Anda di halaman 1dari 20

2.

1 Analisis Masalah
1. Ny. DP, berusia 35 tahun P6A0 dirujuk oleh bidan desa ke Ruang PONEK RSUD. Ia
mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam 1 jam yang lalu.
Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2700 gram, bugar dan langsung menangis.
a. Apa sistem yang terlibat pada kasus?
repro
b. Bagaiamana anatomi, histologi, dan fisiologi dari sistem reproduksi wanita?
Sm ck ske A
c. Apa hubungan usia dan status P6A0 dengan keluhan pada kasus?
Usia 35th
P6 : Partus sudah terjadi 6 kali
A0 :Abortus belum pernah terjadi
Dan ini menandakan bahwa status Ny. DP sudah Grande multipara.
1. Para adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya
2. Nulipara adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi viable
3. Primipara adalah seorang wanita yang melahirkan bayi hidup untuk pertama
kali
4. Multipara atau pleuripara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable
beberapa kali (sampai 5 kali)
5. Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali
atau lebih, hidup ataupun mati.
(Norwitz, E. 2010)
Hub:
Menurut Depkes (2008), masa reproduksi sehat yaitu pada umur 20-35 tahun.
Pada umur >35 tahun fungsi alat reproduksi dan fisik akan menurun. Risiko
mengalami perdarahan postpartum 3,3 kali lebih besar pada umur >35 tahun
dibanding dengan ibu umur 20-30 tahun. Perdarahan postpartum meningkat
sesuai dengan umur ibu.
Pada kasus, Ny. DP melahirkan pada usia 35 tahun, dimana pada usia tersebut
sudah terjadi penurunan fungsi alat reproduksi (daya kontraksi uterus menurun)
dan fisik juga menurun.
Jumlah kehamilan yang multiparitas (paritas tinggi) merupakan faktor risiko
terjadinya perdarahan postpartum karena jumlah pembuluh darah uterus
menurun sebagai akibat dari implantasi plasenta pada kehamilan-kehamilan
sebelumnya.

d. Apa makna mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam 1 jam


yang lalu?
Perdarahan postpartum adalah perdarahn lebih dari 500-600 ml dengan masa 24
jam setelah anak lahir. Dalam pengertian ini dimaksudkan juga perdarahan
karena retensio plasenta.
Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian:
a. perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorage) yang terjadi
dalam 24 jam setelah anak lahir.
b. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorage) yang terjadi
setelah 24 jam, biasanya antara hari ke 5 sampai 15 postpartum
Kehamilan spontan pervaginam merupakan proses persalinan yang normal,
kemudian telah terjadi perdarahan sejak 30 menit yang lalu menandakan bahwa
Ny. B telah mengalami perdarahan post partum (Hemorrhagic Post Partum)
primer karena terjadi perdarahan setelah kelahiran dengan interval waktu kurang
dari 24 jam. (saifudin, 2013)

e. Apa penyebab perdarahan setelah melahirkan (post partum)?


Penyebab perdarahan post portum menurut Rustam 2000 antara lain

antonia uteri.

Faktor presdisposisi terjadinya antonia uteri adalah:

1) Persalinan yang terlalu cepat (partus precipitatus).

Kontrak uterus yang terlalu kuat dan terus menerus selama kala I dan kala

II persalinan (kontraksi yang hiperernik), maka otot-otot uterus akan

kekurangan kemampuannya untuk beretraksi setelah bayi lahir.

2) Umur telalu muda atau terlalu tua (kurang dari 20 tahun atau lebi dari 35

tahun)

3) Perietas sering terjadi atau dijumpai pada grande multipara dan multipara
4) Partus lama

Dapat menyebabkan terjadinya inersia uteri karena kelelahan pada otot-

otot uterus(Dep Kes RI,1999).

5) Uterus terlalu tegang dan besar misalnya pada (gemeli, hidramnion, atau

janin besar). Pada kondisi ini miometrium teregang dengan hebat sehingga

kontraksinya setelah kelahiran bayi menjadi tidak efisien.(Varley,2000)

6) Riwayat perdarahan post partum atau retensio plasenta pada persalinan

terdahulu. pada kondisi ini akan timbul resiko terjadinya hal yang sama

pada persalinan yang sekarang.

7) Stimulasi dengan oksitoksin atau protaklandin. Dapat menyebabkan

terjadinya inersia sekunder karena kelelahan pada otot-otot

uterus(Cunningham,2000).

8) Perut bekas seksio sesaria , miomektomi atau histerorafia. Keadaan

tersebut akan mengganggu kontraksi rahim(Arias,1999).

9) Anemia.

10) Wanita yang mengalami anemia dalam persalinan dengan kadar

hemoglobin 10g/dl,akan dengan cepat terganggu kondisinya bila terjadi

kehilangan darah meskipun hanya sedikit. Anemia dihubungkan dengan

kelemahan yang dapat dianggap sebagai penyebab langsung atonia uteri

(Dep Kes RI, 1999).sedangkan penyebab anemia dalam kehamilan adalah:

a) Kurang gizi(malnutrisi).

b) Kurang zat besi.

c) Malabsorbsi.

d) Kehilangan darah yang banyak pada persalinan yang lalu, dan haid.

Sosia ekonomi yaitu mal nutrisi


11) Sisa ketuban dan selaput ketuban

12) Jalan lahir seperti robekan perineum, robekan vagina, robekan serviks,

forniks dan rahim

13) Penyakit darah, kelainan pembekuan darah atau hipofibrinogenia dan

sering dijumpai pada :

a. Sclusio plasenta
b. Kematian janin yang lama dalam kandungan
c. Pre eklamasi dan eklamasi
d. Infeksi, hepatitis, dan septik syok.

f. Apa makna berat bayi yang dilahirkan 2700gr dan langsung menangis?
g. Bagaimana klasifikasi berat bayi baru lahir?
h. Apa tanda-tanda inpartu?
i. Bagaimana cara penilaian APGAR SCORE?
j. Berapa APGAR SCORE pada kasus?
k. Apa klasifikasi dari perdarahan post partum?
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih 500 – 600 ml
dalam masa 24 jam setelah anak lahir, menurut waktu terjadinya dibagi
atas 2 bagian :
a. Perdarahan post partum primer (early post partum hemorrhage)
yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir.
b. Perdarahan post partum sekunder (late post partum hemorrhage)
yang terjadi setelah 2 Perdarahan postpartum adalah perdarahan
lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk
perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan post partum adalah
perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam
setelah anak dan plasenta lahir . (Prof.Dr.RustamMochtar,MPH,199)
Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2,
yaitu:
1) Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
2) Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi
lahir. 4 jam biasanya antara hari ke 5 sampai 15
l. Apa saja pelayanan yang terdapat di ruangan PONEK RSUD?
m. Kriteria ruang PONEK?
n. Apa tujuan ruang PONEK?
o. Bagaimana fisiologi persalinan normal?
p. Bagaimana patofisiologi perdarahan post partum?
q. Bagaimana tatalaksana perdarahan post partum?

2. Menurut bidan, proses pengeluaran janin berlangsung lama ±2 jam dan bayi baru bisa
lahir setelah dibantu bidan dengan mendorong perut ibu.
a. Apa makna proses pengeluaran janin berlangsung lama 2 jam dan bayi baru bisa
lahir setelah dibantu bidan dengan mendorong perut ibu?
b. Apa penyebab proses pengeluaran janin berlangsung lama?
c. Apa hubungan persalinan lama dengan keluhan perdarahan?

3. Plasenta yang dikeluarkan lengkap tetapi Rahim teraba lembek disertai perdarahan
banyak dan aktif.Bidan telah mencoba menghentikan perdarahan dengan cara
memberikan suntikan obat, karena perdarahan tidak berhenti psien dirujuk. Menurut
bidan perdarahan Ny. DP banyak dan diperkirakan lebih dari 500 cc.
a. Apa makna plasenta yang dikeluarkan lengkap tetapi Rahim teraba lembek
disertai perdarahan banyak dan aktif?
Plasenta lahir lengkap: menandakan bahwa perdarahan yang terjadi bukan
karena plasenta yang tertinggal ataupun sisa plasenta yang tertinggal.
Rahim teraba lembek disertai perdarahan banyak dan aktif:
Maknanya telah terjadi atonia uteri yaitu keadaan lemahnya tonus atau
kontraksi dari myometrium rahim (uterus yang atonik akan lembek dan tidak
keras pada palpasi ) yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup
perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta
lahir (Cunningham, FG. 2005)

b. Bagaimana gambaran plasenta yang lengkap?


Plasenta Normal
Plasenta normal Ukuran dan Bentzik. Placenta berbentuk cakrarn yang bundar atau

lonjong (oval), inempuny.a ukuran 20 x 15.cm dan tebal 1.5 sampai 2.0cm. Berat
placenta, yang biasanya 20 persen dari berat janin, berkisar antara 425 dan.550
g.Pada sisi uterus terdapat delapan atau lebih cotyledon maternal yang dipisahkan
oleh alur-alur (fissura).Istilah cotyledon fetal mengacu pada bagian plasenta yang
mendapat suplai darah dari pembuluh villus utama dan cabang- cabangnya.permukaan
maternal ditutupi oleh lapisan deciduadan fibrin yang ikut keluar bersama-sama
plasenta pada kelahiran.Sisi fetal ditutupi oleh membrane atau selaput ketuban.

Lokasi. Secara normal plasenta tertanam pada bagian atas uterus . Kadang- kadang
plasenta berada pada segmen bawah dan adakalanya terletak di atas cervik. Keadaan
terakhir ini disebut dengan istilah placenta previa dan menjadi penyebab timbulnya
perdarahan dalam trimester ketiga.Kadang-kadang pemeriksaan ultrasonic pada
kehamilan dini menunjukkan adanya plasenta di bagian bawah yang merupakan
indikasi bagi plasenta previa, tetapi dalam pemeriksaan ulang pada kehamilan lanjut
ditemukan plasenta pada segmen atas. Mungkin pertumbuhan normal plasenta
menjauhi cervik.
RETENTIO PLACENTAE

Retentio placentae dalam uterus dapat dibagi menjadi empat kelompok:

1.Terpisah tapi tertahan: Di sini tidak ada tenaga yang dalam keadaan

normal mendorong placenta keluar.

2. Terpisah tapi terperangkap (inkarserata): Konstriksi rahirn yang

berbentuk jam-pasir (hourglass) atau spasme cervix menyebabkan

placenta terperangkap dalam segmen etas uterus.


3. Melekat tapi dapat dipisahkan (adhesiva): Dalam situasi ini, placenta tidak

dapat terlepas sendiri dari dinding rahim. Penyebabnya mencakup kegagalan

kontraksi-normal dan retraksi pada kala tiga, defek anatomis dalam uterus,

dan abnormaiitas decidua yang mencegah terbentuknya lempeng pemisahan

decidua yang normal.

4. Melekat tapi tidak dapat dipisahkan: Di sini berupa placenta acreta dengan

berbagai

derajat. Decidua normal tidak ada, dan villi chorialis melekat langsung serta

menembus myometrium.

Teknik Pengeluaran secara Manual

Pengeluaran placenta yang tertahan secara manual tidak lagi ithanggap

berbahaya sebagaimana anggapan yang pernah ada. Banyak hasil yang jelek

dari prosedur ini disebabkan oleh tindakan yang ditunda terlampau lama

sampai perdarahan menyebabkan masuknya pasien ke dalam keadaan yang

berbahaya. Kalau ada perdarahan, placenta harus segera dikeluarkan. tidak

disertai perdarahan dan pasien berada dalam kondisi yang balk, diper-

bolehkan menunggu selama 30 menit.

Apabila pasien mengalami perdarahan secara aktif, dipasang infus intravena

dan disediakan darah. Anesthesi diperlukan. Prosedur dilaksanakan dalarn

kondisi aseptik.
Gambar 1. Pengeluaran placenta secara manual

Uterus dipegang dengan salah satu tangan pada bagian fundus lewat dinding

abdomen ibu (Gambar 1). Tangan lainnya dimasukkan ke dalam vagina dan

Jewat

Sumber : Harry Oxorn, 2003

c. Apa penyebab rahim terasa lembek?


d. Apa kemungkinan suntikan obat yang diberikan pada pasien?
1. Pastikan kontraksi uterus baik: lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan
bekuan darah. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan menghalangi
kontraksi uterus yang efektif.
2. Lalu berikan 10 unit oksitosin IM dan infuse 20 unit dalam 500 ml NS/RL 40
tetes-guyur infuse untuk restorasi cairan dan jalur obat esensial. (Prawirohadjo
Sarwono, 2013)
e. Apa faktor resiko rahim terasa lembek?
f. Bagaimana patofisiologi Atoni Uteri?
g. Apa makna perdarahan lebih dari 500 cc?
Untuk menegakkan diagnosis HPP yaitu atonia uteri apabila setelah bayi dan
plasenta lahir, ternyata pendarahan masih aktif dan pendarahan sebayak 500-
1000cc yg sudah keluar dan masih terperangkap dalam uterus. (Saifudin, 2013)

h. Apa dampak perdarahan perdarahan post partum lebih dari 500 cc?
i. Mengapa perdarahan tidak berhenti setelah diberi obat?
j. Bagaimana proses pengeluaran plasenta?
k. Bagaimana manajemen aktif kala III?

l. Bagaimana tatalaksana Atonia Uteri?

4. Ny. DP hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC dibidan desa yaitu pada
kehamilan 8 bulan.Pada saat itu, Ny. DP terlihat pucat dan lemas dan hasil
pemeriksaan darah: kadar Hb 8 g/dl. Bidan telah menganjurkan untuk dirawat tapi
Ny, DP menolak karena tidak ada biaya.
a. Apa makna Ny.DP hanya melalukan ANC sekali yaitu pada saat 8 bulan?
b. Berapa kali standar kunjungan pemeriksaan ANC?
c. Apa standar pelayanan ANC?
d. Apa makna Ny. DP terlihat pucat, lemas dan Hb 8 g/dl?
Anemia gravidarum adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin di bawah
11 g% pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 g% pada trimester 2.
(Prawirohardjo Sarwono, 2013)

e. Apa indikasi rawat pada ibu hamil?


f. Bagaimana hubungan anemia dengan perdarahan post partum?
Hubungan Anemia dengan HPP
Faktor sosiekonomi rendah  intake nutrisi selama kehamilan inadekuat 
asupan zat besi menurun  diperberat oleh faktor grandemultipara  kebutuhan
Fe-nya sudah terpakai oleh kehamilan sebelumnya  terganggunya eritropoesis
 Hb darah menurun  anemia selama kehamilan  suplai O2 ke uterus
berkurang  ATP menurun  kontraksi uterus lemah (atonia uteri)  serabut
otot di miometrium tidak dapat menjepit pembuluh darah  perdarahan terbuka
 HPP
(Anwar M, dkk. 2011)

Anwar M, baziad A, prabowo RP. 2011. Ilmu Kandungan Edisi 3. Jakarta : PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo

g. Apa hubungan anemia dengan kehamilan (dampak)?


h. Apa penyebab anemia dengan kehamilan?
Penyebab anemia pada kehamilan :
1) Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin
2) Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi ibu hamil
3) Pola makan ibu terganggu akibat mual selama kehamilan
4) Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi (Fe)
5) Pada wanita akibat persalinan sebelumnya dan menstruasi.
Faktor Resiko Anemia pada Ibu Hamil
1) Umur < 20 tahun atau > 35 tahun
2) Perdarahan akut
3) Pekerja berat
4) Makan < 3 kali dan makanan yang dikonsumsi kurang zat besi

i. Bagaimana tatalaksana anemia?


Anemia dalam kehamilan dapat pula diberikan edukasi, berupa:
1. Mengkonsumsi pangan lebih banyak dan beragam, contoh sayuran warna hijau,
kacang – kacangan, protein hewani, terutama hati.

2. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C seperti jeruk, tomat, mangga dan
lain – lain yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi
3. Mengindari makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi yaitu kopi dan teh.

Asyirah, sitti. 2012. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Anemia pada IbuHamil
di Wilayah Kerja Puskesmas Bajeng. Jakarta: Universitas Indonesia

j. Apa dampak tidak dirawat?


k. Apa hubungan social ekonomi dengan anemia Ny.DP?
l. Apa pemeriksaan penunjang untuk memeriksa Anemia selama anemia?

5. Pemeriksaan Fisik:
Keadaan umum: tampak sakit sedang, kesadaran: compos mentis
Tanda Vital: TD: 80/60mmHg, N: 124x/menit lemah, regular, isi kurang; RR:
28x/menit, T: 36oC
Kepala: konjungtiva pucat
Thoraks: jantung dan paru-paru dalam batas normal
Abdomen: Hepar dan lien dalam batas normal
Ekstremitas: akral dingin.
a. Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaaan khusus?
Interpretasi pemeriksaan fisik:
 Somnolen: penurunan kesadaran
 TD 80/60 : hipotensi (120/80 mmHg)
 Nadi 124x/menit : takikardi (60-100x/mnt)
 RR 28x/ menit : takipnea (16-24x/mnt)
 Temperatur 36 0C: hipotermi (36,5-37,20C)
Interpretasi pemeriksaan spesifik:
 Kepala : konjungtiva pucat  anemia
 Ekstremitas : akral dingin  tanda syok hipovolemi

b. Bagaimana patofisiologi hasil abnormal pada kasus?


Takikardi
Perdarahan  Hipovolemi  suplai oksigen menurun  Tekanan darah menurun 
kompensasi homeostasis  memicu saraf simpatis miokardium untuk berkontraksi
lebih cepat  takikardi.
Perdarahan  suplai oksigen menurun  nadi lemah, reguler, isi kurang
Hipotensi
Suplai oksigen menurun  volume darah disirkulasi inadekuat  hipotensi.
Takipnea
Perdarahan  Hipovolemi & anemia  suplai darah kejaringan menurun  aktivasi
pons sebagai pusat pernapasan  frekuensi pernapasan ditingkatkan untuk memenuhi
kebutuhan jaringan  takipnea.
Hipotermi
Perdarahan  Hipovolemi  Tekanan darah menurun  kompensasi mediator
vasokonstriksi  vasokonstriksi didaerah perifer  kompensasi hipotermi.

6. Pemeriksaan Obstetri:
Palpasi: teraba fundus uteri setinggi pusat dan kontraksi lembek
Inspekulo: Fluxus (+) darah aktif, stolsel, robekan jalan lahir tidak ada
a. Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik obsterti?
Fundus uteri setinggi pusat: Tidak terjadi kontraksi uterus sehingga fundus uteri
setinggi pusat (umbilikus), (normal: 2 jari dibawah termasuk umbilikus setelah
kelahiran bayi).
Fluksus (+) darah aktif : Menunjukkan terdapat banyak darah yang keluar melalui
ostium eksternum
Stolsel (+) : Menunjukkan adanya bekuan darah
Tidak ada robekan jalan lahir  menunujukkan perdarahan yang terjadi bukan
dikarenakan adanya robekan jalan lahir.

b. Bagaimana patofisiologi dari hasil pemeriksaan fisik obstertiabnormal?


Fluksus (+)
Penurunan kontraktilitas dan elastisitas otot uterus  atonia uteri  daerah perlukaan
bekas nidasi dari plasenta tidak tertutup  HPP (Hemorragi Post Partum)  fluksus
(+)
Stolsel (+)
Penurunan kontraktilitas dan elastisitas otot uterus  atonia uteri  daerah perlukaan
bekas nidasi dari plasenta tidak tertutup  HPP (Hemorragi Post Partum)  Respon
pembekuan darah  stosel (+)

c. Bagaiman cara pemeriksaan Leopold?


d. Bagaimana cara menentukan usia kehamilan bedasarkan TFU?
e. Apa indikasi dan kontraindikasi vaginal toucher?

7. Pemeriksaan Laboratorium
Darah rutin: Hb: 6 gr%, gol. Darah: B rhesus (+), trombosit: 170.000/mm3, Ht: 18
mg%
a. Apa interpretasi dari pemeriksaan laboratorium?
Pem. Interpretasi Mekanisme
Laboratorium
Hb 6 gr% Anemia Faktor predisposisi (sosio-ekonomi rendah, usia
35 tahun, riwayat partus 6 kali, anemia dalam
kehamilan)  menurunkan kontraksi uterus
segera setelah plasenta lahir  mengganggu
hemostasis pada lokasi implantasi  perdarahan
postpartum  volume darah tubuh menurun +
riwayat anemia dalam kehamilan  hemoglobin
menurun (6 gr%)
Gol. Darah B, Normal Berguna untuk membantu mentatalaksana
rhesus (+) berupa tranfusi darah
Ht 18mg% Abnormal = Faktor predisposisi (sosio-ekonomi rendah, usia
normalnya 35 tahun, riwayat partus 6 kali, anemia dalam
40-50 % kehamilan)  menurunkan kontraksi uterus
segera setelah plasenta lahir  mengganggu
hemostasis pada lokasi implantasi  perdarahan
postpartum  volume darah tubuh menurun +
riwayat anemia dalam kehamilan volume
eritrosit (hematokrit) menurun (18 mg%)

b. Bagaimana patofisiologihasil pemeriksaan laboratoriumabnormal?

8. Jika semua gejala dikumpulkan maka:


a. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus ini?
1. Anamnesis: perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam 1 jam yang lalu,
rahim teraba lembek disertai perdarahan banyak dan aktif.
2. Pemeriksaan fisik: somnolen, hipotensi, takikardi, takipnea, hipotermi.
3. Pemeriksaan obstetri:
 Palpasi: kontraksi uterus lembek dan teraba fundus uteri setinggi pusat.
 Inspeculo: fluksus (+) darah aktif, stolsel (+)
4. Pemeriksaan laboratorium: anemia

b. Apa diagnosis banding pada kasus ini?


Gejala dan tanda Penyulit Diagnosis
kerja
Uterus tidak berkontraksi dan lembek. Syok Atonia uteri
Perdarahan segera setelah anak lahir Bekuan darah pada
(Perdarahan Pascapersalinan Primer serviks atau posisi
atau P3) telentang akan
menghambat aliran darah
ke luar.
Darah segar yang mengalir segera Pucat Robekan jalan
setelah bayi lahir (P3). Lemah lahir
Uterus berkontraksi dan keras. Menggigil
Plasenta lengkap.
Plasenta belum lahir setelah 30 menit. Tali pusat putus akibat Retensio
Perdarahan segera (P3). traksi berlebihan. plasenta
Uterus berkontraksi dank eras. Inversion uteri akibat
tarikan.
Perdarahan lanjutan.
Plasenta atau sebagian selaput Uterus berkontraksi Tertinggalnya
(mengandung pembuluh darah) tidak tetapi tinggi fundus tidak sebagian
lengkap. berkurang. plasenta
Perdarahan segera (P3).
Uterus tidak teraba. Neurogenik syok. Inversio uteri
Lumen vagina terisi massa. Pucat dan limbung.
Tampak tali pusat (bila plasenta belum
lahir).
Sub-involusi uterus. Anemia. Endometritis
Nyeri tekan perut bawah dan pada Demam. atau sisa
uterus. fragmen
Perdarahan (Sekunder atau P2S). lokhia plasenta
mukopurulen dan berbau (bila disertai (terinfeksi atau
infeksi). tidak)
Post Partum
Post Partum
Hemorrage Kasus
Hemorrage Primer
Sekunder
 Atonia uteri
 Sisa plasenta
 Laserasi jalan lahir
 Subinvolusi di daerah
 Hematoma
Etiologi insersi plasenta Atonia uteri
 Lain-lain (sisa
 Luka bekas seksio
plasenta, ruptur dan
sesaria
inversio uteri)
Grande
+ + +
Multigravida
Baby Giant + + -
Jumlah
> 500 cc > 500 cc -
perdarahan
Lama 30 menit
< 24 jam pertama > 24 jam pertama
perdarahan pertama
Jenis
Deras/merembes merembes merembes
perdarahan
+
Anemia + + (micrositik
hipocromik)
80/60
Blood Pressure  
mmHg
Pulse Rate   124 x/menit
Respiration
  28 x/menit
Rate
 Atonia uteri :
membesar dan
lembek
Lembek
 Laserasi jalan lahir : Kelainan uterus
Uterus dan setinggi
keras (subinvulsi uterus)
pusat
 Ruptur uteri : scar
 Inversio : tidak
teraba
Akral
Ekstremitas Akral dingin Akral dingin
dingin
Fluksus + + +
Stolsel + + +

c. Apa pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan pada kasus ini?


Pemeriksaan penujang yang dapat dilakukan:
Analisa gas darah
Usg

d. Apa diagnosis pasti pada kasus ini?


-
e. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini?
f. Apa komplikasi pada kasus ini?
Komplikasi yang dapat terjadi:
• Asidosis metabolic
• Gangguan jantung
• Kerusakan jaringan otak, ginjal dll (gagal organ multiple)
• Henti jantung
• Kematian
(Saifuddin, Abdul, 2013)

Saifuddin, Abdul. 2013. Ilmu Kebidanan Edisi keempat Cetakan Ketiga. Jakarta: PT.
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

g. Bagaimana prognosis pada kasus ini?


Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functional : dubia ad bonam

h. Bagaimana SKDU pada kasus ini?


Kompetensi dokter umum yaitu 3B
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya :
pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat
memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis
yang relevan (kasus gawat darurat). (konsil kedokteran indonesia, 2012)

Konsil Kedokteran Indonesia. 2012. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta:


Konsil Kedokteran Indonesia.

i. Bagaimana nilai-nilai islam pada kasus ini?

j.
k. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara
keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka. Dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).

2.2 Hipotesis
Ny. PD berusia 35 tahun P6A0 mengalami perdarahan post partum e.c atonia uteri
dengan riwayat anemia selama kehamilan.

2.3 Kerangka Konsep


Faktor Risiko
(Sosial ekonomi, anemia, grande multi para)

Atonia Uteri

Perdarahan Post partum


B. Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang mungkin terjadi adalah kehilangan darah dalam

jumlah banyak (500 ml), nadi lemah, haus, pucat, lochea warna merah,

gelisah, letih, tekanan darah rendah ekstremitas dingin, dapat pula terjadi

syok hemorogik

1. Menurut Mochtar (2001) gejala klinik berdasarkan penyebab ada lima

yaitu :

a) Antonia Uteri

Uterus berkontraksi lembek , terjadi perdarahan segera setelah


lahir

b) Robekan jalan lahir

Terjadi perdarahan segera, darah segar mengalir segera

setelah bayi lahir, konterksi uterus baik, plasenta baik. Gejala

yang kadang-kadang timbul pucat, lemah, menggigil.


c) Retensio plasenta

Plasenta belum lahir selama 30 menit, perdarahan segera,

kontraksi uterus baik.

d) Tertinggalnya sisa plasenta

selaput yang mengandung pembuluh darah ada yang

tertinggal, perdarahan segera. Gejala yang kadang-kadang

timbul uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak

berkurang.

e) Inversio uterus

Uterus tidak teraba, lumen vagina berisi massa, perdarahan

segera, nyeri berat.

2. Tanda dan Gejala

Terjadi perdarahan rembes atau mengucur, saat kontraksi uterus

keras, darah berwarna merah muda, bila perdarahan hebat

timbul syok, pada pemeriksaan inspekulo terdapat ronekan pada

vagina, serviks atau varises pecah dan sisa plasenta tertinggal.

(purwadianto, dkk, 2000).

20