Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan di Indonesia sedang menuju industrialisasi, artinya industri
merupakan sarana utama untuk menunjang pembangunan. Hasil positif yang
diperoleh dibarengi dengan dampak negatif proses industrialisasi itu sendiri
berupa berbagai gangguan kesehatan akibat kerja.
Salah satu penyakit akibat kerja itu ialah penyakit kulit akibat kerja
(PKAK). Gangguan kesehatan berupa PKAK akan mengurangi kenyamanan
dalam melakukan tugas dan akhirnya akan mempengaruhi proses produksi; secara
makro akan mengganggu proses pembangunan secara keseluruhan. Di Indonesia,
PKAK belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah atau pemimpin
perusahaan walaupun jenis dan tingkat prevalensinya cukup tinggi.
Sumamur (1986) memperkirakan bahwa 50-60% dari seluruh penyakit
akibat kerja adalah penyakit kulit akibat kerja. Dari data sekunder ini terlihat
bahwa PKAK memang mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, walaupun jenis
tidak sama pada semua perusahaan. Variasi penyakit kulit di setiap perusahaan
sangat berbeda, karena setiap perusahaan/industri proses produksi dan lingkungan
dalam perusahaan serta bahan yang dipergunakan di setiap perusahaan berbeda-
beda. Untuk itu perlu kejelian dan keterampilan petugas kesehatan termasuk
dokter perusahaan untuk menilai dan melihat proses produksi dalam perusahaan,
serta menilai bahan yang dipergunakan/dipakai/diperoleh dalam perusahaan
tersebut, yang mungkin dapat menimbulkan PKAK.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membahas
masalah yang berhubungan dengan penyakit kulit akibat kerja, sehingga dapat
meningkatkan kesehatan kerja pada tenaga kerja.

1
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Kesehatan Kerja


Kesehatan kerja merupakan program kesehatan yang penting. Seorang
kepala keluarga merupakan kekuatan utama ekonomi sebuah keluarga. Apabila
kepala keluarga yang bekerja tersebut jatuh sakit maka bisa dipastikan
penghasilan keluarganya juga akan berkurang, sehingga status ekonomi keluarga
juga akan menurun. Pada masyarakat miskin akan berdampak langsung terhadap
status gizi dan kesehatan keluarganya. Apabila masyarakat pekerja sehat dan
produktif akan berdampak pada produktifitas suatu perusahaaan atau masyarakat
dan akhirnya berujung pada produktifitas bangsa dan negara. Dengan demikian
pekerja yang sehat menentukan kesejahteraan suatu bangsa dan negara.
Dari data BPS tahun 2005, tercatat jumlah penduduk usia kerja (15-54
tahun) berjumlah 22.214.459 jiwa atau 10,2% dari jumlah penduduk. Dengan
rincian tempat bekerja pada sektor perdagangan (26,1%), sektor industri (18,5%),
jasa (17%), angkutan (13,3%), pertanian (11%), bangunan (9,7%) sektor listrik,
minyak dan gas (0,5%). Dengan demikian sasaran kesehatan kerja sangat banyak
dan harus ditangani secara serius.
Masalah kesehatan kerja yang juga harus ditangani secara serius adalah
pekerja anak pada usia 10-17 tahun. Data Sakernas tahun 2004 pekerja anak usia
10-17 tahun mencapai 2.865.073 jiwa. Tersebar di sektor pertanian, kehutanan,
perburuan dan perikanan (55,1%), pertambangan (1,3%), industri pengolahan
(13,2%), listrik, gas dan air (0,04%), bangunan (1,9%), perdagangan besar, eceran
rumah makan dan hotel (17,1%), angkutan, pergudangan dan komunikasi (2,4% ),
keuangan, asuransi dan usaha persewaan (0.08%) serta jasa kemasyarakatan
(8,2%).
International Labour Organization (ILO) tahun 2002 melaporkan bahwa
setiap tahun 2 (dua) juta orang meninggal dan terjadi 160 juta kasus PAK serta
270 juta kasus kecelakaan akibat kerja. Kejadian ini mengakibatkan dunia
mengalami kerugian setara dengan 1, 25 trilun dolar atau 4% GNP dunia. Dari 27
negara yang dipantau ILO (2001), data kematian pekerja di Indonesia berada pada
posisi 26.

2
Data Jamsostek (2003) menunjukkan bahwa setiap hari kerja terjadi 7
kematian pekerja dari 400 kasus kecelakaan akibat kerja dengan 9,83% (10.393
kasus) mengalami cacat dan terpaksa tidak mampu bekerja lagi. Data lain
menyebutkan, hingga triwulan pertama 2004, tercatat 20.937 kasus kecelakaan
kerja, sehingga setiap hari terjadi 49 kasus kecelakaan kerja dengan lima korban
meninggal per hari. Hingga Agustus 2004 jumlah tersebut meningkat menjadi
86.880 kasus. Angka ini hanya merupakan angka yang dilaporkan sedangkan
angka yang sesungguhnya belum diketahui secara pasti. Hal ini seperti fenomena
puncak gunung es.
Dengan fakta-fakta data-data dan uraian informasi diatas tidak bisa
dipungkiri bahwa kesehatan kerja sangat layak menjadi program unggulan yang
akan datang di Indonesia.
Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku
tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu
prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa
antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa
Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan
masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu
gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam
lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari
pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Penelitian WHO pada pekerja tentang penyakit kerja di 5 (lima) benua
tahun 1999, memperlihatkan bahwa penyakit gangguan otot rangka (Musculo
Skeletal Disease) pada urutan pertama 48%, kemudian gangguan jiwa 10-30%,
penyakit paru obstruksi kronis 11%, penyakit kulit (Dermatosis) akibat kerja 10%,
gangguan pendengaran 9%, keracunan pestisida 3%, cedera dan lain-lain.

3
Kesehatan Dunia tahun 2002 menempatkan resiko kerja pada urutan ke
sepuluh penyebab terjadinya penyakit dan kematian. Dilaporkan bahwa faktor
resiko kerja memberikan kontribusi pada penyakit berikut: 37 % penyakit tulang
belakang, 16% kehilangan pendengaran, 13% penyakit paru obstruksi kronis, 11%
asma, 10% kecelakaan, 9% kanker paru dan 2% Leukemia. Kematian yang juga
disebabkan kecelakaan akibat kerja berjumlah 310.000 tiap tahun dan hampir
146.000 kematian kemungkinan disebabkan oleh hubungan kerja dengan
karsinogen.
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian
materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi
secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak
pada masyarakat luas.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan
petugas kesehatan dan non-kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam
dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di
beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan
peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya
kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai.
Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-
alat pengaman walaupun sudah tersedia.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya
kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga,
masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

2.2. Penyakit Akibat Kerja


Masalah kesehatan kerja adalah adanya penyakit yang timbul akibat kerja,
penyakit akibat hubungan kerja ataupun kecelakaan akibat kerja, yang disebabkan
adanya interaksi antara pekerja dengan alat, metode dan proses kerja serta
lingkungan kerja.

4
PAK merupakan sebuah efek samping yang terjadi saat bekerja sehingga
diperlukan sebuah sistem, yakni sitem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
pada setiap perusahaan. Maka untuk menunjang sistem tersebut, dibutuhkan APD
(Alat Pelindung Diri). Selain APD, pengetahuan dari pekerja itu sendiri mengenai
PAK ataupun mengenai risiko kerja sangat dibutuhkan. Sedangkan gambaran
pekerjaan yang perlu diketahui adalah :

1. Jenis pekerjaan (saat ini dan sebelumnya)


2. Gerakan dalam bekerja
3. Tugas yang berat/berlebihan
4. Perubahan/pergeseran kerja
5. Iklim di tempat kerja
6. Pekerjaan lain/paruh waktu seperti ibu rumah tangga, sebagai orang tua
dan lain-lain

Untuk mengetahui pajanan (peristiwa/risiko penularan) di tempat kerja, maka


perlu diketahui:

1. Pajanan yang ada saat ini dan sebelumnya (fisik, biologi, kimia, dan
psikososial) dengan membuat daftar pertanyaan
2. Riwayat mengalami kecelakaan atau kejadian dalam penggunaan bahan
kimia, misalnya: menumpahkan bahan kimia, dll.
3. Bekerja dengan pajanan pada tempat yang terbatas

2.2.1. Pengertian Penyakit Akibat Kerja


Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan
pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (International Labour Organization) di
Linz, Austria, dihasilkan definisi menyangkut PAK sebagai berikut:

- Penyakit Akibat Kerja – Occupational Disease


Adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat
dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang
sudah diakui.

5
- Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan – Work Related Disease
Adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor
pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam
berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi kompleks

- Penyakit yang Mengenai Populasi Kerja – Disease of Fecting Working


Populations
Adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab
ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi
kesehatan.

2.2.2. Identifikasi Penyakit Akibat Kerja


Sebelum menentukan penyakit tersebut disebabkan karena risiko
pekerjaan, dibutuhkan diagnosis yang tepat dan untuk menunjang diagnosis
tersebut, maka diperlukan beberapa sumber dalam menyelidiki secara adekuat
hubungan antara pekerjaan dengan penyakit.
Keberhasilan identifikasi PAK diberbagai kelompok pekerjaan tergantung
dari riwayat pasien secara keseluruhan. Untuk mempertegas diperlukan
pemeriksaan laboratorium (biomonitoring dan tes klinik), penilaian paparan
lingkungan secara tepat dengan memperhatikan legalitas, etika dan faktor
sosioekonomi. Selain itu juga perlu diketahui garis besar riwayat pekerjaan, serta
gambaran pekerjaan saat ini dan saat yang lalu.

Faktor – faktor yang mempengaruhi proses timbulnya PAK:


1. Pejamu (Host)
Sebagai pejamu adalah manusia (pekerja).

2. Penyebab (Agent)

Adalah bahan yang dikerjakan atau yang dihasilkan dan alat yang
dipakai untuk pekerjaan (material, mesin, dan alat-alat).

6
3. Lingkungan (Environment)

Berkaitan dengan lingkungan kerjanya seperti:


o Panas yang menyebabkan Heat Stroke (penyakit akibat panas).
o Sikap kerja yang menyebabkan cedera tubuh.

Terdapat beberapa penyebab PAK yang umum terjadi di tempat kerja,


berikut beberapa jenisnya yang digolongkan berdasarkan penyebab dari penyakit
yang ada di tempat kerja.

1. Golongan fisik: Bising, radiasi, suhu ekstrem, tekanan udara, vibrasi, dan
penerangan.
2. Golongan kimiawi: Semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas,
larutan, dan kabut.
3. Golongan biologik: Bakteri, virus, jamur dan lain-lain.
4. Golongan fisiologik/ergonomik: Desain tempat kerja dan beban kerja.
5. Golongan psikososial: Stres psikis, monotoni kerja, tuntutan pekerjaan,
dan lain-lain.

Di negara maju faktor fisik, biologi dan kimiawi sudah dapat dikendalikan,
sehingga golongan fisiologik dan psikososial yang menjadi penyebab utama.

Beberapa penyakit akibat kerja/penyakit akibat hubungan kerja:

1. Penyakit saluran pernafasan

- Akut misalnya, asma akibat kerja.


- Kronis misalnya, asbestosis.
- Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
- Edema paru akut.
- Dapat disebabkan oleh bahan kimia seperti nitrogen oksida.

2. Penyakit kulit

7
Pada umumnya tidak spesifik, tidak mengancam kehidupan, kadang sembuh
sendiri. Dermatitis kontak dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit yang
berhubungan dengan pekerjaan. Riwayat pekerjaan penting dalam
mengidentifikasi iritan yang merupakan penyebab, membuat peka atau karena
faktor lain.

Penyakit kulit akibat kerja dapat disebabkan oleh 4 faktor:


1) Faktor kimiawi, dapat berupa iritasi primer, alergen atau karsinogen.
2) Faktor mekanis/fisik, seperti getaran, gesekan, tekanan, trauma, panas, dingin,
kelembaban udara, sinar radioaktif.
3) Faktor biologis, seperti jasad renik (mikroorganisme) hewan dan produknya,
jamur, parasit dan virus.
4) Faktor psikologis (kejiwaan); ketidakcocokan pengelolaan perusahaan sering
membuat konflik di antara pegawai dan dapat menimbulkan gangguan pada kulit
seperti neurodermatitis.

3. Kerusakan pendengaran

Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan akibat pajanan kebisingan yang


lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan. Riwayat pekerjaan secara
detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang dengan gangguan pendengaran.
Dibuat rekomendasi tentang pencegahan terjadinya hilangnya pendengaran.

4. Gejala pada punggung dan sendi

Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan penyakit pada punggung
yang berhubungan dengan pekerjaan daripada yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan. Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan. Artritis
dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang yang tidak wajar.

5. Kanker
Adanya presentase yang signifikan menunjukan kasus kanker yang disebabkan
oleh pajanan di tempat kerja. Bukti bahwa bahan di tempat kerja, karsinogen
sering kali didapat dari laporan klinis individu dari pada studi epidemiologi. Pada
Kanker pajanan untuk terjadinya karsinogen mulai > 20 tahun sebelum diagnosis.

8
6. Coronary artery disease
Oleh karena stres atau Carbon Monoksida dan bahan kimia lain di tempat kerja.

7. Penyakit liver

Sering didiagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis virus atau sirosis
karena alkohol. Penting riwayat tentang pekerjaan, serta bahan toksik yang ada.

8. Masalah neuropsikiatrik

Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja sering diabaikan.


Neuropati perifer, sering dikaitkan dengan diabetes, pemakaian alkohol atau tidak
diketahui penyebabnya, depresi SSP oleh karena penyalahgunaan zat-zat atau
masalah psikiatri. Kelakuan yang tidak baik mungkin merupakan gejala awal dari
stres yang berhubungan dengan pekerjaan. Lebih dari 100 bahan kimia (a.I
solven) dapat menyebabkan depresi SSP. Beberapa neurotoksin (termasuk arsen,
timah, merkuri, methyl, butyl ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer.
Carbon disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis.

9. Penyakit yang tidak diketahui sebabnya

- Alergi.
- Gangguan kecemasan mungkin berhubungan dengan bahan kimia atau
lingkungan.
- Sick building syndrome.
- Multiple Chemical Sensitivities (MCS), mis: parfum, derivat petroleum,
rokok.

2.3. Penyakit Kulit Akibat Kerja


Kulit merupakan organ tubuh yang terpenting yang berfungsi sebagai
sawar (barrier), karena kulit merupakan organ pemisah antara bagian di dalam
tubuh dengan lingkungan di luar tubuh. Kulit secara terus-menerus terpajan
terhadap faktor lingkungan, berupa faktor fisik, kimiawi, maupun biologik.

9
Bagian terpenting kulit untuk menjalankan fungsinya sebagai sawar adalah
lapisan paling luar, disebut sebagai stratum korneum atau kulit ari. Meskipun
ketebalan kulit hanya 15 milimikro, namun sangat berfungsi sebagai penyaring
benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Apabila terjadi kerusakan yang
disebabkan oleh faktor lingkungan dan melampaui kapasitas toleransi serta daya
penyembuhan kulit, maka akan terjadi penyakit.
Kulit adalah bagian tubuh manusia yang cukup sensisitif terhadap berbagai
macam penyakit. Penyakit kulit bisa disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya,
faktor lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Lingkungan yang sehat dan bersih
akan membawa efek yang baik bagi kulit. Demikian pula sebaliknya. Salah satu
lingkungan yang perlu diperhatikan adalah lingkungan kerja, yang bila tidak
dijaga dengan baik dapat menjadi sumber munculnya berbagai penyakit kulit.
Sejak dahulu di seluruh dunia telah dikenal adanya reaksi tubuh terhadap
bahan atau material yang ada di lingkungan kerja. Dalam Ilmu Kesehatan Kulit
dikenal, pada individu atau pekerja tertentu baik yang berada di negara
berkembang maupun di negara maju, dapat mengalami kelainan kulit akibat
pekerjaannya. Penyakit Kulit Akibat Kerja (PAK) dikenal secara populer karena
berdampak langsung terhadap pekerja yang secara ekonomis masih produktif.
Istilah PAK dapat diartikan sebagai kelainan kulit yang terbukti diperberat oleh
jenis pekerjaannya, atau penyakit kulit yang lebih mudah terjadi karena pekerjaan
yang dilakukan.
Apabila ditinjau lebih lanjut, penyakit kulit akibat kerja (PKAK) sebagai
salah satu bentuk penyakit akibat kerja, merupakan jenis penyakit akibat kerja
terbanyak yang kedua setelah penyakit muskulo-skeletal, berjumlah sekitar 22
persen dari seluruh penyakit akibat kerja. Data di Inggris menunjukkan 1,29 kasus
per 1000 pekerja merupakan dermatitis akibat kerja. Apabila ditinjau dari jenis
penyakit kulit akibat kerja, maka lebih dari 95% merupakan dermatitis kontak,
sedangkan yang lain merupakan penyakit kulit lain seperti akne, urtikaria kontak,
dan tumor kulit.
Berdasarkan jenis organ tubuh yang dapat mengalami kelainan akibat
pekerjaan seseorang, maka kulit merupakan organ tubuh yang paling sering
terkena, yakni 50% dari jumlah seluruh penderita Penyakit Akibat Kerja (PAK).

10
Dari suatu penelitian epidemiologik di luar negeri mengemuka, PAK dapat
berdampak pada hilangnya hari kerja sebesar 25% dari jumlah hari kerja. Secara
umum, tampaknya hingga kini kelengkapan data PAK masih menjadi salah satu
tantangan, karena PAK acapkali tidak teramati atau tidak teridentifikasi dengan
baik akibat banyaknya faktor yang harus dikaji dalam memastikan jenis penyakit
ini.

2.3.1. Insidensi dan Prevalensi PKAK


Data mengenai insidens dan prevalensi penyakit kulit akibat kerja sukar
didapat, termasuk dari negara maju, demikian pula di Indonesia. Umumnya
pelaporan tidak lengkap sebagai akibat tidak terdiagnosisnya atau tidak
terlaporkannya penyakit tersebut. Hal lain yang menyebabkan terjadinya variasi
besar antarnegara adalah karena sistem pelaporan yang dianut berbeda. Effendi
(1997) melaporkan insiden dermatitis kontak akibat kerja sebanyak 50 kasus per
tahun atau 11,9% dari seluruh kasus dermatitis kontak yang didiagnosis di
Poliklinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI-RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta.
Di AS angka statistik berasal dari survei yang dilakukan oleh Bureau of
Labor Statistic pada industri swasta yang didata secara random. Di Inggris
pelaporan melibatkan dokter spesialis kulit yang bekerja pada beberapa pusat
kesehatan. Diagnosis ditetapkan secara sederhana termasuk menetapkan jenis
pekerjaan yang dilaksanakan. Pengamatan yang dilaksanakan pada berbagai jenis
pekerjaan di berbagai negara barat mendapatkan insiden terbanyak terdapat pada
penata rambut 97,4%, pengolah roti 33,2% dan penata bunga 23,9%.
Apabila ditinjau dari masa awitan penyakit, maka masa awitan terpendek
adalah dua tahun untuk pekerjaan penataan rambut, tiga tahun untuk pekerjaan
industri makanan, dan empat tahun untuk petugas pelayanan kesehatan dan
pekerjaan yang berhubungan dengan logam.
Ditemukan pula pengaruh gender, perempuan dikatakan lebih berisiko
mendapat penyakit kulit akibat kerja dibandingkan dengan laki-laki. Berkaitan
dengan umur, maka umur 15-24 tahun merupakan usia dengan insidens penyakit
kulit akibat kerja tertinggi. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh pengalaman

11
yang masih sedikit dan kurangnya pemahaman mengenai kegunaan alat pelindung
diri. Sensitisasi sesuai dengan jenis pekerjaan terjadi pada 52 persen kasus.
Di beberapa negara maju telah berhasil mendata PAK, misalnya di Swedia
prosentase PAK 50% dari seluruh jenis PAK. Sedang di Singapura, angka ini
berkisar 20%. Ada dua kelompok besar dalam penggolongan PAK ini, yakni PAK
eksematosa dan PAK non-eksematosa.

2.3.2. Bentuk-Bentuk PKAK


Di dalam Ilmu Kesehatan Kulit, istilah eksematosa sama dengan
dermatitis. Pengertian dermatitis akibat kerja adalah proses patologis kulit berupa
peradangan yang ditandai oleh rasa gatal, dapat berupa penebalan/bintil
kemerahan, multipel mengelompok atau tersebar, kadang bersisik, berair dan
lainnya. Akibat permukaan kulit terkena bahan atau unsur-unsur yang ada di
lingkungannya (faktor eksogen) pada waktu melakukan pekerjaan dan pengaruh-
pengaruh yang terdapat di dalam lingkungan kerja. Namun demikian, untuk
terjadinya suatu jenis dermatitis atau beratnya gejala dermatitis, kadang-kadang
dipengaruhi pula oleh faktor kerentanan kulit seseorang (faktor endogen).
Lebih dari 90% PKAK merupakan jenis PKAK eksematosa, sedang
sisanya kira-kira 10% berupa PKAK non-eksematosa. Termasuk di dalam PKAK
eksematosa adalah Dermatitis Kontak Iritan (DKI), Dermatitis Kontak Alergi
(DKA), serta Urtikaria. Di antara ketiga jenis ini, umumnya DKI lebih sering
terjadi.
Secara tidak disadari, sebenarnya di lingkungan kerja kita mungkin ada
bahan, barang atau unsur yang dapat bersifat melukai kulit, mengiritasi kulit,
menyebabkan alergi kulit, menyebabkan infeksi kulit, maupun menyebabkan
perubahan pigmen kulit jika menempel pada kulit. Bahkan, masih ada bahan atau
unsur yang bersifat memicu terjadinya keganasan pada kulit (kanker kulit).
Terjadinya PKAK dipengaruhi oleh jenis PKAK dan faktor individual
pekerja, seperti kulit terang, jenis kulit kering, kulit berminyak, mudah
berkeringat, kebersihan diri yang kurang, penyakit kulit yang sudah ada, serta
kemungkinan trauma kulit yang sudah ada sebelumnya. Sedang untuk kejadian
luar biasa (KLB) PKAK, jarang terjadi.

12
Dermatitis kontak merupakan 50% dari semua PKAK, terbanyak bersifat
non-alergi atau iritan. Sekitar 90.000 jenis bahan sudah diketahui dapat
menimbulkan dermatitis. DKI merupakan jenis PKAK yang paling sering terjadi
di antara para pekerja, dibandingkan dengan Dermatitis Kontak Alergika (DKA).
Dermatitis kontak secara umum merupakan penyakit spesifik-lingkungan,
yaitu suatu peradangan kulit akibat bahan yang berasal dari lingkungan. Terdapat
dua jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) dan dematitis
kontak alergik (DKA). Kedua jenis tersebut kadang-kadang sangat sukar
dibedakan secara klinis, meskipun keduanya berbeda dalam patogenesis yang
mendasarinya. Insidens dermatitis kontak iritan lebih tinggi dibandingkan dengan
dermatitis kontak alergik.

2.3.2.1. Dermatitis Kontak Iritan


Dermatitis kontak iritan merupakan kelainan sebagai akibat pajanan
dengan bahan toksik non-spesifik yang merusak epidermis dan atau dermis.
Umumnya setiap orang dapat terkena, bergantung pada kapasitas toleransi
kulitnya. Penyakit tersebut mempunyai pola monofasik, yaitu kerusakan diikuti
dengan penyembuhan.
Dermatitis kontak iritan dapat terjadi melalui dua jalur: efek langsung
iritan terhadap keratinosit dan kerusakan sawar kulit. Efek langsung iritan pada
keratinosit, pada DKI akut, penetrasi iritan melewati sawar kulit akan merusak
keratinosit dan merangsang pengeluaran mediator inflamasi diikuti dengan
aktivasi sel T. Selanjutnya terjadi akumulasi sel T dengan aktivasi tidak lagi
bergantung pada penyebab. Hal tersebut dapat menerangkan kesamaan jenis
infiltrat dan sitokin yang berperan antara DKI dan DKA. Peradangan hanya
merupakan salah satu aspek sindrom DKI. Apabila terjadi pajanan dengan
konsentrasi suboptimal maka reaksi yang terjadi langsung kronik.
Stratum korneum atau kulit ari merupakan sawar kuli yang sangat efektif
terhadap berbagai bahan iritan karena pembaharuan sel terjadi secara
berkesinambungan dan proses penyembuhan berlangsung cepat. Apabila waktu
pajanan lebih pendek daripada waktu penyembuhan, sehingga sel-sel keratinosit
tidak sempat sembuh, maka akan terjadi gejala klinis DKI kumulatif. Kerusakan

13
sawar lipid berhubungan dengan kehilangan daya kohesi antar korneosit dan
deskuamasi diikuti dengan peningkatan trans-epidermal water loss (TEWL). Hal
tersebut merupakan rangsangan untuk memacu sintesis lipid, proliferasi
keratinosit dan hiperkeratosis sewaktu transient sehingga dapat terbentuk sawar
kulit dalam keadaan baru.
DKI terjadi karena kerusakan organ kulit secara langsung (bukan suatu
proses imunologis) akibat efek toksik bahan yang bersifat kimiawi ataupun fisik
yang menempel pada permukaan kulit. DKI kronis terjadi karena iritan relatif,
seperti sabun, pelarut, air, deterjen, minyak sintetis, kerosen, formalin, merkuri
anorganik, terpentin, photographic developer, dan lain-lain yang menempel pada
kulit dalam jangka waktu panjang dan berulang. Seringkali baru timbul bila ada
faktor fisik berupa abrasi, trauma kecil dan maserasi; oleh karena itu sering
disebut traumatic dermatitis. Kelainan yang ditimbulkan adalah dalam beberapa
hari bahkan sampai beberapa bulan setelah terkena bahan penyebab, berupa
hiperpigmentasi, hiperkeratosis, likenifikasi, fisur dan kadang-kadang eritem serta
vesikel. Kulit terasa gatal, tampak kering, kasar, bersisik halus, kemerahan,
menebal, kadang kulit pecah-pecah. Dermatitis kontak oleh karena iritan absolut
biasanya timbul seketika setelah berkontak dengan iritan, dan semua orang akan
terkena. bahan iritan absolut seperti asam kuat, basa kuat, garam logam berat
dengan konsentrasi kuat.
Pada kondisi tertentu di tempat kerja, yakni udara panas dan pengap, atau
suhu ruang yang amat dingin, berpakaian nilon dan lain-lain dapat meningkatkan
kepekaan kulit atau memudahkan kulit pekerja terkena DKI. DKI itu sendiri
adalah penyakit kulit yang terjadi akibat menempelnya sesuatu bahan atau unsur
yang disebut sensitizer pada permukaan kulit. Proses terjadinya penyakit
tergantung sistem kekebalan seseorang yang ditandai dengan kulit gatal
kemerahan, mungkin bengkak, terdapat bintil merah, bintil berair berjumlah
banyak yang tampak tidak hanya terbatas pada area kulit yang terkena bahan
penyebab, tetapi dapat meluas di luar area kulit yang terkena bahan penyebab,
bahkan dapat ke seluruh permukaan kulit.
Untuk mengantisipasi hal ini perlu pembersih kulit yang tidak bersifat
iritatif atau melukai permukaan kulit. Untuk pencegahannya, perlu alat pelindung

14
yang tepat di tempat kerja, setelah dilakukan pengamatan oleh petugas yang
berkompeten.
2.3.2.2. Dermatitis Kontak Alergi
Dermatitis kontak alergi dapat terjadi bila bahan LMW seperti lateks dan
nickel, sebagai hapten berikatan dengan protein pembawa di kulit dan
menimbulkan dermatitis kontak alergi Tipe IV.
Hapten bergabung dengan protein pembawa menjadi alergen lengkap.
Alergen lengkap difagosit oleh makrofag dan merangsang limfosit yang ada di
kulit yang mengeluarkan limfosit aktivasi faktor (LAF). Sel limfosit kemudian
berdiferensiasi membentuk subset sel limfosit T memori (sel Tdh) dan sel limfosit
T helper dan sel T suppresor. Sel T memori ini bila menerima informasi alergen
yang sudah dikenal masuk ke dalam kulit, maka sel Tdh akan mengeluarkan
limfokin (faktor sitotoksis, faktor inhibisi migrasi, faktor kemotaktik dan faktor
aktivasi makrofag.
Dengan dilepaskannya berbagai faktor ini maka akan terjadi pengaliran sel
mas dan sel basofil, ke arah lesi, dan timbullah proses radang yang merupakan
manifestasi reaksi dermatitis kontak alergis. Gambaran klinis umumnya berupa
papul, vesikel dengan dasar eritem dan edema, disertai rasa gatal.
Dalam perusahaan sering ditemukan beberapa bahan kimia yang
mempunyai gugusan rumus kimia yang sama. Apabila pekerja sudah sensitif
terhadap suatu zat kimia, maka ia akan mudah menjadi sensitif terhadap zat-zat
lain yang mempunyai rumus kimia yang bersamaan, misalnya prokain, benzokain,
paraaminobensen mempunyai gugus bensen yang sama. Apabila seseorang
sensitif terhadap prokain maka akan lebih mudah sensitif terhadap benzokain atau
PABA; ini disebut sensitisasi silang.
Pengetahuan sensitisasi silang ini sangat penting untuk menentukan
penempatan seseorang pegawai. Yang sudah sensitif terhadap suatu zat, jangan
lagi ditempatkan pada tempat yang mengandung bahan yang mempunyai rumus
kimia serupa.
Dermatitis kontak akibat kerja (DKAK) paling sering, yakni sekitar 90%,
menyerang tangan. Ini berpengaruh pada gejala dan perasaan seseorang.

15
Misalnya, rasa gatal dan sakit pada waktu melaksanaan pekerjaan, serta rasa
kurang nyaman pada waktu melayani seseorang ketika menggunakan tangan.
Sedangkan eksim lebih banyak berlokasi di daerah muka dan bagian tubuh
lain. Ini berdampak pada perasaan malu sehingga akan lebih besar pengaruhnya
terhadap aktivitas sehari-hari, kinerja, dan hubungan dengan orang lain. DKAK
paling sering disebabkan oleh logam. Pada perempuan DKAK disebabkan oleh
nikel, sedangkan pada laki-laki oleh kromat.

2.3.2.3. Reaksi Fotosensitisasi

1) Reaksifototoksik
Reaksi fototoksik terjadi karena adanya bahan iritan, tetapi baru dapat timbul
dengan bantuan sinar matahari (sinar ultra violet); bentuk klinisnya sama seperti
dermatitis kontak iritan. Reaksi fotoiritan dapat timbul karena bahan pengawet
kayu atau residu beberapa zat lem kayu dan keramik.

2) Reaksifotoalergi
Reaksi fotoalergi terjadi oleh karena bahan photosensitizer, dibantu dengan sinar
ultraviolet dengan panjang gelombang 320-425 nm. Bentuk klinis reaksi
fotoalergis umumnya menyerupai dermatitis kontak alergis. Daerah tubuh yang
terkena terutama bagian tubuh yang terpajan matahari seperti dahi, pipi, dan
lengan bagian luar. Reaksi fotoalergi dapat timbul karena bahan seperti ter kayu,
obat antihistamin topikal, zat warna, dan lain-lain.

2.3.2.4. Kelainan karena Faktor Fisik


a) Luka bakar (karena panas) dalam bentuk luka bakar tingkat I, II, dan III.
b) Cold urticaria timbul oleh karena dingin.
c) Immersion foot timbul bila kaki terlampau lama terendam dalam air dingin,
tanpa menjadi beku tetapi timbul gangren.
d) Frostbite/congelatio, radang kedinginan, kulit terasa sakit, menjadi bengkak,
pucat, mengeluarkan cairan serous.
e) Radiodermatitis, dapat berupa eritem, ulserasi, dan hiperpigmentasi, actinic
keratosis atau permulaan keganasan.

16
f) Heat rash, miliaria rubra; kulit menjadi merah disertai papulovesikel yang
milier.

2.3.2.5. Kelainan karena faktor biologis

Dapat berupa infeksi kulit. Yang disebabkan oleh bakteri dapat


menimbulkan folikulitis, akne, pioderma atau ulkus piogenik. Yang disebabkan
oleh jamur ialah dermatofitosis dan yang disebabkan kandida menyebabkan
kandidiasis.

Dermatitis akibat kerja (DAK) umumnya mempunyai prognosis buruk.


Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap pekerja logam dan pekerja konstruksi
menemukan 70% tetap menderita dermatitis meskipun telah dilakukan upaya
penghindaraan terhadap alergen penyebab dan perubahan jenis pekerjaan.
Meski dermatitis akibat kerja tidak memerlukan rawat inap, ringan, dan
umumnya dianggap sebagai risiko yang perlu diterima, pengaruh terhadap
pekerjaan dan status sosial psikologi harus diperhitungkan. Dampak dermatitis
kontak akibat kerja (DKAK) terhadap ekonomi sangat besar. Ini meliputi biaya
langsung atas pengobatan, kompensasi kecacatan dan biaya tidak langsung yang
meliputi kehilangan hari kerja dan produktivitas, biaya pelatihan ulang serta biaya
yang menyangkut efek terhadap kualitas hidup.

2.3.3. Pengobatan PKAK


Tindakan pertama ialah memutuskan mata rantai kontak dengan penderita,
selanjutnya dapat diberikan pengobatan yang sesuai dengan jenis penyakitnya.
Bila kelainan kulit akut dapat diberi obat kompres, sampai eksudasi kering.
Sesudah itu dapat dilanjutkan dengan diberi salep yang mengandung
kortikosteroid. Bila ada infeksi sekunder dapat diberi antibiotika seperti tetrasiklin
atau eritromisin. Bila ada infeksi jamur diberi obat anti jamur.

17
2.3.4. Pencegahan PKAK
Prevalensi dermatitisis akibat kerja dapat diturunkan melalui pencegahan
yang sempurna; antara lain:

1) Pendidikan
Diberi penerangan atau pendidikan pengetahuan tentang kerja dan pengetahuan
tentang bahan yang mungkin dapat menyebabkan penyakit akibat kerja. Selain itu,
cara mempergunakan alat dan akibat buruk alat tersebut harus dijelaskan kepada
karyawan.
2) Memakai alat pelindung
Sebaiknya para karyawan diperlengkapi dengan alat penyelamat atau pelindung
yang bertujuan menghindari kontak. dengan bahan yang sifatnya merangsang atau
karsinogen. Alat pelindung yang dapat dipergunakan misalnya baju pelindung,
sarung tangan, topi, kaca mata pelindung, sepatu, krim pelindung, dan lain-lain.
3) Melaksanakan uji tempel/uji tempel foto
Maksudnya adalah mengadakan uji tempel pada calon pekerja sebelum diterima
pada suatu perusahaan. Berdasarkan hasil uji tempel ini karyawan baru dapat
ditempatkan di bagian yang tidak mengandung bahan yang rentan terhadap
dirinya.
4) Pemeriksaan kesehatan berkala
Bertujuan untuk mengetahui dengan cepat dan tepat apakah karyawan sudah
menderita penyakit kulit akibat kerja. Apabila dapat diketahui dengan cepat, dapat
diberi pengobatan yang adekuat atau dipindahkan ke tempat lain yang tidak
membahayakan kesehatan dirinya.
5) Pemeriksaan kesehatan secara sukarela
Karyawan dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter secara sukarela apakah
ada menderita suatu penyakit kulit akibat kerja.
6) Pengembangan teknologi
Kerjasama antara dokter, ahli teknik, ahli kimia dan ahli dalam bidang tenaga
kerja untuk mengatur alat-alat kerja, cara kerja atau memperhatikan bahan yang
dipergunakan dalam melakukan pekerjaan untuk mencegah kontaminasi kulit.

18
BAB 3
PENUTUP

Penyakit kulit akibat kerja (PKAK) dikenal secara populer karena


berdampak langsung terhadap pekerja yang secara ekonomis masih produktif.
Istilah PKAK dapat diartikan sebagai kelainan kulit yang terbukti diperberat oleh
jenis pekerjaannya, atau penyakit kulit yang lebih mudah terjadi karena pekerjaan
yang dilakukan.
Dengan kemajuan industri sekarang ini, penyakit akibat kerja diperkirakan
akan semakin banyak dan salah satunya adalah penyakit kulit akibat kerja.
Umumnya penyakit kulit akibat kerja dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu
faktor kimiawi, fisik/mekanis dan biologis. Dermatitis kontak merupakan kelainan
kulit yang terbanyak di antara penyakit kulit akibat kerja.
Untuk mencegah terjangkitnya penyakit kulit akibat kerja maka perawatan
dan perlindungan kulit sangat penting. Program perlindungan kulit ini tidak hanya
melibatkan pekerja tapi juga pemberi kerja sebagai penyedia sarana serta
melibatkan peraturan atau perundang-undangan.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15DermatitisAkibatKerja107.pdf/15Der
matitisAkibatKerja107.html

2. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/14_PenyakitKulitdiKalanganTenagaKe
rja.pdf/14_PenyakitKulitdiKalanganTenagaKerja.html

3. http://penyakitakibatkerja.blogspot.com/2008/12/penyakit-akibat-kerja-k.html

4. http://leatherindonesia-blognews.blogspot.com/2009/08/dermatitis-kontak-
alergika-pada-pekerja.html

5. http://hiperkes.wordpress.com/2008/04/04/langkah-diagnosis-penyakit-
akibat-kerja/

20