Anda di halaman 1dari 40

PEMETAAN KROMOSOM DENGAN METODE CROSSING OVER

PERSILANGAN TRIHIBRIDISASI PADA D. melanogaster STRAIN


♀bcl >< ♂dp DAN ♀bvg >< ♂cl

Laporan Proyek
untuk memenuhi tugas matakuliah Genetika II
yang dibimbing oleh Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd

Disusun oleh:
kelompok 3 / offering B
Ifa Widayati (150341601080)
Lia Alfiani Rosyida (150341606455)
Ludvia Wijareni (150341607406)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Desember 2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu ciri yang dimiliki makhluk hidup adalah berkembangbiak,
dengan cara berkembangbiak maka suatu makhluk hidup akan mampu menambah
jumlah keturunannya. Berkembangbiak dilakukan dengan perkawinan yang
nantinya akan menghasilkan suatu keturunan. Keturunan mewarisi sifat parental,
salah satu sifat yang diwariskan dari parental tersebut adalah viabilitas (Wahyuni,
2012).
Setiap organisme yang hidup dipengaruhi oleh beberapa faktor luar dan
dalam, salah satu faktor dalam yang sangat mempengaruhi hidupnya suatu
organisme adalah gen. Gen merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam mahluk hidup, sedangkan lingkungan disebut faktor luar yang akan saling
mempengaruhi dengan gen–gen, sehingga makhluk hidup mempunyai kekhususan
secara anatomis, biokemis, fisiologis dan watak – watak tingkah laku (Stansfield,
1991). Jumlah gen dalam suatu sel jauh lebih besar daripada jumlah kromosom,
bahkan setiap kromosom mengandung ratusan atau ribaun gen. Gen-gen yang
terletak pada kromosom yang sama dan cenderung diwariskan berasama-sama
dalam persilangan genetik disebut sebagai gen-gen tertaut (Campbell, 2008).
Crossing over merupakan proses penukaran segmen dari kromatid-
kromatid bukan kakak beradik dari sepasang kromosom homolog (Suryo, 2008).
Pindah silang terjadi ketika kromosom-kromosom homolog tereplikasi
berpasangan saat profase meiosis I, sekumpulan protein mengontrol pertukaran
segmen-segmen yang bersesuaian dari satu kromatid paternal, akibatnya bagian-
bagian yang ujung dua kromatid bukan bersaudara bertukar tempat setiap kali
pindah silang terjadi (Campbell, 2008). Muller berpendapat bahwa suatu pindah
silang yang terjadi pada suatu tempat tentu menghambat terjadinya pindah silang
lain yang berdekatan, kejadian ini dinamakan interferensi. Untuk mencari
besarnya interferensi harus dicari besarnya koefisien koinsidens (KK) , yakni
perbandingan antara banyaknya pindah silang ganda yang sesungguhnya dengan
banyaknya pindah silang ganda yang diharapkan (Elrod & Stansfield, 2007).

2
Fertilisasi dari berbagai macam sel telur oleh sperma homozigot resesif
dan heterozigot menghasilkan populasi keturunan yang diantaranya menunjukkan
fenotipe rekombinan non parental, dengan menghitung keturunan rekombinan
maka dapat dilihat jarak antar gen dan dapat dibuat peta tautan. Peta tautan adalah
peta genetik yang dibuat berdasarkan frekuensi-frekuensi rekombinasi (Campbell,
2008). Pemetaan kromosom dibuat guna untuk mengetahui posisi-posisi relatif
gen-gen pada kromosom-kromosom yang sama. Semakin jauh jarak antara dua
gen, semakin jauh pula titik-titik diantara kedua tempat pindah silang akan dapat
terjadi (Corebima, 2013).
D. melanogaster atau lalat buah digunakan sebagai objek dalam penelitian
ini karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu mudah dipelihara dan
distribusinya kosmopolitan, sehingga mudah diperoleh. Strain yang digunakan
adalah bcl, dp, bvg, dan cl, alasan menggunakan stain tersebut adalah pada F1
persilangan single mutan dan double mutan yakni ♀bvg >< ♂cl dan ♀bcl >< ♂dp
, akan diperoleh anakan normal heterozigot kemudian disilangkan sesamanya
guna memperoleh hasil anakan F2 yang telah terjadi single dan double crossing
over sehingga memperoleh 5 macam anakan. Sehingga dengan membuat peta
tautan/pemetaan kromosom dari persilangan ♀bvg >< ♂cl dan ♀bcl >< ♂dp maka
nantinya akan diketahui jarak antara gen-gen yang barada pada strain b, vg, cl, dan
b, cl, dp.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti melakukan penelitian untuk
membuktikan masalah tersebut dengan judul “Pemetaan Kromosom dengan
Metode Crossing Over Persilangan Trihibridisasi Pada D. Melanogaster ♀bvg ><
♂cl dan ♀bcl >< ♂dp.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan diatas, dapat di rumuskan sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah pemetaan kromosom dari persilangan ♀bvg >< ♂cl?
2. Bagaimanakah pemetaan kromosom dari persilangan ♀bcl >< ♂dp?

3
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pemetaan kromosom dari persilangan ♀bvg >< ♂cl.
2. Mengetahui pemetaan kromosom dari persilangan ♀bcl >< ♂dp.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Menambah pengetahuan tentang fenomena pemetaan kromosom pada
Drosophila melanogaster.
2. Dapat menentukan peta pemetaan kromosom pada strain b, vg, cl, dan dp
melalui metode crossing over.

1.5 Asumsi Penelitian


Asumsi dasar yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pada persilangan F1 ♀bvg >< ♂cl dan ♀bcl >< ♂dp resiproknya dianggap
sama yang menghasilkan 100% anakan normal hetrozigot.
2. Seluruh kondisi medium dianggap sama.
3. Kondisi lingkungan seperti suhu, cahaya, kelembaban selama penelitian
dianggap sama.

1.6 Batasan Masalah


1. Persilangan F1 yang dilakukan adalah ♀bcl >< ♂dp dan ♀bvg >< ♂cl.
2. Persilangan F2 normal heterozigot dari persilangan ♀bcldp >< ♂bcldp dan
♀bvgcl >< ♂bvgcl
3. Stok Drosophila melanogaster strain bcl, dp, bvg, dan cl diperoleh dari
Laboratorium Genetika Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang.
4. Pengamatan fenotip dilakukan pada F2.

1.7 Definisi Istilah


1. Pemetaan kromosom adalah gambar sekema sebuah kromosom yang
dinyatakan sebagai sebuah garis lurus dimana diperlihatkan lokus setiap gen
yang terletak pada kromosom itu (Suryo, 2013)

4
2. Crossing over adalah proses penukaran segmen dari kromatid-kromatid
bukan kakak beradik dari sepasang kromosom homolog (Suryo, 2008).
3. Single crossing over adalah pindah silang yang terjadi pada satu tempat
(Suryo, 2013).
4. Double crossing over adalah pidah silang yang terjadi pada dua tempat
(Suryo,2013).
5. Persilangan F1 adalah keturunan pertama dari perkawinan antara individu
jantan dan betina.
6. Persilangan F2 adalah hasil keturunan kedua dari perkawinan antara individu
jantan dan betina dari hasil persilangan F1
7. Fenotipe adalah karakter yang dapat diamati pada suatu individu yang
merupakan hasil suatu interaksi genotip dengan lingkungan tempat hidup dan
berkembang (Corebima, 2013).
8. Double mutan adalah individu yang mengalami 2 mutasi pada tubunya.
(Suryo,2013)
9. Trihibrid adalah persilangan antara dua individu jantan dan betina dengan
tiga sifat beda (Corebima, 2013).

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sistematika Drosophila melanogaster


Salah satu spesies dari Drosophila adalah Drosophila melanogaster.
Menurut Borror (1992) sistematika Drosophila melanogaster adalah sebagai
berikut.
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Drosophilidae
Genus : Drosophila
Species : D. Melanogaster

2.2 Morfologi Drosophila melanogaster


D. melanogaster atau yang lebih dikenal dengan nama lalat buah merupakan
salah satu contoh dari insecta. Hewan ini sering digunakan sebagai objek
penelitian dalam bidang biologi khususnya bidang genetika. Kelebihan D.
melanogaster yang sering dijadikan objek penelitian dikarenakan D. melanogaster
merupakan organisme model bagi organisme multiseluler karena hanya memiliki
empat pasang kromosom sehingga mudah dipelajari (Ariyanto, 2008).
D. melanogaster wild-type, atau lebih dikenal sebagai lalat buah, normalnya
memiliki mata multifaset berwarna merah, toraks berwarna kuning kecoklatan
dengan rambut hitam yang melengkung dan tersebar. Memilikki garis-garis pada
abdomennya dan memiliki sepasang sayap yang transparan. D. melanogaster
memiliki siklus hidup yang pendek, jumlah kromosom sedikit, ukuran genom
kecil, dan memiliki kromosom yang besar pada kelenjar ludahnya, kromosom
yang berukuran besar inilah yang menyebabkan D. melanogaster sering
digunakan dalam penelitian genetika (Oltmanns, 2012).
D. melanogaster jantan dan betina memiliki perbedaan dalam hal morfologi.
Lalat betina mempunyai panjang sekitar 2,5 milimeter, sedangkan lalat jantan

6
berukuran lebih kecil dari lalat betina, dan mempunyai bintik hitam di bagian
abdomennya (Kimball, 1983).

2.3 Pindah Silang (Crossing Over)


Pindah silang (crossing over) merupakan peristiwa penukaran segmen dari
kromatid non sister dari sepasang kromosom homolog. Peristiwa pindah pertama
kali dijelaskan oleh Thomas Hunt Morgan untuk menjelaskan terjadinya
kombinasi rekombinan dari faktor-faktor yang disimpulkan saling terpaut
berdasarkan data genetik (Corebima, 2013). Robbin (2000) menyatakan bahwa
pindah silang lebih sering terjadi pada individu betina karena memiliki dua
kromosom X. Peristiwa pindah silang terjadi selama profase I meiosis (Pierce,
2005).
Pindah silang terjadi selama sinapsis dari dari kromosom homolog pada
zygote dan pachyten dari profase I meiosis. Replikasi kromosom berlangsung
selama interfase maka pindah silang terjadi pada tetrad pasca replikasi, pada saat
tiap kromosom mengganda sehingga telah terbentuk empat kromatid untuk tiap
pasangan kromosom homolog (Corebima, 2013). Kromosom-kromosom homolog
berpasangan satu proses yang disebut sinapsis dan titik-titik pertukaran genetik
disebut kiasma, menghasilkan gamet-gamet rekombinan melalui pindah silang
(Elrod & Stanfield, 2007).
Menurut Suryo (2013) ada dua macam pindah silang, yakni :
a. pindah silang tunggal, merupakan pindah silang yang terjadi pada satu tempat
dan membentuk 4 macam gamet. Dua macam gamet tipe parental dan dua
macam gamet tipe rekombinasi. Gamet-gamet tipe parental dibentuk dalam
jumlah yang lebih banyak karena tidak megalami gangguan pindah silang,
sedangkan gamet-gamet tipe rekombinasi dibentuk lebih sedikit. Akibatnya,
keturunan yang mempunyai sifat-sifat seperti parental selalu berjumlah lebih
banyak dibandingkan dengan keturunan tipe rekombinasi (Suryo, 2013).
b. Pindah silang ganda “double crossing over”, merupakan pindah silang yang
terjadi pada dua tempat. apabila pindah silang ganda berlangsung diantara dua
buah gen yang terangkai, maka terjadinya pindah silang ganda itu tidak akan
nampak dalam fenotip, sebab gamet-gamet yang dibentuk hanya dari tipe
parentalnya saja atau dari tipe rekombinasinya saja (Suryo, 2013).

7
Gambar 2.1 Pindah silang tunggal (single crossing over)
(Sumber: Snustad, 2012)

Berdasarkan gambar tersebut, pindah silang tunggal dapat memperoleh 4


macam gamet, yakni terdiri dari tipe anakan parental dan rekombinan. Pindah
silang tunggal ini juga terjadi pada ujung ujung kromosom saja.

Gambar 2.2 Pindah silang ganda (double crossing over)


(Sumber: Snustad, 2012)

Pada gambar tersebut Sturtevant menyadari bahwa peristiwa rekombinasi


ganda dapat terjadi jika gen berjauhan. Pada jarak yang sangat dekat maka
crossing over akan sulit terjadi. Ketika jarak antara dua gen meningkat maka
frekuensi crossing over juga akan meningkat. Peristiwa pindah silang mengasilkan
keturunan tipe parental dan tipe rekombinan. (Nps) adalah nilai yang menunjukan
besarnya presentase individu kombinasi baru yang dihasilkan akibat terjadinya

8
pindah silang (Suryo, 2013). Besarnya nilai pindah silang (Nps) dapat dihitung
menggunakan rumus berikut.
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑝𝑒 𝑟𝑒𝑘𝑜𝑚𝑏𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖
𝑁𝑝𝑠 = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢
Menurut Suryo (1996), jumlah perbandingan antara individu tipe parental
dengan individu rekombinan biasanya berbeda cukup jauh. Nilai pindah silang
kurang dari 50% karena,
1. hanya dua dari empat kromatid saja yang ikut mengambil bagian pada
peristiwa pindah silang
2. pindah silang ganda akan mengurangi banyaknya tipe rekombinasi yang
dihasilkan.
Menurut Suryo (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
pindah silang antara lain,
1. temperatur yang melebihi atau kurang dari temperatur biasa dapat
memperbesar kemungkinan terjadinya pindah silang.
2. makin tua umur suatu individu, maka kemungkinan terjadinya pindah silang
semakin kecil.
3. jarak antara gen-gen yang terangkai. Makin jauh letak satu gen dengan gen
lainnya, makin besar kemungkinan terjadinya pindah silang.
4. jenis kelamin mempengaruhi terjadinya pindah silang. Pada umumnya pindah
silang dijumpai pada makhluk hidup betina maupun jantan. Akan tetapi ada
perkecualian, yaitu pada ulat sutera (Bombix mori) betina tidak pernah terjadi
pindah silang.
5. penyinaran dengan sinar-X dapat memperbesar kemungkinan pindah silang.
6. zat kimia tertentu dapat memperbesar kemungkinan pindah silang.
2.4 Pemetaan Kromosom
Suryo (2010) menyatakan bahwa peta kromosom adalah gambar skema
sebuah kromosom yang dinyatakan sebagai sebuah garis lurus dimana
diperlihatkan lokus setiap gen yang terletak pada kromosom itu. Pemetaan
kromosom dilakukan dengan cara memanfaatkan data frekuensi rekombinasi
(hasil persilangan) yang merupakan akibat dari peristiwa pindah silang yang
terjadi selama meiosis. Informasi yang terungkap dari data frekuensi rekombinan
adalah jarak relatif antara dua faktor (gen) pada suatu kromosom. Jarak relatif

9
antara dua faktor (gen) itulah yang selanjutnya digunakan untuk memperlihatkan
posisi relatif faktor-faktor (gen) pada kromosom itu, dalam arti bahwa posisi salah
satu faktor dipandang sebagai posisi awal atau 0,0 (Corebima, 2013).
Di dalam gen terdapat lokus yang berupa angka untuk menunjukan jarak
antara gen itu dengan sentromer atau jarak antara satu gen dengan gen yang yang
lain, jarak itu ditandai dengan ukuran unit dan 1 unit = 1% pindah silang (Suryo,
2013).

6,2 10
__0_________________p________________q_
Gambar 2.3 Contoh Peta Kromosom
(Sumber: Suryo, 2013)

Contoh pada gambar di atas yaitu pada lokus gen p tertulis angka 6,2. Hal
ini menunjukkan bahwa jarak antara sentromer ke gen p ialah 6,2 unit. Pada lokus
gen q tertulis angka 10, yang menunjukkan bahwa jarak antar gen p dan q, ialah
10 – 6,2 = 3,8 unit. Jarak antar gen p dan q tersebut disebut dengan jarak peta,
sedangkan peta kromosom tanpa menunjukan letak sentromer dinamakan peta
relatif (Suryo, 2013).

13 17,7 26,2
Misal: __r__________s__________________t____
Gambar 2.4 Menunjukan peta relatip. Jarak antar gen r - s = 4,7; s – t = 8,5 unit; r – t = 13,2 unit
(sumber: Suryo, 2013)

Pada saat melakukan praktiknya, setiap perpindahan dari titik-titik tertentu


pada kromosom kita tidak dapat lihat secara nyata. Kita hanya dapat
memperkirakan adanya perpindahan tersebut dengan mengamati rekombinasi alel.
Kromosom dengan alel yang terekombinasi pasti muncul akibat adanya pindah
silang (Snustad, 2012).
Strain D. melanogaster yang digunakan adalah strain yang triple mutan.
Strain yang triple mutan yaitu strain yang mengalami mutasi pada tubuh, sayap,
dan mata. Dengan menggunakan dua gen yang terangkai, adanya pindah silang
ganda tidak dapat diketahui dari keturunan hasil uji silang. Maka dari hal tersebut
dapat dikatakan bahwa untuk membuat peta kromosom seharusnya kita
menggunakan gen rangkap tiga di saat dilakukannya uji silang (Suryo, 2010).

10
Gambar 2.5 Partial genetic map atau peta suatu bagian gen pada empat kromosom D.
melanogaster. Kromsosm I merupakan kromosom X, dan kromosom IV tidak digambar
dengan suatu skala tertentu, melainkan menunjukkan ukuran kromosom yang reltif kecil
(Sumber : Klug dkk, 2012)
2.5 Interferensi Genetik
Muller mengamati sebuah fenomena dimana terjadi satu persimpangan
yang mengganggu terjadinya persimpangan lain pada pasangan kromosom
homolog yang dinamakan fenomena interferensi. Pengkajian lebih lanjut
dilakukan tentang peluang peristiwa-peristiwa rekombinan pada suatu kromosom
tersebut berdiri sendiri satu sama lain atau ada interferensi. Menurut Suryo (2013)
interferensi adalah peristiwa pindah silang yang terjadi pada satu tempat tertentu
yang menghambat terjadinya pindah silang lainnya yg berdekatan. Interferensi
dapat dihitung dengan cara I = 1 – c. Besarnya c disebut koefisien koinsiden yang
merupakan hasil bagi (rasio), antara frekuensi peristiwa rekombinasi ganda yang
terjadi dan yang diharapkan (Corebima, 2013).

11
Besarnya nilai interferensi sangat tergantung kepada letak gen yang
terlibat pada peristiwa pindah silang. Apabila letak letak gen itu sangat jauh satu
sama lain atau tepisah oleh sentromer, maka nilai I dapat menajadi 0, sebaliknya
jika jarak kedua gen semakin dekat satu sama lain, maka nilai I semakin besar
(Corebima, 2013). Nilai interferensi yang memiliki rentang dari 0 – 1 disebut
interferensi positif. Nilai interferensi positif memperlihatkan bahwa pindah silang
pertama mempengaruhi (mengganggu) kejadian pindah silang kedua yang
berlangsung di dekatnya (Corebima, 2013).

2.6 Kerangka Konseptual


Persilangan Drosophila melanogaster strain ♀bcl >< ♂dp dan ♀bvg ><
♂cl yang akan digunakan untuk pemetaan kromosom, kerangka konseptual
sebagai berikut.

Setiap kromosom mengandung ratusan atau ribuan gen

Gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama dan cenderung diwariskan berasama-
sama dalam persilangan genetik disebut sebagai gen-gen tertaut.

Pindah silang adalah proses penukaran segmen dari kromatid-kromatid bukan saudara dari
sepasang kromosom homolog

Menghasilkan keturunan parental Menghasilkan keturunan rekombinan

Single crossing over Double crossing over

Pindah silang tunggal dapat Pindah silang ganda dapat


berlangsung apabila terdapat satu gen berlangsung apabila terdapat lebih
yang terangkai. dari dua gen yang terangkai.

12
Menghasilkan frekuensi rekombinan.

Menentukan jarak gen dan gen tengah

Membuat peta kromosom

Menghitung koefisien koinsiden dan koefisien interferensi

2.7 Hipotesis Penelitian


Hipotesis dari penelitian ini yaitu:
2.7.1 Dapat menentukan jarak antara tiga gen pada persilangan D. melanogaster
strain ♂bvg >< ♀cl.
2.7.2 Dapat menentukan jarak antara tiga gen pada persilangan D. melanogaster
strain ♂bcl >< ♀dp.

13
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Jenis penelitian yang ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif,
karena data yang diperoleh merupakan jumlah fenotip yang diamati pada
keturunan F2. Data yang diperoleh tersebut dianalisis dengan menggunakan
rekonstruksi kromosom kelamin dan dihitung frekuensi serta interferensi untuk
dapat dilakukan pemetaan kromosom.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian pemetaan kromosom ini dilakukan di Laboratorium Genetika
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Negeri Malang Gedung O5 lantai 3 ruang 310. Penelitian ini dilakukan pada bulan
September-November 2017.

3.3 Populasi dan Sampel


Populasi yang digunakan dalam penelitain ini adalah seluruh spesies
D.melanogaster yang ada pada Laboratorium Genetika Gedung O5 lantai 3 di
ruang 310 Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
D.melanogaster strain bcl, bvg, dp, dan cl.

3.4 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender, pisau, panci,
spatula, timbangan, botol selai, spons, selang ampul, selang sedotan, kuas,
gunting, spidol, mikroskop stereo, kompor gas, lemari es, kantong plastik, sendok
sayur, bolpoin, buku tulis.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisang rajamala, tape
singkong, gula merah, air, yeast, kertas pupasi, kertas label, tisu, kardus D.
melanogaster strain bvg, cl, bcl, dan dp.

14
3.5 Prosedur Kerja
3.5.1 Pembuatan Medium
1. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat medium, yakni
pisang rajamala, tape singkong dan gula merah dengan perbandingan 7:2:1
(700:200:100 gram) untuk satu resep.
2. Diiris bahan-bahan tersebut menjadi potongan-potongan kecil dan ditimbang
serta ditambahkan air secukupnya.
3. Dihaluskan bahan-bahan dengan menggunakan blender.
4. Dimasukkan bahan-bahan yang telah halus ke dalam panci.
5. Dimasak bahan-bahan selama 45 menit dan ditambahkan air secukupnya.
6. Dimasukkan medium ke dalam botol selai dan ditutup dengan spons dalam
keadaan panas.
7. Direndam pada baskom yang berisi air dingin dan ditunggu hingga dingin.
8. Ditambahkan yeast kurang lebih 5 butir setelah medium dlam botol dingin.
9. Dimasukkan kertas pupasi dalam botol biakan tersebut dan ditutup dengan
spons.

3.5.2 Pengamatan Fenotipe


1. D. melanogaster diambil jantan dan betina kemudian dimasukkan ke dalam
plastik supaya mudah di amati.
2. Diletakkan D. melanogaster pada meja mikroskop stereo.
3. Diamati masing-masing ciri fenotipe dari D. melanogaster strain bvg, cl, bcl,
dan dp.

3.5.3 Pembuatan Stok / Peremajaan


1. Dimasukkan medium ke dalam botol selai.
2. Ditambahkan yeast ± 5 butir.
3. Dimasukkan pupasi.
4. Dimasukkan beberapa pasang ± 3 pasang D. melanogaster strain bvg, cl, bcl,
dan dp pada masing-masing botol berisi medium yang telah disediakan.
5. Diberi label sesuai strain dan tanggal pemasukkan.

15
6. Bila telah terdapat pupa berwarna hitam, pupa tersebut diampul dalam selang
hingga menetas.

3.5.4 Persilangan F1
1. Diampul pupa yang sudah hitam dengan strain bvg, cl, bcl, dan dp.
2. Disilangkan pupa yang menetas dengan persilangan ♂bvg><♀cl dan
♂bcl><♀dp, masing-masing 3 kali ulangan (usia lalat maksimal 3 hari).
3. Diberi label sesuai strain, ulangan, dan tanggal.
4. Dilepaskan induk jantan setelah persilangan dua hari.
5. Dipindahkan induk betina setelah muncul larva.
6. Diambil pupa hitam hasil persilangan F1.
7. Diamati fenotip anakan hasil persilangan F1.
8. Diampul pupa hasil persilangan F1 yang akan digunakan untuk persilangan F2.

3.5.5 Persilangan F2
1. Disilangkan ♂N><♀N dari persilangan F1.
2. Dilepaskan indukan jantan setelah persilangan berumur 2 hari.
3. Setelah muncul larva pada persilangan tersebut, induk betina dipindahkan ke
botol B hingga botol D.
4. Diamati fenotip dan jumlah anakan dari pupa yang menetas sampai hari ke-7.
5. Dimasukkan hasil pengamatan pada data pengamatan.

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Pada penelitian pemetaan kromosom ini, teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah dengan mengamati dan menghitung jumlah fenotip yang
muncul pada F2 dari masing-masing persilangan yang telah dilakukan. Data
diambil dari hari pertama menetasnya larva hingga hari ke tujuh pada masing-
masing persilangan, ulangan, dan jenis botol. Data yang diperoleh kemudian
disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Fenotip Jumlah anakan hari ke-


No. Persilangan Total
F2 1 2 3 4 5 6 7
1 ♀bvg >< ♂cl N

16
cl
bvg
vg
b
N
dp
2 ♀bcl >< ♂dp bcl
cl
b

3.7 Teknik Analisis Data


Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis
deskriptif karena penelitian yang kami lakukan merupakan penelitian yang
bersifat Kuantitatif.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan
melakukan perhitungan frekuensi rekombinasi dari hasil persilangan yang telah
dilakukan. Data yang digunakan untuk menghitung frekuensi rekombinasi adalah
data fenotip F2 yang menghasilkan 5 tipe anakan. Besarnya nilai frekuensi
rekombinan dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ 𝑡𝑖𝑝𝑒 𝑟𝑒𝑘𝑜𝑚𝑏𝑖𝑛𝑎𝑛
Frekuensi rekombinan = ∑ 𝑝𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙+ ∑ 𝑟𝑒𝑘𝑜𝑚𝑏𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑥 100 %

Setelah menghitung frekuensi rekombinan, kemudian membuat peta


kromosom dari strain D. melanogaster yang telah diperoleh. Selanjutnya
menghitung koefisien koeinsidensi dan koefisien interferensi.
Perhitungan nilai koefisien koeinsidensi (KK) menggunakan rumus
sebagai berikut:
𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑔𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎
KK = 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑔𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛

Sedangkan perhitungan nilai koefisien interferensi (KI) menggunakan


rumus sebagai berikut:
KI = 1 – KK

17
BAB IV
DATA DAN ANALISA DATA
4.1 DATA
4.1.1 Hasil Pengamatan Fenotip
Tabel 4.1. Ciri-ciri Fenotip Strain Parental/Indukan
No Strain Gambar Keterangan

 Warna tubuh kuning kecoklatan


 Mata berwarna merah
 Faset mata halus
1 bvg
 Sayap menutupi tubuh dengan
sempurna
(sumber : Dokumen Pribadi)

 Warna tubuh kuning kecoklatan


 Mata berwarna coklat
2 cl  Sayap menutupi tubuh dengan
sempurna
(sumber : Dokumen Pribadi)

 Warna tubuh hitam


 Mata berwarna coklat
3 bcl  Sayap menutupi tubuh dengan
sempurna
(sumber : Dokumen Pribadi)
 Warna tubuh kuning kecoklatan
 Mata berwarna merah
 Sayap tidak menutupi tubuh
4 dp
dengan sempurna, ujung sayap
berlekuk
(sumber : Dokumen Pribadi)

18
 Warna tubuh kuning kecoklatan
 Mata berwarna merah
 Faset mata halus
5 N
 Sayap menutupi tubuh dengan
sempurna
(sumber : Dokumen Pribadi)
 Warna tubuh kuning kecoklatan
 Mata berwarna merah
 Sayap tidak menutupi tubuh
6 vg
dengan sempurna, ujung sayap
berlekuk
(sumber : Dokumen Pribadi)

 Warna tubuh hitam


 Mata berwarna merah
7 b  Sayap menutupi tubuh dengan
sempurna
(sumber : Dokumen Pribadi)

4.1.2 Data Perhitungan Anakan F2


Tabel 4.4. Anakan Dari Persilangan ♀N (♀bvg >< ♂cl) >< ♂N (♀bvg >< ♂cl)
Persilangan Fenotipe U1 U2 U3  Total
N 174 109 69 352
P1 ♀bvg
cl 97 54 26 177
>< ♂cl
bvg 27 26 18 71
P2 ♀N ><
vg 55 34 17 106
♂N
b 67 53 25 145
 Total 851

Tabel 4.5. Anakan Dari Persilangan ♀N (♀bcl >< ♂dp) >< ♂N (♀bcl >< ♂dp)
Persilangan Fenotip U1 U2 U3  Total

19
N 35 109 60 204
P1 ♀bcl >< dp 9 20 26 55
♂dp bcl 6 25 10 41
P2 ♀N >< cl 2 16 14 32
♂N b 5 6 10 21
 Total 353

4.2 ANALISA DATA


4.2.1 Rekonstruksi Persilangan
4.2.1.1 Rekonstruksi kromosom dari persilangan ♀bvg >< ♂cl
P1 = ♀bvg (homozigot) >< ♂cl (homozigot)
b vg cl+ >< b+vg+cl
b vg cl+ b+vg+cl
G1 = b vg cl+ , b+vg+cl
F1 = b+vg+cl (N heterozigot)
b vg cl+
P2 = ♀N (♀bvg >< ♂cl) >< ♂N (♀bvg >< ♂cl)

b+vg+cl >< b+vg+cl


b vg cl+ b vg cl+
G2 = b+ b b+ b+ b b
vg+ vg vg + vg+ vg vg
cl cl+ cl cl cl+ cl+

Single crossing over 1 (SCO I)


b+ b b+ b
vg vg+ vg vg+
cl+ cl cl+ cl
Double crossing over (DCO)
b+ b b+ b

20
vg vg+ vg vg+
cl cl+ cl cl+
Single crossing over 2 (SCO II)
b+ b b+ b
vg+ vg vg+ vg
cl+ cl cl+ cl
F2 =
♂ b+vg+cl b vg cl+

b+vg+cl Cl N
b vg cl+ N bvg
b+vg cl N vg
b vg+cl Cl b
b+vg cl Cl vg
b vg+cl+ N b
b+vg+cl+ N N
b vg cl Cl bvg

Anakan : N: cl : bvg : vg : b
6: 4: 2: 2: 2

4.2.1.2 Rekonstruksi kromosom dari persilangan ♀bcl >< ♂dp


P1 = ♀bcl (homozigot) >< ♂dp (homozigot)
b cl dp+ >< b+cl+dp
b cl dp+ b+cl+dp
G1 = b cl dp+ , b+cl+dp
F1 = b cl dp+ (N heterozigot)
b+cl+dp+
P2 = ♀N (♀bcl >< ♂dp) >< ♂N (♀bcl >< ♂dp)

b cl dp+ >< b cl dp+


b+cl+dp b+cl+dp

21
G2 = b b+ b b b+ b+
cl cl+ cl cl cl+ cl+
dp+ dp dp+ dp+ dp dp
Single crossing over 1 (SCO I)
b b+ b b+
cl+ cl cl+ cl
dp dp+ dp dp+
Double crossing over (DCO)
b b+ b b+
cl+ cl cl+ cl
dp+ dp dp+ dp
Single crossing over 2 (SCO II)
b b+ b b+
cl cl+ cl cl+
dp dp+ dp dp+
F2 =
♂ b cl dp+ b+cl+dp

b cl dp+ bcl N
b+cl+dp N dp
b cl+dp b dp
b+cl dp+ cl N
b cl+dp+ b N
b+cl dp cl dp
b cl dp bcl dp
b+cl+dp+ N N
Anakan : N: dp : bcl : cl : b
6: 4: 2: 2: 2

4.2.1.3 Pemetaan Kromosom dari persilangan ♀bvg >< ♂cl


Kemungkinan 1 parental

22
♂ b+vg+cl b vg cl+

b+vg+cl cl N
b vg cl+ N bvg
Kemungkinan 2 rekombinasi cl (single crossing over)
♂ b+vg+cl b vg cl+

b+vg+cl+ N N
b vg cl cl bvg
Kemungkinan 3 rekombinasi vg (double crossing over)
♂ b+vg+cl b vg cl+

b+vg cl cl vg
b vg+cl+ N b
Kemungkinan 4 rekombinasi b (single crossing over)
♂ b+vg+cl b vg cl+

b vg+cl cl b
b+vg cl+ N vg

Persamaan
𝟐 𝟐 𝟏 𝟏
N = 𝟒 P + 𝟒 Rcl + 𝟒 Rvg + 𝟒 Rb
2 2 1 1
352 = 4 P + 4 Rcl + 4 Rvg + 4 Rb
𝟏 𝟏
bvg = 𝟒 P + 𝟒 Rcl
1 1
71 = 4 P + 4 Rcl
𝟏 𝟏 𝟏 𝟏
cl = 𝟒 P + 𝟒 Rcl + 𝟒 Rvg + 𝟒 Rb
1 1 1 1
177 = 4 P + 4 Rcl + 4 Rvg + 4 Rb
𝟏 𝟏
vg = 𝟒 Rvg + 𝟒 Rb
1 1
106 = 4 Rvg + 4 Rb

23
𝟏 𝟏
b = 𝟒 Rvg + 𝟒 Rb
1 1
145 = 4 Rvg + 4 Rb

P = 50% x jumlah total anakan


= 50% x 851
= 426
Nilai Rcl
Eliminasi
2 2 1 1
352 = P + Rcl + Rvg + Rb
4 4 4 4
1 1 1 1
177 = 4 P + 4 Rcl + 4 Rvg + 4 Rb
1 1
175 = 4 P + 4 Rcl (x4)

700 = P + Rcl
700 = 426 + Rcl
Rcl = 700 – 426
Rcl = 274
Nilai Rb
1 1 1 1
177 = 4 P + 4 Rcl + 4 Rvg + 4 Rb (x4)

708 = P + Rcl + Rvg + Rb


708 = 426 + 274 + Rvg + Rb
708 = 700 + Rvg + Rb
8 = Rvg + Rb
Rb = 8 – Rvg
Kemudian memasukkan persamaan Rvg
1 1
106 = 4 Rvg + 4 Rb (x4)

424 = Rvg + Rb
424 = Rvg + 8 – Rvg
424 – 8 = Rvg – Rvg
416 =0
(Tidak bisa dipetakan)

24
4.2.1.3 Pemetaan Kromosom dari persilangan ♀bcl >< ♂dp
Kemungkinan 1 parental
♂ b+cl+dp b cl dp+

b+cl+dp dp N
b cl dp+ N bcl
Kemungkinan 2 rekombinasi b (single crossing over)
♂ b+cl+dp b cl dp+

b cl+dp dp b
b+cl dp+ N cl
Kemungkinan 3 rekombinasi cl (double crossing over)
♂ b+cl+dp b cl dp+

b cl+ dp+ N b
b+cl dp dp cl
Kemungkinan 4 rekombinasi dp (single crossing over)
♂ b+cl+dp b cl dp+

b cl dp dp bcl
b+cl+dp+ N N

Persamaan
𝟐 𝟏 𝟏 𝟐
N = 𝟒 P + 𝟒 Rb + 𝟒 Rcl + 𝟒 Rdp
2 1 1 2
204 = 4 P + 4 Rb + 4 Rcl + 4 Rdp
𝟏 𝟏
bcl = 𝟒 P + 𝟒 Rdp
1 1
41 = 4 P + 4 Rdp
𝟏 𝟏
b = 𝟒 Rb + 𝟒 Rcl
1 1
21 = 4 Rb + 4 Rcl
𝟏 𝟏
cl = 𝟒 Rb + 𝟒 Rcl

25
1 1
32 = 4 Rb + 4 Rcl
𝟏 𝟏 𝟏 𝟏
dp = 𝟒 P + 𝟒 Rb + 𝟒 Rcl + 𝟒 Rdp
1 1 1 1
55 = 4 P + 4 Rb + 4 Rcl + 4 Rdp

P = 50% x jumlah total anakan


= 50% x 353
= 177
Nilai Rcl
Eliminasi
2 1 1 2
204 = 4 P + 4 Rb + 4 Rcl + 4 Rdp
1 1 1 1
55 = 4 P + 4 Rb + 4 Rcl + 4 Rdp
1 1
149 =4P+ Rdp (x4)
4

596 = P + Rdp
596 = 177 + Rdp
Rdp = 596 – 177
Rdp 419
Nilai Rb
1 1 1 1
55 = 4 P + 4 Rb + 4 Rcl + 4 Rdp (x4)

220 = P + Rb + Rcl + Rdp


220 = 177 + Rb + Rcl + 419
220 = 596 + Rb + Rcl
-376 = Rb + Rcl
Rb = -376 – Rcl
Kemudian memasukkan persamaan Rcl
1 1
32 = 4 Rb + 4 Rcl (x4)

128 = Rb + Rcl
128 = -376 – Rcl + Rcl
128 + 376 = Rcl – Rcl
504 =0
(Tidak bisa dipetakan)

26
Akibat kedua persilangan kami tidak dapat di petakan karena nilai nya 0
maka kami menganalisis hasil penelitian dari Joshua Hanau yang berjudul linkage
mapping in Drosophila melanogaster, pada tahun 2012. Ia menyilangkan 3 mutan
yakni e (diumpamakan mutasi pada warna mata), br (diumpamakan mutasi pada
sayap), dan bc (diumpamakan mutasi pada warna tubuh) yang berada pada
kromosom nomor 1. Dengan rekonstruksi persilangan sebagai berikut.
P1 = ♀e br bc (homozigot) >< ♂N (homozigot)
e br bc >< e+br+bc+
e br bc e+br+bc+
G1 = e br bc , e+br+bc+
F1 = e+br+bc+ (N heterozigot)
e br bc
P2 = ♀N (heterozigot) >< ♂e bc br (homozigot) (testcross)
e+br+bc+ ><e br bc
e br bc e br bc
G2 = e+ e e+ e+ e e
br+ br br+ br+ br br
bc+ bc bc+ bc+ bc bc

Single crossing over 1 (SCO I)


e+ e e+ e
br br+ br br+
bc bc+ bc bc+
Double crossing over (DCO)
e+ e e+ e
br br+ br br+
bc+ bc bc+ bc
Double crossing over 2 (SCO II)
e+ e e+ e
br+ br br+ br
bc bc+ bc bc+

27
F2 =
♂ 𝒆 𝒃𝒓 𝒃𝒄

𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 + N
Parental
𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 e br bc
𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 Bc
𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + e br
SCO
𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 + e
𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 br bc
𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + br
𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 e bc DCO

Anakan : N : ebrbc : bc : ebr : e : brbc : br : ebc


1:1:1:1:1:1:1:1

Dari data diatas dapat diketahui bahwa tipe parentalnya adalah


𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 + 𝑑𝑎𝑛 𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐. Tipe rekombinan yang muncul dari persilangan 𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐
dengan wild tipe adalah 𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 , 𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + , 𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 +, 𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 , 𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + ,
𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐.
Pemetaan kromosom
Pada persilangan P1 : ♀e br bc >< ♂N anakan yang diperoleh 100%
normal heterozigot, kemudian hasil anakan F1 betina disilangkan secara tesscross
dengan jantan resesif memperoleh hasil anakan sebagai berikut:
a. Menyusun data kedalam pasangannya masing-masing

♀ ♂ 𝒆 𝒃𝒓 𝒃𝒄 Jumlah
𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 + N 181
𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 186
𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 𝑏𝑐 12
𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + 𝑒 𝑏𝑟 21
𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 + 𝑒 2
𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 𝑏𝑟 𝑏𝑐 2

28
𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + 𝑏𝑟 48
𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 𝑒 𝑏𝑐 63
Total 515

b. Menentukan tipe parental dan rekombinan

Turunan ♀ ♂ 𝒆 𝒃𝒓 𝒃𝒄 Jumlah
𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 + N 181
Parental
𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 186
bc berekombinasi 𝑒 + 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 𝑏𝑐 12
dengan e dan br 𝑒 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + 𝑒 𝑏𝑟 21
e berekombinasi 𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 + 𝑒 2
dengan be dan bc 𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 𝑏𝑟 𝑏𝑐 2
br berekombinasi 𝑒 + 𝑏𝑟 𝑏𝑐 + 𝑏𝑟 48
dengan e dan bc 𝑒 𝑏𝑟 + 𝑏𝑐 𝑒 𝑏𝑐 63
Jumlah 515

c. Menentukan frekuensi rekombinan gen


4 +111
e dan br = = 0,223
515

% rekombinan = 0,223 x 100% = 22,3%


4+33
e dan bc = = 0,072
515

% rekombinan = 0,072 x 100% = 7,2%


33 +111
bc dan br = = 0,28
515

% rekombinan = 0,28 x 100% = 28%


d. Membuat pemetaan
Setelah diketahui hasil frekuensi rekombinan maka dapat
digunakan sebagai jarak antar kedua gen dalam satu kromosom, hasil
pemetaan sebagai berikut:
bc e br
7,2 22,3 = 29,5
28

29
Dengan mengetahui jarak antar gen tersebut dapat diketahi bahwa
bc merupakan strain tan body, e merupakan strain vermilion eyes, dan bc
merupakan strain forked bistles.
33 +111+4+4
% bc—br = = 0,295 = 29,5
515

Setelah ditemukan pemetaan kromoson dan gen tengah seperti di


atas, maka rekonstruksi yang benar adalah sebagai berikut :
P1 = ♀bc e br (homozigot) >< ♂N (homozigot)
bc e br >< bc+e+br+
bc e br bc+e+br+
G1 = bc e br, bc+e+br+
F1 = bc+e+br+ (N heterozigot)
bc e br
P2 = ♀N (heterozigot) >< ♂bc e br (homozigot) (tesscross)
e+br+bc+ >< bc e br
bc e br bc e br
G2 = bc+ bc bc+ bc+ bc bc
e+ e e+ e+ e e
br+ br br+ br+ br br

Single crossing over 1 (SCO I)


bc+ bc bc+ bc
e e+ e e+
br br+ br br+
Double crossing over (DCO)
bc+ bc bc+ bc
e e+ e e+
br+ br br+ br
Single crossing over 2
bc+ bc bc+ bc
e+ e e+ e
br br+ br br+

30
F2 =
♂ 𝒃𝒄 𝒆 𝒃𝒓 Jumlah

𝑏𝑐 + 𝑒 + 𝑏𝑟 + N 181
Parental
𝑏𝑐 𝑒 𝑏𝑟 bc e br 186
𝑏𝑐 𝑒 + 𝑏𝑟 + bc 12
SCO 1
𝑏𝑐 + 𝑒 𝑏𝑟 e br 21
𝑏𝑐 + 𝑒 𝑏𝑟 + e 2
DCO
𝑏𝑐 𝑒 + 𝑏𝑟 bc br 2
𝑏𝑐 + 𝑒 + 𝑏𝑟 br 48
SCO 2
𝑏𝑐 𝑒 𝑏𝑟 + bc e 63
Total 515

Anakan : N : bcebr : bc : ebr : e : bcbr : br : bce


1:1:1:1:1:1:1:1
e. Menghitung interferensi genetik
I=1–C
Ket :
I = interferensi
C = koefisien koinsiden
𝒇𝒓𝒆𝒌𝒖𝒆𝒏𝒔𝒊 𝒓𝒆𝒌𝒐𝒎𝒃𝒊𝒏𝒂𝒔𝒊 𝒈𝒂𝒏𝒅𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒂𝒅𝒊
C = 𝒇𝒓𝒆𝒌𝒖𝒆𝒏𝒔𝒊 𝒓𝒆𝒌𝒐𝒎𝒃𝒊𝒏𝒂𝒔𝒊 𝒈𝒂𝒏𝒅𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏
𝑫𝑪𝑶⁄ 𝟒⁄
∑ 𝟎,𝟎𝟎𝟕𝟕𝟔𝟔𝟗𝟗
= 𝒇𝒓(𝒆−𝒃𝒓) 𝒙𝒂𝒏𝒂𝒌𝒂𝒏 = 𝟓𝟏𝟓
= = 𝟎, 𝟒𝟖𝟒
𝒇𝒓(𝒆−𝒃𝒄) 𝟎,𝟐𝟐𝟑 𝒙 𝟎,𝟎𝟕𝟐 𝟎,𝟎𝟏𝟔𝟎𝟓𝟔

I = 𝟏 − 𝑪 = 𝟏 − 𝟎, 𝟒𝟖𝟒 = 𝟎, 𝟓𝟏𝟔
Diperoleh hasil nilai interferensi sebesar 0,516. Interferensi ini merupakan
interferensi positif, dan berdasarkan nilai koefisien koensiden nilai pindah silang
yang terjadi adalah 48,4 % dari pindah silang yang diharapakan

31
BAB V
PEMBAHASAN

Pemetaan kromosom yang dilakukan menggunakan 2 macam persilangan


yang masing-masing memiliki 3 sifat beda yakni bvgcl dan bcldp. b (black) , cl
(clot), dp (dumpy), vg (vestigial) terjadi mutasi pada sayap, mata, dan tubuh. Pada
persilangan pertama yakni F1 yang disilangkan adalah ♀bvg >< ♂cl dan ♀bcl ><
♂dp yang memperoleh hasil anakan 100% normal heterozigot, kemudian pada
persilangan F2 yang menyilangkan hasil F1 dengan sesamanya yakni ♀N >< ♂N,
memperoleh hasil 5 tipe anakan yang merupakan tipe parental dan rekombinan.
5.1 Persilangan ♀bvg >< ♂cl
Pada persilangan F1 ♀bvg >< ♂cl atau resiproknya memperoleh hasil
anakan 100% normal heterozigot, kemudian pada persilangan F2 antara ♀N ><
♂N, memperoleh hasil 5 tipe anakan yang merupakan tipe parental dan
rekombinan. Pada dua tipe persilangan yang kami lakukan adalah trihibridisasi
yang gen-gen nya terletak dalam satu kromosom, hal ini sudah sesuai dengan
(Corebima, 2013) bahwa untuk melakukan pemetaan kromosom persilangan
minimal adalah dihibridisasi, trihibridisasi dan seterusnya itu dapat digunakan
asalkan faktor-faktor (gen) yang diperhatikan itu terletak dalam kromosom yang
sama.
Persilangan F2 mengahasilkan 851 anakan. Tipe anakan yang diperoleh
dari F2 adalah N, cl, bvg, vg, b. Dari ke lima tipe anakan tersebut ada yang
termasuk tipe parental dan tipe rekombinan. Tipe rekombinan diperoleh dari hasil
single crossing over dan double crossing over. Cara eliminasi digunakan untuk
menentukan rekombinasi dari b (Rb), rekombinasi cl (Rcl), dan rekombinasi dp
(Rdp). Cara tersebut digunakan karena pada F2 hasil anakan tipe parental dan
rekominannya tidak dapat dibedakan, misalnya ada anakan normal yang berasal
dari parental dan rekombinan. Rekombinan tersebut didapatkan dari hasil anakan
F1 yang gennya mengalami perpindahan segmen. Tipe rekombinan yang
dihasilkan oleh adanya pindah silang ganda dapat digunakan untuk mendapatkan
nilai frekuensi tipe rekombinan. Namun hasil analisis yang kami peroleh dari

32
perhitungan Rb dan Rcl sama dengan 0, menyebabkan gen-gen dari dua macam
persilangan kami tidak dapat dipetakan.

Tipe persilangan 2 titik lebih sulit di petakan karena jumlah anakan tipe
parental dan tipe rekombinannya sulit untuk dibedakan dan nilai ambiguitasnya
tinggi sehingga tidak dapat dipetakan, akan tetapi jika digunakan tescross dengan
jantan resesif bisa dipetakan dan dapat dihasilkan pemetaan kromosom yang
sebenarnya, namun tidak dapat dilakukan pada penelitian kami karena pada stok
yang tersedia tidak ada strain bvgcl resesif maka tidak dapat dipetakan.

5.2 Persilangan ♀bcl >< ♂dp


Pada persilangan F1 ♀bcl >< ♂dp atau resiproknya memperoleh hasil
anakan 100% normal heterozigot, kemudian pada persilangan F2 antara ♀N ><
♂N, memperoleh hasil 5 tipe anakan yang merupakan tipe parental dan
rekombinan. Pada dua tipe persilangan yang kami lakukan adalah trihibridisasi
yang gen-gen nya terletak dalam satu kromosom, hal ini sudah sesuai dengan
(Corebima, 2013) bahwa untuk melakukan pemetaan kromosom persilangan
minimal adalah dihibridisasi, trihibridisasi dan seterusnya itu dapat digunakan
asalkan faktor-faktor (gen) yang diperhatikan itu terletak dalam kromosom yang
sama.
Persilangan F2 mengahasilkan 353 anakan. Tipe anakan yang diperoleh
dari F2 adalah N, dp, bcl, cl, b. Dari ke lima tipe anakan tersebut ada yang
termasuk tipe parental dan tipe rekombinan. Tipe rekombinan diperoleh dari hasil
single crossing over dan double crossing over. Cara eliminasi digunakan untuk
menentukan rekombinasi dari b (Rb), rekombinasi cl (Rcl), dan rekombinasi dp
(Rdp). Cara tersebut digunakan karena pada F2 hasil anakan tipe parental dan
rekominannya tidak dapat dibedakan, misalnya ada anakan normal yang berasal
dari parental dan rekombinan (Head, alexander and jean. 2014). Rekombinan
tersebut didapatkan dari hasil anakan F1 yang gennya mengalami perpindahan
segmen. Tipe rekombinan yang dihasilkan oleh adanya pindah silang ganda dapat
digunakan untuk mendapatkan nilai frekuensi tipe rekombinan.

33
Namun hasil analisis yang kami peroleh dari perhitungan Rb dan Rcl sama
dengan 0, menyebabkan gen-gen dari dua macam persilangan kami tidak dapat
dipetakan. Oleh karena itu, sama dengan persilangan ♀bvg >< ♂cl, data yang
didapat tidak dapat dipetakan. Kedua persilangan ini tidak dapat dipetakan karena
tingkat ambiguitasnya tinggi yakni antara jumlah anakan parental dan rekombinan
tidak jelas akibat dari persilangan tripel mutan, sehingga akan sulit di cari
frekuensi rekombinannya. Selain itu juga rasio perbandingan hasil anakan F2
yakni 6:4:2:2:2 tidak dapat dijadikan acuan, karena rasionya kurang tepat,
misalnya pada persilangan ♀bcl >< ♂dp anakan tipe rekombinan N dan cl jumlah
total rasionya adalah 8, jika rasio rekombinan di jumlahkan akan melebihi 50%
dari jumlah total rasio, sedangkan masih ada tipe parentalnya lagi yakni bcl dan
dp, sedangkan menurut Corebima (2013), gamet tipe parental memiliki presentase
yang paling tinggi, dan tipe rekombinan memperlihatkan gambaran yang jelas
kurang dari 50%.
Tipe persilangan 2 titik lebih sulit di petakan karena jumlah anakan tipe
parental dan tipe rekombinannya sulit untuk dibedakan dan nilai ambiguitasnya
tinggi sehingga tidak dapat dipetakan, akan tetapi jika digunakan tescross dengan
jantan resesif bisa dipetakan dan dapat dihasilkan pemetaan kromosom yang
sebenarnya, namun tidak dapat dilakukan pada penelitian kami karena pada stok
yang tersedia tidak ada strain bcldp resesif maka tidak dapat dipetakan.
5.3 Persilangan ♀ bcebr >< ♂N
Data tidak bisa dipetakan sehingga peneliti menggunakan data penelitian
mengenai persilangan tiga sifat beda pada D. melanogaster oleh Joshua Hanau
yang berjudul “Linkage Mapping in Drosophila melanogaster “ pada tahun 2012
dengan menyilangkan 3 mutan yakni e (diumpamakan mutasi pada warna mata),
br (diumpamakan mutasi pada sayap), dan bc (diumpamakan mutasi pada warna
tubuh) yang berada pada kromosom nomor 1. Pada persilangan tersebut
menghasilkan keturunan F2 sebanyak 8 gamet yang terdiri dari 6 rekombinan dan
2 parental (Campble, dkk, 2008). Pada persilangan F2 dilakukan tescross betina
normal hasil F1 dengan jantan resesif, hal ini sesuai dengan (Corebima,2013)
bahwa data persilangan tescross memperlihatkan 8 kombinasi gamet, macam tipe

34
rekombinan yang muncul dari persilangan tescross membuktikan bahwa telah
terjadi pindah silang pada individu betina selama meiosis.
Pindah silang yang terjadi pada penelitian ini ada dua macam, yakni single
crossing over dan double crossing over. Single crossing over terjadi apabila
terjadi pertukaran gen yang terdapat pada ujung kanan dan kiri, sedangkan double
crossing over terjadi apabila gen tengah terjadi pertukaran. Tipe rekombinan hasil
persilangan tescross memperlihatkan bahwa tipe rekombinan terbentuk sebagai
akibat dua peristiwa pindah silang selama periode meiosis yang sama, dalam hal
ini terbukti bahwa semua tipe rekombinan tidak dapat terbentuk sendiri-sendiri
satu sama lain. Bukti ini mempertegas konsep bahwa gen-gen tersebut tersusun
secara linier (Corebima, 2013).
Berdasarkan jurnal, anakan tipe parentalnya adalah N dan brbc sebanyak
367 anakan. Anakan tipe rekombinan bc adalah bc sebanyak 12 dan ebr sebanyak
21. Anakan tipe rekombinan e adalah e sebanyak 2 dan brbc sebanyak 2. Anakan
tipe rekombinan br adalah br sebanyak 48 dan ebc 63. Menurut Corebima (2013),
gamet tipe parental memiliki presentase yang paling tinggi, dan tipe rekombinan
memperlihatkan gambaran yang jelas kurang dari 50%. Hal ini dibuktikan dari
data yang kami peroleh yakni tipe parental sebanyak 367 dari total anakan
sebanyak 515.
Perhitungan jarak antar gen tersebut dilakukan dengan pembagian antara
frekuensi hasil pindah silang antar gen yang dimaksud dengan frekuensi total
anakan. Frekuensi hasil pindah silang antar gen tersebut merupakan hasil
penjumlahan baik antara yang terjadi SCO dan yang terjadi DCO (Suryo, 2013).
Dinyatakan kembali oleh Snustad (2012), yang menyatakan bahwa jarak antara
dua titik pada peta genetik (peta kromosom) adalah jumlah rerata dari pindah
silang di antara gen-gen tersebut.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diketahui bahwa jarak gen e
dan br sebesar 0,223 m.u dengan persentase sebesar 22,3%, jarak gen e dan bc
sebesar 0,072 m.u dengan persentase sebesar 7,2%, dan jarak gen bc dan br
sebesar 0,28 m.u dengan persentase sebesar 28%. Berdasarkan Corebima (2013)
bahwa satu unit peta (map unit) setara dengan 1% frekuensi rekombinan. Semakin
besar frekuensi rekombinan yang terjadi maka semakin panjang pula jarak antar

35
faktor (gen). Berdasarkan perhitungan data rujukan diketahui bahwa frekuensi
rekombinan kurang dari 50% , sehingga jelas bahwa faktor-faktor gen (e,bc,br)
terletak satu kromosom yang sama.
Besarnya nilai frekuensi ini bisa diekspresikan sebagai jarak antar gen-gen
yang mengalami pindah silang. Berdasarkan hasil perhitungan nilai frekuensi
rekombinan diketahui bahwa jarak antar gen e—br > e—bc. Sehingga saat
pembuatan peta kromosom diketahui jarak locus gen e dengan br lebih panjang
atau jauh dibanding jarak locus gen e dengan bc. Dari hasil tersebut dapat
diketahui letak gen yang berada ditengah adalah e, jadi urutannya adalah bc-e-br.
Dari hasil frekuensi rekombinansi diketahui bahwa jarak antar gen bc—br
≠ jumlah jarak antar gen bc—e dan e—br atau 28 ≠ 7,2 + 22,3. Sehingga diketahui
bahwa nilai 28 < 7,2 + 22,3, diketahui bahwa Herskowitz (1965) menyatakan
jarak (a-c) ditambah (c-b) sama dengan (a-b). Masalah tersebut dapat muncul
dikarenakan berhubungan dengan besarnya nilai interferensi yang dapat
menunjukkan adanya pengaruh peristiwa rekombinasi satu terhadap peristiwa
rekombinasi lainnya. Jika ada dua crossing over di antara sisi luar gen yakni bc—
br akan nampak jumlah rekombinan yang lebih sedikit diantara dua gen tersebut,
ini akan nampak jika jarak gen tersebut lebih dekat. Jumlah jarak pemetaan
diantara gen ini akan lebih sedikit daripada kenyataannya, tetapi hal tersebut dapat
dibenarkan jika ada dua rekombianasi yang terjadi pada interval antara bc—br
maka harus menghitungnya pada setiap kejadian single crossing over, kejadian
crossing over ini akan terjadi dikedua sisi, sehingga harus digunakan perhitungan
sebanyak dua kali dan akan menghasilkan jarak bc—br. (Anonimous, 2007)

Koefisien Koinsiden dan Interferensi


Interferensi menunjuk kepada adanya pengaruh dari satu peristiwa
rekombinasi atas peristiwa rekombinasi lainnya (Corebima, 2013). Pada
persilangan faktor-faktor gen (bc,e,br) nilai interferensinya sebesar 0,516
sehingga temasuk interferensi positif, yang memperlihatkan bahwa pindah silang
pertama mempengaruhi (mengganggu) kejadian pindah silang kedua yang
berlangsung didekatnya. (Gardner, dkk, 1984 dalam Corebima, 2013).
Berdasarkan dari nilai koinsidien (C) diketahui bahwa nilai pindah silang ganda
yang didapatkan lebih kecil dari yang diharapkan. Nilai C yang didapatkan

36
sebesar 0,484. Hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu hal yang mengganggu
terjadinya pindah silang tersebut. Adanya suatu pindah silang yang terjadi pada
suatu tempat bisa menghambat terjadinya pindah silang di tempat lain di
sebelahnya (Suryo, 2013).
Dalam hal ini nilai interferensi yang diperoleh lebih mendekati 1 sehingga
terlihat bahwa jarak antar gen yang cukup dekat. Selain itu melihat nilai frekuensi
pindah silang ganda yang didapatkan lebih kecil di bandingkan dengan yang
diharapkan dan interferensi yang positif (I<1) yang berarti bahwa pindah silang
pertama memengaruhi pindah silang kedua yang berlangsung di dekatnya, hal
tersebut mendukung permasalahan jarak antargen pada pemetaan Dari hasil
frekuensi rekombinansi diketahui bahwa jarak antar gen bc—br ≠ jarak antar gen
bc—e ditambah e—br. Hal tersebut dikarenakan adanya peristiwa double crossing
over yang tidak teramati (Klug, 2012). Jarak gen yang tidak nampak tersebut
merupakan hasil dari frekuensi rekombinasi ganda yang terjadi x 100 x 2. Hasil
perhitungan tersebut merupakan sisa dari pengurangan jarak sebenarnya dengan
jarak yang terhitung/terjadi yakni 29,5 dan 28. Maka dari itu memperoleh selisih
1,5.

37
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Tidak dapat menentukan jarak antara tiga gen pada persilangan D.
melanogaster strain ♂bvg >< ♀cl karena tipe parental dan rekombinannya
tidak dapat dibedakan dengan jelas serta rasio perbandingan 6:4:2:2:2 tidak
dapat dijadikan acuan untuk menentukan tipe parental dan rekombinan.
2. Tidak dapat menentukan jarak antara tiga gen pada persilangan D.
melanogaster strain ♂bcl >< ♀dp karena karena tipe parental dan
rekombinannya tidak dapat dibedakan dengan jelas serta rasio perbandingan
6:4:2:2:2 tidak dapat dijadikan acuan untuk menentukan tipe parental dan
rekombinan.
6.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan dapat diambil saran, yaitu :
1. peneliti diharapkan lebih sabar, lebih giat, dan memiliki kerja sama yang baik
antar anggota kelompok dalam melaksanakan proyek yang diberikan
memperoleh hasil dan data yang maksimal.
2. peneliti diharapkan dapat membuat medium yang baik (tidak terlalu kental dan
tidak terlalu encer) agar tidak berjamur karena akan sangat mempengaruhi
perkembangan D. melanogaster.
3. peneliti diharapkan selalu melakukan sterilisasi botol selai dan tutup gabus
saat akan digunakan.
4. peneliti diharapkan meremajakan strain dalam jumlah yang banyak dan
mengampul pupa dalam jumlah yang banyak agar peneliti memiliki banyak
stok yang akan di silangkan apabila persilangan yang terdahulu gagal.
5. peneliti diharapkan lebih teliti dalam menghitung anakan F2 agar data yang
dihasilkan valid.
6. peneliti diharapkan dapat mencegah pertumbuhan kutu yang dapat
mengganggu pertumbuhan D. melanogaster dengan memberikan kapur semut
pada seluruh bagian kardus.

38
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2007. Chapter 6 Linkage anaysis and mapping. New York. McGraw-
Hill.
Ariyanto, Joko. 2008. Buku Ajar Genetika II. (Online),
(http://www.google.com/jokoariyanto@webblog.com). Diakses tanggal 4
Oktober 2017
Campbell, N.A., dkk. 2008. Biologi Edisi kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga
Corebima, AD. 2013. Genetika Mendel. Cetakan ketiga. Surabaya: Airlangga
University Press.
Borror, Joyce Donald. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta :
UGM Press
Elrod, S. & Stanfield, W. 2007. Teori dan Soal-soal Genetika Edisi Keempat.
Jakarta: Erlangga.
Hanau, Joshua, 2012. Linkage Mapping in Drosophila melanogaster. New York
Head, alexander and jean. 2014. Calculation of recombination frequencies.
(online).http://researchguides.library.vanderbilt.edu/c.php?g=156859&p=1
162098. Diakses pada 1 Desember 2017.
Kimball, John W. 1983. Biology. Alih Bahasa oleh Siti Soetarmi, dkk (1990).
Bogor: Erlangga.
Klug, W.S & Clummings M.R. 2012. Consep of Genetic. Nre Jersey: Pretince
Hall Inc. Pierce, B. Genetics: A Conceptual Approach. (New York, W. H.
Freeman & Co., 2005)
Oltmanns, Thomas F, et all. 2012. Portrait Drosophila melanogaster. New York:
McGraw Hill. Inc.
Robbins, R. J. 2000. Introduction to sex-limited inheritance in Drosophila.
Electronic Scholarly Publishing Foundations of Classical Genetics
Project. Online (http://www.esp.org/foundations/genetics/classical/thm-
10a.pdf) (diakses tanggal 4 Oktober 2017)
Snustad, D. Peter., Simmons, Michael J. 2012. Principles of Genetics Sixth
Edition. United States of America. John Wiley & Sons, Inc.

39
Sturtevant, A. H. 1913. The linear arrangement of six sex-linked factors in
Drosophila, as shown by their mode of association. Journalof
Experimental Zoology, 14: 43-59.
Suryo. 1996. Genetika. Yogyakarta: UGM Press.
Suryo, 2010. Genetika. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Profesi Guru.
Suryo. 2013. Genetika untuk Strata I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wahyuni, 2012. Pengaruh Maternal Terhadap Viabilitas Lalat Buah (Drosophila
Melanogaster Meigen) Strain Vestigial (Vg). Jember: UNEJ.

40