Anda di halaman 1dari 8

Artikel Penelitian

IMPLEMENTASI SELF CARE MODEL DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS


HIDUP PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK

1*
Sofiana Nurcahyati, 2Darwin Karim
1,2
Program Studi Ilmu KeperawatanUniversitas Riau
*
E-mail: sofiananur14@yahoo.co.id

Abstrak

Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi implementasi self care model dalam upaya
meningkatkan kualitas hidup pasien GGK.

Metode:Populasi penelitian ini adalah pasien GGK yang menjalani HD secara reguler sebanyak 116 orang.
Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 30 orang sesuai dengan kriteria inklusi ; berusia minimal
18 tahun, tidak mengalami komplikasi penyakit kronis, mampu berkomunikasi, dapat melakukan
ADL.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan pengambilan data secara retrospektif dan
prospektif.

Hasil:Penelitian ini diperoleh hasil jenis kelamin terbanyak laki-laki 17 orang (56,7%), usia terbanyak lansia
awal (46-55 tahun) sebanyak 17 orang (56,1%), lama HD terbanyak <1 tahun 11 orang (36,3%). Setelah
dilakukan implementasi self careselama 4 minggu terdapat peningkatan skor rata-rata kualitas hidup pada
pasien gagal ginjal kronik dari sebelumnya nilai 68 menjadi 73.

Simpulan :Pasien GGK perlu diberikan perawatan melalui implementasi self care model agar kualitas
hidupnya meningkat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih baik.

Kata kunci: gagal ginjal kronik, kualitas hidup, self care

Abstract

Aim:This study was aimed to identify the implementation of self-care model in order to improve the quality
of life of patients with CRF.

Method: Population in this study are 116 patients with CRF who underwent regular haemodialysis.
Meanwhile, sample in this research is 30 patient whom selected based on inclusion criteria such as age 18
year old and above, without others chronic disease complication, able to communicate and competent to meet
their activities daily living independently. Research methodology used in this study is a descriptive with
retrospective and prospective data collection.

Result: Research finding has shown that there is an improvement of quality of life score on patients with
chronic renal failure from 68 to 73 after self-care implementation in four weeks.

Conclusion:CRF patients should be given treatment through the implementation of self-care model to
increase their quality of life to have a better life expectancy.

Key words:chronic renal failure, quality of life, self care

Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 25
Artikel Penelitian

PENDAHULUAN sehingga diperlukan dialisis atau transplantasi


ginjal untuk kelangsungan hidup pasien.
Penyakit gagal ginjal layaknya fenomena
gunung es, hanya sekitar 0,1% yang terdeteksi Hemodialisis (HD) merupakan terapi
dan yang tidak terdeteksi sekitar 11−16 % pengganti ginjal yang dilakukan 2-3 kali
kasus. Di dunia, sekitar 2.622.000 orang telah seminggu dengan lama waktu 4-5 jam, yang
menjalani pengobatan End Stage Renal bertujuan untuk mengeluarkan sisa-sisa
Disease (ESRD) pada akhir tahun 2010, metabolisme protein dan mengoreksi
sebanyak 2.029.000 orang (77%) diantaranya gangguan keseimbangan cairan dan
5
menjalani pengobatan dialysis dan 593.000 elektrolit.
orang (23%)menjalani transplantasi ginjal.1
Hemodialisis merupakan terapi yang lama,
Penyebab gagal ginjal di Indonesia sangat mahal serta membutuhkan restriksi cairan dan
khas negara berkembang, yaitu radang ginjal, diet. Hal tersebut akan berakibat pasien
infeksi ginjal, DM dan hipertensi.Kasus kehilangan kebebasan, tergantung pada
infeksi di Indonesia yang tinggi menjadi pemberi layanan kesehatan, perpecahan dalam
penyebab gagal ginjal terbanyak di Indonesia perkawinan, keluarga dan kehidupan sosial
(20%). Penderita Gagal ginjal berada pada serta berkurang atau hilangnya pendapatan.
kisaran usia 50 tahun dan usia produktif, Karena hal-hal tersebut maka aspek fisik,
sedangkan pada lansia terjadinya gagal ginjal psikologis, sosioekonomi dan lingkungan
karena DM dan hipertensi yang tidak dapat terpengaruh secara negatif, berdampak
diberikan pengobatan dengan benar.2 pada kualitas hidup pasien PGK.

Di Indonesia, prevelensi penyakit ginjal Kualitas hidup adalah persepsi individu dalam
kronik terus meningkat setiap tahun. kemampuan, keterbatasan, gejala serta sifat
Berdasarkan studi epidemiologi PERNEFRI psikososial hidupnya dalam konteks budaya
tahun 2005 menunjukkan bahwa sebanyak dan sistem nilai untuk menjalankan peran dan
12,5% dari masyarakat diketahui mengalami fungsinya.6, 7
penyakit ginjal kronik. Berdasarkan data
PERNEFRI, sampai tahun 2012 pasien yang Alat ukur yang digunakan dalam menilai
mengalami Penyakit Ginjal TahapAkhir kualitas hidup melalui monitoring status
mencapai 100.000 pasien.3 fungsional dan pernyataan subyektif tentang
keadaan pasien. Kualitas hidup diukur dengan
Kejadian penyakit gagal ginjal di Indonesia instrumen World Health Organization Quality
semakin meningkat, hanya sekitar 0,1% kasus of Life (WHOQoL) meliputi domain :
yang terdeteksi, dan11-16% yang tidak kesehatan fisik , kesehatan psikologik, tingkat
terdeteksi. Menurut data statistik PERNEFRI independen, hubungan sosial, lingkungan dan
(Perhimpunan Nefrologi Indonesia), jumlah spiritual.6,7,8Kualitas hidup penting untuk
pasien gagal ginjal di Indonesia mencapai dimonitor karena sebagai dasar
70.000 orang dan hanya sekitar 13.000 pasien mendeskripsikan konsep sehat dan
yang melakukan hemodialisi.3Akibat dari berhubungan erat dengan morbiditas dan
ketidakmampuan ginjal untuk membuang mortalitas.9
produk sisa melalui eliminasi urin akan
menyebabkan gangguan fungsi endokrin dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin
metabolik, cairan, elektrolit, serta asam basa4, Achmadmerupakan Rumah Sakit tipe B,

Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 26
Artikel Penelitian

jumlah pasien GGK yang menjalani terapi dalam daftar peserta HD regular namun tidak
hemodialisisreguler adalah110 orang yang disertai dengan komplikasi penyakit kronis
terbagi dalam shift pagi dan sore, mayoritas seperti Congestif Heart Failure (CHF),
dibiayai oleh BPJS.Dari hasil observasi dan maupun DM kronis.
wawancara pada 10 orang pasien, 7 orang
datang dengan kondisi baik dan Setelah teridentifikasi dengan jumlah 30
berkomunikasi seperti biasa, dan 3 orang orang pasien kemudian dilakukan pengukuran
datang dengan kondisi lemah dan tampak kualitas hidup menggunakan kuesioner WHO
gelisah. 5 orang tetap bekerja seperti biasa Quality of Life dan pemeriksaan laboratorium
meskipun harus rutin menjalani hemodialisis terkait dengan faktor yang mempengaruhi
2 kali/minggu, dan 2 orang mengatakan kualitas hidup pasien GGK yaitu; kadar Hb,
mengajukan pensiun dini dan 3 orang ureum, kreatinin. Setelah mengidentifikasi
mengurangi aktivitas fisik karena kelemahan hasil laboratorium kemudian mengukur BB
dan mudah lelah, hal tersebut berpengaruh pasien yang menjalani HD, dimana
terhadap kualitas hidup pada pasien.Penderita pengukurannya dilakukan pada pre dan post
Gagal Ginjal Kronik (GGK) sering HD. Penimbangan BB tersebut dilakukan
mengalami komplikasi penyakit lanjut akibat secara kontinyu selama kurang lebih satu
ketidakmampuan dalam melakukan kontrol bulan. Pada saat mengambil data awal,
terhadap nutrisi, kebutuhan cairan, kadar peneliti melakukan pendidikan kesehatan
ureum dan kreatinin, adekuasi HD yang akan kepada pasien tentang diet, pembatasan
berpengaruh terhadap kualitas hidupnya. cairan, kontrol tekanan darah, melakukan
exercise.Setelah pasien telah melakukan self
Komplikasi baik fisik maupun psikis tentunya care selama 1 bulan, kemudian peneliti
menjadi gangguan dalam melakukan mengukur kualitas hidupnya kembali dengan
perawatan diri secara mandiri pada pasien menggunakan kuesioner WHO QoL.Selain itu
GGK yang menjalani hemodialisa.4 Pasien juga diukur nilai laboratorium sesuai dengan
hemodialisa membutuhkan kemampuan dalam kegiatan awal, dan perubahan berat badan
perawatan dirinya sendiri. Saat ini antara waktu dialysis (interdialitic weight
kemampuan self care pasien telah menjadi gain).
perhatian dunia seiring dengan peningkatan
kejadian penyakit kronis, peningkatan biaya Penelitian ini merupakan penelitan studi
pengobatan serta jumlah tenaga educator yang deskriptif dengan pengambilan data
tidak cukup menjadi alasan self care penting retrospektif untuk kualitas hidup dan
sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup prospektif studi untuk menilai kualitas hidup
pasien penyakit kronis, keluarga dan setelah dilakukan implementasi self
komunitas.10 Setiap individu secara natural care.Kualitas hidup dalam penelitian ini
memiliki kemampuan dalam merawat dirinya diukur menggunakan instrumenbakuQuality
sendiri dan perawat harus berfokus terhadap of Life(QoL) menurut WHO.8
dampakkemampuan tersebut bagi pasien.11
Instrumen untuk mengukur kualitas hidup
METODE PENELITIAN digunakan instrumen WHOQoL, meliputi 4
domain, yaitu; fisik, psikologis, hubungan
Penelitian ini dilaksanakan pada penderita sosial dan lingkungan. Pada fungsi fisik
GGK yang menjalani HD secara regular di terdapat 7 item pertanyaan, psikologis
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.Mula-mula memiliki 6 item pertanyaan, hubungan sosial
peneliti mengidentifikasi pasien yang masuk memiliki 3 item pertanyaan, dan lingkungan

Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 27
Artikel Penelitian

memiliki 8 item pertanyaan, selain itu juga Penilaian kualitas hidup juga dilihat dari
terdapat 2 pertanyaan tambahan diawal yaitu perubahan Inter Dialytic Weight Gain
tentang perasaan terhadap kualitas hidup dan (IDWG) pasien yang diperoleh dengan
perasaan tentang kesehatan.Jumlah total mengukur BB sebelum dilakukan HD dan
pertanyaan kuesioner adalah sebanyak 26 setelah dilakukan HD baik sebelum maupun
buah, masing-masing memiliki 5 pilihan setelah implementasi self care. Selain itu juga
jawaban dengan skoring 1 sampai dengan 5. dengan melihat perbandingan nilai kadar Hb,
Instrumen penelitian ini merupakan instrumen ureum, kreatinin.Penelitian ini dilakukan di
yang mempunyai konsistensi internal dan ruang HD RSUD Arifin Achmad Pekanbaru
koefisien relialibilitas (Cronbach’s alpha) terhadap pasien gagal ginjal kronik yang
sebesar α > 0,70 pada tiap domain, dan menjalani HD secara regular 2 kali seminggu,
banyak penelitian yang telah menggunakan mampu melakukan ADL.Adapun sampel yang
WHOQOL tersebut.6 diambil dalam penelitian ini adalah 30 pasien.

HASIL PENELITIAN

Tabel 1
Distribusi Responden berdasarkan Data Demografi: Jenis Kelamin,
Pendidikan, Umur, Pekerjaan (n=30)

Data Demografi Frekuensi Persentase (%)


Jenis Kelamin
Laki-laki 17 56.7
Perempuan 13 43.3

Umur
Dewasa awal (26-35) 0 0
Dewasa akhir (36-45) 4 13.3
Lansia awal (46-55) 17 56.1
Lansia akhir (56-65) 6 19.8
Manula (>65) 3 10.8

Pendidikan
SD 7 23.3
SMP 2 6.7
SMA 16 53.3
PT 5 16.7

Lama HD
< 1 thn 11 36.3
12-23 bln 2 6.6
24-35 bln 5 16.5
36-47 bln 8 26.4
48-59 bln 3 10.9
≥5 thn 1 3.3

Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 28
Artikel Penelitian

Tabel 2
Nilai Kualitas Hidup Pre Implementasi Self Care

Kualitas hidup Frekuensi Persentase (%)


Baik (≥median: 68) 16 53.3
Kurang baik (<median: 14 46.7
68)
Total 30 100

Tabel 3
Nilai Kualitas Hidup Setelah Post Implementasi Self Care

Kualitas hidup Frekuensi Persentase (%)


Baik (≥median:73) 16 53.3
Kurang baik (<median:73) 14 46.7
Total 30 100

PEMBAHASAN hidupnyakurang baik sebanyak 14 orang


(46.7%). Studi phenomenology12
Dalam penelitian ini menunjukkan responden mengemukakan bahwa pasien dengan End
dengan jenis kelamin laki-laki memiliki Stage Renal Disease (ESRD) mengalami
jumlah lebih banyak yaitu 17 orang (56.7%) perubahan peran dalam hubungan dengan
dibandingkan dengan jenis kelamin orang lain akibat ketergantungan teknologi
perempuan yaitu orang (47.4%). Menurut medis. Pada kelompok tersebut ditemukan
beberapa literatur dijelaskan bahwa kejadian adanya penurunan independen dan otonomi,
GGK tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, kehilangan identitas peran keluarga, terpisah
laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang dari keluarga, perasaan terisolasi dan
sama untuk menderita GGK.3 Menurut membutuhkan pertolongan.pasien GGK yang
peneliti pada penelitian ini responden lebih menjalani dialisis mengalami keterbatasan
banyak laki-laki karena disebabkan oleh gaya aktifitas fisik, diikuti oleh stressor lain berupa
hidup responden laki-laki yang suka merokok penurunan kontak sosial, ketidakpastian
dan minum kopi, dimana dari hasil tentang masa depan, kelelahan dan kejang
wawancara dengan responden umumnya GGK otot.12
diawali oleh penyakit hipertensi.
Responden dalam penelitian ini hampir
Pada penelitian ini didapatkan hasil pre seluruhnya dibiayai BPJS , dan ditinjau dari
implementasi self care jumlah responden yang segi hubungan sosial dan lingkungan
kualitas hidupnya baik sebanyak 16 orang sekitarnya sebagian besar menyatakan tidak
(53.3%), sedangkan yang kualitas ada masalah dengan rata-rata menjawab skor
Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 29
Artikel Penelitian

4 dan 5. Dengan adanya dukungan yang baik bekerja lagi, sehingga responden tersebut
dari segi finansial, sosial dan lingkungan merasa dirinya kurang berarti dan tidak bisa
dapat membantu mengurangi gangguan beraktualisasi diri seperti sebelum
psikologis akibat penyakit GGK yang dinilai sakit.Penderita GGK hanya mampu
sebagai penyakit terminal, sehingga kualitas melakukan aktifitas ringan dan terbatas,
hidup responden dapat meningkat. karena ketidakmampuan ginjal untuk
membuang sisa metabolisme tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah
dilakukan13 diperoleh bahwa sebagian Nilai rata-rata kualitas hidup responden
(48,2%) klien memiliki kualitas hidup yang sebelum dilakukan implementasi self care
kurang baik. Kualitas hidup yang kurang baik adalah 68, dengan skor domain terkecil adalah
dipengaruhi oleh nutrisi dan tidak terkontrol, domain ke-3 terkait hubungan sosial
intake cairan yang tidak dibatasi, tekanan (hubungan personal, aktivitas seksual,
darah yang tidak terkontrol, serta adekuasi dukungan sosial).Dari beberapa responden
HD yang tidak maksimal. menyatakan sudah tidak mampu lagi untuk
beraktifitas sosial karena mudah mengalami
Studi pendahuluan yang dilakukan oleh kelelahan saat mengikuti kegiatan sosial
peneliti pada bulan Januari 2016 melalui misalnya pengajian, ibu-ibu PKK, dan
wawancara terhadap 10 orang penderita GGK kegiatan gotong royong sehingga responden
menyatakan mereka tidak melakukan kontrol biasanya hanya di rumah saja.Dari segi
terhadap penyakit GGK yang mereka alami aktivitas seksual mayoritas menyatakan tidak
dengan alasan kurang edukasi dari petugas berkualitas, karena kondisi fisik yang
kesehatan dan tidak melakukan self care lemah.Kondisi kelemahan tersebut semakin
secara mandiri. Self care (perawatan diri) diperberat dengan adanya penimbunan cairan
merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu akibat retensi urin, yang meningkatkan beban
yang dilaksanakan oleh individu itu sendiri kerja jantung, menimbulkan sesak nafas
untuk memenuhi serta mempertahankan sehingga penderita GGK harus membatasi
kehidupan, kesehatan dan kesejateraannya. aktifitasnya.
Jika dilakukan secara efektif, upaya self care
(perawatan diri) dapat memberi kontribusi Setelah dilakukan implementasi self care
bagi integritas struktural fungsi dan selama 1 bulan, diperoleh bahwa nilai rata-
perkembangan manusia. Normalnya, orang rata kualitas hidup responden meningkat
dewasa akan peduli dan mau merawat dirinya menjadi 73.Peningkatan nilai kualitas hidup
sendiri dengan sukarela, sedangkan bayi, tersebut terutama nampak dari domain 1
lansia dan orang sakit membutuhkan bantuan (Nyeri dan ketidaknyamanan, ketergantungan
untuk memenuhi aktivitas self care-nya 11 pada perawatan medis, energi dan kelelahan,
mobilitas, tidur dan istirahat, aktivitas sehari-
Pasien mengatakan pasrah dengan penyakit hari, kapasitas bekerja).Hal ini didukung oleh
yang dideritanya, dan kadang mengalami penelitian14 yang menyatakan bahwa ada
frustrasi dengan program pembatasan cairan, hubungan secara langsung antara kemampuan
sering melanggar dan banyak minum terutama self care dengan kualitas hidup yaitu pada
saat cuaca panas. Untuk meningkatkan dimensi fisik, psikologis dan sosial.
kualitas hidup pasien maka dapat dilakukan
dengan implementasi self care. Pada beberapa Self care (perawatan diri) merupakan aktivitas
responden menyatakan kualitas hidupnya dan inisiatif dari individu yang dilaksanakan
kurang baik karena sudah tidak mampu untuk oleh individu itu sendiri untuk memenuhi

Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 30
Artikel Penelitian

serta mempertahankan kehidupan, kesehatan Saran


dan kesejateraannya.Sebelum melakukan Pasien GGK diharapkan dapat lebih
implementasi self care, responden diberikan meningkatkan lagi upaya untuk dapat
pendidikan kesehatan tentang diet GGK dan merawat dirinya, sehingga kualitas hidupnya
pembatasan cairan pada GGK. Kemudian baik dari aspek fisik, psikologis, sosial
responden melakukan self care di rumah maupun spiritual dapat meningkat sehingga
dalam pengaturan diet dan pembatasan cairan. usia harapan hidup juga lebih panjang,
Pada saat awal minggu pertama beberapa Sebagai tenaga kesehatan maka perawat
responden menyatakan sangat berat dalam dituntut untuk memberikan asuhan
pelaksanaan self care mengingat beberapa keperawatan yang prima, diantaranya adalah
kondisi yang menyebabkan kesulitan melalui implementasi self care model
pelaksanaan pembatasan cairan diantaranya sehingga pasien lebih mandiri dalam upaya
adalah kondisi lingkungan di daerah Provinsi kesehatannya. Diharapkan keluarga pasien
Riau yang panas sehingga merasa haus dan ikut berperan serta memberikan dukungan
ingin minum terus menerus, kurangnya bagi pasien untuk melakukan implementasi
dukungan keluarga dalam penyediaan diet self care model, karena pada beberapa kondisi
yang sesuai bagi GGK. pasien tidak mampu untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri sehingga harus dibantu
Kemampuan self care seseorang dipengaruhi oleh keluarganya.
oleh faktor; usia, jenis kelamin, kondisi
perkembangan, kondisi kesehatan, orientasi
sosial budaya, sistem perawatan kesehatan, REFERENSI
faktor sistem keluarga, pola hidup, faktor 1. Neliya S, Utomo S, Misrawati. Hubungan
lingkungan, sumber daya yang tersedia. pengetahuan tentang asupan cairan dan
Berdasarkan hal tersebut maka antara self care pengendalian asupan cairan terhadap
dengan kualitas hidup sangatlah berkaitan erat penambahan berat badan. Jurnal nursing
satu sama lain. studies. 2012;1(1): 1-9.
2. Suhardjono, Sidabutar RP.Penyakit ginjal
keturunan dan bawaan dalam soeparman,
SIMPULAN DAN SARAN et al. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi
ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2008;
Simpulan 374-381.
1. Jumlah responden terbanyak adalah laki- 3. Siregar P. Prevalensi penyakit ginjal kronik
laki sebanyak 17 orang (56.7%), umur di Indonesia meningkat setiap tahun.2015.
terbanyak lansia awal sebanyak 17 orang Available from:
(56.7%), pendidikan terbanyak SMA 16 http://www.siagaindonesia.com/92479/prev
orang (53.3%), yang menjalani HD alensi-penyakit-ginjal-kronik-di-indonesia-
terbanyak kurang dari 1 tahun yaitu 11 meningkat-setiap-tahun.html.
orang (36.3%) 4. Smeltzer, B. (2009).Buku ajar
2. Kualitas hidup responden mengalami keperawatan medikal bedah. Edisi 8.
peningkatan setelah dilakukan Volume 2.Jakarta: EGC.
implementasi self care, dengan nilai rata- 5. Black, J. M, &Hawks, J. H.
rata pre implementasi adalah 68 sedangkan (2009).Medical surgical nursing; 8th
setelah implementasi nilai rata-rata kualitas edition. Canada: Elsevier.
hidup menjadi 73. 6. Murphy, B., Herrman, H., Hawthorne, G.,

Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 31
Artikel Penelitian

Pinzone.T., &Evert, H. Australian 11. Tomey, A. M., & Alligood, M. R. (2006).


WHOQL-100, WHOQL-BREF and CA- Nursing theorist and their work.Mosby
WHOQL INSTRUMENTS; user manual Elsevier.
and interpretation guide. 2000; 1-76. 12. Al-Arabi S. Quality of Life : Subjective
Available on 2010 from: descriptions of challenges to patients with
http://www.psychiatry.unimelb.edu.au/. end stage renal disease. Nephrology
7. Zadeh KK. Quality of Life in Patients Nursing Journal. 2006;33. 285-294.
with Chronic Renal Failure. 2003 13. Nurchayati S. Hubungan adekuasi
Agustus 16. Available on 2010 hemodialisis dengan kualitas hidup pasien
from:http://www.kidney.org gagal ginjal kronik yang menjalani
8. World Health Organization. WHOQoL hemodialisis di RSUD Arifin Achmad
Instruments.(2008). Available from Pekanbaru. 2014. Available from
www.who.int/mental_health/media/68 Proceeding 2015 Riau International
9. Jofre, K. Quality of life for patients Nursing Conference
groups,Kidney International. 2000; 57: 14. Heidarzadeh M, Ataspelkar S, Jalilazar
S-121 - S130. Available on Agustus 15, T.. Relationship between quality of life
2010 from:http://www.proquest.umi.com. and self care ability in patients receiving
10. Taylor, R. (2011).Sef care science, hemodialysis. Iran Journal Nurse
nursing theory and evidence. New York: Midwifery. Res. 2010;15(2):6-71.
Springer Publishing.

Jurnal Keperawatan Sriwijaya, Volume 3 - Nomor 2, Juli 2016, ISSN No 2355 5459 32