Anda di halaman 1dari 25

PERANAN KONSTITUSI

DALAM PENYELENGARAAN NEGARA


TUGAS KELOMPOK III

TUGAS MATA KULIAH : HUKUM TATA NEGARA

DAFTAR NAMA

1. Diah Fitriana : 14407188

UNIVERSITAS TAMA

Jakarta, November 2015

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara yaitu suatu tempat yang di dalamnya di diami oleh banyak orang yang
mempunyai tujuan hidup yang bermacam-macam dan berbeda-beda antara satu orang
dengan orang yang lain. Suatu tempat dapat disebut dengan Negara jika mempunyai 3
unsur terpenting yang harus ada didalamnya yaitu :

1. Wilayah
Suatu negara tidak dapat berdiri tanpa adanya suatu wilayah. Disamping pentingnya unsur
wilayah dengan batas-batas yang jelas, penting pula keadaan khusus wilayah yang
bersangkutan, artinya apakah layak suatu wilayah itu masuk suatu negara tertentu atau
sebaliknya dipecah menjadi wilayah berbagai negara. Apabila mengeluarkan peraturan
perundang-undangan pada prinsipnya hanya berlaku bagi orang-orang yang berada di
wilayahnya sendiri. Orang akan segera sadar berada dalam suatu negara tertentu apabila
melampaui batas-batas wilayahnya setelah berhadapan dengan aparat (imigrasi negara) untuk
memenuhi berbagai kewajiban yang ditentukan.

Paul Renan (Perancis) menyatakan satu-satunya ukuran bagi suatu masyarakat untuk menjadi
suatu negara ialah keinginan bersatu (le desir de’etre ansemble).

2. Pemerintah
Ciri khusus dari pemerintahan dalam negara adalah pemerintahan memiliki
kekuasaan atas semua anggota masyarakat yang merupakan penduduk suatu negara
dan berada dalam wilayah negara. Ada empat macam teori mengenai suatu
kedaulatan, yaitu ; Kedaulatan Tuhan, Kedaulatan Negara, Kedaulatan Hukum dan
Kedaulatan Rakyat.

2
3. Masyarakat atau Rakyat

Masyarakat merupakan unsur terpenting dalam tatanan suatu negara. Masyarakat atau
rakyat merupakan suatu individu yang berkepentingan dalam suksesnya suatu tatanan
dalam pemerintahan. Pentingnya unsur rakyat dalam suatu Negara, dimana
diperlukan dalam ilmu kenegaraan (staatsleer)

Ketiga unsur tersebut harus ada dalam suatu Negara. Jika salah satu dari unsur
tersebut tidak ada maka tempat tersebut tidak dapat dinamakan Negara. Ketiga unsur tersebut
saling melengkapi dalam suatu Negara. Unsur yang lainnya yang juga harus dimiliki oleh
suatu Negara adalah pengakuan dari Negara lain. Pengakuan dari Negara lain harus dimiliki
oleh suatu Negara supaya keberadaan Negara tersebut diakui oleh Negara-negara lain.

Setelah suatu Negara terbentuk maka Negara tersebut berhak membentuk undang-
undang atau konstitusi.Konstitusi. Di Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu bahkan
sebelum kemerdekaan Indonesia, konstitusi telah ada yang berfungsi mengatur kehidupan
bermasyarakat yang disebut dengan adat istiadat yang ada karena kesepakatan dari suatu
masyarakat yang terlahir dan dipakai sebagai pengatur kehidupan bermasyarakat.Adat
istiadat mempunyai suatu hukum yang dinamakan hukum adat. Pada jaman dahulu walaupun
belum ada undang-undang seperti halnya sekarang, tetapi kehidupan masyarakat sudah diatur
dengan adat istiadat dan yang melanggar adat istiadat akan dikenakan suatu hukum yang
telah masyarakat setempat sepakati yaitu hukum adat.

Berlakunya suatu konstitusi sebagai hukum dasar yang mengikat didasarkan atas
kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu negara. Hal inilah yang
disebut oleh para ahli sebagai constituent power yang merupakan kewenangan yang berada di
luar dan sekaligus di atas sistem yang diaturnya. Karena itu, di lingkungan Negara - negara
demokrasi, rakyatlah yang dianggap menentukan berlakunya suatu konstitusi.Constituent
power mendahului konstitusi, dan konstitusi mendahului organ pemerintahan yang diatur dan
dibentuk berdasarkan konstitusi 1

1 Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia di Masa

Depan, Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum


Universitas,2005: 19

3
Pengertian constituent power berkaitan pula dengan pengertian hierarki hukum
(Hierarchy of law). Konstitusi merupakan hukum yang lebih tinggi atau bahkan paling tinggi
serta paling fundamental sifatnya, karena konstitusi itu sendiri merupakan sumber legitimasi
atau landasan otorisasi bentuk-bentuk hukum atau peraturan-peraturan perundang- undangan
lainnya. Sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku universal, maka agar peraturan -peraturan
yang tingkatannya berada di bawah Undang-Undang Dasar dapat berlaku dan diberlakukan,
peraturan-peraturan itu tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi tersebut.
Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan, dan tidak boleh diubah, Saat ini
UUD 1945 telah mengalami beberapa perubahan. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945 itu
pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap kehidupan berbangsa
dan bernegara. Perubahan konstitusi ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi
negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi lembaga negara
yang seimbang. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi suatu agenda yang tidak bisa
diabaikan. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat menentukan bagi jalannya demokratisasi
suatu bangsa.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalah-
masalah yang akan dibahas pada penulisan kali ini. Masalah yang dimaksud adalah sebagai
berikut:
1.2.1. Apakah pengertian negara itu?
1.2.2. Apakah pengertian konstitusi itu?
1.2.3. Apakah pengertian Negara konstitusi?
1.2.4. Bagaimana konstitusi di Indonesia?
1.2.5. Apakah peranan Konstitusi dalam Penyenggaraan Negara?

1.3. TUJUAN PENULISAN


Tulisan ini ditujukan agar supaya para pembaca dapat mengetahui apa tujuan dari
konstitusi pada suatu Negara, melalui pengertian konstitusi dan seluk-beluknya dan
perannya di dalam penyelenggaraan sebuah Negara. Dan kami juga ingin pembaca
mengetahui pentingnya konstitusi dalam suatu Negara.

4
BAB II
PEMBAHASAN

Pada umumnya hukum bertujuan untuk mengadakan tata tertib untuk keselamatan
masyarakat yang penuh dengan konflik antara berbagai kepentingan yang ada di tengah
masyarakat. Tujuan hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena sumber utama dari
hukum tata negara adalah konstitusi atau Undang-Undang Dasar, akan lebih jelas dapat
dikemukakan tujuan konstitusi itu sendiri.

Konstitusi juga memiliki tujuan yang hampir sama dengan hukum, namun tujuan dari konstitusi
lebih terkait dengan :
1. Berbagai lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan tugasnya masing-masing.
2. Hubungan antar lembaga Negara.
3. Hubungan antar lembaga negara ( pemerintah ) dengan warga negara ( rakyat ).
4. Adanya jaminan atas hak asasi manusia
5. Hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan jaman.

Di dalam prakteknya, banyak negara yang memiliki lembaga-lembaga yang tidak


tercantum di dalam konstitusi namun memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan
lembaga-lembaga yang terdapat di dalam konstitusi. Bahkan terdapat hak-hak asasi manusia
yang diatur diluar konstitusi mendapat perlindungan lebih baik dibandingkan dengan yang diatur
di dalam konstitusi.

Konstitusi selalu terkait dengan paham konstitusionalisme. Walton H. Hamilton


menyatakan “Constitutionalism is the name given to the trust which men repose in the power of
words engrossed on parchment to keep a government in order. Untuk tujuan to keep a
government in order itu diperlukan pengaturan yang sedemikian rupa, sehingga dinamika
kekuasaan dalam proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan sebagaimana mestinya.
Gagasan mengatur dan membatasi kekuasaan ini secara alamiah muncul karena adanya
kebutuhan untuk merespons perkembangan peran relatif kekuasaan umum dalam kehidupan
umat manusia.

5
2.1 NEGARA

Negara secara literal merupakan penjelasan dari kata-kata asing yaitu state
(bahasa inggris), staat ( bahasa Belanda dan Jerman), dan etat (bahasa Prancis), dimana
semua kata-kata ini diambil dari bahasa Latin yaitu statum yang artinya keadaan yang tetap
dan tegak. Istilah umum itu diartikan sebagai kedudukan (standing, station).

Adapun pengertian Negara menurut para ahli adalah sebagai berikut:


 Prof. Farid S.
Negara adalah Suatu wilayah merdeka yang mendapat pengakuan Negara lain serta
memiliki kedaulatan.
 Georg Jellinek
Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di
wilayah tertentu.
 Georg Wilhelm Friedrich Hegel
Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan
individual dan kemerdekaan universal
 Max Weber
Negara adalah suatu masyarakat yang memonopoli penggunaan kekerasan fisik secara
sah dalam suatu wilayah
 Aristoteles
Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada
akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan
bersama.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian negara itu ada dua, yaitu :
pertama, negara adalah organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi
yang sah dan ditaati rakyatnya; kedua, negara adalah kelompok sosial yang menduduki
wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah
yang efektif, mempunyai satu kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan
tujuan nasionalnya.

6
Jadi dapat disimpulkan bahwa Negara adalah suatu organisasi dari kelompok-kelompok
manusia yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu dan mengakui adanya satu
pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa
kelompok manusia tersebut.

2.2 KONSTITUSI

Konstitusi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap bangsa dan negara,
baik yang sudah lama merdeka maupun yang baru saja memperoleh kemerdekaannya.
Dalam buku “Corpus Juris Scundum” volume 16, pengertian konstitusi dirumuskan
sebagai berikut2
“A constitution is the original law bay which a system of government is created
and set up, and to which the branches of government must look for all their power
and authority”.
Konstitusi juga dapat diartikan:
”A constitution as a form of social contract joining the citizens of the state and
defining the state itself3

Konstitusi memiliki fungsi-fungsi yang oleh Jimly Asshiddiqie, guru besar hukum tata
negara, diperinci sebagai berikut:4
1. Fungsi penentu dan pembatas kekuasaan organ negara.
2. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara.

2 Corpus Juris Scundum, Constitutional Law, volume 16, Brooklyn, N.Y.


The American Law Book, tanpa tahun, hal. 21.
3 Dennis C.Mueller, Constitutional Democracy, Oxford University Press,

1996, hal. 61. Dalam buku ini juga, Dennis menyatakan: “A contract is an
agreement among two or more individuals specifying certain duties,
obligation, and rights of each individual, and penalties for complying or
violating the terms of the contract”. Baca juga, Jean-Jacques Rousseau, The
Social Contrat and Discourses. Terjemahan dalam bahasa Inggris oleh G.D.H.
Cole, J.M.Dent & Sons Ltd, London, Reprinted, 1991, hal. 193 dst.
4 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia di Masa

Depan, Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, Jakarta: 2002, hal. 33. Baca juga: Jackson, Vicki C, and Mark
Tushnet, Comparative Constitutional Law, New York, Foundation Press, 1999,
hal. 197.

7
3. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara dengan warga negara.
4. Fungsi pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan negara ataupun
kegiatan penyelenggaraan kekuasaan negara.
5. Fungsi penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kuasaan yang asli (yang
dalam sistem demokrasi adalah rakyat) kepada organ negara.
6. Fungsi simbolik sebagai pemersatu (symbol of unity), sebagai rujukan identitas
dan keagungan kebangsaan (identity of nation), serta sebagai center of ceremony.
7. Fungsi sebagai sarana pengendalian masyarakat (social control), baik dalam arti
sempit hanya dibidang politik maupun dalam arti luas mencakup bidang sosial
dan ekonomi.
8. Fungsi sebagai sarana perekayasa dan pembaruan masyarakat (social engineering
atau social reform).

Istilah konstitusi menurut Wirjono Prodjodikoro5 berasal dari kata kerja


“constituer” dalam bahasa Perancis yang berarrti “membentuk”; jadi konstitusi berarti
pembentukan. Dalam hal ini yang dibentuk adalah suatu negara, maka konstitusi
mengandung permulaan dari segala macam peraturan pokok mengenai sendi-sendi
pertama untuk menegakkan bangunan besar yang bernama negara6. Istilah konstitusi
sebenarnya tidak dipergunakan untuk menunjuk kepada satu pengertian saja. Dalam
praktek, istilah konstitusi sering digunakan dalam beberapa pengertian. Di Indonesia
selain dikenal istilah konstitusi juga dikenal istilah undang-undang dasar. Demikian juga
di Belanda, disamping dikenal istilah “groundwet” (undang-undang dasar) dikenal pula
istilah “constitutie”.

Konstitusi dan Undang-Undang Dasar seringkali memiliki batasan yang berbeda


sungguhpun keduanya sama-sama menunjuk pada pengertian Hukum Dasar. Secara
umum konstitusi menunjuk pada pengertian hukum dasar tidak tertulis, sedangkan
undang-undang dasar menunjuk pada pengertian hukum dasar tertulis.

5 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Tata Negara di Indonesia, Jakarta:

Dian Rakyat, 1977, hal. 10.


6 5C.A.J.M. Kortmann, Constitutionalrecht, Kluwer, Deventer, 1960)hal.9.

8
Eric Barendt dalam bukunya yang berjudul “An Introduction to Constitutional Law”
menyebutkan:7
“the constitution of a state is the written document or text which outlines the powers of its
parliament, government, courts, and other important national institution”.

Konstitusi dapat diartikan sebagai dokumen yang tertulis yang secara garis
besarnya mengatur kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif serta lembaga negara
penting lainnya. Konstitusi dengan istilah lain constitution atau verfasung dibedakan dari
undang-undang dasar atau groundgesetz. Herman Heller menyatakan bahwa konstitusi
mempunyai arti yang lebih luas dari pada undang-undang dasar8. Solly Lubis
berpendapat, konstitusi memiliki dua pengertian yaitu: konstitusi tertulis (undang-undang
dasar) dan konstitusi tidak terulis (konvensi)9.

Undang-undang dasar sendiri menurut Joeniarto, ialah suatu dokumen hukum


yang mengandung aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang pokok-pokok atau dasar-
dasar mengenai ketatanegaraan dari suatu negara yang lazimnya kepadanya diberikan
sifat luhur dan “kekal” dan apabila akan mengadakan perubahannya hanya boleh
dilakukan dengan prosedur yang berat kalau dibandingkan dengan cara pembuatan atau
perubahan bentuk-bentuk peraturan dan ketetapan yang lain-lainnya10.
Jadi pengertian undang-undang dasar itu baru merupakan sebagian dari pengertian
konstitusi, yaitu konstitusi yang tertulis. Pendangan ini sama dengan pendapat Van
Apeldoorn yang mengatakan bahwa undang-undang dasar adalah bagian dari konstitusi
tertulis11. Sementara, Sri Soemantri dalam disertasinya, tidak membedakan istilah
konstitusi dengan undang-undang dasar12

7 Eric Barendt, An Introduction to Constitutional Law, London: Oxford

University Press, 1998, hal. 1.


8 Moh. Kusnardi dan Harmaly Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia,

Jakarta: Pusat Studi HTN, 1983, cet.5, hal.64-65


9 M.Solly Lubis, Asas-asas Hukum Tata Negara,Bandung: Alumni,1978

hal.45.
10 Joeniarto, Sumber-sumber Hukum Tata Negara di Indonesia, Yogyakarta:

Liberty, 1981, hal.22.


11 Van Apeldorn dalam E.Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia,

Jakarta: Ichtiar baru, 1983, hal. 108.


12 Sri Soemantri, Prosedur..op.cit. hal. 1.

9
Sifat Konstitusi

Konstitusi disamping bersifat yuridis juga memiliki makna sosiologis dan politis.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Herman Heller seorang sarjana Jerman, yang
membagi pengertian konstitusi ke dalam tiga pengertian13 :

K.C. Wheare F.B.A dalam buku Modern Constitution114, menjelaskan istilah


konstitusi, secara garis besarnya dapat dibedakan ke dalam dua pengertian, yaitu: Pertama,
istilah konstitusi dipergunakan untuk menunjuk kepada seluruh rules mengenai sistem
ketatanegaraan. Kedua, istilah konstitusi menunjuk kepada suatu dokumen atau beberapa
dokumen yang memuat aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan tertentu yang bersifat pokok
atau dasar saja mengenai ketetanegaraan suatu negara.

Pengertian konstitusi dan undang undang dasar menunjuk kepada pengertian hukum
dasar suatu negara, yang mengatur susunan organisasi pemerintahan15, menetapkan badan-
badan negara dan cara kerja badan tersebut16 , menetapkan hubungan antara pemerintah dan
warga negara17, serta mengawasi pelaksanaan pemerintahan18. Perbedaannya hanya terletak
pada proses terjadinya konstitusi itu19. Perbedaan istilah antara konstitusi dan undang-
undang dasar tidak menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Di Indonesia sendiri pernah
memakai kedua istilah tersebut, yaitu ketika tahun 1945 dan tahun 1950, hukum dasar
negara Indonesia diberi nama dengan istilah “undang-undang dasar” yaitu Undang
Undang Dasar 1945 dan Undang Undang Dasar Sementara 1950. Sementara pada tahun
1949 negara Indonesia menggunakan istilah “konstitusi” untuk menyebut hukum
dasarnya yakni Konsitusi Republik Indonesia Serikat.

13 Moh. Kusnardi dan Harmaly Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia,


Jakarta: Pusat Studi HTN, 1983, cet.5, hal.64-65.
14 K.C.W. Wheare F.B.A, Modern Constitution, London : Oxford University

Press, 1975, hal.1-2.


15 15K.C. Wheare, Modern Constitution, London, Oxford University Press,

1975, hal. 14
16 16James Bryce, dalam C.F. Strong, opcit, hal. 11.
17 17Ivor Jenning, The Laws and the Constitution, University of London,

1960, hal. 33.


18 18Russell F. Moore. Basic Comparative Government and Modern

Constitution, Iowa, 1957, hal. 3.


19 19Di lihat dari prosedur terjadinya undang-undang, istilah konstitusi

dapat dibedakan menjadi: (1) constitutie in materiele zin; (2) constitutie in


formele zin; dan (3) grondwet. Lihat: Djokosutono, opcit, 57

10
2.3. NEGARA KONSTITUSIONAL

Secara umum konstitusi dan negara merupakan dua lembaga yang tidak dapat
dipisahkan satu dengan yang lainnya 20. Bahkan setelah abad pertengahan dapat dikatakan,
tanpa konstitusi negara tidak mungkin terbentuk21. Setiap negara memiliki konstitusi tetapi
tidak setiap negara mempunyai undang undang dasar22. Inggris tidak punya Undang Undang
Dasar, namun bukan berarti Inggris tidak memiliki Konstitusi23. Konstitusi Inggris terdiri atas
berbagai prisip dan aturan dasar yang timbul dan berkembang selama berabad-abad sejarah
bengsa dan negerinya (konvensi konstitusi)24. Aturan dasar tersebut antara lain tersebar
dalam Magna Charta (1215), Bill of Rights (1689), dan Parliament Act (1911)25.

Konstitusi lahir sebagai suatu tuntutan dan harapan masyarakatnya untuk


mencapai suatu keadilan. Dengan didirikannya negara dan konstitusi, masyarakat
menyerahkan hak-hak tertentu kepada penyelenggara negara. Namun, tiap anggota
masyarakat dalam negara tetap mempertahankan hak-haknya sebagai pribadi. Negara dan
konstitusi didirikan untuk menjamin hak asasi itu. Hak-hak itu menjadi titik tolak
pembentukan negara dan konstitusi. Carl Schmitt dalam bukunya yang berjudul
Verfassungslehre, membagi konstitusi dalam empat pengertian.

20 “Negara” Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw telah


memiliki “Piagam Madinah” yakni piagam tertulis pertama dalam sejarah umat
manusia yang dapat dibandingkan dengan pengertian konstitusi nodern. Baca
Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionlisme Indonesia di Masa Depan,
opcit, hal. 16; dan Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum, Jakarta: Bulan
Bintang,1992, hal.12-13.
21 Pada jaman Negara Kedatuan Sriwijaya mengenal dua buah pertulisan

(683 M) di atas batu berbahasa Indonesia lama berisi peraturan-peraturan


hukum ketatanegaraan, yang oleh Muhammad Yamin disebut “Batu Konstitusi
Kedatuan Sriwijaya”, dan Batu Proklamasi Pembuatan Kedatuan Sriwijaya”,
Muhammad Yamin, Pembahasan Undang Undang Dasar Republik Indonesia, opcit,
hal. 109.
1957, hal. 34-50
22 22Commissie Staatkunde Leiden, opcit., hal. 27.
23 23Baca Eric Barendt, opcit, hal. 8
24 24Michael Allen and Brian, Cases & Materials on Constitutional &

Administrative Law, London, Blackstone Press, Ltd.1968 hal. 242


25 Russell F. Moore, Modern Constitutions, Ames, Iowa: Littlefield, Adam

& Co, 1957, hal. 34-50

11
Pengertian pertama terdiri atas empat sub pengertian, dan pengertian kedua terdiri atas
dua sub pengertian, sehingga seluruhnya berjumlah delapan26 arti; yang secara singkat
dapat diuraikan sebagai berikut27:

Pertama, Konstitusi dalam arti absolut. Pengertian ini mencakup empat sub
pengertian yaitu: (1) konstitusi sebagai kesatuan organisasi negara; (2) konstitusi sebagai
bentuk negara baik demokrasi ataupun monarki; (3) konstitusi sebagai faktor integrasi;
dan (4)konstitusi sebagai norma hukum dasar negara.

Kedua, Konstitusi dalam arti relatif. Maksudnya sebagai konstitusi yang


dihubungkan dengan kepentingan suatu golongan tertentu. Dalam pengertian ini
mencakup dua hal: (1) Konstitusi sebagai tuntutan dari golongan borjuis liberal agar hak-
haknya dijamin tidak dilanggar oleh penguasa; dan (2) Konstitusi dalam arti formil atau
konstitusi tertulis.

Ketiga, Konstitusi dalam arti positif, yang mengandung pengertian sebagai


keputusan politik yang tertinggi tentang sifat dan bentuk suatu kesatuan politik yang
disepakati oleh suatu negara28.

Keempat, Konstitusi dalam arti ideal. Disebut demikian karena ia merupakan


idaman atau cita-cita (golongan borjuis leberal) agar pihak penguasa tidak berbuat
sewenang-wenang terhadap rakyat.

Memperhatikan pandangan-pandangan di atas, timbul pertanyaan apakah suatu


konstitusi yang tidak memuat jaminan perlindungan negara terhadap hak asasi manusia

26 Djokosutono, Hukum Tata Negara, Dihimpun Harun Alrasid, Jakarta:


Ghalia Indonesia, Cet. Pertamja, 1982, hal. 33.
27
Carl Schmitt, Verfassungslehre, Duncer & Humbolt, Berlin Unverandester
neudruk, 1954, hal 4-41.
28Sebagai contoh dalam pengertian ini adalah Konstiotusi Wiemar tahun 1918,
baca: B.N. Marbun, Demokrasi Jerman, Perkembangan dan Masalahnya, Jakarta:
Sinar Harapan, 1983, hal. 30-35.
28
Sebagai contoh dalam pengertian ini adalah Konstiotusi Wiemar tahun
1918, baca: B.N. Marbun, Demokrasi Jerman, Perkembangan dan Masalahnya,
Jakarta: Sinar Harapan, 1983, hal. 30-35.

12
warganya dan juga isi pasal-pasalnya ternyata mengabaikan kedaulatan rakyat, dapat
dinyatakan sebagai suatu konstitusi? Apakah negara yang menggunakan konstitusi
tersebut layak disebut sebagai negara yang menganut sistem konstitusional?

Suatu negara yang memiliki konstitusi yang isinya mengabaikan ketiga hal pokok
di atas, dan tidak menempatkan kedaulatan di tangan rakyat, serta menempatkan semua
kekuasaan di tangan seorang pemimpin untuk digunakan menurut kepentingannya
sendiri, maka ia bukan merupakan negara konstitusional. Negara konstitusional bukan
sekedar konsep formal tetapi juga memiliki makna normatif. Secara historis, munculnya
pemerintahan konstitusional senantiasa berhubungan dengan terbatasnya negara dan
kekuasaan para pengelolanya29. Karena itu, Daniel S. Lev memandang
konstitusionalisme (abstraksi yang sedikit lebih tinggi daripada rule of law30 atau
rechstaat) berarti paham “negara terbatas” di mana kekuasaan politik resmi dikelilingi
oleh hukum yang jelas dan yang menerimanya akan mengubah kekuasaan menjadi
wewenang yang ditentukan secara hukum31.

Carl J. Friedrich dalam bukunya berjudul “Constitutional Government and


Democracy: Theory and Practice in Europe and America (1967)” berpendapat32:
Konstitusionalisme adalah gagasan bahwa pemerintah merupakan suatu kumpulan
aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, tetapi yang tunduk kepada beberapa
pembatasan yang dimaksud untuk memberi jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan
untuk pemerintahan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk
memerintah. Pembatasan yang dimaksud termaktub dalam konstitusi.

29 Larry Alexander, Editor, Constitutionalism, Philosophical Foundations,


Cambridge, University Press, 2001, hal. 16.
30
30Paham rule of law ini mencakup tiga unsur utama, yaitu: (1)
Supremacy of law, (2) equality before the law, dan (3) constitution based on
individual rights. Lihat: A.V. Dicey, Introduction to the Study of the Law of
the Constitution, London, 1971, hal. 222-224.
31
31Daniel S. Lev, Hukum dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan
Perubahannya, Jakarta: LP3S, cet.1, 1990, hal. 514.
32
32Carl J.Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory
and Practice in Europe and America, Waltham, Massachusetts, Toronto-London:
Blaidell Publishing Company, Edisi IV, 1967, hal. 123-133; dan Miriam
Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta : PT Granedia, 1985, cet. IX,
hal 56-57.

13
Jadi konstitusi memiliki fungsi untuk mengorganisir kekuasaan agar tidak dapat
digunakan secara paksa dan sewenang-wenang. Konstitusi dalam pengertian ini juga
biasanya memuat nilai-nilai yang terdapat dalam prinsip klasik pemisahan kekuasaan
seperti yang diformulasikan oleh Montesquieu dalam L’Espirit des Lois (1748)33.

Di dalam gagasan konstitusinalisme, konstitusi atau undang-undang dasar tidak hanya


merupakan suatu dakumen yang mencerminkan pembagian kekuasaan (anatomy of a
power relationship), seperti antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Akan tetapi dalam
gagasan konstitusionalisme, konstitusi atau undang-undang dasar dipandang sebagai
suatu lembaga yang mempunyai fungsi khusus, yaitu menentukan dan membatasi
kekuasaan di satu pihak dengan melakukan perimbangan kekuasaan antara eksekutif,
parlemen dan yudikatif. Sementara di pihak lain menjamin hak-hak asasi dan hak-hak
politik dari warganegaranya. Konstitusi dipandang sebagai perwujudan dari hukum
tertinggi yang harus dipatuhi oleh negara dan pejabat-pejabat pemerintah, sesuai dengan
dalil: “Government by laws, not by men” Negara yang menganut gagasan ini dinamakan
Constitutional States (negara konstitusional)34. Sementara Adnan Buyung Nasution
dalam desertasinya, mengatakan bahwa yang dimaksud negara konstitusional adalah
pertama-tama ia merupakan negara yang mengakui dan menjamin hak-hak warga negara,
serta membatasi dan mengatur kekuasaannya secara hukum35. Pandangan ini sejalan
dengan pendapat Muhammad Yamin, yang mengatakan bahwa dalam pengertian
konstitusionalisme harus dipenuhi persyaratan36:

1. bahwa pengakuan dan deklarasi hak-hak asasi manusia merupakan persyaratan


mutlak bagi setiap deklaraasi kemerdekaan suatu negara;
2. kekuasaan rakyat atau kedaulatan harus diselaraskan dengan keadilan;

33Eric Barendt, opcit, hal. 14.


34 Miriam Budiardjo, opcit., hal. 57
35 Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di

Indonesia, Jakarta: Grafity, 1995, hal. 118.


36 Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, jilid I.

Jakarta,: Yayasan Prapanca, 1959, hal. 231.

14
3. kedaulatan rakyat dan kesejahteraan rakyat tidak hanya perlu dicatat dalam istilah
yang jelas, tetapi harus diwujudkan pula dalam pasal-pasal yang jelas di dalam
undang-undang dasar.

Demikian juga seperti yang dikatakan oleh Greg Russell dalam Jurnal Demokrasi37,
bahwa di bawah teori konstitusional, tak bisa tidak, pemerintah harus adil dan bertindak
bijaksana, bukan hanya dari sudut pandang perasaan mayoritas namun juga diiringi ketaatan
terhadap hukum yang lebih tinggi tingkatannya, yang oleh Deklarasi Kemerdekaan
dinyatakan sebagai “Hukum-hukum Alam dan Tuhan Penguasa Alam”.

37
Greg Russell, Bentuk Pemerintahan Berdasarkan Konstitusi Amerika dan Negara-negara Lain” dalam “Jurnal
Demokrasi”, Office of International Informayion Programs U.S. Departement af State, tanpa tahun, hal. 10.

15
BAB III
PERAN KONSTITUSI
DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa negara konstitusi merupakan suatu
organisasi dari kelompok-kelompok manusia yang bersama-sama mendiami suatu wilayah
tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan
sekelompok atau beberapa kelompok manusia tersebut, yang diatur dengan aturan-aturan dasar
(fundamental) yang dibentuk di dalam mengatur hubungan antar negara dan warga negara.
Konstitusi lahir sebagai usaha untuk melaksanakan dasar negara. Dasar negara memuat norma-norma
ideal, yang penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi)

3.1. Konstitusi Di Indonesia


3.1.1. Hukum Dasar Tertulis (UUD)

UUD itu rumusannya tertulis dan tidak berubah. Adapun pendapat L.C.S wade dalam
38
bukunya contution law , UUD menurut sifat dan fungsinya adalah suatu naskah yang
memaparkan kerangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu
Negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut jadi UUD itu
mengatur mekanisme dan dasar dari setiap sistem pemerintahan.

UUD juga dapat dipandang sebagai lembaga/sekumpulan asas yang menetapkan


bagaimana kekuasaan tersebut bagi mereka memandang suatu Negara dari sudut
kekuasaan dan menganggapnya sebagai suatu organisasi kekuasaan.Adapun hal tersebut
di bagi menjadi tiga badan legislatif,eksekutif dan yudikatif.

UUD menentukan cara-cara bagaimana pusat-pusat kekuasaan ini bekerjasama dan


menyesuaikan diri satu sama lain. UUD merekam hubungan-hubungan kekuasaan dalam
satu Negara. Dalam penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa UUD 1945 bersifat singkat

38

16
dan supel, UUD 1945 hanya memilik 37 pasal, adapun pasal-pasal lain hanya memuat
aturan peralihan dan aturan tambahan yang mengandung makna:

1. Telah cukup jikalau UUD hanya memuat aturan-aturan pokok, hanya memuat grafis
besar intruksi kepada pemerintah pusat dan semua penyelenggara Negara untuk
menyelenggarakan kehidupan Negara dan kesejahteraan social.
2. Sifatnya harus supel (elastic) dimaksudkan bahwa kita harus senantiasa ingat bahwa
masyarakat ini harus terus berkembang dan dinamis seiring perubahaan zaman . Oleh
karena itu, makin supel sifatnya aturan itu makin baik. jadi kita harus menjaga agar
sistem dalam UUD itu jangan ketinggalan zaman.

Sifat-sifat UUD 1945


1. Bersifat hukum positif yang mengikat pemerintah sebagai penyelenggara Negara
maupun mengikat bagi warga Negara.
2. UUD 1945 itu bersifat supel dan singkat karena memuat aturan-aturan pokok yang
setiap kali harus di kembangkan sesuai dengan perkembangan zaman dan memuat
ham.
3. Memuat norma-norma/aturan-aturan/ketentuan-ketentuan yang dapat dan harus
dilaksanakan secara kontituional.
4. UUD 1945 dalam tertib hukum Indonesia merupakan peraturan hukum positif yang
tertinggi,disamping itu sebagai alat kontrol terhadap norma-norma hukum positif
yang lebih rendah dalam hirarki tertib hukum Indonesia.

3.1.1. Hukum Dasar Tidak Tertulis (Convensi )

Convensi adalah hokum dasar yang tak tertulis yaitu aturan-aturan dasar yang
timbul dan terperihara dalam praktek penyelenggaraan Negara meskipun sifatnya tidak
tertulis.
Sifat-sifat Convensi
1. Merupakan kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara dalam praktek
penyelenggaraan Negara.

17
2. Tak bertentangan dengan UUD dan berjalan sejajar.
3. Diterima oleh seluruh rakyat/masyarakat
4. Bersifat sebagai pelengkap sehingga memungkinkan bawa convensi bias menjadi
aturan-aturan dasar yang tidak tercantum dalam UUD 1945.

Praktek-praktek penyelenggaraan Negara yang sudah menjadi hukum dasar tidak tertulis
antara lain:
 Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah mufakat.
Menurut pasal 37 ayat(1) dan (4) UUD 1945 segala keputusan MPR diambil
berdasarkan suara terbanyak tetapi sistem ini kurang jiwa kekeluargaan sebagai
kepribadian bangsa. Oleh karena itu, dalam praktek-praktek penyelenggaraan Negara
selalu di usahakan untuk mengambil keputusan berdasarkan musyawarah untuk
mufakat dan ternyata hampir selalu berhasil. Pungutan suara baru ditempuh jika
usaha musyawarah untuk mufakat sudah tak dapat dilaksanakan.
 Pidato kenegaraan presiden RI setiap 16 Agustus di dalam sidang DPR
Pidato presiden yang di ucapkan sebagai keterangan pemerintah tentang rencana
anggaran pendapatan belanja (RAPB) Negara pada minggu 1, pada bulan januari tiap
tahunnya.

Jika convensi ingin di jadikan rumusan yang bersifat tertulis maka yang berwenang
adalah MPR dan rumusannya bukan lah merupakan suatu hukum dasar melainkan
tertuang dalam ketetapan MPR dan tidak secara otomatis setingkat dengan UUD
melainkan sebagai suatu ketetapan MPR.

3.2. PERANAN KONSTITUSI DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA


DI INDONESIA

Negara dan konstitusi berhubungan sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha
untuk melaksanakan dasar negara. Dasar negara memuat norma-norma ideal, yang
penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi) Merupakan satu
kesatuan utuh, dimana dalam Pembukaan UUD 45 tercantum dasar negara Pancasila,

18
melaksanakan konstitusi pada dasarnya juga melaksanakan dasar negara. Bagi bangsa
Indonesia, negara dan konstitusi adalah dwitunggal. Jika diibaratkan sebagai bangunan,
negara adalah pilar-pilar atau tembok yang tidak bisa berdiri kokoh tanpa pondasi yang
kuat, yaitu konstitusi Indonesia. Hampir setiap negara memiliki konstitusi, terlepas dari
apakah konstitusi tersebut sudah berjalan optimal atau belum.

Kaitan antara negara dengan konstitusi adalah keterkaitan antar dasar negara dan
konsitusi tampak pada gagasan dasar, cita-cita, dan tujuan negara yang tertuang dalam
mukadimah atau Pembukaan Undang-Undang Dasar suatu negara. Pembukaan UUD
1945 merupakan suatu kebatinan negara. Pembukaan memuat asas kerohanian negara,
asas politik negara, asas tujuan negara, serta menjadi dasar hukum daripada undang-
undang. Pancasila dengan batang tubuh merupakan wujud yuridis konstitusional tentang
sesuatu yang telah dirumuskan dalam pembukaan. UUD 1945 adalah peraturan
perundangan teringgi negara Indonesia yang bersumberkan pada Pancasila.

Konstitusi memegang peranan dalam penyelenggaraaan negara, dimana diatur


jelas tugas negara dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 pada alinia
keempat, yang berbunyi:

“… melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
UndangUndang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan
Yang Maha Esa, … ”.

Negara memainkan perannya sesuai apa yang telah digariskan dalam Pembukaan
UUD 1945 tersebut, kita harus melihat landasan konstitusionalnya dalam pasal - pasal
UUD 1945. Berdasarkan ketentuan tentang “bentuk dan kedaulatan” yang dinyatakan

19
dalam bab I UUD 1945, yaitu “Pasal 1 ayat (1) Negara Indonesia ialah Negara
Kesatuan, yang berbentuk Republik”.

Sebagai bentuk negara kesatuan, maka peran negara sangat kuat terhadap seluruh
bangsa dan tanah air negara Indonesia. Bagaimana bentuk pelaksanaannya terlihat dari
pernyataan “…yang berbentuk republik..”, yang menunjukkan bahwa bentuk
pemerintahan negara adalah ”republik” dimana ciri utamanya adalah kepala negara
adalah Presiden. Dengan demikian tinggi atau rendahnya, kuat atau lemahnya peranan
negara sangat ditentukan oleh kekuasaan yang dimainkan oleh Presiden. Khususnya
kekuasaan yang ditujukan kepada fungsi dan peranan negara yang tercantum dalam
pembukaan UUD 1945 di atas. “Pasal 1 ayat (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat
dilaksanakan menurut UndangUndang dasar”. Ayat ini menyatakan bahwa kedaulatan
tertinggi berada di tangan rakyat, sistem pemerintahan yang digunakan adalah demokrasi.
Sebagai negara demokrasi harus sesuai dengan ketentuan yang dinyatakan dalam UUD
1945. Karakteristik demokrasi yang dituntut menurut UUD 1945 adalah semua lembaga
kenegaraan yang memiliki kekuasaan harus dipilih baik secara langsung maupun secara
tidak langsung. Kelembagaan negara menurut UUD 1945 dapat dibedakan atas
kelembagaan bersifat aktif, yaitu lembaga eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden) dan
legislatif (DPR dan DPD) dan kelembagaan negara yang bersifat pasif, yaitu kekuasaan
kehakiman/yudikatif (Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial).

Kelembagaan negara yang bersifat aktif harus dilakukan pengisian jabatan tersebut melalui
pemilihan umum secara langsung, yaitu pemilihan umum terhadap Presiden dan wakil Presiden
secara langsung sebagaimana yang dinyatakan dalam UUD 1945, pasal 6A ayat (1): “Presiden
dan wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat”. Pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden dalam satu pasangan secara langsung merupakan jawaban secara
historis dan politik kenegaraan Indonesia yang menghendaki legitimasi kekuasaan lebih kuat
sekaligus relevansi aspirasi dan keinginan rakyat. Dengan demikian Presiden dan wakil Presiden
memiliki kepercayaan yang luas untuk menjalankan kekuasaannya. Selain Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah (Majelis Permusyawaratan Rakyat) sebagai
lembaga legislatif yang juga bersifat aktif, juga dipilih secara langsung melalui pemilihan umum
sebagaimana dinyatakan oleh UUD 1945 pasal 19 ayat (1): ”anggota Dewan Perwakilan Rakyat
dipilih melalui pemilihan umum”. Begitu juga dengan Dewan Perwakilan Daerah menurut UUD
1945 pasal 22C ayat (1):anggota Dewan perwakilan daerah dipilih dari setiap provinsi melalui
pemilihan umum”.

20
Pemilihan Umum (Pemilu) adalah sarana demokrasi untuk menyelenggarakan pemilihan
anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (pasal
22E ayat (2). Pemilihan umum anggota lembagalembaga negara tersebut memiliki karakter
tersendiri, yaitu:

1. Pemilihan anggota DPR dan DPRD melalui kelembagan partai politik, dimana dominasi
partai berperan menentukan sesiapa yang dapat dicalonkan oleh partai politik tersebut.
Rakyat yang berdaulat dibayangbayangi oleh simbol partai politik untuk memilih wakil
yang mereka kehendaki. Kesan partai politik lebih dominan terhadap rakyat pemilih
berbanding calon/personal, disini akan terjadi calon wakil rakyat dengan rakyat pemilih
kurang dikenal, sekalipun berbagai sistem pemilihan umum telah disempurnakan
memalui perubahan – undang pemilihan. Kualitas partai politik dan kesadaran serta
pemahaman (pendidikan politik) makna demokrasi bagi warga negara sangat
mempengaruhi terhadap kualitas wakil rakyat yang dipilih melalui pemilihan umum.
2. Pemilihan anggota DPD adalah perseorangan sesuai pasal 22E ayat (4). Pemilihan
anggota DPD kurang populer bagi masyarakat umum, lembaga ini hanya sekedar
pelengkap disamping DPR dalam menempatkan fungsinya sebagai Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pendekatan personal dari caloncalon DPD untuk dipilih
dalam pemilihan umum belum menyangkau rasionalisasi massa, apalagi UUD 1945
menempatkan DPD sebagai lembaga negara dalam posisi sangat lemah, sebagaimana
yang dinyatakan dalam UUD 1945 pasal 22D, dengan kalimat kerja “…dapat
mengajukan kepada DPR… ”, “… ikut membahas…” dan ”… dapat melakukan
pengawasan…”, semua terkait dengan otonomi daerah, namun demikian keputusan
dalam legislasi berada di bawah kekuasaan DPR.
3. Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana dinyatakan dalam pasal 6A
ayat (1) UUD 1945 ”… secara langsung oleh rakyat”. Hal ini mengandung makna bahwa
legitimasi Presiden dan Wakil Presiden sangat kuat. Sekalipun pencalonan Presiden dan
Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik, namun warga
negara yang berhak memilih fokus kepada personal tanpa simbolsimbol partai. Hal ini
berbeda dengan pemilihan anggota DPR yang lebih menonjolkan simbol partai politik.
Dengan demikian legitimasi dan kedekatan secara psikologis Presiden dan Wakil
Presiden lebih kuat berbanding DPR dihadapan rakyat. Presiden sebagai kepala negara
dan kepala pemerintah merupakan simbol ”republik” dan lebih dominan memainkan kuat
dan lemahnya peranan negara.

Kelembagaan negara yang bersifat pasif, juga memiliki peranan sebagaimana diamanatkan
dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yaitu: Negara Indonesia adalah negara hukum. Ketentuan
kekuasaan kehakiman dinyatakan dalam konstitusi, sebagai berikut:

Pertama, pasal 24 ayat (1): ”Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.” Pasal ini merupakan
jaminan tegaknya hukum dan keadilan sebagai syarat dari negara hukum atau rule of law,

21
kekuasaan manapun tidak boleh mencampuri kekuasaan kehakiman, termasuk Presiden. Dibalik
itu Presiden dalam menjalankan kekuasaannya harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Kedua,
sebagai negara hukum, hukum harus sesuai dengan rasa keadilan masyarakat, jaminan bahwa
hukum memiliki rasa keadilan masyarakat dapat dilihat dalam dua ketentuan dalam UUD 1945,
yaitu: Pasal 24A ayat (1), menyatakan bahwa: ”Mahkamah Agung berwenang… , menguji
peraturan perundangundangan dibawah undangundang terhadap undangundang… ”. Ketentuan
ini menunjukkan bahwa pemerintah atau Presiden dan aparturan negara lainnya yang berwenang
mengeluarkan hukum (Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan
Daerah dan lainlainnya) harus mampu menterjemahkan undangundang sesuai dengan citacita
hukum dan rasa keadilan masyarakat . Pasal 24C ayat (1) menyatakan bahwa: ”Mahkamah
Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat
final untuk menguji undangundang terhadap UndangUndang Dasar,…memutuskan pembubaran
partai politik,…”. Ketentuan ini menunjukkan adanya jaminan supremasi hukum yang berjiwa
keadilan, hukum berada diatas kekuasaan, keputusan yang dibuat oleh lembaga eksekutif
bersama legislatif dapat dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) apabila menurut penilaian
MK tidak sesuai atau bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. Sembilan orang hakim
memiliki integritas yang tidak diragukan keahliannya, sesuai pasal 24C ayat (5) ” … memiliki
integriatas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan
ketatanegaraan…”. Hakim MK ditetapkan oleh Presiden (secara administratif) yang berasal dari
pengajuan masingmasing tiga orang dari Presiden, Mahkamah Agung dan Dewan Perwakilan
Rakyat (pasal 24C ayat (3). Berdasarkan ketentuan UUD 1945 peranan negara pada hakekatnya
dominasi dari kekuasaan Presiden, sedangkan lembaga lagi lebih banyak memberikan
pengawasan secara legislasi yang diperankan oleh DPR dan DPD serta pengawasan judisial oleh
lembaga kekuasaan kehakiman, khususnya MA dan MK.

Kekuasaan Pemerintahan

Sistem presidensial dalam UUD 1945 mengacu kepada kedudukan dan peran sentral dari
presiden dalam penyelenggaraan negara. Presiden memimpin administrasi negara,
mengendalikan pemerintahan sebagai pemimpin tertinggi lembaga eksekutif dan juga sebagai
kepala negara. Ketika Presiden secara sah memenangi pemilu, dia memperoleh mandat langsung
dari rakyat dan menjadi pemimin administrasi negara, sebagai kepala negara, Presiden secara
moral dan hukum menampilkan semua gerak dan kegiatan negara secara nyata. Menjaga
keharmonisan dan keserasian pelaksanaan fungsi masingmasing institusi yang ada dalam negara
merupakan dimainkan oleh sang kepala negara (Presiden).

Kewenangan konstitusional kepala negara ditandai dengan kewenangan yang dimilikinya dalam
penggunaan hak prerogatif sebagaimana dinyatakan dalam pasal 10 sampai dengan pasal 15
UUD 1945, seperti: memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan darat, laut dan udara,
membuat perdamaian dengan negara lain, menyatakan keadaan bahaya, memberi grasi, amnesti,
abolisi, rehabilitasi, mengangkat dan menerima duta.

Berdasarkan ketentuan dalam UUD 1945 peranan negara cukup kuat dilihat dari segi hukum
sebagaimana yang dinyatakan diatas, namun demikian implementasinya sangat ditentukan

22
kepada pejabat yang menjalankan ketentuan peran negara tersebut. Rendahnya kemampuan dan
semangat penyelenggara negara menyebabkan makna yang terkandung dalam tugastugas
kenegaraan dalam UUD 1945 kurang berfungsi. Apabila kita melihat kembali penjelasan UUD
1945 (sebelum direformasi) dinyatakan bahwa bagaimanapun baik suatu undangundang dasar
apabila semangat penyelenggaranya kurang, maka peranan negara yang telah baik dan kuat
dalam undangundang dasar tidak mempunyai arti, sebaliknya apabila semangat penyelenggara
negaranya adalah baik, sekalipun undangundang dasar kurang sempurna, maka jalannya
kenegaraan boleh jadi lebih baik, yang penting adalah semangat penyelenggara negaranya.

Pada era reformasi dari awalnya banyak harapan rakyat yang ditumpukan kepada negara agar
neara mampu berperan sebagaimana diamanatkan UUD 1945, namun demikian setelah
bergulirnya reformasi selama lebih 10 tahun kepercayaan masyarakat pada kemampuan negara
mengelola berbagai permasalahan tampaknya menipis. Dispartitas yang tinggi antara problem
dan tingkat kepuasan terhadap penanganan masalah bangsa menunjukkan komponen kenegaraan
belum optimal menangani berbagai masalah (Sultani, 5), negara terkesan tidak memiliki pijakan
yang kuat sehingga kerap tergagap dalam menghadapi problem penting yang muncul, sering
persoalan dibiarkan mengambang tanpa penyelesaian bersifat substansial, seperti masalah
korupsi dan kemiskinan adalah problem yang besar, negara bersikap defensif dalam
menghadapinya persoalan pada Bank Century, mafia pajak, mafia hukum dan lainlainnya yang
berakhir dengan antiklimaks. Dalam persoalan kemiskinan Kompas, 114 201, negara cenderung
menampilkan agregat kenaikan pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi menutupi jurang kaya –
miskin yang semakin mendalam.

Berdasarkan jajak pendapat (Sultani, 5), tentang tingkat kepuasan masyarakat dengan upaya
yang dilakukan negara untuk menyelesaikan persoalanpersoalan, korupsi, ancaman terorisme,
kriminalitas, kekerasan sosial, harga barang dan biaya hidup, pengangguran dan ketimpangan
sosial, pengelolaan keuangan daerah era otonomi, sikap Dewan Perwakilan Rakyat. Persoalan
tersebut masyarakat merasakan tidak puas antara diatas 80%, kecuali terroris (66,7%).
Berdasarkan data diatas menunjukkan lemahnya negara dalam mengemban tugas berbeda dengan
ketentuan yang telah digariskan dalam UUD 1945.

Dilema melemahnya peran negara apabila dilihat fokus kekuasaan berada di tangan lembaga
eksekutif yang mempunyai otoritas legal dalam melakukan tindakan langsung kepada rakyat
dalam bentuk kebijakankebijakan diberbagai bidang untuk memecahkan persoalan bangsa dan
negara. Kelemahan eksekutif disamping faktor karakter manajemen atau kepemimpinan yang
dimainkan oleh personal, juga keraguan pengambilan keputusan akibat tekanan pluralis opini
secara internal dan eksternal. Kondisi ini sebagai suau gejala saling ketergantungan dalam proses
kekuasaan politik di era globalisasi, sekalipun UUD 1945 telah memberikan landasan yuridis
kepada pemegang kekuasaan, namun sulit bagi penguasan untuk menjalankan peranan negara itu
secara maksimal. Inilah suatu dilematis peranan negara di era global yang dipikirkan solusinya.

23
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa negara


konstitusional adalah suatu negara yang melindungi dan menjamin terselenggaranya hak-
hak asasi manusia dan hak-hak sipil lainnya serta membatasi kekuasaan pemerintahannya
secara berimbang antara kepentingan penyelenggara negara dan warga negaranya.
Pembatasan yang termaksud tertuang di dalam suatu konstitusi. Jadi bukan semata-mata
karena negara yang dimaksud telah memiliki konstitusi

1. Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa kelompok


manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah (territorial) tertentu
dengan mengakui adanaya suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan
keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang ada di wilayahnya

24
2. Konstitusi diartikan sebagai peraturan yang mengatur suatu negara, baik yang
tertulis maupun tidak tertulis. Konstitusi memuat aturan-aturan pokok
(fundamental) yang menopang berdirinya suatu negara
3. Negara dan konstitusi berhubungan sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha
untuk melaksanakan dasar negara.Bagi bangsa Indonesia, negara dan konstitusi
adalah dwitunggal.
4. Perubahan yang begitu besar menimbulkan implikasi terhadap struktur
ketetanegaraan, yaitu terjadinya perubahan kelembagaan secara mendasar .
Implikasi perubahan tidak hanya terjadi terhadap struktur lembaga-lembaga negara
tetapi juga perubahan terhadap sistem ketatanegaraan secara keseluruhan.

4.2. SARAN

Bagi pembaca diharapkan agar mengetahui apakah pengertian dari negara dan
konstitusi di Indonesia. Dengan mengetahui hakikat dari negara dan konstitusi, diharapkan
kita bisa menjadi warga negara yang baik dan mampu melaksanakan segala peraturan
yang tertuang dalam konstitusi secara optimal.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa negara


konstitusional adalah suatu negara yang melindungi dan menjamin terselenggaranya hak-
hak asasi manusia dan hak-hak sipil lainnya serta membatasi kekuasaan pemerintahannya
secara berimbang antara kepentingan penyelenggara negara dan warga negaranya.
Pembatasan yang termaksud tertuang di dalam suatu konstitusi. Jadi bukan semata-mata
karena negara yang dimaksud telah memiliki konstitusi.

25