Anda di halaman 1dari 5

7 Pahlawan Revolusi

NAMA : NADAGIA FELISA


KELAS : 6
SD SINARSARAI
Mengenal 7 Pahlawan Revolusi
Red: Karta Raharja Ucu
dok. Republika

Monumen Pancasila Sakti Oleh: Karta Raharja Ucu, wartawan Republika


Hari ini tepat 52 tahun silam, setidaknya delapan nyawa menjadi mangsa gerakan revolusi
yang digaungkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Enam di antaranya jenderal TNI, dua
lainnya adalah pengawal serta putri seorang jenderal yang berhasil selamat dari percobaan
penculikan dan pembunuhan. Satu korban lainnya dari kepolisian, KS Tubun.

Penculikan dan pembunuhan pada 30 September tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di
Yogyakarta. Di Yogyakarta peluru pasukan Cakrabirawa juga merenggut nyawa komandan
Korem 072/Pamungkas dan kepala stafnya. Mereka adalah Brigjen TNI Katamso dan
Kolonel Sugiyono yang dihabisi tanpa ampun di Kota Pelajar.

Operasi pembantaian yang dikomandoi Letkol Untung itu bergerak atas dasar tuduhan, bahwa
para jenderal sudah membentuk Dewan Jenderal yang berencana menggulingkan
pemerintahan Presiden Sukarno. Sebagai penghormatan, 10 dari 11 korban revolusi PKI yang
gugur tersebut diberikan tanda penghormatan Pahlawan Revolusi dan Anumerta. Kami
mencoba merangkum profil singkat tujuh pahlawan revolusi dan tiga korban PKI yang
mendapat anugerah anumerta, serta data diri Ade Irma yang kami susun dari berbagai
sumber.

1. Jenderal Ahmad Yani


Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922. Ia mengenyam pendidikan
formal di HIS (sekolah setingkat SD), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/setingkat
Sekolah Menengah Pertama) dan AMS (Algemne Middelberge School/setingkat Sekolah
Menengah Atas). Karir militer Jenderal Yani dimulai saat ia mengikuti wajib militer yang
dicanangkan Pemerintah Hindia Belanda di Malang. Ketika Jepang menduduki Indonesia,
Ahmad Yani bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA).

Di bidang militer, Ahmad Yani mengantongi sederet prestasi. Ia pernah menahan Agresi
Militer pertama dan kedua Belanda. Prestasinya kian mentereng setelah memimpin pasukan
melumpuhkan pemberontak DI/TII dan Operasi Trikora di Papua Barat serta Operasi
Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Catatan prestasi mengagumkan itu mengantarkan Ahmad Yani menjadi Menteri/Panglima


Angkatan Darat. Saat itu Jenderal Yani menolak usul Partai Komunis Indonesia (PKI) yang
menginginkan pembentukan Angkatan Kelima yaitu dipersenjatainya buruh dan tani.

Gencarnya Jenderal Yani menentang PKI membuatnya masuk dalam target penculikan dan
pembunuhan PKI pada Gerakan 30 September. Saat penculikan, pasukan Cakrabirawa
menembaki tubuh Jenderal Ahmad Yani hingga berlubang. Dengan tubuh yang penuh luka
tembak, jenazahnya dibawa dan dibuang ke dalam sumur di Lubang Buaya.

2. Letjen Suprapto
Jenderal kelahiran Purwokerto pada 2 Juni 1920 ini merupakan lulusan MULO dan AMS
Yogyakarta. Sepanjang menjadi anggota TNI, ia sering dipindah tugas.

Ia pernah menjadi Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang,
menjadi Staff Angkatan Darat di Jakarta, dan kembali ke Kementerian Pertahanan.

Pascapemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) padam, Suprapto dipindah ke


Medan menjadi Deputi Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera.
Suprapto adalah salah satu Perwira Tinggi yang berseberangan dengan pemikiran pentolan
PKI, DN Aidit yang ngotot ingin mempersenjatai buruh dan tani dengan membentuk
Angkatan Kelima. Karena alasan itulah Suprapto masuk dalam daftar jenderal yang harus
dihabisi.

3. Letjen MT Haryono
Putra seorang asisten Wedana di Gresik ini lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924. MT
Haryono menimba ilmu di ELS (setingkat sekolah dasar), HBS (setingkat sekolah menengah
umum) dan Ika Dai Gakko (sekolah kedokteran di masa pendudukan Jepang) di Jakarta.
Sayangnya, ia tidak menyelesaikan pendidikan kedokteran itu.

Jenderal bintang tiga ini dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Seperti Mohammad Hatta,
MT Haryono diketahui fasih berbicara sejumlah bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, dan
Jerman. Tak heran ia pun menjadi acap kali ditunjuk menjadi perwira penyambung lidah
dalam setiap perundingan. Seperti ketika Konferensi Meja Bunda (KMB), Haryono ditunjuk
sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Sebelum bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Haryono sudah aktif berjuang
dengan para pemuda mempertahankan kemerdekaan. Ia juga vokal menentang PKI dan
kroninya. Tak heran namanya pun masuk dalam daftar jenderal yang akan diculik.
4. Letjen Siswondo Parman
Perwira tinggi lainnya yang menentang ide DN Aidit mempersenjatai tani dan buruh adalah Letjen S
Parman. Ia yang merupakan tentara intelijen masuk daftar penculikan lantaran mengetahui semua
rencana dan gerak-gerik PKI.

Sebenarnya, S Parman dekat dengan PKI mengingat tugasnya sebagai intelijen negara. Ia juga
mengetahui kegiatan rahasia PKI. Namun, saat ditawari bergabung dengan PKI, jenderal kelahiran
Wonosobo, 4 Agustus 1918 itu menolak paham komunis.

Gilanya, masuknya nama S Parman dalam daftar jenderal yang harus dibunuh datang dari kakak
kandungnya sendiri, Ir Sakirman. Sakirman yang saat itu merupakan salah satu petinggi PKI sering
berselisih paham dengan adiknya. Pertengkaran kakak beradik itu pun berujung dengan
direnggutnya nyawa S Parman.

5. Mayjen D I Pandjaitan
Ia adalah salah satu otak lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bersama pemuda lain, ia
membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Aktif di TKR membuat kariernya cepat meroket. Mulai
dari menjadi komandan batalyon, kariernya merangkak dengan menjadi Komandan Pendidikan Divisi
IX/Banteng di Bukittinggi, Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatra dan
menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Terakhir, ia
menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Sebagai Perwira Tinggi, pria kelahiran Balige, Sumatra Utara pada 19 Juni 1925 itu menjadi target
penculikan dan pembunuhan oleh PKI.

Sayangnya kematiannya mengenaskan. Maut menjemput Pandjaitan saat sekelompok anggota PKI
menyergap rumahnya. Pelayan serta ajudannya dihabisi. Tahu ajalnya sudah dekat, Mayjen
Pandjaitan menemui tentara PKI dengan mengenakan seragam militer lengkap. Tubuhnya yang
tegap pun diberondong peluru dan jenazahnya diseret ke Lubang Buaya.

6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo


Jumat dini hari, 1 Oktober 1965, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo diculik sejumlah pasukan Cakrabirawa.
Ia diseret ke markas PKI di Lubang Buaya. Setelah disiksa, Sutoyo dibunuh dan jenazahnya dibuang
ke dalam sumur bersama lima jenderal lainnya.

Mayjen Sutoyo lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922. Pada 1945, Sutoyo bergabung dengan
militer sebagai Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal Polisi Militer.

Karier di dunia militernya dimulai dengan menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, Komandan Polisi
Militer. Kariernya perlahan mulai naik hingga ia dipercaya menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer
utama. Sayangnya, Sutoyo dituding ikut membentuk Dewan Jenderal sehingga namanya masuk
dalam daftar perwira tinggi yang harus dihabisi.

7. Kapten Pierre Tendean


Perwira yang baru berusia 26 tahun itu tewas diberondong timah panas dari senjata
Cakrabirawa. Ia yang menjadi martir Jenderal Abdul Haris Nasution yang menjadi incaran
PKI untuk dibunuh.

Ajudan Jenderal Nasution itu lahir pada 21 Februari 1939. Karier militernya dimulai dengan
menjadi intelijen. Ia pernah ditugaskan menjadi mata-mata ke Malaysia selama konfrontasi
Indonesia-Malaysia.

Pada peristiawa G30S, Pierre yang mengaku sebagai Jenderal Nasution ditangkap dan dibawa
pasukan PKI ke Lubang Buaya. Di Lubang Buaya Pierre dibunuh dan dimasukan ke sumur
tak terpakai bersama 6 Perwira Tinggi Angkatan Darat lainnya. Pierre pun dianugerahi
Pahlawan Revolusi.