Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Blok Sistem Reproduksiadalahblokketujuh belaspada semester
VIdariKurikulumBerbasisKompetensiPendidikanDokterFakultasKedokteranUniver
sitasMuhammadiyah Palembang.
PadakesempataninidilaksanakanstudikasusskenarioB yang memaparkan Ny. DP,
berusia 35 tahun P6A0 dirujuk oleh bidan desa ke ruang PONEK RSUD. Ia
mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam 1 jam yang lalu.
Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2700 gram, bugar dan langsung menangis.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode
analisis dan pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

Laporan Tutorial Skenario B


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial


Tutor : dr. Ni Made
Moderator :Aldy Fauzan
Notulen : Tri Rahmania Pertiwi
Sekretaris : Debby Rahmadini
Waktu : Selasa, 22Maret2016 (Tutorial Ke-1)
Kamis, 24 Maret 2016(Tutorial Ke-2)
Rule Tutorial : 1. Alat komunikasi dinonaktifkan.
2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat.
3. Berbicara yang sopan dan penuh tata karma.

2.2 Skenario Kasus


Ny. DP, berusia 35 tahun P6A0 dirujuk oleh bidan desa ke Ruang PONEK
RSUD. Ia mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam 1 jam
yang lalu. Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2700 gram, bugar dan langsung
menangis.
Menurut bidan, proses pengeluaran janin berlangsung lama kurang lebih 2 jam
dan bayi baru bisa lahir setelah dibantu bidan dengan mendorong perut ibu.
Plasenta yang dikeluarkan lengkap tetapi rahim teraba lembek diserta perdarahan
banyak dan aktif. Bidan telah mencoba menghentikan perdarahan dengan cara
memberikan suntikan obat, karena perdarahan tidak berhenti pasien dirujuk.
Menurut bidan perdarahan Ny. DP banyak dan diperkirakan lebih dari 500cc.
Ny. DP hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC di bidan desa yaitu pada
kehamilan 8 bulan. Pada saat itu, Ny. DP terlihat pucat dan lemas dan hasil
pemeriksaan darah: kadar Hb 8 g/dl. Bidan telah menganjurkan untuk dirawat tapi
Ny. DP menolak karena tidak ada biaya.
Pemeriksaan Fisik (Post Partum)
Keadaan umum: somnolen
Tanda vital: TD: 80/60 mmHg; N: 124x/menit, lemah, reguler, isi kurang; RR:
28x/menit; T:36C

Laporan Tutorial Skenario B


Pemeriksaan spesifik:
Kepala: konjungtiva pucat
Thoraks: jantung dan paru-paru dalam batas normal
Abdomen: hepar dan lien dalam batas normal
Ekstremitas: akral dingin
Status Obstrikus
Palpasi: teraba fundus uteri setinggi pusat dan kontraksi lembek
Inspeculo: fluksus (+) darah aktif, stolsel (+), robekan jalan lahir tidak ada
Pemeriksaan Laboratorium: Hb: 6g/dl, dol. Darah: B, rhesus (+), Trombosit
170.000/mm3, leukosit: 15.000/mm3, Ht:18 mg%

2.3 KlarifikasiIstilah
1. Bidan :tenaga medis yang menjadi lini pertama dalam membantu
..proses persalinan
2. Perdarahan : kebocoran darah dari pembuluh-pembuluh darah kecil
3. Ruang PONEK : pelayanan obstetri neonatal esensial atau emergensi
..komprehensif
4. Plasenta : organ yang menjadi ciri khas mamalia, sejati pada saat
..kehamilan menghubungkan ibu dan bayinya mengadakan
..sekresi endokrin dan pertukaran selektif substansi yang
..larut dan terbawa darah mellaui lapisan rahim dan bagian
..trofoblas yang melalui pembuluh darah
5. Pervaginam : melalui saluran pada wanita dari vulva ke serviks uteri
6. Rahim : organ muskular berongga pada mamalia betina tempat
..tertanamnya blastokista secara normal serta tempat
..pemeliharaan embrio dan janin yang sedang tumbuh.
7. Lahir spontan : persalinan normal yang tidak ada gangguan saat kehamilan
..seperti malposisi/ malpresentasi
8. Stolsel : gumpalan darah beku
9. Fluksus : cairan yang keluar dari vagina dengan jumlah yang cukup
..banyak
10. Akral dingin : bagian tungkai/ekstremitas yang tidak mendapatkan suplai
..darah yang adekuat

Laporan Tutorial Skenario B


2.4 IdentifikasiMasalah
1. Ny. DP, berusia 35 tahun P6A0 dirujuk oleh bidan desa ke Ruang PONEK
RSUD. Ia mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam 1 jam
yang lalu. Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2700 gram, bugar dan langsung
menangis.
2. Menurut bidan, proses pengeluaran janin berlangsung lama kurang lebih 2 jam
dan bayi baru bisa lahir setelah dibantu bidan dengan mendorong perut ibu.
Plasenta yang dikeluarkan lengkap tetapi rahim teraba lembek diserta
perdarahan banyak dan aktif.
3. Bidan telah mencoba menghentikan perdarahan dengan cara memberikan
suntikan obat, karena perdarahan tidak berhenti pasien dirujuk. Menurut bidan
perdarahan Ny. DP banyak dan diperkirakan lebih dari 500cc.
4. Ny. DP hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC di bidan desa yaitu pada
kehamilan 8 bulan. Pada saat itu, Ny. DP terlihat pucat dan lemas dan hasil
pemeriksaan darah: kadar Hb 8 g/dl. Bidan telah menganjurkan untuk dirawat
tapi Ny. DP menolak karena tidak ada biaya.
5. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: somnolen
Tanda vital: TD: 80/60 mmHg; N: 124x/menit, lemah, reguler, isi kurang; RR:
28x/menit; T:36C
Pemeriksaan spesifik:
Kepala: konjungtiva pucat
Thoraks: jantung dan paru-paru dalam batas normal
Abdomen: hepar dan lien dalam batas normal
Ekstremitas: akral dingin
6. Status Obstrikus
Palpasi: teraba fundus uteri setinggi pusat dan kontraksi lembek
Inspeculo: fluksus (+) darah aktif, stolsel (+), robekan jalan lahir tidak ada
7. Pemeriksaan Laboratorium: Hb: 6g/dl, dol. Darah: B, rhesus (+), Trombosit
170.000/mm3, leukosit: 15.000/mm3, Ht:18 mg%

2.5 AnalisisMasalah
1. Ny. DP, berusia 35 tahun P6A0 dirujuk oleh bidan desa ke Ruang PONEK
RSUD. Ia mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam 1 jam

Laporan Tutorial Skenario B


yang lalu. Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2700 gram, bugar dan langsung
menangis.
a. Apa sistem organ yang terlibat pada kasus?
b. Bagaimana anatomi dan histologi organ yang terlibat pada kasus?
c. Bagaimana fisiologi persalinan?
d. Apa hubungan usia dan status kehamilan dengan perdarahan?
Wanita yang melahirkan bayi pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 ta
hun, merupakan faktor resiko terjadinya
perdarahanpascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal inidikar
enakan usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belumberkembang den
gan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsireproduksi seorang wanita s
udah mengalami penurunan dibandingkan fungsi organ yang lain. reproduksi
normal sehingga kemungkinan untuk terjadinyakomplikasi pasca
persalinan terutama akan lebih besar.

Sarwono, P., 2005, Ilmu Kebidanan, FKUI, Jakarta.

e. Apa makna mengalami perdarahan setelah persalinan spontan pervaginam 1


jam yang lalu?
Bermakna mengalami perdarahan primer pasca melahirkan yaitu perdarahan
yang terjadi < 24 jam setelah persalinan sedangkan perdarahan sekunder
adalah perdarahan yang terjadi > 24 jam setelah persalinan.
Sarwono, P., 2005, Ilmu Kebidanan, FKUI, Jakarta.

f. Apa macam-macam perdarahan post partum?


Perdarahan Postpartum Primer Perdarahan postpartum primer adalah perdarahan
yang berlangsung dalam 24 jam pertama dengan jumlah perdarahan 500 cc atau
lebih.
Perdarahan postpartum primer disebabkan oleh:
- Atonia Uteri
- Retensio plasenta
- Robekan jumlah lahir
Perdarahan postpartum sekunder Perdarahan postpartum sekunder adalah
perdarahan yang berlangsung setelah 24 jam pertama dengan jumlah perdarahan
500 cc atau lebih. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh:
- Tertinggalnya sebagian plasenta atau membrannya

Laporan Tutorial Skenario B


- Perlukaan terluka kembali dan menimbulkan perdarahan
- Infeksi pada tempat implantasi plasenta.

g. Apa faktor resiko perdarahan post partum?


a. Over distensi uterus (kehamilan)
–Polihidramnion
–Gemeli
–Janin besar (makrosomia)
b. Kalasatu/dua yang memanjang
c. Persalinan cepat (partus presipitatus)
d. Persalinan yang diinduksi/dipercepat dengan oksitosin (augmentsi)
e. Infeksi intrapartum
-Multiparitas tinggi
-Magnium Sulfat pada pasien preeklampsia/eklampsia

h. Apa makna berat bayi yang dilahirkan 2700 gram, bugar dan langsung
menangis?
i. Apa indikasi bidan merujuk ke ruang ponek?
j. Bagaimana pelayanan di ruang ponek?
Upaya Pelayanan PONEK :
1. Stabilisasi di UGD dan persiapan untuk pengobatan definitif
2. Penanganan kasus gawat darurat oleh tim PONEK RS di ruang tindakan
3. Penanganan operatif cepat dan tepat meliputi laparotomi, dan sektio saesaria
4. Perawatan intensif ibu dan bayi.
5. Pelayanan Asuhan Ante Natal Risiko Tinggi
Ruang lingkup pelayanan kesehatan maternal dan neonatal pada PONEK terbagi
atas 2 kelas, antara lain :
1. Ponek Rumah Sakit Kelas C
a. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Fisiologis
- Pelayanan Kehamilan
- Pelayanan Persalinan
- Pelayanan Nifas
- Asuhan Bayi Baru Lahir (Level 1)
- Immunisasi dan Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang
(SDIDTK)
b. Pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal dengan risiko tinggi

Laporan Tutorial Skenario B


Masa antenatal
- Perdarahan pada kehamilan muda
- Nyeri perut dalam kehamilan muda dan lanjut
- Gerak janin tidak dirasakan
- Demam dalam kehamilan dan persalinan
- Kehamilan ektopik (KE) & Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
- Kehamilan dengan Nyeri kepala, gangguan penglihatan, kejang dan/koma,
tekanan darah tinggi
Masa intranatal
- Persalinan dengan parut uterus
- Persalinan dengan distensi uterus
- Gawat janin dalam persalinan
- Pelayanan terhadap syok
- Ketuban pecah dini
- Persalinan lama
- Induksi dan akselerasi persalinan
- Aspirasi vakum manual
- Ekstraksi Cunam
- Seksio sesarea
- Epiosotomi
- Kraniotomi dan kraniosentesis
- Malpresentasi dan malposisi
- Distosia bahu
- Prolapsus tali pusat
- Plasenta manual
- Perbaikan robekan serviks
- Perbaikan robekan vagina dan perineum
- Perbaikan robekan dinding uterus
- Reposisi Inersio Uteri
- Histerektomi
- Sukar bernapas
- Kompresi bimanual dan aorta
- Dilatasi dan kuretase
- Ligase arteri uterina
- Bayi baru lahir dengan asfiksia
- BBLR
- Resusitasi bayi baru lahir

Laporan Tutorial Skenario B


- Anestesia umum dan lokal untuk seksio sesaria
- Anestesia spinal, ketamin
- Blok paraservikal
- Blok pudendal (bila memerlukan pemeriksaan spesialistik, dirujuk ke RSIA/
RSU)
Masa Post Natal
- Masa nifas
- Demam pasca persalinan
- Perdarahan pasca persalinan
- Nyeri perut pasca persalinan
- Keluarga Berencana
- Asuhan bayi baru lahir sakit (level 2)
c. Pelayanan Kesehatan Neonatal
- hiperbilirubinemi,
- asfiksia,
- trauma kelahiran,
- hipoglikemi
- kejang,
- sepsis neonatal
- gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit,
- gangguan pernapasan,
- kelainan jantung (payah jantung, payah jantung bawaan, PDA),
- gangguan pendarahan,
- renjatan (shock),
- aspirasi mekonium,
- koma,
- Inisiasi dini ASI (Breast Feeding),
- Kangaroo Mother Care,
- Resusitasi Neonatus,
- Penyakit Membran Hyalin,
- Pemberian minum pada bayi risiko tinggi,
d. Pelayanan Ginekologis
- Kehamilan ektopik
- Perdarahan uterus disfungsi
- Perdarahan menoragia
- Kista ovarium akut
- Radang Pelvik akut

Laporan Tutorial Skenario B


- Abses Pelvik
- Infeksi Saluran Genitalia
- HIV - AIDS
e. Perawatan Khusus / High Care Unit dan Transfusi Darah
2. Ponek Rumah Sakit Kelas B
a. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Fisiologis
- Pelayanan Kehamilan
- Pelayanan Persalinan normal dan Persalinan dengan tindakan operatif
- Pelayanan Nifas
- Asuhan Bayi Baru Lahir (Level 2)
- Immunisasi dan Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang
(SDIDTK)
- Intensive Care Unit (ICU)
- NICU
- Endoskopi
b. Pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal dengan risiko tinggi
Masa antenatal
- Perdarahan pada kehamilan muda / abortus.
- Nyeri perut dalam kehamilan muda dan lanjut / kehamilan ektopik.
- Kehamilan ektopik (KE) & Kehamilan Ektopik Terganggu (KET).
- Hipertensi, Preeklampsi / Eklampsi.
- Perdarahan pada masa Kehamilan
- Kehamilan Metabolik
- Kelainan Vaskular / Jantung
Masa intranatal
- Persalinan dengan parut uterus
- Persalinan dengan distensi uterus
- Gawat janin dalam persalinan
- Pelayanan terhadap syok
- Ketuban pecah dini
- Persalinan macet
- Induksi dan akselerasi persalinan
- Aspirasi vakum manual
- Ekstraksi Cunam
- Seksio sesarea
- Episiotomi
- Kraniotomi dan kraniosentesis

Laporan Tutorial Skenario B


- Malpresentasi dan malposisi
- Distosia bahu
- Prolapsus tali pusat
- Plasenta manual
- Perbaikan robekan serviks
- Perbaikan robekan vagina dan perineum
- Perbaikan robekan dinding uterus
- Reposisi Inersio Uteri
- Histerektomi
- Sukar bernapas
- Kompresi bimanual dan aorta
- Dilatasi dan kuretase
- Ligase arteri uterina
- Anestesia umum dan lokal untuk seksio sesaria
- Anestesia spinal, ketamin
- Blok pudendal
Masa Post Natal
- Masa nifas
- Demam pasca persalinan
- Perdarahan pasca persalinan
- Nyeri perut pasca persalinan
- Keluarga Berencana
- Asuhan bayi baru lahir sakit (level 2)
c. Pelayanan Kesehatan Neonatal
- hiperbilirubinemi,
- asfiksia,
- trauma kelahiran,
- kejang,
- sepsis neonatal
- gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit,
- gangguan pernapasan,
- kelainan jantung (payah jantung, payah jantung bawaan, PDA),
- gangguan pendarahan,
- renjatan (shock),
- aspirasi mekonium,
- koma,
- Inisiasi dini ASI (Breast Feeding),

Laporan Tutorial Skenario B


- Kangaroo Mother Care,
- Resusitasi Neonatus,
- Penyakit Membran Hyalin,
- Pemberian minum pada bayi risiko tinggi,
- Pemberian cairan Parenteral
- Kelainan bawaan
d. Pelayanan Ginekologis
- Kehamilan ektopik
- Perdarahan uterus disfungsi
- Perdarahan menoragia
- Kista ovarium akut
- Radang Pelvik akut
- Abses Pelvik
- Infeksi Saluran Genitalia
- HIV - AIDS
e. Perawatan Intensif Neonatal
C. Pelayanan Penunjang Medik
1. Pelayanan Darah
a. Jenis Pelayanan
1) Merencanakan kebutuhan darah di RS
2) Menerima darah dari UTD yang telah memenuhi syarat uji saring (non reaktif)
dan telah dikonfirmasi golongan darah
3) Menyimpan darah dan memantau suhu simpan darah
4) Memantau persediaan darah harian/ mingguan
5) Melakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus pada darah donor
dan darah recipien
6) Melakukan uji silang serasi antara darah donor dan darah recipien
7) Melakukan rujukan kesulitan uji silang serasi dan golongan darah ABO/ rhesus
ke Unit Tranfusi darah /UTD secara berjenjang
8) Bagi Rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas unit tranfusi darah / Bank darah
dianjurkan untuk membuat kerjasama dengan penyedia fasilitas tersebut.
b. Tempat Pelayanan
1) Unit Tranfusi darah /UTD PMI
2) Unit Tranfusi darah UTD Rumah sakit
3) Bank darah rumah sakit / BDRS
c. Kompetensi
1) Mempunyai kemampuan manajemen pengelolaan tranfusi darah dan Bank

Laporan Tutorial Skenario B


Darah Rumah Sakit.
2) Mempunyai sertifikasi pengetahuan dan ketrampilan tentang
a) Transfusi darah
b) Penerimaan darah
c) Penyimpanan darah
d) Pemeriksaaan golongan darah
e) Penmeriksaan uji silang serasi
f) Pemantapan mutu internal
g) Pencatatan , pelaporan, pelacakan dan dokumentasi
h) Kewaspadaan universal (universal precaution)

Depkes RI, 2008, Buku Pedoman RS PONEK 24 Jam, DEPKES RI : Jakarta

k. Apa tujuan dan prosedur di ruang ponek?

2. Menurut bidan, proses pengeluaran janin berlangsung lama kurang lebih 2 jam
dan bayi baru bisa lahir setelah dibantu bidan dengan mendorong perut ibu.
Plasenta yang dikeluarkan lengkap tetapi rahim teraba lembek diserta
perdarahan banyak dan aktif.
a. Apa makna proses pengeluaran janin berlangsung lama kurang lebih 2 jam
dan bayi baru bisa lahir setelah dibantu bidan dengan mendorong perut ibu?
Bermakna adanya ke abnormalitas persalinan yang di tandai
dengan :
1. Power ( kontraksi uterus ) ; pada kala I dan II, selain gangguan
kontraksi uterus juga dapat disebabkan oleh gangguan
kemampuan meneran.

2. Passage ( jalan lahir ) , jalan lahir keras ( tulang panggul ) atau


jalan lahir lunak ( organ sekitar jalan lahir )

3. Passanger ( janin ) , besar janin, letak, posisi dan presentasi


janin

b. Bagaimana hubungan proses pengeluaran janin berlangsung lama kurang


lebih 2 jam dan bayi baru bisa lahir setelah dibantu bidan dengan
mendorong perut ibu dengan keluhan?

Laporan Tutorial Skenario B


c. Pada multipara dengan adanya pengalaman pada persalinan yang telah lalu dan
disebabkan oleh otot – otot jalan kelahiran yang yang telah lebih lemas, maka
masa pengeluaran akan terjadi cepat. Sebaliknya bagi primipara karena belum
berpengalaman melahirkan anak dan otot – otot jalan lahir masih kaku ditambah
pula biasanya belum dapat mengedan dengan baik, durasi tidak boleh melampaui
2jam pada primipara dan 1 jam pada multipara di takutkan bila melawati durasi ibu
akan kelelahan. di karenakan pada Ny DP dengan multipara sudah melewati
durasi maka penolong kelahiran melakukan parasat Kristeller yang
merupakan dorongan (ekspresi) tangan penolong persalinan pada fundus uteri
dengan arah menuju panggul yang bertujuan untuk membantu persalinan kala II.
Ekspresi Kristellerialah Mendorong fundus uteri sewaktu ibu mengedan. tujuannya
membantu tenaga ibu untuk melahirkan kepala.
Mochtar, Rustam. Jilid 1. Edisi 3. 2012. Sinopsis Obstetri.Jakarta : EGC.
d. Berapa waktu yang dibutuhkan pada persalinan normal?
e. Apa makna plasenta yang dikeluarkan lengkap tetapi rahim teraba lembek
diserta perdarahan banyak dan aktif?
f. Bagaimana mekanisme rahim teraba lembek disertai perdarahan banyak dan
aktif?
g. Apa faktor yang memperlambat proses pengeluaran janin (kala II)?

3. Bidan telah mencoba menghentikan perdarahan dengan cara memberikan


suntikan obat, karena perdarahan tidak berhenti pasien dirujuk. Menurut bidan
perdarahan Ny. DP banyak dan diperkirakan lebih dari 500cc.
a. Apa kemungkinan obat yang diberikan bidan untuk menghentikan
perdarahan?
b. Mengapa perdarahan tidak berhenti walaupun sudah diberi obat?
c. Bagaimana mekanisme terjadinya perdarahan setelah melahirkan?
d. Apa makna perdarahan diperkirakan lebih dari 500cc?
e. Bagaimana derajat perdarahan?
f. Bagaimana langkah-langkah manajemen kala III?
g. Bagaimana fisiologi kala IV?

4. Ny. DP hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC di bidan desa yaitu pada
kehamilan 8 bulan. Pada saat itu, Ny. DP terlihat pucat dan lemas dan hasil

Laporan Tutorial Skenario B


pemeriksaan darah: kadar Hb 8 g/dl. Bidan telah menganjurkan untuk dirawat
tapi Ny. DP menolak karena tidak ada biaya.
a. Apa makna hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC di bidan desa yaitu
pada kehamilan 8 bulan?
Bermakna pemeriksaan ANC tidak lengkap, karena pemeriksaan ANC
minimal 4 kali, 1x trimester 1, 1 kali trimester 2, dan 2x trimester 3.

b. Apa tujuan dari pemeriksaan ANC?


1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang janin.
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik serta sosial ibu dan bayi.
3. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang terjadi selama hamil, termasuk
riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
Eksklusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
dapat tumbuh kembang secara normal.
7. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal (Sihombing, 2012).
Sedangkan tujuan khusus Ante Natal Care (ANC), yaitu :
1. Mengenali dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin diderita sedini
mungkin.
2. Menurunkan angka morbilitas ibu dan anak.
3. Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga
berencana, kehamilan, persalinan, nifas, dan laktasi (Sihombing, 2012).
Sihombing, F., 2012. [web] Pengaruh Faktor Predisposisi, Kebutuhan
dan Pemungkin Ibu Hamil Terhadap Pemanfaatan Antenatal Care (ANC)
di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Limun Kota Medan. (diakses pada 7
Maret 2016 di http://repository.usu.ac.id)

c. Bagaimana prosedur pemeriksaan ANC?


d. Apa dampak dari pemeriksaan ANC yang tidak lengkap?
e. Apa makna pucat dan lemas dan hasil pemeriksaan darah: kadar Hb 8 g/dl?

Laporan Tutorial Skenario B


f. Bagaimana hubungan kondisi Ny. DP terlihat pucat, lemas, kadar Hb 8g/dl
dengan keluhan perdarahan setelah melahirkan?
Pucat dan kadar hb < 11g/dl menandakan adanya anemia pad any DP,
sehingga dapat menyebabkan tranportasi oksigen terganggung 
kelemahan otot saat kontraksi pada saat persalinan (otot uterus)  kala 2
lama  otot uterus kurang kontraksi  tidak mampu menutup aliran darah
setelah pelepasan plasenta ( a. spiral )
g. Apa indikasi dan tatalaksana pasien untuk dirawat pada ibu hamil?
h. Bagaimana tatalaksana rawat jalan pada ibu hamil dengankadar Hb 8 g/dl?
i. Apa faktor penyebab terjadi anemia pada kehamilan?
- Kurang gizi ( def fe, def asam folat, def zink)
- Infeksi
- Perdarahan antepartum
- Abnomarlitas darah
j. Bagaimana mekanisme anemia pada kehamilan?
Hamil  perubahan fisiologi tubuh  menigkatan asupan nutrisi termasuk
fe dan asam folat  kurang gizi/kurang asupan fe/ adanyan
perdarahan/infeksi  kadar fe kurang dalam tubuh  penggunaan
cadangan fe  habis  anemia

5. Pemeriksaan Fisik
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik?
b. Bagaimana mekanisme dari keadaan abnormal pada pemeriksaan fisik?
c. Somnolen:
Perdarahan  volume darah menurun  aliran darah ke otak menurun 
fungsi kesadaran terganggu  penurunan kesadaran
d. Hipotensi:
Syok  kehilangan banyak volume darah  venous return berkurang 
stroke volume berkurang  tekanan darah menurun (hipotensi)
e. Takikardi:
kehilangan banyak volume darah  kurang perfusi ke jaringan
kompensasi sistem saraf simpatis  peningkatan denyut nadi (takikardi)
f. Takipnea:

Laporan Tutorial Skenario B


kehilangan banyak volume darah  kurang perfusi ke jaringan
kompensasi sistem saraf simpatis  peningkatan denyut nadi (takikardi)
g. Konjungtiva anemis:
Syok  banyak kehilangan volume darah  Hb rendah 
pucat/kinjungtiva pucat
h. Ekstremitas akral dingin:
kehilangan banyak volume darah  kurang perfusi oksigenke jaringan 
ekstremitas teraba dingin

6. Status Obstrikus
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik?
b. Bagaimana mekanisme dari keadaan abnormal pada pemeriksaan fisik?
a. Penurunan kontraksi/tonus uterusatonia uteri daerah perlukaan
bekas implantasi dari plasenta tidak tertutupHPPfluksus (+)
b. Penurunan kontraksi/tonus uterusatonia uteri daerah perlukaan
bekas implantasi dari plasenta tidak tertutupHPPRespon
pembekuan darahstosel (+)

7. Pemeriksaan Laboratorium
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik?
b. Bagaimana mekanisme dari keadaan abnormal pada pemeriksaan fisik?

8. Bila semua gejala dikumpulkan, maka:


a. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus ini?
b. Apa diagnosis banding pada kasus ini?
c. Apa pemeriksaan tambahan yang dibutuhkan pada kasus ini?
d. Apa diagnosis pasti pada kasus ini?
e. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini?
Penatalaksanaan Awal
1) Segera memanggil bantuan tim
2) Nilai sirkulasi, jalan napas, dan pernapasan pasien
3) Bila menemukan tanda-tanda syok, lakukan penatalaksanaan syok.

Laporan Tutorial Skenario B


4) Berikan oksigen.
5) Pasang infus intravena dengan kanul berukuran besar (16 atau 18) dan
mulai pemberian cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat atau
Ringer Asetat) sesuai dengan kondisi ibu.
6) Lakukan pengawasan tekanan darah, nadi, dan pernapasan ibu.
7) Periksa kondisi abdomen: kontraksi uterus, nyeri tekan, parut luka, dan
tinggi fundus uteri.
8) Periksa jalan lahir dan area perineum untuk melihat perdarahan dan
laserasi (jika ada, misal: robekan serviks atau robekan vagina).
9) Periksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban.
10) Pasang kateter Folley untuk memantau volume urin dibandingkan
dengan jumlah cairan yang masuk. Catatan: produksi urin normal 0.5-1
ml/kgBB/jam atau sekitar 30 ml/jam)
11) Jika kadar Hb< 8 g/dl rujuk ke layanan sekunder (dokter spesialis obgyn)
12) Jika fasilitas tersedia, ambil sampel darah dan lakukan pemeriksaan:
kadar hemoglobin (pemeriksaan hematologi rutin) dan penggolongan
ABO.
13) Tentukan penyebab dari perdarahannya dan lakukan tatalaksana spesifik
sesuai penyebab

Penatalaksanaan Lanjutan :
1. Atonia uteri
a. Lakukan pemijatan uterus.
b. Pastikan plasenta lahir lengkap.
c. Berikan 20-40 unit Oksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9%/
Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unit IM.
d. Lanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutanNaCl
0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga
perdarahan berhenti.
e. Bila tidak tersedia Oksitosin atau bila perdarahan tidak berhenti,
berikan Ergometrin 0,2 mg IM atau IV (lambat), dapat diikuti
pemberian 0,2 mg IM setelah 15 menit, dan pemberian 0,2 mg

Laporan Tutorial Skenario B


IM/IV (lambat) setiap 4 jam bila diperlukan. Jangan berikan lebih
dari 5 dosis (1 mg).
f. Jika perdarahan berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV
(bolus selama 1 menit, dapat diulang setelah 30 menit)
g. Lakukan pasang kondom kateter atau kompresi bimanual internal
selama 5 menit.
h. Siapkan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder
sebagai antisipasi bila perdarahan tidak berhenti.

Kompresi bimanual internal

kompresi bimanual external

Konseling dan Edukasi


1) Memberikan informasi akan keadaan ibu yang mengalami perdarahan
pascasalin.
2) Memberikan informasi yang tepat kepada suami dan keluarga ibu terhadap
tindakan yang akan di lakukan dalam menangani perdarahan pascasalin.
3) Memastikan dan membantu keluarga jika rujukan akan dilakukan.

Laporan Tutorial Skenario B


Kementerian Kesehatan RI&WHO. 2013. Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Indonesia.

Tatalaksana Syok
1) Resusitasi dan tatalaksana akut
Setiap kali ditemukan tanda terjadinya perdarahan massif pascapartum,
penting untuk segera mencari kemungkinan terjadi atonia uterus , retensi
fragmen plasenta, atau robekan jalan lahir. Sedikitnya satu atau dua
system infuse intravena berkaliber besar harus segera dipasang untuk
memungkinkan pemberian cepat larutan kristaloid dan darah. Kamar
operasi, tim bedah, dan ahli anastesi harus segera tersedia.
2) Penggantian cairan
Perdarahan hebat memerlukan penggantian ulang segera kompartemen
intravascular dalam jumlah adekuat. Larutan kristaloid biasnya digunakan
untuk kristalisasi volume awal. Larutan kristaloid dengan segera mencapai
keseimbangan dengan ruang ekstravaskuler dan hanya 20% kristaloid
beratahan dalam sirkulasi pasien yang sakit kritis setelah 1 jam. Karena
adanya penyeteimbangan ini, infuse awal cairan menggunakan kristaloid
harus diberikan dalam jumlah 3 kali lipat darah yang diperkirakan hilang.
3) Penggantian darah
Untuk perempuan yang mengalami perdarahan akut, dianjurkan infuse
darah cepat jika hematokrit kurang dari 25% volume. Keputusan ini
tergantung pada ada tidaknya pembedahan segera. Satu unit darah lengkap
meningkatkan hematokrit sebanyak 3 hingga 4% volume darah. Darah
lengkap menggantikan banyak factor koagulasi, khususnya fibrinogen dan
kandungan plasmanya memulihkan hipovolemia.
Cunningham. 2013. Obsetetri Williams Edisis 23. EGC, Jakarta,
Indonesia.

Tatalaksana Atonia Uteri bila pasien syok :


1. Sikap Trendelenburk, memasang venous line, dan memberikan oksigen
2. Sekaligus merangsang kontraksi uterus dengan cara :
a. Massage fundus uteri dan merangsang puting susu

Laporan Tutorial Skenario B


b. Pemberian puting susu dan turunan ergot melalui suntikan im, iv,
dan sc.
c. Memberikan derivat prostaglandin
d. Pemberian misoprostol 800-100.000 mikro gram/ rectal.
e. Kompresi bimanual eksternal atau internal
f. Kompresi aorta abdominalis
g. Pemasangan “tampon kondom” , kondom dalam cavum uteri
disambung dengan kateter, difiksasi dengan karet gelang dan diisi
dengan cairan infus 200 ml yang akan mengurangi perdarahan dan
menghindari tindakan operatif.
h. Catatan : tindakan memasang tampon kasa utero vaginal tidak
dianjurkan dan hanya bersifat temporer sebelum tindakan bedah
rumah sakit rujukan.
3. Bila semua tindakan itu gagal maka dipersiapkan untuk dilakukan
tindakan operatif, laparotomi dengan pilihan bedah konservatif
(mempertahankan uterus) atau melakukan histerektomi .

f. Apa komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus ini?


Perdarahan postpartum yang tidak ditangani dapat mengakibatkan

1. Syok hemoragieAkibat terjadinya perdarahan, ibu akan mengalami syok


dan menurunnya kesadaran
akibat banyaknya darah yang keluar. Hal ini menyebabkan gangguan sirkulasi darah k
e seluruhtubuh dan dapat menyebabkan hipovolemia berat. Apabila hal ini tidak
ditangani dengancepat dan tepat, maka akan menyebabkan kerusakan atau nekrosis
tubulus renal danselanjutnya meruak bagian korteks renal yang dipenuhi 90% darah di
ginjal. Bila hal ini terusterjadi maka akan menyebabkan ibu tidak terselamatkan.

2. AnemiaAnemia terjadi akibat banyaknya darah yang keluar dan


menyebabkan perubahan hemostasisdalam darah, juga termasuk hematokrit darah.
Anemia dapat berlanjut menjadi masalahapabila tidak ditangani, yaitu pusing dan
tidak bergairah dan juga akan berdampak juga padaasupan ASI bayi.

3. Sindrom Sheehan Hal ini terjadi karena, akibat jangka panjang dari
perdarahan postpartum sampai syok.Sindrom ini disebabkan karena hipovolemia yang

Laporan Tutorial Skenario B


dapat menyebabkan nekrosis kelenjarhipofisis. Nekrosis kelenjar hipofisi dapat
mempengaruhi sistem endokrin.

Wiknjosastro H.Ilmu bedah kebidanan. Ed 2. Jkt : PT bina pustaka


sarwono prawirohardjo; 2010

g. Apa kompetensi dokter umum pada kasus ini?


3B
h. Bagaimana prognosis pada kasus ini?
Perdarahan pascapersalinan masih merupakan ancaman yang tidak terduga
walaupun dengan pengawasan yang sebaik-
baiknya, perdarahan pascapersalinan masih merupakan salah satusebab kematian ibu yang
penting. Sebaliknya menurut pendapat para ahli kebidanan modern:

”Perdarahan pascapersalinan tidak perlu sampai membawa kematian pada ibu bersalin”.

Pendapat ini memang benar bila kesadaran masyarakat tentang hal ini sudah tinggi dan
dalam klinik tersedia banyak darah dan cairan serta fasilitas lainnya. Dalam masyarakat kita
masih besar anggapan bahwa darahnya adalah merupakan hidupnya karena itu mereka menolakme
nyumbangkan darahnya, walaupun untuk menolong jiwa istri dan keluarganya sendiri.Pada
perdarahan pascapersalinan, angka kematian ibu 7,9% dan 1,8-4,5%. Tingginya angkakematian ibu
karena banyak penderita yang dikirim dari luar dengan keadaan umum yangsangat jelek dan
anemis dimana tindakan apapun kadang-kadang tidak menolong

i. Bagaimana nilai-nilai islam pada kasus ini?

2.6 Kesimpulan
Ny. DP, berusia 35 tahun P6A0 mengalami syok et causa perdarahan post
partum (atonia uteri)

2.7 erangka Konsep

FR (usia, paritas,
kala II lama, anemia)

Gangguan kontraksi
Laporan Tutorial Skenario B uterus