Anda di halaman 1dari 5

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Definisi
Anemia Defisiensi besi adalah anemia yangterjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah,
artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya pembentukan
sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalamdarah.

Patofisiologi
Zat besi diperlukan untuk hemopoesis (pembentukan darah) dan juga diperlukan oleh
berbagai enzim sebagai faktor penggiat. Zat besi yang terdapat dalam enzim juga diperlukan
untuk mengangkut elektro (sitokrom), untuk mengaktifkan oksigen (oksidase dan
oksigenase). Defisiensi zat besi tidak menunjukkan gejala yang khas (asymptomatik)sehingga
anemia pada balita sukar untuk dideteksi. Tanda-tanda dari anemia gizi dimulai dengan
menipisnya simpanan zat besi (feritin) dan bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan
dengan meningkatnya kapasitas pengikatan besi. Pada tahap yang lebih lanjut berupa
habisnya simpanan zat besi, berkurangnya kejenuhan transferin, berkurangnya jumlah
protoporpirin yang diubah menjadi heme, dan akan diikuti dengan menurunnya kadar feritin
serum. Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya kadar Rb. Bila
sebagian dari feritin jaringan meninggalkan sel akan mengakibatkan konsentrasi feritin serum
rendah. Kadar feritin serum dapat menggambarkan keadaan simpanan zat besi dalam
jaringan. Dengan demikian kadar feritin serum yang rendah akan menunjukkan orang
tersebut dalam keadaan anemia gizi bila kadar feritin serumnya <12 ng/ml. Hal yang perlu
diperhatikan adalah bila kadar feritin serum normal tidak selalu menunjukkan status besi
dalam keadaan normal. Karena status besi yang berkurang lebih dahulu baru diikuti dengan
kadar feritin.
Etiomologi Anemia Defisiensi Besi

1. Rendahnya asupan zat besi; faktor nutrisi


2. Penyerapan zat besi terganggu; pasca gastrektomi, penyakit chron, tropical sprue
3. Kebutuhan meningkat; anak dalam masa pertumbuhan, kehamilan, dan laktasi
4. Kehilangan zat besi karena perdarahan

Klasifikasi
Defisiensi besi merupakan tahapan akhir dari penurunan cadangan zat besi yang telah
menimbulkan gejala klinis. Berikut tahapannya;
1. Deplesi besi ; cadangan besi turun, penyediaan besi untuk eritropoesis belum
terganggu
2. Eritropoeisis defisiensi besi. Cadangan besi kosong, penyediaan besi untuk
eritropeisis terganggu, belum muncul anemia secara laboratoris
3. Anemia defisisensi besi; cadanagan besi kosong, sudah muncul anemia
defisiensi besi.
4.
Manifestasi Klinis
 gejala umum anemia; lemah, pucat, cepat lelah, mata berkunang-kunang
 gejala khas; koilonikia (kuku sendok), atrofi papil lidah, stomatitis angularis, disfagia,
pica

Diagnosis
Anamnesis
1. Riwayat faktor predisposisi dan etiologi :
 Kebutuhan meningkat secara fisiologis terutama pada masa pertumbuhan yang cepat,
menstruasi, dan infeksi kronis
 Kurangnya besi yang diserap karena asupan besi dari makanan tidak adekuat
malabsorpsi besi
 Perdarahan terutama perdarahan saluran cerna (tukak lambung, penyakit Crohn,
colitis ulserativa)
2. Pucat, lemah, lesu, gejala pika
Pemeriksaan fisis
a. anemis, tidak disertai ikterus, organomegali dan limphadenopati
b. stomatitis angularis, atrofi papil lidah
c. ditemukan takikardi ,murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran jantung
Tatalaksana
1. Terapi kausal, dengan mengatasi penyebab perdarahan
2. Pemberian preparat besi; ferrous sulfat oral 3x200 mg selama 3-6 bulan. Lini pertama
terapi oral.
 Ferro sulfat  mengandung 20% besi elemental, sediaan 200, 235 mg (65 mg
besi elemental)
 Ferro fumarat  mengandug 33% besi elemntal. Sediaan 325 mg (107 mg besi
elemntal)
 Ferro glukonat  mengandung 12% besi elemental. Sediaan 325 mg (39 mg besi
elemental)

3-4 kali perhari dengan besi elemntal 50-65 mg (3-6 mg besi elemntal/kgbb/hari)

Target Hb meningkat 1g/dl dalam 2-3 minggu. Jika Hb terkoreksi lanjutkan terapi
besi oral hingga 3-4 bulan