronik (CH, COPD, HD rutin,
V
DM, kanker)
SEDANG (SKOR 2) Bedah mayor, stroke, pneumonia berat, kanker
parah
BERAT (SKOR 3) Cedera kepala, transplantasi, pasien ICU
3. USIA ≥ 70 TAHUN SKOR 1

HASIL SKRINING
SKRINING SKRINING
USIA ≥ 70 TH TOTAL
LANJUT LANJUT
3 SKOR
1 2
SKOR 2 1 0 3
KESIMPULAN RISIKO/TIDAK RISIKO

KETERANGAN
- SKOR ≥ 3 : RISIKO MALNUTRISI, perlu asuhan gizi
- SKOR < 3 : TIDAK BERESIKO MALNUTRISI, bisa dilakukan skrining
ulang seminggu kemudian.

Klaten, 31 Oktober 2017

(...ISNA MARUFIANI DEWI..)


B. ASSESMEN GIZI
a. Identitas Pasien
Nama : Tn. Ab No. RM : 888690
Umur : 58 th 3 bl Tanggal Masuk : 30 Oktober 2017
Sex : Laki-laki Tanggal Kasus : 31 Oktober 2017
Pekerjaan : Buruh Alamat : Wedi, Klaten
Agama : Islam Diagnosis Medis : DM2, Hiperglikemia, ulkus
DM pedis

b. Berkaitan dengan Riwayat Penyakit

Keluhan Utama Terdapat luka di kaki kiri yang tidak kunjung sembuh sejak 1
bulan tekahir hingga 2 hari terakhir luka berubah seperti luka
terbakar / melepuh, terasa nyeri sekali dibagian kaki kiri.
Riwayat Penyakit Diabetes melitus 2
Sekarang Hiperglikemia
Ulkus diabetes mellitus di kaki kiri
Riwayat Penyakit Terdiagnosa diabetes melitus ± 5 tahun terakhir, 6 bulan terakhir
Dahulu tidak check up rutin
Riwayat Penyakit Tidak ada keluarga menderita Diebates Melitus
Keluarga

c. Berkaitan dengan Riwayat Gizi

Alergi makanan Pasien tidak memiliki alergi makanan


Masalah Mual dan muntah
gastrointestinal
Kesehatan mulut Sulit menelan (tidak), gigi lengkap (tidak)
Perubahan berat Ada penurunan BB tapi pasien tidak mengetahui kepastian
penurunannya
badan
Riwayat / pola Frekuensi makan : 2 x makan utama dan 1-2 x makan selingan
makan Makanan Pokok : Nasi @ ¾ p (2x / hari), Roti @ 1 potong
seukuran 3 ruas jari (3 x/ minggu), bubur @ ¼ mangkuk
(3x/minggu)
Lauk hewani : Ayam @ 1 potong sedang, ikan @ 1 potong
sedang, telur ayam 1 butir sehari 2 kali (3x/ minggu)
Lauk nabati : Setiap hari konsumsi tahu / tempe @ 2 potong
sedang (2x/ hari), pengolahan dibacem dan digoreng
Sayuran : Sayuran 3x /hari @ ½ p, yang biasa dimakan sayur
bening bayam, kangkung dan wortel
Buah : Konsumsi buah 6x / minggu yang biasa dikonsumsi jeruk,
pir, pepaya dan pisang
Gula : Gula jagung yang dijual dipasaran
Minyak : Setiap hari
Selingan : umbi-umbian seperti singkong rebus/goreng, ubi rebus/
goreng, gembili rebus dan jagung rebus (1x/hari setiap hari)
Minuman : Teh manis dengan gula jagung 2x / hari, Susu Kental
manis frisian flag 1x/ hari @ 1 gls 200 ml
Nilai gizi asupan Tn. Ab berdasarkan FFQ
Energi Protein Lemak Karbohidrat
(Kcal) (g) (g) (g)
Asupan 721,1 22,1 22,2 134,3
AKG 2325 65 65 349
% 31 34 34,1 38,4
pemenuhan

Kesimpulan : Asesmen gizi untuk riwayat pola makan dirumah Tn. Ab dengan
metode FFQ yaitu asupan makan defisit berat (E= 31%, P= 34%, L= 34,1%, KH=
38,4%)
d. Asupan Zat Gizi

Asupan zat gizi  Diet RS : Diet DM 1700 Lunak


dari makanan di  Hasil Recall 24 jam
Energi Protein Lemak Karbohidrat
RS
(Kcal) (g) (g) (g)
Asupan 1356,6 45,3 51,8 181,3
Kebutuhan 2066,76 61,23 57,41 326,10
% 65,6 73,9 90,2 55,6
pemenuhan

Kesimpulan : Asupan makanan pasien kurang (E= 65,6%, P= 73,9%, L= 82,7% dan
KH= 55,6%).

e. Antropometri

LILA Rentang lengan


20 cm 70 cm
Estimasi TB :
TB = 118,24 + (0,28 x 2(70) – (0,07 x 58)
= 118,24 + 38,08 – 4,06
= 156,76 cm
BBI (PERKENI)
BBI = 90% x (156,76-100) x 1 kg
= 90% x 56,7
= 51,03 kg
IMT
20
IMT = 𝑋 100 %
29,3

= 68,2 % (Underwight)

Kesimpulan : Data antropometri saat pengkajian data diketahui bahwa status gizi
pasien underweight/ BB kurang
f. Pemeriksaan Biokimia
Pemeriksaan Hasil pemeriksaan
Satuan/ Nilai normal Keterangan
Urin/darah 31 Oktober 2017
Hemoglobin 14,0-18,0 g/dL 12,4 g/dL Rendah
Lekosit 4,8 – 10,8 10^3/ul 24,7 10^3/ul Tinggi
Neutrofil 50-70% 84,7 % Tinggi
Limfosit 20 – 40 % 5,0 % Rendah
Trombosit 150 – 450 10^3/ul 195 10^3/ul Normal
Hemotokrit 37 – 54 % 36,1 % Normal
GDP 80 – 100 mg/dl 443 mg/dl Sangat tinggi
GD2PP 100 – 120 mg/dl 489 mg/dl Sangat tinggi
Creatinin 0,7-1,1 mg/dl 1,02 mg/dl Normal
BUN 7-18 mg/dl 21,7 mg/dl Normal
Trigliserida <150 mg/dl 138,1 mg/dl Normal
Ureum 19-44 mg/dl 46,4 mg/dl Normal
Asam Urat 3,4-7 mg 5,1 mg/dl Normal
Na 136-145 mmol/L 126 mmol/L Rendah
K 3,5-5,0 mmol/L 3,6 mmol/L Normal
Cl 98-107 mmol/L 98 mmol/L Normal

Kesimpulan : Data biokimia menunjukan bahwa pasien dalam kondisi anemia,


hiperglikemia, hiponatremia dan limfositopenia.

g. Pemeriksaan Fisik Klinis


Tanggal : 31 Oktober 2017
Kesan umum Compos mentis
Vital sign
- Nadi 100 x/menit
- Respirasi 22 x/menit
- Tekanan darah 120/60 mmHg
Nyeri berat pada kaki kiri
Mual dan muntah
Ulkus diabetik di kaki kiri

Kesimpulan : Tn. Ab secara pemeriksaan fisik dalam kondisi baik/ sadar sepenuhnya/
bisa menjawab pertanyaan.
h. Terapi Medis

Obat Fungsi Interaksi dengan gizi


 membuka jalan agar Setelah melakukan injeksi
glukosa dapat masuk ke
langsung/ segera makan
dalam sel untuk
menghasilkan energi agar gula darah tidak turun
Inj. Insulin  menekan produksi gula secara drastis
di hati dan otot
 mencegah pemecahan
lemak sebagai sumber
energi
Inj. Cefriaxon Digunakan untuk Diberikan setelah pasien
mengobati kondisi pasien makan
dengan sel darah putih
yang rendah
Inj. ranitidin Menurunkan sekresi asam Makanan tidak subtansial
lambung berlebih mempengaruhi penyerapan
atau konsentrasi
Inj. metronidazol Antibiotik yang cukup Mempengaruhi aktivitas
baik untuk bakteri enzim di saluran
anaerob, bakteri jenis ini pencernaan atau enzim di
biasanya hidup di luka hati
kaki penderita diabetes
Inj. Ketorolac Mengatasi nyeri sedang Diberikan setelah pasien
hingga nyeri berat untuk makan
sementara
RL Hidrasi pasien -
C. DIAGNOSIS GIZI
AWAL NCP
NC- 2.2
Perubahan nilai laboratorium terkait gizi berkaitan dengan gangguan fungsi endokrin
ditandai dengan kadar gula dara GD2PP 489 mg/Dl ,riwayat penyakit diabetes
mellitus selama 5 tahun, diagnosa medis DM 2

NC-1.2
Kesulitan mengunyah berkaitan dengan banyak gigi yang sudah tanggal ditandai
dengan asupan makanan sumber lauk hewani tidak memadai kebutuhan sehari
NB- 1.4
Kurangnya kemampuan memonitor diri sendiri berkaitan dengan kurangnya
pengetahuan mengenai masalah-masalah gizi ditandai dengan riwayat diabtes melitus
selama 5 tahun dan pola makan yang salah dilihat dari riwayat dietary pasien

D. INTERVENSI GIZI
a. Tujuan Diet
Memberikan makanan sesuai kebutuhan dan memberikan edukasi terkait gizi
dengan penyakit pasien
b. Syarat/ prinsip diet
1. Energi cukup
2. Protein (1,2 g/kg/hari)
3. Lemak sedang (25% dari total kebutuhan energi)
4. Kebutuhan Karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi total
5. Tidak diperbolehkan penggunaan gula murni dalam minuman dan makanan
6. Asupan serat dianjurkan 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut air
yang terdapat di dalam sayur dan buah
7. Cukup vitamin dan mineral

c. Perhitngan kebutuhan energi dan zat gizi


Kebutuhan kalori basal perhari = 30 x 51,03 = 1530,9
Koreksi :
Umur 5 % = 5% x 1530,9 = 76,5 -
= 1454,4
Aktivitas 10 % = 10 % x 1530,9 = 153,09 +
= 1607,49
Stres metabolik 10% = 10 % x 1530,9 = 153,09 +
= 1760,58
BB kurang = 20% X 1530,9 = 306,18 +
= 2066,76 Kcal
Kebutuhan Energi = 2066,76 Kcal
Kebutuhan Protein = 1,2 x 51,03 = 61,23 gr
Kebutuhan Lemak = 25% x 2066,76 = 516,69/9 = 57,41 gr
Kebutuhan Karbohidrat = 2066,76 – (61,23 x 4) – 516,69 : 4
= 1304,41 : 4
= 326,10 gr

d. Jenis diet, Bentuk Makanan dan Cara Pemberian


Macam diet : diet DM
Bentuk makanan : Lunak dengan lauk cincang
Cara pemberian : oral
Frekuensi : 3 x makanan utama
3 x selingaan
3 x enteral

e. Implementasi
Jenis Diet/ Bentuk Makanan/ Cara pemberian : Diet DM/ Lunak/ Oral
Energi
Protein (g) Lemak (g) KH (g)
(Kcal)
Standar diet RS 1662,5 61,5 57,5 186,5
Diet DM 1700
Kebutuhan 2066,76 61,23 57,41 326,10
(planning)
% standar/ 80 100 100 57,2
kebutuhan
Kesimpulan :

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa diet RS mempunyai kesamaan


jumlah kebutuhan protein dan lemak dengan kebutuhan yang sesuai dengan kondisi
pasien. Nilai energi dan karbohidrat pada standar diet RS lebih rendah dari
kebutuhan pasien sehingga bila implementasi tetap menggunakan standar diet RS
kemungkinan kenaikan/ perubahan antropometri pada pasien sedikit atau sama
sekali tidak ada kenaikan.
f. Standar Makanan Sehari (Bahan makanan dan jumlah yang diberikan
dalam sehari)

Bahan Makanan Porsi Energi Protein Lemak HA


Makanan pokok 3,5 612,5 14 0 140
Hewani rendah lemak 2 100 14 4 0
Hewani lemak sedang 1 75 7 5 0
Nabati 2 150 10 6 14
Sayuran 3 75 3 0 15
Buah 3 150 0 0 36
Minyak 6 300 0 30 0
Enteral 1,75 455 17,5 12,25 68,25
Jumlah 1917,5 65,5 57,25 273,25
Kebutuhan 2066,76 61,23 57,41 326,10
% pemenuhan 92,7 106,9 100 83,7

Kesimpulan :
Standar makanan yang diberikan pada pasien menurut dengan kebutuhan
sebenarnya pasien seperti tabel diatas dengan ada perubahan dari standar diet RS.
Dalam pembuatan standar makanan telah disesuaikan dengan prinsip diet pada
pasien diabetes melitus.
g. Rekomendasi Diet

Waktu Rekomendasi Diet Standar Diet RS


07.00 Bubur nasi 200 g Bubur nasi 100 g
(Makan Pagi) Ayam 50 g Ayam 50 g
Lauk nabati 50 g Lauk nabati 50 g
Sayur 100 g Sayur 100 g
Minyak 5 g Minyak 5 g
Buah 100 g -
10.00 Enteral 2 sendok takar Bubur mutiara 50 g
(Selingan) Bubur mutiara 50 g
12.00 Bubur nasi 200 g Bubur nasi 100 g
(Makan siang) Ayam 50 g Ayam 50 g
Lauk nabati 50 g Lauk nbati 50 g
Sayur 100 g Sayur 100 g
Minyak 5 g Minyak 5 g
Buah 100 g Buah 100 g
16.00 Enteral 3 sendok takar x 200 cc Puding 50 g
(Selingan) Puding 50 g -
17.30 Bubur nasi 200 g Bubur nasi 100 g
(Makan sore) Telur ayam 50 g Telur ayam 50 g
Lauk nabati 50 g Lauk nabati 50 g
Sayur 100 gr Sayur 100 g
Minyak 5 g Minyak 5 g
Buah 100 g Buah 100 g
21.00 Enteral 2 sendok takar x 200 cc -
Biskuit 3 keping -
h. Perencanaan Monitoring dan Evaluasi
Yang diukur Waktu Metode Evaluasi/target
Antropometri Berat badan 1 minggu Pengukuran BB naik
LILA
Biokimia GDS Setiap hari Cek Mendekati
Laboratorium normal/ normal
Klinis/ Fisik Tekanan Setiap hari Cek tensi Mendekati
darah meter normal/ normal
Mual Setiap hari wawancara membaik
Asupan zat Asupan Setiap hari Comstock Sisa makanan <
gizi makanan (E, 25%
P, L, KH)

i. Penerapan Konsultasi Gizi


Masalah gizi Tujuan Materi Konseling Sasaran
Hiperglikemia Mengedukasi Makanan yang Pasien dan
mengenai makanan dianjurkan, dibatasi dan keluarga
yang berpengaruh dihindari untuk pasien
terhadap kadar gula dikonsumsi pasien.
darah Prinsip 3J (Jumlah Jenis
dan Jadwal)
Pentingnya konsumsi
makanan tinggi serat
dan contoh makanan
sumber serat
Kesulitan Mengedukasi untuk Cara pengolahan
mengunyah menu makanan makanan yang tepat
yang sesuai dan Bahan makanan yang
memenuhi dianjurkan
kebutuhan energi
sehari
Kurangnya Mengedukasi untuk Menjelaskan prinsip
kemampuan mengatur pola diet untuk pasien
memonitor diri makan dalam diabetes melitus
sendiri sehari sesuai Menjelaskan pola
dengan diet makan yang sesuai dan
diabetes melitus tidak memberatkan
keadaaan pasien
j. Discharge Planning

No. RM : 886890 Alamat : Klaten

Nama : Tn. Ab Ruang rawat : Unit Penyakit Dalam

Jenis Kelamin : Laki-laki


Tanggal Masuk RS : 30 /11/2017 Tanggal Keluar : 12/11/2017

Diagnosa masuk : DM 2,
Hiperglikemia, ulkus pedis
Aturan Diet :
Pasien meneruskan pola makan dengan prinsip diet DM dalam bentuk makanan
yang bisa diterima oleh pasien
Dipulangkan dari rumah sakit dengan keadaan : Meneruskan pengobatan rawat
jalan
BAB III

MONITORING EVALUASI DAN TINDAK LANJUT

Monitoring dan Evaluasi Kesimpulan & tindak


lanjut
Hari Diagnosa medis
Asupan Antropometri Biokimia Fisik/klinis (Asesmen, Diagnosisi,
Intervensi Gizi)
I Ulkus diebetikum  Energi = 670,25 - GDS = 240 Mual = ada D : Impelemntasi kepada
pedis , Kcal (32,4%) g/dl (tinggi) TD = 91/54 pasien dilakukan pemberian
hiperglikemia,  Protein = 18,2 g mmHg snack sore, makan sore dan
hiponatremia dan (29,7) ekstra malam
Anemia Mikrositik  Lemak = 13,7 g A : data antropometri tidak
Hipokromik (23,8%) diukur pada monev pertama
 Karbohidrat = B : data biokimia GDS masih
116,1 g (35,6 %) tinggi
 Serat = 10,6 g C : tekanan darah rendah,
(42,4%) masih ada mual
Diagnosa gizi = tetap
Intervensi gizi = Diet DM
II Hiperglikemia, post  Energi = 1499 - GDS = 306 Mual = tidak D : Asupan menurun akibat
amputasi below Kcal (72,5%) g/dl (tinggi) ada pasien puasa persiapan
knee, hiponatremia,  Protein = 53,82 g TD = 77/40 operasi dan puasa post
Anemia Mikrositik (87,8%) mmHg operasi
Hipokromik,  Lemak = 52,64 g A : data antropomteri tidak
Hipotensi (91,6%) diukur pada monev hari
 Karbohidrat = kedua
179,8 g (55,1%) B : data biokimia GDS
 Serat = 20,9 g masih tinggi
(83.6%) C : tekanan darah rendah,
mual tidak ada
Diagnosa gizi : berubah
NI-5.1
Peningkatan kebutuhan zat
gizi (protein) berkaitan
dengan post operasi amputasi
ditandai penyembuhan luka
pasca operasi
NC-2.2
Perubahan nilai laboratorium
terkait gizi berkaitan dengan
gangguan fungsi endokrin
ditandai dengan kadar gula
dara GD2PP 489 mg/Dl dan
riwayat penyakit diabetes
mellitus selama 5 tahun.
NB-1.4
Kurangnya kemampuan
memonitor diri sendiri
berkaitan dengan kurangya
pengetahuan mengenai
masalah-masalah gizi
ditandai dengan riwayat
diabtes melitus selama 5
tahun dan kebiasaan makan
yang tidak sejalan dengan
data biokimia
Intervensi giz : Diet DM
III Hiperglikemia, post  Energi :1224,5 - GDS = 302 Mual = tidak D : Asupan energi, protein,
amputasi below Kcal (59,2%) g/dl (tinggi) ada lemak dan karbohidrat mulai
knee, hiponatremia,  Protein : 37 g TD = 82/52 membaik
Anemia Mikrositik (60,4%) mmHg A : data antropometri tidak
Hipokromik,  Lemak : 47,6 g diukur pada monev ketiga
Hipotensi (82,9%) B : data biokimia GDS masih
 Karbohidrat : tinggi
149,2 g (45,7%) C : tekanan darah rendah,
mual tidak ada
Diagnosa gizi : tetap
Intervensi gizi : Diet DM
IV Hiperglikemia, post  Energi : 1396,25 - GDS = 254 Mual = ada D : Asupan energi, protein,
amputasi below Kcal (67,5%) g/dl (tinggi) TD = 100/62 lemak dan karbohidrat
knee, hiponatremia,  Protein : 41,4 g mmHg menurun
Anemia - (67,6 %) A : data antropometri tidak
Mikrositik  Lemak : 43,75 g diukur pada monev keempat
Hipokromik, (76,2%) B : data biokimia GDS
Hipotensi  Karbohidrat : menurun nilai namun masih
175,75 g (53,8%) kategori tinggi
C : tekanan darah normal
rendah, ada mual
Diagnosa gizi : tetap
Intervensi gizi : Diet DM

V post amputasi  Energi : 1660 Kcal - GDS = 150 Mual = tidak D : Asupan energi, protein,
below knee, (80,3%) g/dl ada lemak dan karbohidrat
hiponatremia dan  Protein : 46,5 g (normal) TD = 124/70 meningkat
Anemia Mikrositik (75,9 %) mmHg A : Data antropometri tidak
Hipokromik  Lemak : 42,25 g diukur pada monev kelima
(73,5%) B : Data biokima GDS
 Karbohidrat : menurun ke nilai normal
239,2 g (73,3%) C : tekanan darah normal,
tidak ada mual
Diagnosa gizi : berubah
NC-2.2
Perubahan nilai laboratorium
terkait gizi berkaitan dengan
gangguan fungsi endokrin
ditandai dengan kadar gula
dara GD2PP 489 mg/Dl dan
riwayat penyakit diabetes
mellitus selama 5 tahun.
NB-1.4
Kurangnya kemampuan
memonitor diri sendiri
berkaitan dengan kurangya
pengetahuan mengenai
masalah-masalah gizi
ditandai dengan riwayat
diabtes melitus selama 5
tahun dan kebiasaan makan
yang tidak sejalan dengan
data biokimia
Intervensi gizi : Diet DM
Konseling Konseling gizi ke pasien dan keluarga pasien
gizi Ruang : Bangsal Melati 3
Pembimbing : Dian Eka Sari, S.Gz
Pengukuran antropometri :
LILA = 27 cm
27
IMT = × 100% = 92% Normal
29,3
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tujuan diet pada Tn. Ab bertujuan untuk mencukupi kebutuhan gizi, membantu
mengontrol gula darah dan tekanan darah normal. Kebutuhan energi pasien dihitung
menggunakan rumus PERKENI (2015) dengan mempertimbangkan usia, faktor aktivitas,
faktor stres dan status gizi pasien. Bentuk diet yang diberikan juga mempertimbangkan daya
terima pasien. Diet yang diberikan berupa bubur nasi dengan lauk cincang untuk
memudahkan pasien mengkonsumsi makanan karena pasien mengalami kesulitan mengunyah
akibat banyak gigi yang sudah tanggal.

A. Asupan
Energi Protein Lemak Karbohidrat
Hari
Asupan % Asupan % Asupan % Asupan %
I 670,25 32,4 18,18 29,7 13,75 23,8 116,1 35,6
II 1499 72,5 53,82 87,8 52,64 91,6 179,78 55,1
III 1224,5 59,2 37 60,4 47,6 82,9 149,2 45,7
IV 1396,25 67,5 41,4 67,6 43,75 76,2 175,75 53,8
V 1660 80,3 46,5 75,9 42,25 73,5 239,25 73,3

Kategori Asupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat menurut Depkes (2003)


Asupan lebih : ≥ 120%
Asupan baik : 90-110 %
Defisit ringan : 80-89 %
Defisit sedang : 70-79 %
Defisit berat : <70%

Monitoring asupan / dietary dilakukan dengan recall 24 kemudian melihat sisa makan
pasien disetiap waktu makan sebagai validasi data. Dari hasil monitoring selama 5 hari, pada
hari pertama pasien masih dengan asupan makan rendah dikarenakan pasien puasa untuk
persiapan operasi amputasi dan puasa pasca operasi sehingga didapatkan hasil recall 24 jam
pasien untuk energi, protein, lemak dan karbohidrat rendah/sangat sedikit. Pada hari kedua
implementasi pasien pasien puasa untuk pasca operasi hanya sampai pada waktu makan
siang, jadi saat waktu snack sore pasien sudah bisa diberikan asupan makanan secara
bertahap agar tidak ada respon muntah, jadi makanan yang dikonsusmsi pasien pasca operasi
yaitu enteral yang diberikan pada waktu snack sore dan pasien tidak muntah kemudian pasien
melanjutkan makan sore dan tidak ada respon muntah. Karena pada waktu makan sore pasien
tidak menunjukan respon muntah terhadap makanan sehingga jenis diet yang diberikan ke
pasien tidak mengalami perubahan sehingga diet dilanjutkan. Pada hari ketiga pasien
dipindahkan ke ruang HCU untuk perawatan lebih lanjut, terjadi sedikit penurunan asupan
makan pasien. Ada beberapa faktor kemungkinan pasien menurun nafsu makan yaitu kondisi
pasien yang lemah, seseorang yang menyuapkan makanan ke pasien sebagian besar adalah
perawat karena keluarga hanya diperbolehkan masuk ke ruang HCU Cuma diwaktu makan
sore saja dan ada enteral, lauk nabati, jus/buah dan snack yang tidak dikonsumsi oleh pasien.
Pada hari keempat asupan makan menurun akibat ada mual pada pasien sehingga ada banyak
sisa makanan pada hari ini, pada hari keempat ini pasien akan dipindahkan ke ruang bangsal
biasa. Pada hari kelima pasien sudah berpindah ke ruang perawatan biasa, mual sudah hilang
hal ini terjadi karena pemberian obat ranitidin kepada pasien, asupan makan pasien membaik
dan sisa makanan sedikit.

Kesimpulan : Implementasi untuk asupan makanan dilakukan selama 5 hari kepada pasien
dan menunjukan kenaikan tingkat asupan pasien bertahap dan pada akhir implementasi
menujukan asupan makan pasien kategori sedang.

B. Biokimia
Hal yang Hari
Satuan
diukur I II III IV V
GDS g/dl 240 306 302 254 150

Pengamatan biokimia dilakukan setiap hari, karena setiap hari perawat melakukan
pengecekan gula darah sewaktu dengan alat autocheck gula darah. Kenaikan gula darah
tertinggi pada hari kedua dan ketiga dimana pada saat itu asupan makan pasien menurun hal
ini bisa terjadi karena insulin tidak mendapatkan makanan yang cukup sehingga insulin tidak
terkontrol yang mengakibatkan gula darah sewaktu pasien meningkat. Pada akhir
implemetasi nilai gula darah sewaktu pasien menunjukan nilai normal karena asupan makan
pasien sudah membaik.
Kesimpulan : Ada penurunan nilai biokimia untuk gula darah pasien mendekati nilai norma/
normal.

C. Klinis/ fisik
Hari
Hal yang diukur Metode
I II III IV V
Tekanan darah Tensi meter 91/54 77/40 82/52 100/62 124/70
(mmHg)
Mual wawancara √ - - √ -

Pada monitoring klinis/fisik pada hari pertama pasien mengatakan ada mual dan tekanan
darah pasien rendah karena pada hari ini pasien melakukan persiapan operasi dan respon
karena pasca operasi amputasi. Pada hari kedua sudah tidak ada mual pada pasien namun
tekanan darah mengalami penurunan yang sangat drastis sehingga dilakukan perawatan yang
lebih intensif kepada pasien maka pasien dipindahkan keruang HCU. Pada hari ketiga
menitoring klinis/fisik, ada kenaikan tekanan darah pada pasien dan pasien tidak menunjukan
mual pada porsi makanan yang diberikan sehingga jenis diet yang diberikan tidak perlu
dilakukan perubahan diet. Pada hari keempat monitoring klinis/ fisik menunjukan nilai
tekanan darah pasien membaik karena mendekatai nilai normal namun pasien mengatangakan
kalau nafsu makan menurun hal ini terjadi karena obat yang diberikan, pada hari ini juga
pasien akan dipindahkan keruang perawatan biasa. Pada hari kelima monitoring klinis ke
pasien, tekanan darah pasien menunjukan nilai normal dan respon mual tidak ada, hal ini
terjadi karena pemberian obat ranitidin yang berfungsi salah satunya menghilangkan respon
mual yang muncul akibat aktivitas lambung yang abnormal.
D. Antropometri
Tanggal Hal yang diukur Pengukuran Hasil
31/10/2017 Lila Metlin 20 cm
9/11/2017 Lila Metlin 27 cm

Pengukuran antropometri dilakukan pada awal waktu pengkajian data ke pasien,


menghasilkan perhitungan antropometri status gizi pasien berdasarkan LILA adalah
underweight. Pengukuran evalausi dillakukan pada saat setelah pasien diberikan
implementasi selama 5 hari dan konsultasi gizi. Pada hari konsultasi gizi dilakukan
pengukuran LILA pasien dan menunjukan kenaikan pada nilai ukur LILA pasien, pada akhir
implementasi ada perubahan pada nilai antropometri pasien yaitu status gizi status gizi pasien
normal.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN

1. Riwayat penyakit pasien yaitu Diabetes melitus sudah ± 5 tahun dan 6 bulan
terakhir tidak melakukan check up rutin
2. Asupan pasien pada pengkajian data dengan metode recall menghasilkan asupan
makanan pasien kurang yaitu Energi 65,6% dari kebutuhan, Protein 73,9% dari
kebutuhan, Lemak 82,7% dari kebutuhan dan Karbohidrat 55,6% dari kebutuhan.
3. Antropometri pada pengkajian data , status gizi pasien berdasarkan LILA yaitu
68,2 % sehingga pasien termasuk dalam status gizi kurang (underweight)
4. Berdasarkan hasil pemeriksaan biokimia, pasien mengalami diabetes melitus
ditandai dengan hiperglikemia, hiponatremia dan limfositopenia.
5. Berdasarkan pemeriksaan fisik/klinis yaitu tekanan darah dan ulkus diabetik pada
kaki kiri.
6. Hasil implementasi selama 5 hari menghasilkan asupan makanan pasien kategori
sedang, antropometri pasien meningkat ke status gizi normal, data biokimia untuk
nilai gds di akhir implementasi menunjukan nilai normal dan pemeriksaan
klinis/fisik pasien adalah amputasi bawah lutut di kaki kiri dan tekanan darah
normal.

B. SARAN
1. Perlu kolaborasi medis untuk penanganan kondisi pasien
2. Perlu motivasi dari keluarga untuk membantu meningkatkan asupan makan pasien
dan mengubah pola makan yang salah
3. Perlu pemantauan kondisi pasien dari hari ke hari secara teratur
DAFTAR PUSTAKA

Budi C, Rosa D, Joko P. SISTEM DIAGNOSA PENYAKIT DIABETES MELLITUS


MENGGUNAKAN METODE CEERTAINTY FACTOR. Jurnal Fakultas Teknologi
Informasi,Universitas Kristen Duta Wacana. 1 (1). 2013

Indra W H, Aman B, Bambang T, Jose R.L. Komplikasi Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Diabetes Mellitus Tipe 1. Jurnal kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 10 (6). 2009

Indra Perwira R. SISTEM UNTUK KONSULTASI MENU DIET BAGI PENDERITA DIABETES
MELLITUS BERBASIS ATURAN. Jurnal Teknologi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Industri
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 5 (2) 104-113. 2012

Maria S, Siti R, Hairani D, Arneliwati. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN


SIKAP PERAWAT TENTANG PERAWATAN LUKA DIABETES MENGGUNAKAN TEKNIK
MOIST WOUND HEALING. Jurnal Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau. 1 (2).
2011

Pujiyanto S, Ferniah R. Aktifitas Inhibitor Alpha-Glukosidase Bakteri Endofit PR-3 yang Diisolasi
dari Tanaman Pare (momordica charantia ). Jurnal BIOMA Laboratorium Mikrobiologi Jurusan
Biologi FMIPA Undip. 12 (1) : 1-5. 2010

Rizky D, Isnanto R, Hidayatno A. KLASIFIKASI PENYAKIT DIABETES MELITUS


BERDASAR CITRA RETINA MENGGUNAKAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS
DENGAN JARINGAN SARAF TIRUAN. Jurnal TRANSIENT Jurusan Teknik Elektro,
Universitas Diponegoro Semarang. 2 (3). 2013

Wicaksono. DIABETES MELITUS TIPE II PADA IBU RUMAH TANGGA DENGAN


PENGETAHUAN YANG KURANG TENTANG DIABETES DAN AKTIVITAS FISIK
KURANG TERATUR. Jurnnal Medula Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 1 (1). 2013

Wicaksono. DIABETES MELLITUS TIPE II GULA DARAH TIDAK TERKONTROL DENGAN


KOMPLIKASI NEUROPATI DIABETIKUM. Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 1
(3). 2013

Witasari U, Rahmawaty S, Zulaeka S. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, ASUPAN


KARBOHIDRAT DAN SERAT DENGAN PENGENDALIAN KADAR GLUKOSA DARAH
PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi .
Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah. 10 (2) : 130 – 138. 2009
LAMPIRAN. 1 HASIL RECALL 24 JAM

Waktu Menu BM Asupan Energi Protein Lemak KH


(Kcal) (g) (g) (g)
Pagi Bubur Bubur nasi 100 175 4 0 40
Ayam bb ungkep Ayam 25 47,5 5 3 0
Tahu bacem Tahu 0 0 0 0 0
Kecap 0 0 0 0 0
Ca buncis wortel Buncis 50 12,5 0,5 0 2,5
Wortel 10 5 0,3 0 1
Minyak 5 50 0 5 0
Sore Nasi Nasi 25 43,75 1 0 10
Balado ayam ayam 25 47,5 5 3 0
Minyak 5 50 0 5 0
Tempe bb Tempe 25 37,5 2,5 1,5 3,5
bolognaise
Soto cambah wortel cambah 25 6,25 0,25 0 1,25
kol Wortel 5 1,25 0,05 0 0,25
Kol 5 1,25 0,05 0 0,25
Minyak 5 50 0 5 0
Buah Pisang 100 50 0 0 12
Snack Bubur mutiara Pacar cina 10 35 0,8 0 8
sore Santan 5 45 0 5 0
Enteral Enteral 15 65 2,5 1,75 9,75
Siang Nasi Nasi 50 87,5 2 0 20
Daging asam pedas Daging 25 47,5 5 3 0
Tomat 10 0 0 0 0
Minyak 5 50 0 5 0
Perkedel tahu tahu 0 0 0 0 0
panggang
Sup kentang, wortel,
Kentang 50 43,75 1 0 10
buncis Wortel 10 5 0,3 0 1
buncis 10 5 0,3 0 1
Apel merah Apel merah 100 50 0 0 12
Snack Roti panggang Roti tawar 35 87,5 2 0 20
Teh manis Teh manis 25,4 3,9 0,14 13,56
Pagi Nasi Nasi 25 43,75 1 0 10
Opor ayam Ayam 25 47,5 5 3 0
Santan 5 45 0 5 0
Tempe bb kuning Tempe 25 37,5 2,5 1,5 3,5
Cap cay sayur Wortel 25 6,25 0,25 0 1,25
Kembang 5 1,25 0,05 0 0,25
kol
Kol 5 1,25 0,05 0 0,25
Minyak 5 50 0 5 0
TOTAL 1356,6 45,3 51,8 181,3
LAMPIRAN 2. ASUPAN MAKAN PASIEN SELAMA IMPLEMENTASI

WAKTU MAKANAN/BM Comstock Nilai gizi


HARI
MAKAN % g Kal P L KH Serat
I S. sore Putri mandi 90 81 1,8 0 1,8 4,2
Enteral 0 195 7,5 5,25 29,25 0
M. Sore Bubur nasi 41 69,5 1,59 0 15,9 2
gelantin 100 0 0 0 0 0
tahu 100 0 0 0 0 0
sayur 71 7,25 0,29 0 1,45 4,4
minyak 50 0 5 0 0
jus 0 50 0 0 12 0
S. malam biskuit 0 87,5 2 0 20 0
enteral 0 130 3 3,5 19,5 0
M. Pagi Puasa 0 0 0 0 0
S. pagi puasa 0 0 0 0 0
M. Siang puasa 0 0 0 0 0
Total 670,25 18,18 13,75 116,1 10,6
II S. sore snack 100 0 0 0 0 0
enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M. Sore Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Daging cincang 0 75 7 5 0 0
Tahu kukus 28 33 2,2 1,32 3 0,14
Sayur 28 18 0,72 0 3,6 1,4
minyak 50 0 5 0 0
Jus 35 32,5 0 0 7,8 2,4
S. Malam biskuit 100 0 0 0 0 0
enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M. Pagi Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Telur ayam 18 50 4,7 3,3 0 0
Minyak 50 0 5 0 0
Tahu putih 8 63 4,2 2,52 5,88 0,21
Minyak 50 0 5 0 0
Sayur 0 25 1 0 5 3,75
Minyak 50 0 5 0 0
Jus 0 50 0 0 12 1,25
S. Pagi Snack 100 0 0 0 0 0
Enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M.Siang Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Bola-bola ikan 0 50 7 2 0 0
Tim tempe 0 75 5 3 7 3,5
Jus semangka 0 50 0 0 12 1
sayur 0 25 1 0 5 1,25
minyak 50 0 5 0 0
1499 53,82 52,64 179,78 20,9
III S. sore Snack 100 0 0 0 0 0
Enteral 100 0 0 0 0 0
M.Sore Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Cincang ayam 28 32 3 0,8 0 0
Tahu 0 75 5 3 7 0,25
Sayur 0 25 1 0 5 2,37
Jus tomat 0 50 0 0 12 7,5
S. malam Biskuit 100 0 0 0 0 0
Enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M. Pagi Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Telur ayam 0 75 7 5 0 0
Tahu 20 45 3 1,8 4,2 0,15
Sayur 0 25 1 0 5 5,75
Jus pepaya 0 50 0 0 12 2,5
S. pagi Snack 100 0 0 0 0 0
Enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M. Siang Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Tim ayam 100 0 0 0 0 0
Tahu 100 0 0 0 0 0,25
Sayur 5 25 1 0 5 4,25
Jus pepaya 100 0 0 0 0 2,5
1224,5 37 47,6 149,2 31,25
IV S. sore Snack 100 0 0 0 0 0
Enteral 0 195 7,5 5,25 29,25 0
M.Sore Bubur nasi 80 8,75 0,2 0 2 0,4
Bola daging 100 0 0 0 0 0
Tahu 100 0 0 0 0 0
Sayur 100 0 0 0 0 0
Jus semangka 0 50 0 0 12 1
S. Malam Biskuit 100 0 0 0 0 0
Enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M. Pagi Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Hewani 0 75 7 5 0 0
Nabati 50 37,5 2,5 1,5 3,5 0
Sayur 50 12,5 0,5 0 2,5 1,25
Buah jeruk 0 50 0 0 12 0,25
S. pagi Snack 0 90 2 0 20 0
Enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M. siang Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Daging giling 0 75 7 5 0 0
Kentang 100 0 0 0 0 0
Sayur 30 17,5 0,7 0 3,5 3,2
Jus 0 50 0 0 12 3,75
1396,25 41,4 43,75 175,75 13,85
V S.sore Snack 0 90 2 0 20 0
Enteral 0 195 7,5 5,25 29,25 0
M.Sore Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Gelantin 100 0 0 0 0 0
Tahu tim 100 0 0 0 0 0
Sayur 0 25 1 0 5 2,79
Jus 0 50 0 0 12 1
S. malam Biskuit 0 87,5 2 0 20 0
Enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M.pagi Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Telur dadar 0 75 7 5 0 0
Tahu 100 0 0 0 0 0
Sayur 0 25 1 0 5 1,18
Jus 0 50 0 0 12 0,25
S.pagi Snack 0 90 2 0 20 0
Enteral 0 130 5 3,5 19,5 0
M. Siang Bubur nasi 0 87,5 2 0 20 2
Telur ayam 0 75 7 5 0 0
Tim tempe 100 0 0 0 0 0
Sayur 0 25 1 0 5 2,8
Jus 0 50 0 0 12 1,25
1660 46,5 42,25 239,25 15,27
LAMPIRAN 3. VISUAL COMSTOCK

HARI KE-1
Makan sore Makan pagi Makan siang

PUASA PUASA

HARI KE-2
Makan sore Makan pagi Makan siang

Tidak ada bukti foto Tidak ada bukti foto

HARI KE-3
Makan sore Makan pagi Makan siang

HARI KE-4
Makan sore Makan pagi Makan siang

Tidak ada bukti foto

HARI KE-5
Makan sore Makan pagi Makan siang
LAMPIRAN 5. LEAFLET