Anda di halaman 1dari 30

2.1.

Penjaringan Isu
Pemerintah Hulu Sungai Selatan kembali berhasil meraih penghargaan
Juara Pertama bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan wilayah perkotaan,
Adipura di tahun 2015/ 2016 dan di tahun 2016/2017. Adipura merupakan
penghargaan tertinggi atas wilayah yang berwawasan lingkungan menuju
pembangunan yang menjaga dan membuktikan kebijakan, program serta kegiatan
yang berwawasan dan berkelanjutan dengan kelestarian lingkungan.
Selain Adipura, Kabupaten Hulu Sungai Selatan juga meraih penghargaan
berupa Sekolah Adiwiyata, yaitu:
a. Adiwiyata Mandiri di tahun 2017 pada sekolah MTsN Amawang
b. Adiwiyata Nasional di tahun 2017 pada sekolah SMPN 3 Kandangan dan
MTsN 3 Angkinang.
c. Adiwiyata tingkat kabupaten yang mencakup 25 sekolahan
Sekolah Adiwiyata adalah Sekolah yan peduli lingkungan yang sehat, bersih
serta lingkungan yang indah. Dengan adanya program adiwiyata diharapkan
seluruh masyarakat di sekitar sekolah agar dapat menyadari bahwa lingkungan yang
hijau adalah lingkungan yang sehat bagi kesehatan tubuh kita.
Permasalahan atau isu-isu lingkungan hidup pada umumnya
menyangkut dimensi yang luas, yaitu lintas ruang/wilayah, lintas pelaku/sektor,
dan lintas generasi. Dimensi lintas ruang/wilayah adalah suatu kondisi
permasalahan lingkungan hidup yang melewati batas wilayah administrasi.

II - 1
Permasalahan yang dihadapi dalam Bidang Sumber Daya Alam Hulu
Sungai Selatan adalah :
1. Pengelolaan sumber daya alam yang belum memperhatikan keseimbangan
alam dan untuk kesejahteraan masyarakat.
2. Belum adanya pengaturan dan perlindungan terhadap lahan pertanian
secara berkelanjutan.
Isu-isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau
dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena dampaknya yang
signifikan bagi daerah dengan karakteristik bersifat penting, mendasar, mendesak,
berjangka panjang, dan menentukan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah
dimasa yang akan datang. Perumusan isu strategis Kabupaten Hulu Sungai Selatan
disusun dari permasalahan serta tantangan yang dihadapi Kabupaten Hulu Sungai
Selatan ke depan, serta mengakomodir berbagai isu kebijakan regional maupun
nasional.
Isu-isu strategis di atas perlu dikorelasikan dengan isu-isu dan kebijakan
provinsi maupun nasional khususnya yang memberikan manfaat atau pengaruh
dimasa datang terhadap pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sebagai
bagian tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Provinsi
Kalimantan Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan perlu memperhatikan isu dan
permasalahan yang menjadi penekanan pusat dan provinsi pada periode
pembangunan yang tengah berlangsung agar program pembangunan yang
dijalankan nantinya dapat sejalan dan terintegrasi dengan arah kebijakan dari pusat
dan provinsi.

2.2. Isu Prioritas


Isu prioritas adalah isu utama yang menjadi prioritas dalam
memperbaiki kualitas lingkungan hidup di daerah. Isu prioritas merupakan
pilihan-pilihan kebijakan yang mendasar yang diperlukan atau tantangan kritis
yang harus dihadapi untuk menuju kondisi terbaik yang diinginkan. Sebuah isu
akan menjadi prioritas yakni apabila tidak diantisipasi akan menimbulkan kerugian
yang lebih besar atau dalam hal tidak dimanfaatkan akan menghilangkan
peluang dalam jangka panjang. Penetapan isu prioritas atau isu strategis
lingkungan hidup difokuskan pada permasalahan terkait lingkungan hidup yang

II - 2
telah, sedang dan/atau akan terjadi di daerah, dan prosesnya dilakukan secara
partisipatif dengan melibatkan pemangku kepentingan di daerah.
Isu – isu lingkungan hidup yang didapatkan berdasarkan kesepakatan
dengan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah sebagai berikut:
1) Penurunan kualitas air:
- Sumur bor
- Sekitar perkebunan kelapa sawit
- Sungai sebagai intake PDAM
- Daerah aliran air dari kegiatan pertambangan
2) Pengelolaan sampah
3) Degradasi lahan
4) Kesadaran masyarakat tentang pengelolaan lingkungan

2.2.1. Penurunan Kualitas Air


Kualitas air adalah suatu ukuran kondisi air dilihat dari karakteristik fisik,
kimiawi, dan biologisnya. Kualitas air juga menunjukkan ukuran kondisi air relatif
terhadap kebutuhan biota air dan manusia.
Pada saat ini air menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius. Untuk
mendapatkan air yang baik sesuai dengan standar terntentu sudah cukup sulit untuk
di dapatkan. Hal ini dikarenakan air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam
limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia. Sehingga menyebabkan kualitas air
menurun, begitupun dengan kuantitasnya.
Pengelolaan kualitas air dimaksudkan untuk menjamin kualitas air yang
diinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi alamiah. Pengendalian
pencemaran air dimaksudkan untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku
mutu air melalui upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta
pemulihan kualitas air.
Sumberdaya air merupakan salah satu sumberdaya terpenting bagi
kehidupan manusia dalam melakukan berbagai kegiatan, termasuk kegiatan
pembangunan. Meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan
mengakibatkan meningkatnya kebutuhan sumberdaya air. Dilain pihak,

II - 3
ketersediaan sumberdaya air semakin terbatas, bahkan dibeberapa tempat dapat
dikatakan berada dalam kondisi kritis.

2.2.1.1. Sumur Bor

Sumur bor adalah salah satu jenis sumur buatan yang dibuat dengan bantuan
alat bor untuk mencapai kedalaman sumur yang cukup sehingga akan bertemu
dengan sumber air tanah yang melimpah. Suplai air pada dasarnya sangat melimpah
karena sebagian besar bumi ini memiliki wilayah perairan yang lebih luas daripada
daratan.
Pembuatan sumur bor banyak dipilih oleh para pengusaha karena sumur bor
memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan penyedia air lainnya seperti
perusahaan pemerintah, PAM. Pembuatan sumur bor memang membutuhkan biaya
yang cukup besar, namun demikian, tidak demikian dengan biaya sehari-harinya.
Instalasi pengadaan air dari PAM memang membutuhkan biaya yang jauh lebih
sedikit, namun demikian, PAM memiliki reputasi yang kurang dapat dipercaya
dalam hal pengadaan air sehingga harus ada alternative pengadaan air lainnya untuk
dapat mensuplai air selama 24 jam. Ditambah lagi, biaya yang harus dibayarkan
kepada PAM dengan pemakaian yang besar pastinya akan sangat besar, jauh lebih
besar dibandingkan dengan yang harus dibayarkan untuk kebutuhan sumur bor.
Pembuatan sumur bor juga dapat menjadi penyelesaian dari berbagai
permasalahan air seperti air yang kuning dan kotor. Dengan sumur bor, anda tidak
perlu menggunakan filter untuk dapat mengolah air yang kotor menjadi air yang
layak pakai dan membuang banyak uang untuk melakukan pemasangan serta
perawatan terhadap filter tersebut. Ini dimungkinkan karena sumur bor
menggunakan air tanah yang jernih dan bersih karena berada jauh di dalam tanah.
Air tanah yang kurang bersih biasanya berada di kedalaman kurang dari 40 meter
sedangkan sumur bor memiliki kedalaman yang dapat mencapai ratusan meter.
Selain itu, sumur bor juga dapat memberikan air bersih layak pakai dan konsumsi
di daerah-daerah yang dekat dengan pantai. Jika anda tinggal di dekat pantai, maka
permasalahan yang dihadapi adalah kemungkinan bahwa air yang keluar dari sumur
anda adalah air yang terkontaminasi air laut sehingga memiliki rasa asin. Dengan
sumur bor kedalaman ratusan meter, masalah ini pastinya sudah dapat dipecahkan.
Bayangkan saja jika anda memiliki ataupuan mengelola sebuah hotel resort dengan

II - 4
letak yang amat strategis di pinggir pantai, maka jika anda tidak menggunakan
teknologi sumur bor, maka anda akan mengalami masalah air asin yang pastinya
akan mengganggu para tamu anda.
Pembuatan sumur bor memiliki pengaruh yang sangat baik bagi berbagai
bisnis. Dengan biaya yang tidak besar dan kemampuannya untuk dapat memberikan
suplai air tanpa henti kepada para tamunya, sumur bor telah sedikit menjamin
kelangsungan sebuah usaha. Dan dengan berlansungnya sebuah usaha, berarti
perusahaan tersebut bisa terus mengakomodir para pekerjanya dan mengurangi
angka pengangguran. Namun demikian, seperti layaknya semua hal yang ada di
dunia, pembuatan sumur bor juga memiliki sisi negatif. Sumur bor yang dalam
dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan hidup serta pengurangan debit air.
Sumur bor kini sudah semakin banyak dipergunakan baik oleh berbagai industri
serta perumahan, namun sebagian besar masih belum mengindahkan peraturan-
peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Dari pengamatan di lapangan, kedalaman muka air tanah dapat diamati dari
sumur penduduk maupun sumur bor. Di daerah penyelidikan terutama di Kota
Kandangan, air tanah terdapat pada kedalaman 4 – 9 m. pada lapisan pasir
lempungan berkerikil. Fluktuasi air tanah bebas pada musim kemarau dan musim
hujan cukup besar yaitu sekitar 2 m. Kedalaman perangkap air tanah ditemukan
pada kedalaman lebih dari 30 m terdapat pada lapisan pasir, kerikil dengan sedikit
lempungan setebal 15 – 30 m. Kualitas air tanah rata-rata bersifat asam yaitu pH
berkisar antara 4,57 – 5,50, hal ini menunjukan sampel air yang diambil berlokasi
di daerah yang mengandung Batu bara. Kondisi sifat fisik dan kualitas air di daerah
penyelidikan.
Sumur bor merupakan salah satu dari sumber penyediaan air bersih di
Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Tabel 2.1.
.....................................
Sumber: ......................................

Sumur bor memiliki dampak buruk bagi lingkungan, selain dapat merusak
permukaan tanah, juga merusak siklus hidrologi, dan yang sering terjadi adalah

II - 5
habisnya cadangan air yang berguna untuk menyeimbangkan tekanan permukaan
tanah dan berakibat terjadinya longsor dan amblas permukaan tanah.
Pengelolaan air tanah meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, pengevaluasian penyelenggaraan konservasi air tanah,
pendayagunaan air tanah, pengendalian daya rusak air tanah berdasarkan cekungan
air tanah. Kegiatan ini ditujukan untuk mewujudkan kelestarian, kesinambungan
ketersediaan serta kemanfaatan air tanah yang berkelanjutan.
Sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri ESDM No.
1451K/10/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas
Pemerintahan di Bidang Pengelolaan Air Tanah, kebijakan pengelolaan air tanah
kewenangan penyelenggaraannya diletakkan di daerah. Sehubungan dengan
pelaksanaan desentralisasi pengelolaan air tanah, beberapa hal penting yang perlu
mendapat perhatian dan perlu dipersiapkan daerah antara lain:
1. Penyediaan peta dan informasi tentang air tanah.
2. Kesepakatan antar bupati/walikota dalam mengelola cekungan air tanah
lintas kabupaten/kota dan kesepakatan gubernur dalam mengelola
3. cekungan air tanah lintas provinsi, terutama mencakup inventarisasi potensi,
perencanaan pendayagunaan, peruntukan pemanfaatan, konservasi dan
pengendalian.
4. Pemberdayaan daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan, menyangkut
kemampuan teknis sumber daya manusia, peralatan serta ketersediaan
data/informasi tentang sumber daya air tanah.
5. Pengaturan terpadu berbagai sektor dalam pemanfaatan air tanah, sehingga
tidak terjadi konflik kepentingan.
6. Pendayagunaan (eksploitasi) air tanah yang lebih menekankan pada tujuan
pelestarian dan perlindungan sumber daya air tanah alih-alih untuk
memperbesar PAD.
7. Pengaturan penempatan kawasan industri yang memerlukan air sebagai
bahan baku dan proses industri, sesuai dengan potensi sumber daya air yang
tersedia.
8. Konsistensi daerah dalam meneruskan kebijakan yang telah diambil saat ini
yaitu pengurangan debit pengambilan air tanah untuk industri di daerah

II - 6
rawan air tanah, serta pelarangan pemanfaatan air tanah bebas untuk
industri.
9. Rencana jangka panjang atas kebutuhan air untuk masyarakat luas dan
berbagai kegiatan sektoral.
10. Pengadaan dan penambahan jumlah sumur pantau untuk mengetahui
perubahan-perubahan kondisi air tanah akibat pengambilan sebagai tindak
lanjut dalam mengambil keputusan pengelolaan air tanah.
11. Penertiban sumur-sumur pengambilan air tanah yang tidak berizin, sebagai
salah satu upaya untuk mencegah kerusakan air.

Gambar 2.1.
Pengelolaan Air Tanah Berdasarkan PP No. 43/2008

Keberhasilan pengelolaan air tanah sangat tergantung pada fungsi


pengawasan dan pengendalian termasuk fungsi pembinaan. Dengan pengawasan
dan pengendalian maka keberlanjutan pemanfaatan air tanah akan dapat terjamin.
Pengelolaan air tanah berlandaskan pada kebijakan pengelolaan air tanah
dan yang ditetapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, gubernur, atau

II - 7
bupati/walikota. Kebijakan pengelolaan air tanah merupakan keputusan yang
bersifat mendasar untuk mencapai tujuan, melakukan kegiatan atau mengatasi
masalah tertentu dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan air tanah. Kebijakan
pengelolaan air tanah yang ditetapkan berfungsi sebagai arahan dalam
penyelenggaraan konservasi air tanah, pendayagunaan air tanah, pengendalian daya
rusak air tanah, dan sistem informasi air tanah.
Kebijakan pengelolaan air tanah disusun dan ditetapkan secara terintegrasi
dalam kebijakan pengelolaan sumber daya air yang dijabarkan lebih lanjut dalam
kebijakan teknis pengelolaan air tanah yang berfungsi sebagai arahan dalam
pengelolaan air tanah meliputi kegiatan konservasi, pendayagunaan, pengendalian
daya rusak dan sistem informasi air tanah di wilayah administrasi yang
bersangkutan, baik pada tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota.
Kebijakan teknis pengelolaan air tanah nasional yang disusun dan
ditetapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dengan mengacu pada
kebijakan nasional sumber daya air. Kebijakan teknis pengelolaan air tanah provinsi
yang disusun dan ditetapkan gubernur dengan mengacu pada kebijakan teknis
pengelolaan air tanah nasional dan berpedoman pada kebijakan pengelolaan sumber
daya air provinsi. Kebijakan teknis pengelolaan air tanah kabupaten/kota yang
disusun dan ditetapkan bupati/walikota dengan mengacu pada kebijakan teknis
pengelolaan air tanah provinsi dan berpedoman pada kebijakan pengelolaan sumber
daya air kabupaten/kota.

II - 8
Gambar 2.2.
Diagram Alir Kebijakan Pengelolaan Air Tanah

Kebijakan teknis pengelolaan air tanah menjadi dasar dalam penyusunan


dan penetapan strategi pelaksanaan pengelolaan air tanah pada cekungan air tanah.
Kebijakan pengelolaan air tanah disusun dan dirumuskan dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1. Penyelenggarakan pengelolaan berdasarkan pada prinsip kelestarian
Lamanya pembentukan air tanah pada akuifer menyebabkan upaya
perbaikan atau rehabilitasinya sangat sulit dilakukan serta membutuhkan
waktu yang sangat lama, seperti telah dibahas pada Bab 1. Kenyataan ini
perlu dipahami oleh semua pihak agar dalam setiap upaya
pendayagunaannya perlu selalu diimbangi dengan upaya konservasi,
sehingga pemanfaatannya dapat secara optimal, serta pelaksanaannya tidak
mengakibatkan kerusakan kondisi dan lingkungan air tanah.
Beberapa ketentuan yang diberlakukan berkaitan dengan kebijakan ini
meliputi kewajiban melakukan upaya konservasi bagi semua pihak yang
melaksanakan pendayagunaan air tanah serta kegiatan lain yang berpotensi
merusak kondisi dan lingkungan air tanah, seperti kegiatan penambangan,
pengawaairan (dewatering) untuk pemasangan tiang pancang bangunan
yang tinggi, pembangunan kawasan pemukiman, kawasan industri, dan
lain-lain.
Mengingat sebaran dan potensi air tanah di alam tidak merata, maka agar
pemanfaatannya dapat berkelanjutan tanpa menimbulkan kerusakan
lingkungan dalam setiap pengambilan dan pemanfaatannya perlu
mempertimbangkan kemampuan akuifer dalam memasok air.
2. Pengelolaan air tanah didasarkan pada cekungan air tanah
Konsep cekungan air tanah sebagai kesatuan wilayah pengelolaan air tanah
didasarkan pada prinsip terbentuknya air tanah yang utuh dalam satu neraca
air sejak dari daerah imbuhan hingga daerah luahan (lepasan) pada suatu
wadah, yaitu cekungan air tanah.
Berdasarkan konsep ini akan diketahui secara terukur seluruh potensi air
tanah dalam suatu cekungan air tanah, termasuk kemampuan penyediaan air

II - 9
tanah dari akuifer yang terdapat dalam cekungan tersebut. Dengan
melaksanakan pengelolaan didasarkan pada cekungan air tanah, seluruh
kegiatan pengelolaan air tanah tanah yang meliputi inventarisasi,
konservasi, pendayagunaan air tanah, dan pengendalian daya rusak air tanah
mencakup kegiatan pemberdayaan, pengendalian dan pengawasan air tanah
akan dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan baik.
Cekungan air tanah di Indonesia ditetapkan oleh Presiden sebagai dasar
penyelenggaraan pengelolaan air tanah oleh pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten/ kota.
3. Penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air secara terpadu
Pengelolaan terpadu merupakan suatu proses yang mengedepankan
pembangunan dan pengelolaan sumber daya air, lahan, dan sumber daya
terkait lainnya secara terkoordinasi untuk memaksimalkan pencapaian
target ekonomi dan kesejahteraan sosial tanpa mengorbankan ekosistem.
Menyikapi pentingnya keterpaduan dalam mewujudkan tujuan pengelolaan
sumber daya air, Pemerintah telah memasukkan kegiatan ini ke dalam
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional.
Terdapat tiga program keterpaduan yang telah dicanangkan dalam undang-
undang tersebut untuk dilaksanakan, yaitu penyelenggaraan konservasi air
tanah dan air permukaan yang terpadu, meningkatnya keterpaduan
penggunaan air tanah dan air permukaan, serta keterpaduan pengendalian
pencemaran air tanah dan air permukaan.
4. Pemanfaatan air tanah diutamakan untuk memenuhi kehidupan pokok hidup
di atas semua peruntukan lain.
Guna memberikan perlindungan terhadap masyarakat luas untuk
memperoleh hak atas air, ditetapkan bahwa hak atas air tanah adalah hak
guna air yang diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-
hari.

2.2.1.2. Perkebunan Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan yang terkenal di


Indonesia, dan sebagai tanaman penghasil minyak paling tinggi persatuan luas.

II - 10
Pemanenan sawit dapat dimulai pada umur 3,5 samai 4 tahun sejak pembibitan
(Aritonang, 1986).
Hulu Sungai Selatan (HSS) merupakan salah satu kabupaten primadona di
Kalimantan Selatan bagi perusahaan kelapa sawit untuk menanamkan investasinya.
Sehingga daerah ini seperti dikepung perkebunan kelapa sawit, yang bisa tumbuh
dimana-mana. Selain tentunya di Daha Barat dan Kalumpang yang sudah tumbuh
berkembang. Kecamatan lainnya adalah Lokasdo dan Telaga Langsat.Namun
dengan jumlah sedikit.
Pembangunan pabrik kelapa sawit berada di kawasan hutan produksi
konversi menurut SK Menhut No 435/Menhut-II/2009. Berdasarkann RTRWP
Kalimantan Selatan lahan pabrik kelapa sawit seluas 15 ha akan merubah
peruntukkannya dari kawasan budidaya tanaman perkebunan dan kawasan
budidaya tanaman pertanian lahan basah. Terjadi pengurugan lahan rawa dan
diikuti dengan penutupan lahan dengan bangunan yang permanen. Namun karena
luasan pabrik hanya 15 ha sehingga pembangunan pabrik kelapa sawit
berdampak negatif dan dapat dikategori tidak penting terhadap ruang dan lahan
Pembangunan pabrik kelapa sawit di atas lahan seluas 15 ha memerlukan
bahan urug ± 2.000 m3. Pengurugan akan merubah fisiografi lahan seperti rawa
belakang (back swamp) berupa cekungan menjadi dataran, atau dataran banjir
menjadi lahan yang lebih tinggi dan lebih padat dari aslinya. Tanah yang telah
tertutup oleh bahan urug akan berubah kesuburannya sehingga mempengaruhi
pertumbuhan tanaman namun karena kegiatan ini bukan untuk tanaman tetapi
bangunan pabrik yang sifatnya penutupan permanen dengan luasan yang relatif
kecil sehingga kegiatan pembangunan pabrik kelapa sawit menjadinegatif tidak
penting (-TP) terhadap fisiografi dan tanah.
Pekerjaan pembangunan pabrik kelapa sawit dilakukan dengan pembuatan
saluran drainase, tanggul, kolam-kolam IPAL dan sarana
lainnya. Konstruksi pabrik kelapa sawit (PKS) itu memerlukan lahan seluas +15
ha. Dampak konstruksi relatif sangat kecil yakni adanya sedikit perubahan bentang
alam dari hamparan lahan basah (dominan ditumbuhi oleh vegetasi pohon dan
semak belukar) menjadi hamparan yang berubah menjadi lahan kering. Dampak

II - 11
perubahan itu tidak bersifat mendasar terhadap tata air di dalam dan luar batas
proyek.
Dampak terhadap hidrologi diprakirakan: (a) Penurunan muka air tanah
dengan adanya aliran ke dalam saluran drainase. Diprakirakan penurunan air tanah
mencapai 0,2 – 0,4 m dari permukaan tanah asal. Sungai alam akan mengalami
pengurangan debit sampai menjadi kering. Penurunan muka air tanah berlanjut
hingga tahap operasional. Penguapan air tanah dalam musim kemarau akan
mempercepat penurunan air tanah. Disamping itu, aliran air ke sungai dalam batas
ekologi memiliki perbedaan debit air yang besar antara musim hujan dan musim
kemarau. Nisbah debit itu dapat mencapai 0,8,
Perubahan akibat pembangunan PKS terhadap komponen hidrologi dan
kualitas air diprakirakan mengenai biota akuatik in situ maupun mengenai aliran
sungai di dalam batas ekologis. Terlebih lagi dampak berakumulasi dengan dampak
pembangunan prasarana dan sarana perkebunan. Dampak lanjutan dapat pula
mengenai komponen sosial dan kesehatan masyarakat, yang menurunnya kualitas
air sungai. Dampak dalam tahap konstruksi berlangsung relatif singkat (1 – 2 tahun)
yang intensitasnya semakin menurun, namun dampaknya dinilai negatif dan
penting (-P) yang memerlukan pengelolaan terhadap aspek teknis dan sosial secara
serius.
Pembangunan pabrik seperti halnya pembangunan sarana dan prasarana
akan menghilangkan vegetasi yang ada, pematangan tanah dan diganti dengan
bangunan pabrik serta kelengkapannya sehingga berpotensi untuk mengurangi
infiltrasi air ke dalam tanah dan meningkatkan kecepatan aliran
permukaan. Peningkatan kecepatan aliran permukaaan ini akan meningkatkan
laju erosi dan sedimentasi serta fluktuasi debit air pada badan air penerima.
Dampak ini akan menimbulkan dampak lanjutan terhadap kualitas air berupa
peningkatan TSS, kekeruhan, nitrit, nitrat dan amoniak, serta akan menurunkan
kandungan oksigen terlarut dan pH perairan.
Pada tahun 2017 dari data BPS diketahui bahwa dari 11 kecamatan di
Kabupaten Hulu Sungai Selatan 10 diataranya terdapat pekebunan kelapa sawit dan
hanya Kecamatan Daha Utara yang tidak menanam kelapa sawit. Perkebunan
kelapa sawit terluas berada di Kecamatan Loksado dengan luas panen yaitu 1.039

II - 12
hektar dan yang paling kecil luas tanamnya adalah Kecamatan Lumpang dan
Kecamatan Daha Selatan dengan luas panen masing – masing adalah 20 hektar.
Sebaran luas panen tanaman kelapa sawit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan
ditampilkan pada grafik dibawah ini.
Telaga Langsat
11%
Angkinang
Loksado 9%
35% Kandangan
11%
Sungai Raya
4%
Simpur
1%
Kalumpang
1%
Daha Selatan
Padang Batung 1%
25% Daha Utara Daha Barat
0% 2%

Grafik 2.1.
Sebaran Luas Panen Tanaman Kelapa Sawit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Tahun 2017
Sumber: Kabupaten Hulu Sungai Selatan dalam Angka, 2017
Keberadaan sungai yang ada di sekitar perkebunan kelapa sawit tersebut
diatas mengalami penurunan kualitas airnya. Sungai - sungai tersebut adalah Sungai
Amandit (Kelurahan Kandangan), Sungai Telaga Langsat (Kelurahan Telaga
Langsat), Sungai Kalumpang (Kecamatan Kalumpang) dan Sungai Negara
(Kecamatan Daha Selatan).
Pengelolaan kulitas air karena kegirtan perkebunan kelapa sawit harus
segera dilakukan sehingga nantinya dampak negative dapat segera diatasi. Salah
satu bentuk teknik pengendalian dan pengeporasian limbah cair buangan pabrik
kelapa sawit adalah dengan melakukan bio degradasi terhadap komponen organik
menjadi senyawa organik sederhana dalam kondisi anaerob sehingga baku mutu
limbah cair dapat disesuaikan dengan daya dukung lingkungan. Dengan demikian
aspek pengendalian pengolahan secara optimal akan dapat:
1) Mengurangi dampak negatif atau tingkat pencemaran yang ditimbulkan
dapat dikendalikan.

II - 13
2) Tercapainya standar/baku mutu limbah cair buangan pabrik kelapa sawit
yang dapat disesuaikan dengan daya dukung lingkungan, terutama terhadap
media air.
Didalam industri pabrik kelapa sawit proses pengolahannya menggunakan
air sebagai media untuk memproduksi minyak dan inti sawit, oleh karena
penggunaan air, pabrik kelapa sawit berpotensi dalam menghasilkan limbah cair
yang dapat mencemari badan air. Menurut Kittikun, dkk (2008), limbah cair
buangan pabrik kelapa sawit dapat dikelompokkan:
a) Low polluted effluent
Low polluted effluent adalah limbah cair yang tidak berdampak pada
lingkungan sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus dalam
pengelolaannya. Dalam konteks pabrik kelapa sawit tersebut, hanya
memiliki suhu di atas rata-rata (40-800 C), sedangkan parameter lain
memenuhi persyaratan, sehingga limbah cair ini hanya membutuhkan
proses pendingin secara alami saja, sebelum di buang ke lingkungan. Low
polluted effluent bersumber dari kegiatan boiler (berupa air blow), turbin
(sisa air pendingin), serta kondensat sisa uap pemanas dan air dari proses
pencucian.
b) High polluted effluent
High polluted effluent adalah limbah cair yang sangat berdampak terhadap
lingkungan, sehingga memerlukan perlakuan khusus sebelum dibuang ke
lingkungan. Limbah ini mempunyai karakteristik BOD, COD, TSS, pH dan
paramter lain yang tidak memenuhi persayaratan. High polluted effluent
bersumber dari proses sterilisasi (berupa kondesat rebusan), klarifikasi
(berupa air bercampur lumpur dan minyak), hydrocylone (air pemisah
kernel dan cangkang).

PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam


Pengelolaan Lingkungan Hidup) merupakan instrumen pengawasan pengelolaan
lingkungan yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) terhadap industri di Indonesia. PROPER bertujuan meningkatkan ketaatan
Perusahaan terhadap Undang-undang dan Peraturan Pemerintah yang terkait

II - 14
dengan pengelolaan lingkungan melalui instrumen insentif dan disinsentif. Insentif
berupa penyebarluasan kepada publik tentang reputasi atau citra baik bagi
perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang baik, ditandai
dengan label BIRU, HIJAU dan EMAS. Disinsentif berupa penyebarluasan reputasi
atau citra buruk bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan
yang tidak baik, ditandai dengan label MERAH dan HITAM.
Setiap tahun KLHK melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan
dalam mengelola lingkungan dan memberikan peringkat berupa warna yaitu:
peringkat EMAS yang merupakan peringkat tertinggi dalam pengelolaan
lingkungan diberikan kepada Perusahaan yang telah secara konsisten menunjukkan
keunggulan lingkungan dalam proses produksi atau jasa, melaksanakan bisnis yang
beretika dan bertanggung jawab terhadap masyarakat; peringkat HIJAU diberikan
kepada Perusahaan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang
dipersyaratkan dalam peraturan melalui pelaksanaan sistem pengelolaan
lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan melakukan upaya
tanggung jawab sosial dengan baik; peringkat BIRU diberikan kepada Perusahaan
yang telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai
dengan ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku; peringkat
MERAH diberikan kepada Perusahaan yang dinilai belum sesuai dengan
persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan; dan
peringkat HITAM adalah peringkat terendah yang diberikan kepada perusahaan
yang dinilai sengaja melakukan perbuatan atau melakukan kelalaian yang
mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan serta pelanggaran terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak melaksanakan sanksi
administrasi.

2.2.1.3. Sungai sebagai Intake PDAM

Sumberdaya air permukaan merupakan salah satu sumberdaya yang paling


banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Air permukaan dapat berupa sungai, danau,
dan waduk. Air permukaan digunakan untuk berbagai keperluan seperti pertanian,
transportasi, dan juga air minum. Air permukaan dipelajari lewat salah satu cabang
ilmu yaitu limnologi. Limnologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang sifat dan struktur perairan permukaan atau daratan yang

II - 15
meliputi mata air, sungai, danau, kolam, dan rawa-rawa, baik yang berupa air tawar
maupun air payau (Barus, 2002).
Limnologi merupakan cabang ilmu hidrologi yang mempelajari air
permukaan baik itu yang menggenang ataupun mengalir. Waduk termasuk salah
satu contoh air permukaan yang menggenang selain danau dan rawa. Perbedaan
mendasar antara keduanya yaitu dari proses pembuatannya. Danau dan rawa terbuat
secara alami, sedangkan waduk merupakan salah satu jenis air permukaan buatan
manusia (Barus, 2012).
Kualitas air merupakan kondisi air berdasarkan karakteristik fisik, kimiawi,
dan biologisnya. Menurut Effendi, 2003 kualitas air diartikan sebagai sifat air yang
mempunyai kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain dalam air.
Kualitas air antar satu wilayah dengan wilayah lainnya akan berbeda sesuai dengan
karakteristik wilayahnya masing-masing, sehingga pemantauan kualitas air sangat
dibutuhkan.
Kualitas air antar satu daerah dengan daerah lain berbeda sesuai dengan
karakteristik daerahnya masing-masing. Faktor utama yang mempengaruhi kualitas
air yaitu faktor alami, faktor buatan akibat aktivitas manusia, dan waktu
(Sudarmadji dkk., 2014). Faktor alami terdiri dari proses yang terjadi di alam yaitu
iklim, geologi, dan vegetasi. Faktor buatan akibat adanya aktivitas manusia
misalnya adanya sampah akibat pembuangan sampah sembarangan, limbah
domestik, limbah industri, dan aktivitas manusia lainnya.
Sumber air merupakan salah satu komponen utama yang ada pada suatu
sistem penyediaan air bersih, karena tanpa sumber air maka suatu sistem penyedia
air bersih tidak akan berfungsi (Nurhartati, 2013). Salah satu perusahaan yang
menjadi penyedia dan pengelola air bersih di Indonesia yaitu Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM). PDAM sebagai perusahaan air bersih bertanggung jawab atas
kualitas dan juga kuantitas air yang di salurkan harus sesuai dengan standar air
minum.
Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 adanya PDAM merupakan
perusahaan milik Pemerintah Daerah yang memberikan jasa pelayanan dan
menyelenggarakan kemanfaatan umum di bidang air minum. Sistem yang biasanya
dikembangkan oleh PDAM dalam melakukan distribusi air kepada masyarakat

II - 16
yaitu melalui sistem jaringan menggunakan pipa. Pipa ini yang kemudian
menghubungkan sumber air baku dengan kran air warga. Penyediaan air bersih
merupakan salah satu contoh pemanfaatan air yang dilakukan oleh PDAM. Hal ini
merupakan salah satu tahapan penting dalam teknik pengembangan sumberdaya air
(Linsley dan Franzini, 1985 dalam Wulandari, 2014).
Lokasi bangunan intake yang digunakan untuk mengambil air baku dari
Sungai Amandit untuk wilayah pelayanan Kota Kandangan berada di Muara
Banta. Intake Muara Banta ini merupakan sumber air baku daripada Instalasi
Pengalahan Air (IPA) Muara Banta dan memiliki jarak yang relaif dekat dengan
IPA.
Intake parameter fisik dan kimia menyajikan suatu data bahwa air
baku yang digunakan secara umum tidak memenuhi syarat baktereriologis.
Parameter lain yang umumnya tidak memenuhi syarat adalah parameter DO dan
Mn.Air sampel hasil PDAM secara umum masih memiliki kandungan Fe dan Mn
yang tinggi disertai dengan kandungan sisa Chlor yang masih dibawah
standard. Pemeriksaan untuk air hasil PDAM didasarkan pada syarat-syarat
dari Kep Men Kes RI No. 907/ Menkes/ Sk/ VII/ 2002 tentang kualitas air
minum. Untuk pemeriksaan kualitas air bersih, digunakan baku mutu dari
Permenkes RI No. 415/ Menkes/ Per/ IX/ 1990.
Secara umum kualitas air yang dihasilkan oleh PDAM masih
memerlukan penurunan kandungan Fe dan Mn secara kimia melalui pengaturan
pH dan aerasi. Kandungan bakteriologi dapat ditekan dengan proses desikfeksi
yang tepat sebelum didistribusikan kepada masyarakat (Sumber: Management of Amandit
River Basin (Hulu Sungai Selatan, South Kalimantan), 2010).

2.2.1.4. Daerah Aliran Air dari Kegiatan Pertambangan

Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu


hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung
bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta
mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada sungai utama ke laut
atau danau. Linsley (1980).
Daerah Aliran Sungai DAS merupakan ekosistem, dimana unsur organisme
dan lingkungan biofisik serta unsur kimia berinteraksi secara dinamis dan

II - 17
didalamnya terdapat keseimbangan inflow dan outflow dari material dan energi.
Selain itu pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk
pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan
sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan
produksi pertanian dan kehutanan yang optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan
upaya menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai
yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun.

Gambar 2.3.
Daur Hidrologi DAS
Ekosistem DAS, dapat diklasifikasikan menjadi daerah hulu, tengah dan
hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, DAS bagian hilir
merupakan daerah pemanfaatan. DAS bagian hulu mempunyai arti penting
terutama dari segi perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap terjadinya kegiatan
di daerah hulu akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan
fluktuasi debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran
airnya. Dengan perkataan lain ekosistem DAS, bagian hulu mempunyai fungsi
perlindungan terhadap keseluruhan DAS. Perlindungan ini antara lain dari segi
fungsi tata air, dan oleh karenanya pengelolaan DAS hulu seringkali menjadi fokus
perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai
keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Kegiatan penambangan pada
umumnya dilakukan oleh kelompok, perorangan, maupun pihak swasta.
Peralatan yang digunakan adalah sederhana seperti perahu bambu, sekop, pacul

II - 18
dan lain-lain dengan teknik yang sederhana, namun ada yang menggunakan
peralatan modern seperti bego khususnya dari pihak swasta.
Kegiatan pertambangan oleh Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai
Selatan Nomor 3 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Hulu
Sungai Selatan Tahun 2013-2032 difokuskan Kecamatan : Kandangan, Loksado,
Telaga Langsat, Sungai Raya dan Padang Batung.
Bersumber dari kegiatan pertambangan tersebut membawa pengaruh
terhadap daerah aliran air terutama pada aliran sungai yang ada di sekitar, yaitu
pada sungai Amandit dan sungai Telaga Langsat. Permasalahan perkotaan yang
sering timbul yaitu masalah sampah. Ketidakseimbangan antara produksi
sampah dengan pengelolaan sampah, maka akan berdampak pada lingkungan
dan kesehatan masyarakat.
Pentingnya posisi DAS sebagai unit perencanaan yang utuh merupakan
konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumberdaya hutan,
tanah dan air. Kurang tepatnya perencanaan dapat menimbulkan adanya degradasi
DAS yang mengakibatkan buruk seperti yang dikemukakan di atas. Dalam upaya
menciptakan pendekatan pengelolaan DAS secara terpadu, diperlukan perencanaan
secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan
mempertimbangkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan. Dengan demikian bila
ada bencana, apakah itu banjir maupun kekeringan, penanggulangannya dapat
dilakukan secara menyeluruh yang meliputi DAS mulai dari daerah hulu sampai
hilir.
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus
diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air.
Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti
kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity), kehilangan tanah (erosi),
kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau
pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging),
dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971;
ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen
yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan
di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat.

II - 19
Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat
dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan,
termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan
menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi
lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi
terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat
sedimen diendapkan.
Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah
kemunduran kualitas sifat-sifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran
kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara
dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang
miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman,
menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya
kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur
tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan
tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang
dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi,
kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin
menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986).
Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan
diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam
sungai, waduk, danau atau saluran-saluran air. Disamping itu dengan berkurangnya
kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran
permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya
sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang
semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan
fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia.
Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian
hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground
water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan
demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena
ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen,

II - 20
unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut
terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini
mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga
memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya
mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut.
Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti
dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan
meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.
Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator
utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena
sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi
akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai
dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi
tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang
mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan
vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai
dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan /
pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan.
Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya
aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah
(groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan
secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan
kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan
pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam
jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air
di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan
lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya
sumberdaya air.
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai
dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan
penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi
tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan

II - 21
DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu
agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998).
Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok
agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam
berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam
tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan
mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan
kompos.
Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok
vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi,
teh, tebu, pisang), penanaman tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar),
penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak).
Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok
struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air,
saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras
bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan.
Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok
manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan
usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang
lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan
waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input.
Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek
pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik
konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan
pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani
(Sihite dan Sinukaban, 2004).
Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan
vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus
sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi
kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah
pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk

II - 22
meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya
dapat melestarikan sumberdaya air.

2.2.2. Pengelolaan Sampah


Permasalahan perkotaan yang sering timbul yaitu masalah sampah.
Ketidakseimbangan antara produksi sampah dengan pengelolaan sampah, maka
akan berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Bertambahnya volume jumlah sampah setiap harinya diiringi dengan
meningkatnya pertumbuhan ekonomi, penambahan jumlah penduduk,
meningkatnya daerah permukiman dan tingkat aktifitas kegiatan sosial. Sarana
dan prasarana persampahan yang terbatas akan menimbulkan permasalahan
yang semakin kompleks sehingga banyak kesadaran sehingga masyarakat
membuang sampah di jalan, saluran selokan, sungai dan lahan-lahan terbuka yang
dapat mencemari lingkungan hidup.
Persoalan sampah selalu menjadi bahan topik pembicaraan yang hangat
untuk dibahas karena tidak terlepas atas kaitannya dengan budaya masyarakat
itu sendiri. Sumber-sumber sampah biasanya diperoleh dari sisa sampah rumah
tangga, sampah pertanian, sampah dari pasar, sampah perkantoran, sampah rumah
sakit, sampah sekolah, sampah industri, sampah konstruksi bangunan gedung,
sampah peternakan dan sampah perikanan. Oleh sebab itu penanggulangan
sampah bukan hanya urusan pemerintah semata namun juga membutuhkan
partisipasi seluruh elemen lapisan masyarakat dan industri swasta.
Semakin meningkatnya kemajuan suatu daerah, jumlah laju produksi
sampah sering kali tidak sebanding dengan proses penanganannya sehingga perlu
dipikirkan bagaimana pemerintah daerah untuk menanggulangi masalah
persampahan. Jika masalah persampahan tidak ditangani dengan baik, maka akan
menimbulkan berbagai dampak antara lain menimbulkan masalah bagi kesehatan
manusia, banjir, menimbulkan sarang penyakit, pencemaran air bersih,
pencemaran tanah, tersumbatnya saluran air, lingkungan akan menjadi kumuh
serta bau yang tidak sedap dan merusak keindahan visual kota/kabupaten itu
sendiri.

II - 23
Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Nomor 6 Tahun
2013 Tentang Pengelolaan Sampah yang dimaksud dengan 1. Sampah adalah
sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. 2..
Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam
rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. 3.. Sampah sejenis sampah
rumah tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial,
kawasan industri, kawasan ksusus, fasilitas sosial, fasilitas umum dan/atau fasilitas
lainnya. 4.. Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau
volumenya memerlukan pengelolaan khusus.
Pola penanganan sampah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan masih
bertumpu pada kawasan perkotaan khususnya Ibu Kota Kecamatan, sedangkan
sebagian besar lainnya belum terkelola atau dikelola pola penanganan sampah di
Kabupaten Hulu Sungai Selatan masih bertumpu pada kawasan perkotaan
khususnya Ibu Kota Kecamatan, sedangkan sebagian besar lainnya belum terkelola
atau dikelola.
Di kawasan-kawasan perdesaan, penanganan sampah masih banyak
dilakukan secara konvensional yaitu melalui sistem gali urug terkendali. Hal ini
disebabkan karena masih tersedianya lahan untuk pembuangan sampah dengan
model galian.
Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Nomor 6 Tahun 2013
Tentang Pengelolaan Sampah pasal 33 disebutkan bahwa masyarakat dapat
berperan dalam penanganan sampah yang diselenggarakan oleh Pemerintah
Daerah. (2) Peran Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan
melalui : a. pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah; b. perumusan kebijakan pengelolaan sampah; c. Menciptakan
lingkungan bersih dan teduh baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama;
dan/atau d. pemberian saran dan pendapat dalam penyelesaian sengketa
persampahan.
Suatu kegiatan akan dapat berjalan secara efektif dan efesien jika dilakukan
melalui sebuah perencanaan yang matang. Perencanaan merupakan proses dasar
yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan bagaimana cara
mencapainya.

II - 24
Peran serta masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sampah rumah
tangga sangat menentukan keberhasilan pelaksanaannya. Masyarakat perlu
diberdayakan dengan segala upaya yang bersifat non instruktif guna meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah,
merencanakan dan melakukan penyelesaian masalah dengan memanfaatkan potensi
masyarakat setempat tanpa bergantung pada bantuan dan luar. Pola pemberdayaan
masyarakat yang dibutuhkan bukan kegiatan yang sifatnya top-down intervention
yang tidak menjunjung tinggi aspirasi dan potensi masyarakat untuk melakukan
kegiatan swadaya, akan tetapi yang paling dibutuhkan masyarakat lapisan bawah
terutama yang tinggal di desa adalah pola pemberdayaan yang sifatnya bottom-up
intervention. Dimulai dengan menghargai dan mengakui bahwa masyarakat lapisan
bawah memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhannya, memecahkan
permasalahannya, serta mampu melakukan usaha-usaha produktif dengan prinsip
swadaya dan kebersamaan. Pola pendekatan yang paling efektif untuk
memberdayakan masyarakat adalah the inner resources approach. Pola ini mendidik
masyarakat menjadi peduli akan pemenuhan dan pemecahan masalah yang mereka
hadapi dengan menggunakan potensi yang mereka miliki (Riasmini, 2006).
Pengelolaan merupakan suatu siklus yang membentuk loop atau gelung, sehingga
tahap evaluasi dan monitoring merupakan tahapan untuk menilai semua langkah
yang telah dilakukan untuk memperoleh model pengelolaan yang lebih baik lagi.
2.2.3. Degradasi Lahan
Pemanfaatan lahan dan ruang kawasan hutan tetap yang dijadikan kawasan
pertanian dapat menyebabkan terjadinya suatu kerusakan lingkungan. Sudah kita
ketahui bersama bahwa masalah lingkungan timbul sebagai akibat dari perbuatan
manusia itu sendiri. Manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam yang
berlebihan dapat menimbulkan suatu perubahan terhadap ekosistem yang akan
mempengaruhi kelestarian sumber daya alam itu sendiri. Pemanfaatan sumber daya
alam yang melebihi ambang batas daya dukung lahan dan tanpa memperhatikan
aspek kelestariannya akan mendorong terjadinya suatu bencana yang akan
merugikan masyarakat.
Kemiskinan mempunyai kaitan erat dengan masalah sumber daya alam dan
lingkungan hidup. Masyarakat miskin sangat rentan terhadap pola pemanfaatan

II - 25
sumber daya alam dan dan perubahan lingkungan. Masyarakat miskin yang tinggal
di daerah pedesaan, daerah pinggiran hutan, sangat tergantung pada sumber daya
alam sebagai sumber penghasilan. Masalah utama yang dihadapi masyarakat
miskin adalah terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap sumber daya alam dan
menurunnya mutu lingkungan hidup, baik sebagai sumber mata pencarian maupun
sebagai penunjang kehidupan sehari-hari.
Masyarakat miskin seringkali terpinggirkan dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam. Hal ini terjadi ketika berbagai izin pemanfaatan
kawasan hutan yang dikelola oleh ”badan usaha”, kurang melibatkan partisipasi
masyarakat. Potensi konflik terhadap pemanfaatan hutan serta nilai tingkat
ketergantungan masyarakat terhadap hutan sangat tinggi, artinya bahwa sebagian
besar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan termasuk kategori miskin,
dan sangat tergantung dari kawasan hutan dalampemanfaatan sebagai areal
pertanian dan perladangan.
Lahan rawa mulai banyak beralih fungsi seiring makin marak pembukaan
lahan untuk perkebunan sawit skala besar. Saat ini, ada enam kabupaten
mengembangkan sawit di lahan rawa mulai Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tapin,
Hulu Sungai Selatan, Akibat dari alih fungsi lahan yang kurang memperhatikan
aspek-aspek ekologis. Perubahan alif fungsi lahan pertanian, perkebunan dan
pertanian lahan kering menjadi pertambangan dapat menimbulkan kerusakan
dan pencemaran baik air, udara maupun tanah.
Alih fungsi lahan dari rawa gambut menjadi perkebunan kelapa sawit
mengganggu kegiatan ekonomi produktif penduduk Desa Baruh Jaya, Hulu Sungai
Selatan, Kalimantan Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan memiliki luasan rawa
atau lahan gambut 73.489 hektare, yang menjadi kesatuan hidrologi dengan
Kabupaten Tapin. Salah satu areal gambut di Desa Semuda, kini hanya tersisa 180
hektare.
Para petani memanfaatkan lahan gambut yang tergenang air menjadi rawa
untuk menangkap ikan. Ikan-ikan tersebut dikonsumsi pribadi dan sebagian lagi
dijual ke pasar. Adapun jenis ikan khas yang sering ditemukan adalah ikan gabus.
Sedangkan saat air rawa menyurut, petani memanfaatkan lahan untuk
bercocok tanam. Berbagai macam tanaman berhasil tumbuh sumbur di Hulu Sungai

II - 26
Selatan. Seperti semangka, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Semangka bahkan
menjadi komoditas perkebunan andalan.
2.2.4. Kesadaran Masyarakat tentang Pengelolaan Lingkungan
Masalah lingkungan hidup merupa-kan suatu fenomena besar yang
memerlukan perhatian khusus dari kita semua. Setiap orang diharapkan
berpartisipasi dan bertanggung jawab untuk mengatasinya. Secara sederhana,
dengan memandang sekitar kita, maka terlihat banyak-nya sampah yang dibiarkan
berserakan di sepanjang jalan, di halaman rumah, di parit, di pasar-pasar atau
tempat-tempat kosong sekitar permukiman.
Beberapa daerah di perdesaan, terlihat semakin kritis dan gersangnya tanah
serta perbukitan akibat penggundulan hutan dan semakin keruhnya air sungai
karena erosi tanah. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup
menyebabkan banyaknya kejadian yang merugikan kita sendiri baik secara
langsung maupun tidak langsung. Penggundulan bukit dan pembabatan hutan telah
mengakibatkan banjir pada musim hujan, tanah longsor, rusaknya panen, kebakaran
hutan pada musim kemarau serta kekeringan yang berkepanjangan.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai anggota masyarakat yang
tidak peduli terhadap lingkungan seki-tarnya, misalnya dengan membuang sampah
seenaknya di jalanan, atau meletakkan sampah di pinggir jalan seolah bukan
miliknya lagi.
Banyak yang tidak menyadari bahwa pola kehidupan modern saat ini sangat
mempengaruhi lingkungan dan kondisi bumi secara keseluruhan. Kemakmuran
yang semakin tinggi telah memberikan fasilitas hidup semakin mudah melalui
perkembangan teknologi. Akibatnya penggunaan listrik terutama untuk
keperluan -rumah tangga menjadi sangat besar dan terus menerus seperti lemari es,
mesin cuci, komputer, AC, audio dan sebagainya. Sedangkan
kebiasaan shopping atau memborong belanjaan menyebabkan bertumpuknya
sampah kantong plastik, piring, cangkir atau botol plastik, dan sebagainya.
Di samping itu peraturan yang sudah ada pelaksanaannya tidak tegas yang
menyebabkan peraturanya menjadi mandul. Sebagai contoh banyak peraturan &
perundangan yang menyangkut Kehutanan baik menyangkut pelestarian,

II - 27
pemanfaatan dan sebagainya, namun dalam pelaksanaannya masih tetap saja ribet
dan pabaliut.
Untuk menanggulangi masalah lingkungan diperlukan perhatian seluruh
masyarakat, pemerintah, maupun swasta. Hal ini terkait dengan lingkungan itu
sendiri yang melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia tanpa mengenal batas,
sehingga perlu dipelihara dan ditata. Terbentuknya common interest seluruh la--
pisan masyarakat dan mengakui suatu ide dasar bahwa sistem alam atau sistem
ekologis dan sistem ekonomi buatan manusia tak dapat dipandang secara terpisah-
pisah, tetapi harus dita-ngani secara terpadu. Konsep penanganan lingkungan harus
termasuk da-lam konteks pembangunan atau yang disebut pembangunan
berwawasan lingkungan.
Walaupun diharapkan agar setiap orang peduli akan lingkungan, namun
kenyataannya masih banyak angota masyarakat yang belum sadar akan makna
lingkungan itu sendiri. Oleh karena itu kesadaran masyarakat me-ngenai
pentingnya peranan lingkungan hidup perlu terus ditingkatkan melalui penyuluhan,
penerangan, pendidikan, penegakan hukum disertai pemberian rangsangan atau
motivasi atas peran aktif masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup.
Peningkatan kesadaran lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai cara antara
lain: Pendidikan dalam arti memberi arahan pada sistem nilai dan sikap hidup untuk
mampu memelihara keseim-bangan antara pemenuhan kepentingan pribadi,
kepentingan lingkungan sosial, dan kepen-tingan alam. Kedua, memiliki solidaritas
sosial dan solidaritas alam yang besar me-ngingat tindakan pribadi berpengaruh
kepada lingkungan sosial dan lingkungan alam.
Kegiatan karya wisata di alam bebas merupakan salah satu program yang
mendekatkan generasi muda dengan lingkungan, sekaligus cinta akan lingkungan
yang serasi dan asri. Pendidikan lingkungan secara informal dalam keluarga dapat
dikaitkan dengan pembinaan disiplin anak-anak atas tanggung jawab dan
kewajibannya dalam menata rumah dan pekarangan.
Untuk lebih meningkatkan kesadaran lingkungan, mengajak partisipasi
kelompok masyarakat sangatlah penting termasuk tokoh--tokoh agama, pemuda,
wanita, dan organisasi lain. Peranan wartawan un-tuk turut memberi penerangan
dan penyuluhan bagi kelompok masyara-kat serta media massa sangat besar untuk

II - 28
penyebaran informasi, terutama untuk memasyarakatkan Undang-Undang
Lingkungan Hidup dengan segala aspek yang berkaitan.
Partisipasi wanita sangat penting karena kelompok majoritas sehari--hari dalam
pemeliharaan lingkungan terutama dalam lingkungan keluarga adalah wanita atau
ibu rumah tangga karena sebagian waktunya tinggal di rumah. Oleh karena itu
peranan organisasi wanita sangatlah besar untuk mendorong kesadaran masyarakat
dan keluarga melalui anggotanya. Peranan pemuda juga sangat penting sebagai
generasi penerus yang akan mewarisi lingkungan hidup yang baik. Diharapkan
masyarakat akan mendorong adanya kader-kader perintis dalam lingkungan hidup
yang lahir dari kalangan ge-nerasi muda sehingga pembangunan yang berkelanjutan
ini sejalan pula dengan terpeliharanya kelestarian lingkungan.
Dalam Undang-Undang Ling-kungan Hidup (UULH) telah ditentukan
bahwa setiap orang mempunyai, hak atas lingkungan yang baik dan sehat. Juga
setiap orang mempunyai hak dan kewajiban untuk berperan serta dalam
pengelolaan lingkungan hidup, wajib memelihara dan mencegah serta
menanggulangi kerusakan dan pencemaran yang dapat merusak lingkungan.
Undang-undang sebenarnya juga sudah mengatur adanya sangsi bagi pencemaran
lingkungan hidup namun dalam pelaksanaannya sering kurang tegas (konsisten).
Karenanya, peranan pemerintah sangat penting untuk bertindak tegas dalan
pengawasan pembangunan dan pembangunan harus dilakukan menurut Rencana
Umum Tata Ruang (RUTR). Pemerintah harus menciptakan tempat-tempat yang
menunjang lingkungan hidup, misalnya dengan menyediakan taman-taman, hutan
buatan dan pepohonan untuk penghijauan sekaligus untuk meyerap air. Sedangkan
pihak swasta diminta untuk berpartisipasi dalam pengelolaan dan pemeliharaan
lingkungan, menciptakan kawasan hijau yang baik sekitar pabrik dan perumahan
karyawan. “Dalam lingkungan hidup, poin pentingnya adalah bagaimana
membangun partisipasi masyarakat,”
Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Nomor 6 Tahun
2013 Tentang Pengelolaan Sampah pasal 5 disebutkan bahwa Pemerintah daerah
bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan
berwawasan lingkungan dan pasal 6 menumbuh kembangkan dan meningkatkan
kesadaran dan budaya masyarakat dalam pengelolaan sampah;. Dari peraturan jelas

II - 29
bahwa masyarakat harus berperan aktif dalam pengelolaan sampah untuk menjamin
keselarasan dalam lingkungan sebagai salah satu upaya untuk pengelolaan
lingkungan.

II - 30