Anda di halaman 1dari 101

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stunting merupakan kondisi kronis yang menggambarkan terhambatnya

pertumbuhan karena malnutrisi jangka panjang.(1) Stunting merupakan keadaan

postur tubuh pendek yang timbul karena malnutrisi kronis.(2) Stunting merupakan

masalah kurang gizi yang masih mendunia terutama pada negara-negara

berkembang, 90% anak-anak yang stunting hidup di wilayah Asia dan Afrika.(3)

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2012, terdapat

sekitar 162 juta anak di bawah lima tahun yang mengalami stunting dan 56%

berada di Asia.(4) Data dari Unicef tahun 2011 menyatakan bahwa terdapat 165

juta anak di bawah lima tahun mengalami stunting di dunia. Lima negara yang

memiliki jumlah terbanyak yaitu: India (61,7 juta), Nigeria (11 juta), Pakistan (9,6

juta), China (8 juta) dan Indonesia (7,5 juta).(5)

Menurut data Indonesia Nutrition Profil April 2014 sekitar 9,2 juta (37%)

balita di Indonesia mengalami stunting.(6) Sedangkan berdasarkan data

RISKESDAS 2013, prevalensi balita stunting di Indonesia adalah sebesar 37,2%,

angka ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu sekitar

35,6%. Berdasarkan data RISKESDAS ini juga prevalensi stunting pada anak usia

5-12 tahun di Indonesia adalah 30,7%.(7)

Menurut data RISKESDAS 2013, sekitar 52% balita di Nusa Tenggara Timur

(NTT) mengalami stunting, dan NTT menempati urutan pertama dengan


2

prevalensi stunting tertinggi pada balita dan ini merupakan masalah kesehatan

masyarakat yang serius menurut WHO (bila prevalensi stunting 30-39% dianggap

sebagai masalah berat, dan bila prevalensinya ≥ 40% dianggap sebagai masalah

yang serius). Sedangkan prevalensi stunting untuk anak usia 5-12 tahun di NTT

sekitar 41%.(7)

RISKESDAS Provinsi NTT tahun 2007 menunjukkan, bahwa Kabupaten

Kupang berada pada urutan ke-5 prevalensi stunting tertinggi per kota dan

kabupaten.(8) Berdasarkan data penelitian sebelumnya oleh Sanusi (2012) di

wilayah kerja Puskesmas Tarus didapatkan sekitar 417 balita yang mengalami

stunting pada periode Juni-Desember 2012 dari 1.894 balita yang berkunjung.(9)

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kartika (2013) di Sekolah Dasar

Inpres Tarus 1 Kupang didapatkan bahwa dari 110 anak yang menjadi sampel

penelitian sekitar 51 orangnya (46,4%) mengalami stunting.(10)

Stunting dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yakni panjang badan lahir

pendek, berat bayi lahir rendah, asupan makanan, riwayat infeksi, tingkat

pendidikan orang tua dan keadaan sosial ekonomi keluarga.

Panjang lahir bayi akan berdampak pada pertumbuhan selanjutnya, seperti

pada hasil penelitian yang dilakukan di Kecamatan Pati Kabupaten Pati

didapatkan hasil bahwa panjang badan lahir pendek merupakan salah satu faktor

risiko balita stunting usia 12-36 bulan dengan nilai p = 0,000 dan nilai OR = 2,81,

hal ini menunjukkan bahwa bayi yang lahir dengan panjang badan pendek

memiliki risiko 2,8 kali mengalami stunting dibanding bayi dengan panjang lahir

normal.(11)
3

Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui

pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ

lainnya. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan

mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang

menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu. Kekurangan gizi yang

terjadi dalam kandungan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian.

Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan

pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ

tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi diekspresikan

dengan bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau

kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak

(Bappenas, 2012).(11) Berdasarkan laporan Nutrition in the first 1,000 Days State

of The World’s Mother tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian stunting

dipengaruhi oleh kondisi pada masa 1000 hari kehidupan yaitu mulai dari janin

berada dalam kandungan sampai anak tersebut berusia 2 tahun dan masa ini

disebut dengan masa critical windows, karena pada masa ini terjadi

perkembangan otak dan pertumbuhan badan yang cepat, sehingga bila asupan

nutrisi yang diberikan tidak optimal maka dapat berpotensi anak menjadi

stunting.(11)

Stunting merupakan keadaan kurang gizi yang dapat menyebabkan gangguan

pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental, perkembangan kecerdasan,

menurunkan daya tahan, mengurangi tingkat kreatifitas dan produktifitas bahkan

meningkatkan angka kesakitan dan kematian.(12,13,14,15,16) Stunting


4

menggambarkan keadaan kurang gizi yang kronis di mana suplai nutrisi yang

diperlukan tubuh termasuk otak berkekurangan. Hal ini menyebabkan

perkembangan otak tidak optimal, sehingga dapat berpengaruh pada

perkembangan kognitif anak, performance anak di sekolah dan kemampuan

belajarnya, akibatnya berpengaruh pada prestasi belajar anak di

sekolah.(13,14,15,16,17,18)

Prestasi belajar siswa merupakan bagian dari kemampuan kognitif yang

menjadi salah satu indikator kesuksesan proses pendidikan di tiap jenjang.

Pendidikan merupakan salah satu penentu indeks pembangunan manusia (Human

Development Indeks) di samping kesehatan dan ekonomi.(19) Data dari United

Nation Development Program (UNDP) tahun 2011, diketahui bahwa indeks

pembangunan manusia Indonesia masih rendah. Di antara 187 negara yang di

survei, Indonesia menempati posisi ke-124. Survei dari Political and Economic

Risk Consultant (PERC) menunjukkan kualitas pendidikan di Indonesia berada

pada peringkat ke-12 dari 12 negara di Asia.(20) Trends In Mathematic and

Science Study (TIMSS) tahun 2003, mengemukakan fakta bahwa prestasi belajar

siswa Indonesia masih tergolong rendah dilihat dari peringkat nilai matematika

dan sains.(19) Sedangkan menurut data hasil Ujian Nasional (UN) Sekolah

Menengah Atas (SMA) tahun 2013, Provinsi NTT menempati peringkat ke–29

dari 33 provinsi di Indonesia, dan pada tahun 2012 dan tahun 2011 Provinsi NTT

menempati peringkat terakhir nasional.(9)

Prestasi belajar pada siswa dapat diukur dengan melihat hasil pendidikan

melalui laporan pendidikan (rapor).(20)


5

Menurut penelitian Ijarotimi dan Ijadunola di Nigeria (2007), ditemukan

bahwa, pada anak yang kekurangan gizi akan terjadi perubahan pada metabolisme

yang berdampak pada kemampuan kognitif dan kemampuan otak. Karena

keadaan kurangnya asupan nutrisi pada anak seperti kekurangan energi protein,

akan berefek pada fungsi hippocampus dan korteks dalam membentuk dan

menyimpan memori. Sorhaindo dan Feinstein (2006) di London juga menyatakan

bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar. Dalam

penelitiannya, mereka menemukan bahwa gizi buruk yang dialami anak akan

mempengaruhi sistem imun sehingga anak lebih mudah menderita penyakit

infeksi. Keadaan ini akan mempengaruhi kehadiran anak di sekolah sehingga anak

cenderung tertinggal dalam proses pembelajaran sehingga mempengaruhi prestasi

belajar anak.(19)

Menurut penelitian Hayatus Rosita, et al.,(2013) tentang hubungan status gizi

dengan prestasi belajar di kota Padangpanjang mendapatkan hubungan signifikan

antara status gizi stunting dengan prestasi belajar dengan nilai p = 0,005 (p <

0,05).(19) Penelitian cross-sectional yang pernah dilakukan di Kalimantan Barat,

menunjukkan anak-anak yang sangat pendek (severely stunted) memiliki IQ yang

jauh lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang hanya pendek

(stunting).(20) Berbeda dengan hasil penelitian di atas, penelitian yang dilakukan

oleh Ova Satya di Banda Aceh tahun 2012 mendapatkan bahwa tidak terdapat

hubungan yang signifikan antara status gizi (TB/U) dengan prestasi belajar.(21)

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Yeni dan Nadi (2013) mendapatkan

tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar.(22)


6

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai dampak dari stunting dan riwayat panjang lahir terhadap prestasi belajar

di siswa Sekolah Dasar (SD) Tarus 1 Kupang Nusa Tenggara Timur.

1.2 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan pertanyaan

sebagai berikut: “ Adakah hubungan antara Stunting dan Riwayat Panjang Lahir

dengan Prestasi Belajar pada Siswa Sekolah Dasar (SD) Inpres Tarus 1 Nusa

Tenggara Timur?”

1.3 Batasan Masalah

Ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti yaitu hubungan antara

stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar pada siswa kelas

IV,V,VI SD Inpres Tarus 1 NTT di bulan September tahun 2015.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara stunting dan riwayat panjang lahir

dengan prestasi belajar pada siswa SD Inpres Tarus 1 NTT.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran status gizi (stunting) siswa SD Inpres Tarus 1

NTT.
7

2. Untuk mengetahui gambaran riwayat panjang lahir siswa SD Inpres Tarus

1 NTT.

3. Untuk mengetahui gambaran prestasi belajar siswa SD Inpres Tarus 1

NTT.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Melalui penelitian ini peneliti dapat berinteraksi langsung dengan

kelompok masyarakat. Peneliti juga bisa lebih mempelajari dan mencari

tahu mengenai hubungan stunting dan riwayat panjang lahir dengan

prestasi belajar.

2. Bagi Masyarakat

Penelitian diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat agar lebih

peka terhadap masalah kekurangan gizi dan lebih waspada dalam

menghadapi masalah-masalah gizi. Masyarakat masih lebih

memperhatikan berat bayi saat lahir daripada panjang bayi saat lahir,

melalui penelitian ini masyarakat diharapkan dapat lebih memperhatikan

panjang lahir bayi dan cepat ditangani bila ditemukan panjang lahir

bayinya pendek.

3. Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah

agar dapat menangani masalah kekurangan gizi dengan lebih baik seperti

memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk lebih peka terhadap

masalah kekurangan gizi karena dapat mempengaruhi generasi ke depan.


8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prestasi Belajar

2.1.1 Pengertian Prestasi Belajar

Dalam proses belajar mengajar, perlu bagi seorang pendidik untuk

mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar tersebut. Seberapa jauh

kemampuan siswa dalam memahami dan menerima berbagai hal yang telah

disampaikan oleh guru. Rangkaian kegiatan peserta didik yang menyangkut unsur

cipta, rasa dan karsa serta ranah kognitif, afektif dan psikomotorik harus dinilai

dan indikator penilaian biasanya menggunakan prestasi belajar. Beberapa ahli

mendefinisikan prestasi belajar sebagai berikut(23):

1. Singgih D. Gunarso mengemukakan bahwa “Prestasi belajar adalah hasil

maksimal yang dicapai seseorang setelah melakukan usaha belajar.”

2. Sutartinah Tirtonegoro mengemukakan “ Prestasi belajar adalah penilaian

hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf

maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh

setiap anak dalam periode tertentu.”

Ketercapaian peserta didik dalam hitungan angka dan huruf merupakan

kumpulan sebuah penilaian panjang dalam proses belajar mengajar. Proses

yang terakumulasi itulah yang menjadi tolak ukur pendidik dalam menentukan

keberhasilan proses mengajar. Proses bertemunya pendidik dan peserta didik

dalam sebuah pembelajaran panjang akan mencerminkan sebuah hubungan


9

simbiosis mutualisme pembelajaran. Ketertarikan inilah menjadikan penilaian

yang tentunya tak hanya sekedar angka dan huruf. Sikap dan karakter peserta

didik menjadi sebuah ukuran wajib dalam penilaian proses pembelajaran.

3. Syaiful Bahri Djamarah mengemukakan bahwa “Prestasi belajar adalah

penilaian tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah

yang menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan

sesudah penilaian.”

Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri

diartikan sebagai penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan

oleh mata pelajaran yang lazim ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang

diberikan oleh guru.(12,20)

Prestasi belajar siswa meliputi prestasi kognitif (kemampuan berpikir dan

analisis) prestasi afektif (sikap) dan prestasi psikomotor (tingkah laku). Namun

dari tiga aspek tersebut aspek kognitiflah yang menjadi tujuan utama dalam suatu

sistem pendidikan tanpa mengesampingkan aspek yang lain (Syah,2001).(12)

Prestasi belajar diperoleh setelah terjadi interaksi belajar mengajar (Nasution,

1993). Selanjutnya Bloom (1994) mengemukakan Indeks Prestasi (hasil belajar)

dapat dikategorikan ke dalam aspek, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil

belajar dalam aspek kognitif adalah menggugat pengetahuan, pengembangan

kemampuan intelektual. Hasil belajar afektif meliputi perubahan dalam hal minat,

sikap dan nilai.(24)

Secara umum, prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil kemampuan yang

telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar berupa perubahan
10

tingkah laku, keterampilan, dan pengetahuan, kemudian diukur dan dinilai yang

hasilnya diwujudkan dalam bentuk angka maupun pernyataan.(20)

2.1.2 Cara Mengukur Prestasi Belajar

Prestasi belajar dapat diukur melalui evaluasi (penilaian). Menurut Muhibbin

(1995) “evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai

tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.” Sedangkan Oemar Hamalik

(2003) memberi pengertian bahwa “evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan

tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-

keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran.”

Terkadang pengukuran dan penilaian disamaartikan, padahal sebenarnya dua

hal yang berbeda. Penilaian (evaluasi) memiliki makna yang lebih luas daripada

mengukur dan pengukuran merupakan alat melakukan penilaian (evaluasi).

Pengukuran prestasi belajar siswa biasa diartikan sebagai prosedur pemberian

angka (skor) kepada suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki seseorang.

Pengukuran merupakan proses kuantifikasi yang hasilnya berupa angka-angka.

Begitu pula dalam kegiatan pendidikan, pengukuran atribut prestasi belajar anak

di sekolah dapat dilakukan terhadap pengetahuan, sikap, maupun keterampilan

siswa.

Untuk melakukan pengukuran tersebut dibutuhkan alat ukur. Alat ukur yang

digunakan biasanya berupa berbagai tes. Terdapat berbagai jenis tes untuk

mengukur pengetahuan, sikap maupun keterampilan siswa. Berdasarkan bentuk

dan strukturnya dapat berbentuk seperti: tes essay, tes menjodohkan, tes benar
11

salah, tes pilihan ganda, tes isian dan hubungan sebab akibat. Namun pada tingkat

sekolah dasar biasanya menggunakan jenis yang lebih sederhana seperti tes isian

atau pilihan ganda.

Hasil pengukuran dari atribut prestasi belajar siswa (pengetahuan, sikap dan

keterampilan) ini selanjutnya akan digabungkan dan dianalisis, kemudian dinilai

menjadi satu kesatuan. Luaran (output) dari hasil penilaian tersebut dapat dilihat

dalam buku raport dan kebanyakan sekolah mengurutkan nilai akhir siswa

menjadi peringkat atau ranking dengan cara membandingkan dengan nilai siswa

lainnya.(20,23,25)

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Faktor- faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi

Slameto (2003) dapat menggolongkannya menjadi dua, yaitu faktor internal dan

faktor eksternal.(12,23,26)

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang

belajar, meliputi faktor fisiologis, faktor kelelahan dan faktor psikologis.(12,22,25)

1. Faktor Fisiologis

Faktor fisiologis dalam belajar dapat dibedakan lagi menjadi dua macam

yaitu keadaan jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi fisiologis

tertentu. Lebih lanjut dijabarkan sebagai berikut:


12

a. Keadaan Jasmani

Keadaan jasmani yang dimaksudkan di sini adalah berkaitan

dengan kondisi fisik individu yang sedang belajar. Kondisi fisik yang

sehat ataupun yang tidak sehat akan berpengaruh tersendiri dalam

proses belajar. Proses belajar akan sangat terganggu apabila kesehatan

individunya terganggu, sehingga akan berpengaruh pula pada hasil

belajar yang akan dicapai. Selain dari itu proses belajarpun

memerlukan nutrisi yang cukup mengingat proses belajar memerlukan

energi, dan energi tersebut dihasilkan oleh nutrisi yang dikonsumsi

oleh individu yang bersangkutaan. Saat berpikir otak memerlukan

energi yang berasal dari glukosa. Penggunaan energi untuk berpikirnya

otak dapat mencapai 20-30% dari total energi dalam tubuh, karena itu

otak sering disebut sebagai organ yang boros energi.(12,20,23,26)

b. Keadaan Fungsi Fisiologis

Keadaan fungsi fisiologis yang dimaksudkan di sini adalah segala

sesuatu yang berkaitan dengan fungsi panca indera. Fungsi panca

indera sangat berpengaruh dalam proses belajar, terutama fungsi mata

dan telinga mengingat proses belajar melibatkan proses komunikasi

antara guru dan siswa. Selain itu indera yang lain juga mempunyai

peranan tersendiri dan perlu dijaga kondisinya, seperti peraba,

penghidu dan perasa yang biasanya sangat bermanfaat dalam mata

pelajaran praktikum.(23)(26)
13

2. Faktor Kelelahan

Kelelahan dapat mempengaruhi belajar, karena apabila jasmani dan rohani

mengalami kelelahan maka sulit sekali untuk berkonsentrasi, seolah-olah otak

kehabisan daya untuk bekerja. Kelelahan jasmani terlihat dari lemah lunglai

tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan

kelelahan rohani dapat dilihat dari adanya kebosanan sehingga minat dan

dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Faktor ini sering timbul pada

anak yang membantu orang tuanya mencari nafkah, sehingga di saat ia harus

belajar ia sudah kelelahan dan menjadikannya malas belajar.(23)

3. Faktor Psikologis

Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri individu, yang

berkaitan erat dengan sisi kejiwaannya. Faktor psikologis ini lebih lanjut

merupakan faktor yang mendorong mengapa seseorang individu melakukan

perbuatan belajar dan menentukan prestasi yang dihasilkan dari proses

belajar.(12,23,26)

Faktor psikologis meliputi:

a) Kecerdasan/Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu

kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan situasi yang baru

dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep

yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya

dengan cepat (Slameto 2003). Jadi intelegensi adalah kesanggupan


14

seseorang untuk beradaptasi dalam berbagai situasi dan dapat

diabstraksikan pada suatu kualitas yang sama. Intelegensi memang

berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar seseorang. Seseorang

yang mempunyai intelegensi jauh di bawah normal akan sulit

diharapkan untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam proses belajar.

Namun sangat perlu dipahami bahwa intelegensi itu bukan merupakan

satu-satunya faktor penentu keberhasilan seseorang. Intelegensi itu

hanya merupakan salah satu faktor dari sekian banyak faktor.

Sebaliknya, seseorang yang intelegensinya tidak seberapa tinggi atau

sedang, mungkin saja mencapai prestasi belajar yang tinggi jika proses

belajarnya ditunjang dengan berbagai faktor lain yang memungkinkan

untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal.(12,23,26)

b) Minat

Minat merupakan keinginan yang besar terhadap sesuatu yang berbeda

pada tiap siswa. Apabila siswa mempunyai minat yang besar terhadap

salah satu mata pelajaran kemudian memusatkan perhatian yang lebih

terhadap mata pelajaran itu dan belajar dengan giat maka akan

mencapai hasil yang baik. Sebaliknya apabila siswa tidak menaruh

minat maka ia tidak akan berusaha dan bisa dikatakan hasilnya akan

rendah. Bagaimanapun baiknya proses belajar yang dilakukan

seseorang hasilnya akan kurang memuaskan jika orang tersebut tidak

berminat.(12,23,26)
15

c) Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Bakat merupakan kemampuan

yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir yang akan terealisasi menjadi

kecakapan sesudah ia belajar (Slameto, 2003). Bakat memang

merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang keberhasilan

belajar seseorang dalam suatu bidang tertentu. Namun kegagalan

dalam belajar yang sering terjadi sehubungan dengan bakat justru

disebabkan seseorang terlalu ceapat merasa dirinya tidak berbakat

dalam suatu bidang.(12,23,26)

d) Daya Ingat

Daya ingat sangat mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Daya

ingat dapat didefinisikan sebagai daya jiwa untu memasukan,

menyimpan dan mengeluarkan kembali suatu kesan. Kemampuan

mengingat ini dipengaruhi pula oleh daya jiwa yang lain di antaranya

adalah kemauan dan daya konsentrasi.(12)

e) Motivasi

Motivasi peranannya penting dalam memberikan gairah, semangat dan

rasa senang dalam belajar. Yang memiliki motivasi tinggi mempunyai

banyak energi untuk belajar. Kurang atau ketiadaan motivasi akan

menyebabkan kurang semangat dalam belajar (Darsono, 2000).(26)


16

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu yang sedang belajar.

Faktor eksternal tersebut dikelompokan menjadi tiga faktor, yaitu faktor

keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.(12,23,26)

1. Faktor Keluarga

Siswa yang sedang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa

tingkat pendidikan orang tua, relasi antara anggota keluarga, perhatian

orang tua dan keadaan status sosial ekonomi orang tua.(23)

a) Tingkat Pendidikan Orang Tua

Tingkat pendidikan orang tua sangat mempengaruhi pandangan anak-

anaknya dalam menempuh pendidikan yang dijalaninya, sebab

semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua semakin tinggi pula

kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan anaknya untuk

melakukan aktivitas-aktivitas tertentu di dalam masyarakat maupun

lingkungan sekolahnya.(12,23,26)

b) Relasi antara Anggota Keluarga

Relasi antara anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua

dengan anaknya. Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak,

perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga tersebut. Relasi

yang baik adalah relasi yang penuh pengertian dan kasih sayang,

disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman untuk

menyukseskan belajar anak itu sendiri.(23)


17

c) Perhatian Orang Tua

Orang tua yang banyak memberi perhatian dalam belajar anaknya

tentu akan mendorong anaknya untuk berhasil mencapai prestasi yang

baik, akan tetapi orang tua yang kurang memberikan perhatian pada

anaknya juga akan mempengaruhi prestasi belajarnya.(12,23,26)

d) Keadaan Status Sosial Ekonomi Keluarga

Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak.

Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya,

misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga

memerlukan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi,

penerangan, alat-alat tulis, buku-buku dan lain-lain. Semua fasilitas ini

akan dapat dipenuhi jika status ekonomi keluarga memadai.(12,23,26,27)

2. Faktor Sekolah

Sekolah adalah lingkungan kedua yang berperan besar memberi pengaruh

terhadap prestasi belajar anak. Faktor-faktor sekolah yang mempengaruhi

proses belajar ini mencakup(12,23,26):

a) Metode Mengajar

Cara-cara mengajar haruslah tepat, efisien dan seefektif mungkin

sehingga anak dapat menerima pelajaran dengan baik dan dapat

mencapai prestasi yang baik.(23)

b) Sarana dan Prasarana

Dalam proses belajar mengajar diperlukan sarana dan prasarana yang

dapat memperlancar penerimaan materi pelajaran yang diberikan pada


18

siswa. Sarana dan prasarana yang mendukung akan membuat siswa

lebih giat dan maju sehingga akan mempengaruhi hasil belajarnya.(23)

c) Metode Belajar

Siswa perlu menggunakan cara belajar yang tepat yaitu dengan belajar

teratur setiap hari dengan pembagian waktu yang baik, memilih cara

belajar yang tepat dan cukup istrahat maka akan meningkatkan hasil

belajar.(23)

3. Faktor Masyarakat

Masyarakat merupakan faktor eksternal yang juga berpengaruh terhadap

belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa di dalam

masyarakat.(12,23,26,28) Lingkungan masyarakat yang dapat mempengaruhi

kemajuan belajar anak yaitu:

a) Teman Bergaul

Teman bergaul mempunyai pengaruh yang sangat besar dan

pengaruhnya lebih cepat masuk ke dalam jiwa anak. Teman bergaul

yang baik akan berpengaruh baik pada diri anak, begitu juga

sebaliknya, teman bergaul yang jelek akan memberikan pengaruh yang

jelek juga terhadap diri anak. Agar anak dapat belajar dengan baik,

maka perlulah diusahakan agar anak memiliki teman bergaul yang

baik.(26,28)

b) Cara Hidup Lingkungan

Cara hidup lingkungan mempengaruhi belajar anak, misalnya cara

hidup yang suka main judi, minum-minuman keras, menganggur, tidak


19

suka belajar tentu akan berpengaruh negatif bagi anak-anak yang

sekolah. Namun sebaliknya jika lingkungan hidup anak adalah orang-

orang terpelajar yang baik-baik, mereka mendidik dan menyekolahkan

anaknya, antusias dengan cita-cita masa depan anaknya, pengaruh itu

akan mendorong semangat anak untuk belajar lebih giat lagi.(26,28)

c) Media Massa

Media massa seperti internet, televisi, surat kabar, majalah dan

sebagainya turut mempengaruhi anak dalam belajarnya. Media massa

jika digunakan dengan baik maka akan memberikan manfaat yang baik

pula, sehingga anak perlu diawasi dan pemilihan media massa perlu

diseleksi agar dapat memberian pengaruh yang baik untuk anak.(26,28)

2.2 Stunting

2.2.1 Definisi Stunting

Stunting merupakan keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui

defisit 2 SD di bawah median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi

referensi internasional. Stunting dapat juga didefinisiskan sebagai indeks tinggi

badan menurut umur (TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi (-2SD) atau

di bawah rata-rata standar yang ada dan severe stunting didefinisikan kurang dari

-3 SD. Keadaan ini diinterpretasikan sebagai malnutrisi kronis. Stunting adalah

postur tubuh pendek yang timbul karena malnutrisi kronis. Pendek dan sangat

pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut

Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan istilah
20

lain untuk stunted dan severely stunted (Kemenkes, 2011). Stunting pada anak

merupakan hasil jangka panjang konsumsi kronis diet berkualitas rendah yang

dikombinasikan dengan morbiditas, penyakit infeksi, dan masalah lingkungan

(Semba, et al., 2008). Stunting menggambarkan kegagalan pertumbuhan yang

terjadi dalam jangka waktu yang lama, dan dihubungkan dengan penurunan

kapasitas fisik dan psikis, penurunan pertumbuhan fisik, dan pencapaian di bidang

pendidikan rendah (The World Bank, 2010; UNICEF).

Stunting merupakan hasil dari kekurangan gizi kronis dan sering terjadi antar

generasi ditambah dengan penyakit yang sering. Hal tersebut adalah ciri khas

endemik kemiskinan. Stunting terkait dengan lebih rendahnya perkembangan

kognitif dan produktivitas. Stunting pada anak merupakan indikator utama dalam

menilai kualitas modal sumber daya manusia di masa mendatang.(2,17,29,30)

2.2.2 Epidemiologi Stunting

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2012, terdapat

sekitar 162 juta anak di bawah lima tahun yang mengalami stunting dan 56%

berada di Asia.(4) Data dari Unicef tahun 2011 menyatakan bahwa terdapat 165

juta anak di bawah lima tahun mengalami stunting di dunia. Lima negara yang

memiliki jumlah terbanyak yaitu: India (61,7 juta), Nigeria (11 juta), Pakistan (9,6

juta), China (8 juta) dan Indonesia (7,5 juta).(5)

Menurut data Indonesia Nutrition Profil April 2014 sekitar 9,2 juta (37%)

balita di Indonesia mengalami stunting.(6) Sedangkan beerdasarkan data

RISKESDAS 2013, prevalensi balita stunting di Indonesia adalah sebesar 37,2%,


21

angka ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu sekitar

35,6%. Berdasarkan data RISKESDAS ini juga prevalensi stunting pada anak usia

5-12 tahun di Indonesia adalah 30,7%.(7)

Menurut data RISKESDAS 2013, sekitar 52% balita di NTT mengalami

stunting, dan NTT menempati urutan pertama dengan prevalensi stunting tertinggi

pada balita dan ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius menurut

WHO (bila prevalensi stunting 30-39% dianggap sebagai masalah berat, dan bila

prevalensinya ≥ 40% dianggap sebagai masalah yang serius). Sedangkan

prevalensi stunting untuk anak usia 5-12 tahun di NTT sekitar 41%.(7)

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kartika (2013) di

Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Kupang didapatkan bahwa dari 110 anak yang

menjadi sampel penelitian sekitar 51 orangnya (46,4%) mengalami stunting.(10)

2.2.3 Faktor Risiko Stunting

1. Asupan Makanan

Asupan makanan berkaitan dengan kandungan nutrisi (zat gizi) yang

terkandung di dalam makanan yang dimakan. Nutrisi (zat gizi) merupakan

bagian yang penting dari kesehatan dan pertumbuhan.

Tingkat pertumbuhan berbeda untuk setiap anak, begitu juga dengan

kebutuhan energinya. Kebutuhan energi anak-anak sangat bervariasi

berdasarkan perbedaan tingkat pertumbuhan dan tingkat aktifitas. Tingkat

pertumbuhan untuk usia 1 sampai 3 tahun dan 7 sampai 10 tahun lebih cepat,

sehingga mengharuskan kebutuhan energi yang lebih besar. Usia dan tahap
22

perkembangan anak juga berkaitan dengan kebutuhan energi (Sharlin &

Edelstein, 2011).

Terhambatnya pertumbuhan pada bayi dan anak-anak tercermin dalam

ketinggian yang tidak sesuai dengan usia, merupakan contoh adaptasi pada

asupan energi yang rendah dalam waktu yang lama. Jika kekurangan energi

tidak terlalu lama, anak akan menunjukkan catch-up growth. Stunting

mencerminkan kekurangan gizi kronis dan terdeteksi sebagai gangguan

pertumbuhan linier.

Menurut hasil penelitian di Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa tingkat

asupan energi kelompok anak yang normal hampir sebagian tercukupi,

sementara pada kelompok anak stunting masih rendah (Astari, Nasution, dan

Dwiriani, 2006). Analisis data RISKESDAS tahun 2010 yang dilakukan oleh

Fitri (2012) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara konsumsi

energi dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan di Sumatera. Pada

penelitian di Kalimantan Barat dan Maluku, diperoleh hasil bahwa konsumsi

energi berhubungan dengan kejadian stunting.(28,29,30)

2. Panjang Badan Lahir

Panjang badan lahir adalah ukuran panjang bayi yang dilakukan secara

terlentang ketika bayi dilahirkan (Kemenkes RI, 2011).(31) Panjang badan lahir

bayi akan berdampak pada pertumbuhan selanjutnya, seperti pada hasil

penelitian yang dilakukan di Kecamatan Pati Kabupaten Pati didapatkan hasil

bahwa panjang badan lahir pendek merupakan salah satu faktor risiko balita
23

stunting usia 12-36 bulan dengan nilai p = 0,000 dan nilai OR = 2,81, hal ini

menunjukkan bahwa bayi yang lahir dengan panjang badan pendek memiliki

risiko 2,8 kali mengalami stunting dibandingkan bayi dengan panjang lahir

normal.(11)

Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui

pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ

lainnya. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan

mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang

menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu. Kekurangan gizi yang

terjadi dalam kandungan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian.

Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan

pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan

organ tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi

diekspresikan dengan bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan

kognitif atau kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan

perkembangan otak (Bappenas, 2012).11

Berdasarkan laporan Nutrition in the first 1,000 Days State of The World’s

Mother tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian stunting dipengaruhi oleh

kondisi pada masa 1000 hari kehidupan yaitu mulai dari janin berada dalam

kandungan sampai anak tersebut berusia 2 tahun dan masa ini disebut dengan

masa critical windows, karena pada masa ini terjadi perkembangan otak dan

pertumbuhan badan yang cepat, sehingga bila asupan nutrisi yang diberikan

tidak optimal maka dapat berpotensi anak menjadi stunting.11


24

Berdasarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2010), panjang

badan lahir bayi dibagi dalam tiga kelompok, sebagai berikut :

a. Bayi lahir pendek, bayi dengan panjang lahir kurang kurang dari 48 cm.

b. Bayi lahir normal, bayi dengan panjang badan 48-52 cm.

c. Bayi lahir tinggi, bayi dengan panjang badan di atas 52 cm.(32)

3. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Berat lahir merupakan indikator untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan,

kesehatan jangka panjang dan pengembangan psikososial. Berat lahir juga

mencerminkan kualitas perkembangan intrauterin dan pemeliharaan kesehatan

mencakup pelayanan kesehatan yang diterima ibu selama kehamilannya

(Awwa et al, 2004).(33)

BBLR didefinisikan oleh WHO sebagai berat lahir di bawah 2500 gram.

BBLR merupakan masalah kesehatan masyarakat yang banyak terjadi di

negara-negara miskin dan berkembang. Setidaknya 17 juta bayi dilahirkan

dengan BBLR setiap tahun yang mewakili sekitar 16% dari semua bayi yang

baru lahir di negara-negara berkembang.(29)(30)(33)

Di negara berkembang, bayi dengan BBLR lebih cenderung mengalami

retardasi pertumbuhan intrauterin yang terjadi karena buruknya gizi ibu dan

meningkatnya angka infeksi dibandingkan dengan negara maju (Henningham

& McGregor dalam Gibney, 2008). Dampak dari bayi yang memiliki berat

lahir rendah akan berlangsung antar generasi yang satu ke generasi selanjutnya.

Anak yang BBLR ke depannya akan memiliki ukuran antropometri yang


25

kurang di masa dewasa. Bagi perempuan yang lahir dengan berat rendah,

memiliki risiko besar untuk menjadi ibu yang stunted sehingga akan cenderung

melahirkan bayi dengan berat lahir rendah seperti dirinya. Bayi yang dilahirkan

oleh ibu yang stunted tersebut akan menjadi perempuan dewasa yang stunted

juga, dan akan membentuk siklus yang sama seperti sebelumnya (Semba dan

Bloem, 2001).(29)

Gangguan pertumbuhan antar generasi tersebut dapat digambarkan seperti

berikut:

Kegagalan
pertumbuhan
pada anak

Remaja

Kehamilan dengan berat


BBLR
usia muda dan tinggi
kurang

Perempuan
dewasa
stunted

Gambar 2.1 Gangguan Pertumbuhan Antar-Generasi


(Sumber : Semba & Bloem 2001 dalam A. Paramitha, 2012)(29)
26

4. Riwayat Infeksi

Penyebab langsung malnutrisi adalah diet yang tidak adekuat dan penyakit.

Manifestasi malnutrisi ini disebabkan oleh perbedaan antara jumlah zat gizi

yang diserap dari makanan dan jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari terlalu sedikit mengkonsumsi makanan

atau mengalami infeksi, yang meningkatkan kebutuhan tubuh akan zat gizi,

mengurangi nafsu makanan, atau mempengaruhi penyerapan zat gizi di usus.

Kenyataannya, malnutrisi dan infeksi sering terjadi saat bersamaan.

Malnutrisi dapat meningkatkan risiko infeksi, sedangkan infeksi juga dapat

menyebabkan malnutrisi yang mengarahkan ke lingkaran setan. Anak kurang

gizi, yang daya tahan tubuh terhadap penyakitnya rendah, jatuh sakit akan

menjadi semakin kurang gizi, sehingga mengurangi kapasitasnya untuk

melawan penyakit dan sebagainya. Ini disebut juga infection malnutrition

(Maxwell, 2011).

Berdasarkan penelitian Masithah, Soekirman & Martianto (2005), anak

balita yang menderita diare memiliki hubungan positif dengan indeks status

gizi tinggi badan menurut umur (TB/U). Penelitian lain juga menunjukkan hal

yang sama, penyakit infeksi menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap

indeks status gizi TB/U (Neldawati, 2006).(29)


27

Diet yang
tidak adekuat

Penurunan nafsu makan


Penurunan berat badan
Malabsorpsi
Gagal tumbuh
Peningkatan kebutuhan tubuh
Penurunan kekebalan tubuh
akan energi dan zat gizi lain
Peningkatan kerentanan

Peningkatan keparahan
dan durasi penyakit

Gambar 2.2 Siklus Infeksi-Malnutrisi


(Sumber : Tomkins & Watson (1989) dalam A. Paramitha, 2012)(29)

5. Tingkat Pendidikan Orang Tua

Pendidikan orang tua berpengaruh terhadap pengasuhan anak, karena

dengan pendidikan yang tinggi orang tua akan memahami pentingnya peranan

orang tua dalam pertumbuhan anak dan diperkirakan memiliki pengetahuan

gizi yang baik pula. Selain itu pendidikan yang tinggi, dapat mempengaruhi

tingkat pendapatan sehingga berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan.(29)

Berdasarkan penelitian Zottareli, Sunil & Rajaram (2007) menunjukkan bahwa

prevalensi stunting meningkat dengan rendahnya tingkat pendidikan.(33)

Pada penelitian Astari, Nasoetion, dan Dwiriani (2006), tingkat pendidikan

ayah pada anak stunting lebih rendah dibandingkan dengan anak normal.
28

Penelitian di Libya menunjukkan bahwa pendidikan ayah merupakan faktor

signifikan terkait dengan kejadian stunting pada anak usia di bawah 5 tahun

(Taguri, et al., 2007). Penelitian lain dari Semba et al. (2009), menunjukkan

bahwa pendidikan ayah berhubungan dengan kejadian stunting pada anak di

Bangladesh.(29)

Rendahnya pendidikan ibu merupakan penyebab utama dari kejadian

stunting pada anak sekolah dan remaja di Nigeria. Penelitian lain yang

dilakukan oleh Semba et al. (2008) pada anak-anak di Indonesia menunjukkan

hasil yang sama, bahwa meningkatkan pendidikan ibu dapat mengurangi

kejadian stunting.(29) Sama halnya penelitian yang dilakukan oleh Astari,

Nasoetion & Dwiriani (2006) mengatakan bahwa tingkat pendidikan ibu

secara statistik terdapaat perbedaan yang nyata (p < 0.05) antara kelompok

stunting dan normal.(33)

6. Status Ekonomi Keluarga

Kekurangan gizi seringkali merupakan bagian dari lingkaran yang meliputi

kemiskinan dan penyakit.(33) Ketiga faktor ini saling terkait sehingga masing-

masing memberikan kontribusi terhadap yang lain. Dengan adanya

pertumbuhan ekonomi dan adanya peningkatan penghasilan, maka perbaikan

gizi akan tercapai dengan sendirinya. Terdapat hubungan antara pendapatan

dan gizi yang menguntungkan, yaitu pengaruh peningkatan pendapatan dapat

menimbulkan perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga yang menimbulkan

interaksi status gizi.(29)


29

Status ekonomi keluarga dipandang memiliki dampak yang signifikan

terhadap probabilitas anak menjadi pendek dan kurus. Dalam hal ini, WHO

merekomendasikan status gizi pendek atau stunting sebagai alat ukur atas

tingkat sosial-ekonomi yang rendah dan sebagai salah satu indikator untuk

memantau ekuitas dalam kesehatan (Zere & McIntyre, 2003).(29)

Peningkatan pendapatan rumah tangga berhubungan dengan penurunan

dramatis terhadap probabilitas stunting pada anak. Beberapa studi

menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan pada penduduk miskin adalah

strategi untuk membatasi tingginya kejadian stunting dalam sosial-ekonomi

rendah pada segmen populasi. Malnutrisi terutama stunting, lebih dipengaruhi

oleh dimensi sosial ekonomi, sehingga harus dilihat dalam konteks yang lebih

luas dan tidak hanya dalam ranah biomedis (Zere & McIntyre, 2003). Menurut

penelitian Semba et al. (2008) di Indonesia dan Bangladesh menunjukkan

bahwa anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah memiliki risiko

stunting lebih tinggi dibandingkan anak dari keluarga sosial ekonomi yang

lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan ekonomi keluarga

mempengaruhi kejadian stunting.(29)

2.2.4 Dampak Stunting

2.2.4.1 Dampak Jangka Pendek

Stunting (tubuh yang pendek) menggambarkan keadaan gizi kurang yang

sudah berjalan lama dan memerlukan waktu bagi anak untuk berkembang serta

pulih kembali. Sejumlah besar penelitian cross-sectional memperlihatkan


30

keterkaitan antara stunting dengan perkembangan motorik dan mental yang

buruk dalam usia kanak-kanak dini, serta prestasi kognitif dan prestasi sekolah

yang buruk dalam usia kanak-kanak. Anak-anak yang bertubuh pendek

memiliki tingkat perkembangan yang buruk dan juga memperlihatkan perilaku

yang berubah. Pada anak-anak kecil, perilaku ini meliputi kerewelan serta

frekuensi menangis yang meningkat, tingkat aktivitas yang lebih rendah,

jumlah dan entusiasme bermain untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan

yang lebih kecil, berkomunikasi lebih jarang, afek (ekspresi) yang tidak begitu

gembira, serta cenderung untuk berada dekat ibu serta lebih apatis.(17)

WHO (2013) memberi pandangan mengenai efek jangka pendek dari

stunting pada anak di dalam beberapa aspek yakni aspek kesehatan, aspek

perkembangan anak dan aspek ekonomi. Pada aspek kesehatan, stunting

dipandang dapat meningkatakan angka morbiditas dan mortalitas anak.

Sedangkan dalam aspek perkembangan anak, stunting memberi dampak

terhambatnya perkembangan kognitif, motorik dan bahasa dari anak terutama

kalau stunting terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan anak sejak dari dalam

kandingan sampai anak berusia 2 tahun. Dalam aspek ekonomi stunting

berdampak meningkatkan pembiayaan untuk merawat anak-anak yang sakit

akibat lebih banyak waktu yang diperlukan untuk pemulihan kesehatan

anak.(11)(13)

2.2.4.2 Dampak Jangka Panjang

Anak-anak yang bertubuh pendek (stunted) pada usia kanak-kanak dini

terus menunjukkan kemampuan yang lebih buruk dalam fungsi kognitif yang
31

beragam dan prestasi sekolah yang lebih buruk jika dibandingkan dengan anak-

anak yang bertubuh normal hingga usia 12 tahun. Mereka juga memiliki

permasalahan perilaku, lebih terhambat dan kurang perhatian serta lebih

menunjukkan gangguan tingkah laku (conduct disorder). Anak-anak tersebut

juga memiliki perilaku yang lebih buruk di sekolah, termasuk berkurangnya

perhatian dan lebih buruknya keterampilan dalam pergaulan sosial mereka

dibandingkan anak-anak yang tidak memiliki riwayat malnutrisi. Mereka juga

menjadi lebih agresif dan mudah dialihkan perhatiannya saat di rumah.

Gangguan perkembangan ditemukan hingga usia pubertas, kendati hanya ada

beberapa data dari penelitian terhadap orang-orang dewasa.(17)

WHO (2013) melihat efek jangka panjang untuk stunting dalam tiga aspek

yang sama yakni aspek kesehatan, aspek perkembangan dan aspek ekonomi.(13)

Dalam aspek kesehatan stunting memberikan efek jangka panjang yakni

tinggi badan yang kurang pada orang dewasa, lebih rentan terhadap obesitas

dan kondisi komorbiditas lainnya dan menurunkan kesehatan reproduksi

terutama pada wanita. Anak yang stunting biasanya tumbuh menjadi orang

dewasa yang stunting apabila tidak ditangani lebih lanjut. Hal ini diakibatkan

karena pada anak-anak yang stunting, pada masa remajanya terjadi

keterlambatan dalam maturasi tulang yang menyebabkan terjadinya defisit

pertumbuhan sehingga tetap menjadi pendek hingga dewasa. Restriksi

pertumbuhan pada anak-anak stunting tidak hanya berdampak pada tinggi

badan ketika dewasa namun juga berdampak pada kelainan metabolik dan

penyakit kronik pada saat dewasa. Menurut data dari Maternal and Child
32

Undernutrtion Study Group (2008), bahwa stunting merupakan faktor risiko

untuk peningkatan kadar glukosa darah, tekanan darah dan dislipidemia pada

orang dewasa. Selain mempengaruhi tinggi badan dan kelainan metabolik

stunting juga mempengaruhi kesehatan reproduksi terutama pada wanita.

Stunting meningkatkan risiko maternal pada saat kehamilan dan proses

melahirkan. Maternal yang mengalami stunting akan melahirkan anak yang

stunting juga hal ini disebabkan karena adanya restriksi pertumbuhan

intrauterina (Intrauterine Growth Restriction/ IUGR) saat kehamilan. IUGR

selama kehamilan juga dapat menyebabkan janin mengalami stres dalam

kandungan bahkan sampai mengalami kematian. Selain itu pada saat

melahirkan, dapat juga terjadi kelahiran yang lama, hal ini disebabkan karena

rongga pelvis pada maternal yang stunting mengalami penyempitan akibat

tulang-tulang panggul yang tidak berkembang.(13,15)

Dalam aspek perkembangan stunting memberi dampak menurunkan

performance di sekolah dan menurunkan kemampuan belajar untuk mencapai

potensi yang maksimal. Keterkaitan antara tubuh yang lebih tinggi dan kinerja

kognitif yang lebih baik ternyata sangat besar pada berbagai kelompok etnis

serta wilayah geografik, dan keterkaitan ini kemudian ditafsirkan sebagai status

gizi yang lebih baik selama periode perkembangan otak yang akan

menghasilkan perkembangan kognitif yang lebih maju. Stunting

menggambarkan keadaan malnutrisi kronis di mana suplai energi yang

diperlukan oleh tubuh termasuk otak berkekurangan. Hal ini menyebabkan

perkembangan otak tidak memadai sehingga membuat penurunan fungsi


33

kognitif sampai akhirnya berdampak pada kegagalan perkembangan

kognitif.(13,14,15,18,17)

Dampak stunting di bidang ekonomi yaitu menurunkan produktivitas kerja

yang akhirnya berpengaruh pada pendapatan yang di terima. Stunting

berdampak orang menjadi pendek ketika dewasa dan perkembangan

kognitifnya terhambat sehingga cendrung tidak memiliki pendidikan yang

memadai sehingga berpengaruh pada produktifitas kerjanya.(13)(15)

2.2.5 Cara Pengukuran

Berdasarkan baku antropomteri WHO 2007 untuk anak umur 5-18 tahun,

stunting dapat ditentukan berdasarkan nilai Z-score tinggi badan menurut umur

(TB/U).(7)(34)

Rumus yang digunakan untuk perhitungan Z-score TB/U yaitu sebagai

berikut:

Jika TB > Nilai Median maka: TB - Nilai Median


+1SD - Nilai Median
Jika TB < Nilai Median maka: TB – Nilai Median
Nilai Median – (-1SD)

Gambar 2.3 Rumus Z-score TB/U

Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score ini status gizi anak dapat

dikategorikan sebagai berikut:


34

Tabel 2.1 Kategori Status Gizi berdasarkan TB/U dengan Z-score(7)

Z-score Kategori
Z-score < -3,0 Sangat Pendek (severly stunting)
Z-score ≥-3,0 s/d < -2,0 Pendek (stunting)
Z-score ≥ -2,0 Normal

2.3 Hubungan Stunting dan Riwayat Panjang Lahir dengan Prestasi Belajar

Stunting menggambarkan keadaan malnutrisi kronis di mana suplai nutrisi

yang diperlukan tubuh termasuk otak berkekurangan. Hal ini menyebabkan

pertumbuhan anak dan perkembangan otaknya tidak memadai sehingga

menyebabkan pertumbuhan anak terganggu dan penurunan fungsi kognitif sampai

gagalnya perkembangan kognitif anak.(13,14,15,18)

Kekurangan gizi pada masa lalu akan menyebabkan perubahan metabolisme

dalam otak terutama jika ini terjadi saat 1000 hari kehidupan anak sejak di dalam

kandungan sampai 2 tahun pertama kehidupannya. Hal ini akan mengakibatkan

terjadinya ketidakmampuan otak untuk berfungsi normal. Pada keadaan yang

lebih berat dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan terganggu

(stunting), badan lebih kecil, jumlah sel dalam otak berkurang dan terjadi

ketidakmatangan serta ketidaksempurnaan organisasi biokimia otak. Keadaan ini

akan berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak.(11,19)

Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui

pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ

lainnya. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan

mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang

menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu. Kekurangan gizi yang
35

terjadi dalam kandungan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian.

Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan

pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ

tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi diekspresikan

dengan bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau

kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak

(Bappenas, 2012).(11)

Berdasarkan laporan Nutrition in the first 1,000 Days State of The World’s

Mother tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian stunting dipengaruhi oleh kondisi

pada masa 1000 hari kehidupan yaitu mulai dari janin berada dalam kandungan

sampai anak tersebut berusia 2 tahun dan masa ini disebut dengan masa critical

windows, karena pada masa ini terjadi perkembangan otak dan pertumbuhan

badan yang cepat, sehingga bila asupan nutrisi yang diberikan tidak optimal maka

dapat berpotensi anak menjadi stunting.(11)

Status gizi kurang menyebabkan perkembangan otak yang tidak sempurna

yang menyebabkan kognitif dan perkembangan IQ terhambat serta kemampuan

belajar terganggu yang selanjutnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Menurut penelitian Ijarotimi dan Ijadunola (2007) di Nigeria, mereka

menemukan bahwa, pada anak yang kekurangan gizi akan terjadi perubahan pada

metabolisme yang berdampak pada kemampuan kognitif dan kemampuan otak.

Karena, dengan keadaan kurangnya asupan nutrisi pada anak seperti kekurangan

energi protein, akan berefek pada fungsi hippocampus dan korteks dalam

membentuk dan menyimpan memori. Sorhaindo dan Feinstein (2006) di London


36

juga menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi

belajar. Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa gizi buruk yang dialami

anak akan mempengaruhi sistem imun sehingga anak lebih mudah menderita

penyakit infeksi. Keadaan ini akan mempengaruhi kehadiran anak di sekolah

sehingga anak cenderung tertinggal dalam proses pembelajaran sehingga

mempengaruhi prestasi belajar anak.(19) Sebuah penelitian yang dilakukan Olney,

et al. (2009), pada anak-anak di Pemba, Zanzibar menghasilkan kesimpulan

bahwa stunting merupakan salah satu faktor risiko terhambatnya perkembangan

anak-anak pada populasi tersebut.(20)

Anak yang memiliki status gizi kurang atau buruk (underweight) berdasarkan

pengukuran berat badan terhadap umur (BB/U) dan pendek (stunting) atau sangat

pendek (severely stunting) berdasarkan pengukuran tinggi badan menurut umur

(TB/U) mempunyai risiko kehilangan tingkat kecerdasan atau intellegence

quotient (IQ) sebesar 10-15 poin.(21)

Menurut penelitian Hayatus Rosita, et al.,(2013) tentang hubungan status gizi

dengan prestasi belajar di kota Padangpanjang mendapatkan hubungan signifikan

antara status gizi stunting dengan prestasi belajar dengan nilai p = 0,005 (p <

0,05).(19) Penelitian cross-sectional yang pernah dilakukan di Kalimantan Barat,

menunjukkan anak-anak yang sangat pendek (severely stunted) memiliki IQ yang

jauh lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang hanya pendek

(stunting).(20)
37

2.4 Kerangka Teori

Asupan Riwayat BBLR Riwayat Pendidikan Keadaan Sosial-


makanan Panjang Lahir Infeksi Orang Tua Ekonomi Keluarga

Stunting

Dampak Jangka Pendek Dampak Jangka Panjang

Meningkatkan Terhambatnya  Penurunan  Terganggunya


angka mortalitas perkembangan Kapasitas Belajar
kesehatan
dan morbiditas motorik, mental dan  Penurunan
pada anak kognitif Performance di reproduksi
Sekolah  Meningkatkan
risiko komorbid di
usia dewasa
 Faktor Fisiologis
 Faktor Kelelahan
 Faktor Psikologis
 Faktor Keluarga Prestasi Belajar

 Faktor Sekolah
 Faktor Lingkungan

Gambar 2.4 Kerangka Teori


38

Kerangka teori di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Stunting dapat didefinisikan sebagai indeks tinggi badan menurut umur

(TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi (-2SD). Stunting dapat dipengaruhi

oleh beberapa faktor yakni asupan makanan, Panjang Badan Lahir, Berat bayi

lahir rendah (BBLR), riwayat infeksi, pendidikan orang tua dan keadaan sosial

ekonomi keluarga. Panjang badan lahir bayi akan berdampak pada pertumbuhan

selanjutnya, seperti pada hasil penelitian yang dilakukan di Kecamatan Pati

Kabupaten Pati didapatkan hasil bahwa panjang badan lahir pendek merupakan

salah satu faktor risiko balita stunting usia 12-36 bulan dengan nilai p = 0,000 dan

nilai OR = 2,81, hal ini menunjukkan bahwa bayi yang lahir dengan panjang

badan pendek memiliki risiko 2,8 kali mengalami stunting dibandingkan bayi

dengan panjang lahir normal.

Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan

berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ lainnya. Janin

mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan mudah

menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang menguntungkan

maupun yang merugikan pada saat itu. Kekurangan gizi yang terjadi dalam

kandungan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian. Secara paralel

penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan pengurangan

jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ tubuh

lainnya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi diekspresikan dengan

bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau kecerdasan

sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak (Bappenas,


39

2012). Berdasarkan laporan Nutrition in the first 1,000 Days State of The World’s

Mother tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian stunting dipengaruhi oleh kondisi

pada masa 1000 hari kehidupan yaitu mulai dari janin berada dalam kandungan

sampai anak tersebut berusia 2 tahun dan masa ini disebut dengan masa critical

windows, karena pada masa ini terjadi perkembangan otak dan pertumbuhan

badan yang cepat, sehingga bila asupan nutrisi yang diberikan tidak optimal maka

dapat berpotensi anak menjadi stunting.

Stunting memiliki dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.

Dampak jangka pendek dari stunting yakni terhambatnya perkembangan motorik,

mental dan kognitif. Hal ini dikarenakan stunting merupakan kondisi malnutrisi

kronis di mana suplai nutrisi yang diperlukan tubuh termasuk otak berkekurangan.

Suplai nutrisi yang kurang ke otak akan menyebabkan kelainan metabolisme pada

otak yang akan menyebabkan jumlah sel dalam otak berkurang dan terjadi

ketidakmatangan serta ketidaksempurnaan organisasi biokimia otak. Hal ini tentu

akan mempangruhi fungsi otak sebagai pusat perkembangan motorik, mental dan

kognitif terutama jika terjadi pada golden periode yaitu kira-kira tiga tahun

pertama kehidupan anak. Stunting juga dapat meningkatkan angka morbiditas dan

mortalitas pada anak. Dalam penelitian yang dilakukan Sorhaindo dan Feinstein di

London (2006) didapatkan bahwa gizi buruk pada anak akan mempengaruhi status

imunitas dari anak sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak.

Dampak jangka panjang dari stunting yakni penurunan kapasitas belajar dan

penurunan performance di sekolah. Apabila stunting dibiarkan berlanjut dan tidak

ditangani hingga anak masuk ke usia sekolah maka dampak jangka pendek
40

stunting berupa terhambatnya perkembangan motorik, mental dan kognitif akan

mempengaruhi kapasitas belajar anak dan performance anak di sekolah. Stunting

yang tidak ditangani hingga masa dewasa dapat menyebabkan terganggunya

kesehatan reproduksi terutama pada perempuan, di mana pertumbuhan tulang

yang terhambat pada stunting membuat panggul wanita menjadi sempit sehingga

turut mempengaruhi kesehatan reproduksinya terutama saat melahirkan dan ibu

yang stunting pun dapat melahirkan anak yang stunting disebabkan karena adnya

retriksi pertumbuhan intauterin. Menurut beberapa penelitian stunting tidak hanya

berdampak pada tinggi badan saat dewasa namun juga turut mempengaruhi

kelainan metabolik dan penyakit kronik saat dewasa. Menurut data dari Maternal

and Child Undernutrition Study Group (2008), bahwa stunting merupakan faktor

risiko untuk peningkatan kadar glukosa darah, tekanan darah dan dislipidemia

pada orang dewasa.

Dampak jangka pendek stunting berupa terhambatnya perkembangan motorik,

mental dan kognitif dan dampak jangka panjang stunting berupa penurunan

kapasitas belajar dan penurunan performance anak di sekolah dapat

mempengaruhi prestasi belajar seorang anak. Prestasi belajar merupakan

ketercapaian peserta didik yang dinyatakan dalam hitungan angka, merupakan

kumpulan sebuah penilaian panjang dalam proses belajar mengajar yang diberikan

oleh guru dalam periode tertentu. Prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh faktor

fisiologis, faktor kelelahan, faktor psikologis, faktor keluarga, faktor sekolah dan

faktor lingkungan.
41

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat

Stunting  Terhambatnya Prestasi Belajar


perkembangan kognitif
 Menurunya tingkat
kecerdasan
Riwayat Panjang  Menurunnya daya ingat
Lahir
 Faktor Fisiologis
 Faktor Kelelahan
 Faktor Psikologis
 Faktor Keluarga
 Faktor Sekolah
 Faktor Lingkungan

Gambar 3.1 Kerangka Konsep 

Keterangan :

: variabel yang diteliti

: variabel yang tidak diteliti


42

3.2 Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel penelitian, yakni sebagai berikut:

1. Variabel bebas ialah stunting dan riwayat panjang lahir pada siswa

Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Nusa Tenggara Timur.

2. Variabel terikat ialah prestasi belajar pada siswa Sekolah Dasar Inpres

Tarus 1 Nusa Tenggara Timur.

3.3 Hipotesis

H0 : Tidak terdapat hubungan stunting dan riwayat panjang lahir dengan

prestasi belajar pada siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Nusa

Tenggara Timur.

H1 : Terdapat hubungan stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi

belajar pada siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Nusa Tenggara

Timur.
43

3.4 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel
penelitian Definisi Alat Ukur Kriteria Skala Sumber
Stunting Status gizi yang Z-Score yang < -2 SD: Stunting Ordinal Gibney,
(Perawakan didasarkan pada dihitung ≥ -2 SD: Non- Kemenkes
Pendek) indeks tinggi berdasarkan Stunting RI 2011,
badan menurut tabel TB/U WHO 2007.
umur yang oleh WHO
melampaui 2007.
defisit 2 SD di
bawah median
tinggi badan
populasi yang
menjadi
referensi
nasional.
Riwayat Ukuran panjang Wawancara < 48 cm : Pendek Ordinal Kemenkes
Panjang bayi yang ≥ 48 cm : Normal RI 2010,
Lahir dilakukan secara 2011
telentang ketika
bayi dilahirkan.
Prestasi Ketercapaian Rekapitulasi Ratio Tirtonegoro
Belajar peserta didik nilai rapor dalam
yang dinyatakan untuk nilai Wahyuni
dalam hitungan matematika 2011, KBBI
angka, dan sains
merupakan
kumpulan
sebuah penilaian
panjang dalam
proses belajar
mengajar yang
diberikan oleh
guru dalam
periode tertentu.
44

3.5 Jenis dan Rancangan Penelitian

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode analitik observasional

dengan pendekatan kohort retrospektif.(35)(36) Rancangan ini dapat digambarkan

sebagai berikut:

Populasi

Sampel

Kelompok dengan Kelompok tanpa


faktor risiko faktor risiko

Stunting Non-stunting

Riwayat Panjang Riwayat Panjang


Lahir Pendek Lahir Normal

Prestasi belajar Prestasi belajar

Gambar 3.2 Rancangan Penelitian


45

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SD Inpres Tarus 1 Nusa Tenggara Timur pada

bulan September-Oktober 2015.

3.7 Populasi dan Sampel

3.7.1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SD Inpres Tarus 1 kelas IV, V,

VI. Alasan Peneliti memilih populasi ini karena dalam penelitian ini peneliti harus

menjelaskan mengenai prosedur penelitian dan populasi ini dianggap sudah dapat

memahami dan bisa diajak kerja sama.

3.7.2 Sampel

Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus

analitik korelatif :(35)(36)

2
Zα + Zβ
n= [ 1+r ] + 3
0,5 ln( )
1−r

Gambar 3.3 Rumus besar sampel analitik korelatif

Keterangan :

n : besar sampel

Z⍺ : 1,96 (⍺ = 0,05)

Zβ : 1,28 (β = 0,10)

r : 0,471

Berdasarkan rumus di atas didapatkan sampel sebanyak 43 orang. Sampel

kemudian dipilih dengan cara consecutive sampling.


46

3.8 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.8.1 Kriteria Inklusi

3.8.1.1 Subyek dengan Faktor Risiko

1. Siswa kelas IV,V,VI SD Inpres Tarus 1 Kupang.

2. Siswa yang bersedia menjadi subyek penelitian.

3. Siswa yang stunting.

4. Siswa dengan riwayat panjang lahir pendek.

3.8.1.2 Subyek tanpa Faktor Risiko

1. Siswa kelas IV,V, VI SD Inpres Tarus 1 Kupang.

2. Siswa yang bersedia menjadi subyek penelitian.

3.8.2 Kriteria Eksklusi

3.8.2.1 Subyek dengan Faktor Risiko

a. Siswa yang tidak hadir saat penelitian.

b. Siswa yang cacat seperti siswa yang bisu, tuli maupun siswa yang

mengalami kebutaan.

3.8.2.2 Subyek tanpa Faktor Risiko

a. Siswa yang tidak hadir saat penelitian.

b. Siswa yang stunting.

c. Siswa dengan riwayat panjang lahir pendek.

d. Siswa yang cacat seperti siswa yang bisu, tuli maupun siswa yang

mengalami kebutaan.
47

3.9 Alur Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

3.9.1 Alur Penelitian

Rangkaian alur atau prosedur dalam melakukan penelitian adalah sebagai

berikut:

Mengurus surat izin penelitian

Mulai melakukan penelitian

Pemilihan sampel

Informed Consent

Mengisi Identitas

Mengisi jawaban riwayat panjang lahir dengan bertanya kepada


orang tua

Mengumpulkan Lembaran Identifikasi Data dan Wawancara

Melakukan pengukuran TB

Mendata nilai rapor

Pengolahan hasil penelitian

Laporan hasil penelitian

Gambar 3.4 Alur Penelitian


48

3.9.2 Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data mengenai stunting dilakukan dengan mengukur tinggi badan

kemudian dilakukan perhitungan Z-score berdasarkan indeks TB/U dengan rumus

yang ada, dan diinterpretasikan dengan standar yang ada. Pengumpulan data

mengenai riwayat panjang lahir dilakukan dengan bertanya kepada orang tua.

Pengumpulan data mengenai prestasi belajar dilakukan dengan merekap nilai

rapor kemudian dirata-ratakan.

3.10 Analisis Data

3.10.1 Identifikasi Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data primer dan data sekunder.

Data primer yaitu data yang langsung berasal dari subyek penelitian. Data primer

dalam penelitian ini adalah umur dan tinggi badan siswa. Data sekunder yaitu data

yang tidak berasal langsung dari subyek penelitiannya atau berasal dari sumber

lain. Dalam penelitian ini yaitu, data mengenai jumlah siswa, dan nilai rapor siswa

yang didapatkan dari sekolah dan data mengenai riwayat panjang lahir siswa dari

orang tua siswa.

Data yang diteliti memiliki skala data berupa skala ordinal pada variabel

bebas (stunting dan riwayat panjang lahir) dan skala ratio pada variabel terikat

(prestasi belajar).

3.10.2 Jenis Pengolahan Data

Tahap analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat

dan bivariat. Analisis univariat bertujuan untuk mengetahui karakteristik setiap


49

variabel penelitian. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan dua

variabel yakni, variabel bebas (stunting dan riwayat panjang lahir) dan variabel

terikat (prestasi belajar). Data yang diperoleh akan diolah menggunakan program

komputer dengan uji korelasi Spearman.(35)(36)

3.11 Masalah Etika

Inform Consent merupakan hal yang sangat penting dilakukan pada subyek

penelitian. Informasi yang jelas penting untuk disampaikan. Ethical Clearance

diajukan kepada Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran

Universitas Nusa Cendana.


50

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Penelitian

Penelitian mengenai hubungan stunting dan riwayat panjang lahir dengan

prestasi belajar ini dilakukan pada siswa kelas IV,V dan VI di Sekolah Dasar

Inpres Tarus 1 yang terletak di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah,

Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan pengambilan data yang

dilakukan peneliti, jumlah siswa kelas VI,V dan VI di SD Inpres Tarus 1

berjumlah 172 anak, sedangkan yang terpilih menjadi subyek dalam penelitian ini

ialah 43 anak. Peneliti memilih Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 karena berdasarkan

data RISKESDAS Provinsi NTT tahun 2007, Kabupaten Kupang berada pada

urutan ke-5 prevalensi stunting tertinggi per kota dan kabupaten.(8) Berdasarkan

data penelitian sebelumnya oleh Sanusi (2012) di wilayah kerja Puskesmas Tarus

didapatkan sekitar 417 balita yang mengalami stunting pada periode Juni-

Desember 2012 dari 1.894 balita yang berkunjung.(9) Pada penelitian sebelumnya

yang dilakukan oleh Kartika (2013) di Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Kupang

didapatkan bahwa dari 110 anak yang menjadi sampel penelitian sekitar 51

orangnya (46,4%) mengalami stunting.(10)

Peneliti telah melakukan pengukuran status gizi siswa untuk menilai kondisi

stunting dan memberikan pertanyaan kepada orang tua untuk mengetahui riwayat

panjang lahir sedangkan untuk prestasi belajar peneliti telah merekap nilai rapor

untuk mata pelajaran matematika dan sains kemudian dirata-ratakan. Data yang
51

sudah dikumpulkan kemudian akan dianalisis untuk mengetahui ada tidaknya

hubungan antara stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar.

4.2 Karakteristik Sampel Penelitian

Karakteristik dari 43 sampel penelitian di SD Inpres Tarus 1, menurut jenis

kelamin, usia, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu dapat disajikan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Karakteristik Sampel Penelitian

No. Karakteristik Sampel Frekuensi (n) Persentase (%)


1. Jenis Kelamin:
Laki 15 34,9
Perempuan 28 65,1
2. Usia:
7 – 10 tahun 12 27,9
>10 – 13 tahun 31 72,1
3. Pekerjaan Ayah:
PNS/ABRI 2 4,7
Pegawai Swasta/BUMN 1 2,3
Wiraswasta/Pedagang 13 30,2
Petani 22 51,2
Tidak Bekerja 1 2,3
Lainnya 3 7,0
4. Pekerjaan Ibu:
PNS/ABRI 2 4,7
Wirswasta/Pedagang 6 14,0
Petani 11 25,6
Ibu Rumah Tangga 23 53,5
Lainnya 1 2,3

Tabel 4.1 menjelaskan bahwa sebagian besar sampel dalam penelitian ialah

kelompok jenis kelamin perempuan dengan jumlah 28 anak (65,1%) sedangkan

yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 15 anak (34,9%). Kelompok usia

terbanyak dalam penelitian ini ialah kelompok usia >10–13 tahun sebanyak 31

anak (72,1%), sedangkan kelompok usia 7 – 10 tahun sebanyak 12 anak (27,9%).


52

Berdasarkan tabel di atas sebagian besar pekerjaan ayah dari siswa yang

menjadi sampel adalah petani yaitu sebanyak 22 orang (51,2%) diikuti dengan

wiraswasta/pedagang sebanyak 13 orang (30,2%), lainnya (pendeta, TKI)

sebanyak 3 orang (7,0%), PNS/ABRI sebanyak 2 orang (4,7%) pegawai

swasta/BUMN sebanyak 1 orang (2,3%) dan yang tidak bekerja 1 orang (2,3%),

terdapat satu orang siswa yang ayahnya telah meninggal. Sebagian besar sampel

memiliki ibu yang menjadi ibu rumah tangga yaitu sebanyak 23 orang (53,5%),

yang bekerja sebagai petani sebanyak 11 orang (25,6%), wiraswasta/Pedagang

sebanyak 6 orang (14,0%), PNS/ABRI sebanyak 2 orang (4,7%) dan lainnya

(pendeta, TKW) sebanyak 1 orang (2,3%). Pekerjaan orang tua mempengaruhi

keadaan ekonomi keluarga. Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan

belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan

pokoknya, misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga

memerlukan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat-

alat tulis, buku-buku dan lain-lain. Semua fasilitas ini akan dapat dipenuhi jika

status ekonomi keluarga memadai.(12,23,26,27) Selain itu status ekonomi keluarga

dipandang memiliki dampak yang signifikan terhadap probabilitas anak menjadi

pendek dan kurus. Dalam hal ini, WHO merekomendasikan status gizi pendek

atau stunting sebagai alat ukur atas tingkat sosial-ekonomi yang rendah dan

sebagai salah satu indikator untuk memantau ekuitas dalam kesehatan (Zere &

McIntyre, 2003).(29)
53

4.3 Analisis Univariat

4.3.1 Stunting dan Riwayat Panjang Lahir

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode analitik observasional

dengan pendekatan kohort retrospektif, di mana kelompok yang terpajan dengan

faktor risiko dan yang tidak terpajan dengan fakto risiko diamati efek yang terjadi.

Dalam penelitian ini stunting (pendek) sebagai faktor risiko dan prestasi belajar

merupakan efeknya, sehingga kelompok sampel dalam penelitian ini dibagi

menjadi 2 kelompok yaitu kelompok dengan faktor risiko dan tanpa faktor risiko.

Kelompok dengan faktor risiko, merupakan kelompok sampel yang mengalami

stunting dan riwayat panjang lahir pendek, sedangkan kelompok tanpa faktor

risiko merupakan kelompok sampel yang tidak mengalami stunting dan riwayat

panjang lahir normal.

Stunting diperoleh dengan membandingkan tinggi badan anak dengan

umurnya. Hasil perbandingan akan dikategorikan sebagai stunting bila hasil

perhitungan <-2SD dan non-stunting bila hasil perhitungan ≥-2SD. Riwayat

panjang lahir diperoleh dengan bertanya kepada orang tua siswa dan

dikategorikan sebagai pendek bila panjang lahir < 48 cm serta normal bila panjang

lahir ≥ 48 cm.

Tabel 4.2 Stunting dan Riwayat Panjang Lahir Sampel Penelitian

Stunting dan Riwayat Panjang Frekuensi Persentase


Lahir (n) (%)
Kelompok dengan Faktor Risiko 16 37,2
Kelompok tanpa Faktor Risiko 27 62,8
Total 43 100
Keterangan :
Kelompok dengan Faktor Risiko: sampel yang stunting dan riwayat panjang lahir pendek.
Kelompok tanpa Faktor Risiko: sampel yang tidak stunting dan riwayat panjang lahir normal.
54

Berdasarkan tabel di atas sampel yang mengalami stunting dan juga riwayat

panjang lahir pendek sebanyak 16 orang (37,2%) sedangkan, sampel yang tidak

mengalami stunting dan panjang lahir normal sebanyak 27 orang (62,8%).

4.3.2 Prestasi Belajar

Prestasi belajar dapat diukur dengan merekap nilai matematika dan sains pada

laporan pendidikan masing-masing sampel kemudian dirata-ratakan. Prestasi

belajar memiliki skala data ratio dan dapat dilihat pada lampiran VII. Namun data

prestasi belajar ini dapat diringkas sebagai berikut:

Tabel 4.3 Prestasi Belajar Sampel Penelitian

Prestasi Belajar Frekuensi (n) Persentase (%)


< 60 1 2,3
60 – 70 24 55,8
>70 – 80 15 34,9
>80 3 7,0
Total 43 100,0

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata prestasi belajar

sampel yang terbanyak adalah 60 - 70 yaitu sebanyak 24 anak (55,8%) diikuti

>70 - 80 sebanyak 15 anak (34,9%) , rata-rata >80 sebanyak 3 orang anak (7,0%)

dan yang memperoleh rata-rata prestasi belajar < 60 ada 1 anak (2,3%).
55

4.4 Analisi Bivariat

Hubungan stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar pada

siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur

dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.4 Crosstabulasi Hubungan Stunting dan Riwayat Panjang Lahir


dengan Prestasi Belajar

Stunting dan Riwayat Panjang Lahir


Kelompok dengan Kelompok tanpa
Prestasi Belajar Total
Faktor Risiko Faktor Risiko
N % N % N %
< 60 1 6,3 0 0 1 2,3
60 – 70 12 75,0 12 44,4 24 55,8
>70 – 80 2 12,5 13 48,2 15 34,9
>80 1 6,3 2 7,4 3 7,0
Total 16 100,0 27 100,0 43 100,0

Berdasarkan tabel crosstabulasi di atas dapat dilihat bahwa dari 16 siswa yang

termasuk dalam kelompok dengan faktor risiko (mengalami stunting dan riwayat

panjang lahir pendek), 12 siswa (75%) memiliki rata-rata prestasi belajar sekitar

60 – 70, 2 siswa (12,5%) memiliki rata-rata prestasi belajar sekitar >70 - 80 dan 1

orang siswa (6,3%) memiliki prestasi belajar >80 dan 1 orang siswa (6,3%)

memiliki prestasi belajar <60. Sedangkan untuk kelompok tanpa faktor risiko

(tidak mengalami stunting dan riwayat panjang lahir normal) dari 27 siswa, 13

orang (48,2%) memiliki rata-rata prestasi sekitar >70 - 80, 12 siswa (44,4%)

memiliki prestasi belajar sekitar 60 – 70 dan 2 siswa (7,4%) memiliki rata-rata

prestasi belajar >80 serta tidak ada siswa yang memiliki prestasi belajar <60.

Selanjutnya dilakukan uji statistik hubungan stunting dan riwayat panjang lahir

dengan prestasi belajar, dihasilkan data sebagai berikut :


56

Tabel 4.5 Uji Statistik Stunting dan Riwayat Panjang Lahir


dengan Prestasi Belajar

stunting dan
riwayat prestasi
panjang lahir belajar
Spearman's rho stunting dan riwayat Correlation
1.000 .304*
panjang lahir Coefficient
Sig. (2-tailed) . .047
N 43 43
prestasi belajar Correlation
.304* 1.000
Coefficient
Sig. (2-tailed) .047 .
N 43 43
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Interpretasi dari hasil uji statistik di atas yaitu diketahui p value atau yang

terlihat pada tabel sebagai Sig. (2-tailed). Apabila nilai p value adalah <⍺, maka H0

dapat ditolak dan H1 diterima atau dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara

stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar pada siswa Sekolah

Dasar Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Sedangkan bila

nila p value >⍺ maka H0 diterima atau tidak terdapat hubungan antara stunting dan

riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar pada siswa Sekolah Dasar Inpres

Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Dalam penelitian ini peneliti

telah menetapkan nilai ⍺ = 0,05. Hasil dari uji statistik di atas adalah p value =

0,047 artinya p value <0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, menyatakan ada

hubungan antara stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar pada

siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Dari

tabel di atas juga dapat dilihat nilai koefisien korelasi (r) yang menyatakan kuat-

lemahnya hubungan antara variabel.


57

Koefisien korelasi yang diperoleh adalah r = 0,304 artinya hubungan antara

variabel sebesar 30,4%. Atau dapat disimpulkan bahwa hubungan antara stunting

dan riwayat panjang lahir dapat mempengaruhi prestasi belajar sebesar 30,4% di

antara faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar.(37)

Hasil penelitian yang diperoleh ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan

oleh Hayatus Rosita, et al.,(2013) tentang hubungan status gizi dengan prestasi

belajar di kota Padangpanjang mendapatkan hubungan signifikan antara status

gizi stunting dengan prestasi belajar dengan nilai (p < 0,05).(19) Penelitian cross-

sectional yang pernah dilakukan di Kalimantan Barat, menunjukkan anak-anak

yang sangat pendek (severely stunted) memiliki IQ yang jauh lebih rendah

dibandingkan dengan anak-anak yang hanya pendek (stunting).(20)

Stunting menggambarkan keadaan malnutrisi kronis di mana suplai nutrisi

yang diperlukan tubuh termasuk otak berkekurangan. Hal ini menyebabkan

pertumbuhan anak dan perkembangan otaknya tidak memadai sehingga

menyebabkan pertumbuhan anak terganggu dan penurunan fungsi kognitif sampai

gagalnya perkembangan kognitif anak.(13,14,15,18)

Kekurangan gizi pada masa lalu akan menyebabkan perubahan metabolisme

dalam otak terutama jika ini terjadi saat 1000 hari kehidupan anak sejak di dalam

kandungan sampai 2 tahun pertama kehidupannya. Hal ini akan mengakibatkan

terjadinya ketidakmampuan otak untuk berfungsi normal. Pada keadaan yang

lebih berat dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan terganggu

(stunting), badan lebih kecil, jumlah sel dalam otak berkurang dan terjadi
58

ketidakmatangan serta ketidaksempurnaan organisasi biokimia otak. Keadaan ini

akan berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak.(11)(19)

Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui

pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ

lainnya. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan

mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang

menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu. Kekurangan gizi yang

terjadi dalam kandungan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian.

Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan

pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ

tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi diekspresikan

dengan bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau

kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak

(Bappenas, 2012).(11)

Berbeda dengan hasil penelitian di atas, penelitian yang dilakukan oleh Ova

Satya di Banda Aceh tahun 2012 mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan antara status gizi (TB/U) dengan prestasi belajar. (21) Demikian

juga penelitian yang dilakukan oleh Yeni dan Nadi (2013) mendapatkan tidak

terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar.(22) Hal ini

dikarenakan terdapat faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yakni

faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) seperti faktor psikologis (minat, bakat

dan motivasi) dan faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi

lingkungan di sekitar siswa yang mendukung proses belajarnya seperti lingkungan


59

keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Sardiman (2006) juga

mengemukakan bahwa hasil prestasi belajar dipengaruhi oleh subyek belajar

dengan dunia fisik serta lingkungan dan tergantung pada apa yang diketahui,

tujuan dan motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang

sedang dipelajari. Kehadiran faktor-faktor psikologis dalam belajar memberikan

peran yang cukup penting. Faktor tersebut senantiasa memberikan kemudahan

dalam upaya mencapai tujuan belajar secara optimal.(21)

Berdasarkan pembahasan di atas stunting dan riwayat panjang lahir

berhubungan dengan prestasi belajar siswa namun bukan merupakan satu-satunya

faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Perlu dilakukan upaya preventif

untuk mencegah stunting, riwayat panjang lahir pendek dan prestasi belajar yang

rendah yaitu, dengan memperhatikan asupan nutrisi pada ibu hamil yang

mencukupi kebutuhan ibu dan janin dalam kandungannya, berdasarkan Angka

Kecukupan Gizi (AKG) bagi Bangsa Indonesia ibu hamil trimester pertama harus

menambah asupan energi sebanyak 180 kkal/hari dibandingkan sebelum hamil

dan untuk trimester II dan III harus menambah asupan energi sebanyak 300

kkal/hari dari sebelum hamil. Sedangkan untuk protein dianjurakan untuk ibu

hamil ditambah 20g/hari.(38) Selain itu perlu juga memperhatikan asupan nutrisi

bagi balita dan anak usia sekolah agar tidak terjadi defisit pertumbuhan yang

berakibat menjadi stunting (pendek) juga perkembangan kognitif yang lambat

sehingga mempengaruhi prestasi belajar anak. Demikian juga perlu dilakukan

intervensi bagi anak-anak yang mengalami stunting dan panjang lahir pendek

lebih dini agar memperbaiki kualitas tumbuh kembang anak dan mewujudkan
60

pembangunan sumber daya manusia yang memiliki peran yang sangat penting

dalam mewujudkan manusia Indonesia yang maju dan mandiri sehingga mampu

berdaya saing dalam era globalisasi.

4.5 Keterbatasan Penelitian

1. Pada penelitian ini peneliti menggunakan desain kohort retrospektif di

mana data mengenai riwayat panjang lahir ditanyakan kepada orang tua

anak yang mengandalkan daya ingat mereka sehingga bisa saja terjadi bias

informasi karena orang tuanya mungkin sudah lupa.

2. Pada penelitian ini tidak semua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

diteliti seperti faktor psikologis (minat, bakat, motivasi, daya ingat), faktor

kelelahan, faktor lingkungan (lingkungan keluarga, lingkungan

masyarakat).

3. Pada penelitian ini peneliti tidak menanyakan riwayat kelahiran sampel

seperti, apakah sampel cukup bulan atau tidak atau sampel lahir prematur.

4. Pada penelitian ini peneliti menggunakan prestasi belajar untuk mengukur

perkembangan kognitifnya, prestasi belajar kurang sensitif untuk

mengukur kemampuan kognitif dibandingkan dengan test IQ.


61

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Terdapat hubungan stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi

belajar pada siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 NTT.

2. Terdapat 16 siswa (37,2%) yang mengalami stunting dan 27 siswa (62,8%)

yang tidak mengalami stunting di Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 NTT.

3. Terdapat 16 siswa (37,2%) yang memiliki riwayat panjang lahir pendek

dan 27 siswa (62,8%) yang memiliki riwayat panjang lahir normal di

Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 NTT.

4. Terdapat 1 siswa (2,3%) yang memiliki rata-rata prestasi belajar kurang

(<60), 24 siswa (55,8%) yang memiliki rata-rata prestasi belajar cukup (60

– 70), 15 siswa (34,9%) memiliki rata-rata prestasi belajar baik (>70 – 80)

dan 3 orang siswa memiliki prestasi belajar amat baik (>80).

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan upaya preventif untuk mencegah stunting, riwayat panjang

lahir pendek dan prestasi belajar yang rendah, dengan memperhatikan

asupan nutrisi pada ibu hamil, balita dan anak usia sekolah agar tidak

terjadi defisit pertumbuhan yang berakibat menjadi stunting (pendek) juga

perkembangan kognitif yang lambat sehingga mempengaruhi prestasi

belajar anak.
62

2. Bagi tenaga kesehatan dan masyarakat agar lebih memperhatikan panjang

lahir anak bukan hanya memperhatikan berat lahirnya saja, karena panjang

lahir yang pendek merupakan hasil dari kekurangan energi yang kronis.

Selain itu dengan intervensi yang lebih dini seperti memperbaiki asupan

gizi anak, memperhatikan status kesehatan anak panjang lahir anak yang

pendek ini dapat diperbaiki dan mencegah anak menjadi stunting/pendek

ke depannya.

3. Perlu dilakukan intervensi bagi anak-anak yang mengalami stunting dan

panjang lahir pendek lebih dini agar memperbaiki kualitas tumbuh

kembang anak dan mewujudkan pembangunan sumber daya manusia yang

lebih berkualitas.

4. Perlu dilakukan pengkajian mengenai faktor lain yang turut mempengaruhi

prestasi belajar seperti faktor psikologis (minat, bakat dan motivasi).

5. Penelitian ini dapat dikaji lebih dalam lagi dengan menggunakan test IQ

untuk menilai kemampuan perkembangan kognitifnya. Dan perlu

ditanyakan riwayat kelahirannya.


63

DAFTAR PUSTAKA

1. Kusuma KE. Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 2-3 Tahun
(Studi di Kecamatan Semarang Timur). 2013; Available from:
http://eprints.undip.ac.id/41856/1/572_Kukuh_Eka_Kusuma_G2C009049.
pdf
2. Hestuningtyas, TR. Pengaruh Konseling Gizi terhadap Pengetahuan,
Sikap, Praktik Ibu dalam Pemberian Makanan Anak, dan Asupan Zat Gizi
Anak Stunting Usia 1-2 Tahun di Kecamatan Semarang Timur. 2013;
Available from:
http://eprints.undip.ac.id/41928/1/576_Tiara_Rosania_Hestuningtyas_220
30111150008.pdf
3. Unicef. TRACKING PROGRESS ON CHILD AND MATERNAL
NUTRITION. New York: Unicef; 2009; Available from:
http://www.unicef.org/publications/files/Tracking_Progress_on_Child_and
_Maternal_Nutrition_EN_110309.pdf
4. Joint UNICEF – WHO – The World Bank Child Malnutrition Database:
”Estimates for 2012 and Launch of Interactive Data Dashboards". 2013;
Available from:
http://www.who.int/nutgrowthdb/jme_2012_summary_note_v2.pdf
5. Unicef. Key Facts and Figures on Nutrition. 2013; Available from:
http://www.who.int/pmnch/media/news/2013/20130416_unicef_factsheet.
pdf
6. Indonesia Nutrition Profile. "Global Nutrion Report". 2014; Available
from: http://www.fantaproject.org/sites/default/files/download/Indonesia-
Nutrition-Profile-Apr2014.pdf
7. Badan Pengembangan dan Penelitian Kesehatan Kemenkes RI. Riset
Kesehatan Dasar 2013. 2013; Available from:
http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/rkd2013/Laporan_Riskesd
as2013.PDF
8. Badan Pengembangan dan Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan
RI. LAPORAN HASIL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS)
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2008. 2009; Available
from:
http://terbitan.litbang.depkes.go.id/penerbitan/index.php/blp/catalog/book/
97
9. Mooy, RM. Hubungan antara Stunting dengan Perkembangan Gerakan
Motorik pada Anak Usia 12 – 36 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Tarus Kabupaten Kupang Tahun 2014. Nusa Cendana; 2014.
10. Samapaty, K. Hubungan Persepsi Diri Tentang Tinggi Badan dengan
Status Gizi pada Anak Sekolah Dasar di Kabupaten Kupang Tahun 2013
(Studi pada Sekolah Dasar di Daerah Urban dan Rural). 2013; Fakultas
Kedokteran Universitas Nusa Cendana.
64

11. Najahah, I. Faktor Risiko Panjang Lahir Bayi Pendek di Ruang Bersalin
RSUD Patut Patuh Patju Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Media Bina
Ilmu [Internet]. 2014;8:16–23. Available from:
http://www.lpsdimataram.com/phocadownload/April-2014/3 Faktor
Risiko Panjang Lahir Bayi Pendek Di Ruang Bersalin RSUD-Imtihanatun
Najahah.pdf
12. Isdaryanti, C. Asupan Energi Protein, Status Gizi, dan Prestasi Belajar
Anak Sekolah Dasar Arjowinangun 1 Pacitan. 2007; Available from:
https://muslimpinang.files.wordpress.com/2010/10/christien-publikasi.pdf
13. WHO. Childhood Stunting: Contex, Cause and Consequences. "Maternal
Child Nutrtion". 2013;27–45. Available from:
http://www.who.int/nutrition/events/2013_ChildhoodStunting_colloquium
_14Oct_ConceptualFramework_colour.pdf
14. Crosby, L., Jayasinghe, D., McNair D. Food for Thought. "Save The
Children". 2013. Available from:
http://www.savethechildren.org/atf/cf/%7B9def2ebe-10ae-432c-9bd0-
df91d2eba74a%7D/FOOD_FOR_THOUGHT.PDF
15. Dewey, K., Begum K. Why Stunting Matters. "A & T Technical Brief
Journal". 2010;(2):1–6. Available from:
http://www.fhi360.org/sites/default/files/media/documents/Insight - Why
stunting matters %28English%29.pdf
16. Unicef. IMPROVING CHILD NUTRITION. New York: Unicef; 2013;
Available from:
http://www.unicef.org/gambia/Improving_Child_Nutrition_-
_the_achievable_imperative_for_global_progress.pdf
17. Gibney MJ, Margets BM, Kerney JM, Arab L. Gizi Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.
18. United Nation World Food Programme. World Hunger Series. "Hunger
and Learning". 2006; Available from:
http://www.unicef.org/lac/World_Hunger_Series_2006_Full%281%29.pdf
19. Hayatus, R., Herman, R., Sastri S. Hubungan Status Gizi dengan Prestasi
Belajar Siswa Sekolah Dasar Negri 01 Guguk Malintang Kota
Padangpanjang. Jurnal Kesehatan Andalas [Internet]. 2014;3(3):462–467.
Available from: http//:jurnal.fk.unand.ac.id
20. Septiani, S. Hubungan Status Gizi (Indeks TB/U) dan Faktor Lainnya
dengan Prestasi Belajar Siswa SDN Cinere 2, Cinere Depok Tahun 2012.
Available from: lib.ui.ac.id/file?file=digital/20314258-S_Seala
Septiani.pdf
21. Satya, O. Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar pada Murid Kelas
III SDN 32 Beurawe Banda Aceh Tahun 2012. Kesehatan Masyarakat.
2012; Available from: www.ejournal.uui.ac.id/jurnal/OVA_SATYA-e31-
jurnal_ova.pdf
22. Elviani, Y., Nadi A. Hubungan Status Gizi dan Jenis Kelamin dengan
Prestasi Belajar pada Siswa Kelas II di SD Negeri 56 Kota Lubuklinggau
Tahun 2013. 2013; Available from:
http://poltekkespalembang.ac.id/userfiles/files/hubungan_status_gizi_dan_
65

jenis_kelamin_dengan_prestasi_belajar_pada_siswa_kelas_ii_di_sd_neger
i_56_kota_lubukl.pdf
23. Wahyuni, S. Hubungan Status Sosial Ekonomi Orang Tua dan
Pemanfaatan Media Belajar dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas XI
SMA Batik 2 Surakarta Tahun Ajaran 2010/2011. 2011; Available from:
http://core.ac.uk/download/pdf/16507225.pdf
24. Ristiana, S. Hubungan Pengetahuan, Sikap, Tindakan Sarapan dengan
Status Gizi dan Indeks Prestasi Anak Sekolah Dasar di SD Negeri
No.101835 Bingkawan Kecamatan Sibolangit Tahun 2009. 2009;
Available from:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14678/1/09E01198.pdf
25. Yulianto, Y. Hubungan antara Jenjang Pendidikan Orang Tua dan
Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Sosiologi pada Siswa Kelas XI
SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2010/2011. 2011; Available from:
http://core.ac.uk/download/pdf/16506841.pdf
26. UNIMED. Tinjauan Pustaka Prestasi Belajar. 2011; Available from:
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Undergraduate-22748-BAB
II.pdf
27. Nurasiyah. Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Orang Tua
terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI IPS 3 di SMA Nurul
Farah Pekanbaru. 2011; Available from:
http://digilib.uir.ac.id/dmdocuments/pea,nur aisyah.pdf
28. Cahyo, R. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Kewirausahaan Siswa Kelas XI SMAKN 1 Punggelan Banjar Negara.
2010;
29. Anisa, P. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada
Balita Usia 25-60 Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012. 2012;
Available from:
http://www.google.co.id/url?q=http://lontar.ui.ac.id/file%3Ffile%3Ddigital
/20320460-S-
Paramitha%2520Anisa.pdf&sa=U&ei=hxJbVYXrEdbnuQTawoHgCw&v
ed=0CBIQFjAA&usg=AFQjCNG9aZ37QTsWMgvxSwluAlrxPN5ppw
30. Wiyogowati, C. Kejadian Stunting pada Anak Berumuran di Bawah Lima
Tahun (0-59 Bulan) di Provinsi Papua Barat Tahun 2010 (Analisis Data
Riskesdas Tahun 2010). 2012; Available from:
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&
cad=rja&uact=8&ved=0CGQQFjAI&url=http%3A%2F%2Flib.ui.ac.id%2
Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F20288982-S-
Citaningrum%2520Wiyogowati.pdf&ei=dAnXVODGMIapuwTS9YD4D
w&usg=AFQjCNHR5hdnh-
shIHzLpvJaSGx4Fl_y1g&bvm=bv.85464276,d.c2E
31. Kliranayungie C. Hubungan Status Gizi Ibu dan Faktor Lain dengan Berat
dan Panjang Lahir di RS Sint Carolus Jakarta Bulan Juni-September 2011.
2012; Available from:
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=claudia+debtarsie.pdf&source
=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBsQFjAAahUKEwjT3J73z5XHA
66

hXDpZQKHX0lAsg&url=http%3A%2F%2Flib.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%
3Ddigital%2F20355675-S-
Claudia%2520Debtarsie%2520Kliranayungi.pdf&ei=nO_DVdOeBsPL0g
T9yojADA&usg=AFQjCNGv3M8HqMW1wpEydtd5l8xncyUwdw&bvm
=bv.99556055,d.dGo
32. Kemenkes RI 2010. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial.
2010; Available from: http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-
content/uploads/downloads/2011/09/Buku-Saku-Pelayanan-Kesehatan-
Neonatal-Esensial.pdf
33. Fitri. Berat Lahir sebagai Faktor Dominan Terjadinya Stunting pada Balita
(12-59 Bulan) di Sumatera (Analisis Data Riskesdas 2010). 2012;
Available from: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20298098-T30071-
Fitri.pdf
34. WHO. Height for Age Boys and Girls 5 to 19 years (Z-score). 2007;
Available from:
http://www.who.int/growthref/who2007_height_for_age/en/
35. Sastroasmoro S., Ismail S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Ed.
4. CV. Sagung Seto; 2011.
36. Dahlan, M. Sopiyudin. Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian
BidangKedokteran dan Kesehatan. 2nd ed. Jakarta: Sagung Seto; 2012.
37. Dahlan, M. Sopiyudin. Statistika untuk Kedokteran dan Kesehatan. 5th ed.
Jakarta: Salemba Medika; 2013.
38. Menteri Kesehatan RI. Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi
Bangsa Indonesia. 2013; Available from:
http://gizi.depkes.go.id/download/Kebijakan Gizi/Tabel AKG.pdf
67

LAMPIRAN I

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

2015 2016
No. Kegiatan Bulan Bulan
4 5 6 7 8 9 10 11 12 1
1. Penyusunan
Proposal
2. Seminar
Proposal
3. Persiapan
Penelitian
4. Pengumpulan
Data
5. Pengelolaan
dan Analisis
Data
6. Penyusunan
Laporan
7. Seminar Hasil

8. Ujian Skripsi
68

LAMPIRAN II

RANCANGAN ANGGARAN

No. Uraian Volume Biaya satuan Total biaya


1. Kertas 5 Rim Rp. 40.000 Rp. 200.000
2. Tinta 7 buah Rp. 35.000 Rp. 245.000
3. Foto kopi informed consent 1000 lembar Rp. 150 Rp. 150.000
4. Fotokopi lembaran identitas 400 lembar Rp. 150 Rp. 60.000
siswa dan kisioner
5. Hadiah subjek 200 Rp. 5.000 Rp. 1.000.000
6. Lain-lain Rp. 500.000 Rp. 500.000
Total Rp. 2.155.000
69

LAMPIRAN III

LEMBAR PENJELASAN SEBELUM PERSETUJUAN (PSP)

Yth. Bapak/Ibu Orang Tua/Wali dan Yang Terkasih adik-adik sekalian


Salam sejahtera bagi kita semua, perkenalkan nama saya Anastasia Longa
Selasa, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana. Saat ini saya
akan melakukan penelitian tentang “Hubungan Stunting dan Riwayat Panjang
Lahir dengan Prestasi Belajar pada Siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1
Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur.” Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui apakah ada hubungan antara stunting (atau dalam keseharian kita
sebut sebagai pendek) dan riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar pada
siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur.
Dengan ini saya menjelaskan bahwa prestasi belajar merupakan
ketercapaian peserta didik yang dinyatakan dalam hitungan angka, merupakan
kumpulan sebuah penilaian panjang dalam proses belajar mengajar yang diberikan
oleh guru dalam periode tertentu. Prestasi belajar anak dipengaruhi oleh beberapa
faktor dan salah satu diantaranya ialah status gizi berdasarkan indeks panjang
badan atau tinggi badan menurut umur. Stunting merupakan status panjang badan
atau tinggi badan anak yang kurang dari standar yang telah ditetapkan atau biasa
disebut pendek dalam keseharian, sedangkan panjang lahir merupakan ukuran
panjang bayi yang diukur setelah bayi lahir. Ada beberapa faktor yang dapat
meyebabkan terjadinya perawakan pendek (stunting) salah satunya adalah panjang
badan lahir.
Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui
pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ
lainnya. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan
mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang
menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu. Kekurangan gizi yang
terjadi dalam kandungan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian.
Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan
70

pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ
tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi diekspresikan
dengan bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau
kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak.
Hal ini membuat anak menjadi stunting/pendek dan perkembangan kognitifnya
terganggu.
Perawakan pendek/stunting dapat memberi dampak jangka pendek dan
dampak jangka panjang. Dampak jangka pendek dari stunting ialah terhambatnya
perkembangan kognitif, motorik dan mental anak sedangkan dampak jangka
panjang stunting diantaranya adalah penurunan kapasitas belajar dan penurunan
performance di sekolah. Baik efek jangka panjang maupun jangka pendek ini
mempengaruhi prestasi belajar anak di sekolah. Oleh karena itu peneliti tertarik
untuk meneliti “Hubungan Stunting dan Riwayat Panjang Lahir dengan Prestasi
Belajar pada Siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa
Tenggara Timur.”
Partisipasi Bapak/Ibu dan adik-adik sekalian dalam penelitian ini dapat
memberikan manfaat sebagai bahan masukan bagi Pemerintah untuk memperbaiki
masalah gizi pada anak sejak dini karena dapat mempengaruhi generasi ke depan,
serta sebagai sarana untuk menambah ilmu dan wawasan mengenai hubungan
stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar.
Apabila Bapak/Ibu/ dan adik-adik bersedia mengikuti kegiatan ini, maka
kami meminta bapa/ibu untuk mengisi lembaran pertanyan yang kami
lampirkan bersama penjelasan ini dan kami akan melakukan pengukuran
tinggi badan siswa serta meminta nilai rapor dari siswa-siswa.
Keikutsertaan adik-adik dalam kegiatan ini bersifat sukarela dan adik-adik
dapat menolak atau mengundurkan diri setiap saat tanpa sanksi apapun. Identitas
pribadi dan data yang telah diberikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan
untuk keperluan penelitian ini.
Apabila bapak/ibu dan adik-adik bersedia ikut dalam kegiatan ini, maka
kami meminta kesediaan bapak/ibu dan adik-adik untuk menandatangani surat
persetujuan dan bersedia menjadi responden penelitian yang berjudul :
71

“Hubungan Stunting dan Riwayat Panjang Lahir dengan Prestasi Belajar


pada Siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa Tenggar
Timur”
Atas kesediaan Bapak/Ibu dan adik-adik saya ucapkan terima kasih.
Tuhan memberkati.
Apabila Bapak/Ibu orang tua/wali, ingin membutuhkan keterangan lebih lanjut

tentang penelitian ini, silakan menghubungi peneliti pada alamat di bawah ini:

Nama : Anastasia Longa Selasa


Nomor HP : 082340999698
Alamat : Jln. Prof. Herman Yohanes-Penfui-Kupang

Kupang,2015

Peneliti

Anastasia Longa Selasa


NIM : 120801103
72

LAMPIRAN IV

FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN SETELAH

MENDAPAT PENJELASAN (INFORM CONSENT)

Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama :

Umur :

Alamat Lengkap :

Hubungan dengan responden adalah orang tua sah /Wali, dari anak:

Nama :

Umur :

Tingkat Pendidikan :

Setelah mendengar/membaca dan mengerti penjelasan yang diberikan mengenai

tujuan dan manfaat yang akan dilakukan pada penelitian ini, saya menyatakan

secara sukarela tanpa paksaan bersedia menjadikan anak saya sebagai subyek

penelitian dan bersedia untuk:

1. Menjadikan anak saya sebagai responden untuk penelitian ini

2. Mengisi lembar kertas kuesioner yang diberikan oleh peneliti mewakili anak

saya, sesuai dengan kebenaran yang saya ketahui mengenai anak saya.

Saya tahu bahwa keikutsertaan anak saya ini bersifat sukarela tanpa paksaan dari

pihak manapun, sehingga saya bisa menolak atau mengundurkan anak saya

sebagai responden dari penelitian ini.Saya juga berhak mengajukan pertanyaan

kepada peneliti apabila ada hal-hal yang ingin saya ketahui mengenai penelitian

ini. Saya percaya bahwa keamanan dan kerahasiaan data penelitian ini akan
73

terjamin dan dengan ini saya menyetujui semua data yang dihasilkan pada

penelitian ini untuk disajikan dalam bentuk lisan atau tulisan. Bila terjadi

perbedaan maka akan diselesaikan secara kekeluargaan.

.................,........,..........2015

Anak Orang tua/Wali Saksi 1 Saksi 2

(Nama Anak) (Nama Orang Tua/ Wali) (Nama Saksi 1) (Nama Saksi 2)

Penanggung jawab penelitian

Nama : Anastasia Longa Selasa

Alamat : Jln. Prof. Herman Yohanes-Penfui-Kupang

Telp : 082340999698

Pendamping Medis

Nama : dr. Irene K.L.A Davidz, Sp.A.,M.Kes

Alamat :

Telp : 081342269275
74

LAMPIRAN V

IDENTIFIKASI DATA DAN WAWANCARA

PETUNJUK

1. Responden diharapkan bersedia menjawab pertanyaan yang ada dengan

jujur.

2. Berilah tanda centang (√) pada jawaban yang sesuai.

3. Jika ada yang kurang jelas silahkan bertanya kepada peneliti.

DATA RESPONDEN

1. Nama : ...................................................

2. Umur : ...................................................

3. Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan (coret yang tidak perlu)

4. Kelas : ...................................................

5. Nama

Ibu : ..................................................

Ayah : ..................................................
75

6. Pekerjaan Ayah : PekerjaanIbu :

PNS/ ABRI PNS/ ABRI


Pegawai swasta/ BUMN Pegawai Swasta/BUMN
Wiraswasta/ Pedagang Wiraswasta/ Pedagang
Pensiunan Pensiunan
Petani Petani
TidakBekerja TidakBekerja
Lainnya (………………) Lainnya (……………….)

7. Berapa Panjang Lahir Adik ?

......... cm
76

LAMPIRAN VI

DOKUMENTASI PENELITIAN
77

LAMPIRAN VII

Tabel Prestasi Belajar Sampel Penelitian

Prestasi Belajar Frekuensi (n) Persentase (%)


58.13 1 2.3
62.50 1 2.3
63.25 1 2.3
63.31 1 2.3
64.00 1 2.3
64.25 2 4.7
64.90 1 2.3
65.63 1 2.3
65.69 1 2.3
66.17 1 2.3
66.42 1 2.3
66.75 1 2.3
66.88 1 2.3
67.00 1 2.3
67.25 1 2.3
68.00 1 2.3
68.44 1 2.3
68.75 1 2.3
69.00 1 2.3
69.08 1 2.3
69.25 1 2.3
69.65 1 2.3
69.67 1 2.3
70.00 1 2.3
70.63 1 2.3
70.70 1 2.3
71.50 1 2.3
71.75 1 2.3
71.90 1 2.3
72.88 1 2.3
73.25 1 2.3
75.13 1 2.3
75.50 1 2.3
75.58 1 2.3
76.35 1 2.3
78

Prestasi Belajar Frekuensi (n) Persentase (%)


76.38 1 2.3
76.81 1 2.3
77.08 1 2.3
77.60 1 2.3
80.40 1 2.3
81.13 1 2.3
82.50 1 2.3
Total 43 100.0
79

LAMPIRAN VIII

Tabel Crosstabulasi Hubungan Stunting dan Riwayat Panjang Lahir


dengan Prestasi Belajar

Stunting dan Riwayat Panjang Lahir


Prestasi Kelompok dengan Kelompok tanpa
Total
Belajar Faktor Risiko Faktor Risiko
N % N % N %
58.13 1 6.3 0 0.0 1 2.3
62.50 0 0.0 1 3.7 1 2.3
63.25 1 6.3 0 0.0 1 2.3
63.31 0 0.0 1 3.7 1 2.3
64.00 1 6.3 0 0.0 1 2.3
64.25 1 6.3 1 3.7 2 4.7
64.90 0 0.0 1 3.7 1 2.3
65.63 1 6.3 0 0.0 1 2.3
65.69 1 6.3 0 0.0 1 2.3
66.17 0 0.0 1 3.7 1 2.3
66.42 0 0.0 1 3.7 1 2.3
66.75 0 0.0 1 3.7 1 2.3
66.88 1 6.3 0 0.0 1 2.3
67.00 1 6.3 0 0.0 1 2.3
67.25 0 0.0 1 3.7 1 2.3
68.00 1 6.3 0 0.0 1 2.3
68.44 1 6.3 0 0.0 1 2.3
68.75 0 0.0 1 3.7 1 2.3
69.00 0 0.0 1 3.7 1 2.3
69.08 0 0.0 1 3.7 1 2.3
69.25 0 0.0 1 3.7 1 2.3
69.65 1 6.3 0 0.0 1 2.3
69.67 1 6.3 0 0.0 1 2.3
70.00 1 6.3 0 0.0 1 2.3
70.63 1 6.3 0 0.0 1 2.3
70.70 0 0.0 1 3.7 1 2.3
71.50 0 0.0 1 3.7 1 2.3
71.75 0 0.0 1 3.7 1 2.3
71.90 0 0.0 1 3.7 1 2.3
80

Stunting dan Riwayat Panjang Lahir


Prestasi Kelompok dengan Kelompok tanpa
Total
Belajar Faktor Risiko Faktor Risiko
N % N % N %
72.88 0 0.0 1 3.7 1 2.3
73.25 0 0.0 1 3.7 1 2.3
75.13 0 0.0 1 3.7 1 2.3
75.50 0 0.0 1 3.7 1 2.3
75.58 0 0.0 1 3.7 1 2.3
76.35 1 6.3 0 0.0 1 2.3
76.38 0 0.0 1 3.7 1 2.3
76.81 0 0.0 1 3.7 1 2.3
77.08 0 0.0 1 3.7 1 2.3
77.60 0 0.0 1 3.7 1 2.3
80.40 1 6.3 0 0.0 1 2.3
81.13 0 0.0 1 3.7 1 2.3
82.50 0 0.0 1 3.7 1 2.3
Total 16 100.0 27 100.0 43 100.0
81

LAMPIRAN IX

Tabel Hasil Perhitungan Z-score TB/U dan Panjang Lahir Sampel

Stunting Panjang Lahir


No. Keterangan
TB/U Interpretasi PL Interpretasi
1. -1,65 Non-Stunting 49 cm Normal Tanpa FR
2. -2,51 Stunting 47 cm Pendek Dengan FR
3. -2,57 Stunting 47 cm Pendek Dengan FR
4. -2,59 Stunting 47 cm Pendek Dengan FR
5. -1,81 Non-Stunting 50 cm Normal Tanpa FR
6. -0,54 Non-Stunting 48 cm Normal Tanpa FR
7. -2,54 Stunting 40 cm Pendek Dengan FR
8. -2,01 Stunting 40 cm Pendek Dengan FR
9. -2,65 Stunting 40 cm Pendek Dengan FR
10. -0,3 Non-Stunting 49 cm Normal Tanpa FR
11. -1,43 Non-Stunting 49 cm Normal Tanpa FR
12. -1,21 Non-Stunting 50 cm Normal Tanpa FR
13. -2,02 Stunting 45 cm Pendek Dengan FR
14. 0,01 Non-Stunting 50 cm Normal Tanpa FR
15. -0,24 Non-Stunting 50 cm Normal Tanpa FR
16. -2,53 Stunting 33 cm Pendek Dengan FR
17. -0,92 Non-Stunting 50 cm Normal Tanpa FR
18. -0,79 Non-Stunting 50 cm Normal Tanpa FR
19. -1,34 Non-Stunting 50 cm Normal Tanpa FR
20. -2,37 Stunting 45 cm Pendek Dengan FR
21. -1,2 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
22. -0,92 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
23. -2,07 Stunting 45 cm Pendek Dengan FR
24. -0,23 Stunting 49 cm Normal Tanpa FR
25. -1,35 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
26. -2,09 Stunting 47 cm Pendek Dengan FR
27. -0,38 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
28. 0,22 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
29. -0,17 Non-stunting 60 cm Normal Tanpa FR
30. -2,04 Stunting 47 cm Pendek Dengan FR
31. -2,67 Stunting 40 cm Pendek Dengan FR
32. -0,17 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
33. -2,2 Stunting 43 cm Pendek Dengan FR
34. -0,03 Non-stunting 56 cm Normal Tanpa FR
82

Stunting Panjang Lahir


No. Keterangan
TB/U Interpretasi PL Interpretasi
35. 0, 27 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
36. -2,02 Stunting 40 cm Pendek Dengan FR
37. -0,68 Non-stunting 48 cm Normal Tanpa FR
38. 0,28 Non-stunting 49 cm Normal Tanpa FR
39. -2,1 Stunting 45 cm Pendek Dengan FR
40. 0,97 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
41. 0,54 Non-stunting 49 cm Normal Tanpa FR
42. -1,4 Non-stunting 50 cm Normal Tanpa FR
43. -0,72 Non-stunting 52 cm Normal Tanpa FR
83

LAMPIRAN X SURAT-SURAT
84
85
86
87
88

LAMPIRAN XI MANUSKRIP

HUBUNGAN STUNTING DAN RIWAYAT PANJANG LAHIR DENGAN


PRESTASI BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR INPRES TARUS 1
NUSA TENGGARA TIMUR
Anastasia Longa Selasa1, Rahel Rara Woda2, Irene K.L.A. Davidz3
1
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
2
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana
3
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Nusa Cendana

ABSTRAK

Stunting merupakan kondisi kronis yang menggambarkan terhambatnya


pertumbuhan karena malnutrisi jangka panjang. Angka prevalensi stunting di NTT
dan di Kabupaten Kupang masih tinggi dan menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Stunting dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya panjang badan lahir
pendek. Stunting dan riwayat panjang lahir pendek dapat menghambat
perkembangan kognitif anak yang berdampak pada prestasi belajarnya. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis hubungan stunting dan riwayat panjang lahir
dengan prestasi belajar pada siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 NTT. Penelitian
ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan jumlah sampel 43 orang yang
diambil dengan metode consecutive sampling. Penilaian stunting dengan
menggunakan Z-score yang dihitung berdasarkan tabel TB/U oleh WHO 2007.
Penilaian riwayat panjang lahir berdasarkan ketetapan Kementerian Kesehatan RI
2010. Sedangkan prestasi belajar dinilai dengan merata-ratakan nilai rapor
matematika dan sains dari siswa. Analisis data menggunakan uji Korelasi
Spearman. Siswa yang stunting dan riwayat panjang lahir pendek (kelompok
dengan faktor risiko) berjumlah 16 siswa (37,2%) dan siswa yang tidak stunting
dan panjang lahir normal (kelompok tanpa faktor risiko) berjumlah 27 siswa
(62,8%). Ada hubungan antara stunting dan riwayat panjang lahir dengan prestasi
belajar pada siswa Sekolah Dasar Inpres Tarus 1 NTT (p = 0,047; r = 0,304). Perlu
dilakukan upaya preventif dengan memperhatikan asupan nutrisi pada ibu hamil,
balita dan anak usia sekolah serta memperhatikan status kesehatan anak untuk
mencegah stunting, riwayat panjang lahir pendek dan prestasi belajar yang rendah.

Kata Kunci : stunting, riwayat panjang lahir, prestasi belajar.


89

CORRELATION BEETWEEN STUNTING AND BIRTH LENGTH HISTORY


WITH LEARNING ACHIEVEMENT ON ELEMENTARY SCHOOL STUDENT
INPRES TARUS 1 EAST NUSA TENGGARA
Anastasia Longa Selasa1, Rahel Rara Woda2, Irene K.L.A. Davidz3

1
Faculty of Medicine of Nusa Cendana University
2
Department of Social Health of Nusa Cendana University
3
Department of Pediatric Health of Nusa Cendana University

ABSTRACT

Stunting is a chronic condition that describes the growth retardation due to long
term malnutrition. The prevalence rate of stunting in NTT and Kabupaten Kupang
is still high and become a public health problem. Stunting can be caused by
several factors, one of which was short birth length history. Stunting and short
birth length history can inhibit cognitive development of children who have an
impact on academic achievement. This study aims to analyze correlation beetween
stunting and birth length history with learning achievement on elementary school
student Tarus 1 East Nusa Tenggara. This study used a retrospective cohort design
with a 43 sample who were taken with consecutive sampling method. Assessment
of stunting using the Z-score is based on the table TB/U by WHO 2007.
Assessment of birth length history based on decree of the Ministry of Health,
2010. While learning achievement assessed by averaging the grades mathematics
and science. Data analysis is using Spearman correlation test. Students who were
stunting and short birth length history (the group with risk factors) amounted to 16
students (37.2%) and students who are not stunting and normal birth length (group
without risk factors) amounted to 27 students (62.8%). There is a correlation
between stunting and birth length history with learning achievement in elementary
school students Inpres Tarus 1 NTT (p = 0,047; r = 0,304). Preventive efforts
should be made by paying attention to nutrition in pregnant women, infants and
school-age children and pay attention to the health status of children to prevent
stunting, a short birth length history and low learning achievement.

Keywords: stunting, a birth length history, learning achievement.


90

PENDAHULUAN masalah yang serius). Sedangkan


prevalensi stunting untuk anak usia 5-12
Stunting merupakan kondisi kronis tahun di NTT sekitar 41%.(7)
yang menggambarkan terhambatnya RISKESDAS Provinsi NTT tahun
pertumbuhan karena malnutrisi jangka 2007 menunjukkan, bahwa Kabupaten
panjang.(1) Stunting merupakan keadaan Kupang berada pada urutan ke-5
postur tubuh pendek yang timbul karena prevalensi stunting tertinggi per kota dan
malnutrisi kronis.(2) Stunting merupakan kabupaten.(8) Berdasarkan data penelitian
masalah kurang gizi yang masih mendunia sebelumnya oleh Sanusi (2012) di wilayah
terutama pada negara-negara berkembang, kerja Puskesmas Tarus didapatkan sekitar
90% anak-anak yang stunting hidup di 417 balita yang mengalami stunting pada
wilayah Asia dan Afrika.(3) periode Juni-Desember 2012 dari 1.894
Menurut data World Health balita yang berkunjung.(9) Pada penelitian
Organization (WHO) tahun 2012, terdapat sebelumnya yang dilakukan oleh Kartika
sekitar 162 juta anak di bawah lima tahun (2013) di Sekolah Dasar Inpres Tarus 1
yang mengalami stunting dan 56% berada Kupang didapatkan bahwa dari 110 anak
di Asia.(4) Data dari Unicef tahun 2011 yang menjadi sampel penelitian sekitar 51
menyatakan bahwa terdapat 165 juta anak orangnya (46,4%) mengalami stunting.(10)
di bawah lima tahun mengalami stunting Stunting dapat disebabkan oleh
di dunia. Lima negara yang memiliki beberapa faktor, yakni panjang badan lahir
jumlah terbanyak yaitu: India (61,7 juta), pendek, berat bayi lahir rendah, asupan
Nigeria (11 juta), Pakistan (9,6 juta), makanan, riwayat infeksi, tingkat
China (8 juta) dan Indonesia (7,5 juta).(5) pendidikan orang tua dan keadaan sosial
Menurut data Indonesia Nutrition ekonomi keluarga.
Profil April 2014 sekitar 9,2 juta (37%) Panjang lahir bayi akan berdampak
balita di Indonesia mengalami stunting.(6) pada pertumbuhan selanjutnya, seperti
Sedangkan berdasarkan data RISKESDAS pada hasil penelitian yang dilakukan di
2013, prevalensi balita stunting di Kecamatan Pati Kabupaten Pati didapatkan
Indonesia adalah sebesar 37,2%, angka ini hasil bahwa panjang badan lahir pendek
mengalami kenaikan dibandingkan dengan merupakan salah satu faktor risiko balita
tahun 2010 yaitu sekitar 35,6%. stunting usia 12-36 bulan dengan nilai p =
Berdasarkan data RISKESDAS ini juga 0,000 dan nilai OR = 2,81, hal ini
prevalensi stunting pada anak usia 5-12 menunjukkan bahwa bayi yang lahir
tahun di Indonesia adalah 30,7%.(7) dengan panjang badan pendek memiliki
Menurut data RISKESDAS 2013, risiko 2,8 kali mengalami stunting
sekitar 52% balita di Nusa Tenggara Timur dibanding bayi dengan panjang lahir
(NTT) mengalami stunting, dan NTT normal.(11)
menempati urutan pertama dengan Di dalam kandungan, janin akan
prevalensi stunting tertinggi pada balita tumbuh dan berkembang melalui
dan ini merupakan masalah kesehatan pertambahan berat dan panjang badan,
masyarakat yang serius menurut WHO perkembangan otak serta organ-organ
(bila prevalensi stunting 30-39% dianggap lainnya. Janin mempunyai plastisitas yang
sebagai masalah berat, dan bila tinggi, artinya janin akan dengan mudah
prevalensinya ≥ 40% dianggap sebagai menyesuaikan diri terhadap perubahan
91

lingkungannya baik yang menguntungkan belajarnya, akibatnya berpengaruh pada


maupun yang merugikan pada saat itu. prestasi belajar anak di
(13,14,15,16,17,18)
Kekurangan gizi yang terjadi dalam sekolah.
kandungan menyebabkan janin melakukan Prestasi belajar siswa merupakan
reaksi penyesuaian. Secara paralel bagian dari kemampuan kognitif yang
penyesuaian tersebut meliputi perlambatan menjadi salah satu indikator kesuksesan
pertumbuhan dengan pengurangan jumlah proses pendidikan di tiap jenjang.
dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk Pendidikan merupakan salah satu penentu
sel otak dan organ tubuh lainnya. Hasil indeks pembangunan manusia (Human
reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi Development Indeks) di samping kesehatan
diekspresikan dengan bentuk tubuh yang dan ekonomi.(19) Data dari United Nation
pendek, rendahnya kemampuan kognitif Development Program (UNDP) tahun
atau kecerdasan sebagai akibat tidak 2011, diketahui bahwa indeks
optimalnya pertumbuhan dan pembangunan manusia Indonesia masih
perkembangan otak (Bappenas, 2012).(11) rendah. Di antara 187 negara yang di
Berdasarkan laporan Nutrition in the first survei, Indonesia menempati posisi ke-
1,000 Days State of The World’s Mother 124. Survei dari Political and Economic
tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian Risk Consultant (PERC) menunjukkan
stunting dipengaruhi oleh kondisi pada kualitas pendidikan di Indonesia berada
masa 1000 hari kehidupan yaitu mulai dari pada peringkat ke-12 dari 12 negara di
janin berada dalam kandungan sampai Asia.(20) Trends In Mathematic and
anak tersebut berusia 2 tahun dan masa ini Science Study (TIMSS) tahun 2003,
disebut dengan masa critical windows, mengemukakan fakta bahwa prestasi
karena pada masa ini terjadi belajar siswa Indonesia masih tergolong
perkembangan otak dan pertumbuhan rendah dilihat dari peringkat nilai
badan yang cepat, sehingga bila asupan matematika dan sains.(19) Sedangkan
nutrisi yang diberikan tidak optimal maka menurut data hasil Ujian Nasional (UN)
dapat berpotensi anak menjadi stunting.(11) Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun
Stunting merupakan keadaan kurang 2013, Provinsi NTT menempati peringkat
gizi yang dapat menyebabkan gangguan ke–29 dari 33 provinsi di Indonesia, dan
pertumbuhan dan perkembangan fisik pada tahun 2012 dan tahun 2011 Provinsi
maupun mental, perkembangan NTT menempati peringkat terakhir
kecerdasan, menurunkan daya tahan, nasional.(9)
mengurangi tingkat kreatifitas dan Prestasi belajar pada siswa dapat
produktifitas bahkan meningkatkan angka diukur dengan melihat hasil pendidikan
kesakitan dan kematian.(12,13,14,15,16) melalui laporan pendidikan (rapor).(20)
Stunting menggambarkan keadaan kurang Menurut penelitian Ijarotimi dan
gizi yang kronis dimana suplai nutrisi yang Ijadunola di Nigeria (2007), ditemukan
diperlukan tubuh termasuk otak bahwa, pada anak yang kekurangan gizi
berkekurangan. Hal ini menyebabkan akan terjadi perubahan pada metabolisme
perkembangan otak tidak optimal, yang berdampak pada kemampuan kognitif
sehingga dapat berpengaruh pada dan kemampuan otak. Karena keadaan
perkembangan kognitif anak, performance kurangnya asupan nutrisi pada anak seperti
anak di sekolah dan kemampuan kekurangan energi protein, akan berefek
92

pada fungsi hippocampus dan korteks Berdasarkan uraian di atas peneliti


dalam membentuk dan menyimpan tertarik untuk melakukan penelitian
memori. Sorhaindo dan Feinstein (2006) di mengenai dampak dari stunting dan
London juga menyatakan bahwa terdapat riwayat panjang lahir terhadap prestasi
hubungan antara status gizi dengan belajar di siswa Sekolah Dasar (SD) Tarus
prestasi belajar. Dalam penelitiannya, 1 Kupang Nusa Tenggara Timur.
mereka menemukan bahwa gizi buruk
yang dialami anak akan mempengaruhi METODE PENELITIAN
sistem imun sehingga anak lebih mudah Penelitian ini merupakan penelitian
menderita penyakit infeksi. Keadaan ini analitik observasional dengan pendekatan
akan mempengaruhi kehadiran anak di kohort retrospektif. Penelitian ini akan
sekolah sehingga anak cenderung dilakukan pada siswa kelas IV, V dan VI
tertinggal dalam proses pembelajaran di SD Inpres Tarus 1 Nusa Tenggara
sehingga mempengaruhi prestasi belajar Timur pada bulan September-Oktober
anak.(19) 2015. Jumlah sampel sebanyak 43 anak
Menurut penelitian Hayatus Rosita, et diambil secara consecutive sampling. Data
al.,(2013) tentang hubungan status gizi mengenai tinggi badan anak diukur secara
dengan prestasi belajar di kota langsung, data mengenai riwayat panjang
Padangpanjang mendapatkan hubungan lahir diminta dari orang tua dan data
signifikan antara status gizi stunting mengenai prestasi belajar diperoleh dengan
dengan prestasi belajar dengan nilai p = merekap nilai matematika dan sains siswa
0,005 (p < 0,05).(19) Penelitian cross- dari rapornya. Analisi data terdiri atas
sectional yang pernah dilakukan di analisis univariat dan analisis bivariat.
Kalimantan Barat, menunjukkan anak- Analisis bivariat menggunakan uji statistik
anak yang sangat pendek (severely Korelasi Spearman.
stunted) memiliki IQ yang jauh lebih
rendah dibandingkan dengan anak-anak HASIL DAN PEMBAHASAN
yang hanya pendek (stunting).(20) Berbeda Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah
dengan hasil penelitian di atas, penelitian Dasar Inpres Tarus 1 yang terletak di Desa
yang dilakukan oleh Ova Satya di Banda Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah,
Aceh tahun 2012 mendapatkan bahwa Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
tidak terdapat hubungan yang signifikan Berdasarkan pengambilan data yang
antara status gizi (TB/U) dengan prestasi dilakukan peneliti, jumlah siswa kelas
belajar.(21) Demikian juga penelitian yang VI,V dan VI di SD Inpres Tarus 1
dilakukan oleh Yeni dan Nadi (2013) berjumlah 172 anak, sedangkan yang
mendapatkan tidak terdapat hubungan terpilih menjadi subyek dalam penelitian
antara status gizi dengan prestasi ini ialah 43 anak dengan karakteristik
belajar.(22) dapat dilihat dalam Tabel 1.
93

Tabel 1 Karakteristik Sampel sebanyak 22 orang (51,2%) diikuti dengan


Penelitian wiraswasta/pedagang sebanyak 13 orang
(30,2%), lainnya (pendeta, TKI) sebanyak
No. KarakteristikSampel n % 3 orang (7,0%), PNS/ABRI sebanyak 2
1. Jenis Kelamin: orang (4,7%) pegawai swasta/BUMN
Laki 15 34,9 sebanyak 1 orang (2,3%) dan yang tidak
Perempuan 28 65,1 bekerja 1 orang (2,3%), terdapat satu orang
2. Usia: siswa yang ayahnya telah meninggal.
7 – 10 tahun 12 27,9 Sebagian besar sampel memiliki ibu yang
>10 – 13 tahun 31 72,1 menjadi ibu rumah tangga yaitu sebanyak
3. Pekerjaan Ayah: 23 orang (53,5%), yang bekerja sebagai
PNS/ABRI 2 4,7 petani sebanyak 11 orang (25,6%),
Pegawai 1 2,3 wiraswasta/Pedagang sebanyak 6 orang
Swasta/BUMN (14,0%), PNS/ABRI sebanyak 2 orang
Wiraswasta/Pedagang 13 30,2 (4,7%) dan lainnya (pendeta, TKW)
Petani 22 51,2 sebanyak 1 orang (2,3%). Pekerjaan orang
Tidak Bekerja 1 2,3 tua mempengruhi keadaan ekonomi
Lainnya 3 7,0 keluarga. Keadaan ekonomi keluarga erat
4. Pekerjaan Ibu: hubungannya dengan belajar anak. Anak
PNS/ABRI 2 4,7 yang sedang belajar selain harus terpenuhi
Wirswasta/Pedagang 6 14,0 kebutuhan pokoknya, misalnya makan,
Petani 11 25,6 pakian, perlindungan kesehatan dan lain-
Ibu Rumah Tangga 23 53,5 lain, juga memerlukan fasilitas belajar
Lainnya 1 2,3 seperti ruang belajar, meja, kursi,
penerangan, alat-alat tulis, buku-buku dan
Tabel di atas menjelaskan bahwa lain-lain. Semua fasilitas ini akan dapat
sebagian besar sampel dalam penelitian dipenuhi jika status ekonomi keluarga
ialah kelompok jenis kelamin perampuan memadai.(12)(23)(26)(27) Selain itu status
dengan jumlah 28 anak (65,1%) sedangkan ekonomi keluarga dipandang memiliki
yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah dampak yang signifikan terhadap
15 anak (34,9%). Kelompok usia probabilitas anak menjadi pendek dan
terbanyak dalam penelitian ini ialah kurus. Dalam hal ini, WHO
kelompok usia >10–13 tahun sebanyak 31 merekomendasikan status gizi pendek atau
anak (72,1%), sedangkan kelompok usia 7 stunting sebagai alat ukur atas tingkat
– 10 tahun sebanyak 12 anak (27,9%). sosial-ekonomi yang rendah dan sebagai
Berdasarkan tabel di atas sebagian salah satu indikator untuk memantau
besar pekerjaan ayah dari siswa yang ekuitas dalam kesehatan (Zere &
menjadi sampel adalah petani yaitu McIntyre, 2003).(29)
94

Analisis Univariat
Tabel 2 Stunting dan Riwayat Panjang Tabel 3 Prestasi Belajar Sampel Penelitian
Lahir Sampel Penelitian
Stunting dan Riwayat n % Prestasi Frekuensi Persentase
Panjang Lahir Belajar (n) (%)
Kelompok dengan 16 37,2 < 60 1 2,3
60 – 70 24 55,8
Faktor Risiko
>70 – 15 34,9
Kelompok tanpa Faktor 27 62,8 80
Risiko >80 – 3 7,0
Total 43 100 90
Keterangan : Total 43 100,0
Kelompok dengan Faktor Risiko: sampel yang
stunting dan riwayat panjang lahir pendek. Berdasarkan tabel 3 di atas dapat
Kelompok tanpa Faktor Risiko: sampel yang tidak
dilihat bahwa nilai terendah dari prestasi
stunting dan riwayat panjang lahir normal.
belajar siswa adalah 58,13 diperoleh satu
Berdasarkan tabel di atas sampel yang sampel dan nilai tertinggi 82,50 diperoleh
mengalami stunting dan juga riwayat satu sampel pula. Rata-rata prestasi belajar
panjang lahir pendek sebanyak 16 orang sampel yang terbanyak adalah 60 - 70
(37,2%) sedangkan, sampel yang tidak yaitu sebanyak 24 anak (55,8%) diikuti
mengalami stunting dan panjang lahir >70 - 80 sebanyak 15 anak (34,9%) , rata-
normal sebanyak 27 orang (62,8%). rata >80 sebanyak 3 orang anak (7,0%)
dan yang memperoleh rata-rata prestasi
belajar < 60 ada 1 anak (2,3%.

Analisis Bivariat

Tabel 4 Uji Statistik Stunting dan Riwayat Panjang Lahir


dengan Prestasi Belajar

stunting dan
riwayat prestasi
panjang lahir belajar
Spearman's rho stunting dan riwayat Correlation
1.000 .304*
panjang lahir Coefficient
Sig. (2-tailed) . .047
N 43 43
prestasi belajar Correlation
.304* 1.000
Coefficient
Sig. (2-tailed) .047 .
N 43 43
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
95

Interpretasi dari hasil uji statistik di anak-anak yang sangat pendek (severely
atas yaitu diketahui p value atau yang stunted) memiliki IQ yang jauh lebih rendah
terlihat pada tabel sebagai Sig. (2-tailed). dibandingkan dengan anak-anak yang hanya
Apabila nilai p value adalah <⍺, maka H0 pendek (stunting).(20)
dapat ditolak dan H1 diterima atau dapat Stunting menggambarkan keadaan
dikatakan bahwa terdapat hubungan antara malnutrisi kronis dimana suplai nutrisi
stunting dan riwayat panjang lahir dengan yang diperlukan tubuh termasuk otak
prestasi belajar pada siswa sekolah dasar berkekurangan. Hal ini menyebabkan
Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang Nusa pertumbuhan anak dan perkembangan
Tenggara Timur. Sedangkan bila nila p otaknya tidak memadai sehingga
value >⍺ maka H0 diterima atau tidak menyebabkan pertumbuhan anak
terdapat hubungan antara stunting dan terganggu dan penurunan fungsi kognitif
riwayat panjang lahir dengan prestasi belajar sampai gagalnya perkembangan kognitif
pada siswa sekolah dasar Inpres Tarus 1 anak.(13)(14)(15)(18)
Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur. Kekurangan gizi pada masa lalu akan
Dalam penelitian ini peneliti telah menyebabkan perubahan metabolisme
menetapkan nilai ⍺ = 0,05. Hasil dari uji dalam otak terutama jika ini terjadi saat
statistik di atas adalah p value = 0,047 1000 hari kehidupan anak sejak di dalam
artinya p value <0,05 maka H0 ditolak dan kandungan sampai 2 tahun pertama
H1 diterima, menyatakan ada hubungan kehidupannya. Hal ini akan
antara stunting dan riwayat panjang lahir mengakibatkan terjadinya
dengan prestasi belajar pada siswa sekolah ketidakmampuan otak untuk berfungsi
dasar Inpres Tarus 1 Kabupaten Kupang normal. Pada keadaan yang lebih berat dan
Nusa Tenggara Timur. Dari tabel di atas kronis, kekurangan gizi menyebabkan
juga dapat dilihat nilai koefisien korelasi (r) pertumbuhan terganggu (stunting), badan
yang menyatakan kuat-lemahnya hubungan lebih kecil, jumlah sel dalam otak
antara variabel. Koefisien korelasi yang berkurang dan terjadi ketidakmatangan
diperoleh adalah r = 0,304 artinya hubungan serta ketidaksempurnaan organisasi
antara variabel sebesar 30,4%. Atau dapat biokimia otak. Keadaan ini akan
disimpulkan bahwa hubungan antara berpengaruh terhadap perkembangan
(11)(19)
stunting dan riwayat panjang lahir dapat kecerdasan anak.
mempengaruhi prestasi belajar sebesar Di dalam kandungan, janin akan
30,4% di antara faktor lain yang dapat tumbuh dan berkembang melalui
mempengaruhi prestasi belajar.(37) Hasil pertambahan berat dan panjang badan,
penelitian yang diperoleh ini sesuai dengan perkembangan otak serta organ-organ
penelitian yang dilakukan oleh Hayatus lainnya. Janin mempunyai plastisitas yang
Rosita, et al.,(2013) tentang hubungan status tinggi, artinya janin akan dengan mudah
gizi dengan prestasi belajar di kota menyesuaikan diri terhadap perubahan
Padangpanjang mendapatkan hubungan lingkungannya baik yang menguntungkan
signifikan antara status gizi stunting dengan maupun yang merugikan pada saat itu.
prestasi belajar dengan nilai (p < 0,05).(19) Kekurangan gizi yang terjadi dalam
Penelitian cross-sectional yang pernah kandungan menyebabkan janin melakukan
dilakukan di Kalimantan Barat, menunjukan reaksi penyesuaian. Secara paralel
96

penyesuaian tersebut meliputi Berdasarkan pembahasan di atas


perlambatan pertumbuhan dengan stunting dan riwayat panjang lahir
pengurangan jumlah dan pengembangan berhubungan dengan prestasi belajar siswa
sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ namun bukan merupakan satu-satunya
tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
akibat kekurangan gizi diekspresikan siswa. Perlu dilakukan upaya preventif
dengan bentuk tubuh yang pendek, untuk mencegah stunting, riwayat panjang
rendahnya kemampuan kognitif atau lahir pendek dan prestasi belajar yang
kecerdasan sebagai akibat tidak rendah yaitu, dengan memperhatikan
optimalnya pertumbuhan dan asupan nutrisi pada ibu hamil yang
(11)
perkembangan otak (Bappenas, 2012). mencukupi kebutuhan ibu dan janin dalam
Berbeda dengan hasil penelitian di kandungannya, berdasarkan Angka
atas, penelitian yang dilakukan oleh Ova Kecukupan Gizi bagi bangsa indonesia ibu
Satya di Banda Aceh tahun 2012 hamil trimester pertama harus menambah
mendapatkan bahwa tidak terdapat asupan energi sebanyak 180 kkal/hari
hubungan yang signifikan antara status dibandingkan sebelum hamil dan untuk
gizi (TB/U) dengan prestasi belajar.(21) trimester II dan III harus menambah
Demikian juga penelitian yang dilakukan asupan energi sebanyak 300 kkal/hari dari
oleh Yeni dan Nadi (2013) mendapatkan sebelum hamil. Sedangkan untuk protein
tidak terdapat hubungan antara status gizi dianjurakan untuk ibu hamil ditambah
dengan prestasi belajar.(22) Hal ini 20g/hari.(38) Selain itu perlu juga
dikarenakan terdapat faktor lain yang memperhatikan asupan nutrisi bagi balita
mempengaruhi prestasi belajar siswa yakni dan anak usia sekolah agar tidak terjadi
faktor internal (faktor dari dalam diri defisit pertumbuhan yang berakibat
siswa) seperti faktor psikologis (minat, menjadi stunting (pendek) juga
bakat dan motivasi) dan faktor eksternal perkembangan kognitif yang lambat
(faktor dari luar siswa) yakni kondisi sehingga mempengaruhi prestasi belajar
lingkungan di sekitar siswa yang anak. Demikian juga perlu dilakukan
mendukung proses belajarnnya seperti intervensi bagi anak-anak yang mengalami
lingkungan keluarga, lingkungan stunting dan panjang lahir pendek lebih
masyarakat dan lingkungan sekolah. dini agar memperbaiki kualitas tumbuh
Sardiman (2006) juga mengemukakan kembang anak dan mewujudkan
bahwa hasil prestasi belajar dipengaruhi pembangunan sumber daya manusia yang
oleh subyek belajar dengan dunia fisik memiliki peran yang sangat penting dalam
serta lingkungan dan tergantung pada apa mewujudkan manusia Indonesia yang maju
yang diketahui, tujuan dan motivasi yang dan mandiri sehingga mampu berdaya
mempengaruhi proses interaksi dengan saing dalam era globalisasi.
bahan yang sedang dipelajari. Kehadiran
faktor-faktor psikologis dalam belajar KESIMPULAN
memberikan peran yang cukup penting.
Faktor tersebut senantiasa memberikan 1. Terdapat hubungan stunting dan
kemudahan dalam upaya mencapai tujuan riwayat panjang lahir dengan
belajar secara optimal.(21) prestasi belajar pada siswa Sekolah
Dasar Inpres Tarus 1 NTT.
97

2. Terdapat 16 siswa (37,2%) yang 3. Unicef. TRACKING PROGRESS ON


mengalami stunting dan 27 siswa CHILD AND MATERNAL
(62,8%) yang tidak mengalami NUTRITION. New York: Unicef;
stunting di Sekolah Dasar Inpres 2009; Available from:
Tarus 1 NTT. http://www.unicef.org/publications/fi
3. Terdapat 16 siswa (37,2%) yang les/Tracking_Progress_on_Child_an
memiliki riwayat panjang lahir d_Maternal_Nutrition_EN_110309.p
pendek dan 27 siswa (62,8%) yang df
memiliki riwayat panjang lahir 4. Joint UNICEF – WHO – The World
normal di Sekolah Dasar Inpres Bank Child Malnutrition Database:
Tarus 1 NTT. ”Estimates for 2012 and Launch of
4. Terdapat 1 siswa (2,3%) yang Interactive Data Dashboards". 2013;
memiliki rata-rata prestasi belajar Available from:
kurang (<60), 24 siswa (55,8%) http://www.who.int/nutgrowthdb/jm
yang memiliki rata-rata prestasi e_2012_summary_note_v2.pdf
belajar cukup (60 – 70), 15 siswa 5. Unicef. Key Facts and Figures on
(34,9%) memiliki rata-rata prestasi Nutrition. 2013; Available from:
belajar baik (>70 – 80) dan 3 orang http://www.who.int/pmnch/media/n
siswa memiliki prestasi belajar ews/2013/20130416_unicef_factshe
amat baik (>80). et.pdf
6. Indonesia Nutrition Profile. 2014;
Available from:
DAFTAR PUSTAKA http://www.fantaproject.org/sites/de
fault/files/download/Indonesia-
1. Kusuma KE. Faktor Risiko Nutrition-Profile-Apr2014.pdf
Kejadian Stunting pada Anak Usia 7. Badan Pengembangan dan Penelitian
2-3 Tahun (Studi di Kecamatan Kesehatan Kemenkes RI. Riset
Semarang Timur). 2013; Available Kesehatan Dasar 2013. 2013;
from: Available from:
http://eprints.undip.ac.id/41856/1/57 http://www.litbang.depkes.go.id/site
2_Kukuh_Eka_Kusuma_G2C00904 s/download/rkd2013/Laporan_Riske
9.pdf sdas2013.PDF
2. Hestuningtyas, TR. Pengaruh 8. Badan Pengembangan dan
Konseling Gizi terhadap Penelitian Kesehatan Departemen
Pengetahuan, Sikap, Praktik Ibu Kesehatan RI. LAPORAN HASIL
dalam Pemberian Makanan Anak, RISET KESEHATAN DASAR
dan Asupan Zat Gizi Anak Stunting (RISKESDAS) PROVINSI NUSA
Usia 1-2 Tahun di Kecamatan TENGGARA TIMUR TAHUN
Semarang Timur. 2013; Available 2008. 2009; Available from:
from: http://terbitan.litbang.depkes.go.id/p
http://eprints.undip.ac.id/41928/1/57 enerbitan/index.php/blp/catalog/boo
6_Tiara_Rosania_Hestuningtyas_22 k/97
030111150008.pdf 9. Mooy, RM. Hubungan antara Stunting
dengan Perkembangan Gerakan
98

Motorik pada Anak Usia 12 – 36 df91d2eba74a%7D/FOOD_FOR_T


Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas HOUGHT.PDF
Tarus Kabupaten Kupang Tahun 15. Dewey, K., Begum K. Why Stunting
2014. Nusa Cendana; 2014. Matters. "A & T Technical Brief
10. Samapaty, K. Hubungan Persepsi Diri Journal". 2010;(2):1–6. Available
Tentang Tinggi Badan dengan Status from:
Gizi pada Anak Sekolah Dasar di http://www.fhi360.org/sites/default/
Kabupaten Kupang Tahun 2013 files/media/documents/Insight -
(Studi pada Sekolah Dasar di Daerah Why stunting matters
Urban dan Rural). 2013; Fakultas %28English%29.pdf
Kedokteran Universitas Nusa 16. Unicef. IMPROVING CHILD
Cendana. NUTRITION. New York: Unicef;
11. Najahah, I. Faktor Risiko Panjang 2013; Available from:
Lahir Bayi Pendek di Ruang http://www.unicef.org/gambia/Impr
Bersalin RSUD Patut Patuh Patju oving_Child_Nutrition_-
Kabupaten Lombok Barat. Jurnal _the_achievable_imperative_for_gl
Media Bina Ilmu [Internet]. obal_progress.pdf
2014;8:16–23. Available from: 17. Gibney MJ, Margets BM, Kerney JM,
http://www.lpsdimataram.com/phoc Arab L. Gizi Kesehatan Masyarakat.
adownload/April-2014/3 Faktor Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Risiko Panjang Lahir Bayi Pendek EGC; 2009.
Di Ruang Bersalin RSUD- 18. United Nation World Food
Imtihanatun Najahah.pdf Programme. World Hunger Series.
12 Isdaryanti, C. Asupan Energi Protein, "Hunger and Learning". 2006;
Status Gizi, dan Prestasi Belajar Available from:
Anak Sekolah Dasar Arjowinangun http://www.unicef.org/lac/World_H
1 Pacitan. 2007; Available from: unger_Series_2006_Full%281%29.
https://muslimpinang.files.wordpres pdf
s.com/2010/10/christien- 19. Hayatus, R., Herman, R., Sastri S.
publikasi.pdf Hubungan Status Gizi dengan
13. WHO. Childhood Stunting: Contex, Prestasi Belajar Siswa Sekolah
Cause and Consequences. Dasar Negri 01 Guguk Malintang
"Maternal Child Nutrtion". Kota Padangpanjang. Jurnal
2013;27–45. Available from: Kesehatan Andalas [Internet].
http://www.who.int/nutrition/events 2014;3(3):462–467. Available from:
/2013_ChildhoodStunting_colloqui http//:jurnal.fk.unand.ac.id
um_14Oct_ConceptualFramework_ 20. Septiani, S. Hubungan Status Gizi
colour.pdf (Indeks TB/U) dan Faktor Lainnya
14. Crosby, L., Jayasinghe, D., McNair dengan Prestasi Belajar Siswa SDN
D. Food for Thought. "Save The Cinere 2, Cinere Depok Tahun
Children". 2013. Available from: 2012. Available from:
http://www.savethechildren.org/atf/ lib.ui.ac.id/file?file=digital/2031425
cf/%7B9def2ebe-10ae-432c-9bd0- 8-S_Seala Septiani.pdf
99

21. Satya, O. Hubungan Status Gizi http://core.ac.uk/download/pdf/1650


dengan Prestasi Belajar pada Murid 6841.pdf
Kelas III SDN 32 Beurawe Banda 26. UNIMED. Tinjauan Pustaka Prestasi
Aceh Tahun 2012. Kesehatan Belajar. 2011; Available from:
Masyarakat. 2012; Available from: http://digilib.unimed.ac.id/public/U
www.ejournal.uui.ac.id/jurnal/OVA NIMED-Undergraduate-22748-
_SATYA-e31-jurnal_ova.pdf BAB II.pdf
22 Elviani, Y., Nadi A. Hubungan 27. Nurasiyah. Pengaruh Tingkat
Status Gizi dan Jenis Kelamin Pendidikan dan Pendapatan Orang
dengan Prestasi Belajar pada Siswa Tua terhadap Prestasi Belajar
Kelas II di SD Negeri 56 Kota Ekonomi Siswa Kelas XI IPS 3 di
Lubuklinggau Tahun 2013. 2013; SMA Nurul Farah Pekanbaru. 2011;
Available from: Available from:
http://poltekkespalembang.ac.id/use http://digilib.uir.ac.id/dmdocuments
rfiles/files/hubungan_status_gizi_da /pea,nur aisyah.pdf
n_jenis_kelamin_dengan_prestasi_b 28. Cahyo, R. Faktor-Faktor yang
elajar_pada_siswa_kelas_ii_di_sd_n Mempengaruhi Prestasi Belajar
egeri_56_kota_lubukl.pdf Kewirausahaan Siswa Kelas XI
23. Wahyuni, S. Hubungan Status Sosial SMAKN 1 Punggelan Banjar
Ekonomi Orang Tua dan Negara. 2010;
Pemanfaatan Media Belajar dengan 29. Anisa, P. Faktor-Faktor yang
Prestasi Belajar pada Siswa Kelas Berhubungan dengan Kejadian
XI SMA Batik 2 Surakarta Tahun Stunting pada Balita Usia 25-60
Ajaran 2010/2011. 2011; Available Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok
from: Tahun 2012. 2012; Available from:
http://core.ac.uk/download/pdf/1650 http://www.google.co.id/url?q=http:
7225.pdf //lontar.ui.ac.id/file%3Ffile%3Ddigi
24. Ristiana, S. Hubungan Pengetahuan, tal/20320460-S-
Sikap, Tindakan Sarapan dengan Paramitha%2520Anisa.pdf&sa=U&
Status Gizi dan Indeks Prestasi ei=hxJbVYXrEdbnuQTawoHgCw
Anak Sekolah Dasar di SD Negeri &ved=0CBIQFjAA&usg=AFQjCN
No.101835 Bingkawan Kecamatan G9aZ37QTsWMgvxSwluAlrxPN5p
Sibolangit Tahun 2009. 2009; pw
Available from: 30. Wiyogowati, C. Kejadian Stunting
repository.usu.ac.id/bitstream/12345 pada Anak Berumuran di Bawah
6789/14678/1/09E01198.pdf Lima Tahun (0-59 Bulan) di
25. Yulianto, Y. Hubungan antara Provinsi Papua Barat Tahun 2010
Jenjang Pendidikan Orang Tua dan (Analisis Data Riskesdas Tahun
Motivasi Belajar dengan Prestasi 2010). 2012; Available from:
Belajar Sosiologi pada Siswa Kelas http://www.google.com/url?sa=t&rc
XI SMA Negeri 1 Surakarta Tahun t=j&q=&esrc=s&source=web&cd=
Ajaran 2010/2011. 2011; Available 9&cad=rja&uact=8&ved=0CGQQF
from: jAI&url=http%3A%2F%2Flib.ui.ac.
id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F2
100

0288982-S- 35. Sastroasmoro S., Ismail S. Dasar-


Citaningrum%2520Wiyogowati.pdf Dasar Metodologi Penelitian Klinis.
&ei=dAnXVODGMIapuwTS9YD4 Ed. 4. CV. Sagung Seto; 2011.
Dw&usg=AFQjCNHR5hdnh- 36. Dahlan, M. Sopiyudin. Langkah-
shIHzLpvJaSGx4Fl_y1g&bvm=bv. Langkah Membuat Proposal
85464276,d.c2E Penelitian BidangKedokteran dan
Kesehatan. 2nd ed. Jakarta: Sagung
31. Kliranayungie C. Hubungan Status
Seto; 2012.
Gizi Ibu dan Faktor Lain dengan 37. Dahlan, M. Sopiyudin. Statistika
Berat dan Panjang Lahir di RS Sint untuk Kedokteran dan Kesehatan.
Carolus Jakarta Bulan Juni- 5th ed. Jakarta:Salemba Medika;
September 2011. 2012; Available 2013.
from: 38. Menteri Kesehatan RI. Angka
http://www.google.co.id/url?sa=t&r Kecukupan Gizi yang dianjurkan
bagi Bangsa Indonesia. 2013;
ct=j&q=claudia+debtarsie.pdf&sour
Available from:
ce=web&cd=1&cad=rja&uact=8&v http://gizi.depkes.go.id/download/
ed=0CBsQFjAAahUKEwjT3J73z5 Kebijakan Gizi/Tabel AKG.pdf
XHAhXDpZQKHX0lAsg&url=http
%3A%2F%2Flib.ui.ac.id%2Ffile%3
Ffile%3Ddigital%2F20355675-S-
Claudia%2520Debtarsie%2520Klir
anayungi.pdf&ei=nO_DVdOeBsPL
0gT9yojADA&usg=AFQjCNGv3M
8HqMW1wpEydtd5l8xncyUwdw&
bvm=bv.99556055,d.dGo
32. Kemenkes RI 2010. Buku Saku
Pelayanan Kesehatan Neonatal
Esensial. 2010; Available from:
http://www.gizikia.depkes.go.id/wp
-
content/uploads/downloads/2011/09
/Buku-Saku-Pelayanan-Kesehatan-
Neonatal-Esensial.pdf
33. Fitri. Berat Lahir sebagai Faktor
Dominan Terjadinya Stunting pada
Balita (12-59 Bulan) di Sumatera
(Analisis Data Riskesdas 2010).
2012; Available from:
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20
298098-T30071-Fitri.pdf
34. WHO. Height for Age Boys and Girls
5 to 19 years (Z-score). 2007;
Available from:
http://www.who.int/growthref/who2
007_height_for_age/en/
101