Anda di halaman 1dari 6

Teknik Distraksi Guided Imagery sebagai Alternatif Manajemen Nyeri

pada Anak saat Pemasangan Infus

Nopi Nur Khasanah1, Indra Tri Astuti2


1,2
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Email: nopi.khasanah@unissula.ac.id

Abstract: Guided Imagery, A Distraction Techniques as an Alternative to Pain Management


in Children during Infusion. The infusion procedure was the first invasive treatment in
Emergency Room (ER) to fulfill the need of fluid and electrolyte. Nurses need to used the right
method to decrease pain worst in children when having procedure infusion. The aim of this study
was to analyze the differences in children pain score when having procedural infusion with guided
imagery, ethyl chloride, and deep breathing techniques. This study used quasi-experiment with
post-test treatment, 45 children as a participant by consecutive sampling techniques. The data was
collected using Wong-Baker face pain rating scale and analyzed by Kruskal-Wallis test. The result
showed that ρ value was 0,338 (ρ>0,05), in which can be concluded that there are no significant
differences on three intervention. The guided imagery could be used as an alternative pain
management on children when having a procedure of infusion at ER.

Keywords: Ethyl chloride, Guided imagery, Pain in children, Infusion procedure

Abstrak: Teknik Distraksi Guided Imagery sebagai Alternatif Manajemen Nyeri pada Anak
saat Pemasangan Infus. Pemasangan infus merupakan tindakan invasif awal yang seringkali
dilakukan di Instalansi Gawat Darurat (IGD) untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
Perawat perlu menggunakan metode yang tepat untuk mengurangi nyeri hebat pada anak saat
pemasangan infus. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan skor nyeri anak saat
pemasangan infus dengan intervensi guided imagery, ethyl chloride, teknik napas dalam.
Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dengan post-test treatment, 45 anak
sebagai responden diambil melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan Wong-Baker
face pain rating scale dan dianalisis secara statistik dengan uji Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan
nilai ρ sebesar 0,338 (ρ>0,05) artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara ketiga
intervensi. Guided imagery dapat dijadikan alternatif penatalaksanaan nyeri pada anak saat
pemasangan infus di IGD.

Kata kunci: Ethyl chloride, Guided imagery, Nyeri pada anak, Pemasangan infus

Nyeri pada anak merupakan satu hal yang perlu dijalani. Pemasangan infus merupakan
kompleks, individual, subjektif, dan merupakan salah satu tindakan invasif awal yang
hal yang umum terjadi. Nyeri dapat diartikan menentukan keberhasilan prosedur tindakan
sebagai suatu perasaan tidak nyaman atau tidak selanjutnya. Apabila kesan pertama saat
menyenangkan yang sering dialami oleh individu dilakukan prosedur tindakan anak merasa
(Andarmoyo, 2013). Nyeri pada anak yang tidak nyaman, untuk dilakukan tindakan selanjutnya
segera diatasi akan berdampak secara fisik akan lebih mudah, karena dalam presepsi anak
maupun perilaku. Dampak fisik dari nyeri terbagi tindakan sebelumnya tidak menyakitkan. Hal ini
atas dampak akut (jangka pendek), yang ditandai sebagaimana konsep atraumatic care yang
dengan peningkatan laju metabolisme dan curah seharusnya dilakukan perawat. Atraumatic care
jantung, kerusakan respon insulin, peningkatan adalah ketentuan dalam konsep perawatan
produksi kortisol, dan meningkatnya retensi terapeutik, yang dilakukan perawat melalui
cairan. Adapun dampak kronis (jangka panjang), tindakan menghilangkan atau meminimalkan
dimana nyeri berlangsung terus-menerus dan tekanan psikologis dan fisik yang dialami oleh
dalam waktu yang lama, akan meningkatkan stres anak dan keluarga dalam sistem perawatan
pada anak serta mengakibatkan ketidakmampuan kesehatan (Hockenberry & Wilson, 2009).
melakukan aktifitas. Berbagai penelitian kesehatan secara
Anak yang harus mendapatkan perawatan holistik guna mengatasi nyeri telah banyak
di Rumah Sakit seringkali mendapatkan dikembangkan, baik berupa terapi farmakologi
pengalaman dari berbagai prosedur invasif yang maupun nonfarmakologi. Penelitian yang

326
Khasanah, Teknik Distraksi Guided Imagery sebagai Alternatif Manajemen Nyeri … 327

dilakukan oleh Mariyam dan Widodo (2012) Rancangan ini menggunakan pos-tes pada
mengenai pengaruh guided imagery terhadap kelompok kontrol maupun intervensi tanpa
tingkat nyeri anak saat dilakukan pemasangan dilakukan pre-tes terlebih dahulu. Data
infus, dengan hasil rata-rata tingkat nyeri pada dikumpulkan dengan menggunakan Wong-Baker
kelompok yang dilakukan guided imagery lebih Face Pain Rating Scale. Analisis statistik dengan
rendah dibanding kelompok kontrol. Penelitian menggunakan Uji Kruskal Wallis.
lain dalam mengatasi nyeri diteliti oleh Ismanto Intervensi dalam penelitian ini dilakukan
(2011) mendapatkan hasil bahwa respon nyeri dengan pemberian ethyl chloride pada kelompok
bayi saat imunisasi yang diukur dengan skala intervensi I, pemberian guided imagery pada
FLACC, terdapat perbedaan yang signifikan kelompok intervensi II, dan pemberian teknik
antara kelompok intervensi ASI dengan napas dalam pada kelompok kontrol. Tindakan
kelompok topikal anestesi (Fluori-Methane) dilakukan 2 menit sebelum prosedur pemasangan
spray, yaitu rata-rata respon nyeri pada bayi yang infus. Pengukuran yang dilakukan sesudah
diberi ASI lebih rendah dari bayi yang diberi intervensi meliputi skala nyeri pada menit kelima
intervensi dengan topikal anestesi spray saat setelah dilakukan pemasangan infus.
dilakukan imunisasi. Populasi penelitian ini anak usia 7-12
Fenomena tersebut menarik peneliti untuk tahun yang akan dilakukan prosedur pemasangan
melakukan penelitian guna menemukan metode infus di sebuah Rumah Sakit di Kota Semarang.
yang tepat dilakukan pada anak saat pemasangan Teknik sampling pada penelitian ini
infus. Metode yang dipilih oleh peneliti yaitu menggunakan teknik nonprobability sampling
guided imagery, dengan menggunakan rekaman dengan pendekatan consecutive sampling, yaitu
kaset imajinasi sehingga anak lupa terhadap nyeri dengan memilih subjek yang memenuhi kriteria
yang dirasakan. Dengan pertimbangan guided penelitian dan dimasukkan dalam penelitian
imagery mudah dibuat rekaman sendiri, sampai kurun waktu tertentu, sampai jumlah
terjangkau, dan bisa dipakai sewaktu-waktu oleh klien yang diperlukan terpenuhi (Dahlan, 2009).
anak. Adapun metode alternatif lain yang dipilih Sampel yang digunakan dalam penelitian
peneliti yaitu dengan anestesi topikal dengan harus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
jenis Ethyl chloride. Meski telah banyak Kriteria inklusi dari penelitian ini yaitu: (1) Anak
penelitian tentang efektifitas krim EMLA untuk usia 7-12 tahun; (2) Orang tua setuju anaknya
menurunkan nyeri, namun karena krim EMLA menjadi responden, yang dibuktikan dengan surat
membutuhkan waktu cukup lama yaitu 30-60 persetujuan menjadi responden; (3) Anak yang
menit, maka peneliti memilih Ethyl chloride jenis akan menjalani prosedur pemasangan infus; (4)
anestesi semprot dengan efek lebih cepat yaitu 15 Anak dalam keadaan sadar penuh. Sedangkan
detik saja. Penelitian oleh Siregar (2007) tentang kriteria eksklusinya adalah: Kriteria eksklusi
perbedaan anestesi semprot dengan anestesi oles, pemberian ethyl chloride: (1) Anak alergi
mendapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan terhadap krim ethyl chloride; (2) Tiba-tiba anak
yang signifikan antara anestesi semprot dengan menolak sebelum prosedur selesai. Kriteria
anestesi oles dalam menurunkan intensitas nyeri eksklusi guided imagery: (1) Tiba-tiba anak
pada pungsi arteri. menolak sebelum prosedur selesai; (2) Anak tuli
Fenomena yang tergambarkan di latar atau tidak dapat mendengar dengan baik; (3)
belakang menarik peneliti untuk bertanya Anak menolak menggunakan earphone.
“Apakah ada perbedaan respon nyeri pada anak
usia 7-12 tahun saat pemasangan infus setelah
diberikan intervensi ethyl chloride dan guided HASIL
imagery?”
Hasil Penelitian terkait perbedaan respon
nyeri pada anak usia 7-12 tahun saat pemasangan
METODE infus setelah diberikan intervensi ethyl chloride
dan guided imagery dilakukan selama bulan
Penelitian ini merupakan penelitian maret sampai Juli 2017 akan dijelaskan dalam
kuantitatif, menggunakan desain penelitian tabel-tabel berikut.
eksperimen semu (quasi experiment) dengan pos- Hasil penelitian terkait karakteristik
test treatment pada kelompok kontrol non- responden meliputi usia, jenis kelamin,
ekuivalen (after only nonequivalent control pengalaman diinfus sebelumnya serta respon
group design), dimana pada rancangan ini nyeri pada masing-masing kelompok intervensi.
kelompok eksperimen maupun kontrol tidak Karakteristik responden berdasarkan usia akan
dipilih secara random (Creswell, 2010). dijelaskan pada tabel 1 adapun karakteristik
328 Jurnal Kesehatan, Volume VIII, Nomor 3, November 2017, hlm 326-330

responden berdasarkan jenis kelamin dan tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
pengalaman diinfus sebelumnya akan disajikan perbedaan yang bermakna antara ethyl chloride,
dalam tabel 2. guided imagery dan napas dalam terhadap respon
nyeri saat pemasangan infus pada anak.
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan
Usia
Median (Min-Maks) PEMBAHASAN
Usia 9 (7-12)
Intervensi ethyl chloride efektif digunakan
Data pada tabel 1 menjelaskan bahwa nilai untuk mengurangi nyeri pada anak saat dilakukan
tengah dari distribusi responden berdasarkan usia pemasangan infus. Hal tersebut terbukti dari data
adalah 9 tahun. respon nyeri yang menunjukkan tidak ada
responden yang mengalami nyeri hebat saat
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan diberikan ethyl chloride. Hasil ini didukung oleh
Jenis Kelamin dan Pengalaman penelitian yang dilakukan oleh Novianti,
Diinfus Sebelumnya Novayelinda, dan Utomo (2012) tentang
Variabel n % pengaruh pemberian anestesi lokal terhadap
Jenis Laki-laki 17 56.7 penurunan nyeri pada anak prasekolah yang
Kelamin Perempuan 13 43.3 dilakukan prosedur pengambilan darah vena.
Pengalaman Pernah 2 6,7 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian
Sebelumnya Tdk Pernah 28 93,3 anestesi lokal pada area pengambilan darah vena
Total 30 100 dapat menurunkan atau menghilangkan tingkat
nyeri.
Data pada tabel 2 menjelaskan bahwa Anestesi lokal adalah keadaan dimana
responden terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebagian tubuh tertentu (lokalisasi) mengalami
yaitu sebanyak 17 responden (56,7%), adapun kehilangan sensasi. Anestesi lokal dapat
terkait pengalaman diinfus sebelumnya terbanyak dioleskan atau diinjeksikan di bagian kulit atau
adalah responden yang tidak pernah diinfus yaitu tubuh tertentu (Potter & Perry, 2006). Kerja dari
28 responden (93,3%). anestesi lokal ini adalah dengan memblokir
syaraf, yaitu pada fungsi motorik, sensorik, dan
Tabel 3. Perbandingan Tingkat Nyeri Antara saraf otonom. Anestesi lokal lebih kecil risikonya
Kelompok Intervensi Ethyl Chloride, dari pada anestesi umum. Jenis anestesi lokal
Guided Imagery dan Kelompok ethyl chloride dapat menyebabkan pendinginan
Kontrol Napas Dalam pada kulit, sehingga dapat mengganggu
Nilai kemampuan tubuh untuk merasakan sakit
Intervensi n Median (min-maks)
ρ (Siregar, 2007). Oleh karena itu ethyl chloride,
Ethyl Chloride 15 2 (1-4) 0,338 efektif digunakan untuk mengurangi nyeri saat
Guided Imagery 15 3 (2-3) pemasangan infus.
Napas dalam 15 3 (1-3) Intervensi guided imagery efektif
digunakan untuk mengurangi nyeri pada anak
Tabel 3 merupakan tabel hasil uji Kruskal saat pemasangan infus. Data respon nyeri
Wallis dengan hasil median tingkat nyeri responden yang diberikan guided imagery
responden pada kelompok ethyl chloride pada menunjukkan respon nyeri tertinggi berada pada
skala 2 dengan rentang antara skala 1 sampai 4, skala 3. Hasil ini didukung oleh penelitian yang
pada kelompok guided imagery pada skala 3 dilakukan oleh Apóstolo dan Kolcaba (2009),
dengan rentang antara skala 2 sampai 3, mengenai pengaruh guided imagery terhadap
sedangkan pada kelompok napas dalam pada kenyamanan, depresi, kecemasan, dan stres pada
skala 3 dengan rentang antara 1 sampai 3, hal ini pasien dengan gangguan depresif, mendapatkan
dapat diartikan bahwa pada kelompok guided hasil bahwa guided imagery adalah salah satu
imagery dan napas dalam berada pada skala 3 metode yang efektif dalam meningkatkan
kebawah sedangkan pada kelompok ethyl kenyamanan anak, selain itu metode ini relatif
chloride berada pada skala 3 keatas. Dimana mudah untuk dipelajari dan digunakan oleh anak.
skala 1 adalah “nyeri sedikit”, skala 2 adalah Guided Imagery adalah salah satu metode
“sedikit lebih nyeri”, skala 3 adalah “lebih nyeri pengontrolan nyeri yang termasuk kedalam
lagi”, skala 4 adalah “nyeri sekali”. Nilai teknik perilaku kognitif (cognitive-behavioral),
signifikasinya sebesar 0,338 (ρ >0,05), artinya tujuan dari teknik ini yaitu untuk memberikan
hipotesis pada penelitian ini ditolak, dimana hasil kenyamanan, mengubah respon psikologi untuk
Khasanah, Teknik Distraksi Guided Imagery sebagai Alternatif Manajemen Nyeri … 329

mengurangi persepsi nyeri dan mengoptimalisasi sebelumnya yang menyebutkan bahwa intervensi
fungsi tubuh (Kozier & Erb’s, 2012). Penelitian guided imagery akan efektif jika diberikan pada
oleh Van Der Veek, Derkx, Benninga, Boer, Dan anak yang lebih besar karena tingkat kognitifnya
De Haan, (2013), mendapatkan hasil bahwa cenderung lebih tinggi.
cognitive behavior therapy (CBT) efektif dalam Penggunaan ethyl chloride dapat
menurunkan nyeri pada anak-anak dengan nyeri digunakan di Rumah sakit, karena metode ini
fungsi abdomen (Functional Abdominal Pain). cukup efektif, dan dapat mempermudah serta
Guided imagery merupakan salah satu mempercepat perawat untuk melakukan
teknik yang berpengaruh terhadap perilaku pemasangan infus pada anak. Sedangkan
kognitif anak. Dimana tingkat kognitif anak penggunaan guided imagery juga bisa digunakan
tergantung pada tingkatan usia anak tersebut. untuk pilihan alternatif, karena lebih terjangkau
Oleh karena itu pada guided imagery akan dan anak serta orang tua lebih banyak memilih
semakin efektif digunakan pada anak yang lebih metode ini karena lebih aman tanpa bahan kimia,
besar dengan kecenderungan tingkat kognitif dan anak cenderung lebih tenang.
lebih tinggi. Hal ini didukung oleh teori Penelitian ini juga dapat menambah
perkembangan menurut Piaget yang menjelaskan pengetahuan di dunia pendidikan, sehingga dapat
mengenai tahap perkembangan kognitif pada menambah wawasan terutama metode
anak usia 7-11 tahun, yaitu pada tahap ‘Konkret penanganan nyeri yang tepat dilakukan pada anak
Operasional’, dengan ciri-ciri anak memiliki usia 7-12 tahun. Selain itu penelitian ini juga
kemampuan dalam memahami aturan dan dapat menjadi rujukan untuk dilakukan penelitian
percakapan sehingga menghasilkan suatu selanjutnya, terutama yang terkait dengan
pemikiran yang logis dan mental operasional, menejemen nyeri pada anak.
misal seperti pemusatan, pembagian Keterbatasan penelitian ini yaitu jumlah
transformasi, klasifikasi dari dua atribut atau sampel yang terbatas dan sampel datang ke
lebih, serta alasan deduktif dan induktif (Potter & rumah sakit tidak bersamaan sehingga
Perry, 2006). membutuhkan waktu yang lama dalam
Pemberian intervensi dengan teknik napas pengumpulan data.
dalam merupakan salah satu teknik relaksasi
yang seringkali digunakan di lingkup perawatan
untuk mengurangi rasa nyeri yang terjadi. Hasil SIMPULAN
analisis bivariat menunjukkan tidak ada
perbedaan antara kelompok ethyl chloride, Perawat sebagai salah satu pemberi
guided imagery maupun napas dalam terhadap pelayanan dapat lebih memperhatikan
respon nyeri anak saat pemasangan infus. Artinya manajemen nyeri pada anak sehingga dampak
intervensi guided imagery dapat dilakukan pada negatif akibat nyeri dapat diminimalkan. Perawat
lingkup perawatan gawat darurat dan cukup dapat melakukan modifikasi bila penatalaksanaan
efektif untuk mencegah trauma pada anak saat nyeri tersebut mengalami hambatan misalnya
pemasangan infus. Hasil yang diperoleh karena harga yang mahal, penatalaksanaan yang
diharapkan dapat membantu pelayanan sulit, tidak tersedianya sarana atau prasarana.
keperawatan agar bisa memilih metode yang Hasil penelitian menunjukkan tidak ada
tepat untuk mengatasi nyeri pada anak saat perbedaan yang bermakna antara ethyl chloride
dilakukan tindakan infus. Salah satu tujuannya dan guided imagery, sehingga guided imagery
adalah untuk mengurangi trauma pada anak, saat dapat dijadikan sala satu metode untuk
dilakukan tindakan invasif pertama diharapkan mengurangi nyeri karena lebih mudah dan dari
anak akan lebih kooperatif untuk dilakukan segi biaya lebih murah. Bagi rumah sakit hal
tindakan invasif berikutnya. tersebut dapat dijadikan kebijakan untuk
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa mengurangi trauma pada anak saat diinfus dan
penggunaan guided imagery lebih efektif meminimalkan dampak negatif lainnya.
dibanding penggunaan ethyl chloride. Hal ini
terlihat dari respon nyeri yang didapatkan pada
penggunaan ethyl chloride terdapat satu SARAN
responden yang mengalami nyeri dengan skala 4
sedangkan pada penggunaan guided imagery Penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk
respon nyeri tertinggi berada pada skala 3. Hal ini penelitian selanjutnya, misalnya dengan
dapat terjadi karena usia responden yang masuk menambah jumlah responden, serta
kelompok guided imagery paling banyak pada melakukannya pada usia yang berbeda dengan
usia 9 tahun ke atas. Sesuai penjelasan teknik yang berbeda.
330 Jurnal Kesehatan, Volume VIII, Nomor 3, November 2017, hlm 326-330

DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, S. 2013. Konsep dan Proses Anak Usia 7-13 Tahun Saat Dilakukan
Keperawatan Nyeri. Jogjakarta: Arruz Pemasangan Infus di RSUD Kota
Media. Semarang. Seminar Hasil-Hasil Penelitian
Apóstolo, J. L. A., & Kolcaba, K. 2009. The (p. 978 (6), 6). Semarang: LPPM
effects of guided imagery on comfort, UNIMUS.
depression, anxiety, and stress of Novianti, Novayelinda, R., & Utomo, W. 2012.
psychiatric inpatients with depressive Pengaruh Pemberian Eutetic Mixture of
disorders. Archives of Psychiatric Nursing, Local Anestetic terhadap Penurunan Nyeri
23(6), 403–411. pada Anak Prasekolah yang Dilakukan
doi:10.1016/j.apnu.2008.12.003 Pengambilan Darah Vena. Skripsi,
Creswell, J. W. 2010. Research Design: Universitas Riau.
Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan http://repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/
Mixed. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 1889/1/MANUSCRIPT.pdf.
Dahlan, M. S. 2009. Besar Sampel dan Cara Potter, A. P., & Perry, G. P. 2006. Buku Ajar
Pengambilan Sampel dalam Penelitian Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Siregar, I. A. 2007. Perbandingan Efektifitas
Salemba Medika. Anestesi Oles dengan Anestesi Semprot
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. 2009. Wong’s dalam Menurunkan Intensitas Nyeri pada
Essentials of Pediatric Nursing (8th ed.). Pungsi Arteri. Tesis, Bagian Ilmu
St. Louis Missouri: Mosby Elsvier. Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran,
Ismanto, A. Y. 2011. Studi Komparatif Universitas Sumatera Utara.
Pemberian ASI dan Topikal Anestesi http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6
terhadap Respon Nyeri Imunisasi pada 263/1/Ira Aliza1.pdf
Bayi di Puskesmas Bahu Manado. Van der Veek, S. M. C., Derkx, B. H. F.,
Universitas Indonesia. Benninga, M. A., Boer, F., & de Haan, E.
http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/det 2013. Cognitive Behavior Therapy for
ail.jsp?id=20280168&lokasi=lokal Pediatric Functional Abdominal Pain: A
Kozier, & Erb’s. 2012. Fundamentals of Nursing. Randomized Controlled Trial. Pediatrics,
America: Person PLC. 132 (5), e1163–e1172.
Mariyam, & Widodo, S. 2012. Pengaruh Guided doi:10.1542/peds.2013-0242.
Imagery terhadap Tingkat Nyeri pada