Anda di halaman 1dari 53

Basic First Aid Training Kecelakaan tidak memandang

waktu, orang dan tempat. Bisa saja kecelakaan itu


justru terjadi di Rumah Sakit dimana tersedia segala
peralatan medis dan tenaga medis serta para medis.
Insiden itu mungkin lebih banyak terjadi diluar kawasan
perawatan atau di sekitar rumah sakit. Apabila terjadi
insiden di area ini kepada siapa harus dimintakan
pertanggung jawaban. Kecelakaan mungkin saja terjadi
ketika seseorang baru memasuki areal rumah sakit.
Bisa jadi suatu ketika pasien terjatuh atau pingsan
karena lemahnya kondisi tubuh sebelum sampai di
Instalasi Gawat Darurat (IGD). Siapa yang bisa
menolong pasien sedangkan dokter dan perawat stand
bye di bagian dalam Rumah Sakit. Pada situasi dan
kondisi seperti inilah diperlukan peran petugas non
medik seperti satpam, cleaning servis, dan tukang
parkir dalam posisinya terdekat dengan korban.
Kecepatan pertolongan pertama kepada korban sangat
menentukan keselamatan jiwa. Keterlambatan
pertolongan akan membuat kondisi fatal. Oleh karena
itu agar warga yang datang berobat ke institusi
keesehatan mendapatkan pelayanan paripurna dan
terhindar dari insiden yang tidak diinginkan maka perlu
dilakukan pelatihan para pegawai non medis tersebut.
Pelatihan Basic Life Support diikuti Satpam, cleaning
service, juru parkir, sopir dan pegawai lain yang terkait
dengan pelayanan di rumah sakit. Tujuan kemampuan
kegawat daruratan diberikan kepada pegawai non
medis dimaksudkan untuk melakukan pertolongan
pertama kepada pasien terutama kasus emergency
sejak masuk melalui pagar dan di sekeliling areal
rumah sakit.
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/thamrindahlan/untuk-apa-
satpam-dilatih-basic-life-
support_556c23312f7a6104058b4569
1. CONTOH PENANGANANNON TRAUMA /
CARDIAC ARREST
2. 28. • Seorang laki laki berusia sekitar 40 tahun
ditemukan tergeletak di depan Kampus FIKOM
UNPAD oleh petugas kebersihan setempat, anda
sedang bersepeda pagi dari arah gerbang lama
UNPAD dan mendengar teriakan “tolong” dari
petugas kebersihan anda langsung ke tempat
kejadian dan menemukan korban.• Korban
ditemukan menggunakan pakaian olahraga,
berkeringat dan dalam posisi telungkup di tengah
jalan. • Apa yang akan anda lakukan?CASE 1
3. 29. • Anda sedang bekerja sebagai asisten di klinik
padadjaran leles sebuah rumah sakit, pada pukul
01.15 seorang perempuan usia 76 tahun dibawa
oleh warga sekitar ditemukan tidak sadar di
pinggiran jalan, tidak ada informasi lain yang
diketahui, warga mengakui tidak pernah melihat
wanita ini.• Dokter saat itu sedang pergi ke luar. •
APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN ?CASE 2
4. 30. Do NoFurther Harm, jangan membuat cedera
lebih lanjut !! • Penilaian A-V-P-U • Alert (sadar)
CEK • Verbal : disorientasi tapi masih ada respon
RESPONSE!! • Painful : memberi respon pada
nyeri • UnresponsifRESPONSE OK! NO
RESPONSE • Activate Emergency System!! • CALL
HELP • CALL AMBULANCE • CRASH CART • AED
/ DEFIBD- danger (bahaya) . Danger
5. 31. • Anda bekerja di UGD RS daerah tipe B,
datang korban KLL dengan luka di seluruh tubuh
dan muka, pasien tidak sadar, datang dibawa oleh
petugas kesehatan dari PUSTU, terpasang kardus
pada sekeliling leher dan pasien diikat pada pintu
kayu yang rata. Pasien berusia sekita 25 tahun,
bernapas kencang tidak beraturan.• BAGAIMANA
PENDAPAT ANDA TENTANG PENANGANAN
AWAL PETUGAS TERSEBUT?• APA YANG
SELANJUTNYA HARUS ANDA LAKUKAN ?CASE
3
6. 32. UJI KASUSBASIC LIFE SUPPORT
7. 33. • Anda sedang lari pagi di sabuga, tiba-tiba
seorang bapak di depan anda berteriak dan terjatuh
tidak sadarkan diri. • APA YANG AKAN ANDA
LAKUKAN?CASE TEST 1
8. 34. • Seorang korban KLL dilarikan ke tempat anda
bekerja, tidak sadarkan diri, dibawa oleh warga
sekitar menggunakan angkutan umum. Usia pasien
sekitar 30 tahun, tampak darah mengalir dari
telinga dan hidung. Warga mengatakan korban
terpental 2 meter menembus kaca depan mobil
yang dikendarainya dan mendarat di tanah. Warga
langsung membawa ke Klinik Padjadjaran.• APA
YANG AKAN ANDA LAKUKAN?CASE TEST 2

Kepada seluruh peserta di berikan kartu nama (ID Card) sebagai bukti bahwa mereka
mengikuti pelatihan Kartu tersebut bisa digunakan ketika mereka akan memberikan
bantuan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan. Dengan menunjukan ID Card
kepada pihak Kepolisian atau masyarakat mereka dengan diberi kewenangan melakukan
pertolongan pertama sebelum korban di evakuasi, selain ID Card rencananya mereka juga
akan mendapatkan sertifikat setelah lulus mengikuti ujian akhir nanti.

BANTUAN HIDUP DASAR


(BHD)

INDIKASI
1. Henti napas

Henti napas ditandai dengan tidak adanya


gerakan dada dan aliran udara pernapasan dari
korban/pasien.

Henti napas merupakan kasus yang harus


dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti
napas dapat terjadi pada keadaan:

 Tenggelam
 Stroke
 Obstruksi jalan napas
 Epiglotitis
 Overdosis obat-obatan
 Tersengat listrik
 Infark miokard
 Tersambar petir
 Koma akibat berbagai macam kasus.
Pada awal henti napas oksigen masih dapat
masuk kedalam darah untuk beberapa menit
dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah
ke otak dan organ vital lainnya, jika pada
keadaan ini diberikan bantuan napas akan
sangat bermanfaat agar korban dapat tetap
hidup dan mencegah henti jantung.
2. Henti jantug

Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung


akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini
akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ
vital kekurangan oksigen. Pernapasan yang
terganggu (tersengal-sengal) merupakan tanda
awal akan terjadinya henti jantung.

Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari


pengelolaan gawat darurat medik yang
bertujuan:

1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya


respirasi.
2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi
dan ventilasi dari korban yang mengalami henti
jantung atau henti napas melalui Resusitasi
Jantung Paru (RJP).
Resusitasi jantung Paru terdiri dari 2 tahap,
yaitu :

 Survei Primer (Primary Survey), yang dapat


dilakukan oleh setiap orang
 Survei Sekunder (Secondary Survey), yang hanya
dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis
terlatih dan merupakan lanjutan dari survei
primer.
SURVEI PRIMER

Dalam survei primer difokuskan pada bantuan


napas dan bantuan sirkulasi serta defibrilasi.
Untuk dapat mengingat dengan mudah tindakan
survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C,
dan D, yaitu

A airway (jalan napas)


B breathing (bantuan napas)
C circulation (bantuan sirkulasi)
D defibrilation (terapi listrik)
Sebelum melakukan tahapan A (airway), harus
terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada
korban/pasien, yaitu :
1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong
1. Memastikan kesadaran dari korban/pasien.
Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar
atau tidak penolong harus melakukan upaya
agar dapat memastikan kesadaran
korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh
atau menggoyangkan bahu korban/pasien
dengan lembut dan mantap untuk mencegah
pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil
namanya atau Pak !!! / Bu!!! / Mas!!!
/Mbak !!!.
1. Meminta pertolongan.
Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan
respon terhadap panggilan, segera minta
bantuan dengan cara berteriak “Tolong
!!!” untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis
yang lebih lanjut.
1. Memperbaiki posisi korban/pasien.
Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif,
korban/pasien harus dalam posisi terlentang
dan berada pada permukaan yang rata dan
keras. jika korban ditemukan dalam posisi
miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke
posisi terlentang.Ingat! penolong harus
membalikkan korban sebagai satu kesatuan
antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara
bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang,
korban harus dipertahankan pada posisi
horisontal dengan alas tidur yang keras dan
kedua tangan diletakkan di samping tubuh.
1. Mengatur posisi penolong.
Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar
saat memberikan bantuan napas dan sirkulasi,
penolong tidak perlu mengubah posisi atau
menggerakkan lutut.

A (AIRWAY) Jalan Napas


Setelah selesai melakukan prosedur dasar,
kemudian dilanjutkan dengan melakukkan
tindakan :

1. Pemeriksaan jalan napas.


Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada
tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda
asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan
dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat
dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari
tengah yang dilapisi dengan sepotong kain,
sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat
dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang
dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan
tehnikCross Finger, dimana ibu jari diletakkan
berlawanan dengan jari telunjuk Pada mulut
korban.
1. Membuka jalan napas.
Setelah jalan napas dipastikan bebas dari
sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak
sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah
dan epiglotis akan menutup farink dan larink,
inilah salah satu penyebab sumbatan jalan
napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat
dilakukan dengan cara Tengadah kepala topang
dagu(Head tild – chin lift) dan Manuver
Pendorongan Mandibula. Teknik membuka
jalan napas yang direkomendasikan untuk orang
awam dan petugas, kesehatan adalah tengadah
kepala topang dagu, namun demikian petugas
kesehatan harus dapat melakukan manuver
lainnya.
B (BREATHING) Bantuan napas
Terdiri dari 2 tahap :

1. Memastikan korban/pasien tidak bernapas.


Dengan cara melihat pergerakan naik turunnva
dada, mendengar bunyi napas dan merasakan
hembusan napas korban/pasien. Untuk itu
penolong harus mendekatkan telinga di atas
mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap
mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10
detik.

1. Memberikan bantuan napas.


Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan
napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut,
mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang
yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara
memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali
hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap
kali hembusan adalah 1,5 – 2 detik dan volume
udara yang dihembuskan adalah 7000 – 1000
ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban/pasien
terlihat mengembang. Penolong harus menarik
napas dalam pada saat akan menghembuskan
napas agar tercapai volume udara yang cukup.
Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya
16 – 17%. Penolong juga harus memperhatikan
respon dari korban/pasien setelah diberikan
bantuan napas.

Cara memberikan bantuan pernapasan :

 Mulut ke mulut
Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara
ini merupakan cara yang tepat dan efektif untuk
memberikan udara ke paru-paru korban/pasien.
Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut
ke mulut, penolong harus mengambil napas
dalam terlebih dahulu dan mulut penolong
harus dapat menutup seluruhnya mulut korban
dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat
mengghembuskan napas dan juga penolong
harus menutup lubang hidung korban/pasien
dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk
mencegah udara keluar kembali dari hidung.
Volume udara yang diberikan pada kebanyakkan
orang dewasa adalah 700 – 1000 ml (10 ml/kg).
Volume udara yang berlebihan dan laju inpirasi
yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara
memasuki lambung, sehingga terjadi distensi
lambung.

 Mulut ke hidung
Teknik ini direkomendasikan jika usaha
ventilasi dari mulut korban tidak
memungkinkan, misalnya pada Trismus atau
dimana mulut korban mengalami luka yang
berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke
hidung, penolong harus menutup mulut
korban/pasien.

 Mulut ke Stoma
Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai
lubang (stoma) yang menghubungkan trakhea
langsung ke kulit. Bila pasien mengalami
kesulitan pernapasan maka harus dilakukan
ventilasi dari mulut ke stoma.
C (CIRCULATION) Bantuan sirkulasi
Terdiri dari 2 tahapan :

1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung


korban/pasien.
Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien
dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis
di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau
tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah)
penolong dapat meraba pertengahan leher
sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari
digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1
– 2 cm raba dengan lembut selama 5 – 10 detik.

Jika teraba denyutan nadi, penolong harus


kembali memeriksa pernapasan korban dengan
melakukan manuver tengadah kepala topang
dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien.
Jika tidak bernapas lakukan bantuan
pernapasan, dan jika bernapas pertahankan
jalan napas.

1. Memberikan bantuan sirkulasi.


Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung,
selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi
atau yang disebut dengan kompresi jantung
luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :
 Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong
menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga
bertemu dengan tulang dada (sternum).
 Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur
kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut
merupakan tempat untuk meletakan tangan
penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi.
 Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan
cara menumpuk satu telapak tangan di atas
telapak tangan yang lainnya, hindari jari-jari
tangan menyentuh dinding dada korban/pasien,
jari-jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.
 Dengan posisi badan tegak lurus, penolong
menekan dinding dada korban dengan tenaga dari
berat badannya secara teratur sebanyak 15 kali
dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5
– 2 inci (3,8 – 5 cm).
 Tekanan pada dada harus dilepaskan
keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang
kembali ke posisi semula setiap kali melakukan
kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan
untuk melepaskan kompresi harus sama dengan
pada saat melakukan kompresi. (50% Duty
Cycle).
 Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada
dan atau merubah posisi tangan pada saat
melepaskan kompresi.
 Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas
adalah 15 : 2, dilakukan baik oleh 1 atau 2
penolong jika korban/pasien tidak terintubasi dan
kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit
(dilakukan 4 siklus permenit), untuk kemudian
dinilai apakah perlu dilakukan siklus berikutnya
atau tidak.
Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan
mencapai tekanan sistolik 60 – 80 mmHg, dan
diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah
jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah
jantung normal. Selang waktu mulai dari
menemukan pasien dan dilakukan prosedur
dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan
sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi
30 detik.
D (DEFIBRILATION)
Defibrilation atau dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan dengan istilah defibrilasi adalah
suatu terapi dengan memberikan energi listrik.
Hal ini dilakukan jika penyebab henti jantung
(cardiac arrest) adalah kelainan irama jantung
yang disebut dengan Fibrilasi Ventrikel. Dimasa
sekarang ini sudah tersedia alat untuk defibrilasi
(defibrilator) yang dapat digunakan oleh orang
awam yang disebut Automatic External
Defibrilation, dimana alat tersebut dapat
mengetahui korban henti jantung ini harus
dilakukan defibrilasi atau tidak, jika perlu
dilakukan defibrilasi alat tersebut dapat
memberikan tanda kepada penolong untuk
melakukan defibrilasi atau melanjutkan bantuan
napas dan bantuan sirkulasi saja.
MELAKUKAN BHD 1 DAN 2 PENOLONG
Orang awam hanya mempelajari cara
melakukan BHD 1 penolong. Teknik BHD yang
dilakukan oleh 2 penolong menyebabkan
kebingungan koordinasi. BHD 1 penolong pada
orang awam lebih efektif mempertahankan
sirkulasi dan ventilasi yang adekuat, tetapi
konsekuensinya akan menyebabkan penolong
cepat lelah.

BHD 1 penolong dapat mengikuti urutan sebagai


berikut :

1. Penilaian korban
Tentukan kesadaran korban/pasien (sentuh dan
goyangkan korban dengan lembut dan mantap),
jika tidak sadar, maka

1. Minta pertolongan serta aktifkan sistem


emergensi.
1. Jalan napas (AIRWAY)
 Posisikan korban/pasien
 Buka jalan napas dengan manuver tengadah
kepala-topang dagu.
1. Pernapasan (BREATHING)
Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya
pernapasan dan adekuat atau tidak pernapasan
korban/pasien.

5 Jika korban/pasien dewasa tidak sadar


dengan napas spontan, serta tidak ada trauma
leher (trauma tulang belakang) posisikan korban
pada posisi mantap (Recovery positiotion),
dengan tetap menjaga jalan napas tetap terbuka.
5 Jika korban/pasien dewasa tidak sadar
dan tidak bernapas, lakukkan bantuan napas. Di
Amerika serikat dan di negara lainnya dilakukan
bantuan napas awal sebanyak 2 kali,
sedangkandi Eropa,Australia,New
Zealanddiberikan 5 kali. Jika pemberian napas
awal terdapat kesulitan, dapat dicoba dengan
membetulkan posisi kepala korban/pasien, atau
ternyata tidak bisa juga maka dilakukan :

ü Untuk orang awam dapat dilanjutkan dengan


kompresi dada sebanyak 15 kali dan 2 kali
ventilasi, setiap kali membuka jalan napas untuk
menghembuskan napas, sambil mencari benda
yang menyumbat di jalan napas, jika terlihat
usahakan dikeluarkan.

ü Untuk petugas kesehatan yang terlatih


dilakukan manajemen obstruksi jalan napas
oleh benda asing.

ü Pastikan dada pasien mengembang pada saat


diberikan bantuan pernapasan.

ü Setelah memberikan napas 12 kali (1 menit),


nilai kembali tanda-tanda adanya sirkulasi
dengan meraba arteri karotis, bila nadi ada cek
napas, jika tidak bernapas lanjutkan kembali
bantuan napas.

5 Sirkulasi (CIRCULATION)

Periksa tanda-tanda adanya sirkulasi setelah


memberikan 2 kali bantuan pernapasan dengan
cara melihat ada tidaknva pernapasan spontan,
batuk atau pergerakan. Untuk petugas
kesehatan terlatih hendaknya memeriksa denyut
nadi pada arteri Karotis.

1. jika ada tanda-tanda sirkulasi, dan ada denyut nadi


tidak dilakukan kompresi dada, hanya menilai
pernapasan korban/pasien (ada atau tidak ada
pernapasan)
2. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, denvut nadi
tidak ada lakukan kompresi dada
 Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar

 Lakukan kompresi dada sebanyak 15 kali

dengan kecepatan 100 kali permenit


 Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan
pernapasan.
 Letakkan kembali telapak tangan pada posisi
yang tepat dan mulai kembali kompresi 15 kali
dengan kecepatan 100 kali permenit.
 Lakukan 4 siklus secara lengkap (15 kompresi

dan 2 kali bantuan pernapasan)


1. Penilaian Ulang
Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi
kemudian korban dievaluasi kembali,
ü Jika tidak ada nadi dilakukan kembali
kompresi dan bantuan

napas dengan rasio 15 : 2.

ü Jika ada napas dan denyut nadi teraba


letakkan korban pada posisi mantap.

ü Jika tidak ada napas tetapi nadi teraba,


berikan bantuan napas sebanyak 10 12 kali
permenit dan monitor nadi setiap saat.

ü Jika sudah terdapat pernapasan spontan dan


adekuat serta nadi teraba, jaga agar jalan napas
tetap terbuka kemudian korban/pasien
ditidurkan pada posisi sisi mantap.

PENATALAKSANAAN OBSTRUKSI JALAN


NAPAS OLEH BENDA ASING .
Pengertian obstruksi jalan napas oleh benda
asing :

Obstruksi jalan napas oleh benda asing pada


orang dewasa sering terjadi pada saat makan,
daging merupakan penyebab utama obstruksi
jalan napas meskipun demikian berbagai macam
bentuk makanan yang lain berpotensi
menyumbat jalan napas pada anak-anak dan
orang dewasa.

Benda asing tersebut dapat menyebabkan


obstruksi jalan napas sebagian (parsial) atau
komplit (total). Pada obstruksi jalan napas
partial korban mungkin masih mampu
melakukan pernapasan, namun kualitas
pernapasan dapat baik atau buruk. Pada korban
dengan pernapasan yang masih baik, korban
biasanya masih dapat melakukan tindakan
batuk dengan kuat, usahakan agar korban tetap
bisa melakukan batuk dengan kuat sampai
benda asing tersebut dapat keluar. Bila
sumbatan jalan napas partial menetap, maka
aktifkan sistem pelayanan medik darurat.
Obstruksi jalan napas partial dengan
pernapasan yang buruk harus diperlakukan
sebagai Obstruksi jalan napas komplit.

Obstruksi jalan napas komplit (total), korban


biasanya tidak dapat berbicara, bernapas, atau
batuk. Biasanya korban memegang lehernya
diantara ibu jari dan jari lainya. Saturasi oksigen
akan dengan cepat menurun dan otak akan
mengalami kekurangan oksigen sehingga
menyebabkan kehilangan kesadaran, dan
kematian akan cepat terjadi jika tidak diambil
tindakan segera.

Penatalaksanaan obstruksi jalan napas oleh


benda asing:

Manuver Heimlich
Untuk mengatasi obstruksi jalan napas oleh
benda asing dapat dilakukan manuver Heimlich
(hentakan subdiafragmaabdomen). Suatu
hentakan yang menyebabkan peningkatan
tekanan pada diafragma sehingga memaksa
udara yang ada di dalam paru-paru untuk keluar
dengan cepat sehingga diharapkan dapat
mendorong atau mengeluarkan benda asing
yang menyumbat jalan napas. Setiap hentakan
harus diberikan dengan tujuan menghilangkan
obstruksi, mungkin dibutuhkan hentakan 6 – 10
kali untuk membersihkan jalan napas.

Pertimbangan penting dalam rnelakukan


manuver Heimlichi adalah kemungkinan
kerusakan pada organ-organ besar.

Manuver Heimlich pada korban sadar dengan


posisi berdiri atau duduk
Penolong harus berdiri di belakang korban,
melingkari pinggang korban dengan kedua
lengan, kemudian kepalkan satu tangan dan
letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut
korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung
tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan
dengan tangan lainnya, Tekan kepalan ke perut
dengan hentakan yang cepat ke arah atas. Setiap
hentakan harus terpisah dan dengan gerakan
yang jelas.

Manuver Heimlich pada korban yang tergeletak


(tidak sadar)
Korban harus diletakkan pada posisi terlentang
dengan muka keatas. Penolong berlutut disisi
paha korban. Letakkan salah satu tangan pada
perut korban di garis tengah sedikit di atas pusat
dan jauh dibawah ujung tulang sternum, tangan
kedua diletakkan diatas tangan pertama.
Penolong menekan kearah perut dengan
hentakan yang cepat kearah atas. Manuver ini
dapat dilakukan pada korban sadar jika
penolongnya terlampau pendek untuk memeluk
pinggang korban.

Manuver Heimlich pada yang dilakukan sendiri :


Pengobatan diri sendiri terhadap obstruksi jalan
napas

Kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari


pada perut diatas pusat dan dibawah tulang
sternum, genggam kepalan itu dengan kuat dan
berikan tekanan ke atas ke arah diafragma
dengan gerakan cepat, jika tidak berhasil dapat
dilakukan tindakan dengan menekan perut pada
tepi meja atau belakang kursi.

Penyapuan jari
Manuver ini hanya dilakukan atau digunakan
pada korban tidak sadar, dengan muka
menghadap keatas buka mulut korban dengan
memegang lidah dan rahang diantara ibu jari
dan jari-jarinya, kemudian mengangkat rahang
bawah. Tindakan ini akan menjauhkan lidah
dari kerongkongan serta menjauhkan benda
asing yang mungkin menyangkut ditempat
tersebut. Masukkan jari telunjuk tangan lain
menelusuri bagian dalam pipi, jauh ke dalam
kerongkongan di bagian dasar lidah, kemudian
lakukan gerakan mengait untuk melepaskan
benda asing serta menggerakkan benda asing
tersebut ke dalam mulut sehingga memudahkan
untuk diambil. Hati-hati agar tidak mendorong
benda asing lebih jauh kedalam jalan napas.

PENATALAKSANAAN JALAN NAPAS


Mengenali adanya sumbatan jalan napas
Penyebab utama jalan napas pada pasien tidak
sadar adalah hilangnya tonus otot tenggorokan
sehingga pangkal lidah jatuh menyumbat farink
dan epiglotis menutup larink. Bila pasien masih
bernapas sumbatan partial menyebabkan bunyi
napas saat inspirasi bertambah (stridor),
sianosis (tanda lanjut) dan retraksi otot napas
tambahan. Tanda ini akan hilang pada pasien
yang tidak bernapas.

Tahap dasar membuka jalan napas tanpa alat


Tengadahkan kepala pasien disertai dengan
mengangkat rahang bawah ke depan. Bila ada
dugaan cedera pada leher lakukan pengangkatan
rahang bawah ke depan disertai dengan
membuka rahang bawah (Jaw thrust), jangan
lakukan ekstensi kepala. Apabila pasien masih
bernapas spontan, untuk menjaga jalan napas
tetap terbuka posisikan kepala pada kedudukan
yang tepat. Pada keadaan yang meragukan
untuk mempertahankan jalan napas
pasanglah oral/nasal airway.
Tahap dasar membuka jalan napas dengan alat
Apabila manipulasi posisi kepala tidak dapat
membebaskan jalan napas akibat sumbatan oleh
pangkal lidah atau epiglotis maka lakukan
pemasangan alat bantu jalan napas oral/nasal.
Sumbatan oleh benda asing diatasi dengan
perasat Heimlich atau laringoskopi disertai
dengan pengisapan atau menjepit dan menarik
keluar benda asing yang terlihat.

Alat bantu jalan napas orofaring (oropharyngeal


airway)
Alat bantu jalan napas orofaring menahan
pangkal lidah dari dinding belakang faring. Alat
ini berguna pada pasien yang masih bernapas
spontan atau saat dilakukan ventilasi dengan
sungkup dan bagging dimana tanpa disadari
penolong menekan dagu ke bawah sehingga
jalan napas tersumbat. Alat ini juga membantu
saat dilakukan pengisapan lendir dan mencegah
pasien mengigit pipa endotrakheal (ETT).

Cara pemasangan

 Bersihkan mulut dan faring dari segala kotoran


 Masukan alat dengan ujung mengarah ke chefalad
 Saat didorong masuk mendekati dinding belakang
faring alat diputar 180°
 Ukuran alat dan penempatan yang tepat
menghasilkan bunyi napas yang nyaring pada
auskultasi paru saat dilakukan ventilasi
 Pertahankan posisi kepala yang tepat setelah alat
terpasang
Bahaya

 Cara pemasangan yang tidak tepat dapat


mendorong lidah ke belakang atau apabila ukuran
terlampau panjang epiglotis akan tertekan
menutup rimaglotis sehingga jalan napas
tersumbat
 Hindarkan terjepitnya lidah dan bibir antara gigi
dan alat
 Jangan gunakan alat ini pada pasien dimana
refleks faring masih ada karena dapat
menyebabkan muntah dan spasme laring
Alat bantu napas nasofaring (nasopharyngeal
airway)
Alat ini berbentuk pipa polos terbuat dari karet
atau plastik. Biasanya digunakan pada pasien
yang menolak menggunakan alat bantu jalan
napas orofaring atau apabila secara tehnis tidak
mungkin. memasang alat bantu jalan napas
orofaring (misalnya trismus, rahang mengatup
kuat dan cedera berat daerah mulut).

Cara pernasangan

 Pilih alat dengan ukurang yang tepat, lumasi dan


masukkan menyusuri bagian tengah dan dasar
rongga hidung hingga mencapai daerah belakang
lidah
 Apabila ada tahanan dengan dorongan ringan alat
diputar sedikit.
Bahaya

 Alat vang terlalu panjang dapat masuk


oesophagus dengan secgala akibatnya
 Alat ini dapat merangsang, muntah dan spasme
laring
 Dapat menyebabkan perdarahan akibat kerusakan
mukosa akibat pernasangan, oleh sebab itu alat
penghisap harus selalu siap saat pernasangan.
Ingat !!

 Selalu periksa apakah napas spontan timbul


setelah pemasangan alat ini.
 Apabila tidak ada napas spontan lakukan napas
buatan dengan alat bantu napas yang memadai.
 Bila tidak ada alat bantu napas yang memadai
lakukan pernapasan dari mulut ke mulut
Pernapasan buatan

Pernapasan mulut ke mulut dan mulut ke


hidung

Cara ini merupakan tehnik dasar bantuan napas.


Upayakan memakai pelindung (barrier) antara
mulut penolong dengan pasien berupa lembar
plastik/silikon berlubang ditengah atau
memakai sungkup, sungkup khusus ini dikenal
dengan nama Pocketfacemask. Keterbatasan
cara ini adalah konsentrasi oksigen ekspirasi
penolong rendah (16-17%).

Pernapasan mulut ke sungkup muka (pocket


facemask)

Memegang sungkup dengan tepat memerlukan


latihan dan konsentrasi, akan tetapi alat ini
merupakan alat bantu efektif untuk napas
buatan. Sungkup muka ini memiliki beberapa
ukuran, bening untuk memudahkan melihat
adanya regurgitasi dan memiliki lubang masuk
untuk oksigen tambahan. Keuntungan dari
penggunaan sungkup muka ini adalah mencegah
kontak langsung dengan pasien dan dapat
memberikan oksigen tambahan

Cara melakukan

Bila memungkinkan lakukan dengan dua


penolong, posisi dan urutan tindakan sama
seperti tanpa menggunakan sungkup, kecuali
pada tehnik ini digunakan sungkup sebagai
pelindung, Jadi diperlukan keterampilan
memegang sungkup. Dengan dua penolong
seorang melakukan kompresi dada dan yang lain
melakukan napas buatan. Bila tersedia berikan
oksigen tambahan dengan aliran 10 liter/menit
(FiO2 =50%) dan 15 liter/menit (FiO2=80%). Bila
tidak ada penolakan pasang alat bantu jalan
napas orofaring. Tengadahkan kepala dan
pasang sungkup pada mulut dan hidung pasien
dengan cara ibu jari dan telunjuk kedua tangan
menekan sungkup sedangkan tiga jari kedua
tangan menarik mandibula sambil tetap
mempertahankan kepala dalam posisi tengadah,
sehingga tidak terjadi kebocoran. Berikan tiupan
melalui lubang sungkup sambil memperhatikan
gerakan dada, tiup dengan lambat dan mantap
dengan lama inspirasi 1-2 detik. Pada pasien
dengan henti jantung dengan jalan napas belum
terlindungi lakukan 2 ventilasi setiap 15
kompresi dada. Apabila jalan napas terlindungi
(misalnya sudah terpasang ETT, Laringeal Mask
Airwayatau Combitube) lakukan kompresi 100
kali/menit dengan ventilasi dilakukan. tanpa
menghentikan kompresi (asingkron) tiap 5 detik
(kecepatan 12 kali/menit). Apabila ada penolong
ketiga lakukan tekanan pada krikoid untuk
mencegah distensi lambung dan regurgitasi.
Bantuan napas dengan. menggunakan bagging
sungkup dan alat bantu jalan napas lainnya.

Bagging telah lama digunakan sebagai alat bantu


napas utama dikombinasikan. dengan alat bantu
jalan napas lainnya misalnya sungkup muka,
ETT, LMA, dan Combitube.
Penggunaan bagging memungkinkan pemberian
oksigen tambahan. Beberapa hal yang harus
diperhatikan saat menggunakan bagging :
 Volume tidal berkisar antara 10-15 ml/kg BB

 Bagging dewasa umum mempunyai volume 1600

ml.
 Bila memungkingkan bagging dilakukan oleh dua

penolong untuk mencegah kebocoran, seorang


penolong mempertahankan sungkup dan kepala
pasien, dan yang lainnya melakukan pemijatan
bagging
 Masalah kebocoran dan kesulitan mencapai
volume tidal yang cukup tidak akan terjadi jika
dipasang ETT, LMA, atau Combitube.
Tahap lanjut membuka jalan napas.
Pernasangan pipa endotrakeal (ETT)

Pemasangan pipa endotrakeal menjamin


terpeliharanya jalan napas dan sebaiknya
dilakukan sesegera mungkin oleh penolong yang
terlatih.

Keuntungan :

 Terpeliharanya jalan napas


 Dapat memberikan oksigen dengan konsentrasi
tinggi
 Menjamin tercapainya volume tidal yang,
diinginkan
 Mencegah teriadinya aspirasi
 Mempermudah penghisapan lendir di trakea
 Merupakan jalur masuk beberapa obat-obat
resusitasi
Karena kesalahan letak pipa endotrakeal dapat
menyebabkan kematian maka tindakana ini
sebaiknya dilakukan oleh penolong yang terlatih
Indikasi pemasangan :

 Henti jantung
 Pasien sadar yang tidak mampu bernapas dengan
baik (edema paru, Guillan-Bare syndrom,
sumbatan jalan napas)
 Perlindungan jalan napas tidak memadai (koma,
arefleksi)
 Penolong tidak mampu memberi bantuan napas
dengan cara konvensional
Persiavan alat untuk pemasangan pipa
endotrakeal (ETT)

 Laringoskop, lengkap
dengan handle dan bladenya
 Pipa endotrakeal (ETT) dengan ukuran :
 Perempuan : No 7,0 ; 7,5 ; 8,0
 Laki laki : No 8,0 ; 8,5
 Keadaan emergensi : No 7,5
 Stilet (mandrin)
 Forsep margil
 Jeli
 Spuit 20 atau 10 cc
 Stetoskop
 Bantal
 Plester dan gunting
 Alat penghisap lendir (Suction aparatus)
Tekhnik pemasangan

 Cek alat-alat yang diperlukan dan pilih ETT


sesuai ukuran
 Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik sambil
dilakukan sellick maneuver
 Beri pelumas pada ujung ETTsampai daerah cuff
 Letakkan bantal setinggi ± 10 cm di oksiput dan
pertahankan kepala tetap ekstensi
 Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut
dan faring
 Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan
kiri memegang laringoskop
 Masukan bilah laringoskop menelusuri mulut
sebelah kanan, sisihkan lidah ke kiri. Masukan
bilah sampai sampai mencapai dasar lidah,
perhatikan agar lidah atau bibir tidak terjepit
diantara bilah dan gigi pasien
 Angkat laringoskop ke atas dan ke depan dengan
kemiringan 30° – 40°, jangan sampai
menggunakan gigi sebagai titik tumpu
 Bila pita suara sudah terlihat, masukan ETT
sambil memperhatikan bagian proksimal dari cuff
ETT melewati pita suara ± 1-2 cm atau pada
orang dewasa kedalaman ETT ± 19-23 cm
 Waktu untuk intubasi tidak boleh lebih dari 30
detik
 Lakukan ventilasi dengan menggunakan bagging
dan lakukan auskultasi pertama pada lambung
kemudian pada paru kanan dan kiri sambil
memperhatikan pengembangan dada
 Bila terdengar suara gargling pada lambung dan
dada tidak mengembang, lepaskan ETT dan
lakukan hiperventilasi ulang selama 30 detik
kemudian lakukan intubasi kembali
 Kembangkan balon cuff dengan menggunakan
spuit 20 atau 10 cc dengan volume secukupnya
sampai tidak terdengar lagi suara kebocoran di
mulut pasien saat dilakukan ventilasi
 Lakukan fiksasi ETT dengan plester agar tidak
terdorong atau tercabut
 Pasang orofaring untuk mencegah pasien
menggigit ETT jika mulai sadar
 Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100 %
(aliran 10 – 12 liter/menit)
Penekanan krikoid (Sellick Manuever) :
Perasat ini dikerjakan saat intubasi untuk
mencegah distensi lambung, regurgitasi isi
lambung dan membantu dalam proses intubasi.
Perasat ini dipertahankan sampai balon ETT
sudah dikembangkan.

Cara melakukan Sellick maneuver :

 Cara puncak tulang tiroid (Adam’s Apple)


 Geser jari sedikit ke kaudal sepanjang garis
median sampai menemukan lekukkan kecil
(membran krikotiroid)
 Geser lagi jari sedikit ke bawah sepanjang garis
median hingga ditemukan tonjolan kecil tulang
(kartilago krikoid)
 Tekan tonjolan ini diantara ibu jari dan telunjuk
ke arah dorsokranial. Gerakan ini akan
menyebabkan oesophagus terjepit diantara bagian
belakang kartilago krikoid dengan tulang
belakang dan lubang trakhea/rimaglotis akan
terdorong ke arah dorsal sehingga lebih mudah
terlihat.
Memastikan letak ETT dengan menggunakan
alat

Berbagai alat mekanik atau elektronis dapat


digunakan untuk tujuan ini misalnva detektor
end tidal CO2 (kwantitatif dan kwalitatif).
Melakukan bantuan napas dengan ETT selama
RJP.
Volume tidal napas berkisar antara 10-15 ml/kg
BB, secara klinis keadaan dapat diketahui
dengan pengamatan dada. Dengan volume 10
ml/kg BB dada akan tampak mulai
mengembang dan dengan 15 ml/kg BB dada
akan mengembang, lebih besar lagi (naik antara
4-6 cm). Bila tidak diberikan oksigen tambahan
dan pada pasien gemuk berikan volume yang
lebih besar sedangkan bila diberikan oksigen
tambahan atau pada pasien kurus berikan
volume yang lebih kecil. Kecepatan pemberian
napas berkisar antara 10-12 kali/menit atau satu
kali setiap 5-6 detik dengan lama inspirasi
sekitar 2 detik. Pada keadaan ini tidak ada lagi
perbandingan antara kompresi dan ventilasi.
Kecepatan kompresi berkisar 100 kali/menit,
sedangkan ventilasi diberikan setiap 5 detik
(tidak perlu seirama dengan kompresi).

Komplikasi pemasangan ETT

v ETT masuk kedalam oesophagus, yang dapat


menyebabkan hipoksia.

v Luka pada bibir dan lidah akibat terjepit


antara laringoskop dengan gigi.
v Gigi patah.

v Laserasi pada faring dan trakhea akibat stilet


(mandrin) dan ujung ETT.

v Kerusakan pita suara.

v Perforasi pada faring dan oesophagus.

v Muntah dan aspirasi.

v Pelepasan adrenalin dan noradrenalin akibat


rangsangan intubasi sehingga terjadi hipertensi,
takikardi dan aritmia.

v ETT masuk ke salah satu bronkus. Umumnya


masuk kebronkus kanan, untuk mengatasinya
tarik ETT 1-2 cm sambil dilakukan inspeksi
gerakan dada dan auskultasi bilateral.

Penanganan jalan napas pada pasien trauma

Gerakan kepala dan leher yang berlebihan pada


pasien cedera leher dapat menyebabkan cedera
yang lebih hebat. Pasien trauma muka, multiple
dan kepala harus dianggap disertai dengan
cedera leher.

Langkah pernanganan pada pasien atau


tersangka cedera leher.
1. Jangan tengadahkan kepala, hanya angkat rahang
dan buka mulut pasien
2. Pertahankan kepala pada posisi netral selama
nianipulasi jalan napas.
3. Pasien fraktur basis dan tulang muka lakukan
pemasangan ETT dalam keadaan tulang belakang
distabilisasi.
4. Bila tidak dapat dilakukan intubasi lakukan
krikotiroidektomi atau trakheostomi.
5. Bila diputuskan untuk dilakukan intubasi melalui
hidung (blind nasal intubation) maka harus
dilakukan oleh penolong yang berpengalaman.
6. Bila pasien melawan dapat diberikan obat
pelemas otot dan penenang.
Tehnik tambahan untuk penanganan jalan
napas invasif dan ventilasi

Adadua alat bantu jalan napas yang termasuk


kelas IIb yaitu :

v Laryngeal Mask airway (LMA)


v Esophageal Tracheal Combitube
Laryngeal Mask airway (LMA)
LMA berupa sebuah pipa dengan ujung distal
yang menyerupai sungkup dengan tepi yang
mempunvai balon sekelilingnya. Pada terpasang
bagian sungkup ini harus berada di daerah
hipofaring, sehingga saat balon dikembangkan
maka bagian terbuka dari sungkup akan
menghadap kearah lubang trakhea membentuk
bagian dari jalan napas.

Beberapa kelebihan LMA sebagai alat bantu


jalan napas adalah :

¨ Dapat dipasang tanpa laringoskopi.

¨ atau leher sehingga menguntungkan pada


pasien dengan cedera leher atau pada pasien
yang sulit dilakukan visualisasi lubang trakhea.

¨ Karena LMA tidak perlu masuk kedalam


trakhea maka resiko kesalahan intubasi dengan
segala akibatnya tidak ditemukan pada LMA.

Kekurangan LMA adalah tidak dapat


melindungi kemungkinan aspirasi sebaik ETT.

Combitube
Alat ini merupakan gabungan ETT dengan
obturator oesophageal. Pada alat ini terdapat 2
daerah berlubang, satu lubang di distal dan
beberapa lubang ditengah, lubang lubang ini
dihubungkan melalui 2 saluran yang terpisah
dengan 2 lubang di proksimal yang merupakan
interface untuk alat bantu napas. Selain itu
terdapat 2 buah balon, satu proksimal dari
lubang distal dan satu proksimal dari deretan
lubang di tengah. Ventilasi melalui trakhea
dapat dilakukan melalui lubang distal (ETT) dan
tengah (obtutator). Alat ini dimasukan tanpa
laringoskopi, dari penelitian dengan cara
memasukan seperti ini 80% kemungkinan
masuk ke eosophagus. Setelah alat ini masuk
kedua balon dikembangkan dan dilakukan
pemompaan, mula-mula pada obturator seraya
dilakukan inspeksi dan auskultasi apabila
ternyata dari pengamatan ini tidak tampak
adanya ventilasi paru pemonpaan dipindahkan
pada ETT dan lakukan kembali pemeriksaan
klinis. Kinerja ventilasi, oksigenasi dan
perlindungan terhadap aspirasi alat ini sepadan
dengan ETT dengan keunggulan lebih mudah
dipasang dibanding ETT.

Krikotiroidektomi

Tindakan ini dilakukan untuk membuka jalan


napas sementara dengan cepat, apabila cara lain
sulit dilakukan. Pada tekhnik ini membran
krikotiroid disayat kecil vertikal, dilebarkan dan
dimasukan ETT.

Trakheostomi

Tekhnik ini bukan pilihan pada keadaan darurat


(life saving). Tindakan ini sebaiknya dilakukan
di kamar bedah oleh seorang yang ahli.Adadua
jenis yang biasa dipakai :

1. Penghisap faring yang kaku, pada alat ini


diperlukan tekanan negatif yang rendah sekali.
2. Penghisap trakheobronkhial yang lentur, alat ini
mempunyai syarat :
 Ujung harus tumpul dan sebaiknya memiliki
lubang di ujung dan di samping
 Lebih panjang dari ETT
 Licin
 Steril dan sekali pakai
Cara melakukan penghisapan lendir

1. Lakukan hiperventilasi dengan Fi02 100% selama


15 – 30 detik
2. Gunakan kateter trakheobronkhial dengan
diameter tidak lebih dari ? diameter dalam ETT
3. Lama penghisapan tidak lebih dari 10 detik
4. Bila setelah penghisapan selama 10 detik ternyata
masih belum bersih maka dapat dilakukan
pengisapan kembali, diantara pengisapan harus
diselingi dengan ventilasi seperti diatas.
5. Setelah selesai pengisapan lakukan hiperventilasi
dengan FiO2 100 % selama 15 – 30 detik
RJP

PUTUSKAN INTUBASI

(A SEKUNDER)

RJP dan PERSIAPAN ALAT

CEK : ALAT ® SIAP

RJP dan HIPERVENTILASI

(100% dgn RR tinggi) SELLICK


MANUVER

30 detik

RJP berhenti

POSISI KEPALA

(GANJAL KEPALA + EKSTENSI)

LARlNGOSKOP
INTUBASI

GAGAL 30
detik

BERHASIL BAGGING I KALI

AUSKULTASI PADA EPIGASTRIUM

¨ GURGLING (+)

¨ EKSTUBASI
GURGLING (-)

AUSKULTASI pada DADA KANAN dan

KIRI, DADA ATAS dan BAWAH

Bila terlalu dalam, ETT ditarik

dan diauskultasi untuk memastikan

RJP lanjutkan

BALON DIKEMBANGKAN, SELLICK


MANUVER

FIKSASI, PASANG
MAYO DILEPASKAN

CATATAN:
• Kompresi dada 100 X/mnt

• Ventilasi 1 kali/5 detik

• Ventilasi asinkron

TERAPI OKSIGEN
Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas
lebih dari 20% pada tekanan 1 atmosfir sehingga
konsentrasi oksigen meningkat dalam darah.

Tujuan :

¨ Mempertahan oksigen jaringan yang


adekuat

¨ Menurunkan kerja napas

¨ Menurunkan kerja jantung

Indikasi :

 Penurunan PaO2
 Keadaan lain seperti; gagal napas akut, syok,
keracunan CO
Pemberian oksigen selalu tepat untuk pasien
dengan gangguan sirkulasi atau napas akut
dengan ketentuan sebagai berikut :
e Tanpa gangguan napas oksigen diberikan
2 liter/ menit melalui kanul binasal.

e Dengan gangguan napas sedang oksigen


diberikan 5 – 6 liter/menit melalui kanul
binasal.

e Dengan gangguan napas berat, gagal


jantung, henti jantung, gunakan sistem yang
dapat memberikan oksigen 100%.

e Pada pasien dimana rangsang napas


tergantung pada keadaan hipoksia (mis. Asma)
berikan oksigen kurang dari 50% dan awasi
ketat.

e Atur kadar oksigen berdasarkan kadar gas


darah (PaO2) atau saturasi (SaO2)
e Dalam keadaan darurat gunakan alat
bantu napas yang lebih canggih (mis. bagging),
lakukan intubasi dan berikan oksigen 100%.

Persiapan alat :

1. Sumber oksigen (tabung atau sumber oksigen


sentral)
2. Tabung pelembab (humidifier).
3. Pengukur aliran oksigen (flow meter)
4. Alat pemberian oksigen (tergantung metoda yang
dipakai)
Metoda pemberian oksigen :

 Sistem aliran rendah


 Aliran rendah konsentrasi rendah (Low flow low
concentration)
 Kateter nasal

 Kanul binasal
 Aliran rendah konsentrasi tinggi (Low flow
high concentration)
 Sungkup muka sederhana

 Sungkup muka dengan kantong Rebreathing

 Sungkup muka dengan kantong Non


Rebrething
 Sistem aliran tinggi
 Aliran tinggi konsentrasi rendah (High flow low

concentration)
 Sungkup venturi

 Aliran tinggi konsentrasi tinggi (High flow

high concen tration)


 Head box

 Sungkup CPAP (continous positive airway

pressure)
Kanul binasal
Paling sering digunakan untuk pemberian
oksigen, memberikan FiO2 24 – 44% dengan
aliran 1 – 6 liter/menit. Merupakan alat dengan
aliran rendah dan konsentrasi rendah (low flow
low concentration), kadar yang dihasilkan
tergantung pada besarnya aliran dan volume
tidal napas pasien. Kadar oksigen bertambah 4%
untuk setiap tambahan 1 liter/menit oksigen,
misalnya aliran 1 liter/menit = 24%, 2
liter/menit 28% dan seterusnya dengan
maksimal 6 liter/menit.
Keuntungan :

ü Pernberian oksigen stabil dengan volume tidal


dan laju napas teratur

ü Baik diberikan dalam jangka waktu lama

ü Pasien dapat bergerak bebas, makan, minum


dan bicara

ü Efisien dan nyaman untuk pasien

Kerugian :

¨ Dapat menyebabkan iritasi pada hidung,


bagian belakang telinga tempat tali binasal
¨ FiO2 akan berkurang apabila pasien
bernapas dengan. mulut
Sungkup muka sederhana
Aliran yang diberikan 6 – 10 liter/menit dengan
konsentrasi oksigen mencapai 60%. Merupakan
sistem aliran rendah dengan hidung, nasofaring
dan orofaring sebagai penyimpan anatomic.

Sungkup muka dengan kantong rebreathing


Aliran yang diberikan 6 – 10 liter/menit dengan
konsentrasi oksigen mencapai 80%. Udara
inspirasi sebagian bercampur dengan udara
ekspirasi sepertiga bagian volume ekshalasi
masuk ke kantong, dua pertiga bagian bagian
volume ekshalasi melewati lubang-lubang pada
bagian samping

Sungkup muka dengan kantong nonrebreathing


Aliran yang diberikan 8 – 12 liter/menit dengan
konsentrasi oksigen mencapai 100%. Udara
inspirasi tidak bercampur dengan udara
ekspirasi dan tidak dipengaruhi oleh udara luar.

Kerugian pada penggunaan sungkup

1. Mengikat (sungkup harus terus melekat pada


pipi/wajah pasien untuk mencegah kebocoran.
2. Lembab
3. Pasien tidak dapat makan, minum atau berbicara.
4. Dapat terjadi aspirasi jika pasien muntah,
terutama pada pasien tidak sadar atau anak
Sungkup Venturi
Memberikan aliran yang bervariasi dengan
konsentrasi oksigen berkisar 24 – 50%. Dipakai
dengan pasien dengan tipe ventilasi yang tidak
teratur. Alat ini digunakan pada pasien dengan
hiperkarbi yang disertai dengan hipoksemi
sedang sampai berat.

PENATALAKSANAAN PASKA RESUSITASI


JANTUNG PARU
Perawatan paska resusitasi dilakukan segera
setelah pasien kembali pada sirkulasi spontan
sampai pasien dipindahkan ke unit perawatan
intensif. Perawatan yang efektif pada periode ini
akan memberikan hasil yang memuaskan
terutama untuk perbaikan pada fungsi serebral.

Tindakan yang harus segera dilakukan :

1. Melakukan pengkajian berdasarkan ABCD


sekunder
2. Airway Jalan napas
¨ Mempertahankan jalan napas.
¨ Memastikan letak ETT dengan pemeriksaan
fisik (auskultasi paru kanan-kiri, lambung)
pemantauan end tidal CO2 dan rontgen foto
torak.
1. Breathing (bantuan napas)
¨ Memberikan oksigen

¨ Memberikan tekanan positif seperti


bantuan ventilasi dengan bagging atau ventilasi
mekanik

¨ Periksa perkembangan dada

¨ Periksa saturasi oksigen (pulse oksimetri)


dan analisa gas darah (AGD)

¨ Pada pasien yang bernapas spontan tetapi


membutuhkan ventilasi mekanik, maka harus
diberikan obat pelemas otot dan sedasi.

¨ Periksa kemungkinan terjadinya komplikasi


seperti pneumotoraks, patah tulang iga dan
letak ETT yang salah.

1. Circulation (sirkulasi)
¨ Periksa tanda-tanda vital pasien
¨ Berikan cairan NaCl atau dekstrosa aapat
diberikan apabila pasien mempunyai riwayat
hipoglikemia

¨ Pemantauan EKG dan tekanan darah

¨ Pemantauan produksi urine

¨ Jika pada saat henti jantung dengan irama


VF pasien belum mendapat anti aritmia maka
obat anti aritmia dapat diberikan secara bolus
kemudian dilanjutkan dengan pernberian dosis
pemeliharaan.

¨ Apabila anti aritmia sudah diberikan pada


saat resusitasi maka pemberian anti aritmia
tersebut dilanjutkan dengan dosis pemeliharan.

1. Diagnosis Banding
Penyebab henti jantung dapat diketahui dengan
cara melakukan :

¨ Pemeriksaan rontgen foto toraks

¨ Anamnesis ulang

¨ Pemeriksaan fisik

¨ Perekaman EKG 12 lead


¨ Pemeriksaan elektrolit darah.

1. Tindakan lain
¨ Memasang nasogastric tube (NGT)

¨ Memasang kateter urine

¨ Mengatasi secara cepat gangguan


keseimbangan elektrolit.