Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TENTANG BPJS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan
keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsa-bangsa di dunia,
termasuk Indonesia.
Di Indonesia, falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke-5 mengakui hak
asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga termaktub dalam UUD 45 pasal 28H dan pasal 34,
dan diatur dalam UU No. 23/1992 yang kemudian diganti dengan UU 36/2009 tentang
Kesehatan. Dalam UU 36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama
dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Sebaliknya, setiap orang juga mempunyai
kewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.
Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 menetapkan, Jaminan Sosial Nasional akan
diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Khusus untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diselenggarakan oleh BPJS
Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari 2014. Secara operasional, pelaksanaan
JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan
Pemerintah No.101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI); Peraturan Presiden
No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan; dan Peta Jalan JKN (Roadmap Jaminan
Kesehatan Nasional).1[1]
Untuk mengatasi hal itu, pada 2004, dikeluarkan Undang-Undang No.40 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini mengamanatkan bahwa jaminan
sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui
suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 juga
menetapkan, Jaminan Sosial Nasional akan diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas

1[1] Kemenkes RI, Buku Pegangan Sosialisasi JKN,


http://www.depkes.go.id/resources/download/jkn/buku-pegangan-sosialisasi-jkn.pdf, hlm 8, dikutip
pada tanggal 10 Juli 2015@pukul 13.15 PM
BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Khusus untuk Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) akan diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari
2014. Secara operasional, pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan
Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan Pemerintah No.101 Tahun 2012 tentang Penerima
Bantuan Iuran (PBI); Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan; dan
Peta Jalan JKN (Roadmap Jaminan Kesehatan Nasional).
Untuk mewujudkan komitmen global dan konstitusi di atas, pemerintah bertanggung
jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) bagi kesehatan perorangan. Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah
dengan menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, di antaranya
adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) yang melayani antara lain
pegawai negeri sipil, penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk masyarakat
miskin dan tidak mampu, pemerintah memberikan jaminan melalui skema Jaminan
Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun
demikian, skema-skema tersebut masih terfragmentasi, terbagi-bagi. Biaya kesehatan dan
mutu pelayanan menjadi sulit terkendali.
B. Rumusan Masalah
Sebagaimana latar belakang yang kami paparkan di atas, maka pembahasan dalam
makalah ini kami rumuskan sebagai berikut;
1. Bagaimana Sejarah Pembentukan BPJS?
2. Apa saja Hak dan Kewajiban BPJS?
3. Apa saja Hak dan Kewajiban Peserta BPJS?
4. Apa saja Manfaat BPJS
5. Bagaimana Fungsi, Tugas dan Wewenang BPJS?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Singkat Pembentukan BPJS
Pembentukan BPJS Diawali dengan Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000, dimana
Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan tentang Pengembangan Konsep SJSN. Pernyataan
Presiden tersebut direalisasikan melalui upaya penyusunan konsep tentang Undang-Undang
Jaminan Sosial (UU JS) oleh Kantor Menko Kesra (Kep. Menko Kesra dan Taskin No.
25KEP/MENKO/KESRA/VIII/2000, tanggal 3 Agustus 2000, tentang Pembentukan Tim
Penyempurnaan Sistem Jaminan Sosial Nasional). Sejalan dengan pernyataan Presiden, DPA
RI melalui Pertimbangan DPA RI No. 30/DPA/2000, tanggal 11 Oktober 2000, menyatakan
perlu segera dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional dalam rangka
mewujudkan masyarakat sejahtera.
Dalam Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Lembaga Tinggi Negara pada
Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001 (Ketetapan MPR RI No. X/ MPR-RI Tahun 2001 butir
5.E.2) dihasilkan Putusan Pembahasan MPR RI yang menugaskan Presiden RI Membentuk
Sistem Jaminan Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih
menyeluruh dan terpadu.

Pada tahun 2001, Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri mengarahkan Sekretaris Wakil
Presiden RI membentuk Kelompok Kerja Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Munculnya UU SJSN ini juga dipicu oleh UUD Tahun 1945 dan perubahannya
Tahun 2002 dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 28H ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), serta
Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) mengamanatkan untuk mengembangkan Sistem Jaminan Sosial
Nasional. Hingga disahkan dan diundangkan UU SJSN telah melalui proses yang panjang,
dari tahun 2000 hingga tanggal 19 Oktober 2004.
Akhirnya setelah melalui serangkaian proses tersebut, Presiden Megawati
mengesahkan UU No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 19
Oktober 2004. Ini lah awal dari pembentukan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS).
Kemudian pada tahun 20005, Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara Nomor
007/PUU-III/2005, memberikan kepastian hukum bagi pembentukan BPJS untuk
melaksanakan program Jaminan Sosial di seluruh Indonesia. Undang-Undang ini merupakan
pelaksanaan dari Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004, yang
mengamanatkan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan transformasi
kelembagaan PT Askes (Persero), PT Jamsostek (Persero), PT TASPEN (Persero), dan PT
ASABRI (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Dengan Undang-Undang
ini dibentuk 2 (dua) BPJS, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan (UU no 24
tahun 2011).
RUU BPJS di sahkan dalam rapat paripurna DPR pada 28 Oktober 2011, BPJS
Kesehatan mulai beroprasi pada 1 Januari 2014 (kompas.com).2[2]
B. Hak dan Kewajiban BPJS
Dalam undang-undang nomor 24 Tahun 2011 Bab IV Bagian Keempat di jalaskan
mengenai hak dan kewajiban BPJS, yakni:
1. Hak
Pasal 12
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, BPJS
berhak untuk:
a. memperoleh dana operasional untuk penyelenggaraan program yang bersumber dari Dana
Jaminan Sosial dan/atau sumber lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
b. memperoleh hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program Jaminan Sosial dari
DJSN setiap 6 (enam) bulan.
2. Kewajiban
1) memberikan nomor identitas tunggal kepada Peserta;
2) mengembangkan aset Dana Jaminan Sosial dan aset BPJS untuk sebesar-besarnya
kepentingan Peserta;
3) memberikan informasi melalui media massa cetak dan elektronik mengenai kinerja, kondisi
keuangan, serta kekayaan dan hasil pengembangannya;
4) memberikan Manfaat kepada seluruh Peserta sesuai dengan Undang-Undang tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional;
5) memberikan informasi kepada Peserta mengenai hak dan kewajiban untuk mengikuti
ketentuan yang berlaku;
6) memberikan informasi kepada Peserta mengenai prosedur untuk mendapatkan hak dan
memenuhi kewajibannya;
7) memberikan informasi kepada Peserta mengenai saldo jaminan hari tua dan
pengembangannya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun;
8) memberikan informasi kepada Peserta mengenai besar hak pensiun 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun;

2[2] http://nurchamimzone.blogspot.com/2014/01/makalah-organisasi-manajemen-
kesehatan.html, dikutip pada tanggal 10 Juli 2015@pukul 12.34 PM
9) membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar praktik aktuaria yang lazim dan berlaku
umum;
10) melakukan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dalam
penyelenggaraan Jaminan Sosial; dan
11) melaporkan pelaksanaan setiap program, termasuk kondisi keuangan, secara berkala 6
(enam) bulan sekali kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN.3[3]
C. Hak dan Kewajiban Peserta BPJS
a) Hak Peserta
1. Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan kesehatan;
2. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur pelayanan
kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
3. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS
Kesehatan; dan
4. Menyampaikan keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau tertulis ke Kantor
BPJS Kesehatan.
b) Kewajiban Peserta
1. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya sesuai dengan
ketentuan yang berlaku ;
2. Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian, kematian, kelahiran,
pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I;
3. Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak
berhak.
4. Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.4[4]
D. Manfaat BPJS
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan meliputi :
1) Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup:
a) Administrasi pelayanan
b) Pelayanan promotif dan preventif
c) Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis

3[3] http://nurchamimzone.blogspot.com/2014/01/makalah-organisasi-manajemen-
kesehatan.html, dikutip pada tanggal 10 Juli 2015@pukul 13.18 PM

4[4] http://faizalimam.blogspot.com/2014/12/makalah-tentang-bpjs-kesehatan.html,
dikutip pada tanggal 10 Juli 2015@pukul 13.53 PM
d) Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
e) Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
f) Transfusi darah sesuai kebutuhan medis
g) Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama
h) Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi
2) Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, yaitu pelayanan kesehatan mencakup:
o Rawat jalan, meliputi:
a) Administrasi pelayanan
b) Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter spesialis dan sub spesialis
c) Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis
d) Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
e) Pelayanan alat kesehatan implant
f) Pelayanan penunjang diagnostic lanjutan sesuai dengan indikasi medis
g) Rehabilitasi medis
h) Pelayanan darah
i) Peayanan kedokteran forensik
j) Pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan
o Rawat Inap yang meliputi:
a) Perawatan inap non intensif
b) Perawatan inap di ruang intensif
c) Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri5[5]
Adapun manfaat dan pemberian maafaat BPJS yang diatur dalam undang-undang
meliputi;
1. Pelayanan kesehatan diberikan di fasilitas kesehatan milik Pemerintah atau swasta yang
menjalin kerjasama dengan badan penyelenggara jaminan sosial (UU No. 40 Tahun 2004
Pasal 23 ayat 1) .
2. Dalam keadaan darurat, pelayanan kesehatan dapat diberikan pada fasilitas kesehatan yang
tidak menjalin kerja sama dengan badan penyelenggara jaminan sosial (UU No. 40 Tahun
2004 Pasal 23 ayat 2).
3. Badan penyelenggara jaminan sosial wajib memberikan kompensasi untuk memenuhi
kebutuhan medik peserta yang berada di daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan yang

5[5] http://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/pages/detail/2014/12, dikutip pada tanggal


10 Juli 2015@pukul 13.55 PM
memenuhi syarat. Kompensasi dapat diberikan dalam bentuk uang tunai. (UU No. 40 Tahun
2004 Pasal 23 ayat 3 dan penjelasannya).
4. Layanan rawat inap di rumah sakit diberikan di kelas standar (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal
23 ayat 4).
5. Besar pembayaran kepada fasilitas kesehatan untuk setiap wilayah ditetapkan berdasarkan
kesepakatan antara badan penyelenggara jaminan kesehatan dengan asosiasi fasilitas
kesehatan di wilayah tersebut (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 1).
6. Badan penyelenggara jaminan sosial wajib membayar fasilitas kesehatan atas pelayanan yang
diberikan kepada peserta paling lambat 15 hari sejak permintaan pembayaran diterima (UU
No. 40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 2).
7. Badan penyelenggara jaminan sosial dapat memberikan anggaran di muka kepada rumah
sakit untuk melayani peserta, mencakup jasa medis, biaya perawatan, biaya penunjang dan
biaya obat-obatan yang penggunaannya diatur sendiri oleh pemimpin rumah sakit (metoda
pembayaran prospektif) (UU No. 40 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 24 ayat 2).
8. Badan penyelenggara jaminan sosial menjamin obat-obatan dan bahan medis habis pakai
dengan mempertimbangkan kebutuhan medik, ketersediaan, efektifitas dan efisiensi obat atau
bahan medis habis pakai sesuai ketentuan peraturan perundangan (UU No. 40 Tahun 2004
Pasal 25 dan penjelasannya) .
9. Dalam pengembangan pelayanan kesehatan, badan penyelenggara jaminan sosial
menerapkan sistem kendali mutu, sistem kendali biaya dan sistem pembayaran untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi jaminan kesehatan serta untuk mencegah
penyalahgunaan pelayanan kesehatan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 3 dan
penjelasannya). Untuk jenis pelayanan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan pelayanan,
peserta dikenakan urun biaya (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 22 ayat 2).6[6]
E. Fungsi, Tugas dan Wewenang BPJS
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(UU BPJS), secara tegas menyatakan bahwa BPJS yang dibentuk dengan UU BPJS adalah
badan hukum publik. BPJS yang dibentuk dengan UU BPJS adalah BPJS Kesehatan dan
BPJS Ketenagakerjaan.

6[6] http://www.jamsosindonesia.com/sjsn/Program/program_jaminan_kesehatan, dikutip


pada tanggal 10 Juli 2015@pukul 11.11 AM
Kedua BPJS tersebut pada dasarnya mengemban misi negara untuk memenuhi hak
konstitusional setiap orang atas jaminan sosial dengan menyelenggarakan program jaminan
yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Penyelenggaraan jamianan sosial yang adekuat dan berkelanjutan merupakan salah
satu pilar Negara kesejahteraan, disamping pilar lainnya, yaitu pendidikan bagi semua,
lapangan pekerjaan yang terbuka luas dan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkeadilan.
Mengingat pentingnya peranan BPJS dalam menyelenggarakan program jaminan
sosial dengan cakupan seluruh penduduk Indonesia, maka UU BPJS memberikan batasan
fungsi, tugas dan wewenang yang jelas kepada BPJS. Dengan demikian dapat diketahui
secara pasti batas-batas tanggung jawabnya dan sekaligus dapat dijadikan sarana untuk
mengukur kinerja kedua BPJS tersebut secara transparan.
1) Fungsi
UU BPJS menetukan bahwa BPJS Kesehatan berfungsi menyelenggarakan program
jaminan kesehatan. Jaminan Kesehatan menurut UU SJSN diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas, dengan tujuan menjamin agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan
dasar kesehatan.
BPJS Ketenagakerjaan menurut UU BPJS berfungsi menyelenggarakan 4 program,
yaitu program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan
kematian.
Menurut UU SJSN program jaminan kecelakaan kerja diselenggarakan secara
nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial, dengan tujuan menjamin agar peserta
memperoleh manfaat pelayanan kesehatan dan santunan uang tunai apabila seorang pekerja
mengalami kecelakaan kerja atau menderita penyakit akibat kerja.
Selanjutnya program jaminan hari tua diselenggarakan secara nasional berdasarkan
prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib, dengan tujuan untuk menjamin agar peserta
menerima uang tunai apabila memasuki masa pensiun, mengalami cacat total tetap, atau
meninggal dunia.
Kemudian program jaminan pensiun diselenggarakan secara nasional berdasarkan
prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib, untuk mempertahankan derajat kehidupan yang
layak pada saat peserta kehilangan atau berkurang penghasilannya karena memasuki usia
pensiun atau mengalami cacat total tetap.
Jaminan pensiun ini diselenggarakan berdasarkan manfaat pasti.
Sedangkan program jaminan kematian diselenggarakan secara nasional berdasarkan
prinsip asuransi sosial dengan tujuan untuk memberikan santuan kematian yang dibayarkan
kepada ahli waris peserta yang meninggal dunia.
2) Tugas
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut diatas BPJS bertugas untuk:
a. Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta;
b. Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja;
c. Menerima bantuan iuran dari Pemerintah;
d. Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan peserta;
e. Mmengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial;
f. Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan
program jaminan sosial; dan
g. Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial kepada peserta
dan masyarakat.
Dengan kata lain tugas BPJS meliputi pendaftaran kepesertaan dan pengelolaan data
kepesertaan, pemungutan, pengumpulan iuran termasuk menerima bantuan iuran dari
Pemerintah, pengelolaan Dana jaminan Sosial, pembayaran manfaat dan/atau membiayai
pelayanan kesehatan dan tugas penyampaian informasi dalam rangka sosialisasi program
jaminan sosial dan keterbukaan informasi.
Tugas pendaftaran kepesertaan dapat dilakukan secara pasif dalam arti menerima
pendaftaran atau secara aktif dalam arti mendaftarkan peserta.
3) Wewenang
Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana diamksud di atas BPJS berwenang:
a. Menagih pembayaran Iuran;
b. Menempatkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang
dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-hatian, keamanan dana, dan
hasil yang memadai;
c. Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan pemberi kerja dalam
memanuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan jaminan
sosial nasional;
d. Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar pembayaran fasilitas
kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Pemerintah;
e. Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;
f. Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja yang tidak memenuhi
kewajibannya;
g. Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai ketidakpatuhannya
dalam membayar iuran atau dalam memenuhi kewajiban lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan
h. Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan program jaminan
sosial.
Kewenangan menagih pembayaran Iuran dalam arti meminta pembayaran dalam hal
terjadi penunggakan, kemacetan, atau kekurangan pembayaran, kewenangan melakukan
pengawasan dan kewenangan mengenakan sanksi administratif yang diberikan kepada BPJS
memperkuat kedudukan BPJS sebagai badan hukum publik.7[7]

BAB III
PENUTUP

7[7] http://www.jamsosindonesia.com/cetak/printout/268, dikutip pada tanggal 10 Juli


2015@pukul 11.41 AM
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) adalah badan hukum publik yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan social. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan
dan BPJS Ketengakerjaan. Semua penduduk Indonesia wajib menjadi peserta jaminan
kesehatan yang dikelola oleh BPJS termasuk orang asing yang telah bekerja paling singkat
enam bulan di Indonesia dan telah membayar iuran. Peserta BPJS Kesehatan ada 2 kelompok,
yaitu PBI jaminan kesehatan dan bukan PBI jaminan kesehatan.
Besaran pembayaran kepada fasilitas kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan
BPJS Kesehatan dengan asosiasi fasilitas kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu
pada standar tarif yang ditetapkan oleh pemerintah. Sistem rujukan yang ada mengacu pada
tingkat strata pelayanan kesehatan dari yang rendah menenuju pada strata pelayanan yang
lebih tinggi.
Hak dan kewajiban serta landasan hukum dari BPJS terdapat Undang-Undang Nomor
40 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut;
1) BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial
(UU No 24 Tahun 2011). BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
2) Adanya dasar hukum yang melandasi terbentuknya BPJS
3) Ada hak dan kewajiban yang akan diterima bila menjadi peserta BPJS
4) Manfaat yang diperoleh dari Jaminan Kesehatan, yakni berupa pelayanan kesehatan dan
Manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans.

DAFTAR PUSTAKA

Chriswardani S. 2012.Kesiapan sumber daya manusia dlm mewujudkan universal health coverage di
indonesia : Jogjakarta.
Keputusan menteri kesehatan republik indonesia Nomor 326 Tahun 2013 Tentang Penyiapan kegiatan
penyelenggaraan Jaminan kesehatan nasional.
Kementerian kesehatan republik indonesia. 2013. Buku pegangan sosialisasiJaminan kesehatan nasional
(JKN)Dalam sistem jaminan sosial nasional: Jakarta.
Mukti, Ali Gufron. Rencana Kebijakan Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional. Kemenkes RI :
Surabaya.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Standar Tarif Pelayanan
Kesehatan Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Dan Fasilitas Kesehatan Tingkat
Lanjutan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran
Jaminan Kesehatan.
Putri p, novana. 2013. Konsep pelayanan primer di era JKN. Direktorat bina upaya kesehatan dasarDitjen
bina upaya kesehatan Kemenkes RI : Jakarta.
Tridarwati, Sri Endang. BPJS Kesehatan. PT. ASKES : Jawa Tengah.
Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Sumber Internet;
http://www.depkes.go.id/resources/download/jkn/buku-pegangan-sosialisasi-jkn.pdf
http://nurchamimzone.blogspot.com/2014/01/makalah-organisasi-manajemen-kesehatan.html
http://nurchamimzone.blogspot.com/2014/01/makalah-organisasi-manajemen-kesehatan.html
http://faizalimam.blogspot.com/2014/12/makalah-tentang-bpjs-kesehatan.html
http://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/pages/detail/2014/12
http://www.jamsosindonesia.com/sjsn/Program/program_jaminan_kesehatan
http://www.jamsosindonesia.com/cetak/printout/268

Ahli diet akan bangkrut! Ternyata, lemak akan langsung leleh kalau kita makan...

Bau mulut-jejak parasit dalam tubuh. Parasit hilang jika Anda minum sesendok

Lemak perut akan hilang dalam beberapa hari jika sebelum tidur Anda...

Keriput, bengkak, dan kantung di bawah mata menghilang dalam 20 menit!

Berat saya dulu 132 kg, sekarang 51 kg! Setiap pagi saya hanya minum...
Cara singkirkan lemak di perut -16Kg dlm 3 hari. Campurkan lemon dengan...

Dokter merahasiakan ini! Untuk turun 47 kg dalam 21 hari sebelum makan...

Bau mulut? Bau menghilang setelah beberapa hari jika sebelum tidur, jangan...

Inilah produk pembakar lemak perut! Turun 8 kg dalam 3 hari, pada saat tidur

Lemak perut akan hilang dalam beberapa hari jika sebelum tidur Anda...

Wahai istri, suami turun 56 kg, 3 minggu! Sebelum tidur, tambahkan air panas...

Bacalah sebelum dihapus! Berat Anda 89 kg? Bisa jadi 55 kg! Sebelum tidur harus

0
inShare

Related Posts :

 KAJIAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN); PANCASILA


SEBAGAI SISTEM FILSAFAT DITINJAU DARI ASPEK ONTOLOGIS,
EPISTEMOLOGIS DAN AKSIOLOGIS v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:*
{behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#… Read More...

 BELAJAR DAN PEMBELAJARAN v\:* {behavior:url(#default#VML);}


o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#… Read More...

 MAKALAH TENTANG BPJS Normal 0 false false false


MicrosoftInternetExplorer4… Read More...

 PERATURAN DAERAH DKI JAKARTA NO. 8 TAHUN 2007


TENTANG KETERTIBAN UMUM Normal 0 false false false
MicrosoftInternetExplorer4… Read More...
 SUMBERDAYA MANUSIA DAN EKONOMI ISLAM Normal 0 false
false false MicrosoftInternetExplorer4… Read More...

Newer Post Older Post Home

Artikel Populer
 MAKALAH HADIST, SUNNAH, KHOBAR, ATSAR DAN HADIST QUDSI

BAB I PENDAHULUAN A. َّ ‫َضلُّوا ما ت َم‬


Latar Belakang : ‫س ْكت ُ ْم بِ ِه َما‬ ْ ‫ت َر ْكتُ في ُك ْم أ َ ْم َري ِْن‬
ِ ‫لن ت‬
‫سن‬ َ َ ‫ ِكتا‬...
ُ ‫ َو‬، ِ‫ب هللا‬

 MUFRAD DAN JAMA' DALAM TAFSIR AL-QUR’AN;

MUFRAD DAN JAMA' DALAM TAFSIR AL-QUR’AN; A. PENDAHULUAN


Alquran merupakan kitab suci dan sumber ajaran Islam yang pertam...

 KAIDAH TAFSIR AL-QUR’AN; TANYA JAWAB (AS SUAL WAL JAWAB)

KAIDAH TAFSIR AL-QUR’AN; Tanya Jawab (As sual Wal Jawab)


A. PENDAHULUAN Ada satu pandangan teologis dalam Islam bahwa al...

Tags
Makalah PAI Makalah Tarbiyah Makalah Islami Makalah Filsafat Makalah Hadis Makalah
Pendidikan Makalah Syariah Hadist Makalah Dakwah Makalah Ushuluddin Makalah
Kewarganegaraan Ekonomi Islam Makalah PAUD Makalah Pertanian Makalah TPHP
Makalh Tafsir
Copyright 2016 CONTOH MAKALAH KARYA ILMIAH
Design by Mas Sugeng