Anda di halaman 1dari 10

PENYESUAIAN YANG DIPERLUKAN DALAM MENYUSUN LAPORAN

POSISI KEUANGAN AWAL MENURUT STANDAR PELAPORAN


KEUANGAN INTERNASIONAL

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan laporan posisi keuangan menurut IFRS
1 antara lain:

1. Pendahuluan dalam kerangka dasar


a. Desain IFRS diperuntukan untuk entitas yang bersifat profitoriented
dan SME (Small Medium Enterprise). IFRS belum mengatur standar
akuntasi untuk perusahaan berbasis syariah
b. Memungkinkan penilaian aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud
menggunakan nilai wajar. Laporan keuangan harus disajikan dengan
basis true and fair (IFRS Frame Work Par 46)
c. Entitas harus membuat penrnyataan eksplisit tentang kepatuhan akan
standar IFRS
d. Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan
e. Menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan
transparansi, akuntabilitas dan keterbandingan laporan keuangan antar
entitas secara global.
f. Tidak lagi mengakui prinsip konservartif, namun diganti dengan
prinsip kehati-hatian (Prudence)
2. Pengungkapan dan penyajian laporan keuangan
a. Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas:
1) Laporan posisi keuangan (neraca)
2) Laporan laba rugi komperhensif
3) Laporan perubahan ekuitas
4) Laporan arus kas
5) Catatan atas laporan keuangan
6) Laporan posisi keuangan komperatif awal periode dan penyajian
petrospektif terhadap penerapan kebijakan akuntansi
b. Berdasar ilustrasi IFRS:
1) Aset:
Aset tidak lancar dan aset lancar
2) Ekuitas:
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepemilik entitas induk dan hak
non pengendali
3) Liabilitas
Liabilitas jangka panjang dan jangka pendek
c. Isitilah minority interest (hak minoritas) diganti menjadi non
controlling interest (hak non pengendali) dan disajikan dalam laporan
perubahan ekuitas.
d. Tidak mengenal pos luar biasa (extra ordinery item)
e. Laibilitas jangka panjang disajikan sebagai laibilitas jangka pendek
jika akan jatuh tempo dalam 12 bulan meskipun perjanijian
pembiayaan kembali sudah selesai setelah periode laporan dan
sebelum penerbitan laporan keuangan.
3. Laporan kas
a. Dianjurkan menggunakan metode langsung, namun metode tidak
langsung tetap diperbolehkan
b. Item pos luar biasa tidak diperbolehkan dalam IFRS
4. Persediaan
a. Pengukuran persediaan berdasarkan biaya atau net realizable value
(nilai realisasi bersih) amna yang lebih rendah.
b. IFRS melarang menggunakan metode LIFO ( Lest In First Out). Hanya
boleh menggunakan metode FIFO ( Lest In First Out) atau rata-rata
tertimbang.
5. Perubahan kebijakan dan prinsip akuntansi dan kesalahan mendasar
a. Dicatat secara retospektif dan dilakukan penyajian kembali terhadap
laba ditahan serta adanya penjelasan efek kumulatif perubahan pada
saat periode dilakukan perubahan.
b. Konsep kesalahan mendasar (fundamental error) dihapus dan diganti
dengan prior period error kesalahan periode lalu
c. Perubahan estimasi dicatat secara restrospektif dengan cara melakukan
penyesuaian atas laba atau rugi tahun terjadinya perubahan estimasi
dan laba rugi periode yang akan datang jika mempengaruhi keduanya
6. Peristiwa setelah tanggal neraca
a. Mengatur pengungkapan dan penyesuaian laporan keuangan terkait
peristiwa baik yang bersifat favorable dan anfavorable yang terjadi
antara akhir periode laporan hingga tanggal laporan keuangan
diotorisasi atau terbit.
b. Istilah Events After Balance Sheet date (peristiwa setelah tanggal
neraca) direvisi menjadi Event After Reporting Period (peritiwa
setelah period laporan).
c. Terdapat istilah tanggal laporan keuangan di otorisasi untuk terbit (the
date when the financial statement are autoriset for issue).
d. Terdapat pengungkapan fakta adanya pihak yang dapat mengubah
laporan keuangan setelah diterbitkan jika ada.
7. Kontrak kontruksi
IAS mengharuskan penggunaan metode persentase penyelesaian
(percentage of complition method) untuk melakukan pengakuan terhadap
pendapatan dan beban jika realisasi konstruksi dapat di estimasi dengan
andal. IAS 11 memberikan pedoman yang sangat terbatas dalam
menetukan estimasi realisasi kontrak.
8. Pajak penghasilan
a. IAS 12 mengatur tentang beda temporer (temporary defferents) antara
basis pajak dengan basis komersil yang dijadikan basisi dalam
mengakui aktiva atau kewajiban pajak tangguhan.
b. Mencakup perbedaan temporer akibat adanya hibah pemerintah
(goverment Grands ).
c. Pengakuan pajak tangguhan yang berasal dari Goodwill yang muncup
dari penggabungan usaha tidak diijinkan.
d. Tidak mengatur pengungkapan dari pos luar biasa.
e. Tidak mengatur tentang PPh Final
f. Tidak Mengatur tentang KP
g. Terdapat pengaturan beda temporer dari perbedaan basis pelaporan
fiskal dan komersial sebagai konsekuensi penerapan model revaluasi
sebagaimana diatur dalam IAS 16.
9. Aktiva tetap
a. Penerapan prinsip nilai wajar dalam penilaian aset. Aktiva dapat
diukur dengan menggunakan 2 pendekatan yaitu model revaluasi dan
model harga perolehan.
b. Nilai selisih akibat adanya nilai revaluasi disajikan dalam laporan laba
rugi dan ekuitas.
c. Metode penyusutan yang digunakan harus ditelaah secara periodik.
Koreksi akibat penelaahan ini akan diperlakukan sesuai IAS 8.
Dimungkinkan juga perubahan terhadap metode penyusutan jika dalam
hasil review terdapat perubahan signifikan dengan pola pemanfaatan
ekonomi yang diharapkan dari aktiva tersebut.
d. Manajemen harus melakukan review atas nilai residu dan masa
manfaaat aktiva setiap tahun. Jika terdapat perubahan,maka
disesuaikan denganmenggunakan IAS 8.
10. Sewa
a. Aktiva sewa pembiayaan dikapitalisasi jika kontrak sewa mengalihkan
secara substansial seluruh resiko dan manfaat terkait kepemilikan
aktiva. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa
tidak mengalihkan secara substansial seluruh resiko dan manfaaat
terkait kepemilikan aktiva.
b. kriteria yang harus dipenuhi untuk diklasifikasikan sebagai sewa
pembiayaan :
1. Pengalihan kepemilikan aktiva pada akhir masa sewa
2. Lesse Memiliki hak opsi untuk membeli dengan harga cukup
rendah diakhir masa sewa
3. Masa sewa meliputi sebagian besar umum ekonomis aktiva
4. Pada awal sewa nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum
mendekati nilai wajar aktiva
5. Aktiva sewa bersifat khusus dimana lesse yang menggunakannya
tanpa perlu modifikasi
c. Tidak mengatur tentang sewa pembiayaan tanah
11. Pendapatan
a. Pendapatan diakui jika dapat terukur dengan andal, manfaat ekonomis
yang probable. Jika pendapatan diakui dari transaksi penjualan, maka
pendapatan diakui jika resiko dan manfaat aktiva yang diperjualbelikan
telah dialihkan pada pembeli.
b. Pengakuan pendapatan pada industri khusus tidak diatur
12. Imbalan kerja
a. Imbalan kerja dibagi dalam 2 kelompok yaitu imbalan kerja jangka
pendek dan imbalan paska kerja.
b. Dengan menggunakan metode projektif unit kredit method
c. Tidak mengatur imbalan kerja ekuitas.
13. Hibah pemerintah
Hibah pemerintah, termasuk yang bersifat moneter, diakui ketika terdapat
kepastian bahwa entitas yang menerima akan memenuhi semua
persyaratan yang diharuskan dalam ketentuan. Hibah akan diakui sebagai
laba pada periode pelaporan dimana entitas mengeluarkan biaya untuk
memperoleh hibah tersebut.
14. Mata uang asing
a. Pengaturan tentang mata uang fungsional dan mata uang asing terdapat
di IAS 21 tentang The Effect of Changes In Foregen Exchange Rates
b. IAS 21 mengharuskan penggunakan indikator primer dan sekunder.
Indikator primer terdiri dari harga barang dan jasa, mata uang
pembayaran bahan baku, upah dan biaya lain. Indikator sekunder
terdiri dari mata uang dominan dalam pendanaan, operasional dan
hubungan anak perusahaan dan induk.
c. Proses penjabaran laporan keuangan dilakukan jika mata uang
pelaporan yang digunakan berbeda dengan mata uang fungsional (mata
uang dasar entitas bisnis dalam menyajikan laporan keuangan )
d. Jika mata uang fungsional laporan keuangan adalah mata uang suatu
ekonomi yang sedang mengalami inflasi diri, maka laporan keuangan
harus disajikan kembali sesuai IAS 29 tentang finansial reporting
inhyper Inflantion Economis.
15. Biaya pinjaman
Biaya pinjaman yang dapat diatribusikan langsung terhadap akuisisi,
konstruksi, atau produksi suatu aktiva harus dikapitalisasi sebagai bagian
biaya perolehan aktiva tersebut.
16. Hubungan istimewa
A. Definis dan kriteria pihak yang memiliki hubungan istimewa diatur
secara detail
B. Pengungkapan dilakukan secara luas termasuk pengungkapan ntentang
kompensasi yang diberikan perusahaan terhadap menajemen dan
karyawan kunci dalam bentuk imbalan jangka pendek, imbalan paska
kerja, imbalan jangka panjang, pemutusan hubungan kerja dan imbalan
saham.
C. Pengeliminasian akun ketika dilakukan konsolidasi laporan keuangan
harus diungkapkan.
17. Dana pensiun
a. Standar ini digunakan untuk seluruh entitas yang menyelenggarakn
program pensiun.
b. Laporan keuangan dibedakan antara :
 Dana pensiun iuran pasti, terdiri dari laporan aktiva bersih yang
tersedia untuk manfaat dan informasi terkait kebijakan
pendanaaan.
 Dana pensiun manfaat pasti, terdiri dari laporan informasi
aktiva bersih, nilai sekarang manfaat yang dijanjikan, serta
surplus dan defisit.
c. Penilaian investasi menggunakan nilai wajar
18. Laporan keuangan konsolidasi
a. Akun minority interest dihapuskan dan diganti dengan non
controllinginterest yang disajikan sebagai bagian ekuitas.
b. Pengendalian ada jika suatu entitas memiliki 50% hak suara, kecuali
dapat dibuktikan bahwa tidak ada pengendalian.
c. Laporan keuangan konsolidasi harus mencakup “semua” anak
perusahaan, kecuali jika akuisisi terhadap anak perusahaan termasuk
kriteria sebagai dimiliki untuk dijual, maka harus disajikan
sebagaimana diatur dalam IFRS 5 tentang Non- Current Assets Held
for Sale and Discountinued Operations.
d. Entitas induk dapat tidak menyajikan laporan keuangan konsolidasi
jika :
 Entitas induk tersebut adalah entitas anak yang dimilikinya,
atau entitas anak yang dimiliki sebagian oleh entitas lainnya
dan pemilik lain, termasuk pihak yang tidak memiliki hak
suara, yang telah diinformasikan dan tidak menolak entitas
induk tersebut untuk tidak menyajikan laporan keuangan
konsolidasian.
 Instrumen utang dan instrumen ekuitas entitas induk tersebut
tidak diperdagangkan di pasar publik.
 Entitas induk sedang tidak dalam proses menerbitkan
sekukritas ke publik.
 Entitas induk akhir atau entitas induk antara telah
menghasilkan laporan keuangan konsollidasi sesuai IFRS.
e. IFRS mengijinkan penggunaan 2 pendekatan, yaitu pendekatan
proporsi kepemilikan dan pendekatan nilai wajar.
19. Investasi di perusahaan asosiasi
a. Terdapat pengaturan rinci tentang penjabaran dan selisih penjabaran
mata uang asing terdapat nilai investasi yang dicatat dengan
menggunakan metode ekuitas.
b. Terdapat pengaturan tentang cara pembuktian pengaruh signifikan
suatu perusahaan sehingga perusahaan invest dikatagorikan sebagai
perusahaan asosiasi.
20. Pelaporan dalam kondisi ekonomi hiperinflasi
a. Kriteria kondisi hiperinflasi :
 Penduduknya lebih memilih untuk menyimpan kekayaan
mereka dalam bentuk aset non moneter/ dalam mata uang asing
yang relatif stabil.jumlah mata uang lokal yang dimiliki segera
diinvestasikan untuk mempertahankan daya beli.
 Penduduknya mempertimbangkan jumlah mmoneter bukan
dalam mata uang lokal tetapi dalam mata uang asing yang
relatif stabil. Harga-harga mungkin dikuotasikan dalam mata
uang asing tersebut.
 Harga yang berlaku dalam penjualan dan pembelian secara
kredit ditentukan dengan memasukan faktor ekspektasi
hilangnya daya beli selama periode kredit, bahkan jika periode
kreditnya singkat.
 Suku bunga , upah dan harga dikalikan dengan indeks harga
dan ,
 Tingkat inflasi kumulatif selama 3 tahun mendekati atau
melebihi 100%
b. Terdapat prosedur detail bagaimana cara menyajikan kembali akun-
akun dalam laporan keuangan
21. Modal ventura
a. Kerjasama operasi dibagi atas 3 skema yaitu pengendalian bersama
operasi, pengendalian bersama aktiva dan pengendalian bersama
entitas.
b. Menggunakan metode ekuitas atau metode proporsional
22. Laporan keuangan interim
a. Penyajian laporan keuangan interim harus dilakukan secara komparatif
dengan periode interim tahun sebelumnya untuk laporan laba rugi, arus
kas dan laporan perubahan ekuitas. Namun neraca periode interim
dibandingkan dengan neraca tahunan yang terakhir.
b. Manajemen dapat menyajikan laporan keuangan dengan format
ringkas (Condensed financial statement) dengan selektif explanatory
notes.
23. Penurunan nilai aktiva
a. Penurunan nilai aktiva tidak boleh melampaui batas nilai tercatatnya
b. Perusahaan tidak tiperkenankan melakukan reversal atas penurunan
nilai Goodwill pada periode interim sebelumnya.
24. Agrikultur
a. Mengatur penyajian aktiva biologi dan produk pertanian serta
pelaporannya yang menggunakan nilai wajar
b. Menggunakan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (konsep
akresi) selisihnya dimasukan ke laporan laba rugi
25. Restrukturisasi utang bermasalah
Tidak diatur dalam satu standar khusus, namun tersirat dalam IAS 23
tentang Borrowing Cost dan IAS 37 tentang Provisions Contigent
Liabillities and Contigent Assets.
26. Aset
Tidak diatur dalam suatu standar khusus.

KEBIJAKAN AKUNTANSI

Kebijakan akuntansi adalah mengenai bagaimana memilih kebijakan


akuntansi. IAS 8 atau PSAK 25 ini mengatur hirerarki atau urutan acuan yang
perlu kita ikuti dalam rangka memilih sesuatu kebijakan akuntasi.
Dalam suatu periode akuntansi mewajibkan kita untuk menerapkan
kebijakan ini secara konsisten sepanjang tidak terdapat standar akuntansi yang
secara spesifik mengatur berbeda. Apabila terdapat standar yang mengatur
spesifik yang berbeda maka kita harus mengacu ke standar tersebut dan
menerapkannya secara konsisten.

Perubahan kebijakan akuntansi diperbolehkan jika:

1. Dibutuhkan perubahan berdasarkan IFRS


2. Hasil dari laporan keuangan menghasilkan informasi yang relevan dan
handal untuk keperluan bisnis

Ada beberapa ketentuan yang harus ditaati sebelum merubah kebijakan


akuntasi yang ada
1. Dalam kondisi terdapat standar akuntansi yang mengatur secara spesifik
Mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam standar tersebut.
Namun ketentuan dalam paragraf selanjutnya memberikan sedikit
kelonggaran yaitu diizinkan untuk tidak mengikuti ketentuan dalam
suatu standar dalam kondisi dampak penerapannya tidak material dan
tidak dimaksudkan untuk mencapai tujuan suatu penyajian tertentu yang
dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pelaporan keuangan untuk
menghasilkan laporan keuangan yang berisi informasi relevan dan
handal.
2. Dalam kondisi tidak terdapat standar akuntansi yang mengatur secara
spesifik
Jika tidak terdapat standar akuntasi yang secara spesifik mengatur
transaksi yang dilakukan oleh suatu perusahaan, maka management dari
perusahaan tersebut diberikan kewenangan untuk menggunakan
pertimbangannya sendiri untuk menentukan kebijakan akuntansi bagi
transaksi tersebut. Kebijakan akuntansi yang dipilih harus menghasilkan
informasi yang relevan dan handal dengan beberapa kriteria
sebagaimana disebutkan dalam paragraf diatas. Ketentuan ini
memperjelas arti pentingnya pencapaian tujuan dibuatnya standar
akuntansi yaitu untuk menghasilkan informasi yang relevan dan handal.

PERIODE PELAPORAN

Tanggal pelaporan (Reporting Date) adalah tanggal neraca untuk laporan


keuangan pertama yang secara eksplisit menyatakan bahwa laporan tersebut
sesuai dengan IFRS. Laporan keuangan disusun sekurang-kurangnya sekali dalam
sa

satu tahun. Jika entitas mengubah periode pelaporan dan menyusun laporan
keuangan untuk periode yang bukan satu tahun, entitas harus mengungkapkan
alasan perubahan itu dan menegaskan bahwa jumlah-jumlah yang disajikan tidak
sepenuhnya dapat dibandingkan.

PENGECUALIAN OPSIONAL DARI STANDAR PELAPORAN KEUANGAN


INTERNASIONAL LAINNYA

Sebuah entitas juga harus membuat laporan posisi keuangan IFRS


pembuka pada tanggal transisi IFRS. Tanggal transisi IFRS adalah awal periode
dimana sebuah entitas menyajikan informasi komperatif berdasarkan IFRS dalam
laporan keuangan IFRSnya. Sebagai contoh, bila berdasarkan target IAI Indonesia
akan full convergence pada 1 Janurai 2012, itu artinya pada laporan keuangan
akhir tahunnya per 31 Desember 2012 semua perusahaan di Indonesia harus
membuat laporan keuangan komperatif per 31 desember 2011 juga, dan juga
harus menyajikan laporan posisi keuangan (hanya laporan posisi keuangan saja)
pada awal periode komperatif yaitu per 1 Januari 2011. Sehingga dalam contoh ini
tanggal transisi IFRS adalah tanggal 1 Januari 2011 (dalam IFRS 1, tanggal ini
disebut dengan laporan posisi keuangan IFRS pembuka (opening IFRS statment
offinancial position)). Penerapan mundur ini disebut dengan istilah restrospektif.

PENGECUALIAN MANDATORI TERHADAP PENERAPAN BERLAKU


SURUT STANDAR PELAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL
LAINNYA

Tahun pertama perusahaan menerapkan IFRS memberikan kejadian unik


ketika akan melaporkan laporan keuangan ditahun tersebut, karena persyaratan
transisi dari IFRS 1, laporan keuangan untuk setidaknya satu tahun sebelum
pergeseran yang tersedia dibawah dua set standar akuntansi: GAAP lokal dan
IFRS. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan Indonesia bergeser ke IFRS pada
tahun 2009, itu diperlukan untuk menyajikan laporan keuangan komparatif
restrospektif disesuaikan dengan IFRS untuk setidaknya satu tahun sebelum tahun
2009, yaitu untuk tahun 2008. Dalam hal ini, laporan keuangan penuh 2008 yang
tersedia dibawah kedua PSAK Indonesia dan IFRS, termasuk neraca pembukaan.
Hal ini memungkinkan untuk perbandingan dan identifikasi perbedaan anatara
mereka. Namun, perbandingan itu tidak sepenuhnya tepat sebagai IFRS 1
dipersalahkannya pengecualian tertentu dan pembebasan. Dalam aplikasi
retrospektif, SAK efektif pada tanggal pelaporan sepenuhnya diterapkan tidak
termasuk pengecualian wajib dan pengecualian opsional. Pengecualian dan
pembebasan dari IFRS 1 adalah satu kali perawatan yang mungkin tidak mewakili
aplikasi yang sedang berlangsung dari SAK. Pengecualian mengacu pada
kebijakan akuntansi yang tidak retrospektif karena mereka biasanya akan
membutuhkan pengecualian, pada gilirannya, memberikan perlakuan akuntansi
beberapa alternatif yang tersedia secara opsional.

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN

Basis penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose


finacial statments) diatur dalam IAS 1 yang sebagian besar ketentuannnya
diabdosi di Indonesia menjadi PSAK 1. Laporan keuangan bertujuan umum,
selanjutnya disebut laporan keuangan, adalah laproan keuangan yang
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang tidak berada dalam
pisisi untuk meminta entitas menyiapakan laporan untuk memenuhi kebutuhan
informasi mereka. Semua laporan keuangan harus disajikan dan dipandang sama
pentingnya.

Penerapan IFRS atau SAK dengan pengungkapan tambahan yang


diperlukan seharusnya akan menghasilkan laporan keuangan yang menyajikan
secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas.
Penyajian wajar berarti menggambarkan secara apa adanya (jujur) dampak
transaksi, kejadian, serta kondisi lainnya sesuai dengan definisi dan kriteria
pengakuan aset, liabilitas, penghasilan, dan beban yang dinyatakan dalam
kerangka konseptual.

Anda mungkin juga menyukai