Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH IAS 16

PROPERTY, PLANT, & EQUIPMENT

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

MUHAMMAD SYAUQI 1611070012

FRANCIS RAMADANA 1611070026

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

ASIAN BANKING FINANCE INFORMATICS INSTITUTE of


PERBANAS

2017
bAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aset tetap atau PPE (Property, Plant, and Equipment) adalah aset berwujud (tangible
assets) yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, yang memiliki manfaat lebih
dari satu periode akuntansi. Istilah aset tetap digunakan untuk membedakan dengan aset tidak
berwujud, yang juga memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi tetapi tidak
memiliki wujud sik, serta nilainya tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh eksistensi sik dari aset.

Dalam standar akuntansi yang mengacu ke Amerika (US GAAP), akuntansi untuk
aset tetap relatif tidak menimbulkan banyak masalah, karena standar akuntansi aset tetap
berdasar US GAAP menggunakan basis kos historis. IAS tidak menggunakan basis kos
historis, mengingat basis kos historis berimplikasi pada penyajian laporan keuangan yang
dipandang kurang relevan dengan kebutuhan nyata pengguna informasi karena tidak mampu
menggambarkan nilai riil aset tetap yang disajikan di dalam laporan keuangan.

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk membahas secara detil seluruh aspek teknis
akuntansi atas aset tetap, tetapi dimaksudkan untuk mendeskripsikan aspek-aspek umum
akuntansi aset tetap yang membedakan antara US GAAP dengan IAS. Secara umum
permasalahan akuntansi aset tetap yang akan dibahas dalam artikel ini adalah mencakup
prinsip prinsip dasar akuntansi aset tetap sebagai berikut:

1. Akuntansi perolehan aset tetap.

2. Akuntansi alokasi kos aset tetap ke masing masing periode akuntansi yang
menikmati jasa aset tetap.

3. Akutansi perubahan nilai aset setelah pemilikan aset, seperti akuntansi


kenaikan nilai dan penurunan nilai (impairments) aset tetap.

4. Akuntansi penghentian aset.

Baik standar akuntansi versi US GAAP maupun versi IAS area utama permasalahan
akuntansi yang diatur dalam masing masing standard adalah sama, yaitu dalam empat area
tersebut di atas, sehingga dengan melakukan pengkajian atas keempat area utama akuntansi

1
tersebut akan diperoleh pemahaman tentang kesamaan dan perbedaan standard akuntansi
yang berlaku pada masing masing standar. Aset tetap adalah aset berwujud yang:

 Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk
direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif.

Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tujuan dan Ruang Lingkup

Tujuan dari standar ini adalah untuk menentukan perlakuan akuntansi untuk aset tetap
seingga pengguna laporan keuangan dapat melihat informasi mengenai investasi entitas pada
aset tetap dan perubahan pada investasi ini. Pokok bahasan dalam akuntansi untuk aset tetap
adalah pengakuan aset, penentuan nilai tercatat dan pembebanan depresiasi dan kerugian
penurunan nilai berkenaan dengan aset tersebut. Tidak berlaku untuk hak penambangan dan
reservasi tambang, seperti minyak, gas alam dan sumber daya alam sejenis yang tidak dapat
diperbaharui (diatur dalam PSAK tersendiri). Namun demikian, Pernyataan ini berlaku untuk
aset tetap yang digunakan untuk mengembangkan atau memelihara aset yang terkait dengan
hak penambangan dan reser asi tambang.

Standar ini tidak berlaku pada:

a. property, plant and equipment yang diklasifikasikan sebagai held for sale
sehubungan dengan IFRS 5 Non-current Assets Held for Sale and
Discontinued Operations;

b. biological assets related to agricultural activity (see IAS 41 Agriculture);

c. pengakuan dan pengukuran aset eksplorasi dan evaluasi (lihat IFRS 6


Exploration untuk dan Evaluasi Sumber Daya Mineral); atau

d. hak mineral dan cadangan mineral seperti minyak, gas alam dan sumber daya
yang sama non-regenerative

Akan tetapi, standar ini berlaku bagi property, pabrik dan peralatan yang digunakan
dalam me-maintain aset yang dijelaskan pada poin b-d di atas.

Standar lainnya mungkin memerlukan pengakuan dari suatu aset tetap berdasarkan
pada pendekatan berbeda dari yang di Standard ini. Sebagai contoh, IAS 17 Sewa
membutuhkan suatu entitas untuk mengevaluasi pengakuan dari item disewakan properti,
pabrik dan peralatan atas dasar transfer risiko dan manfaat. Namun, dalam kasus seperti
aspek lain dari perlakuan akuntansi untuk aset ini, termasuk depresiasi, yang diresepkan
Standard ini.

3
2.2 Pengakuan

Properti, pabrik, dan peralatan adalah item yang menyatakan bahwa yang dimiliki
untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang ataupun jasa untuk disewakan
kepada orang lain dan diharapkan digunakan selama lebih dari satu periode. Komponen
properti, pabrik, dan kantor yang memenuhi persyaratan untuk diakui sebagai aset tetap harus
diukur pada biaya. biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:

a) kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan


dari aset tersebut.

b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

Suku cadang dan peralatan pemeliharaan (service equipment) biasanya dicatat sebagai
persediaan dan diakui dalam laba rugi pada saat dikonsumsi. Namun demikian, suku cadang
utama dan peralatan siap pakai memenuhi kriteria aset tetap ketika entitas memperkirakan
akan menggunakan aset tersebut selama lebih dari satu periode. Sama halnya jika suku
cadang dan peralatan pemeliharaan yang hanya bisa digunakan untuk suatu aset tetap
tertentu, hal ini juga dicatat sebagai aset tetap. Dalam hal ini tidak ditentukan unit ukuran
dalam pengakuan suatu aset tetap. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan dalam
penerapan kriteria pengakuan yang sesuai dengan kondisi tertentu entitas. Pertimbangan
tersebut tepat terhadap agregasi unit unit yang secara individual tidak signifikan, seperti
cetakan dan perkakas, kemudian menerapkan kriteria atas nilai agregrat tersebut. Entitas
harus mengevaluasi berdasarkan prinsip pengakuan ini terhadap semua biaya perolehan aset
tetap pada saat terjadinya. Biaya-biaya tersebut termasuk biaya awal untuk memperoleh atau
mengkonstruksi aset tetap dan biaya-biaya selanjutnya yang timbul untuk menambah,
mengganti, atau memperbaikinya.

Biaya-biaya Setelah Perolehan Awal

Sesuai dengan prinsip pengakuan entitas tidak boleh mengakui biaya perawatan sehari
hari aset tetap sebagai bagian dari aset bersangkutan. Biaya-biaya ini diakui dalam laba rugi
saat terjadinya. Biaya perawatan sehari-hari terutama terdiri atas biaya tenaga kerja dan
bahan habis pakai (consumables) termasuk di dalamnya suku cadang kecil. Pengeluaran
pengeluaran untuk hal tersebut sering disebut biaya pemeliharaan dan perbaikan aset tetap.
Bagain-bagian tertentu aset tetap mungkin perlu diganti secara periodik.

4
Contoh:

Tungku pembakaran perlu diganti lapisannya setelah digunakan sekian jam, demikian
juga interior pesawat terbang seperti tempat duduk dan dapur perlu diperbarui beberapa kali
sepanjang umur rangka pesawat. Entitas dapat juga memperoleh komponen aset tetap tertentu
untuk melakukan penggantian yang tidak terlalu sering dilakukan, seperti mengganti dinding
interior suatu bangunan, atau melakukan suatu penggantian yang tidak berulang.

Sesuai dengan prinsip pengakuan entitas mengakui biaya penggantian komponen


suatu aset dalam jumlah tercatat aset saat biaya itu terjadi jika pengeluaran tersebut
memenuhi kriteria untuk diakui sebagai bagian dari aset. Jumlah tercatat komponen yang
diganti tersebut tidak lagi diakui apabila telah memenuhi ketentuan penghentian pengakuan.
Agar aset tetap dapat beroperasi secara berkelanjutan, perlu dilakukan inspeksi teratur
terlepas apakah ada komponen yang diganti. Dalam setiap inspeksi yang signifikan, biaya
inspeksi diakui dalam jumlah tercatat aset tetap sebagai suatu penggantian apabila memenuhi
kriteria pengakuan. Sisa jumlah tercatat biaya inspeksi yang terdahulu, jika ada (yang
dibedakan dari komponen fisiknya), dihentikan pengakuannya. Hal ini terjadi terlepas apakah
biaya inspeksi terdahulu teridenti kasi dalam transaksi perolehan atau konstruksi aset tetap
tersebut. Jika diperlukan, estimasi biaya inspeksi sejenis yang akan dilakukan di masa depan
dapat digunakan sebagai indikasi biaya inspeksi saat aset tersebut diperoleh atau dibangun.

2.3 Pengukuran pada saat pengakuan

Suatu aset tetap yang memenuhi kuali kasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya
harus diukur sebesar biaya perolehan. Komponen biaya perolehan:

a) Purchase Price

Harga perolehannya termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak
boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan potongan
lain.

b) Directly Attributable Cost

Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke


lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan
intensi manajemen. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
adalah biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari pembangunan

5
atau akuisisi aset tetap, biaya penyiapan lahan untuk pabrik, biaya handling
dan penyerahan awal, biaya perakitan dan instalasi, biaya pengujian aset dan
komisi profesional.

c) Dismantling Cost

Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi
lokasi aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul ketika aset tersebut diperoleh
atau karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk
tujuan selain untuk menghasilkan persediaan.

Contoh biaya-biaya yang bukan merupakan biaya perolehan aset tetap :

 Biaya pembukaan fasilitas baru

 Biaya pengenalan produk baru (termasuk biaya iklan dan akti itas promosi)

 Biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok pelanggan baru


(termasuk biaya pelatihan staf)

 Administrasi dan biaya overhead umum lainnya

 Biaya saat alat belum beroperasi penuh

 Kerugian awal operasi

 Biaya relokasi dan reorganisasi operasi entitas

 Hasil dari aset sebelum dimanfaatkan (hasil parkir dari lahan yang belum
digunakan)

 Laba internal jika aset tersebut merupakan persediaan perusahaan

Pengukuran Biaya Perolehan

Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunai yang diakui pada saat
terjadinya pembayaran. Jika pembayaran suatu aset ditangguhkan hingga melampaui
jangka waktu kredit normal, perbedaan antara nilai tunai dengan pembayaran total diakui
sebagai beban bunga selama periode kredit kecuali dikapitalisasi. Biaya perolehan dari suatu
aset tetap diukur pada nilai wajar kecuali:

 Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial atau,


 Nilai wajar dari aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara
andal.

6
Entitas menentukan apakah suatu transaksi pertukaran memiliki substansi komersial
atau tidak dengan mempertimbangkan sejauh mana arus kas masa depan diharapkan dapat
berubah sebagai akibat dari transaksi tersebut. Suatu transaksi pertukaran memiliki substansi
komersial jika:

a. Konfigurasi (contohnya risiko, waktu, dan jumlah) arus kas atas aset yang
diterima berbeda dari kon gurasi dari aset yang diserahkan,
b. Nilai spesifik entitas dari bagian operasi entitas yang dipengaruhi oleh
perubahan transaksi sebagai akibat dari pertukaran dan,
c. Selisih di (a) atau (b) adalah relatif signifikan terhadap nilai wajar dari aset
yang dipertukarkan.

Untuk menentukan apakah transaksi pertukaran memiliki substansi komersial, nilai


spesifik entitas dari bagian operasi entitas yang dipengaruhi oleh transaksi mencerminkan
arus kas setelah pajak. Hasil analisis ini dapat menjadi jelas tanpa entitas melakukan
perhitungan lebih rinci. Nilai wajar aset dapat diukur secara andal meskipun tidak ada
transaksi pasar yang sejenis, jika:

 Variabilitas rentang estimasi nilai wajar yang masuk akal (wajar) untuk aset
tersebut tidak signfikan,
 Probabilitas dari berbagai estimasi dalam rentang tersebut dapat dinilai secara
rasional dan digunakan dalam mengestimasi nilai wajar.

Jika entitas dapat menentukan nilai wajar secara andal, baik dari aset yang diterima
atau diserahkan, maka nilai wajar dari aset yang diserahkan digunakan untuk mengukur biaya
perolehan dari aset yang diterima kecuali jika nilai wajar aset yang diterima lebih jelas.

Pengakuan terhadap biaya-biaya dalam jumlah tercatat suatu aset tetap dihentikan
ketika aset tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan
sesuai dengan intensi manajemen. Oleh karena itu, biaya pemakaian dan pengembangan aset
tidak dimasukkan ke dalam jumlah tercatat aset tersebut. Sebagai contoh, biaya-biaya berikut
ini tidak termasuk di dalam jumlah tercatat suatu aset tetap:

a) Biaya-biaya yang terjadi ketika suatu aset telah mampu beroperasi sesuai
dengan intensi manajemen namun belum dipakai atau masih beroperasi di
bawah kapasitas penuhnya,
b) Kerugian awal operasi, seperti ketika permintaan terhadap keluaran (output)
masih rendah dan,

7
c) Biaya relokasi atau reorganisasi sebagian atau seluruh operasi entitas

Ada beberapa kondisi dalam pengukuran biaya perolehan, misalnya *

 Diskon

Diskon harus dikurangkan dari harga perolehan aset.

 Pembayaran ditangguhkan

Aset yang dibeli dengan pembayaran ditangguhkan dinilai setara nilai


tunainya. Perbedaan nilai tunai dengan pembayaran diakui sebagai beban
bunga

 Pertukaran aset

Menggunakan nilai wajar kecuali tidak ada substansi ekonomi atau tidakada
nilai wajar yang dapat diukur secara andal. Biaya perolehan diukur dengan
jumlah tercatat dari aset yang diserahkan.

 Penerbitan saham

Menggunakan dasar nilai wajar dari saham sebagai indikator nilai wajar aset,
jika nilai saham dapat diandalkan. Dipilih mana yang lebih andal antara nilai
wajar saham atau aset, jika keduanya andal maka nilai wajar aset yang
diserahkan digunakan untuk mengukur aset yang diterima

 Hibah pemerintah

Tidak boleh diakui sampai diperoleh keyakinan bahwa entitas memenuhi


persyaratan dan hibah akan diperoleh

Perolehan Peralatan

Peralatan yang dimaksud meliputi mesin, kendaraan, peralatan kantor, peralatan


pabrik dan peralatan lain. Biaya perolehannya meliputi:

 Harga beli
 Pajak atau /ea yang tidak dapat dikreditkan
 Biaya transportasi
 Biaya asuransi selama pengiriman barang
 Biaya instalasi dan biaya penyiapan tempat untuk melakukan instalasi
 Biaya untuk pengetesan peralatan

8
Perolehan Bangunan

Semua biaya terkait dengan akuisisi dan konstruksi:

 Material, tenaga kerja, overhead selama proses konstruksi, biaya bunga jika
membangun sendiri
 Harga beli bangunan dan pengurusan hak perolehan bangunan
 Fee profesional
 Ijin pendirian bangunan

Perolehan Tanah

 Harga beli
 Biaya pengurusan hak tanah (sertifikat pajak/BPHTB, biaya notaris dll)
 Biaya untuk perataan tanah, penghancuran bangunan yang tidak diperlukan

2.4 Pengukuran Harga Perolehan

Biaya suatu aset tetap adalah setara harga tunai pada tanggal pengakuan. Jika
pembayaran ditangguhkan melampaui persyaratan kredit normal, perbedaan antara harga
setara kas dan total pembayaran diakui sebagai bunga selama periode kredit kecuali bunga
tersebut dikapitalisasi sesuai dengan IAS 23.

Entitas menentukan apakah transaksi pertukaran memiliki substansi komersial dengan


mempertimbangkan sejauh yang arus kas masa depan diharapkan untuk mengubah sebagai
akibat dari transaksi. Transaksi pertukaran memiliki substansi komersial jika:

a. konfigurasi (resiko, waktu, dan jumlah) dari arus kas dari aset yang diterima
berbeda dari konfigurasi dari arus kas dari aset yang ditransfer; atau

b. nilai-entitas tertentu dari bagian operasi entitas dipengaruhi oleh perubahan


transaksi sebagai hasil dari pertukaran; dan

c. perbedaan (a) atau (b) relatif signifikan terhadap nilai wajar aset ditukar.

Aset tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda dan dari masing-
masing cara perolehan tersebut akan mempengaruhi penentuan harga perolehan aset tetap.
Berikut ini adalah beberapa cara perolehan dari aset tetap.

9
a. Pembelian Tunai

Pembelian ini terdiri dari pembelian tunai tanpa potongan dan pembelian tunai dengan
potongan (cash discount). Pada pembelian tunai tanpa potongan aset diperoleh sebesar harga
perolehan aset ditambah dengan biaya-biaya lain. Biaya-biaya lain yang membuat barang
tersebut tiba di lokasi dan pada kondisi yang diperlukan untuk penggunaan sesuai dengan
tujuannya. Biaya tersebut terdiri dari harga tunai dari penjual ditambah biaya seperti biaya
angkut, biaya asuransi dalam perjalanan, biaya pengukuhan hak milik, biaya instalasi, dan
biaya percobaan.

Ilustrasi: Dibeli tunai mesin seharga Rp 90.000.000. biaya angkut Rp 1.000.000 dan biaya
instalasi Rp 800.000. Dari transaksi tersebut, maka biaya perolehan mesin tersebut dapat
dihitung sebagai berikut:

Harga beli Rp 90.000.000

Biaya angkut Rp 1.000.000

Biaya Instalasi Rp 800.000 +

Biaya perolehan Rp 91.800.000

Ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Mesin Rp 91.800.000

(K) Kas Rp 91.800.000

Pada pembelian tunai dengan potongan (cash discount) potongan itu sendiri dapat
mengurangi biaya perolehan aset tetap tersebut. Potongan ini biasanya diberikan kepada
perusahaan yang melakukan pembayaran tunai sebelum tanggal pelunasan yang ditentukan
oleh penjual atau karena perusahaan membayarkan seluruh biaya untuk aset tetap tersebut
tunai pada saat pembelian.

Ilustrasi: PT Siliwangi membeli mesin seharga Rp 100.000.000. biaya angkut Rp 900.000


biaya asuransi Rp 500.000 dan biaya instalasi Rp 800.000. karena perusahaan membayarkan
seluruhnya tunai dan sekaligus maka pihak penjual memberikan potongan sebesar 5% dari
total harga. Dari transaksi tersebut, maka biaya perolehan mesin tersebut dapat dihitung
sebagai berikut:

10
Harga beli Rp 100.000.000

Biaya angkut Rp 900.000

Biaya asuransi Rp 500.000

Biaya Instalasi Rp 800.000 +

Biaya perolehan Rp 102.200.000

Potongan (Rp 5.110.000 )

Total Rp 97.090.000

Ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Mesin Rp 97.090.000

(K) Kas Rp 97.090.000

b. Pembelian Angsuran

Ada kalanya aset tetap di peroleh dengan cara pembelian angsuran. Dalam hal
demikian, kontrak pembelian dapat menyebutkan bahwa pembayaran dapat dilakukan dalam
sekian kali angsuran. Harga perolehan aset tidak boleh termasuk bunga. Bunga selama masa
angsuran baik yang jelas-jelas dinyatakan dalam kontrak maupun tidak dinyatakan tersendiri,
harus dikeluarkan dari harga perolehan dan dibebankan sebagai beban bunga.

Ilustrasi: Suatu kendaraan dibeli dengan harga Rp 150.000.000. jumlah ini akan
dibayar selama 5 kali angsuran bulanan dan terhadap saldo yang belum dibayar, perusahaan
dibebani bunga sebesar 10% setahun.

Ayat jurnal yang dibuat pada waktu pembelian adalah:

(D) Kendaraan Rp 150.000.000

(K) Utang Angsuran Rp 150.000.000

Pada waktu membayar angsuran pertama, jumlah yang harus dibayar dihitung:

Angsuran Bulanan Rp 150.000.000 ÷ 5 Rp 30.000.000

Bunga selama sebulan untuk saldo yang belum

dibayar 1/12 x 10% x Rp 150.000.000 Rp 1.250.000

Jumlah yang harus dibayar Rp 31.250.000

11
Ayat jurnal yang harus dibuat untuk pembayaran ini adalah sebagai berikut:

(D) Utang Angsuran Rp 30.000.000

(D) Beban bunga Rp 1.250.000

(K) Kas Rp 31.250.000

Angsuran kedua terdiri dari angsuran pokok bulanan sebesar Rp 30.000.000 ditambah bunga
selama satu bulan atas saldo utang yang belum dibayar, dengan perhitungan sebagai berikut:

Angsuran bulanan Rp 150.000.000 ÷ 5 Rp 30.000.000

Bunga selama sebulan untuk saldo yang belum dibayar

1/12 x 10% x (Rp 150.000.000 – Rp 30.000.000) Rp 1.000.000

Jumlah yang harus dibayar Rp 31.000.000

Ayat jurnal yang harus dibuat untuk angsuran kedua adalah sebagai berikut:

(D) Utang Angsuran Rp 30.000.000

(D) Beban bunga Rp 1.000.000

(K) Kas Rp 31.000.000

Proses perhitungan, pembayaran, dan pencatatan angsuran seperti di atas akan berulang setiap
bulan sampai semua utang angsuran telah dibayar.

c. Pembelian Secara Gabungan (Lumpsum)

Perusahaan dapat memperoleh aset tetap secara gabungan, dan membayar satu harga
untuk aset tetap gabungan tersebut. Dalam hal ini, biaya perolehan aset tetap tersebut harus
dialokasikan ke masing-masing jenis aset, karena tiap aset mempunyai masa manfaat yang
berbeda dan perlu disusutkan secara terpisah. Harga perolehan dari setiap aset tetap yang
diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut
berdasarkan perbandingan nilai wajar aset. Ilustrasi 2.3. Perusahaan membeli bangunan,
kendaraan, dan peralatan dengan total biaya Rp 2.300.000.000. Estimasi nilai wajar dari
masing-masing aset sebagai berikut:

Bangunan Rp 1.200.000.000

Kendaraan Rp 800.000.000

Peralatan Rp 500.000.000

12
Total Rp 2.500.000.000

Total harga perolehan sebesar Rp 2.300.000.000 dialokasikan sebagai berikut:

Bangunan 1.200 ÷ 2.500 x Rp 2.300.000.000 = Rp 1.104.000.000

Kendaraan 800 ÷ 2.500 x Rp 2.300.000.000 = Rp 736.000.000

Peralatan 500 ÷ 2.500 x Rp 2.300.000.000 = Rp 460.000.000

Total Rp 2.300.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat pembelian secara gabungan tersebut adalah:

(D) Bangunan Rp 1.104.000.000

(D) Kendaraan Rp 736.000.000

(D) Peralatan Rp 460.000.000

(K) Kas Rp 2.300.000.000

d. Pertukaran Aset Tetap

Aset tetap dapat diperoleh dengan cara pertukaran dengan aset nonmoneter atau
kombinasi aset moneter dan nonmoneter. Dalam PSAK No. 16 (2012) dijelaskan bahwa
biaya perolehan aset tetap tersebut diukur pada nilai wajar kecuali:

a. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau

b. Nilai wajar aset yang diterima dan yang diserahkan tidak dapat diukur secara
andal.

Jika aset yang diperoleh tidak dapat diukur pada nilai wajar, maka biaya perolehannya
diukur pada jumlah tercatat aset yang diserahkan. Entitas menentukan apakah pertukaran
memiliki substansi komersial dengan mempertimbangkan sejauh mana arus kas masa depan
yang diharapkan dapat berubah sebagai akibat dari transaksi tersebut. Suatu transaksi
pertukaran memiliki substansi komersial jika:

a. Konfigurasi (risiko, waktu, dan jumlah) arus kas dari aset yang diterima berbeda
dengan konfigurasi arus kas dari aset yang diserahkan; atau

b. Nilai spesifik entitas dari bagian operasi entitas yang terpengaruh oleh transaksi
berubah sebagai akibat dari pertukaran; dan

13
c. Selisih di (a) atau (b) adalah relatif siginifikan terhadap nilai wajar dari aset yang
dipertukarkan.

Penggunaan nilai wajar akan mengakibatkan pengakuan keuntungan atau kerugian


pada saat terjadinya pertukaran. Entitas harus menghitung total keuntungan atau kerugian dari
transaksi pertukaran tersebut, yaitu selisih antara nilai wajar aset yang diberikan dan nilai
buku yang diberikan. Jika hasil dari transaksi pertukaran tersebut adalah kerugian maka
kerugian tersebut harus diakui seluruhnya, dan jika hasil dari transaksi pertukaran tersebut
adalah keuntungan maka entitas harus menentukan apakah keuntungan dan pertukaran
tersebut memiliki substansi komersial atau tidak.

1. Jika keuntungan dan pertukaran mempunyai substansi komersial, maka seluruh


keuntungan diakui (aset yang tidak sama).

2. Jika keuntungan dan pertukaran tidak mempunyai substansi komersial.

a) dan tidak ada kas yang dilibatkan, tidak ada keuntungan yang diakui.

b) dan sejumlah kas diberikan, tidak ada keuntungan yang diakui.

c) dan sejumlah kas diterima, bagian dari keuntungan berikut diakui:

Kas yang diterima


x Total Keuntungan
Kas yang diterima+Nilai aset lain yang diterima

Jika kas adalah 25% atau lebih besar daripada nilai wajar pertukaran, maka seluruh
keuntungan harus diakui.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai jenis-jenis transaksi pertukaran aset yang
berbeda, berikut ini akan dibahas berbagai situasi kerugian dan keuntungan dari pertukaran
aset.

Ilustrasi: Pertukaran – Situasi Kerugian

Perusahaan menukarkan kendaraan bekasnya dengan model yang lebih baru. Kendaraan
bekas yang ditukarkan memiliki nilai buku Rp 35.000.000 (biaya perolehan Rp 50.000.000
dikurang akumulasi penyusutan Rp 15.000.000) dan nilai wajar sebesar Rp 30.000.000.
Kendaraan tersebut ditukar dengan model baru seharga Rp 55.000.000.

Perhitungan jumlah yang harus dibayar dan kerugian atas pertukaran kendaraan bekas adalah
sebagai berikut:

14
 Jumlah yang harus dibayar:

Harga kendaraan baru Rp 55.000.000

Nilai tukar kendaraan lama (Rp 30.000.000)

Jumlah yang harus dibayar Rp 25.000.000

 Kerugian atas pertukaran kendaraan bekas:

Nilai wajar kendaraan bekas Rp 30.000.000

Nilai buku kendaraan bekas (Rp 35.000.000)

Kerugian atas pertukaran Rp 5.000.000

Ayat jurnal yang dibuat untuk transaksi tersebut adalah:

(D) Kendaraan Rp 55.000.000

(D) Akumulasi Penyusutan Rp 15.000.000

(D) Kerugian atas pertukaran aset Rp 5.000.000

(K) Kendaraan Rp 50.000.000

(K) Kas Rp 25.000.000

Ilustrasi: Pertukaran – Situasi Keuntungan yang Mempunyai Substansi Komersial

Perusahaan menukarkan sejumlah mesin bekas dengan tanah seharga Rp. 100.000.000. Mesin
bekas yang ditukarkan memiliki nilai buku Rp 45.000.000 (biaya perolehan sebesar Rp
60.000.000 dikurang akumulasi penyusutan sebesar Rp 15.000.000) dengan nilai wajar Rp
52.000.000.

Perhitungan jumlah yang harus dibayar dan keuntungan dari pertukaran tersebut adalah:

 Jumlah yang harus dibayar:

Harga tanah Rp 100.000.000

Nilai tukar mesin (Rp 52.000.000)

Jumlah yang harus dibayar Rp 48.000.000

15
 Keuntungan atas pertukaran mesin:

Nilai tukar mesin Rp 52.000.000

Nilai buku mesin (Rp 45.000.000)

Keuntungan dari pertukaran Rp 7.000.000

Ayat jurnal yang dibuat untuk transaksi pertukaran tersebut sebagai berikut:

(D) Tanah Rp 100.000.000

(D) Akumulasi Penyusutan Rp 15.000.000

(K) Mesin Rp 60.000.000

(K) Kas Rp 48.000.000

(K) Keuntungan atas pertukaran aset Rp 7.000.000

Ilustrasi: Pertukaran – Situasi Keuntungan yang Tidak Memiliki Substansi Komersial dan
Tidak Ada Kas yang Diterima

Perusahaan memperoleh mesin baru dengan menukarkan mesin lama yang memiliki nilai
wajar Rp 45.000.000. Nilai buku mesin tersebut adalah Rp 40.000.000 (biaya perolehan Rp
60.000.000 dikurang akumulasi Rp 20.000.000). perusahaan juga harus membayar tunai Rp
10.000.000 untuk mesin baru tersebut. Perhitungan biaya mesin baru dan keuntungan dari
pertukaran ini adalah:

Nilai wajar mesin baru (Rp 45.000.000 + Rp 10.000.000) Rp 55.000.000

Keuntungan yang ditangguhkan (Rp 5.000.000)

Dasar mesin baru Rp 50.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat transaksi pertukaran tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Mesin baru Rp 50.000.000

(D) Akumulasi penyusutan Rp 20.000.000

(K) Mesin lama Rp 60.000.000

(K) Kas Rp 10.000.000

16
Transaksi pertukaraan tersebut tidak memiliki substansi komersial karena tidak terjadi
perubahan yang signifikan terhadap posisi ekonomi perusahaan akibat pertukaran tersebut.
Maka, perusahaan tidak mengakui atau menangguhkan keuntungan sebesar Rp 5.000.000 dari
pertukaran yang terjadi.

Ilustrasi: Pertukaran – Situasi Keuntungan yang Tidak Memiliki Substansi komersial dan
Sejumlah Kas Diterima

Perusahaan menukarkan truk bekas yang mempunyai nilai buku Rp 60.000.000 (biaya
perolehan Rp 100.000.000 dikurang akumulasi Rp 40.000.000) dan nilai wajar Rp
90.000.000. Dalam pertukaran tersebut perusahaan menerima sebuah truk baru dengan nilai
wajar Rp 75.000.000 ditambah kas sebesar Rp 15.000.000.

Perhitungan keuntungan total dari pertukaran adalah sebagai berikut:

Nilai wajar truk bekas Rp 90.000.000

Nilai buku kendaraan bekas (Rp 60.000.000)

Keuntungan total Rp 30.000.000

Pada umumnya ketika sebuah transaksi pertukaran yang tidak memiliki substansi komersial,
perusahaan tidak mengakui atau menangguhkan setiap keuntungan. Namun, karena pada
kasus ini perusahaan menerima uang tunai sebesar Rp 15.000.000. Maka, perusahaan
mengakui sebagai keuntungan. Bagian keuntungan yang diakui perusahaan adalah rasio
moneter dibandingkan dengan nilai total yang diterima. Perhitungan bagian keuntungan
perusahaan adalah sebagai berikut:

Kas yang diterima


x Total Keuntungan
Kas yang diterima+Nilai aset lain yang diterima

Rp 15.000.000
x Rp 30.000.000 = Rp 5.000.000
Rp 15.000.000 + Rp 75.000.000

Karena perusahaan hanya mengakui keuntungan sebesar Rp 5.000.000 dari transaksi


pertukaran ini, maka perusahaan menangguhkan sisanya sebesar Rp 25.000.000 (Rp
30.000.000–Rp 5.000.000) dan mengurangi biaya yang dicatat truk baru.

Berikut ini adalah perhitungan biaya truk baru:

17
Nilai wajar truk baru Rp 75.000.000

Keuntungan yang ditangguhkan (Rp 25.000.000)

Biaya truk baru Rp 50.000.0000

Ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi pertukaran ini sebagai berikut:

(D) Kas Rp 15.000.000

(D) Truk Rp 50.000.000

(D) Akumulasi Penyusutan Rp 40.000.000

(K) Truk lama Rp 100.000.000

(K) Keuntungan atas pertukaran aset Rp 5.000.000

e. Diperoleh dengan menerbitkan saham

Menurut Kieso dkk (2011:523) properti diperoleh perusahaan melalui penerbitan sekuritas
seperti saham biasa, maka biaya property itu tidak dapat diukur secara tepat dengan nilai pari
atau nilai yang ditetapkan saham tersebut. Jika saham sedang diperdagangkan secara aktif,
maka nilai pasar saham yang diterbitkan merupakan indikasi yang wajar atas biaya properti
yang diperolehan. Saham merupakan ukuran yang baik atas harga ekuivalen kas berjalan.

Ilustrasi: Perusahaan Bumi Cipta Persada membeli tanah dengan membayar tunai atas tanah
tersebut dan perusahaan menerbitkan saham 500.000 lembar saham biasa kepada Perusahaan
Dreamland dengan nilai pari Rp 1000 yang memiliki nilai pasar wajar Rp 1200/saham.
Berikut ini adalah jurnal untuk mencatat transaksi penerbitan saham tersebut:

(D) Tanah (500.000 x Rp 1200) Rp 600.000.000

(K) Saham Biasa Rp 500.000.000

(K) Tambahan Modal Disetor ` Rp 100.000.000

f. Hibah atau sumbangan

Dalam hal ini ketika aset tetap diperoleh melalui sumbangan atau hibah, tidak ada biaya yang
dapat digunakan sebagai dasar perhitungannya. Pada hibah yang berkaitan dengan aset tetap,
maka baik hibah maupun aset tetap yang diterima harus dicatat pada nilai wajar.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 dijelaskan bahwa, nilai
tercatat aset tetap dapat dikurangi dengan hibah pemerintah sesuai dengan PSAK 61.

18
Berdasarkan PSAK No. 61 (2012) paragraf 02 menjelaskan bahwa:

“hibah yang terkait dengan aset adalah hibah pemerintah yang kondisi utamanya adalah
bahwa entitas yang memenuhi syarat harus melakukan pembelian, membangun atau membeli
aset jangka panjang. Kondisi tambahan mungkin juga ditetapkan dengan membatasi jenis
atau lokasi aset atau periode aset tersebut diperoleh atau dimiliki”

Hibah pemerintah diakui jika terdapat keyakinan memadai:

1. Entitas akan mematuhi kondisi yang melekat pada hibah tersebut, dan

2. Hibah akan diterima

Hibah yang diterima akan dicatat sebagai pendapatan selama periode berkaitan dengan
penggunaan hibah tersebut. Hibah yang diterima berkaitan dengan aset tetap, diakui sebagai
pendapatan selama umur manfaat aset tetap tersebut dan diakui secara profesional sejalan
dengan penyusutan aset tetap yang bersangkutan.

Ilustrasi: Perusahaan mendapat mesin dari pemerintah sebagai hibah dengan nilai wajar
sebesar Rp 250.000.000 atas usaha perusahaan menemukan inovasi baru dalam meningkatkan
kualitas tanaman karet. Ayat jurnal yang dibuat perusahaan pada saat menerima hibah
sebagai berikut:

(D) Mesin – Hibah Rp 250.000.000

(K) Pendapatan Hibah Rp 250.000.000

g. Aset tetap yang dibangun sendiri

Suatu perusahaan mungkin mebuat sendiri aset tetap yang diperlukan seperti gedung, perlatan
atau mesin yang akan digunakan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Pembuatan aset
tetap ini biasanya bertujuan untuk menekan biaya operasional perusahaan dengan memanfaat
fasilitas yang tidak terpakai dengan harapan untuk mendapatkan mutu yang lebih baik.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 paragraf 22 menjelaskan bahwa:

“biaya perolehan suatu aset yang dikonstruksi sendiri ditentukan dengan menggunakan
prinsip yang sama sebagaimana aset yang diperoleh bukan dengan konstruksi sendiri. Jika
entitas membuat aset serupa untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, biaya perolehan aset
biasanya sama dengan biaya konstruksi aset untuk dijual. Oleh karena itu, dalam menetapkan
biaya perolehan maka setiap laba internal dieleminasi. Serupa dengan hal tersebut, jumlah
tidak normal dari biaya pemborosan yang terjadi dalam pemakaian bahan baku, tenaga kerja,

19
atau sumber daya lain dalam aset yang dikonstruksi sendiri tidak termasuk biaya perolehan
aset tersebut”

Ilustrasi: Perusahaan menggunakan jasa perusahaan kontruksi untuk membangun sebuah


gedung. Nilai kontrak pembangunan gedung tersebut adalah Rp 1.000.000.000 dengan uang
muka sebesar Rp 200.000.000 dan syarat pembayaran bertahap. Berikut adalah rincian
pembayaran yang dilakukan perusahaan:

Pembayaran I Rp 200.000.000

Pembayaran II Rp 200.000.000

Pembayaran III Rp 250.000.000

Pembayaran IV Rp 150.000.000

Konstruksi sudah selesai dan siap untuk digunakan.

Berikut jurnal untuk mencatat pembayaran uang muka

(D) Uang Muka Pembelian/Pengadaan Rp 200.000.000

(K) Kas/Bank Rp 200.000.000

Perhitungan uang muka pada saat pembayaran termin 1 dilakukan jurnal sebagai berikut:

(D) Konstruksi dalam proses Rp 400.000.000

(K) Uang Muka Pembelian/Pengadaan Rp 200.000.000

(K) Kas/Bank Rp 200.000.000

Pembayaran termin II dilakukan pencatatan jurnal sebagai berikut:

(D) Konstruksi dalam proses Rp 200.000.000

(K) Kas/Bank Rp 200.000.000

Untuk pembayaran pada termin III dan IV dilakukan penjurnalan yang sama seperti pada
termin II. Setelah proses pembangunan selesai dan dilakukan serah terima dengan berita
acara dilakukan pencatatan jurnal kapitalisasi aset tetap sebagai berikut:

(D) Gedung Rp 1.000.000.000

(K) Konstruksi dalam proses Rp 1.000.000.000

20
2.5 Pengukuran Setelah Pengakuan

Entitas memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya
dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama.

1. Model biaya

Dalam PSAK No. 16 (IAI, 2009:16) setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap
dicatat sebesar biaya perolehannya dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai aset. Menurut Azil (2009) dengan menggunakan 23 model ini total nilai
perolehan atas suatu aset tidak akan berubah selama tidak ada transaksi yang berkaitan
dengan aset tetap tersebut. Transaksi yang dapat mempengaruhi nilai perolehan aset tetap
antara lain pembelian, penjualan, penghapusan, pertukaran aset tetap, dan perbaikan aset
tetap. Jadi, nilai perolehan aset tetap tidak akan berubah meskipun terjadi perubahan harga
yang signifikan.

Berdasarkan cost model, aset tetap akan diakui sebagai beban secara bertahap selama
masa manfaatnya. Pengakuan sebagai beban tersebut dilakukan dengan melakukan
depresiasi. Jadi entitas melakukan perhitungan depresiasi atas aset yang bersangkutan selama
masa manfaatnya. Depresiasi itulah yang akan menjadi beban tiap periode. Pada umumnya
depresiasi termasuk dalam kategori beban operasi dalam pelaporan keuangan entitas.
Pengecualiannya adalah depresiasi yang berhubungan dengan aset tetap yang berhubungan
langsung dengan aktivitas produksi. Untuk aset tetap yang berhubungan langsung dengan
aktivitas produksi depresiasinya dimasukkan dalam perhitungan biaya produksi.

Pada umumnya depresiasi hanya dihitung pada akhir periode akuntansi. Tetapi dalam
hal tertentu depresiasi juga perlu dihitung walaupun bukan pada akhir periode. Contohnya
adalah ketika terjadi transaksi yang berhubungan dengan pelepasan aset tetap. Pelepasan aset
biasanya berhubungan dengan penjualan aset tetap, pertukaran aset, ataupun penghapusan
aset yang tidak digunakan lagi. Depresiasi yang dihitung oleh entitas pada tiap periode akan
diakumulasikan dalam akun khusus yang disebut akumulasi depresiasi. Jadi akumulasi
depresiasi 24 dapat dikatakan sebagai bagian dari nilai aset tetap yang sudah memberikan
aliran manfaat ekonomis dan tidak lagi bisa memberikan tambahan aliran manfaat ekonomis.

Beban depresiasi tersebut akan dilaporkan sebagai beban operasi dalam laporan laba rugi.
Akumulasi depresiasi akan dilaporkan dalam neraca sebagai pengurang nilai perolehan aset
tetap. Nilai perolehan aset tetap dikurangi dengan akumulasi depresiasinya merupakan nilai
buku dari aset tetap tersebut.

21
a. Revaluation Model

Revaluation model yaitu metode pengukuran suatu aset tetap yang nilai wajarnya
dapat diukur secara andal yang dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal
revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi
setelah tanggal revaluasi. Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler
untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang
ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

Nilai wajar (fair value) didefinisikan dalam PSAK No.16 sebagai jumlah yang dipakai
untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki
pengetahuan yang memadai dalam suatu transaksi dengan wajar (arm’s length transaction).
Menurut Perdana (2010) terdapat tiga hirarki dalam mengestimasi nilai wajar, yaitu dengan
menggunakan nilai pasar, komparasi dengan harga pasar dari aset yang dapat
diperbandingkan dengan aset yang dinilai, dan dengan menggunakan estimasi. Catty (2010)
memberikan pendapatnya mengenai pendekatan penilaian aset tetap yaitu:

“There are three internationally recognized approaches to value: market, income, and cost.
Each has certain strengths and weaknesses, and their application depends on the purpose,
type of property involved, nature of the market, and availability of specific data that a
valuator must consider in every project.”

Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat tiga pendekatan yang diakui secara


internasional dalam menilai aset tetap yaitu pendekatan pasar, pendekatan pendapatan, dan
pendekatan biaya. Masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan, dan aplikasinya
tergantung pada tujuan, jenis dari aset tetap yang dilibatkan, keadaan pasar, dan ketersediaan
data tertentu yang harus dipertimbangkan oleh penilai dalam setiap proyek. Semua
pendekatan ini harus mencerminkan, bila mungkin, data pasar.

1. Pendekatan Pasar

Metode perbandingan penjualan langsung adalah yang paling umum digunakan pada
pendekatan pasar. Hal ini didasarkan pada sebuah asumsi bahwa pembeli tidak akan
membayar lebih untuk suatu barang yang sudah ada melebihi harga perolehannya dengan
utilitas yang sama. Metode perbandingan penjualan lebih disukai dalam semua penilaian dan
standar akuntansi; hal ini terutama berlaku bila ada pasar aktif dengan informasi yang cukup

22
dapat dipercaya. Di pasar tidak aktif, data yang tersedia relatif tidak memuaskan karena tidak
menggambarkan keadaan sebenarnya,

(Http://www.iaiglobal.or.id/data/referensi/ai_edisi_16.pdf). Terdapat indikasi dari pasar tidak


aktif yaitu:

1. Peningkatan yang signifikan selisih ask price dan bid price.

2. Pihak yang melakukan bidding jumlahnya terlalu kecil.

3. Adanya volatilitas harga pasar yang signifikan.

4. Jumlah efek yang ditransaksikan relatif kecil dibandingkan dengan jumlah


efek yang beredar.

5. Penurunan signifikan atas volume dan level aktivitas perdagangan.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menilai fair value apabila pasar yang
aktif tidak tersedia. Cara tersebut antara lain dengan teknik penilaian yang meliputi
penggunaan transaksi-transaksi pasar wajar yang terkini untuk aset yang identik. Jika
tersedia, bisa menggunakan referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara
substansial sama, analisis arus kas diskontoan, dan model penetapan harga opsi.

Dalam metode perbandingan penjualan langsung penilai dengan hati-hati harus


memeriksa keandalan harga transaksi dan memastikan aset tersebut adalah aset yang benar-
benar sebanding. Sebuah faktor penting dalam metode ini adalah identifikasi dari pasar yang
relevan, yang bisa berkisar dalam lingkup mulai dari yang sangat lokal ke global. Permintaan
dan penawaran, yang ditandai dengan ketersediaan dan keinginan terhadap aset yang
sebanding, adalah penentu utama dari harga transaksi.

Analisis pasar dapat dibuat baik secara langsung atau secara statistik:

1. Secara langsung yaitu dengan membandingkan subjek dengan barangbarang


yang identik atau sangat mirip yang telah dijual.

2. Secara statistik dengan memeriksa sampel transaksi pasar yang signifikan


untuk membangun persamaan-persamaan dan perbedaanperbedaan dari
berbagai atribut.

Proses pencocokan langsung memberikan indikasi terbaik dari nilai pasar, sedangkan
proses mencari aset yang identik atau sangat mirip mungkin agak panjang dan membutuhkan
pertimbangan aset yang berbeda dari peralatan yang terlibat, membedakannya dengan model,

23
ukuran, dan kapasitas. Tidak ada jaminan bahwa penilai akan menemukan perbandingan
langsung. Oleh karena itu, dalam praktek, perbandingan statistik umumnya digunakan karena
memiliki keuntungan bahwa data dapat dikumpulkan dan dianalisa di muka, memberikan
informasi langsung saat dibutuhkan untuk suatu tugas tertentu. Selain itu, informasi tersebut
dapat juga digunakan, dimana tepat, untuk pencocokan langsung. Manfaat tambahan adalah
bahwa data pasar dikumpulkan lebih lama dan atas dasar global yang dapat menyediakan
informasi dalam hal:

1. Perubahan yang terjadi dan kecenderungan umum di pasar spesifik.

2. Variasi di pasar geografis yang berbeda tetapi nilai ekonomi yang sama.

3. Identifikasi kurangnya permintaan untuk merek tertentu, sehingga mengakibatkan


diskon atau harga yang lebih rendah.

2. Pendekatan Pendapatan

Pendekatan pendapatan menurut Catty (2010) yaitu:

“The income approach is based on the principle that an informed buyer would pay no more
for a property than an amount equal to the present worth of anticipated future benefits
(income) from the same or equivalent property with similar risks. The most convenient
method, discounting future cash flows, is mostly applicable to investment and general-use
properties where ther is an established an identifiable rental market or where a specific
measureable stream of benefits may be attributed to the subject. In appliying this method to
plant and equipment, consideration is given to either the income-generating or the cost-
savings potential of the item and the associated risks and uncertainties.”

Ketika pendekatan pendapatan diterapkan untuk pabrik dan peralatan menggunakan


aliran laba berdasarkan proporsi badan secara keseluruhan, penilai harus mengurangi
pengembalian aset iuran. Hal tersebut termasuk modal kerja bersih, properti nyata, merek
dagang dan nama barang, hubungan dengan pelanggan, tenaga kerja, dan aset tak berwujud
lainnya yang melekat.

3. Pendekatan Biaya

Pendekatan biaya didasarkan pada prinsip bahwa penurunan nilai aset melalui proses
penuaan, perubahan dalam utilitas fungsional, serta dari pengaruh eksternal yang negatif.
Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa pembeli tidak akan membayar lebih untuk aset dari
biaya pengganti dengan utilitas dan fungsi yang sama.

24
Pendekatan biaya hanya berlaku dalam kondisi berikut ini:

1. Ketika menilai property yang tidak diperdagangkan.

2. Transaksi pasar dari barang yang sebanding tidak tersedia.

3. Data tidak dapat diekstrapolasi dari transaksi yang lebih besar.

4. Transaksi tidak ada.

5. Kurangnya data keuangan tentang property subjek.

Titik awal dari pendekatan biaya adalah penentuan Duplikasi Biaya Baru (DCN) atau
biaya penggantian baru (RCN). Yang termasuk dalam DCN dan RCN adalah biaya langsung
maupun tidak langsung.

Untuk menentukan DCN atau RCN dari pabrik dan peralatan, dapat menggunakan
metode-metode berikut:

1. Trending method atau metode tren. Dengan menggunakan metode ini nilai
lancar dari pabrik dan peralatan dapat diperoleh dari biaya akuisisi asli
(historis), yang biasanya dicatat dalam catatan entitas, melalui penyesuaian
dengan indeks harga yang sesuai. Metode ini berlaku umum dan memberikan
hasil yang dapat diandalkan ketika subjek berada pada kondisi:

a. Relatif baru.
b. Terletak di ekonomi yang stabil.
c. Dijual pada harga yang stabil.
d. Data historis tersedia.
e. Dibeli baru.

2. Direct pricing atau harga langsung. Ini adalah proses penerapan harga saat ini
dari suatu unit yang baru.

3. Benchmarking techniques atau teknik pembanding. Dalam teknik ini, biaya dari
sebuah aset diestimasi dari harga barang yang diketahui dengan karakteristik
fisik, fungsi, dan utilitas yang serupa.

Dalam membandingkan hasil dari berbagai metode yang dipilih, penilai harus
menganalisis kekuatan dan kelemahan masing-masing dan harus mempertimbangkan faktor
yang relevan untuk mencapai kesimpulan pendukung. Secara teoritis, semua metode akan
menghasilkan hasil yang sama, tetapi dalam kenyataannya, hal ini sering tidak terjadi. Penilai

25
harus mempertimbangkan fakta-fakta dan keadaan yang berlaku dan mempertimbangkan
data, premis nilai, dan asumsi yang digunakan.

Hal di atas tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan dalam PSAK. Prosedur
pengukuran dan teknik penilaian pada pencatatan aset tetap dengan model revaluasi diatur
dalam PSAK No. 16 sebagai berikut:

1. Nilai wajar dari tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian
yang dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi profesional berdasarkan
bukti pasar,

2. Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya menggunakan nilai pasar yang
ditentukan oleh penilai.

3. Jika tidak ada pasar yang dapat dijadikan dasar penentuan nilai wajar karena
sifat dari aset tetap yang khusus dan jarang diperjual-belikan, kecuali sebagai
bagian dari bisnis yang berkelanjutan, entitas mungkin perlu mengestimasi
nilai wajar menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya pengganti yang
telah disusutkan (depreciated replacement cost approach).”

Setidaknya terdapat tiga aspek objek yang perlu diperhatikan pada standar di atas.
Pertama, nilai wajar yang diperuntukkan untuk tanah dan bangunan, kedua nilai wajar
diperuntukkan untuk pabrik dan peralatan, dan ketiga, nilai wajar diperuntukkan untuk aset
tetap khusus yang tidak memiliki basis data pasar. Ketiga aspek yang mendasari nilai wajar
tersebut bila dihubungkan dengan basis nilai dalam pemahaman Standar Penilaian Indonesia
(SPI) memiliki arti yang “berbeda” satu sama lain.

Untuk hirarki pertama nilai wajar dapat diperoleh atas dasar inputan data pasar secara
langsung. Teknik ini dalam penilaian properti sebagai aset tetap sering dikenal sebagai
pendekatan data pasar (market data approach), karena menggunakan data pembanding yang
sejenis dari objek penelitian.

Untuk hirarki kedua, nilai wajar dapat diperoleh dari suatu teknik penilaian yang tidak
menggunakan data pasar langsung, namun hasil penilaian yang diharapkan tetap
manggambarkan nilai pasar yang ditentukan seorang penilai secara professional. Memahami
hal tersebut, penilai dapat saja menggunakan pendekatan penilaian lainnya, seperti
pendekatan pendapatan (income approach) atau pendekatan biaya (cost approach). Meskipun
kedua pendekatan ini tidak menggunakan data pasar langsung, tetapi penilai dapat

26
menggunakan data pasar tidak langsung (hasil analisis dan riset) sebagai inputan sehingga
nilai yang dikeluarkan tetap nilai pasar.

Untuk hirarki ketiga, nilai wajar diperoleh dari suatu kondisi properti yang jarang atau
tidak dapat diperjualbelikan secara langsung, kecuali sebagai entitas usaha. Untuk itu, inputan
data yang terbatas lebih dilihat dari kepentingan entitas dan tetap menggunakan pendekatan
pendapatan atau pendekatan biaya dengan metode biaya pengganti terdepresiasi (depreciated
replacement cost).

Kalau melihat lebih jauh dari ketiga hirarki di atas, hirarki pertama tidak hanya
diperuntukkan untuk tanah dan bangunan saja. Hirarki pertama diperuntukkan juga untuk
jenis aset yang bersifat likuid seperti motor yang tentu saja dapat diukur dengan data pasar
langsung.

Bagan hirarki seperti yang dimaksud oleh PSAK 16 dalam konteks

Hasil yang diperoleh bila menggunakan proses seperti gambar di atas akan dapat
berpengaruh dalam penentuan dasar penilaian yang dikeluarkan. Catatan untuk hal ini adalah:

1. Dasar penilaian seperti nilai pasar atau nilai lainnya, terikat kepada seorang
penilai terhadap penentuan prosedur dan teknik penilaian;

2. Dasar penilaian juga terikat kepada kategori aset yang dinilai, apakah aset
tersebut masuk kategori aset tak khusus atau aset khusus;

27
3. Penilai harus membedakan bahwa prosedur penilaian untuk tujuan pelaporan
keuangan dapat saja berbeda dengan penilaian untuk tujuan lainnya seperti
untuk tujuan penjaminan;

4. Penilai seharusnya memahami benar apa yang dimaksud oleh standar


akuntansi keuangan dalam penentuan nilai wajar. Dengan menggunakan bagan
proses seperti gambar di atas bahwa apakah “nilai pasar sama dengan nilai
wajar?” maka secara prinsip nilai pasar sama dengan nilai wajar. Namun nilai
wajar belum tentu sama dengan nilai pasar. Karena didasarkan definisinya,
nilai wajar memiliki pengertian yang luas.

Frekuensi revaluasi tergantung perubahan nilai wajar dari suatu aset tetap yang
direvaluasi. Jika nilai wajar dari suatu aset yang direvaluasi berbeda secara material dari
jumlah tercatatnya, maka revaluasi lanjutan perlu dilakukan. Beberapa aset tetap mengalami
perubahan nilai wajar secara signifikan dan fluktuatif, sehingga perlu direvaluasi secara
tahunan. Revaluasi tahunan seperti ini tidak perlu dilakukan apabila perubahan nilai wajar
tidak signifikan. Namun demikian, aset tersebut mungkin perlu direvaluasi setiap tiga atau
lima tahun sekali

Apabila suatu aset tetap direvaluasi, akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi
diperlakukan dengan salah satu cara sebagai berikut:

1. Disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dalam jumlah


tercatat bruto dari aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama
dengan jumlah revaluasian. Metode ini sering digunakan apabila aset
direvaluasi dengan cara memberi indeks untuk menentukan biaya pengganti
yang telah disusutkan; atau

2. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan jumlah tercatat neto
setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset
tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan.

Suatu kelompok aset tetap adalah pengelompokan aset yang memiliki sifat dan
kegunaan yang serupa dalam operasi normal entitas. Kelompok dari aset yang terpisah seperti
tanah, tanah dan bangunan, mesin, kapal, pesawat udara, kendaraan bermotor, perabotan, dan
peralatan kantor.

Aset-aset dalam suatu kelompok aset harus direvaluasi secara bersamaan untuk
menghindari revaluasi aset secara selektif dan bercampurnya biaya perolehan dan nilai
28
lainnya pada saat yang berbeda-beda. Namun, suatu kelompok aset dapat direvaluasi secara
bergantian (rolling basis) sepanjang revaluasi dari kelompok aset tersebut dapat diselesaikan
secara lengkap dalam waktu yang singkat dan sepanjang revaluasi dimutakhirkan.

Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung
dikredit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun, kenaikan tersebut harus diakui
dalam laporan laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang
pernah diakui sebelumnya dalam laporan laba rugi.

Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam
laporan laba rugi. Namun, penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke
ekuitas pada bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit
surplus untuk aset tersebut.

Surplus revaluasi aset tetap yang telah disajikan dalam ekuitas dapat dipindahkan
langsung ke saldo laba pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya. Hal ini meliputi
pemindahan sekaligus surplus revaluasi pada saat penghentian atau pelepasan aset tersebut.
Namun, sebagian surplus revaluasi tersebut dapat dipindahkan sejalan dengan penggunaan
aset oleh entitas. Dalam hal ini, surplus revaluasi yang dipindahkan ke saldo laba adalah
sebesar perbedaan antara jumlah penyusutan berdasarkan nilai revaluasian aset dengan
jumlah penyusutan berdasarkan biaya perolehan aset tersebut. Pemindahan surplus revaluasi
ke saldo laba tidak dilakukan melalui laporan laba rugi.

Jika dalam suatu entitas terdapat aset tetap yang tersedia untuk dijual, maka perlakuan
akuntansi untuk aset tersebut adalah sebagai berikut:

1. diakui pada saat dilakukan penghentian operasi;

2. diukur sebesar nilai yang lebih rendah dari jumlah tercatatnya dibandingkan
nilai wajar setelah dikurangi dengan biaya-biaya penjualan aset tersebut;

3. disajikan sebagai aset tersedia untuk dijual, jika jumlah tercatatnya akan
dipulihkan melalui transaksi penjualan dari penggunaan lebih lanjut; dan

4. diungkapkan dalam laporan keuangan dalam rangka evaluasi dampak


penghentian operasi dan pelepasan aset (aset tidak lancar).

29
Hirarki Penentuan Nilai Wajar

 Kuotasi harga di pasar aktif;

 Jika pasar tidak aktif, maka menggunakan teknik penilaian yang meliputi:

 penggunaan transaksi-transaksi pasar wajar yang terkini antara pihak-pihak


yang mengerti, berkeinginan, jika tersedia;

 referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substansial
sama;

 analisis arus kas yang didiskonto (discounted cash flow analysis); dan

 model penetapan harga opsi (option pricing model)

 Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang dilakukan
oleh penilai yang memiliki kualifikasi professional berdasarkan bukti pasar.

 Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya menggunakan nilai pasar yang ditentukan
oleh penilai.

Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi
diperlakukan dengan salah satu cara berikut ini:

(a) disajikan kembali secara porposional dengan perubahan dalam jumlah


tercatat bruto aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama
dengan jumlah revaluasiannya. Metode ini sering digunakan apabila aset

30
direvaluasi dengan cara memberi indeks untuk menentukan biaya pengganti
yang telah disusutkan.

(b) dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto aset dan jumlah tercatat neto
setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset
tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan

Penyusutan

Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan cukup signifikan terhadap
total biaya perolehan seluruh aset harus disusutkan secara terpisah. Misalnya rangka dan
mesin pesawat. /eban penyusutan untuk setiap periode harus diakui dalam laporan laba rugi
kecuali jika beban tersebut dimasukan dalam jumlah tercatat aset lain. Suatu bagian yang
signifikan dari aset tetap mungkin memiliki umur manfaat dan metode penyusutan yang sama

31
dengan umur manfaat dan metode penyusutan bagian signifikan lainnya dari aset tersebut.
Bagian-bagian tersebut dapat dikelompokkan menjadi satu dalam menentukan beban
penyusutan. Sepanjang entitas menyusutkan secara terpisah beberapa bagian dari aset tetap,
maka entitas juga menyusutkan secara terpisah bagian yang tersisa. Bagian yang tersisa
terdiri atas bagian yang tidak signifikan secara individual. Jika entitas memiliki ekspektasi
bervariasi untuk bagian tersebut, maka teknik penaksiran tertentu diperlukan untuk
menentukan penyusutan bagian yang tersisa sehingga mampu mencerminkan pola
penggunaan dan atau umur manfaat dari bagian tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai penyusutan:

 Aquisition Cost

Harga Perolehan berpengaruh terhadap biaya penyusutan. Aquisition cost adalah


harga pada saat sebuah aset dibeli atau didapat oleh perusahaan.

 Nilai Residu (Salvage Value)

Adalah perkiraan harga jual aset setelah berakhirnya umur produktif. Nilai residu
tidak selalu ada, ada kalanya suatu aset tidak memiliki nilai residu, misalnya pada
akhir masa produktifnya, aset tidak bisa dijual atau tidak laku untuk dijual dan
akhirnya hanya disimpan saja.

 Economical Life Time (Umur Ekonomis)

Umur ekonomis/umur manfaat adalah perkiraan usia aset atau batas waktu
penggunaan aset. Masa manfaat terbatas karena beberapa faktor yaitu:

 Faktor Fisik:

Berhubungan dengan kondisi sik suatu aset tetap. $uatu aset memiliki umur
fisik jika secara fisik aset tetap masih baik kondisinya meskipun mengalami
penurunan fungsi. Umur yang dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva.
Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva
tersebut masih dalam kondisi baik (walaupun mungkin sudah menurun
fungsinya).

 Faktor Fungsional:

Berhubungan dengan kontribusi aset tetap tersebut dalam penggunaanya. Aset


tetap masih mempunyai umur fungsional jika aset tetap tersebut masih

32
memberikan manfaat atau kontribusi dalam operasional produksi perusahaan
meskipun secara fisik suatu aset tersebut sudah tidak baik. Calaupun secara
fisik suatu aktiva masih dalam kondisi sangat baik, akan tetapi belum tentu
masih memiliki umur fungsional. Bisa saja aktiva tersebut tidak difungsikan
lagi akibat perubahan model atas produk yang dihasilkan, kondisi ini biasanya
terjadi pada aktiva mesin atau peralatan yang dipergunakan untuk membuat
suatu produk. Atau aktiva tersebut sudah tidak sesuai dengan jaman (not
fashionable), kondisi ini biasanya terjadi pada jenis aktiva yang bersifat
dekoratif (misalnya: furniture/mebeler, hiasan dinding, dsb). Dalam penentuan
beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional
yang biasa dikenal dengan umur ekonomis.

Penyusutan aset dimulai pada saat aset tersebut siap digunakan sesuai dengan
keinginan dan maksud dari manajemen. Penyusutan dihentikan lebih awal
ketika diklasifikasikan sebagai aset dimiliki untuk dijual dan aset dihentikan
pengakuannya.

Metode penyusutan yang digunakan mencerminkan ekspektasi pola konsumsi


manfaat ekonomik masa depan dari aset oleh entitas. Metode penyusutan yang
digunakan untuk aset direview minimum setiap akhir tahun buku dan, apabila
terjadi perubahan yang signifikan dalam ekspektasi pola konsumsi manfaat
ekonomi masa depan dari aset tersebut, maka metode penyusutan diubah
untuk mencerminkan perubahan pola tersebut.

a. Jumlah yang dapat disusutkan dan periode penyusutan

Jumlah yang dapat disusutkan dari aset harus dialokasikan secara sistematis selama
masa manfaatnya. Nilai residu dan masa manfaat aset harus ditinjau setidaknya setiap akhir
tahun buku dan, jika ekspektasi berbeda dari estimasi sebelumnya, perubahan (s) akan dicatat
sebagai perubahan perkiraan akuntansi sesuai dengan Kebijakan IAS 8 Akuntansi, Perubahan
Estimasi Akuntansi dan Kesalahan.

Penyusutan diakui bahkan jika nilai wajar aset melebihi nilai tercatat, selama nilai sisa
aset tidak melebihi nilai tercatatnya. Perbaikan dan pemeliharaan aset tidak meniadakan
kebutuhan untuk terdepresiasi itu.

Penyusutan aset dimulai pada saat itu tersedia untuk digunakan, yaitu ketika di lokasi
dan kondisi diperlukan untuk itu untuk mampu beroperasi dengan cara yang dimaksudkan

33
oleh manajemen. Penyusutan aset berhenti pada awal tanggal yang aset diklasifikasikan
sebagai dimiliki untuk dijual (atau termasuk dalam kelompok pembuangan yang
diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual) sesuai dengan IFRS 5 dan tanggal yang aset
tersebut diakui. Karena itu, penyusutan tidak berhenti ketika aset menjadi siaga atau pensiun
dari penggunaan aktif kecuali aset tersebut sepenuhnya disusutkan. Namun, di bawah metode
penggunaan penyusutan biaya depresiasi nol ketika tidak ada produksi.

Tanah dan bangunan adalah aset dipisahkan dan dicatat secara terpisah, bahkan ketika
mereka diperoleh bersama. Dengan beberapa pengecualian, seperti pertambangan dan situs
yang digunakan untuk TPA, tanah memiliki masa manfaat terbatas dan karena itu tidak
disusutkan. Bangunan memiliki masa manfaat yang terbatas dan karena itu adalah aset yang
dapat disusutkan. Sebuah peningkatan nilai tanah yang bangunan berdiri tidak mempengaruhi
penentuan Jumlah yang dapat disusutkan dari bangunan.

Jika biaya tanah termasuk biaya pembongkaran situs, penghapusan dan pemulihan, bahwa
sebagian dari tanah aset disusutkan selama periode manfaat yang diperoleh menimbulkan
biaya. Dalam beberapa kasus, tanah itu sendiri mungkin memiliki masa manfaat terbatas,
dalam hal ini disusutkan dengan cara yang mencerminkan manfaat menjadi berasal dari itu.

b. Metode Penyusutan

Berbagai metode penyusutan dapat digunakan untuk mengalokasikan jumlah yang dapat
disusutkan dari aset pada sistematis dasar selama masa manfaatnya. Metode ini termasuk
metode garis lurus, metode saldo berkurang dan metode unit produksi. Hasil garis lurus
depresiasi biaya konstan selama masa manfaat dari nilai sisa aset tidak berubah. Hasil metode
saldo berkurang dalam muatan menurun selama masa manfaat. Unit hasil metode produksi
biaya berdasarkan penggunaan diharapkan atau output. Entitas memilih metode yang paling
dekat mencerminkan ekspektasi pola konsumsi masa depan manfaat ekonomi diwujudkan
dalam aset. Metode yang diterapkan secara konsisten dari periode ke periode kecuali ada
perubahan dalam pola yang diharapkan dari konsumsi manfaat ekonomi masa depan.

1. Metode Garis Lurus

Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan banyak digunakan oleh
perusahaan. Dalam PSAK No. 16 (IAI,2012) paragraf 62 menjelasakan bahwa “metode
penyusutan menghasilkan pembebanan yang tetap selama umum manfaat aset jika nilai
residunya tidak berubah.”
34
Beban penyusutan dalam metode garis lurus dihitung dengan mengalokasikan nilai
aset yang disusutkan selama masa manfaat aset. Besarnya beban penyusutan dapat dihitung
dengan cara sebagai berikut:

Harga Perolehan Aset − Nilai residu


Beban Penyusutan =
Masa Manfaat atau Umur Ekonomis Aset

Ilustrasi: Perusahaan membeli sebuah mesin pada tanggal 2 januari 2014 dengan harga
perolehan Rp 80.000.000. umur ekonomis mesin tersebut diperkirakan 5 tahun dengan nilai
sisa Rp 10.000.000.

Beban penyusutannya adalah:

Harga Perolehan Aset − Nilai residu


Beban Penyusutan =
Masa Manfaat atau Umur Ekonomis Aset

Rp 80.000.000 – Rp 10.000.000
Beban Penyusutan =
5
= Rp 14.000.000

Ayat jurnal untuk mencatat beban penyusutan pertahun tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Beban Penyusutan Rp 14.000.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 14.000.000

Karena metode garis lurus menghendaki beban penyusutan yang sama pada setiap
periode, maka skedul penyusutan akan terlihat seperti tabel dibawah ini:

Tabel Skedul Penyusutan Metode Garis Lurus

Beban Akumulasi
Tahun Harga Perolehan Nilai Buku
Penyusutan Penyusutan

1 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 14.000.000 Rp 66.000.000

2 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 28.000.000 Rp 52.000.000

3 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 42.000.000 Rp 38.000.000

4 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 56.000.000 Rp 24.000.000

5 Rp 80.000.000 Rp 14.000.000 Rp 70.000.000 Rp 10.000.000

35
2. Metode Saldo Menurun

Dalam PSAK No. 16 (2012) paragraf 62 dijelaskan bahwa metode saldo menurun
menghasilkan pembebanan yang menurun selama umur manfaat aset. Beban penyusutan
semakin menurun dari tahun ke tahun. Pembebanan semakin menurun didasarkan pada
anggapan bahwa semakin tua kapasitas aset tetap dalam memberikan manfaat juga semakin
menurun. Pada metode ini beban penyusutan dapat dihitung sebagai berikut:
100%
Beban penyusutan = Nilai Buku Aset Tetap Awal Tahun x ( Umur Ekonomis x 2)

Ilustrasi 2.9. Pada tanggal 2 januari perusahaan membeli kendaraan dengan harga perolehan
Rp 100.000.000. Umur ekonomis kendaraan tersebut diperkirakan 4 tahun dengan nilai sisa
Rp 5.000.000
100%
Tarif Penyusutan = x 2 = 50 %
4

Beban Penyusutan = 50 % x Nilai Buku Aset Tetap Awal Tahun

Perhitungan:

Beban Penyusutan Tahun pertama = 50 % x Rp 100.000.000

= Rp 50.000.000

Beban Penyusutan Tahun Kedua = 50 % x (Rp 100.000.000 – Rp 50.000.000)

= Rp 25.000.000

Beban Penyusutan Tahun Ketiga = 50 % x (Rp 100.000.000 – Rp 75.000.000)

= Rp 12.500.000

Beban Penyusutan Tahun Keempat = Rp 12.500.000 – Rp 7.500.000 = Rp 5.000.000

Tabel: Skedul Penyusutan Metode Saldo Menurun

Tahun Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku

Rp 100.000.000

1 Rp 50.000.000 Rp 50.000.000 Rp 50.000.000

36
2 Rp 25.000.000 Rp 75.000.000 Rp 25.000.000

3 Rp 12.500.000 Rp 87.500.000 Rp 12.500.000

4 Rp 5000.000 Rp 92.500.000 Rp 7. 500.000

Ayat jurnal untuk mencatat beban penyusutan tahun pertama adalah sebagai berikut:

(D) Beban Penyusutan Rp 50.000.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 50.000.000

Sesuai dengan perhitungan dan tabel skedul penyusutan metode saldo menurun di
atas, beban penyusutan tahun kedua dihitung berdasarkan nilai buku awal tahun atau harga
perolehan dikurang dengan akumulasi penyusutan pada saat itu, di kali dengan tarif
penyusutan yang telah ditetapkan.

Dalam metode saldo menurun, tarif penyusutan dihitung dengan tidak memperhatikan
adanya nilai sisa. Namun, aset tetap tidak boleh disusutkan sampai dibawah nilai sisa. Oleh
karena itu penyusutan yang dilakukan pada tahun keempat dengan nilai buku kendaraan
sebesar Rp 12.500.000 tidak dapat dikalikan dengan tarif penyusutan sebesar 50% yang akan
menghasilkan beban penyusutan sebesar Rp 6.250.000. Jika jumlah penyusutan tersebut
dicatat sebagai beban penyusutan, maka pada tahun akhir kelima nilai buku kendaraan
menjadi Rp 6.250.000. Nilai sisa yang diperkirakan semula adalah sebesar Rp 7.500.000.
berdasarkan ketentuan itu, maka beban penyusutan pada tahun keempat sebesar Rp 5.000.000
yang dihitung dari nilai buku Rp 12.5000.000 dikurangi nilai sisa Rp 7.500.000.

3. Metode Jumlah Unit Produksi

Dalam PSAK No. 16 (IAI,2012) paragraf 62 menjelaskan bahwa metode unit


produksi menghasilkan pembebanan berdasarkan pada penggunaan atau output yang
diperkirakan dari aset. Tarif penyusutan per unit diperoleh dengan cara membagi jumlah yang
dapat disusutkan dari suatu aset dengan estimasi total unit yang dapat diporduksi oleh suatu
aset selama masa manfaatnya. Secara matematis, tarif penyusutan per unit dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:

37
Produksi Aktual
Beban Penyusutan =(Kapasitas Produksi x 100 %) x (Harga perolehan-Nilai Sisa)

Ilustrasi: perusahaan membeli sebuah mesin pada tanggal 2 januari dengan harga perolehan
Rp 60.000.000 dan memiliki estimasi jam kerja 12.000 jam dengan nilai sisa Rp. 6.000.000.
dari akhir tahun pertama sampai akhir tahun terakhir masa pakai mesin tersebut adalah 3000
jam, 4000 jam, 3000 jam dan 2000 jam.

Beban penyusutan tahun pertama = 3000/12.000 x 100% = 25%

= 25% x (Rp 60.000.000 – Rp 6.000.000)

= Rp 13.500.000

Beban penyusutan tahun kedua = 4000/12.000 x 100% = 33,33%

= 33,33% x (Rp 60.000.000 – Rp 6.000.000)

= Rp 17.998.200

Beban penyusutan tahun pertama = 3000/12.000 x 100% = 25%

= 25% x (Rp 60.000.000 – Rp 6.000.000)

= Rp 13.500.000

Beban penyusutan tahun pertama = 2000/12.000 x 100% = 16,67%

= 16,67% x (Rp 60.000.000 – Rp 6.000.000)

= Rp 9.001.800

Tabel: Skedul Penyusutan Metode Jumlah Unit Produksi

Tahun Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku

Rp 60.000.000

1 Rp 13.500.000 Rp 13.500.000 Rp 46.500.000

2 Rp 17.998.200 Rp 31.498.200 Rp 28.501.800

3 Rp 13.500.00 Rp 44.998.200 Rp 15.001.800

4 Rp 9.001.800 Rp 54.000.000 Rp 6.000.000

38
Ayat jurnal untuk mencatat beban penyusutan tahun pertama adalah sebagai berikut :

(D) Beban Penyusutan Rp 13.500.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 13.500.000

2.6 Penghentian Pengakuan

Nilai tercatat suatu aset tetap harus dihentikan pengakuannya:

a. Pada saat disposal, atau

b. saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari
penggunaan atau pelepasannya.

Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan suatu aset tetap harus
termasuk dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut diakui (kecuali IAS 17 mengharuskan
sebaliknya pada penjualan dan penyewaan kembali). Keuntungan tidak akan diklasifikasikan
sebagai pendapatan. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan suatu aset tetap
harus ditentukan sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan, jika ada, dengan
jumlah tercatat dari barang.

a. Penjualan Aset Tetap Berwujud

Apabila suatu aset tetap dijual, maka nilai bukunya dihitung sampai dengan tanggal
penjualan. Nilai buku ini kemudian dibandingkan dengan hasil penjualan yang diterima.
Selisih yang diperoleh dapat diakui sebagai keuntungan atau kerugian karena penjualan aset
tetap yang harus dicatat dan dilaporkan dalam laba rugi. Jika harga aset tetap pada saat
penjualan melebihi nilai bukunya maka dapat diakui sebagai keuntungan dan jika harga aset
pada penjualan lebih rendah dari nilai bukunya maka dapat diakui sebagai kerugian.

Ilustrasi 2.11. Mesin yang dibeli pada tanggal 2 Januari 2010, dijual pada tanggal 30 Juni
2012 dengan harga Rp 25.000.000. Harga perolehan mesin tersebut adalah Rp. 40.000.000.
penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus dan estimasi umur ekonomis 4 tahun dengan
nilai sisa Rp 4.000.000.

Beban penyusutan pada tanggal 30 Juni 2012 adalah:

Harga Perolehan – Nilai sisa


Beban penyusutan =
Umur Ekonomis

39
Rp 40.000.000 – Rp 4.000.000
Beban penyusutan = x 6 / 12
4

= Rp 4.500.000

Ayat jurnal penyusutan dengan metode garis lurus pada tanggal 30 Juni 2012 adalah:

(D) Beban Penyusutan Rp 4.500.000

(K) Akumulasi Penyusutan Rp 4.500.000

Keuntungan atas penjualan peralatan tersebut adalah sebagai berikut:

Kas yang diterima dari penjualan aset Rp 25.000.000

Nilai buku pada saat penjualan:

Harga perolehan Rp 40.000.000

Akumulasi Penyusutan:

Penyusutan tahun 2010 Rp 9.000.000

Penyusutan tahun 2011 Rp 9.000.000

Penyusutan tahun 2012 Rp 4.500.000

(Rp 22.500.000)

Nilai buku mesin Rp 17.500.000

Keuntungan atas penjualan aset Rp 7.500.000

Ayat jurnal untuk mencatat penjualan mesin adalah:

(D) Kas Rp 25.000.000

(D) Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 22.500.000

(K) Mesin Rp 40.000.000

(K) Keuntungan atas penjualan mesin Rp 7.500.000

40
b. Penghapusan Aset Tetap Berwujud

Aset tetap yang sudah tidak memiliki manfaat dapat dihapuskan. Hal ini terjadi jika aset tetap
tidak dapat dijual atau dipertukarkan. Dengan dihapuskannya aset tetap berarti aset tetap
tersebut harus dikeluarkan dari pembukuan.

Ilustrasi 2.12. Beban penyusutan akhir tahun baru saja dicatat untuk peralatan dengan harga
pokok Rp 70.000.000 tanpa nilai residu. Maka akumulasi penyusutan peralatan tersebut
berjumlah Rp 70.000.000.

Ayat jurnal untuk mencatat pelepasan peralatan tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Akumulasi Penyusutan – Peralatan Rp 70.000.000

(K) Peralatan Rp 70.000.000

Ayat jurnal di atas terjadi jika aset tetap dihapuskan setelah disusutkan sepenuhnya. Apabila
aset tetap dihapuskan sebelum disusutkan sepenuhnya, maka yang akan terjadi adalah
perusahaan akan mengalami kerugian yang disebabkan oleh penghapusan aset tetap tersebut.

Ilustrasi 2.13. Perusahaan melepas mesin yang kendaraan dengan harga pokok Rp
60.000.000. Akumulasi penyusutan kendaraan adalah Rp. 40.000.000, sehingga nilai buku
kendaraan adalah Rp 20.000.000. perusahaan akan mengalami kerugian sebesar dengan nilai
buku kendaraan tersebut.

Ayat jurnal untuk mencatat penghapusan kendaraan tersebut adalah sebagai berikut:

(D) Akumulasi Penyusutan – Kendaraan Rp 40.000.000

(D) Kerugian atas Pelepasan Kendaraan Rp 20.000.000

(K) Kendaraan Rp 60.000.000

2.7 Pengungkapan

Terkait Property, Plant dan Equipment, Laporan keuangan harus mengungkapkan:

a. dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto

b. metode depresiasi yang digunakan

c. masa manfaat dari tarif penyusutan yang digunakan;

41
d. jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (agregat dengan akumulasi
kerugian penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan

e. rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

 penambahan

 aset diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual atau termasuk dalam


kelompok pembuangan diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual
sesuai dengan IFRS 5 dan pelepasan lainnya

 akuisisi melalui kombinasi bisnis

 bertambah atau berkurang akibat revaluasi bawah paragraf 31, 39 dan 40

 dan dari kerugian penurunan nilai diakui atau terbalik di pendapatan


komprehensif lain sesuai dengan IAS 36;

 kerugian penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi sesuai dengan
IAS 36

 depresiasi

 selisih kurs bersih yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari mata
uang fungsional dalam suatu mata uang pelaporan yang berbeda,

 perubahan lainnya

42

Anda mungkin juga menyukai