Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevalensinya terutama
pada ternak di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia khususnya di Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT). Hal ini dikarenakan kondisi geografis, temperatur dan kelembaban
yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara
penularannya.
Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam membedakan spesies,
parasit, kista, telur, larva dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk
pseudoparasit dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga
bergantung pada persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup
maupun sediaan yang telah diulas. Bahan yang akan diperiksa tergantung dari jenis
parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang akan diperiksa adalah tinja atau
feses, sedangkan parasit darah dan jaringan dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun
imunologis.
Pemeriksaan feses dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun
larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat
infeksi cacing parasit gastrointestinal pada terak yang diperiksa fesesnya. Teknik diagnostik
merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing,
yang dapat ditegakkan dengan cara mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian
besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh
sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya
berdasarkan pada gejala klinis kurang dapat dipastikan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum tersebut yaitu mampu melakukan prosedur
pemeriksaan feses dan mampu mengidentifikasi morfologi telur dan larva yang didapatkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemeriksaan Sampel Feses


A. Uji Natif
Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi
berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan
ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaan eosin 2%
dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran
disekitarnya.
B. Uji Pengapungan Sederhana
Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula
jenuh yang didasarkan atas BJ (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan
mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung
sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan,
sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel
yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur
Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili
Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil.
C. Mc Master dan TTGT
Untuk mengetahui tingkat infestasi dari cacing Ascaris suum dilakukan
perhitungan telur tiap gram tinja (TTGT) dengan metode Mc Master. Feses ditimbang
sebanyak 2 gr kemudian dimasukkan ke dalam wadah. Setelah itu, dimasukkan larutan
NaCl jenuh sebanyak 58 mL ke dalam wadah yang berisi feses lalu diaduk hingga
homogen menggunakan batang pengaduk. Selanjutnya larutan tersebut disaring. Hasil
larutan yang telah disaring diambil menggunakan pipet dari bagian permukaan lalu
dimasukkan ke dalam slide kamar hitung (Mc Master). Diamkan larutan yang berada
dalam kamar hitung selama 5-10 menit supaya telur mengapung ke permukaan. Kamar
hitung diperiksa dengan menggunakan mikroskop pembesaran 40x. Jumlah telur yang
didapatkan dinyatakan dalam satuan TTGT (Soulsby, 1982). Jumlah telur tiap gram
tinja (TTGT) dapat digunakan sebagai penduga berat atau ringannya derajat infestasi.
Infestasi ringan memiliki jumlah TTGT 1-199, infestasi sedang memiliki jumlah TTGT
200-999 dan infestasi berat memiliki jumlah TTGT > 1.000, derajat keparahan infestasi
tergantung jumlah cacing yang menginfestasi (Bowman et al., 1999).
BAB III

METODOLOGI

3.1. Metode Kualitatif

A. Metode Natif
Alat dan Bahan:
1. Cover Glass
2. Mikroskop
3. Object Glass
4. Pipet Tetes
5. Lidi
6. Feses Kambing, Kuda, Anjing
7. Aquades
Langkah Kerja:
1. Gelas objek yang berisih diteteskan 1-2 tetes aquades
2. Dengan lidi, diambil sedikit feses dan ditaruh pada larutan tersebut.
3. Dengan lidi tadi, ratakan, kemudian ditutup dengan cover glass
4. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan dibawah mikroskop dengan perbesaran
10x untuk menemukan telur cacing dan perbesaran 40x untuk memperjelas
tampilan telur cacing.
B. Metode Pengapungan
Alat dan Bahan:
1. Beaker Glass
2. Tabung reaksi
3. Penyaringan
4. Rak tabung reaksi
5. Mikroskop
6. Object Glass
7. Cover Glass
8. Pengaduk
9. 2 gram feses (Feses Kuda, anjing, kambing)
10. 58 ml larutan gula jenuh
Langkah Kerja:

1. 58 ml larutan gula jenuh di tambahkan dengan 2 gram feses kemudian


dihomogenkan
2. Setelah itu disaring menggunakan penyaring
3. Hasil saringan dituangkan kedalam tabung reaksi sampai cembung pada
permukaan tabung reaksi
4. Diamkan selama 15 menit
5. Tempelkan cover glass pada permukaan larutan yang cembung kemudian
letakkan diatas objek glass
6. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x; 40x

3.2. Metode Kuantitatif (Mc Master)


Alat dan Bahan:
1. Kamar Hitung (Mc Master)
2. Penyaring
3. Pengaduk
4. Mikroskop
5. Beaker Glass
6. 2 gram feses (Feses kuda, kambing dan anjing)
7. 58 ml larutan gula jenuh
8. Pipet tetes

Langkah Kerja:
1. Feses ditimbang sebanyak 2 gram kemudian dimasukkan kedalam beaker
glass
2. Masukkan larutan gula jenuh sebanyak 58 ml kedalam wadah yang berisi feses
kemudian diaduk hingga homogen
3. Selanjutnya larutan tersebut disaring
4. Hasil larutan yang telah disaring diambil menggunakan pipet tetes dari bagian
permukaan lalu dimasukkan kedalam slide kamar hitung (Mc Master).
5. Diamkan larutan yang berada dalam kamar hitung selama 5-10 menit agar
telur mengapung ke permukaan
6. Selanjutnya kamar hitung diperiksa dengan menggunakan mikroskop
pembesaran 10x untuk mendapatkan kamar hitung dan telur cacing, serta
pembesaran 40x untuk memperjelas tampilan telur cacing
7. Jumlah telur yang didapatkan dihitung dengan rumus

𝑛
𝛴= 𝑋 𝑣𝑜𝑙. 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
𝑣𝑜𝑙. 2 𝑘𝑎𝑚𝑎𝑟 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔

Keterangan:

 n : Jumlah telur yang didapatkan


 Volume kamar hitung:
0,15 x 2= 0,30
 Volume total larutan:
2 gr feses + 58 ml larutan gula jenuh= 60 ml
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Identifikasi Telur Cacing Pada Feses Anjing

Sampel feses anjing yang diperiksa terbukti terinfeksi cacing Toxocara canis, hal ini
dilihat dari adanya telur Toxocara canis pada sampel feses yang diperiksa. Berdasarkan hasil
tersebut maka digunakan sampel anak anjing yang positif terinfeksi Toxocara canis untuk
pengamatan telur tiap gram tinja.

Toxocara canis

Dari hasil pemeriksaan dengan mikroskop terlihat morfologi telur Toxocara canis
memiliki bentuk yang oval dan dinding telur memiliki permukaan yang tidak rata. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian dari Soedarto (2003), yang menyatakan bahwa telur
Toxocara canis memiliki morfologi berbentuk oval dengan permukaan bergerigi,
berwarna cokelat muda, berdinding tebal dan memiliki ukuran 85 x 75 μm. Telur
Toxocara canis dapat tahan bertahun-tahun di feses anjing yang terinfeksi, dikarenakan
berdinding tebal (Levine, 1994), sehingga telur Toxocara canis sangat sulit untuk
dibasmi dari suatu daerah yang tertular. Hasil tersebut jika dibandingkan dengan telur
Toxocara canis dari Bendryman et al., (2010) terlihat memiliki ciri dan morfologi yang
sama. Berikut adalah gambar telur cacing Toxocara canis hasil pemeriksaan
dibandingkan dengan literatur.

A B

Gambar 1. Hasil pemeriksaan telur Toxocara canis dengan pembesaran 40x [A]
dibandingkan dengan telur Toxocara canis dari literatur [B], (Bendryman et al., 2010)
Toxoca ra canis merupakan parasit internal pada anjing yang berpredileksi di
dalam usus halus anjing. Toxocarosis merupakan penyakit terpenting yang disebabkan
oleh infeksi Toxocara canis. Cacing dari kelas nematoda yang paling banyak
menyebabkan kerugian pada anjing adalah Toxocara canis (Subronto, 2006).

Klasifikasi Toxocara canis


Menurut Rodriguez et al. (2006), Toxocara canis dikelompokan dalam:
Kingdom : Animalia
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
SubKelas : Secernentea
Ordo : Ascaridida
Subordo : Ascaridina
Superfamily : Ascaridoidea
Family : Toxocaridae
Genus : Toxocara
Spesies : Toxocara canis

Morfologi Toxocara canis


Telur Toxocara canis memiliki kulit telur yang tebal sehingga dapat bertahan
hingga bertahun-tahun di lingkungan. Telur Toxocara canis berukuran 90 x 75 μm
dengan lapisan kulit telur yang tebal, berbentuk agak bulat, berwarna coklat muda dan
terdapat bintik-bintik halus (Levine, 1994). Gambar telur cacing Toxocara canis dapat
dilihat pada Gambar 1.

Gambar 2. Telur Toxocara canis (Sumber: Bendryman et al., 2010)


Cacing betina Toxocara canis dewasa dapat menghasilkan sekitar 200.000
telur setiap harinya. Cacing Toxocara canis jantan mempunyai panjang sekitar 10 cm
sedangkan cacing betina memiliki panjang sekitar 18 cm (Subronto, 2006). Tubuh
Toxocara canis kuat dan berwarna putih, dengan sayap servikal yang panjang, sempit
dan berbentuk seperti pisau. Ekor cacing jantan Toxocara canis berbentuk seperti jari
yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan ekor cacing betina berbentuk bulat
meruncing (Levine, 1994). Gambar cacing dewasa Toxocara canis dapat dilihat pada
Gambar 3.

Gambar 3. Cacing Dewasa Toxocara canis (Sumber: Bendryman et al., 2010)

Siklus Hidup Toxocara canis


Menurut Subronto (2006), penularan Toxocara canis dapat terjadi melalui
intra-uterus, trans-mamaria, infeksi langsung, infeksi induk pasca melahirkan dan
infeksi melalui inang paratenik.

a) Intra-Uterus
Infeksi intra-uterus terjadi pada saat anjing betina berumur lebih dari 1-
3 bulan secara tidak sengaja menelan telur cacing Toxocara canis infektif.
Telur infektif akan berubah menjadi larva stadium ke-2 di dalam usus halus,
kemudian bermigrasi ke jaringan somatik dan akan berada di dalam jaringan
somatik sebagai larva dorman yang bersifat infektif hingga bertahun-tahun.
Pada saat anjing tersebut bunting, larva akan bermigrasi ke uterus kemudian
masuk ke dalam fetus sehingga terjadi infeksi sebelum melahirkan. Pada
waktu anak anjing dilahirkan larva stadium ke-3 telah berada di dalam paru-
parunya. Larva stadium ke-3 akan berkembang menjadi larva stadium ke-4
dalam waktu 1 minggu kemudian dalam waktu 2-3 minggu larva stadium ke-4
akan berkembang menjadi cacing muda di dalam usus halus (Subronto, 2006).
b) Trans-Mamaria
Infeksi trans-mamaria terjadi apabila larva dorman yang berada di
dalam jaringan somatik anjing yang bunting bermigrasi ke ambing dan keluar
melalui air susu sehingga terjadi penularan pada anak anjing melalui air susu.
Larva yang keluar bersama air susu akan berkembang menjadi cacing dewasa
di dalam usus halus anak anjing (Subronto, 2006).
c) Infeksi Langsung
Infeksi langsung terjadi karena anak anjing menelan telur infektif dari
Toxocara canis. Dalam usus halus telur akan berkembang menjadi larva
stadium ke-2 dan bermigrasi ke hati, di dalam hati larva stadium ke-2 akan
berkembang menjadi larva stadium ke-3 kemudian bermigrasi ke paru-paru.
Larva stadium ke-3 yang berada di paru-paru akan bermigrasi menuju
alveolus, bronkiolus, bronkus, dan trakhea. Sesampainya di trakhea larva akan
bermigrasi lagi ke faring kemudian menuju ke kerongkongan, lambung dan
akhirnya menjadi cacing dewasa di dalam usus halus (Subronto, 2006).
d) Infeksi Induk Pasca Melahirkan
Infeksi ini terjadi karena pada waktu masa penyapihan induk anjing
memakan feses dari anaknya yang mengandung telur dan larva dari cacing
Toxocara canis. Telur dan larva cacing dari feses anak anjing akan
berkembang menjadi cacing dewasa di dalam tubuh induk anjing (Subronto,
2006).
e) Infeksi Melalui Inang Paratenik
Infeksi ini terjadi apabila anak anjing memakan binatang pengerat
seperti tikus dan mencit yang terinfeksi larva dorman. Apabila binatang
pengerat tersebut termakan oleh anak anjing maka larva akan menjadi cacing
dewasa di dalam tubuh anak anjing dalam waktu 3 minggu tanpa harus
bermigrasi lagi (Subronto, 2006).
Gejala Klinis
Menurut Subronto (2006), pada umumnya anak anjing yang terinfeksi
Toxocara canis akan menunjukan gejala klinis seperti lemas, ekspresi muka tampak
sayu, mata berair, dan mukosa mata maupun mulutnya tampak pucat. Hal ini
disebabkan oleh terjadinya anemia pada anak anjing yang terinfeksi. Migrasi larva ke
paru-paru menyebabkan batuk, dispnoea dan peradangan pada paru-paru. Keberadaan
cacing di dalam saluran pencernaan anak anjing menyebabkan terjadinya diare,
kontipasi dan muntah.
Migrasi larva ke trakhea menyebabkan terjadinya pneumonia pada anak anjing
dan dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 2-3 hari pasca infeksi. Infestasi
cacing dewasa di dalam usus menyebabkan nafsu makan anak anjing menurun dan
terjadi ganggunan pencernaan, akibatnya terjadi penurunan berat badan pada anak
anjing (Overgaauw, 1997).
Patogenesis Toxocara canis
Infeksi Toxocara canis membawa dampak yang buruk bagi pertumbuhan dan
kesehatan anak anjing. Migrasi larva infektif menyebabkan adanya lesi pada organ
yang dilaluinya. Migrasi larva melewati paru-paru dan hati dapat menyebabkan
terjadinya edema pada kedua organ tersebut. Adanya edema pada paru-paru
mengakibatkan batuk, dispnoea, selesma, dengan eksudat yang berbusa dan kadang
mengandung darah. Perjalanan larva infektif melalui lambung menyebabkan
terjadinya distensi lambung, muntah, dan disertai keluarnya cacing yang belum
dewasa di dalam bahan yang dimuntahkan (Subronto, 2006).
Dalam usus halus, cacing dewasa mengambil nutrisi di dalam sirkulasi darah
dengan cara melukai dinding usus. Banyaknya nutrisi yang diambil dalam darah
menyebabkan terjadinya hipoalbuminemia yang mengakibatkan penurunan berat
badan pada anjing. Berdasarkan siklus hidupnya, larva menyebabkan penyakit dengan
fase migrasi yang meninggalkan lesi pada organ dan jaringan yang dilaluinya.
Banyaknya jumlah cacing menyebabkan gangguan pada usus yang ditandai dengan
sakit perut, penyumbatan di usus, terbentuknya lubang pada usus dan peritonitis
(Subronto, 2006).
Diagnosis
Diagnosa toxocarosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan telur cacing pada
pemeriksaan tinja melalui pemeriksaan menggunakan metode natif, pengapungan
ataupun pengendapan. Diagnosa terhadap toxocarosis dapat juga ditunjang dengan
gejala klinis yang timbul dan lingkungan tempat hewan penderita. Diagnosa pasca
kematian anjing juga dapat digunakan untuk menegakan diagnosa apabila ditemukan
cacing Toxocara canis yang belum dewasa di dalam mukosa usus. Migrasi larva pada
hati dan paru-paru menyebabkan terjadinya pendarahan pada kedua organ tersebut
(Subronto, 2006).
Pemeriksaan feses dengan metode Mc Master dapat digunakan untuk
mengetahui derajat infestasi dari infeksi cacing. Derajat infeksi yang terjadi
tergantung pada jumlah TTGT yang dihitung menggunakan metode Mc master
(Levine, 1968).
Pengobatan
Pengobatan secara rutin pada anjing terbukti efektif dalam mengatasi infeksi
cacingan. Obat cacing yang dipasarkan memiliki efektifitas, tidak hanya pada satu
jenis cacing saja tetapi juga untuk beberapa jenis cacing. Beberapa obat cacing yang
dipasarkan merupakan campuran dari senyawa obat cacing. Obat cacing yang diracik
merupakan obat segolongan ataupun obat yang berasal dari golongan yang berbeda
(Subronto, 2006).
Pemberian obat cacing disarankan dilakukan pada umur 2-4 minggu kemudian
diulang setiap 3-4 minggu sampai umur 2-3 bulan. Pada umur 3-6 bulan perlu
dilakukan pengobatan ulang dan selanjutnya dilakukan pengobatan secara teratur
setiap 3-6 bulan sekali (Subronto, 2006).
Subronto (2006), menyatakan bahwa untuk membunuh cacing dewasa dapat
digunakan obat-obat berikut.
1. Dietilkarbamasin (Caricide, Hetrasan, dll) : dosis 25 mg/bb atau 60 mg/kg.
2. Pyrantel pamoat, embonat, dan citrat.
3. Mebendazole 30 –50 mg/kg, selama 3 hari.
4. Fenbendazole 30 –50 mg/kg, selama 3 hari.
5. Ilium Pyraquantal.
Penghitungan Jumlah Telur Tiap Gram Tinja (TTGT) pada Tinja Anjing
Pada pemeriksaan TTGT diperoleh satu jenis telur cacing yaitu Toxocara
canis dengan jumlah teur dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tipe telur cacing Jumlah


Toxocara canis 7

Total telur cacing Toxocara canis yang ditemukan dalam tinja anjing
sebanyak 7 Maka diperoleh hasil perhitungan TTGT sebagai berikut:
7 × 60
TTGT =
0,3

= 1400

Berdasarkan hasil perhitungan TTGT = 1400 maka disimpulkan bahwa infeksi


Toxocara canis pada anjing merupakan Infeksi berat karena TTGT >1.000
menunjukkan derajat infeksi berat seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini.

Tabel. Derajat infestasi berdasarkan telur cacing tiap gram tinja


NO TTGT (Total Telur per Gram Tinja) Derajat Infestasi
1 1 – 199 Ringan
2 200 – 999 Sedang
3 >1.000 Berat
(Sumber : Bowman et al., 1999)

4.2 Identifikasi Telur Cacing Pada Feses Kuda

Ternak kuda sering kali terkena paparan dari endoparasit seperti paparan cacing dan
protozoa. Investasi telur cacing yang biasanya sering ditemui pada ternak kuda yaitu
Cyathostomes spp, Triodontophorus spp, Strongylus spp dan cacing Strongyloides
westeri, Oxyuris equi, Parascaris equorum (Setiawan dkk., 2014). Pengamatan sampel
feses kuda dilakukan menggunakan 3 metode yaitu pemeriksaan natif, pengapungan
sederhana dan metode Mc Master. Berdasarkan pengujian natif yang dilakukan, telur cacing
yang ditemukan pada ternak kuda di Fakultas Kedokteran Hewan adalah Strongylus sp.
Pengamatan feses menggunakan metode pengapungan juga teridentifikasi ditemukannya
juga telur Strongylus sp. Pada pemeriksaan menggunakan metode Mc Master dengan 2 gr
feses pada 60 ditemukan ditemukan telur cacing Strongylus spp berjumlah 2 buah. Maka dari
itu perlu dilakukan perhitungan TTGT untuk mengetahui jumlah telur dalam 60 ml dengan 2
gram Feses. Investasi Cacing Strongylus spp. berdasarkan penghitungan TTGT tergolong
sedang. Taksonomi Strongylus sp diklasifikasikan dalam:

Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Chromodorea
Ordo : Strongyloida
Family : Strongyloidae
Genus : Strongylus
Spesies : S. vulgaris, S. equinus, S. edentatus

 Perhitungan TTGT :

n =2

n
Ʃ = × Vol. Larutan
Vol. Kamar Hitung
2
= × 60
0.30
= 400 telur dalam 60 ml dengan 2 gram feses

Morfologi Telur Strongylus

Telur Stongylus sp. memiliki bentuk elips, mempunyai selubung tipis, mempunyai
blastomer yang jelas dengan jumlah yang banyak, dengan panjang rata-rata 80,36 μm dan
lebar rata-rata 35,45 μm (Muhni, 2011).

A B

Gambar 4. Hasil pemeriksaan telur Strongylus sp. dengan pembesaran 40x [A] dibandingkan
dengan telur Strongylus sp. dari literatur [B] (Muhni, 2011)
Cacing Strongylus spp. termasuk dalam kelas chromadorea, ordo strongylida, family
Strongylidae dengan genus strongylus. Manifestasi Strongylus spp. pada kuda biasanya
disebabkan oleh beberapa spesies seperti S. equinus, S. edentatus, S. vulgaris. Telur dari
Strongylus spp. berbentuk oval dengan dinding yang tipis. Bentuk cacing Strongylus spp.
berwarna abu gelap kemerahan serta memiliki buccal capsule dengan gigi dorsal.
Siklus hidup Strongylus spp. dimulai dari telur–telur keluar bersama tinja dan telah
mengalami awal segmentasi. Dinding telur tipis, terdiri dari lapisan dinding sebelah luar yang
terdiri dari bahan chitin dan membrana vitellinus di dalamnya. Pada suhu 26°C terbentuk
larva stadium I dalam waktu 20-24 jam yang menetas dari telur dan menjadi larva stadium
bebas. Setelah menetas, larva berada pada stadium I, yaitu bentuk rhabditiform. Makanan
larva adalah bakteri , kemudian terus bertumbuh dan menyilih menjadi larva stadium II.
Bentuk rhabditiform di Esofagus berkurang, kemudian tumbuh menjadi larva yang
kutikulanya masih tetap berasal dari stadium sebelumnya dan bersifat infeksius. Larva
stadium infeksius tidak makan bakteri dari alam sekitarnya, tetapi memperoleh makanannya
dari granula makanan yang tersimpan didalam sel-sel intestinum. Kemampuan hidup larva
pada pasture tergantung pada kondisi lingkungan yaitu, kelembaban, suhu dan sinar matahari.
Karena persedian makanan terbatas, kondisi yang mendukung pergerakan maka larva lebih
cepat mati. Pada musim panas, larva tidak dapat hidup lebih dari 3 bulan, tetapi pada musim
dingin dapat hidup setahun atau lebih (Hidayati, 1997).
Infeksi terjadi karena memakan larva infeksius dan perkembangan larva stadium
infektif selanjutnya yaitu pelepasan dan pergantian kulit yang terjadi didalam usus halus
hospes. Pada Strongylus equinus, larva yang telah berganti kulit, menembus masuk mukosa
sekum dan kolon dan masuk ke sub serosa untuk membentuk nodule disitu. Sebelas hari
setelah infeksi, terbentuk larva didalam nodule. Larva stadium 4 migrasi ke rongga
peritonium, terus ke hati yang berlangsung selama 6-8 minggu. Antara 2-4 bulan setelah
infeksi, larva meninggalkan hati melalui ligamentum hepatika dan pergi ke rongga
peritonium melalui pankreas. Setelah 118 hari dari saat infeksi, terbentuk larva stadium 5 dan
menuju ke sekum dan kolon. Periode prepaten adalah 260 hari (Hidayati, 1997).
Gambar 5. Cacing Strongylus spp.

Cacing Strongylus spp. yang mempunyai buccal capsul besar merusak/mukosa


dinding usus besar dan aktif menghisap darah, merusak epithel usus dan menyebabkan
ulserasi-ulcerasi kecil berdarah akibat perlekatan cacing dewasa pada mukosa usus besar.
Migrasi larva (stadium 3 dan stadium 4) menimbulkan lesi pada mukosa usus halus dan usus
besar. Juga lesi pada sistem arterial di daerah kranial arteri mesentrika (larva S. vulgaris).
Peradangan terjadi pada lapisan media dan menimbulkan endarteritis dan pembentukan
trombus. Trombus ini berbahaya bila terjadi di daerah pangkal arteri. Infeksi fatal disebabkan
4000 larva dengan perdarahan yang meluas pada hati dan pankreas. Migrasi larva ke ruang
peritonium menimbulkan perdarahan pada hati, peritonitis dan pankreas. Apabila terjadi
infeksi berat terjadi anemia dengan tipe normorkromik normositik dihubungkan penurunan
kemampuan hidup sel darah merah dan meningkatkan katabolisma albumin (Ratnawati,
2004).
Gejala klinis pada kuda dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah larva yang
menginfeksi, umur kuda dan daya tahan tubuh. Kuda yang terinfeksi Strongylus spp.
menunjukkan gejala klinis seperti anemia, kelemahan kekurusan dan diarrhea. Gejala kolik
dan enteritis ganggern disebabkan oleh S. vulgaris. Kuda yang terinfeksi Strongylus spp.
dapat didiagnosa dengan melihat gejala klinis dan melakukan pemeriksaan sampel feses
seperti pemeriksaan natif, pengapungan sederhana, metode Mc Master dan sedimentasi.
Selain itu, dapat juga diperi8ksa menggunakan metode ELISA. Pengobatan dapat dilakukan
dengan menggunakan pemberian obat cacing seperti Phenothiazine 66 mg/kg bb, Pyrantel
tartrat 110 mg/kg bb atau Thiabendazole 200 mg/kg bb.
4.3 Identifikasi Telur Cacing Pada Feses Kambing

Parasit pada saluran pencernaan kambing dapat mengganggu kesehatan, menurunkan


produktivitas, dan menyebabkan kematian . Kontaminasi cacing parasit dapat berasal dari
pakan hijauan yang dikonsumsi yang diduga telah. terinfestasi larva parasit (Safar dan Ismid,
1989). Pakan hijauan dapat berupa rumput alam dan rumput yang dibudidayakan, sedangkan
pakan konsentrat dapat berupa dedak padi (Prabowo, 2010). Parasit yang menginfeksi
kambing antara lain nematoda yang menyerang saluran intestinum sebagai endoparasit seperti
cacing haemonchus contortus, trichostrongylus spp., strongyloides sp. Dan oesophagostum
columbianum.
Pada pemeriksaan feses kambing dengan metode uji natif, uji apung dan Mc Master
diperoleh hasil positif yaitu ditemukan telur cacing strongyloides sp dengan ciri-ciri telur
cacing berbentuk elips dan mengadung larva hal ini sesuai dengan Levine (1994) yaitu telur
cacing strongyloides berbentuk elips, berdinding tipis dan berembrio berukuran 40-64 X 20-
42 mm. hal ini diperkuat dengan hasil penelitian dari Levine (1994) yang menyatakan bahwa
Strongyloides sp. terdapat di di mukosa usus halus domba, kambing, sapi, berbagai
ruminansia lain, dan berbagai hewan lain.

Gambar Telur Cacing Strongyloides sp. pada feses kambing

Setelah mengunakan metode pemeriksaan feses kualitatif yaitu natif dan pengapungan
sederhana dilanjutkan mengunakan metode kuantitatif yang digunakan untuk uji lanjutan
perhitungan telur cacing dengan hasil yang diperoleh yaitu:
Tabel. Derajat infestasi berdasarkan telur cacing tiap gram tinja
NO TTGT (Total Telur per Gram Tinja) Derajat Infestasi
1 1 – 199 Ringan
2 200 – 999 Sedang
3 >1.000 Berat
(Sumber : Bowman et al., 1999)

Total telur cacing yang Strongyloides sp. ditemukan dalam tinja kambing
sebanyak 5 Maka diperoleh hasil perhitungan TTGT sebagai berikut:
5 × 60
TTGT =
0,3

= 1000

Menurut Noble and Noble (1989), cacing Strongyloides sp. diklasifikasikan dalam:
Kingdom: Animalia
Phylum: Nematoda
Class: Secernentea
Ordo: Rhabditia
Family: Strongyloididae
Genus: Strongyloides
Species: Strongyloides sp.

Siklus hidup dari cacing Strongyloides sp. yaitu larva infektif (filariform) yang
berkembang dalam tinja atau tanah lembab yang terkontaminasi oleh tinja, menembus kulit
masuk ke dalam darah vena di bawah paru-paru. Di paru-paru larva menembus dinding
kapiler masuk kedalam alveoli, bergerak naik menuju ke trachea kemudian mencapai
epiglotis. Selanjutnya larva turun masuk kedalam saluran pencernaan mencapai bagian atas
dari intestinum, disini cacing betina menjadi dewasa (Levine, 1994). Cacing dewasa yaitu
cacing betina yang berkembang biak dengan cara partenogenesis dan hidup menempel pada
sel-sel epitelum mukosa intestinum terutama pada duodenum, di tempatini cacing dewasa
meletakkan telurnya. Telur kemudian menetas melepaskan larva noninfektif rhabditiform.
Larva rhabditiform ini bergerak masuk ke dalam lumen usus, keluar dari hospes melalui tinja
dan berkembang menjadi larva infektif filariform yang dapat menginfeksi hospes yang sama
atau orang lain (Levine, 1994 ).
Akibat klinis yang disebabkan cacing Strongyloides sp yang sering terlihat adalah
diare, anoreksia, kusam, penurunan berat. Pada waktu cacing menetap di intestinum, akan
terjadi penebalan yang luas dari dinding usus (Urquhart et al, 1996).
BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevalensinya sehingga

membutuhkan sebuah teknik identifikasi parasit yang tepat karena diagnosis yang hanya

berdasarkan pada gejala klinis kurang dapat dipastikan kebenarannya. Teknik identifikasi

seperti pemeriksaan feses bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun

larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat

infeksi cacing parasit gastrointestinal pada ternak yang diperiksa fesesnya. Teknik diagnostik

merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing,

yang dapat ditegakkan dengan cara mengenal stadium parasit yang ditemukan. Pemeriksaan

feses terdiri dari uji natif, pengapungan sederhana, dan Mc master serta Perhitungan TTGT.

Uji natif merupakan metode pemeriksaan sampel feses yang cepat, namun untuk infeksi yang

bersifat ringan sulit ditemukan telurnya. Metode pemeriksaan feses dengan pengapungan

sederhana memiliki cara kerja berdasarkan berat jenis larutan sehingga telur cacing akan

mengapung. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistostoma,

Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili Taenidae, telur-telur Achantocephala

ataupun telur Ascaris yang infertil. Namun pemeriksaan ini tidak dapat melihat infeksi cacing

yang memiliki telur yang berat jenisnya besar. Mc master dan TTGT merupakan teknik

pemeriksaan yang dapat menduga berat atau ringannya derajat infestasi. Pada pemeriksaan

feses anjing didapatkan bahwa anjing terinfeksi toxocara dengan ciri telur berbentuk oval,

berwarna cokelat, berdinding tebal, dan hasil perhitungan TTGT diperoleh nilai 1000 yang

menunjukkan bahwa infeksi bersifat berat. Pada pemeriksaan feses kuda didapatkan bahwa

kuda terinfeksi strongylus sp dengan ciri telur berbentuk elips, mempunyai selubung tipis,
serta terdapat blastula, dan hasil perhitungan TTGT diperoleh nilai 400 yang menunjukkan

bahwa infeksi bersifat sedang. Pada pemeriksaan feses kambing didapatkan bahwa kambing

juga terinfeksi strongylus sp dengan ciri telur sama dengan ciri telur strongylus sp pada kuda,

namun pada perhitungan TTGT diperoleh nilai 1000 yang menunjukkan bahwa infeksi

bersifat berat. Diperlukannya teknik diagnosa pemeriksaan yang tepat agar hewan terinfeksi

dapat segera diberi pengobatan, dan bagi yang belum terinfeksi dapat dijaga kebersihan

lingkungannya serta kebersihan pakannya.

5.2 SARAN

Banyaknya teknik pemeriksaan semakin mempermudah peneguhan diagnosa, namun

harus diperhatikan bahwa tiap teknik pemeriksaan memiliki kelebihan dan kekurangannya

tersendiri sehingga dalam memilih suatu teknik diagnosa harus disesuaikan dengan tujuan

atau hasil yang ingin didapatkan.


DAFTAR PUSTAKA

Bendryman, S.S., Koesdarto, S., Sosiawati, S.M. dan Kustono. 2010, Buku Ajar Helmintologi
Veteriner, Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR (AUP), Surabaya.
Bowman DD. Lynn RC. Eberhad ML. Alcaraz A. 1999. Georgi's Parasitology
forVeterinary.Philadelphia: Saunders.

Hidayati, N. 1997. Kejadian Infeksi Cacing Saluran Pencernaan pada Kuda Kenjeran
Surabaya. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.

Levine, N.D. 1968. Nematode Parasites of Domestic Animal and of Man. Burgess,
Minneapolis, USA.

Levine, N.D. 1994, Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. UGM Press. Yogyakarta

Levine, N.D. 1994, Nematode Parasite of Domestic Animals and of Man. Burgess,
Minnealpolis. USA

Overgaauw, P. A. M. 1997, Prevalence of intestinal nematodes of dogs and cats in the


Netherlands .Vet .Quart . 19 : 14-17.

Prabowo, A. 2010. Petunjuk Teknis Budidaya Ternak Kambing (Materi Pelatihan Agribisnis
bagi KMPH). BPTP Sumatera Selatan. Report No 51.Hal 12.

Ratnawati, E.W. 2004. Kejadian Infeksi Cacing Parasit Saluran Pencernaan pada Kuda
Delman di Kota Bogor. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Rodríguez, P. D. L. F.,Ripoll, B. E. D., Alberto, E. B. and Sotelo, J. A. 2006, Toxocara canis


y Síndrome Larva Migrans Visceralis (Toxocara canis and Syndrome Larva Migrans
Visceralis). Revista Electrónica de Veterinaria. 7(4).

Safar, R., D., dan Ismid. 1989. Parasit-parasit intestinal yang ditemukan pada murid Sekolah
Dasar pusat kota, derah perkebunan, daerah pertanian,dan daerah nelayan
kotamadya, Padang Sumatera Barat. Prosiding Seminar Parasitologi Nasional V.
P41. Jakarta. Hal: 222

Setiawan, D. K., I. M. Dwinata dan I. B. M. Oka. 2014. Identifikasi Jenis Cacing Nematoda
Pada Saluran Gastrointestinal Kuda Penarik Cidomo di Kecamatan Selong, Lombok
Timur. Jurnal. Indonesia Medicus Veterinus 3(5) : 351-358

Soedarto P. 2003. Zoonosis Kedokteran. Surabaya: Air Langga University Press.

Subronto. 2006, Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Urquhart, G. M. et al. 1996. Veterinary parasitology. Second Edition. Blackwell Science Ltd,
London. P. 148.