Anda di halaman 1dari 28

ANALISIS PENGARUH AUDIT TENURE, REPUTASI KAP,

DISCLOSURE, UKURAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS TERHADAP


PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN
(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI tahun 2005–2010)

Kumala Sari
Surya Rahardja S.E.,M.Si, Akt.

ABSTRACT

This study aims to examine the effect of audit tenure, accounting firm
reputation, disclosure, company size and liquidity to the acceptance of going
concern audit opinion. Hypothesis (1) Audit tenure negatively affect the
acceptance of going-concern audit opinion, (2) Accounting firm
reputation positively affect the acceptance of going-concern audit
opinion, (3) Disclosure positively affect the acceptance of going-concern audit
opinion (4) The size of the company negatively affect the acceptance of going
concern audit opinion, (5) Liquidity negatively affect the acceptance of going
concern audit opinion.
The research used 13 manufacturing companies listing on Bursa Efek
Indonesia (BEI) in 2005-2010 period. Samples were selected using purposive
sampling method. Data were analyzed by logistic regression analysis.
The result shows that the audit tenure, accounting firm reputation and firm
size don’t have effect on acceptance of going-concern audit opinion.
Disclosure and liquidity have an effect on the acceptance of going-concern audit
opinion.
Keywords : audit tenure, accounting firm reputation , disclosure, firm
size, liquidity and going concern audit opinion.
I. PENDAHULUAN

Peraturan Pemerintah No.64 Tahun 1999 menyatakan bahwa untuk


meningkatkan efisiensi dan daya saing perekonomian nasional, maka perlu
disediakan kemudahan untuk memperoleh informasi keuangan tahunan
perusahaan. Informasi keuangan dapat digunakan oleh masyarakat dan dunia
usaha sebagai dasar pengambilan keputusan. Informasi keuangan dapat diperoleh
dari laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan.

Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi


keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian
besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi (PSAK
No.1, 2009). Laporan keuangan yang disusun haruslah dapat dipahami, relevan,
andal, konsisten dan dapat diperbandingkan sehingga informasi yang dihasilkan
dapat menunjukkan kondisi perusahaan sebenarnya.

Laporan keuangan adalah media komunikasi yang digunakan perusahaan


untuk memberikan informasi kepada pihak yang berkepentingan seperti investor.
Sebagai media komunikasi, laporan keuangan digunakan pihak-pihak
berkepentingan sebagai cerminan untuk melihat kondisi perusahaan. Oleh karena
itu, dibutuhkan pihak independen yakni auditor yang bertindak untuk menilai
kewajaran dan keandalan dari laporan keuangan perusahaan. Penilaian ini
dilakukan untuk membuktikan apakah laporan keuangan telah mencerminkan
kondisi perusahaan sebenarnya, sehingga keputusan yang tepat dapat diambil oleh
pihak yang berkepentingan.

Auditor akan memberikan opini atas hasil penilaian terhadap laporan


keuangan perusahaan. Auditor yang independen akan memberikan opini sesuai
dengan kondisi perusahaan sebenarnya. Jika dalam proses identifikasi informasi
mengenai kondisi perusahaan auditor tidak menemukan adanya kesangsian besar
terhadap kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
maka auditor akan memberikan opini audit non going concern dan opini audit
going concern akan diberikan kepada perusahaan yang oleh auditor diragukan
kemampuannya dalam menjaga kelangsungan usaha perusahaan.
Opini audit going concern merupakan opini audit yang dikeluarkan oleh
auditor untuk memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya (SPAP, 2001). Auditor melakukan evaluasi terhadap
perusahaan sebelum menentukan apakah terdapat kesangsian atas kelangsungan
usaha suatu perusahaan. Auditor memerlukan berbagai informasi mengenai
kondisi perusahaan dalam penilaian atas ada atau tidaknya kesangsian besar
mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya
dalam jangka waktu pantas. Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian atas
kelangsungan hidup entitas, maka auditor perlu mencari informasi mengenai
rencana manajemen dalam mengurangi dampak dari ketidakmampuan entitas
tersebut. Selain itu, auditor juga harus mempertimbangkan bagaimana rencana
manajemen dilaksanakan oleh perusahaan sehingga kesangsian atas kelangsungan
hidup entitas dapat dikurangi (SA Seksi 341). Jika auditor tidak menemukan
kesangsian atas kondisi perusahaan dalam menjalankan dan mempertahankan
kelangsungan usahanya, maka auditor akan memberikan opini non going concern.

O’Reilly (2010) menyatakan asumsi dasar bahwa opini audit going concern
haruslah berguna bagi investor sebagai sinyal negatif tentang kelangsungan hidup
perusahaan. Sebaliknya opini non going concern dianggap sebagai sinyal positif
bagi investor sebagai penanda bahwa perusahaan dalam kondisi yang baik.
Auditor yang baik dianggap memiliki kemampuan untuk menyediakan sinyal-
sinyal kepada pasar. Kemampuan menyediakan sinyal ini diperoleh dari
kewenangan auditor mengakses informasi perusahaan dan kemampuan auditor
dalam menilai isu going concern.

Sejumlah penelitian telah mengungkapkan faktor-faktor yang berpengaruh


terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan. Santoso dan
Wedari (2007), Knechel dan Vanstraelen (2007), Januarti dan Fitrianasari (2008),
Rudyawan dan Badera (2009), Lim dan Tan (2009), Diyanti (2010), Junaidi dan
Hartono (2010) telah berhasil meneliti tentang faktor yang berpengaruh secara
signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern oleh auditor.
Junaidi dan Hartono (2010), Knechel dan Vanstraelen (2007) dan Lim dan
Tan (2009) menyebutkan bahwa audit tenure memiliki pengaruh secara signifikan
terhadap penerimaan opini audit going concern oleh auditor. Penelitian Januarti
dan Fitrianasari (2008) menunjukkan hal yang sebaliknya. Dalam penelitian
tersebut audit tenure tidak membuktikan hubungan signifikannya dalam
mempengaruhi penerimaan opini audit going concern oleh auditor.

Reputasi KAP (Kantor Akuntan Publik) dianggap memiliki pengaruh


terhadap opini audit going concern. KAP dengan reputasi big four dianggap
memiliki kualitas audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP non big four.
Rudyawan dan Badera (2009) dan Januarti dan Fitrianasari (2008) menyatakan
bahwa reputasi KAP tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap penerimaan
opini audit going concern. Junaidi dan Hartono (2010) dalam penelitiannya
membuktikan bahwa reputasi KAP memiliki pengaruh positif yang signifikan
terhadap opini audit going concern yang diberikan auditor.

Disclosure merupakan salah satu faktor yang dianggap berkaitan dengan


penerimaan opini audit going concern terhadap perusahaan. Adanya disclosure
atau pengungkapan laporan keuangan akan memudahkan auditor dalam menilai
kondisi keuangan perusahaan. Penggunaan disclosure sebagai variabel
independen yang mempengaruhi penerimaan opini audit going concern masih
jarang dilakukan di Indonesia (Junaidi dan Hartono, 2010).

Santoso dan Wedari (2007) dan Diyanti (2010) mengungkapkan bahwa


faktor ukuran perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap penerimaan
opini audit going concern. Penelitian tersebut membuktikan bahwa dengan ukuran
perusahaan yang semakin besar maka perusahaan dapat menjamin kelangsungan
usahanya. Sebaliknya Rudyawan dan Badera (2009) dan Junaidi dan Hartono
(2010) menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak menunjukkan pengaruh
signifikannya dalam opini audit going concern.

Januarti dan Fitrianasari (2008) mengungkapkan faktor lain yang


mempengaruhi penerimaan opini audit going concern adalah likuiditas. Likuiditas
memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap opini audit going concern.
Hal ini disebabkan semakin tingginya likuiditas, maka perusahaan dianggap
mampu untuk melakukan kewajiban jangka pendeknya sehingga dapat
menghindarkan dari penerimaan opini audit going concern oleh auditor.
Penelitian Amilin dan Indrawan (2008) menyatakan bahwa likuiditas tidak
memiliki pengaruh yang signifikan penilaian going concern perusahaan.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah audit tenure, reputasi
KAP, disclosure, ukuran perusahaan dan likuiditas. Adanya beberapa variabel
yang sama dengan penelitian sebelumnya memiliki tujuan untuk menguji
konsistensi hasil yang diperoleh.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka perumusan masalah dalam


penelitian ini adalah apakah audit tenure,reputasi KAP, disclosure, ukuran
perusahaan dan likuiditas berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going
concern pada perusahaan manufaktur.

II. TELAAH TEORI

Teori agensi merupakan teori menggambarkan hubungan antara dua


individu yang berbeda kepentingan yaitu prinsipal dan agen. Hendriksen dan
Breda (1992) menyatakan bahwa hubungan agensi merupakan hubungan
kontraktual antara prinsipal dan agen, prinsipal mendelegasikan tanggung jawab
atas tugas tertentu sesuai dengan kontrak yang disepakati atau pengambilan
keputusan kepada agen. Agen akan melakukan tindakan terbaik demi kepentingan
prinsipal. Prinsipal akan memberikan imbalan atas kerja si agen. Wewenang dan
tanggung jawab agen maupun prinsipal diatur dalam kontrak kerja atas
persetujuan bersama (Ujiyhanto, 2010).

Masalah keagenan akan muncul ketika terjadi konflik kepentingan antara


prinsipal dan agen. Masing-masing pihak berusaha memaksimalkan kepentingan
pribadi. Prinsipal menginginkan hasil akhir keputusan yang menghasilkan laba
sebesar-besarnya atau peningkatan nilai investasi dalam perusahaan. Agen pun
pasti memiliki kepentingan pribadi yang ingin dicapai yakni penerimaan
kompensasi yang memadai atas kinerja yang dilakukan. Prinsipal menilai prestasi
agen berdasarkan kemampuannya memperbesar laba. Semakin tinggi jumlah laba
yang dihasilkan oleh agen (manajemen), prinsipal akan memperoleh deviden yang
semakin tinggi, maka agen dianggap berhasil atau berkinerja baik sehingga layak
mendapat insentif yang tinggi. Agen pun memenuhi tuntutan prinsipal agar
mendapatkan kompensasi yang tinggi (Elqorni,2009).

Agen secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan


para prinsipal. Namun disisi kepentingan pribadi, agen juga mempunyai
kepentingan memaksimumkan kesejahteraan mereka. Sehingga ada kemungkinan
besar agen tidak selalu bertindak demi kepentingan terbaik prinsipal (Jensen dan
Meckling, 1976). Sehingga bila tidak ada pengawasan yang memadai maka agen
dapat memainkan beberapa kondisi perusahan agar seolah target yang diinginkan
prinsipal tercapai.

Optimalisasi kepentingan baik prinsipal maupun agen yang tidak sesuai


dapat menimbulkan terjadinya asimetri informasi. Asimetri informasi merupakan
kondisi dimana informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tidak
mencerminkan kondisi perusahaan sebenarnya. Laporan keuangan disajikan oleh
manajemen (agen) untuk memberikan sinyal kepada pengguna tentang kondisi
perusahaan. Jika laporan keuangan ini tidak mencerminkan kondisi perusahaan
sebenarnya, maka akan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pengguna.

Dalam kaitan teori agensi dengan penerimaan opini audit going concern,
agen bertugas dalam menjalankan perusahaan dan menghasilkan laporan
keuangan sebagai bentuk dari pertanggungjawaban manajemen. Laporan
keuangan ini yang nantinya akan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan dan
digunakan oleh prinsipal sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Dari
laporan keuangan ini dapat dilihat seberapa besar tingkat likuiditas, ukuran
perusahaan dan disclosure perusahaan yang dihasilkan perusahaan. Agen sebagai
pihak yang menghasilkan laporan keuangan memiliki keinginan untuk
mengoptimalisasi kepentingannya, sehingga dimungkinkan agen melakukan
manipulasi data atas kondisi perusahaan.
Oleh karena itu, dibutuhkan pihak ketiga yang bersifat independen sebagai
mediator antara dua kepentingan. Pihak ketiga ini bertugas untuk menilai apakah
ada asimetri informasi atau manipulasi yang terjadi. Auditor merupakan pihak
independen yang menjembatani hubungan antara prinsipal dan agen. Auditor
sebagai pihak ketiga dibutuhkan untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja
manajemen apakah telah bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal melalui
laporan keuangan (Rudyawan dan Badera, 2008). Auditor haruslah menjadi pihak
independen yang tidak mudah terpengaruh dengan tenure (lama perikatan audit
klien dengan auditor), sehingga hasil pengawasan yang dilaksanakan merupakan
bukti yang obyektif. Hasil pengawasan yang dilakukan auditor adalah penerimaan
opini kewajaran dalam laporan keuangan perusahaan dan pengungkapan
kemampuan perusahaan dalam kelangsungan hidupnya (going concern).

Opini yang dikeluarkan auditor ini haruslah berkualitas yang ditunjukkan


dengan semakin andal dan transparannya informasi keuangan perusahaan.
Kualitas audit sering diproksikan dengan reputasi auditor. Fanny dan Saputra
(2005) menyatakan bahwa KAP yang mengklaim dirinya sebagai KAP besar
(seperti yang dilakukan The Big Four) akan berusaha keras menjaga nama
tersebut, sehingga hal ini akan berdampak pada jasa yang diberikan oleh KAP.

Berikut ini akan mengkaji lebih jauh tentang faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi penerimaan opini audit going concern pada perusahaan. Adapun
penjelasan untuk masing-masing faktor adalah sebagai berikut:
(1) Pengaruh audit tenure terhadap penerimaan opini audit going concern.

Audit tenure merupakan jumlah tahun dimana KAP melakukan perikatan


audit pada perusahaan yang sama. Semakin lama hubungan auditor dengan klien
dikhawatirkan independensi auditor semakin berkurang. Penurunan independensi
auditor terjadi karena hubungan perikatan yang terjalin lama antara auditor
dengan klien. Independensi auditor akan berpengaruh pada tingkat kualitas audit
yang diberikan. Tingkat kualitas audit dapat diukur dari opini audit going concern
yang diberikan. Semakin lama hubungan auditor dengan klien, maka
dikhawatirkan semakin rendah pengungkapan atas ketidakmampuan perusahaan
dalam menjaga kelangsungan usahanya. Hal tersebut akan mempengaruhi
penerimaan opini audit going concern terhadap perusahaan (Junaidi dan Hartono,
2010).

H1 : Audit tenure berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going


concern pada perusahaan manufaktur.
(2) Pengaruh reputasi KAP terhadap penerimaan opini audit going
concern.

Reputasi KAP menunjukkan prestasi dan kepercayaan publik yang


disandang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor (Rudyawan dan Badera,
2009). KAP dengan reputasi big four dianggap perusahaan memiliki kualitas
audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP non Big four.

KAP dengan reputasi yang lebih baik akan cenderung memberikan opini
audit going concern jika perusahaan memiliki masalah yang berkaitan dengan
kelangsungan usahanya. KAP non big four memiliki reputasi yang lebih rendah
dari KAP big four sehingga kualitas audit yang diberikan pun akan lebih rendah.

H2 : Reputasi KAP berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going


concern pada perusahaan manufaktur.

(3) Pengaruh disclosure level terhadap penerimaan opini audit going


concern.

Disclosure adalah pengungkapan atau penjelasan, penerimaan informasi


oleh perusahaan. Perusahaan yang mengungkapkan lebih sedikit informasi
akuntansi cenderung menerima opini qualified dari auditor eksternal (Gaganis dan
Pasiouras, 2007). Haron et al (2009) menyatakan hal sebaliknya yakni disclosure
atau pengungkapan informasi merupakan fakta bahwa perusahaan sedang
menghadapi kesulitan keuangan dan menunjukkan usaha manajemen dalam
menyelesaikan masalahnya. Dislosure atas informasi dapat digunakan untuk
membantu dalam memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi
perusahaan sebenarnya.
Semakin tinggi disclosure level yang dilakukan perusahaan, maka semakin
banyak pula informasi yang ada. Semakin luasnya informasi keuangan yang
diungkapkan oleh perusahaan yang mengalami kondisi keuangan yang buruk,
maka auditor akan lebih mudah dalam menemukan bukti dalam menilai
kelangsungan usaha perusahaan (Junaidi dan Hartono, 2010). Selain itu, tingginya
disclosure level juga dikaitkan dengan usaha perusahaan untuk memperbaiki citra
buruknya di masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat
disclosure perusahaan, maka semakin tinggi pula kemungkinan perusahaan
menerima opini audit going concern.

H3 : Disclosure level berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going


concern pada perusahaan manufaktur.

(4) Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap penerimaan opini audit going


concern

Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan total asset yang dimiliki


menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga kelangsungan usaha.
Semakin tinggi total asset yang dimiliki, maka perusahaan dianggap memiliki
ukuran yang besar sehingga mampu mempertahankan kelangsungan usahanya.
Perusahaan besar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola
perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan yang lebih berkualitas (Junaidi
dan Hartono , 2010). Semakin kecil skala perusahaan menunjukkan kemampuan
perusahaan yang lebih kecil dalam pengelolaan usahanya. Hal ini menyebabkan
perusahaan lebih berpeluang mendapatkan opini audit going concern.

H4 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going


concern pada perusahaan manufaktur.

(5) Pengaruh likuiditas terhadap penerimaan opini audit going concern.

Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan


kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar. Semakin tinggi
likuiditas yang dimiliki semakin besar pula kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajiban jangka pendeknya. Semakin rendah likuiditas semakin
rendah pula kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek.

Kemampuan perusahaan yang rendah dalam melaksanakan kewajibannya


akan menyebabkan auditor ragu akan kelangsungan hidup perusahaan tersebut.
Keraguan auditor akan menyebabkan penerimaan opini audit going concern
terhadap perusahaan (Januarti dan Fitrianasari, 2008).

H5: Likuiditas berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern


pada perusahaan manufaktur.

III. METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang Go Publik


atau terdaftar di BEI selama tahun 2005-2010 yang termuat dalam Indonesian
Capital Market Directory (ICMD) 2005-2010. Perusahaan manufaktur dipilih
untuk menghindari adanya industrial effect. Industrial effect merupakan risiko
industri yang berbeda antara suatu sektor industri yang satu dengan yang lain.
Zulkarnaini (2007) mencontohkan risiko yang timbul pada perusahaan
manufaktur. Perusahaan manufaktur akan memiliki proporsi aktiva tetap yang
lebih besar dibandingkan dengan perusahaan retail,dll karena kegiatan usahanya
yang membutuhkan berbagai alat-alat produksi. Perusahaan dengan aktiva tetap
yang lebih besar akan memiliki beban depresiasi yang tinggi pula, sehingga akan
menimbulkan tingginya risiko usaha. Sampel perusahaan manufaktur yang
digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling dengan
beberapa kriteria yaitu: (1) Perusahaan manufaktur yang listing di BEI dari tahun
2005 sampai 2010 dan menerbitkan laporan keuangan dari tahun 2005 sampai
2010. (2) Terdapat catatan atas laporan keungan perusahaan. (3) Terdapat laporan
auditor independen atas laporan keuangan perusahaan. (4) Mengalami laba bersih
setelah pajak bernilai negatif selama paling tidak 3 periode laporan keuangan saat
pengamatan. Setelah dilakukan metode sampling tersebut diperoleh 78 perusahaan
manufaktur yang akan diobservasi.
Definisi Operasional Variabel

(1) Opini Audit Going Concern


Opini audit going concern adalah opini audit yang dikeluarkan oleh auditor
untuk mengevaluasi apakah ada kesangsian tentang kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya (SPAP, 2001). Opini audit going
concern diberi kode 1, sedangkan opini non going concern diberi kode 0. Opini
audit going concern (Vanstraelen, 2002) terdiri dari :
(a) Laporan yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa
penjelasan (unqualified opinion report with explanatory language.
(b) Laporan yang berisi pendapat wajar dengan pengecualian (qualified
opinion report)
(c) Laporan yang berisi pendapat tidak wajar (adverse opinion)
(d) Laporan yang didalamnya auditor tidak menyatakan pendapat
(disclaimer of opinion report).
(2) Audit Tenure

Audit tenure adalah lamanya hubungan auditor dengan klien dalam hal
perikatan yang dilakukan. Variabel audit tenure dalam penelitian ini
menggunakan skala interval sesuai dengan lama hubungan KAP dengan
perusahaan. Auditor tenure diukur dengan menghitung jumlah tahun dimana KAP
yang sama telah melakukan perikatan audit terhadap auditee.

(3) Reputasi KAP


Kantor Akuntan Publik adalah badan usaha yang telah mendapatkan izin
dari Menteri sebagai wadah bagi Akuntan Publik dalam memberikan jasanya
(PMK NOMOR: 17/PMK.01/2008). Kualitas KAP sering diproksikan dengan
reputasi KAP. Kantor Akuntan Publik (KAP) diklasifikasikan menjadi dua yakni
KAP big four dan KAP non big four. Kantor akuntan publik di Indonesia yang
berafiliasi dengan the big four adalah:
(a) Ernst & Young pada tahun 2010 berafiliasi dengan KAP Purwantono,
Suherman dan Surja. KAP lokal yang berafiliasi dengan Ernst & Young
sebelumnya yakni pada tahun 2006 adalah KAP Purwantono, Sarwoko
dan Sandjaja.
(b) Deloitte Touche Tohmatsu berafiliasi dengan KAP Osman Bing Satrio.
(c) KPMG berafiliasi dengan KAP Sidharta dan Widjaja.
(d) Price Waterhouse Coopers pada tahun 2009 berafiliasi dengan KAP
Tanudiredja, Wibisana dan Rekan. Sebelum berafilisasi dengan KAP
Tanudiredja, Wibisana dan Rekan, Price Waterhouse Coopers
melakukan afiliasi dengan KAP lokal yakni KAP Haryanto Sahari pada
tahun 2005.
(4) Disclosure
Disclosure adalah tingkat pengungkapan atas informasi yang diberikan
sebagai lampiran pada laporan keuangan dalam bentuk catatan kaki atau tambahan
(Tanor, 2009). Variabel ini diukur dengan menggunakan indeks yang telah diatur
dalam Keputusan BAPEPAM Nomor: KEP-134/BL/2006 Peraturan Nomor X.K.6
tentang kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten atau perusahaan
publik. Penentuan indeks dilakukan dengan menggunakan skor disclosure yang
diungkapkan oleh perusahaan. Setelah melakukan scoring, disclosure level dapat
ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Cooke, 1992 dalam Hossain 2008) :

Disclosure Level = Jumlah skor disclosure yang dipenuhi


Jumlah skor maksimum

(5) Ukuran Perusahaan


Ukuran perusahaan adalah kondisi keuangan yang dimiliki oleh perusahaan.
Proksi yang digunakan dalam menilai kondisi keuangan perusahaan adalah total
asset yang dimiliki.ukuran perusahaan dinilai dengan natural logaritma dari total
asset.

Ukuran Perusahaan = Natural Log dari total asset


(6) Likuiditas
Cara yang digunakan dalam mengkur likuiditas yaitu menggunakan rasio
likuiditas. Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara
aktiva lancar dan kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang
dimiliki. Likuiditas diukur dengan rumus sebagai berikut :

Rasio Likuiditas = Aktiva Lancar


Kewajiban Lancar

Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yang dilakukan


dengan mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian antara lain adalah
melakukan dokumentasi dan mencari data langsung dari catatan-catatan atau
dokumen-dokumen perusahaan sesuai dengan data yang diperlukan. Data
sekunder yang dibutuhkan terdiri dari laporan keuangan perusahaan maupun
laporan tahunan perusahaan yang diterbitkan oleh perusahaan manufaktur yang
listing di BEI dan sesuai dengan kriteria pemilihan sampel.

Metode Analisis Data

Analisis data mempunyai tujuan untuk menyampaikan dan membatasi


penemuan-penemuan hingga menjadi data yang teratur. Semua data terkumpul
dan relevan dikelompokkan kedalam sub-sub bagian dari masing-masing variabel.
Data kuantitatif disajikan dalam bentuk diskriptif. Semua data yang dikumpulkan
akan dianalisis tentang hubungan dan pengaruh antara variabel. Sesuai dengan
hipotesis yang telah dirumuskan maka analisis yang digunakan adalah analisis
regresi logistik. Tujuannya untuk menetapkan seberapa baik model yang
digunakan cocok untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi
logistik dengan program SPSS 17, yang diuji dengan tingkat signifikansi 0,05.
Analisis regresi logistik digunakan untuk mengetahui atau memperoleh gambaran
mengenai pengaruh variabel independen terhadap variabel dependennya. Model
regresi logistik dirumuskan dengan persamaan berikut:

GC = α+ Β1Tenure + β2ReputasiKAP + β3Disclosure+ β4SIZE +β5Likuiditas + ε

Keterangan :
GC : Opini Going Concern
α : Konstanta
β1 - β6 : Koefisien Regresi
Tenure : Lamanya hubungan auditor dengan klien.
Reputasi KAP : 1, bila KAP big four dan 0 bila non big four.
Disclosure : Tingkat Pengungkapan
SIZE : Ukuran perusahaan yang diukur dengan natural log asset total.
LIKUIDITAS : Likuiditas
ε : error

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam


Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2005-2010. Informasi tentang
perusahaan manufaktur dilakukan melalui penelaahan terhadap laporan keuangan
yang diterbitkan oleh perusahaan terkait. Laporan keuangan auditan dapat diakses
di www.idx.co.id atau dapat dilihat dalam Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) periode 2005 sampai dengan 2010. Sampel perusahaan yang digunakan
dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling.

Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, jumlah sampel dalam penelitian ini


adalah sebanyak 13 perusahaan. Berikut keterangan mengenai sampel penelitian :
Tabel 1
Jumlah Sampel Penelitian
Keterangan Jumlah
Perusahaan yang konsisten mempublikasikan 154
laporan keuangan dari tahun 2005-2010
Peusahaan yang mengalami laba negatif selama 3 25
tahun pada tahun 2005-2010
Perusahaan yang datanya tidak lengkap (12)
Jumlah perusahaan sample 13
Tahun Pengamatan 6
Jumlah sampel total selama periode penelitian 78

Berdasarkan proses pengambilan sampel maka diperoleh sampel sejumlah


13 perusahaan dengan jumlah observasi sebanyak 78, yang didapat dari 13 x 6
(perkalian antara jumlah sample dengan periode tahun pengamatan). Berikut
sampel yang diperoleh berdasar kriteria tersebut :

Tabel 2
Daftar Sampel Penelitian
No Nama Perusahaan No Nama Perusahaan
1 Century Textile,Tbk 8 Sumalindo Lestari Jaya,Tbk
2 Panasia Filament, Tbk 9 Kedaung Indah , Tbk
3 Tifico, Tbk 10 Mulia Industrindo,Tbk
4 Ever Shine, Tbk 11 Prima Alloy Steel, Tbk
5 Hanson Internasional, Tbk 12 Inter delta, Tbk
6 Karwell Indonesia, Tbk 13 Perdana Bangun Pusaka, Tbk
7 Surya Intrindo Makmur, Tbk

Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan


informasi mengenai karaktristik variabel-variabel penelitian, antara lain nilai
minimum, maksimum, rata-rata, standar deviasi.
Tabel 3
Hasil Analisis Statistik Deskriptif
N Minimum Maksimum Mean Std.Deviation
TENURE 78 1 6 2.23 1.423
DISCLOSURE 78 .42 .67 .5176 .06423
LNASSET 78 6.80 15.33 12.6413 1.67018
LIKUIDITAS 78 .00 7.34 1.2578 1.53723
Valid N (listwise) 78
Sumber: Data sekunder yang diolah

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi

Frekuensi Persentase (%)


GC 0 15 19,2
1 63 80,8
REP.KAP 0 40 51,3
1 38 48,7
Sumber: Data sekunder yang diolah

Dari tabel distribusi frekuensi di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2005-2010,
sampel perusahaan manufaktur yang mendapatkan opini going concern sebesar 63
sampel (80,8%) sedangkan sisanya sebesar 15 sampel (19,2%) mendapatkan opini
non going concern. Selain itu dari 78 sampel perusahaan manufaktur, 40
perusahaan (51,3%) menggunakan jasa KAP big four dan 48,7% menggunakan
KAP non big four.

Uji Multikolinearitas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi


ditemukan adanya korelasi antar variabel bebasnya (independen). Model regresi
yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.
Pengujian ini menggunakan matriks korelasi untuk melihat besarnya korelasi
antar variabel independen.
Tabel 4
Uji Multikolinearitas
Likuiditas Disclosure Tenure LNASSET Rep.KAP
Likuiditas 1 .032 -.174 .256 .100
Disclosure .032 1 -.042 .200 -.215
Tenure -.174 -.042 1 -.145 -.268
LNASSET .256 .200 -.145 1 -.462
Rep.KAP .100 -.215 -.268 -.462 1
Sumber: Data sekunder yang diolah

Variabel independen dikatakan memiliki masalah multikolinearitas apabila


tingkat korelasinya di atas 0,95. Pada tabel 3 menunjukkan hasil bahwa tidak ada
nilai koefisien yang lebih besar dari 0,95 sehingga dapat dikatakan bahwa tidak
terjadi masalah multikolinearitas yang terjadi.

Analisis Hipotesis

Penilaian model fit digunakan untuk menilai goodness of fit model terhadap
data. Untuk menguji hipotesis bahwa data empiris cocok atau tidak dengan model
maka digunakan uji Omnimbus Test. Hasil output dapat dilihat pada tabel di
bawah:
Tabel 5
Omnibus Test
Chi-Square df Sig.
Step 1 Step 14.435 5 .013
Block 14.435 5 .013
Model 14.345 5 .013

Sumber : Data sekunder yang diolah

Pengujian kelima variabel independen dalam regresi logistik menunjukkan


chi-square sebesar 14.435 dengan signifikansi 0.013. nilai signifikansi yang lebih
kecil dari 0,05 menunjukkan adanya pengaruh kelima variabel independen (audit
tenure, reputasi KAP, disclosure, ukuran perusahaan dan likuiditas) dalam
menjelaskan penerimaan opini audit going concern pada perusahaan manufaktur.

Tabel 6
Nagelkerke R Square

-2 Log Cox & Snell R Nagelkerke R


Step Likelihood Square Square
1 61.935 0.169 0.271
Sumber : Data sekunder yang diolah

Besarnya nilai koefisien determinasi pada model regresi logistik


ditunjukkan oleh nilai Cox & Snell R square dan Nagelkerke R Square. Nilai Cox
& Snell R Square adalah sebesar 0,169 yang berarti bahwa variabel dependen
dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar 16,9 %. Cox & Snell R Square
merupakan ukuran yang mencoba meniru ukuran R2 pada multiple regression
sehingga sulit diintepretasikan. Kelemahan mendasar yang dimiliki adalah bias
terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model. Setiap
tambahan satu variabel independen, maka baik nilai R2 maupun Cox & Snell R
Square akan mengalami peningkatan tidak peduli apakah variabel tersebut
berpengaruh atau tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.
Oleh karena itu, Nagelkerke R Square digunakan dalam mengevaluasi mana
model regresi yang terbaik karena nilai yang dihasilkan dapat naik atau turun
apabila satu variabel independen ditambahkan kedalam model (Ghozali, 2001).
Berdasarkan tabel di atas , Nilai Nagelkerke R Square adalah 0,271 yang
berarti variabel dependen (Opini Going Concern) dapat dijelaskan oleh variabel
independen (Audit tenure, reputasi KAP, disclosure, ukuran perusahaan dan
likuiditas) sebesar 27,1%. Sisanya yakni sebesar 72,9% dijelaskan oleh variabel
yang tidak diteliti.
Tabel 7
Perbandingan Nilai -2LL awal dengan -2LL Akhir

-2LL awal (Block Number =0) 76,897

-2LL akhir (Block Number =1) 61,935


Sumber : Data sekunder yang diolah

Dari hasil pengujian diperoleh angka -2 log Likehood (LL) pada awal block
number 0 sebesar 76,897, sedangkan angka -2 Log Likehood (LL) pada block
number 1 sebesar 61,935. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa block 0 lebih
besar dari block 1 sehingga model regresi layak digunakan.

Tabel 8
Matriks Klasifikasi

Predicted

GC
Percentage
Observed 0 1 Correct
Step 1 GC 0 5 10 33.3
1 1 62 98.4
Overall Percentage 85.9

Sumber : Data sekunder yang diolah

Tabel 8 menjelaskan tentang kekuatan prediksi yang dihasilkan oleh model


regresi. Sebesar 98,4% diprediksi oleh model regresi menerima opini going
concern dari total 63 perusahaan yang memperoleh opini going concern.
Penerimaan opini non going concern yang diprediksi oleh model regresi adalah
sebesar 33.3%. Hal ini menunjukkan bahwa 5 dari 15 perusahaan diprediksi
menerima opini non going concern oleh model regresi.

Hasil analisis regresi logistik dan uji hipotesis yang telah dilakukan dapat
dilihat pada tabel 9 di bawah ini :
Tabel 9
Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik
B Sig Ha
TENURE -,294 ,214 H1 ditolak
REP.KAP 1,246 ,148 H2 ditolak
DISCLOSURE 8,636 ,163 H3 ditolak
LNASSET -,443 ,147 H4 ditolak
LIKUIDITAS -,522 ,017 H5 diterima
Constant 3,649 ,450

Berdasarkan tabel 4.9 dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut :

GC = 3,649 -0,294 TENURE + 1,236 REP.KAP + 8,636 DISCLOSURE -


0,443 LNASSET – 0,522 LIKUIDITAS

Hipotesis 1 (H1): Audit tenure berpengaruh terhadap penerimaan opini audit


going concern pada perusahaan manufaktur.
Variabel audit tenure memiliki nilai signifikansi sebesar 0,214. Dengan nilai
signifikansi lebih besar dari 0,05 , maka H1 ditolak artinya bahwa audit tenure
tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern pada
perusahaan manufaktur.

Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa audit tenure berpengaruh


negatif dan signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern tidak dapat
diterima atau ditolak. Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian Januarti dan
Fitrianasari (2008) yang menunjukkan bahwa audit tenure tidak berpengaruh
terhadap penerimaan opini audit going concern.

Berdasarkan hasil analisis, audit tenure tidak berpengaruh signifikan


terhadap opini audit going concern. Dapat disimpulkan bahwa auditor akan
memberikan opini audit going concern pada perusahaan apabila ada kesangsian
atas kelangsungan hidup auditee, tanpa mempedulikan insentif ekonomi yang
akan hilang akibat kehilangan klien (Januarti dan Fitrianasari, 2008).
Hipotesis 2 (H2): Reputasi KAP berpengaruh terhadap penerimaan opini
audit going concern pada perusahaan manufaktur.
Variabel reputasi KAP memiliki nilai signifikansi sebesar 0,148. Dengan
nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05, maka H2 ditolak. Dapat disimpulkan
bahwa reputasi KAP tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini
audit going concern pada perusahaan manufaktur.

Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa reputasi KAP berpengaruh negatif


dan signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern tidak dapat
diterima atau ditolak. Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian Rudyawan dan
Badera (2009), Shafei, et al (2009) dan Amilin dan Indrawan (2008).

Berdasarkan hasil analisis, reputasi KAP tidak berpengaruh signifikan


terhadap opini audit going concern. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan audit
atas laporan keuangan yang dilakukan auditor pada suatu Kantor Akuntan Publik
(KAP) baik big four maupun non big four harus berdasarkan pada Standar
Profesional Akuntan Publik (SPAP) serta Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
yang berlaku. Didalam SPAP juga berisi standar-standar audit yang mengatur dan
sebagai pedoman audit dalam melaksanakan tugasnya. Dalam melaksanakan
tugasnya baik KAP big four dan non big four menggunakan standar yang sama.

Oleh karena itu, anggapan publik selama ini yang mengasumsikan bahwa
KAP big four memiliki kualitas yang baik dibandingkan KAP non big four tidak
dapat dibenarkan. Hal ini terbukti dengan fenomena yang ditemukan peneliti
bahwa banyak perusahaan yang memperoleh opini audit going concern dengan
KAP non big four sebagai auditornya.

Hipotesis 3 (H3): Disclosure level berpengaruh terhadap penerimaan opini


audit going concern pada perusahaan manufaktur.
Variabel disclosure level memiliki nilai signifikansi sebesar 0,163 dengan
koefisien positif sebesar 8,636. Dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05,
maka dapat disimpulkan bahwa H3 ditolak sehingga disclosure level tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern
pada perusahaan manufaktur.
Hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa disclosure level berpengaruh
positif dan signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern tidak
terbukti atau ditolak. Hasil temuan ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Junaidi
dan Hartono (2010). Dapat disimpulkan bahwa tingkat disclosure level tidak
membantu auditor dalam menemukan bukti tentang ketidakmampuan perusahaan
dalam mempertahankan kelangsungan usahanya.

Hipotesis 4 (H4): Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan


opini audit going concern pada perusahaan manufaktur.
Variabel Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan natural logaritma dari
total asset memiliki nilai signifikansi sebesar 0,147. Dengan nilai signifikansi
yang lebih besar dari 0,05, maka H4 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa ukuran
perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going
concern pada perusahaan manufaktur.
Hipotesis keempat yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern tidak dapat
diterima atau ditolak. Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian Rudyawan dan
Badera (2009) dan Junaidi dan Hartono (2010). Berarti bahwa auditor
memberikan opini audit going concern tidak berdasarkan ukuran perusahaan yang
diproksikan dengan total asset.

Hipotesis 5 (H5): Likuiditas berpengaruh terhadap penerimaan opini audit


going concern pada perusahaan manufaktur.
Variabel likuiditas memiliki nilai signifikansi sebesar 0,017 dengan
koefisien negatif sebesar 0,522. Dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05,
maka dapat disimpulkan bahwa H5 diterima sehingga likuiditas berpengaruh
negatif secara signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern pada
perusahaan manufaktur.
Hipotesis kelima yang menyatakan bahwa likuiditas berpengaruh megatif
dan signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern terbukti atau dapat
diterima. Hasil temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Januarti dan Fitrianasari
(2008).
Koefisien beta menunjukkan tanda negatif sebesar 0,522. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tingginya likuiditas, maka perusahaan dianggap
mampu untuk melakukan kewajiban jangka pendeknya sehingga dapat
menghindarkan dari penerimaan opini going concern oleh auditor.

V. SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN


Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang sudah diuraikan, dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik diperoleh


bukti empiris bahwa variabel audit tenure tidak berpengaruh signifikan
terhadap penerimaan opini audit going concern. Hasil ini sejalan dengan
penelitian Januarti dan Fitrianasari (2008) yang menyatakan bahwa audit
tenure tidak akan mempengaruhi penilaian auditor dalam menilai
kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya.
Auditor tidak akan mengkhawatirkan insentif ekonomi yang akan hilang
akibat kepercayaan perusahaan yang hilang atas kinerja auditor.
2. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik diperoleh
bukti empiris bahwa variabel reputasi KAP juga memiliki hubungan yang
tidak signifikan dengan penerimaan opini audit going concern. Hal ini
dikarenakan dalam pelaksanaan audit atas laporan keuangan dilakukan
auditor pada suatu KAP harus berdasarkan pada Standar Akuntansi
Keuangan serta Standar Profesional Akuntan Publik yang berlaku (Amilin
dan Indrawan, 2008). Hasil ini memperkuat penelitian dari Rudyawan dan
Badera (2009), Shafei, et al (2009) dan Amilin dan Indrawan (2008).
3. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik diperoleh
bukti bahwa disclosure tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan
opini audit going concern. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Junaidi
dan Hartono (2010). Tingkat disclosure tidak berpengaruh terhadap
penemuan bukti audit oleh auditor sebagai dasar dalam pemberian opini
audit going concern pada klien.
4. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik diperoleh
bukti bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap
penerimaan opini audit going concern. Hasil ini sejalan dengan penelitian
Rudyawan dan Badera (2009) dan Junaidi dan Hartono (2010). Ukuran
perusahaan yang tinggi tidak menjamin kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba guna peningkatan laba yang diperoleh.
5. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik diperoleh
bukti bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini
audit going concern. Hasil ini sejalan dengan penelitian Januarti dan
Fitrianasari (2008). Auditor akan memberikan opini audit going concern
bagi perusahaan yang tidak memiliki kemampuan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya dengan asset lancar yang dimiliki.

Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini hanya menggunakan variabel audit tenure, reputasi KAP,


disclosure, ukuran perusahaan dan likuiditas. Banyak variabel lain diluar
penelitian ini yang dapat mempengaruhi penerimaan opini audit going
concern pada auditee seperti audit lag, opini audit tahun sebelumnya,
kondisi keuangan perusahaan lainnya (leverage, profitabilitas, solvabilitas)
dan faktor-faktor lain yang dianggap berpengaruh .
2. Hanya satu variabel yang hasilnya berpengaruh secara signifikan terhadap
opini audit going concern.
3. Adanya pembatasan pada kriteria penentuan sampel yaitu perusahaan yang
memiliki laba negatif selama tiga tahun, sehingga akan mempersempit
sampel penelitian.
Saran

Berdasarkan keterbatasan dalam penelitian ini, penelitian selanjutnya


diharapkan menggunakan variabel yang hasilnya terbukti berpengaruh secara
signifikan dalam penerimaan opini audit going concern. Selain itu penambahan
variabel lain seperti audit lag, opini audit tahun sebelumnya, kondisi keuangan
perusahaan (leverage, profitabilitas, solvabilitas) ataupun faktor-faktor lain yang
diduga berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern sangat
disarankan.
Sampel perusahaan yang digunakan oleh penelitian ini adalah perusahaan
manufaktur, penelitian selanjutanya disarankan untuk mengubah sampel
penelitian dengan menggunakan perusahaan dari industri lain yang listing di BEI.
Peneliti juga menyarankan untuk menghilangkan kriteria penentuan sampel yaitu
perusahaan yang memiliki laba negatif selama tiga tahun, sehingga sampel
penilaian atas going concern perusahaan tidak terbatas pada kondisi keuangan
yang buruk.
DAFTAR PUSTAKA
Almilia, L Spica dan Retrinasari Ika. 2007. Analisis Pengaruh Karakteristik
Perusahaan Terhadap Kelengkapan Pengaruh dalam Laporan Tahunan
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI. Proocedings Seminar
Nasional FE Universitas Trisakti, hal 1-14.

Amilin dan Ady Indrawan. 2008. Analisis Penilaian Going Concern Perusahaan
dan Opini Audit oleh Kap Big Four Dengan Kap Non Big Four (Studi
pada Emiten di Bursa Efek Indonesia). Artikel dari Jurnal Ekonomi:
Analisis Ilmiah Ekonomi, Manajemen, Keuangan dan Akuntansi Vol. 18
no. 2, hal 72-83.

Darsono dan Ashari. 2004. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan (Tips
Bagi Investor, Direksi dan Pemegang Saham). Andi: Jakarta.

Diyanti, Fitri Tri. 2010. Effect Of Debt Default, Turnover auditors and Size Its
Going to Acceptance of Audit Opinion Concern. Skripsi Tidak
Dipublikasikan, Faculty Of Economins, Gunadarma University.

Elqorni, Ahmad. 2009. http://kelembagaandas.wordpress.com/teori-agensi-


principal-agent-theory/ahmad-elqorni/ Diakses Tanggal: 26 Desember
2011.

Fanny, Margareta dan Sylvia Saputra. 2005. Opini Audit Going Concern: Kajian
Berdasarkan Model Prediksi Kebangkrutan, Pertumbuhan Perusahaan, dan
Reputasi Kantor Akuntan Publik (Studi pada Emiten Bursa Efek Jakarta).
Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VIII Solo.

Fitriani, Lingga dan Dharma Tintri. 2007. Disclosure Index Laporan Tahunan
2004 Emiten di BEJ. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra,
Arsitek dan Sipil) Vol. 2 ISSN: 1858-2559.

Gaganis, Chrysovalantis dan Fatios Pasiouras. 2007. A Multivariate Analysis of


The Determinants of Auditor’s Opinion on Asian Banks. Managerial
Auditing Journal Vol. 22, No.3, pp 268-287.

Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.


UNDIP: Semarang.

Haron, Hasnah, Bambang Hartadi, Mahfooz Ansari dan Ishak Ismail. 2009.
Factors Influencing Auditor’s Going Concern Opinion. Asian Academy of
Management Journal, Vol. 14, No. 1, pp 1-19.

Helfert, A.Erich. 1997. Teknik Analisis Keuangan: Petunjuk Praktis Untuk


Mengelola Dan Mengukur Kinerja Perusahaan. Penerbit Erlangga:
Jakarta.
Hendriksen, Eldon S dan Michael F Van Breda. 2002. Acccounting Theory Fifth
Edition. Irwin: Boston.

Hossain, Mohammed. 2008. The Extent of Disclosure in Annual Reports of


Banking Companies: The Case of India. European Journal of Scientific
Research ISSN 1450-216X Vol.23 No.4 (2008), pp 659-680.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2001. Standard Profesional Akuntan Publik. Jakarta:


Salemba Empat

Januarti, Indira dan Ella Fitrianasari. 2008. Analisis Rasio Keuangan Dan Rasio
Non Keuangan Yang Mempengaruhi Auditor Dalam Memberikan Opini
Audit Going Concern Pada Auditee. Jurnal Maksi Vol.8 No.1 Januari
2008, hal 43-58.

Jensen, M. and Meckling, W. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior


Agency Cost, and Ownership Structure. Journal of Finance Economics 3,
pp 305-360.

Junaidi dan Jogiyanto Hartono. 2010. Faktor Non Keuangan Pada Opini Going
Concern. Simposium Nasional Akuntansi XII.

Knechel, W. Robert dan Ann Vanstraelen. 2007. The Relationship Between


Auditor Tenure and Audit Quality Implied By Going Concern Opinions.
Auditing A Journal Of Practice And Theory Vol. 26, No.1, pp 113-131.

Lim, Chee Yeow dan Hun Tong Tan. 2009. Does Auditor Tenure Improve audit
Quality? Moderating Effects Of Industry Specialization And Fee
Dependence. SSRN: http://ssrn.com/abstract=1638530

Mulyadi. 2002. Auditing Edisi 6. Salemba Empat: Yogyakarta.

Natawidyanata . 2008. http://natawidnyana.wordpress.com/ . Diakses tanggal: 28


Juli 2011

O’Reilly, Dennis M. 2010. Do Investors Percieve The Going Concern Opinion As


Useful For Pricing Stocks?. Department Of Accounting, College Business,
East Carolina University, Greenville, North Carolina, USA. Managerial
Auditing Journal Vol. 25 No. 1, pp 4-16.

Riyanto, Bambang. 1995. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi 4. PT


BPFE : Yogyakarta.

Rudyawan, Arry Pratama dan I Dewa Nyoman Badera. 2008. Opini Audit Going
Concern : Kajian Berdasarkan Model Prediksi Kebangkrutan,
Pertumbuhan Perusahaan, Leverage, Dan Reputasi Auditor. Jurnal
Akuntansi dan Bisnis VOL. 4, 2 JULI 2009.
Santosa, Arga Fajar dan Linda Kusumaning Wedari. 2007. Analisis Faktor-Faktor
yang mempengaruhi kencenderungan penerimaan Opini Audit Going
Concern. JAAI Volume 11 No.2, Desember 2007: 141-158.

Sudarmadji, Ardi M. dan Lana Sularto. 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan,


Profitabilitas, Leverage,Dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas
Voluntary Disclosure Laporan Keuangan Tahunan. Proceeding PESAT
(Psikologi,Ekonomi,Sastra, Arsitek dan Sipil) Vol. 2 ISSN: 1858-2559.

Syafei, R., W.N. Husin, M. Yusof dan M.H Hussain. 2009. Audit Firm Tenure
and Auditor Reporting Quality: Evidence in Malaysia. International
Business Research, Vol. 2 No. 2 April 2009, pp 99-109.

Tanor, Linda. 2009. Pentingnya Pengungkapan (Disclosure) Laporan Keuangan


Dalam Meminimalisir Asimetri Informasi. Vol. 2 No. 4 Juni 2009, hal
287-294.

Ujiyhanto, Muh. Arief. 2010. http://kelembagaandas.wordpress.com/teori-agensi-


principal-agent-theory/muh-arief-ujiyantho/ Diakses Tanggal: 26
Desember 2011.

Vanstraelen, Ann. 2002. Going Concern Opinions, Auditorr Switching, And The
Self- Fulfililling Prophecy Effect Examined InThe Regulatory Context
of Belgium. Journal of Accounting Auditing & Finance (Vol. 18, No. 2,
2003), pp 231–254.

Yunita, Santy. 2010. Influence Of Company’s Financial Perfomance And


CharacteristicsTo Disclosure Index On Mining Sector Which Are Listed In
Indonesian Stock Exchange. Skripsi Tidak Dipublikasikan, Faculty Of
Economins, Gunadarma University.

Zulkarnaini. 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan dan Jenis Industri Terhadap


Praktik Perataan Laba Pada Perusahaan Go Public Di Indonesia. Jurnal
Ichsan Gorontalo Volume 2 No.1, hal 506-523.