Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

FIBER OPTIK – JOBSHEET 1


PEMBANGKIT SINYAL CLOCK (CLOCK SIGNAL GENERATOR)

Disusun Oleh :

Khalimatus Sa’diyah

4.31.14.0.12 / TE-4A

PROGRAM STUDI D4 TEKNIK TELEKOMUNIKASI

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2017
1. Judul : Pembangkit Sinyal Clock (Clock Signal Generator)
2. Tujuan
a. Menganalisa dan menampilkan sinyal-sinyal berikut: sinkronisasi, pengkodean dan
pembangkitan data input dan output, trespass positif dan negatif, dll.
b. Mengatur bagaimana sinyal terbentuk dengan menggunakan switch yang ada di
bagian B (S1+S5).

3. Alat dan Bahan


1. Oscilloscope
2. Modul Lorenzo

4. Dasar Teori
Sinyal clock merupakan sinyal yang berubah-ubah antara keadaan high dan keadaan
low, atau dengan kata lain sinyal clock berbentuk sinyal kotak atau pulsa kotak yang
mempunyai logic 0 (low) dan 1(high). Sinyal clock berfungsi untuk mengatur kegiatan
dari sirkuit digital. Selain itu, sinyal clock juga berfungsi untuk mensinkronkan semua
perangkat pada suatu sistem. Sebuah sinyal clock dihasilkan oleh sebuah clock signal
generator atau pembangkit sinyal clock.
Jika membahas mengenai sinyal clock, maka tak jauh dari line coding. Terdapat
beberapa macam line coding, antara lain,
1. NRZ (Non Return to Zero), pada coding ini, pulsa baru kembali ke nol setelah satu
perioda bit. Terdapat 4 macam coding NRZ yaitu
 NRZ(L) atau Non Return to Zero Level
 NRZ(I) atau Non Return to Zero Inverted
 NRZ(M) atau Non Return to Zero Mark
 NRZ(S) atau Non Return to Zero Space
2. RZ (Return to Zero), pada coding ini, lebar pulsa kurang dari satu perioda bit.
Dimana RZ hanya mejadi 1 pada setengah dari time slot dan menjadi 0 saat
setengahnya lagi.
3. Manchester coding, pada coding ini, terjadi inversi sinyal pada saat sinyal bit
berada di tengah interval, kondisi ini digunakan untuk sinkronisasi dan bit
representasi.
Gambar 1. Line Coding

5. Gambar Rangkaian
6. Hasil Percobaan

Langkah Hasil Oscilloscope

Langkah 4

Langkah 5

Langkah 7

Langkah 12
Langkah 13

Langkah 15

Langkah 17

Langkah 18
Langkah 19

Langkah 20
saat S2 =
Mark

Langkah 20
saat S2 =
SPACE

Langkah 21
Langkah 22

Langkah 23

Langkah 24

Langkah 25
Langkah 26

Langkah 28

Langkah 31

Langkah 31
saat B6 ke
A3
Langkah 31
saat B7 ke
A4

Langkah 34

Langkah 37
saat
S3,S4 = ON
dan S2 =
MARK

Langkah 37
saat
S3,S4 = OFF
dan S2 =
SPACE
Langkah 37
saat
S3,S4 = OFF
dan S2 =
MARK

Langkah 37
saat
S3,S4 = ON
dan S2 =
SPACE

Langkah 38
saat probe 2
di B6

Langkah 38
saat probe 2
di B8
Langkah 38
saat probe 2
di B11

Langkah 38
saat probe 2
di B12

Langkah 38
saat probe 2
di B13

Langkah 38
saat probe 2
di B15
7. Analisa
Pada percobaan ini yaitu menggunakan pembangkit sinyal clock dalam modul De
Lorenzo DL 3155M63 sebagai pengambilan sampel data input maupun output.
Percobaan ini digunakan untuk mengetahui sinkronisme sinyal input dan output terhadap
pengkodean dalam sistem transmisi optic. Blok clock signal generator digunakan
untuk membangkitkan sinyal clock yang digunakan untuk memodulasi suatu sinyal
informasi ke dalam bentuk gelombang. Dalam blok pembangkit sinyal clock ini terdapat
beberapa komponen yang menghasilkan dan memproses pengkodean sinyal yang
memiliki karakter khusus dalam pemrosesan datanya, komponen tersebut antara lain
PLD - CY37064P44, IC 74HC244, IC 74HC138, IC 74HC74, Quartz oscillator 12.288
MHz, VCXO, dan Quartz controlled oscillator 12.288 MHz.
Komponen U1 yang merupakan PLD - CY37064P44 adalah komponen yang
berfungsi sebagai algoritma program utk mempermudah penggunaan dalam membangun
sebuah rangkaian digital. Komponen U2, U3, U4, U5 merupakan IC 74HC244 yaitu
buffer driver atau jalur 8-bit dengan output 3-state. IC ini berfungsi untuk buffer 4-bit
atau 8-bit penyangga dan memiliki dua keluaran yaitu 1OE dan 2OE yang masing-
masing mengendalikan empat dari output 3-state. IC ini memiliki input yang merupakan
diode penjepit yang fungsinya sebagai pembatas arus pada input dengan tegangan yang
lebih tinggi dari Vcc. Rangkaian ini sebagai penguat sinyal clock yang dihasilkan oleh
komponen PLD pada komponen U1 yang selanjutnya akan dilakukan proses sinkronisasi
oleh rangkaian IC ini dengan PLD sehingga keluaran sinyal tersebut akan cukup kuat
untuk ditransmisikan ke komponen selanjutnya.
Komponen U6 merupakan IC 74HC138, IC ini adalah tipe IC CMOS yang fungsi
utamanya sebagai decoder sinyal clock yang berasal dari PLD. Prinsip komponen ini
menerima tiga bit weighted address pada pin input A0, A1 dan A2 yang kemudian akan
menghasilkan satu ouput aktif rendah dengan remaining tujuh menjadi tinggi ketika
komponen ini diaktifkan.
Kemudian komponen IC 74HC74 yang yaitu yang berada pada simbol U7, U8 dan
U9. Komponen IC 74HC74 ini digunakan sebagai rangkaian D Flip Flop dengan dual
positive edge triggered yang masukannya berupa diode penjepit seperti pada IC U2
sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penyimpanan data digital pada rangkaian dan
sebagai enable input clock yang sebelumnya telah diproses oleh IC pada komponen U6.
Komponen selanjutnya yaitu U10 yang merupakan merupakan IC CMOS 4-bit yaitu
Quartz Oscillator 12.288 MHz. Komponen ini berfungsi untuk memproses sinyal yang
telah dihasilkan oleh komponen-komponen sebelumnya yang kemudian akan diolah
kembali dari output komponen U1 hingga U9. Komponen U11 adalah VCXO 12.288
MHz, yang merupakan osilator dengan tegangan terkontrol (stabil) yang memliki fungsi
untuk menentukan frekuensi keluaran yang dihasilkan dari sinyal clock yang telah
dibangkitkan.
Pada blok diagram clock signal generator terdapat beberapa Switch, yaitu S1, S2,
S3, S4, dan S5. Ketika Switch 1 (S1) dalam kondisi ON maka memberikan koding MAN
dan ketika pada kondisi DOWN maka memberikan koding Biphase-L. Ketika Switch
(S2) dalam kondisi ON maka akan memberikan koding SPACE, dan ketika kondisi
DOWN akan memberikan koding MARK. Sedangkan S3 dan S4 berfungsi memberikan
data dengan panjang 15 bit, serta S5 berfungsi sebagai internal generation dari pseudo-
random datum.

8. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Hasil dari line coding yang ditampilkan pada osciloscope telah sesuai dengan teori
tentang jenis line coding.
2. Line coding merupakan proses konversi data digital menjadi sinyal digital
3. Pada saat percobaan dilakukan error pada line coding dapat disebabkan karena
kurang baiknya IC yang ataupun peralatan yang digunakan.