Anda di halaman 1dari 12

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

SYOK ANAFILAKSIS
1. Pengertian Anafilaksis adalah sindrom klinis sistemik yang terjadi sangat akut dan
(definisi) mengancam nyawa. Anafilaksis terjadi akibat pelepasan masif mediator
inflamasi dari sel mast dan basofil sesudah pajanan alergen pada individu
yang sudah tersensitisasi. Istilah reaksi anafilaktoid digunakan untuk reaksi
yang mirip anafilaksis tetapi tidak diperantarai oleh IgE, mungkin oleh
anafilaktosin seperti C3a dan C5a atau bahan yang mampu menginduksi
degranulasi sel mast tanpa melalui reaksi imunologis. Tidak ada perbedaan
tatalaksana anafilaksis dan anafilaktoid.
2. Anamnesis Harus didapatkan data tentang: (Lieberman, 2015)
1. Apakah ada manifestasi kulit (gatal, kemerahan, bentol, atau bengkak
pada kelopak mata dan bibir)
2. Apakah ada tanda sumbatan jalan napas atas atau bawah (napas
tersumbat, suara serak, sesak, mengi)
3. Apakah ada gejala saluran cerna (muah, muntah, diare)
4. Apakah ada gejala pingsan, mendadak tidak sadar atau gelisah, atau
badan dingin
5. Gejala muncul mendadak setelah pajanan alergen.
6. Awitan dalam beberapa menit sesudah pajanan, dapat sangat singkat,
bertahan lama atau bifasik. Rekurensi dapat terjadi beberapa jam setelah
sebelumnya membaik dengan pengobatan.
7. Pasien sudah pernah terpajan dengan alergen tersebut sebelumnya, baik
dengan rute, dosis dan indikasi yang sama atau berbeda dengan pajanan
terakhir.
8. Perlu identifikasi:
a. Riwayat penyakit alergi serta obat-obatan yang digunakan
sebelumnya.
b. Gejala yang mirip dengan episode sakit ini tetapi lebih ringan
sebelumnya
c. Alergen yang sudah diidentifikasi (makanan, obat-obatan,sengatan
serangga, bahan kimia, lateks)
d. Pencetus non-imunologis (panas atau dingin yang ekstrim, aktivitas
fisik terutama setelah makan, obat- obatan (opioid), dan sinar
matahari/radiasi ultraviolet.
1. Riwayat atopi pada pasien atau keluarga
3. Pemeriksaan 1. Saluran napas: sesak, disertai mata berair, rinore, bersin, hidung
Fisik tersumbat, edema uvula, suara parau, disfonia, stridor, takipneu, dan
mengi.
2. Saluran cerna: nyeri perut kram, muntah dan diare.
3. Kulit dan mukosa: urtikaria, kemerahan, edema kelopak mata,bibir,lidah
atau uvula.
4. Kardiovaskular: takikardia hingga nadi tidak teraba, aritmia, hipotensi dan
sinkop.
5. Dapat timbul kejang.
6. Syok, edema jalan napas atas, dan obstruksi bronkial merupakan
gambaran klinis yang mengancam nyawa.
4. Kriteria Salah satu dari 3 kriteria berikut:
Diagnosis 1. Onset akut keterlibatan kulit, jaringan mukosa, atau keduanya
(contohnya: pruritus, kemerahan, bengkak pada bibir-lidah-uvula) DAN
minimal 1 dari hal berikut :
a. Gejala respirasi (dyspnea, wheezing, bronkospasme, stridor,
penurunan Peak Expiratory Flow (PEF), hipoksemia).
b. Penurunan tekanan darah atau gejala yang berhubungan dengan
disfungsi end-organ (hipotonia, sinkop, inkontinensia).
2. Dua atau lebih kriteria berikut ini yang terjadi secara cepat setelah
pajanan alergen :
a. Keterlibatan jaringan kulit-mukosa (bengkak, gatal, dan kemerahan
pada bibir-lidah-uvula).
b. Gejala respirasi (dyspnea, wheezing, bronkospasme, stridor,
penurunan Peak Expiratory Flow (PEF), hipoksemia)
c. Penurunan tekanan darah atau gejala yang berhubungan dengan
disfungsi end-organ (hipotonia, sinkop, inkontinensia)
d. Gejala persisten saluran cerna (kram abdomen, muntah)
3. Penurunan tekanan darah setelah pajanan alergen yang diketahui
sebelumnya.
5. Diagnosis Anaphylactic Shock
Kerja
6. Diagnosis 1. Obstruksi jalan napas karena benda asing
Banding 2. Heat stroke
3. Sinkop
4. Bila manifestasi berupa syok, bedakan dengan syok akibat penyebab lain
5. Disfungsi pita suara
6. Serangan panik
7. Refleks vasovagal
8. Flushing episode pada penggunaan obat-obat tertentu, alkohol, tumor
gastrointestinal, tumor tiroid, pheochromocytoma, hiperglikemia, red man
syndrome, sindrom post prandial. Flushing shyndrome mirip seperti sun
burn.
7. Pemeriksaan Pada penanganan akut anafilaksis, tidak diperlukan pemeriksaan
Penunjang laboratorium.
Bila ada keraguan mengenai diagnosis anafilaksis, maka dapat diperiksakan
serum triptase (bila ada) yang hasilnya akan meningkat dan mencapai
puncak pada 1-2 jam pertama.
8. Tata 1. Perawatan umum:
Laksana : Bila mungkin hentikan pajanan antigen. Lakukan penilaian terhadap jalan
napas, pernapasan, dan sirkulasi. jalan napas harus dijamin terbuka, nadi
dan tekanan darah dipantau. Pasien dibaringkan dengan tungkai ditinggikan.
Oksigen diberikan dengan sungkup atau kanul hidung dengan pemantauan
kadar oksigen.
2. Epinefrin
Epinefrin konsentrasi 1:1000 dengan dosis 0,01 mL/kg maksimal 0,3 ml per
kali disuntikkan intramuskular di daerah mid-anterolateral paha. Dosis yang
sama dapat diulangi dengan jarak 5-15 menit sampai 2–3 kali.
3. Cairan
Hipotensi persisten perlu diatasi dengan perbaikan cairan intravaskular
dengan infus kristaloid 20-30 ml/kg dalam 1 jam pertama.
4. Antihistamin
Difenhidramin 1-2 mg/kg maksimal 50 mg dapat disuntikkan intramuskular
atau intravena. Bila diberikan intravena maka harus diberikan secara infus
selama 5-10 menit untuk menghindari hipotensi.
5. Bronkodilator
Inhalasi β2-agonis berguna untuk mengatasi bronkokonstriksi.
6. Kortikosteroid
Bila diberikan segera setelah kegawatan teratasi dapat mencegah
anafilaksis bifasik. Metilprednisolon dosis 1-2 mg/kg diberikan secara
intravena setiap 4-6 jam.
7. Vasopresor
Bila hipotensi berlanjut perlu diberikan dopamin atau epinefrin
8. Observasi
Pasien yang anafilaksisnya sudah teratasi harus dipantau untuk mengawasi
kemungkinan anafilaksis bifasik.

9. Edukasi : 1. Diagnosis penyakit, penyebab, tata laksana, komplikasi, dan


(Hospital prognosis.
Health 2. Bahan yang menyebabkan anafilaksis wajib dihindari.
Promotion) 3. Bila penyebabnya aktivitas, bila berolahraga harus ada pendamping.
4. Ajarkan pasien dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda anafilaksis
dan penanganan awal.
10. Prognosis Dubius ad dubia
11. Tingkat 1.
Evidens
12. Tingkat
Rekomendasi
13. Penelaah
Kritis
14. Indikator Syok dan serangan akut teratasi teratasi. Membaik.
15. Kepustakaan 1. Emergency treatment of anaphylactic reactions, guidelines for healthcare
provider Working Group of The Resuscitation Council(UK). 2008.
2. Pediatric anaphylaxis. 2007.
3. Anaphylaxis and emergency treatment. 2003.
4. Anaphylaxis: an overview of assessment and management.2010.
CLINICAL PATHWAY
Nama Pasien BB Kg
Jenis Kelamin TB Cm
Tanggal Lahir Tgl Masuk
Diagnosis Masuk RS Syok Anafilaksis Tgl.Keluar
Penyakit Utama Syok Anafilaksis Kode ICD : T78.2
Rencana Rawat
Komplikasi Kode ICD: /
R.Rawat/Klas
Tindakan Kode ICD: Ya/Yidak
Rujukan
Dietary Counseling and Survaillance

HARI PENYAKIT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 4 5 6 7 KETERANGAN

1. ASESMEN AWAL
ASESMEN AWAL Anamnesis
MEDIS Pemeriksaan Fisik
ASESMEN AWAL Perawat primer:
KEPERAWATAN Kondisi umum
Tingkat kesadaran
Tanda –tanda vital
Riwayat alergi
Skrining gizi
Risiko jatuh
Risiko decubitus
Kebutuhan edukasi dan budaya.
2. LABORATORI Darah rutin
UM GDS
Serum triptase
3. RADIOLOGI/
IMAGING
4. KONSULTASI Dokter spesialis anak
5. ASESMEN LANJUTAN
a. ASESMEN Anamnesis
MEDIS Pemeriksaan penunjang
b. ASESMEN Perawat primer:
KEPERAWATA Kondisi umum
N Tingkat kesadaran
Tanda –tanda vital
Riwayat alergi
Skrining gizi
Risiko jatuh
Risiko decubitus
Kebutuhan edukasi dan budaya
c. ASESMEN Melakukan pengkajian antropometri,
GIZI biokimia, fisik, klinis dan asupan makanan
d. ASESMEN
FARMASI
6. DIAGNOSIS Syok Anafilaksis
a. DIAGNISIS Syok Anafilaksis
MEDIS
b. DIAGNOSIS
KEPERAWATA
N
c. DIAGNOSIS Prediksi suboptimal asupan inadekuat
GIZI Persentasi capaian asupan
7. DISCHARGE
PLANNING
8. EDUKASI TERINTEGRASI

a. EDUKASI / Penjelasan diagnosis


INFORMASI Rencana terapi
MEDIS Informed consent
b. EDUKASI & Pemberian kalori dan protein sesuai
KONSELING Recommended Daily Allowance (RDA)
GIZI
c. EDUKASI
KEPERAWATA
N
d. EDUKASI
FARMASI
PENGISIAN
FORMULIR
INFORMASI DAN
EDUKASI
TERINTEGRASI
9. TERAPI MEDIKA MENTOSA
a. CAIRAN RL atau NaCl 0.9% sesuai kebutuhan cairan.
INFUS Hipotensi pesisten diberikan bolus infus
kristaloid 20-30 ml/kg dalam 1 jam
pertama
Cairan lainnya
b. INJEKSI Epinefrin konsentrasi 1:1000 dengan
dosis 0,01 mL/kg maksimal 0,3 ml per
kali disuntikkan intramuskular di daerah
mid-anterolateral paha. Dosis yang sama
dapat diulangi dengan jarak 5-15 menit
sampai 2–3 kali.
Antihistamin : Difenhidramin 1-2 mg/kg
maksimal 50 mg dapat disuntikkan
intramuskular atau intravena. Bila
diberikan intravena maka harus diberikan
secara infus selama 5-10 menit untuk
menghindari hipotensi.
Steroid: Bila diberikan segera setelah
kegawatan teratasi dapat mencegah
anafilaksis bifasik. Metilprednisolon dosis
1-2 mg/kg diberikan secara intravena
setiap 4-6 jam.
Bila hipotensi berlanjut perlu diberikan
dopamin atau epinefrin
c. OBAT ORAL

d. LAIN-LAIN Oksigen dengan kanul atau sungkup sesuai


klinis
Nebulisasi beta 2 agonis 0,1 mg/kgBB/kali +
NaCl 0,9% sampai 4 ml tiap 6 jam (bila
mengi)
10. TATA LAKSANA / INTERVENSI(TLI)
a. TLI MEDIS

b. TLI
KEPERAWAT
AN
c. TLI GIZI
d. TLI FARMASI
11. MONITORING DAN EVALUASI (Monitoring Perkembangan Pasien)
a. DOKTER
DPJP
b.
KEPERAWATAN
c. GIZI Monitoring asupan makanan
Monitoring antropometri
Monitoring Biokimia
Monitoring fisik / klinis terkait
gizi
12. MOBILISASI /REHABILITASI
a. MEDIS
b. KEPERAWAT
AN
c. FISIOTERAPI
13. OUTCOME / HASIL
a. MEDIS Gejala dan tanda syok menghilang
Klinis membaik
b. KEPERAWAT
AN
c. GIZI

d. FARMASI

14. KRITERIA Umum


PULANG
Khusus
15. RENCANA
PULANG/
EDUKASI
PELAYANAN
LANJUTAN
VARIAN

Bajawa,.............................

Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat peanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

( ) ( ) ( )

Keterangan,

Yang harus dilakukan


Bisa atau tidak
√ Bila sudah dilakukan

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

JUDUL
1. Pengertian (definisi)
2. Anamnesis
3. Pemeriksaan Fisik
4. Kriteria Diagnosis
5. Diagnosis Kerja
6. Diagnosis Banding
7. Pemeriksaan Penunjang
8. Tata Laksana :
9. Edukasi :
(Hospital Health
Promotion)
10. Prognosis
11. Tingkat Evidens
12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis
14. Indikator
15. Kepustakaan

CLINICAL PATHWAY
Nama Pasien BB Kg
Jenis Kelamin TB Cm
Tanggal Lahir Tgl Masuk
Diagnosis Masuk RS Tgl.Keluar
Penyakit Utama Kode ICD :
Rencana Rawat
Komplikasi Kode ICD: /
R.Rawat/Klas
Tindakan Kode ICD: Ya/Yidak
Rujukan
Dietary Counseling and Survaillance

HARI PENYAKIT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 4 5 6 7 KETERANGAN
16. ASESMEN AWAL
ASESMEN AWAL
MEDIS
ASESMEN AWAL
KEPERAWATAN
17. LABORAT
ORIUM

18. RADIOLO
GI/ IMAGING
19. KONSULT
ASI
20. ASESMEN LANJUTAN
e. ASESMEN
MEDIS
f. ASESMEN
KEPERAWATA
N
g. ASESMEN
GIZI
h. ASESMEN
FARMASI
21. DIAGNOS
IS
d. DIAGNISIS
MEDIS
e. DIAGNOSIS
KEPERAWATA
N
f. DIAGNOSIS
GIZI
22. DISCHAR
GE PLANNING
23. EDUKASI TERINTEGRASI

e. EDUKASI /
INFORMASI
MEDIS
f. EDUKASI &
KONSELING
GIZI
g. EDUKASI
KEPERAWATA
N
h. EDUKASI
FARMASI
PENGISIAN
FORMULIR
INFORMASI DAN
EDUKASI
TERINTEGRASI
24. TERAPI MEDIKA MENTOSA
e. CAIRAN
INFUS
f. OBAT ORAL
25. TATA LAKSANA / INTERVENSI(TLI)
e. TLI MEDIS

f. TLI
KEPERAWAT
AN
g. TLI GIZI
h. TLI FARMASI
26. MONITORING DAN EVALUASI (Monitoring Perkembangan Pasien)
b. DOKTER
DPJP
b.
KEPERAWATAN
d. GIZI Monitoring asupan makanan
Monitoring antropometri
Monitoring Biokimia
Monitoring fisik / klinis terkait
gizi
27. MOBILISASI /REHABILITASI
d. MEDIS
e. KEPERAWAT
AN
f. FISIOTERAPI
28. OUTCOME / HASIL
e. MEDIS

f. KEPERAWAT
AN
g. GIZI

h. FARMASI

29. KRITERIA Umum


PULANG
Khusus
30. RENCANA
PULANG/
EDUKASI
PELAYANAN
LANJUTAN
VARIAN

Bajawa,.............................

Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat peanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

( ) ( ) ( )

Keterangan,

Yang harus dilakukan


Bisa atau tidak
√ Bila sudah dilakukan