Anda di halaman 1dari 52

10

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Personal Higiene

1. Definisi

Menurut Wartonah (2003), personal higiene berasal dari bahasa

yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan higiene berarti sehat.

Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara

kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.

Menurut Potter (2005), personal higiene adalah suatu tindakan

untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk

kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi

dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk

dirinya.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Higiene

Menurut Wartonah (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi

personal higiene adalah:

a. Body image, yaitu gambaran individu terhadap dirinya yang

mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan

fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.

b. Praktik sosial, yaitu pada anak – anak selalu dimanja dalam

kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola

personal higiene.
11

c. Status sosial ekonomi, yaitu personal higiene memerlukan alat dan

bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang

semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.

d. Pengetahuan, yaitu pengetahuan mengenai personal higiene sangat

penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan.

Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga

kebersihan kakinya.

e. Budaya, yaitu pada sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu

tidak boleh mandi.

f. Kebiasaan seseorang, yaitu ada kebiasaan orang yang menggunakan

produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun,

sampo dan lain – lain.

g. Kondisi fisik atau psikis, yaitu pada keadaan tertentu atau sakit

kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk

melakukannya.

3. Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Personal Higiene

Dampak yang akan timbul jika personal higiene kurang adalah

(Wartonah, 2003):

a. Dampak fisik, yaitu gangguan fisik yang terjadi karena adanya

gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak

terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, adalah gangguan

yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan


12

membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan

fisik pada kuku.

b. Dampak psiko sosial, yaitu masalah-masalah sosial yang berhubungan

dengan personal higiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman,

aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

4. Tanda dan Gejala

Menurut Departemen Kesehatan RI (2000), tanda dan gejala

individu dengan kurang perawatan diri adalah:

a. Fisik

1) Badan bau dan pakaian kotor

2) Rambut dan kulit kotor

3) Kuku panjang dan Gigi kotor disertai mulut bau

4) Penampilan tidak rapi

b. Psikologis

1) Malas dan tidak ada inisiatif

2) Menarik diri atau isolasi diri

3) Merasa tak berdaya , rendah diri dan merasa hina

c. Sosial

1) Interaksi kurang

2) Kegiatan kurang

3) Tidak mampu berperilaku sesuai norma


13

5. Pemeliharaan dalam Personal Higiene

Pemeliharaan personal higiene diperlukan untuk kenyamanan

individu, keamanan dan kesehatan (Potter, 2005). Personal higiene

meliputi:

a. Kebersihan Kulit

Kebersihan kulit merupakan cerminan kesehatan yang paling

pertama memberikan kesan. Oleh karena itu perlu memelihara kulit

sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan kulit tidak dapat terlepas dari

kebersihan lingkungan, makanan yang dimakan serta kebiasaan hidup

sehari-hari. Dalam memelihara kebersihan kulit kebiasaan-kebiasaan

yang sehat harus selalu diperhatikan adalah menggunakan barang-

barang keperluan sehari-hari milik sendiri, mandi minimal 2 kali

sehari, mandi memakai sabun, menjaga kebersihan pakaian, makan

yang bergizi terutama banyak sayur dan buah, dan menjaga kebersihan

lingkungan.

b. Kebersihan Rambut

Rambut yang terpelihara dengan baik akan membuat bersih

dan indah sehingga akan menimbulkan kesan bersih dan tidak berbau.

Dengan selalu memelihara kebersihan ramibut dan kulit kepala, maka

perlu memperhatikan kebersihan rambut dengan mencuci rambut

sekurang-kurangnya 2 kali seminggu, mencuci rambut memakai

sampo/bahan pencuci rambut lainnya, dan sebaiknya menggunakan

alat-alat pemeliharaan rambut sendiri.


14

c. Kebersihan Gigi

Menggosok gigi dengan teratur dan baik akan menguatkan dan

membersihkan gigi sehingga terlihat bersih. Hal-hal yang perlu

diperhatikan dalam menjaga kesehatan gigi adalah menggosok gigi

secara benar dan teratur dianjurkan setiap sehabis makan, memakai

sikat gigi sendiri, menghindari makan-makanan yang merusak gigi,

membiasakan makan buah-buahan yang menyehatkan gigi dan

memeriksa gigi secara teratur.

d. Kebersihan Telinga

Hal yang diperhatikan dalam kebersihan telinga adalah

membersihkan telinga secara teratur, dan tidak mengorek-ngorek

telinga dengan benda tajam.

e. Kebersihan Tangan, Kaki, dan Kuku

Seperti halnya kulit, tangan kaki, dan kuku harus dipelihara

dan ini tidak terlepas dari kebersihan lingkungan sekitar dan kebiasaan

hidup sehari-hari. Tangan, kaki, dan kuku yang bersih menghindarkan

kita dari berbagai penyakit. Kuku dan tangan yang kotor dapat

menyebabkan bahaya kontaminasi dan menimbulkan penyakit-

penyakit tertentu. Untuk menghindari bahaya kontaminasi maka harus

membersihkan tangan sebelum makan, memotong kuku secara teratur,

membersihkan lingkungan, dan mencuci kaki sebelum tidur.


15

6. Hal-Hal yang Mencakup Personal Higiene

Kegiatan-kegiatan yang mencakup personal higiene adalah:

a. Mandi

Mandi merupakan bagian yang penting dalam menjaga

kebersihan diri. Mandi dapat menghilangkan bau, menghilangkan

kotoran, merangsang peredaran darah, memberikan kesegaran pada

tubuh. Sebaiknya mandi dua kali sehari, alasan utama ialah agar tubuh

sehat dan segar bugar. Mandi membuat tubuh kita segar dengan

membersihkan seluruh tubuh kita (Stassi, 2005).

Menurut Irianto (2007), urutan mandi yang benar adalah seluruh

tubuh dicuci dengan sabun mandi. Oleh buih sabun, semua kotoran

dan kuman yang melekat mengotori kulit lepas dari permukaan kulit,

kemudian tubuh disiram sampai bersih, seluruh tubuh digosok hingga

keluar semua kotoran atau daki. Keluarkan daki dari wajah, kaki, dan

lipatan- lipatan. Gosok terus dengan tangan, kemudian seluruh tubuh

disiram sampai bersih sampai kaki.

b. Perawatan mulut dan gigi

Mulut yang bersih sangat penting secara fisikal dan mental

seseorang. Perawatan pada mulut juga disebut oral higiene. Melalui

perawatan pada rongga mulut, sisa-sisa makanan yang terdapat di

mulut dapat dibersihkan. Selain itu, sirkulasi pada gusi juga dapat

distimulasi dan dapat mencegah halitosis (Stassi, 2005).


16

Maka penting untuk menggosok gigi sekurang-kurangnya 2 kali

sehari dan sangat dianjurkan untuk berkumur-kumur atau menggosok

gigi setiap kali selepas kita makan (Sharma, 2007).

Kesehatan gigi dan rongga mulut bukan sekedar menyangkut

kesehatan di rongga mulut saja. Kesehatan mencerminkan kesehatan

seluruh tubuh. Orang yang giginya tidak sehat, pasti kesehatan dirinya

berkurang. Sebaliknya apabila gigi sehat dan terawat baik, seluruh

dirinya sehat dan segar bugar. Menggosok gigi sebaiknya dilakukan

setiap selesai makan. Sikat gigi jangan ditekan keras-keras pada gigi

kemudian digosokkan cepat-cepat. Tujuan menggosok gigi ialah

membersihkan gigi dan seluruh rongga mulut. Dibersihkan dari sisa-

sisa makanan, agar tidak ada sesuatu yang membusuk dan menjadi

sarang bakteri (Irianto, 2007).

c. Cuci tangan

Tangan adalah anggota tubuh yang paling banyak berhubungan

dengan apa saja. Kita menggunakan tangan untuk menjamah makanan

setiap hari. Selain itu, sehabis memegang sesuatu yang kotor atau

mengandung kuman penyakit, selalu tangan langsung menyentuh

mata, hidung, mulut, makanan serta minuman. Hal ini dapat

menyebabkan pemindahan sesuatu yang dapat berupa penyebab

terganggunya kesehatan karena tangan merupakan perantara

penularan kuman (Irianto, 2007).


17

Berdasarkan penelitan WHO dalam National Campaign for

Handwashing with Soap (2007) telah menunjukkan mencuci tangan

pakai sabun dengan benar pada 5 waktu penting yaitu sebelum makan,

sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki

anak, dan sebelum menyiapkan makanan dapat mengurangi angka

kejadian penyakit sampai 40%. Cuci tangan pakai sabun dengan benar

juga dapat mencegah penyakit menular lainnya seperti tifus dan flu

burung.

Langkah yang tepat cuci tangan pakai sabun adalah seperti

berikut (National Campaign for Handwashing with Soap, 2007):

1) Basuh tangan dengan air mengalir dan gosokkan kedua

permukaan tangan dengan sabun secara merata, dan jangan

lupakan sela-sela jari.

2) Bilas kedua tangan sampai bersih dengan air yang mengalir.

3) Keringkan tangan dengan menggunakan kain lap yang bersih dan

kering.

d. Membersihkan Pakaian

Pakaian yang kotor akan menghalangi seseorang untuk terlihat

sehat dan segar walaupun seluruh tubuh sudah bersih. Pakaian banyak

menyerap keringat, lemak dan kotoran yang dikeluarkan badan.

Dalam sehari saja, pakaian berkeringat dan berlemak ini akan berbau

busuk dan menganggu. Untuk itu perlu mengganti pakaian dengan

yang besih setiap hari. Saat tidur hendaknya kita mengenakan pakaian
18

yang khusus untuk tidur dan bukannya pakaian yang sudah dikenakan

sehari-hari yang sudah kotor. Untuk kaos kaki, kaos yang telah

dipakai 2 kali harus dibersihkan. Selimut, sprei, dan sarung bantal

juga harus diusahakan supaya selalu dalam keadaan bersih sedangkan

kasur dan bantal harus sering dijemur (Irianto, 2007).

7. Tujuan Personal Higiene

Menurut Wartonah (2003), tujuan dari personal higiene adalah

untuk meningkatkan derajat kesehatan, memelihara kebersihan diri,

memperbaiki personal higiene yang kurang, mencegah penyakit,

menciptakan keindahan, dan meningkatkan rasa percaya diri.

B. Tinjuan Umum Tentang Sanitasi Lingkungan

1. Pengertian Sanitasi lingkungan

Winslow, seperti yang disitasi oleh Notoatmodjo, (2007) membuat

batasan kesehatan masyarakat yaitu: ilmu dan seni mencegah penyakit,

memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui usaha-

usaha pengorganisasian masyarakat salah satunya adalah untuk perbaikan

sanitasi lingkungan.

Sanitasi lingkungan adalah bagian dari kesehatan lingkungan, yang

meliputi cara dan usaha individu atau masyarakat untuk mengontrol dan

mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi

kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia

(Chandra, 2006).
19

Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan

manusia melalui pengelolaan, pengawasan dan pencegahan faktor-faktor

lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Pada

hakekatnya kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi atau keadaan

lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap

terwujudnya status kesehatan yang tinggi (Handaja, 2005).

Penyakit adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi dan/

atau morfologi suatu organ dan/ atau jaringan tubuh manusia. Kejadian

penyakit merupakan hasil hubungan interaktif antara manusia dan

perilaku serta komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya

penyakit. Proses kejadian penyakit dapat pula disebut sebagai

patogenesis penyakit (Achmadi, 2008).

2. Higiene dan Sanitasi Lingkungan

Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan

yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyedian air bersih

dan sebagainya (Notoadmodjo,2007). Banyak sekali permasalahan

lingkungan yang harus dihadapi dan sangat mengganggu terhadap

tercapainya kesehatan lingkungan.Kesehatan lingkungan bisa berakibat

positif terhadap kondisi elemen-elemen hayati dan non hayati dalam

ekosistem.Bila lingkungan tidak sehat maka sakitlah elemennya, tapi

sebaliknya jika lingkungan sehat maka sehat pulalah ekosistem

tersebut.Perilaku yang kurang baik dari manusia telah mengakibatkan

perubahan ekosistem dan timbulnya sejumlah masalah sanitasi.


20

3. Sanitasi Lingkungan Pemukiman

Kesehatan perumahan dan lingkungan permukiman adalah kondisi

fisik, kimia, dan biologi di dalam rumah, di lingkungan rumah dan

perumahan sehingga memungkinkan penghuni mendapatkan derajat

kesehatan yang optimal. Persyaratan kesehatan perumahan dan

permukiman adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib di penuhi

dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di

perumahan atau masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan

(Soedjadi, 2005).

4. Sarana Air Bersih

Air merupkakan suatu sarana untuk menigkatkan derajat kesehatan

masyarakat karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam

penularan penyakit (Slamet, 2004).

Menurut Notoatmodjo (2003), penyediaan air bersih harus

memenuhi persyaratan yaitu :

a. Syarat fisik : persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah

bening, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.

b. Syarat bakteriologis : air merupakan keperluan yang sehat yang harus

bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen.

c. Syarat kimia : air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu

dalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu

zat kimia didalam air, akan menyebabkan gangguan fisiologis pada

manusia.
21

Menurut Chandra (2006), Penyakit-penyakit yang berhubungan

dengan air dapat dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan cara

penularannya. Mekanisme penularan penyakit terbagi menjadi empat:

a. Waterborne mechanism

Di dalam mekanisme ini, kuman patogen dalam air yang

dapat menyebabkan penyakit pada manusia ditularkan kepada

manusia melalui mulut atau sistem pencernaan. Contoh penyakit

yang ditularkan melalui mekanisme ini antara lain kolera, tifoid,

hepatitis viral, disentri basiler, dan poliomyelitis.

b. Waterwashed mechanism

Mekanisme penularan berkaitan dengan kebersihan umum

dan perseorangan. Pada mekanisme ini terdapat tiga cara

penularan, yaitu:

1) Infeksi melalui alat pencernaan, seperti diare pada anak-anak.

2) Infeksi melalui kulit dan mata.

3) Penularan melalui binatang pengerat seperti pada penyakit

leptospirosis.

c. Water-based mechanism

Penyakit ini ditularkan dengan mekanisme yang memiliki

agent penyebab yang menjalani sebagian siklus hidupnya di dalam

tubuh vektor atau sebagai intermediate host yang hidup di dalam

air. Contohnya skistosomiasis dan penyakit akibat

Dracunculucmedinensis.
22

d. Water-related insect vector mechanism

Agent penyakit ditularkan melalui gigitan serangga yang

berkembang biak di dalam air. Contoh penyakit dengan mekanisme

penularan sepert ini adalah filariasis, dengue, malaria, dan yellow

fever. Kelompok kehidupan di dalam air memiliki faktor-faktor

biotis yaitu terdiri dari bakteria, fungi atau jamur, mikroalge atau

ganggang-mikro, protozoa atau hewan bersel tunggal, dan virus.

Kehadiran mikroba di dalam air, mungkin akan mendatangkan

keuntungan, tetapi juga mendatangkan kerugian dan menghasilkan

toksin seperti yang hidup anaerobik seperti Clostridium, yang

hidup aerobik seperti Pseudomonas, Salmonella, Staphylococcus,

dan sebagainya.

Menurut Chandra (2006), Berdasarkan letak sumbernya, air

dapat dibagi menjadi air angkasa (hujan), air permukaan, dan air

tanah.

1.) Air Angkasa

Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di

bumi. Walau pada saat presipitasi merupakan air yang paling

bersih, air tesebut cenderung mengalami pencemaran ketika

berada di atmosfer. Pencemaran yang berlangsung di atmosfer

itu dapat disebabkan oleh partikel debu, mikroorganisme, dan

gas, misalnya, karbon dioksida, nitrogen, dan ammonia.


23

2.) Air Permukaan

Air permukaan yang meliputi badan-badan air seperti

sungai, danau, telaga, waduk, raw, terjun, dam sumur

permukaan, sebagian berasal dari air hujan yang jatuh ke

permukaan bumi. Air hujan tersebut kemudian akan mengalami

pencemaran baik oleh tanah, sampah maupun lainnya.

3.) Air Tanah

Air tanah (ground water) berasal dari air hujan jatuh ke

permukaan bumi yang kemudian mengalami perkolasi atau

penyerapan ke dalam tanah dan mengalami proses filtrasi secara

alamiah. Proses-proses yang telah dialami air hujan tersebut, di

dalam perjalanannya ke bawah tanah, membuat air tanah

menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingakan air

permukaan.

5. Sarana Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Air limbah adalah sisa air yang di buang yang berasal dari rumah

tangga, industri dan pada umumya mengandung bahan atau zat yang

membahayakan. Sesuai dengan zat yang terkandung didalam air limbah,

maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan

gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah

sebagai media penyebaran penyakit (Notoadmodjo, 2003).

Keadaan saluran pembuangan air limbah yang tidak mengalir lancar,

dengan bentuk SPAL yang tidak tertutup dibanyak tempat sehingga air
24

limbah menggenang ditempat terbuka berpotensi sebagai tempat

berkembang biak vektor dan bernilai negatif dari aspek estetika (Soejadi,

2003).

6. Pengelolaan Sampah

Sampah sebaiknya dibuang di tempat pembuangan akhir untuk

dikelola lebih lanjut. Untuk sampai ke tempat pembuangan akhir tentunya

perlu mekanisme penanganan yang terpadu. Bermula dari sampah yang

dikumpulkan di rumah kemudian dibuang di tempat pembuangan

sementara yang selanjutnya di angkut ke tempat pembuangan akhir untuk

dikelola lebih lanjut. Bagi permukiman yang dapat dijangkau pelayanan.

Dinas Kebersihan setempat tidak menjadi masalah yang berarti, cukup

membayar retribusi sampah dan kumpulkan sampah di TPS, maka sampah

akan sampai di tempat pembuangan akhir untuk dikelola lebih lanjut.

Bagi permukiman yang belum dapat dijangkau oleh pelayanan

Dinas Kebersihan, sebaiknya agar pemukiman terhindar dari hal hal yang

tak diharapkan akibat dampak sampah, maka sudah saatnya memiliki

layanan pembuangan sampah sendiri. Hal ini tentunya dapat diusulkan ke

Pemerintahan Desa/Kelurahan, yang penting adanya potensi yang

mendukung untuk lancarnya pengelolaan sampah yang baik memenuhi

syarat kesehatan. Dimulai dengan skala kecil, misalnya melayani hanya

beberapa wilayah RT atau RW yang penting ada komitmen antara warga

dan Pemerintahan setempat. Adapun potensi tersebut adalah :

1) Adanya petugas pelaksana


25

2) Sarana pengangkut : gerobak sampah atau mobil sampah.

3) Jalan yang memadai untuk angkutan gerobak sampah/mobil sampah.

4) Adanya komitmen antara warga dan pemerintahan setempat.

5) Sumber dana untuk operasional : Bisa dihimpun melalui iuran sampah.

6) Adanya lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir

7) Bila perlu lahan untuk Tempat Pengumpul Sementara

Pemusnahan sampah di tempat pembuangan akhir terdiri dari

beberapa jenis kegiatan :

1) Daur ulang : sampah yang masih bisa dimanfaatkan akan didaur

ulang, biasanya bahan plastik, botol, besi tua, kayu dll.

2) Komposting : pembuatan kompos diperuntukkan bagi sampah

organik dengan metode penguraian secara alami akan menghasilkan

kompos yang berguna untuk pertanian.

3) Dibakar : bagi sampah yang kering bisa dibakar

4) Dikubur dengan metode sanitary landfil (Kusnoputranto, 2005).

Jenis-jenis sampah terdiri dari beberapa macam yaitu: sampah

kering, sampah basah, sampah berbahaya beracun ( Pamsimas, 2011).

Sampah kering

a) Sampah kering yaitu: sampah yang tidak mudah membusuk atau

terurai seperti. Gelas, besi plastik.

b) Sampah basah

Sampah basah yaitu: sampah yang mudah membusuk seperti sisa

makanan, sayuran, daun, ranting, dan bangkai binatang


26

c) Sampah berbahaya beracun

Sampah berbahaya beracun yaitu: sampah yang karena sifatnya

dapat membahayakan manusia seperti sampah yang berasal dari

rumah sakit, sampah nuklir, batu baterai bekas.

7. Kondisi Fisik Rumah

Kondisi fisik rumah yang harus dimiliki tiap rumah adalah

memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

a. Ventilasi

Ventilasi adalah sarana untuk memelihara kondisi atmosfer yang

menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia. Suatu ruangan yang

terlalu padat penghuninya dapat memberikan dampak yang buruk

terhadap kesehatan pada penghuni tersebut, untuk itu pengaturan

sirkulasi udara sangat diperlukan (Chandra, 2007).

Lubang penghawaan pada bangunan harus dapat menjamin

pergantian udara didalam kamar atau ruang dengan baik. Luas lubang

penghawaan yang dipersyaratkan minimal 20% dari luas lantai

(Soejadi, 2003).

b. Kelembaban

Kelembaban sangat berperan penting dalam pertumbuhan kuman

penyakit. Kelembaban yang tinggi dapat menjadi tempat yang disukai

oleh kuman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan yang

lembab dapat mendukung terjadinya penularan penyakit (Notoatmodjo,

2007).
27

Persyaratan kesehatan perumahan dari aspek kelembaban udara

ruang, dipersyaratkan ruangan mempunyai tingkat kelembaban udara

yang diperbolehakan antara 40-70%. Tingkat kelembaban yang tidak

memenuhi syarat ditambah dengan prilaku tidak sehat, misalnya dengan

penempatan yang tidak tepat pada berbagai barang dan baju, handuk,

sarung yang tidak tertata rapi, serta kepadatan hunian ruangan ikut

berperan dalam penularan penyakit berbasis lingkungan (Soedjadi,

2003).

c. Pencahayaan

Salah satu syarat rumah sehat adalah tersedianya cahaya yang

cukup, karena suatu rumah yang tidak mempunyai cahaya selain dapat

menimbulkan perasaan kurang nyaman, juga dapat menimbulkan

penyakit (Prabu, 2009).

Pencahayaan alami atau buatan langsung maupun tidak langsung

dapat menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan

tidak menyilaukan juga dapat membunuh kuman patogen, jika

pencahayaan kurang sempurna mengakibatkan ketegangan mata

(Kepmenkes RI,1999).

C. Tinjuan Umum Lalat Tentang Kepadatan Lalat

1. Pengertian Lalat

Lalat merupakan salah satu insekta Ordo diptera yang merupakan

anggota kelas Hexapoda atau insekta mempunyai jumlah genus dan

spesies yang terbesar yaitu mencakup 60-70% dari seluruh spesies


28

Anthropoda. Lalat dapat mengganggu kenyamanan hidup manusia,

menyerang dan melukai hospesnya (manusia atau hewan) serta

menularkan penyakit. Mulutnya digunakan sebagai alat untuk menghisap

atau menjilat (Azwar, 2007).

Lalat merupakan vektor mekanis dari berbagai macam penyakit,

terutama penyakit-penyakit pada saluran pencernaan makanan. Penyakit

yang ditularkan oleh lalat tergantung sepesiesnya. Lalat rumah (Musca

domestica) dapat membawa telur ascaris, spora anthrax dan clostridium

tetani. Lalat dewasa dapat membawa telur cacing usus (Ascaris, cacing

tambang, Trichuris trichiura, Oxyiuris vermicularis, Taenia solium,

Taenia saginata), Protozoa (Entamoeba histolytica), bakteri usus

(Salmonella, Shigella dan Escherichia coli), virus polio, Treponema

pertenue (penyebab frambusia) dan Mycobacterium tuberculosis. Lalat

kecil (Fannia) dapat menularkan berbagai jenis Myasis (Gastric, Intestinal

dan Genitourinary). Lalat kandang (Stomoxys calcitrans) merupakan

vektor penyakit anthrax, tetanus, yellow fever dan traumatic myasis dan

entric pseudomiasis (walaupun jarang). Lalat hijau (Phaenicia) dapat

menularkan Myasis mata, tulang dan organ melalui luka Lalat daging

(Sarcophaga) dapat menularkan Myasis kulit, hidung, jaringan, vagina dan

usus (Depkes RI, 2011).

Dari beberapa jenis lalat tersebut, yang sering ditemukan di

sampah pasar adalah lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau

(Chrysomya megacephala), dan lalat daging (Sarcophaga spp).


29

a. Lalat Rumah (Musca domestica)

Menurut Sucipto (2011) bahwa: “Lalat rumah termasuk family

Muscidae sebarannya diseluruh dunia, berukuran sedang dan panjang

6-8 mm, berwarna hitam keabu-abuan dengan empat garis memanjang

gelap pada bagian dorsal toraks dan satu garis hitam medial pada

abdomen dorsal, matanya pada yang betina mempunyai celah yang

lebih lebar sedangkan lalat jantan lebih sempit, antenanya terdiri dari

tiga ruas, bagian mulut atau proboscis lalat disesuaikan khusus dengan

fungsinya untuk menyerap dan menjilat makanan berupa cairan,

sayapnya mempunyai vena 4 yang melengkung tajam ke arah kosta

mendekati vena 3, ketiga pasang kaki lalat ini ujungnya mempunyai

sepasang kuku dan sepasang bantalan disebut pulvilus yang berisi

kelenjar rambut”.

Pada umumnya siklus hidup dan pola hidup lalat rumah ini

sama dengan siklus dan pola hidup lalat pada umumnya, yakni

memerlukan suhu 30°C untuk hidup dan kelembaban yang tinggi,

tertarik pada warna terang sesuai dengan sifat fototrofiknya,

ukurannya yang berkisar 12-13 mm dan seterusnya. Bedanya dengan

lalat jenis lain yakni terletak pada beberapa bentuk tubuhnya dan

kebiasaannya tinggal.

b. Lalat Hijau (Chrysomya megacephala)

Menurut Sucipto (2011) bahwa “Lalat hijau termasuk kedalam

family Calliphoridae serta terdiri atas banyak jenis, umumnya


30

berukuran dari sedang sampai besar dengan ciri-ciri sebagai berikut :

(1). Warna hijau, abu-abu, perak mengkilat atau abdomen gelap, (2).

Lalat ini berkembang biak di bahan yang cair atau semi cair yang

berasal dari hewan dan jarang berkembang biak di tempat kering atau

bahan buah-buahan, (3). Jantan berukuran panjang 8 mm, mempunyai

mata merah besar, (4). Lalat ini dilaporkan juga membawa telur

cacing Ascaris lumbriocoides, Trichuris trichiura dan cacing kait pada

bagian tubuh luarnya dan pada lambung lalat”.

c. Lalat Daging (Sarcophaga spp)

Menurut Sucipto (2011) bahwa “Lalat daging termasuk dalam

family Sarcophagidae dengan ciri-ciri sebagai berikut : (1). Berwarna

abu-abu tua, berukuran sedang sampai besar, kira-kira 6-14 mm

panjangnya, (2). Lalat ini mempunyai tiga garis gelap pada bagian

dorsal toraks, dan perutnya mempunyai corak seperti papan catur, (3).

Bersifat viviparous dan mengeluarkan larva hidup pada tempat

perkembangbiakannya seperti daging, bangkai, kotoran dan sayuran

yang sedang membusuk, (4). Siklus hidup lalat ini berlangsung 2-4

hari. Lambungnya mengandung telur cacing Ascaris lumbricoides dan

cacing cambuk”.

1. Siklus Hidup Lalat

Lalat adalah insekta yang mempunyai metamorfosa sempurna

dengan stadium telur, larva, kepompong, dan stadium dewasa.

Perkembangan lalat memerlukan waktu antara 7 – 22 hari, tergantung dari


31

suhu dan nutrisi yang tersedia. Lalat betina umumnya dapat menghasilkan

telur pada usia 4 – 8 hari dengan jumlah 75 – 150 butir sekali bertelur.

Semasa hidupnya, seekor lalat bertelur 5 – 6 kali.

a. Telur

Telur diletakan pada bahan-bahan organik yang lembab (sampah,

kotoran binatang, dll) pada tempat yang tidak langsung terkena sinar

matahari. Telur berwarna putih dan biasa menetas setelah 8 – 30 jam,

tergantung dari suhu sekitarnya.

b. Larva

Pada stadium larva terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:

Telur I : telur yang jadi menetas, disebut instar I. berukuran

panjang 2mm, berwarna putih, tidak bermata dan

berkaki sangat reaktif dan ganas terhadap makanan,

setelah 1 – 4 hari melepas kulit dan keluar menjadi

instar II.

Telur II : ukuran besarnya 2 kali instar I, sesudah satu sampai

beberapa hari, kulit mengelupas menjadi instar III

Telur III : larva berukuran 12 mm atau lebih, tingkat ini memakan

waktu 3-9 hari.


32

2. Pupa (Kepompong)

Pada masa kepompong, jaringan tubuh larva berubah menjadi

jaringan tubuh dewasa. Stadium ini berlangsung 3 – 9 hari. Suhu yang

disukai ± 350 C. Setelah stadium ini selesai, keluar lalat muda melalui

celah lingkaran pada bagian anterior.

3. Dewasa

Proses pematangan menjadi lalat dewasa ± 15 jam, setelah itu siap

untuk mengadakan perkawinan. Seluruh waktu yang diperlukan 7 – 22

hari. Tergantung pada suhu setempat, kelembaban, dan makanan yang

tersedia. Jarak terbang efektif adalah 450-900 meter. Lalat tidak kuat

terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang

mencapai 1 km.

4. Pola Hidup Lalat

Adapun pola hidup lalat adalah sebagai berikut (Depkes, 1992):

a. Tempat Perindukan

Tempat yang disenangi lalat adalah tempat basah, benda-benda

organik, tinja, sampah basah, kotoran binatang, tumbuh-tumbuhan

busuk. Kotoran yang menumpuk secara komulatif sangat disenangi

oleh lalat larva lalat, sedangkan yang tercecer yang dipakai sebagai

tempat berkembang biak lalat.

b. Jarak Terbang

Jarak terbang sangat tergantung pada adanya makanan yang

tersedia. Jarak terbang efektif adalah 450-900 meter. Lalat tidak kuat
33

terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang

mencapai 1 km.

c. Kebiasaan Makan

Lalat dewasa sangat aktif sepanjang hari, dari makanan yang

satu ke makanan yang lain. Lalat sangat tertarik pada makanan yang

dimakan oleh manusia sehari-hari, seperti gula, susu dan makanan

lainnya, kotoran manusia serta darah. Sehubungan dengan bentuk

mulutnya, lalat hanya makan dalam bentuk cair atau makan yang

basah, sedangkan makanan yang kering dibasahi oleh ludahnya

terlebih dahulu lalu dihisap.

d. Tempat Istirahat

Pada siang hari, bila lalat tidak mencari makan mereka akan

beristirahat pada lantai, dinding, langit-langit, jemuran pakaian,

rumput-rumput, kawat listrik, serta tempat-tempat dengan yang tepi

tajam dan permukaannya vertikal. Biasanya tempat istiharat lalat ini

terletak berdekatan dengan tempat makanannya atau tempat

berkembang biaknya, biasanya terlindung dari angin. Tempat istirahat

tersebut biasanya tidak lebih dari 4,5 meter di atas permukaan tanah.

e. Lama Hidup

Pada musim panas, berkisar antara 2 – 4 minggu. Sedangkan

pada musim dingin bisa mencapai 70 hari.


34

f. Temperatur dan Kelembapan

Lalat mulai terbanag pada temperatur 150C dari aktifitas

optimumnya pada temperatur 210C. Pada temperatur di bawah 7,50C

tidak aktif dan diatas 450C terjadi kematian. Sedangkan kelembaban

erat kaitannya dengan temperature setempat.

g. Cahaya

Lalat merupakan serangga yang bersifat fototrofik, yaitu

menyukai cahaya. Pada malam hari tidak aktif, namun dapat aktif

dengan adanya sinar buatan.

5. Pengendalian Lalat

Beberapa metoda dapat dilakukan. Pertama, metoda nonkimiawi.

Metoda ini dikenal sebagai metoda yang ramah lingkungan dan dapat

menurunkan populasi serangga. Salah satu langkahnya, yaitu dengan cara:

Pemulihan lingkungan berupa meningkatkan mutu sanitasi, yaitu

dengan cara mengatasi kelemahan dalam pembuangan sampah,

meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan akan lingkungan

yang bersih serta penataan hunian yang sehat.

Penggunaan bahan fisik: penggunaan bahan fisik dipergunakan

untuk mencegah kontak dengan lalat. Misalnya dengan cara mengatur tata

letak dan rancang bangun rumah tinggal agar tidak mudah lalat masuk ke

dalam. Penggunaan air curtain. Alat ini sering harus dipasang di tempat

umum, misalnya pertokoan, rumah makan, pada pintu masuk. Alat ini
35

mengembus udara yang cukup keras sehingga lalat enggan masuk ke

dalam bangunan (Dinata, 2006).

6. Kepadatan Lalat

a. Kepadatan Lalat

Upaya untuk menurunkan populasi lalat adalah sangat penting,

mengingat dampak yang ditimbulkan. Untuk itu sebagai salah satu

cara penilaian baik buruknya suatu lokasi adalah dilihat dari angka

kepadatan lalatnya. Dalam menentukan kepadatan lalat, pengukuran

terhadap populasi lalat dewasa tepat dan biasa diandalkan daripada

pengukuran populasi larva lalat.

Tujuan dari pengukuran angka kepadatan lalat adalah untuk

mengetahui tentang :

1) Tingkat kepadatan lalat

2) Sumber-sumber tempat berkembang biaknya lalat

3) Jenis-jenis lalat.

Lokasi pengukuran kepadatan lalat adalah yang berdekatan

dengan kehidupan/kegiatan manusia karena berhubungan dengan

kesehatan manusia. (Depkes, 1992).

Kepadatan lalat merupakan parameter keberhasilan

dalampengelolaan sampah. Kepadatan lalat yang tinggi pada

TPA/TPS menandakan bahwa pengelolaan sampah tidak berhasil.

Lalat bersarang danberkembang biak ditempat-tempat dimana terdapat

bahan organik yang melimpah, termasuk dalam sampah.


36

Hubungannya dengan kesehatan lalat merupakan vector penyakit

secara mekanik berbagai macam penyakitsaluran pencernaan.

Pemantauan kepadatan lalat dilakukan dalam perencanaan

pengendalian dan pengelolaan sampah.

Pemantauan kepadatan lalat diperlukan untuk melindungi

masyarakat dari gangguan yang ditimbulkan oleh lalat, maka sasaran

lokasiyang diukur adalah yang berhubungan dengan keberadaan

manusia. Sasaran lokasi yang diukur antara lain:

1) Pemukiman penduduk

2) Tempat-tempat umum (pasar, terminal, rumah makan)

3) Tempat Penyimpanan Sampah Sementara (TPS).

4) Tempat Pembuangan Akhir (TPA)..

D. Tinjuan Umum Tentang Demam Tifoid

1) Pengertian Demam Tifoid

Penyakit demam tifoid (typhoid fever) yang biasa disebut tifus

merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, khususnya

turunannya yaitu Salmonella typhi yang menyerang bagian saluran

pencernaan. Selama terjadi infeksi, kuman tersebut bermultiplikasi dalam

sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran

darah (Algerina, 2008).

Demam tifoid termasuk penyakit menular yang tercantum dalam

Undangundang nomor 6 Tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit

menular ini merupakan penyakit yang mudah menular dan dapat


37

menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah (Sudoyo

A.W., 2010).

Penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui minuman/makanan

yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa

kuman dan biasanya keluar bersama-sama dengan tinja. Transmisi juga

dapat terjadi secara transplasenta dari seorang ibu hamil yang berada

dalam bakteremia kepada bayinya. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala

demam yang berlangsung lama, perasaan lemah, sakit kepala, sakit perut,

gangguan buang air besar, serta gangguan kesadaran yang disebabkan oleh

bakteri Salmonella typhi yang berkembang biak di dalam sel-sel darah

putih di berbagai organ tubuh. Demam tifoid dikenal juga dengan sebutan

Typhus abdominalis, Typhoid fever, atau enteric fever. Istilah tifoid ini

berasal dari bahasa Yunani yaitu typhos yang berarti kabut, karena

umumnya penderita sering disertai gangguan kesadaran dari yang ringan

sampai yang berat (Soedarno et al, 2008).

2) Etiologi

Penyakit demam tifoid disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella

typhosa atau Ebethella typhosa yang merupakan kuman gram negatif,

motil, dan tidak menghasilkan spora. Kuman ini dapat hidup baik sekali

pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang sedikit lebih rendah, serta

mati pada suhu 70°C ataupun oleh antiseptic. Sampai saat ini, diketahui

bahwa kuman ini hanya menyerang manusia (Rampengan, 2007).


38

Salmonella typhi dapat bertahan hidup lama di lingkungan kering dan

beku, peka terhadap proses klorinasi dan pasteurisasi pada suhu 63°C.

Organisme ini juga mampu bertahan beberapa minggu di dalam air , es,

debu, sampah kering dan pakaian, mampu bertahan di sampah mentah

selama satu minggu dan dapat bertahan dan berkembang biak dalam susu,

daging, telur atau produknya tanpa merubah warna atau bentuknya

(Soegeng S, 2002).

Penyebab demam tifoid adalah Salmonella typhi, terdapat di seluruh

dunia dengan reservoir manusia pula. Salmonella keluar bersama tinja atau

urine, memasuki lingkungan dan berkesempatan menyebar. Kuman typhus

dapat bertahan cukup lama didalam lingkungan air (Slamet, 2006).

Salmonella mempunyai daya tahan yang berbeda-beda pada

habitatnya. Seperti feses atau tinja, Salmonella akan bertahan hidup 8 hari

sampai 5 bulan umumnya 30 hari, pada air steril 15 sampai 25 hari, air

saluran 4 sampai 7 hari, air sungai 1 sampai 4 hari, air selokan 2 hari, pada

bahan makanan sayuran dan buah 15-40 hari tetapi umumnya 20 hari

(Unus, 2006).

3) Epidemiologi

Demam tifoid menyerang penduduk di semua negara. Seperti

penyakit menular lainnya, tifoid banyak ditemukan di negara

berkembang di mana higiene pribadi dan sanitasi lingkungannya kurang

baik. Prevalensi kasus bervariasi tergantung lokasi, kondisi lingkungan,


39

setempat, dan perilaku masyarakat. Angka insidensi di seluruh dunia

sekitar 17 juta per tahun dengan 600.000 orang meninggal karena

penyakit ini. WHO memperkirakan 70% kematian berada di Asia.

Indonesia merupakan negara endemik demam tifoid. Diperkirakan

terdapat 800 penderita per 100.000 penduduk setiap tahun yang

ditemukan sepanjang tahun (Widoyono, 2011).

Di negara yang telah maju, tifoid bersifat sporadis terutama

berhubungan dengan kegiatan wisata ke negara-negara yang sedang

berkembang. Secara umum insiden tifoid dilaporkan 75% didapatkan

pada umur kurang dari 30 tahun. Pada anak-anak biasanya diatas 1 tahun

dan terbanyak di atas 5 tahun dan manifestasi klinik lebih ringan (Depkes

RI, 2006).

4) Sumber Penularan dan Cara Penularan

Sumber penularan Demam Tifoid atau Tifus tidak selalu harus

penderita tifus. Ada penderita yang sudah mendapat pengobatan dan

sembuh, tetapi di dalam air seni dan kotorannya masih mengandung

bakteri. Penderita ini disebut sebagai pembawa (carrier). Walaupun tidak

lagi menderita penyakit tifus, orang ini masih dapat menularkan penyakit

tifus pada orang lain. Penularan dapat terjadi di mana saja dan kapan

saja, biasanya terjadi melalui konsumsi makanan dari luar, apabila

makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih (Addin, 2009).


40

Di beberapa negara penularan terjadi karena mengkonsumsi

kerangkerangan yang berasal dari air yang tercemar, buah-buahan, sayur

mentah yang dipupuk dengan kotoran manusia, susu atau produk susu

yang terkontaminasi oleh carrier atau penderita yang tidak teridentifikasi

(Chin, 2006).

Prinsip penularan penyakit ini adalah melalui fekal-oral. Kuman

berasal dari tinja atau urin penderita atau bahkan carrier (pembawa

penyakit yang tidak sakit) yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui

air dan makanan. Di daerah endemik, air yang tercemar merupakan

penyebab utama penularan penyakit. Adapun di daerah non-endemik,

makanan yang terkontaminasi oleh carrier dianggap paling bertanggung

jawab terhadap penularan (Widoyono, 2011).

Tifoid carrier adalah seseorang yang tidak menunjukkan gejala

penyakit demam tifoid, tetapi mengandung kuman Salmonella typhosa di

dalam ekskretnya. Mengingat carrier sangat penting dalam hal penularan

yang tersembunyi, maka penemuan kasus sedini mungkin serta

pengobatannya sangat penting dalam hal menurunkan angka kematian

(Rampengan, 2007).

Penularan tipes dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu dikenal

dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/ kuku), Fomitus

(muntah), Fly (lalat), dan Feses. Feses dan muntah dari penderita tifoid

dapat menularkan Salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut


41

dapat ditularkan melalui minuman terkontaminasi dan melalui perantara

lalat, dimana lalat akan hinggap di makanan yang akan dikonsumsi oleh

orang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan

dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman

Salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut,

selanjutnya orang sehat akan menjadi sakit (Akhsin, 2010).

Beberapa kondisi kehidupan manusia yang sangat berperan pada

penularan demam tifoid adalah :

a. Higiene perorangan yang rendah, seperti budaya cuci tangan yang

tidak terbiasa. Hal ini jelas pada anak-anak, penyaji makanan serta

pengasuh anak.

b. Higiene makanan dan minuman yang rendah. Faktor ini paling

berperan pada penularan tifoid. Banyak sekali contoh untuk ini

diantaranya: makanan yang dicuci dengan air yang terkontaminasi

(seperti sayur-sayuran dan buah-buahan), sayuran yang dipupuk

dengan tinja manusia, makanan yang tercemar dengan debu, sampah,

dihinggapi lalat, air minum yang tidak masak, dan sebagainya.

c. Sanitasi lingkungan yang kumuh, dimana pengelolaan air limbah,

kotora dan sampah, yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan.

d. Penyediaan air bersih untuk warga yang tidak memadai.

e. Jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat.

f. Pasien atau karier tifoid yang tidak diobati secara sempurna.


42

g. Belum membudaya program imunisasi untuk tifoid (Depkes RI,

2006).

5) Patogenesis

Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh

manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman

dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus

dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus

kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel dan selanjutnya ke

lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit

oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan

berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque

Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika.

Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam

makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia

pertama yang asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ

retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini

kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di

luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi

darah lagi yang mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya dengan

disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, seperti demam,

malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut (Sudoyo A.W., 2010).
43

6) Gejala Klinis Demam Tifoid

Gejala klinis demam tifoid seringkali tidak khas dan sangat

bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis

demam tifoid tidak khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau yang

ringan berupa panas disertai diare yang mudah disembuhkan sampai

dengan bentuk klinis yang berat baik berupa gejala sistemik panas tinggi,

gejala septik yang lain, ensefalopati atau timbul komplikasi

gastrointestinal berupa perforasi usus atau perdarahan. Hal ini mempersulit

penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja (Hoffman,

2002). Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika

dibanding dengan penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 – 20 hari.

Setelah masa inkubasi maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan

tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat.

Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai

dengan berat, dari asimptomatik hingga gambaran penyakit yang khas

disertai komplikasi hingga kematian (Sudoyo A.W., 2010).

Demam merupakan keluhan dan gejala klinis terpenting yang

timbul pada semua penderita demam tifoid. Demam dapat muncul secara

tiba-tiba, dalam 1-2 hari menjadi parah dengan gejala yang menyerupai

septikemia oleh karena Streptococcus atau Pneumococcus dari pada

S.typhi. Gejala menggigil tidak biasa didapatkan pada demam tifoid tetapi

pada penderita yang hidup di daerah endemis malaria, menggigil lebih

mungkin disebabkan oleh malaria (SudoyoA.W., 2010).


44

Demam tifoid dan malaria dapat timbul secara bersamaan pada

satu penderita. Sakit kepala hebat yang menyertai demam tinggi dapat

menyerupai gejala meningitis, di sisi lain S.typhi juga dapat menembus

sawar darah otak dan menyebabkan meningitis. Manifestasi gejala mental

kadang mendominasi gambaran klinis, yaitu konfusi, stupor, psikotik atau

koma. Nyeri perut kadang tak dapat dibedakan dengan apendisitis.

Penderita pada tahap lanjut dapat muncul gambaran peritonitis akibat

perforasi usus (Sudoyo A.W., 2010).

Gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :

a. Demam

Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu.

Bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu

pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya

menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari.

Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam.

Dalam minggu ketiga suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal

kembali pada akhir minggu ketiga.

b. Gangguan pada saluran pencernaan

Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan

pecahpecah (ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated

tongue), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada

abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus).

Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya


45

didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat

terjadi diare.

c. Gangguan kesadaran

Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa

dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau

gelisah (Sudoyo, A. W., 2010).

7) Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis demam tifoid, dapat ditentukan

melalui tiga dasar diagnosis, yaitu berdasar diagnosis klinis, diagnosis

mikrobiologis, dan diagnosis serologis.

a. Diagnosis Klinis Diagnosis klinis adalah kegiatan anamnesis dan

pemeriksaan fisik untuk mendapatkan sindrom klinis demam tifoid.

Diagnosis klinis adalah diagnosis kerja yang berarti penderita telah

mulai dikelola sesuai dengan managemen tifoid (Depkes RI, 2006).

b. Diagnosis Mikrobiologis Metode ini merupakan metode yang paling

baik karena spesifik sifatnya. Pada minggu pertama dan minggu kedua

biakan darah dan biakan sumsum tulang menunjukkan hasil positif,

sedangkan pada minggu ketiga dan keempat hasil biakan tinja dan

biakan urine menunjukkan positif kuat.

c. Diagnosis Serologis Tujuan metode ini untuk memantau antibodi

terhadap antigen O dan antigen H, dengan menggunakan uji aglutinasi

Widal. Jika titer aglutinin 1/200 atau terjadi kenaikan titer lebih dari 4
46

kali, hal ini menunjukkan bahwa demam tifoid sedang berlangsung

akut (Soedarto, 2009).

8) Penatalaksanaan

Penatalaksanaan demam tifoid ada tiga, yaitu

a. Pemberian antibiotik Terapi ini dimaksudkan untuk membunuh

kuman penyebab demam tifoid. Obat yang sering dipergunakan adalah

1. Kloramfenikol 100mg/kg berat badan/hari/4 kali selama 14 hari.

b. Amoksili 100 mg/kg berat badan/hari/4 kali.

c. Kotrimoksazol 480 mg, 2 x 2 tablet selama 14 hari.

d. Sefalosporin generasi II dan III (ciprofloxacin 2 x 500 mg selam 6

hari; ofloxacin 600 mg/hari selama 7 hari; ceftriaxone 4 gram/hari

selama 3 hari).

e. Istirahat dan perawatan Langkah ini dimaksudkan untuk mencegah

terjadinya komplikasi. Penderita sebaiknya beristirahat total ditempat

tidur selama 1 minggu setelah 24 bebas dari demam. Mobilisasi

dilakukan secara bertahap, sesuai dengan keadaan penderita.

Mengingat mekanisme penularan penyakit ini, kebersihan perorangan

perlu dijaga karena ketidakberdayaan pasien untuk buang air besar

dan air kecil.

f. Terapi penunjang dan diet agar tidak memperberat kerja usus, pada

tahap awal penderita diberi makanan berupa bubur saring. Selanjutnya

penderita dapat diberi makanan yang lebih padat dan akhirnya nasi

biasa, sesuai dengan kemampuan dan kondisinya. Pemberian kadar


47

gizi dan mineral perlu dipertimbangkan agar dapat menunjang

kesembuhan penderita (Widoyono, 2011).

9) Pencegahan

Usaha yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini adalah :

a. Dari sisi manusia :

1) Vaksinasi untuk mencegah agar seseorang terhindar dari penyakit

ini dilakukan vaksinasi, kini sudah ada vaksin tipes atau tifoid

yang disuntikan atau diminum dan dapat melindungi seseorang

dalam waktu 3 tahun.

2) Pendidikan kesehatan pada masyarakat : higiene, sanitasi,

personal higiene.

b. Dari sisi lingkungan hidup :

1) Penyediaan air minum yang memenuhi syarat kesehatan

2) Pembuangan kotoran manusia yang higienis

3) Pemberantasan lalat.

4) Pengawasan terhadap masakan dirumah dan penyajian pada

penjual makanan (Zulkoni, 2010).

E. Tinjauan Umum Tentang Rumah Pemotongan Hewan

1. Pengertian Rumah Pemotongan Hewan (RPH)

Rumah pemotongan hewan adalah komplek bangunan dengan

desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan

higieni terstentu serta digunakan sebagai tempat memotong hewan potong

selain unggas bagi konsumsi masyarakat. (SNI 01 – 6159 – 1999).


48

Bangunan utama rumah pemotongan hewan terdiri dari

a. Daerah Kotor

Tempat pemingsanan, temppat pemotongan dan tempat

pengeluaran darah. Tempat penyelesaian proses penyembelihan

(pemisahan kepala, keempat kaki kaki dan tarpus dan karpus,

pengulitan, pengeluaran isi dada dan isi perut). Ruang untuk jeroan,

ruang untuk kepala dan kaki, ruang untuk kulit, tempat pemeriksaan

postmortem.

b. Daerah Bersih

Tempat penimbangan karkas, tempat keluar karkas, jika rumah

pemotongan hewan dilengkapi dengan ruang pendingin/pelayuan,

ruang pembeku, ruang pembagian karkas dan pengemasan daging,

maka ruang-ruang tersebut terletak di daerah bersih (SNI 01 – 6159 –

1999).

2. Syarat-Syarat Rumah Pemotongan Hewan

Syarat rumah pemotongan hewan berdasarkan (SNI 01 – 615 –

1999) yaitu:

a. Persyaratan Lokasi

Tidak bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang

(RUTR), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan/atau Rencana

Bagian Wilayah Kota (RBWK). Tidak berada di bagian kota yang

padat penduduknya serta letaknya lebih rendah dari pemukiman

penduduk, tidak menimbulkan gangguan atau pencemaran


49

lingkungan. Tidak berada dekat industri logam dan kimia, tidak

berada di daerah rawan banjir, bebas dari asap, bau, debu dan

kontaminan lainnya. Memiliki lahan yang relatif datar dan cukup luas

untuk pengembangan rumah pemotongan hewan.

b. Persyaratan Sarana

Rumah pemotongan hewan harus dilengkapi dengan sarana jalan

yang baik menuju rumah pemotongan hewan yang dapat dilalui

kendaraan pengangkut hewan potong dan kendaraan daging. Sumber

air yang cukup dan memenuhi persyaratan SNI 01 – 615 – 1999.

Persediaan air yang minimum harus disediakan yaitu : Sapi, Kerbau,

Kuda dan hewan yang setara beratnya 100 liter/ekor/hari; Babi: 450

liter/ekor/hari. Sumber tenaga listrik yang cukup. Pada rumah

pemotongan hewan babi harys ada persediaan air panas untuk

pencelupan sebelum pengerokan.

Ruang pembagian dan pengemasan karkas terletak di daerah

bersih dan berdekatan dengan ruang pendingin/pelayuan dan ruang

pembeku. Ruang di desain agar tidak ada aliran air atau limbah cair

lainnya dari ruang lain yang masuk kedalam ruang pembagian dan

pengemasan daging. Ruang dilengkapi dengan meja dan fasilitas

untuk memotong karkas dan mengemas daging.

c. Persyaratan Bangunan dan Tata Letak

Kompleks rumah pemtongan hewan harus terdiri dar Knadang

Penampungan Utama danIstirahat, Kandang Isolasi, Kantor


50

administrasi dan Kantor Dokter Hewan, Tempat Istirahat Karyawan,

Kantin dan Mushola, Tempat Penyimpanan Barang Pribadi

(locker)/Ruang Gnati Pakaian, Kamar Mandi dan WC, Saranan

Penanganan Limbah dan Insenerator, Tempat Parkir, Rumah Jaga,

Gardu Listrik, Menara Air.

Kompleks rumah pemotongan hewan harus dipagar sedemikian

rupa sehingga dapat mencegah keluar masuknya orang yang tidak

berkepentingan dan hewan lain selain hewan potong. Pintu masuk

hewan potong harus berpisah dari pintu keluar daging.

Sistem saluran pembuangan limbah cair harus cukup besar,

didesain agar aliran limbah mengalir dengan lancar, terbuat dari bahan

yang mudah dirawat dan dibersihkan, kedap air agar tidak mencemari

tanah, mudah diawasi dan dijaga agar tidak menjadi sarang tikus atau

rodensia lainnya. Saluran pembuagan dilengkapi dengan penyaring

yang mudah diawasi dan dibersihkan.

Di dalam kompleks pemotongan hewan, sistem saluran

pembuangan limbah cair harus selalu tertutup agar tidak menimbulkan

bau. Di dalam bangunan utama, sistem saluran pembuangan limbah

cair terbuka dan dilengkapi dengan grill yang muda dibuka-tutup,

terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah korosif.

d. Syarat peralatan

Seluruh perlengkapan pendukung dan penunjang di rumah

pemotongan hewan harus terbuat dari bahan yang tidak mudah


51

korosif, mudah dibersihkan dan didensifikasi serta mudah dirawat.

Peralatan yang langsung berhubungan dengan daging harus terbuat

dari bahan yang tidak toksik, tidak mudah korosif, mudah dibersihkan

dan didensifeksi serta mudah dirawat.

Di dalam bangunan utama harus dilengkapi dengan sistem rel

(railing system) dan alat penggantung karkas yang didisain khusus

dan disesuaikan dengan alur proses untuk mempermudah proses

pemotongan dan menjaga agar karkas tidak mneyentuh lantai dan

dinding.

Sarana untuk mencuci tangan harus didisain sedemikian rupa

agar tangan tidak menyentuh kran air setelah selesai mencuci tangan,

dilengkapi dengan sabun dan pengering mekanik (hand drier). Jika

menggunakan kertas tissue, maka disedikana pula tempat sampah

tertutup yang dioperasikan dengan menggunakan kaki.

Sarana untuk mencuci tangan disediakan disetiap tahap proses

pemotongan dan diletakkan ditempat yang mudah dijangkau, ditempat

ternak hidup, kantor administrasi dan kantor dokter hewan ruang

instirahat pegawai dan/atau kantin serta kamar mandi/WC.

e. Higiene Karyawan dan Perusahaan

Rumah pemotongan hewan harus memiliki peraturan untuk

semua karyawan dan pengunjung agar pelaksanaa sanitasi dan higiene

rumah pemotongan hewan dan higiene produk tetap terjaga baik.

Setiap karyawan harus sehat dan diperiksa kesehatannya secara rutin


52

minimal satu kali dalam setahun. Setiap karyawan harus mendapat

pelatihan yang berkesinambungan tentang higiene dan mutu. Daerah

kotor atau daerah bersih hanya diperkenankan dimasuki oleh

karyawan yang bekerja di masing-masing tempat tersebut, dokter

hewan dan petugas pemeriksa yang berwenang.

f. Pengawasan Kesehatan Masyarakat Veteriner

Pengawasan kesehatan masyarakat veteriner serta pemeriksaan

antemortem dan postmortem di rumah pemotongan hewan harus

mempunyai tenaga dokter hewan yang bertanggung jawab terhadap

dipenuhinya syarat-syarat dan prosedur pemotongan hewan,

penanganan daging serta sanitasi dan higiene.

g. Kendaraan pengangkut daging

Boks pada kendaraan yang mengangkut daging harus tertutup.

Lapisan dalam boks pada kendaraan pengangkut daging harus terbuat

dari bahan yang tidak toksik, tidak mudah korosif, mudah dibersihkan

dan didensifeksi, mudah dirawat dan mempunyai sifat insulasi yang

baik. Boks dilengkapi dengan alat pendingin yang dapat

mempertahankan suhu bagian dalam daging segar +7°C dan suhu

bagian dalam jeroan +3°C.

h. Persyaratan Ruang Pendingin/Pelayan

Ruang pendingin/pelayuan terletak di daerah bersih. Besarnya

ruang disesuaikan dengan jumlah karkas yang dihasilkan. Konstruksi

bangunan harus memenuhi persyaratan :


53

1) Dinding

Tinggi dinding pada tempat proses pemotongan hewan dan

pengerjaan karkas minimum 3 meter. Dinding bagian dalam

berwarna terang, terbuat dari bahan yang kedap air, memiliki

insulasi yang baik, tidak mudah korosif, tidak toksik, tahan

terhadap benturan keras, mudah dibersihkan dan didensifeksi serta

tidak mudah mengelupas.

2) Lantai

Lantai terbuat dari bahan yang kedap air, tidak mudah korosif,

tidak toksik, tahan terhadap benturan keras, mudah dibersihkan dan

didensifeksi serta tidak mudah mengelupas.

i. Ruang beku

Ruang pembeku terletak di daerah bersih. Besarnya ruang

disesuaikan dengan jumlah karkas yang dihasilkan. Ruang didisain

agar tidak ada aliran atau limbah cair lainnya dari ruang yang masuk

kedalam ruang pendingin/pelayuan. Ruang mempunyai alat pendingin

yang dilengkapi dengan kipas (blast freezer). Suhu dalam ruang

dibawah -18°C dengan kecepatan udara minimum 2 meter per detik.

j. Ruang Pembagian Karkas dan Pengemasan Daging

Ruang pembagian dan pengemasan karkas terletak di daerah

bersih dan berdekatan dengan ruang pendingin/pelayuan dan ruang

pembeku. Ruang didisain agar tidak ada aliran air atau limbah cair

lainnya dari ruang lain yang masuk ke dalam ruang pembagian


54

pengemasan daging. Ruang dilengkapi dengan meja dan fasilitas

untuk memotong karkas dan pengemas daging.

k. Laboratorium

Laboratorium didisain khusus agar persyaratan kesehatan dan

keselamatan kerja. Tata ruang didisain agar dapat menunjang

pemeriksaan laboratorium. Penerangan dalam laboratorium memiliki

intesistas cahaya 540 lux. Lampu harus diberi pelindung.

3. Hubungan RPH dengan Keberadaan Lalat Sebagai Vektor

Rumah pemotongan hewan yang tidak diperhatikan dari segi

kesehatan dan kebersihannya baik pembuangan sampah maupun

pembuangan air kotornya, sangat potensial bagi perkembangan lalat.

Dampak buruknya pengelolahan limbah padat maupun cair di rumah

ppemotongan hewan Kota Kendari akan meningkatkan populasi lalat,

kondisi tersebut berdampak pada masyarakat yang bermikum di

sekitarnya, khususnya warga kelurahan Anggoeya RT 09 RW 04 dan

kelurahan Matabubu RT 01 RW 01 yang berada dekat dengan lokasi

RPH. Diketahui bahwa lalat merupakan vektor penyakit dan mempunyai

kemampuan terbang dalam jarak 1 km (Depkes RI, 2001:2), sehingga

daeraah radius tersebut rawan terhadap serangan penyakit yang

disebabkan lalat. Lalat banyak jenisnya, tetapi paling banyak merugikan

manusia adalah jenis lalat rumah Musca domestica. Lalat ini biasanya

hidup disekitar manusia dan aktivitas-aktivitas manusia. Jenis lalat

penting dilihat dari kesehatan masyarakat, karena dapat menularkan 100


55

jenis patogen yang dapat mengakibatkan penyakit pada manusia (Dantje

T. Sambel, 2009).

Penularan penyakit oleh lalat secara mekanik berlangsung dari

penderita ke orang lain dengan perantara menempelnya bagian luar tubuh

lalat, misalnya: telur cacing, protozoa, virus, dan bakteri yang

dipindahkan dari tinja melalui tubuh lalat/kaki lalat (Sari, 2008).

F. Tinjauan Umum Tentang Penelitian Terdahulu

1. Penealitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2013) dengan judul “Studi

Deskriptif Tingkat Kepadatan Lalat Di Pemukiman Sekitar Rumah

Pemotongan Unggas (Rpu) Penggaron Kelurahan Penggaron Kidul

Kecamatan Pedurungan Kota Semarang”. Tujuan dari penelitian ini

untuk mengetahui tingkat kepadatan lalat di pemukiman sekitar RPU

Penggaron. Hasil penelitian yaitu Tingkat kepadatan lalat di pemukiman

sekitar RPU Penggaron termasuk kategori Rendah (38%). Pemukiman di

Zona I (0-≤ 1000 m) terdapat tingkat kepadatan lalat kategori tinggi

sebesar 65,6%, sedangkan pemukiman di Zona II (> 1000-≤ 2000 m)

terdapat tingkat kepadatan lalat kategori tinggi sebesar 11,6%.

Pemukiman yang tidak memenuhi syarat sanitasi sarana pemukiman

terdapat tingkat kepadatan lalat kategori tinggi sebesar 36,8%, sedangkan

pemukiman yang memenuhi syarat sanitasi sarana pemukiman terdapat

tingkat kepadatan lalat kategori tinggi sebesar 0%. Pemukiman yang

memiliki ternak terdapat tingkat kepadatan lalat kategori tinggi sebesar


56

31,1%, sedangkan pemukiman yang tidak memiliki ternak tingkat

kepadatan lalat kategori tinggi sebesar 29,8%.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Assambo (2014) dengan judul “Gambaran

Kepadatan Lalat Dan Penyakit Berbasis Lingkungan Di Perumahan

Sekitar UPTD Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Kendari Di

Kecamatan Poasia Tahun 2014”. Jenis penelitian yang dilakukan adalah

deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode observasional. Hasil

penelitian ini menunjukkan tingkat kepadatan lalat di perumahan sekitar

UPTD Rumah Pemotongan Hewan Kota kendari sebanyak 22 responden

berada pada kategori sedang, dan 9 responden berada pada kategori

rendah. Tingkat kepadatan lalat kategori tinggi dengan jarak perumahan

dekat (0-≤500m) sebanyak 11 responden, sedangkan jarak perumahan jauh

(<500-≤1000m) sebanyak 2 responden. Tingkat kepadatan lalat kategori

tinggi dengan sanitasi perumahan tidak memenuhi syarat sebanyak 13

responden, dan tidak terdapat responden dengan tingkat kepadatan lalat

kategori tinggi pada sanitasi rumah yang memenuhi syarat. Tingkat

kepadatan lalat dengan kategoeri tinggi pada responden yang memiliki

ternak sebanyak 7 responden, sedangkan responden yang tidak memiliki

ternak sebanyak 6 responden. Prevalensi penyakit berbasis lingkungan

khususnya diare, disentri dan tifoid periode Januari-Juli tahun 2014 di

wilayah kerja Puskesmas Poasia sebanyak 820 kasus.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Artanti (2013) dengan judul “Hubungan

Antara Individu dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja


57

Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun 2012” Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan, higiene

perorangan, dan karakteristik individu dengan kejadian demam tifoid di

Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun 2012.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kasus kontrol. Populasi kasus dari

penelitian ini adalah semua penderita Demam Tifoid pada bulan Januari-

Desember 2011 berdasarkan rekam medik Puskesmas Kedungmundu.

Populasi kontrol bukanlah penderita Demam Tifoid (penderita hipertensi)

pada bulan Januari-Desember 2011 berdasarkan rekam medik Puskesmas

Kedungmundu. Sampel dari penelitian ini yaitu 13 kasus dan 13 kontrol.

Instrumen penelitian berupa kuesioner, lembar observasi dan rollmeter.

Data dianalisis dengan rumus uji Chi-square. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa ada hubungan antara sarana pembuangan tinja

(p=0,047, OR=5,333), kebiasaan mencuci tangan sebelum makan

(p=0,006, OR=11,111), kebiasaan makan di luar rumah (p=0,005,

OR=12,375), jenis kelamin (p=0,018, OR=7,500),

tingkat sosial ekonomi (p=0,016, OR=8,800), dan tidak ada hubungan

antara sarana air bersih (p=0,234), kebiasaan mencuci tangan setelah

buang air besar (p=0,107), kebiasaan mencuci bahan makanan mentah

yang akan dimakan langsung (p=0,116), umur (p=0,420) dengan kejadian

demam tifoid.
58

G. Kerangka Teori

Dari kerangka teori dapat kita jelaskan sampah menurut Pamsimas

2011 sampah itu terbagi atas 3 yaitu : kotoran ternak, sisa makanan, dan

bangkai binatang. Dari 3 kriteria sampah diatas kita ingin tahu hubungannya

dengan rph, sanitasi lingkungan pemukiman, personal higiene dan spal. Disini

juga kita ingin melihat antara hubungan antara rph dengan jarak perumahan.

Sampah juga itu sendiri dapat menyebabkan faktor yang

mempengaruhi perilaku lalat yaitu : kemampuan berkembangbiak, suhu,

pencahayaan, kelembapan, dan sumber makanan, dan kita ingin juga melihat

hubungan dengan kepadatan lalat menurut Depkes RI dengan menggunakan

pengukuran kepadatan lalat. Adapaun cara menghitung kepadatan lalat itu

dengan cara < 2 ekor lalat per block grill berarti belum berpotensi

menyebarkan penyakit sedangkan ≥ 2 ekor lalat per block grill berarti

berpotensi menyebarkan penyakit, yang dimana dapat mempengaruhi derajat

kesehatan dan dapat menyebabkan faktor resiko kejadian tifoid.


59

Sampah

1. Kotoran ternak
2. Sisa makanan Personal Higiene
ternak
RPH Sanitasi Pemukiman
3. Bangkai binatang

Jarak

SPAL

Faktor yang Mempengaruhi


Perilaku Lalat :
Kepadatan Lalat
1. Kemampuan berkembangbiak
2. Suhu
3. Pencahayaan Pengukuran
4. Kelembapan Kepadatan Lalat
5. Sumber Makanan

< 2 ekor Lalat ≥ 2 ekor lalat


Per Black Grill per Block Grill

Jenis bakteri
Belum berpotensi Berpotensi
Tifoid (sebagai
menyebarkan menyebarkan
vektor pembawa
penyakit penyakit
Salmonella typhi)

Mempengaruhi
derajat kesehatan

Kejadian Tifoid

Gambar 1. Kerangka Teori (Dimodifikasi Depkes RI, 2000; Depkes RI 2001;

Depkes RI, 2005; Assambo, 2014)


60

H. Kerangka Konsep

Lalat membawa bakteri pada tubuh dan kaki-kakinya dan membuang

kotorannya diatas makanan, sehingga makanan menjadi tercemar oleh lalat.

Lalat erat hubungannya dengan lingkungan dimana lalat akan berkembang biak

dengan cepat apabila lingkungan mendukung atau lingkungan yang tidak

memenuhi syarat kesehatan dan sebaliknya lalat akan berkurang apabila

tercipta lingkungan yang tidak memberikan suatu bentuk kehidupan lalat yaitu

keadaan lingkungan yang bersih, sejuk dan kering (Depkes RI, Dirjen P2MPL,

2001).

- Kepadatan Lalat

- Sanitasi
Lingkungan
Demam
Tifoid
- Jarak Pemukiman
RPH

- Personal Higiene

Keterangan : = Variabel Bebas

= Variabel Terikat

Gambar 2. Kerangka Konsep


61

I. Hipotesis

Adapun hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Ho : Tidak ada hubungan antara kepadatan lalat dengan kejadian

tifoid.

Ha : Ada hubungan antara kepadatan lalat dengan kejadian

tifoid.

b. Ho: Tidak ada hubungan antara sanitasi lingkungan dengan

kejadian tifoid.

Ha: Ada hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian

tifoid.

c. Ho : Tidak ada hubungan antara jarak pemukiman dengan

kejadian tifoid.

Ha : Ada hubungan antara jarak pemukiman dengan kejadian

tifoid.

d. Ho : Tidak ada hubungan antara personal higiene dengan

kejadian tifoid.

Ha : Ada hubungan anatara personal higiene dengan kejadian

tifoid.