Anda di halaman 1dari 12

62

III. METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei analitik dengan

menggunakan metode case control yaitu studi analitik dengan menggunakan

logika terbalik, yaitu menentukan penyakit (outcome) terlebih dahulu

kemudian mengidentifikasi penyebab (faktor resiko), tujuan untuk

mengetahui kepadatan lalat, sanitasi lingkungan dan personal higiene

terhadap penyakit tifoid di pemukiman sekitar UPTD rumah pemotongan

hewan Kota Kendari di Kecamatan Poasia.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari di pemukiman sekitar

UPTD rumah pemotongan hewan di Kota Kendari.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang

diteliti dalam suatu penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah

pemukiman warga di sekitar UPTD Rumah Pemotongan Hewan (RPH)

Kota Kendari yang bertempat tinggal di RT 09 RW 04 Kelurahan

Anggoeya dan RT 01 RW 01 Kelurahan Matabubu yang berjumlah 108

KK.

2. Sampel

Penentuan besar sampel untuk kelompok kasus dan kontrol dengan

berdasarkan pada perhitungan Odd Rasio (OR) dan proporsi kontrol dari
63

penelitian terdahulu yang berkaitan dengan variabel dengan menggunakan

rumus Stenley Lemeshow :

n1 = n2 = (Zα√2𝑃(1 − P) + Zβ√𝑃1(𝑄1) + 𝑃2(𝑄2))2


(P1 – P2)2
Keterangan :

OR = Odds rasio
n1 = jumlah subjek Kasus
n2 = jumlah subjek Kontrol
Alpha (α) = kesalahan tipe 1 ditetapkan 5%
Zα = nilai standar alpha 5% yaitu 1,96
Beta (β) = kesalahan tipe dua, ditetapkan 20%
Zβ = nilai standar beta 20% yaitu 0,84
P1 = proporsi status personal higiene pada kasus berdasarkan
kepustakaan 0.44
Q1 = 1- P1 = 1- 0,384 =0,616
P1 – P2 = selisih proporsi status personal higiene antara kasus dan
kontrol yang di anggap bermakna, ditetapkan 0,29
P2 = proporsi status personal higiene pada kontrol berdasarkan
kepustakaan 0.1
Q2= 1- P2 = 1- 0,192 =0,808
P = (P1 + P2)/2 = (0,384+ 0,192)/2 = 0,288
Q = 1- P = 1- 0,288 = 0,712
n1 = n2 = (Zα√2𝑃(1 − P) + Zβ√𝑃1(𝑄1) + 𝑃2(𝑄2))2
(P1 – P2)2

n1 = n2 = (1,96√0,41 + 0,84√0,236 + 0,155)2


0,036

= (1,96 . 0,64 + 0,84 . 0,625)2


0,036

= (1,254 + 0, 525)2
0,036
64

= (1,254)2
0,036

= 1,460
0,036
= 40

Jadi sampel minimal kasus sebanyak 40 responden dan sampel

minimal kontrol sebanyak 40 responden. Dari hasil pengambilan sampel

diperoleh jumlah sampel minimal yaitu 80 responden,

Dengan menggunakan rumus diatas dan OR terdahulu sebesar

2.625, maka perbandingan 1;1 untuk kelompok kasus dan kelompok

kontrol, maka besar sampel penelitian ini adalah 40 sampel kasus dan 40

sampel kontrol. Jadi jumlah sampel secara keseluruhan sebesar 80 sampel.

Sampel kasus dalam penelitian ini adalah penderita Demam Tifoid

pada bulan Januari-Desember tahun 2016 yang tercatat dalam rekam medis

puskesmas poasia dan bertempat tinggal di wilayah kelurahan anggoeya

dan matabubu kota kendari yaitu sejumlah 40 orang.

Kriteria inklusi dan ekslusi pada sampel kasus adalah:

a. Kriteria Inklusi kasus yaitu :

1) Penderita demam tifoid yang tercatat dalam rekam medis lab

Puskesmas Poasia dalam 1 tahun terakhir.

2) Bertempat tinggal tetap di sekitar pemukiman RPH yaitu Kelurahan

Anggoeya dan Kelurahan Matabubu.

b. Kriteria Eksklusi Kontrol yaitu

1) Bukan Penderita Demam Tifoid yang tercatat dalam rekam medis lab

Puskesmas Poasia
65

2) Bertempat tinggal tetap di sekitar pemukiman RPH yaitu Kelurahan

Anggoeya dan Kelurahan Matabubu.

a. Kriteria inklusi kasus :

1) Pindah tempat saat dilaksanakan penelitian

2) Tidak bersedia untuk mengikuti penelitian

3) Alamat tidak jelas atau dua kali didatangi tidak ditempat

b. Kriteria eksklusi kontrol :

1) Pindah tempat saat dilaksanakan penelitian

2) Tidak bersedia untuk mengikuti penelitian

3) Alamat tidak jelas atau dua kali didatangi tidak ditempat

Sampel kontrol dalam penelitian ini adalah pasien yang

menderita demam tifoid pada bulan Januari-Desember tahun 2016

yang tercatat dalam rekam medis puskesmas poasia dan bertempat

tinggal di wilayah kelurahan Anggoeya dan Matabubu Kota Kendari

yaitu sejumlah 40 orang.

Jadi, jumlah sampel keseluruhan pada penelitian ini adalah 80

rumah.

Teknik penarikan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan

teknik Stratified random sampling. Stratified random sampling adalah

cara mengambil sample dengan memperhatikan strata (tingkatan) di

dalam populasi
66

D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

Untuk mendapatkan kesamaan dan menghindari terjadinya kesalahan

penafsiran dalan penelitian ini, maka dibuat definisi operasional terhadap

beberapa variabel, sebagai berikut:

1. Demam Tifoid

Penyakit demam tifoid (typhoid fever) yang biasa disebut tifus

merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella,

khususnya turunannya yaitu Salmonella typhi yang menyerang bagian

saluran pencernaan. Selama terjadi infeksi, kuman tersebut

bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara

berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah (Data Sekunder).

Kriteria Objektif :

Kasus : Apabila responden menderita demam


tifoid.
Kontrol : Apabila responden tidak menderita
demam tifoid.
2. Kepadatan Lalat

Kepadatan lalat adalah jumlah lalat yang tertangkap dengan

menggunakan fly grill yang diukur selama 30 detik.

Menurut buku petunjuk Depkes RI (2000) pemberantasan lalat

penghitungan kepadatan lalat menggunakan fly grill sudah mempunyai

angka recommendation control yaitu:


67

a. Tinggi : 6 – 20 ekor/fly grill Populasi padat dan

perlu pengamatan lalat dan bila mungkin

direncanakan tindakan pengendaliannya

[tinggi]

b. Sedang : Apabila 3-5 ekor/fly grill Perlu dilakukan

pengamatan terhadap tempat-tempat

berkembang biak lalat (tumpukan

sampah, kotoran hewan, dan lain-lain)

[sedang]

3. Jarak Pemukiman

Jarak pemukiman adalah jarak antara RPH Kota Kendari dengan

rumah warga disekitar wilayah RPH Kota Kendari yang diukur

dengan satuan meter. (Assambo, 2014)

Kriteria Objektif:

Dekat : Jarak RPH dengan pemukiman dalam radius 0 – 500 m

Jauh : Jarak RPH dengan pemukiman dalam radius 500 - ≤1000 m

4. Sanitasi Perumahan

Sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan suatu lingkungan

yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air

bersih dan sebaginya (Notoadmojo, 2003)


68

Sanitasi perumahan adalah upaya masyarakat sekitar dalam hal

menjaga kebersihan dan kesehatan perumahan agar terhindar dari

vektor dan penyakit yang berasal dari lingkungan.

Sanitasi sarana perumahan yang memenuhi syarat meliputi

aspek lantai, SPAL, sarana jamban. Rumah sehat juga harus memiliki

sarana pembuangan sampah (Kepmenkes No.

829/Menkes/SK/VII/1999).

Kriteria Objektif:

Tidak memenuhi syarat : Apabila nilai total hasil observasi <334

Memenuhi syarat : Apabila nilai total hasil observasi ≥334

5. Personal Higiene

Personal higiene atau kebersihan perorangan adalah suatu

tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk

kesejahteraan fisik dan psikis. (Potter, 2005; Stassi 2005; dan Irianto

2007).

Personal higiene yang memenuhi syarat meliputi :

a. Mandi dan memakai sabun 2 kali dalam sehari

b. Memotong kuku 1 kali dalam seminggu.

c. Menggosok gigi 2 kali dalam sehari (sesudah makan dan sebelum

tidur).

d. Mencuci rambut menggunakan shampo 2 kali dalam seminggu.


69

e. Mencuci tangan setelah memegang kotoran atau yang

mengandung kuman penyakit, selalu tangan langsung menyentuh

mata, hidung, mulut, makanan serta minuman.

Kriteria Objektif:

Tidak memenuhi syarat : apabila salah satu hasil pemenuhan

persyaratan tidak terpenuhi.

Memenuhi syarat : apabila hasil pemenuhan persyaratan

personal higiene terpenuhi semua.

E. Instrumen Pengumpulan Data

Alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat

pada tabel dibawah ini.

No. Alat dan Bahan Fungsi

1. Global Positioning System Menentukan lokasi rumah yang

(GPS) Merek Garmin 76CS & masuk dalam jarak dekat dan jauh

Google Earth

2. Fly Grill & Hand Counter Mengukur tingkat kepadatan lalat

di pemukiman sekitar RPH

3. Stopwatch Sebagai alat bantu mengukur

waktu lalat saat hinggap di fly grill

4. Kuisioner, tabel pencatatan Sebagai alat pengumpulan data

tingkat kepadatan lalat, lembar primer responden

observasi
70

F. Cara Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang langsung diambil atau diperoleh dari

responden dengan menggunakan kuisioner, observasi dan pengukuran

langsung di perumahan sekitar rumah pemotongan hewan.

Diperoleh secara langsung pada saat kegiatan dilaksanakan,

meliputi:

a. Penentuan sampel dengan menggunakan Global Positioning System

(GPS) untuk melihat jarak RPH dengan perumahan yang tergolong

dekat (0 - ≤500 m) dan jauh (>500 m - ≤1000 m) kemudian dilihat

dengan menggunakan aplikasi Google Earth.

b. Pengamatan pengukuran kepadatan lalat dilakukan dengan cara : Fly

grill ditempatkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan pada

daerah yang akan diukur. Fly grill dibiarkan sebentar agar lalat bisa

beradaptasi. Setelah itu pengukuran dimulai, setiap lalat yang hinggap

pada fly grill dihitung dengan menggunakan hand counter dan dihitung

selama 30 detik dengan menggunakan stopwatch. Sedikitnya pada

setiap lokasi dilakukan 10 kali perhitungan per 30 detik dan 5

perhitungan yang tertinggi dibuat rata-ratanya dan dicatat.

Jumlah 5 angka tertinggi


𝑅𝑢𝑚𝑢𝑠 𝐾𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑙𝑎𝑡 =
5

c. Pengamatan (observasi) dan pengisian kuisioner mengenai sanitasi

perumahan.
71

2. Data Sekunder

Diperoleh dari hasil wawancara dengan kepala RPH, Ketua RT

dan kelurahan meliputi:

a. Luas wilayah

b. Jumlah KK/jiwa

c. Lokasi

G. Pengolahan Data, Analisis Data dan Penyajian Data

1. Pengolahan Data

Pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

tabulating, yaitu memasukkan data yang telah dikelompokkan kedalam

tabel.

2. Analisis Data

Adapun analisis yang digunakan yaitu :

a. Analisa Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran

umum variabel yang diteliti.

b. Analisa Bivariat

Analisis bivariat dilakukan dengan pengujian hipotesis yang

diuji (Ho) atau hipotesisi null, dilakukan untuk membandingkan

antaaraa kasus dan control Ho. Faktor- faaktor risiko digunakan uji

statistic Odds Ratio (OR) (Heru,2008). Pada penelitian kasus control

yang dapat dinilai adalah berapa seringnya terdapat pajanan pada

kasus dibandingkan pada control, yaitu dengan menghitung OR kasus


72

control dapat dihutung dengan menggunakan tabel 2x2

(Sastroasmoro, 2010) :

Untuk lebih jeelasnya dapat dilihat pada tabel :

Tabel 4. Tabel Kontingensi 2 x 2

Kasus Kontrol Jumlah


Faktor Risiko (+) a b a+b
Faktor risiko (-) c d c+d
Jumlah a+c b+d a+b+c+d
Keterangan :

a = Jumlah kasus mengalami pajanan


b = Jumlah kontrol mengalami pajanan
c = Jumlah kasus yang tidak mengalami pajanan
d = Jumlah kontrol yang tidak mengalami pajanan

Pada penelitian kasus kontrol dimulai dengan mengambil

kelompok kasus (a+b) dan kelompok kontrol (b+d) oleh karena kasus

adalah subyek yang sudah sakit dan kontrol adalah mereeka yang

tidak sakit maka tidak dapaat dihitung insiden penyaakit baik pada

kasus maupun kontrol. Hal dapat dinilai adalah berapa sering terdapat

pajanan pada kasus dibandingkan pada kontrol, inilah yang menjadi

alat analisis pada studi kasus kontrol, yang disebut rasio odds (OR)

(Sastroasmoro dan Sofyan, 2010)

𝑎𝑑
Odds ratio =
𝑏𝑐

Interpretasi hasil OR (Riyanto, 2011) :

1) Bila OR > 1 dan rentang CI tidak mencakup nilai 1, maka

variabel penelitian merupakan faktor risiko


73

2) Bila OR < 1 dan rentang CI tidak mencakup nilai 1, maka

variabel penelitian merupakan faktor protektif

3) Bila OR < 1 atau OR > 1 dan rentang CI mencakup nilai 1,

maka variabel penelitian bukan merupakan faktor risiko maupun

faktor protektif

4) Bila OR = 1 maka variabel penelitian bukan merupakan faktor

risiko

Untuk interpretasi nilai p value dapat dilihat sebagai berikut :

a) nilai p < 0,05 maka variabel penelitian merupakan faktor risiko

yang berhubungan

b) Jika nilai p > 0,05 maka variabel penelitian bukan merupakan

faktor risiko yang berhubungan

3. Penyajian Data

Penyajian data disajikan dalam bentuk tabel yang dinarasikan.