Anda di halaman 1dari 22

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

A. TOPIK PENYULUHAN

“Personal Hygiene (kebersihan diri)”

B. WAKTU (LAMANYA PENYULUHAN)

10 – 15 Menit

C. SASARAN

Individu / klien dalam suatu keluarga/kelompok atau masyarakat

D. LOKASI

Desa Gentungan, Kecamatan Limbung Kabupaten Gowa

E. TANGGAL PELAKSANAAN

Kamis, 29 januari 2004 (Pukul, 14.00- selesai)

F. TUJUAN UMUM

Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan individu/klien mampu

memenuhi kebutuhan personal hygiene (kebersihan diri) secara

mandiri.

G. TUJUAN KHUSUS

Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan individu/klien mampu

memahami dan melaksanakan personal hygiene (kebersihan diri),

yaitu :

- Kebersihan kulit / mandi

- Kebersihan rambut
- Kebersihan kuku

- Kebersihan gigi dan mulut

H. POKOK BAHASAN

Personal hygiene (kebersihan diri

I. SUB POKOK BAHASAN

1. Kebersihan kulit / mandi

- Manfaat mandi

- Persiapan alat mandi

- Cara mandi yang baik

2. Kebersihan rambut

- Manfaat kebersihan rambut

- Cara membersihkan rambut yang baik

3. Kebersihan kuku

- Manfaat kebersihan kuku

- Cara membersihkan kuku yang benar / baik

4. Kebersihan gigi dan mulut

- Manfaat kebersihan gigi dan mulut

- cara menyikat gigi yang baik

J. METODE

- Ceramah

- Demonstrasi

- Redemonstrasi
K. KEGIATAN BELAJAR ;

NO KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN


PENYULUHAN PENYULUH PESERTA
1 Membuat - Memperkenalkan diri - Tenang mendengarkan

pengajaran - Menyampaikan judul - Menyampaikan pendapat

(5-10%) materi penyuluhan jika diminta

- Meminta pendapat

peserta tentang

materi yang akan

disampaikan
2 Penyajian - Menyampaikan materi - Memperhatikan dengan

materi penyuluhan secara tenang materi yang

(80-90%) sistematis disampaikan

- Diselingi dengan - Jika perlu, Mencatat /

komunikasi timbal menulis hal-hal yang

balik (tidak menoton) dianggap penting

- Mengajukan pertanyaan

hal-hal yang kurang

jelas
3 Menutup - Menyimpulkan materi - Mengajukan pertanyaan,

pelajarana penyuluhan jika ada

(5-10%) - Meminta pertanyaan

dari peserta

- Mengkahiri

penyuluhan dengan

ucapan salam
L. MATERI
Pengertian Personal Hygiene

Personal hygiene (kebersihan diri) adalah perawatan diri dalam

rangka mempertahankan kesehatan. Hygiene mencakup perawatan

kulit, rambut, kuku, gigi dan mulut.

Manfaat

- mempertahankan kebersihan tubuh

- Melatih hidup sehat atau bersih

- Memberikan rasa nyaman dan relakssi serta perasaan segar

- Menghilangkan kelelahan (mencegah bau badan serta memelihara

integritas kulit)

Jenis

- kebersihan kulit / mandi

- kebersihan rambut/mencuci rambut

- Kebersihan kuku

- Kebersihan gigi dan mulut

1. Kebersihan Kulit / mandi

Kebersihan kulit / mandi merupakan suatu cara membersihakan

tubuh dengan menggunakan air bersih dan sabun secara merata

Tujuan :

- Membersihkan kulit dan menghilangkan bau badan

- Memberikan rasa nyaman

- Merangsang peredaran darah

- Mencegah infeksi kulit


Persiapan mandi yang harus disiapkan meliputi : sabun mandi,

handuk/sarung, air bersih secukupnya dan baju bersih

Cara mandi yang baik :

- Siapkan peralatan mandi, lepaskan pakaian / handuk, setelah itu

basahi muka, telinga leher dan seluruh badan lainnya secara

merata.

- Gunakan sabun mandi secara merata dengan hati-hati dan

perlahan-lahan

- Setelah itu, siram kembali air bersih seluruh badan sampai

bersih

- Gunakan handuk untuk mengeringkan badan, kemudin paki pakaian

bersih

2. Kebersihan rambut

adalah mencuci rambut dan kulit kepala dengan mempergunakan air

bersih dan shampoo

Tujuan :

- Membersihkan kulit kepala dan rambut

- Merangsang sirkulasi darah pada kulit kepala

- Menghilangkan kutu atau ketombe

- Menghilangkan bau, memberi rasa segar dan nyaman

Persiapan mencuci rambur diantaranya shampoo, sisir, handuk dan

air bersih.

Cara mencuci rambut yang baik :


- Rambut dibasahi dengan air bersih, kemudian dicuci dengan

shampoo

- Rambut disiram beberapa kali dengan air bersih dan bersaman

itu pula kepala dipijit-pijit secara merata

- Kepala dikeringkan dengan handuk

3. Kebersihan kuku

Tujuan : Mencegah kontaminasi kuman saat makan

Persiapan alat saat menggunting kuku diantaranya, gunting kuku

dan air hangat.

Cara menggunting kuku yang baik ;

- Pertama-tama, rendam kuku tangan atau kaki dalam air hangat

yang hendak digunting (untuk melunakkan kuku / agar tidak

retak)

- Mulai menggunting kuku, potong lurus dan tidak boleh sampai

batas dasar kuku, agar tidak terjadi luka. Setelah itu potongan

kuku dikumpul atau dibuang.

4. Kebersihan gig dan mulut

adalah membersihkan rongga mulut, gigi dan lidah dari kotoran

atau sisa makanan dengan menggunakan sikat gigi & pasta gigi.

Tujuan :

- Mempertahankan keberishan gigi dan mulut agar tetap sehat

dan tidak berbau


- Mencegah terjadinya infeksi seperti stomatitis, kerusakan gigi

dan gusi

- Memberi rasa nyaman serta menambah nafsu makan

Persiapan alat meliputi; sikat gigi sesuai ukuran, pasta gigi dan air

bersih untuk kumur-kumur

Cara menyikat gigi yang baik :

- Menyiapkan alat, sikat gigi diolesi pasta gigi

- Sikatlah gigi dengan menggunakan air sambil menggerakkan

sikat gigi naik turun pada bagian luar - dalam samping kiri -

kanan, atas - bawah secara merata.

- Bila sudah selesai, kumur-kumur pakai air bersih kemudian

buang, setelah itu mulut dikeirngkan.

M. MEDIA PENYULUHAN

- Pleap chart

- Shound system (bila ada)

N. EVALUASI

Tehnik / cara evaluasi dengan cara test lisan dan praktik

Soal :

1. Apa yang dimaksud personal hygine (kebersihan diri)

2. apa manfaat kebersihan diri

3. Sebutkan yang termasuk kebersihan diri serta bagaimana

praktiknya
Kriteria evaluasi ;

1. Individu dapat menyebutkan pengertian kebersihan diri

2. Individu dapat menyebutkan minimal 2 manfaat kebersihan diri

3. Individu dapat mendemonstrasikan tang termasuk kebersihan diri

O. SUMBER

- Panitia / penaggung jawab ; Basri Syam

- Sumber dana ; swadana individu / masyarakat

- Pengarahan massa ; tokoh masyarakat, pemuka agama dll.

Created By ; Basri Syam / Panum Komunitas / 2004


TUGAS PANUM KEPERAWATAN KOMUNITAS

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


“Personal Hygiene (Kebersihan Diri)”

Diajukan sebagai tugas mengikuti Program Panum Keperawatan


Komunitas

DI SUSUN OLEH :
BASRI SYAM
C 120 02 011

PROGRAM PENDIDIKAN S-1 NERS “B”


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR TAHUN 2004
LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KASUS JIWA : “ Klien Menarik Diri “

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien :

Ny. S umur 45 tahun, telah ditinggal suaminya akibat kecelakaan lalu lintas.
Sejak itu klien sering mengurung diri di kamar dan jarang berinteraksi
dengan orang lain serta malas berbicara dengan orang disekitarnya.
Beberapa hari kemudian Ny. S sering megamuk, sehingga dibawa ke rumah
sakit. Diruangan klien sering duduk sendiri dan kadang menangis, saat
ditanya klien mengatakan ia merasa sedih karena ia tidak pernah dibesuk
oleh keluarganya. Klien tidak suka bergaul / berbicara dengan orang lain,
karena dia tidak tahu apa yang mesti dicerita bahkan ia merasa tidak
berguna.

2. Masalah / Diagnosa Keperawatan

Gangguan interaksi social : Menarik Diri berhubungan dengan harga diri


rendah

3. Tujuan Keperawatan:

a. Tujuan umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
b. Tujuan khusus :
Klien dapat membina hubungan saling percaya

4. Tindakan Keperawatan :

- Bina hubungan saling percaya dengan klien


- Memotivasi klien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
B. STARTEGI KOMUNIKASI

1. Fase pre interaksi

a. Evaluasi diri :
- pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki tentang kondisi klien
- bagaiaman cara saya berrespon dengan klien
- Evaluasi tingkat kecemasan diri
b. Tetapkan tahap interaksi :
- Rencanakan interaksi pertama sampai interaksi selanjutnya
- Tentukan tujuan petemuan dengan klien
- Tindakan yang akan dilakukan
- Cara melakukannya

2. Fase Perkenalan / Orientasi

a. Salam terapeutik :
Selamat pagi Bu, (mengulurkan tangan dan salaman) nama saya Basri
Syam, biasa dipanggil Basri. Saya mahassiwa Keperawatan Unhas yang
melaksanakan praktik selama 2 minggu di ruangan ini, dan saya akan
merawat / membantu menyelesaikan masalah ibu. Kalau Ibu sendiri
namanya siapa ?, dan senang dipanggil apa?
b. Evaluasi / validasi :
Apa yang terjadi dirumah, sehingga Ibu dibawa ke rumah sakit ?
c. Kontrak :
- Topik :
Bisa Saya berbincang-bincang dengan ibu sejenak?
- Waktu :
Berapa lama kita akan berbincang-bincang, 10 atau 15 menit ?
- Tempat :
Supaya lebih enak kita berbincang-bincang, bagaimana kalau kita
bicara di kursi, Ibu setuju?

3. Fase kerja ;

a. Bagaimana masalah yang dirasakan Ibu sekarang ?


b. Kenapa Ibu sering duduk sendiri bahkan kadang menangis ?
c. Kenapa Ibu tidak mau bergaul / berbicara dengan orang lain ?
d. Coba Ibu pilih teman yang dianggap baik dan bisa dipercaya untuk teman
bergaul/berbicara
e. Atau Ibu dapat ikut dalam kegiatan-kegiatan yang ada di rumah sakit ini,
agar Ibu tidak merasa sendiri

4. Fase Terminasi

a. Evaluasi respon
Bagaimana perasaan ibu setelah kita bicara bersama tadi …….?
b. Tindak lanjut
Supaya Ibu tidak merasa sendiri dan jenuh di rumah sakit, Ibu boleh
coba melakukan apa yang sudah kita bicarakan tadi.
c. Kontrak yang akan datang
Ibu, karena kita sudah bicara kurang lebih 10 menit, sekarang saya mau
melanjutkan kegiatn lain, tapi bila ada sesuatu yang Ibu ingin sampaikan
bisa menghubungi saya di ruangan perawat.

Atau, nanti pukul 13.00, saya akan datang lagi untuk memberikan obat,
supaya Ibu cepat sembuh. Ibu tunggu saja saya disini.

Created By ; Basri Syam / Panum keperawatan Jiwa/ 2004


TUGAS PANUM KEPERAWATAN JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KASUS JIWA : “ Klien Menarik Diri “

Diajukan sebagai tugas mengikuti Program Panum Keperawatan Jiwa

DI SUSUN OLEH :
BASRI SYAM
C 120 02 011

PROGRAM PENDIDIKAN S-1 NERS “B”


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR TAHUN 2004
LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KASUS JIWA : “ Klien Menarik Diri “

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien :

Ny. S umur 45 tahun, telah ditinggal suaminya akibat kecelakaan lalu lintas.
Sejak itu klien sering mengurung diri di kamar dan jarang berinteraksi dengan
orang lain serta malas berbicara dengan orang disekitarnya. Beberapa hari
kemudian Ny. S sering megamuk, sehingga dibawa ke rumah sakit. Diruangan
klien sering duduk sendiri dan kadang menangis, saat ditanya klien mengatakan
ia merasa sedih karena ia tidak pernah dibesuk oleh keluarganya. Klien tidak
suka bergaul / berbicara dengan orang lain, karena dia tidak tahu apa yang
mesti dicerita bahkan ia merasa tidak berguna.

2. Masalah / Diagnosa Keperawatan

Gangguan interaksi social : Menarik Diri berhubungan dengan harga diri rendah

3. Tujuan Keperawatan:

- Tujuan umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
- Tujuan khusus :
Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki

5. Tindakan Keperawatan :

a. Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan klien
b. Berikan contoh pelaksanaan kegiatan yang dapat dilakukan klien

B. STARTEGI KOMUNIKASI

1. Fase pre interaksi


a. Evaluasi diri :
- Pengetahuan dan kemampuan yang dimilki perawat tentang kondisi klien
- Bagaimana cara perawat berespon dengan klien
- Evaluasi tingkat kecemasan diri perawat
b. Tetapkan tahap interaksi :
- Rencanakan interaksi pertama sampai interaksi selanjutnya
- Tentukan tujuan petemuan dengan klien
- Tindakan yang akan dilakukan
- Cara melakukannya

2. Fase Perkenalan / Orientasi


- Salam terapeutik :
Selamat pagi Bu, (duduk didekat klien mengulurkan tangan) nama saya
Abbas, biasa dipanggil Abbas. Saya mahasiswa Keperawatan Unhas yang
bertugas di ruangan ini selama 1 minggu, dan saya akan membantu
menyelesaikan masalah ibu. Kalau boleh saya tahu, Ibu namanya siapa ?,
dan dipanggilan kesenangannya siapa?
- Evaluasi / validasi :
Bagaimana keadaan Ibu pada siang hari ini? Nampaknya ibu selalu
menyendiri dalam ruangan, apakah ada hal-hal yang Ibu fikirkan/
- Kontrak :
c. Topik :
Boleh saya bercakap-cakap dengan ibu?
d. Waktu :
Berapa lama saya bisa bercakap-cakap dengan Ibu?, 15 atau 20 menit ?
e. Tempat :
Bagaimana kalau kita bicara di kursi, apa Ibu setuju?

3. Fase kerja ;
a. Kegiatan apa yang dapat Ibu lakukan, agar tidak merasa sendiri?
b. Kenapa Ibu tidak mau bergaul / berbicara dengan orang lain ?
c. Saya dapat membantu Ibu untuk melakukan kegiatan yang disenangi
d. Ibu dapat melakukan kegiatan dan melibatkan teman yang lain
e. Atau Ibu dapat ikut dalam kegiatan-kegiatan yang ada di rumah sakit ini,
agar Ibu tidak merasa sendiri

4. Fase Terminasi
a. Evaluasi respon
Bagaimana perasaan ibu setelah melakukan kegiatan tadi …….?
b. Tindak lanjut
Agar Ibu tidak merasa sendiri di rumah sakit, Ibu dapat melakukan kegiatan
sendiri dengan teman yang lainnya.
c. Kontrak yang akan datang
Sesuai kesepakatan kita tadi, kita sudah bicara kurang lebih 10 menit,
sekarang saya mau melanjutkan tugas lain, namun kalau ada sesuatu yang
Ibu ingin sampaikan bisa menghubungi saya di ruangan perawat.
Atau, nanti saya datang lagi kesini besok pukul 08.00, untuk bercakap-
cakap kembali.

TUGAS PANUM KEPERAWATAN JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KASUS JIWA : “ Klien Menarik Diri “

Diajukan sebagai tugas mengikuti Program Panum Keperawatan Jiwa

DI SUSUN OLEH :
ABBAS
C 120 02 00

PROGRAM PENDIDIKAN S-1 NERS “B”


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR TAHUN 2004
BAB II
KONSEP DASAR

A. KONSEP MEDIS

1. PENGERTIAN
Fraktur adalah hilangnya / terputsnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifise,
baik yang bersifat totl maupun yang partial (Chairuddin Rasjad, 2000)
Fraktur pelvis adalah fraktur yang terjadi pada tulang sacrum, ileum, pubis dan
iskium yang membenuk tulang pelvis, yang meupakan cicnicn tulang stabil dan
menyatu terutama pada oran dewasa (Brunnerth & Suddart’h, 2002)

2. ETIOLOGI
Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan,
terutama tekanan membungkuk, memutar dan tarikan.
- Trauma langsung
Tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan
- Trauma tidak langsung
Apabila dihantarkan kedaerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, mislanya ;
jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula.
Fraktur pelvis dapat disebabkan karena :
- Jatuh
- Kecelakaan kendaraan bermotor
- Cedera remuk

3. JENIS FRAKTUR
a. Greenstek adalah fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi
lainnya membengkak
b. Transversal adalah fraktur sepanjang garis tengah tulang

c. Oblig adalah fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang

d. Spiral adalah fraktur memuntir seputar batang tulang

e. Komnutif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen

f. Epifiseal adalah fraktur melalui epifisis

g. Impacsi adalah fraktur dimana fragmen tulang terdorong kef ragmen tulang
lainnya
h. Patologik adalah fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista
tulang, tumor tulang dll)
i. Avulsi adalah tertariknya fragmen oleh ligamne atau tendo pada
perlekatannya.

4. KLASIFIKASI FRAKTUR
Klasifikasi fraktrur secara umum dapat dibagi menjadi ;
a. Klasifikasi menurut etiologi
- Fraktur traumatic
- Fraktur patologis
- Fraktur stress
b. Klasifikasi berdasarkan gejala klinik
- Fraktur tertututp (simple fracture)
Fraktur tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar
- Fraktur terbuka (compound fracture)
Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada
kulit dan jaringan lunak
- Fraktur dengan komplikasi
Fraktur yang disertai dengan komplikasi
Klasifikasi fraktur pelvis.
Klasifikasi fraktur pelvis telah digunakan untuk menggambarkan fraktur pelvis
sehubungan dengan anatomi, stabilitas dan mekanisme cedera. Beberapa
fraktur pelvis tidak mengakibatkan terputusnya cincin pelvis, sementara lainnya
memutus cincin dan mungkin tidak stabil secara rotasi dan atau vertikal.

Beratnya fraktur pelvis sangat bervariasi, yaitu fraktur pelvis stabil, meliputi :
a. Fraktur pubis tunggal / ramus iskiadikus
b. Fraktur pubis ipsi lateral dan ramus iskiadikus
c. Fraktur sayat pelvis ilium
d. Fraktur sacrum atau koksigis

5. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik pada fraktur secara umum meliputi ;
1. Nyeri, terus menerus
2. deformitas (perubahan bentuk)
3. Pemendekan tulang (terutama fraktur tulang panjang)
4. Krepitasi (derik tulang sat dipalpasi)
5. pembengkakan dan perubahan warna kulit
Manifestasi klinis pada fraktur pelvis, meliputi ::
1. ekimosis
2. Nyeri tekan (simpisis pubis, spina iliaka anterior, Krista iliaka, sacrum atau
koksigis)
3. Pembengkakan local dan ketidakmmpuan melakukan pembebanan berat
badan tanpa rasa tidak nyaman

6. KOMPLIKASI
Komplikasi umum dari fraktur, meliputi ;
a. Komplikasi awal
Komplikasi awal setelah fraktur adalah syock yang berakibat total dalam
beberapa jam setelah fraktur. Emboli lemak yang dapat terjadi dalam 48 jam
atau lebih, syndrome kompartmen berakibat kehilangan fungsi ekstremitas
permanent jika tidak ditangani
b. Komplikasi lambat
- Mal – Union
- Delayed Union
- Non - Union
Komplikasi fraktur pelvis, meliputi ; perdarahan dan syock merupakan dua
konsekwensi yang paling serius dan mungkin terjadi.
Perdarahan terjadi dipermukaan konselus fragmen patah tulang dan laserasi
vena dan arteri oleh tusukan tulang dan mungkin akibat terputusnya arteri iliaka.
Selain perdarahan, kandung kemih, ureter / usus dapat mengalami laserasi.
Laserasi uretra dicurigai pada pria dengan fraktur pelvis bagian anterior dan
darah pada meatus uretra (wanita jarang mengalami laserasi uretra).

7. PENATALAKSANAAN
Sasaran tindakan pada fraktur adalah :
1. Reduksi
2. Immobilisasi
3. Rehabilitasi
Metode untuk mencapai reduksi fraktur :
1. Reduksi tertutup
2. Traksi
3. Reduksi terbuka
Metode immobilisasi :
1. Alat eksterna : pembalutan, gips, bidai, traksi
2. Alat interna : nail, plat
Mempertahankan dan mengembalikan fungsi :
1. Mempertahankan reduksi dan immobilisasi
2. Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
3. Memantau isometric dan setting otot
4. mengontrol kecemasan dan nyeri
5. berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari0hari
6. Kembali ke aktivitas secara bertahap
Therapi / pengobatan :
1. Therapi konservatif :
- Proteksi
- Immobilisasi tanpa reposisi
- Reposisi tertutup dengan fiksasi dengan gips
- Traksi
2. Therapi Operatif
- Reposisi tertutup dengan fiksasi eskterna
- Reposisi terbuka dengan fiksasi interna
Prinsip penanganan fraktur pelvis :
a. Tirah baring, mempergunakan papan dibawah kasur untuk menambah
rigiditas sampai nyeri dan ketidaknyamanan menghilang
b. Pasien tirah baring berisiko mengalami komplikasi akibat immobilisasi
seperti konstipasi, statis vena dank omplikasi paru
c. Pasien dengan fraktur koksigis akan mengalami nyeri saat duduk dan saat
defekasi. Rendam duduk hangat untuk mengurangi nyeri dan pelumak feces
untuk mencegah mengejan say defekasi.
d. Bila cedera terjadi dengan hanya pelebaran ringan simfisis pubis dan atau
sendi sakro iliaka anterior dan ligamentum pelvis tetap utuh dan pasien
secara hemodinamik yang stabil, maka pasien dapat ditangai dengan tirah
baring.

B.