Anda di halaman 1dari 4

Laporan kasus

HIPERTENSI SEKUNDER

Disusun oleh:

AINI MUTMAINAH

1607101030022

Pembimbing:

dr. M.Muqsith, Sp.JP-FIHA

BAGIAN /SMF ILMU KARDIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA


RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang telah
menciptakan manusia dengan akal dan budi, kehidupan yang patut penulis
syukuri, keluarga yang mencintai dan teman-teman yang penuh semangat, karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas presentasi
kasus ini. Shalawat beriring salam penulis sampaikan kepada nabi besar
Muhammad Saw, atas semangat perjuangan dan panutan bagi ummatnya.

Adapun tugas presentasi laporan kasus berjudul “Hipertensi Sekunder”.


Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior
Unsyiah BLUD RSUD dr. Zainoel Abidin – Banda Aceh. Penulis mengucapkan
terimakasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada dr. M.Muqsit, SP.JP-
FIHA yang telah meluangkan waktunya untuk memberi arahan dan bimbingan
dalam menyelesaikan tugas ini.

Dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh
dari kesempurnaan. Saran dan kritik dari dosen pembimbing dan teman-teman
akan penulis terima dengan tangan terbuka, semoga dapat menjadi bahan
pembelajaran dan bekal di masa mendatang.

Banda Aceh, September 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Hipertensi sekunder didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistemik


karena adanya kasus yang dapat diidentifikasi, seingga berpotensi dapat
disembuhkan. Hipertensi sekunder terjadi pada 5-10% populasi yang mengalami
hipertensi, sedangkan sisanya ada hipertensi essensial (idiopatik atau primer).
Sebagian besar pasien usia muda (<40 tahun) memberikan respon yang baik
terhadap penanganan spesifik, sedangkan >35% pasien dngan usia yang lebih tua
tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.1
Hipertensi sekunder disebabkan oleh penyakit ginjal primer, renovaskular
stenosis, aldosteronisme primer, pheochromocytoma, sindrom Cushing, sindrom
sleep apnea, penyakit tiroid dan koarktasio aorta.1,2 Hipertensi sekunder harus
dicurigai dalam kondisi berikut: hipertensi berat atau resisten; elevasi BP akut
pada pasien yang patuh pengobatan dengan hipertensi stabil sebelumnya; riwayat
hipertensi awal prepubertal; orang muda nonobese, pasien kulit putih tanpa faktor
risiko, seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, atau riwayat hipertensi keluarga;
dan hipertensi ganas (hipertensi berat yang terkait dengan gagal ginjal akut,
perdarahan retina, papilledema, dan temuan neurologis).2
Petunjuk penting yang menunjukkan penyebab sekunder yang mendasari
adalah (a) pasien muda <30 tahun (penyebab ginjal atau koarktasio aorta); (b)
gejala atau tanda yang menunjukkan penyebab sekunder, (c) indikasi hipertensi
berat (BP ≥ 180/110 mmHg) atau hipertensi resisten (BP ≥ 140/90 mmHg
meskipun penggunaan tiga obat antihipertensi bersamaan dari golongan yang
berbeda, termasuk diuretik); dan (d) memburuknya hipertensi akut pada pasien
dengan kontrol yang sebelumnya stabil.3
Skrining pada hipertensi sekunder membutuhkan biaya mahal dan memakan
waktu dan harus dilakukan hanya pada pasien dengan kecurigaan klinis tinggi.
Selain itu, walaupun telah menemukan dan mengobati penyebab hipertensi
sekunder secara tepat, tekanan darah jarang pernah kembali normal. Hal ini
menunjukkan bahwa beberapa pasien dengan hipertensi sekunder juga memiliki
hipertensi esensial yang esensial atau bahwa renovasi vaskular berlangsung dan

1
berlanjut dari waktu ke waktu tanpa titik balik. Oleh karena itu, pasien rawat inap
dengan kemampuan untuk secara signifikan mengurangi tekanan darah tinggi,
deteksi dini dan pengobatan penting untuk meminimalkan / mencegah perubahan
ireversibel pada pembuluh darah sistemik yang dapat menyebabkan hipertensi
persisten dengan hasil jangka panjang yang tidak menguntungkan.2