Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KERJA PRAKTIK

CISITU - BANDUNG

JUDUL

ANALISA PENGARUH TEKANAN KOMPAKSI DAN DOPING Ni-Ti


TERHADAP SIFAT MAGNET BARIUM HEXAFERITE
Oleh:

Riansya Fikri Primandika Akbar


(13713038)

Program Studi Teknik Material


Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2017
LEMBAR PENGESAHAN

PROGRAM STUDI TEKNIK MATERIAL

ANALISA EFEK TEKANAN DAN DOPING NICKEL DARI SIFAT


MAGNET MAGNET BARIUM HEXAFERITE

Oleh:

Nama : Riansya Fikri Primandika Akbar


NIM : 13713038
Program Studi : Teknik Material
Fakultas : Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh:

Pembimbing Lapangan Koordinator Kerja Praktik

Dr. Dedi, M.T. Dr.Eng.Raden Dadan Ramdan, S.T.


NIP. 197006081998031001 NIP. 197711112010121003

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan taufik, rahmat, serta hidayah-Nya sehingga kita semua bisa menuju
ke zaman yang terang benderang seperti saat ini dan Alhamdulillah penulis
panjatkan kepada Allah SWT karena sudah diberikan kesehatan untuk dilancarkan
didalam menjalankan kerja praktik dan menyelesaikan laporan kerja praktik sebagai
salah satu syarat dari kelulusan penulis melaksanakan kuliah di jurusan teknik
material Institut Teknologi Bandung.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia merupakan institusi terbesar di


Indonesia yang bertugas sebagai pengembang ilmu pengetahuan berbasis sains
untuk kemajuan Indonesia. Penelitian yang dibuat bermacam – macam mulai dari
fisika seperti penerbangan, mekatronika, magnit sampai biologi seperti peningkatan
mutu panen, kawin silang dan sebagainya. Karena sifat institusi ini yang
menggunakan ilmu pengetahuan untuk memajukan bangsa Indonesia maka saya
tertarik untuk menjalani kerja prakti di LIPI.

Laporan kerja praktik ini dibuat secara sungguh – sungguh oleh penulis
semoga pengalaman penulis yang dibagikan kepada khalayak luas melalui laporan
ini bisa berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Bandung, 8 Juni 2017

Riansya Fikri Primandika Akbar

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................. i

PROGRAM STUDI TEKNIK MATERIAL .................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN INDUSTRI ........................Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii

DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... iv

DAFTAR TABEL............................................................................................................... v

BAB I .................................................................................................................................. 6

PENDAHULUAN .............................................................................................................. 6

1.1. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) .........Error! Bookmark not defined.

BAB II................................................................................................................................. 8

LATAR BELAKANG & STUDI LITERATUR ................................................................ 8

BAB III ..............................................................................Error! Bookmark not defined.

METODOLOGI .................................................................Error! Bookmark not defined.

...........................................................................................Error! Bookmark not defined.

BAB IV ..............................................................................Error! Bookmark not defined.

DATA DAN PEMBAHASAN ..........................................Error! Bookmark not defined.

BAB V ...............................................................................Error! Bookmark not defined.

KESIMPULAN DAN SARAN..........................................Error! Bookmark not defined.

5.1. Kesimpulan ........................................................Error! Bookmark not defined.

5.2. Saran ..................................................................Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ........................................................Error! Bookmark not defined.

LAMPIRAN.......................................................................Error! Bookmark not defined.

iii
DAFTAR GAMBAR

iv
DAFTAR TABEL

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau selanjutnya akan disingkat LIPI


mempunyai sejarah yang cukup panjang didalam terbentuknya lembaga ini demi kemajuan
ilmu pengetahuan bangsa Indonesia. LIPI dibentuk pada tahun 1967 dari 2 (dua) lembaga
penelitian dan riset di Indonesia yaitu Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) dan
Lembaga Riset Nasional (LEMRENAS). Tugas pokok dari terbentuknya LIPI adalah
membimbing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berakar di Indonesia agar
dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat Indonesia pada khususnya dan umat manusia
pada umumnya.

Berikut adalah visi dan misi dari LIPI,

1. Visi LIPI

Menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia dalam penelitian,


pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan daya saing
bangsa.

2. Misi LIPI
a. Menciptakan invensi ilmu pengetahuan yang dapat mendorong inovasi dalam
rangka meningkatkan daya saing ekonomi bangsa.
b. Mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk konservasi dan
pemanfaatan sumber daya berkelanjutan.
c. Meningkatkan pengakuan internasional dalam bidang ilmu pengetahuan.
d. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui
aktivitas ilmiah.

6
Kemudian didalam mengerjakan tugasnya LIPI sudah melakukan riset,
mempublikasikan, membimbing, dan menciptakan peneliti untuk terus mengembangkan
ilmu pengetahuan di Indonesia yang mempunyai nilai – nilai PASTI (Professional,
Adaptive, Scientific Integrity, Teamwork, dan Innovative)

1. Professional : Melaksanakan tugas dengan sungguh – sungguh dan kemampuan


maksimal
2. Adaptive : mampu beradaptasi dan merespons segala bentuk perubahan untuk
memberikan manfaat maksimal
3. Scientific Integrity : memiliki tekad dan tanggung jawab ilmiah yang tinggi.
4. Teamwork : Mengutamakan bekerja secara kelompok untuk hasil terbaik.
5. Innovative : selalu berupaya untuk melahirkan pemikiran – pemikiran yang
bersifat terobosan.

1.2 Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI

Didalam mencapai visi dan misi LIPI, LIPI mempunyai beberapa bidang. Salah
satu bidangnya adalah Pusat Penelitian elektronika dan Telekomunikasi atau setelah ini
akan disingkat sebagai P2ET yang dibentuk pada tahun 1987 oleh ketua LIPI pada saat itu.
Tugas pokok dari P2ET adalah melaksanakan penelitian dibidang elektronika dan
telekomunikasi.

Didalam bidang ini terdapat sub-bidang magnet yang tugasnya adalah meneliti dan
mengembangkan material magnet sehingga bisa dimanfaatkan oleh khususnya masyarakat
Indonesia dan umat manusia pada umumnya.

7
BAB II

LATAR BELAKANG & STUDI LITERATUR

2.1.Latar Belakang Masalah

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung bagian P2ET atau Pusat Penelitian
Elektronika dan Telekomunikasi sedang melakukan penelitian yang bersifat kontinu didalam
mengembangkan pengetahuan Indonesia mengenai magnet. Didalam pembuatan magnet ada
beberapa aspek yang bisa dikembangkan agar kualitas dari magnet menjadi lebih baik. Pada
penilitian kali ini akan dibahas pengembangan dari sisi penambahan doping nickel kedalam
magnet barium hexaferite dengan variable tekanan yang berbeda.
Dengan perbedaan doping dan variable tekanan diharapkan bisa dilihat perbedaan sifat
magnitnya yaitu kekuatan magnet itu sendiri. Sehingga bisa ditentukan komposisi mana yang
paling baik didalam memberikan doping nickel dan tekanan pada magnet barium hexaferite.

2.2. Tujuan Pengamatan


 Menganalisis kekuatan magnit dari barium hexaferite yang diberikan doping nickel dengan
pemberian tekanan 38, 58, dan 78 Kg/cm2

2.3. Batasan Masalah


Masalah yang dibahas dibatasi oleh kekuatan magnet dari magnet barium hexaferite
dengan atau tanpa nickel dan magnet barium hexaferite dengan nickel dan diberikan tekanan
pada 38, 58, dan 78 kg/cm2

2.4. Sistematika Laporan


Sistematika pada laporan kerja praktik ini yaitu :

 BAB I PENDAHULUAN, terdiri dari penjelasan tentang profil lembaga.


 BAB II LATAR BELAKANG & STUDI LITERATUR yang terdiri dari latar belakang
masalah, tujuan, batasan masalah, sistematika laporan, pengertian magnet, ferrite magnet,
proses pembuatan magnet, dan pengertian kurva histerisis.

8
 BAB III METODOLOGI, terdiri alur pengerjaan laporan beserta penjelasannya.
 BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN, terdiri dari data yang diperoleh dan analisis
datanya.
 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN, berisi kesimpulan dan saran dari laporan ini.
 DAFTAR PUSTAKA
2.5. Magnet
2.5.1. Definisi Magnet

Magnet atau magnit adalah suatu objek yang mempunyai suatu medan magnet. Kata
magnet (magnit) berasal dari bahasa Yunani magnítis líthos yang berarti batu Magnesian. Pada
saat ini, suatu magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Materi tersebut
bisa dalam berwujud magnet tetap atau magnet tidak tetap. Magnet yang sekarang ini ada hampir
semuanya adalah magnet buatan.

Magnet selalu memiliki dua kutub yaitu: kutub utara (north/ N) dan kutub selatan (south/S).
Walaupun magnet itu dipotong-potong, potongan magnet kecil tersebut akan tetap memiliki dua
kutub.

Magnet dapat menarik benda lain. Beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat dari yang
lain, yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam mempunyai daya tarik yang sama terhadap
magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi yang mempunyai daya tarik yang tinggi oleh
magnet. Sedangkan oksigen cair adalah contoh materi yang mempunyai daya tarik yang rendah
oleh magnet.

Satuan intensitas magnet menurut sistem metrik pada Satuan Internasional (SI)
adalah Tesla dan SI unit untuk total fluks magnetik adalah weber. 1 weber/m^2 = 1 tesla, yang
memengaruhi satu meter persegi. [1].

9
Gambar 1 : Contoh magnet (Sumber :
https://ae01.alicdn.com/kf/HTB1FUK0KXXXXXbSXFXXq6xXFXXXM/Pengiriman-gratis-
satu-pasang-Oval-hematit-Chatter-Magnet-batu-batu-bernyanyi-suara-dengungan.jpg)

Magnet bisa menarik logam dikarenakan magnet mempunyai spin elektron yang tidak
berpasangan. Spin elektron yang tidak berpasangan menciptakan sebuah magnet kecil yang
tergabung menjadi magnet yang besar. Spin elektron yang berpasangan menyebabkan gaya
magnet saling meniadakan satu sama lain.

Karena adanya gaya magnet didalam suatu magnet maka terciptakah sebuah medan
magnet. Medan magnet adalah suatu area yang dipengaruhi oleh magnet. Besarnya medan
magnet bergantung pada kekuatan dari magnet itu sendiri.

10
Gambar 2 : Medan magnet (Sumber :
https://fajarfisikaupi.files.wordpress.com/2013/03/magnetic-field.png?w=624)

Gambar 3 : Skema arah medan magnet (Sumber : http://rumushitung.com/wp-


content/uploads/2015/01/garis-medan-tidak-berpotongan.png )

2.5.2 Klasifikasi Magnet

Klasifikasi magnet berdasarkan daya magnetisme nya terbagi menjadi 2, yaitu

1. Paramagnetisme adalah jenis magnet yang mempunyai daya magnet lemah.


Paramagnetisme terjadi karena adanya medan magnet eksternal. Material paramagnetik
juga dapat menarik dan menolak benda-benda logam namun jika medan magnet eksternal
dijauhkan, material paramagnetik juga akan kehilangan daya magnetnya. Magnet

11
paramagnetisme disebut juga magnet sementara atau magnet tidak tetap. Contoh logam
yang bersifat paramagnetisme adalah Kromium.

2. Feromagnetisme adalah jenis magnet yang mempunyai daya magnet tinggi. Material
feromagnetis tidak dipengaruhi oleh medan magnet eksternal dan tetap memiliki
kemampuan tarik menarik dan tolak menolak meski tidak ada medan magnet lain di
sekitarnya. Magnet Feromagnetisme disebut juga magnet tetap atau permanen. Contoh
logam yang bisa menjadi magnet permanen atau feromagnetisme antara lain adalah besi,
baja, nikel, dll. [2]

Kemudian, berdasarkan jenis materialnya. Magnet dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu hard magnet
(magnet keras) dan soft magnet (magnet lunak)

1. Hard Magnet adalah magnet yang mempunyai kemampuan tinggi untuk mempertahankan
sifat magnetnya sehingga susah untuk dimagnetisasi dan juga dilahkan medan magnetnya
(demagnetisasi). Karena itu biasanya digunakan untuk membentuk magnet permanen.
Salah satu contoh dari hard magnet adalah magnet cobalt ferrite.
2. Soft Magnet adalah magnet yang mempunyai sifat mudah dimagnetisasi atau
demagnetisasi. Digunakan didalam membentuk magnet yang sementara atau temporary.
Contoh dari soft magnet adalah iron-silicon magnet yang digunakan untuk motor dan
transformator.

2.5.3 Aplikasi Magnet

Beberapa aplikasi dari magnet adalah,

1. Mikrofon. Terdapat hard magnet atau magnet permanen didalam komponen pembentuk
mikrofon.

12
Gambar 4 : Mikrofon (Sumber : http://afirdaus.weblog.esaunggul.ac.id/2013/06/04/contoh-
penggunaan-magnet-dalam-kehidupan-sehari-hari/?bmfbtdqeiqgmplde)

2. Media rekaman magnetik: Tape VHS biasa mengandung golongan tape bermagnet.
Informasi yang memproduksi video dan suara dikodekan pada lapisan bermagnet pada
tape.

Gambar 5 : Tape VHS (Sumber : http://afirdaus.weblog.esaunggul.ac.id/2013/06/04/contoh-


penggunaan-magnet-dalam-kehidupan-sehari-hari/?bmfbtdqeiqgmplde)

13
3. Transformer / trafo : Transformer merupakan perangkat yang mengkonversi energi listrik
antara dua perangkat yang terpisah mengngunakan listrik melalui konektor magnet.

Gambar 6 : Travo (Sumber : http://skemaku.com/wp-content/uploads/2015/08/trafo-adaptor.jpg)

2.6. Magnet Ferrite

Ferrite magnet adalah magnet yang berbahan dasar iron (III) oxide (Fe2O3) yang digabungkan
dengan komponen metallic lainnya. Magnet ini dibagi menjadi dua jenis yaitu soft ferrites dan
hard ferrites.

1. Soft ferrites

Soft ferrites adalah magnet ferrite yang mudah dimagnetisasi atau demagnetisasi. Hal ini
dikarenakan soft ferrites memiliki koersivitas yang rendah sehingga energi untuk magnetisasi atau
demagnetisasi menjadi rendah. Material magnet soft ferrites yang paling sering dijumpai adalah
Manganese-zinc ferrite (MnZn, MnaZn(1-a)Fe2O4) dan Nickel-zinc ferrite (NiZn, NiaZn(1-a)Fe2O4). Kegunaan dari
jenis ini adalah untuk transformator.

Gambar 7 : Soft Ferrites (Sumber :


https://en.wikipedia.org/wiki/Ferrite_(magnet)#/media/File:Ferrite_cores.jpg)

14
2. Hard ferrites’

Hard ferrites adalah magnet yang punya sifat untuk mempertahankan kekuatan magnetnya
dalam arti kata lebih sulit untuk menghilangkan atau memunculkan sifat magnet (magnetisasi atau
demagnetisasi magnet ini. Hal ini dikarenakan hard ferrites mempunyai koersivitas dan
permanensi yang tinggi sehingga energi yang tinggi dibutuhkan untuk me-magnetisasi dan
demagnetisasi hard ferrites. Material magnet yang sering digunakan sebagai hard ferrites adalah
Strontium ferrite, SrFe12O19, Barium ferrite, BaFe12O19, Cobalt ferrite, CoFe2O4 (CoO·Fe2O3). Contoh penggunaan
dari magnet ini adalah magnet kulkas atau peralatan magnet rumah tangga lainnya.

2.7. Proses pembuatan magnet barium hexaferite


2.7.1. Prosedur

Penimbangan bahan

Mixing dan milling

Kalsinasi

Pressing

Sintering

Magnetisasi

1. Penimbangan bahan

15
Bahan dari magnet barium hexaferite seperti Fe2O3, BaCO3, dan dopingnya seperti NiO
dan TiO ditimbang menggunakan timbangan. Takaran dilakukan sesuai dengan stokiometri
yang sudah dibuat.

Gambar 8 : contoh dari timbangan analitik (sumber :


http://img.olx.biz.id/32D7/13015/294151031_1_644x461_timbangan-digital-lab-
laboratorium-emas-scientific-0001gr-100gr-jakarta-selatan.jpg)

2. Mixing dan milling

Tujuan dari proses ini adalah didapatkan campuran dari bahan yang homogen.
Prosedur ini meliputi mixing menggunakan mortar dan pestle (secara manual) dan
milling menggunakan ball mill selama kurang lebih 10 jam.

16
Gambar 9 : Mortar dan pestle (sumber :
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/af/White-Mortar-and-Pestle.jpg)

Gambar 10 : Ball Mill (sumber : http://img.hisupplier.com/var/userImages/2013-


06/26/125528700_MINI_BALL_MILL_Tpe_Attachment_to_Main_Drive_for_R_D_Pha
rma_s.jpg)

3. Kalsinasi

Proses kalsinasi didefinisikan sebagai pengerjaan bijih pada temperatur tinggi tetapi masih
di bawah titik leleh tanpa disertai penambahan reagen dengan maksud untuk mengubah bentuk
senyawa dalam konsentrat. Kalsinasi juga merupakan proses perlakuan panas yang dilakukan
terhadap bijih agar terjadi dekomposisi dan senyawa yang berikatan secara kimia dengan bijih
yaitu karbon dioksida dan air yang bertujuan mengubah suatu senyawa karbon menjadi
senyawa oksida yang sesuai dengan keperluan pada proses selanjutnya

Kalsinasi diperlukan sebagai penyiapan serbuk untuk diproses lebih lanjut dan juga untuk
mendapatkan ukuran partikel yang optimum serta menguraikan senyawa-senyawa dalam
bentuk garam atau dihidrat menjadi oksida, membentuk fase Kristal. [3]

17
Gambar 11 : Kalsinasi dilakukan ditungku api (Sumber : http://1.bp.blogspot.com/-
fyEPmzHVEbQ/UPYDHW9e2NI/AAAAAAAAByY/D_FLynKD8co/s1600/image004.jpg)

4. Pressing

Pressing adalah proses penekanan spesimen magnet pada tekanan tertentu. Tujuan dari
proses ini adalah agar berkurangnya void didalam spesimen magnet. Sehingga magnet bisa
meningkat densitasnya. Besarnya void dan densitas berpengaruh terhadap sifat magnet.

18
Gambar 12 : Mesin pressing manual (sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Machine_press#/media/File:GoldsmithPress.jpg)

5. Sintering

Proses sintering atau sinter merupakan perlakuan panas pada suatu agregat serbuk
yang dikompakkan atau serbuk yang lepas dengan maksud untuk menyempumakan sifat-
sifatnya. Melaluj proses ini, terjadi berbagai perubahan fisis pada bahan yang disinter.
Secara garis besar, perubahan itu tampak pada ukuran keseluruhan kompakan serta sifat
mekanik dan fisis bahan.

Banyak fenomena yang dapat terjadi selama penyinteran baik secara berurut
maupun bersama-sarna. Secara umum ada dua fenomena yaitu adhesi atau pelasan pada
permukaan partikel dan perubahan bentuk partikel, sedemikian hingga adhesi lebih kuat.
Selain itu ada kemungkinan fenomena lain yaitu reduksi porositas total, atau densifikasi
dan penghalusan “permukaan-da1am” pori. Kedua fenomena tersebut dapat terjadi dengan
dua mekanisme yaitu penyusunan ulang partikel-partikel dan perpindahan bahan dari
bagian padat kompakan ke pori-pori.[4]

Selain itu kegunaan dari sintering adalah pembentukan fasa – fasa baru dari magnet.
Fasa yang bisa mempunyai sifat magnet yang diinginkan. Sama seperti kalsinasi, sintering
dilakukan didalam tungku api.

19
Gambar 13 : Skema sintering (Sumber :
http://www.substech.com/dokuwiki/lib/exe/fetch.php?w=&h=&cache=cache&media=sint
ering.png)

6. Magnetisasi

Proses terakhir dari pembuatan magnet adalah magnetisasi. Magnetisasi adalah sebuah
proses ketika sebuah materi yang ditempatkan dalam suatu bidang magnetik akan
menjadi magnet [5]. Proses ini ditentukan oleh jenis bahan yang disesuaikan dengan
kekuatan medan magnet [6]. Kekuatan magnet yang dihasilkan akan sesuai dengan bahan
dan medan magnet yang digunakan. Sumber magnetisasi bisa berasal dari magnet lain atau
arus listrik yang mengandung medan magnet.

Gambar 14 : Alat magnetisasi (Sumber : dokumen pribadi, LIPI bandung)

2.7.2. Parameter pemrosesan

1. Temperatur dan holding time kalsinasi dan sintering

Temperatur kalsinasi

20
Temperatur sintering

2. Tekanan pressing

Pada penelitian kali ini dilakukan penekanan atau pressing pada spesimen magnet dengan
penekanan 38, 58, dan 78 kg/cm2. Perbedaan tekanan menyebabkan void dan densitas
dari spesimen magnet berubah. Semakin tinggi tekanan maka void semakin mengecil dan
densitas membesar berlaku kebalikannya.

2.8. Histerisis

Suatu bahan diberikan medan magnet sebesar K. Saat medan magnet (H)
ditingkatkan, B (kerapatan fluks) juga akan meningkat, hingga mencapai titik saturasi.
Selanjutnya, ketika H diturunkan hingga bernilai 0, akan tercapai nilai Br (remanent

21
induction) yaitu suatu kondisi dimana bahan tetap memiliki induksi magnet meskipun
medan magnet Hc telah ditiadakan.

Agar B bernilai 0, maka bahan diberikan medan magnet Hc yang bernilai negative
(coercive forces) atau berlawanan arah terhadap arah semula. Sehingga terbentuklah
loop ini. Loop ini disebut juga kurva histerisis. Luas daerah dibagian dalam kurva
menunjukkan jumlah energi yang hilang selama proses magnertisasi dan
demagnetisasi. [7]

Gambar 15 : Kurva histerisis (sumber :


http://wiryawangpblog.blogspot.co.id/2015/06/sifat-magnet-material.html)

Magnet bisa dikarakterisasi dengan sifat ini. Karakterisasi yang dilakukan adalah
dengan memberikan medan magnet kepada magnet yang dimaksud. Besarnya medan
magnet mulai dari medan magnet positif yang besar sampai ke medan magnet negative
(berlawanan). Kemudian kerapatan fluksnya diukur dan diplot ke kurva “kerapatan fluks
vs medan magnet”

22
Gambar 16 : Alat pengukur kerapatan fluks, untuk plot kurva histerisis (sumber :
Dokumen pribadi, LIPI Bandung)

Kemudian, hasil plot kurva histerisis akan dibandingkan, jika dengan medan
magnet yang kecil dapat diciptakan magnetic remanensi (Mr) yang baik atau energi yang
dibutuhkan untuk membuat magnet tersebut rendah. Maka magnet tersebut adalah
magnet jenis soft magnet. Berkalu kebalikannya untuk hard magnet.

Gambar 17 : Perbandingan kurva histerisis soft magnet dan hard magnet (sumber
: https://hardiananto.wordpress.com/tag/kurva-hysteresis/)

23
24