Anda di halaman 1dari 25

BAB I

Pendahuluan

I.1 Latar belakang


Penyakit infeksi merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya
mikroba patogen seperti bakteri, virus, jamur maupun parasit. Penyakit infeks i
dianggap sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan (mordibity)
dan angka kematian (mortality) pada negara berkembang seperti Indonesia.1 Salah
satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi yaitu penyakit hepatitis. Hepatitis
merupakan penyakit infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis. A, B,
C, D atau E berifat akut maupun kronik. Hepatitis termasuk dalam golonga n
penyakit infeksi menular, yang penyebarannya dapat melalui makanan, air atau
cairan tubuh.2
Penyakit infeksi hepatitis menurut World Health Organization (WHO) 2017
menempati urutan ketujuh penyakit penyebab kematian di seluruh dunia. Hal ini
mengalami peningkatan dari tahun 1990 – 2013. Pada tahun 2015, dilaporkan
bahwa 90% pasien hepatitis terdiagnosa hepatitis B dan C kronik sisanya
terdiagnosa hepatitis A atau E akut didunia.3
Pada daerah Asia Tenggara, dilaporkan bahwa hepatitis B kronik mengala mi
peningkatan kejadian dari tahun – tahun sebelumya. Pada tahun 2015 diperkirakan
sekitar 39,4 (28,8 – 76,5) juta orang didunia terdiagnosa penyakit hepatitis B
kronik. Berbeda dari hepatitis B kronik, hepatitis C kronik juga diperkirakan terjadi
pada 10,3 (7,0 – 17,8) juta orang pada daerah ini. Kedua penyakit ini
bertanggungjawab atas terjadinya 410.000 kematian per tahunnya, 78% diantara
kematian tersebut disebabkan oleh komplikasi yang terjadi yaitu penyakit sirosis
hepatik dan kanker hati akibat hepatitis B dan C kronik.3
Berdasarkan data WHO 2017, Indonesia termasuk dalam negara yang
memiliki tingkat endemisitas intermediate terhadap penyakit hepatitis di wilaya h
Asia Tenggara. Prevalensi ditemukannya HBsAg untuk negara dengan tingkat
tersebut adalah berkisar 2 – 7 %. Angka komplikasi yang ditimbulkan oleh infeks i
hepatitis juga cukup tinggi. Data WHO 2017 menjelaskan bahwa angka kejadian
hepatitis di daerah Asia Tenggara pada tahun 2015 yang menyebabkan kematian

1
berupa hepatitis akut yang mencapai 22%, sedangkan hepatitis kronik mencapai
78% dengan komplikasi sirosis yang ditimbulkan hampir mencapai 83% dan kanker
hati 17%.4 Pada tahun 2013, riset kesehatan dasar (Riskesdas) telah melakukan
pendataan terbaru mengenai angka kejadian hepatitis di Indonesia dan didapatkan
prevalensi hepatitis 2013 adalah 1,2 persen, dua kali lebih tinggi dibandingka n
2007.2

Gambar 1. Angka kematian akibat komplikasi hepatitis di wilayah Asia Tenggara


tahun 2015 .4

Tingginya angka kejadian hepatitis serta tingginya komplikasi yang


ditimbulkan membuat pentingnya pemahaman yang baik terhadap hepatitis. Bila
kejadian ini semakin meningkat, dapat memberikan dampak buruk terhadap
kualitas hidup masyarakat serta mempengaruhi biaya kesehatan yang harus
ditanggung menjadi besar. Kesinambungan antara petugas kesehatan dan
masyarakat dalam upaya pencegahan dini serta pengendalian hepatitis sangat
diperlukan agar tidak terjadinya peningkatan angka kejadian.

2
I.2. Tujuan
Tujuan penulisan laporan ini yaitu:
1. Sebagai salah satu syarat ujian kepaniteraan klinik Stase Ilmu Penyakit
Dalam RS Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto.
2. Menambah ilmu dan wawasan tentang Ilmu Penyakit Dalam khususnya di
bidang hepatologi tentang prinsip diagnosis dan tatalaksana penyakit
hepatitis akut dan kronik.

3
BAB II
Tinjauan Pustaka

II.1 Anatomi dan fisiologi hati


Hati merupakan organ instestinal terbesar dengan berat mencapai 1,2 – 1,8 kg
dengan berat rata-rata sekitar 1.500 gr atau 2% berat badan orang dewasa. Hati
termasuk organ lunak yang lentur dan memiliki permukaan superior cembung yang
terletak dibawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri. Bagian bawah
hati berbentuk cekung. Hati memiliki 2 lobus utama yaitu kanan dan kiri. Lobus
kanan terbagi menjadi segmen anterior dan posterior oleh visura segmentalis kanan
yang tidak terlihat dari luar. Lobus kiri terbagi menjadi segmen medial dan lateral
oleh ligamentum falsiformis yang terlihat dari luar 5,6 .

Gambar 2. Anatomi hati.5

Secara fisiologis, hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh,


merupakan sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 – 25%
oksigen darah. Beberapa fungsi yang dimiliki hati yaitu,5
a. Sebagai yang memetabolisme karbohidrat.
b. Sebagai yang memetabolisme lemak.
c. Sebagai yang memetabolisme protein.
d. Fungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah.
e. Fungsi hati sebagai memetabolisme vitamin.
f. Fungsi hati sebagai detoksikasi.
g. Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas.

4
h. Fungsi hemodinamik.

II.2 Definisi hepatitis


Hepatitis virus akut adalah suatu penyakit infeksi sistemik yang mengena i
hati. Hepatitis virus akut dapat disebabkan oleh satu dari lima jenis virus hepatitis
yaitu virus hepatitis A (HAC), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV),
virus hepatitis D (HDV), atau virus hepatitis E (HEV). Berbeda dengan hepatitis
virus akut, hepatitis kronik memiliki pengertian yaitu serangkaian gangguan hati
dengan penyebab dan derajat keparahan beragam yang disertai keadaan adanya
peradangan serta terjadinya nekrosis hati berlanjut selama minimal 6 bulan.7

II.3 Prevalensi hepatitis


World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pada tahun 2015
penyakit virus hepatitis menyebabkan terjadinya kematian pada 1,34 juta orang
didunia. Diperkirakan pada tahun 2017, terdapat 325 juta orang didunia yang
terdiagnosa dengan penyakit hepatitis B kronik maupun hepatitis C kronik.8 Hasil
data riskesdas Indonesia tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi penyakit
hepatitis didapatkan sebanyak 1,2%. Hasil ini dinyatakan meningkat dua kali lebih
tinggi dibanding tahun 2007. Lima provinsi dengan prevalensi hepatitis tertinggi
adalah Nusa Tenggara Timur (4,3%), Papua (2,9%), Sulawesi Selatan (2,5%),
Sulawesi Tengah (2,3%) dan Maluku (2,3%). Provinsi Nusa Tenggara Timur masih
menjadi provinsi dengan prevalensi hepatitis tertinggi di Indonesia sejak tahun
2007.2

Gambar 3. Prevalensi kejadian hepatitis Indonesia tahun 2007 & 2013.2

5
II.4 Klasifikasi
Klasifikasi hepatitis dapat terbagi berdasarkan lama penyakit berupa akut atau
kronik, yaitu:7
a. Akut
Kasus hepatitis virus umumnya disebabkan satu dari lima jenis
virus, yaitu virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus
hepatitis C (HCV), virus hepatitis D (HDV) dan virus hepatitis E
(HEV).7
i. Virus hepatitis A
Virus hepatitis A termasuk virus RNA tidak berselubung,
memiliki ukuran 27 – 32 nm, resisten panas, asam, dan eter yang
berasal dari genus hepatovirus famili picornavirus. Virus ini
menular melalui jalur fekal – oral terutama minuman dan
makanan yang terkontaminasi. Virus ini sangat stabil pada
lingkungan dengan suhu 60°C selama 60 menit, namun dapat
menjadi tidak aktif pada suhu 81°C selama 1 menit. Cara
inaktivasi lainnya yaitu kontak dengan formaldehida dan klorin
atau iraidasi ultraviolet. Virus hepatitis A resisten terhadap
detergen dan pH rendah, sehingga virus ini dapat berpenetrasi ke
saluran pencernaan mukosa lambung6,7,9 .
Virus ini memiliki masa tunas sekitar empat minggu dan
replikasinya terbatas pada hati, namun dapat ditemukan pada
hati, darah, empedu dan juga tinja. Antibodi terhadap HAV
(anti-HAV) dapat terdeteksi selama fase akut, ketika aktivitas
aminotransferase meningkat dan pengeluaran HAV melalui tinja
masih berlangsung. Respon antibodi tubuh awal berasal dari
IgM anti - HAV menetap selama beberapa bulan dan pada masa
konvalesens IgG anti – HAV menjadi antibodi predominan. Hal
inilah yang menjadi dasar penilaian penyakit dalam masa akut
bila ditemukan adanya IgM anti – HAV. Keberadaan Ig-G anti
– HAV sebagai perlindungan terhadap infeksi HAV
berulang.6,7,9

6
Gambar 4. Skema gambaran khas dan laboratorium hepatitis A akut.7

ii. Virus hepatitis B


Virus hepatitis B termasuk dalam virus dengan jenis DNA
dengan ukuran yang sangat kecil sekitar 3200 bp dan termasuk
golongan Hepadnaviridae. HBV memiliki beberapa bentuk
partikel virion masing – masing ukuran partikel tersebut berbeda
– beda. Partikel yang memiliki ukuran 22 nm berbentuk bulat
atau filament panjang, partikel ini yang paling banyak
ditemukan dan tidak dapat dibedakan dengan protein selubung
luarnya. Partikel lainnya berukuran besar kurang lebih 42 nm
dengan dinding rangkap, berbentuk tubulus berupa virion utuh.
Pada selubung permukaan luar virion yang berbentuk tubulus
biasa ditemukan antigen permukaan hepatitis B atau HBsAg.
Partikel berukuran 42 nm juga memiliki inti nukleokapsid yang
disandi oleh gen C. Antigen yang diekspreskan di permukaan
inti nukleokapsid disebut antigen inti hepatitis B atau Hepatitis
B core antigen (HBcAg). Suatu protein nukleokapisd non
partikel yang larut dan juga merupakan produk gen C adalah
antigen e hepatitis B atau HBeAg, namun secara imumolo gis
HBeAg berbeda dengan HBcAg.7,9

7
Gambar 5. Bagian partikel virus hepatitis B.7

iii. Virus Hepatitis C


Virus hepatitis C sebelumnya dinamai dengan hepatitis non
– A non – B. Virus ini termasuk RNA linier dengan rantai
tunggal yang berasal dari genom flavivirus dan pestivirus, genus
Hepacivirus dalam family Flaviviridae. RNA - HCV dapat
terdeteksi sebelum kemunculan anti – HCV beberapa hari
setelah terpajan dan selama berlangsung pajanan, namun pada
infeksi kronis RNA - HCV terkadang hanya terdeteksi secara
intermiten. Transmisi virus ini umumnya melalui darah seperti
pada kegiatan transfuse.6,7,9
iv. Virus Hepatitis D
Virus Hepatitis D merupakan virus golongan RNA yang
fungsinya bergantung pada bantuan yang disediakan oleh virus
hepatitis B dalam replikasinya. HDV dapat menginfeks i
seseorang bersamaan dengan HBV (ko-infeksi) atau menginfeks i
seseorang yang sudah terinfeksi HBV (superinfeksi). Pada saat
infeksi HDV akut, penanda yang mendominasi adalah anti –
HDV kelas IgM.7
v. Virus Hepatitis E
Virus Hepatitis E termasuk dalam golongan Hepaviridae.
Virus RNA ini berbentuk sferis, tidak memiliki selubung,

8
memiliki diameter 27 -34 nm dan memiliki bentuk simetr i
iksohedral. Virus ini stabil terhadap keadaan lingkungan dan
bahan kimia, namun bila dibandingkan virus hepatitis A virus ini
tidak lebih stabil. Infeksi virus hepatitis E dapat ditularka n
melalui empat jalur yaitu melalui air, makanan seperti konsumsi
daging merah yang kurang matang, transmisi melalui darah atau
parenteral serta melalui transmisi vertikal antara ibu dengan
janin. Virus ini dapat terdeteksi di tinja, empedu dan hati.
Penanda IgM anti – HEV dan IgG anti – HEV dapat dideteksi
namun keduanya cepat turun setelah infeksi akut dan mencapai
kadar rendah dalam 9 – 12 bulan.6,7
b. Kronik
Hepatitis virus kronik biasa terjadi pada pasien dengan hepatitis B
dan C yang menjadi kronik serta pasien hepatitis D yang superimpose
dengan hepatitis B kronik.7
i. Hepatitis B kronik
Pada pasien hepatitis B kronik, gambaran histologik
memiliki makna terhadap prognostik. Selain gambaran
histologik, derajat replikasi HBV juga perlu diperhatikan. Pada
infeksi kronik, dapat ditemukan hepatitis B e serum (HBeAg)
baik yang reaktif maupun non-reaktif. Tingkat DNA - HBV juga
memiliki keterkaitan dengan cedera hati dan resiko
perkembangan penyakit.7

Gambar 6. Gambaran serologis pada infeksi virus hepatitis B kronik .7

9
ii. Hepatitis C kronik
Hepatitis C kronik terjadi pada 50 – 70% setelah infeks i
hepatitis C akut. Pada beberapa negara maju, infeksi HCV
kronik menjadi indikasi utama dilakukannya transplantasi hati. 7
iii. Hepatitis D kronik
Penyakit ini dapat terjadi setelah masa ko-infeksi dengan
HBV, namun angka kejadiannya tidak lebih tinggi dibanding
kronisitas hepatitis B akut. Hal ini berarti meskipun ko – infeksi
HDV dapat meningkatkan keparahan hepatitis B akut, namun
HDV tidak meningkatkan kemungkinan perkembangan menuju
hepatitis B kronik.7

II.5 Manifestasi klinis


Hepatitis virus akut akan terjadi setelah masa tunas yang bervariasi sesuai
dengan virus penyebab. Gejala pada pasien hepatitis terbagi atas 3 fase yaitu fase
pre – ikterik, fase ikterik dan fase perbaikan / konvalesens. Hampir semua fase antar
virus sama gejalanya, namun ada beberapa ciri khas antar jenis infeksi7,9 .
a. Fase pre-ikterik
Fase ini terjadi 1 – 2 minggu sebelum fase ikterik. Biasa ditemukan gejala
kontituasional seperti mual, muntah, anoreksia, mialgia, nyeri kepala,
fotofobia, faringitis atau dapat juga batuk. Perubahan warna urin menjadi
lebih gelap dan feses menjadi lebih pucat / dempul biasa ditemukan 1 – 5
hari sebelum fase ikterik. Pada infeksi hepatitis B juga biasa disertai
dengan demam yang tidak terlalu tinggi 9 .
b. Fase ikterik
Pada fase ini gejala konstitusional umumnya sudah membaik, namun
timbul gambaran jaundice pada pasien. Umumnya terdapat nyeri perut
kuadran kanan atas yang dapat terjadi akibat hepatomegali disertai
penurunan berat badan ringan. Fase ini berlangsung 2 – 12 minggu. Pada
infeksi hepatitis B juga dapat ditemukan splenomegali, gambaran
kolestatik hingga adenopati servikal. Pada hepatitis C akut ditemukan
gejala ikterik yang menyertai lebih lama durasinya.9 .

10
c. Fase perbaikan
Gejala konstitusional sudah menghilang namun hepatomegali dan
keabnormalitasan fungsi hati masih dapat ditemukan. Pada <1% kasus,
dapat menjadi hepatitis fulminant yaitu terjadinya ensefalopati dan
koagulopati dalam 8 minggu setelah gejala penyakit hati pertama kali9 .

II.6 Pemeriksaan penunjang


a. Hepatitis A
Pemeriksaan yang dilakukan yaitu,
i. Serologi hepatitis A
 IgM anti – HVA positif menandakan fase hepatitis A akut.
 IgG anti – HVA positif menandakan pasien memiliki riwayat
hepatitis A.9
ii. Biokimia hati
 Pada fase ikterik ditemukan kadar SGPT lebih tinggi
dibanding kadar SGOT.
 Pada pasien yang ditemukan keadaan klinis ikterik pada sklera
maupun kulit, kadar bilirubin yang ditemukan >2,5 mg/dL.
 Alkalin fosfatse umumya normal atau meningkat sedikit.
 Waktu protombin (PT) umumnya normal atau memanjang 1 –
3 detik. Peningkatan yang signifikan menunjukkan nekrosis
hepatoselular yang ekstensif dan memiliki prognosis buruk.
 Penurunan albumin serum jarang ditemukan pada hepatitis
virus akut tanpa komplikasi.9
iii. USG abdomen
Biasa dilakukan untuk mengetahui adakah penyait penyerta batu
empedu.9
b. Hepatitis B
Pemeriksaan yang dilakukan yaitu,
i. Serologis hepatitis B
 Pemeriksaan HBsAg dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya HBV dalam darah. Penanda ini merupakan

11
penanda virologik pertama yang dapat dideteksi dalam
serum antara minggu ke 8 - 12. HBsAg menjadi tidak
terdeteksi setelah fase ikterus dan jarang menetap hingga
lebih dari 6 bulan. Hasil positif menandakan infeksi virus
hepatitis B, hasil negatif menandakan hal sebaliknya.9,10
 Pemeriksaan anti-HBs dilakukan untuk mendeteksi
antibodi yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respon
terhadap antigen pada virus hepatitis B. biasa muncul
setelah HBsAg sudah tidak ada dalam serum.7
 Pemeriksaan anti-HBc terkadang dipengaruhi dari hasil
dua pemeriksaan lainnya yaitu pemeriksaan anti-HBs dan
HBsAg. Penemuan anti-HBc dapat menjadi bukti serologik
infeksi HBV yang baru atau sedang berlangsung.
Penemuan anti-HBc tanpa HBsAg dan anti-HBs dapat
memiliki arti adanya kemungkinan penyebab infeksi
berasal dari transfusi.7,11
 Pemeriksaan IgM/IgG anti-HBc dilakukan untuk
mengetahui lama seseorang telah terinfeksi HBV. Hasil
IgM anti-HBc positif menandakan infeksi bersifat akut < 6
bulan, sedangkan IgG anti-HBc negatif menandakan
infeksi bersifat kronik.7,11
 Pemeriksaan HBeAg dapat dilakukan sejak awal atau
berbarengan dengan HBsAg. Hal ini dikarenakan
kemunculannya yang dapat berbarengan atau segera
setelah HBsAg.7
 Pemeriksaan HBV-DNA, bertujuan untuk mendeteksi
seberapa besar HBV-DNA dalam darah dan hasil
replikasinya pada urin seseorang. Pemeriksaan positif
memiliki arti bahwa virus ini berkembang biak di dalam
tubuh seseorang dan dapat menularkan virus kepada orang
lain. Jika seseorang memiliki Hepatitis B infeksi virus
kronis, kehadiran DNA virus berarti bahwa seseorang

12
mengalami peningkatan risiko untuk kerusakan hati.
Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memanta u
efektivitas terapi obat untuk infeksi Virus Hepatitis B
kronis serta dapat menjadi dasar perhitungan dimula inya
pengobatan.11

Gambar 7. Gambaran serologis pada infeksi virus hepatitis B akut.7

ii. Biokimia hati


Dilakukan pemeriksaan terhadap kadar SGPT, SGOT, gamma –
glutamyl transpeptidase (GGT), alkalin fosfatase, bilirub in,
albumin, globulin, darah perifer lengkap dan waktu protrombin.
Umumya ditemukan kadar SGPT lebih tinggi dibanding SGOT,
namun bila perjalanan penyakit sudah menuju sirosis maka rasio
tersebut dapat menjadi terbalik. Untuk pemeriksaan komplikas i
berupa karsinoma hepatoseluler perlu dilakukan pemeriksaan α-
fetoprotein.9
iii. USG dan biopsi hati
Pemeriksaan ini biasa dilakukan untuk memilai derajat
nekroinflamasi dan fibrosis pada kasus infeksi kronis dan sirsosis
hati.9
iv. Pemeriksaan lain
Perlu dilakukan untuk mencari penyebab hati lain termasuk
kemungkinan HIV.9

13
c. Hepatitis C
Pemeriksaan yang dilakukan yaitu,
i. Serologis hepatitis C
Dilakukan dengan metode ELISA atau chemiluminescent
immunoassay (CLIA). Ddilakukan pemeriksaan titer anti – HCV
dan RNA – HCV. Hasil anti – HCV dapat ditemukan negatif palsu
pada pasien HIV, hemodialisa, dan pengguna immunosupresan.9
ii. Biokimia hati
Dilakukan pemeriksaan terhadap kadar SGPT, SGOT, gamma –
glutamyl transpeptidase (GGT), alkalin fosfatase, bilirub in,
albumin, globulin, darah perifer lengkap dan waktu protrombin.9
iii. USG dan biopsi hati
Pemeriksaan ini biasa dilakukan untuk memilai derajat
nekroinflamasi dan fibrosis pada kasus infeksi kronis dan sirsosis
hati.9
iv. Pemeriksaan lain
Perlu dilakukan untuk mencari penyebab hati lain termasuk
kemungkinan HIV atau ko – infeksi hepatitis B.9

II.7 Diagnosis
Diagnosis penyakit hepatitis dapat dilihat dari gejala, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang dilakukan.
a. Hepatitis A
Diagnosa Hepatitis A akut dapat ditegakkan bila ditemukannya IgM anti
– HAV positif tanpa ditemukannya IgG anti – HAV.9
b. Hepatitis B
Infeksi hepatitis B akut ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan temuan serologis HBsAg positif dan IgM anti – HBs positif. 9
Penentuan diagnosis infeksi hepatitis B kronis berdasarkan konsensus
perhimpunan penelitian hati Indonesia (PPHI) 2012 11 , yaitu :

14
Gambar 8. Kriteria diagnosis hepatitis B menurut PPHI 2012.11

c. Hepatitis C
Infeksi hepatitis C akut ditegakkan bila,
 Ditemukan serokonversi anti – HCV yang diketahui
sebelumnya anti – HCV nya negatif.
 Pasien ikterik dan ditemukan serum SGPT nya > 10 x nilai
batas normal, tanpa ada riwayat penyakit hati kronis atau
penyebab hepatitis akut lainnya dan atau dapat diindentifika s i
sumber penularannya.9
Infeksi hepatitis C kronik ditegakkan bila anti - HCV dan RNA - HCV
tetap terdeteksi lebih dari 6 bulan sejak terinfeksi dengan gejala penyakit
hati kronis.9

Gambar 9. Interpretasi pemeriksaan serologis infeksi virus hepatitis C.7

15
II.8 Tatalaksana
a. Hepatitis A
Sebagian besar kasus hepatitis A mengalami resolusi spontan tanpa
diberikan antiviral sehingga pada kasus ini tidak ada terapi
medikamentosa yang spesifik. Terapi yang diberikan biasanya berupa
terapi simpomatis dan hidrasi yang sangat adekuat. Terapi farmakolo gi
sebagai terapi simpomatis yang biasa diberikan berupa obat antieme tik,
analgesok atau antipruritus. Terapi non – farmakologi yang dianjurkan
berupa asupan kalori dan cairan secara adekuat (tidak ada larangan diet
spesifik), hindari konsumsi alkohol dan obat – obatan yang bersifat
hepatotoksik seperti paracetamol dan pasien dianjurkan untuk istirahat
total di tempat tidur (tirah baring) pada fase akut.6,9
Pada infeksi hepatitis virus akut D dan E, pengobatan yang diberikan
sama dengan infeksi hepatitis A akut yaitu terupa terapi suportif dan
simpomatis saja.6,7,9
b. Hepatitis B
Terapi yang diberikan pada infeksi hepatitis B akut umumnya
bersifat suportif berupa tirah baring, menjaga asupan nutrisi dan cairan
yang adekuat. Bila terjadi komplikasi hepatitis fulminant, maka dapat
diberikan lamivudin dengan dosis 100 – 150 mg/hari hingga 3 bulan
setelah muncul anti-HBe pada pasien HBsAg positif.9
Pemberian terapi pada infeksi hepatitis B kronik memilik i
algoritmanya tersendiri berdasarkan kadar HBaAg. Pada kelompok
HBeAg positif, terapi ditujukan agar HBeAg menjadi negatif,
sedangkan HBeAg negatif ditujukan agar kadar DNA-HBV tidak
terdeteksi lagi pada 2 kali pemeriksaan selama 6 bulan. Algoritma yang
dibuat oleh PPHI 201211 , yaitu

16
Gambar 10. Algoritma terapi hepatitis B kronik pada kadar HBeAg positif.9

Pengobatan yang diberikan berupa salah satu dari berbagai obat oral
atau dapat juga diberikan IFN PEG yang biasa digunakan sebagai
pemberian terapi lini petama. Pada beberapa negara pemberian
lamivudin oral telah dijadikan lini pertama mengingat tingginya tingkat
resistensi pada obat ini. IFN PEG biasa diberikan setiap minggu melalui
penyuntikan secara subkutis selama satu tahun sedangkan obat oral
biasa diberikan setiap harinya selama satu tahun dan dilanjutkan tanpa
batas atau sampai 6 bulan setelah serokonvensi HBeAg.7

17
Gambar 11. Algoritma terapi hepatitis B kronik pada kadar HBeAg negatif.9

Tujuan pengobatan pada pasien HBeAg negatif berfokus pada


penekanan kadar DNA-HBV dan mempertahankan kadar ALT yang
normal. Semua obat secara oral maupun pemberian IFN PEG dapat
diberikan sebagai lini pertama, namun mengingat tingkat resistensi dan
penggunaan dalam jangka panjang lamivudin yang cukup tinggi
ditemukan obat ini perlu dipertimbangkan sebagai lini pertama. 7
Penatalaksanaan Hepatitis B kronik pada saat ini terdapat 2 kelompok
terapi untuk hepatitis B Kronik yaitu, 6

i. Kelompok Imunomodulasi
1. Interferon

18
2. Timosin alfa 1
3. Vaksinasi terapi
ii. Kelompok terapi antivirus
1. Lamivudin
2. Adifoir dipivoksil
Tujuan pengobatan hepatitis B kronik adalah mencegah atau
menghentikan progresi jejas hati (liver injury) dengan cara menekan
replikasi virus atau menghilngkan injeksi. Dalam pengobatan hepatitis
B kronik, titik akhir yang sering dipakai adalah menghilangnya petanda
replikasi virus yang aktif seara menetap (HbeAg dan DNA HBV). Pada
umumnya serokonversi HbeAg menjadi anti –Hbe disertai hilangnya
DNA HBV dalam serum dan meredanya penyakit hati. 6

Terapi dengan imunomodulator biasa digunakan dengan interfero n


(IFN) alfa yang merupakan kelompok protein intraseluler yang normal
ada didalam tubuh dan diproduksi oleh berbagai macam sel. Beberapa
khasiat IFN adalah khasiat antivirus, imunomodulator, anti prolifera tif
dan anti fibrotik. IFN tidak memiliki khasiat antivirus langsung tapi
merangsang terbentuknya berbagai macam protein efektor yang
mempunyai khasiat antivirus. Dalam proses terjadinya aktifitas
antivirus, IFN mengadakan interaksi dengan reseptor IFN yang terdapat
pada membran sitoplasma sel hati yang diikuti dengan diproduksinya
protein efektor.
IFN adalah salah satu pilihan untuk pengobatan pasien hepatitis B
kronik dengan HBeAg positif, dengan aktifitas penyakit ringan-sedang,
yang belum mengalami sirosis.6
Beberapa faktor yang dapat meramalkan keberhasilan IFN:
 Konsentrasi ALT yang tinggi.
 Konsentrasi DNA HBV yang rendah.
 Timbulnya flare-up selama terapi.
 IgM anti-HBc yang positif.
Efek samping IFN:
 Gejala seperti flu.

19
 Tanda-tanda supresi sumsum tulang.
 Flare-up.
 Depresi.
 Rambut rontok.
 Berat badan turun.
 Gangguan fungsi tiroid.
Kontra indikasi:
 Sirosis dekompensata.
 Depresi.
 Penyakit jantung berat.
Dosis IFN yang dianjurkan untuk hepatitis B kronik dengan
HBeAg positif adalah 5-10 MU 3x seminggu selama 16-24
minggu. Untuk hepatitis B dengan HBeAg negatif diberikan
selama 12 bulan. 6

Terapi antivirus yang biasa digunakan dalam tatalaksana hepatitis


virus B kronik yaitu lamivudin dan adifoir dipivoksil.6
 Lamivudin
Lamivudin adalah analog nukleosid yang berfungsi sebagai
bahan pembentuk pregenom, sehingga analog nukleosid
bersaing dengan nukleosid asli. Lamivudin berkhasiat
menghambat enzim reverse transkriptase yang berfungs i
dalam transkripsi balik dari RNA menjadi DNA yang terjadi
dalam replikasi HBV. Lamivudin menghambat produksi HBV
baru dan mencegah terjadinya infeksi hepaosit sehat yang
belum terinfeksi. Setelah obat dihentikan, titer DNA HBV
akan kembali seperti semula karena sel-sel yang terinfeks i
akhirnya memproduksi virus baru lagi. Strategi pengobatan
yang tepat adalah dengan melakukan pengobatan jangka
panjang. Sayangnya strategi terapi berkepanjangan ini
terhambat oleh munculnya virus yang kebal terhadap
lamivudin, yang biasa disebut mutan YMDD yang biasanya

20
muncul setelah terapi selama 6 bulan dan terdapat
kecendrungan peningkatan dengan berjalannya waktu. 6
 Adefoir Dipivoksil
Suatu nekleosid oral yang menghambat enzim reverse
transcriptase. Mekanisme khasiat adefoir hampir sama dengan
lamivudin. Pada saat ini adefoir baru dipakai pada kasus-kasus
yang kebal terhadap lamivudin karena memperhatikan segi
keuntungan dan kerugian dari adefoir. Dosis yang dianjurka n
adalah 10 mg tiap hari. Pemakaian adefoir pada dosis 30 mg
atau lebih dapat menyebabkan toksisitas pada ginja l.
Keuntungan adefoir adalah jarangnya terjadi kekebalan serta
menjadi terapi yang ideal untuk terapi hepatitis B kronik yang
parah. Kerugiannya adalah harga yang lebih mahal dan masih
kurangnya data mengenai khasiat dan keamanan dalam
penggunaan jangka panjang.
Terdapat analog nukleosid lain yang juga dipakai pada hepatitis B
kronik, yaitu Fanciclovir dan Emtericitabine (FTC).6 Indikasi terapi
antivirus yaitu terapi dianjurkan untuk pasien hepatitis B kronik dengan
ALT> 2X normal dengan HBV DNA positif. Untuk ALT < 2x nilai
normal tidak perlu diterapi dengan antivirus. 6
Lama terapi antivirus dalam keadaan biasa IFN diberikan sampai 6
bulan sedangkan lamivudin sampai 3 bulan setelah serokonversi
HBeAg. Kriteria respon terhadap terapi antivirus ayang biasa dipakai
adalah hilangnya DNA HBV dalam serum (non PCR), hilangnya
HBeAg dengan atau tanpa munculnya anti-HBe. Normalnya ALT, serta
turunnya nekroinflamasi dan tidak adanya progresi fibrosis pada biopsy
hati yang dilakukan secara seri. Berikut kategori respon terhadap
antivirus yaitu, 6

 Respon Biokimiawi (BR) adalah penurunan konsentrasi ALT/


SGPT menjadi normal.

21
 Respon virologik (VR), negatifnya DNA HBV dengan metode
nonamplifikasi (<105 kopi/ml) dan hilangnya HBeAg pada
pasien yang sebelum terapi HBeAg positif.
 Respon histologik (HR) menurunnya indeks aktivitas
histologik sedikitnya 2 poin dibandingkan biopsy hati sebelum
terapi.
 Respon komplit (CR) adanya respon biokimiawi dan virolo gik
yang disertai negatifnya HBsAg.
Waktu pengukuran respon antivirus selama terapi dilakukan diperiksa
setiap 1-3 bulan dengan memeriksakan kadar ALT, HBeAg dan DNA
HBV (non PCR). Setelah terapi selesai kadar ALT, HBeAg dan DNA
HBV (non PRC) kembali dilakukan pemeriksaan tiap 3-6 bulan.6
c. Hepatitis C
Pada hepatitis C akut, dapat diberikan terapi suportif. Hal ini
berdasarkan berbagai pertimbangan yang menyatakan bahwa tidak
diperlukannya terapi spesifik pada infeksi hepatitis akut.6,7 Menurut
hasil meta – analisis terhadap uji klinis kecil menunjukkan bahwa
pemberian terapi antivirus dengan monoterapi interferon α dosis 3 juta
unit subkutis tiga kali seminggu dapat bermanfaat mengurangi angka
kronisitas infeksi.7
Indikasi terapi pada hepatitis C kronik apabila ditemuka n
peningkatan kadar ALT lebih dari batas nilai normal.6 Pengobatan HCV
kronik adalah dengan menggunakan infterferon alfa dan ribavirin. 6
Telah disepakati bahwa pada jenis genotipe 1 dan 4 diperlukan terapi
yang diberikan selama 48 minggu dan bila genotipe 2 dan 3, terapi yang
dibutuhkan cukup diberikan selama 24 minggu. 6
i. Interferon alfa (IFN α)
Adalah suatu protein yang dibuat secara alami oleh tubuh
manusia untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh/imunitas
dan mengatur fungsi sel lainnya. Dosis IFN α konvensional yang
dibutuhkan biasa diberikan 2 – 3 kali seminggu dengan dosis 3
juta unit subkutan setiap pemberian.6 Efek samping yang

22
berkaitan dengan IFN adalah sitopenia, ganguan fungsi tiroid,
gangguan ingatan dan konsentrasi, gangguan penglihatan, cepat
lelah, nyeri otot, sakit kepala, mual dan muntah, tidak selera
makan dan penurunan berat badan, demam derajat rendah, iritas i
kulit, insomnia, pendengaran berkurang, tinitus, fibrosis
interstitial dan penipisan rambut.6
ii. Pegylated interferon alfa
Dibuat dengan menggabungkan molekul yang larut air yang
disebut "polyethylene glycol (PEG)" dengan molekul interfero n
alfa. Modifikasi interferon alfa ini lebih lama ada dalam tubuh,
dan beberapa penelitian menunjukkan lebih efektif dalam
membuat respon bertahan terhadap virus dari pasien hepatitis C
kronis dibandingkan interferon alfa biasa. Biasa diberikan
dengan dosis 1,5 ug/kgBB/kali (untuk PEG-interferon 12 KD)
atau dosis 180 ug (untuk PEG-interferon 40 KD) setiap
minggunya.6
iii. Ribavirin
Obat anti virus yang digunakan bersama interferon alfa
untuk pengobatan hepatitis C kronis.6 Pemberian ribavir in
dilakukan bersamaan dengan pemberian interferon untuk
meningkatkan efektivitas.6 Dosis ribavirin yang mengik uti
pemberian interferon disesuaikan dengan berat badan pasien.
Dosis pada pasien berat badan < 50 kg adalah 800 mg setiap hari,
50 – 70 kg adalah 1000 mg setiap hari, dan > 70 kg adalah 1200
setiap hari dibagi dalam 2 kali pemberian6 .
Efek samping ribavirin adalah anemia hemolitik, cepat lelah,
gatal-gatal, rash, batuk, faringitis, asam urat dan cacat pada
waktu lahir6 .

23
BAB III
Kesimpulan

Hepatitis virus akut adalah suatu penyakit infeksi sistemik yang mengena i
hati yang disebabkan oleh satu dari lima jenis virus hepatitis yaitu virus hepatitis A
(HAC), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), virus hepatitis D (HDV),
atau virus hepatitis E (HEV). Hepatitis kronik yaitu serangkaian gangguan hati
dengan penyebab dan derajat keparahan beragam yang disertai keadaan adanya
peradangan serta terjadinya nekrosis hati berlanjut selama minimal 6 bulan. 7 World
Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pada tahun 2015 penyakit virus
hepatitis menyebabkan terjadinya kematian pada 1,34 juta orang didunia.
Riskesdas Indonesia tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi penyakit hepatitis
didapatkan sebanyak 1,2%. Hasil ini dinyatakan meningkat dua kali lebih tinggi
dibanding tahun 2007.
Pemeriksaan penunjang yang digunakan dalam mendiagnosa pasien hepatitis
adalah dengan melakukan pemeriksaan serologi hepatitis, biokimia hati dan
pemeriksaan penunjang seperti USG abdomen. Tatalaksana yang dibutuhkan bagi
infeksi hepatitis virus akut berupa terapi suportif dan tirah baring. Terapi yang
dibutuhkan untuk infeksi hepatitis virus B kronik yaitu dapat diberikan kelompok
imunomodulasi berupa interferon, timosin alfa 1 atau vaksinasi terapi. Dapat juga
diberiksan kelompok terapi antivirus berupa lamivudine atau adifoir dipivoks il.
Terapi yang dibutuhkan untuk infeksi hepatitis virus C kronik yaitu dengan
menggunakan infterferon alfa dan ribavirin. Pentingnya ketepatan diagnosa dan
penatalaksanaan yang tepat pada pasien yang terinfeksi hepatitis virus, dapat
mengurangi tingginya kerugian yang dirasakan masyarakat akibat penyakit infeks i
ini.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Mariati D, 2013, “Potensi Isolat Acitomycetes dari Rizosfer Padi (Oryza sativa
L.) Sebagai Penghasil Antibiotik”, Jurnal Kesehatan Undip, diakses 12
November 2017.
2. Riset kesehatan dasar 2013, diakses pada 28 Juni 2016,
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%2
02013.pdf.
3. World Health Organization 2017, Global Hepatitis Report 2017, Diakses
pada 30 oktober 2017,
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/255016/1/9789241565455-
eng.pdf?ua=1
4. World Health Organization 2017, Regional Hepatitis Plan in SEA, Diakses
pada 30 oktober 2017,
http://www.searo.who.int/entity/hepatitis/viral-hepatitis-action-plan.pdf?ua=1
5. Sherwood, L. 2013. Fisiologi Manusia Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, Indonesia.
6. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi VI, Penerbit Interna Publishing, Jakarta.
7. Dienstag J.L, 2014. Harrison Gastroenterologi & Hepatologi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, Indonesia
8. World Health Organization 2017, New hepatitis data highlight need for urgent
global respon, Diakses pada 30 oktober 2017,
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2017/global- hepatitis-
report/en/
9. Klarisa C, Hasan I, Liwang F. 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Ed 4.
Jakarta: Penerbit Media Aesculapis
10. Atikel Umum: Hepatitis B, Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia. 2014,
Diakses pada 2 November 2017,
http://pphi-online.org/alpha/?p=560
11. Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia. 2014. Konsensus Nasional
Penatalaksanaan Hepatitis B di Indonesia. Jakarta: Penerbit PPHI.

25