Anda di halaman 1dari 22

RANGKUMAN PENGANTAR HUKUM INDONESIA

SENDI-SENDI HUKUM

Pengertian hukum:
Hukum adalah kumpulan atau peraturan hukum yang dibuat oleh penguasa /
pemerintah yang berisi norma-norma dan sanksi-sanksi dan bertujuan agar
masyarakat dapat menjaga ketertiban serta mematuhi aturan-aturan yang tertulis.

Masyarakat hukum:
Merupakan sistem hubungan teratur dengan hukumnya sendiri yang menyebabkan
adanya keteraturan antara anggota masyarakat dengan sistem hukumnya.

Pengertian dasar-dasar Sistem Hukum


Pengertian dasar sistem hukum harus didahului oleh suatu uraian tentang
pengertian-pengertian dasar sistem hukum. Ruang lingkup dari ilmu-ilmu hukum
adalah kaedah-kaedah hukum, keputusan-keputusan pejabat, kebiasaan, dan lain
sebagainya, yang merupakan suatu struktur menyeluruh yang disebut sistem.

Dan apabila menyangkut mengenai masalah sistem maka faktor-faktor yang relevan
untuk dibahas antara lain:
1. Elemen-elemen suatu sistem
Artinya ada patokan tertentu yang membedakan elemen-elemen suatu sistem
hukum harus dapat dibedakan dari elemen-elemen sistem ekonomi, politik,
dan sosial
2. Pembagian aneka sub sistem
Artinya suatu sistem terdiri dari bagian-bagian yang merupakan aneka sub
sistem.
Misalnya, sistem hukum mencakup sub sistem hukum publik dan sub sistem
hukum perdata
3. Konsistensi
Artinya tidak ada hak-hak yang berlawanan dalam suatu sistem.

1
Misalnya, peraturan perundang-undangan dalam bidang hukum pidana harus
sinkron, baik secara vertikal maupun horizontal
4. Kelengkapan sistem
Adanya saling keterkaitan dan syarat tertentu
5. Pengertian dasar (Grondbegrippen)
Yaitu pengertian-pengertian yang menjadi ciri pengenal diri suatu sistem

Pengertian-pengertian dasar yang menjadi ciri dari sistem hukum adalah sebagai
berikut:
1. Masyarakat hukum
Artinya masyarakat sebagai sistem hubungan teratur dengan hukum itu
sendiri. Hubungan itu dalam hal ini dapat diartikan relation (abstrak) maupun
communication (konkret). Hubungan itu dapat ada tanpa communication
walaupun para pihak dalam hubungan itu diam saja, tidur semua, bahkan ada
yang mati sekalipun
2. Subyek hukum
Adalah sistem hubungan teratur yang menyimpulkan berbagai pihak yang
berhubungan dengan sistem itu, masing-masing pihak itulah yang disebut
subyek hukum
3. Peranan (kewajiban / hak) dalam hukum
Kewajiban merupakan rule / peranan imperatif karena tidak boleh tidak
dilaksanakan. Sedangkan hak adalah rule atau peranan yang fakultatif
sifatnya karena boleh tidak dilaksanakan
4. Peristiwa hukum
Ada 3 kelompok peristiwa hukum, yaitu:
a. Keadaan yang mungkin bersegi, meliputi
- Alamiah
Misalnya siang hari atau malam hari
- Kejiwaan
Normal atau abnormal
- Sosial
Misalnya keadaan darurat / perang
b. Kejadian
Misalnya dalam keadaan perang kudeta / darurat
2
c. Sikap tindak dalam hukum
- Menurut hukum yang mungkin sepihak atau jamak pihak (perjanjian)
- Sikap tindak lain, misalnya jual beli dalam hukum adat
(zaakwaarneming)
5. Hubungan hukum
Terbedakan dalam:
a. Hubungan nebeneinander / sederajat dan hubungan nacheinander / beda
derajat
Yang sederajat tidak hanya terdapat dalam hukum perdata (suami istri),
tetapi juga dalam hukum negara. Dan yang beda derajat tidak hanya
dalam hukum negara (penguasa – negara) tetapi juga dalam hukum
perdata – antara orang tua dan anak
b. Hubungan timbal balik dan hubungan timpang – bukan sepihak
Disebut timbal balik hubungan karena para pihaknya sama-sama
mempunyai hak dan kewajiban. Dalam hubungan timpang maka pihak
yang satu hanya mempunyai hak saja, sedangkan pihak lain berkewajiban
saja. Jadi yang membedakan perbedaan itu adalah bahwa hubungan
sederajat itu selalu timbal balik, misalnya pinjam meminjam itu sederajat
tapi timpang. Hubungan beda derajat juga mungkin timbal balik seperti
halnya hubungan buruh dan majikan
6. Obyek hukum
Merupakan kepentingan bagi subyek hukum dan kepentingan itu mungkin:
a. Bersifat material dan berwujud
Dalam bahasa indonesia disebut benda atau barang
b. Bersifat immaterial
Seperti misalnya obyek hak cipta yang tidak harus disamakan dengan
hasil ciptaannya

Perbedaan hukum

Hukum dapat dibedakan kedalam:


1. Hukum perundang-undangan
Yang mencakup hukum yang dicantumkan dalam perundang-undangan atau
wettenrecht
3
2. Hukum kebiasaan
Yaitu keajengan-keajengan dan keputusan-keputusan antara penguasa dan
warga masyarakat yang didasarkan pada keyakinan akan kedamaian
pergaulan hidup (gewoonterecht)
3. Hukum yuridprudensi
Yang mencakup hukum yang dibentuk dalam keputusan-keputusan hakum
(yurisprudentie-recht)
4. Hukum traktat
Yakni hukum yang terbentuk dalam perjanjian-perjanjian internasional
(tracten-recht)
5. Hukum ilmiah
Yang merupakan hukum yang dikonsepsikan oleh kalangan ilmu hukum
(wetenschaps-recht)

Dilain pihak adalah pula perbedaan yang didasarkan pada isi atau hubungann yang
diatur oleh hukum atau kepentingan yang diatur, sehingga diperoleh perbidangan
dalam:
1. Hukum publik
Mengatur kepentingan hukum, jadi hukum publik itu dihubungkan dengan
aturan dimana unsur (campur tangan) penguasa
2. Hukum perdata (privat)
Yang dimaksud adalah hukum perdata yang biasanya berisikan hubungan
antar pribadi

Perbedaan hukum material (substantif) dengan hukum formil (adjektif) atau hukum
acara
- Hukum material atau hukum substantif adalah hukum material yang
berisikan hubungan antara subyek hukum, hak-hak dan kewajibannya
dan peristiwa-peristiwa hukum
- Hukum formil atau hukum adjektif atau hukum acara adalah hukum
material yang harus “ditegaskan” yang mana hal ini terjadi dalam suatu
proses dan diatur pula aturan-aturannya

4
Pembidangan tata hukum

Sistematika dasar hukum yang digunakan adalah sebagai berikut:


1. Klasifikasi hukum tantra / hukum negara
a. Hukum tata tantra atau hukum tata negara
- Materiel
- Formil
b. Hukum administrasi tantra atau hukum administrasi negara
- Materiel
- Formil
2. A. Hukum perdata materiel yang mencakup
a. Hukum pribadi
b. Hukum harta kekayaan yang terdiri dari
- Hukum benda
i. Hukum benda tetap atau hukum agratia
ii. Hukum benda lepas
- Hukum perikatan
i. Hukum perjanjian
ii. Hukum penyelewengan perdata
iii. Hukum perikatan lainnya
- Hukum hak imaterial
c. Hukum keluarga
d. Hukum waris
B. Hukum perdata formal
3. Hukum pidana, yaitu:
a. Material
b. formal

Hukum tata negara dan hukum administrasi negara

Negara adalah suatu organisasi yang mengatur keseluruhan hubungan antara


manusia satu dan manusia lain dalam masyarakat. Sedangkan menurut Kranenburg
negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang diciptakan oelh sekelompok

5
manusia yang disebut bangsa, dengan tujuan untuk menyelenggarakan kepentingan
mereka bersama.

Menurut Miriam Budiardjo Hukum Tata Negara adalah sekumpulan peraturan hukum
yang mengatur organisasi dari negara, hubungan antar alat perlengkapan negara
dalam garis vertical dan horizontal serta kedudukan warga negara dan hak asasinya.
Menurut Logemann Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur organisasi
negara. Hukum Tata Negara adalah hukum mengenai susunan suatu negara.
Dimana negara memperlihatkan 3 kenyataan:
(1) Kekuasaan Tertinggi.
(2) Wilayah yaitu lingkungan kekuasaan.
(3) Warga Negara.
.
Negara Hukum berdasarkan 2 asas pokok, yaitu:
a. Asas legalitas yaitu asas bahwa semua tindakan negara harus didasarkan atas
dan dibatasi oleh peraturan yaitu Rule of Law.
b. Asas perlindungan kebebasan dan hak pokok manusia, semua orang yang ada
di wilayah negara dalam hal kebebasan dan hak itu sesuai dengan
kesejahterahan umum.

Kekuasaan tertinggi negara dilakukan dalam suatu wilayah tertentu yaitu wilayah
negara, tempat dimana kekuasaan tertinggi itu dapat dijalankan secara efektif yaitu
meliputi tanah dan udara. Setiap negara berhak menggali kekayaan alam yang
terkandung dalam landasan laut sampai batas yang merupakan wilayah negara.

Warga Negara, adalah mereka yang mempunyai keanggotaan yuridis dari negara.
Ada dua asas kewarganegaraan, yaitu:
(1) ius sanguinis, seseorang menjadi warga negara karena keturunan
(2) ius soli, seseorang menjadi warga negara karena kelahiran di wilayah suatu
negara tertentu.

Warga negara merupakan unsur penting untuk berdirinya suatu negara, maka dalam
HTN, seorang warga negara mempunyai wewenang, kewajiban dan perlu mendapat
perlindungan terhadap hak asasinya.
6
Rumusan tentang hak asasi manusia yang diakuai oleh dunia internasional lahir
tangal 10 desember 1948 melalui Universal declaration of human rights. Di
Indonesia, hak asasi manusia diaturdalam pasal 26,27,28,28A-J UUD 1945. Selain
itu, hak asasi manusia juga diatur dalam Undang-undang nomor 39 tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia.

Organisasi suatu negara disusun berdasarkan Hukum Tata Negara yang


bersangkutan. Dalam Hukum Tata Negara Indonesia, terdapat dua hal:
1. Bagaimana Organisasi Negara Indonesia;
2. Bagaimana sisten Hukum Tata Negara Indonesia.

Organisasi Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945. UUD sebagai dari Hukum
Dasar. UUD ialah Hukum Dasar yang tertulis disamping itu berlaku Hukum Dasar
tidak tertulis. Terdapat pula Pembukaan UUD 1945 yang memiliki pokok-pokok
pikiran, yaitu:
1. Negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah indonesia
dengan berdasarkan atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
2. Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
3. Negara yang berkedaulatan yang berdasar atas kerakyatan dan
permusyawaratan perawakilan.
4. Ketuhanan yang maha esa menjadi dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.

Mengenai bagaimana sistem Hukum Tata Negara Indonesia harus diketahui


bagaimana asas-asas peraturan-peraturan Hukum Tata Negara, yang merupakan
elemen sistem.
Adapun asas dan peraturan UUD 1945, adalah:
1. Asas negara kesatuan yang berbentuk republic (pada psal 1)
2. Sistem pemerintahan negara adalh negara hukum (pasal 1 ayat 3)
3. Kekusaan negara tertinggi ditangan MPR (penjelasan UUD 1945)
4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi di bwah
majelis.
7
5. Presiden tidak bertanggungjawab kepada DPR
6. Kekuasaan negara tidak tak terbatas (Tidak Absolut)
7. Kedudukan DPR adalah Kuat.
8. Asas kedaulatan rakyat (pasal 1 ayat 2)
9. Asas multi tugas presiden; eksekutif (pasal 4 ayat 1); legislatif (pasal 5 ayat
1): RUU, (pasal 5 ayat 2): menetapkan PP, (pasal 22 ayat 1): Perpu;
yudikatif (pasal 14), ayat 1: presiden memberikan Grasi dan Rehabilitasi
dan ayat 2: presiden member amnesti dan abolisi.
10. Asas Kabinet presidensil (pasal 17)
11. Asas desentralisasi, dekonsentrasi, asas tugas pembantuan.
12. Asas saling mengawasi (check and balance) antara kekuasaan eksekutif
dan legislatif.
13. Asas saling mengawasi antara kekuasaan eksekutif dan yudikatif.

Hukum Admintrasi Negara

Untuk dapat memahami Hukum Administrasi Negara (HAN), perlu terlebih dahulu
mengerti apa yang disebut Administrasi Negara. Administrasi Negara adalah
aktifitas-aktifitas negara dalam melaksanakan kekuasaan-kekuasaan politiknya.
Dalam arti sempit: aktifitas-aktifitas badan-badan eksekutif dan kehakiman. Dalam
arti yang lebih khusus lagi: aktifitas badan-badan eksekutif saja dalam
melaksanakan pemerintahan.

Utrech.T menggambarkan Administrasi Negara sebagai kompleks Van Ambten


(gabungan jabatan-jabatan yang melaksanakan tugas pemerintahan) mempunyai
arti yang sempit yaitu hukum yang mengatur aktivitas badan-badan eksekutif disebut
Hukum Administrasi Negara (HAN). Hukum Administrasi Negara merupakan
keseluruhan peraturan-peraturan Hukum yang mengatur cara bagaimana badan-
badan pemerintahan melaksanakan tugas pemerintahannya.

Hukum Administrasi Negara memilki Dasar. Berikut dasar-dasar HukumAdministrasi


Negara:
Pengertian Asas, Norma dan Sanksi.
- Asas adalah apa yang mengawali suatu kaidah atau awal suatu kaidah.
8
- Norma adalah adalah suatu peraturan hukum yang harus diturut dan
dilindungi oleh sanksi.
- Sedangkan Sanksi adalah ancaman hukuman atau hukuman yang dapat
dikenakan kepada seseorang atau lebih yang telah melkukan pelanggaran
terhadap norma.
Dapat disimpulkan bahwa asas merupakan dasar dari norma dan sanksi berfungsi
melindungi norma karena memberikan ancaman hukuman terhadap pelanggar
norma.

Asas Hukum Administrasi Negara Indonesia ada yang tertulis dan ada yang tidak
tertulis.
1. Asas Hukum Tertulis:
- Asas legalitas (pasal 1 ayat 3 UUD 1945)
- Asas persamaan (pasal 27 ayat 1 UUD 1945)
- Asas kebebasan (pasal 22 ayat 1 UUD1945)
2. Asas Hukum Tidak Tertulis:
- Asas tidak boleh menyalahgunakan wewenang;
- Asas tidak boleh menyerobot wewenang dan administrasi negara yang
satu oleh yang lainnya atau disebut asas exes de pouvoir;
- Asas upaya pemaksa atau asas bersanksi;
- Asas nasionalisme;
- Asas non diskriminasi;
- Asas fungsi sosial dari tanah.
- Asas domein negara (domein verlaring, pasal 1 agrarich beslit, stb
1870-118);
- Asas dikuasai negara (tercantum dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945,
pasal 2 ayat 1 dan ayat 2);
- Asas perlekatan;
- Asas pemisahan horizontal;

9
Beberapa bagian Hukum Administrasi Negara
1. Hukum Agraria;
2. Hukum Administrasi Perbendaharaan (hukum administrasi keuangan,
comptabele administratie-Recht);
3. Hukum Administrasi Permodalan dan Korporasi Asing (Utrecht: Bab VIII).

Pengertian Hukum Administrasi Negara terdiri atas tiga unsur:


1. Hukum Tata Pemerintahan, adalah hukum yang menjelaskan aktivitas-
aktivitas kekuasaan eksekutif (kekuasaan untuk melaksanakan UU).
2. Hukum Administrasi negara dalam arti sempit, yaituhukum tata pengurusan
rumah tangga negara (segala tugas-tugas yang ditetapkan dengan Undang-
undang sebagai urusan negara).
3. Hukum Tata Usaha Negara, yaitu hukum mengenai surat menyurat, rahasia
dinas jabatan , kearsipan dan dokumentasi, pelaporan-pelaporan dan
statistic, tata cara penyimpanan berita acara, pencatatan sipil, pencatatan
nikah, dsb.

Arti dan Peranan Hukum Administrasi Negara


1. Sebagai Aparatur Negara
2. Sebagai Fungsi atau sebagai aktifis
3. Sebagai proses teknis penyelenggaraan

Hubungan antara Hukum Tata Negara dengan Hukum Administrasi Negara


Mengenai Hubungan Hukum Administrasi Negara dan Hukum Administrasi Negara
berikut beberapa pendapat para ahli mengenai hubungan antara Hukum Tata
Negara dengan Hukum Administrasi Negara, diantaranya:
1. Tidaklah ada perbedaan jurudis prinsipiil antara Hukum Administrasi Negara
dan Hukum Tata Negara.
Perbedaannya hanyalah terletak pada titik berat dari pada pembahasannya
dalam mempelajari Hukum Tata Negara kita membuat “fokus” terhadap
konstitusi secara keseluruhan, sedangkan dalam membahas Hukum
Administrasi Negara kita menitikberatkan perhatian kita secara khas kepada
administrasi saja daripada negara. Adminitrasi merupakan salah satu bagian
terpenting dalam Konstitusi Negara disbanding Legislatif, Judikasi dan
10
Eksaminasi. Dapatlah dikatakan bahwa hubungan antara Hukum
Administrasi Negara dan Hukum Tata Negara adalah mirip dengan hubungan
antara Hukum Dagang terhadap Hukum Perdata, di mana Hukum Dagang
merupakan pengkhususan atau spesialisasi daripada Hukum Perikatan di
dalam Hukum Perdata. Demikianlah, Hukum Administrasi Negara adalah
sebagai suatu pengkhususan atau spesialisasi daripada Hukum Tata Negara
yakni bagian hukum mengenai administrasi daripada negara. (Prof. Dr.
Prajudi Atmosudirjo, S.H)
2. Hukum Tata Negara adalah hukum mengenai Konstitusi dari pada suatu
negara secara keseluruhan, sedangkan Hukum Administrasi Negara adalah
khusus membahas administrasi daripada negara saja. Dengan demikian,
maka asas-asas dan kaidah-kaidah daripada Hukum Tata Negara yang
bersangkutan dengan administrasi berlaku pula bagi Hukum Administrasi
Negara. Hukum Tata Negara atas Hukum Konstitusi Negara hukum
mengenai konstitusi negara, sedangkan konstitusi negara pada pkoknya
dibagi atas beberapa bagian, yaitu Legislasi, Judiksi, Eksaminasi dan
Administrasi.Dan oleh karena itu Hukum Tata Negara membahas mengenai
administrasi, di samping legalisasi, judiksi dan eksaminasi. Akan tetapi
pembahasannya mengenai administrasi itu hanyalah secara umum saja.
Hukum Administrasi Negara. Dapatlah dikatakan, bahwa Hukum Tata
Negara sebagai genus dan Hukum Administrasi Negara sebagai species.
Dapatlah disimpulkan, bahwa Hukum Administrasi Negara merupakan
pengkhususan dari salah satu bagian dari Konstitusi Negara, yaitu mengenai
administrasi negara. (G. Pringgodigdo, SH)
3. Mr. W. F. Prins dalam bukunya “ Inleiding in het Administratief Recht van
Indonesia” mengatakan, bahwa Hukum Tata Negara adalah mengenai hal-hal
yang azasi, sedangkan Hukum administratif Negara adalah berkenaan
dengan peraturan-peraturan teknis, yang selama kita tidak tersangkut secara
langsung kepadanya hanya penting bagi para ahli saja
4. Sarjana terkenal Prof. C. van Vollenhoven mengungkapkan bahwa Hukum
Tata Negara merupakan hukum tentang distribusi kekuasaan-kekuasaan
negara, sedang Hukum Administrasi Negara merupakan hukum mengenai
pelaksanaan daripada kekuasaan-kekuasaan atau kewenangan-kewenangan
tersebut. Dalam buku “Omtrek van het Administratief recht”, Prof. van
11
Vollenhoven menegaskan, bahwa Hukum Administrasi Negara Meliputi
semua hukum yang sejak berabad-abad tidak dicap sebagai Hukum Tata
Negara Material, Hukum Perdata Material, atau Hukum Pidana Material.
5. Hukum Administrasi Negara mempersoalkan kekuasaan apa yang dimiliki
oleh pemerintah, sampai di mana batas kekuasaan itu dan bagaimana cara
untuk mencegah agar pemerintah tidak membuat ketentuanyang sewenang-
wenang, berdasarkan wewenang yang diterimanya dari Hukum Tata Negara.
(A.V. Dicey)

Hukum Adminitrasi Negara merupakan peraturan-peraturan hukum yang


melaksanakan Hukum Tata Negara, sesuai dengan pandangan: Prof Donner, dalam
teori “Dwipraja” membagi pekerjaan pemerintahan dalam “menentukan tugas” dan
“mewujudkan tugas”. Fungsi menentukan tugas adalah Hukum Tata Negara.
Sedangkan Fungsi mewujudkan tugas adalah Hukum Administrasi Negara. Hukum
Tata Negara mempunyai tugas politik, Hukum Administrasi Negara mempunyai
tugas teknis.

Hal tersebut selaras dengan penjelasan di atas mengenai Hukum Tata Negara dan
Hukum Administrasi Negara. Di mana Hubungan Hukum Tata Negara dengan
Hukum Administrasi Negara adalah bahwa Hukum Tata Negara merupakan penentu
atau yang menetukan tugas dan Hukum Administrasi Negaralah yang mewujudkan
Tugas yang telah ditentukan dalam Hukum Tata Negara tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa Hukum Tata Negara adalah hukum mengenai susunan
suatu negara. Negara adalah suatu organisasi yang mengatur keseluruhan
hubungan antara manusia satu dan manusia lain dalam masyarakat. Sedangkan
Hukum Administrasi merupakan keseluruhan peraturan-peraturan Hukum yang
mengatur cara bagaimana badan-badan pemerintahan melaksanakan tugas
pemerintahannya.

Administrasi Negara adalah aktifitas-aktifitas negara dalam melaksanakan


kekuasaan-kekuasaan politiknya. Antara Hukum Tata Negara dengan Hukum
Administrasi Negara terdapat hubungan bahwa Hukum Adminitrasi Negara
merupakan peraturan-peraturan hukum yang melaksanakan Hukum Tata Negara,
12
sesuai dengan pandangan: Prof Donner, dalam teori “Dwipraja” membagi pekerjaan
pemerintahan dalam “menentukan tugas” dan “mewujudkan tugas”. Fungsi
menentukan tugas adalah Hukum Tata Negara. Sedangkan Fungsi mewujudkan
tugas adalah Hukum Administrasi Negara. Hukum Tata Negara mempunyai tugas
politik, Hukum Administrasi Negara mempunyai tugas teknis.

Hukum Perdata

Hukum perdata (material) sebagai sistem kaidah-kaidah hukum, mengatur hubungan


antar pribadi didalam memenuhi kepentingan-kepentingannya.

Struktur hukum perdata adalah sbb.:


a. Kaidah-kaidah hukum tentang pribadi kodrati, hak-hak dan kewajiban-
kewajibannya, hubungan hukum, dan seterusnya (hukum pribadi)
b. Kaidah-kaidah hukum yang mengatur kebutuhan-kebutuhan kebendaan,
ekonomis, dari pribadi kodrati (hukum harta kekayaan)
c. Kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan kekerabatan (hukum
keluarga)
d. Kaidah-kaidah hukum yang mengatur masalah-masalah kewarisan (hukum
waris)

Hukum pidana

Hukum pidana (material) mempunyai ruang lingkup pada apa yang disebut peristiwa
pidana atau strafbaarfeit, yaitu sikap tindak atau perikelakuan manusia yang masuk
lingkup laku perumusan kaidah hukum pidana, yang melanggar hukum
wederrechrelijk, dan didasarkan pada kesalahan.
Jadi suatu peristiwa pidana mempunyai unsur-unsur sbb.:
a. Sikap tindak atau perikelakuan manusia
b. Masuk lingkup laku perumusan kaidah hukum pidana seperti yang tertulis
pada pasal 1 ayat 1 KUHP Pidana yang berbunyi, “Tiada suatu perbuatan
boleh dihukum melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam Undang-
Undang, yang terdahulu daripada perbuatan itu.”

13
c. Melanggar hukum: kecuali bila ada dasar pembenaran
(rechtvaardigingsgrond)
d. Didasarkan pada kesalahan: kecuali bila ada dasar peniadaan kesalahan
(schulduitsluitingsgrond)

Peristiwa pidana tersebut adalah identik dengan pengertiandelik (penyelewengan)


yang merumuskannya didasarkan pada suatu sikap tindak atau perikelakuan dan
keadaan-keadaan yang relevan.
Unsur-unsur perumusan suatu delik adalah:
a. Sikap tindak atau perikelakuan:
- Perlakuan (aktif)
- Tidak berbuat atau kelalaian (pasif)
b. Keadaan
- Keadaan sikap tindak atau perikelakuan:
 Subyektif: lahiriah, batiniah
 Obyektif: faktor-faktor penunjang, akibat-akibat
- Keadaan yang bukan menyangkut sikap tindak atau perikelakuan
(misalnya klasula “apabila pecah perang”)
c. Penanggung jawab atau pelaku harus mengetahui sifat faktual dari sikap
tindak atau perikelakuannya beserta keadaannya atau sepantasnya
mengetahui
d. Penanggung jawab atau pelaku harus mengetahui (“dolus”) bahwa sikap
tindak atau perikelakuannya melanggar hukum atau sepantasnya mengetahui
(“culpa”)
e. Tidak ada penyimpangan kejiwaan yang mempengaruhi sikap tindak atau
perikelakuan
f. Sikap tindak atau perikelakuan tindak terjadi dalam keadaan terpaksa,
darurat, atau berat lawan

Dari unsur-unsur perumusan delik, dapat dibedakan antaranya:


a. Delik dasar (gronddelict)
Yang merumuskan suatu sikap tindak atau perikelakuan yang dilarang
b. Delik yang meringankan (geprivilegieerd delict)

14
Yang merumuskan sikap tindak atau perikelakuan yang karena keadaan
mendapat keringanan hukuman
c. Delik yang memberatkan (gekwlificeerd delict)
Yang merumuskan sikap tindak atau perikelakuan yang karena keadaan
diancam hukuman yang lebih berat. Misalkanya pada pasal 340 KUHP
Pidana yang menyatakan “Barang siapa dengan sengaja dan dengan
direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena
pembunuhan yang direncanakan, dengan hukuman mati atau penjara seumur
hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun”

Kitab Undang- Undang Hukum Pidana juga menyebutkan hukuman-hukuman yang


dapat dijatuhkan, misalnya: dalam pasal 10 KUHP disebutkan bahwa “Hukuman-
hukuman ialah:
a. Hukuman-hukuman pokok
1. Hukuman mati
2. Hukuman penjara
3. Hukuman kurungan
4. Hukuman denda
b. Hukuman-hukuman tambahan:
1. Pencabutan beberapa hak tertentu
2. Perampasan barang tertentu
3. Pengumuman keputusan hakim

Hukum acara

Hukum acara ialah yang dikenal sebagai formeelrecht dibedakan dari materieelrecht
dalam bahasa Belanda atau adjective law dibedakan dari substantif law dalam
hukum Inggris.

Untuk hukum Indonesia diperlukan istilah pinjaman, maka lebih baik dipakai hukum
ajektif, tidak hukum formil sebagai sinonim hukum acara. Alasannya ialah karena,
sebagaimana diuraikan oleh Apeldoorn dalam hukum Belanda masih dikenal pula
perbedaan antara materieel prosecrecht, yaitu peraturan mengenai hubungan-

15
hubungan hukum, yang timbul karena pelaksanaan suatu proses atau peraturan
tentang bentuk-bentuk, yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan suatu proses.

Dengan demikian landasan hukum Indonesia dapatlah digunakan istilah hukum


adjektif materil dan hukum adjektif formil.

Dalam hukum adjektif, khususnya dalam acara pidana dan acara perdata,
sebagaimana dalam bidang hukum lainnya dikenal beberapa azas yang dapat
disusun dalam 2 kelompok:
a. Azas yang berhubungan dengan peranan, yaitu
1. Prakarsa proses (acara) diambil oleh dirugikan, ialah penggugat dalam
perkara perdata atau masyarakat yang diwakili oleh penguasa (polisi atau
jaksa) atas dasar pengaduan atau tidak, dalam perkara pidana
2. Penghentian proses setelah pemeriksaan dimulai dapat disepakati oleh
pihak semasa sidang pengadilan dalam perkara perdata, sedang
dalamperkara pidana dimungkinkan deponeering atau mempeti es kan
perkara oleh pihak kepolisian atau kejaksaan sebelum diperiksa dalam
pengadilan
b. Azas yang berhubungan dengan keadaan peradilan dan hakim, antara lain:
1. Keterbukaan peradilan, ini erat hubungannya dengan hal mendengar
keduabelah pihak dan proses accusotoir tersebut dimuka.
Pengecualian terhadap azas ini seperti tercantum dalam UUD Belanda
diijinkan untuk kepentingan openbare orde dan zedelijkheid akan tetapi
keputusan hakim harus selalu dinyatakan dengan pintu terbuka
2. Peradilan satu tahap dan peradilan jamak tahap
Peradilan satu tahap yang biasa dikenal orang dalam hukum Islam tidak
dilaksanakan bangsa kita karena yang ada ialah peradilan (apapun) jamak
tahap. Sesungguhnya, yang dapat dikatakan sebagai proses mengadili
perkaranya dilaksanakan hanya dalam 2 tahap, yaitu
a. Sederajat (pertama dan ulang) atau
b. Meningkat (pertama dan banding)
3. Hakim tunggal atau hakim jamak
Ada suatu anggapan bahwa peradilan dengan hakim jamak akan
memberikan keputusan yang lebih adil daripada dengan hakim tunggal.
16
Namun sudah ditentukan perbedaan antara perkara berat dan perkara
ringan. Maka yang termasuk perkara berat peradilannya harus
diselenggarakan dengan hakim jamak (satu hakim ketua, dua hakim
anggota) dan yang dianggap ringan boleh dengan hakim tunggal.
Misalnya sidang pelanggaran lalu lintas.

Peradilan ulang terjadi dalam hal:


1. Verzet
Apabila hakim memutus perkara bij verstek maka yang terbebani keputusan
itu dapat meminta agar pemeriksaan sidang dapat diulang dengan
kehadirannya
2. Revisi (Perkara Pidana) atau Request Civiel (Perkara Perdata)
Adalah upaya hukum yang juga merupakan peradilan ulang

Peradilan banding terjadi apabila salah satu atau kedua pihak tidak puas dengan
keputusan peradilan tingkat pertama maka perkaranya diajukan untuk diperiksa
dalam peradilan tingkat atasnya ( PN-PT-MA).

Mengenai kasasi dapat diungkapkan bahwa prosesnya bukanlah kelanjutan


pemeriksaan kembali perkara yang diputus dalam peradilan terdahulu – pertama
atau banding.
Kasasi hanyalah “berupa pembatalan vonis hakim terdahulu bila ia melanggar atau
melakukan penyimpangan terhadap undang-undang “. Jadi proses kasasi pada
hakekatnya ialah pemeriksaan terhadap hakim yang disangka menyimpang dari
undang-undang pada waktu mengambil keputusan, maka perkara semula tidak
diperiksa kembali. Dengan demikian maka kasasi mirip dengan peradilan (semu).

Hukum internasional

Teori pembidangan tata hukum secara terperinci itu tidak hanya memadai bagi
hukum nasional tetapi juga untuk hukum internasional dalam arti hukum yang
berhubungan dengan peristiwa internasional.
Adapun peristiwa internasional dapat termasuk:

17
a. Hukum tantra (tata tantra maupun karya / administrasi tantra) substatif /
materiel dan ajektif / formil
b. Hukum pidana - substatif / materiel dan ajektif / formil
c. Hukum perdata - substatif / materiel dan ajektif / formil dan karena itu masing-
masing disebut hukum tantra internasional, hukum pidana internasional dan
hukum perdata internasional

Dengan demikian jelaslah bahwa apakah hukum itu hukum nasional atau hukum
internasional bukan ditentukan oleh sumbernya, nasional atau internasional. Sumber
nasional dari hukum tantra internasional adalah misalnya pasal 11 dan 13 UUD’45
dan apabila sumber itu berupa hasil karya tantra internasional (perjanjian) maka
untuk berlakunya selalu perlu pula pengukuhan secara nasional, sekurang-
kurangnya diumumkan dalam lembaran / berita nasional.

Contoh ketentuan hukum pidana internasional yang bersumber nasional adalah


pasal 2 s/d 8 KUHP, sedang yang bersumber internasional ialah misalnya perjanjian
ekstradisi.

Hukum perdata internasional adalah sungguh hukum internasional karena


berhubungan dengan peristiwa (sikap tindak, kejadian, keadaan) internasional,
misalnya:
1. Bidang hukum harta kekayaan:
a. Segi hukum benda – WNI mempunyai rumah di Singapura
b. Segi hukum perjanjian – WN Belanda menyewa rumah WNI
c. Segi hukum penyelewengan (torts) – WN Rusia merusak barang WN
Jepang
Catatan: utang piutang antar negara itupun periwtiwa perdata internasional
karena negara sebagai pribadi hukum publik sekaligus juga pribadi hukum
perdata
2. Bidang hukum keluarga
a. Segi hukum perkawinan – WN Malaysia menikah dengan WN Philipina
b. Segi hukum adopsi – WN Jerman mengambil anak WN Thailand
3. Bidang hukum waris
a. Hukum pewarisan
18
Seorang pewaris WN kanada mempunyai ahli waris WNI (melalui
hubungan perkawinan campuran internasional)
b. Hukum harta warisan
Ahli waris maupun pewaris sama-sama WNI, sedang harta warisan
berupa rumah di Jepang dan Amerika Serikat

Dalam hal ini perlu juga ditegaskan bahwa bila peristiwa hakim nasional mengadili
perkara suatu tantra / pidana / perdata) internasional maka menyelenggarakan
peradilan internasional (dedoublement fuctionel) dan keputusannya merupakan
hukum (konkrit) internasional maupun ia bukan hakim internasional dan lembaganya
tetap pengadilan nasional

Pendekatan interdisipliner

Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan kemungkinan


yang lebih banyak bagi manusia untuk lebih mengetahui mengenai segi-segi
kehidupan bersama yang semula masih gelap baginya. Disatu pihak gejala ini
menimbulkan ruang lingkup yang lebih luas bagi masing-masing ilmu pengetahuan
dan dilain pihak hal ini menimbulkan pengembangan spesialisasi yang pesat
dibanding dengan masa lampau.

Demikian pula dengan ilmu-ilmu hukum yang mempunyai ruang lingkup yang
semakin luas juga, antara lain karena semakin banyaknya aspek-aspek kehidupan
bersama yang diatur oleh hukum.

Mengingat adanya kecenderungan-kecenderungan sebagaimana diuraikan diatas


maka dicoba untuk menjelaskan dan menerapkan pendekatan tersebut pada bidang
hukum.
Penjelasan bentuk kerja sama tersebut diatas yang lebih dikenal dengan nama
pendekatan indisipliner.

19
Kelompok masing-masing disiplin biasanya diadakan pengelompokan kedalam:
1. Disiplin nomotetis
Disiplin nomotetis mencakup sistem-sistem ajarang yang bertujuan untuk
menemukan generalisasi-generalisasi baik yang didasarkan pada metode
kualitatif maupun kuantitatif. Contohnya adalah sosiologi, ekonomi,
anthropologi, linguistik, dst.
2. Disiplin sejarah
Disiplin sejarah adalah sejarah yang berhubungan erat dengan disiplin
nomotetis dan hubungan ini bersifat komplementer, oleh karena tujuan disiplin
nomotetis adalah untuk menuntut abstraksi-abstraksi (dari sebagian)
kenyataan, sedangkan disiplin sejarah untuk merekonstruksikan kenyataan-
kenyataan pada masa lampau.
3. Disiplin hukum
Disiplin hukum dalam penjelasan menurut Jean Piaget dari University of
Geneva yang mendambakan pendekatan interdisipliner, bahwa pendapat
Piaget adalah tepat. Bahwa pembahasan hukum sebagai perangkat sikap
tindak atau perikelakuan.
4. Disiplin filsafat
Disiplin ini bertujuan untuk menguraikan dan merangkum nilai-nilai kehidupan
manusia dalam berbagai konteks, khususnya di bidang filsafat hukum. Hukum
tidak akan tegak apabila nilai-nilai tidak serasi dan hal ini terjelma dalam
kaedah-kaedah yang mengakibatkan terjadinya sikap tindak atau
perikelakuan yang mengganggu kedamaian pergaulan hidup. Untuk
menelaah hal-hal tersebut jelas diperlukan pendekatan interdisipliner. Dan
oleh karena itu merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Disiplin filsafat diperlukan untuk mengadakan studi terhadap nilai-nilai disiplin
hukum dan sejarah diperlukan untuk meninjau kaedah-kaedah dan disiplin
nometetis (dan sejarah) diperlukan untuk menganalisa sikap tindak atau
perikelakuan.

Sistematika dibawah ini akan dapat memberikan visualisasi dari pendekatan


indisipliner antara ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.

20
Bidang tata hukum meliputi:
a. Hukum tata negara
b. Hukum administrasi negara
c. Hukum pidana
d. Hukum pribadi
e. Hukum harta kekayaan
f. Hukum keluarga
g. Hukum waris

Ilmu pengetahuan tata negara meliputi:


a. Ilmu negara
b. Ilmu politik
c. Sosiologi politik, sosiologi hukum negara
d. Anthropologi politik
e. Psikologi kekuasaan

Ilmu pengetahuan administrasi negara meliputi:


a. Ilmu administrasi
b. Sosiologi pemerintahan

Ilmu pengetahuan hukum pidana meliputi:


a. Kriminologi
b. Sosiologi hukum pidana
c. Anthropologi hukum

Ilmu pengetahuan hukum pribadi meliputi:


a. Psikologi
b. sosiologi
c. anthropologi

Ilmu pengetahuan harta kekayaan meliputi:


a. Ilmu ekonomi

21
Ilmu pengetahuan hukum keluarga meliputi:
a. Psikologi
b. Sosiologi
c. Anthropologi

Ilmu pengetahuan hukum waris meliputi:


a. Psikologi
b. Sosiologi
c. Anthopologi

Dengan demikian maka terlihatlah bahwa pendekatan interdisipliner sangat penting


untuk memperoleh gambaran yang nyata tentang hukum.

KESIMPULAN

Disiplin hukum mencakup ilmu hukum, politik hukum dan filsafat hukum. Ilmu hukum
tidak hanya mencakup ilmu tentang kaedah dan ilmu pengertian saja. Akan tetapi
juga mencakup ilmu tentang kenyataan. Oleh karenanya ilmu-ilmu hukum juga
mencakup ilmu kenyataan sebagai perangkat sikap tindak atau perikelakuan.

22