Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada masa orde baru atau sebelum tahun 1998 segala bentuk kebijakan dinegara Indonesia
sangat sentralistik dan semua daerah di negara ini menjadi perpanjangan tangan kekuasaan
pemerintah pusat atau daerah sangat bergantung pada Jakarta serta didikte oleh pemerintahan
pusat. Dan bisa dikatakan pada masa Orde Baru mewujudkan kekuasaan sentripetal, yakni berat
sebelah memihak pusat bukan pinggiran (daerah). Daerah yang mempunyai kekayaan sumber daya
alam tidak bisa dinikmati oleh masyarakat daerah tersebut, akan tetapi keuntungan produksinya
ditarik atau diambil alih oleh pemerintah pusat dan dibagi-bagikan kepada elite pemerintahan
pusat di Jakarta. Hal ini mengakibatkan pembangunan tidak merata, sangat terlihat jelas
ketimpangan pembangunan di daerah dengan pusut (Jakarta).
Keinginan pemerintah untuk melaksanakan otonomi daerah kalau kita kita telusuri kebelakang
sebenarnya pemerintah sudah memiliki komitmen meskipun bisa dikatakan masih rendah dan
berjalan tidak tentu arah. Hal ini bisa dilihat sejak dilahirkannya Undang-undang Nomor 5 Tahun
1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Daerah, yang mana dalam pasal 11-nya telah ditegaskan
bahwa titik berat otonomi diletakkan pada daerah tingkat II, dan yang menjadi hambatan dalam
pelaksanaannya adalah pemerintah saat itu tidak kunjung mengeluarkan PP untuk melaksanakan
amanah pasal tersebut. Sehingga dengan tidak adanya aturan main yang jelas, otonomi daerah
berjalan sesuai keinginan atau kehendak pemimpin negeri yang menjabat saat itu. Sehingga hal ini
mengakibatkan, asas dekonsentrasi dan asas tugas pembantu berjalan tidak serasi dengan asas
desentralisasi yang menjadi landasan atau pondasi awal dalam prinsip otonomi daerah.
Setelah berakhirnya masa orde baru masuklah negara Indonesia pada masa reformasi, pada masa
ini yang ditandai oleh bangkitnya demokrasipengelolaan pemerintahan ala Orde Baru yang mana
negara menjadi titik sentral yang menentukan perkembangan pembangunan di daerah hrus segara
diakhiri. Desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat atau pemerintah tingkat atasnya kepada
pemerintah daerah secara lebih bermakna merupakan salah satu agenda penting yang perlu
diwujudkan pada masa reformasi ini.
Sudah waktunya bila kini pemerintah daerah diberi kepercayaan untuk tampil secara kreatif
memberi arti dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal. Pemerintah pusat hanya memberi
bimbingan dan memfasilitasi apa-apa yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah. Jika pemerintah daerah diberi kepercayaan dan otoritas untuk menyelenggaraakan
sebagian besar urusan domestik, bertanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalannya, maka
pemerintah pusat bisa lebih santai, cukup hanya dengan mengawasi dan memberi dukungan saja.
Dan dengan begitu, pemerintah pusat lebih banyak tersedia waktu untuk berkonsentrasi kepada
urusan yang memerlukan kebijakan nasional dan urusal-urusan strategis untuk kompetisi global.
Pemikiran-pemikiran diatas telah menciptakan Undang-undang Pemerintahan Daerah yang
baru ( Undang-Undang No.22 Tahun 1999 yang ditetapkan tanggal 7 Mei 1999). Berbagai
pengaturan yang lebih progresif tentang otonomi daerah, di bandingkan Undang-Undang No.5
Tahun 1974 telah ditetapkan.
Dari berbagai penjelasan diatas membuat saya tertarik untuk membahas makalah ini dengan
judul ”Otonomi Daerah Berdasarkan Undang-Undang No.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan
Daerah”.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah singkat UU No.22 Tahun 1999

Sebelum masuk kepada masa reformasi ini, dahulu negara Indonesia semasa zaman orde baru
kekuasaan pemerintah pusat sangat sentralistik. Hal ini banyak mendapat protes dari berbagai
kalangan didaerah seperti daerah aceh dan papua yang menuntut merdeka dan ingin berpisah dari
negara kesatuan Republik Indonesia. Dan pada tahun 1998 masa orde baru dibawah kepemimpinan
soeharto berakhir, kemudian masuklah negara Indonesi ke masa reformasi di bawah pimpinan B.J.
Habibie.
Pada awal masa reformasi ini lahirlah UU Otonomi Daerah khususnya (UU No.22 Tahun 1999
Tentang Pemerintahan Daerah), dengan lahirnya UU ini keinginan provinsi seperti aceh dan papua
untuk berpisah dengan negara Republik Indonesia semakin kuat, bahkan ada berbagai daerah yang
ingin melakukan pemekaran provinsi atau kabupaten dalam upaya membangun daerah mereka
kearah yang lebih baik. Dalam hal tentang keinginan daerah bagaimana telah disebut diatas
terdapat pro dan kontra sehingga menaikkan suhu politik di Indonesia.
UU No. 22 Tahun 1999 lahir didorong oleh tuntutan daerah tadi yang mana menginginkan
kebebasan di era kebebasan politik ini, dan juga didorong oleh keinginan pemerintah pusat untuk
mengatasi masalaha disintegrasi yang melanda Indonesia.

B. Dasar Pemikiran
a. Negara Republik Indonesia sebagai negara Kesatuan menganut asas
desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, dengan memberikan kesempatan dan
keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Karena itu, Pasal 18
Undang-Undang Dasar 1945, antara lain, menyatakan bahwa pembagian Daerah Indonesia atas
daerah besar dan kecil, dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-
undang.
Dalam penjelasan pasal tersebut, antara lain, dikemukakan bahwa "oleh karena Negara
Indonesia itu suatu eenheidsstaat, maka Indonesia tidak akan mempunyai Daerah dalam
lingkungannya yang bersifat staat juga. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan
Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. Di daerah-daerah yang bersifat
otonom (streek en locale rechtgemeensschappen) atau bersifat adminitrasi belaka, semuanya
menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang". Di daerah-daerah yang bersifat
otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. Oleh karena itu, di daerah pun, pemerintahan
akan bersendi atas dasar permusyawaratan.
b. Dengan demikian, Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk
menyelenggarakan otonomi dengan memberikan; Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan
Sumber Daya Nasional yang berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam
Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
c. Undang-undang ini disebut "Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah" karena undang-
undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih
mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi.
d. Sesuai dengan Ketetapan MPR-RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas, penyelenggaraan
Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung
jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan
pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan Pusat dan
Daerah. Disamping itu, penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-
prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan, serta memperhatikan potensi
dan keanekaragaman Daerah.
e. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan
masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat,
mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Oleh karena itu, undang-
undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota,
yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah
Tingkat II dan Kotamadya Tingkat II. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan
sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan
melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat.
f. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, dalam undang-undang
ini dijadikan Daaerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah
Administrasi, yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada
Gubernur. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan
Daerah Kota. Dengan demikian, Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota
tidak mempunyai hubungan hierarki.
g. Pemberian kedudukan Propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah
Administrasi dilakukan dengan pertimbangan:
1. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia;