Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis,

tubula dan jaringan interstisiel. Penyakit ini terjadi akibat infeksi oleh bakteri

enterit (paling umum adalah Escherichia Coli) yang telah menyebar dari

kandung kemih ke ureter dan ginjal akibat refluks vesikouretral. Penyebab lain

pielonefritis mencakup obstruksi urine atau infeksi, trauma, infeksi yang berasal

dari darah, penyakit ginjal lainnya, kehamilan, atau gangguan metabolik

(Sandra M. Nettina, 2001).


Penyebab pielonefritis yang paling sering adalah Escherichia Coli.

Tanda dan gejalanya adalah demam timbul mendadak, menggigil, malaise,

nyeri tekan daerah kostovertebral, leukositosis, dan bakteriuria (Sylvia A. Price

dan M. Willson, 2005).


Berdasarkan hasil penelitian glomerulonefritis dan pielonefritis lebih

sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki.

Karena bentuk uretranya yang lebih pendek dan letaknya berdekatan dengan

anus. Studi epidemiologi menunjukkan adanya bakteriuria yang bermakna pada

1% sampai 4% gadis pelajar. 5%-10% pada perempuan usia subur, dan sekitar

10% perempuan yang usianya telah melebihi 60 tahun. Pada hampir 90% kasus,

pasien adalah perempuan. Perbandingannya penyakit ini pada perempuan dan

laki-laki adalah 2 : 1.

1.2 Tujuan Penulisan


1
2

1.2.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan Asuhan Keperawatan

pada pasien dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas.

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Untuk memahami Anatomi dan Fisiologi Ginjal.

2. Untuk memahami Definisi dari Pielonefritis.

3. Untuk memahami Etiologi dari Pielonefritis.

4. Untuk memahami Epidemologi dari Pielonefritis.

5. Untuk memahami Klasifikasi Pielonefritis.

6. Untuk memahami Patofisiologi dari Pielonefritis.

7. Untuk memahami WOC dari Pielonefritis.

8. Untuk memahami Manifestasi Klinis Pielonefritis.

9. Untuk memahamii Pemeriksaan Penunjang Pielonefritis.

10. Untuk memahami Penatalaksanaan Medis Pielonefritis.

11. Untuk memahami Komplikasi dari Pielonefritis.

12. Untuk memahami Konsep Asuhan Keperawatan pada pasien dengan

Pielonefritis.

1.3 Manfaat Penulisan

1. Mampu melakukan pengkajian terhadap pasien dengan Infeksi Saluran

Kemih (ISK) Atas


2. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan terhadap pasien

dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas


3

3. Mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan

Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas


4. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan

Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas


5. Dapat melakukan evaluasi hasil dari tindakan keperawatan yang di

berikan kepadakomunitas dengan kasus Kusta.

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi Fisiologi

Sistem perkemihan atau sistem urinaria terdiri atas dua ginjal yang fungsinya

membuang limbah dan substansi berlebihan dari darah, dan membentuk kemih dan

dua ureter, yang mengangkut kemih dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria)

yang berfungsi sebagai reservoir bagi kemih dan urethra. Saluran yang menghantar

kemih dari kandung kemih keluar tubuh sewaktu berkemih. Setiap hari ginjal

menyaring 1700 L darah, setiap ginjal mengandung lebih dari 1 juta nefron, yaitu

suatu fungsional ginjal. Ini lebih dari cukup untuk tubuh, bahkan satu ginjal pun
4

sudah mencukupi. Darah yang mengalir ke kedua ginjal normalnya 21 % dari curah

jantung atau sekitar 1200 ml/menit.

Masing-masing ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm

pada bagian paling tebal. Berat satu ginjal pada orang dewasa kira-kira 150 gram dan

kira-kira sebesar kepalang tangan. Ginjal terletak retroperitoneal dibagian belakang

abdomen. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar disisi

kanan. Ginjal berbentuk kacang, dan permukaan medialnya yang cekung disebut hilus

renalis, yaitu tempat masuk dan keluarnya sejumlah saluran, seperti pembuluh darah,

pembuluh getah bening, saraf dan ureter. Panjang ureter sekitar 25 cm yang

menghantar kemih. Ia turun ke bawah pada dinding posterior abdomen di belakang

peritoneum. Di pelvis menurun ke arah luar dan dalam dan menembus dinding

posterior kandung kemih secara serong (oblik). Cara masuk ke dalam kandung kemih

ini penting karena bila kandung kemih sedang terisi kemih akan menekan dan

menutup ujung distal ureter itu dan mencegah


4 kembalinya kemih ke dalam ureter.

Adapun fungsi dari ginjal adalah:


1. Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis/racun
2. Mempertahankan suasana keseimbangan cairan
3. Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh
4. Mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh
5. Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum,kreatinin dan

amoniak

Kandung kemih bila sedang kosong atau terisi sebagian, kandung kemih ini

terletak di dalam pelvis, bila terisi lebih dari setengahnya maka kandung kemih ini

mungkin teraba di atas pubis. Peritenium menutupi permukaan atas kandung kemih.

Periteneum ini membentuk beberapa kantong antara kandung kemih dengan organ-
5

organ di dekatnya, seperti kantong rektovesikal pada pria, atau kantong vesiko-

uterina pada wanita. Diantara uterus dan rektum terdapat kavum douglasi.

Uretra pria panjang 18-20 cm dan bertindak sebagai saluran untuk sistem

reproduksi maupun perkemihan. Pada wanita panjang uretra kira-kira 4 cm dan

bertindak hanya sebagai system Perkemihan. Uretra mulai pada orifisium uretra

internal dari kandung kemih dan berjalan turun dibelakang simpisis pubis melekat ke

dinding anterior vagina. Terdapat sfinter internal dan external pada uretra, sfingter

internal adalah involunter dan external dibawah kontrol volunter kecuali pada bayi

dan pada cedera atau penyakit saraf.

2.2 Definisi

Infeksi Saluran Kemih atau urinarius Troctus infection adalah suatu keadaan

adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001)

Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang di

sebabkan oleh bakteri terutama escherichia coli, resiko dan beratnya meningkat

dengan kondisi seperti refluksvesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis

perkemihan, pemakaian instrumen baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk,1998)

Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk

mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya,

Suwanto, 2001)

Klasifiksi infeksi saluran kemih sebagai berikut :


1. Kandung kemih (sistitis)
Sistitis (inflamasi pada vesika urinari) lebih sering terdapat pada wanita dari

pada pria karna dekatanya muara uretra dan vagina dengan daerah anal. Organisme
6

gram negative dapat sampai ke saluran kemih selama bersetubuh, trauma uretra, atau

karana kurang higinies.


Biasanya organisme ini cepat di keluarakan sewaktu berkemih ( Miksi ). Pada

pria secret prostat memiliki sifat antibacterial. Akibat paling bahaya dari sistitis

adalah pielonefritis, dengan naiknya kuman kuman dari kandung kemih ke pelvis

ginjal. Manifestasi klinis menunjukkan bakteriuria pada 60-70% kasus, dysuria,

sering berkemih, merasa ingin berkemih terus, sakit di atas suprapubis. Setiap pasien

yang di pasang kateter memiliki resiko tinggi terkena sisititis.


2. Uretritis
Infeksi yang terjadi pada uretra. Sama halnya dengan sistitis, uretritis ini

disebabkan oleh Organisme gram negative yang di dapat selama bersetubuh, trauma

uretra, atau karna kurang higinies.


3. Prostat (prostatitis)
4. Ginjal (pielonefritis)

Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis, tubula dan

jaringan interstisiel. Penyakit ini terjadi akibat infeksi oleh bakteri enterit (paling

umum adalah Escherichia Coli) yang telah menyebar dari kandung kemih ke ureter

dan ginjal akibat refluks vesikouretral. Penyebab lain pielonefritis mencakup

obstruksi urine atau infeksi, trauma, infeksi yang berasal dari darah, penyakit ginjal

lainnya, kehamilan, atau gangguan metabolik (Sandra M. Nettina, 2001).

Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal (pelvis renalis),

tubulus, dan jaringan intestinal dari salah satu atau kedua ginjal. (Brunner dan

Suddarth, 2002)
7

Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara

hematogen atau retrograd aliran ureterik (J.C.E. Underwood, 2007).

Pielofritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal yang sifatnya

akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama satu sampai

dua minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat

menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis.

2.3 Etiologi
Penyebab dari pielonefritis adalah berbagai macam bakteri. Uropatogen

adalah agen bakteri yang meliputi Escherichia coli, klebsilla, proteus, dan

staphylococcus aureus. Infeksi saluran kemih terutama pada kondisi statis kemih

akibat batu saluran kemih, refluks vesikoureter dan penurunan imunitas pada proses

penuaan, serta peningkatan kadar glukosa dalam urine pada pasien diabetes melitus

dimana akan menyebabkan pertumbuhan bakteri lebih besar.

2.4 Epidemiologi

Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari

semua umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan

tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka

populasi umur, kurang lebih 5 – 15 %. Anak wanita dan wanita dewasa mempunyai

insiden infeksi saluran kemih yang lebih tinggi dibandingkan pria. Hal Tingkat

infeksi untuk wanita dikalangan usia sekolah kira-kira 1% dan 4% pada usia masa

subur ISK lebih sering terjadi pada wanita, salah satu penyebabnya karena
8

kedekatan jarak anus dengan meatus uretra dan uretra wanita lebih pendek sehingga

bakteri kontaminan lebih mudah masuk ke kandung kemih. (Potter & Perry,

2005,1687)

Faktor lain adalah kecenderungan wanita menahan miksi, serta iritasi kulit

lubang uretra pada waktu berhubungan kelamin. Uterus pada wanita juga dapat

menghambat aliran urine pada keadaan tertentu.

2.5 Klasifikasi
Ginjal merupakan bagian utama dari sistem saluran kemih yang terdiri atas

organ organ tubuh yang berfungsi memproduksi maupun menyalurkan air kemih atau

urin keluar tubuh. berbagai penyakit dapat menyerang komponen komponen ginjal,

antar lain yaitu infeksi ginjal. Pielonefritis dibagi dua macam yaitu :
1. Pyelonefritis akut
Pyelonephritis akut merupakan salah satu penyakit ginjal yang sering ditemui.

Gangguan ini tidak dapat dilepaskan dari infeksi saluran kemih. Pielonefritis akut

biasanya sin gkat dan sering terjadi infeksi berulang karena terapi tidak sempurna

atau infeksi baru, 20% dari infeksi yang berulang terjadi setelah dua minggu

setelah terapi selesai. Infeksi bakteri dari saluran kemih bagian bawah ke arah

ginjal, hal ini akan mempengaruhi fungsi ginjal. Infeksi saluran urinarius atas

dikaitkan dengan selimut antibodi bakteri dalam urin. Ginjal biasanya

membesar disertai infiltrasi interstisial sel-sel inflamasi. Abses dapat dijumpai

pada kapsul ginjal dan pada taut kortikomedularis. Pada akhirnya, atrofi dan

kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi. Infeksi ginjal lebih sering terjadi pada

wanita, hal ini karena saluran kemih bagian bawahnya (uretra) lebih pendek
9

dibandingkan laki-laki, dan saluran kemihnya terletak berdekatan dengan vagina

dan anus, sehingga lebih cepat mencapai kandung kemih dan menyebar ke ginjal.

Insiden penyakit ini juga akan bertambah pada wanita hamil dan pada usia di atas

40 tahun. Demikian pula penderita kencing manis/diabetes mellitus dan penyakit

ginjal lainnya lebih mudah terkena infeksi ginjal dan saluran kemih.
2. Pielonefritis kronis
Pyelonefritis kronis juga berasal dari adanya bakteri, tetapi dapat juga karena

faktor lain seperti obstruksi saluran kemih dan refluk urin. Pyelonefritis kronis

dapat merusak jaringan ginjal secara permanen akibat inflamasi yang berulang

kali dan timbulnya parut dan dapat menyebabkan terjadinya renal failure (gagal

ginjal) yang kronis. Ginjal pun membentuk jaringan parut progresif, berkontraksi

dan tidak berfungsi. Proses perkembangan kegagalan ginjal kronis dari infeksi

ginjal yang berulang-ulang berlangsung beberapa tahun atau setelah infeksi yang

gawat. Pembagian Pielonefritis akut Sering ditemukan pada wanita hamil,

biasanya diawali dengan hidro ureter dan hidro nefrosis akibat obstruksi ureter

karena uterus yang membesar.

2.6 Patofisiologi
Invasi bakteri pada parenkim ginjal memberikan manisfestasi peradangan

dalam bentuk pielonefritis. Infeksi dipengaruhi oleh faktor invasi bakteri dan faktor

imunologis host. Faktor bakteri seperti Escherichia coli yang bersifat uropatogenik

menempel pada sel epitel, dan mampu bertahan dari pembersihan aliran urine. Invasi

bakteri ini melekat pada epitel dan memicu respon peradangan aliran urine. Invasi

bakteri ini melakukan proses fagositosis dalam urine secara maksimal pada pH 6,5-
10

7,5 dan osmolalitas dari 485 mOsm. Apabila nilai-nilai ini menyimpang akan

mengakibatkan penurunan proses fagositosis secara signifikan.


Umumnya bakteri seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis, Pseudomonas

aeruginosa, dan Staphilococus aureus yang menginfeksi ginjal berasal dari luar tubuh

yang masuk melalui saluran kemih bagian bawah (uretra), merambat ke kandung

kemih, lalu ke ureter (saluran kemih bagian atas yang menghubungkan kandung

kemih dan ginjal) dan tibalah ke ginjal,yang kemudian menyebar dan dapat

membentuk koloni infeksi dalam waktu 24-48 jam. Infeksi bakteri pada ginjal juga

dapat disebarkan melalui alat-alat seperti kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih

mudah menyerang ginjal bilater dapat hambatan atau obstruksi saluran kemih yang

mempersulit pengeluaran urin, seperti adanya batu atau tumor. Bakteri akan lebih

mudah berkembang biak pada pasien dengan Diabetes, karena urine pada pasien

diabetes mengandung glukosa.

Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak

lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kalik dan pelvis ginjal

juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghsilkan fibrosis dan scarring.

Pielonefritis kronis muncul stelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal

mengalami perubahan degeneratif dan menjadi kecilserta atrophic. Jika destruksi

nefron meluas, dapat berkembang menjadi gagal ginjal. Respon perubahan patologis

pada saluran kemih bagian atas akan memberikan berbagai masalah keperawatan

pada pasien yang mengalami pielonefritis akut.


11
12
13

2.8 Manisfestasi Klinis


Gejala yang paling umum dapat berupa demam tiba-tiba. Kemudian dapat

disertai menggigil, nyeri punggung bagian bawah, mual, dan muntah. Pada beberapa

kasus juga menunjukkan gejala ISK bagian bawah yang dapat berupa nyeri berkemih

dan frekuensi berkemih yang meningkat. Dapat terjadi kolik renalis, dimana penderita

merasakan nyeri hebat yang desebabkan oleh kejang ureter. Kejang dapat terjadi

karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Bisa terjadi

pembesaran pada salah satu atau kedua ginjal. Kadang juga disertai otot

perut berkontraksi kuat. Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan

dan lebih sulit untuk dikenali. Tanda gejala sesuai dengan klasifikasi meliputi :
1. Pyelonefritis akut ditandai dengan :
a. Pembengkakan ginjal atau pelebaran penampang ginjal
b. Pada pengkajian didapatkan adanya demam yang tinggi, menggigil,nausea,
c. Nyeri pada pinggang, sakit kepala, nyeri otot dan adanya kelemahanfisik.
d. Pada perkusi di daerah CVA ditandai adanya tenderness.
e. Klien biasanya disertai disuria, frequency, urgency dalam beberapa hari.
f. Pada pemeriksaan urin didapat urin berwarna keruh atau hematuria dengan

bau yang tajam, selain itu juga adanya peningkatan sel darah putih.
2. Pielonefritis kronis Pielonefritis kronis Terjadi akibat infeksi yang berulang-ulang,

sehingga kedua ginjal perlahan-lahan menjadi rusak. Tanda dan gejala:


a. Adanya serangan pielonefritis akut yang berulang-ulang biasanya

tidak mempunyai gejala yang spesifik.


b. Adanya keletihan.
c. Sakit kepala, nafsu makan rendah dan BB menurun.
d. Adanya poliuria, haus yang berlebihan, azotemia, anemia, asidosis, proteinuria,

pyuria dan kepekatan urin menurun.


e. Kesehatan pasien semakin menurun, pada akhirnya pasien mengalami gagal

ginjal.
f. Ketidak normalan kalik dan adanya luka pada daerah korteks.
g. Ginjal mengecil dan kemampuan nefron menurun dikarenakan luka pada

jaringan.
14

h. Hipertensi

2.9 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan yang dilakukan untuk memperkuat diagnosis pielonefritisadalah:
1. Laboratorium : pada pemeriksan darah menunjukan adanya leukositosis disertai

peningkatan laju endap darah, urinalisis terdapat piuria, bakteriuria, dan

hematuria. Pada pielonefritis akut yang mengenai kedua sisi ginjal akan

mengakibatkan terjadinya penurunan faal ginjal. Hasil kultur urine terdapat

bakteriuria dan tes sensitivitas dilakukan untuk menentukan organisme penyebab

sehingga dapat ditemukan agens antimikroba yang tepat.


2. Radiologi : pemeriksaan foto polos pada abdomen menunjukan adanya kekaburan

dari bayangan otot psoas dan mungkin terdapat bayangan radio-opak dan batu

saluran kemih. Pada PIV terdapat bayangan ginjal membesar dan terdapat

keterlambatan pada fase nefrogram. Perlu dibuat diagnosa banding dengan

inflamasi pada organ disekitar ginjal antara lain : pankreatitis, apendisitis,

kolesistitis, divertikulitis, pneumonitis, dan inflamasi pada organ pelvis. dan

rontgen bisa membantu menemukan adanya batu ginjal, kelainan struktural atau

penyebab penyumbatan air kemih lainnya.


3. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ultrasonografi dapat dilakukan untuk mengetahui lokasi obtruksi di

traktus urinarius, menghilangkan obstruksi adalah penting untuk menyelamatkan

ginjal dari kehancuran.


4. BUN/ kreatinin : meningkat diatas normal (rasio normal 10:1 hingga 20:1)
5. Serum Electrolytes.
6. Biopsi ginjal : mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel

jaringan untuk diagnosis histologik.


7. Pemeriksaan IVP : Pielogram intravena (IVP) mengidentifikasi perubahan atau

abnormalitas struktur.
15

2.10 Penatalaksanaan Medis

Infeksi ginjal akut setelah diobati beberapa minggu biasanya akan sembuh

tuntas. Namun residu infeksi bakteri dapat menyebabkan penyakitkambuh kembali

terutama pada penderita yang kekebalan tubuhnya lemah seperti penderita diabetes

atau adanya sumbatan atau hambatan aliran urin misalnya oleh batu, tumor dan

sebagainya.

1. Penatalaksanaan medis menurut Barbara K. Timby dan Nancy E. Smith tahun

2007:
a. Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimikrobial seperti

trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra), gentamycin dengan atau

tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro) selama 14 hari.


b. Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan

rasanyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan obat

farmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic sepertioxybutinin

(Ditropan) dan propantheline (Pro-Banthine).


c. Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakan ginjal

secara progresif.

2. Penatalaksanaan keperawatan menurut Barbara K. Timby dan Nancy E.Smith

tahun 2007:
a. Mengkaji riwayat medis, obat-obatan, dan alergi.
b. Monitor Vital Sign.
c. Melakukan pemeriksaan fisik.
d. Mengobservasi dan mendokumentasi karakteristik urine klien.
e. Mengumpulkan spesimen urin segar untuk urinalisis.
f. Memantau input dan output cairan.
g. Mengevaluasi hasil tes laboratorium (BUN, creatinin, serum electrolytes).
16

h. Memberikan dorongan semangat pada klien untuk mengikuti

prosedur pengobatan. Karena pada kasus kronis, pengobatan bertambah lama

dan memakan banyak biaya yang dapat membuat pasien berkecil hati.

2.11 Komplikasi

Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut (Patologi Umum

& Sistematik J. C. E. Underwood, 2002: 669)

1. Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah pada

area medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis papila ginjal, terutama

pada penderita diabetes melitus atau pada tempat terjadinya obstruksi.

2. Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yang dekat

sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dansistem kaliks

mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami peregangan akibat adanya pus.


3. Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan meluaske

dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik. Komplikasi pielonefritis

kronis mencakup penyakit ginjal stadium akhir (mulai dari hilangnya

progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan jaringan parut), hipertensi, dan

pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik disertai organisme pengurai urea,

yang mangakibatkan terbentuknya batu) (Brunner& Suddarth, 2002: 1437).


17

BAB 3

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

Dalam melakukan pengkajian pada klien pielonefritis menggunakan pendekatan

bersifat menyeluruh yaitu :

1. Identitas klien
Anak wanita dan wanita dewasa mempunyai insiden ter infeksi pielonefritis.

Pada usia 35 keatas.


2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering didapatkan meliputi keluhan nyeri dan keluhan

iritasi miksi (disuria, hematuria, piuria, urgensi).


b. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat peningkatan suhu tubuh disertai menggigil biasanya dikeluhkan

beberapa hari sebelum klien meminta pertolongan pada tim kesehatan. Pada

klien pielonefritis biasanya didapatkan keluhan nyeri. Pengkajian keluhan

nyeri sebagai berikut :


P : penyebab nyeri pada kostovertebra akibat respon peradangan pada pileum

dan parenkim ginjal.


Q : kualitas nyeri seperti tertusuk – tusuk
R : area nyeri pada panggul, nyeri tekan pada sudut kostovertebral, nyeri di

daerah perut dan pinggang.


S : Skala nyeri bervariasi pada rentang sedang sampai berat (2-3) (0-4)
T : Onset nyeri dimulia bersamaan dengan keluhan timbulnya demam.
c. Riwayat penyakit dahulu
Kaji apakah ada riwayat penyakit sepertiadanya keluhan obstruksi pada saluran

kemih (yang meningkatkan kerentanan


19 ginjal terhadap infeksi). Tumor
18

kandung kemih, striktur, hiperplasia prostatik benigna, dan diabetes melitus.

Penting untuk dikaji meliputi riwayat pemkaian obat obatan masa lalu dan

adanya riwayat alergi terhadap jenis obat.


d. Riwayat penyakit keluarga
Mengidentifikasi apakah di keluarga ada riwayat penyakit menular atau

turunan.
3. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
Bila tidak melibatkan infeksi sistemik, pola napas dan jalan napas dalam kondisi

efektif walau secara frekuensi mengalami peningkatan.


b. B2 (Blood)
Bila tidak melibatkan respon sistemik, status kardiovaskuler tidak mengalami

perubahan walau secara frekuensi denyut jantung mengalami peningkatan.

Perfusi perifer dalam batas normal, akral hangat, akral hangat.


c. B3 (Brain)
Pada wajah biasanya tidak didapatkan adanya perubahan konjungtiva tidak

anemis, sklera tidak ikterik, mukosa mulut tidak mengalami peradangan. Status

neurologis tidak mengalami perubahan, tingkat kesadaran dalam batas normal

dimana orientasi (tempat, waktu, orang) baik.


d. B4 (Bladder)
1) Inspeksi : tidak ada pembesaran pada suprapubis, tidak ada kelaianan pada

genitalia eksterna. Didapatkan disuria, pada pielonefritis yang mengenai

kedua ginjal sering didapatkan penurunan urine output karena terjadi pe

nurunan dari fungsi ginjal.


2) Palpasi : sering didapatkan distensi kandung kemih. Pada palpasi area

kostovertebra sering didapatkan adanya perasaan tidak nyaman dan

mungkin didapatkan adanya massa dari pembesaran ginjal akibat infiltrasi

interstisial sel-sel inflamasi pada palpasi ginjal.


19

3) Perkusi : perkusi pada sudut kostovertebra memberikan stimulus nyeri lokal

disertai suatu penjalaran ke nyeri ke pinggang dan perut.


4) Auskultasi : tidak didapatkan adanya bruit ginjal
e. B5 (Bowel)
Didapatkan adanya mual, muntah, serta anoreksia sehingga sering didapatkan

penurunan berat badan terutama pada pielonefritis kronik. Penurunan peristaltik

usus sering didapatkan.


f. B6 (Bone)
Didapatkan malaise dan adanya kelemahan fisisk secara umum.

3.2 Diagnosa keperawatan

1. Nyeri akut b.d proses peradangan dan infeksi


2. Hipertermi b.d demam, respon imunologi terhadap infeksi
3. Perubahan pola eliminasi urine(disuria,dorongan,frekuensi dan atau nokturia b.d

infeksi pada ginjal.


4. Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat

3.3 Rencana keperawatan


1. Diagnosa 1 : Nyeri b.d infeksi pada ginjal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam,

diharapkan tingkat kenyamanan klien meningkat, nyeri terkontrol.


Kriteria hasil :
a. Klien melaporkan nyeri berkurang
b. Tidak ada keluhan nyeri saat berkemih.
c. Tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah.

Intervensi Rasional

1. 1. Pantau intensitas, lokasi, dan faktor Untuk mengetahui skala nyeri yang

yang memperberat atau meringankan dialami oleh klien.

nyeri.
20

2. Anjurkan klien untuk beristirahat Dengan istirahat yang cukup dapat

yang cukup. merilekskan otot-otot klien.


3. Anjurkan klien untuk minum Untuk membantu klien dalam

dalam jumlah banyak berkemih.


4. Kolaborasi dengan tim medis Analgesik memblok lintasan nyeri

dalam pemberian terapi analgesik. sehingga mengurangi nyeri.

2. Diagnosa 2 : Hipertermi b.d respon imunologi terhadap infeksi.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam,

diharapkan terjadi penurunan suhu tubuh dalam batas normal.


Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,3oC).
b. Turgor kulit lembab.

Intervensi Rasional
1. Mengobservasi suhu tubuh klien. Untuk mengetahui seberapa tinggi suhu

tubuh klien.
2. Pantau suhu lingkungan. Suhu rungan dan jumlah elimut harus diubah

untuk mmpertahankan suhu mendekati

normal.
3. Berikan kompres hangat pada daerah Untuk membantu mnurunkan suhu

sekitar axila, dan hindari penggunaan tubuh,selain itu alkohol dapa mngeringkan

alkohol. kulit.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam Digunakan untuk mengurangi demam

pemberian terapi antipiretik. dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.


3. Diagnosa 3 : Perubahan pola eliminasi urine (disuria,dorongan,frekuensi

dan atau nokturia b.d infeksi pada ginjal.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,

diharapkan pola eliminasi kembali normal.


Kriteria hasil :
a. Tidak ada disuria maupun nokturia
21

b. Input dan output seimbang


c. Pola eliminasi normal kembali

Intervensi Rasional

1. Ukur dan catat urine setiap kali Untuk mengetahui adanya perubahan

berkemih. warna dan untuk mrngetahui input

serta output klien.


2. Anjurkan klien untuk minum dalam Untuk membantu meningkatkan input

jumlah banyak agar klien dapat dan output klien.

segera berkemih.
3. Palpasi kandung kemih. Untuk mengetahui adanya distensi

kandung kemih.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalm Untuk membantu menpercepat proses

pemberian terapi. penyembuhan klien.

4. Diagnosa 4 : Resiko kekurangan volume cairan b/d intake tidak adekuat.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien dapat

mempertahankan pola eliminasi secra adekuat.


Kriteria hasil :
a. Tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih.
b. Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam.

Intervensi Rasional
1. Ukur dan catat urine setiap kali Untuk mengetahui adanya perubahan

berkemih. warna dan untuk mengetahui input

ataupun output.
22

2. Tempatkan klien pada posisi Memaksimalkan aliran balik vena bila

telentang atau sesuai kenutuhan. terjadi hipotensi.


3. Pantau membran mukosa kering. Tugor kulit yang kurang baik, dan

rasa haus yang berlebih akan

memperkuat tanda-tanda dehidrasi.


4. Kolaborasi dengan tim medis Untuk membantu mempercepat proses

dalam pemberian terapi. penyembuhan pasien.

BAB 4

ANALISA KASUS

4.1 Kasus
Seorang remaja Nn.S berumur 18 tahun sudah 1 hari berada diruang penyakit

dalam RS. Mawar. Nn.S dibawa keluarganya ke rumah sakit dengan keluhan nyeri

dirasakan sekitar 2 minggu yang lalu. Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data

Nn. S mengalami disuria. Disuria juga sudah dialami sejak 1 minggu yang lalu. Hasil

pemeriksaan urin didapatkan protein +2, Nn. S sering meminta minum karena merasa

haus baik siang maupun malam. Hasil pemeriksaan TTV didapatkan TD : 160/100

mmHg, suhu 38,5 0C, Hr 105 x/menit. Lakukan asuhan keperawatan pada Nn.S

tersebut.
23

4.2 Pengkajian
4.2.1 Identitas klien
Nama : Nn. S
Umur : 18 tahun
Bangsa / suku : Indonesia
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan :-
Diagnosa Medis : Pielonefritis

4.2.2 Riwayat Kesehatan


1. Keluhan Utama : Px mengeluh nyeri.
2. Riwayat penyakit sekarang : 26
Ny.S dibawa keluarganya ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dirasakan

sekitar 2 minggu yang lalu. Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data Ny.

S mengalami disuria. Disuria juga sudah dialami sejak 1 minggu yang lalu.

Menurut hasil pemeriksaan urin didapatkan protein +2.


3. Riwayat penyakit dahulu :
Klien tidak ada riwayat penyakit dahulu seperti (hipertensi maupun infeksi

lain), klien merasakan nyeri sudah sejak 2 minggu yang lalu dan mengalami

disuria sejak 1 minggu yang lalu sebelum masuk Rumah Sakit.


4. Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada riwayat penyakit keluarga.

4.2.3 Observasi dan Pemeriksaan fisik :

1. Tanda – tanda Vital

TD : 160/100mmhg
Suhu : 38,5 oC
Nadi : 105 x/menit
Kesadaran : compos metis
Pemeriksaan laboratorium : urin protein +2.

2. Pemeriksaan Fisik

a. Sistem Pernafasan (B1)

1) Keluhan : tidak Sesak, tidak Nyeri waktu nafas


24

2) Batuk : tidak

3) Sekret : tidak

4) Irama Nafas : teratur

5) Jenis : Normal

6) Suara Nafas : Normal

7) Alat bantu nafas : Tidak

b. Sistem KardioVaskuler (B2)


1) Keluhan Nyeri Dada : Tidak
2) Irama Jantung : Reguler
3) S1/S2 tunggal : Ya
4) Suara Jantung : Normal
5) Heart rate : 105x/menit
6) CRT : Normal 2 detik
7) Akral : Hangat
c. Sistem Persyarafan (B3)
1) Kesadaran : Compos metis
2) Keluhan Pusing : Tidak
3) Pupil : Isokor
4) Sclera : Normal
5) Konjungtiva : Normal
d. Sistem Perkemihan (B4)
1) Inspeksi : Didapatkan disuria, pada pielonefritis yang mengenai kedua

ginjal sering didapatkan penurunan urine output karena terjadi penurunan

dari fungsi ginjal.


2) Palpasi : Didapatkan perasaan tidak nyaman nyeri dan mungkin

didapatkan adanya massa dari pembesaran ginjal akibat infiltrasi

interstisial sel-sel inflamasi pada palpasi ginjal.


3) Perkusi : perkusi pada sudut kostovertebra memberikan stimulus nyeri

lokal disertai suatu penjalaran ke nyeri ke pinggang dan perut.


4) Auskultasi : tidak didapatkan adanya bruit ginjal
e. Sistem Pencernaan (B5)
Tidak didapatkan mual atau muntah, didapatkan klien sering meminta minum

karena sering haus pada siang maupun malam hari.


25

f. Sistem Muskoleskeletal (B6)


1) Inspeksi : Tidak didapatkan kelainan pada ekstermitas, pergerakan sendi

bebas.
2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

4.2.4 Analisa Data

Data Etiologi Masalah


DO : px mengeluh nyeri Pielonefritis Nyeri akut

DS :

Gelisah Infeksi pada pieleum dan


Wajah menyeringai
Skala nyeri 6 parenkim ginjal
Nyeri sudah 2 minggu
TD : 160/100 mmHg
Suhu : 38,5 C
Reaksi infeksi inflamasi

Nyeri pada pinggang,

nyeri perut
26

DO : Suhu Tubuh Pasien Peradangan/ infeksi ginjal Hipertermi

meningkat

DS : proses demam, menggigil

TD = 160/100 mmHg
S = 38,5 ⁰C
RR = 105 x/menit peningkatan suhu tubuh
Kulit hangat

DO : Px mengalami Iritasi pada saluran kemih Perubahan eliminasi urine

disuria

DS : Disuria

Disuria sudah 1 minggu


Di dapat hasil
pemeriksaan protein 2+ Perubahan eliminasi urin
S = 35,5 ⁰C
DO : pasien mengeluh Haus berlebih Resiko kekurangan volume

sering haus cairan

DS : haus dirasakan siang Kelemahan

maupun malam hari,

kelelahan Laju metabolik meningkat

S : 38,5

Kekurangan volume cairan


27

4.3 Diagnosa keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan respon inflamasi akibat infeksi pada pieleum

dan parenkim

2. Hipertermi berhubungan dengan respon imunologi terhadap infeksi

3. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan respon inflamasi saluran kemih,

iritasi saluran kemih.

4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan rasa haus yang berlebih.

4.4 Intervensi Keperawatan

1. Diagnosa : Nyeri akut b/d respon inflamasi akibat infeksi pada pieleum

dan parenkim

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24

jam, diharapkan tingkat kenyamanan klien meningkat, nyeri terkontrol.

Kriteria hasil :

a. Klien melaporkan nyeri berkurang.


b. Tidak ada keluhan nyeri saat berkemih.
c. Px dapat melakukan prinsip management nyeri tanpa bantuan.

Intervensi Rasional

1. Pantau intensitas nyeri dan skala Untuk mengetahui seberapa berat rasa

nyeri. nyeri yang dirasakan klien.

2. Lakukan manajemen nyeri


28

keperawatan :
a. Atur posisi fisiologis
Posisi fisiologis akan meningkatkan

asupan O2 ke jaringan yang


b. Istirahatkan klien
mengalami iskemia sekunder dari

inflamasi.
Istirahat akan menurunkan kebutuhan
c. Manajemen lingkungan, berikan
O2 jaringan perifer sehingga akan
lingkungan yang nyaman dan
meningkatkan suplai darah ke jaringan.
kondusif, batasi pengunjung Lingkungan tenang akan menurunkan

ruangan stimulus nyeri eksternal atau

kesensitifan terhadap cahaya dan

menganjurkan klien membantu

meningkatkan kondisi O2, ruangan

yang akan berkurangapabila banyak

pengunjung yang berada diruangan


3. Ajarkan teknik relaksasi pada klien. Untuk mengurangi rasa nyeri,

meningkatkan kenyamanan pada klien.

4. Kolaborasi dengan dokter dalam Untuk membantu mengurangi rasa

pemberian obat analgesik. nyeri.

2. Diagnosa : Hipertermi b/d respon imunologi terhadap infeksi.


29

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam,

diharapkan terjadi penurunan suhu tubuh dalam rentang normal.

Kriteria hasil :

a. Suhu tubuh px turun ataupun normal 36,5o C – 37,3o C


b. Turgor kulit lembab.

Intervensi Rasional

1. Observasi tanda-tanda vital. Untuk mengetahui keadaan umum klien.

2. Monitor intake dan output setiap 8 Untuk mengetahui input output cairan

jam. melalui parental dan oral.


3. Anjurkan banyak minum bila tidak Agar tidak mengalami rasa lemas dan

ada kontra indikasi. dehidrasi.


4. Berikan kompres hangat pada daerah Untuk membantu menurunkan suhu

lipatan, seperti leher, axilla. tubuh klien.


5. Berikan antipieretik sesuai program. Untuk membantu menurunkan suhu

tubuh klien.

3. Diagnosa : Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan respon inflamasi

saluran kemih

Tujuan : Setelah dilkukan tindakan keperwatan selama 3 x 24 jam, diharapkan

gangguan eliminasi dapat teratasi secara optimal sesuai kondisi klien

Kriteria hasil :

a. tidak ada keluhan iritasi dalam melakukan miksi, seperti disuria dan urgensi
b. mampu melakukan miksi setiap 3-4 jam
30

c. produksi urine 50 cc/jam, urine tidak keruh atau urine yang keluar berwarna

kuning jernih.

Intervensi Rasional

1. Kaji pola berkemih dan catat Menegtahui fungsi ginjal

produksi urine tiap 6 jam


2. Palpasi kemungkinan adanya Menilai perubahan kandung kemih

distensi kandung kemih akibat dari infeksi saluran kemih


3. Istirahatkan pasien Pada kondisi istirahat, maka ada

kesempatan jaringan untuk

memperbaiki diri
4. Anjurkan klien untuk minum Membantu mempertahankan fungsi

minimal 2000 cc/hari ginjal


5. Kolaborasi : Pemeriksaan kultur dan uji
Diagnostik kultur dan uji sensitivitas
sensitivitas dapat menentukan jenis

Pemberian antimikroba antimikroba yang sesuai

Antimikroba yang bersifat bakterisid

dapat membunuh kuman yang

diberikan sesuai dengan uji

sensitivitas

4. Diagnosa 4 : Resiko kekurangan volume cairan b.d rasa haus yang

berlebih.
31

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam

volume cairan terpenuhi dengan baik.

Kriteria hasil :

a. Klien tidak merasakan haus lagi baik siang maupun malam


b. Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam

Intervensi Rasional

1. Pantau pola berkemih ukur dan Untuk mengetahui adanya

catat produksi urine setiap kali perubahan warna dan untuk

berkemih mengetahui input dan out put


2. Pantau membran mukosa yang Turgor kulit yang kurang baik dan

kering turgor kulit yang kurang rasa haus yang berlebih

baik dan rasa haus yang berlebih memperkuat tanda tanda dehidrasi

memperkuat tanda tanda dehidrasi


3. Tempatkan pasien pada posisi 3. Memaksimalkan aliran balik vena

terlentang tandelenburg sesuai bila terjadi hipotensi.

kebutuhan pasien.

4. Kolaborasai Tipe dan jumlah cairan tergantung


Berikan terapi cairan ( normal
pada derajad kekurangan cairan.
salin ) sesuai indikasi.

BAB 5
32

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis, tubula dan

jaringan interstisiel. Penyakit ini terjadi akibat infeksi oleh bakteri enterit (paling

umum adalah Escherichia Coli) yang telah menyebar dari kandung kemih ke ureter

dan ginjal akibat refluks vesikouretral. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang

menyerang ginjal yang sifatnya akut maupun kronis.

Pielonefritis disebabkan oleh berbagai macam bakteri, uropatogen adalah

agen bakteri yang meliputi Escherichia coli, klebsilla, proteus, dan staphylococcus

aureus. Infeksi saluran kemih terutama pada kondisi statis kemih akibat batu saluran

kemih, refluks vesikoureter dan penurunan imunitas pada proses penuaan. Dari kasus

diatas dapat dilakuakan pengkajian.

Gejala pada klien dengan pielonefritis akut biasanya timbul secara tiba-tiba

berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual, muntah, dysuria,

frequency, urgency dan pada pemeriksaan fisik didapatkan urine keruh atau hematuri

serta bau yang tajam. Sedangkan pielonefritis kronik terjadi akibat infeksi yang

berulang-ulang, sehingga kedua ginjal perlahan-lahan menjadi rusak. Gejala yang

timbul akibat pielonefritis kronik yaitu, sakit kepala, nafsu makan rendah dan BB

menurun, adanya poliuria, haus yang berlebihan, Ketidak normalan kalik dan adanya

luka pada daerah korteks, dan hipertensi.

5.2 Saran 37
33

1. Untuk perawat diharapkan dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan

pada klien dengan pielonefritis.

2. Untuk klien dan keluarga diharapkan dapat melakukan pengobatan secara

optimal untuk kesembuhan penyakitnya.

3. Untuk mahasiswa diharapkan lebih memahami tentang pielonefritis agar dapat

melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan pielonefritis secara

optimal.
34

DAFTAR PUSTAKA

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.

Volume 1. Jakarta : EGC

Muttaqin, Arif& Kumala Sari. (2012). Asuhan Keperawatan Gangguan

Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika

Smeltzer, S,C& Bare B.G. (2001). Keperawatan Medikal Bedah Brunner &

suddarth edisi 8. Jakarta : EGC

Perry, Potter

Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam:

Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

39