Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia epitel di
daerah squamocolumnar junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis
serviksalis. Kanker serviks dapat berasal dari permukaan ektoserviks maupun
endoserviks. Sebanyak 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi
serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran serviks yang
menuju ke rahim. Sebelum terjadinya kanker serviks, akan didahului oleh terbentuknya lesi
prakanker atau cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau neoplasia intraepitel serviks
(NIS).1,2,6

Gambar 1. Daerah squamocolumnar junction yang sering menjadi lokasi kanker cervix. (Dikutip dari Rasjidi I.
Epidemiologi Kanker Serviks. Indonesian Journal of Cancer. 2009; 3(3). p. 103-108).

2.2 EPIDEMIOLOGI
Kanker serviks merupakan kanker yang terbanyak diderita oleh wanita-wanita di
negara berkembang termasuk Indonesia. Sedangkan, insiden dan angka kematian kanker
serviks di Amerika Serikat menurun selama beberapa dekade terakhir. Hal ini karena
penggunaan metode skrining yang populer sehingga lesi serviks yang pre-invasif lebih
sering dideteksi daripada kanker invasif.4,6,7

2
Di Indonesia sendiri, diperkirakan terjadi 40 ribu kasus baru kanker serviks setiap
tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi dari 13 pusat laboratorium patologi di
Indonesia, kanker serviks merupakan penyakit yang memiliki jumlah penderita
terbanyak di Indonesia yaitu sekitar 36%. Kejadian kanker serviks di Bali sendiri
dilaporkan telah menyerang sebesar 553.000 wanita usia subur pada tahun 2010 atau
43/100.000 penduduk wanita usia subur.1
Dari data 17 rumah sakit di Jakarta pada tahun 1977, kanker serviks menduduki
urutan pertama, yaitu sebanyak 432 kasus di antara 918 kanker pada perempuan. Di
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, frekuensi kanker serviks sebesar 76,2% di antara
kanker ginekologi. Pasien sering datang pada stadium lanjut yaitu stadium IIB-IVB
(66,4% kasus). Sekitar 37,3% kasus ditempati oleh stadium IIIB yang merupakan
stadium dengan gangguan fungsi ginjal.1,3,8
Umur penderita kanker serviks berkisar antara 30-60 tahun, dimana yang
terbanyak adalah di antara umur 45-60 tahun. Periode laten dari fase pra-invasif untuk
menjadi invasif membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Hanya 9% dari wanita berusia
<35 tahun menunjukkan kanker serviks yang invasif pada saat didiagnosis, sedangkan
kanker in-situ terjadi pada 53% wanita yang berumur <35 tahun.1,6,9

2.3 ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO


Sampai saat ini, penyebab kanker serviks belum diketahui secara pasti. Namun
diduga kuat berkaitan dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV) terutama tipe 16
dan 18.2,3,4,8
Secara molekuler, genom HPV adalah suatu double strand DNA yang mengkode
9 protein virus. Dua diantaranya adalah LI dan L2 yang merupakan protein pembungkus
virus dan diekspresikan paling akhir dalam siklus kehidupan virus ini. Protein lainnya
adalah E1-E7 yang diekspresikan lebih awal. E1 merupakan protein yang berperan
dalam replikasi dari virus ini. Sedangkan protein E2 adalah regulator utama untuk
transkripsi dan replikasi dari virus ini. Protein E2 berinteraksi dengan protein E1 dalam
proses inisiasi replikasi dan mengontrol transkripsi pada gen promoter virus. Hilangnya
fungsi E2 sering ditemukan pada pada stadium awal kanker, yang diikuti dengan
ekspresi tidak terkontrol dari onkoprotein virus yaitu E6 dan E7. Onkoprotein E6 dan
E7 akan berikatan dengan gen p53 dan pRB dari host yang berperan dalam pengaturan
pembelahan sel sehingga mengganggu siklus hidup sel host dan menyebabkan

3
kerusakan genetik yang mengarah pada terjadinya keganasan. Secara imunologis,
protein E6 dan E7 menurunkan imunitas host.
Secara makro, infeksi HPV menyebabkan metaplasia pada epitel permukaan
serviks.4 Ketika HPV menginfeksi keratinosit, tubuh host akan merespon dengan
menghasilkan interferon dan melepaskan sitokin proinflamasi. Interferon akan
menghambat proliferasi sel dan menghancurkan keratinosit yang terinfeksi HPV.
Namun, onkoprotein E6 dan E7 dapat menghambat produksi interferon sehingga
mengganggu imunitas secara keseluruhan sehingga mempermudah terjadinya
keganasan.
Pajanan HPV primer diduga terjadi pada sel lapisan basal dan selanjutnya ekspresi
protein virus berhubungan dengan fase diferensiasi pada lapisan spinosum. Lingkaran
pajanan HPV tergantung pada perjalanan hidup dari sel targetnya yaitu keratinosit. Pada
epitel skuamosa serviks, keratinosit berpindah dari bagian proliferasi lapisan basal,
berdiferensiasi dan bergerak ke atas yang pada akhirnya terlepas dari epitel permukaan
sesudah penggantian sel oleh lapisan epitel di bawahnya. Selama diferensiasi keratosit,
inti sel mengecil dan piknotik dan akhirnya menghilang.
Sesudah virus memasuki epitel, protein kapsid virus berinteraksi dengan sel basal
dan DNA virus memasuki sel. Selama infeksi fase laten, virus terdapat dalam bentuk
episome. Mula-mula replikasi virus terjadi pada lapisan spinosum bagian tengah yang
ditandai meningkatnya E1,E2 dan E5. Akhirnya pada lapisan atas spinosum terdapat
keratinosit yang telah terdiferensiasi dan kumpulan virus muncul bersama dengan
ekspresi L1 dan L2. Ekspresi E4 juga terbatas pada lapisan spinosum bagian atas dan
berfungsi untuk memfasilitasi pelepasan virion. Diferensiasi epitel skuamosa
diperlukan untuk replikasi virus dan produksi virion. Sementara itu E6 dan E7
diekspresikan dalam lapisan spinosum bagian bawah.Dengan demikian peranan
onkoprotein E6 dan E7 pada siklus hidup virus normal adalah untuk menciptakan
sebuah lingkungan yang mampu memfasilitasi replikasi virus melalui the delay of
keratinocyte senescence dan aktivasi sintesis DNA. Karena itu, perubahan genetik
secara terbatas mengarah pada onkogenesis yang dapat merugikan baik host maupun
virus karena virus tidak dapat bereplikasi pada epitel yang tidak sedang
berdiferensiasi.1,2,6,9 Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kanker serviks
yaitu :

4
a. Usia
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker serviks. Semakin tua usia
seseorang, maka risiko terjadinya kanker serviks semakin meningkat. Meningkatnya
risiko kanker serviks pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya
waktu paparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem kekebalan
tubuh seiring bertambahnya usia.1,2,7,10
b. Aktivitas seksual
Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual.
Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat hubungan seksual
dan risiko penyakit ini. Wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang
memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena
kanker serviks. Hal ini karena sel kolumnar pada serviks lebih peka terhadap
metaplasia selama usia dewasa. Selain itu juga dikaitkan dengan paparan HPV pada
zona transformasi di serviks yang sedang berkembang tersebut. Sehingga wanita
yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker
serviks lima kali lipat. Usia saat pertama berhubungan seksual maupun jumlah
partner seksual adalah faktor risiko untuk terjadinya kanker serviks.1,5,6,10
c. Paritas
Kaitan kanker serviks dengan paritas merupakan pencerminan dari aktivitas seksual
dan waktu mulainya kontak seksual yang pertama kali. Selain itu, perempuan yang
sering melahirkan termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker
serviks, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu dekat. Sering melahirkan akan
sering mengakibatkan perlukaan pada organ reproduksi sehingga memudahkan
infeksi HPV.1,5,7
d. Hubungan seksual dengan banyak pasangan atau multipartner
Hubungan seksual multipartner didasarkan atas konsep bahwa pria berisiko tinggi
merupakan vektor yang berkaitan dengan penyakit menular seksual akibat HPV dan
Chlamydia trachomatis yang diduga berperan dalam karsinogenesis dari kanker
serviks. Beberapa studi kasus kontrol menunjukkan bahwa pasien dengan kanker
serviks lebih sering menjalani seks aktif dengan partner yang telah melakukan seks
berulang kali. Selain itu, partner dari pria dengan kanker penis atau partner dari pria

5
yang istrinya meninggal terkena kanker serviks juga akan meningkatkan risiko
terkena kanker serviks.1,8
e. Pemakaian kontrasepsi hormonal
Penggunaan pil kontrasepsi diduga dapat mempercepat progresivitas dari lesi
serviks, sehingga pil kontrasepsi secara tidak langsung dapat meningkatkan insiden
kanker serviks. Penelitian kohort menunjukkan bahwa risiko kanker serviks pada
wanita yang memakai pil kontrasepsi lebih dari 6 tahun meningkat sekitar 2 kali
lipat. Peran pil kontrasepsi sebagai faktor risiko didasarkan atas adanya aktivasi
proses metaplasia, dimana kontrasepsi oral dapat menginduksi terjadinya eversi
pada epitel kolumnar sehingga dapat meningkatkan paparan terhadap HPV. Selain
itu, kontrasepsi oral juga menurunkan kadar asam folat dalam darah sehingga terjadi
perubahan megaloblastik pada sel epitel serviks. Data lain menunjukkan bahwa
estrogen yang terkandung dalam pil kontrasepsi dapat meningkatkan ekspresi
protein onkogen E6 dan E7 dari HPV. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral
cenderung tidak menggunakan kontrasepsi barier dengan aktivitas seksual yang
lebih tinggi.1,8,10
f. Merokok
Saat ini terdapat data yang mendukung tentang rokok sebagai salah satu faktor risiko
kanker serviks dan hubungan antara merokok dengan munculnya kanker sel
skuamosa pada serviks. Intensitas dan lamanya merokok berhubungan dengan risiko
kanker serviks. Hal ini didasarkan pada adanya penemuan senyawa karsinogenik
dari rokok dalam konsentrasi tinggi seperti nikotin, kotinin, phenol, hidrokarbon,
dan tar pada mukus yang dihasilkan dari serviks wanita perokok. Bahan
karsinogenik ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama-sama dengan
infeksi HPV dapat mencetuskan transformasi ke arah keganasan.1,6,10
g. Mengidap penyakit menular seksual
Infeksi menular seksual yang berhubungan dengan risiko kanker serviks adalah
infeksi HPV, HSV-2, dan Chlamydia trachomatis. Dengan tehnik biomolekuler,
dilaporkan bahwa 90-95% HPV tipe onkogenik didapatkan pada kanker serviks
yang invasif dan hampir 100% dari kanker serviks jenis skuamosa dapat
teridentifikasi adanya DNA dari HPV.5,6,9
h. Status sosial ekonomi rendah

6
Status sosial ekonomi rendah dikaitkan dengan status gizi yang buruk. Status gizi
yang buruk dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi maupun
keganasan.1,7
i. Diethylstilbestrol (DES)
Hubungan antara clear cell adenocarcinoma pada serviks dan paparan DES in utero
telah dibuktikan.1

2.4 PATOFISIOLOGI
Secara histologi, serviks terdiri dari 2 jenis epitel yaitu epitel skuamosa pada
daerah ektoserviks dan epitel kolumnar pada daerah endoserviks. Epitel kolumnar
terdiri dari 2 macam sel yaitu: sel yang bersilia & sel yang tidak bersilia. Sel yang tidak
bersilia memproduksi lendir atau mukus yang membasahi kanalis serviksalis dan sel
yang bersilia berfungsi membersihkan lendir/mukus tersebut. Kedua epitel ini bertemu
pada suatu daerah transformasi yang disebut sambungan skuamosa kolumnar (SSK).
Secara morfogenetik SSK dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. SSK asli yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa asli dengan epitel
kolumner.
2. SSK baru atau SSK fungsional merupakan tempat pertemuan epitel skuamosa
metaplastik di daerah transformasi dengan epitel kolumner.
SSK ini bersifat dinamis yang dipengaruhi oleh stimulasi hormonal dan status
perkembangan (neonatus, menarche, kehamilan, menopause). Pada zona transformasi
ini akan terjadi penggantian secara bertahap epitel kolumnar oleh epitel skuamosa
(metaplasia). Pada wanita muda, SSK ini berada di luar ostium uteri eksternum,
sedangkan pada wanita berumur ≥35 tahun SSK berada di dalam kanalis serviksalis.2,3,8
Zona transformasi pada SSK melalui 2 proses perkembangan yaitu epitelialisasi
(pertumbuhan langsung dari epitel porsio asli) dan metaplasia skuamosa yang berasal
dari sel-sel kubus yang ada di bawah epitel kolumnar. Pada awal terbentuknya zona
transformasi, sel-sel bersifat labil (imatur) dan sangat rentan terhadap perubahan-
perubahan lingkungan sekitarnya. Proses ini sangat aktif pada saat janin dalam
kandungan, menarche dan kehamilan pertama.3 Serviks normal, secara alami mengalami
proses metaplasia akibat proses desak mendesak kedua epitel yang melapisi. Dengan
masuknya mutagen, porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologis
dapat berubah menjadi patologis (displastik-diskariotik) menjadi lesi prekanker

7
(NIS/neoplasma intraepitelial serviks). NIS dibagi menjadi 3: NIS I (displasia
ringan/perubahan 1/3 lapisan bawah epitel), NIS II (displasia sedang/perubahan
meluputi ½-3/4 tebal epitel), NIS III (displasia berat meliputi lebih dari ¾ tebal
epitel/karsinoma insitu).
NIS dapat mengalami regresi, menetap atau berkembang dan tumbuh menjadi
invasif. Tidak ada gejala yang ditemukan pada NIS (92%), kadang hanya keputihan atau
gejala peradangan.5,7,8 Secara sederhana perjalanan penyakit pada kanker serviks adalah
seperti gambar berikut :

Gambar 2. Lesi prekanker pada cervix. (Dikutip dari Jin XW, et al. Cervical cancer screening: Less testing, smarter
testing. Cleveland Clinic Journal of Medicine. 2011; 78(11). p. 737-747).

2.5 MANIFESTASI KLINIS

8
Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penderita kanker serviks seperti
keputihan berbau, perdarahan pasca koitus, perdarahan pasca menopause, nyeri
panggul, gangguan buang air kecil, gangguan buang air besar, penurunan berat badan,
gejala anemia, serta keluhan lain sesuai penyebaran dari kanker serviks tersebut. Fluor
albus atau keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan dan makin lama akan
berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan
tumor menjadi ulseratif.
Pada tahap awal terjadinya kanker serviks biasanya tidak ada gejala-gejala khusus.
Gejala yang sering terjadi pada tahap awal berupa siklus haid yang tidak teratur,
amenorhea, hipermenorhea, sekret vagina berlebihan, perdarahan intermenstrual,
perdarahan pasca koitus, atau nyeri di area abdomen hingga panggul.
Pada tahap lanjut, gejala yang timbul lebih bervariasi. Sekret dari vagina berwarna
kuning, berbau, dan dapat terjadi iritasi pada vagina serta mukosa vulva. Perdarahan
pervaginam semakin sering terjadi, nyeri makin progresif, dan terjadi penurunan berat
badan. Darah yang keluar berwarna merah terang, dan dapat bervariasi dari yang cair
sampai menggumpal. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai
ekstremitas bawah, hematuria, perdarahan pada rektum. dan gagal ginjal akibat
obstruksi ureter. 1,3,4,7
Pada pemeriksaan fisik umum biasanya ditemukan pembesaran kelenjar limfe
supraklavikula dan inguinal, pembesaran hepar maupun ascites, sesuai organ yang
terkena. Pada pemeriksaan vaginal toucher (VT) dapat dinilai adanya fluor, fluksus,
tanda-tanda penyebaran/infiltrasi pada vagina, permukaan portio serviks, maupun
keadaan adneksa dan parametrium untuk mencari apakah ada tanda-tanda penyebaran.
Pada pemeriksaan rectal toucher (RT) dinilai adanya penyebaran kanker ke arah dinding
pelvis atau cancer free space (CFS) yang merupakan daerah bebas antara tepi lateral
serviks dengan dinding pelvis. Dari pemeriksaan VT dan RT juga dapat dinilai adanya
penyebaran kanker ke kolon, rektum, dan vesika urinaria.10
Pemeriksaan penunjang yang dapat dikerjakan adalah pap smear, inspeksi visual
asam asetat (IVA test), biopsi dengan atau tanpa kolposkopi, konisasi, pemeriksaan
laboratorium seperti tes fungsi hati dan ginjal, serta pemeriksaan lain sesuai dengan
keperluan (foto thorax, USG ginjal/abdomen, sistoskopi, CT-scan, rektoskopi).2,3,5
2.6 DIAGNOSIS

9
Diagnosis kanker serviks ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologi.
Berdasarkan histopatologinya, kanker serviks dibagi menjadi:1,6,9,10
a. Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa tersusun dari sel skuamosa. WHO membagi sel skuamosa
karsinoma menjadi large cell keratinizing, large cell non-keratinizing, dan small cell
keratinizing. Kebanyakan karsinoma sel skuamosa adalah bersifat non-keratinizing,
sedangkan yang bersifat keratinizing ditandai oleh adanya mutiara keratin.
Berdasarkan sifat diferensiasi selnya, karsinoma sel skuamosa dibagi menjadi 3,
yaitu karsinoma skuamosa berdiferensiasi baik, sedang, dan buruk.
b. Adenokarsinoma
Adenokarsinoma berasal dari kelenjar endoserviks. Sekitar 70% dari tumor ini
menunjukkan gambaran jenis sel endoserviks. Secara histologi tumor ini mengalami
diferensiasi dari baik sampai buruk.
c. Karsinoma adenoskuamosa
Tersusun dari dua jenis sel yang berdiferensiasi yaitu sel kuamosa dan sel glandular .
Umumnya mempunyai prognosis yang lebih jelek dari asal selnya oleh karena
mempunyai diferensiasi yang jelek dan tumor ini sering dihubungkan dengan
tingginya angka metastasis ke kelenjar limfe daripada sel aslinya.

Gambar 3. Staging pada kanker serviks. (Dikutip dari Benedet J, et al. Cancer of
2.7 PENATALAKSANAAN DAN
cervix uteri. In: Staging PROGNOSIS
Classifications and Clinical Practice Guidelines for
Gynaecological Cancers. International Journal of Gynecology and Obstetrics. 2000;
70. p. 35-61).

10
Secara umum, modalitas terapi untuk kanker serviks adalah pembedahan, radiasi,
kemoterapi, dan paliatif. Penatalaksanaan kanker serviks berbeda-beda pada setiap
pasien karena didasarkan atas stadium, tipe histopatologi, keadaan umum pasien,
keinginan pasien untuk memiliki anak lagi, dan kebutuhan akan fungsi seksual.1,3,7
a. Pembedahan
Pembedahan merupakan pilihan utama dalam penanganan kanker serviks stadium
awal dan dapat bersifat kuratif maupun paliatif. Histerektomi adalah suatu tindakan
pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks (total) ataupun
salah satu dari keduanya (subtotal). Luasnya reseksi jaringan yang dilakukan
tergantung pada ukuran dan kedalaman dari invasi tumor. Biasanya, histerektomi
dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA (berdasarkan klasifikasi FIGO).
Sebaiknya histerektomi dilakukan sebelum menopause, keadaan umum pasien baik,
dan bebas dari penyakit yang berisiko tinggi seperti penyakit jantung, ginjal, dan
hepar. Histerektomi dapat dilakukan pada pasien yang berumur < 65 tahun.
Pada karsinoma in situ, seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan
pisau bedah atau melalui Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) atau
konisasi, sehingga penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali
kambuh, pasien dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan pap smear setiap
3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak
memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Peranan
pembedahan menjadi berkurang pada kanker serviks yang sudah menyebar hingga di
atas forniks.1,5,6
b. Terapi Radiasi
Terapi radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi bertujuan untuk merusak sel-sel
kanker pada serviks dan menghentikan pertumbuhannya, serta mematikan
parametrial dan limfonodi di pelvis. Radioterapi Kanker serviks stadium IIB, III, IV
sebaiknya diterapi dengan radiasi. Radioterapi yang bersifat kuratif diberikan pada
stadium I sampai III B dan bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor primer dan sel-
sel tumor yang telah menyebar ke sekitarnya atau bermetastasis ke limfonodi di
pelvis, dengan tetap mempertahankan jaringan sehat di sekitarnya (rektum, vesika
urinaria, usus halus, ureter) sebanyak mungkin. Radioterapi hanya efektif untuk
mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah pelvis. Apabila sel kanker

11
telah menyebar keluar dari rongga pelvis, maka radioterapi tersebut hanya bersifat
paliatif dan diberikan secara selektif pada stadium IVA.
Radiasi eksternal yaitu pemberian terapi radiasi dari sinar yang dihasilkan dari
sebuah mesin, pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit, dan penyinaran biasanya
dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu. Radiasi eksternal dilakukan
untuk daerah parametrium dan kelenjar limfe pelvis untuk mengurangi paparan sinar
radiasi pada kandung kemih dan rektum.
Radiasi internal yaitu pemberian terapi radiasi dengan zat radioaktif di dalam sebuah
kapsul yang dimasukkan langsung ke dalam serviks, dibiarkan selama 1-3 hari, dan
selama itu pula pasien dirawat di rumah sakit. Terapi ini bisa diulang beberapa kali
selama 1-2 minggu. Efek samping dari radiasi adalah iritasi rektum dan vagina,
kerusakan kandung kemih dan rektum, serta terhentinya fungsi ovarium.2,4,6,8
c. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat melalui infus,
tablet, atau intramuskuler untuk membunuh sel kanker dan menghambat
perkembangannya. Pemberian kemoterapi tergantung pada jenis kanker dan fasenya
saat didiagnosis. Beberapa kanker mempunyai penyembuhan yang dapat
diperkirakan atau dapat sembuh dengan pengobatan kemoterapi.
Penggunaan kemoterapi saat ini juga ditujukan untuk mengurangi ukuran tumor saat
sebelum pembedahan (kemoterapi neoadjuvan) dan untuk mencegah kekambuhan
kanker setelah pembedahan histerektomi radikal (kemoterapi adjuvan). Kemoterapi
bersifat paliatif jika kanker telah menyebar luas atau berada dalam fase terminal, dan
bertujuan untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik kepada pasien.
Kemoterapi dapat diberikan dalam bentuk preparat tunggal atau dalam kombinasi.
Preparat tunggal yang sering digunakan adalah cisplatin dan ifosfamide. Respon
penggunaan obat ini cukup singkat, yaitu 4-6 bulan. Cisplatin merupakan preparat
tunggal yang paling banyak diteliti dan digunakan pada kanker serviks. Preparat ini
diberikan dengan dosis 100mg/m2 dan 50 mg/m2 secara intravena. Kemoterapi
kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase karena terapi dengan agen-agen
dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang memuaskan. Pemilihan
kemoterapi kombinasi tergantung dari respon terapi dan jenis histopatologi tumor
tersebut.

12
Pengawasan lanjut untuk pasien yang dilakukan kemoterapi yaitu kontrol jika
terdapat keluhan serta pap smear setiap bulan pada tiga bulan pertama yang
dilanjutkan setiap tiga bulan pada dua tahun kedua, kemudian setiap enam bulan.
Selain itu juga dilakukan pemeriksaan fungsi hati, fungsi ginjal, kadar hemoglobin,
leukosit, trombosit, foto thoraks dan IVP.
Beberapa faktor yang mempersulit pemberian kemoterapi adalah riwayat terapi
radiasi sebelumnya dan adanya kelainan fungsi ginjal. Hal ini karena terapi radiasi
dapat menurunkan aliran darah ke lokasi tumor sehingga menurunkan distribusi obat,
menurunkan cadangan sumsum tulang, dan terkadang memiliki efek sitotoksik yang
mirip dengan beberapa jenis preparat kemoterapi sehingga sering terjadi resistensi
silang.5,6,7,8
d. Terapi Paliatif
Terapi paliatif ditujukan untuk kanker serviks stadium akhir. Terapi paliatif dapat
menggunakan modalitas radiasi, kemoterapi, maupun kemoradiasi.10

KANKER SERVIKS
Stadium 0 Stadium I-IIA Stadium IIB Stadium III Stadium IV
IIIIB kemoradiasi
Ingin anak Tak Ingin Sel ganashisterectomy
Radical (+) pada eksternal
Neoadjuvant
operable :
konisasi anak limfe/vascular -kemoterapiNon-operable Paliatif :
histerektomi involvement (+) (-) pada
Sel ganas -kemoradiasi internal -radiasi/operasi/sitostatika
limfe/vascular paliatif
Terapi adjuvant : Radical Radiasi eksternal
involvement lanjut
Pengawasan (-) Radiasi eksternal -simptomatis
Prognosis
- radiasi eksternal kanker serviks adalah
(4000-5000 rad) buruk. Prognosis
histerectomy yangrad)buruk tersebut
(4000-5000
- sitostatika
Skema 1. Skema penatalaksanaan kanker serviks. (Dikutip dari Prosedur Tetap Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK UNUD/RSUP Sanglah
Denpasar.dihubungkan dengan data bahwa 85-90% kasus kanker serviks yang terdiagnosis pada
2004; 70. p. 133-137).

stadium invasif, stadium lanjut, bahkan stadium terminal. Beberapa cara yang dipakai
untuk menentukan faktor prognosis pasien adalah berdasarkan klinis pasien seperti
keadaan umum, stadium penyakitnya, dan besar tumor primer, serta tipe histopatologis
jenis sel seperti derajat diferensiasi tumornya.2,3,4,6
a. Stadium klinis
Five-years survival rate untuk masing-masing stadium kanker serviks adalah sebagai
berikut :
 Stadium 0 : 100% sembuh
 Stadium IA : 95%
 Stadium IB : 70-90% (tidak termasuk pasien dengan kanker yang telah menyebar
ke limfonodi).

13
 Stadium IIA : 70-90%
 Stadium IIB : 60-65%
 Stadium III : 30-50%
 Stadium IVA : 20-30%
 Stadium IVB : 5-10%
Penyakit stadium awal ditentukan oleh faktor lokal seperti ukuran lesi, persentase
invasi tumor ke stroma serviks, tipe histologi, grading tumor, dan penyebaran tumor
ke jaringan limfe dan pembuluh darah. Secara umum, prognosisnya baik jika
diameter lesi ≤ 2 cm, invasi masih superfisial, diferensiasi baik, tanpa disertai invasi
ke jaringan limfe maupun pembuluh darah.
Untuk pasien pasca histerektomi, faktor prognosis yang buruk meliputi semua faktor
lokal tersebut, termasuk hasil positif pada pinggiran vagina/parametrium dengan
adanya metastase ke limfonodi pelvis. Pasien stadium IB dengan penyebaran ke
limfonodi yang positif memiliki prognosis 50%. Untuk pasien stadium lanjut
(stadium II-IV) prognosisnya sangat ditentukan oleh jenis histologi dan ukuran
tumor primer. Pasien stadium IIB memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi
dengan keterlibatan parametrial yang minimal dibandingkan pasien dengan ukuran
tumor yang besar dengan keterlibatan parametrial bilateral. Secara histologis, large-
cell nonkeratinizing squamous tumor memiliki prognosis lebih baik dibandingkan
adenokarsinoma yang berdiferensiasi buruk.
b. Keadaan umum dan status nutrisi pasien.
Pasien dengan anemia menunjukkan respon yang lebih buruk terhadap terapi radiasi
dibandingkan pasien dengan kadar hemoglobin yang normal. Kadar hemoglobin
harus dipertahankan ≥12 g/L untuk keberhasilan radioterapi.

2.8 DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN KANKER SERVIKS


Hingga saat ini terdapat dua metode deteksi dini kanker serviks yaitu dengan Pap
smear dan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat).
a. Pap smear
Pap smear mudah dilakukan dan tidak menimbulkan rasa sakit. Tingkat keberhasilan
Pap smear dalam mendeteksi dini kanker rahim yaitu 65-95 %. Sasarannya ditujukan

14
kepada wanita usia subur yang sudah menikah atau yang sudah pernah melakukan
senggama dan wanita dengan faktor risiko.
Pap smear dilakukan sekali setahun. Bila sudah mendapatkan tiga kali hasil
pemeriksaan yang normal maka pemeriksaan dapat dijarangkan, misalnya setiap dua
tahun sekali. Pada wanita berisiko tinggi, pemeriksaan harus dilakukan sekali
setahun atau sesuai petunjuk dokter. Pap smear dapat dilakukan setiap saat, kecuali
saat masa menstruasi. Dua hari sebelum pemeriksaan, sebaiknya pasien tidak
menggunakan obat-obatan yang dimasukan ke dalam vagina.2,4,8
b. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA adalah salah satu deteksi dini kanker serviks dengan menggunakan asam asetat
3-5 % secara inspekulo dan dilihat dengan pengamatan mata langsung. Pemeriksaan
ini tidak menimbulkan rasa sakit, mudah, murah dan hasilnya dapat diketahui secara
langsung. Epitel serviks yang abnormal akan berwarna putih jika diolesi dengan
asam asetat 3-5 %. Namun, efek tersebut akan menghilang dalam waktu 1-2 menit
setelah diolesi asam asetat.
Dengan mengoleskan asam asetat pada serviks dan melihat reaksi perubahan yang
terjadi, maka adanya lesi prakanker dapat dideteksi lebih awal. Tingkat keberhasilan
metode IVA dalam mendeteksi dini kanker serviks yaitu 60-92%. Sensitivitas IVA
bahkan lebih tinggi daripada Pap smear.
Pemeriksaan IVA dapat dilakukan pada wanita usia subur dan wanita yang sudah
pernah melakukan senggama sebanyak 1 kali dalam 1 tahun, kecuali bila ada
kecurigaan lain. Pemeriksaan IVA dapat dilakukan setiap saat, tetapi tidak dalam
keadaan menstruasi. Selain itu, dua hari sebelum pemeriksaan IVA sebaiknya tidak
menggunakan obat-obatan yang dimasukan ke dalam vagina. Waktu yang diperlukan
untuk mengetahui hasil pemeriksaan dari metode IVA adalah 1-5 menit.
Keunggulan IVA adalah : hasil dapat segera diketahui saat itu juga, efektif karena
tidak membutuhkan banyak waktu dalam pemeriksaan, aman karena pemeriksaan
IVA tidak memiliki efek samping bagi ibu yang memeriksa, praktis, teknik
pemeriksaan sederhana karena hanya memerlukan alat-alat kesehatan yang
sederhana, dapat dilakukan dimana saja, sensivitas dan spesifisitas yang cukup
tinggi, serta dapat dilakukan oleh semua tenaga medis yang terlatih.2,4,8

15
Pencegahan kanker serviks saat ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
dengan menghindari faktor risiko yang berhubungan dengan kanker serviks, melakukan
skrining atau deteksi dini kanker serviks, melakukan vaksinasi HPV, menggunakan
kontrasepsi barier saat berhubungan seksual, melakukan sirkumsisi pada pria, tidak
merokok, serta dengan memperbaiki nutrisi.2,4,6,8
a. Menghindari faktor risiko yang berhubungan dengan kanker serviks, seperti
melakukan hubungan seksual pada usia muda dan berganti-ganti pasangan seksual.
Wanita yang berhubungan seksual di bawah usia 20 tahun serta sering berganti
pasangan lebih berisiko tinggi untuk terkena infeksi menular seksual.
b. Melakukan skrining atau deteksi dini kanker serviks baik dengan Pap smear atau
IVA.
c. Menggunakan kontrasepsi barier saat berhubungan seksual seperti kondom atau
diafragma. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang pasangannya
menggunakan kondom saat berhubungan seksual memiliki kemungkinan yang lebih
kecil untuk terkena infeksi HPV dibandingkan wanita yang pasangannnya tidak
meggunakan kondom.
d. Melakukan vaksinasi HPV. Saat ini telah beredar vaksin untuk mencegah infeksi
HPV tipe 16 dan 18 yang ditengarai menjadi penyebab kanker serviks. Selain
membentengi seseorang dari kanker serviks, vaksin ini juga melindungi perempuan
dari ancaman HPV tipe 6 dan 11 yang bisa menyebabkan kutil kelamin. Vaksinasi ini
baru efektif bila diberikan pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang belum
aktif secara seksual. Vaksin HPV diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu
tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%.
e. Melakukan sirkumsisi pada pria. Sebuah studi menunjukkan bahwa melakukan
sirkumsisi pada pria berhubungan dengan penurunan risiko infeksi HPV pada penis.
f. Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogenik. Pada wanita perokok,
konsentrasi nikotin pada lender yang dihasilkan di serviks 56 kali lebih tinggi
dibandingkan di dalam serum. Bahan-bahan karsinogenik tersebut dapat berefek
langsung terhadap menurunnya status imunitas lokal di serviks sehingga dapat
mempermudah terjadinya infeksi virus seperti HPV.
g. Memperbaiki nutrisi dengan memperbanyak makan sayur dan buah segar yang
mengandung bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker. Ini karena

16
antioksidan dapat melindungi DNA/RNA dari pengaruh buruk radikal bebas yang
terbentuk akibat oksidasi dari bahan-bahan karsinogen.

17

Anda mungkin juga menyukai