Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

Definisi

Penyakit Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS). Lesi sifilis biasa
terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas. Penampakan lesi bisa dipastikan hampir
seluruhnya terjadi karena hubungan seksual.

Penyakit ini bisa menular jika ia melakukan hubungan seksual dengan wanita lainnya.
Namun tidak hanya sebatas itu, seorang ibu yang sedang hamil yang telah tertular penyakit ini
bisa menularkannya kepada janinnya. Sifilis juga dapat diartikan sebagai penyakit infeksi yang
disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan peyakit kronis dan dapat menyerang seluruh
organ tubuh dan dapat ditularkan pada bayi di dalam kandungan melalui plasenta.

Efek sipilis pada kehamilan dan janin tergantung pada lamanya infeksi tersebut terjadi,
dan pada pengobatannya. Jika segera diobati dengan baik, maka ibu akan melahirkan bayinya
dengan keadaan sehat. Tetapi sebaliknya jika tidak segera diobati akan menyebabkan abortus
dan partus prematurus dengan bayi meninggal di dalam rahim atau menyebabkan sipilis
kongenital. Sifilis Kongenital terjadi pada bulan ke-4 kehamilan. Apabila sifilis terjadi pada
kehamilan tua, maka plasenta memberi perlindungan terhadap janin sehingga bayi dapat
dilahirkan dengan sehat. Dan apabila infeksi sifilis terjadi sebelum pembentukan plasenta maka
harus dilakukan pengobatan dengan segera, sehingga kemungkinan infeksi pada janin dapat
dicegah.

Etiologi

Penyebab infeksi sifilis yaitu Treponema pallidum. Treponema pallidum merupakan


salah satu bakteri spirochaeta. Bakteri ini berbentuk spiral. Terdapat empat subspecies yang
sudah ditemukan, yaitu Treponema pallidum pallidum, Treponema pallidum pertenue,
Treponema pallidum carateum, dan Treponema pallidum endemicum.

Treponema pallidum pallidum merupakan spirochaeta yang bersifat motile yang


umumnya menginfeksi melalui kontak seksual langsung, masuk ke dalam tubuh inang melalui
celah di antara sel epitel. Organisme ini juga dapat menyebabkan sifilis. ditularkan kepada janin
melalui jalur transplasental selama masa-masa akhir kehamilan. Struktur tubuhnya yang berupa
heliks memungkinkan Treponema pallidum pallidum bergerak dengan pola gerakan yang khas
untuk bergerak di dalam medium kental seperti lender (mucus). Dengan demikian organisme
ini dapat mengakses sampai ke sistem peredaran darah dan getah bening inang melalui jaringan
dan membran mucosa.

Patofisiologi
Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik. Hampir semua alat
tubuh dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskuler dan saraf. Selain itu wanita hamil yang
menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis
kongenital yang dapat menyababkan kelainan bawaan atau bahkan kematian. Jika cepat
terdeteksi dan diobati, sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotika. Tetapi jika tidak diobati,
sifilis dapat berkembang ke fase selanjutnya dan meluas ke bagian tubuh lain di luar alat
kelamin.

Tanda dan gejala


Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi; rata-rata 3-
4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang menyebabkan kerusakan
jantung, kerusakan otak maupun kematian. Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang
melalui 4 tahapan:
1. Fase Primer.
Terbentuk luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat yang terinfeksi; yang
tersering adalah pada penis, vulva atau vagina. Cangker juga bisa ditemukan di anus,
rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, jari-jari tangan atau bagian tubuh lainnya.
Biasanya penderita hanya memiliki 1 ulkus, tetapi kadang-kadang terbentuk beberapa
ulkus. Cangker berawal sebagai suatu daerah penonjolan kecil yang dengan segera akan
berubah menjadi suatu ulkus (luka terbuka), tanpa disertai nyeri. Luka tersebut tidak
mengeluarkan darah, tetapi jika digaruk akan mengeluarkan cairan jernih yang sangat
menular. Kelenjar getah bening terdekat biasanya akan membesar, juga tanpa disertai nyeri.
Luka tersebut hanya menyebabkan sedikit gejala sehingga seringkali tidak dihiraukan.
Luka biasanya membaik dalam waktu 3-12 minggu dan sesudahnya penderita tampak sehat
secara keseluruhan.
2. Fase Sekunder.
Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang muncul dalam waktu 6-
12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa berlangsung hanya sebentar atau selama
beberapa bulan. Meskipun tidak diobati, ruam ini akan menghilang. Tetapi beberapa
minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam yang baru.
Pada fase sekunder sering ditemukan luka di mulut. Sekitar 50% penderita memiliki
pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya dan sekitar 10% menderita
peradangan mata. Peradangan mata biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang
terjadi pembengkakan saraf mata sehingga penglihatan menjadi kabur.
Sekitar 10% penderita mengalami peradangan pada tulang dan sendi yang disertai nyeri.
Peradangan ginjal bisa menyebabkan bocornya protein ke dalam air kemih. Peradangan hati
bisa menyebabkan sakit kuning (jaundice). Sejumlah kecil penderita mengalami
peradangan pada selaput otak (meningitis sifilitik akut), yang menyebabkan sakit kepala,
kaku kuduk dan ketulian.
Di daerah perbatasan kulit dan selaput lendir serta di daerah kulit yang lembab, bisa
terbentuk daerah yang menonjol (kondiloma lata). Daerah ini sangat infeksius (menular)
dan bisa kembali mendatar serta berubah menjadi pink kusam atau abu-abu. Rambut
mengalami kerontokan dengan pola tertentu, sehingga pada kulit kepala tampak gambaran
seperti digigit ngengat. Gejala lainnya adalah merasa tidak enak badan (malaise),
kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia.
3. Fase Laten.
Setelah penderita sembuh dari fase sekunder, penyakit akan memasuki fase laten dimana
tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-
puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang
infeksi kembali muncul.
4. Fase Tersier.
Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya. Gejala bervariasi mulai
ringan sampai sangat parah. Gejala ini terbagi menjadi 3 kelompok utama:
1) Sifilis tersier jinak.
Pada saat ini jarang ditemukan. Benjolan yang disebut gumma muncul di berbagai
organ; tumbuhnya perlahan, menyembuh secara bertahap dan meninggalkan jaringan
parut. Benjolan ini bisa ditemukan di hampir semua bagian tubuh, tetapi yang paling
sering adalah pada kaki dibawah lutut, batang tubuh bagian atas, wajah dan kulit kepala.
Tulang juga bisa terkena, menyebabkan nyeri menusuk yang sangat dalam yang
biasanya semakin memburuk di malam hari.
2) Sifilis kardiovaskuler.
Biasanya muncul 10-25 tahun setelah infeksi awal. Bisa terjadi aneurisma aorta atau
kebocoran katup aorta. Hal ini bisa menyebabkan nyeri dada, gagal jantung atau
kematian.
3) Neurosifilis.
Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5% penderita yang tidak diobati. 3 jenis
utama dari neurosifilis adalah neurosifilis meningovaskuler, neurosifilis paretik dan
neurosifilis tabetik.
a. Neurosifilis meningovaskuler.
Merupakan suatu bentuk meningitis kronis. Gejala yang terjadi tergantung
kepada bagian yang terkena, apakah otak saja atau otak dengan medulla spinalis:
- Jika hanya otak yang terkena akan timbul sakit kepala, pusing, konsentrasi
yang buruk, kelelahan dan kurang tenaga, sulit tidur, kaku kuduk, pandangan
kabur, kelainan mental, kejang, pembengkakan saraf mata (papiledema),
kelainan pupil, gangguan berbicara (afasia) dan kelumpuhan anggota gerak
pada separuh badan.
- Jika menyerang otak dan medulla spinalis gejala berupa kesulitan dalam
mengunyah, menelan dan berbicara; kelemahan dan penciutan otot bahu dan
lengan; kelumpuhan disertai kejang otot (paralisa spastis); ketidakmampuan
untuk mengosongkan kandung kemih dan peradangan sebagian dari medulla
spinalis yang menyebabkan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih
serta kelumpuhan mendadak yang terjadi ketika otot dalam keadaan kendur
(paralisa flasid).
b. Neurosifilis paretik.
Juga disebut kelumpuhan menyeluruh pada orang gila. Berawal secara bertahap
sebagai perubahan perilaku pada usia 40-50 tahun. Secara perlahan mereka mulai
mengalami demensia. Gejalanya berupa kejang, kesulitan dalam berbicara,
kelumpuhan separuh badan yang bersifat sementara, mudah tersinggung,
kesulitan dalam berkonsentrasi, kehilangan ingatan, sakit kepala, sulit tidur,
lelah, letargi, kemunduran dalam kebersihan diri dan kebiasaan berpakaian,
perubahan suasana hati, lemah dan kurang tenaga, depresi, khayalan akan
kebesaran dan penurunan persepsi.
c. Neurosifilis tabetik.
Disebut juga tabes dorsalis. Merupakan suatu penyakit medulla spinalis yang
progresif, yang timbul secara bertahap. Gejala awalnya berupa nyeri menusuk
yang sangat hebat pada tungkai yang hilang-timbul secara tidak teratur. Penderita
berjalan dengan goyah, terutama dalam keadaan gelap dan berjalan dengan kedua
tungkai yang terpisah jauh, kadang sambil mengentakkan kakinya.
Penderita tidak dapat merasa ketika kandung kemihnya penuh sehingga
pengendalian terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi
saluran kemih. Bisa terjadi impotensi. Bibir, lidah, tangan dan seluruh tubuh
penderita gemetaran. Tulisan tangannya miring dan tidak terbaca. Sebagian besar
penderita berperawakan kurus dengan wajah yang memelas. Mereka mengalami
kejang disertai nyeri di berbagai bagian tubuh, terutama lambung. Kejang
lambung bisa menyebabkan muntah. Kejang yang sama juga terjadi pada rektum,
kandung kemih dan pita suara. Rasa di kaki penderita berkurang, sehingga bisa
terbentuk luka di telapak kakinya. Luka ini bisa menembus sangat dalam dan
pada akhirnya sampai ke tulang di bawahnya. Karena rasa nyeri sudah hilang,
maka sendi penderita bisa mengalami cedera.
5. Gejala sifilis kongenital (kelainan kongenital dini)
a. Kelainan kongenital dini
 Makulopapular pada kulit
 Retinitis
 Terdapat tonjolan kecil pada mukosa
 Hepatosplenomegali
 Ikterus
 Limfadenopati
 Osteokondrosis
 Kordioretinitis
 Kelainan pada iris mata
b. Kelainan kongenital terlambat (lanjut)
 Gigi hutchinnson
 Gambaran mulberry pada gigi molar
 Keratitis intertinal
 Retaldasi mental
 Hidrosefalus

Klasifikasi
Penyakit sifilis memiliki empat stadium yaitu primer, sekunder, laten dan tersier. Tiap
stadium perkembangan memiliki gejala penyakit yang berbeda-beda dan menyerang organ
tubuh yang berbeda-beda pula.
a. Stadium Dini atau I (Primer)
Tiga minggu setelah infeksi, timbul lesi pada tempat masuknya Treponema pallidum.
Lesi pada umumnya hanya satu. Terjadi afek primer berupa penonjolan-penonjolan kecil
yang erosif, berkuran 1-2 cm, berbentuk bulat, dasarnya bersih, merah, kulit disekitarnya
tampak meradang, dan bila diraba ada pengerasan. Kelainan ini tidak nyeri. Dalam
beberapa hari, erosi dapat berubah menjadi ulkus berdinding tegak lurus, sedangkan sifat
lainnya seperti pada afek primer. Keadaan ini dikenal sebagai ulkus durum.
Sekitar tiga minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar getah bening di daerah lipat
paha. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, tunggal dan
dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium 1
kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada alat kelamin, dapat pula di bibir, lidah,
tonsil, putting susu, jari dan anus. Tanpa pengobatan, lesi dapat hilang spontan dalam 4-
6 minggu, cepat atau lambatnya bergantung pada besar kecilnya lesi
b. Stadium II (Sekunder)
Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul, sifilis stadium I sudah sembuh.
Waktu antara sifilis I dan II umumnya antara 6-8 minggu. Kadang-kadang terjadi masa
transisi, yakni sifilis I masih ada saat timbul gejala stadium II.
Sifat yang khas pada sifilis adalah jarang ada rasa gatal. Gejala konstitusi seperti nyeri
kepala, demam, anoreksia, nyeri pada tulang, dan leher biasanya mendahului, kadang-
kadang bersamaan dengan kelainan pada kulit. Kelainan kulit yang timbul berupa
bercak-bercak atau tonjolan-tonjolan kecil. Tidak terdapat gelembung bernanah. Sifilis
stadium II seringkali disebut sebagai The Greatest Immitator of All Skin Diseases karena
bentuk klinisnya menyerupai banyak sekali kelainan kulit lain. Selain pada kulit, stadium
ini juga dapat mengenai selaput lendir dan kelenjar getah bening di seluruh tubuh.

c. Sifilis Stadium III


Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah infeksi. Guma
umumnya satu, dapat multipel, ukuran milier sampai berdiameter beberapa sentimeter.
Guma dapat timbul pada semua jaringan dan organ, termasuk tulang rawan pada hidung
dan dasar mulut. Guma juga dapat ditemukan pada organ dalam seperti lambung, hati,
limpa, paru-paru, testis dll. Kelainan lain berupa nodus di bawah kulit, kemerahan dan
nyeri.
d. Sifilis Tersier
Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis
(pada jaringan saraf). Umumnya timbul 10-20 tahun setelah infeksi primer. Sejumlah
10% penderita sifilis akan mengalami stadium ini. Pria dan orang kulit berwarna lebih
banyak terkena. Kematian karena sifilis terutama disebabkan oleh stadium ini. Diagnosis
pasti sifilis ditegakkan apabila dapat ditemukan Treponema pallidum. Pemeriksaan
dilakukan dengan mikroskop lapangan gelap sampai 3 kali (selama 3 hari berturut-turut).
Tes serologik untuk sifilis yang klasik umumnya masih negatif pada lesi primer, dan
menjadi positif setelah 1-4 minggu. TSS (tes serologik sifilis) dibagi dua, yaitu
treponemal dan non treponemal. Sebagai antigen pada TSS non spesifik digunakan
ekstrak jaringan, misalnya VDRL, RPR, dan ikatan komplemen Wasserman/Kolmer.
TSS nonspesifik akan menjadi negatif dalam 3-8 bulan setelah pengobatan berhasil
sehingga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pengobatan. Pada TSS spesifik,
sebagai antigen digunakan treponema atau ekstraknya, misalnya Treponema pallidum
hemagglutination assay (TPHA) dan TPI. Walaupun pengobatan diberikan pada stadium
dini, TSS spesifik akan tetap positif, bahkan dapat seumur hidup sehingga lebih
bermakna dalam membantu diagnosis.

Komplikasi
1. Komplikasi Pada Janin Dan Bayi
Dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus dan partus premature. Bayi
dengan sifilis kongenital memiliki kelainan pada tulang, gigi, penglihatan, pendengaran,
gangguan mental dan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sangat
dianjurkan untuk memeriksakan kesehatan janin yang dikandungnya. Karena pengobatan
yang cepat dan tepat dapat menghindari terjadinya penularan penyakit dari ibu ke janin.
2. Komplikasi Terhadap Ibu
a. Menyebabkan kerusakan berat pada otak dan jantung
b. Kehamilan dapat menimbulkan kelainan dan plasenta lebih besar, pucat, keabu-abuan
dan licin
c. Kehamilan <16 minggu dapat menyebabkan kematian janin
d. Kehamilan lanjut dapat menyebabkan kelahiran prematur dan menimbulkan cacat.

Penularan
Sifilis bisa ditularkan atau diturunkan dari seorang ibu kepada anak dalam
kandungannya. Sipilis kongenital, melalui infeksi transplasental terjadi pada saat janin berada
di dalam kandungan ibu yang menderita sifilis. Penularan karena mencium atau pada saat
menimang bayi dengan sifilis kongenital jarang sekali terjadi.
Cara penularan sifilis lainnya antara lain melalui transmisi darah. Hal ini bisa terjadi
jika pendonor darah menderita sifilis pada stadium awal. Ada lagi kemungkinan penularan cara
lain, yaitu penularan melalui barang-barang yang tercemar bakteri penyebab sifilis, Treponema
pallidum, walaupun itu baru secara teoritis saja, karena kenyataannya boleh dikatakan tidak
pernah terjadi.
Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa resiko penularan penyakit syphilis
dapat terjadi jika:
1. Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap penyakit sifilis, jika tidak
(pernah) melakukan hubungan seksual aktif dengan penderita sifilis maka dia tidak akan
punya resiko terkena penyakit ini.
2. Ibu menderita sifilis saat sedang mengandung kepada janinnya lewat transplasental
3. Lewat transfusi darah dari darah penderita sifilis.

Pengaruh Terhadap Kehamilan


Sifilis yang terjadi pada ibu yang hamil dapat mempengaruhi proses kehamilannya dan
janin. Berikut ini adalah pengaruh sifilis terhadap kehamilan yaitu:
1. Infeksi pada janin terjadi setelah minggu ke 16 kehamilan dan pada kehamilan dini, dimana
Treponema telah dapat menembus barier plasenta.
2. Akibatnya kelahiran mati dan partus prematurus.
3. Bayi lahir dengan lues konginetal : pemfigus sifilitus, diskuamasi telapak tangan-kaki, serta
kelainan mulut dan gigi.
4. Bila ibu menderita baru 2 bulan terakhir tidak akan terjadi lues konginetal.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Diagnosis pasti ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriskaan laboratorium dan pemeriksaan fisik. Infeksi pada janin terjadi
minggu 16 kehamilan dapat terjadi; partus prematurus, kelahiran mati, cacat bawaan pada janin.
Diagnosis pada ibu hamil agak sulit di tegakkan karena pada ibu hamil terjadi perubahan
hormon. Diagnosis dapat ditegakkan
a. Pemeriksaan serologik: VDRL (veneral diesses research laboratory).
b. Dengan mempergunakan lapangan gelap, untuk membuktikan langsung terdapat spirokaeta
treponea palidum.
c. Fungsi lumbal untuk membuktikan neurosifilis.

Penatalaksanaan dan Terapi


Wanita hamil dengan sifilis harus diobati sedini mungkin, sebaiknya sebelum hamil atau
pada triwulan I untuk mencegah penularan terhadap janin. Suami harus diperiksa dengan
menggunakan tes reaksi wasserman dan VDRL, bila perlu diobati dangan terapi penisilin G
injeksi. Penting untuk diketahui dalam pemilihan obat-obatan untuk ibu hamil perlu
memperhatikan pengaruh buruk yang akan terjadi pada janinya. Sedangkan jenis pinisilin dan
eritrosin merupakan obat untuk ibu hamil yang tidak memberikan efek atau pengaruh buruk
terhadap janinnya. Berikut ini adalah table terapi atau pengobatan Sifilis pada ibu yang sedang
hamil.
Terapi Infeksi Sifilis Pada Kehamilan
Tingkat Penyakit Alternatif Terapi Dasar Terapi
Infeksi Primer-
Infeksi Sekunder-
Fase Laten kurang dari 1 tahun
• Penisilin G Benzathine 2,4 juta unit IM • Eritromisin PO 500 mg/ 4 kali/ selama 15
hari-
• Cefriaxone IM 250 mg/ 4 kali selama 15 hari
Sifilis laten lebih dari 1 tahun
• Penisilin G Benzathin 2,4 juta IM/ 3 kali dalm seminggu Eritromisin 500 mg/ 4 kali/
hari selama 30 hari
Kardiovasculer atau neuro sifilis
• Pinisilin cristal G 2,4 juta unit setiap 4 hari selama 10 sampai 14 hari diikuti pinisilin
G Benzathin secara IM 2,4 juta unit
• Penisilin procain G secara IM setiap hari 2,4 juta unit ditambah probenecid 500 mg
sebanyak 4 kali/ hari selama 10-14 hari kemudian diikuti penisilin G Benzatin
sebanyak 2,4 juta unit secara IM Sebenarnya penisilin merupakan obat pilihan
Anjuran pengobatan sifilis yang harus dilakukan pada ibu hamil stadium primer,
sekunder, atau laten durasi kurang dari 1 tahun dapat diberikan pengobatan utama yaitu
penisilin G Benzathin 2,4 juta unit secara IM. Tetapi jika ibu mengalami alergi dapat diganti
dengan Eritomisin 500 ng PO selama 15 hari serta setriakson 250 mg secara IM selama 10
hari. Sedangkan pada Sifilis laten durasi lebih dari 1 tahun atau sifilis kardiovasculer
diberikan obat utama penisilin G Benzathin 2,4 juta unit secara IM setiap minggu 3x, tetapi
jika ibu mengalami alergi penisilin dapat diganti dengan Eritromicin 500 ng PO selama 30
hari.
Sedangkan pada Neurosifilis diberikan pengobatan utama pinisilin G akueous kristalin
2,4 juta unit 4x selama 10-14 hari diikuti dengan penisilin G Benzethin 2,4 juta unit secara
IM. Atau dapat diberi pinisilin G akueous prokain 2,4 juta unit IM setiap hari dengan
probenesid 500 mg PO selama 10-14 hari, kemudian diikuti dengan penisilin G Benzethin
2,4 juta secara IM.

Asuhan Setelah Persalinan Pada Penderita Sifilis


1. Bila keadekuatan pengobatan pada ibu tidak diketahui atau jika ibu tidak mendapatkan
pinisilin ibu harus mendapatkan terapi
2. Diantara bayi yang selamat, banyak yang menderita sifilis congenital yang dapat
menyebabkan kecacatan fisik dan retardasi mental.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SIFILIS

1. Pengkajian
Perawat menghubungkan riwayat sifilis dengan kategori berikut
a. Anamnesa
1) Tanyakan kepada klien sejak kapan mengeluh nyeri
2) Bagaimana dan berupa apa saja kelainan pada awalnya dan apakah
menyebar/menetap
3) Apakah ada sensasi panas, gatal serta cairan yang menyertai
4) Obat apa saja yang telah dipakai dan bagaimana pengaruh obat tersebut apakah
membaik, memburuk, atau menetap
5) Apakah klien mengeluh adanya nyeri pada tulang, nyeri pada kepala, mengeluh
kesemutan, mati rasa (sebagai tanda kerusakan neorologis)
6) Tanyakan social ekonomi keluarga, jumlah anggota keluarga, gaya hidup dan
penyakit keluarga/individu sekitarnya
7) Bagaimana aktivitas seksual (pernah/sering melakukan seks beresiko missal
berganti-ganti pasangan, oral/anal seks, homo seksual, melakukan dengan PSK)
8) Apakah ada tanda-tanda kelainan pada alat kelamin pasangan seperti
kemerahan, muncul benjolan, dan vesikel
9) Bagaimana dengan urin klien apakah bercampur darah, urin tidak lancar, nyeri
saat berkemih
10) Apa disertai dengan febris, anoreksia
11) Pada sifilis kongietal selain anamnesa diatas, perlu ditanya orang tua apakah
pernah keluar secret bercampur darah dari hidung, perforasi palatum durum,
gangguan pengelihatan dan pendengaran, gangguan berjalan, serta
keterlambatan tumbuh kembang.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi
a) Adanya eritema dan papula, macula, postula, vesikula dan ulkus
b) Timbulnya lesi pada alat kelamin ekstra genital, bibir, lidah, tonsil, jari dan
anus
c) Kelainan selaput lender dan limfa denitis
d) Kelainan pada mata dan telinga
e) Kelainan pada tulang dan gaya berjalan
2) Palpasi
Adanya pembesaran limfe, adanya nyeri tekan
3) Auskultasi
Perubahan suara pada paru-paru, jantung dan system pencernaan
2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermi b/d proses infeksi d/d adanya peningkatan suhu tubuh (lebih dari 37,2
drajat celcius) kulit teraba hangat
b. Nyeri akut b/d agen cedera fisiologis d/d laporan nyeri secara verbal, sikap
melindungi area nyeri, wajah tampak meringis, klien tampak gelisah.
c. Kerusaka integritas kulit b/d peradangan pada lapisan kulit d/d adanya tanda
elfloresensi
d. Gangguan citra tubuh b/d penyakit d/d respon non verbal terhadap perubahan actual
pada tubuh ( bentuk/ struktur dan fungsi perasaan negative terhadap tubuh)
e. Kurang pengetahuan b/d ketidakmampuan mengenal pemyakit d/d pengungkapan
secara verbal ketidaktahuan penyakit permintaan informasi
f. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan b/d respon nyeri
g. Risiko tinggi cidera b/d disfungsi sensorik
h. Risiko keterlambatan tumbuh kembang b/d infeksi kongietal
3. Rencana Keperawatan

No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1 Setelah dilakukan asuhan 1. Pantau suhu pasien 1. Suhu diatas 37,2


keperawatan diharapkan suhu tubuh 2. Berikan kompres drajat celcius
dalam rentang normal, dengan hangat menunjukkan proses
kriteria hasil: 3. Anjurkan pasien infeksius
 Suhu tubuh normal (36,5- untuk banyak minum 2. Membantu
37,2 drajat celcius) 4. Anjurkan pasien mengurangi demam
 Akral teraba hangat, tidak untuk menggunakan 3. Untuk mengganti
kemerahan pakaian yang tipis cairan tubuh yang
 Turgor kulit elastic dan mudah menyerap hilang

 Mukosa bibir lembab keringat 4. Memberikan rasa


5. Kolaborasi dalam nyaman dan pakaian
pemberian cairan tipis mudah menyerap
intravena keringat dan tidak
6. Kolaborasi dengan merangsang
tim medis dalam peningkatan suhu
pemberian antipiretik tubuh
5. Pemberian cairan
sangat penting bagi
pasien dengan suhu
tubuh yang tinggi
6. Antipiretik untuk
menurunkan panas
tubuh pasien
2 Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji TTV 1. TTV dapat
keperawatan diharapkan nyeri 2. Kaji keluhan lokasi, menunjukkan tingkat
berkurang/ hilang dengan intensitas, frekuensi perkembangan pasien
criteria hasil: dan waktu terjadinya 2. Mengindikasikan
nyeri kebutuhan untuk
 Pasien tidak mengeluh nyeri
3. Dorong ekspresi, intervensi dan tanda-
 Skala nyeri 0-4
perasaan tentang tanda perkembangan
 Pasien tidak gelisah
nyeri
4. Ajarkan tehnik atau resolusi
relaksasi komplikasi
5. Jelaskan dan bantu 3. Pernyataan
pasien dengan memungkinkan
tindakan pereda nyeri pengungkapan emosi
nonfarmakologi dan dan meningkatkan
non infasif mekanisme koping
6. Kolaborasi dengan 4. Memfokuskan
dokter pemberian kembali perhatian,
analgesic sesuai meningkatkan
indikasi relaksasi dan
meningkatkan rasa
control yang dapat
menurunkan
ketergantungan
farmakologis
5. Pendekatan dengan
menggunakan
relaksasi dan
nonfarmakologi
lainnya telah
menunjukkan
keefektifan dalam
mengurangi nyeri
6. Analgetik memblok
lintasan nyeri
sehingga nyeri dapat
berkurang
3 Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji kerusakan kulit 1. Menjadi data dasar
keperawatan diharapkan integritas yang terjadi pada untuk memberikan
kulit membaik secara optimal, klien informasi intervensi
dengan criteria hasil: 2. Catat ukuran atau perawatan luka apa
warna, kedalaman yamg akan dipakai
 Pertumbuhan jaringan luka dan kondisi dan jenis larutan apa
meningkat sekitar luka yang dipakai
 Keadaan luka membaik 3. Lakukan perawatan 2. 2. Memberikan
 Luka menutup luka dengan tehnik informasi dasar

 Mencapai penyembuhan steril tentang kebutuhan

luka tepat waktu 4. Bersihkan area dan petunjuk tentang


perianal dengan sirkulasi
membersihan feses 3. Perawatan luka
dengan air mengalir dengan tehnik steril
5. Kolaborasi dengan dapat mengurangi
tim medis dalam kontaminasi kuman
pemberian obat masuk kearea luka
antibiotikatopikal 4. Mencegah meserasi
dan menjaga perianal
tetap kering, menjaga
kebersihan kulit serta
mencegah komplikasi
5. Mengurangi tekanan
pada area yang sama
4 Setelah dilakukanasuhan 1. Kaji tingkat 1. Memberikan data
keperawatan diharapkan pengetahuan pasien besar untuk
terpenuhinya pengetahuan pasien 2. Lakukan komunikasi mengetahui tingkat
tentang kodisi penyakit, dengan dua arah untuk pemahaman psien
criteria hasil: menggali informasi tentang penyakit.
 Mengungkapkan pengertian tentang persepsi diri 2. Peningkatan koping
tentang proses penyakit dan manajemen positif akibat adanya
pencegahan, perawatan koping pasien gangguan citra tubuh,
tindakan yang dibutuhkan 3. Lakukan simulasi klien mau menerima
dengan kemungkinan personal hygine dan kondisinya dan mau
komplikasi perawatan luka pada bersosialisasikan
 Mengenal perubahan gaya area yang terjadi 3. Memandirikan klien
hidup/tingkah laku untuk efloforasi terutama dan keluarga untuk
ulkus hygine yang terjaga
mencegah terjadinya 4. Beri informasi daapt meminimalkan
komplikasi pasien/orang terdekat resiko infeksi dapat
tentang perawatan mempercepat proses
pasien di rumah sakit penyembuhan
dan dirumah (hygine 4. Informasi dibutuhkan
dan pentingnya untuk meningkatkan
pengomsusian obat perawatan diri, untuk
sesuai dosis) serta menambah kejelasan
komplikasi jika efektivitas
pengobatan tidak pengobatan dan
dilakukan. mencegah komplikasi
5. Beri informasi 5. Merubah persepsi dan
tentang bahaya perilaku sex yang
perilaku sex beresiko beresiko menularan
dan cara penyakit
penanggulangan/
pencegahan serta
komplikasi

4. Tindakan Keperawatan
Disesuaikan dengan intervensi yang ada
5. Evaluasi
Dx.I, suhu tubuh normal (36-37 drajat celcius), kulit tidak panas, tidak kemerahan,
turgor kulit elastis, mukosa bibir lembab
Dx II, pasien tidak mengeluh nyeri, skala nyeri 0-2, pasien tidak gelisah
Dx III pertumbuhan jaringan meningkat, keadaan luka membaik, luka menutup,
pencapai penyembuhan luka tepat waktu
Dx IV mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, pencegahan, perawatan
tindakan yang dibutuhkan dengan kemungkinan komplikasi. Mengenal perubahan gaya
hidup dari tingkah laku untuk mencegah terjadinya komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda,Adhi.2007.Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.Jakarta:FKUI

Doenges,Marilyin E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC

NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta:EGC.

Price,Sylvia Anderson.2005.Patofisiologi.Jakarta:EGC

Siregar, R.S. 2004. Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC

Smeltzer,Suzzanne C 2001.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EG