Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi Lambung

Gambar 1. Anatomi Lambung manusia (Moore et al, 2010)

Gaster ( lambung) adalah bagian yang mengembang pada saluran pencernaan


diantara oesophagus dan intestinum tenue. Gater merupakan khusus untuk
pengumpulan makanan yang teringesti, secara kimiawi dan mekanis mempersiapakan
makanan tersebut untuk digesti dan passae ke dalam duodenum. Gaster menyerupai
huruf J, gaster bekerja sebagai pencampuran dan reservoir makanan ; fungsi
utamanya adalah digesti enzimatik. Getah lambung secara perlahan-perlahan
mengubah suatu massa makanan menjadi campuran semicair, yang berjalan agak
cepat kedalam duodenum. Gaster kosong memiliki caliber yang sedikit lebih besar
daripada intestinum crassum; namun, mampu melakukan ekspansi hebat dan dapat
menampung 2-3 L makanan ( Dalley & More 2013). Bagian bagian dari lambung
yaitu :
1. Cardiac bagian yang mengelilingi ostium cardiac
2. Fundus merupakan bagian tengah dari lambung. Pada bagian ini makanan
akan tersimpan selama kurang lebih 1 jam. Di dalam fundus, gas-gas akan
terakumulasi ketika proses pencernaan kimia terjadi di dalam lambung.
3. Korpus merupakan wilayah pusat dari organ lambung. Di bagian korpuslah
proses pencernaan kimia akan terjadi.
4. Antrum pilorus, bagian ini merupakan bagian lambung yang berbentuk
tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pilorus. Antrum
pilorus merupakan muara bagian distal dan berlanjut ke duodenum
5. Pilorus merupakan bagian lambung yang berhubungan dengan usus dua belas
jari. Pada bagian ini makanan akan terkumpul dan mengalami proses
pencernaan sebelum masuk ke bagian usus dua belas jari. Pilorus akan
bekerja dengan dipengaruhi pH dari makanan. Jika makanan yang masuk ke
pilorus bersifat asam maka otot-otot pada pilorus akan mengendur sehingga
pintu-pintu pilorus akan terbuka. Lain halnya jika makanan yang masuk ke
pilorus bersifat basa. Otot-otot pada pilorus akan berkontraksi akibatnya
pintu-pintu pilorus akan tertutup sehingga makanan tidak dapat dikeluarkan
6. Osteum kardiakum : Osteum ini merupakan tempat esofagus bagian abdomen
masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorus yang tidak
mempunyai sfingter khusus, tetapi hanya berbentuk cincin yang membuka
dan menutup osteum dengan cara kontraksi dan relaksasi. Osteum dapat
tertutup oleh lipatan membran mukosa dan serat otot pada dasar esofagus
Lambung memiliki 2 kurvatura yaitu :
1. Kurvatura minor : Ada disebelah kanan lambung terbentang dari osteum
kardiak sampai ke pilorus. Kulvatura minor dihubungkan ke hati oleh osteum
minor, suatu lipatan ganda dari peritoneum
2. Kurvatura mayor : Bagian ini terbentang pada sisi kiri osteum kardiakum
melalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai ke pilorus inferior.
Kurvatura mayor lebih panjang dari kulvatura minor dan dihubungkan
dengan kolon transversum oleh omentum mayor, lipatan ganda dari
peritoneum. .
Kedua ujung lambung dilindungi oleh sfingter yang mengatur pemasukan dan
pengeluaran. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan
masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus
kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama
daerah kardia. Di saat sfingter pilorikum berelaksasi makanan masuk ke dalam
duodenum dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik
isi usus halus ke dalam lambung. Sfingter pilorus memiliki arti klinis yang penting
karena dapat mengalami stenosis ( penyempitan pilorus yang menyumbat ) sebagai
komplikasi dari penyakit tukak lambung. Stenosis pilorus atau pilorospasme terjadi
bila serat-serat otot disekelilingnya mengalami hipertropi atau spasme sehingga
sfingter gagal berelaksasi untuk mengalirkan makanan dari lambung ke dalam
duodenum.

Gambar 2.3. Histologi Lambung. Sumber: Eroschenko, 2008. Di Fiore's


Atlas of Histology with Functional Correlations.

Berdasarkan histologin lambung, lambung terdiri atas empat lapisan yaitu :


a. Tunika serosa atau lapisan luar
Merupakan bagian dari peritonimum visceral. Dua lapisan peritoneum viseralis
menyatu kurvatura minor lambung dan duodenum dan terus memanjang kearah
hati, membentuk omentum minus. Lipatan Peritonium yang keluar dari satu
organ menuju ke organ lain disebut ligamentum. Omentum minor terdiri dari
atas ligamentum hepatogastrikum dan hepatoduodenalis, mayongkong lambung
sepanjang kurfatur minor sampai ke hati. Pada kurvatura mayor, peritonium
terus ke bawah membentuk omentum mayus, yang menutupi usus halus dari
depan seperti apron besar. Sakus omentum minus adalah tempat yang sering
terjadi penimbunan cairan (pseudokista pankreatikum) akibat komplikasi pankr
eatitis akut.
a. Lapisan berotot ( Muskularis) tersusun dari tiga lapis otot polos yaitu :
1) Lapisan longitudinal, yang paling luar terbentang dari esofagus ke
bawah dan terutama melewati kurvatura minor dan mayor.
2) Lapisan otot sirkuler, yang ditengah merupakan lapisan yang paling
tebal dan terletak di pilorus serta membentuk otot sfingter dan berada
dibawah lapisan pertama.
3) Lapisan oblik, lapisan yang paling dalam merupakan lanjutan lapisan
otot sirkuler esofagus dan paling tebal pada daerah fundus dan
terbentang sampai pilorus.
c. Lapisan submukosa
Terdiri dari jaringan areolar jarang yang menghubungkan lapisan mukosa
dan lapisan muskularis. Jaringan ini memungkinkan mukosa bergerak
bersama gerakan peristaltik. Lapisan ini mengandung pleksus saraf dan
saluran limfe.
d. Lapisan mukosa
Lapisan dalam lambung tersusun dari lipatan-lipatan longitudinal yang
disebut rugae. Ada beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini yaitu :
1. Kelenjar kardia, berada dekat orifisium kardia. Kelenjar ini mensekresi
kan mukus.
2. Kelenjar fundus atau gastrik, terletak di fundus dan pada hampir seluruh
korpus lambung. Kelenjar gastrik memiliki tiga tipe utama sel yaitu :
a. Sel-sel zimogenik atau chief cell, mensekresikan pepsinogen diubah
menjadi pepsin dalam suasana asam.
b. Sel sel parietal, mensekresikan asam hidroklorida dan faktor instrinsik.
Faktor instrinsik diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 di dalam usus
halus. Kekurangan faktor instrinsik akan mengakibatkan anemia
pernisiosa.
c. Sel-sel mukus (leher), ditemukan dileher fundus atau kelenjar-kelenjar
gastrik. Sel-sel ini mensekresikan mukus, hormon gastrin diproduksi
oleh sel G yang terletak daerah pilorus lambung. Gastrin merangsang ke
lenjar gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen.
Substani lain yang disekresikan oleh lambung dan enzim dan berbagai
elektrolit, terutama ion ion natrium, kalium dan klorida (Price 2005)
Struktur syaraf penyokong lambung :Persyarafan lambung sepenuhnya
otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum dihantarkan ke dan
dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus mencabangkan ramus gastrik,
pilorik, hepatik, dan seliaka.Persarafan simpatis adalah melalui saraf splangnikus
major dan ganglia seliakum. Serabut-serabut eferen menghantarkan impuls nyeri
yang di rangsang oleh peregangan, kontraksi otot dan peradangan, dan di rasakan di
daerah epigastrium. Serabut-serabut eferen simpatis menghambat pergerakan dan
sekresi lambung. Pleksus saraf mesentenikus (auerbach) dan submukosa (meissner)
membentuk persarafan intrinsik dinding lambung dan mengkoordinasi aktivitas
motorik dan sekresi mukosa lambung.
Komponen vaskularisasi pada lambung : Seluruh suplai darah di lambung dan
pankreas (serta hati, empedu dan limfa) terutama berasal dari arteri seliaka atau
trunkus seliaka, yang mempercabangkan cabang-cabang yang ensplai kurvatura
minor dan mayor. Dua cabang arteri yang penting dalam klinis adalah arteria
gastroduodenalis dan arteria pankreatikoduodenalis (retroduodenalis yang berjalan
sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding posterior duodenum dapat
mengerosi arteri ini dan menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan
duodenum, serta yang berasal dari pankreas, limpa dan bagian lain saluran cerna
berjalan ke hati melalui vena porta(Syaifuddin, 2006)

B. Fisiologi lambung
Lambung merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti
kantung, dapat berdilatasi, dan berfungsi mencerna makanan dibantu oleh asam
klorida (HCl) dan enzim-enzim seperti pepsin, renin, dan lipase.Lambung memiliki
dua fungsi utama, yaitu fungsi pencernaan dan fungsi motorik. Sebagai fungsi
pencernaan dan sekresi, yaitu pencernaan protein oleh pepsin dan HCl, sintesis dan
pelepasan gastrin yang dipengaruhi oleh protein yang dimakan, akan mensekresi
mukus yang membentuk selubung dan melindungi lambung serta sebagai pelumas
sehingga makanan lebih mudah diangkut, sekresi bikarbonat bersama dengan sekresi
gel mukus yang berperan sebagai barier dari asam lumen dan pepsin. Fungsi motorik
lambung terdiri atas penyimpanan makanan
sampai makanan dapat diproses dalam duodenum, pencampuran makanan
dengan asam lambung, hingga membentuk suatu kimus, dan pengosongan makanan
dari lambung ke dalam usus dengan kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan
absorbsi dalam usus halus (Price, 2006).
Lambung akan mensekresikan asam klorida (HCl) atau asam lambung dan
enzim untuk mencerna makanan. Lambung memiliki motilitas khusus untuk gerakan
pencampuran makanan yang dicerna dan cairan lambung, untuk membentuk cairan
padat yang dinamakan kimus kemudian dikosongkan ke duodenum.Sel-sel lambung
setiap hari mensekresikan sekitar 2500 ml cairan lambung yang mengandung
berbagai zat, diantaranya adalah HCl dan pepsinogen.HCl membunuh sebagian besar
bakteri yang masuk, membantu pencernaan protein, menghasilkan pH yang
diperlukan pepsin untuk mencerna protein, serta merangsang empedu dan cairan
pankreas.Asam lambung cukup pekat untuk menyebabkan kerusakan jaringan, tetapi
pada orang normal mukosa lambung tidak mengalami iritasi atau tercerna karena
sebagian cairan lambung mengandung mukus, yang merupakan faktor perlindungan
lambung
Sekresi asam lambung dipengaruhi oleh kerja saraf dan hormon.Sistem saraf
yang bekerja yatu saraf pusat dan saraf otonom, yakni saraf simpatis dan
parasimpatis. Adapun hormon yang bekerja antara lain adalah hormon gastrin,
asetilkolin, dan histamin. Terdapat tiga fase yang menyebabkan sekresi asam
lambung.Pertama, fase sefalik, sekresi asam lambung terjadi meskipun makanan
belum masuk lambung, akibat memikirkan atau merasakan makanan. Kedua, fase
gastrik, ketika makanan masuk lambung akan merangsang mekanisme sekresi asam
lambung yang berlangsung selama beberapa jam, selama makanan masih berada di
dalam lambung. Ketiga, fase intestinal, proses sekresi asam lambung terjadi ketika
makanan mengenai mukosa usus. Produksi asam lambung akan tetap berlangsung
meskipun dalam kondisi tidur. Kebiasaan makan yang teratur sangat penting bagi
sekresi asam lambung karena kondisi tersebut memudahkan lambung mengenali
waktu makan sehingga produksi lambung terkontrol

C. Konsep Teori Gastritis


1. Definisi
Gastritis merupakan suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub-
mukosa lambung. Secara hispatologi dapat di buktikan dengan adanya infiltrasi sel
sel radang pada daerah tertentu (Syam,2014).
Gastitis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut,
kronik, difus, atau lokal yang di sebabkan oleh bakteri atau obat-obatan (Price, 2005).
Gastritis merupakan peradangan mukosa lambung, peradangan ini dapat
mengakibatkan pembengkakan mukosa lambung sampai terlepasnya epitel akan
gangguan sluran pencernaan. Pelepasan epitel akan merangsang timbulnya proses
inflamasi pada lambung (Ratu & Adwan, 2013).

2. Klasifikasi
Berdasarkan definisi diatas, menurut mutaqqin 2011, membagi gastritis
menjadi :
1. Gastritis Akut
Gastritis akut adalah inflamasi akut mukosa lambung pada sebagian besar
merupakn penyakit yang ringan dan masih bisa sembuh sempurna. Salah satu bentuk
gastritis akut yaitu :
a. Gastritis akut erosif, apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam dari
pada mukosa muskularis (otot-otot pelapis lambung).
b. Gastritis akut hemoragik
Disebut hemoragik karena pada penyakit ini akan di jumpai perdarahan
mukosa lambung dalam berbagai derat dan terjadi erosi yang berate
hilangnya kontunuitas mukosa lambung pada beberapa tempat, menyertai
inflamasi pada mukosa lambung.(Hirlan 2006)
2. Gastritis Kronis
Menurut Mutaqqin, 2011. Gastritis kronis adalah suatu peradangan
permukaan mukosa lambung yang bersifat menahun. Gastritis kronis diklasifikasikan
dengan tiga perbedaan yaitu :
a. Gastritis superficial, dengan manfistasi kemerahan, edema,serta perdarahan
dan erosi mukosa
b. Gastritis atrofik, dimana peradangan terjadi di seluruh lapisan mukosa pada
perkembangannya dihubungkan dengan ulkus dan kanker lambung, serta
anemia pernisiosa. Hal ini merupakan karakteristik dari penurunan jumlah
sel parietal dan sel chief.
c. Gastritis hipertropik, suatu kondisi dengan trbentuknya nodul-nodul pada
mukosa lambung yang bersifat ireguler, tipis dan hemoragik

3. Etiologi
Menurut Mutaqqin, 2011. Penyebab gastritis antara lain:
1. Pola makan yang tidak teratur, mengkonsumsi makanan yang dapat
merangsang peningkatan HCL
2. Obat-obatan, seperti Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid/OAINS (Indimetasin,
Ibuprofen, dan Asam Salisilat), Sulfonamide, Steroid, Kokain, Salisilat, dan
Digitalis bersifat mengiritasi mukosa lambung.
3. Minuman beralkohol: seperti whisky, vodka, dan gin.
4. Infeksi bakteri: seperti H.phlori (paling sering), H. heilmanii, Streptococci,
Staphylococci, Proteus species, Clostridium spesies, E.coli, Tuberculosis, dan
secondary syphilis.
5. Infeksi virus oleh Sitomegalovirus
6. Infeksi jamur: seperti Candidiasis, Histoplasmosis, dan Phycomycosis.
7. Setres fisik yang disebabkan oleh luka bakar sepsis, trauma, pembedahan,
gagal pernapasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat, dan refluks
usus-lambung.
8. Iskemia, hal ini berhubungan dengan akibat penurunan aliran darah ke
lambung.
9. Trauma langsung lambung, berhubungan dengan keseimbangan antara agresi
dan mekanisme pertahanan untuk menjaga integritas mukosa, yang
menimbulkan respons peradangan pada mukosa lambung.
10. Mengkonsumsi koffe yang mengandung kafein dapat merangsang HCL
4. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis menurut Wim de jong, 2015 yaitu :
1. Gastritis akut
Nyeri epigastrium, mual muntah dan perdarahan terselubung maupun nyata.
Dengan endoskopi terlihat mukosa lambung yang hyperemia dan udem ,
mungkin juga di temukan erosif dan perdarahan aktif.
2. Gastritis kronik
Kebanyakan gastritis asimptomatik, keluhan lebih berkaitan dengan komplikasi
gastritis atropik, seperti tukak lambung, defisiensi zat anemia pernisiosa dan
karsinoma lambung.
5. Komplikasi
Komplikasi gastritis menurut Mansjoer (2003), adalah :
1. Komplikasi gastritis akut :
a. Perdarahan saluran cerna bagian atas berupa hematemisis dan malena dapat
berakhir sebagai syook hemoragik.
b. Tukak peptic
2. Komplikasi gastritis kronis
a. Perdarahan saluran cerna bagian atas
b. Ulkus
c. Perforasi
d. Anemia karena gangguan absorbsi vitamin B12
6. Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan diagnostic menurut Dermawan,2010 yaitu :
1. Radiologi : sinar x gastrointestinal bagian atas
2. Endoskopy : gastrocopy ditemukan mukosa yang hiperemik
3. Laboratorium : mengetahui kadar asam hidroklorida
4. EGD(Esofagastridudenoskopi) : tes diagnostic kunci untuk perdarah gastritis,
dilakukan untuk melihat sisi perdarahan atau derajat ulkus jaringan atau cidera
5. Pemeriksaaan Hispatologi : tampak kerusakan mukosa karena erosi tidak
pernah melewati mukosa muskularis
6. Analisa gaster : dapat dilakukan untuk menentukan adanya daraah, mengkaji
aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam hidroklorik dan
pembentukan asam noktura
7. Feses : tes feses akan positif H. Pylory kreatinin : biasanya tidak meningkat
bila perfusi ginjal di pertahankan
8. Amonia : dapat meningkat apabila disfungsi hati berat mengganggu
metabolisme dan ekskresi urea atau tranfusi darah lengkap dan jumlah yang
besar
9. Natrium : dapat meningkat sebagai kompensasi hormonal terhadap simpanan
cairan tubuh
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada gastritis menurut Darmawan, 2010 meliputi :

1. Penatalaksanaan medis
a. Penatalaksanaan farmakologi
a) Antikoagulan : bila ada perdarahan pada lambung
b) Antasida : pada gastritis yang parah, cairan dan elektrolit di berikan
intravena untuk mempertahan kan keseimbangan cairan sampai gejala
gejala mereda, untuk gastritis yang tidak pernah diobati antasida dan
istirahat
c) Histonin : ranitidine dapat diberikan untuk menghambat pembentukan
asam lambung kemudian menurunkan iritasi lambung.
d) Sulcralfate : diberikan untuk melindungi mukosa lambung dengan cara
menyeliputinya, untuk mencegah difusi kembali asam lambung pepsin
yang menyebabkan iritasi
e) Pembedahan: untuk mengangkat gangrene dan perforasi,
Gastrojejunuskopi/reseksi lambung: mengatasi obstruksi pilorus.
(Dermawan, 2010)
b. Penatalaksanaan non farmakologi
Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan faktor utama
yaitu etiologinya, diet lambung dengan porsi kecil dan sering, serta Obat-
obatan. Namun secara spesifik dapat dibedakan sebagai berikut:
a) Gastritis Akut
1. Pantang minum alcohol dan makan sampai gejala gejala hilang.
Ubah menjadi diet yang tidak mengiritasi
2. Jika gejala-gejala menetap, mungkin diperlukan cairan IV.
3. Jika terdapat perdarahan, penatalaksanaannya serupa dengan
hemoragie yang terjadi pada saluran gastrointestinal bagian atas.
4. Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali, encerkan
dan netralkan asam dengan antasida umum, misalnya aluminium
hidroksida, antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton,
antikolinergik dan sukralfat (untuk sitoprotektor).
5. Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah
jeruk yang encer atau cuka yang di encerkan.
6. Jika korosi parah, hindari emetik dan bilas lambung karena bahaya
perforasi.
b) Gastritis kronis
1. Dapat diatasi dengan memodifikasi diet pasien, diet makan lunak
diberikan sedikit tapi lebih sering.
2. Mengurangi stress
3. H. Pylori diatasi dengan antiobiotik (seperti tetraciklin ¼,
amoxillin) dan gram bismuth (pepto-bismol).
8. Patofisiologi
Gatritis disebabkan oleh obat-obatan (NSIAD, aspirin, sulfanomidasteroid,
digitalis), infeksi bakteri H. Pylori, Kafein. Obat obatan NSIAD akan mengganggu
pembentukan sawar mukosa lambung dimana sawar lambung merupakan suatu materi yang
tebal berlendir, mukosa yang memberikan pertahanan antara lapisan mukosa dan sekresi
gastric keasaman lambung , Infeksi bakteri H. Pylori akan melekat pada epitel sehingga dapat
menghancurkan lapisan mukosa sel lambung. Sehingga penyebab gastritis obat-obatan
NSIAD , infeksi bakteri H. Pylori dan kafein mengakibatkan Perlindungan mukosa lambung
tergangggu. Mukosa barier lambung umunya melindungi lambung dari pencernaan
terhadap lambung itu sendiri, yang disebut autodigesti acid, prostalglandin yang
memberikan perlindungan ini. Ketika mukosa barier ini rusak maka akan terjadi
peningkatan HCl .
Dari peningkatan HCl akan mengakibatkan gastritis yang mengakibatkan
inflamasi pada mukosa lambung dan erosi pada lambung inflamasi pada mukosa
lambung akan mengakibatkan nyeri abdomen sehingga timbulah masalah
keperawatan nyeri , dari nyeri abdomen mengakibatkan sesorang mengalami
ganggguan pola tidur. Nyeri abdomen dapat menurunkan sensori untuk makan
sehingga nafsu makan menurun atau disebut anoreksia akan terjadi
ketidakseimbangan nutrisi dari kebutuhan tubuh. Anoreksia yang berlebihan akan
mengakibatkan pembentukan ATP yang menurun sehingga terjadi kelelahan, akan
terjadi intoleransi aktivitas.
setelah barier ini rusak maka terjadilah perlukaan mukosa lambung dan di
perburuk oleh histamine dan stimulasi saraf cholinergic kemudian HCl dapat
berdifusi baik kedalm mukus dan menyebabkan luka pada pembuluh darah yang
kecil, yang mengakibatkan terjadinya bengkak perdarahan dan erosi pada lambung.
Erosi pada lambung akan mengakibatkan mukosa lambung kehilangan integritas
jaringan sehingga terjadi perdarahan erosi pada lambung juga mengakibatkan
menurunnya tonus peristaltic lambung sehingga terjadi dorongan ekspulasi di
lambung ke mulit dan terjadi mual muntah , dari perdarahan mual dan muntah
mengakibatkan deficit volume cairan . Kemudian masalah keperawatan yang muncul
adanya gangguan rasa nyaman nyeri karena adanya mukosa lambung yang teriritasi ,
kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh karena penurunan nafsu makan,
devisit volume cairan akan terjadi apabila terjadi perdarahan pada lambung, ansietas,
gangguan pola tidur karena sering terbangun pada malam hari yang disebabkan oleh
nyeri pada abdomen, oleh karena itu perlu di lakukan tindakan keperawatan asuhan
keperawatan (Doengos, 2014)
WOC.

.
Asuhan Keperawatan pada pasien gastritis
1. Pengkajian
Pengkajian merupkan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan,
untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menanggani masalah-masalah
pasien sehingga dapat menentukan tindakan keperawatan yang tepat pada pasien.
(Potter & Perry, 2005).
a. Identitas pasien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama penanggung
jawab, pekerjaan dll
b. Keluhan utama
Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien gastritis untuk datang ke rumah
sakit adalah pasien mengeluh nyeri ulu hati, mual muntah dan anoreksia atau
nafsu makan menurun
1. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien yang mengalami gastritis akut mengalami nyeri epigastrium,
pada pengkajian nyeri (PQRST) mual muntah dan perdarahan terselubung
maupun nyata. Dengan endoskopi terlihat mukosa lambung yang hyperemia
dan udem , mungkin juga di temukan erosif dan perdarahan aktif. Bila pasien
mengalami penyakit gastritis kronik akan mengalami keluhan lebih berkaitan
dengan komplikasi gastritis atropik, seperti tukak lambung, defisiensi zat
anemia pernisiosa dan karsinoma lambung.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Lakukan pengkajian tentang riwayat penyakit keturuanan yang berhubungan
dengan penyakit gastritis, dan riwayat penyakit keturunan lain yang ada dalam
keluarga. Untuk penyakit gastritis bukanlah termasuk penyakit keturunan

e. Riwayat penyakit dahulu


Kaji apakah gejala berhubungan dengan ansietas, stress, alergi, makan atau
minum terlalu banyak, atau makan terlalu cepat? Kaji adakah riwayat penyakit
lambung sebelumnya atau pembedahan lambung sebelumnya ?
f. Riwayat pisikososial
Meliputi mekanisme koping yang digunakan klien untuk mengatasi masalah
dan bagaimana motivasi kesembuhan dan cara klien menerima keadaannya.
g. Pola kebiasaan
1. Aktivitas/istirahat
Gejala : lemah, lemas, gangguan pola tidur dan istirahat, kram abdomen,
nyeri ulu hati.
Tanda : nyeri ulu hati saat istirahat.
2. Sirkulasi
Gejala : keringat dingin (menunjukkan status syok, nyeri akut, respon
psikologik)
3. Eliminasi
Gejala : bising usus hiperperaktif atau hipoaktif, abdomen teraba keras.
Distensi perubahan pola BAB.
Tanda : feses encer atau bercampur darah (melena), bau busuk, konstipasi.
4. Integritas ego
Gejala : stress (keuangan, hubungan kerja). Perasaan tidak berdaya.
Tanda : ansietas, misalnya : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian
menyempit, gemetar.
5. Makanan dan cairan
Gejala : anoreksia, mual dan muntah, nyeri ulu hati, kram pada abdomen,
sendawa bau busa, penurunan berat badan.
Tanda : membrane mukosa kering, muntah berupa cairan yang berwarna
kekuning-kuningan, distensi abdomen, kram pada abdomen.
6. Neurosensori
Gejala : pusing, pandangan berkunang-kunang, kelemahan pada otot
Tanda : lethargi, disorientasi (mengantuk)
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri epigastrium kiri samping tengah atau ulu hati, nyeri yang
digambarkan sampai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih.
Tanda : meringis, ekspresi wajah tegang.
8. Pernafasan
Gejala : sedikit sesak
9. Penyuluhan
Gejala : faktor makanan, pola makan yang tidak teratur, diet yang salah,
gaya hidup yang salah.
i. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik : Review of System
1. B 1 (breath) : takhipnea
2. B 2 (blood) : takikardi, hipotensi, disritmia, nadi perifer lemah,
pengisian perifer lambat, warna kulit pucat.
3. B 3 (brain) : sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat
terganggu, disorientasi, nyeri epigastrum.
4. B 4 (bladder) : oliguri, gangguan keseimbangan cairan.
5. B 5 (bowel) : anemia, anorexia,mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak
toleran terhadap makanan pedas.
6. B 6 (bone) : kelelahan, kelemahan

2. Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan mukosa
lambung akibat peningkatan HCl
2. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang tidak
adekuat dan kehilangan cairan yang berlebihan karena muntah
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Ansietas berhubungan dengan pengobatan yang ditandai dengan klien tampak
gelisah
6. Ganguan pola tidur berhubungan dengan nyeri abdomen

3. Intervensi
Menurut Juddith M. Wilkison (2012), perencanaan keperawatan adalah
rencana keperawatan kepeda klien sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan sehingga
kebutuhan klien dapat terpenuhi. Dalam teori perencanaan keperawatan dituliskan
sesuai dengan rencana dan kriteria hasil berdsarkan Nursing Interventon
Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NIC).
Perencanaan keperawatan disesuikan dengan kondisi klien dan fasilitas yang
ada, sehingga rencana tindakan dapat diselesaikan dengan Spesifik, Mearsure,
Arhieverble, Rasional, Time (SMART) selanjutnya akan diuraikan rencana asuhan
keperawatan dari diagnosa yang ditegakkan (NANDA, 2009)
3. Intervensi Keperawatan
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan
NO
DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA HASIL INTERVENSI (NIC) RASIONAL
KEPERAWATAN (NOC)

1. Gangguan rasa nyaman NOC: Pain Management 1. Mengetahui perkembangan nyeri


nyeri berhubungan 1. Lakukan pengkajian nyeri secara dan tanda-tanda nyeri sehingga
dengan peradangan mukosa  pain level komprehensif termasuk lokasi, karakteri dapat menentukan intervensi
lambung akibat peningkatan  pain control stik, durasi, frekuensi, kualitas,dan selanjunya
HCl  comfort level faktor presipitasi 2. Mengetahui respon pasien
Dengan indikator : 2. Observasi reaksi nonverbal dari terhadap nyeri
1 : gangguan ekstream ketidaknyamanan 3. Mengetahui cara penanganan
2 : berat 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik nyeri yang biasa dilakukan oleh
3 : sedang untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
4 : ringan pasien 4. Membantu pasien dalam
5 : tidak ada gangguan 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon menangani nyeri yang timbul
Nilai yang diharapkan 4-5 nyeri 5. Membantu dalam pemberian
5. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau tindakan yang selanjutnya
Kriteria Hasil : 6. Evaluasi bersama pasien dan tim 6. Mengevaluasi tindakan yang
kesehatan lain tenyang ketidakefektifan diberikan untuk melakukan
1. mampu mengontrol nyeri kontrol nyeri masa lampau intervensi selanjutnya
(tahu, penyebab nyeri, 7. Bantu pasien dan keluarga untuk 7. Dukungan yang cukup dapat
mampu menggunakan teknik mencari dan menemukan dukungan menurunkan reaksi nyeri pasien
nonfarakologi, untuk 8. Kontrol lingkungan yang dapat 8. Menurunkan rasa nyeri pasien
mengurangi nyeri, ) mempengaruhi nyeri seperti suhu 9. Dapat menurunkan tingkat nyeri
2. melaporkan bahwa nyeri ruangan, pencahayaan, dan kebisingan pasien
berkurang dengan 9. Kurangi faktor presipitasi nyeri 10. Menurunkan sensasi nyeri yang
menggunkakn manajemen 10. Pilih dan lakukan penanganan nyeri dialami pasien
nyeri (farmakologi, non farmakologi, dan 11. Mengetahui perkembangan nyeri
3. menyatakan rasa nyaman interpersonal) dan menetukan intervensi
ketika nyeri berkurang 11. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk selanjutnya
4. mampu mengenali nyeri menentukan intervensi 12. Menurunkan ketegangan otot,
(skala, intensitas, frekuensi, 12. Ajarkan tentang teknik non farmakologi sendi, dan melancarkan
dan tanda nyeri) 13. Berikan analgetik untuk mengurangi peredaran sehingga dapat
nyeri mengurangi nyeri
14. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri 13. Analgetik berfungsi sebagai
15. Tingkatkan istirahat depresan sistem syaraf pusat
16. Kolaborasikan dengan dokter jika ada sehingga mengurangi atau
keluhan dan tindakan nyeri tidak menghilangkan nyeri
berhasil 14. Mengevaluasi keberhasilan
17. Monitor penerimaan pasien tentang tindakan penanganan nyeri
manajemen nyeri 15. Istirahat yang cukup dapat
Analgesic Administration mengurangi rasa nyeri
18. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, 16. Menentukan tindakan yang akan
dan derajat nyeri sebelum pemberian diberikan selanjutnya
obat 17. Melihat seberapa pasien dapat
19. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, mengontrol nyeri
dosis, dan frekuensi 18. Mengetahui perkembangan nyeri
20. Cek riwayat alergi dan tanda-tanda nyeri sehingga
21. Pilih analgesik yang diperlukan atau dapat menetukan intervensi
kombinasi dari analgesik ketika selanjutnya
pemberian lebih dari satu 19. Memastikan/menghindari terapi
22. Tentukan pilihan analgesik tergantung obat yang salah dalam
tipe dan beratnya nyeri pemberian pada pasien
23. Tentukan analgesik pilihan, rute, 20. Menentukan obat yang benar
pemberian, dan dosis optimal 21. Mencegah terjadinya efek
24. Pilih rute pemberian secara IV, IM samping dari obat yang terlalu
untuk pengobatan nyeri secara teratur banyak
25. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali 22. Memberikan obat yang sesuai
26. Berikan analgesik tepat waktu terutama dengan yang dibutuhkan oleh
saat nyeri hebat pasien
27. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan 23. Memberikan obat yang sesuai
gejala dengan yang dibutuhkan oleh
pasien
24. Memaksimalkan fungsi obat
yang diberikan pada pasien
25. Mempercepat proses kerja obat
yang diberikan
26. Melihat efek dari obat yang
diberikan
27. Memberikan kenyamanan pada
pasien, dan menghindari
komplikasi yang lebih parah
akibat nyeri
2. Ketidakseimbangan NOC Manajemen Nutrisi
nutrisi kurang dari  Nutrional status : 1. Memberikan intervensi yang
kebutuhan tubuh  Nutrional status : food and 1. Kaji alergi pada pasien sesuai dan tepat kepada pasien
berhubungan dengan fluid intake 2. Tanyakan makanan kesukaan pasien 2. Memampukan pasien untuk
anoreksia  Nutrional status : nutrient 3. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang memilih makanan yang dapat
intake jumlah kalori dan tipe nutrisi yang dinikmati
Nutrional Status Energi dibutuhkan (TKTP) 3. Memungkinkan variasi seduaan
Asupan makanan dan cairan 4. Anjurkan masukan kalori yang tepat yang makanan pasien
terpenuhi yang dibuktikan oleh sesuai dengan kebutuhan energi 4. Menambahkan diet yang tepat
indikator : 5. Sajikan diit dalam keadaan hangat bagi pasien
1. Makan melalui oral 6. Observasi keadaan kulit dan memberan 5. Makanan yang hangat
2. Nafsu makan mukosa yang kering , turgor kulit jelak, menambah nafsu makan pasien
3. Mual muntah oedema, konjungtiva anemis, rambut 6. Mengidentifikasi tanda tanda
4. Stamina kusam dan mudah patah malnutrisi
5. Daya tahan 7. Anjurkan pasien untuk oral hygine 7. Meningkatkan nafsu makann
6. Penyembuhan jaringan 8. Hentikan penggunaan NGT bila pasien 8. Meningkatkan toleransi pasien
7. Berat badan sudah toleran terhadap masukan oral terhadap masukan oral
8. Tanda tanda malnutrisi dengan
level : Pemantauan nutrisi
a.Tidak adekuat 1. Monitor adanya penurunan BB 1. Penurunan BB menunjukkan
b. Sedikit adekuat 2. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang malnutrisi
c.Cukup adekuat biasa dilakukan 2. Menentukan kebutuhan energy
d. Adekuat 3. Ciptakan lingkungan nyaman selama yang dibutuhkan
e. Sangat adekuat klien makan 3. Lingkungan yang bersih dan
f. Nilai yang diharapkan 4 sampai 5 4. Jadawalkan pengobatan dan tindakan tidak bau memberikan
selama jam makan kenyamanan pada klien saat
Nutritional status :
5. Monitor kulit (kering), turgor kulit, kuku makan
Food dan fluid intake
bergerigi dan perubahan pigmentasi 4. Memberikan waktu istirahat saat
Makanan dan cairan terpenuhi bengkak gusi makan klien
dengan indikator : 6. Monitor mual dan muntah 5. Adanya perubahan pigmentasi,
1. Masukan makanan melalui oral 7. Menentukan apakah pasien penurunan tugor kulit, menunjuk
2. Masukan makanan melalui tabung membutuhkan diet khusus an kekurangan cairan dan
3. Masukan cairan melalui oral 8. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, kurang nutrisi
4. Masukan cairan kadar hematokrit 6. Gejala GI dapat menunjukan
5. Masukan total parenteral nutrition 9. Monitor kadar limfosist dan elektrolit kekurangan efek anemia
6. Dan yang lainnya hipoksia pada organ
Dengan level : 7. Menentukan diet yang tepat
a.Tidak adekuat 8. Meningkatkan efektivitas
b. Sedikit adekuat program pengobatan, termasuk
c.Cukup adekuat sumber diet yang dibutuhkan
d. Adekuat 9. Melihat keefektifan diet klien
e.Sangat adekuat
Nilai yang diharapkan 4 sampai 5
Kriteria Hasil :
1. Adanya peningkatan berat badan
2. Tidak ada tanda tanda malnutrisi
3. Tidak terjadi penurunan berat
badan
3. Defisit Volume  Fluid balance Keseimbangan cairan
cairan berhubungan dengan  Nutrional status : food and 1. Kaji pengeluaran urine, catat warna 1. Membantu dalam
intake cairan yang tidak fluid intake kuantitas dan berat jenis urine dan intake memperkirakan kekurangan
adekuat dan kehilangan Keseimbangan cairan cairan volume total, tanda dan gejala
cairan yang Keseimbangan cairan terpenuhi 2. Pantau tanda tanda vital proses infeksi mengakibatkan
berlebihan karena muntah yang dibuktikan oleh indikator: 3. Monitor pola nafas demam dan keadaan
Ketidakseimbangan 1. Frekuensi nadi 4. Observasi frekuensi dan kualitas hipermetabolik
nutrisi kurang dari 2. Irama jantung apica; pernafasan 2. Perubahan tanda tanda vital
kebutuhan tubuh 3. Frekuensi nafas 5. Timbang berat badan, nyeri merupakan dapat disebabkan oleh rasa
berhubungan dengan 4. Irama nafas indikator untuk menilai keadaan nyeri dan merupakan indikator
anoreksia 5. Status mental 6. Pemberian cairan sesuai dengan indikasi untuk untuk menilai
Dengan Level : pengganti fungsi ginjal dan keefektifan keadaan perkembangan penyakit
1. Gangguan eksteren dari terapi yang diberikan 3. Mengetahui apakah ada masalah
2. Berat 7. Monitor hasil lab yang berhubungan dengan
3. Sedang pernafasan atau O2
4. Ringan 4. Pernafasan dangkal cepat dan
5. Tidak ada gangguan sianosis merupakan indikasi dari
Nilai yang diharapkan 4 sampai Manajemen Nutrisi kelelahan pernafasan
dengan 5 5. Memberikan perkiraan
1. Tanyakan pada pasien tentang alergi kebutuhan akan cairan pengganti
Nutrional status : terhadap makanan fungsi ginjal dan keefektifan
Food and fluid intake 2. Tanyakan makanan kesukaan pasien dari terapi yang diberikan
Makanan dan cairan terpenuhi dengan 3. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang 6. Tipe dan jenis cairan tergantung
indikator : jumlah kalori dan tipe nutrisi yang pada derajat kekurangan cairan
1. Masukan makanan melalui oral dibutuhkan (TKTP) dan respon
2. Masukan makanan melalui tabung 4. Anjurkan masukan kalori yang tepat yang 7. Penurunan elektrolit yang lebih
3. Masukan cairan melalui oral sesuai dengan kebutuhan energi besar dapat mengarah pada syok
4. Masukan cairan 5. Sajikan diit dalam keadaan hangat
5. Masukan total parenteral nutrition 6. Observasi keadaan kulit dan memberan 1. Memberikan intervensi yang
6. Dan yang lainnya mukosa yang kering , turgor kulit jelak, sesuai dan tepat kepada pasien
Dengan level : oedema, konjungtiva anemis, rambut 2. Memampukan pasien untuk
a. Tidak adekuat kusam dan mudah patah memilih makanan yang dapat
b. Sedikit adekuat 7. Anjurkan pasien untuk oral hygine dinikmati
c. Cukup adekuat 8. Hentikan penggunaan NGT bila pasien 3. Memungkinkan variasi seduaan
d. Adekuat sudah toleran terhadap masukan oral makanan pasien
e. Sangat adekuat 4. Menambahkan diet yang tepat
Nilai yang diharapkan 4 sampai 5 bagi pasien
Kriteria hasil : 5. Makanan yang hangat
1. Mempertahankan urine, output menambah nafsu makan pasien
sesuai dengan usia dan BB, BJ, 6. Mengidentifikasi tanda tanda
urine normal, HT normal malnutrisi
2. Vital sign dalam batas normal 7. Meningkatkan nafsu makann
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, 8. Meningkatkan toleransi pasien
elastisitas turgor kulit baik, terhadap masukan oral
memberan mukosa lembab, tidak
ada rasa haus berlebihan
4. Intoleransi aktivitas NOC : NIC
berhubungan dengan  Energy conservation
kelemahan fisik  Activity tolerance Activity therapy 1. Mengetahui adanya aktivitas
 Self care :ADLs yang memperparah keadaan
1. Observasi adanya pembatasan klien 2. Menentukan intervensi
dalam melakukan aktivitas selanjutnya
1. Gangguan ektermitas
2. Kaji adanya faktor yang menyebabkan 3. Mengetahui asupan nutrisi untuk
2. Berat
kelelahan kebutuhan tubuh
3. Sedang
3. Monitor respon kardiovaskuler terhadap 4. Mengetahui tingkat istirahat
4. Ringan
aktivitas ( takikardi, distrimia, sesak pasien
5. Tidak ada gangguan
nafas, diaphoresis,pucat, perubahan 5. Membantu pasien agar mudah
Kriteria hasil : hemodinamik) melakukan aktivitas harian yang
4. Monitor pola tidur dan lamanya tidur / terkontrol
1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik istirahat pasien 6. Membantu pasien agar mudah
tanpa disertai peningkatan tekanan 5. Bantu klien untuk mengidentifikasi melakukan aktivitas harian yang
darah, nadi dan RR aktivitas yang mampu dilakukan terkontrol
2. Mampu melakukan aktivitas 6. Bantu untuk memilih baktivitas konsisten 7. Membantu pasien agar tidak
sehari hari (ADL ) secara mandiri yeng sesuai dnegan kemampuan fisik, melakukan aktivitas yang terlalu
3. Keseimbangan aktivitas dan psikologi dan social berat, dan untuk mengurangi
istirahat 7. Bantu untuk mengidentifikasi dan resiko dampak yang lainnya
mendapatkan sumber yang diperlukan 8. Untuk mencegah aktivitas yang
untuk aktivitas yang diinginkan terlalu berat
8. Bantu untuk mendapatkan alat bantuan 9. Untuk mempermudah pasien
aktivitas seperti kursi roda krek melakukan aktivitas yang ringan
9. Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas dan disukai
yang disukai 10.Untuk membantu pasien
10.Bantu pasien/ keluarga untuk melakukan aktivitas ringan
mengidentifikasi kekurangan dalam 11.Membantu pasien untuk
beraktivitas meningkatkan aktivitas pasien
11.Bantu pasien untuk mengembangkan 12.Mengetahui respon pasien akibat
motivasi diri dan penguatan latihan fisik yang dilakukan
12.Monitor respon fisik, emosi, social dan
spiritual pasien .

5. Ansietas berhubungan  Anxietyself – control Penurunan Kecemasan 1. Membina hubungan saling


dengan pengobatan yang  Anxiety level 1. Gunakan pendekatan menenagkan percaya dengan klien
ditandai dengan klien  Coping 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap 2. Memberikan motivasi dan
tampak gelisah Indikator pengendalian diri prilaku pasien semangat bagi pasien
terhadap Ansietas : 3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang 3. Memberikan gambaran tentang
1. Tidak pernah dirasakan selama prosedur operasi yang akan dijalani
2. Jarang 4. Temani pasien untuk memberikan 4. Pasien membutuhkan orang lain
3. Kadang- kadang keamanan dan mengurangi takut untuk meyakinkannya dan
4. Sering 5. Berikan informasi factual mengenai sebagai sumber semangat
5. Selalu diagnosis baginya
Nilai yang diharapkan 4 sampai 5 6. Dorong keluarga untuk menemani pasien 5. Memberikan informasi untuk
Kriteria hasi : 7. Dengarkan dengan penuh perhatian mengurangi kecemasan pasien
1. Klien mampu mengidentifikasi 8. Identifikasi tingkat kecemasan \ 6. Membantu mengurangi cemas
dan mengungkapkan gejala cemas 9. Dorong pasien untuk mengungkapkan dan membantu mengungkapkan
2. Vital sign dalam batas normal perasaan ketakutan dan persepsi perasaannya
3. Postur tubuh, ekspresi wajah, 10.Berikan obat untuk mengurangi 7. Membantu mengurangi semas
bahasa tubuh dan tingkat aktivitas kecemasan dan membantu mengungkapkan
menunjukan berkurangnya 8. Memberikan intervensi sesuai
kecemasan level cemas pasien
9. Membantu mengurangi beban
pikiran
10.Mengurangi kecemasan

6. Gangguan pola tidur NOC: Environment management (Manajemen


berhubungan dengan nyeri  Anxiety reduction lingkungan)
abdomen  Comfort Level 1. Ciptakan lingkungan yang aman untuk 1. Jika lingkungan nyaman pasien
 Pain Level klien bisa istirahat dengan nyaman
 Rest : Extent and Pattern 2. Berikan tempat tidur dan lingkungan 2. Agar pasien nyaman dan
 Sleep : Extent ang Pattern yang bersih dan nyaman terhindar dari resiko infeksi
kriteria hasil: 3. Berikan posisi tidur yang membuat 3. Memberikan kenyamanan
1. Jumlah jam tidur dalam klien nyaman kepada pasien saat tidur
batas normal 4. Control kebisingan 4. Agar tidak mengganggu pasien
2. Pola tidur,kualitas dalam 5. Atur pencahayaan saat istirahat
batas normal 6. Batasi pengunjung 5. Memberikan kenyamanan bagi
3. Perasaan fresh sesudah 7. Berikan satu ruangan jika diindikasikan pasien
tidur/istirahat 6. Memberikan kenyamanan
4. Mampu mengidentifikasi sehingga pasien tidak terganggu
hal-hal yang meningkatkan oleh suara kebisingan
tidur
Sleep Enhancement
1. Monitor jumlah dan kualitas tidur
klien 1. Mengetahui kualitas tidur
2. Menginstruksikan pasien untuk pasien
tidur pada waktunya 2. Agar istrahat pasien bisa
3. Mengidentifikasi penyebab terpenuhi secara normal
kekurangan tidur pasien. 3. Mengetahui penyebab pasien
4. Diskusi dengan pasien dan keluarga tidak bisa tidur
pasien untuk meningkatkan tekhnik 4. Agar Keluarga bisa membantu
tidur. dalam proses pembuhan pasien
5. Menentukan pola tidur pasien 5. Memberikan dan memntukan
6. Bantu untuk membuang faktor pola tidur yang efektif
stress sebelum tiba waktu tidur. 6. Menghindari faktor stress
yang dapat mengganggu
istrahat dan tidur pasien
4. Implementasi
Implementasi keperawatan yang merupkan komponen dari proses
keperawatan adalah katergori dari prilaku keperawatan dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tindakan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan
keperawatan yang dilakukan dan diselesaikan (Potter & Perry. 2005).
Implementasi menuangkan rencana asuhan kedalam tindakan. Setelah rencana
dikembangkan, sesuai dengan kebutuhan dan prioritas klien, perawat melakukan
intervensi keperawatan spesifik, yang mencakup tindakan perawat. Rencana
keperawatn dilaksanakan sesuai intervensi. Tujuan dari implementasi adalah
membantu klien dalam mencapai peningkatan kesehatan baik yang dilakukan secara
mandiri maupun kolaborasi dan rujukan (Bulechek & McCloskey: dikutip dari Potter,
2005).

5. Evaluasi
Evaluasi adalah tidakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawata, rencana tindakan, dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai berdasarkan tujuan yang telah dibuat dalam
perencanaan keperawatan (Potter & Perry. 2005). Evaluasi yang digunakan berbentuk
S (Subjektif), O (Objektif), A (Analisis), P (Perencanaan terhadap analisis). Evaluasi
adalah proses keperawatan mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan
dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Tahap akhir yang bertujuan untuk
mencapai kemampuan klien dan tujuan dengan melihat perkembangan klien. Evaluasi
klien Gastritis dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya pada
tujuan (Carnevari & Thomas, 1993 : dikutip dari Potter, 2005)