Anda di halaman 1dari 118

LAPORAN KEGIATAN

PENJAMINAN MUTU
PENDIDIKAN DASAR
DAN MENENGAH
TAHUN 2016

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2016
Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gedung E Lantai 5
Komplek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jalan Jenderal Sudirman, Senayan
Jakarta Pusat

email : pmp.dikdasmen@kemdikbud.go.id
website: pmp.dikdasmen.kemdikbud.go.id

© Januari 2017
KATA
PENGANTAR
Sesuai dengan amanat Undang - Undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan penjaminan
mutu pendidikan di satuan pendidikan dasar dan menengah. Tujuan
penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah adalah untuk
memastikan penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah
oleh satuan pendidikan di Indonesia berjalan sesuai dengan
Standar Nasional Pendidikan.

Sistem Penjaminan Mutu yang dikembangkan oleh Direktorat


Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan terdiri atas Sistem Penjaminan Mutu
Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME).
SPMI dilaksanakan oleh satuan pendidikan, sedangkan SPME
dilaksanakan oleh institusi di luar satuan pendidikan seperti
pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Standar Nasional
Pendidikan, dan Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah.

Pelaksanaan penjaminan mutu ini melibatkan banyak pihak


diantaranya Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP),
Dinas Pendidikan Provinsi / Kabupaten / Kota, dan Sekolah. Atas
partisipasi dan kerjasama yang telah dibangun, kami sampaikan
apresiasi yang sebesar-besarnya. Adanya dukungan dan fasilitasi
instansi tersebut dalam penerapan penjaminan mutu diharapkan
dapat memperkuat upaya sekolah dalam memberikan pelayanan
pendidikan bermutu sesuai Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Laporan Kegiatan Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan


Menengah Tahun 2016 ini merupakan laporan kegiatan yang telah
dilaksanakan selama tahun 2016 sebagai bahan kajian evaluasi
serta dasar perencanaan kegiatan pada tahun 2017. Semoga
laporan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk
mewujudkan pelayanan pendidikan bermutu guna mendorong
peningkatan mutu pendidikan diIndonesia.

Jakarta, Januari 2017


Tim penyusun

ii
DAFTAR
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii

BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang 3
2. Dasar Hukum 4
3. Tujuan 5
4. Sistematika 6

BAB 2
SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
1 Pengertian, Tujuan dan Fungsi 13
2. Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Eksternal 14
1 Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) 14
2 Sistem Penjaminan Mutu Eksternal 16
3. Standar Nasional Pendidikan 17

BAB 3
PENYIAPAN DOKUMEN
1. Regulasi 23
1 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 28 tahun 2016
tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Penjaminan Mutu
Pendidikan. 23
2. Pedoman 23
1. Naskah Akademik Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah 23
2. Pedoman Umum Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah 24
3. Petunjuk Pelaksanaan 25
1. Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh Satuan
Pendidikan 25
2. Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh LPMP 26
3. Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh Pemerintah
Daerah 26
4. Petunjuk Teknis 27
1. Petunjuk Teknis Pengumpulan Data Peta Mutu Pendidikan 27
2. Petunjuk Teknis Pengembangan Peta Mutu Pendidikan 28
3. Petunjuk Teknis Fasilitasi Pemerintah Daerah 28
4. Petunjuk TeknisPengembangan Sekolah Model dan Pola Pengimbasan 29
5. Modul 29
1. Modul Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal Satuan Pendidikan
untuk Fasilitator 30
2. Modul Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal Satuan Pendidikan
untuk Satuan Pendidikan 30

BAB 4
PENYIAPAN SDM
1. Fasilitator Nasional 35
iv
1. Pelatihan Fasilitator Nasional Pemetaan Mutu 35
2. Pelatihan Fasilitator Nasional SPMI 37
2. Fasilitator Daerah 38
3. Kendala dan Tindak Lanjut 39

BAB 5
PENGEMBANGAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA
1 Profil Sumber Daya Manusia 43
2. Analisis Kebutuhan Pengembangan Kompetensi SDM 44
3. Aktifitas Pengembangan Kompetensi SDM Tahun 2016 45
1. Pelatihan Tenaga Fasilitator PMP. 46
2. Pelatihan Fasilitator Pemetaan Data Mutu Pendidikan 46
3. Pelatihan Mandiri oleh Internal LPMP 47

BAB 6
SOSIALISASI
1. Sasaran Sosialisasi 51
2. Materi Sosialisasi 53
3. Tindak Lanjut Sosialisasi 55
4. Rekomendasi Sosialisasi ke Depan 56

BAB 7
PENGEMBANGAN SEKOLAH MODEL
1. Sasaran 61
2. Pelatihan 63
3. Implementasi dan Pendampingan 64

BAB 8
PILOTING
1. Piloting 69
2. Evaluasi Pelaksanaan Pendampingan 70
3. Evaluasi Tugas EDS Sekolah Model 72

BAB 9
PENGEMBANGAN APLIKASI PEMETAAN MUTU PENDIDIKAN
1. Laman 77
2. Aplikasi Pengumpulan Data Pemetaan Mutu 79
3. Aplikasi Analisa Data 81
4. Aplikasi Monitoring dan Evaluasi 82
5. Kendala dan Tindak Lanjut 83

BAB 10
PEMETAAN MUTU PENDIDIKAN
1. Pengumpulan Data Pemetaan Mutu 89
2. Pemetaan Mutu 90

BAB 11
KESIMPULAN DAN SARAN 97

BAB 12
PENUTUP 103

v
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Kriteria Calon Fasilitator Nasional Pemetaan Mutu 35

Tabel 4.2. Pelaksanaan Pelatihan 36

Tabel 4.3. Kriteria Calon Fasilitator Nasional SPMI 37

Tabel 4.4. Pelaksanaan Pelatihan Fasilitator Nasional SPMI 37

Tabel 4.5. Kriteria Calon Fasilitator Daerah 38

Tabel 5.1. Kebutuhan Kompetensi SDM dalam Pelaksanaan SPMP oleh LPMP 44

Tabel 6.1. Pelaksanaan Rapat Koordinasi/Sosialisasi PMP di Provinsi 52

Tabel 6.2. Pembentukan TPMPD provinsi dan TPMPD Kabupaten/Kota 55

Tabel 7.1. Kriteria Sekolah Model 61

Tabel 7.2. Daftar Sekolah Model 62

Tabel 8.1. Daftar Sekolah Model 69

Tabel 10.1. Kategori Skor Capaian 90

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Sistem Penjaminan Mutu Internal 15

Gambar 2.2. Perkembangan Rapor Sekolah 16

Gambar 2.3. Proses Penjaminan Mutu Eksternnal 16

Gambar 2.4. Standar Nasional Pendidikan 18

Gambar 4.1. Sebaran Nilai Akhir Peserta Pelatihan Fasilitator Nasional Pemetaan
Mutu 36

Gambar 4.2. Sebaran Nilai Akhir Peserta Pelatihan Fasnas SPMI 38

Gambar 5.1. Profil SDM LPMP 43

Gambar 5.2. Peta Kegiatan Pengembangan Kompetensiyang Pernah Diikuti SDM


LPMP 44

Gambar 5.3. Suasana Pelatihan Fasilitator 45

Gambar 5.4. Suasana Pelatihan Mandiri oleh Internal LPMP 47

Gambar 6.1. Kegiatan Sosialisasi PMP di Sulawesi Utara 53

Gambar 7.1. Penandatanganan Komitmen Pemerintah Daerah dan Sekolah Model 61

Gambar 7.2. Penetapan Sekolah Model 63

Gambar 7.3. Pelatihan SPMI untuk Sekolah Model 63

Gambar 7.4. Pendampingan Pelaksanaan SPMI untuk Sekolah Model 64

Gambar 7.5. Gambaran Aktivitas Peningkatan Mutu pada Sekolah Model 64

Gambar 8.1. Suasana Penyampaian Materi 69

Gambar 8.2. Diskusi dan Hasil Diskusi Pelatihan 70

Gambar 9.1. Tampilan Laman 77

Gambar 9.2. Tampilan Menu Laman (1) 77

Gambar 9.3. Tampilan Menu Laman (2) 78

Gambar 9.4. Tampilan Aplikasi Pengumpulan Data 80

Gambar 9.5. Tampilan Menu Laman Progres Pengiriman Data 81

Gambar 9.6. Tampilan Aplikasi Pengolahan Data 81


vii
Gambar 9.7. Tampilan Aplikasi Monitoring dan Evaluasi 82

Gambar 10.1. Rekapitulasi Pengumpulan Data 89

Gambar 10.2. Jumlah Sebaran Sekolah Berdasarkan Capaian Mutu Per Jenjang 90

Gambar 10.3. Rata-rata Capaian SNP Berdasarkan Sebaran Provinsi 91

Gambar 10.4. Rata-rata Capaian SNP Bedasarkan Standar 91

Gambar 10.5. Rata-rata Skor Capaian 92

Gambar 10.6. Profil Capaian SNP Bedasarkan Jenjang Pendidikan 92

viii
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Secara nasional, mutu pendidikan dasar dan menengah di


Indonesia belum menggembirakan. Sekolah yang telah memiliki
akreditasi A dan B untuk setiap jenjang rata-rata adalah 85,14%
dimana tingkat Sekolah Dasar terdapat 90.131 sekolah (85,18%),
tingkat Sekolah Menengah Pertama terdapat 17.175 sekolah
(83,56%), tingkat Sekolah Menengah Atas terdapat 6.038 sekolah
(86.65%) dan tingkat Sekolah Menengah Kejuruan terdapat
17.432 sekolah (89,85%). Hasil pemetaan mutu pendidikan
secara nasional pada tahun 2014 menunjukkan hanya sekitar
16% satuan pendidikan yang memenuhi Standar Nasional
Pendidikan (SNP). Artinya, sebagian besar satuan pendidikan
belum memenuhi SNP, bahkan ada satuan pendidikan yang
masih belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Standar yang digunakan oleh sebagian besar satuan pendidikan


jauh di bawah standar nasional yang berakibat pada kualitas
lulusan yang dihasilkan. Persoalannya adalah banyak pengelola
pendidikan yang tidak mengetahui standar mutu pendidikan
dan belum memiliki kemampuan untuk menjamin bahwa proses
pendidikan yang dijalankan dapat memenuhi standar kualitas
yang ditetapkan oleh pemerintah.

Pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah


merupakan tugas banyak pihak, oleh karena itu Peraturan Menteri
No 28 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan
Menengah memberikan arah tentang tugas dan kewajiban masing-
masing pihak. Selain itu untuk mempermudah pemahaman
seluruh unsur terkait telah dibuat Pedoman Sistem Penjaminan
Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah. Penyiapan SDM dan
Institusi LPMP untuk mengawal implementasi Penjaminan
Mutu Pendidikan agar dapat dilaksanakan oleh semua satuan
pendidikan.

3
Untuk memotret mutu pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan
disiapkan instrumen dan aplikasi data mutu pendidikan. Aplikasi
ini akan menampilkan kondisi mutu pendidikan di tiap level,
nasional, provinsi, kabupaten/kota dan sampai ke level sekolah
untuk tiap jenjang pendidikan.

Laporan ini akan menyampaikan semua aktifitas dan hasil


dari implementasi Penjaminan Mutu Pendidikan di tahun 2016
berdasarkan laporan, pantauan dan observasi yang telah
dilakukan oleh Satuan Tugas Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar
dan Menengah.

2. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4301);
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4586);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 157, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4586);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Paendidikan dan Peraturan
Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 71, Tambahan

4
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib
Belajar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4863);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang
Pendanaan Pendidikan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4864);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4941);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun
2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan;
9. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 Tentang
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 15);
10. Keputusan Presiden Nomor 121/P Tahun 2014 tentang
Pembentukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
dan Pengangkatan Menteri Kabinet Kerja Periode 2014-
2019;
11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11
Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan;
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 28
Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
Dasar dan Menengah.

3. Tujuan

Laporan ini dibuat untuk memberi gambaran yang komprehensif


tentang implementasi Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar

5
dan Menengah yang telah dijalankan selama tahun 2016.
Secara khusus laporan ini menjelaskan:
1. Implementasi sosialisasi Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan Dasar dan Menengah
2. Implementasi penyiapan SDM untuk baik sebagai fasilitator
maupun SDM LPMP yang siap menjalankan Sistem
Penjaminan Mutu
3. Implementasi sekolah model, meliputi piloting dan
pelaksanaan sekolah model
4. Pengembangan isntrumen dan aplikasi pemetaan mutu
pendidikan
5. Pemetaan mutu pendidikan di Indonesia

4. Sistematika

Untuk memberi gambaran yang komprehensif, pedoman ini dibagi


menjadi 12 BAB yaitu:

BAB 1. Pendahuluan, berisi latar belakang tentang mengapa


penjaminan mutu pendidikan sangat penting
khususnya untuk pendidikan dasar dan menengah,
dasar hukum yang melandasi implementasinya, proses
implementasinya dan evaluasi seluruh implementasi.

BAB 2. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, berisi penjelasan


tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar
dan Menengah secara umum, pengertian, tujuan,
dan fungsi sistem penjaminan mutu pendidikan dasar
dan menengah; komponen sistem penjaminan mutu
pendidikan dasar dan menengaah; siklus sistem
penjaminan mutu pendidikan.

BAB 3. Penyiapan Pedoman, menjelaskan segala pedoman


terkait Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan
Menengah, diantaranya Peraturan Menteri Pendidikan

6
dan Kebudayaan Nomor 28 Tentang Sistem Penjaminan
Mutu Pendidikan, pedoman implementasi baik untuk
implementasi di sekolah, pelatihan dan lain-lain.
Pedoman ini adalah sebagai acuan yang digunakan
dalam implementasi penjaminan mutu pendidikan dasar
dan menengah.

BAB 4. Penyiapan sumber daya manusia (SDM), menjelaskan


berbagai langkah penyiapan SDM meliputi fasilitator
nasional, fasilitator daerah, pengawas dan SDM di
lingkungan LPMP.

BAB 5. Pengembangan kompetensi SDM LPMP, menjelaskan


penyiapan LPMP sebagai institusi yang akan mengawal
implementasi Penjaminan Mutu Pendidikan di tiap
provinsi. Capacity building meliputi: Internalisasi PMP
untuk SDM LPMP, Pelatihan pemetaan dan Pelatihan
analisis dan pengolahan data mutu.

BAB 6. Sosialisasi, yaitu menjelaskan sosialisasi Penjaminan


Mutu Pendidikan kepada semua pemangku kepentingan
baik internal (Direktorat teknis dan LPMP), maupun
eksternal (Dinas Pendidikan, Sekolah, Pengawas
Sekolah dan lain-lain). Bab ini juga menjelaskan
pengembangan kerja sama dengan Pemerintah
Daerah tentang upaya yang dilakukan oleh pemerintah
(sampai dengan LPMP) untuk menjalin kerjasama
dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan
lainnya dalam rangka melaksanakan Penjaminan mutu
Pendidikan.

BAB 7. Pengembangan Sekolah Model, menjelaskan proses


implementasi sekolah model di seluruh Indonesia, mulai
dari pelatihan, pendampingan dan evaluasi hasilnya.

7
BAB 8. Piloting Kegiatan Penjaminan Mutu Pendidikan,
menjelaskan pelaksanaan piloting PMP di Kota
Mojokerto, evaluasi pelaksanaan pendampingan,
dan evaluasi EDS sekolah.

BAB 9.
Pengembangan Aplikasi Pemetaan Mutu
Pendidikan, menjelaskan berbagai aplikasi yang
digunakan dalam penjaminan mutu pendidikan
yang disiapkan agar satuan pendidikan mudah
menyampaikan kondisi riil proses pendidikan yang
dijalankan di sekolah masing-masing.

BAB 10. Pemetaan Mutu Pendidikan, menjelaskan kondisi


mutu pengelolaan pendidikan sesuai 8 Standar
Nasional Pendidikan berdasarkan pengumpulan
data mutu pendidikan yang telah dimasukkan
dalam aplikasi.

BAB 11.
K esimpulan dan Saran, merupakan rangkuman
dari semua proses implementasi Penjaminan Mutu
Pendidikan yang telah dijalankan selama tahun
2016 dan saran perbaikannya.

BAB 12. P enutup

8
2
BAB 2
SISTEM PENJAMINAN
MUTU PENDIDIKAN DASAR
DAN MENENGAH
1. Pengertian, Tujuan dan Fungsi

Mutu pendidikan dasar dan menengah diukur dengan tingkat


kesesuaian antara penyelenggaraan pendidikan dengan Standar
Nasional Pendidikan (SNP) pada satuan pendidikan. Penjaminan
mutu pendidikan adalah suatu mekanisme yang sistematis,
terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh
proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar
mutu dan aturan yang ditetapkan. Untuk dapat melakukan
penjaminan mutu pendidikan dengan baik diperlukan adanya
sistem penjaminan mutu pendidikan.

1. Pengertian
Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah
adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi,
kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan
untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah
secara sistematis, terencana dan berkelanjutan.

2. Tujuan
Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah
bertujuan menjamin pemenuhan standar pada satuan
pendidikan dasar dan menengah secara sistemik, holistik,
dan berkelanjutan, sehingga tumbuh dan berkembang budaya
mutu pada satuan pendidikan secara mandiri.

3. Fungsi
Sistem penjaminan mutu pendidikan berfungsi sebagai
pengendali penyelenggaraan pendidikan oleh satuan
pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu.

13
4. Luaran
Penerapan sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan
menengah akan menghasilkan sekolah yang secara sadar,
mandiri dan berkesinambungan menjalankan pendidikan yang
bermutu sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Dalam jangka panjang sistem penjaminan mutu pendidikan
akan menghasilkan budaya mutu (quality culture) dalam
dunia pendidikan di Indonesia. Budaya mutu, terutama mutu
akademik, mencitrakan dunia pendidikan sebagai arena yang
memiliki nilai tinggi baik moral maupun sosial.

Budaya mutu pada satuan pendidikan ini memastikan seluruh


proses manajemen maupun pembelajaran dapat berlangsung
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian
sekolah yang menyenangkan dan menghasilkan anak yang
berkarakter dan cerdas baik spiritual, intelektual, emosional,
sosial, dan kinestetis dapat diwujudkan.

2. Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Eksternal

Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah


terdiri atas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem
Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). SPMI adalah pengendalian
dan pengawasan secara internal dilakukan sendiri oleh satuan
pendidikan.

Sedangkan SPME adalah sistem penjaminan mutu yang


dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, lembaga
akreditasi, lembaga standardisasi pendidikan bahkan oleh
masyarakat untuk menjamin bahwa proses pendidikan yang
dijalankan oleh satuan pendidikan sesuai SNP.

1. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)

Sistem penjaminan mutu internal adalah sebuah siklus proses


seperti yang digambarkan oleh Gambar 2.1.

14
Kebijakan,Pemerintah
(Kurikulum,SNP dll)

Visi-Misi, Kebijakan
Sekolah

Pemetaan Dokumen Perencanaan,


Dokumen Evaluasi Diri
Mutu Pengembangan Sekolah
Sekolah
Dan Rencana Aksi

Penetapan Penyusunan
Standar Mutu Rencana
Pemenuhan

Laporan Hasil Evaluasi


- pemenuhan 8 SNP Evaluasi/Audit Pelaksanaan Output :
Pelaksanaan Rencana Capaian Kualitas Sekolah
- Implementasi Dari
Rencana Pemenuhan Sesuai 8 SNP
Rencana Aksi

Gambar 2.1. Sistem Penjaminan Mutu Internal

Proses ini meliputi:


1. Pemetaan mutu pendidikan yang dilaksanakan oleh satuan
pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan;

2. Pembuatan rencana peningkatan mutu yang dituangkan


dalam Rencana Kerja Sekolah;

3. Pelaksanaan pemenuhan mutu baik dalam pengelolaan


satuan pendidikan maupun proses pembelajaran;

4. Monitoring dan evaluasi proses pelaksanaan pemenuhan


mutu yang telah dilakukan; dan

5. Penetapan standar baru dan penyusunan strategi peningkatan


mutu berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi.

Dengan melaksanakan SPMI maka satuan pendidikan akan


dapat memastikan peningkatan mutu dari waktu ke waktu melalui
raport mutu sekolah.

15
Penilaian II :
Skor : x+y+z dst................
Penilaian I :
Baseline Skor : x+y Kondisi
Setelah 1
Skor : X Tahun
Kondisi Setelah
6 Bulan
Kondisi Setelah Implementasi
Pendampingan
Pelatihan dan
Penjaminan Mutu
Kondisi Awal Pendampingan
Pendampingan
Penjaminan Mutu

Pendampingan
Pelatihan dan Penjaminan Mutu
Pendamping Awal
Penjaminan Mutu

Gambar 2.2. Perkembangan Rapor Sekolah

2. Sistem Penjaminan Mutu Eksternal

Pemetaan mutu pendidikan di tingkat satuan pendidikan


berdasarkan Standar Nasional Pendidikan yang dikeluarkan oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan. Sekolah wajib menjalankan
proses pendidikan sesuai dengan standar tersebut dan untuk
memastikan bahwa sekolah patuh menjalankan kewajibannya,
maka Dinas Pendidikan, melalui para pengawas melakukan
pemantauan dan pendampingan secara langsung ke sekolah.

Gambar 2.3 Proses Penjaminan Mutu Eksternal

16
Pemerintah daerah seharusnya melakukan kompilasi dari
laporan pengawasan. Monitoring dan evaluasi terhadap proses
pelaksanaan pemenuhan mutu untuk mengetahui kondisi mutu
sekolah di wilayahnya. Kontrol yang dilakukan oleh pemerintah
pusat adalah terhadap implementasi 8 SNP di satuan pendidikan
di seluruh wilayah provinsi /kabupaten/kota.

Pelaksanaan akreditasi satuan pendidikan dan/atau program


keahlian dilaksa-nakan oleh lembaga akreditasi BAN SM atau
Lembaga Akreditasi Mandiri sesuai kewenangan masing-masing.
Ilustrasi siklus sistem. penjaminan mutu pendidikan dasar dan
menengah baik internal maupun eksternal dapat dilihat pada
Gambar 2.3.

3. Standar Nasional Pendidikan

Acuan utama sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan


menengah adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang
terdiri atas:

1. Standar Kompetensi Lulusan


2. Standar Isi
3. Standar Proses
4. Standar Penilaian
5. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
6. Standar Pengelolaan
7. Standar Sarana dan Prasarana
8. Standar Pembiayaan

17
KOMPETENSI
LULUSAN

PE
S
SE

NI
O

LA
PR

IA
PROSES

N
PEMBELAJARAN

ISI

SARANA/
PTK PENGELOLAAN
PRASARANA

PEMBIAYAAN

Gambar 2.4. Standar Nasional Pendidikan

Kedelapan standar pendidikan tersebut membentuk rangkaian


input, proses, dan output. Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
merupakan output dalam SNP. SKL akan mencapai skor yang
tinggi apabila input terpenuhi sepenuhnya dan proses berjalan
dengan baik. Gambar 2.4. menggambarkan hubungan standar-
standar dalam SNP.
Satuan pendidikan yang telah atau hampir memenuhi atau
melampaui standar nasional pendidikan dapat menggunakan
atau menetapkan standar di atas SNP sebagai acuan dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pengembangan
proses pelaksanaan pendidikan.

18
3
BAB 3
PENYIAPAN DOKUMEN
1. Regulasi

1. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 28


Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
Penjaminan Mutu Pendidikan.

Peraturan ini disusun melalui serangkaian


kegiatan yang dimulai dengan
penyusunan draf. Dalam penyusunan
draf ini dilakukan beberapa kali diskusi
terfokus (FGD) dengan berbagai pihak
terkait. Selanjutnya dilakukan uji publik
untuk untuk menguji apakah dapat
diterapkan di lapangan. Dari hasil uji
publik kemudian dilakukan perbaikan-
perbaikan sehingga didapatkan draf
naskah final Peraturan Menteri.

Draf naskah final diserahkan ke Biro Hukum dan Organisasi


untuk diproses lebih lanjut. Dalam proses ini dilakukan beberapa
kali pembahasan dengan Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan
Regulasi. Dari pembahasan ini dilakukan perbaikan sebelum
diserahkan ke Menteri.Peraturan Menteri ini ditandatangani oleh
Menteri pada tanggal 24 Agustus 2016.

2. Pedoman

1. Naskah Akademik Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
Dasar dan Menengah

Naskah akademik ini berisi latar belakang, identifikasi masalah,


landasan hukum dan tujuan pembuatan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 28 tentang Penjaminan
Mutu Pendidikan. Pada buku ini diuraikan kondisi pendidikan di

23
Indonesia saat peraturan Menteri ini di buat dan kondisi ideal
yang diharapkan terjadi jika peraturan ini dibuat dan diimplemen-
tasikan.

Selain itu diuraikan juga konsep


dan meka nis me p e n j a m i n a n m u t u
d a n contoh- contoh i m p l e m e n t a s i
p e n j am inan m utu di negar a lain. Pada
bagian akhir buku dicantumkan pokok-
pokok isi Peraturan Menteri Pendidikan
ini bab demi bab.

2. Pedoman Umum Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan


Menengah

Pedoman Umum Penjaminan Mutu


Pendidikan Dasar dan Menengah ini
disusun untuk menjadi acuan bagi
siapa saja yang terkait dengan upaya
penjaminan mutu pendidikan baik
di sekolah maupun di luar sekolah.
Sebelum dipublikasikan, buku ini melalui
proses beberapa kali uji publik untuk
memastikan bahwa isi kandungan buku
ini dapat diimplementasikan di lapangan.
Berdasarkan hasil uji publik ini buku
pedoman diperbaiki sehingga dapat
digunakan lebih lanjut di lapangan.

Buku ini berisikan uraian yang menggambarkan secara lengkap


isi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang

24
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan. Dalam buku ini dijelaskan
secara terinci terkait Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI),
Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), Sistem Informasi
Penjaminan Mutu Pendidikan, tugas kewajiban para pihak terkait
implemetasi, serta sanksi yang diterima para pihak jika tidak
melaksanakan tugasnya sesuai yang tertulis.

3. Petunjuk Pelaksanaan

Ada 3 petunjuk pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan yang


dihasilkan yaitu Petunjuk Pelaksanaan Petunjuk Pelaksanaan
Penjaminan Mutu Pendidikan oleh Satuan Pendidikan, Petunjuk
Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh LPMP, dan
Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh
Pemerintah Daerah.

Sebagaimana pada penyusunan Pedoman umum Sistem


Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah, sebelum
dipublikasikan, buku ini melalui proses beberapa kali uji
publik untuk memastikan bahwa isi kandungan buku ini dapat
diimplementasikan di lapangan. Berdasarkan hasil uji publik ini
buku pedoman diperbaiki sehingga dapat digunakan lebih lanjut
di lapangan.

1. Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh


Satuan Pendidikan

Buku ini merupakan pedoman bagi


satuan pendidikan dalam melaksanakan
penjaminan mutu internal di satuan
pendidikan masing-masing. Dalam buku
ini d i j e l a s k a n langkah- langkah yang
harus dilakukan oleh satuan pendidikan
dalam memastikan seluruh proses yang
berlangsung berjalan secara sistematis,
terpadu, dan berkelanjutan.

25
Selain itu dalam buku ini dijelaskan juga acuan dalam
melaksanakan kegiatan penjaminan mutu di satuan pendidikan
yaitu Standar Nasional Pendidikan.

2. Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh


LPMP

Buku ini berisikan pedoman bagi


LPMP dalam memberikan fasilitasi
dalam pelaksanaan penjaminan mutu
i n t e r n a l di s a t u a n p e n d i d i k a n dan
penjaminan mutu pendidikan eksternal
oleh pemerintah daerah. Dalam buku
ini dijelaskan kegiatan-kegiatan yang
harus dilakukan oleh LPMP dalam
memastikan seluruh proses penjaminan
mutu yang berlangsung di satuan
pendidikan dan pemerintah daerah
berjalan secara sistematis, terpadu,
dan berkelanjutan.

3. Petunjuk Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pendidikan oleh


Pemerintah Daerah

Bu k u i n i beri si kan pe d o man bagi


Pemerintah Daerah dalam
melaksanakan k e g i a t a n terkait
penjaminan mutu pendidikan eksternal
di lingkungan Pemerintah Daerah dan
dalam memberikan fasilitasi pelaksanaan
penjaminan mutu internal di satuan
pendidikan. Dalam buku ini dijelaskan
kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan
oleh Pemerintah Daerah dalam
melaksanakan penjaminan mutu

26
pendidikan eksternal di lingkungan pemerintah daerah. Selain itu
dijelaskan juga kegiatan yang harus dilakukan oleh pemerintah
daerah untuk memastikan seluruh proses penjaminan mutu yang
berlangsung di satuan pendidikan berjalan secara sistematis,
terpadu, dan berkelanjutan.

4. Petunjuk Teknis

Ada 4 petunjuk teknis penjaminan mutu pendidikan yang


dihasilkan yaitu Petunjuk TeknisPengumpulan DataPeta Mutu
Satuan Pendidikan, Petunjuk Teknis Pengembangan Peta
Mutu Pendidikan, Petunjuk Tenis Fasilitasi Pemerintah Daerah,
dan Petunjuk Teknis Pengembangan Sekolah Model dan Pola
Pengimbasan.

Sebagaimana pada penyusunan Pedoman Umum dan Petunjuk


Pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan
Menengah, sebelum dipublikasikan, buku-buku ini melalui proses
beberapa kali uji publik untuk memastikan bahwa isi kandungan
buku ini dapat diimplementasikan di lapangan. Berdasarkan hasil
uji publik ini buku-bukupetunjuk tenis diperbaiki sehingga dapat
digunakan lebih lanjut di lapangan.

Ringkasan isi keempat buku tersebut adalah sebagai berikut:

1. Petunjuk Teknis Pengumpulan Data Peta Mutu Pendidikan

Buku ini merupakan petunjuk bagi


LPMP dalam melakukan pengumpulan
data peta mutu pendidikan di satuan
pendidikan. Dalam buku ini dijelaskan
langkah-langkah kegiatan y a n g
harus dilakukan oleh LPMP dalam
menyiapkan, memfasilitasi, mengawasi,
dan mengevaluasi pelaksanaan
pengumpulan data mutu pendidikan
disatuan pendidikan.

27
D i s i n i j u g a d i ga mba rka n prosedur pengumpulan data serta
tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak yang terlibat.
Dijelaskan juga di sini hasil yang dicapai pada setiap langkah
kegiatan

2. Petunjuk Teknis Pengembangan Peta Mutu Pendidikan

Buku ini merupakan petunjuk bagi LPMP


dalam melakukan pengolahan data
mutu pendidikan satuan pendidikan dan
menghasilkan peta mutu pendidikan di
wilayah masing-masing. Dalam buku
ini dijelaskan langkah-langkah kegiatan
yang h a r u s d i l a k u k a n oleh L P M P
d a l a m m e n y i a p k a n , melaksanakan
dan mengevaluasi pelaksanaan
pengembangan peta mutu pendidikan
disatuan pendidikan diwilayah masing-
masing.

Di sini juga digambarkan unsur yang terlibat dalam kegiatan


tersebut serta tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak
yang terlibat. Dijelaskan juga di sini hasil yang dicapai pada
setiap langkah kegiatan.

3. Petunjuk Teknis Fasilitasi Pemerintah Daerah

Buku ini merupakan petunjuk bagi LPMP


dalam melakukan fasilitasi terhadap
Pemerintah Daerah dalam melakukan
penjaminan mutu eksternal dan
memfasilitasi satuan pendidikan dalam
melaksanakan penjaminan mutu internal.
Dalam buku ini dijelaskan langkah-
langkah kegiatan yang harus dilakukan

28
oleh LPMP dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai
penanggung jawab pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan
sebagai bagian dari tugas pokoknya. Dijelaskan juga di sini hasil
yang dicapai pada setiap langkah kegiatan.

4. Petunjuk Teknis Pengembangan Sekolah Model dan Pola


Pengimbasan

Buku ini p e t u n j u k t e k n i s bagi L P M P


dalam melaksanakan kegiatan
p e n g e m b a n g a n sekolah model dan
p e n g i m b a s a n n y a . D a l a m b u k u i ni
dijelaskan kegiatan-kegiatan y a n g
harus dilakukan oleh LPMP dalam
menyeleksi, menetapkan, melatih calon
sekolah model. Selanjutnya dijelaskan
juga upaya yang harus dilakukan oleh
LPMP dalam memastikan sekolah model
m e l a k s a n a k a n k e g i a t a n n y a dalam
bentuk pendampingan dan evaluasi.

5. Modul

Ada modul pelatihan yaitu Modul Pelatihan Sistem Penjaminan


Mutu Internal Satuan Pendidikan untuk Fasilitator dan Modul
Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal Satuan Pendidikan
untuk Satuan Pendidikan.

Sebelum digunakan dalam pelatihan di LPMP, kedua modul


ini diujicobakan dalam kegiatan pelatihan calon sekolah model
Kota Mojokerto di Surabaya dan Pelatihan Fasilitator Nasional
SPMI di Jakarta. Hasil dari uji coba tersebut digunakan untuk
penyempurnaan modul ini.

29
Ringkasan isi dari kedua modul ini adalah sebagai berikut

1. Modul Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal Satuan


Pendidikan untuk Fasilitator

Modul ini berisi petunjuk bagi fasilitator


dalam memfasilitasi pelatihan calon
fasilitator sistem penjaminan mutu
internal satuan pendidikan.
Dalam modul ini dijelaskan apa yang
harus dilakukan oleh fasilitator langkah
demi langkah dalam membimbing calon
fasilitator untuk memfasilitasi satuan
pendidikan dalam mengimplementasikan
SPMI

2. Modul Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal Satuan


Pendidikan untuk Satuan Pendidikan

Modul ini berisi petunjuk bagi fasilitator


dalam memfasilitasi pelatihan sekolah
model dalam mengiplementasikan sistem
penjaminan mutu internal satuan pendidikan.
Dalam modul ini dijelaskan apa yang harus
dilakukan oleh fasilitator langkah demi
langkah dalam membimbing calon sekolah
model dalam mengimplementasikan SPMI

30
4
BAB 4
PENYIAPAN SUMBER
DAYA MANUSIA
Peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan merupakan
tanggung jawab dari setiap komponen di satuan pendidikan.
Kegiatan prioritas dalam penjaminan mutu pendidikan dasar dan
menengah yang dirancang dalam sistem antara lain kegiatan
pemetaan mutu pendidikan yang terdiri dari pengumpulan data
mutu dan penyusunan peta mutu, kegiatan fasilitasi penjaminan
mutu pendidikan kepada pemerintah daerah dan kegiatan
pengembangan sekolah model penjaminan mutu pendidikan
beserta pola pengimbasan kepada sekolah lainnya. Agar kegiatan
dapat dilaksanakan oleh pelaksana teknis dan sasaran maka
perlu dilakukan pelatihan kepada LPMP dan sekolah.

Pelatihan dilakukan secara bertahap pada level nasional, daerah


dan sekolah. Sesuai tugas dan fungsinya, Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan fasilitator nasional
bagi LPMP untuk pelatihan kegiatan penjaminan mutu pendidikan
yang nantinya bertugas melatih fasilitator daerah yang akan
membantu LPMP dalam melatih, membina dan mendampingi
sekolah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan penjaminan
mutu pendidikan.

1. Fasilitator Nasional

1. Pelatihan Fasilitator Nasional Pemetaan Mutu

• Kriteria Calon Fasilitator

Calon peserta pelatihan fasilitator nasional pemetaan mutu


dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut.

Tabel 4.1. Kriteria Calon Fasilitator Nasional Pemetaan Mutu

35
• Pelaksanaan Pelatihan

Pelatihan dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 4.2. Pelaksanaan Pelatihan

• Hasil Pelatihan

Pelatihan fasilitator nasional pemetaan mutu menghasilkan out-


put sebagai berikut.

1) Peserta yang mengikuti pelatihan adalah sebanyak 130 orang;


2) Peserta yang lulus pelatihan adalah sebanyak 126 orang;
3) Sebaran nilai akhir peserta seperti pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Sebaran Nilai Akhir Peserta Pelatihan Fasilitator Nasional Pemetaan Mutu

36
2. Pelatihan Fasilitator Nasional SPMI

• Kriteria Calon Fasilitator

Calon peserta pelatihan fasilitator nasional SPMI dipilih ber-


dasarkan kriteria sebagai berikut.

Tabel 4.3. Kriteria Calon Fasilitator Nasional SPMI

• Pelaksanaan Pelatihan

Pelatihan dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 4.4. Pelaksanaan Pelatihan Fasilitator Nasional SPMI

37
• Hasil Pelatihan

Pelatihan fasilitator nasional SPMI menghasilkan output sebagai


berikut.

1) Peserta yang mengikuti pelatihan adalah sebanyak 140 orang


2) Peserta yang lulus pelatihan adalah sebanyak 119 orang
3) Sebaran nilai akhir peserta seperti pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Sebaran Nilai Akhir Peserta Pelatihan Fasnas SPMI

2. Fasilitator Daerah

Pelaksanaan pelatihan untuk fasilitator daerah, baik pelatihan


pemetaan mutu maupun pelatihan SPMI dilaksanakan oleh
LPMP melalui anggaran di LPMP. Fasilitator nasional yang telah
dinyatakan lulus dalam pelatihan di tingkat nasional bertindak
sebagai fasilitator yang memberikan pelatihan bagi calon
fasilitator daerah. Desain pelatihan dilaksanakan sama dengan
pelatihan fasilitator nasional, hanya saja calon fasilitator daerah
ditetapkan berdasarkan kriteria sebagai berikut.

Tabel 4.5. Kriteria Calon Fasilitator Daerah

38
Adapun fasilitator daerah yang telah dihasilkan adalah sebagai
berikut. Fasda pemetaan mutu sekitar 780 orang (dari data 18
LPMP yang diterima) dan Fasda SPMI sebanyak 1.078 orang
(dari data 19 LPMP yang diterima). Hal ini dapat terjadi karena
terdapat beberapa LPMP yang tidak dapat melakukan pelatihan
karena terkendala dana dan waktu.

3. Kendala dan Tindak Lanjut

Pelaksanaan penyiapan SDM pelaksana penjaminan mutu


pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting mengingat
fasilitator nasional dan fasilitator daerah memegang peran
penting dalam melakukan pendampingan ke satuan pendidikan.
Beberapa kendala yang dialami pada saat melaksanakan pelatihan
terutama fasilitator nasional antara lain sebagai berikut.

1) Peserta sebaiknya mengikuti semua materi dari awal


pelatihan sampai akhir pelatihan dan peserta yang hadir
pelatihan adalah peserta yang benar-benar akan berfungsi
sebagai fasilitator di daerah;
2) Adanya gangguan jaringan pada saat pelatihan pemetaan
mutu, sehingga p e s e r t a k e s u l i t a n m e m p r a k t i k k a n
pengumpulan data mutu pada saat pelatihan.

Berdasarkan kendala-kendala yang dialami selama pelatihan,


maka tindak lanjut yang perlu dilakukan di tahun mendatang
adalah sebagai berikut.

1) Perlunya memperkuat kompetensi fasilitator nasional dan


fasilitator daerah melalui program penyegaran fasilitator
nasional dan fasilitator daerah;
2) Peserta yang diundang dan mengikuti pelatihan adalah
peserta yang benar-benar berfungsi sebagai fasilitator;
3) Pemilihan lokasi pelatihan yang memiliki jaringan internet
yang memadai;
4) Memperkuat peran LPMP untuk mlakukan pendampinga ke
satuan pendidikan melalui pemberdayaan fasilitator daerah
dan pengawas.

39
5
BAB 5
PENGEMBANGAN
KOMPETENSI SUMBER
DAYA MANUSIA
1. Profil Sumber Daya Manusia

Pelaksanaan aktifitas Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) oleh


LPMP harus didukung dengan Sumberdaya Manusia (SDM) yang
kuat. Kondisi tahun 2015 jumlah SDM LPMP berkisar antara
31-180 orang per LPMP. Berdasarkan usia, rentang usia SDM
terbesar berada pada usia 35 – 44 tahun (45,3%) dan rentang
usia 45-54 tahun (29,5%). Rentang usia ini menunjukan SDM
LPMP diisi dengan SDM pada usia produktif yang dapat berperan
dalam mengawal fungsi PMP sebagai analis dan widya iswara.

Gambar 5.1. Profil SDM LPMP

Di lihat dari sebaran kualifikasi pendidikannya, LPMP didominasi


dengan SDM dengan latar belakang S1/S2/S3 (73,7%) dengan
distribusi 38% SDM LPMP adalah berkualifikasi S1, 32,9%
berkualifikasi S2, dan 2,8% berkualifikasi S3. jumlah SDM LPMP
yang cukup untuk memadai mengingat LPMP akan berinteraksi
dengan sekolah (khususnya guru dan kepala sekolah) serta
pemerintah daerah (pengawas sekolah) yang dituntut memiliki
latar belakang minimal S1/D4.

43
2. Analisis Kebutuhan Pengembangan Kompetensi
SDM

Namun demikian sebaran jumlah SDM baik berdasarkan usia


maupun kualifikasi pendidikan belum mencukupi apabila SDM
LPMP belum dijamin memiliki kemampuan dalam melaksanakan
PMP. Sejalan dengan isi pedoman dan petunjukan pelaksanaan/
teknis pelaksanaan PMP, setidaknya SDM LPMP harus memiliki
kompetensi seperti ditunjukan pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Kebutuhan Kompetensi SDM dalam Pelaksanaan SPMP oleh LPMP

Guna mengoptimalkan pelaksanaan sistem penjaminan mutu


pendidikan oleh LPMP, diperlukan SDM yang andal sesuai dengan
tugas yang akan dilakukan pada setiap kegiatan penjaminan mutu
pendidikan. SDM yang diperlukan adalah SDM yang menguasai
substansi penjaminan mutu pendidikan dan SDM yang mampu
melaksanakan kegiatan penunjang.

Gambar 5.2. Peta Kegiatan Pengembangan Kompetensi yang Pernah Diikuti SDM
LPMP

44
Dari analisis yang dilakukan pada tahun 2015, SDM dengan
kualifikasi S1/D4 masih sangat minim mendapat pengembangan
kompetensi jika dibandingkan dengan SDM dengan kualifikasi
S2/S3 baik mengenai PMP maupun kompetensi penunjang
lainnya. Khusus untuk kompetensi dalam PMP, kurang dari 20%
SDM dengan kualifikasi S1/D4 dan hanya 25-50% SDM dengan
kualifikasi S2/S3 yang telah mendapatkan pengembangan
kompetensi PMP.

Hal ini menggambarkan PMP


belum menjadi “core business”
LPMP dan banyak SDM yang
justru d i m a n f a a t k a n untuk
melakukan pekerjaan di luar
PMP. Kondisi ini menggambarkan
dalam mengawal pelaksanaan
PMP khususnya oleh LPMP,
Ditjen Dikdasmen harus
m e n g i n t e n s i f k a n upaya-upaya
peningkatan kompetensi SDM
di LPMP agar menjamin proses
sosi al isa si /sup er- visi/fasilitasi
PMP y a n g p r o f e s i o n a l dan
akurat.

3. Aktifitas Pengembangan
Kompetensi SDM Tahun
2016

Pada pelaksanaan program PMP


tahun 2016, Ditjen Dikdasmen
telah melaksanakan serangkaian
upaya dalam meningkatkan
kompetensi SDM di LPMP yang
meliputi:
Gambar 5.3. Suasana Pelatihan
Fasilitator

45
1. Pelatihan Tenaga Fasilitator PMP.

Pelatihan tenaga fasilitator dibagi menjadi dua tingkat yaitu


pelatihan fasilitator nasional (fasnas) dan fasilitator daerah
(fasda) yang ditujukan untuk mempersiapkan SDM di LPMP
yang akan melakukan pelatihan, supervisi, dan fasilitasi dalam
pelaksanaan Sistem PMP di sekolah dan di daerah.

Pelatihan dilaksanakan selama lima hari dan diselenggarakan


oleh pusat kepada masing-masing empat orang SDM LPMP yang
dipilih atas usulan dari LPMP untuk menjadi master trainer atau
fasilitor/narasumber bagi pelaksanaan pelatihan yang sama
kepada calon fasilitator daerah. Pengembangan fasilitator daerah
dilakukan dan diselenggarakan oleh masing-masing LPMP
dengan jumlah peserta yang bervariasi mengikuti kebutuhan
SDM di setiap wilayah.

Materi yang disajikan meliputi: a) SPMP, b) SNP, c)Tahapan


Siklus SPMI, d) pengimbasan pada sekolah lainnya. Pelatihan
dilakukan dengan metode yang interaktif dengan membangun
partisipasi aktif setiap peserta dan dilengkapi dengan sistem
evaluasi untuk menjaga kualitas delivery dari materi yang
dilatihkan.

2. Pelatihan Fasilitator Pemetaan Data Mutu Pendidikan

Sama halnya dengan Pelatihan tenaga fasilitator PMP dibagi


menjadi dua tingkat yaitu pelatihan fasilitator nasional (fasnas)
dan fasilitator daerah (fasda) yang ditujukan untuk mempersiapkan
SDM di LPMP yang akan melakukan pelaksanaan pengumpulan
data mutu serta melakukan validasi dan analisis data mutu
pendidikan.

Materi yang disajikan meliputi: a) SPMP, b) prosedur pengumpulan


data, c) instrumen pemetaan mutu pendidik, d) aplikasi pemetaan
mutu, e) mekanisme pengolahan data mutu, f) rapor mutu, dan
g) pemanfaatan rapor mutu. Pelatihan dilakukan dengan metode

46
yang interaktif dengan membangun partisipasi aktif setiap
peserta dan dilengkapi dengan sistem evaluasi untuk menjaga
kualitas delivery dari materi yang dilatihkan.

3. Pelatihan Mandiri oleh Internal LPMP

Peningkatan SDM LPMP dapat dilakukan secara mandiri oleh


masing-masing LPMP. Ditjen Dikdasmen telah mengalokasikan
anggaran pengembangan SDM di setiap LPMP untuk mendukung
pengembangan kompetensi SDM. Dalam berbagai sosialisasi
oleh pusat kepada LPMP, anggaran tersebut sebisa mungkin
dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan SDM dalam
memenuhi kompetensi dalam Tabel 5.1. di atas.

Gambar 5.4. Suasana Pelatihan Mandiri oleh Internal LPMP

47
6
BAB 6
SOSIALISASI
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah
(SPMPDM) dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Secara teknis, SPMPDM dikelola oleh Satuan Tugas Penjaminan
Mutu Pendidikan pada Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah.

SPMPDM seolah-olah merupakan program yang baru


dikembangkan, padahal sesungguhnya program ini merupakan
penyempurnaan dari program SBSNP (Sekolah Berbasis SNP)
yang dikembangkan oleh Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan
(PPMP) di bawah Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan
Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan
PMP) yang telah dilikuidasi. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi
kepada seluruh pemangku kepentingan baik di Pusat maupun di
daerah.

1. Sasaran Sosialisasi

Oleh karena Program SBSNP dikelola oleh unit di luar Direktorat


Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, program tersebut
belum banyak dikenal aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada level daerah, di daerah
lokasi Pogram SBSNP (9 kabupaten/kota) program penjaminan
mutu pendidikan telah cukup dikenal, khususnya oleh aparatur
Dinas Pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, maka sasaran
sosialisasi SPMPDM adalah Pejabat di Pusat dan pejabat di
daerah.

Sosialisasi bagi aparatur pada Unit Eselon 2 di lingkungan


Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, terdiri
atas pada Direktur dan Kasubdit. Sosialisasi untuk pejabat di
Pusat ini dilaksanakan pada tanggal 22 April 2016 oleh anggota
Satuan Tugas Penjaminan Mutu Pendidikan Ditjen Dikdasmen,
bertempat di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung A Kemdikbud.

51
Sosialisasi bagi pejabat daerah dilaksanakan oleh LPMP masing-
masing Provinsi.Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/
Kota) diwakili oleh Dinas Pendidikan, dan Bappeda, sedangkan
pemangku kepentingan lainnya diwakili oleh Dewan Pendidikan
Provinsi atau Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota.

Data tanggal-tangga kegiatan LPMP dalam pengembangan


S P M P D M d i p e r o l e h d a r i 28 L P M P (Tabel 6.1). Tabel
6.1memperlihatkan waktu pelaksanaan Rapat Koordinasi (Rakor)
dengan Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan lainnya.
Pada umumnya sosialisasi SPMPDM kepada Pemerintah Daerah
dan pemangku kepentingan lainnya dilaksanakan pada bulan
Agustus–September 2016. Sementara itu informasi tentang
penyelenggaraan kegiatan sosialisasi SPMPDM tidak diperoleh
dari 7 LPMP yaitu LPMP Aceh, LPMP Kepulauan Riau, LPMP
Jambi, LPMP DKI Jakarta, LPMP Banten, LPMP Bali, dan LPMP
Papua.

Tabel 6.1. Pelaksanaan Rapat Koordinasi/Sosialisasi PMP di Provinsi

52
Gambar 6.1 memperlihatkan contoh kegiatan sosialisasi PMP,
dalam hal ini di LPMP Sulawesi Utara. Pada umumnya pada
sosialisasi PMP oleh LPMP ke Pemerintah Daerah dan pemangku
kepentingan lainnya, LPMP penyelenggara mengundang Satuan
Tugas PMP untuk memberikan materi tentang SPMPDM.
Informasi aktivitas program PMP tidak diperoleh dari Kalimatan
Selatan, Gorontalo, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur,
Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.

Gambar 6.1. Kegiatan Sosialisasi PMP di Sulawesi Utara

2. Materi Sosialisasi

Materi sosialisasi baik di Pusat dan di daerah adalah tentang


Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah,
aktivitas program, perangkat pendukung SPMPDM, integrasi
PMP dengan program peningkatan mutu lainnya, dan program
kerja, untuk tahun 2016. Rincian materi sosialisasi adalah
sebagai berikut:

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP) Dasar dan


Menengah:
Sistem Penjaminan Mutu Internal
Sistem Penjaminan Mutu Eksternal
Sistem Informasi Mutu Pendidikan

53
- Aktivitas Program Penjaminan Mutu Pendidikan
Pengumpulan Data Mutu
Pengembangan Peta Mutu dan Rencana Pemenuhan Mutu
Pengembangan Kapasitas SDM PMP
Pengembangan Sekolah Model dan Pengimbasannya

- Perangkat PMP dan Sistem Informasi Mutu Pendidikan


Buku Pedoman Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis
o Naskah Akademik SMDM sebagai dasar penyusunan
Permendikbud tetang PMP
o Pedoman Umum SPMPDM
o Petunjuk Pelaksanaan SPMI oleh Satuan Pendidikan
o Petunjuk Pelaksanaan PMP oleh LPMP
o Petunjuk Pelaksanaan PMP oleh Pemerintah Daerah
o Petunjuk Teknis Pengumpulan Data Mutu
o Petunjuk Teknis Pengembangan Peta Mutu
o Petunjuk Teknis Fasilitasi oleh LPMP ke Pemerintah
Daerah
o Petujuk Teknis Pengembangan Sekolah Model dan
Pengimbasannya
Instrumen Pemetaan Mutu

- Integrasi Program PMP


Integrasi kegiatan PMP dengan kegiatan peningkatan mutu
lainnya
Integrasi Sekolah Rujukan, Sekolah Model, dan Sekolah
Imbas

- Persiapan Pelatihan PMP


Kriteria calon Fasilitator Nasional PMP
Rancangan Pengembangan Calon Fasilitator Nasional PMP

- Pengembangan Sekolah Model


Kriteria Sekolah Model
Kriteria Sekolah Imbas

54
3. Tindak Lanjut Sosialisasi

Tindak lanjut dari Sosialisasi SPMPDM kepada Pemerintah


daerah dan pemangku kepentingan lainnya adalah dibentuknya
Tim Penjaminan Mutu Pendidikan daerah (TPMPD) dan atau
penandatanganan MOU antara Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah (diwakili LPMP) dengan Pemerintah
Daerah.

Dari 33 Provinsi (Provinsi Kalimantan Utara belum memiliki


LPMP aktif), informasi tentang keberadaan TPMPD atau embrio
TPMPD diperoleh dari 18 LPMP, sementara dari 15 LPMP belum
diperoleh informasi tentang keberadaan TPMPD Provinsi.

Demikian juga informasi tentang pembentukan TPMPD


Kabupaten/Kota baru dari Provinsi Sumatera Selatan, yaitu di
Kabupaten Lahat dan Kabupaten Musi Rawas (Tabel 6.2.).

Tabel 6.2. Pembentukan TPMPD provinsi dan TPMPD Kabupaten/Kota

55
yang baik dari pembentukan TPMPD Kabupaten. Pada kasus
yang lain, pejabat yang menetapkan pembentukan TPMPD di
Provinsi DKI Jakarta dan di 6 Wilayah (Kota dan Kabupaten)
adalah Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta dan semua anggota TPMPD adalah pejabat dari
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan pejabat Suku Dinas
Pendidikan di 6 wilayah di DKI Jakarta. Seyogyanya Penetapan
Pembentukan TPMPD Provinsi DKI Jakarta dan TPMPD Wilayah
dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, dengan anggota sekurang-
kurangnya dari Dinas Pendidikan dan Bappeda.

4. Rekomendasi Sosialisasi ke Depan

Sosialisasi di Pusat belum dilaksanakan ke Badan Standar


Nasional Pendidikan (BSNP) dan Badan Akreditasi Nasional
Sekolah/Madrasah (BAN S/M). Oleh karena itu pada tahun 2017
perlu dilakukan diseminasi dari capaian program PMP pada
tahun 2016. Hal ini menjadi lebih penting dengan telah terbitnya
dan telah diundangkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 28 Tahun 2016 Tentang Sistem Penjaminan
Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah pada tanggal 29 Agustus
2016.

Sosialisasi PMP ke Pemerintah Provinsi dan Pemerintah


Kabupaten/Kota direkomendasikan diulang ada tahun 2017,
karena berbagai alasan antara lain karena ada sebagian pejabat
khususnya pada Dinas Pendidikan yang mendapat sosialisasi
PMP pada tahun 2016 sudah pindah posisi (menduduki jabatan
lain di luar Bidang Pendidikan).

Sampai saat ini belum ada MOU tentang implementasi SPMPDM


di Provinsi dan Kabupaten/Kota antara Ditjen Dikdasmen
dengan Pemerintaah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/
Kota. Seyogyanya untuk menjamin implementasi SPMPDM ada
MOU antara Ditjen Dikdasmen dengan Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu dalam paparan
sosialisasi ke depan, perlu ditekankan tentang pentingnya MOU
ini.

56
BAB 7
PENGEMBANGAN
SEKOLAH MODEL
1. Sasaran

Sekolah model adalah sekolah yang ditetapkan dan dibina oleh


Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) untuk menjadi
sekolah acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam penerapan
penjaminan mutu pendidikan secara mandiri. Sekolah model
menerapkan seluruh siklus penjaminan mutu pendidikan secara
sistemik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga budaya mutu
tumbuh dan berkembang secara mandiri pada sekolah tersebut.

Kriteria penunjukan sekolah model telah dijabarkan dalam


dokumen Petunjuk Teknis Pengembangan Sekolah Model.
Penunjukan sekolah model dilakukan dengan berkomunikasi
dengan pemerintah daerah karena faktor komitmen keterlibatan
pemerintah daerah turut dipertimbangkan dalam penunjukan
sekolah model. Selain itu, pelaksana kurikulum 2013 diprioritaskan
untuk menjadi sekolah model karena pelaksanaan kurikulum
2013 merupakan bagian dari intervensi dan fasilitasi peningkatan
mutu.

Gambar 7.1. Penandatanganan Komitmen Pemerintah Daerah dan Sekolah Model

Tabel 7.1. Kriteria Sekolah Model

61
Awalnya sekolah model ditargetkan untuk disiapkan di seluruh
kabupaten/kota untuk seluruh jenjang pendidikan dimana
diatur terdapat 16 sekolah model pada setiap kabupaten/kota.
Namun, rencana tersebut terkendala dengan adanya kebijakan
pemotongan anggaran sehingga jumlah sekolah model tiap
kabupaten/kota bervariasi. Total jumlah sekolah model yang
telah disiapkan pada tahun 2016 adalah 3.568 sekolah model
yang menyebar di 441 kabupaten/kota.

Tabel 7.2. Daftar Sekolah Model

Sekolah model tersebut ditetapkan bersama-sama antara LPMP


dan Dinas Pendidikan sebagai perwakilan dari pemerintah daerah.
Sekolah model dibina melalui kegiatan pelatihan, pendampingan
implementasi hingga nantinya saat pengimbasan.

62
Gambar 7.2. Penetapan Sekolah Model

2. Pelatihan

Pelatihan sekolah model dilakukan oleh LPMP dimana tiap


sekolah yang diundang diwakili oleh 4-6 orang tiap sekolah
yang terdiri atas pengawas pembina, kepala sekolah, komite
sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan. Pelatihan dilakukan
dengan mengacu pada modul pelatihan yang telah disiapkan
saat pelatihan fasilitator. Materi pelatihan untuk sekolah model
terangkum dalam buku petunjuk pelaksanaan penjaminan mutu
pendidikan oleh sekolah model yang didalamnya mengupas
tentang SPMI.

Evaluasi pelatihan untuk sekolah model antara lain perlunya


pendalaman terkait standar nasional pendidikan oleh fasilitator.
Materi ini penting untuk dapat dipahami dengan baik oleh
peserta dan fasilitator dalam penerapan sistem penjaminan
mutu pendidikan. Saat pelatihan dilakukan, fasilitator memiliki
kecenderungan untuk membiarkan pekerjaan peserta tidak ada
umpan balik dari fasilitator sehingga pekerjaan yang kurang tepat
tidak mendapatkan koreksi dari fasilitator.

Gambar 7.3. Pelatihan SPMI untuk Sekolah Model

63
3. Implementasi dan Pendampingan

Implementasi pelaksanaan SPMI di sekolah model distimulus


dengan bantuan pemerintah mulai dari Rp. 2.000.000,- hingga Rp.
15.000.000,- bergantung pada kapasitas anggaran LPMP selaku
pengawal program pengembangan sekolah model. Pemahaman
bahwa biaya peningkatan mutu telah difasilitasi dari dana.
Bantuan Operasional Siswa perlu disadarkan kepada sekolah
dan bantuan yang diberikan tersebut hanya sebagai stimulusnya.
Proses implementasi dan pendampingan masing-masing LPMP
berbeda-beda disebabkan kurangnya informasi dan pemahaman
terkait bagaimana proses pendampingan seharusnya dilakukan.

Terdapat kasus dimana proses implementasi dan pendampingan


dilakukan dalam bentuk pelatihan kepada sekolah imbas.
Terdapat juga indikasi bahwa pelaksanaan SPMI lebih fokus
pada penyusunan dokumen mutu, proses penumbuhan budaya
mutu secara mandiri pada sekolah tersebut masih kurang
terwujud dalam implementasinya. Kemampuan sekolah model
untuk melaksanakan siklus PMP sesuai prinsip dan tujuan yang
diharapkan masih harus ditingkatkan.

Gambar 7.4. Pendampingan Pelaksanaan SPMI untuk Sekolah Model

Gambar 7.5. Gambaran Aktivitas Peningkatan Mutu pada Sekolah Model

64
8
BAB 8
PILOTING
1. Piloting

Kegiatan piloting PMP dilakukan di Kota Mojokerto. Terdapat


delapan sekolah binaan dalam kegiatan piloting yang terdiri
dari 4 Sekolah Dasar, 2 Sekolah Menengah Pertama, 1 Sekolah
Menengah Atas, dan 1 Sekolah Menengah Kejuruan.

Tabel 8.1. Daftar Sekolah Model

Secara keseluruhan pelaksanaan kegiatan pelatihan sekolah


model di Kota Mojokerto berjalan dengan baik. Secara garis
besar pelatihan sekolah model dapat dikategorikan menjadi dua
kegiatan yaitu penyampaian materi, dan diskusi kelompok.

Gambar 8.1. Suasana Penyampaian Materi

Suasana kelas saat penyampaian materi sangat kondusif.


Peserta memperhatikan penjelasan narasumber dengan seksama

69
dimana narasumber menyampaikan materi dengan memberikan
stimulan-stimulan yang mampu mendorong peserta untuk berfikir
secara aktif. Selain itu selama proses diskusi kelompok, peserta
juga aktif melakukan brain storming dengan fasilitator untuk
mendapatkan luaran yang sesuai.

Diskusi selalu dilakukan dalam setiap penyampaian materi.


Diskusi dilakukan secara berkelompok dimana ada media yang
disediakan untuk membantu jalannya diskusi seperti kertas
plano, post it atau kertas metaplan. Pembagian kelompok dibagi
berdasarkan asal sekolah masing-masing. Hal ini bertujuan
untuk memudahkan proses diskusi dimana nantinya mereka bisa
melakukan analisa sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing
sehingga dapat merumuskan rencana yang akan dijalankan oleh
sekolah.

Peserta pelatihan terlihat sangat antusias. Selama proses


diskusi peserta terlihat aktif dalam penyampaikan pendapat
maupun dalam berargumen pandangan. Selain itu keberadaan
alat bantu seperti kertas plano, post it atau kertas metaplan
sangat membantu jalannya proses diskusi dimana peserta dapat
memvisualisasikan gagasan-gagasan yang mereka miliki.

Gambar 8.2. Diskusi dan Hasil Diskusi Pelatihan

2. Evaluasi Pelaksanaan Pendampingan

Pendampingan sekolah model di Kota Mojokerto menggunakan


lima macam pendekatan atau metodologi, antara lain layanan

70
konsultasi, diskusi bersama, kerja kelompok, ceramah, dan
bimbingan teknis. Pendampingan berlangsung selama tiga hari
mulai tanggal 7 september 2016 hingga 9 september 2016. Setiap
pertemuan berlangsung kurang lebih dua jam untuk membahas
materi-materi yang berkenaan dengan sistem penjaminan mutu
internal sekolah.

Acara ini didampingi langsung oleh fasilitator pendampingan


sekolah model Kota Mojokerto yang terdiri dari tim satgas
PMP pusat, guru pendamping, dan LPMP Provinsi Jawa Timur.
Fasilitator–fasilitator tersebut dibagi menjadi kelompok–kelompok
kecil untuk turun ke sekolah-sekolah. Hal ini bertujuan untuk
meningkatkan efektivitas dari pendampingan sekolah model di
Kota Mojokerto.

Secara umum kegiatan pendampingan sekolah model terbagi


menjadi lima bagian, antara lain pembukaan, pemaparan materi
oleh pendamping, review EDS dan RKS yang telah dikerjakan
oleh sekolah, serta diskusi interaktif.

Hari pertama pendampingan diisi dengan kegiatan diskusi antar


stakeholder sekolah yang terdiri dari Guru, Kepala sekolah,
perwakilan wali murid, komite sekolah, dunia industri, dan tenaga
kependidikan. Pertemuan ini membahas hal ihwal yang berkaitan
dengan harapan setiap stakeholder untuk meningkatkan kualitas
pendidikan yang dimulai dari memperbaiki kualitas lembaga
pendidikan.

Sehingga inti dari pendampingan hari pertama adalah berupa


pendalaman SPMI, diskusi terkait isu kritis, dan visi sekolah.
Selain itu, diskusi juga mengarah pada menghimpun aspirasi dari
stakeholder sekolah terkait kompetensi yang dibutuhkan oleh
peserta didik, mengupas peran guru, hingga melakukan analisis
konidisi lingkungan Kota Mojokerto.

Pendampingan hari kedua digunakan untuk membedah serta


mendiskusikan hasil EDS yang telah dibuat oleh masing-masing

71
sekolah model. Pada dasarnya, hasil dari pendampingan hari
pertama dijadikan tolok ukur untuk strategi pendampingan bagian
berikutnya. Kondisi yang terjadi selama proses pendampingan
sekolah model di Kota Mojokerto adalah, tidak semua sekolah
menunjukkan perkembangan yang sama sebagai hasil dari
pendampingan bagian pertama. Sehingga terjadi perbedaan
pelaksanaan pendampingan hari kedua bagi masing-masing
sekolah. Secara umum agenda dari pendampingan hari kedua
adalah pemahaman tentang Konsep SPMI secara utuh. Dengan
demikian, warga sekolah akan mamahami arti penting dari lima
tahap dalam SPMI.

3. Evaluasi Tugas EDS Sekolah Model

Hasil dari pendampingan sekolah model berupa dokumen EDS dan


perencanaan pemenuhan mutu. Setiap sekolah wajib merancang
serta menghasilkan sebuah dokumen EDS. Namun, tabel EDS
yang dihasilkan oleh sekolah ternyata memiliki format tabel
yang berbeda-beda. Beberapa sekolah seperti SDN Kranggan
1, SDN Gunung Gedangan 1 dan SDN Wates 6 menuliskan EDS
yang berisi indikator mutu, dan hal-hal yang sudah atau belum
dilakukan pada masing-masing indikator tersebut.

Sedangkan SDN Mentikan 4 menambahkan kolom prioritas utama


pada tabel EDS. Namun, pada bagian identifikasi kelemahan dan
kelebihan, sekolah masih belum bisa mengidentifikasi secara
tepat. Hal yang menarik ditemukan pada SDN Wates 6. Sekolah
tersebut belum memiliki dokumen perencanaan yang tersusun
secara sistematis. Namun, sekolah memiliki beragam program
kreatif yang telah dijalankan untuk meningkatkan kompetensi
siswa dan tenaga pendidik.

Berbeda dengan sekolah jenjang SD, pada sekolah model


jenjang SMP dan SMA/SMK melampirkan dokumen EDS yang
isinya relatif lebih lengkap. Misalnya di SMA Negeri 1 Kota
Mojokerto memberikan keterangan kondisi ideal, kondisi real,
rekomendasi, sasaran pelaksanaan, penanggung jawab dan

72
waktu perlaksanaan pada dokumen EDS. Sedangkan di SMK
Negeri 2 Kota Mojokerto mencantumkan indikator standar mutu,
evaluasi kondisi rill yang ada di sekolah serta dilengkapi dengan
indikator yang belum dilaksanakan. SMK Negeri 2 Kota Mookerto
menjelaskan secara lengkap dan detail tentang kondisi standar
sarana dan prasarana di sekolah.

Pada sekolah jenjang SMP yaitu SMP Negeri 1 dan SMP Negeri
4 Kota Mojokerto menyusun dokumen EDS yang mencakup
penjelasan tentang kondisi terkini, kemudian mencari akar
penyebab masalah dari kondisi yang belum sesuai. Sehingga
dari identifikasi tersebut sekolah dapat menentukan peluang dan
ancaman dari setiap indikator.

Rangkuman kesan-kesan selama pendampingan yang diutarakan


oleh sekolah model menyatakan bahwa pendampingan telah
berjalan secara efektif. Sekolah merasakan pendampingan
membuka wawasan warga sekolah terkait pentingnya penerapan
delapan SNP untuk meningkatkan kualitas pendididkan.

73
9
BAB 9
PENGEMBANGAN
APLIKASI PEMETAAN
MUTU PENDIDIKAN
Sistem informasi penjaminan mutu pendidikan menyediakan
layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk
mengumpulkan, menyimpan, mengolah dan mempublikasikan
data dan informasi terkait penjaminan mutu pendidikan dasar
dan menengah. Layanan yang disediakan terbagi atas empat
jenis layanan yaitu layanan konten, pemetaan mutu pendidikan,
analisis data mutu serta monitoring dan evaluasi.

1. Laman

Layanan konten disediakan dalam laman


penjaminan mutu pendidikan dasar dan
menengah. Laman ini dikelola oleh tim
pengembang data pokok pendidikan
(DAPODIK) dan diakses melalui alamat
http://pmp.dikdasmen.kemdikbud.go.id.
Menu yang terdapat pada laman saat
ini adalah beranda, berita, pengiriman,
Gambar 9.1. Tampilan
Laman perangkat, peraturan, agenda, daftar
LPMP, bantuan dan login.

Menu beranda merupakan pintu akses terhadap fitur utama agar


pengguna mudah mengaksesnya sehingga dapat memilih layanan
yang sesuai. Layanan yang diberikan dalam menu ini berisikan
informasi singkat tentang pemetaan mutu terutama progres
harian penerimaan kiriman data mutu, daftar berita terbaru,
daftar referensi, daftar agenda, galeri serta kontak layanan

Gambar 9.2. Tampilan Menu Laman (1)

77
Menu berita berisikan daftar berita yang
berkaitan dengan penjaminan mutu
pendidikan dasar dan menengah. Saat
ini artikel berita yang diunggah masih
berkisar pada topik pemetaan mutu
yaitu terkait proses pengumpulan data,
pembaharuan aplikasi hingga batas
waktu pengiriman data mutu.

Berita terkait topik lainnya belum


tersedia dalam laman. Menu pengiriman
menyajikan progres pengiriman data
pemetaan mutu yang dilakukan oleh
sekolah. Data progres disajikan
bedasarkan kewilayahan dan jenjang.
Data dapat dilihat hingga level sekolah
sehingga mengetahui apakah data
pemetaan mutu yang mereka kirimkan
berhasil diterima oleh sistem.

Buku pedoman, petunjuk pelaksanaan,


petunjuk teknis, modul, paparan dan
panduan terkait penjaminan mutu
pendidikan dasar dan menengah
dapat diunduh oleh pengguna laman
pada menu perangkat. Peraturan yang
mendukung pelaksanaan penjaminan
mutu pendiidkan juga dapat diunduh
pada menu peraturan.

Peraturan yang disediakan mulai dari


undang-undang hingga peraturan menteri
Gambar 9.3. Tampilan pendidikan dan kebudayaan. Peraturan
Menu Laman (2) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
No. 28 Tahun 2016 Tentang Sistem
Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan
Menengah disediakan pada menu ini.

78
Agenda kegiatan penjaminan mutu pendidikan dasar dan
menengah yang dilaksanakan baik oleh pusat maupun
LPMP dapat diumumkan pada menu Agenda. Menu ini belum
termanfaatkan dengan baik karena agenda yang disajikan masih
sedikit. LPMP merupakan unit pelaksana daerah yang memiliki
tugas untuk melaksanakan fungsi penjaminan mutu pendidikan
dasar dan menengah untuk mendukung Direktorat Jenderal,
sehingga informasi terkait LPMP disediakan pada menu Daftar
LPMP. Menu ini terbatas berisikan alamat kantor, nomor telepon,
foto gedung dan alamat laman masing-masing.

Pengguna laman dapat mengakses menu Bantuan jika


mengalami permasalahan, akan melakukan pengaduan atau
membutuhkan informasi tertentu. Pengguna dapat mempelajari
FAQ yang sudah disediakan, menggunakan layanan feedback
untuk menyalurkan penaduan, kritik dan saran. Informasi terkait
alamat kantor dan email juga dapat dipelajari pengguna pada
bagian kontak. Terdapat menu login yang disediakan pada laman
yang digunakan untuk mengakses layanan yang bersifat terbatas
seperti rapor mutu serta monitoring dan evaluasi, namun menu
ini masih belum berfungsi.

Informasi terkait tujuan dan fungsi laman perlu untuk ditambahkan


dalam laman agar pengguna dapat memahami tujuan dan fungsi
laman ini dibuat. Layanan lain yang perlu dikembangkan adalah
forum untuk pengguna supaya terbentuk interaksi komunikasi
dan berdiskusi membahas penjaminan mutu pendidikan.

2. Aplikasi Pengumpulan Data Pemetaan Mutu

Aplikasi ini digunakan untuk


mengumpulkan data tentang pemenuhan
standar nasional pendidikan oleh satuan
pendidikan d a l a m r a n g k a p e m e t a a n
mutu pendidikan. Aplikasi dirilis pada 17
Agustus 2016 yang dapat diunduh pada
laman penjaminan mutu pendidikan dan

79
DAPODIK. Laman menyediakan dalam
bentuk installer dan updater. Aplikasi
bersifat offline terintegrasi dengan
DAPODIK sehingga akses masuk
dalam aplikasi ini menggunakan akun
yang sama dengan DAPODIK.Aplikasi
Gambar 9.4. Tampilan Aplikasi
mengalami pembaharuan sebanyak 3 Pengumpulan Data
kali sejak rilis. Versi yang dirilis pertama
kali adalah versi 1.2 pada tanggal 17
Agustus 2016.

Aplikasi mengalami pembaharuan menjadi versi 1.3 pada tanggal


5 September 2016 dikarenakan adanya pembaharuan aplikasi
DAPODIK 2016. Pada tanggal 22 September 2016 dirilis versi
1.4 beserta manual untuk memudahkan pengguna. Pada aplikasi
versi ini mengalami perubahan pada fitur sehingga disiapkan FAQ
supaya memu-dahkan pengguna dalam mengoperasikan aplikasi.
Terakhir terdapat pembaharuan pada tanggal 17 Nopember 2017
untuk mengatasi permasalahan proses pengiriman data yaitu
versi 1.5.

Terdapat sembilan menu yang disediakan dalam aplikasi. Menu


beranda berisikan profil umum sekolah, informasi versi aplikasi
dan status pengiriman data.Aplikasi berisi data yang belum
tercakup dalam DAPODIK. Data dikumpulkan dengan menjawab
pertanyaan yang disajikan pada menu kuesioner dan menu
instrumen. Kuesioner dan instrumen diisi oleh responden kepala
sekolah, guru, siswa, komite dan pengawas yang pengaturannya
difasilitasi pada menu tukar pengguna dan manajemen pengguna.

Setiap responden yang telah selesai menjawab pertanyaan


perlu mengkonfirmasi isiannya pada menu konfirmasi selesai.
Data yang sudah terkumpul diverifikasi dan dikirim melalui menu
verifikasi dan kirim data yang membutuhkan koneksi internet.
Sekolah dapat mengetahui progres pengiriman pada menu
pengiriman di laman penjaminan mutu pendidikan.

80
Gambar 9.5. Tampilan Menu Laman Progres Pengiriman Data

3. Aplikasi Analisa Data

Aplikasi ini dikembangkan berbasis website.Aplikasi digunakan


untuk mengolah dan menganalisa data mutu yang masuk database.
Sumber data berasal dari DAPODIK, aplikasi pengumpulan data
mutu serta sumbertambahan lainnya seperti Ujian Nasional,
Akreditasi, Uji Kompetensi Guru, Rapor Siswa dan lain-lain.
Aplikasi dapat diakses pada http://pmp.dikdasmen.kemdikbud.
go.id:8181/petapmp.

Hasil analisa data disajikan


dalam bentuk rapor mutu pada
aplikasi ini. Rapor mutu disajikan
untuk level nasional, provinsi,
kabupaten/kota hingga sekolah.
Penyajian per jenjang pendidikan
juga didapat dilihat pada aplikasi Gambar 9.6. Tampilan Aplikasi
ini. Pengolahan dan analisa data Pengolahan Data
menghasilkan nilai capaian per
standar, indikator hingga sub-
indikator.

Nilai capaian per standar disajikan dalam bentuk diagram laba-


laba, capaian per indikator dan sub indikator disajikan dalam
bentuk tabel dinamis. Pada level kewilayahan juga disajikan
histogram sebaran jumlah sekolah sesuai kategori capaian
standar nasional pendidikan.

81
Saat ini data yang diolah masih data yang berasal dari aplikasi
pengumpulan datasehingga rapor muutu saat ini masih belum
mencakup seluruh standar. Tidak seluruh data yang diterima
server bisa diolah karena ada ketentuan yang harus dipenuhi
agar data dapat diolah sesuai metode yang diterapkan

4. Aplikasi Monitoring dan Evaluasi

Aplikasi ini juga dikembangkan berbasis website. Aplikasi


digunakan untuk memantau pelaksanaan program penjaminan
mutu pendidikan oleh LPMPsesuai dengan tujuan dan petunjuk
yang telah disusun.Terdapat dua macam aplikasi monitoring
dan evaluasi yang telah dikembangkan yaitu aplikasi pelaporan
kinerja LPMP dan aplikasi monitoring dan evaluasi kegiatan PMP.

Aplikasi pelaporan kinerja LPMP dikembangkan untuk


memfasilitasi Direktorat Jenderal dalam mendapatkan data dan
informasi terkait kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh LPMP
terkait penjaminan mutu pendidikan. Aplikasi ini diakses melalui
http://pmp.dikdasmen.kemdikbud.go.id/fasilitator/index.php
dengan menggunakan akun masing-masing dan dioperasikan
oleh admin LPMP yang telah ditugaskan oleh masing-masing
LPMP. Hal-hal yang dapat dilaporkan dari aplikasi ini antara
lain daftar fasilitator LPMP, daftar sekolah sasaran pemetaan,
daftar sekolah model binaan LPMP, daftar sekolah imbas, daftar
kegiatan PMP oleh LPMP.

Gambar 9.7. Tampilan Aplikasi Monitoring dan Evaluasi

Aplikasi monitoring dan evaluasi kegiatan PMP dikembangkan


untuk mengetahui bagaimana dampak pelaksanaan kegiatan

82
tersebut dari pengguna layanan LPMP. Aplikasi diakses melalui
http://pmp.dikdasmen.kemdikbud.go.id/monev/index.php.
Terdapat dua kegiatan yang dapat dipantau dalam aplikasi ini
yaitu kegiatan pemetaan mutu dan kegiatan pengembangan
sekolah model (pelaksanaan SPMI). Aplikasi menyajikan
kuesioner yang diisi oleh pengguna layanan kegiatan, dalam hal
ini adalah pihak sekolah. Rekapitulasi pengisian dari aplikasi ini
dapat dilihat pada laman akses yang berbeda yaitu http://pmp.
dikdasmen.kemdikbud.go.id:8181/rekap/.

Aplikasi monitoring dan evaluasi belum digunakan secara


optimal oleh LPMP karena aplikasi selesai dikembangkan di
tengah perjalanan. Aplikasi ini hanya disampaikan dalam bentuk
pemberitahuan lewat email dan surat belum disosialisasikan
terkait manfaat dan cara penggunaannya secara menyeluruh
kepada LPMP.

5. Kendala dan Tindak Lanjut

Dalam pengembangan aplikasi sistem informasi terdapat


kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan kemampuan
server pendukung aplikasi sistem informasi yang menimbulkan
adanya permasalahan pengiriman data mutu oleh sekolah
dan pengintegrasian aplikasi berbasis web yang lain sehingga
aplikasi berbasis website belum dapat diakses dari laman
utama yaitu aplikasi analisa data serta aplikasi monitoring dan
evaluasi. Selain itu, pengelolaan layanan informasi masih belum
berjalan dengan baik dikarenakan pengaturan sumber daya
untuk mengelola layanan pengaduan lewat email atau kunjungan
langsung belum jelas.

Rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan ke depan diantaranya


adalah pengadaan server yang lebih besar untuk menampung
data dan informasi terkait penjaminan mutu pendidikan untuk
mengoptimalkan kinerja seluruh aplikasi, pengintegrasian
seluruh aplikasi berbasis website ke dalam laman utama dengan
mengaktifkan fungsi pembatasan akses pada layanan-layanan

83
tertentu, penyelesaian konten layanan pada laman penjaminan
mutu pendidikan yang belum selesai, pengintegrasian data mutu
yang berasal dari sumber lainnya agar rapor mutu bisa menyajikan
seluruh standar, pengembangan instrumen untuk monitoring
dan evaluasi pelaporan kinerja LPMP dan kegiatan fasilitasi
pemerintah daerah untuk melengkapi aplikasi monitoring dan
evaluasi dan sosialisasi aplikasi monitoring dan evaluasi kepada
LPMP untuk mengoptimalkan penggunakan aplikasi tersebut.

84
10
BAB 10
PEMETAAN MUTU
PENDIDIKAN
Pemetaan mutu pendidikan merupakan salah satu fungsi
penjaminan mutu pendiidkan yang perlu dilakukan oleh Direktorat
Jenderal untuk mengetahui pencapaian mutu pendidikan terhadap
standar nasional pendidikan.

1. Pengumpulan Data Pemetaan Mutu

Pengumpulan data mutu pendidikan dilakukan secara primer dan


sekunder. Data primer diambil melalui aplikasi pengumpulan data
mutu dan data sekunder diambil dari Dapodik dan sumber data
lainnya. Pengumpulan data primer pada tahun 2016 dilakukan
selama 4 bulan mulai bulan Agustus 2016 hingga November 2016.
Pengumpulan berjalan lambat dikarenakan kendala aplikasi dan
server database.

Gambar 10.1. Rekapitulasi Pengumpulan Data

Data primer yang diolah adalah 104.994 sekolah dari 154.152


sekolah yang masuk ke server. Hal ini dikarenakan persyaratan
kelengkapan jenis responden belum terpenuhi oleh sebagian

89
data yang masuk dalam server. Data sekunder yang beraal dari
dapodi dan sumber data lainnya belum dapat dipenuhi sehingga
pengolahan dan analisa hanya mencakup lima standar nasional
pendidikan yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar
proses, standar penilaian dan standar pengelolaan.

2. Pemetaan Mutu

Pencapaian terhadap SNP dihitung


dengan menggunakan metode
komposit dimana rentang skor dari
angka 0 hingga 7 yang dikategorikan
ke dalam 5 jenis yaitu Menuju SNP
1, Menuju SNP 2, Menuju SNP 3,
Menuju SNP 4 dan SNP. Pembagian
rentang kategori capaian SNP
ditetapkan dengan menggunakan
Tabel 10.1. Kategori Skor Capaian metode fungsi standar deviasi.

Bedasarkan pengkategorian tersebut, sebagian besar sekolah


berada pada kategori menuju SNP 3. Sangat sedikit sekolah
yang mampu memenuhi SNP yaitu hanya 38 sekolah dari
104.994 sekolah. Hal ini mengindikasikan dua hal. Pertama,
upaya peningkatan mutu yang dilakukan sekian lama belum
mampu mendorong sekolah untuk memenuhi SNP dan yang
kedua adalah kemungkinan standar nasional pendidikan yang
ditetapkan terlalu tinggi untuk dipenuhi oleh sekolah.

Gambar 10.2. Jumlah Sebaran Sekolah Berdasarkan Capaian Mutu Per Jenjang

90
Gambar 10.3. Rata-rata Capaian SNP Berdasarkan Sebaran Provinsi

Distribusi pencapaian terhadap SNP berdasarkan provinsi


menunjukkan bahwa provinsi D.I. Yogyakarta konsisten memiliki
rata-rata pencapaian tertinggi dibanding provinsi yang lain untuk
seluruh jnejang dengan rata-rata skor capaian adalah 4,21.
Untuk jenjang pendidikan dasar, provinsi Kalimantan Tengah
berada pada posisi terendah dalam pencapaian terhadap SNP,
untuk jenjang SMA terdapat provinsi Sulawesi Barat dan provinsi
Papua pada jenjang SMK.

Gambar 10.4. Rata-rata Capaian SNP Bedasarkan Standar

91
Rata-rata pencapaian terhadap
SNP berki-sar pada skor 3,8
– 4,0. Pencapaian per standar
menunjukkan bahwa pencapaian
paling baik adalah terhadap
standar kompetensi lulusan dan
pencapaian terhadap standar
penilaian paling rendah pada
seluruh jenjang pendidikan. Hal ini
menimbulkan kontradiksi karena
Gambar 10.5. Rata-rata Skor Capaian standar kompetensi lulusan

merupakan luaran dari suatu proses yang melibatkan standar


penilaian. Bagaimana suatu proses yang kurang dapat
menghasilkan luaran yang baik. Mempertimbangkan bahwa
kekurangan ada pada standar penilaian, dapat diasumsikan
bahwa dengan kemampuan penilaian yang kurang sesuai standar
menjelaskan mengapa penilaian terhadap kompetensi lulusan
menjadi terlihat baik.

Gambar 10.6. Profil Capaian SNP Bedasarkan Jenjang Pendidikan

92
Pola rapor mutu setiap jenjang pendidikan menyerupai satu sama
lain. Mengindikasikan bahwa secara umum permasalahan dalam
pencapaian mutu pendidikan berada pada standar yang sama
yaitu penilaian terutama pada sub indikator cara penilaian yang
transparan.

93
11
BAB 11
KESIMPULAN DAN
SARAN
1. Kesimpulan

1. Pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan di 34 provinsi telah


dilaksanakan dimulai dari penyiapan dokumen, penyiapan
fasilitator nasional, fasilitator daerah dan fasilitator untuk
pemetaan mutu pendidikan serta pengembangan sekolah
model di masing-masing provinsi. Selain itu telah dimulai
pendataan mutu pendidikan yang didukung oleh aplikasi data
mutu pendidikan.

2. Semua LPMP telah melaksanakan sosialisasi PMP dengan


baik sedemikian hingga seluruh pemangku kepentingan telah
memiliki kesadaran bahwa penjaminan mutu pendidikan
harus dilaksanakan demi menjamin mutu proses dan hasil
pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
Sebagai hasilnya telah diperoleh komitmen pemeritah daerah
untuk melaksanakan PMP namun masih membutuhkan
bimbingan dan pembinaan dari pusat.

3. Implementasi PMP yang dilaksanakan oleh LPMP masing-


masing provinsi cukup bervariasi tergantung kepada anggaran
dan sumberdaya yang dimililiki. Kemampuan fasilitator
daerah akan sangat menentukan kualitas implementasi PMP
di masing-masing provinsi.

4. Pengembangan sekolah model telah dilaksanakan di tiap


provinsi, yaitu sekolah model yang melaksanakan PMP.
Kemampuan sekolah model untuk melaksanakan siklus
PMP masih harus ditingkatkan. Jumlah sekolah model yang
dapat dilaksanakan oleh LPMP masih belum sama untuk tiap
kabupaten/kota tergantung pada anggaran, demikian juga
besarnya bantah yang diberikan kepada sekolah model juga
sangat bervariasi.

5. Pengumpulan data mutu pendidikan telah dilaksanakan,


namun kualitas/validitas data yang terkumpul masih harus
ditingkatkan karena kesadaran sekolah untuk memberikan

97
data yang valid masih rendah.

6. Integrasi data mutu pendidikan dengan Dapodik telah


dilakukan sedemikian hingga ditemukan bahwa dalam rangka
melengkapi data mutu sesuai dengan SNP perlu dilakukan
pembenahan data terutama untuk kualitas infrastruktur
pendidikan.

7. Pemetaan mutu pendidikan telah dilakukan untuk tiap jenjang,


mulai dari level sekolah, kabupaten/kota, provinsi sampai ke
level nasional. Namun demikian, peta mutu pendidikan sangat
tergantung kepada kualitas data mutu yang dimasukkan ke
dalam aplikasi.

2. Saran

1. Penguatan SDM untuk dapat mengawal implementasi PMP


masih sangat dibutuhkan, terutama untuk pengembangan
kemampuan fasilitator daerah dan fasilitator untuk
meningkatkan mutu proses pembelajaran.

2. Mengembangkan pedoman PMP yang lebih sederhana dan


lebih mudah dibaca terutama untuk memudahkan sekolah
menjalankan PMP.

3. Kapasitas LPMP dalam melaksanakan program penjaminan


mutu pendidikan perlu terus ditingkatkan baik dari sisi
kapasitas lembaga maupun kualitas SDM. Kemampuan
LPMP melakukan analisis data mutu pendidikan dalam
rangka memberikan masukan kepada pemerintah daerah
perlu dipertajam.

4. Sebagai penyelenggara pendidikan dasar dan menengah,


pemerintah daerah (kabupaten/kota dan provinsi) harus
memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan mutu
pendidikan, oleh karena itu LPMP perlu terus meningkatkan
kerjasama dengan dinas pendidikan terutama untuk

98
memperluas jumlah sekolah yang menjalankan penjaminan
mutu pendidikan melalui program pengimbasan

5. Segera debut rancangan program pengimbasan dalam rangka


perluasan jumlah sekolah yang melaksanakan penjaminan
mutu pendidikan. Untuk itu komitmen pemerintah daerah
dalam menyediakan anggaran pengimbasan perlu dipastikan.

6. Perlu dikembangkan metode pengumpulan data mutu


pendidikan terutama untuk meningkatkan kualitas data dan
meningkatkan kesadaran agar secara rutin memasukkan
data mutu sekolah.

7. Pemetaan mutu pendidikan harus dijaga kontinuitasnya


sehingga dapat dipelajari perubahan mutu sekolah dari
waktu ke waktu.

99
BAB 12
PENUTUP
Penyelenggaraan pendidikan yang bermutu merupakan kewajiban
penyelenggara pendidikan seperti diamanahkan oleh Undang
Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dan
menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 28
Tahun 2016. Penjaminan mutu pendidikan wajib dijalankan oleh
satuan pendidikan untuk menjamin bahwa proses pendidikan
yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan sudah memenuhi
Standar Nasional Pendidikan.

Pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan membutuhkan


dukungan semua pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat,
pemerintah daerah, satuan pendidikan maupun masyarakat.
Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik agar dapat
berjalan dengan lancar serta memberikan hasil yang signifikant
dan terukur.

Selain membuat kebijakan, mengembangkan metodologi untuk


implementasi penjaminan mutu pendidikan, pemerintah pusat
juga akan melakukan pemantauan dan melakukan evaluasi secara
kontinu terhadap pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan.
Evaluasi yang akan dilaksanakan tidak hanya kepada satuan
pendidikan tetapi juga terhadap instansi yang berwenang untuk
menjalankan penjaminan mutu pendidikan. Dengan demikian akan
dapat diketahui peran masing-masing pemangku kepentingan
dalam mendukung program ini.

Kerjasama yang baik antar pemangku kepentingan akan


mempercepat tercapainya mutu pendidikan sesuai dengan
standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

103