Anda di halaman 1dari 8

TEORI ANALISA PERENCANAAN STRATEGI SI/TI DENGAN MENGGUNAKAN

METODE STARTEGIC PLANNING INFORMATION SYSTEM (SPIS) VERSI JOHN WARD


and JOE PEPPARD

Formulasi strategi merupakan langkah awal untuk mencapai kesuksesan dalam


manajemen Teknologi Informasi dan Komunikasi.Strategi diterapkan, dan mengirimkan hasil
serta memperbaharui strategi untuk mengambarkan perubahan manajemen Teknologi Informasi
dan Komunikasi yang merupakan hal yang penting dalam menentukan kesuksesan. Gangguan
dalam mencapai tujuan dari strategi sering disebabkan oleh kekurangan organisasi, politik, dan
isu budaya (Ward & Peppard, 2002). Salah satu metode perencanaan strategis yang dapat
dimanfaatkan adalah metode versi John Ward dan Joe Peppard, Model John Ward dan Joe
Peppard dimulai dengan pemahaman situasi saat ini, yaitu lingkungan eksternal dan internal,
baik pada lingkungan bisnis maupun pada lingkungan Teknologi Informasi dan Sistem
Informasi. Pemahaman situasi saat ini dapat digunakan untuk menentukan perencanaan dan
strategi untuk masa mendatang, baik strategi bisnis maupun strategi Teknologi Informasi dan
Sistem Informasi.Metode John Ward dan Joe Peppard dapat dilihat seperti pada gambar berikut.
Metode perencanaan strategi versi John Ward dan Joe Peppard memiliki formulasi berupa
masukan (input), kemudian diproses sehingga menghasilkan keluaran (output) yang dapat
dijelaskan sebagai berikut.
a) Analisis lingkungan bisnis internal saat ini seperti tujuan atau sasaran, sumber
daya, proses serta budaya dan nilai budaya dan bisnis pada organisasi.
b) Analisis lingkungan bisnis eksternal saat ini, meliputi aspek ekonomi, industri dan
iklim bersaing organisasi.
c) Analisis lingkungan Teknologi Informasi dan Sistem Informasi pada saat ini, yang
meliputi tingkat kematangan (maturity), pengaruh terhadap organisasi, sumber daya, dan
infrastruktur teknologi. Portfolio aplikasi yang ada saat ini juga merupakan bagian dari
lingkungan Teknologi Informasi dan Sistem Informasi pada saat ini.
d) Analisis lingkungan Teknologi Informasi dan Sistem Informasi yang meliputi teknologi
yang sedang berkembang saat ini dan pemanfaatan teknologi tersebut

Tahapan keluar yang merupakan hasil dari suatu proses analisis masukan (input) berupa
perencanaan strategis yang akan digunakan di masa yang akan datang, adalah sebagai berikut.
a) Strategi Bisnis Sistem Informasi yang merupakan bagaimana pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi oleh setiap departemen dan unit bisnis dalam organisasi pada
masa yang akan datang, tujuannya untuk mencapai sasaran organisasi di masa depan.
b) Strategi Teknologi Informasi yang merupakan kebijakan dan strategi dalam mengelola
Teknologi Informasi dan Sistem Informasi serta sumber daya manusia.
c) Strategi Manajemen Teknologi Informasi dan Sistem Informasi pada organisasi yang
merupakan untuk memastikan kesuksesan penerapan kebijakan Teknologi Informasi dan
Sistem Informasi yang dibutuhkan.

Beberapa teknik/metode analisis yang digunakan dalam perencanaan strategis SI/TI pada
metodologi ini, mencakup analisis SWOT, analisis Five Forces Competitive, analisis Value
Chain, metode Critical Success Factors, metode Balanced Scorecard, dan McFarlan’s Strategic
Grid

A. Analisis SWOT
Analisis SWOT akan dipetakan dari hasil analisis lingkungan. Kekuatan
diidentifikasikan dengan tujuan untuk mengetahui apa saja kekuatan organisasi untuk
dapat meneruskan dan mempertahankan bisnis. Dengan mengetahui kekuatan yang
dimiliki organisasi akan dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan kekuatan
sebagai modal untuk dapat bersaing. Mengidentifikasi kelemahan bertujuan untuk dapat
mengetahui apa kelemahan-kelemahan yang masih ada, dan dengan mengetahui
kelemahan tersebut, maka perusahaan dapat berusaha untuk memperbaiki agar menjadi
lebih baik. Kelemahan yang tidak atau terlambat teridentifikasi akan merugikan bagi
perusahaan. Oleh karena itu dengan semakin cepat mengetahui kelemahan, maka
perusahaan juga dapat sesegera mungkin mencari solusi untuk dapat menutupi
kelemahan tersebut. Dengan mengetahui peluang, baik peluang saat ini maupun peluang
dimasa yang akan datang, maka perusahaan dapat mempersiapkan diri untuk dapat
mencapai peluang tersebut. Berbagai strategi dapat disiapkan lebih dini dan terencana
dengan lebih baik sehingga peluang yang telah diidentifikasi dapat direalisasikan.
Berbagai jalan untuk dapat mewujudkan peluang/kesempatan dan mempertahankan
kelangsungan bisnis organisasi tentunya akan mengalami banyak ancaman. Ancaman
yang dapat teridentifikasi dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga organisasi dapat
meminimalkan ancaman tersebut.

B. Analisis Five Forces Competitive


Porter (1985) mengajukan model lima kekuatan (five forces module) sebagai alat
untuk menganalisis lingkungan persaingan industry, dengan skema sebagai berikut:

Menurut model ini, sebuah perusahaan agar dapat bertahan dan sukses
berkompetisi dengan perusahaan lain, harus memperhatikan 5 kekuatan kompetitif.
Berikut ini penjelasan mengenai lima competitif force dalam suatu bisnis yaitu:

1. Ancaman pendatang baru (Threat of New Entrants).


Ancaman pesaing tidak hanya datang dari para kompetitor lama. Seiring dengan
berkembangnya usaha, muncul juga ancaman dari para produsen baru. Masuknya
pemain baru dalam industri akan membuat persaingan menjadi ketat yang pada
akhirnya dapat menyebabkan turunnya laba yang diterima bagi semua perusahaan.
Hal ini berkaitan dengan seberapa mudah pendatang baru untuk ikut berkompetisi
dalam persaingan usaha sejenis.

2. Ancaman produk atau jasa pengganti (Threat of sunstitutes).


Merupakan barang atau jasa yang dapat menggantikan produk sejenis. Adanya
produk atau jasa pengganti akan membatasi jumlah laba potensial yang didapat dari
suatu industri. Makin menarik alternatif harga yang ditawarkan oleh produk
pengganti, makin ketat pembatasan laba dari suatu industri. Sehingga dengan
semakin banyak ragam barang dan jarang, terciptanya produk pengganti juga
mempengaruhi pendapatan dari perusahaan. Hal ini berkaitan dengan apakah
konsumen memiliki pilihan lain terhadap produk yang ada.

3. Kekuatan tawar menawar pembeli (Bargaining power of Customers).


Daya tawar pembeli pada industri berperan dalam menekan harga untuk turun, serta
memberikan penawaran dalam hal peningkatan kualitas ataupun layanan lebih, dan
membuat kompetitor saling bersaing satu sama lain. Proses penawaran terkadang
melebihi atau berada posisi tingkat paling bawah. Janganlah kiranya harga yang
ditawarkan sama dengan biaya produksi karena jika hal ini terjadi, maka perusahaan
tersebut akan mengalami kerugian. Sebagai akibat jangka panjang, maka perusahaan
tersebut akan menurunkan kualitas dari produk yang di produksi. Dengan rendahnya
kualitas, maka tingkat kompetisi perusahaan tersebut akan menurun. Hal ini
berkaitan dengan kemampuan konsumen untuk dapat mempengaruhi harga jual
barang sehingga menjadi lebih rendah.

4. Kekuatan tawar menawar pemasok (Bargaining power of Suppliers).


Pemasok dapat menggunakan kekuatan tawar menawar terhadap pembeli dalam
industri dengan cara menaikkan harga atau menurunkan kualitas produk atau jasa
yang dibeli. Perusahaan berusaha mendapatkan harga semurah mungkin dengan
kualitas yang tinggi. Jika perusahaan memperoleh pemasok yang demikian, maka
perusahaan tersebut akan memperoleh kompetisi yang baik di bandingkan dengan
perusahaan yang baik.

5. Persaingan antar kompetitor dalam Industri yang sama (Rivalry of


Competitors).
Menurut Porter persaingan antar pesaing dalam industri yang sama ini menjadi pusat
kekuatan persaingan. Kompetitor dalam hal ini adalah pemain yang menghasilkan
serta menjual produk sejenis, yang bersaing merebutkan pasar. Banyak dari
perusahaan lain yang bergerak pada bidang yang sama. Saat ini tidak hanya
berkompetisi pada harga saja, tetapi telah berkembang jauh lagi. Persaingan pada
bidang pelayanan kualitas, maupun pelayanan purna jual dari produk yang di
tawarkan. Semakin banyak kompetitor, suatu perusahaan makin berjuang keras untuk
memperebutkan pasar.

C. Analisis Value Chain


Analisa Value Chain dilakukan untuk memetakan seluruh proses kerja yang
terjadi dalam organisasi menjadi dua kategori aktivitas, yaitu aktivitas utama dan
aktivitas pendukung. Mengacu pada dokumen organisasi yang menyebutkan tugas dan
fungsi setiap unit kerja berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap proses kerja
yang terjadi di masing-masing unit kerja, secara diagram value chain dapat terlihat
seperti gambar dibawah ini:
D. Metode Critical Success Factors
Analisa CSF merupakan suatu ketentuan dari organisasi dan lingkungannya yang
berpengaruh pada keberhasilan atau kegagalan. CSF dapat ditentukan jika objektif
organisasi telah diidentifikasi. Tujuan dari CSF adalah menginterpretasikan objektif
secara lebih jelas untuk menentukan aktivitas yang harus dilakukan dan informasi apa
yang dibutuhkan.

Peranan CSF dalam perencanaan strategis adalah sebagai penghubung antara


strategi bisnis organisasi dengan strategi SI-nya, memfokuskan proses perencanaan
strategis SI pada area yang strategis, memprioritaskan usulan aplikasi SI dan
mengevaluasi strategi SI, seperti terlihat pada gambar dibawah ini:

E. Metode Balanced Scorecard


Balanced Scorecard pertama kali dipublikasikan oleh Robert S. Kaplan dan David
P.Norton pada tahun 1992 dalam sebuah artikel yang berjudul ”Balanced
Scorecard – Measures That Drive Performance”. Balanced Scorecard pada awal
diperkenalkan adalah merupakan suatu sistem manajemen penilaian dan pengendalian
yang secara cepat, tepat, dan komprehensif dapat memberikan pemahaman kepada
manajer tentang performance bisnis. Kaplan dan Norton telah memperkenalkan Balanced
Scorecard pada tingkat organisasi enterprise. Prinsip dasar dari Balanced Scorecard ini
adalah titik pandang penilaian sebuah perusahaan hendaknya tidak hanya dilihat dari segi
finansial saja tetapi juga harus ditambahkan ukuran-ukuran dari perspsektif lainnya
seperti tingkat kepuasaan customer, proses internal dan kemampuan melakukan inovasi.

Menurut Kaplan dan Norton, Balanced Scorecard didefinisikan sebagai berikut :

”...a set of measure that’s gives top manager a fast but comprehensive view of the
business, includes financial measures that tell the results of actions already taken,
complements the financial measures with operational measures on customer satisfaction,
internal process and the organization’s innovation and improvements activities –
operational measures that are the drivers of future financial performance”.
Balanced Scorecard lebih dari sekedar sistem pengukuran taktis atau operasional.
Perusahaan yang inovatif menggunakan scorecard sebagai sistem manajemen strategis,
untuk mengelola strategi jangka panjang dan menghasilkan proses manajemen seperti :

1. Memperjelas dan menerjemahkan visi dan strategi.

2. Mengkomunikasikan dan mengkaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis.

3. Merencanakan, menetapkan sasaran, dan menyelaraskan berbagai inisiatif strategis.

4. Meningkatkan umpan balik dan pembelajaran strategis.


Pada gambar di atas dijelaskan bagaimana visi dan strategi perusahaan menciptakan 4
perspektif pengukuran balanced scorecard dan keterkaitan antar perspektif.

F. McFarlan’s Strategic Grid


McFarlan strategic grid digunakan untuk memetakan aplikasi SI berdasarkan
konstribusinya terhadap organisasi. Pemetaan dilakukan pada empat kuadran (strategic,
high potential, key operation, and support). Dari hasil pemetaan tersebut didapat
gambaran konstribusi sebuah aplikasi SI terhadap organisasi dan pengembangan dimasa
mendatang (Ward and Griffith 1996), keempat kuadran tersebut dapat dilihat pada
gambar dibawah ini

DAFTAR PUSTAKA
Imam Yudhistyra, Wecka & Nugroho, Eko (2014). Lima Metode Perencanaan Strategis
Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi Untuk Pengembangan E-Government.
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2014 (SENTIKA 2014) hal 236-
244. Diakses melalui https://fti.uajy.ac.id/sentika/publikasi/makalah/2014/(25).pdf pada
6 November 2017 pukul 05.30.
Wedhasmara, Ari (2009). Langkah-Langkah Perencanaan Strategis Sistem Informasi
Dengan Menggunakan Metode Ward and Peppard. Jurnal Sistem Informasi (JSI), VOL.
1, NO. 1, April 2009 hal 14-22. Diakses melalui
http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jsi/index pada 6 November 2017 pukul 05.30.

Purba Pamungkas, Damar (2016). Analisis Competitive force dan Competitive Startaegy
Sistem Informasi Kuliner di Indonesia (Studi Kasus: Kulina.id). Jurnal Electronic,
Informatic, and Vocational Education (ELIVNO), VOL 1 No 2, Mei 2016 hal 118-127.
Diakses melalui https://journal.uny.ac.id/index.php/elinvo/article/ pada 6 November 2017
pukul 06.15.