Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dalam kegiatan penambangannya, PT XXX menggunakan metode


penambangan terbuka yaitu aktivitas pertambangan dilakukan di atas atau
relatif dekat permukaan bumi dan berhubungan langsung dengan dunia
luar. Karena langsung berhubungan dengan dunia luar, maka kondisi kerja
lebih baik dan penggunaan alat-alat mekanispun lebih leluasa. Akan tetapi
disamping keunggulan tersebut, hubungan langsung dengan dunia luar
pada metode penambangan terbuka juga memiliki kekurangan tersendiri.
Salah satu kekurangan metode penambangan terbuka adalah faktor cuaca.
Dalam hal mengatasi faktor hujan, PT XXX menerapkan sistem penirisan
secara repressive kurative yaitu dengan membiarkan air masuk ke
lokasi tambang terkonsentrasi dalam kolam penampung (sump) dan
kemudian dipindahkan dari tambang dengan pemompaan. Kondisi yang
teramati di lokasi penelitian menunjukkan hampir setiap terjadi hujan, air
akan menggenangi tambang bahkan hingga kegiatan penambangan tidak
dapat beroperasi sebagian. Akibatnya terjadi penurunan produktivitas
batubara yang dihasilkan. Selain itu genangan air yang terlalu tinggi juga
mengakibatkan kerusakan-kerusakan seperti lereng- lereng tambang yang
longsor dan jalan-jalan yang hancur.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah kerja praktek ini yaitu :


1. Bagaimana debit air limpasan yang masuk ke dalam tambang yang
tidak terkontrol
2. Bagaimana cara menanggulangi air limpasan di lokasi penambangan
agar penambangan tetap berjalan lancar

1.3. Batasan masalah

Berdasarkan rumusan masalah diatas penulis membatasi kerja praktek ini


mengenai debit air limpasan, dan cara penanggulangan air limpasan.

1.4 Tujuan kerja praktek

Tujuan dari kerja praktek ini adalah


1. Untuk mengetahui debit air limpasan di lokasi penambangan.
2. Menentukan metode penanggulangan debit air limpasan di lokasi
penambangan agar tetap stabil.
1.5 Manfaat kerja praktek
1. Sebagai latihan bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja
2. Membentuk pribadi yang mandiri dan mampu mengaktualisasikan diri
dalam sejumlah aktivitas dengan dunia kerja
3. Mengembangkan pola pikir yang berkualitas dalam mengambil setiap
keputusan

1.6 Waktu dan tempat kerja praktek


Kegiatan Kerja Praktek ini dilaksanakan selama 1 (satu) Bulan Mei yang
bertempat di PT.xxx. Adapun jadwal kegiatan Kerja Praktek dapat dilihat pada
tabel 1.1.

Bulan
N
Minggu I II III IV
O
Hari S S R K J S S R K J S S R K J S S R K J
Persiapan
1
/ Orientasi
Pengambil
2 an
Data
Pengolaha
3 n
Data
4 Laporan
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Profil PT. Vale Indonesia Tbk


PT. Vale Indonesia adalah salah satu produsen utama nikel di
dunia.Nikel adalah logam serba guna yang penting bagi taraf hidup yang
semakin membaik bagi pertumbuhan ekonomi. Selama lebih dari tiga dekade
sejak kontrak karya ditandatangani dengan Pemerintah Republik Indonesia
pada tahun 1968, perseroan telah menyediakan pekerjaan yang membutuhkan
keterampilan, memperlihatkan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat
dimana perseroan beroperasi memberikan keuntungan bagi para pemegang
saham dan memberi sumbangan yang positif kepada ekonomi Indonesia.
PT. Vale Indonesia menghasilkan nikel sulfida yaitu produk
setengah jadi dari bijih laterit, dari aktivitas pertambangan dan pengolahan
yang terpadu di wilayah Sorowako, Sulawesi Selatan.Daya saing PT. Vale
Indonesia, terletak pada cadangan bijih dalam jumlah besar. Tenaga kerja
yang terampil, terlatih, listrik tenaga air berbiaya rendah, fasilitas produksi
yang modern dan pasar yang terjamin untuk produknya.
Saham perseroan sebanyak 60,8% saham perseroan dimiliki oleh
Vale Inco Limited, salah satu produsen nikel terkemuka di dunia dan 20,1%
oleh Sumitomo Metal Mining Co., Ltd., Jepang, sebuah perusahaan tambang
dan peleburan yang utama. Disamping itu 20,0% saham PT. Vale Indonesia,
Tbk Sorowako dimiliki oleh pemegang saham publik dan sisanya oleh empat
perusahaan Jepang lain.
2.2 Geografi Daerah Penelitian
1. Lokasi Kesampaian Daerah
Kawasan penambangan PT. Vale Indonesia, Tbk Sorowako terletak pada
Kabupaten Nuha Timur Provinsi Sulawesi Selatan yang dapat ditempuh
dengan jalur darat dari Kabupaten Kolaka dengan kendaraan bermotor
melewati perbatasan antara Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh sejauh 304 Km atau sekitar 11 Jam berkendara. Peta
Lokasi Kesampaian Daerah Penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Sumber : laporan KP Muhammad zainal


Gambar 2.1
Peta Lokasi Kesampaian Daerah Sorowako

2. Wilayah PT. Vale Indonesia, Tbk.

Sumber : PT.Vale Indonesia, Tbk. Sorowako


Gambar 2.2
Wilayah Kontrak Kerja PT.Vale Indonesia,Tbk.
PT. Vale Indonesia mempunyai kontrak karya seluas 218.528,99 ha,
terletak pada koordinat 121018’57”- 121026’50” BT dan 2032’59” LS. Secara
umum wilayah kontrak karya PT. Vale Indonesia dibagi dalam 3 kategori,
yaitu:
1. Lokasi Sorowako Project Area (SPA), luas sekitar 10.010,22 ha.
2. Lokasi Sorowako Outer Area (SOA), luas sekitar 108.377,25 ha, meliputi
daerah Lingke, Lengkobale, Lasobonti, Lambatu, Tanamalia, Lingkona,
Lampenisu, Lampesue, Petea’a, Tompemanu, Tanah Merah, Nuha,
Matano, Larona dan Malili.
3. Lokasi Sulawesi Coastal Deposite (SCD) , luas sekitar 100.141,54 ha,
meliputi daerah Bahadopi, Kolonedale (Sulawesi Tengah), daerah Latao,
Sua-Sua, Pao-Pao, Pomala, Malapulu, Torobulu, Lasolo serta Matarape
(Sulawesi Utara).

2.3 Geologi Regional


Ada beberapa penelitian yang menjelaskan mengenai proses tektonik dan
geologi daerah Sorowako, antara lain adalah Sukamto (1975) yang membagi
pulau Sulawesi dan sekitarnya terdiri dari 3 Mandala Geologi yaitu:
1. Mandala Geologi Sulawesi Barat, dicirikan oleh adanya jalur gunung api
Paleogen ,
2. Intrusi Neogen dan sedimen Mesozoikum. Mandala Geologi Sulawesi
Timur, dicirikan oleh batuan Ofiolit yang berupa batuan ultramafik
peridotite, harzburgit, dunit, piroksenit dan serpentinit yang diperkirakan
berumur kapur.
3. Mandala Geologi Banggai Sula, dicirikan oleh batuan dasar berupa batuan
metamorf Permo-Karbon, batuan batuan plutonik yang bersifat granitis
berumur Trias dan batuan sedimen Mesozoikum.

Menurut Hamilton ( 1979 ) dan Simanjuntak ( 1991 ), Mandala


Geologi banggai Sula merupakan mikro kontinen yang merupakan pecahan
dari lempeng New Guinea yang bergerak kearah barat sepanjang sesar
sorong. (Gambar 3.1 ).
Daerah Soroako dan sekitarnya menurut ( Sukamto,1975,1982 &
Simanjuntak, 1986 ) adalah termasuk dalam Mandala Indonesia bagian Timur
yang dicirikan dengan batuan ofiolit dan Malihan yang di beberapa tempat
tertindih oleh sedimen Mesozoikum.

Sumber : PT.Vale Indonesia, Tbk. Sorowako


Gambar 2.6
Geologi Umum Dan Tektonik Sulawesi ( Hamilton 1972 )

Sedangkan Golightly ( 1979 ) mengemukakan bagian Timur Sulawesi


tersusun dari 2 zona melange subduksi yang terangkat pada pre – dan post-
Miosen (107 tahun lalu). Melange yang paling tua tersusun dari sekis yang
berorientasi kearah Tenggara dengan disertai beberapa tubuh batuan ultrabasa
yang penyebarannya sempit dengan stadia geomorfik tua. Sementara yang
berumur post Miocene telah mengalami pelapukan yang cukup luas sehingga
cukup untuk membentuk endapan nikel laterite yang ekonomis, seperti yang
ada di daerah Pomalaa.
Geologi daerah Soroako dan sekitarnya sudah dideskripsikan sebelumnya
secara umum oleh Brouwer (1934), van Bemmelen (1949), Soeria Atmadja et
al (1974) dan Ahmad (1977). Namun yang secara spesifik membahas tentang
geologi deposit nikel laterit adalah Golightly (1979), dan Golightly membagi
geologi daerah Soroako menjadi tiga bagian, seperti yang terlihat dalam
Gambar 2.6, yaitu :
 Satuan batuan sedimen yang berumur kapur; terdiri dari batugamping
laut dalam dan rijang. Terdapat di bagian barat Soroako dan dibatasi
oleh sesar naik dengan kemiringan ke arah barat.
 Satuan batuan ultrabasa yang berumur awal tersier; umumnya terdiri
dari jenis peridotit, sebagian mengalami serpentinisasi dengan derajat
yang bervariasi dan umumnya terdapat di bagian timur. Pada satuan ini
juga terdapat terdapat intrusi-intrusi pegmatit yang bersifat gabroik dan
terdapat di bagian utara.
 Satuan aluvial dan sedimen danau (lacustrine) yang berumur kuarter,
umumnya terdapat di bagian utara dekat desa Soroako.

Sumber : PT.Vale Indonesia, Tbk. Sorowako

Gambar 2.7
Geologi DaerahSoroako (Golightly 1979 )

Sesar besar disekitar daerah ini menyebabkan relief topografi sampai


600 mdpl dan sampai sekarang aktif tererosi. Sejarah tektonik dan geomorfik
dikompleks ini sangat penting untuk pembentukan nikel laterite yang bernilai
ekonomis. Matan ofault yang membuat topographic liniament yang cukup
kuat adalah sesar mendatar sinistralaktif yang termasuk strike slip fault dan
menggeser Matan olimestone dan batuan lainnya sejauh 18 km kearah barat
pada sisi Utara. Danau Matano yang mempunyai kedalaman sekitar 600 m
diperkirakan adalah graben yang terbentuk akibat efek zona dilatasi dari
sesar tersebut. Danau Towuti pada sisi selatan dari sesar diperkirakan
merupakan pergeseran dari lembah Tambalako akibat pergerakan sesar
Matano. Pergerakan sesar ini memblok aliran air kearah utara sepanjang
lembah dan membentuk danau Towuti dan aliran airnya beralih kebarat
menuju sungai Larona. Danau – danau yang terbentuk akibat dari
“damming effect” dari sesar ini merupakan bendungan alami yang menahan
laju erosi dan membantu mempertahankan deposit nikel laterit yang terbentuk
di daerah Soroako dan sekitar kompleks danau.

2.4 Geomorfologi Regional


Tinjauan mengenai geomorfologi regional yang meliputi daerah
penelitian dan sekitarnya didasari pada laporan hasil pemetaan geologi lembar
Malili, Sulawesi yang disusun oleh Simandjuntak, dkk (1991). Daerah
penelitian termasuk dalam geomorfologi regional Lembar Malili yang
merupakan Mandala Sulawesi Timur, yang dapat dibagi dalam daerah
pegunungan, daerah perbukitan, daerah krast dan daerah pedataran. Daerah
pegunungan menempati bagian barat dan tenggara. Di bagian barat terdapat
dua rangkaian pegunungan yakni Pegunungan Tineba dan Pegunungan
Koroue ( 700 - 3.016 m ) yang memanjang dari baratlaut-tenggara dibentuk
oleh batuan granit dan malihan. Sedang bagian tenggara ditempati
Pegunungan Verbeek dengan ketinggian 800 - 1.346 meter di atas permukaan
laut disusun oleh batuan basa, ultrabasa dan batugamping.
Daerah perbukitan menempati bagian tenggara dan timurlaut
dengan ketinggian 200 - 700 meter dan merupakan perbukitan agak
landai yang terletak diantara daerah pegunungan dan daerah pedataran.
Perbukitan ini dibentuk oleh batuan vulkanik, ultramafik dan batupasir.
Dengan puncak tertinggi adalah Bukit Bukila (645m).
Daerah karst menempati bagian timurlaut dengan ketinggian 800 – 1700
m dan dibentuk oleh batugamping. Daerah ini dicirikan oleh adanya dolina
dan sungai bawah permukaan. Puncak tertinggi adalah Bukit Wasopute (
1.768 m ).
a. Stratigrafi Regional
Berdasarkan himpunan batuan, struktur dan biostratigrafi, secara regional
Lembar Malili termasuk Mandala Geologi Sulawesi Timur dan Mandala
Geologi Sulawesi Barat dengan batas Sesar Palu-Koro yang membujur
hampir utara - selatan. Mandala Geologi Sulawesi Timur dapat dibagi ke
dalam lajur batuan malihan dan lajur ofiolit Sulawesi Timur yang terdiri dari
batuan ultramafik dan batuan sedimen pelagis Mesozoikum.
Mandala geologi Sulawesi Barat dicirikan oleh lajur gunungapi Paleogen
dan Neogen, intrusi neogen dan sedimen flysch Mezosoikum yang
diendapkan di pinggiran benua (Paparan Sunda).
Di Mandala Geologi Sulawesi Timur, batuan tertua adalah batuan ofiolit
yang terdiri dari ultramafik termasuk dunit, harzburgit, lherzolit, piroksenit
websterit, wehrlit dan serpentinit, setempat batuan mafik termasuk gabro
dan basal. Umurnya belum dapat dipastikan, tetapi dapat diperkirakan
sama dengan ofiolit di Lengan Timur Sulawesi yang berumur Kapur Awal
- Tersier (Simandjuntak, 1991).
b. Struktur Geologi Regional
Struktur geologi Lembar Malili memperlihatkan ciri kompleks
tumbrukan dari pinggiran benua yang aktif. Berdasarkan struktur, himpunan
batuan, biostratigrafi dan umur, daerah ini dapat dibagi menjadi 2 kelompok
yang sangat berbeda, yakni : Alohton yang terdiri dari Ofiolit dan malihan,
sedangkan Autohton terdiri dari : Batuan gunungapi dan pluton Tersier dari
pinggiran Sunda land, serta kelompok Molasa Sulawesi.
Struktur – struktur geologi yang penting di daerah ini adalah sesar, lipatan
dan kekar. Secara umum sesar yang terdapat di daerah ini berupa sesar naik,
sesar sungkup, sesar geser, dan sesar turun, yang diperkirakan sudah mulai
terbentuk sejak Mesozoikum. Beberapa sesar utama tampaknya aktif kembali.
Sesar Matano dan Sesar Palu Koro merupakan sesar utama berarah baratlaut -
tenggara dan menunjukkan gerak mengiri. Diduga kedua sesar itu masih aktif
sampai sekarang, keduanya bersatu di bagian baratlaut. Pada Kala Oligosen,
Sesar Sorong yang menerus ke Sesar Matano dan Palu Koro mulai aktif
dalam bentuk sesar transcurrent. Akibatnya mikro kontinen Banggai Sula
bergerak ke arah barat dan terpisah dari benua Australia. Lipatan yang
terdapat di daerah ini dapat digolongkan ke dalam lipatan lemah, lipatan
tertutup dan lipatan tumpang-tindih, sedangkan kekar terdapat dalam hampir
semua jenis batuan dan tampaknya terjadi dalam beberapa periode.
Pada Kala Miosen Tengah, bagian timur kerak samudera di Mandala
Sulawesi Timur yakni Lempeng Banggai Sula yang bergerak ke arah barat
tersorong naik. Di bagian barat lajur penunjaman dan busur luar
tersesarsungkupkan di atas busur gunungapi, mengakibatkan ketiga Mandala
tersebut saling berhimpit.

2.5 Proses Penambangan


Bijih nikel sulfida merupakan endapan yang terjadi sebagai mineral
kompleks dengan kandungan tembaga, perak, dan kobalt. Bijih laterit
merupakan endapan massif dan dapat ditemukan pada permukaan tanah atau
tidak jauh di dalam permukaan tanah.Sebagian besar nikel terdapat dalam inti
bumi bersama besi, sehingga jumlah yang ditemukan di kerak bumi relatif
kecil.
Operasi penambangan yang dilakukan PT. Vale adalah secara open
mining. Operasi ini dilakukan pada pegunungan Verbeek dengan ketinggian
500-700 m dari permukaan laut, sekitar 10 Km dari pusat kota Sorowako.
Luas daerah penambangan bijih nikel yang dikontrak oleh PT. Vale adalah
218.000 ha dan hanya 1/9 bagian yang ditambang.
Daerah penambangan bijih nikel tersebut dibagi atas dua tipe geologi
yang berbeda, yaitu daerah timur (east block) dan daerah barat (west block).
Daerah timur rata-rata mengandung 1,8% nikel dengan kadar silika rendah.
Daerah barat rata-rata mengandung 2,1% nikel dengan kadar silika yang
tinggi.
Meskipun kandungan nikelnya rendah, ongkos penambangan daerah
timur jauh lebih murah dibandingkan di barat. Hal ini disebabkan karena
daerahnya lebih lunak dibandingkan di barat yang banyak mengandung batu-
batuan yang besar, sehingga terkadang memerlukan bantuan peledak untuk
menambangnya.

Sumber : (Golightly, dalam Musnajam, 2008)


Gambar 2.3 Profil endapan nikel laterit

Sumber : PT.Vale Indonesia, Tbk. Sorowako


Gambar 2.4 Kegiatan Operasi Penambangan
1) Land Clearing
Tahapan ini meliputi pembersihan tanaman/tumbuhan dengan
menggunakan bulldozer.Pohon-pohon berukuran besar ditebang dan
kayunya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.
2) Stripping
Pada tahap ini dilakukan proses pengupasan lapisan tanah penutup atau
over burden, yaitu tanah dengan lapisan nikel rendah. Tanah ini
diangkut ke tempat pembuangan (disposal) atau digunakan untuk
menutupi daerah purna tambang (post mining) sebagai dasar bagi
tanaman penghijauan dalam rangka menghutankan kembali
(revegetation).
3) Ore Mining (Penambangan Bijih)
Pada tahap ini dilakukan pengambilan lapisan tanah yang mengandung
nikel dengan kadar sedang menjadi kadar tinggi yang ekonomis untuk
ditambang. Bijih nikel untuk kadar sedang, yang biasa disebut medium
grade limonite (kadar nikelnya ±1.8%) diangkut dan ditumpuk pada
daerah tertentu. Untuk bijih nikel dengan kadar tinggi (saprolite ore)
yaitu ±2.1% diangkut ke tempat penyaringan bijih (screening station).
4) Screening (Pengayakan)
Pengayakan dilakukan di screening station untuk memperoleh bijih
dengan ukuran yang diinginkan pabrik. Di sini akan dipisahkan batuan -
6 inch dan +6 inch.
Peralatan tambang yang digunakan adalah :
 Bull Dozer (alat pendorong)
 Excavator (alat penggali/penyendok)
 Shovel/Loader (penggali/pemuat)
 Heavy Haul Truck (alat angkut berat)
 Grader (alat perata jalan)
 Compactor (alat pemadat/pengeras jalan)

2.6 Proses Pengolahan Nikel (Nickel Processing)


Proses yang digunakan dalam proses pengolahan bijih nikel adalah proses
pyrometallurgy. Pengolahan bijih nikel dimaksudkan untuk mendapatkan
matte dengan kadar nikel 75 - 78%, Fe < 0.7%, Sulfur antara 18.5 – 22 % dan
kobalt sebesar 1 %. Produk akhir dari pengolahan tersebut diperoleh melalui
beberapa proses, sebagai berikut

Sumber : PT.Vale Indonesia, Tbk. Sorowako


Gambar 2.5 Proses Pengolahan Nikel
BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Air Limpasan

Bila curah hujan melampaui kapasitas penyerapan (infiltrasi), maka


besarnya limpasan permukaan akan segera meningkat sesuai dengan
peningkatan intensitas curah hujan, akan tetapi besarnya air limpasan ini tidak
sebanding dengan peningkatan curah hujan karena disebabkan oleh efek
penggenangan di permukaan tanah. Air limpasan disebut juga dengan air
permukaan tanah. Besarnya air limpasan adalah besarnya curah hujan
dikurangi besarnya penyerapan dan penguapan. Besarnya air limpasan
tergantung pada banyak faktor, sehingga tidak semuanya air yang berasal dari
curah hujan akan menjadi sumber bagi suatu sistem drainase atau pembuangan
air.

Dari sekian banyak faktor yang paling banyak atau besar pengaruhnya
adalah kondisi penggunaan lahan dan kemiringan atau perbedaan ketinggian
daerah, faktor-faktor ini digabungkan dan dinyatakan oleh suatu angka yang
disebut koefisien limpasan (Tabel 3.1). Penentuan besar debit air limpasan
maksimum ditentukan dengan metode “Rasional”, Metode ini hanya berlaku
untuk menghitung limpasan curah hujan.

Metode Rasional sebagai berikut :


Q = 0,278 . C . I . A …………………………………… (3.8)
Dimana :
Q = Debit aliran limpasan (m³/detik)
C = Koefisien limpasan (Tabel 3.2)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Luas daerah tangkapan Hujan (Km²)

Tabel 3.1 Harga Koefisien Limpasan

Kemiringan Kegunaan Lahan Koefisien


limpasan

- Sawa, Rawa 0,2


< 3% - Hutan, Perkebunan 0,3
- Perumahan dengan Kebun 0,4

- Hutan, perkebunan 0,4


3% - 5% - Perumahan 0,5
- Tumbuhan yang jarang 0,6
- Tanpatumbuhandaerah 0,7
penumbunan

- Hutan 0,6
>15% - Perumahan, kebun 0,7
- Tumbuhan yang jarang 0,8
- Tanpa tumbuhan, d aerah tambang 0,9

Sumber : Takeda Kensaku, Suyono Sosrodarsono, “HidrologiUntuk


Pengairan”,1993.

3.2 Air Tanah


Sumber air tanah berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi
dan mengalami infiltrasi, klasifikasi air tanah menurut Kiyota Muri terbagi atas
tiga bagian , yaitu :

1. Air tanah bebas yaitu air tanah yang terdapat pada lapisan tanah atau batuan
permeable yang jenuh air, dimana bagian bawahnya terdapat lapisan kedap
air (impermeable), sedangkan bagian atas tidak tertutup lapisan kedap air
2. Air tanah tertekan yaitu air tanah yang terdapat pada aquiefer, dimana
terletak antara lapisan impermeable.
3. Air tanah tumpang yaitu air tanahyang terbentuk diatas lapisan kedap air.
Dari ketiga jenis air tanah tersebut yang paling besar pengaruhnya terhadap
jumlah rembesan air tanah atau air hujan yang jatuh ke permukaan bumi
yang masuk ke dalam front penambangan adalah air tanah dan air hujan
yang bebas, rembesan air tanah dapat terjadi karena adanya perbedaan
tekanan ketinggian air tanah.
3.3 Keadaan Topografi Daerah Penambangan

Keadaan topografi daerah penambangan mempunyai pengaruh terhadap


sistem drainase tambang dimana pada daerah yang terjal akan menghasilkan
laju dan volume aliran permukaan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
daerah yang landai. Sehingga penentuan sistem drainase harus disesuaikan
dengan keadaan daerah penambangan tersebut.

3.4 Curah Hujan Dan Intensitas Curah Hujan

Curah hujan adalah besarnya air hujan yang jatuh kepermukaan bumi pada
satuan luas. Satuan curah hujan dinyatakan dalam millimeter. Dengan
demikian apabila diketahui curah hujan 1 mm berarti curah hujan tersebut
adalah sama dengan 1 liter/m2. Jadi curah hujan merupakan jumlah air hujan
yang jatuh pada suatu satuan luas.

Curah hujan pada daerah kerja praktek sangat berpengaruh terhadap sistem
drainase terutama untukMine Dewatering. Mengingat hal tersebut, maka
diperlukan data-data curah hujan yang mewakili daerah kerja praktek.
Data curah hujan yang akan dianalisis adalah data curah hujan harian
maksimum dalam satu tahun selama kurang lebih 10 (sepuluh) tahun yaitu dari
tahun 2006 - 2015 yang dinyatakan dalam (mm/hari) .
Hasil pengamatan data curah hujan dianalisis dengan metode statistik yaitu
Metode Gumbell dengan periode ulang (Time Periode) sesuai dengan umur
eksplorasi tambang.

Tabel 3.2 Derajat Curah Hujan Dan Intensitas Curah Hujan

Intensitas Curah
Derajat Hujan Kondisi
Hujan(mm/ menit)
Hujan Sangat < 0,02 Tanah agak basah atau
Lemah dibasahi sedikit

Tanah menjadi basah

Hujan Lemah Bunyi curah hujan


0,02 – 0,05
terdengar
Hujan normal 0,05 – 0,25
Air hujan seluruh
Hujan Deras 0,25 – 1, 00
permukaan lahan dan
terdengar bunyi dari
genangan

Hujan Sangat > 1,00 Hujanseperti


Deras ditumpahkan saluran
dan drainase meluas

Sumber: Takeda kensaku, Suyono Sasrodarsono,“Hidrologi Untuk


Pengairan”,1993

3.5 Daerah Tangkapan Hujan ( Catchment Area )


Air hujan yang mempengaruhi secara langsung suatu sistem drainase
tambang adalah air hujan yang mengalir di atas permukaan anah (air
permukaan) ditambah sejumlah pengaruh air tanah.
Air hujan (air permukaan) yang mengalir ke areal penambangan
tergantung pada kondisi daerah tangkapan hujan yang dipengaruhi oleh daerah
sekitarnya. Luas daerah tangkapan hujan dapat ditentukan berdasarkan analisa
peta topografi, berdasarkan kondisi daerahnya seperti adanya daerah hutan,
lokasi penimbunan, kepadatan alur drainase, serta kondisi kemiringan.
Sumber utama air limpasan permukaan pada suatu tambang terbuka
adalah air hujan. Jika curah hujan yang relatif tinggi padadaerah tambang maka
perlu penanganan air hujan yang baik (sistem drainase), agar produktifitas
tambang tidak menurun. Faktor-faktor yang mempengaruhi air limpasan antara
lain :
1. Faktor Meteorologi
a. Jenis presipitasi yaitu hujan dan salju. Hujan mempengaruhi secara
langsung, sedangkan salju tidak mempengaruhi secara langsung
b. Intensitas curah hujan yang bergantung kepada kapasitas infiltrasi
dimana jika air hujan yang jatuh kepermukaan tanah melampaui
kapasitas infiltrasi maka besar limpasan akan meningkat
c. Lamanya curah hujan dalam waktu yang panjang akan memperbesar
limpasan.
2. Faktor Fisik
a. Kondisi penggunaan tanah misalnya: air yang jatuh di daerah vegetasi
yang kurang lebat, kemudian mengisi rongga-rongga tanah yang terbuka
akan cepat mengalami infiltrasi dan apabila daya tampung dalam lekukan
permukaan tanah telah penuh, maka selisih antara curah hujan dan
kapasitas infiltrasi akan menyebabkan limpasan air hujan mengalir di
permukaan tanah.
b. Jenis tanah dan bentuk butir adalah faktor yang mempengaruhi kapasitas
infiltrasi.
c. Faktor lain yang mempengaruhi limpasan seperti pola aliran sungai dan
daerah pengaliran secara tidak langsung serta drainase buatan lain.