Anda di halaman 1dari 14

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Apendiksitis

2.1.1 Definisi

Apendiksitis adalah suatu peradangan dari apendiks vemiformis

dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendiks di

sebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang selama ini di kenal dan

digunakan di masyarakat kurang tempat karena yang merupakan usus

buntu sebenarnya adalah sekum.Sampai saat ini belum diketahui secara

pasti apa fungsi apendiks sebenarnya. Namun demikian, organ ini sering

sekali menimbulkan masalah kesehatan (Syamsuhidayat, 2005).

Pada saat makanan masuk ke dalam usus dua belas jari, makanan

tersebut akan dicampur dengan enzim-enzim dan cairan empedu yang

dihasilkan oleh hati. Selanjutnya, makanan disalurkan ke dalam usus halus.

Dinding usus halus memiliki banyak kelenjer yang mampu memproduksi

getah usus higga mencapai 3 liter. Gejala usus ini mengencerkan bubur

makanan (dr. Endang Lanywati, 2001).

2.1.2 Anatomi dan Fisiologi

Apendiksitis merupakan organ berbentuk tabung buntu sebesar jari

kelingking dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal di

sekum.Lumennya sempit dibagian proksimal dan melebar dibagian

6
7

proksimal dan melebar dibagian distal. Pada 65% kasus apendiks

ditemukan intra peritonal. Kedudukan ini memungkinkan apendiks

bergerak dan ruang geraknya bergantng pada mesoapendiks pengantungnya

(Lindesth,2005; Pieter, 1997).

Persyarafan para simpatis berasal dari cabang n.vagus yang

mengikuti a. Mesenterika superior dan a. Apendiksitis,sedangkan

persyarafan simpatis berasal dari n. Torakalis x karena itu nyeri viseral

pada apendiksitis bermulah pada umbilikus. Pendarahan apendiks berasal

dari a. Apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jikab arteri ini

tersumbat.Apendiks akan mengalami gangren (Pieter, 1997).

Apendik menghasilkan lendir 1-2 ml perhari.Lendir itu secara

normal dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke

sekum.Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan

pada petogenesis apendiksitis (Pieter, 1997).

Immunologlobin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Glit

Associated Limhoid Tissue) yang terdapat sepanjang saluran cerna

termasuk apendiks ialah lg A. Immunoglobin ini sangat efektif sebagai

pelindung terhadap infeksi (Pieter, 1997; Zdravkouk,2007).

2.1.3 Etiologi

Penyebabnya hampir selalu akibat obsruksi lumen apendiks oleh

apendikolat, fekalomas (tinja yang mengeras), parasit (biasanya cacing

7
8

ascaris), benda asing, karsinoid, jaringan parut, mukus dan lain-lain

(Subanada, 2007; Prince dan Wilson, 2006).

Menurut Max Banner ada diantara beberapa faktor yang paling

sering ditemukan dan kuat denganya sebagai penyebab adalah faktor

penyumbatan oleh tinja (feses) dan hyperplasia jaringan limfoit.

Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri

untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja (feses)

manusia sangat mungkin sekali telah dicemari oleh bakteri (kuman)

Eschericia coli. Inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang

berakibat pada peradangan usus buntu. Makan cabai bersama bijinya

atau jambu klutuk berserta bijinya seringkali tidak tercena dalam

tinja terjadinya dan menyelinap kesaluran apendiks sebagai bahan

asing, begitu juga terjadinya pengerasan tinja (feses)/konstipasi dalam

waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk ke

saluran apendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri

bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan

peradangan usus buntu tersebut.

Seorang yang mengalami penyakit cacingan, apabila cacing yang

beternak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu makan

banyak dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu (http://www.

Infopenyakit.com).

8
9

2.1.4 Manifestasi Klinis

a. Nyeri mendadak atau secara bertahap nyeri difus didaerah epigastrum

atau peri umbilikus sering terjadi.

b. Dalam beberapa jam, nyeri menjadi lebih terlokalisasi dan dapat

dijelaskan sebagai nyeri tekan didaerah kuadran kanan bawah abdomen.

c. Nyeri lepas (nyeri yang timbul sewaktu tekanan dihilangkan dari bagian

yang sakit). Merupakan gejalah klasik peritonitis dan umum ditemukan

di apendiksitis. Terjadi difansmusklar atau pengecangan perut.

d. Deman.

e. Mual dan muntah (Corwin, 2009)

f. Gejalah apendiksitis terkadang tidak jelas dan tidak khas sehingga sulit

dilakukan diagnosa dan akibatnya apendiksitis tidak di tangani tempat

pada waktunya, sehigga biasanya baru diketahui setelah terjadi

perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendiksitis tidak

jelas :

1. Pada Anak-Anak

Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan,

seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya dan beberapa

jam kemudian akan terjadi mutah-mutah dan anak menjadi lemah dan

letargik karena ketidak jelasan gejala ini, sering apendiksitis

diketahui setelah perporasi begitupun bayi, 80-90% apendiksitis

baru diketahui setelah terjadi perforasi

9
10

2. Pada Orang Tua Berusia Lanjut

Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas sehingga lebih

dari elah terjadi perforasi.

3. Pada Wanita

Gejala apendiksitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan

yang gejalanya serupa dengan apendiksitis yaitu mulai dari alat

genital (proses ovulasi, menstruasi), radang panggul atau penyakit

kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan

trimester gejalah apendiksitis berupa nyeri perut. Mual dan muntah

dikacaukan dengan gejala serupa yang biasanya timbul pada

kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum

apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak

dirasakan diperut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan

(Anita,2008).

2.1.5 Komplikasi

a. Dapat terjadi peritonitis jika apendiks yang membengkak pecah.

Peritonitis secara bermakna meningkatkan resiko komplikasi

(Corwin, 2009).

b. Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya

perforasi apendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang

ditandai dengan demam tinggi. Nyeri makin hebat melimputi seluruh

perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans

10
11

muskuler diseluruh perut. Peristaltik usus menurun sampai

menghilang karena ileus paralitik (Syamsuhidayat, 1997).

2.1.6 Penatalaksanaan

a. Pengangkatan apendiks secara bedah.

b. Apabila apendiks pecah sebelum tindakan bedah, diperlukan

pemberian antibiotik untuk mengurangi resiko peritonitis dan sepsis.

Pemberian antibiotik intravena diberikan untuk antisipasi bakteri

patogen antibiotik initial diberikan termasuk generasi ke-3

(Ephalosporins, Ampicilin, sulbaktam, dll) dan Metronidasol atau

Klindanisin untuk kuman anaerob. Pemberian antibiotik postops harus

diubah berdasarkan kultur dan sensitivitas. Antibiotik tetap diberikan

sampai pasien tidak demam dengan normal leukosit.

Setelah memperbaiki keadaan umum dengan infus antibiotik

serta pemasangan pipa nasogastrik perlu dilakukan pembedahan

sebagai terafi definitif dan appendisitis perporasi terapi benda meliputi

apendiktomi dan laporaskopik apendiktomi. Apendiktomi terbuka

merupakan operasi klasik pengangkatan apendiks. Mencakup Mc.

Burney insisi, dilakukan direksi melalui obligue interna dan

transversal untuk membuat suatu muscle spreading atau muscle

spliting. Setelah masuk ke peritonium apendiks dikeluarkan ke

lapangan operasi, diligasi dan dipotong. Mukosa yang terkena dicauter

untuk mengurangi perdarahan, beberapa orang melakukan inversi pada

11
12

ujungnya, kemudian sekum dikembalikan ke dalam perut dan insisi

ditutup (Brunner dan suddart, 1997).

2.2 Pengetahuan (Knowledge)

2.2.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan dapat diperoleh dari peningkatan pendidikan, karena

makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin realitis cara

berpikiranya serta makin luas lingkup jangkauan berpikir. Oleh karena

itu, makin tinggin pengetahuan seseorang terhadap penyakit

apendiksitis makin tiggi pula penigkatan kewaspadaan terhadap

penyakit apendiksitis, sehingga akan menjaga agar dirinya dan orang

lain tidak terkena penyakit apendiksitis.

Pengetahuan yang tercangkup dalam domain kognitif mempunyai

6 tingkatan yaitu:

12
13

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tigkat ini

adalah mengingat kembali (recall). Sesuatu yang pesifik dan

seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

diterimah, oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkatan pengetahuan

yang paling rendah. Kata kerja yang digunakan untuk mengukur

bahwa orang tahu tentang apa yang ia pelajari antara lain

menyebutkan, menguraikan, mendepinisikan, menyatakan dan

sebagainya.

Contoh : dapat menyebabkan tanda-tanda kekurangan kalori

dan protein pada anak balita.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

mengiterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yaNg telah

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan, contoh menyimpankan, meramalkan dan sebagainya

terhadap objek yang dipelajari. Misalnya menjelaskan mengapa

harus makan-makanan yang bergizi.

13
14

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

mengunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi

real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi

atau pengunaan hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya

dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan

rumus statistik dalam perhitugan-perhitungan hasil penelitiaan, dapat

menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah kesehatan

dari khusus yang diberikan.

d. Analisis (Analysis).

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih

didalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu

sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari pengunaan

kata kerja, seperti dapat mengambarkan (membuat bagan),

membedakan, memisahkan mengelompokkan dan sebaliknya.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan dan menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah

suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-

formulasi yang ada. Misalnnya dapat menyusun, dapat

14
15

merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyewsuaikan dan

sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation).

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara

atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur

dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan

yang ingin kita ketahui atau kita umur dapat kita sesuaikan

dengan tingkatan-tingkatan diatas (Notoatmodjo, 2007).

2.3 Sikap (Attitude)

2.3.1 Definisi Sikap

Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain

yang paling dekat. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidsk selalu

terwujud dalam suatu tindakan nyata.

Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari

seseorang terhadap suatu setimulus atau objek. Beberapa batasan lain

tentang sikap ini dapat dikutipkan sebagai berikut (Notoatmodjo, 2007).

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari beberapa

tingkatan:

15
16

a. Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

b. Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indiksi dari sikap.

c. Menghargai (Valuing)

Mengajak orang lain untik mengerjakan atau mendiskusikan suatu

masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tinggi.

d. Bertanggung Jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

2.4 Pendidikan

2.4.1 Definisi Pendidikan

Menurut Notoatmodjo (2007) pendidikan secara umum adalah

segalah upaya yang direncanakan umtuk mempengaruhi orang lain,

baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan

apa yang diharapkan oleh pelaku didik. Dari batasan ini tersirat

unsur-unsur pendidikan yaitu:

a. Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok masyarakat)

dan pendidik melaksanakan pendidikan.

16
17

b. Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain).

c. Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).

2.5 Keluarga

2.5.1 Definisi Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari atas

kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu

tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes

RI, 1998).

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung

karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan

mereka hidup dalam suatu rumah tangga.

2.5.2 Tipe Keluarga

Pembagian tipe keluarga tergantung pada konteks keilmuan dan

orang yang mengelompokkan:

a. Secara tradisional

Secara tradisional keluarga dikelompokkan menjadi dua yaitu:

1. Keluarga inti (Nuclear family)

Adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-

anaknya yang diperoleh dari keturunanya atau adopsi keduanya.

17
18

2. Keluarga besar (Extended family)

Adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang

masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek, paman-bibi).

2.5.3 Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai

tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan meliputi:

a. Mengenai masalah kesehatan keluarga yang tidak boleh diabaikan

karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena

kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga

habis.

b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga

c. Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari

pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga dengan

pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan

memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.

d. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan

e. Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tapi

keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga

sendiri.

f. Memodifikasi lingkungan keluarga uantuk menjamin kesehatan

keluarga.

18
19

g. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi

keluarga.

Menurut Setiadi (2008) bahwa struktur keluarga terdiri dari

bermacam-macam, di antaranya:

a. Patrilineal

Adalah keluarga sedarah .yang terdiri dari sanak saudara sedarah

dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur

garis ayah.

b. Matrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah

dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalauai jalur

garis ibu.

c. Matrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga

sedarah istri.

d. Patrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga

sedarah suami.

e. Keluarga kawinan

Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan

keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga

karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

19

Beri Nilai