Anda di halaman 1dari 17

MANAJEMEN BISNIS RITEL DAN

PENJUALAN

TEMA

ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA DALAM BISNIS RITEL


DAN ASPEK MANAJEMEN KEUANGAN BISNIS RITEL

Disusun oleh:

TRIYATNO 111510491
RIKI JULIAN SUBARNAS 111510482
HERMAWAN 111510418
PANDJI YUWANA ADAM 111510399
JAMES ISHAK RABISAN 111510465
IRMA ANNISA APSARI 111510422

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PELITABANGSA
2018

1
BAB 4
ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA DALAM BISNIS RITEL

PENDAHULUAN
Sumber Daya Manusia dalam Ritel. SDM dalam Retail Memfokuskan pada
masalah strategi dalam struktur organisasi, pendekatan-pendekatan yang secara
umum di gunakan untuk memotivasi dan mengoordinasikan aktivitas karyawan,
dan manajeman praktis untuk membangun kekuatan kerja secara efektif dan
mengurangi tingkat perputaran karyawan.
Mengapa MSDM sangat penting dalam RETAIL? Dalam pengelolaannya
SDM memberikan kontribusi besar dalam peningkatkan kinerja dalam perusahaan.
Sehingga ritel akan dapat keuntungan yang kompetitif dengan cara
mengembangakan dan mengelola sumber daya dengan baik. Manajemen sumber
daya manusia sangat penting dalam bisnis ritel untuk berfokus pada masalah
strategi dalam struktur organisasi.

A. Meraih Keunggulan Kompetitif dari Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen sumber daya manusia dapat menjadi dasar untuk mendapatkan


keuntungan yang kompetitif, dengan tiga alasan sebagai berikut :
1. Perhitungan biaya tenaga kerja termasuk sebagai salah satu komponen
dalam biaya total ritel..
2. Pengalaman yang dimiliki kebanyakan pelanggan terhadap ritel bisa
ditentukan dari aktivitas karyawan yang menyeleksi barang dagangan,
meyediakan informasi dan bantuan, dan keteerampilan dalam memajang
stok barang dagangan di rak pajang.
3. Mengelola sumber daya manusia yang baik akan mewujudkan kinerja
operasional karyawan ritel yang baik pula dan dapat mewujudkan
keuntungan potensial bagi ritel.

2
Untuk menambah karyawan perlu dilakukan survei yang mengukur sikap
tentang perilaku sebagai tingkat perputaran karyawan, yang bisa dihitung dari :

(jumlah penduduk selama satu tahun x 100) / (jumlah posisi kerja) = 100

Mengatur sumber daya manusia dalam penjualan rritel sangat menentang


mengingat beberapa hal berikut ini
• Adanya kebutuhan tenaga kerja paruh waktu.
• penekanan terhadap kontrol biaya.
• perubahan demografis pekerja.

B. Persoalan Sumber Daya Manusia Internasional

Persoalan Strategis Dalam Pengelolaan SDM Ritel


1. Bentuk struktur organisasi harus mampu membagi tanggung jawab dan
otoritas dalam melaksanakan tugas pada bisnis unit beserta orang-orangnya
2. Harus mengoordinasikan aktifitas berbagai depeartemen dan memotivasi
karyawan untuk dapat bekerja ke arah keberhasilan perusahaan.
3. Program yang digunakan untuk membangun komitmen dan
mempertahankan nilai-nilai SDM.

• Struktur organisasi yang sesuai untuk ritel. Terdapat berbagai pilihan


struktur organisasi dalam ritel yang dapat ditunjukan dalam bagan
organisasi dibawah ini:

3
4
Pertimbangan bentuk organisasi
• Spesialisasi, memfokuskan karyawan pada suatu satuan aktivitas yang
terbatas sehingga memungkinkan karyawan untuk mengembangkan
keahlian dan meningkatkan produktivitas.
• Menyelaraskan struktur organisasi dengan strategi ritel, rancangan struktur
organisasi perlu disesuaikan dengan strategi perusahaan ritel.
Struktur organisasi ritel dibedakan menurut jenis ritel dan ukuran perusahaan
1. Organisasi ritel tunggal.
2. Organisasi regional departement store
3. Organisasi perusahaan dari rantai regional departement store

Organisasi regional departement store


• Divisi barang dagang
• Divisi pembelian atau buyers
• Manager kategori
• Perencana barang dagangan
• Divisi ritel
Kesatuan organisasi dalam sebuah rantai pemasaran regional departement store
Fungsi – fungsi aktivitas di kantor perusahaan, melebihi perdagangan regional
meliputi
• Perusahaan
• Pembuatan barang dagangan dan pengembangan produk
• Keuangan, amonistrasi, dan pelayanan kredit
• Sistem perusahaan
• Fungsi logistik dan pengoperasionalannya

5
Persoalan pada organisasi ritel
1. Desentralisasi versus sentralisasi
sentralisasi merupakan kewenangan untuk keputusan ritel yang
dilimpahkan ke manajer perusahaan bukan ke manajer ritel, regional, atau
distrik.desentralisasi merupakan wewenang untuk keputusan ritel yang
dilimpahkan ke tingkat yang lebih rendah dalam organisasi.
2. Koordinasi barang dagangan dan manajeman ritel
Memotivasi karyawan ritel
• Kebijakan tertulis dan pengawasan karyawan,
Kebijakan tertulis adalah metode koordinasi yang paling mendasar, karena:
1. Menyiapkan kebijakan-kebijakan tertulis yang menjadi indikasi atau
petunjuk karyawan mengenai apa yang harus dilakukan.
2. Mempunyai pengawasan kerja yang ketat untuk memperkuat atau
menyelenggarakan kebijakan tersebut
• Insentif
Memberikan insentif agar karyawan dapat melaksanakan aktivitas yang
konsisten sesuai dengan tujuan ritel.
• Budaya organisasi
Budaya organisasi adalah satuan nilai-nilai, tradisi, dan kebiasaan dalam
suatu perusahaan yang mendasari perilaku keorganisasian atau karyawan.
Membangun Komitmen Karyawan
Beberapa pendekatan yang digunakan ritel untuk membangun komitmen
timbal balik
1. Mengembangkan keterampilan karyawan melalui seleksi dan pelatihan.
2. Memberdayakan karyawan.
3. Menciptakan suatu hubungan kemitraan dalam karyawan.
Terdapat 3 aktifitas manajemen sumber daya manusia yang dapat membangun dan
mengembangkan komitmen melalui hubungan kemitraan :
• Mengurangi perbedaan status antar karyawan.
• Memberikan peluang promosi untuk karyawan lama.
• Diberikan flextime (system penjadwalan pekerjaan yang memungkinkan

6
C. Kecendrungan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Ritel

Terdapat tiga kecendrungan dalam manajemen sumber daya manusia untuk


perusahaan ritel, antara lain :
• Mengatur perbedaan
• Masalah kebijakan dan hukum dalam manajemen sumber daya manusia
• Penggunaan teknologi

D. Mengembangkan Kebijakan Sumber Daya Manusia

Persepsi yang wajar dari karyawan didasarkan pada dua faktor persepsi, yaitu
1. Keadilan distribusi
Keadilan yang bisa dilihat dari hasil yang diterima dan dipandang adil dari
hasil yang diterima oleh orang lain
2. Keadilan secara prosedural
Keadilan yang di dasarkan pada proses yang fair untuk menentukan hasil

7
BAB 5
ASPEK MANAJEMEN KEUANGAN BISNIS RITEL

PENDAHULUAN

Ketika ritel memutuskan struktur organisasi bentuk organisasi dan


perencanaan manajemen sumber daya manusianya, maka ritel harus
mengkonsentrasikan diri pada masalah manajemen operasional ritel. Efisiensi dan
efektivitas operasional manajemen ritel akan sangat dipengaruhi oeh kebijakan dan
keputusan yang diambil oleh ritel dalam memuaskan banyak pihak yaitu pelanggan,
karyawan, manajemen, maupun pemilik modal.

Metode dalam menjalankan operasional bisnis ritel akan berdampak pada


penjualan dan akhirnya berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh
perusahaan ritel. Oleh karena itu keputusan di bidang keuangan juga merupakan hal
yang penting dalam bisnis ini. Keputusan keuangan adalah komponen integral pada
setiap aspek strategi ritel. Pada bab ini, didiskusikan bagaimana ritel
mengembangkan strategi untuk mempertahankan keuntungan bersaing dan
sekaligus melihat sarana keuangan yang digunakan untuk mengukur dan
mengevaluasi pengelolaan kinerja secara keseluruhan.

A. Model Keuntungan Strategis

Setiap ritel menginginkan kesuksesan dalam hal keuangan. Salah satu


tujuan keuangan yang penting adalah untuk mencapai imbal hasil atas asset (return
on asset – ROA) yang tinggi. Contohnya, sebuah perusahaan ritel global
menginvestasikan Rp. 174 miliar dalam membangun tokonya dan membeli barang-
barang dagangan yang disiapkan untuk dijual. Di akhir tahun, perusahaan ritel
tersebut meraup keuntungan sebesar Rp. 33 miliar, yang berarti menyumbangkan
hasil sebesar 19 % dibandingkan dengan investasinya (Rp. 33 miliar : Rp. 174
miliar). Rumus perhitungan ROA adalah sebagai berikut:

8
Lababersih
Rasio Imbal Hasil Atas Aset (ROA) =
Totalaset

ROA dapat dibagi menjadi dua, yaitu alur laba (profit path) yang diukur
oleh margin laba bersih dan alur perputaran laba yang dikukur oleh perputaran
asset. Margin laba bersih (net profit margin) adalah seberapa besar keuntungan
(setelah pajak) yang didapat perusahaan dibagi penjualan bersihnya. Sedangkan
perputaran aset (asset turnover) dapat juga digunakan untuk mengukur
produktivitas aset yang diinvestasikan dalam perusahaan, biasanya dihitung dengan
membagi laba bersih dengan total aset. Sedangkan return on asset dapat diperoleh
dari rumusan di bawah ini:

Keuntungan Bersih X Perputaran Asset = Return on Asset

Salah satu cara untuk menjelaskan keberhasilan gan dalam lingkup bisnis
ritel adalah dengan memberi para pemilik modal perusahaan hasil atau
pengembalian yang baik atas investasi mereka. Meskipun ritel mengejar tujuan
keuangan yang sama, ritel dapat menggunakan strategi yang berbeda dalam
mencapai keuntungan tersebut.

B. Alur Keuntungan

Informasi yang digunakan untuk menganalisis alur keuntungan dapat


berasal dari laporan laba rugi sebuah perusahaan ritel. Beberapa komponen utama
dalam laporan laba rugi adalah sebagai berikut:

• Penjualan bersih

Pemahaman penjualan bersih (net sales) dapat diketahui dari jumlah tolal
rupiah yang diterima oleh ritel setelah dikurangi semua pembayaran kembali pada
konsumen untuk barang-barang yang dikembalikan.

Penjualan bersih = Jumlah penjualan kotor – Retur penjualan – Potongan


penjualan Retur penjualan (sales return) mewakili nilai barang-barang yang
dikembalikan konsumen karena barang-barangnya rusak, tidak sesuai, dan

9
sebagainya. Penjualan bersih merupakan ukuran pengelolaan yang penting dalam
bisnis ritel karena penjualan bersih menunjukkan tingkat kegiatan dari barang
dagangan.

• Margin laba kotor

Margin laba kotor (gross profit margin) adalah ukuran penting dalam binis
ritel. Berikut adalah cara menghitungnya:

Margin laba kotor = Penjualan bersih – Harga pokok penjualan

Margin laba kotor juga diperoleh dari persentase penjualan bersih sehingga ritel
dapat membandingkan (1) pengelolaan dari berbagai tipe barang (antar kelompok
barang dagangan) dan

(2) pengelolaan barang dari satu riel dibandingkan dengan pengelolaan ritel-ritel
lain.

• Beban

Beban (expenses) adalah biaya yang terjadi dalam aktivitas normal yang
dilakukan dalam bisnis untuk mendapatkan penghasilan. Beberapa beban dapat
dikategorikan sebagai berikut:

Beban penjualan = Gaji staf penjualan + Komisi + Manfaat Beban umum =


Sewa + Utilitas + Beban lain-lain

Beban administrasi = Gajo semua karyawan selain tenaga penjualan + Beban


operasi kantor + Admonistrasi beban pembelian lain Sedangkan beban operasi
(operating expenses) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan
bisnis untuk memperoleh pendapatan. Satu kategori biaya pengeluaran adalah
biaya- biaya pengoperasian. Kedua adalah biaya modal, yaitu biaya untuk segala
inventaris sampai pembelian lokasi toko baru.

10
• Keuntungan Bersih

Keuntungan bersih (net profit) adalah ukuran pengelolaan perusahaan keseluruhab.


Keuntungan bersih dapat diperoleh sebelum atau sesudahpajak.

Keuntungan bersih = Margin kotor – Beban

C. Alur Perputaran

Informasi yang dapat digunakan untuk menganalisis alur perputaran


(turnover path) perusahaan adalah pos-pos yang berasal dari neraca saldo, seperti
asset, kewajiban, dan sebagainya.

Aset atau aktiva (asset) adalah sumber-sumber ekonomi (seperti inventaris


atau perlengkapan- perlengkapan toko) yang dimiliki atau dikontrol oleh
perusahaan sebagai hasil transaksi atau peristiwa, sedangkan kewajiban (liabilities)
adalah segala kewajiban perusahaan untuk membayar tunai atau sumber-sumber
ekonomi lain sebagai hasil dari keuntungan-keuntungan masa lalu, sekarang, atau
keuntungan masa depan.

Aktiva Lancar

Aktiva Lancar (current assets) adalah asset-aset yang bias diubah menjadi
uang dalam waktu satu tahun.

Piutang usaha + Persediaan barang dagangan + Aktiva lancar lain + Kas = Aktiva
Lancar

Piutang Usaha

Piutang usaha (account receivable) ini penting bagi beberapa ritel. Contoh,
investasi Wal-Mart pada uang yang diterima jauh lebih kecil dari pada Tiffany
karena kecenderungan yang tinggi dari konsumen Wal-Mart untuk membayar tunai
atau menggunakan kartu kredit pihak ketiga, seperti Visa atau MasterCard.

Persediaan Barang Dagangan

Persediaan barang dagangan (merchandise inventory) adalah sumber hidup


ritel. Sebagai contoh, persediaan mencakup kira-kira 27,10 % dari total asset Wal-
Mart dan 37,53% dari total asset Tiffany. Meskipun demikian, terdapat

11
pengecualian yaitu pada ritel-ritel layanan seperti hotel, salon kecantikan, dan lain-
lain yang biasanya tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit persediaan barang.

Kas dan Aktiva Lancar Lainnya

Kas terdiri atas uang tunai, simapanan dan rekening di bank, surat-surat
berharga yang dapat diperjualbelikan, dan piutang usaha, sedangkan aktiva lancar
lainnya meliputi berbagai pengeluaran maupun ongkos kirim yang belum
dibayarkan oleh pelanggan.

Perputaran Aktiva

Perputaran aktiva (asset turnover) adalah ukuran pengelolaan keseluruhan


dari bagian asset pada neraca saldo. Perputaran aktiva ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi dan membandingkan seberapa efektif para manajer menggunakan
asset-asetnya

PenjualanB ersih
Perputaran Aktiva =
Totalaktiva

Kewajiban dan Ekuitas Pemilik

Kewajiban lancar (current liabilities) adalah utang-utang yang diharapkan dibayar


paling tidak dalam jangka waktu satu tahun. Kewajiban yang paling penting adalah
utang dagang, wesel bayar, dan utang- utang lainnya.

• Utang dagang adalah tagihan yang terutang kepada pemasok untuk


pembelian barang dagangan.

• Wesel bayar adalah bunga yang dipinjam ritel pada bank yang melebihi
tanggal dan dapat dibayar kurang dari satu tahun.

• Utang-utang lainnya termasuk utang pajak, utang gaji, sewa, pemakaian,


dan kewajiban- kewajiban lain yang belum terbayarkan.

• Kewajiban jangka panjang adalah utang=utang yang akan dibayar


setelah satu tahun.

12
• Hak pemilik, juga disebut hak para pemegang saham, mewakili sejumlah
asset pemilik perusahaan ritel setelah semua kewajiban terpenuhi. Dalam
istialh akintansi, hubungan tersebut dapat diperoleh dengan cara:

Hak para pemilik = Total aktiva – Total Kewajiban

Penjualan
Bersih
Margin
Kotor
Harga
Pokok Laba
Penjuala Bersih
sebelum Laba
bersih Margin
Beban setelah
Operasi Laba
Paja Bersih
Beban k
Total Penjualan
Beban Bersih
Bunga

Piutan
Usaha
Aktiva
Lanca
Persediaa r
n Barang
dagangan Aktiva
Total Perputaran
Aktiva
Ka
s Penjualan
Aktiva Bersih
Teta;p
Aktiva Lancar
lain

Dengan demikian, pola keuntungan strategis mengabungkan dua rasio


pengelolaan dari hasil pendapatan dan neraca saldo;batas keuntungan bersih dan
hasil asset. Dengan mengalikan perbandingan ini bbersamaan, akan diperleh
pengembalian atas aktiva (return on assets) lihat gambar berikut:

13
D. Pola Keuntungan Strategis

Pola keuntungan strategis sangat berguna bagi ritel karena pola ini
menggabungkan dua bagian pengambilan keputusan – manajemen pembatasan dan
manajemen asset – sehingga para manajer dapat meninjau hubungan antar
manajemen tersebut. Pola keuntungan strategis juga dapat digunakan untuk
mengevaluasi dampak keuangan dari strategi baru sebelum strategi-strategi tersebut
dilaksanakan.

Beberapa Indikator Keuangan dalam Ritel

Terdapat beberapa indicator yang dapat diguankan dalam mengukur kinerja


keuangan dalam binis ritel antara lain:

1. Margin kotor

• Persentase margin kotor

• Analisi per kategori

• Markdown/ kerusakan

• Persediaan barang

• Margin kotor per meter persegi (m2)

2. Biaya Opersional toko sebagai persentase penjualan

• Gaji: produktivitas per karyawan

• Biaya sewa

• Depresiasi

• Listrik

• Total Biaya operasi toko.

14
3. Margin kontribusi

• Selisih antara margin kotor dengan biaya operasional toko

• Perbandingan antar toko dan rata-rata perusahaan.

E. Pengaturan Kinerja Tujuan

Pengaturan kinerja tujuan merupakan komponen penting dalam proses


perencanaan strategis. Pengaturan kinerja tujuan meliputi (1) hasil kinerja yang
sering kali dinyatakan dalam indeks yang dibandingkan dengan kemajuan yang
dapat diukur, (2) kerangka waktu dimana tujuan harus dicapai, dan (3) sumber-
sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Pengaturan kinerja tujuan dapat disusun dengan memerhatikan hal sebagai berikut:

• Proses atas-bawah versus bawah-atas

• Kemampuan untuk dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas)

• Pengukuran pegelolaan

• Jenis-jenis pengukuran

• Audit penjualan

• Kendali terhadap persediaan

15
KESIMPULAN

Manajemen SDM sangat penting dalam bisnis ritel, sebab setiap karyawan
memainkan sutau peran atau bagian yang penting dalam melaksanakan fungsi
pekerjaan dengan baik serta memfokuskan pada masalah strategi dalam struktur
organisasi, pendekatan-pendekatan yang secara umum digunakan untuk
memotivasi dan mengkoordinasikan aktifitas karyawan, dan manajemen praktis
untuk membangun kekuatan kerja secara efektif dan mengurangi tingkat perputaran
karyawan. Semua aktifitas tersebut dilakukan untuk menerapkan strategi sumber
daya ritel, perencanaan sumber daya, termasuk dalam merekut, menyeleksi,
melatih, mengawasi, mengevaluasi, dan membagi kompensasi penjualan yang di
kerjakan hanya oleh manajemen

Efesiensi dan efektivitas operasional manajemen ritelakan sangat di


pengaruhi oleh kebijakan dan keputusan yang di ambil ritel dalam memuaskan
banyak pihak, yaitu pelanggan, karyawan, manajemen, maupun pemilik modal.
Berdasarkan analisis penggunaan,pembiayaan atas dasar kegiatan adalah metode
penentuan biaya semua kegiatan yang di lakukan ritel. Dengan metode ini, ritel bisa
membuat keputusan yang lebih tepat dan menguntungkan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan. 2007. Manajemen Control


System,International Edition, 12th Edition. Singapore: McGraw-Hill

Bisnis Standard (2013). Tersedia di: http://www.business-


standard.com/article/current-affairs/walmart-lobbying-case-closed-

113051700875_1.html

Buku Manajemen ritel, Strategi dan Implementasi Operasional Bisnis Ritel


Modern di Indonesia (Christina Whidya Utami, BAB 2)

Djaslim, Saladin. 2006, Manajemen Pemasaran, Edisi Keempat. Bandung:


Linda Karya

Ma’ruf, Hendri. 2005. Pemasaran Ritel. Jakarta: PT Gramedia Pustaka


Utama.

Philip, Kotler. 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia. Jakarta:


Salemba Empat.

Yglesias, M. di Slate (2013). Apakah Wal-Mart in Trouble. Tersedia di:


http://www.slate.com/articles/business/moneybox/2013/05/wal_mart_sales_dec
line_america_s_largest_retailer_is_slipping_as_customers.html

Wikipedia (2013). Walmart. Tersedia di:


http://en.wikipedia.org/wiki/Walmart

17