Anda di halaman 1dari 59

KAJIAN PRODUKTIVITAS PADA AKTIVITAS PENGUPASAN

LAPISAN TOP SOIL DI PT BUDHI WIGUNA PRIMA


DESA SINGAT GEMBARA, KECAMATAN SANGATTA UTARA
KABUPATEN KUTAI TIMUR, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mata Kuliah


Kerja PraktIk (TTA-300) Pada Program Studi Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung

Oleh :
Al Imam Achmad Fadiah (10070111064)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2017 M / 1438 H
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : “Kajian Produktivitas Pada Aktivitas Pengupasan Lapisan Top


Soil Di Pt Budhi Wiguna Prima Desa Singat Gembara,
Kecamatan Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur, Provinsi
Kalimantan Timur.”
Nama : Al Imam Achmad Fadilah
NPM : 100.701.11.064

Foto

Bandung, Mei 2017


Menyetujui,

Ir. Dudi Nasrudin Usman, M.T. Elfida Moralista, S.Si., M.T.


Pembimbing Kerja Praktik Koordinator Kerja Praktik

Mengetahui,

Ir. Sri Widayati, M.T


Ketua Program Studi Teknik Pertambangan
KAJIAN PRODUKTIVITAS PADA AKTIVITAS PENGUPASAN
LAPISAN TOP SOIL DI PT BUDHI WIGUNA PRIMA DESA
SINGAT GEMBARA, KECAMATAN SANGATTA UTARA
KABUPATEN KUTAI TIMUR, PROVINSI
KALIMANTAN TIMUR
SARI

PT Budhi Wiguna Prima merupakan salah satu perusahaan yang bergerak


dibidang kontraktor di perusahaan tambang batubara. Bertempat di Desa Singat
Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan
Timur.
Untuk melakukan kegiatan penambangan batubara tersebut maka terlebih
dahulu dilakukan pengupasan lapisan tanah top soil, kegiatan pengupasan tanah top
soil meliputi kegiatan penggalian, pemuatan, dan pengangkutan. Untuk kegiatan
penggalian dan pemuatan menggunakan 1 unit excavator VOLVO 330B-LC, sedangkan
untuk pengangkutan menggunakan 20 unit dump truck HINO FM 260.
Produktivitas dari alat gali-muat dan alat angkut dapat dipengaruhi oleh kondisi
jalan, kondisi jalan yang kurang baik dapat memepengaruhi waktu edar dari alat angkut
untuk memindahkan tanah top soil dari loading point ke dumping point. Selain dari pada
itu kapasitas dari alat gali-muat dan alat angkut pun memiliki peran yang signifikan dalam
mempengaruhi produktivitas.
Waktu kerja rata-rata yang tersedia yaitu 10 jam per hari terdiri dari 1 shift. Waktu
daur untuk alat muat yaitu 0,32 menit dan waktu daur untuk alat angkut 17,7 menit
dengan demikian akan didapat produksi alat muat sebesar 59765,89 BCM/bulan dan
alat angkut sebesar 59752,4 BCM/bulan.

Kata Kunci : Produktivitas Penambangan Batubara

iii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur marilah sama-sama kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat terselesaikannya
Laporan Kerja Praktek mengenai “Kajian Produktivitas Pada Aktivitas Pengupasan
Lapisan Top Soil di PT Budhi Wiguna Prima” ini sebagai salah satu syarat kelulusan
Mata Kuliah Kerja Praktik
Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
beberapa pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Laporan Kerja Prakek ini,
diantaranya :
1. Kedua Orangtua yang selalu mendo’akan dan memotivasi dalam proses
pembuatan Laporan Kerja Praktik ini.
2. Bapak Niti Nyoman selaku Direktur PT. Budhi Wiguna Prima
3. Bapak H. Azhar Kaluny selaku Manager Personalia
4. Bapak H. Syamsuri selaku Site Manager
5. Bapak Junaidi selaku Supervisor sekaligus pembimbing di lapangan.
6. Seluruh karyawan staff dan non staff PT. Budhi Wigna Prima yang telah bersedia
membantu dan memberikan ilmu serta informasi mengenai topik kerja praktek
ini.
Dan penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
beberapa pihak universitas yang telah membantu dalam menyelesaikan Laporan Kerja
Prakek ini, diantaranya :
1. Ibu Ir. Sri Widayati, M.T selaku ketua Program Studi Teknik Pertambangan
Unisba
2. Bapak Ir. Dono Guntoro, M.T selaku wakil Program Studi Teknik Pertambangan
3. Ibu Linda Pulungan Ir., M.T. selaku wali dosen yang telah memberikan arahan
serta motivasinya dalam menyelesaikan laporan ini.
4. Ibu Elfida Moralista, S.Si., MT selaku Koordinator Kerja Pratek di Prodi Tenik
Pertambangan Unisba

i
5. Seluruh Dosen Prodi Teknik Pertambangan Unisba yang selalu memberikan ilmu
dan pengajaran kepada penulis.
6. Teman-teman angkatan 2011 yang selalu memberikan keceriaan dan dukungan
dalam alur pembuatan laporan ini.
7. Senior maupun Junior penulis di Jurusan Teknik Pertambangan Unisba.
Penulis menyadari bahwa Laporan Kerja Praktik ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu upaya perbaikan akan selalu dilakukan terutama akan disesuaikan
dengan perkembangan ilmu dan teknologi saat ini.
Akhirul kalam, mudah-mudahan Laporan Kerja Praktik ini dapat bermanfaat.
Kritik dan saran serta bahan masukan yang sifatnya membangun masih sangat
diperlukan guna penyempurnaan laporan ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung, Mei 2017

Al Imam Achmad Fadilah


10070111064

ii
DAFTAR ISI

Halaman
Sari .................................................................................................... iii
Kata Pengantar ................................................................................ i
Daftar Isi ............................................................................................ iv
Daftar Gambar .................................................................................. vi
Daftar Tabel ...................................................................................... vii
Daftar Lampiran................................................................................ viii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 1
1.3 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek .......................................... 2
1.4 Metodologi Penelitian ............................................................. 2
1.5 Sistematika Penulisan ............................................................ 4

BAB II TINJAUAN UMUM .................................................................. 5


2.1 Sejarah Singkat Perusahaan ................................................. 5
2.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah ............................................ 6
2.3 Topografi ............................................................................... 8
2.4 Keadaan Geologi dan Stratigrafi ............................................ 8
2.5 Iklim ....................................................................................... 12
2.6 Keadaan Penduduk ............................................................... 12
2.6.1 Demografi ..................................................................... 12
2.6.2 Keadaan Sosial ............................................................ 13

BAB III LANDASAN TEORI ................................................................ 14


3.1 Pengupasan Lapisan Tanah Penutup..................................... 14
3.2 Pemongkaran ......................................................................... 14
3.2.1 Pola Pembongkaran ...................................................... 15
3.3 Pemuatan (Loading) ............................................................... 16
3.3.1 Pola Muat ..................................................................... 16
3.4 Pengangkutan (Hauling) ......................................................... 18
3.5 Peralatan Penambangan ....................................................... 18
3.6 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat Muat dan
Alat Angkut ............................................................................ 18

BAB IV KEGIATAN LAPANGAN ........................................................ 23


4.1 Kegiatan Lapangan ................................................................ 23

iv
4.1.1 Pengupasan Top Soil ................................................... 23
4.1.2 Alat-alat yang Digunakan.............................................. 25
4.2 Pembahasan .......................................................................... 27
4.2.1 Perhitungan Waktu Produktif ........................................ 27
4.2.2 Perhitungan Waktu Kerja Efektif dan Efisiensi
Kerja alat ...................................................................... 28
4.2.3 Kegiatan Pemuatan dan Waktu Edar Alat Muat ............ 32
4.2.4 Kegiatan Pengangkutan dan Waktu Edar Alat Angkut .. 34
4.2.5 Match Factor ................................................................ 36
4.2.6 Swell Factor.................................................................. 37
4.2.7 Fill Factor....................................................................... 37
4.3 Produktifitas Alat Muat dan Alat Angkut.................................. 38
4.3.1 Produktifitas Alat Muat .................................................. 38
4.3.2 Produktifitas Alat Angkut............................................... 39

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 41


5.1 Kesimpulan ............................................................................ 41
5.2 Saran ..................................................................................... 41

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1.1 Diagram Alir Kegiatan........................................................................ 3
1.2 Peta Kesampaian Daerah Penelitian ................................................. 7
1.3 Peta Topografi Daerah Penelitian ....................................................... 9
1.4 Peta Geologi Daerah Penelitian ........................................................ 11
3.1 Pola Muat Top Loading dan Bottom Loading ..................................... 15
3.2 Pola Pemuatan Frontal Cut (a), Drive by Cut (b) dan Parallel Cut (c) .. 16
4.1 Foto Proses Pemuatan Tanah Top Soil di Area Loading Point ............ 22
4.2 Foto Proses Penggalian Menggunakan Excavator Volvo EC 330B LC 23
4.3 Foto Proses Dumping Menggunakan Dump Truck Hino FM 260 ......... 24
4.4 Foto Water Truck ................................................................................. 25
4.5 Foto Fuel Trck ..................................................................................... 26
4.6 Foto Proses Perapihan Jalan dengan Bulldozer Komatsu D-85-E SS . 26
4.7 Foto Proses Pemuatan Top Soil Menggunakan Excavator Volvo
EC330B LC ......................................................................................... 32
4.8 Foto Proses Pengangkutan Top Soil ................................................... 34

vi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
4.1 Pembagian Jam Kerja Pada hari Senin – Sabtu ................................ 27
4.2 Waktu Hambatan Alat Muat ............................................................... 29
4.3 Waktu Hambatan Dump Truck .......................................................... 31
4.4 Cycle Time Alat Muat ........................................................................ 33
4.5 Cycle Time Alat Angkut ..................................................................... 35
4.6 Swell Factor for Various Material ....................................................... 37
4.7 Fill Factor .......................................................................................... 38

vii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Spesifikasi Alat Muat


Lampiran B Spesifikasi Alat Angkut
Lampiran C Spesifikasi Bulldozer

viii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pertambangan adalah suatu tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan dan pengusahaan suatu bahan galian yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang. Menurut UU No. 4 tahun
2009, usaha pertambangan dikelompokkan menjadi 2, yaitu pertambangan mineral dan
pertambangan batubara.
Pada pertambangan batubara umumnya pada tambang terbuka, dalam proses
penambangannya diperlukan adanya pengupasan dan penggalian top soil dan
overburden terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar lapisan tanah penutup dapat
dibongkar dan dapat langsung digunakan untuk proses penambangan batubara itu
sendri, sehingga mempermudah kegiatan penambangan. Selain itu juga dapat untuk
mempermudah kegiatan reklamasi.
PT Budhi Wiguna Prima merupakan salah satu anak perusahaan dari
perusahaan tambang batubara PT Kaltim Prima Coal yang bergerak di bidang
pengupasan lapisan top soil. Kegiatan pengupasan yang dilakukan meliputi kegiatan
penggalian (digging), pemuatan (loading), dan pengangkutan (hauling).
Dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi produksinya, maka perlu dilakukan
pengamatan pada aktivitas pengupasan top soil tersebut, serta faktor – faktor yang
mempengaruhi dalam aktivitas pengupasannya, yang dapat menentukan kemajuan
suatu tambang. Hal ini harus dilakukan agar produksi yang sudah direncanakan dapat
tercapai sesuai dengan target produksi perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah


Permasalahan dalam kerja praktik yaitu mengenai produktivitas pemindahan
tanah mekanis dengan menggunakan alat gali-muat dan alat angkut, dengan ruang
lingkup masalah pada penelitian ini dibatasi pada :

1
2

1. Bagaimana aktifitas pengupasan serta efisiensi alat gali-muat dan alat angkut
yang digunakan pada penambangan batubara ?.
2. Berapa Produksi alat gali-muat dan alat angkut ?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat gali-muat dan alat
angkut ?
4. Bagaimana faktor keserasian dari alat gali-muat dan alat angkut ?
.
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dilakukannya kerja praktek ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat
kelulusan pada mata kuliah Kerja Praktek (TTA-300) pada Program Studi Teknik
Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung.
Tujuan pengamatan terhadap aktivitas pengupasan top soil di PT Budhi Wiguna
Prima adalah
1. Untuk mengetahui efisiensi kerja dari alat gali muat dan angkut.
2. Untuk mengetahui produksi alat gali-muat dan alat angkut.
3. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi produksi alat gali muat
dan angkut.
4. Untuk mengetahui faktor keserasian dari alat muat dan alat angkut.

1.4 Metodologi Penelitian


Metodologi penelitian yang dilakukan dalam pelaksanaan kerja praktek ini yaitu
meliputi:
1. Studi literatur, yaitu mengumpulkan data dan menggunakan literatur yang
berhubungan dengan judul dari kerja praktek dan juga dapat dijadikan sebagai
kerangka acuan dalam penyusunan laporan kerja praktek.
2. Pengamatan langsung di lapangan, yaitu mengambil data primer yang diberikan
dari perusahaan dan juga data sekunder yang dibutuhkan dengan cara
mengamati langsung di lapangan.
3. Melakukan interview langsung dengan karyawan terkait mengenai topik penulis.
4. Analisis data yaitu kegiatan pengolahan data berdasarkan hasil pengamatan dan
pengukuran dari lapangan dengan acuan dari keterangan – keterangan dari
bahan referensi.
3

Studi Literatur
1. Profil Perusahaan
2. Laporan Terdahulu

Pengambilan Data Lapangan Pengolahan Data Lapangan


1. Data Jadwal Kerja Karyawan 1. Menghitung Cycle Time Alat Gali Muat
2. Data Hambatan Kerja 2. Menghitung Cycle Time Alat Angkut
3. Data Cycle Time Alat Gali Muat 3. Menghitung Efisiensi Kerja
4. Data Cycle Time Alat Angkut 4. Menghitung Produktifitas
5. Menghitung Match Factor

Pembahasan Hasil Pembahasan


1. Perhitungan Waktu Produktif 1. Efisiensi Kerja
2. Perhitungan Waktu Kerja Efektif 2. Produktifitas
3. Cycle Time Alat Angkut 3. Match Factor

Kesimpulan dan Saran

Gambar 1.1
Diagram Alir Kegiatan
4

1.5 Sistematika Penulisan


Dalam penulisannya, laporan kerja praktek ini dibagi menjadi beberapa bab,
yakni sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, maksud dan tujuan, ruang lingkup
masalah, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN UMUM
Bab ini berisi profil perusahaan, lokasi dan kesampaian daerah, kondisi
topografi, kondisi geologi dan stratigrafinya, kondisi iklim, flora dan fauna, serta
kondisi penduduknya.
BAB III LANDASAN TEORI
Bab ini berisi tentang teori-teori dasar yang mendukung data penelitian dan
erat kaitannya dengan hal yang menjadi objek penelitian.
BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini berisi seluruh rangkaian kegiatan pengamatan dan pengambilan
seluruh data dari mulai kegiatan pembongkaran sampai proses penampungan
serta pembahasan data tersebut.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dari hasil kegiatan lapangan dan gagasan atau
rekomendasi dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan.
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah Singkat Perusahaan


PT Budhi Wiguna Prima cabang Sangatta adalah salah satu Perusahaan lokal di
Kalimantan Timur yang berkantor pusat di Balikpapan. PT Budhi Wiguna Prima sendiri
mempunyai beberapa kantor cabang di beberapa tempat, diantaranya Kancab Senakin
di Kalsel, Kancab Mataram di NTB, Kancab Surabaya di Jatim, Jakarta, Singapura dan
Sangatta.
Keberadaan PT Budhi Wiguna Prima yang didirikan pada tahun 1985 oleh
pengusaha perorangan di Balikpapan yang bergerak dibidang usaha general supplier,
pekerjaan sipil, rental alat-alat berat, rental light vehicle, pengadaan air bersih dan
Machine shop yang dilengkapi dengan peralatan modern yang sangat cocok untuk
perawatan peralatan berat utamanya untuk peralatan tambang, yang dipusatkan di
bengkel PT BWP di kawasan Gunung Malang Balikpapan (Surface Engineering
Division).
Sejarah keberadaan PT BUDHI WIGUNA PRIMA di Sangatta sampai saat ini
adalah sebagai berikut :
1. Pada tahun 1991 PT BWP yang pertama kali masuk ke sangatta dan menjadi
rekanan mitra kerja di PT KPC yang dipercaya untuk menangani bidang general
supplier, pekerjaan sipil dan rental alat-alat berat.
2. Pada tahun 1994 PT BWP dipercaya lagi untuk menangani body repair, kalibrasi
injection pump dan engine over haul.
3. Pada tahun 1995 PT BWP tambah dipercaya lagi untuk menangani service dan
perawatan alat-alat ringan (Light Vehicle) untuk menunjang kegiatan operasional
KPC yang ditambang maupun yang non tambang sampai hari ini sejumlah 338
unit.
4. Pada tahun 1996 PT BWP tambah dipercaya lagi untuk menangani pengadaan
air bersih untuk keperluan PT KPC secara keseluruhan dan lingkungannya
sampai hari ini.
5. Pada tahun 1997-2003 PT BWP ditambah lagi kepercayaan untuk menangani
service dan perawatan Light bus untuk menunjang kegiatan operasi tambang.

5
6

2.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah


Lokasi kegiatan pengupasan top soil termasuk dalam wilayah penambangan PT
Kaltim Prima Coal, sedangkan untuk lokasi PT Budhi Wiguna Prima sendiri berada di
JL. Parikesit Road 9, Sangatta, Ds. Singat Gembara, Kec. Sangatta Utara, Kab. Kutai
Timur – Kalimantan Timur.
Batas–batas administratif Kecamatan Sangatta Utara ini sebagai berikut :
 Sebelah Utara : berbatasan dengan Kecamatan Bengalon
 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Sungai Sangatta Selatan
 Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Teluk Pandan
 Sebelah Timur : berbatasan dengan Selat Makassar
Lokasi ini ditempuh melalui jalur darat menggunakan kendaraan beroda empat
dan jalur udara menggunakan pesawat dengan total waktu tempuh + 16 jam. Rute
dimulai dari Bandung menuju Bandara Soekarno-Hatta + 5,5 jam. Kemudian dari
Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Sepinggan-Balikpapan + 2,5 jam. Lalu dari
Bandara Sepinggan-Balikpapan menuju Kecamatan Sangatta Kabupaten Kutai Timur +
8 jam.

6
7

Sumber : Data Kerja Lapangan

Di Buat Oleh : Al Imam Achmad Fadilah

8 7

Gambar 1.2
Peta Kesampaian Daerah Penelitian
8

2.3 Topografi
Daerah penelitian memiliki keadaan topografi yang bergelombang dari
kemiringan landai sampai curam, dengan ketinggian berkisar antara 0-1500 meter diatas
permukaan laut dengan kemiringan antara 0-60 persen. Daerah dataran rendah pada
umunya dijumpai pada kawasan sepanjang sungai.
Sedangkan daerah perbukitan dan pegunungan memiliki ketinggian rata-rata
lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 300 persen, terdapat
dibagian barat laut yang berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia. Kondisi
topografi tersebut sangat berpengaruh terhadap peluang budidaya suatu jenis komoditi,
potensi dan persediaan air, dinamika hidrologi dan kerentanan terhadap erosi.
Dilihat dari topografi, sebagian besar atau 43,35 persen wilayah daratan
termasuk dalam kemiringan diatas 40 persen persen dan 43,22 persen terletak pada
ketinggian 100-1000 m diatas permukaan laut, sehingga pemanfaatanlahan di Provinsi
Kalimantan Timur harus memperhatikan karakteristik lahan tersebut.
9

Gambar 1.3
Peta Topografi Daerah Penelitian
10

2.4 Keadaan Geologi dan Stratigrafi


Formasi Balikpapan yang berumur miosen merupakan formasi pembawa lapisan
batubara di daerah Sangatta. Formasi ini terbentuk di dalam Cekungan Kutai yang
melampar dari sebelah selatan Samarinda sampai di utara daerah Sangkulirang.
Formasi Balikpapan merupakan formasi yang sangat dominan dan tersusun atas
perselingan antara batulumpur, batulanau, batupasir, dan batubara dengan sisipan tipis
batugamping. Batas stratigrafi antara formasi Balikpapan dengan formasi Pulau Balang
pada umumnya ditandai dengan kehadiran sisipan lensa batugamping.
11

Sumber : Data Kerja Lapangan

Di Buat Oleh : Al Imam Achmad Fadilah

8 7

Gambar 1.4
Peta Geologi Daerah Penelitian
12

Stratigrafi secara regional untuk wilayah Sangatta dapat di uraikan sebagai


berikut :
1. Endapan Aluvium (Qal). Terdiri dari endapan sungai dan pantai. Endapan ini
terdiri dari lempung dan lanau, serta pasir, dan kerikil.
2. Formasi Balikpapan (Tmbp). Perselingan batupasir dan lempung dengan
sisipan lanau serpih, batugamping, dan batubara, batupasir kuarsa,
3. Formasi Maluwi (Tmma). Terdiri dari batulempung, batulempung pasiran
dengan sisipan napal, serpih kelau, serpih pasiran, sedikit karbonan; ke arah atas
berangsur menjadi batugamping dengan sisipan napal dan batulempung kelabu
kecoklatan.

2.5 Iklim
Kabupaten Kutai Timur beriklim hutan tropika humida dengan suhu
udara rata-rata 26°C, dimana perbedaan suhu terendah dengan suhu tertinggi
mencapai 5° – 7°C. Curah hujan di Kabupaten Kutai Timur bervariasi mulai dari
wilayah pantai hingga ke pedalaman yang semakin meningkat. Jumlah curah
hujan rata-rata di wilayah kabupaten ini berkisar antara 2000–4000 mm/tahun,
dengan jumlah hari hujan rata-rata adalah 130-150 hari/tahun. Temperatur ratarata
berkisar antara 26°C dengan perbedaan antara siang dan malam antara 5 –
7°C.. (BAPPEDA Kab. Kutim, 2015).

2.6 Keadaan Penduduk


2.6.1 Demografi
Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan
Timur, Indonesia. Ibu kota Kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki
luas wilayah 35.747,50 km2 atau 17% dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten
Kutai Timur ini terdiri dari 135 Kelurahan dan 18 Kecamatan, dan merupakan salah satu
wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai yang dibentuk berdasarkan UU No. 47
Tahun 1999, tentang Pemekaran Wilayah Provinsi dan Kabupaten. Diresmikan oleh
Menteri Dalam Negeri pada tanggal 28 Oktober 1999.
Jumlah penduduk Kabupaten Kutai Timur menurut hasil Sensus Penduduk tahun
2010 sebanyak 253.904 jiwa lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk pada tahun
2009 sebanyak 196.738 jiwa, hal ini disebabkan karena adanya pertumbuhan alami dan
migrasi yang masuk ke Kabupaten Kutai Timur. Adapun rata – rata laju pertumbuhan
13

penduduk selama 4 tahun terakhir (2006-2010) rata – rata 4,08% setiap tahun. (BPS
Kab. Kutai Timur, 2015)
2.6.2 Keadaan Sosial
Keadaan sosial di Kabupaten Kutai Timur ini pada umumnya masyarakat
bermata pencaharian sebagai petani, pegawai swasta yang bekerja di perusahaan –
perusahaan asing, pegawai negeri sipil, pedagang, dan penjual jasa. Untuk masyarakat
sekitar PT Budhi Wiguna Prima ini mayoritas bermata pencaharian sebagai pekerja di
perusahaan tambang seperti PT Kaltim Prima Coal, dan beberapa perusahaan
kontraktor termasuk PT Budhi Wiguna Prima, dan perusahaan – perusahaan tambang
ataupun kontraktor lainnya.
Selain itu di Kabupaten Kutai Timur memiliki sarana peribadatan yang cukup
memadai. Pada tahun 2015, terdapat 849 Masjid di Kutai Timur, sedangkan Gereja
Kristen Khatolik dan Kristen terdapat 160 gereja. Selain itu terdapat juga 15 buah pura
dan 1 buah Vihara yang ada di Kabupaten Kutai Timur. Sedangkan untuk sarana
pendidikan di Sangatta mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi sudah tersedia, terdapat
beberapa Perguruan Tinggi yang ada di Sangatta, seperti STIPPER (Sekolah Tinggi Ilmu
Pertanian), STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi), dll.
Untuk sarana perhubungan baik jalur laut ataupun jalur udara di Kabupaten Kutai
Timur, belum terdapat bandara ataupun pelabuhan yang dibuka untuk masyarakat
umum. Akan tetapi terdapat bandara kecil di daerah Tanjung Bara – Sangatta yang
hanya dikhususkan untuk staff dan karyawan PT KPC. Armada pesawatnya pun hanya
1 unit dengan kapasitas penumpang 18 orang dengan tujuan pesawat ini pun hanya
menuju ke bandara Sepinggan di Balikpapan. Begitu pula pada sarana perhubungan di
laut, hanya terdapat dermaga tempat kapal – kapal besar mengangkut batubara yang
siap untuk diekspor ke dalam ataupun luar negeri.
14

BAB III
LANDASAN TEORI

Pertambangan adalah suatu tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,


pengelolaan dan pengusahaan suatu bahan galian yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang. Menurut UU No. 4 tahun
2009. Salah satu awal kegiatan dalam suatu proses penambangan yaitu dimulai dari
pembersihan lahan, pengupasan lapisan tanah penutup, dan penimbunan lapisan tanah
penutup.

3.1 Pengupasan Lapisan Tanah Penutup


Tahapan selanjutnya setelah pembersihan lahan adalah dengan mengupas
lapisan tanah penutup (overburden), dimana lapisan tanah penutup (overburden) adalah
semua lapisan tanah/batuan yang berada di atas dan langsung menutupi lapisan bahan
galian berharga sehingga perlu disingkirkan terlebih dahulu sebelum dapat menggali
bahan galian berharga tersebut. Dalam suatu lapisan tanah penutup (overburden) terdiri
dari lapisan top soil, sub soil, dan lapisan tanah inti (clay stone, sand stone, dll).
Lapisan paling atas (top soil) adalah lapisan yang mengandung banyak unsur
hara, dimana lapisan ini nantinya akan digunakan sebagai lapisan penutup saat
tambang tidak beraktifitas atau berhenti untuk dilakukan reklamasi atau penanaman
tumbuhan kembali. Lapisan sub soil adalah lapisan tanah yang berada di bawah lapisan
top soil dan tidak memiliki unsur hara. Lapisan tanah inti adalah lapisan tanah
pengotor/pengikut yang berada diantara lapisan batubara yang apabila ditambang akan
mempengaruhi kualitas dari bahan galian

3.2 Pembongkaran
Pembongkaran tanah penutup ini biasanya dibongkar langsung dengan
excavator jika batuan yang digali tidak keras, dan apabila agak keras biasanya dengan
metode (ripping) dan ada juga dengan cara peledakan (blasting), karena batuan di front
15

cukup keras jika digali langsung dengan excavator, maka akan diadakan peledakan
(blasting) pada area tersebut.
3.2.1 Pola Pembongkaran
Adapun pola teknis dari pengupasan atau pembongkaran lapisan tanah penutup
yaitu :
1. Back Filling Digging Method
Pada cara ini tanah penutup dibuang ke tempat bahan galiannya yang sudah
digali, jadi pada tempat penggalian batubara yang telah digali batubaranya
kemudian dijadikan tempat pembuangan tanah penutup.
Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat :
a. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bijih (hanya ada satu lapis)
b. Material atau batuannya lunak.
c. Letaknya mendatar
2. Benching System
Cara pengupasan dengan sistem jenjang (benching) ini pada waktu pengupasan
lapisan tanah penutup sekaligus sambil membuat jenjang. Sistem ini cocok untuk
:
a. Tanah penutup yang tebal
b. Bahan galian yang juga tebal
3. Multi Bucket Excavator System
Cara pengupasan tanah penutup ini membuang tanah penutup ke tempat yang
sudah digali endapannya atau ke tempat pembuangan khusus, cara ini
menggunakan Bucket Wheel Excavator (BWE). Cara ini cocok untuk tanah
penutup yang materialnya lunak dan tidak lengket.
4. Drag Scraper System
Cara pengupasan tanah penutup ini biasanya langsung diikuti dengan
pengambilan bahan galian setelah tanah penutup dibuang, atau dapat
menghabiskan tanah penutupnya terlebih dahulu kemudian baru bahan
galiannya yang ditambang. Cara ini cocok untuk tanah penutup yang materialnya
lunak dan lepas (loose).
5. Cara Konvensional
Cara pengupasan tanah penutup ini menggunakan kombinasi dari alat-alat
pemindah tanah mekanis (alat gali, alat muat, dan alat angkut) seperti kombinasi
Bulldozer, Wheel Loader dan Dump Truck.
16

3.3 Pemuatan (Loading)


Kegiatan pemuatan dan pengangkutan pada kegiatan penambangan adalah
suatu kegiatan yang bertujuan untuk memindahkan material hasil penggalian ke tempat
penimbunan (disposal) dengan menggunkan alat-alat mekanis. Kondisi di lapangan
sangat mempengaruhi kemampuan produksi alat muat dan alat angkut yang digunakan.
3.3.1 Pola Muat
Kedudukan alat muat terhadap material dan alat angkut mempengaruhi cara atau
pola pemuatan material oleh alat muat ke dalam alat angkut, kedudukan alat muat
tersebut apakah berada lebih tinggi daripada alat angkut atau kedudukan antara alat
muat dan alat angkut sama tinggi.

Sumber: Ir. Yanto Indonesianto 2005


Gambar 3.1
Pola Muat Top Loading dan Bottom Loading

1. Top Loading
Top Loading adalah cara pemuatan oleh alat muat yang memiliki kedudukan
lebih tinggi daripada alat angkut (alat muat berada di atas tumpukan material atau
berada di atas jenjang). Cara ini hanya berlaku pada alat muat back hoe, cara
pemuatan top loading ini bersifat memudahkan bagi operator alat muat agar lebih
leluasa untuk melihat bak dan menempatkan material.
2. Bottom Loading
Bottom Loading adalah cara pemuatan oleh alat muat dengan kedudukan yang
sama dengan alat angkut, cara ini dipakat pada alat muat power shovel. Apabila
berdasarkan dari posisi alat angkut terhadap alat muat dan alat muat terhadap
tempat penggalian, maka dapat dibedakan menjadi tiga cara yaitu:
17

Sumber : Ir. Yanto Indonesianto, 2005


Gambar 3.2
Pola Pemuatan Frontal Cut (a), Drive by Cut (b) dan Parallel Cut (c)
a. Frontal Cuts
Frontal cuts ini memiliki makna yaitu memotong dari depan, jadi dalam proses
penambangan frontal cuts ini merupakan suatu posisi dimana alat muat berada
di depan atau di muka suatu jenjang atau suatu tempat penggalian, dan mulai
menggali ke depan dan samping alat muat atau area sekitar 1800 dari alat muat
tersebut, kemudian alat muat memuat pada truk disebelah kanan dan kiri secara
bergantian.
b. Parallel Cut With drive-by
Maksudnya adalah posisi alat muat yang sejajar dengan tempat atau muka area
penggalian, dan posisi alat angkut yang berada di samping alat muat. Maka akan
memudahkan alat angkut untuk melakukan spotting (mengatur posisi untuk siap
dimuat).
c. Parallel Cut With Turn and Back
Parallel Cut With Turn and Back ini terbagi menjadi dua metode, yaitu :
i. Single Spotting / Single Truck Back Up
Pada cara ini masing - masing alat angkut saling menunggu untuk dimuat,
jadi hanya terdapat satu area spotting secara bergantian satu demi satu alat
angkut dimuat lalu berangkat setelah penuh.
ii. Double Spotting / Double Truck Back Up
Pada cara ini tidak terlalu jauh berbeda dengan cara pada single spotting,
hanya saja perbedaannya terdapat dua area spotting, sehingga alat muat
dapat memuat bahan galian pada dua alat angkut secara bergantian.
18

3.4 Pengangkutan (Hauling)


Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut atau
membawa material galian dari front penambangan ke tempat penimbunan, kegiatan
pengangkutan ini biasanya menggunakan dump truck, dan jumlah truk yang akan
digunakan tergantung dari banyaknya material galian hasil pembongkaran yang akan
diangkut.

3.5 Peralatan Penambangan


Peralatan penambangan adalah semua peralatan yang digunakan untuk
menunjang kegiatan penambangan, diantaranya:
1. Alat Gali / Bongkar
Alat gali adalah alat yang digunakan untuk melepaskan bahan galian dari batuan
induknya. Alat gali tersebut dapat berupa: penggunaan bahan peledak, bulldozer,
power scraper, bucket wheel excavator, backhoe, dll.
2. Alat Muat
Alat muat adalah peralatan yang digunakan untuk memuat material yang telah
digali untuk dimasukan ke alat angkut, alat muat terdiri dari: wheel loader, power
shovel, dragline, backhoe dll.
3. Alat Angkut
Alat angkut adalah semua alat yang digunakan untuk mengangkut atau
memindahkan bahan galian dari suatu tempat ke tempat lain, antara lain: dump
truck, belt conveyor, lori dan lokomotif, power scraper dll.

3.6 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat Muat dan Alat Angkut
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat gali muat dapat dilihat dari
kemampuan alat tersebut dalam penggunaannya di lapangan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi adalah:
1. Waktu Edar (Cycle Time)
Waktu Edar merupakan waktu yang digunakan oleh alat mekanis untuk
melakukan satu siklus kegiatan. Lamanya waktu edar dari alat-alat mekanis akan
berbeda antara material yang satu dengan yang lainnya. Hal ini tergantung dari
jenis alat serta sifat dari material yang ditangani. Waktu edar alat muat
19

merupakan penjumlahan dari waktu menggali. Waktu ayunan bermuatan, waktu


menumpahkan material dan waktu ayunan kosong.

CTm = Am + Bm + Cm + Dm

Keterangan:
CTm = Waktu edar alat muat.
Am = Waktu menggali.
Bm = Waktu ayunan bermuatan.
Cm = Waktu menumpahkan material.
Dm = Waktu ayunan kosong.
Sedangkan waktu edar alat angkut merupakan penjumlahan dari waktu mengatur
posisi, waktu isi material, waktu angkut, waktu tumpah, waktu kembali kosong.

CTa = Aa + Ba + Ca + Da + Ea

Keterangan:
CTa = Waktu edar alat angkut.
Aa = Waktu mengatur posisi.
Ba = Waktu isi material.
Ca = Waktu angkut.
Da = Waktu tumpah.
Ea = Waktu kembali kosong
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu edar alat-alat mekanis yaitu:
a. Berat alat.
b. Kondisi tempat kerja.
c. Kondisi jalan angkut.
d. Keterampilan dan pengalaman operator.
2. Faktor Isian Mangkuk
Faktor isian mangkuk merupakan perbandingan antara kapasitas nyata material
yang masuk ke dalam mangkuk dengan kapasitas teoritis dari alat muat tersebut
yang dinyatakan dalam persen.
20

Vn
FF= x 100%
Vt

Keterangan:
FF = Faktor isian (fill factor)
Vn = Volume nyata (m3)
Vt = Volume teoritis (m3)
3. Faktor Pengembangan
Apabila material digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi pengembangan
volume (swell). Untuk menghitung swell factor dan percent swell berdasarkan
volume dapat menggunakan persamaan pada berat yang sama:

Bank Volume
SF= % Swell
Loose Volume

Atau

Loose Volume-Bank Volume


SF= x 100%
Bank Volume

Sedangkan untuk menghitung swell factor dan percent swell berdasarkan


densitas menggunakan persamaan pada volume yang sama :

loose weight
SF= % swell
weight in bank

Atau

Weight in Bank-Loose Weight


SF= 100%
Loose Weight

4. Efisiensi Kerja
Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap suatu pelaksanaan pekerjaan yang
merupakan perbandingan antara waktu yang dipakai untuk bekerja dengan
waktu yang tersedia yang dinyatakan dalam (%).
21

We
E= x 100%
Wp

Keterangan:
E = Efisiensi kerja %
We = Waktu kerja efektif, menit
Wp = Waktu kerja produktif, menit
5. Produktifitas Kerja
Kemampuan produksi kerja alat dapat digunakan untuk menilai kinerja dari alat
muat dan alat angkut. Semakin baik tingkat penggunaan alat maka semakin
besar produksi yang dihasilkan alat tersebut.
a. Produktifitas Alat Gali Muat :

Em × 60 × Hm × FFm × SF
Pm =
Cm

b. Produktifitas Alat Angkut :

Em × 60 × Hm × FFm × SF × Np
Pm =
Cm

Keterangan :
Pm = Produktifitas alat muat
Cm = Waktu edar alat muat (menit)
H = Kapasitas bucket (LCM)
FF = Faktor pengisian (%)
SF = Swell faktor (%)
Em = Efisiensi kerja alat muat
Ea = Efisiensi kerja alat angkut
Pa = Produktifitas alat muat
Ca = Waktu edar alat angkut (menit)
Np = Jumlah pengisian
6. Keserasian Kerja Alat
Untuk menilai keserasian kerja alat muat dan alat angkut digunakan dengan
menggunakan (Match Factor) yang dirumuskan :
22

na x LTm
MF=
nm x Ca

keterangan:
MF = Match Factor
Na = Jumlah alat angkut, (unit).
Nm = Jumlah alat muat, (unit).
LTm = Waktu Loading (Pemuatan) (waktu edar alat muat dikalikan
jumlah pengisian)
Ca = Waktu edar alat angkut, (menit).
Adapun cara menilainya adalah :
a. MF < 1 , artinya alat muat bekerja kurang dari 100%, sedangkan alat angkut
bekerja 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat karena
menunggu alat angkut yang belum datang.
b. MF = 1 , artinya alat muat dan angkut bekerja 100%, sehigga tidak terjadi
waktu tunggu dari kedua jenis alat tersebut.
c. MF > 1 , artinya alat muat bekerja 100%, sedangkan alat angkut bekerja
kurang dari 100%, sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat angkut.
BAB IV
KEGIATAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Kegiatan Lapangan


4.1.1 Pengupasan Top Soil
Salah satu bidang pekerjaan yang dilakukan oleh PT Budhi Wiguna Prima adalah
pengupasan top soil pada area tambang batubara PT Kaltim Prima Coal. Top soil yang
dikupas ini nantinya akan digunakan kembali sebagai proses rehabilitasi untuk
penghijauan kembali pada daerah tambang yang sudah tidak beroperasi lagi.
Pengupasan top soil yang memiliki tebal +/- 10-60 cm ini dilakukan oleh PT Budhi
Wiguna Prima menggunakan kombinasi alat gali muat dengan alat angkut, jumlah alat
gali muat yang digunakan di lokasi kerja adalah sebanyak 1 unit. Untuk jumlah alat
angkut yang digunakan untuk hauling pada pengupasan top soil adalah sebanyak 20
unit, dimana alat angkut ini mengangkut top soil dari loading point ke dumping point
sejauh +/- 2,2 Km.

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.1
Foto Proses Pemuatan Tanah Top Soil di Area Loading Point

Pada umumnya kegiatan lapangan yang dilakukan di PT Budhi Wiguna Prima


adalah melakukan pengamatan serta pengambilan data – data yang diperlukan untuk
mengetahui produktifitas alat gali – muat – angkut dalam kegiatan pengupasan lapisan

23
24

top soil. Adapun tahap – tahap kegiatan lapangan di PT Budhi Wiguna Prima sebagai
berikut :
1. Mengamati secara umum kegiatan pengupasan top soil, terutama kegiatan gali
– muat – angkut.
2. Mengambil data waktu edar (cycle time) dari alat gali – muat – angkut pada
kegiatan penambangan batuan andesit.
4.1.2 Alat – alat yang Digunakan
Dalam kegiatan pengupasan top soil yang dilakukan oleh PT Budhi Wiguna
Prima, menggunakan alat – alat sebagai berikut :
1. Alat muat
Alat muat yang digunakan oleh PT Budhi Wiguna Prima untuk memuat tanah top
soil kedalam alat angkut adalah excavator Volvo EC 330 BLC dengan kapasitas
bucket sebesar 1,4 – 1,9 m3.

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.2
Foto Proses Pemuatan Menggunakan Excavator Volvo EC 330B LC

2. Alat Angkut
Alat angkut yang digunakan oleh PT Budhi Wiguna Prima untuk mengangkut
tanah top soil adalah Hino FM 260 sebanyak 20 unit dengan kapasitas bak alat
sebesar 10m3.
25

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.3
Foto Proses Dumping Menggunakan Dump Truck Hino FM 260

3. Alat Pendukung
Beberapa alat pendukung dintaranya :
a. Water Truck merupakan sebuah truck yang berfungsi sebagai penyiram
jalanan yang ada di area tambang, gunanya agar debu yang lebat tidak
menghalangi pandangan driver atau operator yang berada di area tambang.

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.4
Foto Water truck

b. Fuel Truck merupakan sebuah truck yang berfungsi sebagai pembawa bahan
bakar untuk alat angkut, sehingga alat angkut yang sedang beroperasi tidak
26

harus kembali ke tempat pengisian bahan bakar dan bisa mengurangi efektifitas
kerja dari alat angkut itu sendiri.

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.5
Foto Fuel Truck

c. Bulldozer menggunakan Komatsu D-85-E SS sebagai perata jalan sekaligus


merapikan area sekitar loading point yang penuh material buangan top soil,
sehingga area loading point lebih bersih dan alat angkut lebih leluasa untuk
mengatur posisi.

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.6
Foto Proses Perapihan Jalan dengan Bulldozer Komatsu D-85-E SS
27

4.2 Pembahasan
4.2.1 Perhitungan Waktu Produktif
PT Budhi Wiguna Prima hanya memiliki 1 shift kerja dimana dalam pembagian
waktu kerja sebagai berikut :
Tabel 4.1
Pembagian Jam Kerja Pada Hari Senin – Sabtu
Senin - Kamis, Dan Sabtu
Kegiatan Pukul Durasi
Kerja 06.00 - 12.00 6 Jam
Istirahat 12.00 - 13.00 1 Jam
Kerja 13.00 - 18.00 5 Jam
Total Waktu Tersedia 12 Jam
Total Waktu Kerja (Waktu Produktif) 11 Jam
Jum'at
Kegiatan Pukul Durasi
Kerja 06.00 - 11.30 5,5 Jam
Istirahat 11.30 - 13.00 1,5 Jam
Kerja 13.00 - 18.00 5 Jam
Total Waktu Tersedia 12 Jam
Total Waktu Kerja (Waktu Produktif) 10,5 Jam
Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima
Maka untuk waktu produktif dalam satu minggu adalah sebagai berikut :
a. Hari Senin – kamis, dan sabtu
11 jam/hari x 5 hari/minggu = 55 jam/minggu
b. Hari Jum’at
10,5 jam/hari x 1 hari/minggu = 10,5 jam/minggu
c. Total waktu produktif
55 jam/minggu + 10,5 jam/minggu = 65,5 jam/minggu
d. Rata – rata waktu produktif/hari
65,5 jam/minggu : 6 hari/minggu = 10,91667 jam/hari atau 655 menit/hari
28

4.2.2 Perhitungan Waktu Kerja Efektif dan Efisiensi Kerja Alat


Waktu kerja efektif dan efisiensi kerja alat merupakan suatu faktor yang saling
berkaitan karena efisiensi kerja alat dipengaruhi oleh waktu kerja efektif itu sendiri,
sedangkan waktu kerja efektif sendiri merupakan hasil dari waktu produktif dikurangi
dengan waktu hambatan kerja. Sehingga untuk waktu kerja efektif dan efisiensi kerja
alat dapat dihitung dengan persamaan berikut ini :

We = Wp - Wh

Keterangan : We = Waktu kerja efektif


Wp = Waktu kerja produktif
Wh = Waktu hambatan
Sedangkan rumus efisiensi kerja dapat dinyatakan dengan rumus sebagai
berikut :

We
E= ×100%
Wp

Keterangan : E = Efisiensi Kerja


We = Waktu kerja efektif
Wp = Waktu kerja produktif
Maka dalam menentukan waktu kerja efektif serta efisiensinya terlebih dahulu
perlu diketahui waktu hambatan kerjanya, oleh karena itu hambatan kerja yang ada di
PT Budhi Wiguna Prima terdapat pada tabel dibawah ini :
29

Tabel 4.2
Waktu Hambatan Alat Muat
HAMBATAN TIDAK BISA
HAMBATAN BISA DICEGAH (MENIT)
NO DICEGAH (MENIT)
A B C D E A b c D
1 19 1 3 24 2,6 32 30
2 37 1 2 26 1,7 30
3 39 1 1,5 46 1,4 30
4 43 3 5 34 1,5 30
5 37 27 2,2 30
6 19 34 2,5 47 30
7 48 32 1.7 30
8 42 4 46 2,3 30
9 39 3 43 2,8 30
10 35 2 2 23 2,1 15
11 24 21 2,4 15
12 13 36 1,9 44 30
13 26 3 4 37 1,4 30
14 39 4 29 2.3 30
15 14 4 27 2,2 30
16 35 5 23 1,6 30
17 22 5 20 1,8 30
18 35 21 1,8 15
19 37 5 2 27 1,3 38 15
20 19 5 30 1,9 15
21 22 2 20 2,5 15
22 38 5 15 2,3 30
23 18 2 13 1,5 30
24 40 4 6 16 1,9 30
25 36 6 8 11 1,8 30
26 15 7 13 1,2 30
27 13 7 19 2,7 36 30
28 41 3 32 2,9 30
29 17 1 33 1,4 30
30 35 3 1 29 1,6 15
31 25 4 3 27 1,2 15
32 38 2 22 2,3 15
Rata -
30,00 3,6 3,3824 26,75 1,9567 0 0 41,25 25,781
Rata
Total
63,73235294 67,03125
Menit
Total
130,76
Hambatan
Sumber : Data Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima 2015
30

Keterangan : A = Terlambat Awal Kerja


B = Berhenti Untuk Istirahat Lebih Awal
C = Istirahat Terlalu Lama
D = Berhenti Bekerja Lebih Awal
E = Waktu Tunggu
a = Hujan
b = Peralatan Rusak
c = Perawatan
d = Pengecekan Awal
Maka waktu kerja efektif dari alat muat tersebut adalah :
We = Wp – Wh
= 655 menit/hari – 130,76 menit/hari
= 524,24 menit/hari
Maka untuk efisiensi kerja alat muat tersebut adalah :
Eff = (We/Wp) x 100%
= (524,24 menit/hari : 655 menit/hari) x 100%
= 80,04 %
31

Tabel 4.3
Waktu Hambatan Dump Truck
HAMBATAN YANG DAPAT DICEGAH HAMBATAN YANG TIDAK DAPAT
No (MENIT) DICEGAH (Menit)
A B C D E a b c d E
1 40 5 27 15 30 30
2 37 3 37 18 30 28
3 14 2 25 13 33
4 43 24 11 31
5 37 20 5 12 29
6 44 6 15 3 14 30
7 38 4 23 6 16 33
8 15 7 32 12 32
9 39 21 13 30
10 14 24 11 27
11 35 15 31
12 13 3 21 3 32 13 30
13 26 8 12 16 30 30
14 36 2 47 4 31 18 35 29
15 19 5 23 2 15 30
16 37 4 47 2 14 32
17 39 7 23 13 33
18 35 5 12 15 22
19 19 4 34 13 33 30
20 48 28 14 30
21 15 23 3 19 31
22 47 37 4 14 32
23 12 2 23 12 33
24 37 2 27 4 33 14 21
25 19 3 30 3 13 30
26 22 1 25 16 22
27 35 5 35 16 31
28 25 3 31 13 30
29 39 2 33 15 30 33
30 35 1 36 2 12 31
31 24 6 38 2 30 17 30 32
32 22 27 13 32
Rata -
30,00 0,00 3,91 27,74 3,31 0,00 31,50 14,22 31,14 29,94
Rata
Total
64,96 106,8
Menit
Total
171,76
Hambatan
Sumber : Data Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima 2015
32

Keterangan : A = Terlambat Awal Kerja


B = Berhenti Untuk Istirahat Lebih Awal
C = Istirahat Terlalu Lama
D = Berhenti Bekerja Lebih Awal
E = Waktu Tunggu
a = Hujan
b = Peralatan Rusak
c = Isi Bensin
d = Perawatan
e = Pengecekan Awal
Maka waktu kerja efektif dari alat angkut tersebut adalah :
We = Wp – Wh
= 655 menit/hari – 171,76 menit/hari
= 483,24 menit/hari
Maka untuk efisiensi kerja alat angkut tersebut adalah :
Eff = (We/Wp) x 100%
= (483,24 menit/hari : 655 menit/hari) x 100%
= 73,77 %
4.2.3 Kegiatan Pemuatan dan Waktu Edar Alat Muat
Dalam kegiatan pemuatan material top soil yang dilakukan di PT Budhi Wiguna
Prima, menggunakan excavator Volvo EC330B LC, dimana alat tersebut memiliki
kapasitas bucket sebesar 1,4 – 1,9 m3 sehingga untuk memuat top soil ke dalam dump
truck tidak memerlukan banyak pengisian, hanya 3 kali isi untuk memenuhi dump truck.

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.7
Proses Pemuatan Top Soil Menggunakan Excavator Volvo EC330B LC
33

Alat muat ini memiliki total waktu edar 0,32 menit, dimana total waktu edar ini
merupakan waktu edar rata – rata dari beberapa gerakan yang dilakukan oleh alat muat
tersebut diantaranya adalah :
a. Waktu isi (waktu menggali)
b. Waktu swing bucket yang terisi material
c. Waktu menumpahkan material kedalam dump truck
d. Waktu swing bucket ketika kosong
Berikut ini adalah uraian data waktu edar alat muat di PT Budhi Wiguna Prima :

Tabel 4.4
Cycle Time Alat Muat
CYCLE TIME EXCAVATOR (DETIK)
NO
A B C D
1 8,3 3,2 3,2 3,1
2 8,9 3,4 3,4 3,4
3 6,4 3,9 3,2 3,6
4 7,6 3,8 3,7 3,9
5 7,1 3,4 3,1 2,9
6 7,9 3,9 4,4 2,7
7 8,1 4,5 4,5 3,1
8 8,9 4,2 4,2 3,5
9 8,3 4,8 3,4 4,4
10 7,2 4,9 4,2 3,9
11 6,5 4,4 3,5 3,6
12 7,3 4,2 3,2 3,8
13 7,1 4,4 4,5 4,2
14 6,8 5,2 4,5 4,4
15 6,6 6,3 3,5 3,4
16 8,3 3,2 3,1 3,9
17 6,4 3,4 2,9 3,4
18 7,1 4,8 2,8 3,8
19 7,9 4,9 3,3 3,2
20 8,9 4,1 3,8 3,5
21 7,2 3,9 3,6 4,8
22 7,7 3,7 2,8 4,2
23 5,9 3,9 2,4 4,5
24 6,5 3,4 2,7 4
25 6,3 4,2 3,8 3,9
26 7,8 4,1 3,7 4,5
27 7,1 4,5 2,7 4,9
28 8,6 3,6 3,9 4,2
29 8,3 4,9 3,1 3,3
34

30 7,5 4,2 2,9 4,1


31 7,7 3,7 2,9 4,8
32 7,2 5,7 2 4,7
Rata - Rata Detik 7,48125 4,209375 3,40313 3,8625
Rata - Rata Menit 0,12469 0,07015625 0,05672 0,06438
Total Menit 0,32
Sumber : Data Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima 2015
Keterangan : A = Isi
B = Swing Isi
C = Tumpah
D = Swing Kosong
4.2.4 Kegiatan Pengangkutan dan Waktu Edar Alat Angkut
Dalam kegiatan pengangkutan material top soil dari loading point hingga ke
dumping point di PT Budhi Wiguna Prima menggunakan dump truck Hino FM 260,
dimana dump truck ini memiliki kapasitas bak sebesar 10m3. Jarak yang ditempuh dari
loading point ke dumping point adalah +/-2200 m.

Sumber : Data Hasil Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima


Gambar 4.8
Proses Pengangkutan Top Soil
Total waktu edar pada dump truck yang dimulai dari kegiatan pemuatan hingga
penimbunan material top soil ke dumping point adalah selama 17,65 menit, dimana total
waktu edar tersebut merupakan total waktu edar rata – rata dari setiap kegiatan yang
dilakukan pada kegiatan pengangkutan ini. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel
dibawah ini :
35

Tabel 4.5
Cycle Time Alat Angkut
CYCLE TIME DUMP TRUCK (DETIK)
No
A B C D E F
1 17 46 442 27 52 459
2 13 51 476 27 59 453
3 15 53 459 23 44 484
4 12 62 469 24 27 432
5 17 53 452 21 53 457
6 27 60 473 21 79 475
7 19 48 470 27 55 463
8 14 53 447 34 58 460
9 16 44 463 22 47 478
10 18 53 452 25 20 466
11 21 48 470 32 21 460
12 19 47 477 35 48 467
13 15 52 471 33 45 461
14 13 49 448 25 37 438
15 13 53 472 26 52 462
16 11 57 447 25 27 437
17 12 53 468 22 55 458
18 18 58 446 21 47 456
19 16 49 446 25 71 467
20 21 45 470 28 45 459
21 15 56 472 32 52 466
22 13 45 468 25 29 460
23 14 46 450 27 30 462
24 17 64 460 36 48 458
25 19 55 448 33 52 452
26 17 60 480 27 47 471
27 13 63 445 29 45 445
28 12 63 470 36 27 470
29 17 53 452 37 47 455
30 19 47 455 21 45 460
31 16 44 468 27 79 452
32 12 54 458 27 27 445
Rata - Rata 15,97 52,63 460,75 27,50 45,94 459,00
Rata - Rata (Menit) 0,27 0,88 7,68 0,46 0,77 7,65
Total Menit 17,70
Sumber : Data Pengamatan di PT Budhi Wiguna Prima 2015
36

Keterangan : A = Atur Posisi


B = Isi
C = Hauling Isi
D = Atur Posisi
E = Dumping
F = Hauling Kosong
4.2.5 Match Factor
Match Factor atau faktor keserasian merupakan angka keserasian antara alat
muat dan alat angkut. Faktor keserasian sangat berpengaruh dari waktu edar dan jumlah
peralatan mekanis yang digunakan dalam setiap rangkaian kerja, nilai Match Factor
dapat dicari dengan menggunakan rumus Match Factor, yaitu :

na x LTm
MF=
nm x CTa

Keterangan : MF = Match Factor


na = Jumlah Alat Angkut
nm = Jumlah Alat Muat
LTm = Loading Time (CTm x n)
Cta = Cycle time alat angkut
CTm = Cycle time alat muat
n = Jumlah Pengisian
Sehingga dapat dihitung besar nilai Match Factor :

na x LTm
MF=
nm x CTa

20 x (0,32 menit x 3)
MF=
1 × 17,7

MF= 1,08
Pada area top soil, digunakan 1 unit alat muat dan 20 unit alat angkut dan
menghasilkan faktor keserasian sebesar 1,08. Dari hasil tersebut, MF > 1, artinya alat
muat bekerja 100%, sedangkan alat angkut bekerja kurang dari 100%. Sehingga
terdapat waktu tunggu bagi alat angkut.
37

4.2.6 Swell Factor

SF = ( Densitas Loose (ton/LCM) / Densitas Bank (ton/BCM) x 100%

Faktor pengembangan atau swell factor adalah faktor pengembangan suatu


material ketika dalam keadaan telah dibongkar. Nilai faktor pengembangan didapatkan
dari hasil perbandingan antara densitas loose top soil dengan densitas bank top soil,
sehingga dapat dicari dengan persamaan dibawah ini :
Atau bisa juga nilai swell faktor yang akan digunakan dalam perhitungan dapat
disesuaikan dengan jenis materialnya seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.6
Swell Factor For Various Material
Persen
No. Jenis Material Swell Factor
Swell
1 Lempung, Kering 35 0,74
2 Lempung, Basah 35 0,74
3 Tanah, Kering 25 0,80
4 Tanah, Basah 25 0,80
5 Tanah dan Kerikil 20 0,83
6 Kerikil, Kering 12 0,89
7 Kerikil, Basah 14 0,88
8 Batu Kapur 60 0,63
Batu, Diledakan Dengan
9 60 0,63
Baik
10 Pasir, Kering 15 0,87
11 Pasir, Basah 15 0,87
12 Batu Serpih 40 0,71
Sumber : Robert, dkk. Construction, Planning, Equipment, and Methods, 7th edition.

Berdasarkan tabel tersebut karena material di PT Budhi Wiguna Prima berupa


lapisan tanah top soil yang merupakan tanah basah, maka nilai swell factor yang
digunakan adalah sebesar 80%.
4.2.7 Fill Factor
Faktor pengisian (Fill Factor) merupakan nilai yang dinyatakan dalam persen,
dimana nilai tersebut merupakan perbandingan antara kapasitas nyata material yang
masuk kedalam bucket dengan kapasitas bucket secara teoritis berdasarkan spesifikasi
alat. Dimana nilai fill factor ini bisa disesuaikan berdasarkan materialnya, seperti pada
tabel dibawah ini.
38

Tabel 4.7
Fill Factor
Jenis Tanah Faktor Pengisian (%)
Moist loam/sandy clay 100 – 110
Sand and Gravel 95 – 110
Rock – poorly blasted 40 – 50
Rock – well blasted 60 – 75
Hard, tough clay 80 – 90
Sumber : Robert, dkk. Construction, Planning, Equipment, and Methods, 7th edition

Dari tabel tersebut, karena material yang ada di PT Budhi Wiguna Prima adalah
lapisan tanah top soil yang merupakan tanah basah. Maka nilai fill factor yang
digunakan adalah sebesar 80%.

4.3 Produktifitas Alat Muat dan Alat Angkut


Untuk menghitung produktifitas alat muat perlu diketahui terlebih dahulu
beberapa parameter penting diantaranya adalah, waktu edar alat, kapasitas baku bucket
alat muat, faktor pengembangan(swell factor), faktor pengisian (fill factor), dan effisiensi
kerja alat.
4.3.1 Produktifitas Alat Muat

Em × 60 × Hm × FFm × SF
Pm =
Cm

Keterangan :
Pm = Kemampuan produksi alat gali muat (BCM/jam)
Cm = Waktu edar alat gali muat sekali pemuatan (menit)
Em = Effisiensi kerja alat muat (%)
Hm = Kapasitas Bucket (LCM)
FFm = Faktor pengisian Bucket (%)
SF = Faktor Pngmbangan (%)
Maka berdasarkan data yang didapatkan, dapat dihitung produksi alat gali muat
sebagai berikut :
Cm = 0,32 menit
Em = 80,04%
39

Hm = 1,9 m3
FFm = 80%
SF = 80%
Sehingga produktifitas alat gali muat adalah :
Pm = 80,04% x 60 x 1,9 LCM x 80% x 80%
0,32 menit
Pm = 182,4912 BCM/jam
= 182,491 BCM/jam × 10,91667 jam/hari/unit
= 1992,1962 BCM/hari
Sehingga total produktifitas dari alat gali muat selama satu hari adalah 1992,1962
BCM/hari, atau 59765,886 BCM/bulan.
4.3.2 Produktifitas Alat Angkut

Ea × 60 × Hm × FFm × SF × n
Pa =
Ca

Keterangan :
Pa = Kemampuan produksi alat angkut (BCM/jam)
Ca = Waktu edar alat angkut sekali pemuatan (menit)
Ea = Effisiensi kerja alat angkut (%)
Hm = Kapasitas Bucket (m3)
FFm = Faktor pengisian Bucket (%)
SF = Faktor Pngmbangan (%)
n = Jumlah Pengisian
Maka berdasarkan data yang didapatkan, dapat dihitung produksi alat angkut
sebagai berikut :
Ca = 17,70 menit
Em = 73,77%
Hm = 1,9 m3
FFm = 80%
SF = 80%
n = 3 kali
Sehingga produktiitas alat angkut adalah :
40

Pa = 73,77% x 60 x 1,9 LCM x 80% x 80% x 3


17,7 menit
Pa = 9,1225 BCM/jam
= 9,1225 BCM/jam × 10,91667 jam/hari
= 99,5873 BCM/hari
Sehingga total produktifitas dari alat angkut selama satu hari adalah 99,5873
BCM/hari/unit, atau 2987,619 BCM/bulan/unit.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang kami dapatkan dari hasil pengamatan yang kami lakukan di PT
Budhi Wiguna Prima adalah sebagai berikut :
1. Besaran efisiensi kerja pada alat gali muat dan angkut di PT Budhi Wiguna Prima
adalah sebagai berikut :
a. Efisiensi alat gali muat yaitu sebesar 80,04%
b. Efisiensi alat angkut yaitu sebesar 73,77%
2. Besaran produktivitas dari alat gali muat dan angkut di PT Budhi Wiguna Prima
adalah sebagai berikut
a. Produktivitas alat gali muat yaitu sebesar 59765,886 BCM/bulan
b. Produktivitas alat angkut yaitu sebesar 2987,619 BCM/bulan/unit
3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi alat gali muat dan angkut yaitu
sebagai berikut :
a. Waktu edar (cycle time)
b. Kapasitas alat
c. Keahlian operator
d. Kondisi front kerja (di lapangan)
e. Kapasitas alat gali muat dan angkut
4. Faktor keserasian alat antara alat muat dan angkut adalah sebesar 1.08 Hal ini
dapat diartikan bahwa alat angkut lebih banyak menunggu dari pada alat gali
muat.

5.2 Saran
Adapun saran dari kami berdasarkan pengamatan dan pengambilan data selama
kerja praktek di PT Budhi Wiguna Prima.
1. Perlu adanya peningkatan effisiensi kerja dari alat muat dan alat angkut menjadi
+ 90% dengan cara menghindari berhenti kerja lebih awal dengan memberikan
aturan tidak boleh pulang sebelum waktunya, juga dalam keterlambatan di awal

41
42

kerja dengan melakukan penjemputan karyawan menggunakan bis 30 menit


sebelum waktu bekerja dimulai.
2. Sebaiknya dilakukan perataan atau perbaikan jalan baik pada front loading top
soil, front dumping top soil, juga pada jalan hauling top soil agar pada saat dump
truck melakukan manuver untuk melakukan pengisian dan penimbunan top soil,
juga dalam mengangkut material top soil tidak memakan banyak waktu terbuang
karena jalan berlubang.
DAFTAR PUSTAKA

1. Bappeda Kab. Kutai Timur, 2015.” Profil Kabupaten Kutai Timur 2015”.
Bappeda Kab. Kutai Timur
2. BPS Kab. Kutai Timur, 2015. “Data Penduduk Kabupaten Kutai Timur”.
kutimkab.bps.go.id
3. Caterpillar, “Dozer Crawler Tractor D7G Product Spesification”, cat.com
4. HINO, “Hino Ranger 500 FM 260 JD Product Spesificaion”, hino.co.id

5. Ir. Yanto Indonesianto, 2005, “Pemindahan Tanah Mekanis”, Jurusan Teknik

Pertambangan – FTM, UPN “Veteran” Yogyakarta.

6. Peurifoy, Schexnyder, Shapira. “Construction Planning, Equipment, and


Methods 7th Edition”, New York, Amerika
7. Prodjosumarto, Partanto. “Pemindahan Tanah Mekanis”, Jurusan Teknik
Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bandung. 1993
8. Volvo Construction Equipment, “Volvo Excavator EC330B LC”, volvo.com
LAMPIRAN
LAMPIRAN A
SPESIFIKASI ALAT MUAT

1. Spesifikasi alat muat Volvo EC 330 BLC

Foto 1
Volvo EC 330 BLC

Engine
Make : VOLVO
Model : D12C
Gross Power : 198 Hp
Net Power : 184 Hp
Power Measured : 1700 rpm
Aspirations : Turbocharged
Number of Cylinder : 6
Operational
Operating Weight : 35000 Kg
Fuel Capacity : 620 L
Cooling System Fluid Capacity : 65,4 L
Hydraulic System Fluid Capacity : 500 L
Engine Oil Capaity : 41 L
Bucket
Reference Bucket Capacity : 1,4 m3
Minimum Bucket Capacity : 1,4 m3
Maximum Bucket Capacity : 1,9 m3

A. Shipping Length of Unit : 10910 mm


B. Width to Outside of Tracks : 3190 mm
C. Shipping Height of Unit : 3700 mm
D. Length of Track on Ground : 4020 mm
E. Ground Clearance : 500 mm
F. Track Gauge : 2590 mm
G. Height to Top of Cab : 3190 mm
H. Tail Swing Radius : 3390 mm
N. Shoe Size : 600 mm
O. Counterweight Clearance : 1210 mm
LAMPIRAN B
SPESIFIKASI ALAT ANGKUT

1. Spesifikasi Hino FM 260

Foto 2
Dump Truck Hino FM 260

Merk : Hino
Tipe : FM 260
Kapasitas : 10 m3
Mesin
Model : J08E – UF
Tipe : Mesin Diesel 4 Langkah
Segaris; Direct Injection;
Turbocharge Intercooler
Kecepatan Maks. : 86 km/jam
Daya Tanjak : 47,1o
Tenaga Maks. : 2500 rpm
Torsi Maks. : 1500 rpm
Jumlah Silinder : 6
Isi Silinder : 7684 cc
Kapasitas Tangki Solar : 200 lt
LAMPIRAN C
SPESIFIKASI BULLDOZER

1. Spesifikasi Bulldozer Komatsu D 85E-SS-2

Foto 3
Komatsu D 85E-SS-2

Engine
Make : Komatsu
Model : S6D125E-2
Displacement : 11 L
Net Power : 200 Hp
Power Measured : 1950 rpm
Aspirations : Turbocharged
Number of Cylinder : 6
Operational
Operating Weight : 15620 Kg
Fuel Capacity : 406 L
Max Speed – Forward : 10,6 km/h
Max Speed – Reverse : 13,4 km/h
A. : 2050 mm
B. : 3620 mm
C. : 1295 mm
D. : 2980 mm
E. : 1070 mm
F. : 590 mm
G. : 2980 mm
H. : 5615 mm
I : 3160 mm
J : 65 mm
K : 1220 mm