Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Bahasa ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh
anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasikan diri. Penggunaan bahasa yang benar berarti pemakaian
bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku.
Sedangkan, kriteria penggunaan bahasa yang baik adalah ketepatan memilih
ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar dapat diartikan sebagai pemakaian ragam bahasa
yang serasi dengan sasarannya dan yang mengikuti kaidah bahasa yang berlaku.
Dengan tercapainya bahasa Indonesia yang baik dan benar, seseorang dapat
berkomunikasi secara baik pula.
Saat ini kendala yang harus dihadapi remaja untuk mempelajari bahasa
Indonesia yang baik dan benar adalah timbulnya gejala bahasa, seperti bahasa
gaul, yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Bahasa gaul
merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk
pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Saat ini, bahasa
gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan
oleh kalangan remaja.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah pengertian bahasa gaul itu sendiri


2. Pengaruh bahasa gaul terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang
baik dan benar di kalangan remaja
3. Ketertarikan anak temaja dalam menggunakan bahasa gaul

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Ingin memberitaukan kepada teman-teman tentang pengertian bahasa
gaul
2. Ingin mengetahui ketertarikan anak remaja dalam menggunakan
bahasa gaul terhadap para siswa

1
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

2.1 REMAJA
Masa remaja adalah masa di mana seseorang berada di umur belasan
tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa, tetapi juga
tidak dapat disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari
anak-anak menuju dewasa.
Masa remaja menurut Mappiare (dalam Ali, 2011: 9) berlangsung antara
umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi perempuan dan 13 tahun sampai
dengan 22 tahun bagi pria. Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut
adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere yang artinya tumbuh atau
tumbuh untuk mencapai kematangan.
Pieget (dalam Ali, 2011: 9) mengatakan bahwa secara psikologis remaja
adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat
dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah
tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Memasuki masyarakat dewasa ini memasuki banyak aspek efektif, lebih atau
kurang dari usia pubertas.
Shaw dan Castonzo (dalam Ali, 2011: 9) menjelaskan bahwa remaja juga
sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi
intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya
mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tetapi juga
merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan
Monks (dalam Ali, 2011: 9-10) menjelaskan bahwa remaja sebetulnya
tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-
anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan
orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal sebagai fase “mencari
jati diri” atau fase “topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan
memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya.

2
2.2 BAHASA GAUL
Bahasa gaul adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim
digunakan di Jakarta pada tahun 1980-an hingga saat ini menggantikan bahasa
prokem yang lebih lazim dipakai pada tahun-tahun sebelumnya. Bahasa gaul
merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk
pergaulan. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasa anak jalanan. Namun,
seiring bertambahnya waktu bahasa prokem yang tadinya hanya dipakai para
preman atau anak jalanan sebagai bahasa rahasia beralih fungsi menjadi bahasa
gaul. Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara
remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja
memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana
komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang
dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat
mengetahui apa yang sedang dibicarakannya.
Pada dasarnya ragam bahasa gaul remaja memiliki ciri khusus, singkat,
lincah, dan kreatif. Banyak kasus kosakata yang digunakan cenderung pendek,
sementara kata yang agak panjang diperpendek melalui proses morfologi atau
menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Hal itu dapat dilihat dari
penggunaan awalan ‘e’ kata ‘emang’ yang merupakan bentukan dari kata
‘memang’ yang disisipkan bunyi ‘e’. Di sini jelas terlihat terjadi pemendekan kata
berupa menghilangkan huruf depan ‘m’. Sehingga terjadi perbedaan saat
melafalkan kata tersebut dan merancu dari kata aslinya. Kombinasi ‘k, a, g’ kata
‘kagak’ bentukan dari kata ‘tidak’ yang bunyinya ‘tid’ diganti ‘kag’. Huruf
konsonan pada kata pertama diganti dengan k huruf vokal ‘i’ diganti ‘a’ huruf
konsonan kedua diganti ‘g’, sehingga kata ‘tidak’ menjadi ‘kagak’. Sisipan ‘e’
kata ‘temen’ merupakan bentukan dari kata ‘teman’ yang huruf vokal ‘a’ menjadi
‘e’. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pelafalan.
Cara pengucapan bahasa gaul dilafalkan secara sama seperti halnya bahasa
Indonesia. Partikel yang sering dipakai adalah sih, nih, tuh, dong, merupakan
sebagian dari partikel-partikel bahasa prokem yang membuatnya terasa lebih
hidup dan menghubungkan satu anak muda dengan anak muda lain dan membuat
mereka merasa berbeda dengan orang-orang tua yang berbahasa baku. Partikel-

3
partikel ini walaupun pendek namun memiliki arti yang jauh melebihi jumlah
huruf yang menyusunnya. Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi
tambahan kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia
baku seperti tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati dan
ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat tersebut diucapkan. Contoh yang
sering diucapkan oleh kebanyakan orang adalah ‘sudah pasti dong’ yang artinya
dalam bahasa baku Indonesia adalah ‘sudah pasti’ atau ‘tentu saja’.
Perkembangan bahasa gaul ini di dukung oleh perkembangan kognitif
yang menurut Jean Peaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan
dengan perkembangan psikis remaja, sebetulnya mereka sedang berada pada fase
pencarian jati diri, pada tahap ini kemampuan berbahasa pada remaja mulai
berbeda meskipun terkadang menyimpang dari norma umum. Oleh karena itu,
kondisi remaja pada tahap ini merupakan kondisi paling sulit antara berbuat
“sama” atau “tidak sama” dengan teman-temannya, jika mereka berbahasa “tidak
sama” artinya mereka tidak akan dapat diterima dikelompoknya atau mungkin
dikatakan sebagai “remaja kolot”.
Menurut Alatas, bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan untuk
berteman dan bersahabat di tengah masyarakat. Bahasa gaul merupakan bentuk
ragam bahasa yang digunakan oleh penutur remaja. Dalam konteks modern,
bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan
sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial.
Media-media populer seperti televisi, radio, dunia perfilman nasional, juga
merupakan pemakai bahasa gaul.
Menurut Sahertian, awal istilah-istilah dalam bahasa gaul itu muncul untuk
merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Oleh karena sering digunakan
di luar komunitasnya, lama-lama istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari.
Deddy Mulyana dalam buku karangannya yang berjudul pengantar ilmu
komunikasi menjelaskan bahwa bahasa gaul ini digunakan untuk memproteksi
kelompok mereka dari komunitas lain. Sehingga komunikasi yang mereka
lakukan, hanya kelompok mereka saja yang mengerti. Hal tersebut menunjukan
bahwa remaja dalam kelompoknya membuat tata bahasa tersendiri agar orang lain
tidak memahami apa yang dibicarakan atau mungkin agar kelihatan lebih gaul.

4
2.3 BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
Bahasa ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh
anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasikan diri. Sutan Takdir Alisyahbana (dalam Maksan, 1994: 1)
menjelaskan bahwa bahasa adalah ucapan pikiran manusia dengan teratur
memakai alat bunyi. Gorys Keraf (dalam Maksan, 1994: 1) mengemukakan
bahwa bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang menggunakan simbol-
simbol vokal yang arbitrer, yang dapat diperbuat dengan gerak-gerak badaniah
yang nyata.
Atmazaki (2007: 5) menyatakan bahwa bahasa merupakan fenomena
mental, yaitu suatu kemampuan yang sudah dibawa manusia sejak lahir. Pada sisi
lain, bahasa marupakan fenomena kemasyarakatan, yaitu penggunaan bahasa
sebagai alat komunikasi di dalam membentuk dan karena bentukan masyarakat.
Jadi, bahasa merupakan suatu sistem yang berfungsi sosial (fungsional). Dengan
demikian, bahasa adalah alat komunikasi yang dengannya manusia dapat
menyampaikan pikiran perasaan kepada orang lain secara lebih tepat.
Muslich (2010: 9) mengatakan bahwa pemakaian bahasa yang mengikuti
kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku melahirkan bahasa yang benar.
Orang yang mampu menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai
sasarannya, apapun jenisnya itu, dianggap berbahasa yang efektif. Ini
berhubungan dengan pemilihan ragam-ragam yang ada ketika orang dihadapkan
pada bermacam ragam komunikasi. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi
menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa
yang baik atau tepat. Bahasa yang demikian tidak selalu harus baku, misalnya
dalam tawar-menawar di pasar. Jadi, menggunakan bahasa yang baik (tepat) tidak
termasuk bahasa yang benar. Sebaliknya, seseorang mungkin berbahasa yang
benar yang tidak baik penerapannya karena suasananya menurut ragam yang lain.
Anjuran agar kita berbahasa yang baik dan benar dapat diartikan sebagai
pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang mengikuti
kaidah bahasa yang benar.
Sugono (2009: 21-23) menjelaskan bahwa kriteria yang digunakan untuk
melihat penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah itu meliputi

5
aspek tata bunyi (fonologi), tata bahasa (kata dan kalimat), kosakata (termasuk
istilah), ejaan, dan makna. Sedangkan, kriteria penggunaan bahasa yang baik
adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan
komunikasi. Kebutuhan itu bertalian dengan topik yang dibicarakan, tujuan
pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau pembaca (jika tulis),
dan tempat pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti
bahwa bahasa yang gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat yang
ada.

2.4 PENGARUH BAHASA GAUL TERHADAP PENGGUNAAN


BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR DI
KALANGAN REMAJA

Saat ini banyak sekali remaja yang menciptakan bahasa gaul, yaitu bahasa
baku yang diubah, sehingga terkadang orang dewasa tidak memahami bahasa apa
yang dikatakan oleh para remaja tersebut. Remaja cenderung lebih menyukai
bahasa gaul daripada menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Supaya mereka lebih terlihat modern, dan akhirnya mulai lunturnya kecintaan
pada bahasa Indonesia adalah hal yang harus dihindari.
Bahasa gaul dapat timbul dimana saja,. Bahasa yang digunakan oleh anak
muda pada umumnya ini muncul dari kreativitas mengolah kata baku dalam
bahasa Indonesia menjadi kata yang tidak baku. Bahasa gaul bisa ditemukan di
mana saja, karena bahasa gaul dapat timbul di iklan tevisi, lirik lagu remaja, novel
remaja dan banyak lagi. Inilah kenyataan bahwa tumbuhnya bahasa gaul di tengah
eksistensi bahasa Indonesia tidak dapat dihindari, ini karena pengaruh
perkembangan alat komunikasi yang terus berkembang dan karena bahasa gaul
dipakai anak muda kebanyakan maka bahasa baku akan tergeser eksistensinya.
Apalagi dengan maraknya dunia kalangan artis menggunakan bahasa gaul di
media massa dan elektronik, membuat remaja semakin sering menirukannya di
kehidupan sehari-hari hal ini sudah menjadi wajar karena remaja suka meniru hal-
hal yang baru. Inilah yang menjadi awal lunturnya bahasa Indonesia yang baik
dan berganti dengan bahasa gaul.

6
Orang tua berkewajiban untuk mengajarkan penggunaan bahasa yang baik
dan benar kepada anak sejak kecil. Penggunaan bahasa yang baik dapat
mempermudah dalam menyampaikan informasi. Di dalam kehidupan sehari-hari
seharusnya digunakan tata bahasa yang baik dan benar supaya masyarakat
khususnya remaja terbiasa untuk berkomunikasi secara lebih efektif. Adanya
bahasa gaul juga sangat mempengaruhi etika seseorang dalam berkomunikasi.
Kata-kata yang digunakan dalam berbicara seseorang dapat mencerminkan
kemampuan berpikir dan tingkat kepribadiannya. Kepribadian seseorang yang
baik dapat memilih apa saja yang harus diucapkan dan dibicarakan. Tidak
berlebihan jika seseorang yang pandai berbahasa Indonesia, ia akan merasa
diterima dan dihargai oleh berbagai kalangan. Ada beberapa solusi yang dapat
meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar yaitu,
menyadarkan dan memotivasi remaja akan fungsi dan pentingnya bahasa yang
baku. Selanjutnya, hal ini juga membutuhkan suatu upaya pembiasaan, artinya,
remaja dilatih untuk berbahasa secara tepat, baik secara lisan maupun tulis setiap
saat setidaknya selama berada di lingkungan sekolah. Pembiasaan ini akan sangat
mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa pada remaja. Proses
penyadaran dan pembiasaan tidak kalah penting, hal ini akan menimbulkan
keinginan remaja untuk mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar.

2.5 KETERTARIKAN ANAK REMAJA DALAM


MENGGUNAKAN BAHASA GAUL

Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif


mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke
dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal
atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga
menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan
apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir
mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

7
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti
belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds,
2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu
interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang
semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal
(dalam Papalia & Olds, 2001).
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu
berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang
aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap
operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang
remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal.
Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang
hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini
memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis.
Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja
mengalami peningkatan pesat. Kosakata remaja terus mengalami perkembangan
seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih
kompleks. Menurut Owen (dalam Papalia, 2004) remaja mulai peka dengan kata-
kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metaphor, ironi,
dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka.
Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak
baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa
gaul.
Disamping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif,
munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan
psikososial remaja. Menurut Erikson (1968), remaja memasuki tahapan
psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang
dominant terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas.
Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang
terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan bahasa gaul ini

8
merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai identitas
independensi mereka dari dunia orang dewasa dan anak-anak.
Sehinggga dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama dengan sesama
sebayanya, remaja seringkali menggunakan bahasa spesifik yang kita kenal
dengan bahasa ‘gaul’. Disamping bukan merupakan bahasa yang baku, kata-kata
dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya dimengerti oleh para remaja atau
mereka yang kerap menggunakannya.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam berkomunikasi, yaitu
sebagai alat komunikasi yang paling utama. Untuk itu, sangat dianjurkan supaya
masyarakat dan remaja menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Berbahasa yang baik dan benar dapat diartikan sebagai pemakaian ragam bahasa
yang serasi dengan sasarannya dan yang mengikuti kaidah bahasa yang berlaku.
Bahasa gaul merupakan bentuk ragam bahasa yang digunakan oleh
penutur remaja. Dalam konteks modern, bahasa gaul merupakan dialek bahasa
Indonesia nonformal yang digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari
dalam pergaulan di lingkungan sosial.
Penggunaan bahasa gaul semakin ramai di kalangan remaja karena
diperkuat dengan pengaruh dunia hiburan televisi seperti film dan sinetron yang
juga memakai bahasa gaul. Salah satu solusi yang dapat meningkatkan
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan remaja yaitu,
menyadarkan dan memotivasikan remaja akan fungsi dan pentingnya bahasa yang
baku.
Banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakan bahasa gaul,
singkatan-singkatan dalam komunikasinya sehari-hari adalah penyimpangan dari
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Tentu saja ini akan berdampak
lunturnya atau hilangnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya di masyarakat
terutama kalangan remaja. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah
banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Keberadaan bahasa gaul memang sangat mengganggu
eksistensi bahasa Indonesia. Banyak remaja yang sudah tidak mengindahkan dan
tidak lagi mengenal bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sebaiknya remaja jangan berlebihan dalam menggunakan bahasa gaul.
Remaja hendaknya membudidayakan bahasa Indonesia dan meningkatkan
kembali eksistensinya di kalangan remaja. Orang tua dan pendidik mempunyai

10
tugas untuk menyadarkan dan memotivasikan remaja akan fungsi dan pentingnya
bahasa yang baku. Proses penyadaran dan pembiasaan tidak kalah penting, hal ini
membutuhkan suatu kekuatan atau sanksi yang mengikat, misalnya tugas
menuliskan suatu artikel atau karangan dengan bahasa yang baku. Hal ini akan
menimbulkan keinginan remaja untuk mempelajari bahasa Indonesia yang baik
dan benar.
Menggunakan bahasa gaul boleh saja, akan tetapi jangan sampai
menghilangkan budaya berbahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan
bahasa resmi kenegaraan dan lambang dari identitas nasional, yang kedudukannya
tercantum dalam Sumpah Pemuda dan UUD 1945

3.2 SARAN

Sebagai genenerasi muda bangsa Indonesia hendaknya kita lebih


bangga akan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, karena kelak kita
yang akan membawa nama baik Indonesia dikancah dunia, kita harus
mampu menunjukkan citra baik, sopan, cerdas, dan berintelektual tinggi
melalui bahasa kita, Bahasa Indonesia.

11