Anda di halaman 1dari 17

MENERA HARGA SKALA MIKROMETER DAN

PENGAMATAN MORFOLOGI KOLONI BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi


Yang Dibimbing Oleh Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M. Pd

Oleh:
Kelompok 4
Pendidikan Biologi/ Offering A
Anggun Risma Atika 140341600442
Dewi Nur Arasy 140341602754
Faiqotul Mala 140341606168
Fandy Tri Fajar Cahyo 140341601660
Fina Mustika Dewi 140341601824

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016
A. Topik
1. Menera harga skala mikrometer
2. Pengamatan morfologi koloni bakteri
B. Tujuan
1. Untuk menera harga skala mikrometer yang digunakan dalam pengukuran
berbagai macam mikroba
2. Untuk mempelajari morfologi koloni bakteri
C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
1. Menera Harga Skala Mikrometer
Hari, tanggal : Selasa, 19 Januari 2016
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi O5.305 Jurusan Biologi
FMIPA Universitas Negeri Malang
2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
Hari, tanggal : Selasa, 02 Februari 2016
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi O5.305 Jurusan Biologi
FMIPA Universitas Negeri Malang
D. Dasar Teori
Bakteri adalah organism bersel tunggal yang hidup bebas dan mampu
bereproduksi sendiri tetapi menggunakan organisme lain untuk mendapatkan
makanannya. Bakteri tidak memiliki inti sel. Bakteri terdiri dari sitoplasma yang
dikelilingi oleh sebuah dinding sel yang kaku dan terbuat dari sebuah zat khusus yang
disebut peptidoglikan. Bakteri bereproduksi secara aseksual melalui replikasi DNA
dan pembelahan sederhana (Elisabeth et al, 2009). Dalam kehidupan di ekosistem
bakteri memiliki peranan yang menguntungkan dan dibudidayakan oleh manusia
contohnya Lactobacillus strain yang dimanfaatkan untuk pembuatan youghurt,
namun ada pula bakteri yang merugikan bagi manusia contohnya Salmonella
thyphosa yang dapat menyebabkan penyakit tifus (Zaky, 2008).
Identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri yang diperoleh dari
hasil isolasi dapat dilakukan dengan cara pengamatan sifat morfologi koloni,
morfologi sel bakteri. Selain itu, identifikasi juga dapat dilakukan dengan pengujian
sifat pantogenis dan serologinya. Pertumbuhan bakteri di alam dipengaruhi beberapa
factor luar seperti substrat pertumbuhan, PH, temperatur, dan bahan kimia. Bakteri
yang nampak dapat memiliki morfologi yang sama, namun keperluan nutrisi dan
persyaratan ekologinya berbeda (Dwidjoseputro, 1990).
Ada beberapa metode untuk memperoleh biakan murni dari isolate campuran.
Dua di antaranya yang sering digunakan adalah teknik cawan gores dan teknik cawan
tuang. Prinsip dari kedua teknik tersebut sama, yaitu mengencerkan biakan campuran
hingga setiap individu spesies dapat dipisahkan, sehingga setiap koloni yang
terbentuk merupakan hasil dari pembelahan satu sel.
A. Metode Cawan Gores Kuadran (Strike Plate)
Metode ini praktis, hemat biaya dan waktu, hanya membutuhkan keterampilan.
Kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan dalam metode ini antara lain:
1. Tidak memanfaatkan permukaan medium untuk digores sehingga
pengenceran kurang optimal
2. Penggunaa ninokulum yang terlalu banyak sehingga menyulitkan
pemisahan sel waktu digores.
B. Metode Cawan Tuang (Pour Plate)
Metode cawan tuang merupakan teknik lain yang dapat digunakan untuk
mendapatkan koloni murni mikroorganisme. Kelemahan metode ini adalah
membutuhkan waktu dan bahan yang lama dan banyak, akan tetapi tidak memerlukan
keterampilan tinggi. Biakan campuran diencerkan dengan menggunakan medium agar
yang telah dicairkan dan didinginkan. Pengenceran dilakukan dalam beberapa tahap
hingga diperoleh koloni tunggal (Mikrobiologi UNPAD, 2013).
Teknik Aseptis pertama kali ditemukan oleh Joseph Lister (1827-1912). Pada
tahun 1860-an telah ditemukan adanya fenol yang mampu membunuh bakteri. Lister
menggunakan untuk merendam perlengkapan bedahnya dan menyemprot ruang
bedah. Pada pasiennya luka dan torehan mengalami percepatan penyembuhan. Prinsip
ini sekarang sering disebut dengan prinsip aseptis. Prinsip kerjanya adalah mencegah
masuknya mikroba ke dalam luka atau insisi (Pelczar et al, 1986).
Teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang
memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga
agar terbebas dari kontaminan. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan
komplek. Beratus-ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-
macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sekali
bersin terdapa tberibu-ribu mikroorganisme sehingga diperlukan teknik yang dapat
meminimalisirnya seperti pengisolasian (Pelczar & Chan, 1999).
Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang
teradapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara panas); penyaringan; penggunaan
bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat, formal dehida dan glutaraldehida
alkalin). (Hadioetomo, 1999).
Salah satu cara untuk menjaga sterilitas alat adalah dengan membakar dengan
Bunsen. Inti dari pembakaran ini adalah seluruh bakteri maupun sel yang ada pada
alat dapat dimusnahkan. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kontaminasi pada
sample saat menggunakan alat tersebut. Hal ini memang dapat mengurangi
kontaminasi tapi kurang efektif untuk kontaminasi dari udara ataupun gas (Stelley et
al.1986 ).
Ketika alat-alat akan mengalami kontak dengan suatu media kultur yang steril
maka peralatan tersebut harus disterilkan. Mencegah suatu kontaminasi dalam suatu
manipulasi kultur adalah suatu teknik yang dikenal dengan teknik aseptis. Ketika
suatu media kultur terbuka, hal ini harus dikendalikan karena kontaminasi dengan
udara luar tidak diizinkan masuk ke media kultur agar tidak terjadi mengontaminasi
media kultur sehingga kesterilan dari media kultur tetap terjaga. Pemindahannya pun
juga harus diperhatikan. Jarum oase yang juga digunakan untuk memindahkan biakan
harus dibakar terlebih dahulu hingga warna dari jarum menjadi merah atau lebih
disebut membara lalu diangin-anginkan. Sebelum digunakan untuk mengambil
biakan dari ujung jarum. Hal tersebut juga dilakukan setelah jarum telat digunakan
(Mardigan et al, 1984).
E. Alat dan Bahan
1. Menera Harga Skala Mikrometer
Alat:
a. Satu set mikroskopelektrik
b. Satu set lensa M Objektif
c. Satu set lensa M Okuler
2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
Alat:
a. Inkubator
b. Lup
Bahan:
2 medium lempeng NA
F. Prosedur
1. Menera Harga Skala Mikrometer

Menyiapkan alat dan bahan

Memasukan M Okulerke dalam lensa okuler mikroskop dengan cara melepas lensa
okuler mikroskop yaitu diputar, kemudian meletakan M Okuler kemudian
mengembalikan seperti semula

Memasukan M Objektif ke dalam lensa objektif mikroskop perbesaran 4x10,


10x10, dan 100x10 dengan cara melepas lensa objektif mikroskop yaitu diputar,
kemudian meletakan M Objektif, setelah selesai mengembalikan seperti semula

Melakukan pengamatan dengan mikroskop

Melakukan analisis untuk peneraan, dengan cara memasukan angka yang diperoleh
pada prosedur sebelumnyadalam rumus berikut:
x skala M okuler = y skala M objektif
= y x o.o1 mm
Sehingga 1 skala m okuler= (hasil)/ x
Begitu juga dilakukan berulang untuk perbesaran 10x10 dan 100x10

HASIL
2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri

Menyiapkan alat dan bahan

Membawa dua cawan petri berisi medium lempeng ke tempat yang banyak dilalui
orang, lalu membuka tutup cawan petri selama 5 menit, kemudian menutup
kembali. (melakukan pada dua cawan petri dengan jarak minimal 2 m)

Menginkubasikan kedua biakan pada medium lempeng pada suhu 37oC

Membiakan sampai berumur 4 x 24 jam, dan kemudian mengamati koloni bakteri


yang tumbuh pada medium lempeng

Menghitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh. Koloni bakteri ditandai dengan
bentuk seperti lendir, tetesan mentega, tetesan sari buah

Memilih dua koloni bakteri yang tumbuh, dan tentunya yang memiliki banyak
koloni, sehingga dapat antisipasi koloni lain bila terjadi hal yang tidak terduga

Melakukan pengamatan morfologi koloni dari dua macam koloni bakteri, meliputi:
1) Warna koloni 5) Kepekatan koloni
2) Bentuk koloni 6) Mengkilat atau suram
3) Tepi koloni 7) Diameter koloni
4) Elevasi

HASIL
G. Data dan Analisis Data
Data:
1. Menera Harga Skala Mikrometer
Nilai 1 Skala M Ok
Perbesaran Skala M Ok Skala M Ob
(µm)
100x 24 25 10,416
400x 19 5 2,63
1000x 10 1 1

2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri


Ciri Koloni I Koloni II
Morfologi Koloni:
a. Warna Koloni Putih Putih kekuningan
b. Bentuk Koloni Tidak beraturan dan Bundar
menyebar
c. Tepi Koloni Berlekuk Licin
d. Elevasi Koloni Datar Seperti Tombol
e. Mengkilat atau Suram Mengkilat Mengkilat
f. Diameter Koloni 5,5 mm 3,5 mm
g. Kepekatan Koloni Pekat Tidak pekat
h. Jumlah Koloni 4 koloni 7 koloni
i. Ciri Lainnya Mensekresikan lendir Mensekresikan lendir
warna putih warna putih
kekuningan
Asal Bakteri Perpustakaan UM Perpustakaan UM
lantai II lantai II
Tipe Pertumbuhan pada Medium
Tipe duri Tipe bintik
Miring
Ukuran Sel Bakteri 3 µm 2 µm
Analisis Data:
1. Menera Harga Skala Mikrometer
Diketahui:
Lensa M Ok nomor 1 Mikroskop cahaya nomor 5
Lensa M Ob nomor 3 1 skala obyektif= 0.01 mm
Ditanyakan:
a. 1 skala M Ok perbesaran 100x=.......?
b. 1 skala M Ok perbesaran 400x=.......?
c. 1 skala M Ok perbesaran 1000x=.....?
Jawab:
a. Perbesaran 100x
Skala MOk = Skala M Ob
24 skala M Ok = 25 skala M Ob
= 25x0.01 mm =0.25 mm
1 skala M Ok = 0.25/ 24 = 0.0104166 mm= 10.416 µm
b. Perbesaran 400x
Skala MOk = Skala M Ob
19 skala M Ok = 5 skala M Ob
= 5x0.01 mm =0.05 mm
1 skala M Ok = 0.05/ 19 = 0.00263 mm= 2.63 µm
c. Perbesaran 1000x
Skala MOk = Skala M Ob
10 skala M Ok = 1 skala M Ob
= 1x0.01 mm =0.01 mm
1 skala M Ok = 0.01/ 10 = 0.001 mm= 1 µm
Semakin besar perbesaran lensa okuler maka semakin kecil nilai 1 skala M
okuler.
2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
Ada perbedaan antara koloni I dan II baik ditinjau dari morfologi dan tipe
pertumbuhannya dalam medium miring, ukuran, dan sifat gram bakteri
walaupun berasal dari tempat yang sama.
Koloni Bakteri I memiliki warna putih, bentuk tidak beraturan dan
menyebar, tipe koloni yang berlekuk, elevasi koloni datar, terlihat mengkilat,
dengan diameter 5,5 mm, dan pekat. Koloni I berjumlah 4 koloni dalam satu
cawan petri. Warna putih yang terlihat pada koloni I akibat kemampuan bakteri
yang mensekresikan lendir berwarna putih. Koloni ini berasal dari Perpustakaan
UM Pusat lantai II. Pada medium miring, koloni bakteri I tumbuh dengan tipe
duri.
Koloni Bakteri II memiliki warna putih kekuningan, bentuk bundar, tipe
koloni yang licin, elevasi koloni seperti tombol, terlihat mengkilat, dengan
diameter 3,5 mm, dan tidak pekat. Koloni II berjumlah 7 koloni dalam satu
cawan petri. Warna putih kekuningan yang terlihat pada koloni I akibat
kemampuan bakteri yang mensekresikan lendir berwarna putih kekuningan.
Koloni ini berasal dari Perpustakaan UM Pusat lantai II. Pada medium miring,
koloni bakteri I tumbuh dengan tipe bintik.
Ukuran sel bakteri I: Ukuran sel bakteri II:
P = 3 skala P = 2 skala
= 3x 1 µm = 2x1 µm
= 3 µm = 2 µm
H. Pembahasan
1. Menera Harga Skala Mikrometer
a. Peneraan Mikrometer Okuler
Peneraan dilakukan pada mikroskop cahaya nomor 5 dan mikrometer okuler
nomor 1. Ukuran sel bakteri bervariasi namun tidak melebihi 5 μm. Ukuran sel
bakteri lebih kecil daripada sel khamir dan sel kapang. Oleh karena itu untuk
memperoleh bayangan benda yang jelas pada sel bakteri, pengukuran sel bakteri
dilakukan dengan pembesaran yang kuat yaitu, 400x atau 1000x (Hastuti, 2012).
Namun pada saat praktikum kami telah terlanjur menera dengan perbesaran 100x.
Pengukuran sel bakteri dilakukan dengan menggunakan mikrometer okuler.
Dalam mengukur sel bakteri, skala mikrometer okuler terlebih dahulu ditera, karena
ukuran mikrometer okuler pada pembesaran yang berada, tidak sama. Peneraan skala
mikrometer okuler dilakukan dengan cara memasang mikrometer okuler dalam lensa
okuler mikroskop dan memasang mikrometer obyektif pada meja sediaan. Harga
skala mikrometer obyektif sudah terukur, yaitu skala = 10μm. Tahap-tahap diatas
adalah cara pengkalibrasian antara mikrometer okuler dan mikrometer obyektif agar
dapat menentukan ukuran sel bakteri yang sebenarnya.
Berdasarkan hasil pengamatan, perbedaan pembesaran memberikan harga
skala yang berbeda pula. Pada perbesaran 10 x 10 diperoleh 1 skala mikrometer
okuler sama dengan 10.416 µm, perbesaran 10 x 40 diperoleh 1 skala mikrometer
okuler sama dengan 2.63 µm. Sedangkan pada perbesaran 10 x 100 diperoleh bahwa
1 skala mikrometer okuler sama dengan 1 µm. Dari data tersebut menunjukkan
semakin besar atau kuat perbesaran maka skala mikrometer yang tertera semakin
kecil, hal ini berarti semakin teliti dan jelas pengukurannya pada perbesaran yang
kuat. Pengukuran yang tepat sel mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara
menyisipkan suatu mikrometer okular pada lensa okular mikroskop yang digunakan
untuk mengamati sel tersebut (Hastuti, 2012). Mikrometer okular pada umumnya
merupakan suatu piringan kaca bundar yang pada salah satu permukaannya terukir
skala pengukuran. Sebelum digunakan untuk mengukur sel, mikrometer okular ini
terlebih dahulu harus ditera terhadap mikrometer pentas yang sudah memiliki skala
yang pasti (Dwidjoseputro, 1989).
b. Pengukuran Sel Bakteri
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bakteri tangkapan yang diperoleh dari
satu lokasi memiliki struktur yang sama walaupun berbeda koloni. Pada koloni
bakteri I dengan lokasi IV yaitu pada perpustakaan umum lantai 2 diperoleh koloni
bakteri yang berbentuk coccus. Hal serupa juga terdapat koloni bakteri II yang
berbentuk coccus.
Pengukuran sel bakteri dari kedua jenis koloni memperlihatkan ukuran yang
sama. Koloni I dan koloni II berupa coccus (bulat) memperlihatkan ukuran dari 1
dimensi saja yaitu diameter. Hal ini dikarenakan bentuk dasarnya berupa bulat. Hasil
pengukuran rata-rata diameter bakteri pada koloni 1 yang sebenarnya adalah 3 μm
sedangkan hasil pengukuran rata-rata diameter bakteri pada koloni 2 yang sebenarnya
adalah 2 μm.
Hasil pengukuran tersebut sesuai dengan pernyataan Ali (2005) yang
menyebutkan bahwa ukuran diameter bakteria yang berbentuk kokus berkisar antara
0,4-2 μm dan juga sesuai dengan pernyataan Hadioetomo, et al., (2005) bahwa
umumnya prokariot merupakan makhluk hidup uniseluler yang memiliki diameter 0.5
–5 μm.
2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
Bakteri dapat diperoleh hampir disetiap tempat, misalnya: di udara, di antara
helaian rambut, disela-sela gigi, di dalam tanah dan sebagainya. Untuk mempelajari
morfologi koloni bakteri, kita perlu menangkap dan munumbuhkan pada medium
lempeng terlebih dahulu. Pada umumnya koloni bakteri yang tertangkap pada
medium lempeng ini akan tumbuh setelah lebih kurang 1x24 jam. Bakteri yang akan
kita pelajar lebih lanjut sebaikanya juga buat biakan murni (Hastuti, 2012).
Bakteri yang ditumbuhkan dalam medium agar akan membentuk suatu
penampakan berupa koloni. Koloni bakteri ini merupakan sekelompok masa sel yang
dapat dilihat dengan mata langsung. Satu koloni bakteri yang berada di dalam cawan
petri/dalam medium agar adalah sama dan dianggap semua sel yang berada dalam
satu koloni tersebut adalah keturunan (progeny) satu mikroorganisme dan karena itu
mewakili sebagai biakan murni (Kusnadi, 2003). Menurut Kusnadi (2003)
penampakan koloni bakteri dalam media lempeng agar menunjukkan bentuk dan
ukuran koloni yang khas, dapat dilihat dari bentuk keseluruhan penampakan koloni,
tepi dan permukaan koloni.
Dalam melakukan pengamatan morfologi koloni harus dengan baik mengamati
sifat-sifat suatu koloni. Yang disebut dengan sifat-sifat suatu koloni ialah sifat-sifat
yang ada sangkutpautnya dengan bentuk, susunan, permukaan, pengkilatan, dan
sebagainya. Pengamatan sifat-sifat ini dapat dilakukan dengan pandangan biasa tanpa
menggunakan mikroskop. Supaya sifat-sifaat tersebut tampak jelas, bakteri perlu
ditumbuhkan pada medium padat (Dwidjoseputro, 2005).
Pada praktikum kali ini digunakan 2 macam koloni bakteri. Koloni bakteri
semuanya diambil di dalam perpustakaan UM lantai2 yang membedakan adalah
koloni bakteri 1 diambil di bagian lantai perpustakaan sedangkan koloni bakteri 2
diambil di kantin sejajar dengan hidung. Baik koloni bakteri 1 maupun koloni bakteri
2 memiliki karakteristik tersendiri. Dalam pengambilan koloni yang akan diamati
dibawah mikroskop harus menggunakan kawat jarum yang telah dipanaskan hal ini
bertujuan untuk mensterilisasikan jarum yang akan digunakan untuk mengambil
bakteri yang ada di dalam cawan petri. Begitu juga dengan pemasangan pada bagian
samping cawan petri akan mensterilisasikan cawan petri itu sendiri agar koloni
bakteri yang ada di cawan petri tidak terkontaminasi dengan koloni bakteri yang ada
di lingkungan luar (Hastuti, 2012).
Koloni bakteri 1 yang diambil di lantai perpustakaan memiliki karakteristik
warna putih yang menunjukkan bahwa koloni bakteri ini sering terkena sinar matahari
serta kandungan protein pada dindingnya lebih banyak. Memiliki bentuk koloni tidak
beraturan dan menyebar. Jika dilihat lebih seksama lagi dengan jeli ditempat yang
lebih terang memiliki tepian pada koloni 1 ini memiliki tepian yang berlekuk dan
elevasi koloni datar. Warna koloni mengkilat hal tersebut dikarenakan kandungan
basa yang terdapat pada koloni bakteri. Diameter koloni yang terdapat pada koloni 1
sebesar 5,5 mm. Memiliki kepekatan koloni yang pekat, hal tersebut sesuai dengan
lingkungan tempat bakteri tersebut ada. Memiliki ciri lain yaitu mensekresikan lendir
warna putih. Jumlah koloni 1 yaitu terdapat 4 koloni. Tipe pertumbuhan pada
medium miring tumbuh bentuk berduri (Hastuti, 2012).
Koloni bakteri 2 yang ditangkap di perpustakaan lantai 2 dengan letak cawan
petri sejajar dengan hidung memiliki karakteristik warna putih agak kekuningan yang
menunjukkan bahwa koloni bakteri ini tidak terlalu menyukai cahaya matahari.
Memiliki bentuk koloni bundar tepian menyebar. Memiliki tepian yang licin. Elevasi
koloni seperti tombol. Warna koloni mengkilat. Diameter koloni yang terdapat pada
koloni 2 sebesar 3,4 mm. Memiliki koloni yang tidak pekat. Tipe pertumbuhan pada
medium miring tumbuh bentuk titik-titik (Hastuti, 2012).
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan koloni 1 dan koloni bakteri 2
memiliki morfologi yang tidak jauh berbeda hal ini karena persebaran bakteri dalam
satu wilayah masih cenderung sama. Meskipun jumlahnya berbeda namun bentuk
bakteri maupun morfologinya cenderung sama. Selain itu ukuran bakteri yang hampir
sama yaitu 3 µm dan 2 µm yang juga memiliki sifat gram yang sama yaitu negatif
jika ditinjau dari warna bakteri yang merah. Hal tersebut menurut Pelczar dan Chan
(1986) tergantung dari lingkungan yang ada di suatu wilayah tertentu.
Dengan bukti ditemukannya koloni bakteri dalam jumlah yang besar, maka
perpustakaan UM lantai 2 telah memiliki kriteria sebagai tempat yang baik bagi
koloni bakteri mampu tumbuh dan berkembang di daerah tersebut.
I. Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Menera Harga Skala Mikrometer
a. Untuk melakukan pengukuran sel suatu mikroba seperti bakteri yang
mempunyai ukuran yang lebih kecil dariopada sel khamir dan sel kapang,,
terdapat banyak cara salah satunya adalah dengan menggunakan
mikrometer okuler yang dipasang di lensa okuler mikroskop.Yaitu dengan
cara ditera terlebih dahulu lalu untuk mentukan skalanya lalu preparat yang
akan diukur diletakkan didaerah lingkaran pandang yang sejajar dengan
garis mikrometer okuler.
b. Pada pengukuran sel bakteri pada koloni 1 mempunyai diameter yang
sesungguhnya setelah diukur denganmikrometer okuler yaitu 3 μm
sedangkan Sel bakteri pada koloni 2 mempunyai diameter 2 μm. Sel bakteri
dari kedua koloni yang berbeda tersebut berbentuk coccus.
2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
a. Koloni 1 berwarna putih, bentuk koloni tidak beraturan dan menyebar, tepi
koloni berlekuk, elevasi koloni dilihat dari sisi samping seperti datar.
Rerata diameter koloninya adalah 5,5 mm. Koloni bakteri 1 bersifat pekat.
Tipe pertumbuhan yaitu bentuk berduri.
b. Koloni bakteri yang kedua berwarna koloni putih kekuningan, berbentuk
koloni bundar, memiliki tepi koloni licin, elevasi koloni seperti tombol,
diameter koloni rata-rata 3,5 mm, dan bersifat tidak pekat. Tipe
pertumbuhan yaitu bentuk bintik-bintik.
J. Diskusi
1. Menera Harga Skala Mikrometer
1. Mengapa perlu dilakukan peneraan harga skala mikrometer okuler, baik pada
perbesaran 40x maupun 100x?
Jawab: Peneraan harga skala mikrometer okuler perlu dilakukan agar dapat diketahui
harga skala mikrometer pada mikroskop yang digunakan. Hal ini disebabkan setiap
mikroskop memiliki harga skala yang berbeda. Begitu pula dengan perbesaran yang
digunakan. Jika perbesarannya berbeda maka harga skalanya juga akan berbeda. Jadi
perlu diketahui masing-masing harga skalanya, sebab kedua jenis perbesaran ini yang
digunakan dalam pengukuran.
2. Mengapa sel bakteri yang berbentuk basil harus diukur panjang dan diameter
selnya, sedang sel bakteri yang berbentuk kokus hanya diukur diameter sel saja?
Jawab: Sel bakteri yang berupa coccus (bulat) memperlihatkan ukuran dari 1 dimensi
saja yaitu diameter. Hal ini dikarenakan bentuk dasarnya berupa bulat. Sedangkan sel
bakteri berupa basil (batang) memperlihatkan ukuran dari 2 dimensi yaitu diameter
dan panjangnya karena sel berbentuk seperti batang.
2. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi jumlah dan jumlah macam bakteri
pada suatu tempat?
Jawab: Faktor yang mempengaruhi keberadaan suatu jenis bakteri pada wilayah
tertentu menurut Pelczar dan Chan (1986) antara lain :
 Suhu
Pertumbuhan bakteri akan meningkat secara bertahap dari temperatur minimum
sampai optimum, dan akan menurun secara bertahap dari temperatur optimum ke
temperatur maksimum. Hal ini terjadi karena enzim yang membantu metabolisme
tubuh bakteri sangat rentan terhadap perubahan suhu.
 Kelembaban
Semua metabolisme aktif sel pada umumnya membutuhkan lingkungan air. Tidak
seperti organisme tingkat tinggi yang memiliki lapisan pelindung dan lingkungan
fluida internal, organisme bersel tunggal langsung terekspos oleh lingkungannya.
Kebanyakan sel vegetatif hanya dapat hidup beberapa jam tanpa kelembaban. Hanya
organisme pembentuk spora yang punya mekanisme pelindung dalam lingkungan
yang kurang kelembabannya.
 pH
Nilai pH merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim, dimana aktivitas
enzim ini akan maksimum pada kondisi pH optimum. Nilai pH sel mikroorganisme
dipengaruhi oleh pH lingkungan dimana mikroorganisme tersebut hidup. Bebertapa
mikroorganisme memiliki mekanisme untuk mempertahankan pH intraselularnya pd
pH yang relatif konstan dalam kondisi pH lingkungan yangberfluktuasi dan tambah
pada kondisi asam maupun basa. Pada umumnya bakteri hidup pada pH 6,5-7,5.
 Cahaya matahari
Ada beberapa bakteri yang sensitif terhadap keberadaan cahaya matahari namun ada
juga beberapa jenis koloni bakteri yang cenderung memerlukan cahaya matahari.
 Alkanitas
Nilai alkalinitas menyatakan jumlah total asam yang dapat dinetralkan oleh basa yang
ditambahkan ke dalam sistem. Karena pH dapat mempengaruhi keberhasilan proses
anaerobik, maka perlu ada cukup alkalinitas untuk mengontrol pH pada suatu
lingkungan proses anaerobik.
 Tekanan osmosis
Diketahui bahwa membran untuk semua organisme bersifat semipermeable.
Membran sel memperbolehkan air untuk berpindah melalui mekanisme osmosis
antara sitoplasma dan lingkungan luar. Jika konsentrasi zat-zat diluar lebih tinggi dari
pada di dalam sel (hiperosmosis), maka air dalam sel akan keluar dan menyebabkan
plasmolisis yang dapat menyebabkan sel mati karena kehilangan kandungan airnya.
 Keberadaan oksigen
Menurut keberadaan oksigen, bakteri dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu
aerob, yaitu bakteri yang membutuhkan oksigen dalam metabolismenya dan anaerob,
yaitu bakteri yang tidak perlu oksigen dalam metabolismenya dimana donor elektron
diperoleh dengan memanfaatkan sumber lain selain oksigen. Ada juga bakteri yang
dapat menyesuaikan diri dengan kedua situasi. Bakteri jenis ini dinamakan sebagai
bakteri obligat, ada yang aerob obligat ada juga yang anaerob obligat.
 Faktor nutrisi
Nutrien (elemen anorganik) yang terutama (major nutrien) yang dibutuhkan
mikroorganisme adalah N, S, P, K, Mg, Ca, Fe, Na dan CI. Sedangkan nutrien lain
yang juga dibutuhkan dalam jumlah relatif tidak terlalu besar (minor nutrien)
termasuk Zn, Mn, Mo, Se, Co, Cu, dan Ni.
 Tekanan hidrostatik
Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang ada pada air yang bergantung pada
kedalamannya. Semakin dalam air, semakin besar tekanan hidrostatisnya. Tekanan ini
mempengaruhi ketahanan tubuh bakteri tepatnya pada kinerja enzim dan ketahanan
membran tubuhnya. Tekanan tinggi dapat membuat enzim terdenaturasi.
2. Apakah kegunaan biakan murni bakteri?
Jawab: Biakan murni bakteri digunakan untuk mempermudah pengamatan dan
supaya kita mendapatkan satu spesies saja dalam satu piaraan. Biakan murni biasanya
ditumbuhkan pada medium agar, hal ini diharapkan mikroba tersebut dapat tumbuh
agak berjauhan dari sesamanya dan setiap selnya berhimpun membentuk koloni
K. Daftar Rujukan
Ali, Alimuddin. 2005.Mikrobiologi Dasar Jilid I. Makassar: State University of
Makassar Press.
Dwidjoseputro, D. 1989. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan
Dwidjoseputro, D. 1990. Dasar-dasarMikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan
Hadioetomo, R.S. 1999. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : Gramedia
Hadioetomo, Ratna Siri. 2005.Mikrobiologi Dasar dalam Praktek: Teknik dan
Prosedur Dasar Laboratorium. Jakarta: Gramedia
Hastuti, Utami Sri. 2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMM Press.
Kusnadi. 2003. Common Text Book Mikrobiologi. Bandung: JICA-IMSTEP, DGHE,
dan FPMIPA UPI
Madigan, Michael T. 1984. Brock Biology Eight Edition. United State of America:
Pretice Hall Internasional, Inc.
Pelczar, M. J., Chan, E. C. S. 1999. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press
Pelczar, Michael J. Chan, E. C. S. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid II. Jakarta:
UI Press.
Pelczar, Michael J. 1989.Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta: UI Press
Praktikum mikrobiologi UNPAD. 2013 Modul 3 Teknik Isolasi Bakteri. Online,
(http://elearningunpad.ac.id/2013/teknik-isolasi-bakteri.html) diakses pada
tanggal 30 januari 2014
Stefe, Parker . 2009. Jendela Iptek Seri 16 Ilmu Kedokteran . Jakarta : PT Jakarta
Balai Pustaka. Dari google book, Online, (http://www.google.com/book),
diakses 29 Januari 2014
Zaky, Amarullah,. 2008. Kumpulan Ilmu Pengetahuan.Online, ( http://senyawa-
kimia.com/2009/12/kegunaan-dan kerugian-bakteri.html) diakses pada tanggal
30 januari 2014
L. Lampiran

Koloni
Bakteri
Cawan I

Koloni
Bakteri
Koloni Tipe Duri Koloni Tipe Bintik Cawan II