Anda di halaman 1dari 69

PERENCANAAN JARINGAN

Perencanaan untuk membuat konstruksi SUTM, SUTR, GTT dan gardu khusus
pada system TM/TM/TR untuk indusri dan perumahan dinasnya dengan data :
a) Data industri
1) Tarif multiguna.
2) Daya 1000 KVA.
3) Gardu khusus / tembok.
b) Data perumahan.
1) Pelanggan 450 VA sebanyak 40 rumah.
2) Pelanggan 1300 VA sebanyak 25 rumah.
3) Pelanggan 900 VA sebanyak 35 rumah.
Catatan
i. Perumahan disupplai GTT tersendiri.
ii. Jarak pabrik terhadap penyulang SUTM yang ada berjarak 150 meter.
iii. Jarak GTT terhadap rumah yang paling jauh SUTR : 100 meter.
iv. Lay put dibuat sendiri ( meliputi pabrik,perumahan,pju )

Tugas
1) Single line total.
2) Single line GI khusus.
3) Single line GTT ke pelanggan.
4) Single line GTT.
5) RAB GI khusus.
6) RAB GTT.
7) RAB SUTM.
8) RAB SUTR
9) Biaya investasi + biaya kepengurusan ke PLN.
Penentuan Daya Trafo GTT Yang Dibutuhkan.

Untuk menentukan daya trafo pada GTT kita harus menentukan factor ramalan
pertumbuhan kebutuhan beban yaitu:
Ramalan Pertumbuhan Beban
Pertumbuhan beban atau melonjaknya kebutuhan suatu perencanaan pengembangan
system tenaga listrik adalah merupakan masalah penting bagi suatu perencanaan
pengembangan system tenaga listrik. Ada beberapa factor yang mempengaruhi dan
mendorong melonjaknya kebutuhan listrik tersebut, misalnya adanya perdagangan dan
industri yang tumbuh dengan pesat, pertambahan penduduk yang semakin meningkat dan
sebagainya.
Masalah-masalah yang timbul disini adalah untuk untuk perencanaan tahunan untuk
memperbesar kapasitas penjualan tenaga listrik, untuk menanggulangi pertambahan beban
tersebut.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, kita harus mengetahui besar pertambahan
beban puncak untuk tahun-yahun mendatang. Untuk meramalkan kebutuhan tahunan,
kebutuhan beban sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu.
Ada beberapa macam cara meramalkan pertumbuhan beban, tetapi secara garis
besar dapat dibagi menkadi dua yaitu:
o Secar grafis.
o Secara analitis.
a) Secara Grafis.
Dengan menggunakan data-data grafis dari tahun sebelumnya, yaitu dari kurva
tahunan dan besarnya daya(kW), maka dapat diramalkan pertumbuhan beban untuk
tahun-tahun mendatang dengan metode extrapolar. Metode ini adalah dengan menarik
garis-garis pertumbuhan beban untuk tahun-tahun berikutnya. Dengan sendirinya hasil
yang diperoleh dari penganalisaan secara grafis agak kasar. Oleh karena itu cara ini
digunakan hanya sebagai pembanding.
b) Secara Analitis.
Dalam metode ini peramalan kebutuhan tenaga listrik digolongkan dalam empat group
konsumen, yaitu:
1) Konsumen perumahan(residensial).
o Jumlah anggota perumahan = A orang per rumah (1).
JumlahPenduduk
o Jumlah perumahan = (2).
A
o Jumlah langganan dari perumahan = (2) X electrification ratio (3).
Dimana electrification ratio = perbandingan antara jumlah konsumen rumah
tangga yang memakai tenaga listrik dengan jumlah seluruh rumah tangga.
o Jadi jumlah kebutuhan tenaga listrik untuk konsumen Residensial adalah
= (3) X pemakaian maksimum rata-rata untuk seluruh rumah. (4).

2) Konsumen komersil.
o Jumlah dari langganan komersil = jumlah langganan perumahan x
constituent ratio (5).
o Dimana constituent ratio = perbandingan antara jumlah jumlah konsumen
komersil dengan jumlah konsumen perumahan.
o Jadi jumlah kebutuhan tenaga listrik untuk konsumen komersil adalah
= (5) X pemakaian maksimum rata-rata dari tiap langganan komersil
(6).
3) Konsumen industri.
Kebutuhan menurut permintaan dari para konsumen industri (7).
4) Konsumen Fasilitas Umum.
Kebutuhan untuk fasilitas umum ={(4)+(6)} x 10% (8).
Data-data yang diperlukan:
Perumahan Dinas Perusahaan (Perumdin).
1) Pelanggan 1300 VA sebanyak 25 rumah : 32.500 VA
2) Pelanggan 900 VA sebanyak 35 rumah : 31.500 VA
3) Pelanggan 450 VA sebanyak 40 rumah : 18.000 VA+
TOTAL 82.000 VA
82.000
o Rata-rata daya maksimum tiap rumah = = 820 VA.
100 Rumah
o Dengan asumsi setiap rumah memiliki anggota keluarga sebanyak 4 jiwa per rumah
maka jumlah total penduduk = 4 x 100 = 400 jiwa.
o Pertumbuhan penduduk tiap tahun (dimisalkan) = 2% per tahun.

Dari data-data diatas kita dapat meramalkan pertumbuhan beban pada perumahan dinas
tersebut yaitu:
JumlahKonsumenPerumahan
1) Electrification ratio :
JumlahRumah
100
: =1
100
2) Jumlah penduduk 5 Tahun mendatang.
= (1+0,02) 5 x 400 jiwa = 441,6 jiwa.
= dibulatkan 442jiwa.
3) Jumlah perumahan 5 tahun mendatang.
= jumlah penduduk / 4
= 442/ 4.
= 110 rumah.
4) Jumlah konsumen perumahan 5 tahun mendatang.
=jumlah rumah x Electrification ratio
= 110 x 1.
= 110 rumah.
5) Jumlah total beban perumahan = jumlah konsumen x daya rata-rata tiap rumah
= 110 x 820 VA
= 90.200 VA
6) Beban fasilitas umum = 10 % beban total perumahan
= 10 % x 90.200 = 9.020 VA.
7) Beban total GTT = Beban fasilitas umum + Jumlah total beban perumahan
= 90.200 VA + 9.020 VA = 99.220 VA

Karena beban yang ditanggung oleh trafo adalah beban satu fasa maka kapasitas
daya trafo yang digunakan adalah:
99.220
Daya trafo =
3
= 33.073 KVA
JADI TRAFO GTT DIPILIH DAYA TRAFO 50 KVA.
Karena untuk perumahan daya kurang dari 200 kVA maka trafo GTT milik PLN

maka dipilih trafo sesuai dengan Katalog adalah 50 kVA


dengan spesifikasi
In(A) = 70,4
Isc(kA) = 1,77
Usc(%) =4
Rugi Tembaga (kW) = 1,323
Uo (V) = 410 (lihat Katalog)

Trafo distribusi di Indonesia pada umumnya di sisi tegangan tinggi menggunakan


20 kV dan tegangan rendah 220/ 380 volt. Pada trafo tenaga, variasi variasi tegangan yang
diperbolehkan adalah 5 % sehingga dalam mendapatkan variasi tegangan 5 % digunakan
tap changer, dan kelas isolasi yang dipilih 24 kV agar trafo tetap aman akibat dari adanya
surja dari saluran trafo yang serentak 3 fasa. Jadi kelas isolasi dipilih berdasarkan tegangan
nominal primer trafo 20 kV dengan BIL 150 kV. Adapun trafo yang dipilih adalah:
Spesifikasi khusus trafo distribusi berdasarkan standart SPLN 50/ 82 yaitu:

Capacity (daya trafo) : 50 kVA


Exciting current (arus beban nol) : 2,8 %
Impedance (impedansi) : 4,0 %
No load losses (rugi-rugi besi) : 190 watt
Load losses (rugi-rugi tembaga) : 1.100 watt
Total losses (rugi-rugi total) : 1.290 watt
Efisiensi pada 75 0 C , factor daya 1,0 :
Beban 100 % : 96,90
Beban 75 % : 97,39
Beban 50 % : 97,73
Beban 25 % : 97’47
Voltage regulation (pengaturan pada beban penuh):
Factor daya 1,0 : 2,26
Factor daya 0,8 : 3,37
Dimension (dimensi) toleransi 5 %:
Length (panjang) : 1.100 mm
Width (lebar) : 625 mm
Height (tinggi) : 1.145 mm
Weight (berat) : 500 kg
Volume oil : 140 liter
Maka berdasarkan besar beban dan daya trafo, dipilih spesifikasi trafo secara umum
yaitu dipilih trafo dengan merk TUNORMA dengan tipe 4JB 6067 – 3SA:
Standart : DIN 42500
Rated power : 50-2500 kVA
Rated frequency : 50 Hz
HV rating : up to 36 kV
Taps on HV side : ± 2,5 % or ± 2 x 2,5 %
LV rating : 400 – 720 V 33
Connection:
HV winding : delta
LV winding : star
Impedance voltage at rated current : 4 % (only up to HV rating 24 kV and ≤ 630 kVA)
or 6 % (with HV rating > 24 kV)
Cooling : ONAN
Protection class : IP00
Final coating : RAL 7033

Spesifikasi khusus trafo yang dipilih:


Rated power : 50 kVA
Max. rated voltage on HV side : 24 kV
Impedance voltage :4%
Type : TUNORMA 4JB 4767 – 3TB
Combination of losses : C – C’
No load losses : 125 watt
Load losses : 875 watt
Sound press. Level 1 m tolerance + 3 dB : 33 dB
Sound power level : 47 dB
Total weight : 480 kg
Length : 880 mm
Width : 685 mm
Height : 1385 mm
Dist. Between whell center : 520 mm

Dari data trafo diatas saya memilih trafo dengan merk TUNORMA 4JB 4767 – 3TB
karena adanya banyak pertimbangan yaitu pada trafo merk ini standart DIN 42500,
memiliki rated power 50-2500 kVA, rated frequency 50 Hz, serta dengan pendinginan
ONAN. Menggunakan peralatan bantu seperti relay bucholz, dehydrating breather. Selain
itu trafo tipe ini dilengkapi dengan oil level indicator, oil drain plug, thermometer pocket,
adjustment for off-load tap changer, rating plate (relocatable), grounding terminals, towing
eye 30 mm dia, lashing lug.

Dimensi Trafo
Dimensi trafo dengan kapasitas 1.000 kVA yang dipilih mempunyai dimensi sebagai
berikut:
Panjang : 880 mm (A1)
Lebar : 685 mm (B1)
Tinggi : 1385 mm (H1)
Jarak tengah : 520 mm (E)
Berat total : 480 kg
Pengaman pada trafo:

 Thermometer dyal type contact


Mengindikasikan tinggi minyak trafo pada
lubang kapiler trafo.
Dengan tambahan rangkaian CT-fed thermal
replica alat ini mampu mengindikasikan
suhu kumparan trafo.

 Rele Bucholz
Rele ini digunakan pada transformator yang mempunyai tangki konservator,
berfungsi untuk mengatasi gangguan yang terjadi dalam transformator, antara lain
berkurangnya minyak transformator, adanya kontak yang kurang baik pada tap
pengubah tegangan dan hubung singkat pada belitan.
Konstruksi rele ini sangat sederhana yaitu terdiri dari dua kontak yang masing
masing mempunyai pelampung. Rele dipasang di antara tutup tangki transformator
dan tangki koservator.
rele bucholz

 Bushing
Bushing adalah suatu peralatan yang brfungsi untuk menghubungkan ujung-
ujung kawat dari lilitan dalam tangki trafo dengan kawat bagian luar (sumber).
Gambar bushing :
Selain sebagai penghubung, bushing berfungsi pula sebagai pengaman, yaitu
untuk menghindari terjadinya hubungan kawat yang bertegangan dengan body
(tangki) trafo. Alat ini terdiri dari suatu konduktor yang ditempatkan dalam isolasi
porselin, kemudian diisi dengan minyak trafo sebagai pendingin.
Umumnya alat ini dilengkapi dengan tanduk api (gambar 5), berfungsi
sebagai pelepas tegangan lebih yang timbul pada ujung dari bushing.
Penggunaan bushing disesuaikan dengan kapasitas lalu arus dan tegangan
kerja trafo.

 Tangki dan Konservator


Tangki terbuat dari besi baja yang kuat, berfungsi sebagai tempat bagian-
bagian dari transformator, yakni inti serta peralatan lainnya.
Pada transformator dengan kapasitas daya yang besar, dengan sendirinya
kerugian-kerugian berupa panas akan besar pula. Untuk menjaga agar panas yang
timbul tersebut tidak melebihi batas tertentu sehingga tidak sampai merusak
isolasi dari lilitan yang dapat mengakibatkan terjadinya hubungan singkat antar
lilitan, maka lilitan dimasukkan ke dalam tangki yang diisi dengan minyak
transformator.
Konservator tank

Oil level indicator

(Cooled type ONAN)


pendinginan dengan
sirkulasi oli trafo dengan
dan sirkulasi udara secara
alami

Minyak tersebut disirkulasikan sedemikian rupa ke suatu tempat


pendinginan sehingga panas yang timbul dalam trafo dapat tersalurkan secara
kontinu.
Konservator merupakan tangki pemeliharaan, berfungsi sebagai saluran
pengisian minyak trafo ke dalam tangki trafo. Selain itu konservator dapat juga
menunjukkan keadaan berkurang atau tidaknya minyak trafo melalui suatu
indicator.
Penambahan minyak trafo harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
terhindar dari masuknya udara yang mengandung uap air ke dalam tangki trafo.
Jika udara yang mengandung uap air masuk ke dalam tangki, akan dapat
mengakibatkan hubung singkat oleh adanya induksi dalam lilitan. Sedangkan uap
air yang berada dalam tamgki konservator etelah ditutup akan diserap oleh
peralatan lainnya yang disebut Dehydrating Breather.
Konservator diletakkan di atas tangki trafo terhubung dengan tangki melalui
suatu pipa.
 Dehydrating Breather
Bagian yang terpenting dari alat ini adalah butiran-butiran silicon yang
diletakkan dalam tabung kaca, berfungsi untuk menyerap uap air.yang diakibatkan
oleh adanya panas pada saat trafo bekerja. Tabung silicon tersebut terbuart dari
kaca yang tertutup rapat sehingga tidak terdapat hubungan dengan udara luar.
Hubungan yang ada hanya dengan konservator melalui suatu pipa penghubung,
sehingga penyerapan yang dilakukan hanya terhadap uap air yang terdapat
didalam tangki konservator saja.
Silicon dalam tabung dicampur dengan Cobalt Clorida sehingga berwarna biru.

Gambar Dehydrating breather


Apabila alat ini sudah bekerja, yaitu menyerap uap air yang ada dalam
tangki konservator, maka silicon akan berubah warna menjadi pink (jambon). Jika
hal ini sudah terjadi maka silicon harus diganti atau dibersihkan kembali dengan
cara pemanasan sampai silicon kembali seperti warna semula.

 Tap Changer
Pengubah tap adalah alat untuk mengubah tap pada trafo, sehingga didapat
nilai tegangan yang dikehendaki sesuai dengan kebutuhan. Tap yang dapat
dirubah atau digeser pada umumnya terletak pada sisi primer.
Suatu pengubah tap mempunyai mekanisme hubung yang dapat mengubah
tap dalam keadaan trafo berbeban, dan terdiri dari pemilih tap, saklar pengalih
serta tahanan sebagai pembatas arus ini berfungsi untuk membatasi arus dari
sirkulasinya yang diakibatkan adanya perbedaan tegangan diantara kedua pemilih
tap.

dyN5 = hubungan winding sisi primer adalah hubungan delta dan pada sisi
sekunder menggunakan hubungan Y (hubungan bintang) dengan netral.
Trafo dilengkapi pula dengan 5 terminal tap yaitu 18,19,20,21,dan 20 kV.

 Misal : pada sisi B terjadi drop tegangan primer menjadi 19 kV, maka tap
trafo dipindah pada posisi 19 kV agar pada posisi sekunder trafo output
tegangan fasa adalah 220V dan tegangan line to line = 380V
Tap changer:
 Peralatan indicator pada trafo
Trafo dilengkapi dengan indicator suhu dan level minyak trafo. Hal ini
dimaksudkan mempermudah pemeliharaan dengan tujuan mencegah kerusakan
yang fatal dan menjaga agar trafo dapat bertahan lama dalam situasi beroperasi.

o Thermometer
Sebagai indicator suhu kerja trafo.
o magnetic oil – level indicator
level minyak trafo tidak boleh berkurang , olah sebab itu trafo
dilengkapi dengan indicator level minyak.

 Radiator
Radiator adalah peralatan bantu trafo yang berfungsi sebagai pendingin. Hal
ini dimaksudkan menjaga panas trafo agar tidak melebihi batas yang telah
ditentukan sehingga isolasi terhindar dari kerusakan.
Ada dua sistem pendinginan trafo :

Sistem pendinginan:
 Oil Natural Air Natural
Sistem pendinginan menggunakan sirkulasi oli trafo didalam tangki trafo dan
memanfaatkan sirkulasi udara pada sirip-sirip pendingin secara alami .

PERHITUNGAN UNTUK KUAT PENERANGAN JALAN UMUM


Tata letak penerangan jalan raya
Spacing (s) = 3 – 5 h
F .U .M .K
E  Lux
W .s atau

E.W .S
F 
U .M .K
E = illumination level (lux).
F = Lamp flux (lumen)
U = Koeficient of utilization (%)
M = maintenance factor (%)
W = lebar jalan (m)
S = Spacing of lighting pole for roadway (M)
K = coefficient of lamp flux life ( =75%)

Jalan pada perumahan mempunyai data sebagai berikut :


1. Required illumination level 12 lux
2. With (W) 8 m
3. height of the lamp (h) 7 m
4. Spacing (s) 40 m
5. angle above horisontal 5 degree
6. over hung (oh) 0.5 m
7. Maintenance factor (M) 0.75

Perhitungan UTILIZATION

W  OH 8  0.5
B / H (roadside )    1.07
H 7
OH 0.5
B / H ( pavement side)    0.07
H 7
dari gravis didapat (UTILIZATION CURVES) :
U1 = 0.08 (pavement side) U2 = 0.24 (road side)
Maka U = U1 + U2 = 0.08 +0.24 = 0.32
Jadi besanya lumen yang harus diberikan untuk tiap – tiap lampu sebesar :
ExWxS
F
UxHxK
12 x8 x 40 3840
   21333.33lumen
0.32 x0.75 x 0.75 0.18
jadi lampu yang dipilih :
 Type Son (HPS)250 W
 Base E27/27
 Luminous 26000
 Tegangan miminum 200V
Lampu untuk penerangan jalan dipasang pada tiang listrik dengan tinggi tiang listrik 9
meter dan lampu untuk penerangan jalan dipasang 7 meter dari tiang listrik. Dan banyaknya
lampu tiang penerangan jalan sama dengan banyaknya tiang listrik. (gambar dibawah)
1. Daya untuk penerangan jalan umum
Jumlah lampu penerangan jalan sama dengan jumlah tiang listrik. Jumlah
penerangan jalan sebanyak 13 buah dengan beban masing – masing sebesar
250 W = ……………VA
= 250+(250x0.25)
= 312.5 Watt
312.5
=  390.625VA
0 .8
jadi daya untuk masing – masing lampu penerangan sebesar 390.625 VA, sedangkan
daya untuk 13 lampu sebesar 5078.125 VA
PASAL SATU RUANG LINGKUP
1. Ketentuan ini dimaksudkan untuk melengkapi Peraturan Instalasi Listrik dan Syarat-
Syarat
Sambungan Listrik.
2. Ketentuan ini mencakup pentanahan yang harus dipenuhi bagi:
(a) Jartng Tegangan Rendah fasa tunggal, berteganga;: 220 V dan 2 x 220 V fasa tunggal;
(b) Jartng Tegangan Rendah fasa-tiga, bertegangan 220/380 V;
(c) Semua instalasi baik fasa tunggal 220 V fasa netral maupun fasa tiga 220/380 V.
3. Pentanahan yang dtmaksud di atas ialah pentanahan dengan sistem pentanah an netral
pengaman disinqkat PNP.
PASAL DUA DEFINISI
4. SISTEM PEOTANAHAN NETRAL PENGAMAN (PNP) ialah sistem pentanahan
dengan suatu
ttndakan pengaman dengan cara menghubungkan badan peralatan atau instalasi yang
diamankan dengan hantaran netral yang ditanahkan (disebut hantaran nol), begitu rupa
sehtngga
jika terjadi kegagalan isolasi, ter-cegahlah bertahannya tegangan sentuh yang terlalu ttnggi
karena pemutUF' an arus oleh alat pengaman arus lebih.
5. JARING TEGANGAN RENDAH (JTR) ialah jaringan tegangan r.-ndah yang irenca
-kup
seluruh bagian jaringan beserta perlengkapannya, dari sumber penya -luran tegangan
rendah
sampai dengan alat peinbatas/pengukur.
6. SALURAN TEGANGAN RENDAH (STR) ialah bagian JTR tidak termasuk sambungan
pelayanan
7. SAMBUNGAN PELAYANAN (SP) ialah bagian JTR yang menghubungkan STR
sampai
dengan alat penribatas/pengukur.
8. SALURAN LUAR PELAYANAN (SLP) ialah bagian SP yang dipasang di atas tanah
dan di luar
bangunan.
9. SALURAN MASUK PELAYANT'N (SMP) ialah bagian SP yang dipasang antara
isolator pada
tiang atap stau percabangan SP dan alat pembatas/pengukur milik PLN.
10. TIANG PENYAMBUNSAN ialah tiang JTR tempat dihubungkannya sambungan
pelayanan
(SP).
11. kOtak ALAT PEMBATAS/PENGUKUR ialah kotak tempat alat pembatas/pengukur
dipasang.
12. PENGAMAN ARUS ialah pengaman arus untuk mengamankan instalasi.
13. PERLENGKAPAN HUBUNG-BAGI (PHB) ialah suatu perlengkapan untuk
mengontrol dan
membagi tenaga listrik dan atau mengontrol dan melindungi rangkaian dan alat pemakai
tenaga
listrik.
14. PHB UTAMA ialah PUB yang menerima tenaga listrik dari hantaran-hubung dan
tempat
membagikannya ke seluruh instalasi.
15. PHB CABANG ialah semua PHB yang terletak sesudah PHB Utama atau sesudah suatu
PHB
Utama Sub-instalasi.
16. HANTARAN HUBUNG ialah hantaran yang menghubungkan kotak alat pembatas/
pengukur
dengan PHB Utama.
17. ELECTRODA TANAH ialah penghantar yang ditanam dalam tanah dan membuat
kontak
langsung dengan tanah.
18. HANTARAN PENTANAHAN ialah hantaran baik di atas tanah maupun di dalam ta
nah yang
menghubungkan:
(a) bagian instalasi yang harus ditanahkan;
(b) titik netral sistem dan
(c) hantaran netral dengan elektroda tanah.
19. HANIARAN PBNGAMAN ialah hantaran yang dipergunakan untuk tindakan peng-
amanan
terhadap kejutan listrik bila terjadi gangguan, dan yang menghubunkan antara:
- massa terbuka dengan hantaran pentanahan atau elektroda tanah;
- massa terbuka dengan massa terbuka lainnya;
- massa terbuka dengan hantaran netral.
20. HANTARAN NETRAL ialah hantaran yang dihubungkan pada titik netral sis-tem fasa-
tiga
atau fasa-banyak lainnya.
21. HANTARAN TENGAH ialah hantaran yang dihubungkan pada titik tengah sua-tu
sistem tigakawat
fasa-tunggal.
22..MASSA TERBUKA ialah badan kerangka peralatan yang bersifat penghantar dan
bukan
bagian aktif, yang mudah tersentuh, tetapi dapat rnenjadi ber_ tegangan pada kondisi
gangguan.
23. INSTALASI ialah saluran listrik termasuk alat-alatnya yang terpasang sesudah alat
peinbaca/pengukur milik PLN.
PASAL TIGA SYARAT-SYARAT PENTANAHAN JTR & INSTALASI
24. PENTANAHAN JTR & INSTALASI
Semua JTR dan instalasi harus menggunakan sistem Pentanahan Netral Pengaman di mana:
24.1. Titik netral sistem (titik netral kunparan tegangan rendah trans-formator atau
kumparan
generator) di tanahkan dengan elektroda tanah sesuai Sub-ayat 24.6 ketentuan ini. Hantaran
pentanahan dapat dihubungkan pada titik netral sistem di gardu transformator; bila
elektroda
tanah tidak mungktn dipasang di gardu transformator (misalnya dalam keadaan di mana
pentanahan sistem Tegangan Rendah harus terpisah dari pentanahan sistem Tegangan
Menengahnya), maka elektroda tanah dapat dipasang di setiap tiang pertama JTR.
24.2. Hantaran netral di semua tiang akhir JTR harus ditanahkan dengan elektroda tanah
sesuai
Sub-ayat 24.6 ketentuan ini.
24.3. Semua PHB Utama harus ditanahkan dengan elektroda tanah sesuai Sub-ayat 24.6
ketentuan ini.
24.4. Tahanan Pentanahan
Persyaratan tahanan pentanahan tergantung macam jaringan. Ada empat macam jaringan:
A. Jaringan dengan pentanahan pengaman JTR ^an JTM terpisah dan tiang-tiang JTR dan
JTM
terpisah.
B. Jaringan dengan pentanahan pengaman JTR dan JTM yang digabungkan di JTM adalah
kabel
tanah.
C. Jaringan dengan pentanahan pengaman JTR dan JTM yang digabung
kan di mana JTR dan JTM terpasang pada tiang-tiang yang sama.
D. Jaringan di mana JTR dan JTM mompunyai hantaran netral bersama.
(a) Untuk macam A berlaku ketentuan:
Tahanan pentanahan menyeluruh hantaran netral JTR yang telah tersambung pada
transformator, tiang akhir dan PHB utama mak simum 5 ohm. Untuk keadaan khusus,
misatnya
pada JTR dengan transformator berkapasitas kecil (makstmum 50 kV fasa-tunqgal atau 150
kVA
fasa-tiga) , jumlah konsumen yang masih rendah dan tahanan-jenis tanahnya tinggi
sehingga
sukar didapat harga 5 ohm, tahanan pentanahan-menyeluruh diperkenankan maksimum 10
ohm.

(b) Untuk macam B berlaku ketentuan:
Pada keadaan pentanahan bersama dari macam B ini dilepas, ni lai pentanahan JTR-nya
sama
dengan (a) .
(c) Untuk macam C berlaku ketentuan:
Nilai tahanan pentanahan menyeluruh maksiinum 0,2 ohm. Ketentuan ini hanya berlaku
bagi
sistem dengan arus gangguan satu fasa ke tanah di JTM tidak lebih besar dari 300 A. Untuk
sistem dengan netral JTM ditanahkan dengan tahanan yang tinggi berlaku ketentuan (a).
(d) Untuk macam D berlaku ketentuan:
Bagi sistem yang hantaran netral JTR dihubungkan/dijadikan satu dengan hantaran netral
JTM
berlaku ketentuan bahwa: . Hantaran netral yang dimaksud mempunyai pentanahan
sekurangkurang
. 4 buah untuk setiap 1,609 km (1 mile) dan besar ta -hanan pentanahan setiap elektroda
adalah 25-ohm, atau dengan kata lain: Pentanahan menyeluruh dari hantaran netral terse-
but,
adalah 6,25 ohm untuk setiap 1.609 km (1 mile) . Pentanahan ini tidak termasuk
pentanahan
yang terdapat pada masing-masing PHB utama.
24.5. Interkoneksi hantaran netral JTR dari gardu transformator yang sa tu dengan yang
lainnya
diperkenankan. Interkoneksi ini menyebab -kan nilai tahanan kcseluruhan menjadi lebih
rendah
24.6. Elektroda tanah:
Elektroda tanah yang digunakan untuk pentanahan titik netral trans formator, tiang akhir,
PP3B
utama dan tiang-tiang JTR atau JTM lain nya, harus memenuhi Surat Bdaran
No.024/PST/70 buku normalisasi No. 03-1-92 dengan panjang 2,75 m. Kemungktnan untuk
menggunakan bahan atau ukuran yang berlainan ditentukan oleh PLN Wilayah/Distribusi.
25. HANTARAN NETRAL
25.1. Hantaran Netral Saluran Luar Pelayanan (SLP)
(a) Jika SLP bukan dari jenis hantaran terlindung (bai' elektris rnaupun mekanis seperfci
hantaran
telanjang atau NYA), maka pe-.nampang minimum hantaran netralnya sama dengan
penampang mini-mum hantaran fasanya (yaitu 6 in tembaga).
(b) Jika SLP dari jenis hantaran terlindung (seperti NYY), maka pe nampang minimum
hantaran
netralnya sama dengan penampang minimum hantaran fasanya (yaitu 4 mm2 tembaga).
(c) Untuk hantaran aluminium (AL), maka diatur dengan ketentuan tersendiri.
25.2. Hantaran Netral Saluran Masuk Pelayanan (SMP)
Saluran Masuk Pelayanan terdiri dari jenis hantaran terlindung (seperfci NYA dalam pipa
insfcalasi) . Penanpang minimum hantaran netralnya adalah sama dengan penanpang
minimum hantaran fasanya, yaitu 4 mm2 tembaga.
Khusus untuk kelisfcrikan desa dimungkinkan SMP dengan penampang 2,5 inn2, yaitu jika
instalasi hanya terdiri dari satu kelcnpok.
26. PENTANAHAN PERLENSKAPAN LAIN
26.1. Kontak Alat Pembatas/Pengukur
(a) Kofcak alat Pembatas/Pengukur dari bahan logam harus diperleng-kapi dengan terminal
pentanahan.
(b) Kotak alat pembatas/pengukur harus ditanahkan dengan cara neng hubungkan kofcak
itu
dengan hantaran netral.
26.2. Hantaran Hubung
Persyarafcan hantaran hubung, alat panbatas/pengukur sanu seperfci yang berlaku bagi
saluran
masuk pelayanan.
26.3. PHB Utama
(a) Ketentuan PHB Utama
(1) PHB itama dari bahan logam harus dilengkapi dengan termi-nal atau jalur terminal
pentanahan.
(2) Pelaksanaan hubung-bersama (penyatuhan hubungan) antara:
- hantaran netral ;
- hantaran pentanahan .
- hantaran pengainan instalasi dan
- PHB utama sendiri ;
harus dilakukan di dalam PHB utama tersebut pada (1) atas.
(3) Jika PHB utama bukan dari bahan logam, maka kerangka (cha sis)nya dari kotak yang
terbuat
dari logam harus ditanah-kan.
(4) Terminal atau jalur terminal tersebut pada angka(l) harus dilengkapi dengan mur, baut
dan
atau perlengkapan lainnya, agar hubungan antara hantaran-hantaran tersebut pada (2)
dengan terminal atau jalur terminal dapat dilepas pada waktu pemeriksaan.
(b) Elektroda tanah PHB utama
Ketentuan dan persyaratan yang berlaku bagi elektroda tanah sesucJ. Sub-ayat 24.6.
Khusus bagi sistem yang hantaran netral JTR dihubungkan/dija-dikan satu dengan hantaran
netral JIM berlaku pula ketentuan bahwa nilai tahanan pentanahannya :
(1) tidak melebihi 3 ohm, bila dapat dipergunakan pipa salur-an air mtnum sebagai
elektroda
tanah.
(2) tidak melebihi 25 ohm, bila digunakan elektroda tanah je-nis lain.
Bila dengan sebuah elektroda tanah tidak dapat dicapai n3_ lai 25 ohm, dapat dapat
menyimpang dari ketentuan ini te-tapi harus digunakan dua atau lebih elektroda tanah
dengan
jarak satu sama lain tidak kurang dari 2 m.
(c) Hantaran pentanahan PHB utama
(1) Hantaran pentanahan PHB utaina harus dari jenis yang ter-lindung dari gangguan
mekanis
(rnisalnya dengan pipa atau./. NYY),
NYY), berpenampang minimum 6 nrn2 (tembaga) . C2) Jika hantaran fasa saluran masuk
pelayanan lebih besar dari 6 nin2 (tembaga) maka penampang hantaran pentanahan harus
sama dengan hantaran fasa/luran masuk peiayanan ter_ /so-sebut, tetapi tidak perlu lebih
besar
dari 50 nm2 (tembaga).
(3) Agar tahanan pentanahan elektroda tanah dapat diukur, hu-bungan dengan PHB utama
harus
dapat dilepas.
(4) Semua hubungan dengan tanah harus diperiksa secara. berkala.
27. HANTARAN PENGAMAN
27.1. Pada bagian tnstalasi dengan hantaran netral yang tidak lebih ke-cil dari pada 10 nin2
tembaga, maka hantaran netralnya dapat digu-nakan pula sebagai hantaran pengaman.
27.2. Bila bagian instalasi tersebut ada hantaran netral yang lebih ke-cil dari pada 10 nm2
tembaga, diperlukan hantaran pengaman tersendiri.
Penampang hantaran pengaman tni sama dengan penampang hantaran ne_ tralnya.
27.3. Jika dalam instalasi terdapat alat-alat khi-isus (misalnya pemancis air listrik di kamar
mandi)
, sebaiknya dilakukan pula pentanahan hantaran pengaman alat tersebut. Untuk alat-alat
khusus
ini, akan dikeluarkan ketentuan tersendiri.
27.4. Bagi instalasi dengan beberapa bangunan (misalnya bang-Jnan utam. dan gudang) , di
mana masing-masing bangunan mempunyai satu atau lebih PHBy maka sekurang-kuranya
satu
PHB dari masing-masing ba -ngunan harus ditanahkan lengkap dengan hantaran
pentanahan
dan e-lektroda tanah.
27.5. Hantaran pengaman harus dari jenis hantaran terlindung dan ber-isolasi seperti
hantaran
fasanya (seperti NYA yang dipasang dalam satu pipa dengan hantaran fasa, salah satu urat
hantaran NYM dsb) .
27.6. Untuk penggunaan bagian atau hantaran lain sebagai hantaran pengaman akan diatur
dengan ketentuan tersendiri.

PERHITUNGAN PENGHANTAR

1) Perhitungan penghantar pada SUTM.


Untuk menghitung KHA penghantar kita harus mengetahui data-data yang
diperlukan untuk kebutuhan perhitungan KHA penghantar tersebut, yaitu:
 Daya total pabrik : 1000 KVA ( dari PLN diakui sebesar 1200 KVA).
 Daya trafo GTT : 50 KVA ( lihat perhitungan trafo GTT).
Dari data diatas maka In dapat dihitung yaitu:
1250KVA
 In =
3 20.000

= 36,1 A.
 KHA = 1,25 In
= 45,1 Ampere.
 Dari table KHA penghantar AAAC (PUIL 2000) didapat luas penampang
penghantar sebesar 16 mm 2 (KHA 110 A) tetapi dilapangan penghantar untuk
saluran SUTM paling kecil adalah 35 mm 2 , maka dipilih penghantar AAAC
dengan luas penampang 35 mm 2 . hal tersebut dilakukan untuk menekan rugi-rugi
sepanjang saluran SUTM, contohnya seperti drop tegangan yang terlau besar.

2) Perhitungan penghantar pada SUTR.


Untuk menghitung KHA penghantar kita harus mengetahui data-data yang
diperlukan untuk kebutuhan perhitungan KHA penghantar tersebut, yaitu:
 Daya trafo GTT : 50 KVA ( lihat perhitungan trafo GTT).
Dari data diatas maka In dapat dihitung yaitu:
50KVA
 In =
3 380

= 75 A.
 KHA = 1,25 In
= 94 Ampere.
 Dari table KHA penghantar TC (PUIL 2000) didapat luas penampang penghantar
sebesar 25 mm 2 (KHA 108 A), maka dipilih penghantar TC dengan luas
penampang yang lebih besar yaitu 50 mm 2 . hal tersebut dilakukan untuk menekan
rugi-rugi sepanjang saluran SUTR, contohnya seperti drop tegangan yang terlau
besar, yang diakibatkan oleh suhu sekitar dan jarak pemasangan Digunakan kabel
TC 3X50mm 2 + 1X35mm 2 .

3) Perhitungan penghantar pada SKTM.


Kabel tersebut menghubungkan antara JTM menuju gardu PLN, untuk
perhitungannya adalah sebagai berikut:
1250KVA
 In =
3 20.000

= 36,1 A.
 KHA = 1,25 In
= 45 Ampere.
 Dari table KHA penghantar kabel tanah NA2XSEYBY (PUIL 2000) didapat luas
penampang penghnatar sebesar 35 mm 2 (KHA 127 A ditanah & 139 A diudara ),
maka dipilih penghantar XLPE dengan luas penampang 35 mm 2 .

LAMPIRAN VI B

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR : 89 TAHUN 2002


TANGGAL : 31 DESEMBER 2002

TDL UNTUK KEPERLUAN KANTOR PEMERINTAH DAN PENERANGAN JALAN


UMUM
BIAYA BEBAN BIAYA PEMAKAIAN
(RP./kVA/bulan) (RP./kWh)
GOL BATAS 1 Juli 1 Oktober
NO. 1 Juli 1 Oktober
TARIF DAYA s.d s.d
s.d s.d
30 September 31 Desember
30 September 2003 31 Desember 2003
2003 2003
1. P-1 / TR s.d 450 VA 20.000 20.500 575 595
2. P-1 / TR 900 VA 24.600 25.000 600 605
3. P-1 / TR 1.300 VA 24.600 25.000 600 605
4. P-1 / TR 2.200 VA 24.600 25.000 600 605
di atas
2.200 VA
5. P-1 / TR 24.600 25.000 600 605
s.d
200 kVA
Blok WBP = K x Blok WBP = K x
P-2 / di atas
6. 23.800 24.000 379 382
TM 200 kVA
Blok LWBP = 379 Blok LWBP = 382
7. P-3 / TR - - - 635 665

Catatan:
Faktor perbandingan antara harga WBP dan LWBP
sesuai dengan karakteristik beban sistem kelistrikan
K : setempat ( 1,4 <= K <= 2 ), yang ditetapkan oleh
Direksi Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT
Perusahaan Listrik Negara.
WBP : Waktu Beban Puncak
LWBP : Luar Waktu Beban Puncak
Jam adalah kWh per bulan dibagi dengan kVA
:
nyala tersambung

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


ttd,
Megawati Soekarnoputri
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-Undangan,

Lambock V.Nahattands
KONTRUKSI JARINGAN
Pada pemasangan SUTM dan SUTR terdapat beberapa pertimbangan yang harus
diperhatikan dengan baik.
Pemasangan tiang pada jaringan dengan ketentuan :
Panjang tiang pada SUTM : 12 M
Panjang tiang pada SUTR :9M
Jarak antar tiang SUTM : 50 M
Panjang antar tiang SUTR : 40 M
Dalam penentuan jumlah tiang dan jarak antar tiang tergantung pada medan yang akan
kita pasang jaringan. Dalam hal ini pada daerah yang akan terpasang adalah daerah
pinggiran dengan medan terjal dan terletak di sekeliling persawahan dan dibatasi oleh
sungai. Sesuai dengan kontruksi tanah untuk jarak antara pabrik dan SUTM yang ada
memiliki kerataan tanah yang sudah di diratakan untuk area jalan. Jarak antara aspal
dan trotoar adalah 2 meter, dengan lebar jalan 10 meter, dan diperkirakan untuk
perluasan jalan berkisar 1 meter kesamping, sehingga dapat kita pasang tiang dengan
jarak sekitar 4 meter dari jalan aspal.
Karena pada posisi tersebut diatas tanah yang akan kita tempati untuk penanaman tiang
listrik adalah area persawahan milik penduduk setempat sehingga harus ada jaminan
pembebasan tanah bila belum ada keterangan pembebasan tanah maka dipakai area
bebas yaitu di sisi jalan.
Pemasangan SUTM dan SUTR dengan medan pegunungan harus mengambil cross jalur
terpendek dengan mempertimbangkan beberapa hal yang harus terpenuhi yakni :
 Jarak antara SUTM dengan tanah arus sesuai dengan standard pemasangan.
 Jaringan yang terpasang tidak boleh terlalu rendah dan membahayakan bagi
makhluk hidup yang melintas dibawahnya.
 Jaringan yang menyebrang jalan raya harus dilengkapi dengan jaring pengaman
untuk menghindari kalau nantinya terjadi kabel yang putus pada jaringan yang
menyebrang jalan tersebut.
 Kontruksi tiang yang terdapat pada jaringan menyesuaikan dengan medan dengan
memperhatikan standard pemasangan jaringan yang ada, dengan pertimbangan
keandalan, kemudahan dan keamanan.
 Minimal penanaman tiang untuk SUTR dan SUTM adalah 1/6 dari tinggi tiang,
selain itu harus dipertimbangkan juga factor jenis tanah yang akan digunakan
sebagai tempat penanaman.

MATERIAL SUTM.
1. TIANG BETON
Pemilihan tiang beton dari SUTM ke GTT memiliki syarat yaitu :
 Tinggi tiang beton
- Jika kebutuhan konsumen membutuhkan pemasangan JTM dan JTR jadi satu
maka ukuran tiang beton yang dipasang adalah 11meter.
- jika kebutuhan konsumen, memerlukan pemasangan JTR saja maka ukuran
tiang beton yang di pasang adalah 7 meter.
 Syarat jarak tiang beton
- Untuk pemasangan JTM biasanya jarak pemasangan adalah 50 meter.
- Untuk pemasangan JTR biasanya jarak pemasangan adalah 40 meter.
2. PENGHANTAR KABEL XLPE
Syarat pemilihan kabel :- untuk kabel dari SUTM ke GTT biasanya kabel XLPE
yang disebut KWADROPLEK
- untuk kabel dari GTT ke konsumen biasanya kabel XLPE yang disebut
TWESTED
3. Preformed top tie
4. Alumunium tap.
5. Alumunium bending ware
6. pin post insulator.
7. Double arm band.
8. terminal lug
9. Fuse link
10. Braket
11. U strap
12. Cross Arm Clevis
13. Bolt clevis and soket eye.
14. strain clamp
15. strain Insulator.
16. bolt and nut.
17. Arm tie Band
18. Double Arm bolt and nut
19. Cross Arm
Perhitungan Celah Ventilasi Trafo Pada GI
Transformator tidak boleh diletakkan terlalu dekat dengan tembok karena keadaan
tembok suatu saat lembab yang menyebabkan flash over. Oleh karena itu digunakan
standart untuk tegangan menengah yaitu pada PUIL hal.216-217.
Dalam kerjanya trafo menurut system pendinginan yang baik terutama simulasi udaranya,
karena dalam proses kerjanya trafo dapat menghasilkan panas yang berlebihan yang
disebabkan oleh adanya rugi-rugi pada trafo.
Menurut PUIL 2000 minimal 20 cm2 / kVA. Jumlah panas yang ditimbulkan untuk kerugian
per kWH = 860 kcal/ jam.
Berikut adalah data untuk menghitung celah ventilasi
Temperature udara masuk : 200
Temperature udara keluar : 350
1
Koefisien muai ruang (α) :
273
Rugi trafo pada saat losses : 11.400 watt
: 11,4 kW
860 x11,4 1
V= x (1  x 20) )
1116 (35  20) 273

= 1,24 m
s
Koefisien aliran utama udara (ω) berbeda-beda tergantung pada kondisi tempat
ditempatkannya trafo itu sendiri.
Kondisi tempat ω
Sederhana 4-6
Sedang 7-9
Baik 9-10
Kemampuan pemanasan udara yang mengalir disepanjang tangki trafo dapat diketahui:

H
υ=

2,475
=
8
= 0,3 s
Kemampuan udara pemanasan yang mengalir adalah 0,2 s,sehingga luas penampang
ventilasi :
V
qc =

1,24
= 0,3

= 4,13 m2
Untuk qa dibutuhkan lebih besar 10% dari qc
Maka, qa = qc +( qc x10 %)
= 4,13 + (4,13 x 10 %)
= 4,543 m2

Qa = 4,543 m2

qc :4,13 m2
SANGKAR FARADAY
Dalam perhitungan ini yang perlu diperhatikan adalah system pengaman dari sisi
TR maupun TT pada trafo. Sesuai dengan catalog yang ada jarak aman sisi tegangan tinggi
adalah = 1.070 mm
dengan perkiraan panjang tangan manusia sekitar kurang lebih 1000 mm.
sehingga dapat terhitung sangkar faraday sesuai dengan dimensi trafo yang digunakan.
Dimensi trafo yang digunakan dengan data sebagai berikut :
Panjang (L) : 1.810 mm
Lebar (W) : 1.015 mm
Tinggi (H) : 2.245 mm
Sangkar faraday terbuat dari bahan konduktor dan beberapa tahun yang lalu Faraday telah
menunjukkan bahwa kuat medan listrik didalam sangkar faraday adalah nol bila sangkar
terbentuk kotak panuh. Meskipun kuat medan listrik dalam sangkar sama dengan nol, tetapi
bentuk kotak penuh tidak dapat digunakan untuk bekerja. Sehingga pertimbangan
pemilihan bentuk sangkar faraday berdasar pada derajat perlindungan yang diinginkan dan
keperluan untuk bekerja.
Sehingga diperoleh dimensi sangkar faraday terpasang sebagai berikut :
Panjang : (jarak aman trafo+panjang tangan manusia) x 2 + panjang trafo
: (1.070+1000)x2 +1.810 mm
: 4.140+1.810 mm
: 5.950 mm
Lebar : (jarak aman trafo+panjang tangan manusia) x 2 + lebar trafo
: (1.070+1000)x2 +1.015 mm
: 4.140+1.015 mm
: 5.155 mm
Tinggi : (jarak aman trafo dengan atap) + tinggi trafo
: 1000 mm+ 2.245 mm
: 3.245 mm

PERINCIAN MATRIAL
TYPE JUMLA
MATRIAL SATUAN KET
KONSTRUKSI H
TM1 A Cross arm 2000 (type tumpu) 1 pcs

Arm tie type 750 pipe Ø ¾” 1 pcs

Bolt & nut M 16x400+washer (double arm) 2 pcs


Bolt & nut M 16x50 / M16x120+washer 1 pcs

20 KV pin (pin post) insulator +steel pin 3 pcs

Alluminium binding wire 3,2 mm X mtr Lihat lamp


Aluminium tape 4,0 mm Y mtr Lihat lamp
Pre formed top tie 240/150/70/35 3 pcs

TM2 C Cross arm 2000 (type tumpu) 2 pcs


Arm tie type 750 pipe Ø ¾” 2 pcs

Bolt & nut M 16x400+washer (double arm) 3 pcs

20 KV pin (pin post) insulator +steel pin 6 pcs

Alluminium binding wire 3,2 mm X mtr Lihat lamp


Aluminium tape 4,0 mm Y mtr Lihat lamp
Pre formed top tie 240/150/70/35 6 pcs

TM3 Strain insulator 20 KV 3 Set

Cross arm 2000 (type tarik) 1 Pcs

Arm tie type 750 pipe Ø ¾” 1 Pcs

Bolt & nut M 16x400+washer (double arm) 2 Set

Ball clevis/socket eye 3 Set

HV. Band strap 3 Pcs

Bolt & nut M 16x400+washer 3 Set

Dead end clam (strain clamp) 3 Set

U strap 3 Pcs

Single arm band / arm tie band 1 Pcs

TM10 20 KV pin (pin post) insulator +steel pin 2 Pcs

Tension disc / string insulator 20 KV 6 Pcs

Bolt & nut M 16x400/500+washer(double arm) 4/2 Pcs

Arm tie type 750 pipe Ø ¾” 4 Pcs

Arm tie band , nut M16 + washer 1 Pcs


U strap 1 Pcs

Cross arm 2000 (type tarik) 4 Pcs

Ball clevis + socket eye 6 Pcs

Ball strap / cross arm clevis/ susp. VEE 6 Pcs

Bolt & nut M 16x140+washer 6 Pcs

Double arm band + bolt & nut + washer 1 Set


Dead end / strain clamp / preformed Set
6
termination
Alluminium binding wire 3,2 mm X Mtr Lihat lamp
Aluminium tape 4,0 mm Y Mtr Lihat lamp
Pre formed top tie 240/150/70/35 2 Pcs

Line tap conector / hh conector 3 Pcs

TR1 Suspension clamp bracket 1 Set

Suspension clamp 1 Set

Stainless steel strip 0,75 mtr 2 Pcs

Stopping buckle 2 Pcs

Plastic strap 3 Pcs

Protectip plastic strap 0,5 mtr 2 Pcs

TR5 A Tension bracket 2 Set

Strain clamp 2 Set

Stainless steel strip 0,75 mtr 2 Pcs

Stopping buckle 2 Pcs

Plastic strap 3 Pcs

Bundle cond.conector 70/50/50/35 4 Pcs

Protectip plastic strap 0,5 mtr 2 Pcs

TR6 Suspension clamp bracket 1 Set

Suspension clamp 1 Set


Tension bracket 1 Set

Strain clamp 1 Set

Stainless steel strip 0,75 mtr 4 Pcs

Stopping buckle 4 Pcs

Plastic strap 5 Pcs

Bundle cond.conector 70/50/50/35 4 Pcs

Protectip plastic strap 0,5 mtr 4 pcs

Untuk awal pemilihan penyulang, jika :


1. Mencukupi (tidak ada masalah)
2. tidak mencukupi maka : - cari penyulang lain yang terdekat
- bila penyulang yang ada hanya satu maka harus
mengganti trafo distribusi 70 KV ke 20 KV pada
penyulang tersebut.
Pada GTT LV panel di bagi 2 kelompok
1. kelompok pabrik.
2. kelompok perumahan.

 KWH
 KVARH
 CT
 Amper meter dan Volt meter
Untuk toleransi / kompensasi beban tidak seimbang maka setiap jarak 1mil terdapat
4 elektrode pentanahan, sehingga sudut phase titik bintang trafo tidak terlalu melenceng.
Untuk pembatas digunakan fuse HRC 3x100 dapat dilihat di wiring diagram
dibawah:

Komponen APP:
 NYY 1,5 MM2 U/ MONTASE
 NYY 2,5 MM2 U/ MONTASE
 CABLE SCHOON 2,5 MM2
 TIME SWTCH ELECTRIC 220 - 380 V 15 A.
 OCR TYPE INVERS 1/5 Amp
 CT
 AMPER METER DAN VOLT METER.
 KOTAK TEMPAT OCR
 TERMINAL BLOK 11 POOL 25 Amp
 OAK TYPE IV U/ MCCB
 DT KWH METER 3X5A/100 V
 ET KVARH METER 3X5A/100 V
 KOTAK APP TYPE IC(KHUSUS)
 GEMBOK SOLEK

Komponen LV panel
 LV PANEL 2GRP 630A (UML/43,43A,43B/PJ/93)
 CROSS ARM NP. 6,5-2500 MM u/ LV.PANEL
 N Y Y 1 CORE 150 MM2
 N Y Y 4 x 70 MM2 u/SALURAN KELUAR
 COPER TUBE / KABEL SCHOEN 150 MM2
 GEGALV GASPIJ 2" - 6 METER
 L BOUW 2" u/SALURAN KELUARAN BAWAH
 L BOUW 3" u/SALURAN MASUK BAWAH
 L BOUW PVC 2" u/SALURAN KELUARAN
ATAS
 L BOUW PVC 3" u/SALURAN MASUK ATAS
 GEGALV GASPIJ 3" - 6 METER
 COPER TUBE / KABEL SCHOEN 70 MM2
 COPER TUBE / KABEL SCHOEN 50 MM2
 HS/LS SLOTEN
 BESI KANAL NP.6,5-750 MM
 KLEMBEUGEL 2" U/GASPIJ
 KLEMBEUGEL 3" U/GASPIJ
 KLEMBEUGEL 10"
 BOLT & NUT M.16X50 MM
 BC DRAAD 50 MM2
 GROUND ROD 16 MM 2,5 MT
 GASPIJP 1"-1,5 MT U/ PELINDUNG AARDE
 COPPER TUBE 50 mm + CLAMP

Arus sekunder Trafo GTT


Daya trafo = 200 kVA dengan Vsekunder = 220 / 380 V
Daya beban maksimal =137 kVA (perhitungan beban pada penentuan trafo)
137000
In sekunder = =26 A
380 3

Pemilihan busbar
Untuk LV Panel GTT :
Arus pada sisi outgoing trafo adalah 26 A
In = 1,25 x In sekunder
= 1,25 x 26
= 32 A
Sehingga dipilih busbar dengan spesifikasi sebagai berikut :
- busbar dengan batang telanjang dan jumlah batang satu buah
- terbuat dari tembaga
- luas penampang (25 x 5) mm2 (Berdasarkan PUIL hal. 235)

Pemilihan Cut-Out (CO)

Cut-Out berfungsi untuk mengamankan transformator dari arus lebih. Dalam


menentukan cut-out hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Arus nominal beban untuk pemilihan rating arus kontinyu Cut-Out.
2. Tegangan sistem untuk pemilihan rating tegangan.
3. Tipe sistem untuk pemilihan rating tegangan.
4. Arus gangguan yang mungkin terjadi, untuk pemilihan rating pemutusan.
Dari pertimbangan di atas maka harus diketahui terlebih dahulu arus primer dari
transformator.
137.000
In   3,96 A
3  20.000

Setelah diketahui bahwa arus primer trafo adalah sebesar 3,96 A, maka nilai arus tersebut
dikalikan 130%. Sehingga diperoleh nilai arus untuk cut-out.
Fco  130%  3,96 A  5,15 A

Sehingga dipilih Cut-Out dengan spesifikasi:


1. Type : DMX-4
2. Maximum voltage (kV) : 24 kV
3. BIL (kV) : 125 kV
4. Rated current (A) : 100 A
5. Rated interrupting current (kA) : 8 kA
6. Frequency : 50 Hz
Catatan : data selengkapnya mengenai Cut-Out bisa dilihat pada lampiran
Pemilihan Arrester

Tabel Batas Aman Arrester


IMPULS BIL BIL KONDISI KETERANGAN
PETIR ARRESTER TRAF0
(KV) (150 KV) (125 KV)
Tegangan masih
di bawah rating
120 KV < 150 KV <125 KV Aman transformator
maupun arrester
Tegangan masih
125 KV <150 KV =125 KV Aman memenuhi
batasan keduanya
Tegangan lebih
130 KV <150 KV >125 KV Aman diterima arrester
dan dialirkan ke
tanah
Masih memenuhi
batas tegangan
150 KV =150 KV >125 KV Aman tertinggi yang
bisa diterima
arrester.
Tidak Arrester rusak,
200 KV >150 KV >125 KV aman transformator
rusak

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan arrester :


1. Arrester harus mampu memutuskan arus dinamik (arus yang mengalir setelah
arrester melepas surja petir, karena adanya tegangan sistem) dan dapat bekerja
secara kontinu seperti semula.
2. Tegangan percikan harus cukup rendah, demikian juga dengan tegangan
pelepasannya, sehingga dapat mengamankan asolasi peralatan.

Maka berdasarkan tabel diatas dipilih arrester dengan spesifikasi sebagai berikut :
 Rated voltage : 24 kV
 BIL : 150 kV
 Power frequency discharge system : 40 kV
 Impuls discharge voltage : 66 kV
 18/10 ms residual voltage for lightning impuls : 80 kV
 Square wafe throught discharge : 100 A
 4/10 ms impuls max. Current 20 times
 Front of wafe impuls max. Spark over voltage : 88 kV
Catatan : data selengkapnya ada pada lampiran.

Pemilihan Load Breaker Switch (LBS)


Alat proteksi untuk memutus arus, baik saat berbeban maupun tak berbeban. Kemampuan
dari LBS disesuaikan dengan rating arus nominal jaringan yang akan diproteksi oleh LBS.
Syarat dari LBS adalah mampu memutus jaringan dengan arus yang sangat besar tanpa
mengalami kerusakan mekanis.
In 115 %  Iprimer
1,15  26,32  30.27 A

Maka dipilih LBS dengan spesifikasi sebagai berikut :


 Pemilihan CT (Current Transformer)
CT yang dipilih mempunyai spesifikasi sebagai berikut :
o Type CT = ARM 1 / NIF (unit QMC)
o In = 50 A
o Ith = 4 kA
o t = 1 second
o measurement 5A = 7,5 VA – class 0,5
o protection 5A = 5 VA – 5P10
(detail CT bisa dilihat pada lampiran)

 Pemilihan PT (Potential Transformer)


Standard alat ukur 100 V, 5A sehingga dipilih PT yang memenuhi perbandingan

20kV 100V
tersebut :  11560 : 57,8
3 3
CT yang dipilih mempunyai spesifikasi sebagai berikut :
o Type PT = VRQ2n / S1
o Primary voltage = 20 / 3 kV
o Secondary voltage = 100 / 3 kV
o Perbandingan tegangan rata-rata = 24 kV
(detail PT bisa dilihat pada lampiran)

 Pemilihan DS (Disconnecting Switch)


Karena disini DS difungsikan sebagai saklar, maka perhitungan saklar (DS)
adalah.
Dicari terlebih dahulu I Dengan rumus S = 3 xVxI I=

S 137000
= = 26,32 A
3xV 3 x 20000

I = 150 % x Ip Trafo
= 1,5 x 26,32
= 39,5 A
Tetapi Karena DS dioperasikan saat tidak berbeban maka, yang perlu
diperhatikan adalah rating voltasenya saja sesuai yang ada dipasaran rating tegangan
yang memenuhi adalah 35 kV.
 Pemilihan Busbar Cubicle
I = 125 % x Ip trafo
= 1,25 x 26,32
= 32,9 A
Dipilih busbar dengan ukuran x 5 mm

 Fuse untuk pengaman metering


I = 250 % x Ip trafo
= 2,5 x 26,32
= 65,8 A
Dipilih fuse sebesar 80 A

PERHITUNGAN PENAMPANG PENGHANTAR

 Pada perumahan dinas ( JTR )


S = 79,2 + ( 20% x 79,2)
= 95,04 KVA
S per fasa = 95,04 KVA / 3
=31 KVA
S 31000
I  =
3.V 3.220
= 81,35 A
KHA = 125 % x I
= 101,09 A
Dipilih penghantar LV TWISTED CABLE/BUND.COND. 3X50mm/1X35mm

 Pada Pabrik ( JTM )


S = 700 + ( 20% x 700 )
= 840KVA
S 840
I  =
3.V 3.20
= 24,24 A
KHA = 125 % x I
= 30,31 A
Dipilih penghantar A3C 3 x70 mm

 Saluran sebelum menuju Perumahan ( JTM )


S = 79,2 + ( 20% x 79,2)
= 95,04 KVA
S per fasa = 95,04 KVA / 3
=31 KVA
S 31000
I  =
3.V 3.220
= 81,35 A
KHA = 125 % x I
= 101,09 A
Dipilih penghantar A3C 3x70 mm
RINCIAN BIAYA PEMASANGAN JARINGAN SUTM & SUTR

 Biaya material :
o RAB untuk GTT Rp. 45.500.000
o RAB untuk SUTR Rp. 17.000.000
o RAB untuk SUTM Rp. 52.000.000
Harga Material Total Rp. 114.500.000
 Biaya non material :
o Biaya Penyambungan (BP) Rp.200/VA
 Pada pabrik Rp.200 x 630.000 Rp.126.000.000
 Pada perumahan Rp.200 x 82.500 Rp. 16.500.000
o Biaya Gambar
 Pada pabrik Rp.300 x 630.000 Rp.189.000.000
 Pada perumahan Rp.300 x 82.500 Rp. 24.750.000
o Uang Jaminan Langganan (UJL)
 Pada pabrik Rp.135 x 630.000 Rp. 85.000.000
 Pada perumahan Rp.135 x 82.500 Rp. 11.137.500
Harga Non Material Total Rp.452.387.500
 Supervisi (untuk perumahan)
10% dari harga material total = 10% x Rp. 114.500.000 Rp. 11.450.000
 Faktor Resiko
15% dari harga material total = 15% x Rp. 114.500.000 Rp. 17.175.000
 PPN
15% dari harga material total = 15% x Rp. 114.500.000 Rp. 17.175.000

Jumlah Harga Keseluruhan :


 Harga Material Total Rp. 114.500.000
 Harga Non Material Total Rp. 452.387.500
 Supervisi (untuk perumahan) Rp. 11.450.000
 Faktor Resiko Rp. 17.175.000
 PPN Rp. 17.175.000
Rp. 612.687.500
Dibulatkan menjadi Rp. 613.000.000
Jadi biaya yang dibutuhkan untuk pemasangan jaringan SUTM dan SUTR pada
Industri TM/TM/TR dengan daya pabrik 700 KVA dan daya perumahan 79,2 KVA adalah
sebesar Rp. 613.000.000

LAMPIRAN
Pentanahan Titik Netral Trafo

Agar permukaan tanah di lokasi GTT mempunyai perbedaan potensial yang


serendah-rendahnya pada waktu terjadi hubung tanah. Sestem pentanahan GTT
menggunakan konduktor yang ditanam secara horisontal dengan bentuk kisi-kisi.
Dengan catatan :
 Menggunakan elektroda jenis batang, ditanam dengan kedalaman sepanjang
elektroda.
 Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis (  ) 100 ohm/m.
 Luas penampang elektroda adalah 16 mm2, sehingga jari-jari elektroda (a) adalah
2,25 mm.
 Panjang elektroda (L) 6 m.

R pentanahan 1 elektroda

 4L
 (ln  1)
R 2L a
100 4  2,5
 (ln  1)
2  3,14  6 0,002
100
 (8,5  1)
37,68
 19,9 

Menurut peraturan di dalam PUIL tahanan pentanahan maksimal adalah 5 Ohm. Jadi
pentanahan 1 lektroda tidak mencukupi. Sehingga digunakan pentanahan elektroda dengan
sistem ‘Grid’. Diinginkan tahanan pentanahan adalah 3 Ohm,
R1elektrodq
maka jumlah elektroda yang diperlukan adalah = Ryangdiinginkan

19,9
=
3
= 6,63 = 7 batang
Sehingga didapat R pentanahan total adalah
19,9
Rtotal =  2,8 Ohm
7
Dengan elektroda pentanahan bentuk grid telah memenuhi persyarat PUIL

6m

6m
Perhitungan Pentanahan; Arrester, Body Panel dan Tiang.

Agar bahaya sambaran petir tidaak masuk kedalam sistem, maka arester harus ditanahkan.
Selain itu untuk menghindari tegangan sentuh pada peralatan maka bodi panel juga harus
ditanahkan. Pentanahan tiang digunakan untuk mengurangi drop tegangan pada konsumen.
Dengan catatan :
Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis (  ) 100 ohm/m
Luas penampang elektroda adalah 16 mm2.
Jarak antar elektroda (L)adalam 3 m
Menggunakan sistem pentanahan dengan konfigurasi ‘cross section’.

Panjang elektroda (l)adalah 6 m


Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda.
K
R pentanahan   faktor pengali konfigurasi
2l
l 2500
  200  K  5,3
r 12,5

1  2 q  2n  4 m
faktor pengali  5  2q  n  8m

ln x ln 1,5 0,4
m    0,24 l  L 2,5  5
 l  ln 5,3 1,67 x   1,5
ln  L 5
r
ln y ln 1,25 0,22
n    0,13
l ln 5,3 1,67
ln 
r
l  2 L 2,5  10
y   1,25
2L 10
ln z ln 1,79 0,58
q    0,35
 
l ln 5,3 1,67
ln 
r

l 2L 2,5  3,16
z   1,79
2L 3,16

1  2  0,35  2  0,13  4  0,24 1  0,7  0,26  0,96 0,7


Faktor pengali  5  2  0,35  0,13  8  0,24  5  0,7  0,13  1,92  3,91  0,18

5,3  100
R pentanahan  31,5
 0,18  3,03

Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan konfigurasi cros section adalah sebesar
3,03 Ohm. Sehingga memenuhi persyaratan PUIL.