Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

Aspek Medikolegal Penyalahgunaan Narkoba

Disusun Oleh :
Susi (112015205)

Regina Ayu Antefa (112015289)

Jonathan Kurnia Wijaya (112016304)

Saefanius Ovalinsky (112016092)

Septian Dwi Chandra (112016024)

Fanly (112016079)

Rory Sandka (112016096)

Cinthya Ayu Christine (112016003)

Nuramalina Binti Reman (112016183)

Nur Sri Syazana Binti Rahim (112016194)

Meilyana Maria Isabela Kwary (112015433)

BAGIAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RS BHAYANGKARA TK II SARTIKA ASIH BANDUNG
PERIODE 11 DESEMBER HINGGA 6 JANUARI 2018
BAB I
PENDAHULUAN

Setiap tahunnya penggunaan narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya)
semakin meningkat, sementara fenomena narkoba itu sendiri seperti gunung es (ice berg) yang
artinya tampak di permukaan lebih kecil di bandingkan dengan yang tidak tampak. Penyebaran
narkoba sudah hampir tak bisa dicegah, mengingat hampir seluruh penduduk dunia dengan mudah
mendapatkan narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.1
Indonesia ternyata telah merupakan salah satu negara di kawasan Asia Selatan dan Asia
Tenggara dengan jumlah pengguna narkoba suntikan yang cukup tinggi melampaui 100.000 orang
selain Bangladesh, India, Iran, Pakistan, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. Pengguna narkoba
suntikan di Indonesia pada mulanya tidak banyak hal ini karena kebanyakan dari pengguna
narkoba suntik hanya terdapat di kota-kota besar saja, tetapi saat ini sudah didapati pengguna
narkoba suntikan di kota-kota kecil di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini lebih dari 50% pengidap
HIV adalah juga pengguna narkoba. Setiap bulannya ada 30-50 pengidap HIV baru datang untuk
konsultasi atau mengecek kesehatan mereka dan sebagian besar dari mereka adalah pengguna
narkoba dan berusia remaja 12-25 tahun baik laki- laki maupun perempuan, dari 1.200 orang yang
menggunakan narkoba terdapat 200 orang yang menjalani test HIV didapatkan hasil test yang
mengejutkan, sebanyak 93% atau 163 orang positif terkena HIV.1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Narkoba


Narkoba merupakan akronim dari kata narkotika dan obat-obatan terlarang. Kata
narkotika sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu narkotikos yang berarti keadaan
seseorang yang kaku seperti patung atau tidur. Narkoba merupakan zat kimia yang dapat
mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika
masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik,
intravena, dan lain sebagainya. 2
Narkoba dapat digolongkan menurut undang-undang yang berlaku, yaitu Narkotika
(Undang-Undang Nomor No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika) dan Psikotropika
(Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika). Ada pula zat, obat, atau
bahan lain, yang tidak tercantum dalam undang-undang, disebut golongan zat adiktif lain.2
Obat ini sebenarnya sangat diperlukan dalam pengobatan di bidang kedokteran
misalnya untuk menghilangkan rasa nyeri. Namun pada perkembangannya obat ini
disalahgunakan untuk kesenangan sehingga menimbulkan ketagihan dan akhirnya
mengakibatkan ketergantungan.2
2.1.1 Narkotika
Pasal 1 angka 1 UU 22./Th. 1997 mengemukakan bahwa defenisi narkotika
adalah zat-zat (obat) baik dari alam atau sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi
sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkoba dibagi menjadi dua golongan yaitu narkotika alam dan sintetis.3
a. Narkotika Alam
Narkotika alam adalah narkotika yang berasal dari hasil olahan tanaman. Obat-
obatan yang termasuk golongan narkotika alam adalah candu, morfin, ganja,
kokain.
 Candu atau opium
Candu atau opium merupakan sumber utama dari narkotika alam. Dari
candu ini dapat dihasilkan morfin, heroin. Candu berasal dari getah tanaman
Papaver Somniferum yang dibiarkan mengering sehingga berwarna coklat
kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu adonan yang menyerupai
aspal lunak. Bentuk ini dinamakan candu mentah atau candu kasar. Cara
menggunakan candu adalah dengan menghisapnya sama seperti cara orang
merokok.

Gambar 1: Candu atau Opium


 Morfin
Morfin (C17 H19 NO3) adalah zat utama yang berkhasiat narkotika yang
terdapat pada candu mentah. Khasiat morfin adalah untuk analgetik,
menurunkan rasa kesadaran (sedasi, hipnotis), menghambat pernafasan,
menghilangkan refleks batuk dan menimbulkan rasa nyaman (euphoria)
yang kesemuanya berdasarkan penekanan susunan saraf pusat (SSP). Cara
menggunakan morfin adalah dicampur dengan tembakau kemudian dihisap,
diminum, disuntikkan pada lengan bagian bawah sebelah dalam,
digosokkan pada goresan silet bagian bawah lengan bagian dalam.
 Ganja (Kanabis)
Ganja atau kanabis adalah nama singkat untuk tanaman Cannabis Sativa
(Gambar 2). Ganja mengandung sejenis bahan kimia yang disebut delta-9-
tetrahydrocannabinol (THC) yang dapat mempengaruhi suasana hati
manusia dan cara orang tersebut melihat serta mendengar hal-hal
disekitarnya. Ganja dianggap narkoba yang aman dibandingkan dengan
putaw atau shabu. Kenyataannya sebagian besar pecandu narkoba memulai
dengan mencoba ganja. Jika menggunakan ganja, maka pikiran akan
menjadi lambat, terlihat bodoh dan membosankan. Ganja dapat
mempengaruhi konsentrasi dan ingatan, meningkatkan denyut nadi,
keseimbangan dan koordinasi tubuh yang buruk, ketakutan dan rasa panik,
depresi, kebingungan dan halusinasi. Cara menggunakan ganja yaitu
dengan membuat lintingan rokok, dicampur dengan tembakau dan
menghisapnya.

Gambar 2: Tanaman Ganja


 Kokain
Kokain merupakan alkaloida tanaman belukar Erythroxylon Coca dari
Amerika Selatan (Gambar 3). Kokain digunakan dengan tujuan untuk lebih
fit, segar, kuat, bersemangat, hilang rasa kantuk dan tidak terasa lapar. Bila
terlanjur kronis akan menimbulkan tidak bergairah bekerja, tidak dapat
tidur, halusinasi, tidak nafsu makan, berbuat dan berpikir tanpa tujuan, tidak
punya ambisi, kemauan dan perhatian. Pada tingkat overdosis dapat
menyebabkan kematian karena serangan dan gangguan pada pernafasan dan
terhadap jantung. Disamping itu dapat juga menimbulkan keracunan pada
SSP sehingga korban dapat mengalami kejang-kejang, tingkah laku yang
kasar, pikiran yang kacau dan mata gelap. Cara menggunakan kokain adalah
menyuntikkannya secara intravena atau subkutan, dihirup dengan hidung
(sniff), dikunyah, dilarutkan kemudian diminum, dihisap seperti orang
merokok.

Gambar 3: Kokain
b. Narkotika sintetis
Narkotika sintetis adalah narkotika sebagai hasil produksi laboratorium yang
sepenuhnya dari bahan kimia.Narkotika sintetis yang paling banyak tersebar luas
adalah meperidin dan methodone.

2.1.2 Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah ataupun sintetis, bukan
narkotika, yang bersifat atau berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan
perilaku. Psikotropika dibagi dalam tiga golongan yaitu : depresan, stimulan dan
halusinogen
a. Depresan
Depresan adalah obat yang bekerja mempengaruhi otak dan SSP, dapat
menyebabkan timbulnya depresi pada si pemakai, yaitu bekerja mengendorkan
atau mengurangi aktivitas SSP. Obat ini terkenal dengan sebutan sebagai obat
penenang atau obat tidur. Yang termasuk golongan depresan adalah barbiturat
dan turunannya, benzodiazepin, metakualon, alhohol dan zat-zat pelarut
(solvent). Secara medis obat-obatan tersebut dapat berguna untuk membantu
mengurangi rasa cemas dan gelisah, meredakan ketegangan jiwa, pengobatan
darah tinggi dan epilepsi, serta merangsang untuk segera tidur.3
b. Stimulant
Yang digolongkan stimulan adalah obat-obat yang mengandung zat-zat
yang merangsang terhadap otak dan saraf. Obat-obat tersebut digunakan untuk
meningkatkan daya konsentrasi dan aktivitas mental serta fisik. Obat-obat yang
dimasukkan dalam golongan stimulan adalah amphetamine, ekstasi dan shabu.
Stimulan dalam kerjanya meningkatkan kegiatan SSP sehingga merangsang
dan meningkatkan kemampuan fisik orang yang menggunakan,
mengkonsentrasikan diri untuk membuat prestasi yang lebih baik, sanggup
bekerja lebih kuat dan lebih lama tanpa istirahat. Akan tetapi, karena dipaksa,
walaupun kemampuan fisik masih ada, daya mentalnya tidak dapat
mengikutinya sehingga akan mengakibatkan efek yang tidak baik. Stimulan
sering digunakan secara sembunyi-sembunyi di kalangan olahragawan, disebut
dengan dopping. Jenis stimulan yang sering digunakan di masyarakat adalah
shabu (berbentuk kristal berisi zat menthaphetamin). Cara menggunakan shabu
adalah dengan diuapkan atau dihisap. Pemakaian yang unik yaitu dengan
membakarnya di atas kertas timah dan dihisap melalui alat yang disebut dengan
bong.3
c. Halusinogen
Halusinogen adalah obat-obatan yang dapat menimbulkan daya khayal
(halusinasi) yang kuat, yang menyebabkan salah persepsi tentang lingkungan
dan dirinya, baik yang berkaitan dengan pendengaran, penglihatan maupun
perasaan. Dengan kata lain obat-obatan jenis halusinogen memutarbalikkan
daya tangkap kenyataan objektif. Diperkirakan ada sekitar 100 jenis zat
halusinogen yang biasanya digunakan oleh manusia dan tiga jenis halusinogen
yang paling sering disalahgunakan, yaitu LSD (d. Lysergic Acid Diethylamide),
Psilosibin dan Meskalin. Efek-efek yang ditimbulkan setelah penggunaan
halusinogen adalah rasa khawatir yang akut, gelisah dan tidak bisa tidur, biji
mata yang membesar, suhu badan meningkat, tekanan darah meningkat,
gangguan jiwa berat.3

2.1.3 Zat Adiktif


Zat adiktif ialah zat, bahan kimia dan biologi, baik dalam bentuk tunggal
maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup
secara langsung atau tidak langsung yang mempunyai sifat karsinogenik,
teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi. Adapun yang termasuk zat adiktif
adalah: rokok, kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan
menimbulkan ketagihan, thiner dan zat lainnya, seperti lem kayu, penghapus cair
dan aseton, cat, bensin yang bila dihirup akan dapat memabukkan.4
a. Alcohol
Adalah zat aktif yang terdapat dari berbagai jenis minuman keras.
merupakan zat yang mengandung etanol yang berfungsi memperlambat kerja
sistem saraf pusat, memperlambat refleks motorik, menekan pernafasan, denyut
jantung dan mengganggu penalaran dan penilaian. Meskipun demikian apabila
digunakan pada dosis rendah alkohol justru membuat tubuh merasa segar
(bersifat merangsang). Minuman ini terbagi dalam 3 golongan:5
 Golongan A
Berbagai minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 1% s/d
5%. Contoh minuman keras adalah : bir, greensand, dan lain-lain.
 Golongan B
Berbagai jenis minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 5%
s/d 20 %. Contohnya adalah Anggur malaga, dan lain-lain.
 Golongan C
Berbagai jenis minuman keras yang mengandung kadar alkohol antara 29%
s/d 50 %. Contoh adalah Brandy, Vodka, Wine, Drum, Champagne, Wiski,
dan lain-lain.
2.2 Faktor –faktor Penyebab Penggunaan Narkoba
a. Tersedianya Narkoba
Faktor tersedianya narkoba adalah ketersediaan dan kemudahan memperoleh
narkoba juga menjadi faktor penyabab banyaknya pemakai narkoba. Indonesia bukan
lagi sebagai transit seperti awal tahun 80-an, tetapi sudah menjadi tujuan pasar
narkotika. Para penjual narkotika berkeliaran dimana-mana, termasuk di sekolah,
lorong jalan, gang-gang sempit, warung-warung kecil yang dekat dengan pemukiman
masyarakat.3
b. Keluarga
Penyebab penggunaan narkoba salah satunya adalah keluarga dengan ciri-ciri:1
 Keluarga yang memiliki sejarah (termasuk orang tua) pengguna narkoba
 Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada jalan keluar yang
memuaskan semua pihak dalam keluarga. Konflik dapat terjadi antara ayah
dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara.
 Keluarga dengan orang tua yang otoriter, yang menuntut anaknya harus
menuruti apapun kata orang tua, dengan alasan sopan santun, adat-istiadat,
atau demi kemajuan dan masa depan anak itu sendiri tanpa memberi
kesempatan untuk berdialog dan menyatakan ketidak setujuan
 Keluarga tidak harmonis
c. Masyarakat
Kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau rawan, dapat menjadi faktor
terganggunya perkembangan jiwa kearah perilaku yang menyimpang yang pada
gilirannya terlibat penyalahgunaan/ketergantungan narkoba.4
d. Harga diri
Harga diri adalah aspek kepribadian yang penting sebagai penilaian yang dibuat
individu terhadap dirinya sendiri. Harga diri yang tinggi akan mempengaruhi
kepribadian seseorang. Harga diri merupakan evaluasi diri yang ditegakkan dan
dipertahankan oleh individu, yang berasal dari interaksi individu dengan orang–orang
yang terdekat dengan lingkungannya, dan dari jumlah penghargaan, penerimaan, dan
perlakuan orang lain yang diterima individu.6
e. Coba-coba/ penasaran
Dengan merasa tertarik melihat efek yang ditimbulkan oleh suatu zat yang dilarang,
seseorang dapat memiliki rasa ingin tahu yang kuat untuk mencicipi nikmatnya zat
terlarang tersebut. Jika iman tidak kuat, maka seseorang dapat mencoba ingin
mengetahui efek dari zat terlarang. Tanpa disadari dan diinginkan orang yang sudah
terkena zat terlarang itu akan ketagihan dan akan melakukannya lagi berulang-ulang
tanpa bisa berhenti.6
f. Menyelesaikan masalah
Orang yang dirudung banyak masalah dan ingin lari dari masalah dapat terjerumus
dalam pangkuan narkotika, narkoba atau zat adiktif agar dapat tidur nyenyak atau jadi
gembira ria dan kemudian merasa masalahnya terselesaikan sejenak.6
g. Menghilangkan rasa sakit
Orang yang dirudung banyak masalah dan ingin lari dari masalah dapat terjerumus
dalam pangkuan narkotika, narkoba atau zat adiktif agar dapat tidur nyenyak atau jadi
gembira ria dan kemudian merasa masalahnya terselesaikan sejenak.6

2.3 Efek Penggunaan Narkoba secara Umum4


a. Euphoria
 Perasaan senang dan gembira yang luar biasa di tambah munculnya keberanian
yang luar biasa.
 Hilangnya segala beban fikiran, seperti rasa sedih, resah, khawatir, menyesal
dan sebagainya.
b. Delirium
 Disusul dengan ketegangan psikis, tekanan jiwa yang berat sekali.
 Diikuti kegelisahan jiwa yang besar sehingga timbul gangguan koordinasi
gerakan motorik (gangguan kerja otak).
c. Halusinasi
 Timbul khayalan yang tidak terkendali.
 Indra pendengaran dan penglihatan tidak stabil sehingga terdengar dan tampak
sesuatu yang tidak ada.
d. Drowsiness
 Keadaan menurun seperti setengah tidur dengan fikiran ingin menggunakan
lagi, dan akhirnya menjadi apatis dan tidak menghiraukan sekelilingnya

2.4 Akibat Penyalahgunaan Narkoba7


a. Dampak psikis
 Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
 Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
 Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
 Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
b. Dampak social
 Gangguan mental, anti sosial, dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
 Merepotkan dan menjadi beban keluarga
 Pendidikan terganggu masa depan suram
c. Dampak fisik
 Gangguan pada sistem syaraf : kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran
 Gangguan pada jantung dan pembulu darah: infeksi akut otot jantung, gangguan
peredaran darah
 Gangguan pada kulit : penanahan, alergi
 Gangguan pada paru-paru : penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernapas,
pengerasan jaringan paru.
 Sering sakit kepala, mual dan muntah, pengecilan hati dan sulit tidur.
 Bersifat fatal apabila over dosis. Over dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi
kemampuan tubuh untuk menerimanya.

2.5 Upaya Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba8


a. Promotif
Ditujukan kepada masyarakat yang belum mengunakan narkoba, prinsipnya adalah
meningkatkan peranan atau kegiatan agar kelompok ini secara nyata lebih sejahtera
sehingga tidak pernah berpikir untuk memperoleh kebahagiaan semu dengan memakai
narkoba. dengan pelaku program adalah lembaga kemasyarakatan yang difasilitasi dan
diawasi oleh pemerintah.
b. Preventif
Program ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang belum mengenal narkoba agar
mengetahui seluk beluk narkoba sehingga tidak tertarik untuk mengunakanya. Selain
dilakukan oleh pemerintah, program ini juga sangat efektif bila dibantu oleh lembaga
propesional terkait, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat. Bentuk
kegiatan yang dilakukan seperti penyuluhan seluk beluk narkoba, pendidikan dan
pelantikan kelompok sebaya, upaya mengawasi dan mengendalikan produksi dan
distribusi narkoba dimasyarakat
c. Kuratif
Ditujukan kepada para penguna narkoba. tujuannya adalah untuk mengobati
ketergantungan dan menyembuhkan penyakit, sebagai akibat dari pemakai narkoba,
sekaligus menghentikan pemakaian narkoba. tidak sembarangan orang boleh
mengobati narkoba. Pengobatan harus dilakukan oleh dokter yang mempelajari
narkoba secara khusus. Bentuk kegiatan kuratif:
 Penghentian pemakaian narkoba.
 Penggobatan gangguan kesehatan akibat penghentian dan pemakaian narkoba.
 Penggobatan terhadap organ tubuh akibat penggunaan narkoba.
 Penggobatan terhadap penyakit yang masuk bersama narkoba (penyakit tidak
langsung yang disebabkan oleh narkoba) seperti : HIV/AIDS, hepatitis B/C,
sifilis, pnemonia, dan lain – lain.
d. Rehabilitative
Upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai narkoba
yang sudah menjalanin program kuratif. Tujuanya agar ia tidak memakai lagi dan bebas
dari penyakit ikutan yang disebabkan oleh bekas pemakai narkoba, Pemakai narkoba
dapat mengalami penyakit ikutan berupa:
 Kerusakan fisik (syaraf, otak, darah, jantng, paru-paru, ginjal, hati dan lain-
lain).
 Kerusakan mental, perubahan karakter ke arah negative.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Narkoba adalah suatu zat yang dapat memberikan dampak buruk kepada penggunanya
antara adalah menurunkan kesadaran, sebagai perangsang, membantu menimbulkan daya khayal,
perasan ketergantngan karena sudah ketagih, selain dapat menekan atau menurunkan fungsi-fungsi
tubuh yang bersifat menenangkan.

Saran

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah maupun menangani penggunaan narkoba
adalah dengan pandai memilih teman dalam bergaul, memperbanyak ibadah, terbuka dengan
keluarga maupun teman tentang masalah yang dihadapi. Bagi yang sudah terlanjur terjerumus
dalam dunia narkoba, dapat ditangani, salah satunya dengan memasukkannya ke panti rehabilitasi
khusus pecandu narkoba. Di tempat tersebut nantinya para pecandu dapat di obati agar pulih
kembali. Dan dengan adanya panti rehabilitasi tersebut diharapkan para pecandu yang nantinya
pulih dapat tetap berkreasi dan bekerja di lingkungan sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hawari, D, 2009. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Napza. Balai Penerbitan FKUI,


Jakarta.
2. Martono LH, Joewana S. Menangkal Narkoba dan Kekerasan. Jakarta: Balai Pustaka,
2006: 26-42.
3. Sasangka H.Narkotika dan Psikotropika dalam Hukum Pidana. Bandung: Mandar Maju,
2003: 5,33-120.
4. Alifia, U, 2008. Apa Itu Narkotika dan Napza. PT Bengawan Ilmu, Semarang.
5. Partodiharjo, S, 2008. Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunaannya. Erlangga.
6. Eka, E, 2006. Pengaruh Kelekatan Pada Orang Tua Terhadap Harga Diri Remaja Akhir.
Psikologi, 2(2): 65-70.
7. Widianti, E, Remaja dan Permasalahannya, Bahaya Merokok, Penyimpangan Seks dan
Bahaya Penyalahgunaan Narkoba. Makalah Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu
Keperawatan Jatinangor.
8. Martono, dkk, 2006. Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba Berbasis
Sekolah. Balai Pustaka, Jakarta.