Anda di halaman 1dari 20

TUGAS ETNOGRAFI PAPUA

SUKU TOBATI

OLEH KELOMPOK VIII

 Albertina Kapitarauw  Mikael Kadepa


 Ayunita C. Iriani  Marthen L. Kaisiepo
 Betinia S. Runggamusi  Oktovia Y. Solewali
 Ilham D. Rianjaya  Oktovina Kondororik
 Lebertina Injakaray  Ruben B. Rumbiak
 Leni R. Sari  Seta R. Marthani
 Malda Wenda

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Indonesia terdiri atas wilayah kepulauan yang membentang dari sabang hingga
merauke,dan dipisahkan selat maupuin lautan. Hal itu menyebabkan terbentukya beragam
budaya,etnis, serta suku bangsa. Sejak tahun 1978 tercatat lebih dari 224 suku bangsa yang
mendiami wilayah Indonesia. Salah satunya yaitu suku bangsa tobati yang terletak di propinsi
Papua. Letak lokasi desa Tobati dan Enggros yang dekat dengan pusat Kota Jayapura
berpengaruh dalam perkembangan permukimannya. Apa yang dikatakan oleh Rapoport (1997)
bahwa kedekatan dengan hal khusus, prasarana dan sarana, iklim mikro dan kondisi topografi
akan berpengaruh terhadap pemukiman. Sehingga apa dapat dilihat dari pengaruh lokasi terhadap
perkembangan suku Tobati antara lain terkait dengan prasarana dan sarana, pendidikan,
perniagaan, hiburan, fasilitas social merupakan hal pokok yang memicu terjadinya perubahan
suku Tobati disamping pada perubahan fisik pemukimannya.

Suku Tobati yang bermukim di Pesisir Teluk Yotefa seluas 1675 ha yang termasuk di
wilayah kecamatan Jayapura Selatan Kotamadya Jayapura, membangunpemukiman di atas air
laut.

Salah satu pokok yang dihadapi penduduk asli Papua (Irian Jaya) adalah hal yang
menyangkut hubungan antara manusia dengan tempat tinggalnya yang tidak terlepas pula dengan
alamnya. Dapat dikatakan rumah atau tempat tinggal tidak terlepas dari alamnya dikarenakan
pandangan orang Papua secara umum yang dimaksud dengan rumah adalah alam sekitarnya
dimana mereka hidup.

2. Rumusan Masalah

Memperlajari tentang suku Tobati dan kebudayaannya yang meliputi bahasa, sistem
organisasi kepemimpinan, kesenian, bahasa, mata pencaharian, dan adat istiadat.

3. Tujuan Penulisan
Dengan adanya makalah ini diharapkan, pembaca dapat memahami dan mengetahui dan
mempelajari seluk beluk suku Tobati

4. Manfaat Penulisan
1. Kita lebih mengenal tentang kebudayaan suku Tobati
2. Kita lebih menghargai kebudayaan yang kita miliki, khususnya di Papua
3. Kita dapat mengambil hal-hal positif yang terdapat dalam kebudayaan suku
Tobati dan kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

5. Metode Penulisan
Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan metode kepustakaan yaitu suatu
metode yang menggunakan berbagai literatur baik yang ada di perpustakaan atau media
elektronik guna mendapatkan informasi yang menunjang penulisan karya tulis ini.
6. Sistematika Penulisan
Dalam karya tulis ini, penulis menggunakan sistematika sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan, terdiri dari : latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan,
metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan, terdiri dari :
BAB II
PEMBAHASAN
1. Tempat Tinggal.
Letak lokasi desa Tobati yang dekat dengan pusat Kota Jayapura berpengaruh dalam
perkembangan permukimannya. Apa yang dikatakan oleh Rapoport (1997) bahwa kedekatan
dengan hal khusus, prasarana dan sarana, iklim mikro dan kondisi topografi akan berpengaruh
terhadap pemukiman. Sehingga apa dapat dilihat dari pengaruh lokasi terhadap perkembangan
suku Tobati antara lain terkait dengan prasarana dan sarana, pendidikan, perniagaan, hiburan,
fasilitas social merupakan hal pokok yang memicu terjadinya perubahan suku Tobati disamping
pada perubahan fisik pemukimannya.
Suku Tobati yang bermukim di Pesisir Teluk Yotefa seluas 1675 ha yang termasuk di
wilayah kecamatan Jayapura Selatan Kotamadya Jayapura, membangun pemukiman di atas air
laut.
Salah satu pokok yang dihadapi penduduk asli Papua (Irian Jaya) adalah hal yang
menyangkut hubungan antara manusia dengan tempat tinggalnya yang tidak terlepas pula dengan
alamnya. Dapat dikatakan rumah atau tempat tinggal tidak terlepas dari alamnya dikarenakan
pandangan orang Papua secara umum yang dimaksud dengan rumah adalah alam sekitarnya
dimana mereka hidup.
Rumah sebagai kebutuhan dasar manusia, pen’ujudannya ternyata bervariasi meflurut siapa
yang menghuninya, hal ni dikemukakan oleh Maslow sebagai suatu jenjang kebutuhan/hirarki
kebutuhan berdasarkan tingkat intensitas dan arti penting dari kebutuhan dasar manusia, yaitu :
Psychological needs, Safety or Security needs, and social needs.
Tinjauan tentang adat di sini, lebih mengarah pada perspektif ilmu antropologi yang secara
garis besar terdapat dua aliran yang berpolarisasi dalam teori kebudayaan yaitu aliran
kognitivisme dan behaviorisme serta di dalamnya teriapat beberapa tinjauan semacam
simbolisme, fungsionalisme, strukturalisme dan lainnya.
Seperti yang diukatakan oleh John F.C. Turner dalam bukunya Freedom To Build, bahwa
“Rumah adalah bagian yang utuh dari pemukiman, dan bukan hasil fisik sekali jadi semata,
melainkan merupakan suatu proses yang terus berkembang dan terkait dengan mobilitas social
ekonomi penghuninya dalam suatu kurun waktu. Yang terpenting dari rumah adalah dampak
terhadap penghuni, bukan wujud atau standar fisiknya. Selnjutnya dikatakan bahwa interaksi
antara rumah dan penghuni adalah apa yang diberikan rumah kepada penghuni serta apa yang
dilakukan penghuni tehadap rumahnya”.
Sebagai perangkum berbagai pendapat tentang rumah, Johan mengemukakan konsep rumah
total, yakni rumah harus selalu satu, utuh dan imbang antara manusia, rumah dengan alam
sekitarnya. Selanjutnya secara tersistem konsep tersebut dijabarkan sebagai berikut :
1. Gagasan, perumahan bukan rumah karena tak dapat berdiri sendiri, saling membutuhkan
dan adanya prasarana dan sarana.
2. Fungsi, produktif bukan hanya hunian rumah hanya dipakai sebagai hunian sulit
dipertahankan sampai lama eksistensinya.
3. Pendekatan, beragam dimensi dinamis rumah hanya dipengaruhi oleh satu dimensi
(teknik), tetapi ada dimensi lain yang sama pentingnya.
4. Wadah, menyatu dengan lingkungan saling tergantung dengan sekitarnya.
5. Kajian, dialog dengan gagasan dan keadaan perumahan dipahami dengan baik bila ada
masukan timbale balik dari lapangan.
Sedangkan tinjauan tentang adat di sini, lebih mengarah pada arah perspektif ilmu
antropologi yang secara garis besar terdapat dua aliran yang berpolarisasi dalam teori
kebudayaan yaitu aliran kognitivisme dan behaviorisme serta didalamnya terdapat beberapa
tinjauan semacam simbolisme, funsionalisme, strukturalisme dan lainnya.

2. Jenis Arsitektur Papua (Suku Tobati)

Pola penataan pemukiman masyarakat Tobati berbentuk linier, yakni rumah-rumah


dibangun sejajar dalam formasi dua deret yang saling berhadapan, dimana jembatan yang
dibangun diantara dua deret ini merupakan satu kontak pandang dari anggota keluarga yang
sedang bersantai di beranda rumahnya. Maksudnya bila ada orang baru, dia akan selalu jadi
perhatian bagi orang kampong karena gerak langkahnya yang kaku, belum terbiasa dengan
jembatam kayu. Selain itu, jembatan ini merupakan penghubung antara satu rumah dengan
rumah lainnya.Pada bagian tengah jembatan dibuat panggung yang lebih luas , disebut “para-
para adapt”. Pada bagian ini merupakan tempat mukamiwarah adat dan pertemuan-pertemuan
khusus yang membicarakan kepentingan bersama masyarakat kampung.

Pada awalnya bangunan didirikan dengan konstruksi yang sangat sederhana. Rata-rata atap
bangunan adalah pelana. Tata ruang dalam pada bangunan jenis ini telah telihat walaupun sangat
sederhana yaitu sebagian besar untuk tidur/istirahat. Sedangkan aktivitas lainnya dilakukan di
luar bangunan, atau di teras luar, material yang digunakan diperoleh dari apa yang tersedia di
alam sekitarnya.

Dalam perkembangannya masyarakat Tobati mulai mengenal tingkatan/nilai-nilai aktivitas


dalam bangunan, sehingga mulailah pembedaan penggunaan bangunan. Kemudian ada bangunan
yang hanya untuk rumah tinggal (Sway) dan ada bangunan yang digunakan khusus sebagai
tempat pemujaan dan upacara adat inisiasi (Mau/Kariwari) dan juga tempat untuk mencari atau
menagkap ikan yang terletak di bawah rumah (Keramba)

1. Rumah Tinggal (Rumah Sway)

Rumah tinggal atau yang biasa disebut dengan rumah Sway merupakan pengembangan dari
bentuk bangunan awal, dengan agdanya pembagian ruang (ruang tamu, ruamg makan, ruang
tidur). Atapnya pun mengakami perubahan menjadi limas an atau bentuk perisai. Sedangkan
bangunan untuk pemujaan berbeda dengan rumah tinggal. Peruangan dalam bangunan ini hanya
sart dengan fungsi untuk tempat inisiasi. Atapnya pun berbentik limasan yang disusun tiga.
Sedangkan bahan yang digunakan tetap mempertahankan bahan yang ada di sekitarnya.

Tata letak bangunan Rumah Sway adalah di pinggir/di tepi-tepi jalan utama pada
pemukiman masyarakat Tobati, dengan orientasi bangunan kea rah jalan utama, sehingga rumah
saling berhadap-hadapan.

1. Tata letak ruang dalam bangunan Rumah Sway terdiri dari :


2. Bilik/kamar tidur
3. Ruang tamu (teras penerima tamu)
4. Dapur (ruang kerja para wanita)
5. Teras belakang

Ada pembagian ruangan menurut pembedaan gender pada pada rumah tinggal di Tobati
yaitu :

o Sebelah laut : selalu tempat kaum laki-laki


o Sebelah darat : tempat kaum wanita

Tiap rumah memiliki pembagian kamar-kamar besar dan kamar-kamar kecil selain serambi
muka atau teras yang menghadap ke jalan. Serambi depan untuk menerima tamu, dan juga
sebagai tempat bekerja kaum laki-laki. Selanjutnya rumah itu terdapat dapur yang merupakan
tempat kaum perempuan. Selain itu juga terdapat ruangan yang dipergunakan sebagai kamar
mandi fan jamban.

2. Rumah Adat (Rumah Mau)

Rumah adat masyarakat Tobati adalah Rumah Mau yang berfungsi sebagai tempat upacara-
upacara adapt ini, berbentuk segi empat atau segi delapan. Bagian utama dari rumah adat ini
terdiri dari tiga bagian yaitu kaki, badan dan kepala.

Filsafah bangunan/Rumah Mau yang paling menonjol adalah terletak pada berbentuk
limasan yang bersusun tiga, bahan atap yang terbuat dari daun sagu serta konstruksi atap yang
bertumpu pada tiang utama dalam bangunan.

Hirarki untuk ruang Mau hanya terdiri dari satu ruangan yang luas tanpa batas antar ruang.
Fungsinya adalah sebagai tempat untuk :

1. Pesta adat
2. Ruang inisiasi/pendewasaan anak laki-laki
3. Penyimpanan benda-benda pusaka

3. Pola Pemukiman, Tata Letak Rumah dan Denah

Pola pemukiman secara umum telah disebutkan di atas, yakni adalah pola linear, hal itu
merupakan pertimbangan terhadap tekanan angin, karena terletak di sepanjang pantai. Bentuk
linear tadi dibuat tegak lurus dengan arah angin dan gelombang yang ada. Juga selain tanggapan
terhadap terhadap iklim, bentuk dua deret dimaksudkan untuk mempermudah
pengawasan. Rumah-rumah dibangun sejajar dalam formasi dua deret yang saling berhadapan,
dimana jembatan yang dibangun diantara dua deret ini merupakan suatu kontak pandang dari
anggota keluarga yang sedang bersantai di beranda rumahnya. Maksudnya, bila ada wang baru,
dia akan selalu menjadi perhatian bagi orang kampung karera gerak langkahnya yang kaku,
belum terbiasa dengan jembatan kayu. Selain itu, jembatan ini juga merupakan penqhubung
antara satu rumah dengan rumah lainnya. Pada bagian tengah jembatan dibuat panggung yang
tebih luas, disebut "para-para adat". Bagian ini merupakan tempat musyawarah adat dan
pertemuan-pertemuan khusus yang membicarakan kepentingan bersama masyarakat kampung.

Tata ruang dalam atau denah pada bangunan Rumah Sway terbagi atas bilik, ruang tamu,
dapur dan teras belakang. Hampir semua semua kegiatan dilakukan di luar rumah sehingga
rumah hanya menjadi tempat peristirahatan, tidak ada kegiatan yang sifatnya penting dilakukan
di falam rumah.

4. Identitas Lingkungan

Jika dipandang secara sepintas, memang hamper tidak ada perbedaan antara rumah orang
Tobati dengan rumah orang bukan Tobati. Satu hal yang menunjukkan masih adanya gambaran
mempengaruhi mereka dalam penyesuaian antara tempat tinggal dengan lingkungannya yang
berkaitan erat pula dengan sosio cultural psikologi yang dianut oleh masyarakat suku Tobati
seperti mengenai letak dan arah rumahnya membentuk kelompok-kelompok kekerabatan.
Menurut Repoport(1977), bahwa lingkungan terbangun menggambarkan berbagai petunjuk
/tanda bagi perilaku penghuninya, karena hal itu dapat dilihat sebagai suatu bentuk komunikasi
non verbal. Maka berdasarkan pola kognisi yang dipunyainya (seperti tertulis diatas), masyarakat
Tobati mempunyai cara berkomunikasi melalui tatanan permukimannya. Dimana tujuan dasar
dari permukimannya adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan kognisi diatas adalah
adalah untuk kebutuhan rohani ( keselamatan dan rejeki/kemakmuran).

Lingkungan ( neighbourhood) mereka adalah homogenous sifatnya, ini dikarenakan sesuai


dengan kriteria sebagai homogenous neighbourhood, yaitu:

1. Batas-batas wilayah yang luas,merupakan suatu kumpulan dari rumah-rumah dan orang-
orang dengan kualitas yang sama.
2. Level dari interaksi social adalah rendah, tetapi kebanyakan dari penghuni
menyadari/mengetahui antara satu dengan yang lainnya.
3. Lingkungan keluarga begitu kuat dan familiar, orang-orang hidup dalam rumah yang
sama. (exented family)

Bentuk keluarga Tobati ini adalah keluarga inti (nuclear family). Sifat virilokal begitu
kuat, dimana dimana biasanya keluarga baru ikut atau menetap atau bertempat tinggal dengan
keluarga pihak suami.

Pemilihan lokasi tempat tinggalselain yang disebutkan di atas, pada dasarnya adalah
dekat dengan keluarga dari keret masing-masing, ini dimaksudkan dengan kedekatan rumah
tinggal dengan anggota keluarga yang lain maka keamanan (safet needs) dan kebersamaan
(togetherness) serta solidaritas (solidarity) diantara mereka tetap terjaga.

5. TEKNOLOGI KONSTRUKSI DAN MATERIAL BANGUNAN


a. Material Bangunan
Bahan-bahan yang digunakan pada rumah tradisional Papua merupakan bahan-bahan
yang sudah tersedia di alam. Masyarakat Papua masih menggunakan rumah sebagai kebutuhan
berteduh dan bukan tempat tinggal menetap karena hidup mereka masih nomaden untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahan-bahannya antara lain :
 Bambu Kayu
 Jerami/talas sebagai atap
 Pelepah pohon pinang hutan atau nibung
 Pelepah pohon sagu dan daun pohon sagu sebagai atap

b. Konstruksi

 Pengikat konstruksi berupa tali


 Tidak ada struktur yang terkait secara kuat, semuanya bergantung pada kekuatan
tali pengikat
 Tidak membutuhkan pondasi (karena letaknya sebagian rumah terletak di laut
(menjorok ke pantai)
 Ada sebagian rumah menggunakan kuda-kuda sebagai penahan atap, dan sebagian
lain menggunakan sistem rangka untuk menahan rangka.

c. Teknologi

Teknologi yang digunakan sangat sederhana dan bisa dibilang masih primitiv karena
selain yang bahan-bahannya juga alat yang digunakan masih sangat sederhana. Seperti :

 Untuk mengikat struktur masih menggunakan tali yang bahannya dari bahan alami
 Dikerjakan secara manual dengan tangan tanpa adanya alat bantu yang memadai
 Keluarga mendirikan sendiri rumahnya
 Anyaman digunakan pada pembuatan atap jerami atau atap yang terbuat dari daun-
daunan

d. Cara Pembuatan

Dalam membuat rumah dibantu oleh semua penduduk disekitar dan juga seluruh anggota
keluarga. Langkah-langkahnya adalah :

 Membuat kerangka rumah dari kayu atau bamboo yang diikat dengan tali tanpa pondasi-
untuk rumah suku tertentu alas rumah ditinggikan sampai lebih dai 1 m atau bahkan
diatas pohon.
 Membuat dinding pelepah pohon sagu atau nibung untuk dinding yang kemudian
dipasang dengan mengikatkan pelepah atau nibung tersebut pada rangka.
 Membuat atap dengan daunt alas, daun sagu atau jerami dan sejenisnya yang di
sambung satu persatu dengan tali kemudian dijepit oleh 2 buah bambu atau kayu
menjadi satu deret.
 Setelah terkumpul banyak deret daun untuk atap kemudian dipasang sebagaimana
memasang dinding.
 Ada sebagian yang memasang atap langsung tanpa disambung dulu
6. Perubahan Fungsi, Makna dan Bentuk Pada Arsitektur Rumah
Tradisional Tobati
Perubahan di dafam masyarakat akan mempengaruhi fungsi dan makna dalam arsitektur
ternpat tinggal. Akan tetapi cukup sulit untuk menentukan secara tepat faktor penyebab
terjadinya perubahan tersebut, karena ditengah-tengah kompleksitas eksistensi niali, norma,
pengetahuan dan teknologi baru. Beberapa ahli berpendapat bahwa terjadinya perubatan dalam
masyarakat karena tumbuhnya ketidak-puasaan terhadap kondisi budaya tertentu, sebagian
masyarakat lagi mengatakan bahwa adanya perkembangan teknologi baru. Kesemuanya ini
adalah wajar, maka untuk menghindari pertentangan pendapat ini diambil secara umum
saja.Secara umum, perubahan yang terjadi dalam masyarakat Suku Tobati dapat,sebabkan oleh :

1. Penemuan baru (inventation)


2. Pertumbuhan penduduk (population)
3. Kebudayaan ( cultural)

Akibat dari hal tersebut yang terjadi saat ini di desa Tobati dan Engros, rumah tradisional
banyak yang telah mengalami perubahan dan bahkan hilang, adapun perubahan adalah sbb :

1. Rumah dengan bentuk dan material, kcnstruksi yang digunakan asli.


2. Rumah dengan bentuk asli, tapi material sebagian hasil industrialisasi, konstruksi asli
3. Rumah dengan bentuk asli, material asli, tapi konstruksi berubah/modern.
4. Rumah dengan bentuk mengalami perubahan, material berubah, konstruksi asli. Rumah
dengan bentuk berubah sama sekali, material berubah, konstruksi berubah

Berikut table perubahan yang terjadi

Aturan Pelaksanaan Pelaksanaan


Unsur Rumah Aturan Adat
Agama Sesuai Berubah

Persiapan Perijinan Ondoafi Gotong-royong,


Besar potong babi dan
masak bersama
Pola dan Orientasi Linier dan rumah Masih mengikuti Tidak lagi tegak
saling berhadapan pola yang telah lurus dengan
ada jeramba

Bentuk

- Rumah Empat persegi Bentuk tetap


panjang menggunakan
empat persegi
panjang

- Atap Perisai Ada yang


menggunakan
bentuk perisai
dan juga pelana

Konstruksi dan
Bahan

- Tiang Kayu swam Tetap Papan-papan


menggunakan
kayu Swam

- Dinding Gaba-gaba

- Lantai Pinang

Detai/ornament Tiap kepala suku Tidak ada


memilki
perlambangan

Fungsi
Rumah Mau Rumah khusus Dilarang Tidak ada sejak
laki-laki dan 1930
iniasi

Rumah Sway Tempat tingal Sebagai tempat


tinggal

7. Lokasi Penting lain-nya


A. Gua
Diperbukitan sebelah selatan dekat Tobati, dapat dijumpai beberapa gua dengan nilai
sejarahnya masing-masing. Kami tidak menemukan keper cayaan yang istimewa dalam
memandang mereka kecuali sejarah pentingnya. Selama perang dunia kedua, Amerika dan Jepang
sering menyerang di wilayah tersebut, dan para orang tua di desa memberitahukan kalau mereka
dulu pergi kedalam gua bila merasa terancam. Biasanya digunakan sebagai tempat bernaung. Satu
dar i gua-gua yang kami kunjungi cukup besar untuk menampung setidaknya 30 orang atau lebih.
Didalam gua ini kami menemukan beberapa lukisan didinding- nya. Dua diantara lukisan yang
ada menyerupai tentara dengan senapan. Beber apa orang desa mengklaim bahwa lukisan- lukisan
tersebut dibuat oleh anak-anak beberapa tahun belakangan ini, meski itu mungkin, walaupun ada
juga yang menegaskan lukisan tersebut dibuat selama perang.
B. Lokasi kematian yang tidak wajar
Lokasi yang dikenal masyarakat sebagai tempat kematian yang tidak biasa, seperti lokasi
kecelakaan atau tempat dimana pernah terjadi pembunuhan amat ditakuti. Di malam hari orang-
orang melalui tempat-tempat ini dengan tenang, katanya jika anda bebicara di tempat tersebut,
anda akan dikejar-kejar oleh hantu dari orang yang meninggal di tempat tersebut.Di Tobati
setidaknya kami mendapati dua tempat, tapi mungkin masih lebih banyak lagi. Salah satu tempat
adalah lokasi dimana pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang pria. Dan yang satunya adalah
lokasi kecelakaan mobil fatal.
8. Konstruksi lain-nya
a) Perabotan
Perabotan seperti kursi, bangku dan meja kebanyakakn dibuat oleh orang kampung. Bisa
dibuat dari kayu utuh, dari rotan, atau dari gabungan kedua bahan tersebut. Kedua bahan (kayu
dan rotan) sudah tersedia di hutan. Rotan memer lukan perhatian dan perlakuan lebih sebelum
bisa digunakan sebagai bahan bangunan.
b) Pagar
Masyarakat Tobati membuat setidaknya dua macam pagar. Pagar batu digunakan untuk
menandai properti dan ser ing bisa dilihat di depan rumah atau ladang/perkebunan. Jenis pagar
yang lain terbuat dari rotan, bambu maupun papan. Bisa dibuat disekeliling tanaman, pohon
maupun kebun kecil untuk mencegah babi dan binatang yang lain merusaknya.

9. Transportasi Suku Tobati


a) Perahu Tradisional
Masyarakat Tobati benar-benar mengandalkan perahu sebagai sarana transportasi.
Sebagaimana diketahui bahwa lokasi desa yang terletak disebelah utara Teluk Youtefa, tidak ada
jalan yang dibangun untuk menghubungkan desa dengan Kota Jayapura maupun Sentani.
Pelabuhan terdekat yang terhubung dengan jalan ke Sentani/Jayapura adalah Yahim, terletak
disebelah utara teluk, kira-kira 20 menit dari Tobati. Transportasi dari/keYahim terjadwal 3-4
kali setiap hari.
Beberapa dasawarsa yang lampau perahu tradisional merupakan satu-satunya transportasi
di teluk, dan benar-benar diandalkan sebagai sarana transportasi dan komunikasi. Secara
perlahan kini situasi telah berubah, setelah diperkenalkannya sarana transportasi teluk yang baru,
meski bagaimanapun juga, perahu masih merupakan sarana transportasi teluk yang paling
penting.
b) Perahu motor
Perahu bermotor telah diperkenalkan oleh orang Indonesia belakangan ini. Tobati
memiliki sedikit sampel yang telah dibuat di desa. Pemiliknya adalah orang yang mempunyai
posisi tinggi di masyarakat (Ondoafi, Koselo dll.) atau pemilik toko. Sebagaimana perahu motor
tersebut memiliki motif dan nama yang jelas yang tertulis pada badan perahu, masyarakat desa di
teluk akan mengenali dan tahu siapa pemilik perahu.
10. ASPEK KEPERCAYAAN
Adat ritual merupakan perwujudan atau symbol dari adat yang berlakudi dalam suatu
masyarakat. Sedangkan adat itu sendiri dapat hadir karena tradisi yang telah berlangsung dalam
masyarakat tersebut. Berbicara mengenai pemukiman tradisional tentunya selalu dikaitkan
dengan makna yang lebih dalam di balik bentukan yang terjadi.
Dari bentuk atap ini dapat menjadi gambaran dari bentuk utuh bangunan yang terdiri dari
kaki, badan dan kepala, yang secara keseluruhan berarti menggambarkan hubungan harmonis
antara alam raya sebagai makrokosmos dengan pencipta, juga alam raya dengan manusia.
Sejak kedatangan bangsa Eropa khususnya bangsa Belanda, rumah Mau dianggap berhala
dan tidak sesuai dengan ajaran Kristen sehingga Rumah Mau dibinasakan, namun yang terlihat
saat ini adalah sisa-sisa tiang-tiang yang tertinggal.
Komunikasi menjadi sesuatu yang sangat ditekankan begitu juga privasi, hal itu terlihat
dari peruntukan bangunan hanya untuk tempat tinggal, sedangkan upacara pendewasaan anak
laki-laki upacara inisiasi sudah tidak ada dengan hilangnya rumah adat Mau.
Masyarakat Tobati terdiri dari beberapa keret yang mengikuti garis keturunan ayah
(patrilineal). Namun meskipun demikian, perbedaan keret tidak harus diwujudkan dalam fisik
bangunan, hanya yang membedakan adalah ornament-ornamen yang menghiasi bangunan yang
umumnya ornament tersebut berupa hiasan dari laut.
Untuk acara yang sifatnya sakral biasanya masyarakat Tobati menempatkan pada tempat
yang disebut dengan Para-para adat. Para-para adat menjadi hal yang pokok dikarenakan
lenyapnya rumah Mau yang berfungsi sebagai tempat inisiasi anak laki-laki yang merupakan
salah satu bentuk kegiatan adat ritual pokok yang telah lenyapseiring masuknya agama Kristen
Protestan yang melarang dilakukannya inisiasi serta mengarah pada praktek-praktek
homoseksual terhadap anak-anak, serta adanya diskriminasi terhadap pembedaan gender
terhadap kaum perempuan. Para-para adapt dianggap sebagai tempat yang disucikan yang dalam
arti simbolis saja. Oleh karena itu di dalam hal perawatan, perbaikan, pembongkaran, serta
pembangunannya diawali dengan musyawarah adapt yang dipimpin secara langsung oleh
Ondoafi.
Tingkatan sosial dalam Kehidupan Suku Tobati yang mana di dalamnya termasuk
identitas sosial and status. Masyarakat Tobati terdiri dari beberapa keret yang mengiktrti garis
keturunan ayah (patrilineal). Menurut struktur adat, pimpinan masyarakat Tobati, Ondoafi Besar
adalah dari keret Hamadi. Namun dalam masingmasing keret terdapat pimpinan keret yang
disebut kepala suku. Selain Kepala Suku Besar atau Ondoafi Besar, dalam masyarakat Tobati
terdapat keret utama yang antara lain Hamadi dan Ireuw. Keret-keret lain yang dianggap sebagai
golongan bawah antara lain Haai, Dawlr, Asa, Hababuk, Injama, Afaar, Mano dan Itar.
11. Berburu Makanan dan Mata Pencaharian
Masyarakat desa memiliki kebiasaan makan 3 kali dalam sehari; Makan pagi, makan
siang, dan makan malam. tetapi praktis warga desa makan disaat ada makanan, dan makan
makanan seada-nya. Makan pagi bisa berupa teh maupun kopi, pisang atau buah yang lainnya,
dan sisa-sisa makan malam.
Apa yang dimakan untuk makanan siang biasanya tergantung pada tempat dimana mereka
berada. Kerena banyak pekerjaan dilakukan diluar desa, makanan dikumpulkan ditempat (dihutan
atau di perkebunan), Makan malam lebih mudah ditebak. Untuk makan malam, ikan atau hasil
buruan disiang hari biasanya dimakan dengan Papeda (sagu). Komentar warga desa Tobati
mengenai kebiasaan makan masyakarat lokal:“Bila tersedia banyak makanan, kami akan makan
kapanpun ada kesempatan, bila saat itu ada orang lain yang melintas, kami akan
mempersilahkannya untuk ikut makan juga, dan bila tidak ada makanan, kami mesti
menyesuaikan dan mencari cara yang lain”( Gerados Ondy)
a) Makanan Tradisional
Makanan tradisional yang kaya akan protein termasuk ikan, atau hewan yang ditangkap
dengan jebakan maupun panah atau senapan angin( Tikus hutan, Kanguru Pohon, Kelelawar,
Burung Kasuari, rusa liar dan babi hutan) Hampir semua keluarga memelihara binatang. Babi
adalah binatang yang paling banyak dipelihara, tetapi ayam, kambing, sapi dan bebek juga ada
yang memeliharanya. Makanan tradisional masyarakat yang kaya karbohidrat adalah buah-
buahan, kacang-kacangan (kelapa) dari hutan, pisang, kentang dan sayur-sayuran lain dari kebun.
b) Sagu Pohon Palem Dan Ekstraksi Tepung Sagu
Sagu adalah karbohidrat utama bagi masyarakat Tobati. Sebagaimana beras bagi orang
Jawa dan ubi bagi masyarakat yang tinggal di dataran tinggi di palau New Guinea. Tepung sagu
diperoleh dari pohon Sagu. Pohon yang telah masak adalah pohon palem yang telah mencapai
batas ketinggiannya dan menghasilkan daun mahkota. Pohon itu biasanya dipotong dengan
menggunakan gergaji mesin, meskipun beberapa orang masih menggunakan kapak besi. Saat
pohon palem sudah terjatuh sepenuhnya di tanah, Untuk mendapatkan biji-bijian sagu dari pokok
pohon palem adalah bagian pekerjaan kaum pria.
Bisa dilakukan dengan dua cara yaitu Baik itu dengan memukul atau dengan
menggunakan mesin untuk membuat potongan-potongan pohon. Tidak mengejutkan bila lebih
cepat dikerjakan dengan mesin dar ipada memukul-mukul secara manual. Kini masayarakat
Tobati telah memiliki satu mesin tersebut dan menggunakannya sebagai kebutuhan sehari-hari.
Dengan menggunakan mesin seorang pr ia bisa mengumpulkan serat kayu dari 3-5 pohon dalam
sehari (tergantung ukuran), dibandingkan dengan 1 pohon dibutuhkan waktu 3 hari bila dengan
cara memukul.
c) Minyak kelapa
Minyak untuk memasak bisa dibuat dari buah kelapa. Hal ini lebih memakan waktu dan
praktis sudah jarang dilakukan. Alasan utama mungkin karena minyak untuk memasak bisa
diperoleh dengan mudah dan murah dari kios-kios dan juga untuk membuat minyak kelapa yang
memakan waktu lama. Tapi beberapa warga desa kadang-kadang masih membuatnya. Diperlukan
100 buah kelapa untuk membuat 51 minyak murni. Yang diambil adalah daging putih dari buah
kelapa. Diletakkan dipanci memasak yang besar dan campur dengan air. Direbus sampai daging
putih buah kelapa lenyap dan menjadi minyak. Dinginkan minyak dan kemudian dimasukkan
kedalam botol kosong.
d) Buah Pinang
Oleh para ilmuwan dikategorikan sebagai bahan ber narkotik. Pinang ditemukan di
Oceania, Asia Tenggara, dan juga di pulau New guinea ini. Kelompok yang mengunyah pinang
cenderung lebih beresiko terjangkit kangker mulut. Kacang- kacangan dipanen dari Palem
Pinang(Areca catechu), baik itu yang ditanam oleh warga desa maupun yang tumbuh liar. Buah
pinang dikunyah dengan pinang rambat dan kapur. Pinang dikumpulkan dari pohon pinang
sedangkan kapur dibuat dari kerang-kerangan. Terbagi menjadi dua jenis, Kapur yang terbuat
dari kerang laut dan kapur dari kerang teluk. Kapur yang terbuat dari kerang teluk berwarna
putih keabu-abuan Dan kekuatannya tidak terlalu keras. Sedangkan jenis yang terbuat dari
kerang laut berwarna putih bersih dan mempunyai efek yang lebih kuat.
Saat mengunyah buah pinang, pinang rambat dimasukkan kedalam kapur untuk kemudian
dikunyah bersama buah pinang. Bila telah mengunyah kapur dalam jumlah cukup dengan buah
pinang, akan menimbulkan war na merah dan orang tersebut kemudian akan mer asa “lemas”
(merasa panas) Bila terlalu banyak kapur, atau orang tersebut tidak terbiasa mengunyah buah
pinang, orang akan berkeringat dan menjadi pusing. Kapur bisa menciptakan sensasi terbakar
pada mulut (bibir), sebagaimana kulit bisa menjadi rusak.
Buah pinang dikunyah oleh hampir semua orang di Tobati, baik muda maupun tua. Setiap
harinya dikunyah dalam jumlah banyak. Kadang juga bisa dijumpai anak-anak yang bar u
berumur 2-3 sedang mengunyah buah pinang pember ian ibu- nya.
Dipercaya bahwa mengunyah buah pinang dapat menguatkan gigi dan bisa mencegah timbulnya
bau mulut. Dulu bila bertemu dengan orang dari desa lain, atau orang yang tidak yakin dengan
status kerabat yang mereka jumpai, buah pinang berfungsi sebagai ‘pener jemah’. Bila telah
bertukar buah pinang, sukses bertukar buah pinang adalah sebuah simbol dari rasa hormat dan
hubungan baik satu dengan yang lainnya.
12. Perilaku Akan Kebersihan
Perilaku dalam hal kebersihan amat tergantung dengan bagaimana cara memperoleh air
yang bersih. Bila air bersih tersedia, masyarakat akan mendapatkan dasar yang kuat tentang ilmu
kesehatan pribadi dan budaya bersih. Tobati dikelilingi oleh air dan penduduk memiliki
persediaan air bersih sepanjang tahun. Masyarakatnya memiliki dasar yang bagus, dari dari yang
saya ketahui, mereka tidak pernah menjadi korban dari penyakit epidemik. Rendahnya tingkatan
populasi dan sedikit pencemaran pasti mendukung kebersihan lingkungan mereka.
Tetapi masa kini sedikit banyak orang yang mulai tinggal di tepi teluk, ataupun disekeliling
teluk, dan sudah mulai terlihat dampaknya. Di propinsi Papua (terutama diperkotaan) banyak
orang membuang sampah sesuka mereka. Di jalan, di hutan, dan di sungai. Tidak ada Sistem
pengolahan sampah yang cukup fungsional untuk menanggulangi sampah dalam jumlah besar,
kebanyakan dibakar atau dibuang bebas.
a) Sampah
Kotoran organik baik itu dari hewan maupun manusia kini sedang meningkat sebab
jumlah populasi juga meningkat. Khususnya babi yang berkeliaran dengan bebas itu yang malah
membantu membuang kotoran organik ke teluk. Makanan yang dibuang oleh manusia akan
dimakan oleh babi, bebek dan ayam sehingga masih masuk akal apabila penduduk membuang
makanan sembarangan.
Mayoritas kamar kecil di Tobati dibangun diatas teluk, dan kotoran langsung dibuang ke teluk.
Kotoran dan bahan kimia organik Sampah plastik-plastik dan kaleng-kaleng sekarang sudah
mulai tampak di tepian teluk (dan bahkan mungkin juga sudah berada di dasar teluk).
Petugas administrasi warga desa Tobati sendiri juga tidak memiliki cara tegas untuk menangani
masalah sampah seperti ini. Terkadang sampah langsung dikumpulkan untuk kemudian dibakar
bila sudah mencapai jumlah tertentu. Tapi kebanyakan sampah hanya dibuang dari rumah
(kedalam teluk)Warga desa mengeluhkan bila ada angin yang ber hembus dan menciptakan arus
di teluk, yang membuat sampah muncul kembali ke tepian. Hal ini kadang membuat warga desa
mulai mengumpulkan sampah- sampah tersebut dan kemudian membakarnya.
b) Ilmu kesehatan dan perawatan pribadi
Masyarakat Tobati biasanya mandi dan membersihkan diri mereka di bagian belakang
rumah. Sampo dan sabun modern sudah digunakan secara teratur, tapi santan kelapa bisa juga
dipakai sebagai pembersih. Warga desa menegaskan bahwa santan kelapa baik untuk kesehatan
rambut dan meninggalkan aroma yang lembut. Untuk membuat “Santan Kelapa”, daging kelapa
digiling sampai lembut dan berair dan cara menggunakannya cukup seperti menggunakan sampo
biasa.
c) Air Minum
Air yang dimaksud disini adalah air yang biasa digunakan untuk minum maupun
memasak, yang setiap hari diambil di teluk oleh masyarakat desa dipedalaman. Ember dibawa
serta dengan perahu untuk kemudian dibawa ke dapur. Air di perumahan masyarakat desa saat ini
tidak cukup bersih untuk memasak. Kecuali air yang diambil dari tengah teluk yang dianggap
lebih ber sih daripadaair yang berada di tepian, air akan dimasak terlebih dahulu sebelum
diminum olah orang desa.
DAFTAR PUSTAKA
 Echols, M John 1989 Indonesian-English Dictionary
 Godchalk, Jan A 1993 Sela Walley, An Etnography of a Mek Society in the Eastern
Highlands, Irian Jaya, Indonesia.
 Goodale, Jane C 1996 The Two-Party line, Conversations in the field
 Hammersley, 1983 Martyn Ethnography, Principles in Practice
 Haviland, A William1985 Antropologi Jilid 1&2
 Hermkens, Anna Karina The way of the objects.
 Hoogerbrugge, Jac 1967, Mythe en Ornamen, youtefa.
 Wamebu, zadrak 2005 Dokumen draft final, rencana pembangunan jangka Menengah
kampung Tobati 2001-2007.

Anda mungkin juga menyukai