Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam bahan organik seperti yang terdapat
di dalam tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan oleh keperluan hidup manusia, baik komponen
senyawa tersebut digunakan untuk keperluan industri maupun untuk bahan obat-obatan.
Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode ekstraksi dimana ekstraksi merupakan
proses pelarutan komponen kimia yang sering digunakan dalam senyawa organik untuk
melarutkan senyawa tersebut dengan menggunakan suatu pelarut.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibagi menjadi dua yaitu
ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair, bahan yang menjadi analit
berbentuk cair dengan pemisahannya menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur
sehingga terjadi distribusi sampel di antara kedua pelarut terebut. Pendistribusian sampel dalam
kedua pelarut tersebut dapat ditentukan dengan perhitungan KD (koefisien distribusi).
Ekstraksi padat-cair (leaching) adalah proses ekstraksi suatu konstituen yang dapat larut
(solute) pada suatu campuran solid dengan menggunakan pelarut. Leaching banyak dipakai
dalam berbagai industri. Pada proses industri biologi dan makanan banyak produk dipisahkan
dari struktur alaminya dengan proses leaching. Sebagai contoh, gula dihasilkan dari
proses leaching dari tebu atau gula bit dengan menggunakan air. Dalam produksi minyak
sayur, pelarut organik seperti heksana, aseton, dan eter digunakan untuk mengekstrak minyak
dari kacang tanah, kacang kedelai, biji bunga matahari, biji kapas, dan sebagainya. Pada
industri farmasi, berbagai produk farmasi yang berbeda dihasilkan dengan proses leaching akar
tanaman, daun, ataupun batang. Selain untuk berbagai kegunaan di atas leaching juga dijumpai
dalam industri pemrosesan logam. Biasanya logam yang bermanfaat biasanya terdapat dalam
campuran dengan jumlah konstituen tak diinginkan yang cukup besar. Leaching dipakai untuk
memisahkan logam sebagai garam yang terlarut. Misalnya garam tembaga di-leaching dari
bijih yang mengandung berbagai logam dengan menggunakan asam sulfat atau larutan
amoniak. Berdasarkan penjelasan diatas, percobaan ini dilakukan untuk membuktikan teori
dari ektraksi padat – cair.
1.2 TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan peralatan ekstraksi di Politeknik Negeri Bandung
2. Menejelaskan fenomena perpindahan massa (proses fisis ekstraksi tersebut)
3. Menghitung efisiensi tahap percobaan dan hasil ekstraksi (yield)
4. Menghitung kalor terpakai dari steam oleh pemanasan pelarut
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan
bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari
suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separating agen.
Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam
campuran.

2.2 Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)


Leaching ialah ekstraksi padat-cair dengan perantara suatu zat pelarut. Proses ini
dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari suatu padatan atau untuk memurnikan
padatan dari cairan yang membuat padatan terkontaminasi, seperti pigmen. Metode yang
digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh banyaknya zat yang larut, penyebarannya
dalam padatan, sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat terlarut menyebar merata di dalam
padatan, material yang dekat permukaan akan pertama kali larut terlebih dahulu. Pelarut,
kemudian akan menangkap bagian pada lapisan luar sebelum mencapai zat terlarut selanjutnya,
dan proses akan menjadi lebih sulit dan laju ekstraksi menjadi turun.
Ekstraksi Padat-Cair (Leaching) adalah proses pemisahan zat yang dapat melarut (solut)
dari suatu campurannya dengan padatan yang tidak dapat larut (inert) dengan menggunakan
pelarut cair (solvent). Proses ini dilakukan untuk mendapatkan bagian yang mudah terlarut
karena berharga ataupun untuk menghilangkan bagian yang kurang berharga. Pelarut akan
lebih mudah melarutkan solute yang ada pada permukaan padatan sebelum mencapai solute
selanjutnya.
2.3Metode Operasi Leaching
Dikenal 4 jenis metoda operasi ekstraksi padat-cair. Berikut ini disajikan uraian singkat
mengenai masing-masing metoda tersebut:
a. Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal
Dengan metoda ini, pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan
sekaligus, dan kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini
jarang ditemukan dalam operasi industri karena perolehan solut yang rendah.
b. Operasi dengan sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran silang.
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut dalam
tahap pertama; kemudian aliran bawah dari tahap ini dikontakkan dengan pelarut baru
pada tahap berikutnya, dan demikian seterusnya. Larutan yang diperoleh sebagai
aliran atas dapat dikumpulkan menjadi satu seperti yang terjadi pada sistem dengan
aliran sejajar, atau ditampung secara terpisah, seperti pada sistem dengan aliran
silang.

Gambar 2.1 Sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar

Gambar 2.2 Sistem bertahap banyak dengan aliran silang


c. Operasi secara kontinu dengan aliran berlawanan
Dalam sistem ini, aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan. Operasi
dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat yang merupakan
aliran atas tahap kedua, dan padatan baru. Operasi berakhir pada tahap ke-n (tahap
terakhir), dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan yang berasal
dari tahap ke-n (n-1). Dapat dimengerti bahwa sistem ini memungkinkan
didapatkannya perolehan solut yang tinggi, sehingga banyak digunakan di dalam
industri.

Gambar 2.3 Sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan


d.Operasi secara batch dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun berderet atau
dalam lingkaran yang dikenal sebagai rangkaian ekstraksi (extraction battery).
Didalam sistem ini, padatan dibiarkan stationer dalam setiap tangki dan dikontakkan
dengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin menurun. Padatan yang hamper
tidak mengandung solut meninggalkan rangkaian setelah dikontakkan dengan pelarut
baru, sedangkan larutan pekat sebelum keluar dari rangkaian terlebih dahulu
dikontakkan dengan padatan baru di dalam tangki yang lain.

Gambar 2.4 Operasi batch bertahap empat dengan aliran berlawanan


Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi:
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran partikel maka
areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi kontak secara tepat.
Semakin besar partikel, maka cairan yang akan mendifusi akan memerlukan waktu yang
relative lama.
2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin terdistribusi dalam permukaan
kontak akan lebih luas terhadap pelarut. Semakin lama waktu pengadukan berarti difusi
dapat berlangsung terus dan lama pengadukan harus dibatasi pada harga optimum agar
dapat optimum agar konsumsi energi tak terlalu besar. Pengaruh faktor pengadukan ini
hanya ada bila laju pelarutan memungkinkan.
3. Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan meningkat dengan temperatur
dan akan menambah kecepatan ekstraksi.
4. Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan viskositas yang cukup
rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut murni akan digunakan meskipun dalam
operasi ekstraksi konsentrasi dari solute akan meningkat dan kecepatan reaksi akan
melambat, karena gradien konsentrasi akan hilang dan cairan akan semakin viskos pada
umumnya (Coulson, 1955: 721). Dalam biologi dan proses pembuatan makanan, banyak
produk yang dipisahkan dari struktur alaminya menggunakan ekstraksi cair-padat. Proses
terpenting dalam pembuatan gula, leaching dari umbi-umbian dengan produksi minyak
tumbuhan, pelarut organic seperti hexane, acetone, dan lainnya digunakan untuk
mengekstrak minyak dari kacang kedelai, biji bunga tumbuhan dan lain-lain. Dalam
industri farmasi, banyak produk obat-obatan diperoleh dari leaching akar tanaman, daun
dan batang. Untuk produksi kopi instan, kopi yang sudah dipanggang di leaching dengan
air segar. Teh dapat larut diproduksi dengan menggunakan pelarut air dan daun teh
(Geankoplis, 1997: 724-725).

2.4 Perpindahan Massa dalam Proses Leaching


Persamaan utamanya:
𝑑𝑀 𝑘 ′ 𝐴 (𝐶𝑠 − 𝐶)
=
𝑑𝑡 𝑏
A = luas area kontak padatan-pelarut
b = ketebalan efektif lapisan tipis dari cairan yang mengelilingi partikel padatan
C = konsentrasi dari solute dalam pelarut
Cs = konsentrasi jenuh dari solut di pelarut selama kontak dengan padatan
M = massa solute yang telah pindah pada waktu t
k’ =koefisien difusi (hampir sama dengan difusifitas D, pada fasa cair [m3/s])

Sebuah persamaan empiris difusifitas dalam larutan encer dapat dihitung dengan
pendekatan Maxwell dan dimodifikasi oleh Gilliland.
7,7 𝑥 10−16 𝑇
𝐷𝐿 = 1 1
𝜇(𝑉 3 − 𝑉0 3 )
DL = difusifitas
𝜇 = viskositas pelarut
T= temperatur (K)
V = volume molekular zat bersangkutan (pelarut) dalam 1 kmol bentuk fasa cair
V0 = 0,008 untuk air; 0,0149 untuk etanol; 0,0228 untuk benzene
Asumsi sistem ekstraksi silang (cross current) dengan pelarut (misal campuran air-
etanol) selalu dalam keadaan murni di setiap tahap.

A= massa dari rafinat x= massa dari solute dalam rafinat


B= massa dari pelarut y= massa dari solute dalam ekstrak

Neraca Massa (Tahap I)


Massa masuk = Massa keluar
Axf + By0 = Ax1 + By1
dengan y0 = 0, maka:
Axf + 0 = Ax1 + By1
By1 = Ax1 + Axf
𝐴 (𝑥1 − 𝑥𝑓 )
𝑦1 =
𝐵
𝐴 (𝑥𝑓 − 𝑥1 )
𝑦1 = −
𝐵

Untuk Kalor yang Diperlukan/Dilepas oleh Steam, Q


𝑄 = 𝑚𝑠 ℎ𝑔 − 𝑚𝑠 ℎ𝑓 + 𝑚𝑠 ℎ𝑓𝑔
ms = laju massa steam
hg = energi dalam/entalpi steam pada tekanan kerja P
hfg = kalor laten kondensasi penguapan kukus pada T kondensasi
hg = energi dalam/entalpi kondensat pada T kondensat

Komponen Teh

Teh adalah minuman yang mengandung kafeina, sebuah infusi yang dibuat dengan
cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia
sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh
hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.

Teh bunga dengan campuran kuncup bunga melati yang disebut teh melati atau teh
wangi melati merupakan jenis teh yang paling populer di Indonesia

Teh mengandung sejenis antioksidan yang bernama katekin. Pada daun teh segar, kadar
katekin bisa mencapai 30% dari berat kering. Teh hijau dan teh putih mengandung katekin
yang tinggi, sedangkan teh hitam mengandung lebih sedikit katekin karena katekin hilang
dalam proses oksidasi. Teh juga mengandung kafeina (sekitar 3% dari berat kering atau sekitar
40 mg per cangkir), teofilin dan teobromin dalam jumlah sedikit.
Kandungan Teh
1. Polifenol Teh
Polifenol pada teh yang terkenal adalah katekin dan flavanol. Senyawa ini berfungsi
sebagai antioksidan untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh dan juga dapat untuk
mencegah berkembangnya sel kanker dalam tubuh.
a. Katekin
Katekin adalah senyawa yang paling banyak menjadi perhatian diantara sejumlah polifenol
yang tersedia dalam teh.
b. Flavanol
Flavanol merupakan satu di antara sekian banyak antioksidan alami yang terdapat tanaman
pangan.

2. Karbohidrat
Karbohidrat yang terdapat pada daun teh mulai dari gula sederhana hingga yang kompleks.
Karbohidrat yang penting diantaranya sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Keseluruhan karbohidrat
yang dikandung teh adalah 0,75% dari berat kering.
3. Substansi Pektin
Substansi pektin yang paling banyak adalah asam pektat. Besarnya bervariasi, yaitu antara 4,9-
7,6% dari berat kering daun.

4. Alkaloid-Kafein
Alkoloid utama dalam daun teh adalah kafein. Kafein memberi rasa yang menggigit. Terlalu
banyak kafein tidak baik untuk tubuh. Akan tetapi, kafein tidak seluruhnya buruk.Kafein adalah
zat penyegar yang mampu merangsang sistem saraf pusat. Kafein akan bereaksi dengan katekin
atau hasil oksidasinya sehingga membentuk senyawa yang menentukan kesegaran (briskness)
dari seduhan teh.
5. Klorofil dan Zat Warna lainnya
Salah satu unsur penentu kualitas teh hijau adalah warnanya.Zat hijau daun atau lebih beken
dengan nama klorofil adalah pedalam daun teh mendukung 0,019% dari berat kering daun.
6. Protein dan Asam-asam Amino
Daun teh mengandung protein yang dirasakan sangat besar peranannya dalam pembentukan
aroma pada teh. Diketahui bahwa perubahan perubahan utama selama proses pelayuan teh
hitam adalah pembongkaran protein menjadi asam-asam amino. Asam amino bersama
karbohidrat dan katekin akan membentuk senyawa aromatis. Asam amino yang banyak
berpengaruh dalam hal ini adalah theanin, alanin, feril alanin, valin, leusin, dan isoleusin.
Sekitar 50% dari total asam amino bebas dalam teh adalah theanin.
7. Asam Organik
Peranan asam organik selama pengolahan teh tidak terlalu nyata.Kemungkinan yang tampak
adalah reaksinya dengan metil alkohol (akibat terbongkarnya pektin) membentuk ester yang
memberi aroma sedap pada teh.
8. Substansi Resin
Aroma teh juga tergantung pada minyak esensial dan resin. Sebagai bahan kimia, resin sukar
dibedakan dengan minyak esensial dan terpene. Kandungan resin besarnya 3% dari berat kering
daun. Peranan resin yang lain adalah menaikan daya tahan tanaman teh terhadap kondisi beku.
9. Substansi Mineral
Mineral berfungsi dalam pembentukan enzim di dalam tubuh, termasuk anti oksidan. Teh
ternyata menyimpan potensi sebagai sumber mineral tubuh yang penting dalam berbagai proses
metabolisme. Kandungan mineral tersebut berupa makro dan trace mineral.Keduanya sangat
dibutuhkan sebagai nutrisi tubuh.
10. Vitamin
Daun teh ternyata mengandung vitamin C, K, A,B1, B2, dan E. Sayangnya, kandungan vitamin
E banyak yang hilang selama proses pengolahan dan penyimpanan.
11. Enzim-Enzim
Beberapa enzim terdapat dalam daun teh. Peranan penting dari enzim-enzim ini adalah sebagai
biokatalisator pada setiap kali reaksi kimia di dalam tanaman. Enzim yang di kandung dalam
daun teh diantaranya invertase, amilase, a-glukosidase, oximetilase, protease, dan peroksidase.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat

No Nama Alat Spesifikasi Jumlah Satuan


1 Unit Ekstraktor Pada-Cair - 1 Set
2 Ember - 2 Buah
3 Gelas Kimia 1000 mL 1 Buah
4 Erlenmeyer 250 mL 4 Buah
5 Selang panjang - 2 Buah
6 Gelas ukur 100 mL 1 Buah
7 Gelas piala plastik 1L 1 Buah
8 Piknometer 25 mL 1 Buah
9 Botol mineral plastik 600 mL 6 Buah
10 Stopwatch - 1 Buah

3.1.2 Bahan

No Nama Bahan Spesifikasi Jumlah Satuan


1 Teh Melati - 1 kg
2 Larutan Etanol 96 % 30 L

Gambar 1. Skema dan Gambar Alat


3.2 Prosedur kerja

Mempersiapkan alat dan bahan

Membuka katup-katup air pendingin V1 dan V2 ke kondensor

Membuka tutup wadah dan memasukkan kertas saring disusul 1 kg Tea powder

Mengatur sudut sifone antara


60o-90o

Memasukkan pelarut (96 % Etanol) sebanyak 30 L kedalam labu distilasi

Mengatur bukaan steam hingga pelarut terpanaskan dan proses Leaching berjalan

Mengambil sampel setiap siklus untuk menganalisa yield yang terbentuk pada tiap siklus.
Melakukan siklus selanjutnya dengan memanaskan kembali pelarut dengan steam

Setelah selesai, menguapkan kembali pelarut etanol dan membersihkan alat

3.3 Keselamtan Kerja

- Menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap seperti jaslab, sarung tangan,
masker, pelindung kepala dan kacamata pelindung.
- Menggunakan peralatan dengan hati-hati
BAB IV
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Proses Leaching


Tabel 4.1 Tabel Kondisi Proses Leaching
Waktu yang
Suhu Rafinat Suhu Ekstrak Tekanan
Siklus ke- diperlukan
(oC) (oC) (bar)
(menit)
1 6 65 65 1
2 7.05 65 65 1.2
3 8.067 67 65 1.2
4 6 65 65 1
5 10 65 64 1

4.2 Data Analisis Berat Jenis Ekstrak


Tabel 4.2 Data Berat Jenis Ekstrak
Volume Massa
Massa Berat Jenis
Siklus ke- Piknometer Piknometer
Ekstrak (gr) Ektrak (gr/ml)
(ml) (gram)
1 25 22.02 20.42 0.8168
2 25 22.02 20.28 0.8112
3 25 22.02 20.07 0.8028
4 25 22.02 20.06 0.8024
5 25 22.02 20.03 0.8012
4.3 Data Analisis Kekeruhan Ekstrak dan Effisiensi
Tabel 4.3 Data TDS Ekstrak
Effisiensi %
Kekeruhan
Siklus ke- (berdasarkan
(NTU)
kekeruhan).
1 17.43 0
2 12.65 27.424
3 12.26 29.661
4 6.82 60.872
5 6.66 61.790

Contoh perhitungan effisiensi berdasarkan kekeruhan (NTU)


Siklus 4, Kekeruhan awal = 17.43 NTU, Kekeruhan siklus 5 = 6.82
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
% 𝐸𝑓𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = 𝑥 100%
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙
17.43−6.82
% 𝐸𝑓𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = 𝑥 100%
17.43

= 60.872%

4.4 Penentuan Laju Kukus


Tabel 4.4 Tabel Penentuan Laju Kukus
Waktu yang
Laju Kukus
Siklus ke- diperlukan Volume Massa (kg)
(kg/s)
(detik) (ml)
1 5 55 0.055 0.011
2 5 55 0.055 0.011
3 10 31 0.031 0.0031
4 5 129 0.129 0.0258
5 10 320 0.32 0.032

Menghitung Kalor yang Dilepas


Rumus Perhitungan :

Q = S x Hg – S x Hf + S x Hgf Hgf = Hg – Hf

Tabel 4.5 Perhitungan Kalor yang Lepas


P S Hg Hf Hgf S x Hg Sx Hf S x Hgf Q (KJ/s)
Steam (Kg/s) (KJ/Kg) (KJ/Kg) (KJ/kg) (KJ/s) (Kg/s) KJ/s)
(bar)
1 0.011 2675.4 417.5 2257.5 29,42 4,5925 24,832 49,666
1,2 0.011 2683,4 439.4 2244,1 29,51 4,8334 24,685 49,365
1,2 0.0031 2683,4 439.4 2244,1 8,318 1,3621 6,9567 13,912
1,2 0.0258 2683,4 439.4 2244,1 69,23 11,336 57,897 115,79
1 0.032 2675,4 417.5 2675.4 85,61 13,36 85,612 157,86

12

10

8
Waktu (menit)

0
0 1 2 3 4 5 6
Tahap

Grafik 1. Tahap terhadap waktu untuk menempuh 1 siklus.

0.818
0.816
0.814
Berat Jenis (kg/m3)

0.812
0.81
0.808
0.806
0.804
0.802
0.8
0 1 2 3 4 5 6
Tahap

Grafik 2. Tahap terhadap massa jenis sampel


70

60

50
Effisiensi %
40

30

20

10

0
0 1 2 3 4 5 6
Tahap

Grafik 3. Tahap terhadap Effisiensi Kekeruhan

180
160
140
120
Kalor (q)

100
80
60
40
20
0
0 1 2 3 4 5 6
Tahap

Grafik 4. Tahap terhadap Kalor Yang lepas

4.5 Menghitung Yield dari ampas teh sisa


Berat awal teh = 1 kg
Berat teh basah + ember = 2.85 kg
Berat teh basah = 2.27 kg
Berat teh kering = 0.57 kg
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
𝑌𝑖𝑒𝑙𝑑 𝑡𝑒ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 = 𝑥 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑤𝑎𝑙
1 𝑘𝑔 − 0.57 𝑘𝑔
𝑌𝑖𝑒𝑙𝑑 𝑡𝑒ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 = 𝑥 100%
1 𝑘𝑔
= 43%
4.6 Pembahasan
 Fauziah Dwi Gustia (151411076)

Proses ekstraksi padat – cair atau biasa dikenal dengan proses Leaching merupakan suatu
proses pemisahan zat yang dapat melarut (solut) dari suatu campurannya dengan padatan yang
tidak dapat larut (innert) dengan menggunakan pelarut cair, transfer difusi komponen terlarut
dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika
bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi.
Dalam ekstraksi yang dilakukan pada daun teh, solven akan mengaliri pada daun teh yang
tersimpan didalam tangki umpan. Tangki umpan terletak dibagian atas alat. Proses pengaliran
solven dibantu dengan pemanasan oleh steam pada heater. Sehingga terjadi perbedaan tekanan
antara tangki solven dan tangki umpan, maka solven dapat mengalir ke atas untuk
mengekstraksi daun teh. Sehingga proses yang terjadi didalam ekstraktor adalah proses batch.
Selain itu proses pemanasan pada solven akan mempermudah difusi ekstrak teh dari dalam teh
pada solven.
Ektraksi dilakukan terus-menerus sebanyak 5 siklus dengan waktu untuk masing-masing
siklus adalah 6 sampai 10 menit. Kemudian akan dihasilkan rafinat dan ekstrak. Rafinat adalah
larutan yang kaya akan solven dan hanya mengandung sedikit ekstrak. Sedangkan ekstrak
adalah larutan yang kaya akan ekstrak. Ekstrak disampling serta dihitung densitas dan berat
ekstrak yang terkandung. Selain itu akan dihitung juga kebutuhan steam untuk proses ekstraksi
dengan cara menimbang berat kondensat yang dihasilkan dalam satu kali siklus.
Berdasarkan hasil perhitungan densitas dengan menggunakan piknometer, didapatkan
bahwa densitas ekstrak hampir konstan konstan, pada siklus ke-5 diperoleh nilai densitas dari
ekstrak adalah 0,8024g/mL. Nilai densitas yang didapatkan pada setiap siklus dalam
kandungan ekstrak tersebut masih mengandung alkohol (etanol). Perhitungan yield dilakukan
dengan metode yang digunakan adalah penguapan pada udara terbuka selama beberpa hari agar
solven yang terkandung didalam ekstrak dapat teruapkan. Sehingga didapatkan nilai yield
ekstrak sebesar 43 % .
Efisiensi dari kerja alat leaching tower yang ada di laboratorium pilot plant dari ekstraksi
teh selama lima siklus seacara berturut – turut sebesar 0%, 27.424%, 29.661%, 60.872%,
61.790%. Dilihat dari efisiensi yang didapatkan, kinerja alat leaching tower pada laboratorium
pilot plant cukup baik karena masih diatas 50 %. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil dari
praktikum tersebut, salah satunya adalah penggunaan solven bekas pakai dari praktikum
sebelumnya, kemudian banyak pengotor yang terdapat didalam daun teh , dan proses
penumbukkan daun teh yang tidak sempurna.
Selain itu, kebutuhan steam juga diperhitungkan dengan menampung kondensat yang
dihasilkan pada satu siklus. Kebutuhan steam berturut – turut selama lima siklus adalah 49.666
kj/s, 49.365 kj/s, 13.912 kj/s, 115.79 kj/s, 157.86 kj/s.

 Ikbal Priyantoro (151411077)

Pada praktikum kali ini dilakukan proses ekstraksi padat-cair (leaching) pada teh
melati. Pada dasarnya leaching dilakukan untuk mengambil suatu zat atau senyawa yang
terkandung didalam teh melati dengan menggunakan pelarut etanol. Proses leaching sendiri
terjadi pada wadah ekstraktor. Proses leaching ini terjadi pada saat pengambilan suatu
zat/senyawa yang akan diambil dalam teh melati dengan pelarut etanol. Padatan umpan (teh
melati) yang digunakan sebanyak 1 kg, ketika bahan ekstraksi di campur dengan pelarut, maka
pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak, teknik operasi
yang bisa digunakan untuk proses leaching adalah sparying atau aliran pelarut murni yang
telah melalui proses kondensat sehingga mengalir masuk ke tabung umpan dan mengekstrak
padatan tek melati, dalam prinsip prosesnya yaitu kontinyu, karena air pelarut dan bahan baku
yang digunakan terus menerus, tetapi pengoperasian alatnya yaitu sistem batch.
Secara umum proses ekstraksi padat-cair pada teh melati dapat diasumsikan dalam tiga
bagian. Pertama, perubahan fasa dari zat/senyawa yang akan diambil (solute) ketika terlarut
dalam etanol. Kedua, difusi dari suatu zat/senyawa melalui etanol dalam pori-pori padatan
berupa kunyit keluar dari partikel tersebut. Ketiga, perpindahan dari zat/senyawa yang akan
diambil dari etanol dalam kontak dengan partikel ke larutan keseluruhan dan dalam
pengoperasianya proses leaching dilakukan 5 tahap, tekanan yang digunakan yaitu pada 1 – 1.2
bar, pelarut yang telah dipanaskan oleh heater akan terkondensasi sehingga fasa akan berubah
dari uap menjadi cair, cairan murni tersebut dikontakan dengan umpan sehingga menghasilkan
cairan ekstrak larutan tersuspensi, pemanasan pada pelarut dengan suhu optimal akan
menghasilkan leaching yang baik. Proses leaching terjadi pada basket (wadah umpan). Proses
Leaching pada system batch akan berakhir ketika semua solute yang terkadung di dalam
padatan telah habis terekstrak. Untuk mengamati operasi leaching ini dilakukan pengambilan
sampel setiap satu kali siklus/tahap ekstraksi.
Pengambilan sempel dilakukan pada ekstrak (di wadah umpan) untuk menghitung laju
alir dan menentukan nilai kalor yang dilepas, semakin lama waktu proses yang digunakan maka
kebutuhan kalor yang diperlukan akan semakin tinggi, dalam kurva tahap terhadap pengaruh
waktu dapat dibuktikan bahwa semakin lama waktu yang digunakan cenderung kebutuhan
waktu semakin tunggi (lama) karena konsentrasi senyawa dalam umpan lama kelamaan akan
habis sehingga senyawa/zat yang terlarut dalam etanol memiliki kandungan semakin sedikit
dan membutuhkan kalor yang digunakan semakin besar, akan tetapi pada tahap ke 3 mengalami
penurunan, disebabkan karena tekanan operasi pada steam tidak stabil, kebutuhan kalor yang
paling tinggi yaitu pada tahap 5 sebesar 157,86 KJ/s. Efisiensi yield ekstrak yang dihasilkan
yaitu sebesar 43%.
Pada pengambilan pengukuran massa jenis ektraks, nilai massa jenis cenderung
fluktuatif karena bisa disebabkan oleh laju alir pelarut terlalu tinggi sehingga memiliki waktu
tinggal/kontak dengan umpan hanya sedikit sehingga mempengaruhi massa jenis. Faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi dalam proses leaching adalah temperatur, semakin tinggi
temperatur maka proses ekstraksi semakin effisien tetapi tergantung jenis bahan yang akan
gunakan dan ada batas optimumnya, yang kedua ukuran pratikel, semakin kecil ukuran partikel
maka luas kontak akan semakin besar sehingga proses ekstraksi semakin baik, yang ketiga
pengadukan dapat meratakan konsentrasi disemua titik larutan dan pelarut, pelarut yang
digunakan harus sesuai dengan sifat kepolarannya pada bahan yang akan digunakan.

 Ismayanti (151411078)
Pada praktikum kali ini dilakukan praktikum mengenai proses Leaching atau disebut
juga proses ekstrasi padat-cair. Proses ekstraksi padat-cair merupakan proses mengambil
sebagian komponen dari suatu campuran atau proses ekstraksi suatu konstituen yang dapat larut
pada suatu campuran solid dengan menggunakan pelarut. Secara umum paraktikum ini
bertujuan untuk memahami proses leaching dan juga mengetahui prinsip kerja dari leaching
tower. Adapun pada praktikum ini yang akan di leaching merupakan teh curah dengan jenis
teh aroma melati sebanyak 1 kg dengan pelarut menggunakan etanol 96 % sebanyak 30 L.
Proses penambahan etanol murni ini dimaksudkan untuk mempercepat proses ekstraksi dan
menghindari sisa-sisa larutan yang tertinggal yang menempel pada dinding labu utama.
Pemilihan menggunakan etanol juga dikarenakan disesuaikan dengan bahan yang akan
diekstrak. Karena prinsip dari leaching itu sendiri merupakan berdasarkan kelarutan.
Berdasarkan jenisnya kelarutan dibedakan menjadi tiga jenis yaitu polar, non polar dan semi
polar. Karena teh termasuk kedalam bahan yang kelarutannya polar, sehingga menggunakan
etanol, karena etanol dan air cocok digunakan untuk bahan yang kelarutannya polar. Sehingga
dalam proses leaching, penentuan pelarut dan kondisi operasinya harus disesuaikan dengan
bahan yang akan diekstrak. Proses leaching terjadi saat bahan yang akan diekstraksi yaitu tehh
dicampur dengan pelarut (etanol), maka pelarut akan menembus kapiler-kapiler dalam bahan
padat lalu melarutkan ekstrak, sehingga terjadi pengambilan zat atau senyawa dari teh dengan
pelarut.
Proses ekstraksi padat-cair dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya ukuran
partikel, temperature, laju umpan dan jenis pelarut. Pada pelaksanaan pratikum tehh yang
digunakan memiliki ukuran partikel yang kecil (bubuk) sehingga dapat memperbesar luas area
kontak yang terjadi dan laju pelarutan tehh semakin besar. Adapun pengaruh temperatur pada
proses leaching adalah mempermudah terlarutnya solute kedalam pelarut, sehingga semakin
tinggi temperatute maka solute semakin mudah terlarut, hal ini terjadi karena pada temperature
yang tinggi solute akan mudah terlarutkan ke pelarut, dikarenakan tegangan permukaan solute
dan gaya tarik menarik antar solute dan partikel dapat diperkecil. Namun tidak setiap operasi
leaching menggunakan temperature tinggi untuk mempermudah terlarutnya solute, hal tersebut
harus dipertimbangkan dengan bahan yang akan diekstrak, karena ada sebagian bahan yang
tidak cocok apabila menggunakan temperature yang tinggi, sehingga setiap bahan memiliki
temperature optimumnya masing-masing. Begitu juga dengan bahan yang digunakan pada
praktikum kali ini, tehh cukup sensitive terhadap suhu tinggi, sehingga proses pemanasan tetap
diatur pada suhu yang tidak terlalu tinggi agar tidak merusak zat atau senyawa yang terkandung
dalam tehh, seperti antioksidannya. Adapun temperature yang digunakan pada proses leaching
teh ini dijaga pada temperature 65oC. Pengaruh selanjutnya adalah besarnya laju alir umpan,
laju alir umpan yang terlalu besar mengakibatkan kontak antara solven dengan bahan yang
diekstrak semakin cepat, sehingga perpindahan massanya semakin kecil dan mengakibatkan
efisiensinya semakin kecil. Selain itu, pemilihan pelarut juga harus selektif dan memiliki
viskositas yang rendah untuk memudahkan sirkulasi.
Pada operasi alat leaching, ada dua proses yang terjadi yaitu proses ekstraksi cair-padat
dan proses distilasi. Proses distilasi ini bertujuan untuk memisahkan pelarut dengan ekstrak
atau menguapkan etanol (etanol lebih mudah menguap dibandingkan ekstrak) dari labu utama
agar didapatkan etanol yang murni, yang selanjutnya akan diumpankan kedalam bahan yang
akan diekstrak. Umpan yang masuk harus dalam keadaan pelarut yang murni (fresh solvent),
hal ini dikarenakan untuk menjaga kapasitas solvent agar tetap tinggi. Sehingga agar
didapatkan fresh solvent, etanol yang terdapat dilabu utama dipanaskan menggunakan steam
dengan tekanan antara 1-1.2 bar. Pada proses Leaching ini tidak bisa memvariasikan
temperature dan laju alir.
Pada praktikum ini, dilakukan lima kali siklus/tahap leaching. Satu tahap dimulai
dengan melewatinya cairan ekstrak dari sifone sampai cairan tersebut berhenti. Pada setiap
siklus dilakukan pengambilan sample dan dilakukan analisis berupa pengukuran massa jenis
dan kekeruhannya, juga dilakukan pengamatan terhadap perubahan warna yang terjadi pada
ekstrak. Lamanya waktu tiap siklus antara 6-10 menit. Hal ini bisa dikatakan waktu yang cepat
dalam proses leaching, karena pada proses ini digunakan pelarut etanol yang murni.
Dari data yang diperoleh didapatkan hasil bahwa semakin banyak tahap maka semakin
lama waktu ekstraksi yang dilakukan . Hal ini terjadi karena proses ekstraksi semakin sulit dan
laju ekstraksinya menjadi menurun, sehingga waktunya pun semakin lama. Selanjutnya dilihat
dari perubahan warna pada ekstrak tiap siklus yang menunjukkan semakin lama proses
leaching warna ekstrak semakin encer, hal tersebut terjadi kerena semakin banyaknya bagian
teh yang terekstrak sehingga konsentrasi teh yang terambil pada siklus ke 5 semakin sedikit.
Namun sebaliknya pada siklus ke 1 teh yang terekstrak banyak sehingga warna ekstrak pekat.
Semakin banyaknya siklus massa jenis sample akan mendekati massa jenis etanol, hal ini
disebabkan karena semakin lama waktu proses, kandungan etanol dalam ekstrak semakin
banyak sedangkan ekstrak yang terambil semakin sedikit. Namun hal tersebut tidak berlaku
pada ektrak pada labu utama, pada labu utama semakin banyak siklus dan lamanya waktu,
ekstrak akan semakin pekat dikarenakan etanol teruapkan menjadi etanol murni untuk
dijadikan umpan kembali.
Berdasarkan hasil perhitungan densitas dengan menggunakan piknometer, didapatkan
bahwa densitas pada siklus ke 5 sebesar 0,8024 g/mL de. Pada praktikum ini juga dilakukan
perhitungan besarnya yield. Penentuan yield dilakukan dengan menggunakan metode
penguapan pada udara terbuka selama beberpa hari agar solven yang terkandung didalam
ekstrak dapat teruapkan. Sehingga didapatkan nilai yield ekstrak sebesar 43 % .
Adapun efisiensi dari kerja alat leaching tower yang ada di laboratorium pilot plant dari
ekstraksi teh selama lima siklus seacara berturut – turut sebesar 0%, 27.424%, 29.661%,
60.872%, 61.790%. Dilihat dari efisiensi yang didapatkan, kinerja alat leaching tower pada
laboratorium pilot plant cukup baik karena masih diatas 50 %.
Pada praktikum ini kebutuhan steam berturut – turut selama lima siklus adalah 49.666
kj/s, 49.365 kj/s, 13.912 kj/s, 115.79 kj/s, 157.86 kj/s.
BAB V
SIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat diperoleh simpulan sebagai berikut :


 Proses perpindahan massa terjadi saat solvent kontak terhadap teh bahan yang akan
diekstrak. Solvent berdifusi ke dalam pori – pori teh untuk menarik zat yang memiliki
kelarutan yang sama dengan solvent.
 Effisiensi yang diperoleh berdasarkan kekeruhan dari ekstraksi teh selama lima siklus
seacara berturut – turut adalah 0%, 27.424 %, 29.661%, 60.872 %, 61.790 %.
 Persen yield yang diperoleh adalah sebesar 43%.
 Kalor yang terpakai secara beruturut – turut selama lima siklus adalah 49.666 kj/s,
49.365 kj/s, 13.912 kj/s, 115.79 kj/s, 157.86 kj/s.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. “Teh”. https://id.wikipedia.org/wiki/Teh. Diunduh pada 15 Oktober 2017.


Budhikarjono, Kusno, 1996, “ Diktat Kuliah Alat Industri Kimia”, edisi pertama, pp. 99-101,
Institut Sepuluh Nopember, Surabaya.
Geankoplis, CJ. 2003. “Transport Processes and Separation Process Principles (includes unit
operation), 4th ed, pp 776-777, 802-806, Prentice Hall, New Jersey
Rossi, A, 2010. 1001 Teh. Andi Offset, Yogyakarta
Setiawan, DA.2014. BAB 1 PENDAHULAN. http://eprints.undip.ac.id/45588/3/BAB_II
(Diakses pada 15 Oktober 2017)
Tim dosen. Jobsheet Praktikum Pilot Plant. 2013. “Ekstraksi padat – cair”. Bandung : Jurusan
Teknik Kimia Polteknik Negeri Bandung.