Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa jurnalistik telah berkembang dan
dikenal oleh seluruh masyarakat. Begitu juga dalam pendidikan, jurnalistik juga
menyebarluas, mempengaruhi dan bahkan diajarkan di sekolah. Dalam kurikulum juga di
muat tentang pembelajaran yang mendukung munculnya karya tulis atau karya kreatif yang
termasuk dalam genre karya jurnalistik. Bahkan pihak sekolahpun mendukung adanya
perkembangan jurnalistik tersebut di sekolah dengan memfasilitasi medianya berupa majalah
dinding (mading) atau berupa bulletin sekolah. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa
jurnalistik telah berkembang dan mempengaruhi masyarakat termasuk dalam dunia
pendidikan. Jurnalistik dalam pembelajaran telah dikemas sedemikian rupa dalam kurikulum
sehingga dapat membantu siswa untuk lebih mengenal, memahami, dan menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Baik dari tingkat SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi
terdapat materi tentang jurnalistik yang disematkan dalam kurikulum khususnya mata
pelajaran bahasa Indonesia. Seperti yang dijelaskan sebelumnya hal tersebut dilaksanakan
agar siswa atau peserta didik lebih mengenal, memahami, serta dapat menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu saja, dengan adanya jurnalistik yang berkembang luas
dimasyarakat baik dalam bentuk cetak maupun elektronik tersebut, seharusnya dapat
dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.
Terlebih lagi dalam dunia pendidikan. Jurnalistik dalam dunia pendidikan memiliki
berbagai fungsi yang mendukung ketercapainya tujuan pembelajaran. Jurnalistik dapat
digunakan sebagai pemacu kreatifitas pada siswa atau peserta didik. Dengan jurnalistik siswa
atau peserta didik dapat termotivasi untuk lebih giat berkreasi dan lebih mengasah
kemampuan mereka. Terlebih lagi dengan adanya kasadaran dari pihak sekolah yang
menfasilitasi dengan berbagai media baik berupa madding maupun bulletin sekolah. Siswa
atau peserta didik akan lebih semangat dan berlomba-lomba agar hasil kreatifitasnya dapat
dimuat dan dinikmati oleh orang lain baik teman sejawat maupun guru-guru mereka. Itu
merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi siswa atau peserta didik yang karyanya dapat
dimuat karena itu merupakan salah satu bukti eksistensi siswa atau peserta didik agar diakui

1
keberadaan, kemampuan, dan prestasinya. Berbagai penjelasan di atas dapat menjelaskan
bahwa jurnalistik juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan termasuk dalam
dunia pendidikan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengambil judul makalah ”idelisme
jurnalistik dalam pendidikan”.

B. Rumusan Masalah
Berdasartkan uraian pada latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan
bagaimanakah idealisme jurnalistik dalam pendidikan?

2
BAB II
PEMBAHASAN

Pasca tumbangnya rezim orde baru, dunia pers atau media menemukan momentumnya untuk
tumbuh berkembang dalam memberikan informasi yang selua-luasnya kepada masyarakat, tanpa
harus takut terkekang oleh intervensi pihak-pihak tertentu. Kebebasan pers saat ini memunculkan
lahirnya media-media baru baik elektronik maupun cetak dalam turut menjalankan fungsi-fungsi
media. Namun dengan semakin banyaknya lahir media-media baru, melahirkan pula kompetisi
antar institusi tersebut. Sehingga persaingan menjadi masalah baru dalam dunia jurnalistik.
Kemampuan bertahan sebuah media tidak akan pernah lepas dari seberapa besar modal yang
dimilikinya, karena mengingat biaya produksi yang dikeluarkan cukup besar. Persoalan modal
inilah yang kemudian tidak jarang harus membuat idealisme jurnalistik menjadi “terjual” dalam
persaingan pasar. Sehingga kerap kita lihat sebuah pemberitaan sangat ditentukann oleh sang
pemilik modal yang membiayai media tersebut. Kegiatan jurnalistik sendiri telah berlangsung
sejak lama. Dalam referensi ilmiah, kegiatan tersebut telah dimulai pada masa Romawi Kuno di
bawah kekuasan Kaisar Julius Caesar. Jurnalistik pada masa itu bernama Acta Diurna yang berisi
segala seuatu yang sifatnya informatif semata atas kebijakan-kebijakan Kaisar. Kini, jurnalistik
tidak hanya menjalankan fungsi informasi semata, namun telah bertambah menjadi fungsi
pendidikan, kontrol sosial, mempengaruhi dan juga fungsi menghibur. Dalam menjalankan
fungsi-fungsi tersebut, asas netralitas menjadi tulang punggung dalam menjalankan fungsinya
dengan baik, hal inilah yang kita sebut dengan idealisme. Dan idealisme inilah yang tidak jarang
tergadaikan oleh kepentingan pemilik modal sehingga fungsinya itupun menjadi kehilangan arah.
Belakangan sering muncul kajian yang mempertanyakan idealisme jurnalistik. Kajian ini
muncul sebagai bentuk kritik masyarakat terhadap kelalaian yang disengaja dalam menyuguhkan
informasi. Seperti penyampaian berita yang berpihak pada kepentingan tertentu, baik secara
individu maupun kelompok. Idealisme jurnalistik sangat menentukan penerimaan masyarakat
tehadap sebuah media. Sang dictator sekaliber Hitler pun takut dengan media dikarenakan
idealime jurnalistik, begitupun dengan Napoleon Bonaparte. Jika idealisme tergantikan menjadi
fragmatisme, maka sesungguhnya ruh jurnalistik itu telah telah mati. Jika ruh tersebut mati, maka
kita tidak bisa lagi mengharapkan media sebagai alat kontrol sosial yang kuat. Padahal media
menjadi harapan masyarakat dalam menjalankan kontrol sosial dan pendidikan massa.

3
Pada kondisi suhu politik yang semakin memanas saat ini, netralitas media menjadi salah
satu kunci dalam menjaga stabilitas. Kemampuan media baik elektronik maupun cetak dalam
mengabarkan kejadian politik yang tidak diikuti secara langsung oleh masyarakat dapat diterima
dengan mudah. Oleh karena itu sikap netral dari sebuah media dalam mengabarkan kejadian
yang sebenarnya menjadi tuntutan mutlak, di samping netralitas merupakan salah satu kode etik
yang harus dijalankan.
Dalam negara yang sedang mengalami era transisi seperti Indonesia saat ini, maupun di
negara yang telah maju dalam dunia demokrasi, media menjadi salah satu pilar penting dalam
memberikan pendidikan politik bagi warganya. Hal ini dikarenakan media mampu menjangkau
massa yang luas dalam waktu yang singkat. Kemampuan daya jangkau yang luas tersebut
dibarengi dengan kemampuan mempengaruhi pembaca, apakah ke arah negatif maupun positif,
dikarenakan sifat komunikasi media yang satu arah.
Peran penting media ini hendaknya harus dipahami betul oleh pekerja media atau insan pers.
Etika jurnalistik harus dikedepankan di atas kepentingan lainnya, sehingga masyarakat sebagai
penikmat berita bisa mendapatkan suguhan yang sehat. Tanggung jawab sosial jurnalistik
hendaknya selalu menjadi warning agar bisa lurus dalam menjalankan fungsi-fungsinya. Dan
kemampuan bertahan tersebut sangat ditentukan oleh seberapa besar sebuah media mampu
menjalankan nilai-nilai idealisme jurnalistik.
Seiring perkembangan teknologi dan informasi, peradaban serta kehormatan terhadap
lingkungan di tengah-tengah masyarakat luas harus dikedepankan, sebagai seorang jurnalis
dalam menjalankan tugasnya sebaiknya mengedepankan kebenaran dan keadilan maupun
kejujuran. Dikatakan, melalui pelatihan jurnalistik dan pendidikan pelatihan diharapkan para
penerusnya mampu mengembangkan nilai-nilai jurnalistik untuk membangun kebenaran maupun
kejujuran demi kepentingan orang banyak.
Jurnalistik media kreasi atau yang dapat disingkat sebagai Jurmedkres ini adalah salah satu
bentuk media yang berisi tentang berbagai manfaat dunia jurnalistik dalam pembelajaran.
Sebelum membahas lebih jauh tentang jurnalistik media kreasi tersebut, terlebih dahulu
sebaiknya kita harus mengetahui tentang seluk beluk dari jurnalistik terlebih dahulu.
A. Pengertian Jurnalistik
Dunia jurnalistik sudah banyak di kenal dan menyebar luas di kalangan masyarakat.
Salah satu bentuk nyata hasil dari jurnalistik adalah banyak diterbitkannya media massa, baik

4
cetak maupun elektronik. Bahkan mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, manusia
selalu disuguhin berbagai macam atau jenis berita sebagai hasil dari kegiatan jurnalistik
tersebut. Sehingga istilah jurnalistik sudah tidak asing lagi di mata masyarakat.
Istilah jurnalistik yang tidak asing tersebut, membuat terdapat berbagai asumsi
tentang pengertian atau devinisi jurnalistik. Namun dari berbagai pengertian yang muncul di
masyarakat tersebut, pada intinya sama. Salah satunya pengertian yang dikemukakan oleh
Drs. Sutedjo yang memberikan asumsi bahwa jurnalistik adalah salah satu ilmu komunikasi
yang mempelajari keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan
mengolah informasi tentang suatu permasalahan dan disebarluaskan melalui media massa,
baik cetak maupun elektronik. Beliau juga mengemukakan bahwa bentuk dari karya
jurnalistik adalah uraian atau pendapat yang mengandung nilai berita dan penjelasan masalah
yang aktual atau sedang dibicarakan banyak orang, dan disajikan kepada khalayak melalui
media massa. Jadi, semua bentuk tulis-menulis yang dimuat di media massa merupakan
karya jurnalistik (Peni, 2006:15).
Menurut Sulhan (2006:10) yang memandang berdasarkan segi etimologi (arti
bahasa), jurnalistik journal yang berarti catatan harian. Adapun istik merujuk pada kata
estetika yang berarti ilmu pengetahuan tentang keindahan. Dapat disimpulkan bahwa secara
etimologisjurnalistik dapat diartikan sebagai suatu karya seni dalam hal membuat catatan
tentang peristiwa sehari-hari, karya yang memiliki nilai keindahan yang dapat menarik
perhatian masyarakat sehingga dapat dinikamti dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.
terdiri atas dua kata, yaitu jurnal dan istik. Kata jurnal berasala dari bahasa Perancis,
Sulhan juga mengemukakan bahwa banyak tokoh-tokoh ahli yang memberikan
pandangan mereka yang berbeda-beda tapi memiliki makna yang sama tentang jurnalistik.
Tokoh-tokoh tersebut diantaranya adalah Astrid S Susanto yang
mengartikan jurnalistiksebagai kejadian pencatatan dan pelaporan serta penyebaran tentang
kejadian sehari-hari. Sama halnya dengan pandangan yang dikemukakan oleh Onong
Uchjana Effendi bahwa jurnalistikmerupakan kegiatan pengolahan laporan harian yang
menarik minat khalayah, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat.
Tokoh lain yang ikut menyumbangkan pandangannya adalah A. W. Wijaya yang manyatakan
bahwa jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara
menyiarkan berita ataupun ulasan mengenai berbagai peristiwa atau kejadin sehari-hari yang

5
actual dan faktual dalam waktu yang secepat-cepatnya. Sedanggkan menurut Djen Amar
mengartikan jurnalistiksebagai kegiatan mengumpulkan, mengelolah, dan menyebarkan
berita kepada khalayak seuas-luasnya. Dari berbagai pandangan para tokoh tersebut, Kustadi
Suhandang mencoba menyimpulkan bahwajurnalistik adalah seni dan ketrampilan mencari,
mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi
sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayak
(Sulhan, 2006:11).
Sedangkan menurut Supriyatno dalam bukunya yang berjudulRagam Bahasa
Jurnalistik menjelaskan bahwa Secara harfiah, istilahjurnalistik berasal dari kata “journal”
yang berarti catatan harian. Sedangkan jurnalis adalah seseorang yang pekerjaannya
mengumpulkan, mengolah dan kemudian menyiarkan catatan-catatan harian tersebut.
Sejalan dengan kedua pengertian di atas, Yurnaldi (1992:17) juga menyumbangkan
pemikirannya tentang jurnalistik. Menurutnyajurnalistik berasal dari istilah Acta Diurna,
yang artinya segala kegiatan dari hari ke hari. Dalam bukunya yang berjudul Kiat Praktis
Jurnalistik untuk siswa, mahasiswa, dan calon wartawan, Yurnaldi juga sependapat dengan
asumsi yang dikemukakan oleh Supriyanto. Selain itu, dalam bukunya tersebut Yurnaldi juga
menambahkan pendapat dari Adinegoro, yang menyatakan bahwa jurnalistik adalah
semacam kepandaian mengarang yang pokoknya untuk memberi pekabaran pada masyarakat
dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya.
Berdasarkan berbagai pandangan yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan
bahwa jurnalistik adalah salah satu komunikasi yang menyiarkan berita dan atau ulasan berita
tentang peristiwa-peristiwa sehari-hari yang umum dan aktual dengan secepat-cepatnya.
B. Macam-Macam Jurnalistik
Berdasarkan media penyebarluasannya, jurnalistik terdiri atas dua macam yaitu;
jurnalistik cetak dan jurnalistik elektronik.
1. Jurnalistik cetak
Jurnalistik cetak adalah jurnalistik yang disampaikan melalui media cetak.
Jurnalistik jenis ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari jurnalistik ini
adalah pesan yang disampaikan melalui media cetak bisa dibaca berulang-ulang dan
dapat dibaca dimana saja dan kapan saja. Sedangkan kekurangannya adalah tidak bisa
menyajikan peristiwa yang sedang berlangsung.

6
2. Jurnalistik elektronik
Jurnalistik elektronik adalah jurnalistik yang dipublikasikan melalui media
elektronik. Seperti halnya dengan jurnalistik cetak, jurnalistik elektronik juga memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari jurnalistik ini adalah bisa menyajikan
peristiwa yang sedang berlangsung. Sedangkan kekurangannya adalah pesan hanya dapat
didengar secara sekilas, kalimat singkat, padat, dan sederhana (Peni, 2006:15-16).
3. Unsur-Unsur dalam Jurnalistik
Istilah jurnalistik sering kita dengar. Jurnalistik selalu hadir di tengah-tengah
masyarakat. Hal ini sejalan dengan dengan pergaulan hidup yang dinamis, terus
berkembang, lebih-lebih dalam kehidupan masyarakat modern saat ini. Perkembangan
jurnalistik tersebut tidak lain didukung oleh unsur-unsur yang ada dalam jurnalistik itu
sendiri.Unsur-unsur pendukung tersebut terdiri atas:
1) Jurnalistik(wartawan)
Wartawan merupakan orang-orang yang bertugas mencari, mengumpulkan,
dan mengelola bahan pemberitaannya menjadi konsep berita, komentar, dan iklan
(advertensi) yang akan disiarkan. Wartawan juga bisa dikatakan sebagai jurnalis.
Berdasarkan tugas dan karya yang dihasilkannya, wartawan dapat dibedakan menjadi
dua golongan, yaitu reporter dan editor. Reporter adalah jurnalis atau wartawan yang
bertugas mencari dan mengumpulkan berita atau bahan pemberitaan melalui
peliputan peristiwa yang terjadi. Sedangkan editor adalah jurnalis atau wartawan yang
bertugas mengedit berita, dalam arti menilai dan mempertimbangkan kelayakan dan
kepentingan hasil karya para reporter untuk dijadikan berita atau komentar dan
menyusunnya kembali menjadi produk jurnalistik yang siap cetak.
Selain reporter dan editor dikenal juga istilah koresponden yang merupakan
wartawan yang ditugaskan di suatu tempat dan menetap di daerah tersebut.
Koersponden bertugas meliput semua peristiwa yang terjadi di daerahnya, kemudian
melaporkannya kepada editor media massa tempat koresponden tersebut tercatat
sebagai karyawan yang ditugaskan untuk daerah tertentu.
2) Penerbit
Merupakan instansi yang menyelenggarakan seluruh administrasi penyiaran
informasi atau berita. Berdasarkan cara kerjanya, penerbit dapat diartikan sebagai

7
pembuat kata-kata dan gambar kreatif untuk dipublikasikan (disampaikan kepada
umum). Tugas yang diemban penerbit mencangkup beberapa hal diantaranya adalah
pengeditan, perwajahan, produksi (percetakan), serta pendistribusian (penjualan dan
pengedaran), dan sirkulasi. Namun dalam dunia pemberitaan/jurnalistik khususnya
jurnalistik cetak baik berupa Koran, tabloid dan majalah, tidak harus memiliki
percetakan sendiri. Penerbit media cetak dapat menggunakan jasa percetakan lainnya.
3) Percetakan
Percetakan merupakan unit kerja sebuah media. Naskah yang akan diterbitkan,
setelah melalui proses editing, maka dimasukkan ke percetakan untuk dicetak. Proses
percetakan naskah merupakan metode pembuatan bentuk-bentuk huruf dan gambar.
Percetakan media ini merupakan karya yang menampilkan pengetahua agar setiap
orang dapat membacanya. Melalui karya tersebut disuguhkan fakta-fakta dan ide-ide
dalam bentuk yang bagus dan permanen. Percetakan mempunyai tugas untuk
memoles produk wartawan dari segi grafis-estetikanya menjadi bentuk berita,
komentar, artikel, feature dan iklan dalam surat kabar, majalah, bulletin, dan
sebagainya (Sulhan, 2006:12-15).
4) Fungsi Jurnalistik
Jurnalistik memiliki empat fungsi penting yaitu:
1. To inform
2. To interpret
3. To guide, dan
4. To intertain(Yurnaldi, 1992:17).
5) Bahasa Jurnalistik
Bahasa dalam dunia jurnalistik tidak ubahnya memiliki fungsi sebagai cat atau
bahan-nahan lain serupa bagi pelukis. Jadi, fungsi bahan tersebut bersifat hampir
mutlak. Demikian pula halnya fungsi bahasa bagi seorang penulis atau
wartawan. Karena dengan bahasa itulah yang dipakai untuk mengungkapkan idea tau
informasi yang hendak dibeberkan. Dalam prakteknya, bahasa dapat pula berfungsi
sebagai pisau bermata dua. Yang salah satu sisinya dapat digunakan untuk
menyampaikan maksud penulis, membeberkan informasi, unsur-unsur emosi, dan
lain-lain. Dengan demikian bahasa dapat membuat orang dari tidak tahu menjadi

8
tahu. Sedangkan sisi lainnya, dengan penggunaan bahasa juga mungkin bisa
mencelakakan penulis. Kemungkinan ini bisa terjadi bila pemilihan kata yang kurang
hati-hati. Seperti pepatah yang sering kita dengar yaitu ”mulutmu adalah
harimaumu”. Sedangkan bagi para jurnalis atau wartawan pepatah tersebut bisa
diganti dengan “penamu adalah harimaumu”.
Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang digunakan dalam
majalah, suratkabar, televisi, atau radio. Sebagai suatu ragam bahasa, bahasa
jurnalistik tentu memiliki ciri tertentu, seperti: pertama, bahasa jurnalistik harus
terpelihara. Dan kedua, bahasa jurnalistik harus mudah dipahami(Yurnaldi, 1992:79-
82).
Menurut Djuraid (2007:130) bahasa jurnalistik adalah bahasa yang dipakai dan
dipahami dalam pergaulan sehari-hari sehingga sebagian besar masyarakat yang
melek huruf bisa menikmati isinya. Sedangkan menurut Wojowasito, bahasa
jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagaimana yang tampak dalam harian-
harian dan majalah-majalah. Lain halnya dengan Kurnniawan Junaedhie yang
menjabarkan bahasa jurnalistik sebagai bahasa Indonesia yang digunakan oleh
penerbitan pers. Bahasa yang mengandung makna informatif, persuasif, dan secara
konsensusmerupakan kata-kata yang bisa dimengerti secara umum, harus singkat tapi
jelas dan tidak bertele-tele. Sudaryatno menjelaskan bahwa bahasa jurnalistik adalah
bahasa Indonesia yang dipakai untuk menyampaikan informasi melalui pers, radio,
televisi dan film.
Terdapat beberapa ciri pokok bahasa jurnalistik yang dikemukakan oleh
Rahardi (2006:11-16), diantaranya adalah:
1. Bahasa juranalistik menjunjung tinggi dimensi kekomunikatifan
2. Bahasa jurnalistik menjunjung tinggi dimensi kespesifikan
3. Bahasa jurnalistik menjunjung tinggi dimensi kehematan
4. Bahasa jurnalistik menjunjung tinggi dimensi kejelasan
5. Bahasa jurnalistik mengutamakan ketidakmubaziran dan ketidakklisean
Sedangkan menurut Djuraid (2007:132-135) ada beberapa pedoman bahasa
jurnalistik, yaitu:
a) Ringkas, hemat kata dengan menghilangkan bagian yang tidak penting.

9
b) Jelas, mudah dimengerti dan tidak mengundang pembaca untuk bertanya-tanya
dan membingungkan.
c) Tertib dan patuh pada aturan atau norma yang berlaku dalam menulis berita;
penggunaan bahasa, susunan kata, prioritas dan sebagainya.
d) Singkat, harus diperhatikan titik, koma dan tanda baca lain harus diprhatikan.
e) Menarik, menulis berita yang menarik sangat penting yang menjadi tugas
wartawan yang ditentukan oleh kemampuannya menulis.
6) Genre Karya Jurnalistik
Ada beberapa jenis karya tulis dan karya kreatif dalam jurnalistik, diantaranya
adalah:
 Berita (dalam berbagai ragam pemberitaan)
 Tajuk rencana atau editorial
 Feature atau tulisan khas
 Artikel
 Iklan atau advertensi
 Pojok (sentilan), karikatur/sketsa dan “stop press”
 Esei sastra dan budaya
 Cerita pendek, novel yang diturunkan dalam bentuk cerita bersambung
(cerber).(Supriyanto, 1997:10)
Media merupakan sarana yang digunakan untuk menghubungkan antara satu
dengan lainnya. Seorang guru mengajar di dalam kelas menggunakan media agar siswa
lebih cepat menangkap pelajaran, baik itu yang berbentuk audio maupun yang berbentuk
visual. Media dalam tulisan ini berarti sarana yang dipakai oleh warga sekolah dalam
mengkomunikasikan segala yang ada di sekolah. Komunikasi antara siswa dengan siswa
lainnya, maupun guru dengan siswa, sekolah dengan orang tua, bahkan sekolah dengan
masyarakat yang ada. Dengan media di sekolah, barbagai permasalahan yang
menyangkut kegiatan sekolah dapat disampaikan dengan lebih cepat. Artinya, bahwa
media sekolah ini mampu melayani informasi secara terbuka kepada sekolah dengan
cepat, baik menyangkut program sekolah maupun hal-hal baru yang harus diketahui oleh
segenap keluarga sekolah.

10
Media yang dimaksud ini juga mampu mengembangkan potensi siswa dalam
pembelajaran literasi, yaitu membaca dan menulis. Untuk itulah, sebagai sekolah yang
berusaha menyiapkan generasi penerus, sudah selayaknya membuat media sekolah.
Sudah diketahui bersama bahwa seorang pemimpin perlu dibekali dengan
kemampuan membaca dan menulis. Ini artinya, semua sekolah menyiapkan media yang
mampu menumbuhkembangkan minat membaca dan menulis siswa.
Dari media sekolah inilah akan bermunculan potensi siswa dalam hal menulis.
Mereka mempunyai wadah. Mereka mempunyai tempat untuk berekspresi. Karya mereka
dihargai dan tidak dibuang begitu saja. Dengan demikian maka sekolah telah
memfngsikan diri sebagai tempat pembentukan generasi yang siap menjadi pemimpin
sejati. Semua kembali pada sebuah kemauan yang besar untuk bersama-sama
membangun generasi muda lewat lembaga sekolah.(Sulhan, 2006:61-62).

C. Manfaat Media Sekolah


Media sekolah saat ini bukan hanya sebagai kebutuhan sekunder, tetapi sudah menjadi
kebuthan primer. Ini bukan hanya untuk kepentingan sekolah. Sekolah sebagai lembaga
pendidikan yang bertugas membentuk dan membangun generasi muda, perlu memikirkan
masa depan anak-anak.
Ada beberapa manfaat yang akan dipetik apabila media sekolah di adakan,
diantaranya adalah:
1) Menumbuhkembangkan Minat Membaca dan Menulis
Dengan adanya media sekolah, maka minat membaca dan menulis siswa akan
meningkat. Ini karena mereka merasa dihargai. Karya-karya kreatif dan orisinil yang
mereka tulis mendapat tempat. Selain itu, mereka kan banyak membaca karena dengan
membaca, mereka mendapatkan bahan untuk menulis. Tentunya ini juga akan
mengurangi dominasi televisi karena mereka banyak disibukkan dalam dunia membaca
dan menulis.
2) Menjadi Sarana Komunikasi
Media sekolah juga dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi yang efektif.
Program yang dibuat di sekolah, sesungguhnya dapat disampaikan melalui media
sekolah. Hal itu karena sudah menjadi informasi resmi sekolah, maka mau tidak mau,

11
minimal siswa akan membaca media tersebut. Lebih-lebih media ini dijadikan bacaan
orang tua. Maka akan terjadi komunikasi yang efektif terhadap perkembangan sekolah.

D. Macam-Macam Media di Sekolah


Banyak macam dan ragamnya media sekolah. Ada media sekolah yang sifatnya
permanen, tidak berubah-ubah tempatnya. Ada pula media yang dapat dibawa keman-mana.
Ada media dalam bentuk tulis atau cetak, ada pula media dalam bentuk elektronika.
Majalah dinding sebagai media sekolah permanen yang sering menempel di dinding
sekolah sering dijumpai. Ada yang dikemas cukup sederhana, ada pula yang dikemas
sedemikian rupa sehingga enak dibaca.
Ada juga media sekolah yang mudah dibawa ke sana ke mari, misalnya bulletin
sekolah atau juga majalah sekolah. Seperti halnya majalah dinding, bulletin dan majalah
sekolah ada yang dikemas dalam bentuk yang sangat menarik. Ada bulletin atau majalah
yang menjadi bacaan anak-anak saja, ada pula yang difungsikan untuk bacaan orang
tua. Semua itu bergantung dari tujuan diadakannya media sekolah.
1. Majalah Dinding
Majalah dinding bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Majalah dinding sudah
sering kita dengar. Majalah dinding merupakan bentuk karya tulis yang ditempelkan pada
dinding. Bentuk karya tulis ini tidak mudah untuk dipindah-pindah tempatnya. Kalaulah
dipindah, maka harus bersama dengan papan tempat menempel karya tulis tersebut.
Majalah yang dibuat di sekolah terdapat berbagai jenis. Ada majalah dinding
sekolah yang menjadi informasi sekolah dan ditempel di tempat strategis atau di luar
kelas agar dapat dibaca semua siswa. Majalah dinding semacam ini lebih banyak berisi
beita tentang sekolah. Majalah seperti ini bersifat umum, artinya semua siswa
diperkenankan untuk memberikan karyanya tana dibatasi oleh kelas khusus.
Beda halnya dengan majalah dinding kelas. Majalah dinding kelas adalah majalah
dinding yang dikelola oleh setiap kelas. Penempatan majalah dinding ini biasanya di
dinding bagian luar kelas. Info yang disampaikan dalam majalah dinding kelas
merupakan info kelas itu sendiri. Begitu pula karya-karya yang dipajang juga karya-karya
kelas tersebut.

12
Banyak juga dijumpai sekolah-sekolah yang menggunakan majalah dinding
sekolah dalam bentuk kelompok. Artinya, kelas itu tidak hanya membuat satu majalah
dinding yang di tempel di bagian luar dinding kelas, tetapi siswa di kelas itu dibagi
menjadi beberapa kelompok, bisa tiga, empat, atau sampai lima. Masing-masing
kelompok memunyai papan sendiri yang diletakkan di dalam kelas. Setiap kelompok
merancang bentuk majalah dinding kelompok kelas.
Setiap sekolah seharusnya sudah mampu mengembangkan media sekolah,
minimal membuat majalah dinding. Selain biayanya yang relatif murah dan dapat
dijangkau oleh sekolah, manfaatnya cukup efektif untuk memotivasi siswa dalam
menumbuhkembangkan minat membaca dan menulis. Selain itu, dengan majalah dinding,
informasi sekolah juga bisa tersosialisasi dengan cepat. Anak juga lebih apresiatif
terhadap karya tulis yang dibaca di majalah dinding yang telah dibuat oleh teman-
temannya.
Dengan majalah dinding, anak dilatih untuk bertanggung jawab mengelola sebaik-
baiknya. Peran guru hanyalah sebagai motivator dan fasilitator serta pembimbing agar
minat anak terus tumbuh untuk mengembangkan kreativitasnya di bidang karya tulis.
Untuk itulah, meskipun majalah dinding ini merupakan media yang cukup sederhana,
namun perlu dikelola dengan sebaik-baiknya. Hal ini untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.
Membuat majalah dinding, tidak jauh berbeda dengan membuat media yang
lainnya. Semua membutuhkan kesiapan. Hanya saja, untuk majalah dinding ini
persiapannya tidak terlalu rumit. Kesungguhan dan kemauan adalah modal yang paling
utama untuk merancang sebuah media sekolah. Kemauan dan kesungguhan itu muncul
dari pimpinan sekolah, guru, dan siswa. Pimpinan sekolah sebagai pengambil kebijakan
seharusnya peduli terhadap pengadaan majalah dinding. Begitu pula guru, seharusnya
mampu memberikan motivasi. Lebih penting lagi siswa mempunyai kemauan untuk
membuat majalah dinding ini.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat majalah dinding.
Mulailah dari hal-hal yang cukup sederhana. Jika dimulai dari hal yang cukup sederhana.
Jika dimulai dari hal-hal yang cukup sederhana anak akan merasa santai membacanya.

13
 Persiapan
ð Menyiapkan papan mading
ð Menyiapkan guru Pembina
ð Menyiapkan tim redaksi
 Pelaksanaan
ð Menentukan isi/kolom majalah dinding
Isi kolom dalam majalah dinding biasanya berisi tentang Salam redaksi, Profil, Opini,
Pengetahuan, Berita, Agama, Seni, Mutiara kata, dan Gambar.
 Menentukan jadwal terbit
ð Evaluasi
Dalam setiap penerbitan selalu ada evaluasi. Evaluasi dimaksudkan agar bulletin
yang diterbitkan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang besar.
Evaluasi yang dilakukan ini tentunya bersama dengan Pembina.
Guru Pembina melihat cara kerja tim redaksi. Apakah semua bekerja sesuai
dengan yang diharapkan atau mungkin ada yang efektif. Selain itu, evaluasi tentang
kolom yang ada juga perlu dilakukan. Hal ini untuk memberikan pelajaran kepada tim
redaksi, termasuk penulis-penulis yang tidak tergabung dalam tim redaksi.
Untuk evaluasi dibutuhkan waktu khusus. Tentunya, waktu yang tidak
mengganggu pelajaran sekolah. Dapat pula mengadakan pertemuan rutin bagi tim
redaksi.
Sekolah-sekolah yang sudah mempunyai majalah dinding sebaiknya kualitasnya
terus ditingkatkan. Sementara yang belum memiliki majalah dinding, seyogyanya segera
membuat. Itu semua untuk melatih siswa dalam “jurnalistik”. Selain itu anak butuh
wadah untuk mengaktualisasi diri dari melalui karya tulis.
2. Buletin Sekolah
Salah satu bentuk media informasi dan komunikasi yang lain adalah bulletin.
Bulletin sangat sederhana, bentuknya lembaran-lembaran yang terdiri dari beberapa
halaman saja sehingga informasi yang dimuat tidak terlalu banyak. Meskipun demikian,
bulletin sangat berarti bagi sekolah karena sekolah dapat menginformasikan apa yang
perlu disampaikan kepada siswa atau orang tua. Selian itu, dengan bulletin ini siswa lebih
berkreasi dalam membuat karya tulis.

14
Garan Meskipun bentuknya sangat sederhana, bulletin perlu ditangani secara
serius. Lebih-lebih bulletin merupakan informasi tulis yang dapat dibawa ke mana-mana,
maka sudah seyogyanya ditangani sebaik-baiknya. Jika majalah dinding tidak banyak
membutuhkan biaya, maka bulletin ini sudah harus ada anggaran khusus karena setiap
terbit harus melalui percetakan. Selain itu, naskah yang dimuat juga melalui editor.
Artinya, naskah itu juga perlu diedit dulu. Hal ini untukn menghindari salah konsep atau
adanya kesalahpahaman isi yang dikeluarkan dala bulletin tersebut.
Bulein yang sering dijumpai saat ini adalah bulletin yang dikeluarkan di masjid-
masjid, dan masih dalam bentuk lembaran-lembaran. Isinya pun lebih pada artikel
berkaitan dengan agama. Beda halnya dengan bulletin yang dijumpai di sekolah-sekolah
yang memuat tentang pendidikan. Selain dalam bentuk lembaran-lembaran, ada juga
sekolah yang mengeluarkan bulletin dalam bentuk yang sudah dibukukan, bukan hanya
lembaran-lembaran. Tentunya banyak materi yang dimuat di dalamnya. Ini membuka
peluang bagi siswa untuk lebih kreatif dalam membuat karya tulis yang dimuat di bulletin
tersebut.
3. Majalah Sekolah
Mendengar kata “majalah”, gambaran yang muncul dalam pikiran kita adalah
majalah yang saat ini sudah beredar di tengah-tengah masyarakat, misalnya majalah
“Mentari”, “Aku Anak Soleh”, “Bobo”, “Gadis”, dan lain-lain. Jika dilihat dari
bentuknya, memang seperti itulah majalah. Ada sampul (Cover), ada daftar isi, ada
banyak kolom yang harus diisi.
Majalah sekolah berbeda dengan majalah dinding dan bulletin. Untuk membuat
majalah sekolah, banyak perangkat yang perlu dipersiapkan. Hal ini karena menyangkut
bnayak hal, antara lain, dana, tenaga, dan perangkat lain.
Dana menjadi pembahasan pertama dalam membuat majalah sekolah.
Mengapa?hal itu karena dana diperlukan untuk beberapa hal sebagai berikut:
· untuk percetakan
· Dana untuk penulis
· Dana untuk operasional lainnya.

15
Sebagai sekolah yang hendak membuat majalah sekolah, maka ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam mengelola sebuah majalah sekolah, antara lain sebagai
berikut:
 Membuat struktur organisasi majalah sekolah (Tim Redaksi)
 Menentukan ukuran majalah sekolah
 Menentukan isi majalah
 Menentukan sampul majalah
 Menentukan jadwal terbit

E. Contoh-Contoh Jenis Tulisan di Media


a. Opini
i. Tajuk rencana atau editorial
ii. Artikel
iii. Kolom
iv. Pojok
v. Resensi buku
vi. Info buku baru
vii. Surat pembaca
b. Berita
 Berita langsung
 Berita olahraga
 Berita penyelidikan
 Berita foto
 Moment Expose
c. Feature
 Feature human interest
 pribadi
 perjalanan
 Feature pengalaman
 sejarah

16
 Feature petunjuk aktif
d. Lain-lain
 Cerpen
 Puisi
 Humor
 Bijak

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Saat ini kehidupan masyarakat tidak dapat lagi dilepaskan dari kegiatan jurnalistik
atau pers. Para Ahli jurnalistik secara ekstrem menyamakan pers dengan udara yang
dibutuhkan manusia untuk hidup. Oleh karena sangat penting itulah maka selain dibekali
materi pelajaran yang sudah ada maka siswa perlu dibekali pula ilmu pengetahuan tambahan
mengeni pers atau jurnalistik. Secara langsung saat ini sudah ada sekolah yang dengan intens
telah membekali siswanya dengan ilmu jurnalistik ini. Hal itu bisa dilihat dari telah
diterbitkannya media tulis di sekolah itu, baik berupa Majalah Dinding, tabloid, Web atau
Blog di internet yang dipergunakan sebagai ajang menampung kreatifitas para siswa. Namun
sayang kebanyakan media tulis di sekolah itu sifatnya sementara saja , misalnya untuk
akreditasi sekolah, mengikuti lomba, atau kepentingan lain. Namun demikian ada sebagian
sekolah yang tetap eksis menerbitkan Koran ataupun bulletin sekolah secara berkala dan
tertib dan dikelola secara professional, misalnya mempunyai ruang redaksi khusus, tenaga
keredaksian serta melibatkan fihak luar sekolah dalam hal pembiayaan dengan cara
pemasangan iklan disetiap penerbitan. Namun demikian pada kenyataannya yang malakukan
semacam diatas masih bisa dihitung dengan jari, biasanya sekolah tersebut adalah sekolah
favorit atau unggulan.
Sebenarnya untuk menggiatkan pendidikan jurnalistik lewat Eskul ini tidaklah sulit.
Sekolah cukup meyediakan sedikit waktu dan biaya. Untuk waktu sekolah dapat
berkoordinasi dengan guru pembimbing misalnya diadakan seminggu berapa kali pertemuan
dan hari apa kegiatan tersebut dilaksanakan sepanjang tidak mengganggu kegiatan belajar
mengajar wajib.. Sedang mengenai pemateri atau fasilitator sekolah dapat menunjuk guru
atau mengambil tenaga dari luar yaitu praktisi jurnalistik. Untuk biayanya sekolah bisa
menganggarkan dari RAPBS sekolah berkoordinasi dengan komite , misalnya untuk
membuat ruang redaksi, pembelian bahan liputan, komputer, kamera digital dan membayar
honor pembimbing. Karena sifatnya yang instan ekskul pendidikan jurnalistik ini harus
dirancang secara sistematis, selain teori yang simple dalam bentuk modul, juga disertai
kegiatan praktek di lapangan. Misalnya hunting meliput berita dalam sekolah atau di luar

18
sekolah yang berkenaan dengan pendidikan, menyusun, menyunting berita dan foto, lay-out
majalah dinding atau bulletin sekolah dan kegiatan jurnalistik lain untuk menambah wawasan
siswa. Agar tidak bosan sesekali waktu peserta eskul diajak keluar untuk mengunjungi kantor
redaksi Koran atau majalah dengan tujuan mereka mengetahui secara langsungbagaimana
proses Koran atau surat kabar itu bisa sampai di tangan pembaca atau pelanggan secara
aktual. Misalnya bagaimana berita itu didapat, dibuat lalu disunting menjadi tulisan yang
enak dibaca. Bagaimana gambar itu di cetak, di-lay-out sampai dengan masuk mesin cetak.
Bagi siswa semua itu merupakan pengalaman yang baru sebagai bekal mereka ke bidang
jurnalistik sebenarnya. Selain itu pula untuk meningkatkan kualitas penerbitan mereka. Yang
sering kita lihat majalah dinding sekolah hanyalah ajang penempelan karya siswa yang
serabutan, yang berisi puisi, cerpen, curhat atau karya lain. Tanggal terbitnya pun tak
beraturan tergantung keinginan si pengelola, sehingga ada mading yang hampir setengah
tahun belum diganti. Padahal tempat penempelan mading tersebut cukup bagus dengan
adanya kegiatan eskul pendidikan jurnalistik ini kraetifitas siswa akan tergali sendiri, yang
pada akhirnya sekolah selain menghasilkan calon-calon ilmuwan juga akan menghasilkan
calon-calon penulis atau wartawan handal. Ibarat batu bila tidak rajin diasah tentu tidak akan
bisa runcing, begitu pula menulis jika sejak awal tidak dilatih akan sulit berkembang.
Sebagai contoh penulis atau wartawan terkenal saat ini, kebanyakan lahir lahir dari pers
sekolah atau kampus. Kegiatan tulis menulis mereka telah tertanam sejak mereka bersekolah
atau kuliah. Selain menulis untuk kepentingan majalah untuk sekolah atau kampus, mereka
memberanikan diri mengirimkan tulisannya untuk majalah atau surat kabar umum. Ini semua
untuk ajang latihan, siapa tahu tulisan mereka sesuai dengan selera redaksi dan berhasil
dimuat dalam surat kabar atau majalah. Selain nama mereka terpampang pada surat kabar
atau majalah, mereka juga mendapatkan imbalan yang pantas dari jerih payah karya mereka.
Apabila gagal termuat coba kirim lagi, sambil belajar apa kekurangan dari tulisan mereka
yang dikrim sebelumnya . Karena pentingnya pendidikan jurnalistik inilah maka, hal ini
dapat digunakan sebagai pertimbangan pihak sekolah untuk memasukkan pendidikan
jurnalistik ini sebagai tambahan pelajaran (Ektra Kurikuler). Meskipun tidak secara
mendalam namun siswa telah diperkenalkan teknik dasar ilmu Jurnalistik atau kegiatan tulis
menulis. Selanjutnya bagi yang berminat dapat meneruskannya kejenjang pedidikan tinggi
khusus yang mendidik mereka menjadi jurnalis dan penulis yang handal. Setelah karya

19
mereka bermunculan tentunya akan membawa nama baik sekolah yang telah mendidik dan
membesarkannya.

B. Saran
Disarankan kepada pemerintah agar mengembangkan serta menerapkan pengajaran
dan pelatihan jurnalistik dalam bidang pendidikan. Kegiatan ini diharapkan generasi yang
akan datang akan lebih siap dan tangkas dalam menghadapi era globalisasi yang semakin
sengit.
Selain itu disarankan juga kepada pihak sekolah agar mengadakan kegiatan-kegiatan
yang mendukung kegiatan jurnalistik dari mulai yang ringan seperti pembuatan mading
sampai kepada kegiatan jurnalistik yang berkala seperti olimpiade atau lomba-lomba yang
diadakan oleh depdiknas maupun oleh pihak swasta yang tujuannya mendukung perealisasian
serta perkembangan jurnalistik di dalam bidang pendidikan. Disarankan juga bagi para orang
tua siswa agar selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang ada disekolah yang tujuannya tidak
lain untuk mengembangkan potensi serta bakat anak didik.
Dengan adanya kerjasama yang dilakukan antara pihak sekolah serta pemerintah dan
didukung oleh orang tua wali siswa diharapkan jurnalistik ini akan memberikan sumbangan
ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung serta memberi nilai lebih pada
peserta didik. Sehingga dalam menjalani persaingan ini mereka mampu bertahan dan
akhirnya berhasil meraih tujuan atau cita-cita yang ia dambakan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Muis, A. 1999, Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta: PT. Dharu Annutama.

Assegaff, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, Jakarta:Ghalia Indonesia,


1982.

Suhandang, Kustadi., Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik.
Bandung:Penerbit Nuansa, 2004.

AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis
Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005,

21