Anda di halaman 1dari 3

Penambahan limbah udang pada pakan buatan untuk meningkatkan

pertumbuhan ikan nila merah (oreochromis nileticus)

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas


perikanan yang digemari masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein
hewani karena memiliki daging yang tebal serta rasa yang enak. Ikan nila juga
merupakan ikan yang potensial untuk dibudidayakan karena mampu
beradaptasi pada kondisi lingkungan dengan kisaran salinitas yang luas (Hadi
et al., 2009).

Menurut Ath-thar dan Rudy (2010), ikan nila (Oreochromis niloticus)


merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat Indonesia. Peningkatan produksi ikan nila (O. niloticus) perlu
dilakukan guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Ikan nila merah (O.
niloticus) juga merupakan salah satu jenis ikan yang dicanangkan oleh
Kementrian Kelautan dan Perikanan sebagai ikan yang termasuk kedalam
peningkatan produksi pada tahun 2013. Ikan nila (O. niloticus) memiliki
beberapa keunggulan, diantaranya dapat berkembang biak dengan mudah,
pertumbuhannya cepat, pemakan segala makanan (omnivora) dan kemampuan
untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang baru, contohnya pada media
pemeliharaan dengan salinitas tinggi. Ikan nila merah (O. niloticus) dapat
dibudidayakan di areal bekas tambak udang.

Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) mempunyai prospek yang bagus


untuk dikembangkan di Indonesia, karena budidayanya dapat dilakukan di tambak
dan Karamba Jaring Apung (KJA) di perairan umum. Ikan nila
(Oreochromis nilolicus) mudah berkembang biak, pertumbuhannya cepat,
ukuran badan relatif besar, tahan terhadap penyakit, mudah beradaptasi
dengan lingkungan, harganya relatif murah dan mempunyai nilai gizi yang
cukup tinggi sebagai sumber protein hewani. Ikan nila (Oreochromis niloticus)
merupakan jenis ikan omnivore, artinya dapat memakan tumbuhan maupun
hewan (Al-Arif dan H. Setyono, 2005).

Kendala dalam usaha budidaya perikanan yang banyak dikeluhkan petani


salah satunya adalah mahalnya harga pakan komersil. Pakan sebagai sumber
energi untuk tumbuh merupakan komponen biaya produksi yang jumlahnya
paling Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 2(1) :01-12 (2014) ISSN : 2303-
29602 besar yaitu 40-89% (Afrianto dan Evi, 2005).
Selain itu, pakan komersil memiliki kandungan protein sekitar 26-30%,
sehingga jika manajemen pemberian pakan kurang baik maka dapat
menyebabkan akumulasi amonia yang mempercepat penurunan kualitas air
(Stickney, 2005 dalam Rohmana, 2009).

Penyusunan ransum ikan sebaiknya digunakan protein yang berasal


dari sumber nabati dan hewani secara bersama-sama untuk mencapai
keseimbangan nutrisi dengan harga relatif murah (Mudjiman, 2002). Pakan yang
diberikan pada ikan hendaknya bermutu baik sesuai dengan kebutuhan ikan,
tersedia setiap saat, dapat menjamin kesehatan dan harganya murah ( Amri, 2006).
Salah satu bahan pakan alternatif sebagai sumber protein hewani adalah limbah
udang yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan.

Widjaja (1993) dalam Poultry Indonesia (2007) menyatakan salah satu


pilihan sumber protein adalah tepung limbah udang. Tepung limbah udang
merupakan limbah industri pengolahan udang yang terdiri dari kepala dan
kulit udang. Hasil analisis berdasarkan bahan kering bahwa tepung limbah
udang mengandung 45,29% protein kasar, 17,59% serat kasar, 6,62% lemak,
18,65% abu, 13,16 BETN (Poultry Indonesia, 2007). Tepung limbah udang
yang digunakan dalam ransum pakan buatan hanya sebesar 10% dan bila
dipakai sebagai pengganti tepung ikan, maka tepung limbah udang
mempunyai kelemahan, yaitu serat kasar tinggi dan mempunyai khitin.

Berdasarkan hasil analisis ini terlihat bahwa kandungan protein kasar


dari tepung limbah udang cukup baik dijadikan sebagai bahan pakan ikan.
Tingginya kandungan serat kasar tepung limbah udang menjadi kendala
dalam penggunaannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengolahan tepung
limbah udang dengan cara fermentasi. Al-Arif dan Setyono (2005)
menyatakan fermentasi bisa digunakan untuk mengolah bahan pakan yang
sulit dicerna menjadi lebih mudah dicerna.

Perumusan Masalah

Apakah pemberian tepung limbah udang yang difermentasi dalam ransum


pakan buatan akan memberikan pertumbuhan yang berbeda pada ikan nila
(Oreochromis niloicus)?

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian


tepung limbah udang yang difermentasi terhadap pertumbuhan ikan nila
(Oreochromis niloicus).
Kegunaan

Kegunaan penelitian ini adalah memberikan informasi ilmiah bagi ilmuwan,


mahasiswa dan para pembudidaya tentang kegunaan tepung limbah udang
yang difermentasi terhadap pertumbuhan ikan nila.

Daftar Pustaka

Hadi, M., Agustono dan Y. Cahyoko. 2009. Pemberian tepung limbah udang
yang difermentasi dalam ransum pakan buatan terhadap laju pertumbuhan,
rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup benih ikan nila. Universitas
Airlangga.

Ath-thar, M. H. F. dan Rudhy G. 2010. Performa Ikan Nila Best dalam Media
Bersalinitas. Balai Riset PerikananBudidaya Air Tawar. Prosiding Forum Inovasi
Teknologi Akuakultur. Bogor. Hlm 493-499.

Al-Arif, M. A dan H. Setyono. 2005. Pengolahan Bahan Pakan Ternak.


Universitas Airlangga. hal. 31.

Afrianto, E dan E. Liviawaty. 2005. Pakan Ikan. Kanasius. Yogyakarta.

Rohmana, D. 2009. Konversi limbah budidaya ikan lele, Clarias sp.menjadi


biomassa bakteri heterotrof untuk perbaikan kualitas air dan makanan udang
galah,Macrobrachium rosenbergii. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Amri, M. 2006. Pengaruh Penggunaan Bungkil Inti Sawit Dalam Pakan Terhadap
Performa Ikan Mas (Cyprinus Carpio L). Universitas Bung Hatta. hal. 1-5.

Mudjiman, A. 2002. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. hal. 100 - 151.
Poultry Indonesia. 2007. Limbah Udang Pengganti Tepung Ikan.
http://www.poutryindonesia.com/5 / 09 /2008. 1 hal.

Poultry Indonesia. 2007. Limbah Udang Pengganti Tepung Ikan.


http://www.poutryindonesia.com/5 / 09 /2008. 1 hal.